
Prabhasa Kshetra Mahatmya
This section is centered on Prabhāsa-kṣetra, a coastal pilgrimage region in western India traditionally associated with Somnātha/Someśvara worship and a dense network of tīrthas. The text treats the landscape as a ritual field where travel (yātrā), bathing, and recitation function analogously to Vedic rites, while also embedding the site in a broader purāṇic memory-map through genealogies of teachers and narrators.
366 chapters to explore.

प्रभासक्षेत्रमाहात्म्ये प्रस्तावना (Prologue: Invocation, Authority, and Eligibility)
Bab ini menetapkan latar wacana dan rantai otoritas bagi bagian Prabhāsa dalam Skanda Purāṇa. Vyāsa disebut sebagai mahaguru yang mengetahui makna purāṇa. Para resi di Naimiṣāraṇya memohon kepada Sūta (Romaharṣaṇa) agar menuturkan māhātmya Prabhāsa-kṣetra; setelah menyebut tradisi yātrā Brahmī yang telah dikenal, mereka secara khusus meminta uraian yātrā Vaiṣṇavī dan Raudrī. Pembukaan berisi pujian kepada Someśvara, salam metafisis kepada hakikat kesadaran murni (cinmātra), serta motif perlindungan yang membandingkan amṛta dan viṣa. Sūta lalu memuliakan Hari sebagai wujud Oṁkāra, Yang melampaui sekaligus meresapi segalanya, dan menggambarkan kathā yang akan datang sebagai tersusun rapi, indah, dan menyucikan. Pedoman etis ditegaskan: ajaran ini tidak diajarkan kepada nāstika; ia dibacakan bagi yang beriman, damai, dan layak (adhikārin). Kelayakan brāhmaṇa ditekankan melalui kecakapan menjalankan saṁskāra, kewajiban ritual harian, dan tata laku. Bab ditutup dengan silsilah transmisi dari Śiva di Kailāsa hingga Sūta, meneguhkan bagian ini sebagai catatan tradisi yang sah.

Purāṇa-lakṣaṇa, Purāṇa-anuक्रम, and Upapurāṇa Enumeration (पुराणलक्षण–पुराणानुक्रम–उपपुराणनिर्देश)
Bab ini menampilkan dialog teknis: para ṛṣi meminta tolok ukur untuk menilai kathā (wacana naratif)—tanda-tandanya, kebajikan dan cacatnya, serta cara mengenali susunan yang berwibawa. Sūta menjelaskan kemunculan awal Veda dan Purāṇa, gagasan bahwa korpus Purāṇa mula-mula sangat luas, lalu pada masa-masa tertentu disunting dan diringkas oleh Vyāsa menjadi delapan belas Mahāpurāṇa. Selanjutnya disebutkan nama-nama Mahāpurāṇa dan Upapurāṇa; sering kali disertai perkiraan jumlah śloka serta ketentuan bernuansa dāna—menyalin naskah, mempersembahkan/menyumbangkan, dan tata upacara pendampingnya—sehingga pewarisan teks dipandang sebagai laku kebajikan. Dipaparkan pula definisi klasik Purāṇa ber-lima (pañcalakṣaṇa: sarga, pratisarga, vaṃśa, manvantara, vaṃśānucarita), serta penggolongan luas menurut orientasi guṇa (sāttvika/rājasa/tāmasa) beserta penekanan dewa yang menyertainya. Penutupnya menegaskan Purāṇa sebagai penopang yang menstabilkan makna Veda melalui tradisi itihāsa–purāṇa, dan menempatkan bagian Prābhāsika dalam pembagian tujuh bagian internal Skanda Purāṇa, sebagai pengantar menuju uraian geografi suci berbasis tempat.

तीर्थविस्तरप्रश्नः प्रभासरहस्यप्रकाशश्च (Inquiry into the Spread of Tīrthas and the Revelation of Prabhāsa’s Secret)
Dalam bab ini para resi, setelah uraian kosmologi sebelumnya, memohon kepada Sūta penjelasan tatanan tīrtha (tempat ziarah suci) secara sistematis. Sūta mengingat dialog terdahulu di Kailāsa: Devī menyaksikan sidang ilahi yang agung lalu memuji Śiva dengan stotra panjang. Śiva menanggapi dengan menegaskan ketakterpisahan mutlak Śiva dan Śakti, melalui rangkaian pernyataan identitas yang meliputi peran ritual, fungsi kosmis, ukuran waktu, dan daya-daya alam. Devī kemudian meminta ajaran praktis bagi makhluk yang tertimpa derita Kali Yuga: satu tīrtha yang dengan darśana-nya memberi buah semua tīrtha. Śiva menyebut berbagai pusat ziarah utama di Bhārata, lalu meninggikan Prabhāsa sebagai kṣetra tertinggi yang tersembunyi. Bab ini juga memberi kritik etis: peziarah munafik, kejam, atau nihilistik tidak memperoleh hasil yang dijanjikan, dan kemuliaan kṣetra itu sengaja dijaga. Pada penutupnya diungkap liṅga ilahi Someśvara beserta perannya dalam kosmogoni—tiga śakti (icchā, jñāna, kriyā) muncul untuk menjalankan karya dunia—serta pernyataan pahala: pendengar yang tekun disucikan dan meraih alam surgawi.

प्रभासक्षेत्रप्रमाण-त्रिविधविभाग-श्रीसोमेश्वरमाहात्म्य (Prabhāsa: Measurements, Threefold Division, and the Somēśvara Discourse)
Bab ini menampilkan dialog suci: Devī memohon penjelasan lebih luas tentang keunggulan Tīrtha Prabhāsa dan mengapa perbuatan yang dilakukan di sana berbuah pahala yang tak habis (akṣaya). Īśvara menjawab bahwa Prabhāsa adalah kṣetra yang amat dikasihi-Nya, tempat Ia senantiasa hadir; karena itu dāna, tapa, japa, dan yajña yang dilakukan dengan bhakti di sana tidak berkurang buahnya. Selanjutnya dijelaskan model ruang bertingkat tiga—kṣetra, pīṭha, dan garbhagṛha—dengan hasil yang makin tinggi pada tiap tingkat. Batas-batas dan penanda arah disebutkan, juga pembagian batiniah tiga ilahi (Rudra/Viṣṇu/Brahmā), jumlah tīrtha, serta jenis yātrā: Raudrī, Vaiṣṇavī, dan Brāhmī yang disejajarkan dengan śakti icchā, kriyā, dan jñāna. Bab ini menegaskan bahwa tinggal dengan disiplin dan berbakti di Prabhāsa melampaui ziarah ke tempat termasyhur lain. Kemuliaan Somēśvara dan Kālabhairava/Kālāgnirudra dipaparkan—fungsi perlindungan, logika penyucian, serta Śatarudrīya sebagai teks liturgi Śaiva yang utama. Disebut pula para penjaga (Vināyaka, Daṇḍapāṇi, gaṇa) dan tata krama yātrā seperti menghormati dewa-dewa ambang serta mempersembahkan ghṛta-kambala pada malam-malam yang bermakna menurut kalender.

प्रभासक्षेत्रस्य अतिविशेषमहिमा — The Supreme Eminence of Prabhāsa-kṣetra
Dalam bab ini, setelah pengantar Sūta, Devī memohon uraian yang lebih luas tentang kemuliaan Prabhāsa-kṣetra. Īśvara menyatakan Prabhāsa sebagai kṣetra kesayangan-Nya, tempat “para-gati” bagi para yogin dan mereka yang lepas dari keterikatan; siapa pun yang melepaskan hidup di sana dikatakan mencapai alam Śiva. Bab ini menyebut para ṛṣi agung—Mārkaṇḍeya, Durvāsas, Bharadvāja, Vasiṣṭha, Kaśyapa, Nārada, Viśvāmitra—yang tidak meninggalkan kṣetra itu dan senantiasa bertekun dalam pemujaan liṅga. Disebut pula himpunan besar yang melakukan japa dan pūjā di berbagai tirtha dan sthala: Agni-tīrtha, Rudreśvara, Kampardīśa, Ratneśvara, Arka-sthala, Siddheśvara, tempat Mārkaṇḍeya, serta Sarasvatī/Brahma-kunda, dengan penekanan pada kepadatan laku ritualnya. Sebagai phalaśruti, darśana kepada Tuhan “bermahkota bulan” (Candraśekhara) dipuji memberi buah tertinggi sebagaimana dimuliakan dalam Vedānta; snāna dan pūjā menghadiahkan yajña-phala; pinda dan śrāddha melipatgandakan pengangkatan leluhur; bahkan sentuhan biasa pada airnya pun dianggap berdaya suci. Bab ini juga menyebut agen penghalang—gaṇa bernama Vibhrama dan Sambhrama, upasarga bertipe Vināyaka serta “sepuluh cacat”—dan menetapkan darśana penuh bhakti kepada Daṇḍapāṇi sebagai penawar rintangan. Penutupnya menegaskan keterbukaan rahmat: semua varṇa, baik yang berkeinginan maupun tanpa keinginan, bila wafat di Prabhāsa mencapai dhāma ilahi Śiva, sementara sifat-sifat Mahādeva dinyatakan tak terkatakan.

सोमेश्वरलिङ्गस्य परमार्थवर्णनम् (Theological Description of the Someshvara Liṅga at Prabhāsa)
Bab ini tersusun sebagai dialog teologis. Devī memuji keagungan kisah sebelumnya lalu bertanya mengapa daya anugerah Liṅga Someshvara melampaui liṅga-liṅga lain yang dipuji di jagat, serta apa kekuatan khusus Kṣetra Prabhāsa. Īśvara menjawab bahwa ajaran yang akan disampaikan adalah ‘rahasya’ tertinggi, dan bahwa Prabhāsa-māhātmya adalah yang paling utama di antara tīrtha, vrata, japa, dhyāna, dan yoga. Selanjutnya dipaparkan hakikat Someshvara-liṅga: ia dhruva, akṣaya, avyaya; bebas dari takut, noda, ketergantungan, dan perluasan konsep; melampaui pujian biasa dan ujaran diskursif. Namun bagi pencari, ia tampil sebagai “pelita pengetahuan” untuk realisasi; dihubungkan dengan praṇava dan śabda-brahman, dibayangkan bersemayam di teratai hati serta di dvādaśānta, dan disebut kevala, tanpa-dualitas (dvaita-varjita). Sebuah penegasan bernuansa Weda menyebut mengenal “Mahān Puruṣa” yang melampaui kegelapan; lalu diakui bahwa kemuliaan Someshvara tak terkatakan bahkan bila diuraikan ribuan tahun. Phalaśruti menutup dengan inklusif: siapa pun dari varṇa mana pun yang membaca atau melafalkan bab ini terbebas dari dosa dan meraih tujuan yang diinginkan.

सोमेश्वरनाम-प्रभाव-वर्णनम् | Someshvara: Names Across Kalpas, Boon of Soma, and the Sacred Topography of Prabhāsa
Bab ini menampilkan dialog teologis: Devī, setelah mendengar pujian sebelumnya, bertanya kepada Śaṅkara tentang asal-usul nama “Som(e)śvara/Somnatha”, mengapa tampak tetap, dan mengapa berubah menurut waktu; ia juga meminta nama-nama liṅga pada masa lampau dan masa depan. Īśvara menjawab dengan menempatkan liṅga dalam kosmologi siklus: pada tiap zaman/epoch Brahmā, liṅga dikenal dengan nama berbeda; ia menyebut urutan nama sesuai pergantian identitas Brahmā, hingga nama kini “Somnātha/Som(e)śvara” dan nama kelak “Prāṇanātha”. Lupa-ingat Devī dijelaskan sebagai akibat avatāra berulang lintas kalpa dan perubahan wujud sesuai fungsi prakṛti; Śiva pun menyebut berbagai nama dan rupa Devī dalam banyak siklus. Selanjutnya, ketetapan kemasyhuran nama “Somnātha” diteguhkan lewat kisah tapas Soma/Candra dan pemujaannya kepada liṅga (disebut dengan epitet yang garang dalam episode ini), serta anugerah agar nama “Somnātha” tetap termasyhur sepanjang satu siklus Brahmā bagi semua pemangku kedudukan bulan berikutnya. Bab ini lalu beralih ke uraian topografi suci: ukuran Prabhāsa, zona pusat yang paling suci, batas-batas menurut arah, dan letak liṅga dekat laut. Ditegaskan buah keselamatan bagi makhluk yang wafat dalam lingkaran suci, disertai peringatan etis agar tidak berbuat salah di wilayah itu, serta tata perlindungan melalui Vighnanāyaka untuk menertibkan pelanggaran berat. Penutupnya memuncakkan pujian: liṅga Som(e)śvara dipandang paling dikasihi, menjadi titik pertemuan tīrtha dan liṅga, serta sarana pembebasan melalui bhakti, ingatan suci, dan japa yang berdisiplin.

श्रीसोमेश्वरैश्वर्यवर्णनम् (Description of the Sovereign Powers of Śrī Someśvara)
Bab ini berbentuk dialog Devī–Īśvara. Devī memohon penjelasan ulang tentang kemuliaan Someśvara yang menyucikan serta kerangka teologis triadik Brahmā–Viṣṇu–Īśa. Īśvara menjawab bahwa di Prabhāsa, liṅga Someśvara menampakkan keajaiban: banyak ṛṣi pertapa dikisahkan masuk dan melebur ke dalam liṅga, dan darinya muncul kekuatan-kekuatan berkah yang dipersonifikasikan—siddhi, vṛddhi, tuṣṭi, ṛddhi, puṣṭi, kīrti, śānti, lakṣmī, dan lainnya. Selanjutnya disebutkan berbagai pencapaian: mantra-siddhi, rasa yogik dan ramuan obat (rasāyana), pengetahuan Garuḍa, bhūta-tantra, serta tradisi khecarī/antarī sebagai pancaran yang terkait dengan pusat suci ini. Bab ini juga mencatat kelompok-kelompok siddha (termasuk tokoh yang berhubungan dengan Pāśupata) yang meraih keberhasilan di Someśvara sepanjang yuga, seraya menegaskan bahwa makhluk biasa kerap gagal mengenali nilainya karena karma yang tidak baik. Daftar rinci gangguan—cacat planet (graha-doṣa), gangguan makhluk halus, dan penyakit—dinyatakan luluh melalui darśana (ziarah/pandangan suci) kepada Someśvara. Pada penutup, Someśvara disamakan dengan gelar seperti Paścimo Bhairava dan Kālāgnirudra, lalu ditegaskan ringkas bahwa māhātmya beliau adalah “sarva-pātaka-nāśana”, pemusnah segala dosa dalam bahasa teologi tīrtha.

मुण्डमालारहस्यं तथा प्रभासक्षेत्रतत्त्वनिर्णयः (The Secret of the Skull-Garland and the Tattva-Doctrine of Prabhāsa)
Bab ini menampilkan dialog teologis yang tertata. Devī menyapa Śaṅkara di Prabhāsa dengan hormat, menyebut-Nya Somēśvara, serta mengingat wujud yang berpusat pada Kālāgni. Ia mengajukan keraguan doktrinal: bagaimana Tuhan yang tanpa awal dan melampaui pralaya dapat mengenakan rangkaian tengkorak. Īśvara menjelaskan secara kosmologis bahwa dalam siklus kalpa yang tak terhitung, banyak Brahmā dan Viṣṇu muncul lalu lenyap; rangkaian tengkorak melambangkan kedaulatan Śiva atas penciptaan dan peleburan yang berulang. Lalu digambarkan ikonografi Śiva di Prabhāsa: damai, bercahaya, melampaui awal–tengah–akhir; Viṣṇu di sisi kiri, Brahmā di sisi kanan; Veda berada di dalam-Nya; dan cahaya kosmis menjadi mata-Nya—sehingga keraguan Devī pun sirna dan ia melantunkan pujian panjang. Selanjutnya Devī memohon uraian lebih lengkap tentang kemuliaan Prabhāsa dan bertanya mengapa Viṣṇu meninggalkan Dvārakā serta mencapai akhir-Nya di Prabhāsa, disertai pertanyaan-pertanyaan tentang fungsi kosmis dan avatāra Viṣṇu. Sūta membingkai peristiwa, lalu Īśvara memulai pemaparan ‘rahasia’: Prabhāsa melampaui tīrtha lain dalam daya buahnya; di sana berpadu secara unik Brahma-tattva, Viṣṇu-tattva, dan Raudra-tattva, dengan hitungan tattva 24/25/36 yang dipetakan pada kehadiran Brahmā, Viṣṇu, dan Śiva. Penutupnya menegaskan logika phala: wafat di Prabhāsa dikatakan memberi keadaan luhur bagi makhluk dari berbagai golongan dan kelahiran, bahkan yang terbebani pelanggaran berat, menonjolkan teologi pemurnian kṣetra tersebut.

तत्त्वतीर्थ-निरूपणम् (Mapping of Tattva-Tīrthas and the Sanctity of Prabhāsa)
Bab ini menampilkan ajaran Īśvara kepada Devī yang mengubah metafisika menjadi peta ziarah. Unsur kosmis—bumi, air, tejas (api/cahaya), angin, dan ruang—dipadankan dengan dewa-dewa penguasa: Brahmā, Janārdana, Rudra, Īśvara, dan Sadāśiva; dan ditegaskan bahwa tīrtha yang berada dalam tiap ranah unsur turut memancarkan kehadiran dewa tersebut. Lalu dipaparkan kelompok-kelompok tīrtha (terutama rangkaian delapan) yang selaras dengan air, tejas, angin, dan ruang, disertai penegasan doktrinal bahwa prinsip air sangat dikasihi Nārāyaṇa, yang dipuji dengan sebutan ‘Jalaśāyī’. Pusat pentingnya adalah Bhallukā-tīrtha, yang digambarkan halus dan sukar dikenali tanpa śāstra, namun hanya dengan darśana saja memberi hasil setara pemujaan liṅga yang luas. Bab ini kemudian merentang ke bingkai waktu suci—laku bulanan, hari lunar ke-8 dan ke-14, masa gerhana, serta Kārttikī—ketika liṅga-liṅga Prabhāsa dipuja secara istimewa; juga diceritakan pertemuan banyak tīrtha di muara Sarasvatī dengan samudra. Selanjutnya disajikan deretan panjang nama-nama lain kṣetra ini di berbagai kalpa, lalu dijelaskan banyaknya sub-kṣetra dengan bentuk dan ukuran beragam. Penutupnya menegaskan Prabhāsa sebagai medan suci yang tetap ada bahkan sesudah pralaya, memuji mendengar dan melantunkan kisah ini sebagai penyuci laku, dan menghadirkan phalaśruti: siapa yang mendengarkan narasi ilahi yang ‘rauddra’ ini memperoleh tujuan pascakematian yang luhur.

प्रभासक्षेत्रनिर्णयः — Cosmography of Bhārata and the Etiology of Prabhāsa
Bab ini berkembang sebagai uraian teologis berbasis tanya-jawab. Devī, meski bersukacita, masih ingin mengetahui lebih lengkap tentang Prabhāsa-kṣetra. Īśvara terlebih dahulu menegakkan kerangka kosmografi: Jambūdvīpa dan Bhārata-varṣa dijelaskan ukuran serta batasnya, dan Bhārata ditegaskan sebagai karmabhūmi utama tempat pahala-dosa (puṇya–pāpa) berbuah nyata. Lalu tatanan perbintangan ditumpangkan pada geografi melalui model “tubuh Bhārata” berbentuk kūrma: kelompok nakṣatra, letak rāśi, dan kekuasaan graha dipetakan; bila graha/nakṣatra terdera, wilayah yang bersesuaian pun terdera, sehingga dianjurkan tindakan-tindakan tīrtha sebagai penawar. Di dalam peta suci itu, Saurāṣṭra ditentukan letaknya, dan Prabhāsa dikenali sebagai bagian istimewa dekat samudra, dengan pīṭhikā pusat tempat Īśvara bersemayam dalam wujud liṅga—lebih dicintai daripada Kailāsa dan dijaga sebagai rahasia. Beragam etimologi “Prabhāsa” diberikan: karena sinarnya, karena keutamaan di antara cahaya dan tīrtha, karena kehadiran Surya, dan karena kilau yang dipulihkan. Devī lalu menanyakan kisah asal-usulnya pada kalpa sekarang. Īśvara memulai sebab-mitosnya: pernikahan Surya (Dyauḥ/Prabhā dan Pṛthivī/Nikṣubhā), derita Saṃjñā menghadapi tejas Surya yang tak tertahankan, penggantian oleh Chāyā, kelahiran Yama dan Yamunā, terbongkarnya hal itu kepada Surya, serta Viśvakarmā yang “mencukur/meredam” pancaran Surya. Puncaknya adalah penegasan lokalisasi: sebagian cahaya Surya yang bersifat ṛk-maya dikatakan jatuh di Prabhāsa, menjadi dasar kesucian luar biasa kṣetra itu dan logika penamaannya.

Yameśvarotpatti-varṇanam (Origin Account of Yameśvara)
Dalam adhyaya ini, Īśvara memadukan penjelasan etimologis dengan peneguhan kewibawaan tīrtha. Mula-mula istilah terkait raja dan permaisuri (rājā/rājñī) serta “bayangan” (chāyā) ditafsirkan melalui asal-dhātu, menegaskan bahwa nama dan jati diri mengandung makna teologis. Lalu Manu masa kini ditempatkan dalam garis keturunan; disebut pula sosok berciri Vaiṣṇava—pemegang śaṅkha, cakra, dan gadā—sementara Yama digambarkan terkena cela ‘hīna-pāda’, sehingga diperlukan laku pemulihan melalui ritual. Yama pergi ke Prabhāsa-kṣetra dan menjalankan tapa panjang, memuja sebuah liṅga selama masa yang amat lama. Berkenan atas tapa itu, Īśvara menganugerahkan banyak karunia dan menetapkan gelar-kultus yang abadi: tempat itu dikenal sebagai “Yameśvara”. Pada penutup, seperti phalaśruti, dinyatakan bahwa pada hari Yama-dvitīyā, darśana kepada Yameśvara mencegah pengalaman melihat Yama-loka; demikian ditegaskan makna keselamatan dan pentingnya penanggalan dalam ziarah Prabhāsa.

Arka-sthala-prādurbhāva and Prabhāsa-kṣetra-tejas (Origin of Arkāsthala and the Radiant Sanctification of Prabhāsa)
Bab ini berupa dialog Devī–Īśvara. Devī menanyakan peristiwa terdahulu: ketika Surya bergerak di Śākadvīpa, ia seakan ‘terpangkas’ oleh tepi setajam pisau cukur, dan apa yang terjadi pada tejas (cahaya-ilahi) yang berlimpah yang jatuh di Prabhāsa. Īśvara menjawab dengan menyampaikan “Sūrya-māhātmya yang utama”, yang bila didengar dikatakan menghapus dosa. Diceritakan bahwa bagian purba dari pancaran Surya jatuh di Prabhāsa dan mengambil wujud tempat (sthālākāra): mula-mula berwarna emas (jāmbūnada), lalu—oleh daya kemuliaannya—menjadi seperti gunung. Demi kesejahteraan makhluk, Surya menampakkan diri di sana sebagai arca berwujud arka. Diberikan penamaan menurut yuga: Hiraṇyagarbha (Kṛta), Sūrya (Tretā), Savitā (Dvāpara), dan Arkāsthala (Kali); turunnya peristiwa ini ditetapkan pada masa Manu kedua, Svārociṣa. Medan suci kemudian dipetakan melalui sebaran debu tejas (reṇu) dalam ukuran yojana dan batas-batas bernama (termasuk sungai dan laut), serta dibedakan pula zona pancaran halus yang lebih luas. Īśvara menyatakan kediamannya berada di pusat tejas-maṇḍala, laksana pupil di dalam mata; dan nama “Prabhāsa” dimuliakan karena rumah-Nya diterangi tejas Surya. Phalaśruti menyebut: memandang Surya dalam rupa arka memberi kebebasan dari dosa dan kemuliaan di Sūrya-loka; peziarah demikian disamakan dengan orang yang telah mandi di semua tīrtha serta menunaikan yajña besar dan dana. Ada pula aturan etika: makan di atas daun arka di Arkāsthala dikecam keras dan dianggap membawa kenajisan berat, sehingga harus dihindari. Tata ziarah mencakup pemberian seekor kerbau kepada brāhmaṇa terpelajar pada darśana pertama Arkabhāskara, dengan sebutan kain merah/warna tembaga dan kaitan sudut api di dekatnya. Selanjutnya disebut liṅga Siddheśvara (terkenal di Kali; dahulu bernama Jaigīṣavyeśvara) yang memberi keberhasilan rohani bila dilihat. Dekat situ ada lubang bawah tanah terkait rākṣasa yang terbakar oleh cahaya Surya; pada Kali ia tetap sebagai ‘pintu’ yang dijaga yoginī dan dewi-dewi ibu. Pada malam Māgha kṛṣṇa caturdaśī dilakukan upacara dengan persembahan (bali, bunga, upahāra) untuk meraih siddhi. Bab ditutup dengan penegasan bahwa yang mendengar dan mempraktikkan ajaran ini akan menuju dunia Surya pada akhir hayat.

जैगीषव्यतपः–सिद्धेश्वरलिङ्गमाहात्म्य (Jaigīṣavya’s Austerities and the Glory of the Siddheśvara Liṅga)
Bab ini berbentuk dialog Dewi–Īśvara yang memohon uraian rinci tentang kesucian Prabhāsa yang terkait Surya, kedudukan awal Arka-sthala sebagai perhiasan wilayah, serta parameter pemujaan yang benar—mantra, tata cara, dan waktu perayaan. Īśvara menjawab dengan menuturkan teladan kuno dari kṛta-yuga. Resi Jaigīṣavya, putra Śatakalāka, datang ke Prabhāsa dan menjalani tapa bertahap dalam rentang waktu yang amat panjang—hidup dengan udara saja, dengan air saja, dengan daun, serta siklus vrata cāndrāyaṇa; akhirnya ia menekuni disiplin asketis yang sangat keras dan memuja liṅga dengan bhakti. Śiva menampakkan diri, menganugerahkan jñāna-yoga yang memutus saṃsāra, meneguhkan kebajikan seperti tanpa kesombongan, kesabaran, dan pengendalian diri, serta menjanjikan kedaulatan yogis dan kemudahan memperoleh darśana ilahi di masa mendatang. Kemuliaan tempat itu dinyatakan melintasi yuga: pada kali-yuga liṅga tersebut termasyhur sebagai Siddheśvara. Pemujaan dan laku yoga di gua Jaigīṣavya disebut memberi hasil cepat, menyucikan, dan membawa manfaat bagi para leluhur. Penutupnya berupa phalaśruti yang menegaskan pahala luar biasa dari pemujaan Siddha-liṅga, dipuji dengan perbandingan berskala kosmis.

पापनाशनोत्पत्तिवर्णनम् | Origin Account of the Pāpa-nāśana Liṅga
Bab ini menyajikan uraian ringkas teologis-ritual tentang liṅga yang dikenal sebagai ‘pāpa-hara/pāpa-nāśana’, yakni penghapus dosa. Dalam sabda Ilahi (Īśvara), liṅga itu ditempatkan dalam mikro-topografi arah di Prabhāsa-kṣetra: dikatakan telah dipratiṣṭhita dekat Siddha-liṅga dan berhubungan dengan Aruṇa, sosok fajar yang terkait dengan Sūrya. Pernyataan lain menyebut pendiriannya dilakukan oleh kusir kereta Sūrya, menegaskan kaitan surya, sementara pusat pemujaan tetap ikon Śaiva berupa liṅga. Selanjutnya diberikan ketentuan waktu yang jelas: pemujaan pada hari ke-13 paruh terang (śukla trayodaśī) bulan Caitra, dilakukan sesuai tata cara (vidhivat) dengan bhakti. Buahnya disamakan dengan hasil ‘Puṇḍarīka’, sebagai penanda ukuran pahala khas sastra māhātmya tīrtha. Kolofon menutup dengan menyatakan bahwa ini adalah adhyāya kelima belas dalam Prabhāsa-kṣetra-māhātmya bagian pertama pada Prabhāsa Khaṇḍa.

पातालविवरमाहात्म्यं (Glory of the Pātāla Fissure near Arkasthala)
Īśvara menasihati Devī tentang kemuliaan pātāla-vivara (celah menuju alam bawah) yang agung, terletak dekat Arkasthala di Prabhāsa. Pada awal kisah, ketika dunia berada dalam kegelapan, muncul rākṣasa-rākṣasa perkasa yang memusuhi Sūrya; mereka mengejek Divākara yang sedang terbit. Sūrya pun menegakkan murka yang benar (dharma) dan menajamkan tejas-nya; oleh pandangan-Nya, para rākṣasa jatuh dari langit seperti planet yang meredup, laksana buah yang gugur atau batu yang terlepas dari alat—tanda bahwa adharma runtuh oleh akibatnya sendiri. Terdorong angin dan hantaman, mereka membelah bumi, turun ke Rasātala, lalu akhirnya mencapai Prabhāsa; jatuhnya mereka dikaitkan dengan tampaknya celah pātāla itu. Arkasthala dipuji sebagai tempat-dewa yang menganugerahkan segala siddhi, dan pātāla-vivara ini menjadi ciri utama di sisinya; banyak celah lain telah tersembunyi oleh waktu, namun yang ini tetap nyata. Tempat ini disebut bagaikan bagian tengah tejas Sūrya, berkilau keemasan, dijaga oleh Siddheśa, dan sangat berdaya pada masa perayaan-perayaan surya. Disebut pula tri-saṅgama—pertemuan Brāhmī, Hiraṇyā, dan samudra—yang berbuah setara koṭi-tīrtha. Di gerbang bernama Śrīmukha-dvāra ditetapkan pemujaan teratur: pada caturdaśī selama setahun memuja Mātṛgaṇa mulai Sunandā, dengan persembahan (sesuai idiom ritual lama), bunga, dupa, pelita, serta memberi makan brāhmaṇa; hasilnya adalah siddhi, dan mendengar mahātmya ini membebaskan insan utama dari kesukaran.

Arkasthala-Sūryapūjāvidhi: Dantakāṣṭha, Snāna, Arghya, Mantra-nyāsa, and Phalaśruti (अर्कस्थल-सूर्यपूजाविधिः)
Bab ini memuat wejangan teologis-prosedural ketika Īśvara mengajarkan kepada Devī tata cara pemujaan Bhāskara/Sūrya di Arkasthala, wilayah Prabhāsa. Mula-mula ditegaskan landasan kosmologisnya: Āditya dipandang sebagai yang paling purba di antara para dewa, penopang, pencipta, dan pelebur alam bergerak maupun tak bergerak; karena itu ritual dipahami selaras dengan tatanan semesta. Selanjutnya dipaparkan program bertahap: penyucian awal (mulut, kain, tubuh), aturan rinci dantakāṣṭha (kayu yang diperbolehkan beserta hasilnya, larangan, sikap duduk, mantra pembersih gigi, dan cara membuangnya), lalu petunjuk mandi dengan tanah/air yang disucikan disertai tindakan bermatra. Tarpana, sandhyā, dan persembahan arghya kepada Surya dijelaskan dengan kuatnya janji pahala: penghapusan dosa dan pelipatgandaan kebajikan. Bagi yang tidak mampu menjalankan prosedur inisiasi yang luas, disediakan pilihan “jalan Weda” dengan daftar mantra Weda untuk pemanggilan dan pemujaan. Bab ini juga menguraikan pemasangan mandala dengan aṅga-nyāsa, penempatan serta pemujaan graha dan dikpāla, dan dhyāna tentang ikonografi Āditya. Pemujaan arca (mūrti-pūjā) diteruskan dengan bahan-bahan abhiṣeka dan urutan persembahan (upavīta, kain, dupa, wewangian/olesan, lampu, ārātrika), termasuk bunga, aroma, dan pelita yang disukai serta yang tidak layak dipersembahkan, disertai nasihat etis agar menjauhi keserakahan dan tidak menyalahgunakan persembahan. Penutupnya menjelaskan gerhana terkait Rāhu sebagai “penutupan” bukan pemangsaan, aturan kerahasiaan transmisi ajaran, serta pahala mendengar dan melantunkan yang membawa kesejahteraan, perlindungan, dan kebaikan sosial bagi berbagai golongan.

चन्द्रोत्पत्तिवर्णनम् — Origin of the Moon and Śiva as Śaśibhūṣaṇa (Moon-adorned)
Bab 18 melanjutkan kisah berbingkai Sūta. Setelah mendengar uraian panjang tentang kemuliaan Prabhāsa-kṣetra, Devī menyatakan perubahan batin yang ia peroleh dari ajaran Śaṅkara: lenyapnya kebimbangan dan keraguan, mantapnya pikiran di Prabhāsa, serta terpenuhinya buah tapa. Lalu ia mengajukan pertanyaan etiologis yang terarah: kapan dan bagaimana asal-usul Candra, bulan yang bersemayam di kepala Śiva. Īśvara menjawab dengan penandaan kosmis, menempatkan peristiwa itu pada Varāha Kalpa dan fase awal jagat. Dalam pengadukan Samudra Susu (kṣīroda-manthana) muncul empat belas ratna; di antaranya terbit Candra sebagai wujud bercahaya. Śiva menegaskan bahwa Ia memanggul bulan itu, serta mengaitkannya dengan peristiwa meneguk racun (viṣa-pāna), sehingga bulan menjadi lambang yang mengarah pada pembebasan. Penutup bab menegaskan kehadiran Śiva di sana sebagai liṅga swayam-bhū, pemberi segala siddhi, yang tetap bertahan sepanjang kalpa.

कला-मान, सृष्टि-प्रलय-क्रम, तथा चन्द्र-लाञ्छन-कारण (Measures of Time, Creation–Dissolution Sequence, and the Cause of the Moon’s Mark)
Bab ini berupa dialog teknis: Devī bertanya mengapa bulan tidak selalu purnama. Īśvara lalu menjelaskan susunan enam belas kala/tithi, dari amāvasyā hingga pūrṇimā, sebagai tahap-tahap perubahan fase bulan. Setelah itu dipaparkan skema ukuran waktu bertingkat—dari truṭi, lava, nimeṣa, kāṣṭhā, kalā, muhūrta, siang-malam, paruh bulan, bulan, ayana, tahun, yuga, manvantara, sampai kalpa—yang mengaitkan waktu ritual dengan durasi kosmis. Īśvara menegaskan māyā/śakti sebagai prinsip yang menggerakkan penciptaan, pemeliharaan, dan peleburan, serta hukum siklus: yang muncul akan kembali ke sumbernya. Devī kemudian menanyakan sebab lāñchana (tanda) pada Soma meski ia berasal dari amṛta dan dicintai para bhakta; Īśvara menyatakan itu akibat kutukan Dakṣa. Diceritakan pula keluasan pengulangan kosmologis: tak terhitung bulan, brahmāṇḍa, dan kalpa lahir dan lenyap, sedangkan Īśvara Yang Mahatinggi tetap tunggal sebagai penguasa sarga dan saṃhāra. Bagian akhir memberi penempatan waktu lintas kalpa/manvantara, menyebut penampakan terdahulu, dan merangkum urutan avatāra Viṣṇu—termasuk Kalki sebagai kekuatan pemulih dharma di masa depan.

दैत्यावतारक्रमः—सोमोत्पत्तिः—ओषधिनिर्माणं च (Order of Asura Incarnations, Soma’s Emergence, and the Origin of Plants)
Dalam bab ini, Īśvara menuturkan kepada Devī urutan kekuasaan para asura dan yang terkait rākṣasa sepanjang rentang waktu yang amat luas. Hiraṇyakaśipu dan Bali disebut sebagai raja-raja teladan dalam kisah ini, untuk menunjukkan bagaimana dalam siklus mirip yuga adharma kadang menguat, lalu tatanan dunia dipulihkan kembali. Sesudah itu dibentangkan bahan kerajaan dan silsilah: garis Pulastya, kelahiran tokoh-tokoh penting seperti Kubera dan Rāvaṇa, serta penanda-penanda yang menjelaskan penamaan dan jati diri mereka. Lalu kisah beralih pada kemunculan Soma (Candra) terkait tapa Atri, penanganan kosmis atas ‘jatuhnya’ Soma, campur tangan Brahmā, dan penobatan Soma dalam martabat raja serta kemuliaan ritual—dengan bingkai rājasūya dan pemberian dakṣiṇā. Pada bagian akhir disajikan uraian etiologis tentang oṣadhi (tumbuhan, biji-bijian, kacang-kacangan), menegaskan Soma sebagai penopang dunia melalui jyotsnā dan sebagai penguasa vegetasi. Dengan demikian, kosmologi dihubungkan dengan kehidupan agraris dan tata upacara suci.

Dakṣa-śāpa, Soma-kṣaya, and Prabhāsa-liṅga Upadeśa (दक्षशाप–सोमक्षय–प्रभासलिङ्गोपदेशः)
Bab 21 menampilkan dialog teologis antara Devī dan Īśvara tentang tanda/keadaan khas Soma serta sebabnya. Īśvara menguraikan keturunan Dakṣa dan pembagian pernikahan putri-putrinya kepada Dharma, Kaśyapa, Soma, dan lainnya; lalu menyajikan ringkas silsilah: para istri Dharma beserta keturunannya, para Vasu dan garis keturunannya, para Sādhya, dua belas Āditya, sebelas Rudra, serta beberapa garis asura seperti keturunan Hiraṇyakaśipu. Kisah beralih pada pernikahan Soma dengan dua puluh tujuh Nakṣatra, dengan Rohiṇī sebagai permaisuri yang paling dicintai. Istri-istri lain yang terabaikan mengadu kepada Dakṣa. Dakṣa menasihati Soma agar berlaku adil; Soma berjanji namun kembali terpaut hanya pada Rohiṇī. Maka Dakṣa menjatuhkan kutuk: Soma akan dikuasai yakṣmā (penyakit susut/merana) sehingga cahayanya berangsur menyusut. Soma yang meredup, atas nasihat Rohiṇī, mencari perlindungan pada otoritas yang mengutuknya dan akhirnya berserah kepada Mahādeva. Ketika memohon pembebasan, Dakṣa menyatakan kutuk itu tak dapat dibatalkan dengan cara biasa dan mengarahkan Soma untuk memuja Śaṅkara. Dakṣa juga memberi petunjuk tempat: di arah Varuṇa, dekat samudra dan wilayah anūpa (rawa), terdapat liṅga svayambhū yang sangat sakti dengan tanda-tanda bercahaya; dengan bhakti dan pemujaan di sana, penyucian dan pemulihan kemuliaan dapat diperoleh. Bab ini memadukan ajaran moral, penunjuk kosmologis, dan tujuan ziarah suci di kawasan Prabhāsa.

कृतस्मरपर्वत-वर्णनम् तथा सोमशापानुग्रहः (Description of Mount Kṛtasmar(a) and Soma’s Curse–Boon Resolution)
Bab 22 menggambarkan perjalanan Soma dari derita menuju pemulihan di dalam geografi ritual Prabhāsa. Walau telah memperoleh izin Dakṣa, Soma masih diliputi duka; ia tiba di Prabhāsa dan memandang Gunung Kṛtasmar(a) yang termasyhur, dihiasi tumbuh-tumbuhan yang membawa berkah, burung-burung, nyanyian para gandharwa, serta perhimpunan para pertapa dan ahli Weda. Selanjutnya Soma menjalankan laku bhakti: berulang kali melakukan pradakṣiṇā dan memuja dengan pikiran terpusat di dekat laut, pada liṅga yang terkait dengan ‘Sparśa’ (sentuhan/perjumpaan). Ia bertapa lama dengan aturan makan buah dan umbi, lalu melantunkan himne teratur yang memuji wujud Śiva yang melampaui segalanya, beserta banyak sebutan suci, termasuk rangkaian nama ilahi menurut masa-masa kosmis. Śiva berkenan dan menganugerahkan karunia: surut dan tumbuhnya Soma akan berlangsung bergantian pada dua paruh bulan, sehingga sabda Dakṣa tetap berlaku namun tidak lagi sekeras semula. Bab ini juga menegaskan kewibawaan brahmana sebagai penopang kestabilan kosmos dan keberhasilan ritus. Penutupnya memuat petunjuk tentang liṅga yang tersembunyi di samudra dan penempatannya, serta menjelaskan nama ‘Prabhāsa’ sebagai tempat kembalinya cahaya (prabhā) pada Soma yang sempat kehilangan sinar.

Somēśa-liṅga Pratiṣṭhā at Prabhāsa: Soma’s Yajña Preparations and Brahmā’s Consecration
Bab ini mengisahkan Soma (Candra) yang, setelah menerima liṅga utama dari Śambhu, menetap di kṣetra Prabhāsa dengan bhakti dan rasa takjub. Ia menugaskan Viśvakarman (Tvaṣṭṛ), sang perajin ilahi, untuk menjaga liṅga dan menentukan tapak yang tepat, lalu kembali ke Candraloka guna menghimpun perlengkapan yajña yang sangat besar. Menteri Hemagarbha mengatur logistik: memanggil para brāhmaṇa beserta api suci, menyiapkan kendaraan dan anugerah melimpah, serta mengumumkan undangan umum bagi deva, dānava, yakṣa, gandharva, rākṣasa, raja-raja tujuh pulau, hingga para penghuni alam bawah. Di Prabhāsa segera dibangun maṇḍapa, yūpa, dan banyak kuṇḍa; samid, kuśa, bunga, ghee, susu, serta bejana emas disiapkan sesuai tata-vidhi, menghadirkan kemeriahan bak perayaan. Hemagarbha melaporkan kesiapan kepada Soma dan Brahmā. Brahmā datang bersama para ṛṣi, dengan Bṛhaspati sebagai purohita; ia menjelaskan perannya yang berulang di Prabhāsa dan variasi nama menurut kalpa, serta menegaskan perlunya pemulihan pratishṭhā untuk menebus kekeliruan terdahulu. Lalu disusun rekayasa liturgis: banyak maṇḍapa, pembagian tugas ṛtvij, dīkṣā Soma dengan Rohiṇī sebagai patnī, pembagian japa-mantra menurut cabang Veda, pembangunan kuṇḍa bergeometri tertentu menurut arah, penegakan dhvaja dan penanaman pohon-pohon suci. Puncaknya, Brahmā memasuki tanah, menyingkap liṅga, menegakkannya di atas brahma-śilā, melakukan mantra-nyāsa, dan menyempurnakan pratishṭhā Somēśa. Tanda-tanda mujur pun tampak—api tanpa asap, genderang ilahi, hujan bunga—disusul dakṣiṇā yang besar, anugerah kerajaan, dan Soma yang terus memuja dewa terpasang itu tiga kali sehari.

सोमनाथलिङ्गप्रतिष्ठा, दर्शनफलप्रशंसा, पुष्पविधान, तथा सोमवारव्रतप्रस्तावना (Somnātha Liṅga स्थापना, merits of darśana, floral regulations, and the prelude to the Monday-vrata)
Bab ini disajikan sebagai dialog Devī–Īśvara yang menempatkan liṅga Somnātha dalam kronologi suci pada konteks Tretā-yuga. Soma, melalui tapa dan pemujaan yang berkesinambungan, melantunkan stuti dengan banyak sebutan bagi Śiva—hakikat pengetahuan, yoga, tīrtha, dan yajña. Śiva menganugerahkan anugerah kedekatan abadi dalam liṅga, serta menetapkan nama tempat ‘Prabhāsa’ dan nama dewa ‘Somnātha’. Selanjutnya diajarkan phala (buah kebajikan): darśana Somnātha disamakan dengan, bahkan dikatakan melampaui, tapa berat, dana, ziarah tīrtha, dan upacara besar—menegaskan keutamaan perjumpaan bhakti di dalam kṣetra. Bab ini juga memuat ketentuan teknis bunga dan daun untuk pemujaan: mana yang layak dan yang harus dihindari, aturan kesegaran, serta ketentuan siang–malam. Sesudah kesembuhan Soma, diceritakan pembangunan kota-kuil beserta kompleks prāsāda dan berbagai endowmen. Muncul kegelisahan para brāhmaṇa tentang kenajisan saat menangani nirmālya Śiva, lalu melalui ingatan Nārada atas wacana Gaurī–Śaṅkara dijelaskan kemuliaan bhakti, kecenderungan menurut guṇa, serta hubungan non-dual (advaita) antara Śiva dan Hari pada tataran tertinggi. Penutupnya beralih ke pengantar Somavāra-vrata (puasa Senin), disertai kisah teladan keluarga Gandharva yang mengarah pada resep penyembuhan melalui pemujaan Somnātha.

सोमवारव्रतविधानम् — The Ordinance of the Monday Vow (Somavāra-vrata)
Bab ini menyajikan tuntunan teologis-ritual dalam bentuk dialog tentang Somavāra-vrata (kaul hari Senin). Īśvara memperkenalkan seorang Gandharva yang ingin memuja Bhava (Śiva) dan menanyakan tata cara Somavāra-vrata. Resi Gośṛṅga memuji kaul ini sebagai pemberi manfaat bagi semua, lalu menuturkan kisah asal-usulnya: Soma yang tersiksa kutukan Dakṣa bersemedi lama memuja Śiva; Śiva berkenan menganugerahkan penetapan sebuah liṅga yang akan bertahan selama matahari, bulan, dan gunung masih tegak, dan Soma pun terbebas dari penyakit serta kembali bercahaya. Selanjutnya dijelaskan pedoman pelaksanaan: memilih hari Senin pada paruh terang (śukla-pakṣa), melakukan penyucian, menata kalaśa yang dihias dan ruang pemujaan, lalu memuja Someśvara bersama Umā serta wujud-wujud penjuru. Persembahan berupa bunga putih dan hidangan serta buah-buahan tertentu dipersembahkan, disertai japa mantra yang ditujukan kepada Śiva berwajah banyak dan berlengan banyak yang bersatu dengan Umā. Rangkaian observansi hari Senin diuraikan bertahap (pilihan dantakāṣṭha, jenis persembahan, disiplin malam seperti tidur di atas darbha dan kadang berjaga), hingga puncak udhyāpana pada hari kesembilan: pendirian maṇḍapa, kuṇḍa, maṇḍala teratai, delapan kalaśa penjuru, arca emas, homa, pemberian kepada guru, jamuan brāhmaṇa, serta dana kain dan sapi. Phalāśruti menjanjikan lenyapnya penyakit, kemakmuran, kebaikan garis keturunan, dan pencapaian Śiva-loka; Gandharva pun melaksanakan kaul itu di Prabhāsa/Someśvara dan memperoleh anugerah.

गन्धर्वेश्वरमाहात्म्यवर्णनम् | Gandharveśvara Māhātmya (Description of the Glory of Gandharveśvara)
Bab ini menuturkan kemuliaan Gandharveśvara dalam gaya ajaran Śaiva. Īśvara mengisahkan Gandharva bernama Ghanavāhana yang setelah memperoleh anugerah menjadi kṛtārtha (terpenuhi) dan selaras dalam bhakti, lalu menegakkan sebuah liṅga. Liṅga itu dikenal sebagai “Gandharveśvara” dan disebut tegas sebagai “gāndharva-phala-dāyaka”, pemberi buah/manfaat yang berkaitan dengan Gandharva. Letaknya ditetapkan: di utara Someśa dan dekat Daṇḍapāṇi. Selanjutnya diberikan petunjuk pemujaan yang terkait geografi ritual: pada bagian yang berhubungan dengan Varuṇa (varadā-vāruṇa-bhāga), di tempat yang berada di antara “pañcaka” (lima) busur, pemujaan pada tithi pañcamī (hari lunar kelima) dikatakan mencegah duka dan kesusahan bagi pemuja. Kolofon menegaskan bahwa bab ini termasuk dalam Skanda Mahāpurāṇa berjumlah 81.000 śloka, pada Prabhāsa Khaṇḍa bagian ketujuh, dalam seksi pertama Prabhāsa-kṣetra-māhātmya.

गन्धर्वसेनेश्वरमाहात्म्यवर्णनम् | Gandharvasenīśvara: Account of the Shrine’s Greatness
Dalam adhyaya ini, Īśvara bersabda kepada Devī tentang sebuah liṅga yang didirikan oleh Gandharvasenā di dekat Gaurī. Liṅga itu dikenal sebagai Vimaleśvara dan dipuji sebagai pemusnah segala penyakit (sarva-roga-vināśana). Letaknya dijelaskan dengan penanda jarak “tiga busur” serta petunjuk arah “bagian timur”, sehingga menjadi panduan dalam topografi tirtha yang suci. Tersirat tata-bhakti berupa pemujaan (pūjā), dengan penegasan waktu ritual pada tithi Tṛtīyā sebagai saat utama untuk menjalankan observansi. Phalaśruti menjanjikan lenyapnya kemalangan (daurbhāgya) bagi perempuan pelaku, tercapainya tujuan yang diinginkan, termasuk kelangsungan keluarga (putra dan cucu) serta kemantapan kedudukan dan kehormatan (pratiṣṭhā). Ajaran ini ditutup sebagai kisah-vrata yang bila didengar menghancurkan dosa, dan ditempatkan dalam bingkai zaman Tretā-yuga sebagai pengukuh wibawa Purāṇa.

Somnātha-yātrāvidhi, Tīrthānugamana-nyāya, and Dāna–Upavāsa Regulations (सौमनाथयात्राविधिः)
Bab ini dibuka dengan permohonan Devī agar tata cara ziarah ke Somanātha dijelaskan dengan tepat: waktu, metode, dan disiplin yang harus dijaga. Īśvara menjawab bahwa yātrā dapat dilakukan pada musim apa pun ketika tekad batin (bhāva) bangkit; bhāva itulah sebab utama. Lalu dipaparkan laku persiapan: penghormatan batin kepada Rudra, śrāddha sesuai kelayakan, pradakṣiṇā, diam atau pengendalian ucapan, pola makan teratur, serta meninggalkan amarah, keserakahan, kebingungan batin, iri dengki, dan cela lainnya. Selanjutnya ditegaskan bahwa pada Kali-yuga, tīrthānugamana—terutama berjalan kaki—melampaui beberapa pola kurban yajña dalam buah rohaninya; Prabhāsa pun disebut tiada banding di antara tīrtha. Hasilnya dibedakan menurut cara perjalanan (berjalan/berkendaraan), tingkat tapa (pengendalian berbasis bhikṣā), dan kemurnian etika; sekaligus diperingatkan terhadap praktik tercela seperti penerimaan hadiah yang tidak patut (pratigraha) dan komersialisasi pengetahuan Weda. Bab ini juga memberi aturan puasa menurut varṇa/āśrama, mengecam ziarah yang munafik, dan menyusun kalender dāna berdasarkan tithi bulan di Prabhāsa. Penutupnya menegaskan bahwa peziarah miskin atau tanpa mantra pun, bila wafat di Prabhāsa, mencapai alam Śiva; disertai urutan mantra umum untuk tīrtha-snāna, sebagai pengantar ke bahasan berikutnya: tīrtha mana yang didahulukan untuk mandi saat tiba.

Agnitīrtha–Padmaka Tīrtha Vidhi and the Ocean’s Curse–Boon Narrative (अग्नितीर्थ–पद्मकतीर्थविधिः सागरशापवरकथा)
Bab ini bergerak dalam dua bagian yang saling terkait. Pertama, tata-ritus tirtha: Īśvara menuntun peziarah ke Agnitīrtha di tepi samudra yang suci, lalu menunjukkan Padmaka-tīrtha di selatan Somnātha sebagai tempat termasyhur yang melenyapkan dosa. Diajarkan tata cara mandi suci dan vapanam (pemotongan/penyucian rambut): bermeditasi pada Śaṅkara, meletakkan rambut pada lokasi yang ditentukan, mengulangi snāna, serta melakukan tarpaṇa dengan iman. Disebut pula batasan bagi perempuan dan para grihastha, peringatan agar tidak menyentuh samudra tanpa mantra dan tanpa waktu parva serta ritus yang ditetapkan, juga bentuk-bentuk mantra untuk mendekati samudra dan persembahan gelang emas (kankaṇa) ke dalam laut. Kedua, kisah sebab-teologis: Devī bertanya mengapa samudra dapat terkena “doṣa” padahal menjadi tempat bermuaranya sungai-sungai dan terkait dengan Viṣṇu serta Lakṣmī. Īśvara menuturkan peristiwa lampau: para dewa, terancam oleh brahmana yang menuntut dakṣiṇā setelah yajña panjang di Prabhāsa, bersembunyi di samudra; samudra memberi brahmana daging secara tersembunyi, sehingga brahmana mengutuk samudra menjadi “tak layak disentuh/diminum” kecuali dalam syarat tertentu. Brahmā menetapkan pemulihan: pada waktu parva, di pertemuan sungai, di Setubandha, dan di tirtha tertentu, kontak dengan samudra menjadi penyuci dan berbuah pahala agung; samudra menebusnya dengan permata. Penutupnya menyebut geografi Vāḍavānala (api bawah laut yang “meminum” air) dan menegaskan Agnitīrtha sebagai rahasia yang dijaga dan sangat manjur—mendengarnya saja menyucikan bahkan para pendosa berat.

सोमेश्वरपूजामाहात्म्यवर्णनम् | Someshvara Worship: Procedure and Merits
Atas pertanyaan Devī, Īśvara menjelaskan tata cara agar peziarah menempuh perjalanan tanpa rintangan setelah mandi suci di Agni-tīrtha. Ia hendaknya mandi sesuai vidhāna lalu mempersembahkan arghya kepada samudra (mahodadhi), memuja dengan wewangian, bunga, busana, dan olesan suci. Menurut kemampuan, ia melepaskan gelang/perhiasan emas ke air suci, melakukan tarpaṇa bagi para leluhur, kemudian menuju Kapardin (Śiva) dan mempersembahkan arghya dengan mantra yang berkaitan dengan gaṇa. Ada pula petunjuk tentang akses mantra, termasuk rujukan mantra delapan suku kata bagi Śūdra. Selanjutnya peziarah mendatangi Som(e)śvara, melakukan abhiṣeka serta melantunkan Śatarudrīya dan bacaan-bacaan Rudra lainnya. Dilakukan pemandian dengan berbagai zat—susu, dadih, ghee, madu, gula/air tebu—serta pengolesan harum seperti kunkuma, kapur barus, vetiver, kesturi, dan cendana. Diteruskan dengan dupa, pelita, naivedya, ārātrika, musik dan tari, serta darśana dan pembacaan yang berorientasi dharma. Ia dianjurkan memberi dana kepada pertapa dwija, juga kepada kaum miskin, tunanetra, dan papa. Disampaikan pula disiplin upavāsa yang terkait dengan tithi saat melihat Som(e)śvara. Buahnya: penghapusan dosa pada berbagai tahap hidup, pengangkatan garis keluarga, bebas dari kemiskinan dan kesialan, serta bhakti yang makin kuat—terutama ditekankan karena sulitnya menegakkan dharma pada Kali-yuga.

वडवानलोत्पत्तिवृत्तान्ते दधीचिमहर्षये सर्वदेवकृतस्वस्वशस्त्रसमर्पणवर्णनम् (Origin Account of the Vādavānala and the Devas’ Deposition of Weapons with Maharṣi Dadhīci)
Bab ini disajikan sebagai dialog Devī–Īśvara yang meminta penjelasan sebab atas tiga hal: (1) makna ‘sa-kāra-pañcaka’ yang telah diajarkan, (2) kehadiran serta kemunculan Sarasvatī di kṣetra Prabhāsa, dan (3) asal-usul serta waktu munculnya motif vādavānala (api samudra). Īśvara menjawab bahwa Sarasvatī menampakkan diri di Prabhāsa sebagai daya penyuci, dikenal dengan lima nama: Hiraṇyā, Vajriṇī, Nyaṅku, Kapilā, dan Sarasvatī. Kisah lalu beralih ke peristiwa etiologis. Setelah pertikaian deva–asura mereda karena sebab yang berkaitan dengan Soma, atas perintah Brahmā, Candra mengembalikan Tārā. Para deva memandang ke bumi dan melihat āśrama yang laksana surga—pertapaan Mahārṣi Dadhīci, dipenuhi bunga musim dan tumbuhan harum. Dengan sikap tertahan seperti manusia, mereka mendekat; sang ṛṣi menyambut dengan penghormatan arghya–pādya dan mempersilakan duduk. Indra memohon agar Dadhīci menerima senjata para deva untuk disimpan dengan aman. Dadhīci mula-mula menyuruh mereka kembali ke surga, namun Indra menegaskan bahwa senjata itu harus dapat diambil kembali saat diperlukan. Sang ṛṣi pun menyetujui dengan janji kebenaran bahwa pada masa perang ia akan mengembalikannya; Indra percaya pada kejujurannya, menitipkan senjata, lalu berangkat. Pada bagian phalaśruti disebutkan: siapa yang mendengar kisah ini dengan disiplin dan perhatian akan meraih kemenangan dalam pertempuran, memperoleh keturunan yang baik, serta mendapatkan dharma, artha, dan kemasyhuran.

दधीच्यस्थि-शस्त्रनिर्माणम्, पिप्पलादोत्पत्तिः, वाडवाग्नि-प्रसंगः (Dadhīci’s Bones and the Making of Divine Weapons; Birth of Pippalāda; The Vāḍava Fire Episode)
Bab ini merangkai beberapa kisah tentang tapa, tata-negara para dewa, dan sebab-akibat karma. Setelah para dewa pergi, resi brahmana Dadhīci tetap bertapa lalu berpindah ke utara dan tinggal di āśrama tepi sungai. Pelayan beliau, Subhadrā, saat mandi tanpa sadar bersentuhan dengan kain pinggang yang dibuang dan mengandung benih; ia mendapati dirinya hamil, lalu karena malu melahirkan di rimbun aśvattha dan mengucapkan kutuk bersyarat kepada pelaku yang tak dikenal. Kemudian para lokapāla dan Indra mendatangi Dadhīci untuk meminta kembali senjata yang pernah dititipkan. Dadhīci menjelaskan bahwa daya senjata itu telah ia serap ke dalam tubuhnya, dan mengusulkan agar senjata-senjata ilahi dibuat dari tulang-belulangnya; demi perlindungan dunia ia dengan sukarela meninggalkan raganya. Para dewa memanggil lima sapi Surabhī untuk menyucikan sisa jasad; perselisihan memunculkan kisah kutuk atas Sarasvatī yang menjelaskan konvensi kemurnian-kenajisan dalam ritus. Viśvakarman lalu menempa vajra, cakra, śūla, dan senjata para lokapāla lainnya dari tulang Dadhīci. Subhadrā kemudian menemukan anak itu hidup; sang anak menyatakan ini sebagai keniscayaan karma dan dinamai Pippalāda karena dipelihara oleh sari aśvattha. Setelah mengetahui ayahnya terbunuh demi pembuatan senjata, ia bernazar membalas dan bertapa hingga melahirkan kṛtyā yang dahsyat; dari pahanya muncul sosok berapi yang terkait dengan Vāḍava-agni. Para dewa memohon perlindungan; Viṣṇu menenangkan bencana itu dengan ketentuan “memakan satu per satu”, mengubah amarah kosmis menjadi tatanan yang teratur. Penutupnya menyatakan phala: mendengar dengan penuh perhatian melenyapkan takut akan dosa serta meneguhkan pengetahuan dan jalan menuju mokṣa.

वाडवानल-नयनम् तथा पञ्चस्रोता-सरस्वती-प्रादुर्भावः (Transport of the Vāḍava Fire and the Manifestation of Five-Stream Sarasvatī)
Bab ini dibuka dengan pertanyaan Devī tentang rangkaian peristiwa lampau. Īśvara menjelaskan bahwa api dahsyat Vāḍava mengancam tatanan kosmis, sehingga para dewa harus mengekang dan memindahkannya. Atas siasat Viṣṇu, Sarasvatī ditetapkan sebagai wahana (yāna-bhūtā); Gaṅgā dan dewi-dewi sungai lain menyatakan tak sanggup karena kedahsyatan daya membakar api itu. Sarasvatī, terikat untuk tidak bertindak tanpa perintah ayahnya, memohon izin Brahmā; Brahmā menetapkan jalur bawah tanah dan menubuatkan bahwa ketika ia letih menanggung api, ia akan tampak di bumi sebagai Prācī dan membuka pintu-pintu tīrtha. Selanjutnya dikisahkan keberangkatan yang suci, kemunculan Sarasvatī sebagai sungai dari wilayah Himālaya, serta peralihan berulang antara aliran bawah tanah dan aliran yang terlihat di permukaan. Di Prabhāsa hadir empat ṛṣi—Harina, Vajra, Nyaṅku, dan Kapila; demi kesejahteraan mereka dan demi pahala, Sarasvatī menjadi pañca-srotas (berlima arus) dan memperoleh lima nama: Harīṇī, Vajriṇī, Nyaṅku, Kapilā, dan Sarasvatī. Diterangkan pula tata cara mandi dan minum pada masing-masing arus untuk menyingkirkan dosa-dosa berat dan menyucikan kesalahan tertentu. Kemudian muncul Kṛtasmarā, sosok gunung yang menghalangi dan memaksa pernikahan; Sarasvatī dengan cerdik meminta gunung itu menahan api, sehingga gunung hancur oleh sentuhan Vāḍava, dan batu-batunya yang melunak dijelaskan sebagai layak untuk membangun tempat suci di rumah. Di tepi samudra, Vāḍava menawarkan anugerah; atas nasihat Viṣṇu, Sarasvatī memohon agar api menjadi ‘bermulut jarum’ (sūcī-mukha), sehingga ia dapat meminum air tanpa melalap para dewa. Bab ditutup dengan phalaśruti: mendengar atau melantunkan kisah ini membawa peninggian rohani.

वडवानल-निबन्धनम् (Containment of the Vaḍavānala) — Sarasvatī, the Ocean, and Prabhāsa’s Tīrtha-Order
Īśvara menuturkan kepada Devī kisah suci yang terikat pada Prabhāsa. Sarasvatī, setelah memperoleh anugerah terkait Vaḍavānala (api dahsyat di kedalaman samudra), atas petunjuk ilahi pergi ke Prabhāsa dan memanggil Samudra. Samudra tampil dengan keindahan ilahiah beserta para pengiring; Sarasvatī menyapanya sebagai penopang purba semua makhluk dan memohon agar ia menerima api Vaḍava demi tujuan para dewa. Samudra mempertimbangkan lalu menyetujui dan menerima api itu; makhluk-makhluk air pun gentar karena nyala yang kian hebat. Kemudian Viṣṇu, sang Daitiyasūdana/Acyuta, datang menenteramkan para makhluk air dan memerintahkan Varuṇa/Samudra agar melemparkan Vaḍavānala ke perairan terdalam, sehingga ia tetap ‘meminum’ samudra namun berada dalam kendali. Ketika Samudra takut airnya akan habis, Viṣṇu menjadikan air samudra tak berkurang, menegakkan kembali keseimbangan kosmis. Sesudah itu Sarasvatī memasuki laut melalui jalur yang disebutkan namanya, mempersembahkan arghya, dan menegakkan Arghyeśvara; dikatakan ia berdiri dekat Somēśa di arah tenggara, membawa kaitan dengan Vaḍavānala. Bab ini menutup dengan tuntunan ziarah di Agnitīrtha—mandi suci, pemujaan, memberi pakaian dan makanan kepada pasangan, serta memuja Mahādeva—disertai catatan waktu (manvantara Cākṣuṣa dan Vaivasvata) dan phala: mendengar kisah ini melenyapkan dosa serta menambah pahala dan kemasyhuran.

Ādhyāya 35 — Oūrva, Vāḍavāgni, and Sarasvatī’s Tīrtha-Route to Prabhāsa (और्व-वाडवाग्नि-सरस्वतीतीर्थमार्गः)
Bab ini berbentuk dialog teologis ketika Devī menanyakan asal-usul tokoh Bhārgava bernama Ūrva pada Manvantara sekarang. Īśvara menuturkan sebab-akibat kekerasan: para brāhmaṇa dibunuh oleh para kṣatriya demi harta; seorang perempuan menyelamatkan janin dengan menyembunyikannya di paha (ūru), dan dari sanalah Ūrva lahir. Ūrva kemudian melahirkan api dahsyat dari tapa—Raudra Ūrva/Vāḍavāgni—yang mengancam membakar bumi; para dewa memohon perlindungan Brahmā. Brahmā menenangkan Ūrva dan memerintahkan agar api itu diarahkan ke samudra, bukan memusnahkan dunia. Sarasvatī ditugaskan membawa api yang telah disucikan dalam bejana emas; perjalanannya menjadi rute tirtha yang rinci: dari wilayah Himalaya menuju barat, ia berulang kali menghilang (antardhāna) lalu muncul kembali di sumur-sumur dan tirtha bernama—seperti Gandharva-kūpa—melewati berbagai situs Īśvara, sangama, pohon vata, hutan, dan simpul-simpul ritual. Di tepi laut Sarasvatī melepaskan Vāḍavāgni ke dalam air asin; Agni memberi anugerah, namun diperintah melalui “cincin” agar tidak mengeringkan samudra. Penutupnya memuji kelangkaan dan daya Prācī Sarasvatī, pahala Agni-tīrtha, serta urutan pemujaan dalam “Raudrī yātrā”—Sarasvatī, Kapardin/Śiva, Kedāra, Bhīmeśvara, Bhairaveśvara, Caṇḍīśvara, Someśvara, Navagraha, Rudra-ekādaśa, dan Brahmā dalam wujud kanak-kanak—sebagai penghancur dosa.

Prācī Sarasvatī Māhātmya and Prāyaścitta of Arjuna at Prabhāsa (प्राचीसरस्वतीमाहात्म्यं तथा पार्थस्य प्रायश्चित्तकथा)
Bab ini disusun sebagai dialog: Dewi memohon penjelasan tentang kelangkaan serta daya penyucian Prācī Sarasvatī, terutama di Prabhāsa, bahkan dibandingkan dengan Kurukṣetra dan Puṣkara. Īśvara (Śiva) menegaskan kemuliaan Prabhāsa dan menyebut sungai itu sebagai penghapus cela; untuk minum dan mandi tidak terikat aturan waktu yang ketat, dan makhluk apa pun yang mandi atau meminumnya—bahkan hewan—dapat terangkat oleh pahala. Kemudian melalui kisah Sūta disampaikan teladan: seusai perang Bhārata, Arjuna (Kirīṭin, terkait Nara-Nārāyaṇa) menanggung beban dosa pembunuhan kerabat sehingga dijauhi dan dicela. Śrī Kṛṣṇa tidak mengarahkannya ke Gayā, Gaṅgā, atau Puṣkara, melainkan ke tempat Prācī Sarasvatī. Arjuna menjalankan puasa tiga malam (trirātra) dan mandi tiga kali sehari; dengan itu dosa yang terkumpul luruh, dan Yudhiṣṭhira beserta yang lain menerimanya kembali. Ajaran ritual-etis turut diperluas: wafat dekat tepi utara dipandang memberi buah “tanpa kembali”, tapa dipuji, dan dāna serta śrāddha di tīrtha itu menghasilkan ganjaran berlipat bagi pemberi dan para leluhur, bahkan disebut mengangkat banyak generasi. Penutup menegaskan Sarasvatī sebagai yang utama di antara sungai-sungai, pemberi kelegaan di dunia dan kesejahteraan setelah wafat.

कंकणमाहात्म्यवर्णनम् / Theological Account of the Bracelet Rite
Bab ini menguraikan, dalam bentuk dialog, alasan dan kemanjuran tindakan ritual melempar gelang (kankana) ke samudra di Prabhāsa, dekat Someshvara. Dewi menanyakan mantra, tata cara, waktu pelaksanaan, serta kisah teladan; Īśvara menjawab dengan contoh bergaya Purāṇa. Dikisahkan Raja Bṛhadratha yang saleh dan permaisurinya yang suci, Indumatī, menjamu resi Kaṇva. Setelah wejangan dharma, Kaṇva menyingkap riwayat kelahiran lampau Indumatī: dahulu ia seorang perempuan Ābhīrī yang miskin, memiliki lima suami, datang ke Someshvara; saat mandi di laut ia dihantam ombak hingga gelang emasnya terlepas dan hilang. Ia kemudian wafat dan terlahir kembali sebagai ratu dalam keluarga kerajaan. Kaṇva menegaskan bahwa keberuntungan Indumatī bukan hasil vrata, tapa, atau dana besar, melainkan terkait peristiwa gelang itu dan buah khusus tempat suci Prabhāsa. Karena mengetahui phala-nya—pelenyap dosa dan pemberi segala keinginan—keluarga kerajaan pun menetapkan praktik tahunan: setelah mandi di air asin Someshvara, gelang dipersembahkan ke samudra; bab ini menonjolkan kemuliaan tīrtha, di mana tindakan kecil berbuah pahala agung.

Kaparddī-Vināyaka as Prabhāsa-kṣetra Protector and the Vighnamardana Stotra (कपर्द्दी-विनायकः प्रभासक्षेत्ररक्षकः तथा विघ्नमर्दनस्तोत्रम्)
Bab ini berbentuk dialog Devī–Īśvara yang menjelaskan mengapa di Prabhāsa-kṣetra Kaparddī-Vināyaka (wujud Gaṇeśa) harus dipuja terlebih dahulu sebelum mendekati Somēśvara. Īśvara menyatakan bahwa Somēśvara adalah liṅga-rūpa Sadāśiva yang ditegakkan di wilayah Prabhāsa, dan menegaskan keutamaan Kaparddī sebagai pengatur rintangan (Vighneśvara). Juga dipaparkan taksonomi avatāra menurut yuga: Heramba pada Kṛta, Vighnamardana pada Tretā, Lambodara pada Dvāpara, dan Kaparddī pada Kali. Kisah berlanjut ketika para deva gelisah karena manusia, bahkan tanpa tata-ritus lazim, memperoleh keadaan surgawi hanya dengan darśana Somēśvara; tatanan karma dan kewibawaan devaloka pun terasa terguncang. Para deva memohon kepada Devī; dari “mala” yang muncul saat ia memampatkan tubuhnya, lahirlah sosok bergajah bermuka, berlengan empat—Vināyaka—yang ditugasi menimbulkan rintangan bagi mereka yang mendekati Somēśvara dalam kebingungan, demi menjaga kemurnian niat dan kesiapan etis. Devī mengangkatnya sebagai pelindung Prabhāsa-kṣetra dan memerintahkannya menghalangi yang tidak teguh dengan menumbuhkan keterikatan pada keluarga/harta atau mendatangkan sakit, sehingga hanya yang bertekad kuat melanjutkan. Kemudian diajarkan stotra Vighnamardana bagi Kaparddī, tata pemujaan dengan persembahan merah serta laku caturthī. Bagian phala menegaskan kuasa atas rintangan, keberhasilan dalam jangka waktu tertentu, dan akhirnya darśana Somēśvara melalui anugerah Kaparddī; nama “Kaparddī” dihubungkan dengan bentuknya yang menyerupai kaparda (gumpal/jalinan rambut).

Kedāra (Vṛddhi/Kalpa) Liṅga Māhātmya and Śivarātri Jāgaraṇa: The Narrative of King Śaśabindu
Dalam bab ini, Īśvara menjelaskan kepada Mahādevī kemuliaan liṅga yang berhubungan dengan Kedāra di Prabhāsa. Liṅga itu svayaṃbhū (muncul sendiri), sangat dicintai Śiva, berada dekat Bhīmeśvara; pada yuga terdahulu dikenal sebagai Rudreśvara. Karena takut tersentuh pergaulan mleccha, liṅga itu menyatu/tersembunyi, lalu di bumi termasyhur dengan nama “Kedāra”. Diajarkan tata laku: mandi suci di samudra asin dan di tīrtha/kuṇḍa Padmaka, lalu memuja Rudreśa dan Kedāra. Terutama pada caturdaśī paruh terang, berjaga semalam penuh (ekaprajāgara) pada Śivarātri disebut sebagai laku yang berbuah pahala besar. Kemudian Raja Śaśabindu datang ke Prabhāsa pada caturdaśī, melihat para resi tekun dalam japa dan homa, memuja Somnātha, lalu menuju Kedāra dan melakukan jāgaraṇa. Ditanya oleh para resi seperti Cyavana, Yājñavalkya, Nārada, Jaimini, dan lainnya, sang raja menuturkan kisah kelahiran lampau: sebagai seorang Śūdra di masa kelaparan, ia memetik teratai di Rāma-saras namun tak laku dijual; ia lalu menjumpai vigil Śivarātri di liṅga Vṛddha/Rudreśvara yang dipimpin seorang pelacur bernama Anaṅgavatī. Karena tanpa makanan ia berpuasa tanpa sengaja, mandi, mempersembahkan teratai, dan berjaga semalam; dari itulah ia memperoleh kedaulatan di kelahiran berikutnya serta ingatan akan sebabnya. Penutupnya menegaskan: pemujaan liṅga ini melenyapkan dosa besar dan menganugerahkan seluruh tujuan hidup; Anaṅgavatī pun terangkat menjadi apsaras oleh laku yang sama.

भीमेश्वरमाहात्म्यवर्णनम् / Chapter 40: The Māhātmya (Sacred Account) of Bhīmeśvara
Bab ini disusun sebagai dialog Śiva–Devī yang menjelaskan asal-usul, penamaan, dan pahala suci dari sebuah liṅga yang mula-mula ditegakkan oleh Śvetaketu dan kemudian terkait dengan Bhīmasena. Īśvara mengarahkan Devī kepada tempat pemujaan yang sangat manjur di wilayah Prabhāsa, dekat Kedāreśvara, yang dahulu dipuja oleh Bhīma. Bagi para peziarah yang mengharapkan buah tīrtha dan kebahagiaan alam baka, dijelaskan tata cara pemujaan yang tertib, termasuk pemandian susu (kṣīrābhiṣeka) dan upacara terkait. Devī memohon penjelasan sebab-musabab: bagaimana liṅga Śvetaketu menjadi termasyhur dan mengapa menyandang nama Bhīmeśvara. Īśvara menuturkan bahwa pada Tretā-yuga, raja-ṛṣi Śvetaketu bertapa keras selama bertahun-tahun di tepi laut suci Prabhāsa, menjalani disiplin berat menurut pergantian musim. Śiva berkenan menganugerahkan anugerah; Śvetaketu memohon bhakti yang tak tergoyahkan serta kehadiran abadi Śiva di tempat itu, dan Śiva menyetujuinya, sehingga liṅga dikenal sebagai Śvetaketvīśvara. Pada Kali-yuga, Bhīmasena datang bersama saudara-saudaranya dalam perjalanan tīrtha dan memuja liṅga itu; sejak saat itu ia kembali masyhur sebagai Bhīmeśa/Bhīmeśvara. Penutup bab menegaskan bahwa sekadar memandang dan sekali memberi hormat dengan tulus kepada liṅga tersebut dikatakan melenyapkan banyak dosa, bahkan yang terkumpul sepanjang kelahiran-kelahiran.

भैरवेश्वरमाहात्म्यवर्णनम् / The Māhātmya of Bhairaveśvara
Bab 41 memuat penuturan Īśvara tentang sebuah liṅga yang sangat berdaya, didirikan di penjuru timur, berhubungan dengan Sarasvatī, dan berada dekat samudra. Kisahnya menampilkan krisis akibat “vaḍavānala” (api bawah laut) yang bersifat menghancurkan. Sang Dewi membawa liṅga itu mendekati tepi laut, melakukan pemujaan sesuai tata cara, lalu menanggung vaḍavānala dan melemparkannya ke samudra demi kesejahteraan para dewa. Para deva menyambutnya dengan perayaan ritual: bunyi sangkha dan genderang, serta hujan bunga. Mereka menganugerahkan gelar kehormatan “Devamātā” kepada Sang Dewi, mengakui bahwa perbuatan itu sukar bahkan bagi dewa maupun asura. Īśvara kemudian menjelaskan alasan kemasyhuran tempat suci itu: karena Dewi menegakkan liṅga yang membawa keberuntungan, dan karena Sarasvatī dipuji sebagai sungai terbaik serta pemusnah dosa, liṅga itu termasyhur sebagai “Bhairava”, yakni Bhairaveśvara. Di akhir, diberikan tuntunan: pemujaan kepada Sarasvatī dan Bhairaveśvara—terutama pada Mahānavamī dengan mandi suci yang semestinya—menghapus cacat ucapan (vāg-doṣa). Pemujaan liṅga dengan abhiseka susu dan mantra Aghora memberikan buah ziarah (yātrā-phala) secara penuh.

चण्डीशमाहात्म्यवर्णनम् (Chandīśa Shrine-Glory and Ritual Protocols)
Bab 42 memuat ajaran Īśvara kepada Devī tentang cara mendekati dan memuja Dewa Chandīśa di Prabhāsa-kṣetra. Letak śrī-kṣetra itu dijelaskan melalui penanda arah dan keterkaitan tempat—dekat bagian arah Somēśa/Īśa, dan tidak jauh ke selatan dari kediaman Daṇḍapāṇi. Kewibawaan śrī-sthāna diteguhkan dengan kisah bahwa dahulu Chandā serta seorang gaṇa yang menjalani tapa berat telah memasang dan memuja, sehingga termasyhur Liṅga Chandēśvara. Selanjutnya diuraikan tata pūjā yang teratur: abhiṣeka dengan susu, dadih, dan ghee; pengolesan madu, sari tebu, dan saffron; wewangian seperti kapur barus, uśīra, esensi kesturi, serta cendana; persembahan bunga; dupa dan aguru; persembahan kain sesuai kemampuan; naivedya dengan lampu, terutama paramānna; serta dāna/dakṣiṇā kepada para dvijā. Bab ini juga menyebut buah khusus tempat: sedekah yang dipersembahkan sambil menghadap selatan menjadi tak habis bagi Chandīśa; śrāddha di selatan Chandīśa memberi kepuasan panjang bagi leluhur; dan laku Uttarāyaṇa dengan persembahan selimut ghee (ghṛta-kambala) dikaitkan dengan terhindarnya kelahiran kembali yang keras. Penutupnya menegaskan bahwa bhakti ziarah kepada Śūlin bersifat penebusan, membebaskan dari dosa terkait nirmālya, ketidaksengajaan dalam konsumsi, dan cacat karma lainnya.

आदित्येश्वरमाहात्म्यवर्णनम् | Adityeśvara Māhātmya (Chapter on the Glory of Adityeśvara)
Bab 43 memuat petunjuk ziarah suci menurut arah yang diajarkan Īśvara kepada Devī. Disebutkan sebuah liṅga yang dipratiṣṭhā oleh Sūrya, terletak di barat Somēśa dalam jarak terukur ‘tujuh busur’. Liṅga itu bernama Ādityeśvara dan dipuji sebagai pemusnah segala dosa. Diingatkan pula kisah masa Tretāyuga: samudra memuja liṅga itu lama sekali dengan permata, meneguhkan kewibawaan tempat suci ini dalam waktu mitis. Karena pemujaan dengan permata, ia juga disebut Ratneśvara, “Tuhan Permata”. Tata-ritualnya: memandikan dengan pañcāmṛta, memuja dengan lima permata, lalu mempersembahkan rājopacāra sesuai vidhi. Buahnya disamakan dengan Meru-dāna serta gabungan pahala yajña dan dāna; juga disebut mengangkat garis leluhur dari pihak ayah dan ibu. Ditekankan penyucian: dosa masa kanak-kanak, muda, dewasa, dan tua luluh hanya dengan darśana Ratneśvara. Di tempat itu dianjurkan memuliakan dhenu-dāna (derma sapi), dengan janji keselamatan bagi sepuluh generasi sebelumnya dan sepuluh generasi sesudahnya. Setelah pemujaan liṅga yang benar, siapa melantunkan Śatarudrīya di sisi kanan dewa tidak lahir kembali. Penutupnya menegaskan bahwa mendengar dengan penuh perhatian pun membebaskan dari ikatan karma.

Someshvara-māhātmya-varṇanam (Glorification and Ritual Protocol of Someshvara)
Dalam adhyaya ini, Īśvara menetapkan tata urutan pemujaan yang bersifat teologis-ritual. Setelah memuliakan Ādityeśa sesuai vidhi, sang pelaku sādhana menuju Someshvara dan melakukan pūjā dengan pañcāṅga-bhakti, disertai penghormatan jasmani: sāṣṭāṅga praṇipāta, pradakṣiṇā, serta punar-punaḥ darśana (memandang dengan kontemplasi berulang). Liṅga Someshvara diajarkan sebagai penyatuan prinsip sūrya–candra, sehingga pemujaan ini berwatak agnīṣoma dan melengkapi maksud yajña secara simbolis melalui ibadah di mandir. Sesudah itu peziarah memuja Umādevī yang berada di dekatnya, lalu melanjutkan ke stasiun suci berikutnya, Daityasūdana, menandai rangkaian sirkuit tirtha yang saling terhubung di Prabhāsa-kṣetra. Penutupnya menyatakan bahwa ini adalah adhyaya ke-44 dalam uraian Someshvara-māhātmya pada Prabhāsakṣetramāhātmya, Prabhāsa Khaṇḍa.

अङ्गारेश्वरमाहात्म्यवर्णनम् (Aṅgāreśvara Māhātmya: The Glory of the Aṅgāreśvara Shrine)
Dalam adhyaya ini, Īśvara menuturkan asal-usul Aṅgāreśvara di lanskap suci Prabhāsa serta kemanjuran tata-ritualnya. Saat Śiva berniat membakar Tripura, amarah-Nya yang dahsyat membuat air mata memancar dari tiga mata-Nya; sari ilahi itu jatuh ke bumi dan menjadi Bhūmisuta, yakni Bhoma/Maṅgala (planet Mars). Sejak kecil Bhoma pergi ke Prabhāsa dan bertapa lama memuja Śaṅkara; Śiva pun berkenan dan menganugerahkan anugerah. Bhoma memohon grahatva (kedudukan sebagai graha/planet), dan Śiva meneguhkannya, sekaligus memberi janji perlindungan bagi para bhakta yang bersembahyang kepada-Nya di sana dengan bhakti. Disebutkan persembahan bunga merah, homa dengan banyak oblation bercampur madu dan ghee dengan hitungan satu lakh, serta pemujaan pañcopacāra yang cermat. Pada phalaśruti ditegaskan bahwa mendengar ringkasan māhātmya ini melenyapkan dosa dan memberi kesehatan; sedekah tertentu seperti vidruma (karang merah) dikaitkan dengan hasil yang diinginkan, dan Bhoma digambarkan bersinar di wahana surgawi di antara para graha.

बुधेश्वरमाहात्म्यवर्णनम् | Budheśvara Māhātmya (The Glory of Budheśvara Liṅga)
Īśvara menasihati Devī agar pergi ke arah utara, ke sebuah liṅga yang sangat berdaya bernama Budheśvara. Liṅga ini dipuji sebagai penghapus segala dosa hanya dengan darśana (melihat dengan hormat), sehingga menjadi tīrtha yang amat suci. Kewibawaan kisah diteguhkan dengan menyatakan bahwa tempat suci itu didirikan oleh Budha (Merkurius). Budha melakukan tapa dan pemujaan kepada Sadāśiva dalam waktu yang sangat panjang—empat masa laksana yuga, digambarkan sebagai “empat tahun dari puluhan ribu”—hingga akhirnya memperoleh darśana langsung Śiva. Śiva yang berkenan menganugerahkan kepadanya kedudukan sebagai graha (pengatur planet), serta menyatakan bahwa pemujaan Budheśvara, terutama pada Saumyāṣṭamī (aṣṭamī yang terkait Budha), menghasilkan pahala setara yajña Rājasūya. Phalaśruti menjanjikan perlindungan dari kemalangan, kesialan keluarga, perpisahan dari yang diinginkan, dan rasa takut terhadap musuh. Mendengarkan māhātmya ini dengan श्रद्धा (ketulusan bhakti) menuntun pelaku menuju parama pada, “keadaan tertinggi”.

वृहस्पतीश्वरमाहात्म्यवर्णनम् | The Māhātmya of Bṛhaspatīśvara (Guru-associated Liṅga)
Bab ini dibingkai sebagai ajaran Īśvara kepada Mahādevī, mengarahkan peziarah untuk memusatkan perhatian pada sebuah liṅga khusus di sektor timur yang terkait dengan Umā, berada dalam jangkauan arah Āgneya (tenggara). Liṅga agung itu disebut Bṛhaspatīśvara, dipasang oleh Devācārya dan berhubungan erat dengan Guru, yakni Bṛhaspati. Dijelaskan tata teladan pemujaan: bhakti yang tekun kepada liṅga dalam waktu panjang berbuah terpenuhinya keinginan yang sukar diraih, lalu memperoleh kehormatan di kalangan para dewa serta meraih īśvara-jñāna (pengetahuan ketuhanan/kemaharajaan). Bahkan darśana semata atas liṅga yang dibuat Bṛhaspati disebut sebagai pelindung dari kemalangan, khususnya sebagai penawar derita yang dikaitkan dengan pengaruh Bṛhaspati. Waktu ritual ditekankan: Śukla Caturdaśī yang jatuh pada hari Kamis. Pemujaan boleh dilakukan lengkap dengan tata cara dan rājopacāra, atau cukup dengan niat bhakti yang murni. Mandi dengan pañcāmṛta dalam takaran besar dikatakan membebaskan dari ‘tiga hutang’ (ṛṇa-traya)—kepada ibu, ayah, dan guru—membuahkan penyucian, batin tanpa dualitas (nirdvandva), dan akhirnya mokṣa. Penutupnya menyatakan: mendengarkan dengan iman menyenangkan Guru.

Śukreśvara-māhātmya (Glory of the Liṅga Established by Śukra)
Bab ini mengisahkan kemuliaan sebuah tirtha di Prabhāsa-kṣetra. Īśvara menuturkan kepada Devī tentang liṅga yang ditegakkan oleh Śukra (Bhārgava) di arah barat, dekat Vibhūtīśvara; dengan darśana dan sparśa (melihat dan menyentuh) liṅga itu, dosa dan kekotoran batin dilenyapkan. Dikenang pula bagaimana Śukra memperoleh saṃjīvanī-vidyā melalui pengaruh dan anugerah Rudra, setelah tapa yang sangat berat. Demi tujuan ilahi, Śaṃbhu menelannya; namun Śukra tetap bertapa di dalam diri Sang Dewa hingga Mahādeva berkenan dan membebaskannya—menjadi sebab penamaan dan kesucian tempat itu. Selanjutnya diberikan tuntunan: memuja liṅga dengan batin teguh, menjapa mantra Mṛtyuñjaya sebanyak satu lakh, melakukan pañcāmṛta-abhiṣeka, serta pūjā dengan bunga harum. Buahnya ialah perlindungan dari takut akan kematian, pelepasan dari dosa, tercapainya tujuan yang diinginkan, dan kemakmuran laksana siddhi, semuanya bergantung pada bhakti yang mantap.

Śanaiścaraiśvara (Saurīśvara) Māhātmya and Daśaratha’s Śani-stotra | शनैश्चरैश्वरमाहात्म्यं तथा दशरथकृतशनीस्तोत्रम्
Bab ini berbentuk dialog teologis Śiwa (Īśvara–Devī) yang menempatkan sebuah tempat suci liṅga agung bernama Śanaiścaraiśvara/Saurīśvara di lanskap keramat Prabhāsa. Liṅga itu disebut sebagai pusat daya ‘mahāprabha’ yang menenteramkan dosa besar, ketakutan, dan mara bahaya; kedudukan tinggi Śani dijelaskan sebagai buah dari bhakti kepada Śambhu. Dijabarkan pula tata ibadah hari Sabtu: pemujaan dengan daun śamī serta persembahan tilā, māṣa, guḍa, odana, dan anjuran dāna berupa seekor lembu jantan hitam kepada penerima yang layak. Inti kisahnya mengisahkan Raja Daśaratha menghadapi krisis yang diramalkan astrologi: gerak Śani menuju Rohiṇī dan pertanda ‘śakaṭa-bheda’ yang ditakuti membawa kemarau dan kelaparan. Karena susunan itu dinyatakan nyaris tak teratasi, sang raja melakukan tindakan berani—dengan laku tapa dan keberanian ia menuju alam perbintangan, menghadapi Śani dengan sikap siap-berjata, lalu memohon anugerah. Daśaratha meminta agar Rohiṇī tidak disakiti, pertanda śakaṭa tidak “pecah”, dan paceklik dua belas tahun tidak terjadi; Śani mengabulkannya. Bab ini juga memuat stotra Daśaratha kepada Śani, pujian panjang tentang wujudnya yang dahsyat serta kuasanya memberi atau mencabut kedaulatan. Śani memberi jaminan bersyarat: siapa yang melantunkan himne itu dengan pemujaan dan tangan terkatup akan terlindung dari derita Śani, bahkan dari gangguan planet lain pada titik-titik waktu penting (nakṣatra kelahiran, lagna, daśā/antardaśā). Pada akhirnya, phalāśruti menyatakan bahwa pembacaan pada pagi hari Sabtu dan ingatan bhakti mendatangkan kelegaan dari duka akibat graha serta menyempurnakan tujuan hidup.

राह्वीश्वरमाहात्म्यवर्णनम् | Rāhvīśvara Māhātmya (The Glory of Rāhu-established Īśvara)
Bab 50 dalam Prabhāsa Khaṇḍa memuat wejangan teologis setempat ketika Īśvara menjelaskan kepada Devī tentang sebuah liṅga yang sangat berdaya, didirikan oleh Rāhu (Svabhānu/Saiṃhikeya). Letak śrī-kṣetra itu ditunjukkan di arah vayavya (barat laut), dekat Maṅgalā, di utara Ajādevī, serta berdekatan dengan penanda tujuh ‘dhanus’ (busur). Kisah asalnya menyebut asura perkasa Svabhānu bertapa berat selama seribu tahun dan memuja Mahādeva dengan laku tapa ilahi. Karena tapa itu, Mahādeva berkenan dan menampakkan diri/ditetapkan sebagai liṅga yang bersinar laksana “jagaddīpa”, pelita bagi dunia. Dalam phalaśruti ditegaskan: pemujaan dengan śraddhā dan darśana yang benar meluluhkan bahkan dosa berat seperti brahmahatyā. Disebut pula buah lahiriah yang baik—bebas dari kebutaan, tuli, bisu, penyakit, dan kemiskinan—lalu memperoleh kemakmuran, keindahan, tercapainya tujuan, serta kenikmatan bak para dewa. Penutupnya menandai bab ini sebagai bagian dari Skanda Purāṇa, Prabhāsa Khaṇḍa, dalam Prabhāsa Kṣetra Māhātmya.

केत्वीश्वरमाहात्म्यवर्णन (Ketu-linga / Ketvīśvara Māhātmya Description)
Adhyaya ini memaparkan penjelasan topografi dan tata-ritual Ketuliṅga (Ketvīśvara) di dalam lanskap suci Prabhāsa, sebagaimana disabdakan oleh Īśvara. Letaknya ditunjukkan dengan geografi relasional—di utara Rāhvīśāna dan di selatan Maṅgalā—dengan jarak “sejauh tembakan panah”, agar peziarah mudah menapaki rute. Lalu digambarkan Ketu sebagai graha yang dahsyat dengan tanda-tanda ikoniknya, serta kisah tapa-brata Ketu selama seratus tahun ilahi hingga memperoleh anugerah Śiva dan kedudukan sebagai penguasa atas banyak graha. Ditetapkan pula bhakti-pūjā kepada Ketuliṅga, terutama saat kebangkitan Ketu yang dianggap membawa pertanda berat dan ketika penderitaan akibat gangguan graha memuncak. Persembahan seperti bunga, wewangian, dupa, dan beragam naivedya hendaknya dipersembahkan menurut tata cara yang benar. Phala-nya ditegaskan: darśana dan pemujaan di sini menenteramkan derita planet dan melenyapkan dosa. Pada akhirnya, Ketuliṅga ditempatkan dalam sistem yang lebih luas—sembilan graha-liṅga dan keseluruhan empat belas āyatana—seraya dinyatakan bahwa darśana yang teratur menghapus rasa takut akan affliksi dan meneguhkan kesejahteraan rumah tangga.

सिद्धेश्वरमाहात्म्यवर्णनम् / The Glorification of Siddheśvara
Īśvara menasihati Devī tentang “lima Siddha-liṅga”, seraya menyatakan bahwa darśana atasnya menjamin keberhasilan ziarah manusia (yātrā-siddhi). Lalu dijelaskan letak Siddheśvara secara arah: dekat Somēśa pada kuadran tertentu, dan Siddheśvara berada di sektor timur relatif terhadap sebuah penanda tempat yang disebutkan. Mendekat dengan bhakti (abhigamana) dan memuja dinyatakan sangat manjur, menjanjikan aṇimā dan siddhi-siddhi lain, penghapusan dosa, serta pencapaian Siddha-loka. Bab ini juga memaparkan “vighna” batin—nafsu, amarah, takut, loba, keterikatan, iri, kemunafikan, malas, tidur, delusi, dan keakuan—sebagai penghalang siddhi. Pemujaan kepada Siddheśvara dikatakan melarutkan rintangan-rintangan itu bagi penduduk maupun peziarah di kṣetra, sehingga mendorong yatra yang berdisiplin dan arcana yang berkesinambungan. Penutupnya menegaskan kisah ini sebagai bacaan suci yang memusnahkan pāpa ketika didengar, serta memberi tujuan-tujuan yang sah melalui bhakti.

कपिलेश्वरमाहात्म्यवर्णनम् (Kapileśvara Māhātmya—Account of the Glory of Kapileśvara)
Dalam bingkai dialog Śiva–Devī, bab ini mengarahkan peziarah menuju tīrtha Kapileśvara. Liṅga Kapileśvara, yang berada tidak jauh ke arah timur dari titik rute yang disebutkan, dipuji sebagai mahāprabhāva; darśana (melihatnya dengan hormat) dinyatakan menghancurkan pāpa/demerit. Kesucian tempat ini dijelaskan melalui tapa (askese) rājaṛṣi Kapila: setelah menegakkan (pratiṣṭhā) Mahādeva di sana, ia meraih siddhi tertinggi; dan ditegaskan pula adanya deva-sānnidhya yang terus-menerus pada liṅga ini. Selanjutnya diberikan ketentuan waktu: pada śukla-caturdaśī (hari ke-14 paruh terang), seorang bhakta yang berdisiplin, demi kesejahteraan semua dunia, bila memandang Soma/Someśa sebagai Kapileśvara sebanyak tujuh kali, memperoleh pahala setara go-dāna (sedekah sapi). Terakhir, tata cara dāna: siapa yang dengan perhatian terpusat mempersembahkan ‘tila-dhenu’ (sapi simbolis dari wijen) di tīrtha itu, dijanjikan tinggal di surga selama yuga sebanyak jumlah biji wijen—sebagai dorongan etis melalui phalaśruti.

गन्धर्वेश्वरमाहात्म्यवर्णनम् | The Māhātmya of Gandharveśvara (Ghanavāheśvara Liṅga)
Īśvara menuturkan kepada Devī kemuliaan sebuah tirtha setempat di Prabhāsa-kṣetra. Peziarah diarahkan untuk memuja ‘Gandharveśvara yang utama’, sebuah liṅga yang berada di sebelah utara kediaman Daṇḍapāṇi. Kisahnya berpusat pada raja Gandharva, Ghanavāha, dan putrinya, Gandharvasenā. Karena kesombongan atas kecantikannya, Gandharvasenā dikutuk oleh Śikhaṇḍin beserta gaṇanya; kemudian Ṛṣi Gośṛṅga menganugerahkan pertolongan yang terkait dengan vrata hari Senin (somavāra-vrata) serta bhakti kepada Soma/Śiva. Setelah melakukan tapa yang berat di kṣetra itu, Ghanavāha menegakkan sebuah liṅga, dan putrinya pun mendirikan liṅga di tempat yang sama; objek pemujaan itu dinamai ‘Ghanavāheśvara’. Dinyatakan bahwa pemujaan yang saksama di dekat Daṇḍapāṇi menganugerahkan pencapaian Gandharva-loka bagi bhakta yang suci dan berdisiplin. Dalam phalaśruti, tempat ini disebut sebagai kekuatan ‘ketiga’ yang melenyapkan dosa dan menambah kebajikan; mandi di Agni-tīrtha dan memuja liṅga yang dihormati para Gandharva sangat dipuji, dan pencapaian nirvāṇa dihubungkan khusus dengan datangnya uttarāyaṇa. Mendengar serta memuliakan māhātmya ini dikatakan membebaskan dari ketakutan besar.

Vimaleśvara-māhātmya (विमलेश्वरमाहात्म्य) — The Glory of Vimaleśvara
Īśvara menasihati Sang Dewi agar berangkat ke Vimaleśvara, yang berada tidak jauh, dekat Gaurī, mengarah ke penjuru barat daya (nairṛtya). Tempat suci ini dipuji sebagai ‘pāpa-praṇāśana’, pemusnah dosa; berkhasiat bagi perempuan maupun laki-laki, bahkan bagi mereka yang menderita kemerosotan tubuh, untuk mengakhiri derita dan kesusahan. Cara utamanya adalah pemujaan dengan bhakti (bhakti-yukta arcana); melalui itu, penderitaan mereda dan sang pemuja mencapai keadaan atau kedudukan yang ‘nirmala’ (suci). Dikisahkan pula asal-usul kemasyhuran tempat ini, terkait Gandharva-senā dan sosok Vimalā, sehingga liṅga tersebut dikenal di bumi sebagai Vimaleśvara. Bab ini ditutup dengan penegasan bahwa kisah ini adalah bagian keempat dari rangkaian māhātmya, yang menonjolkan daya penghancur segala dosa.

धनदेश्वरमाहात्म्यवर्णनम् | Dhanadeśvara Māhātmya (Glory of Dhanadeśvara)
Īśvara menjelaskan kemuliaan sebuah siddha-liṅga termasyhur bernama Dhanadeśvara di Prabhāsa-kṣetra. Liṅga ini disebut berada di sektor barat-daya dari Brahmā, pada titik keenam belas menurut ukuran ‘busur’, dekat dengan tempat suci Rahuliṅga. Dhanada (Kubera), mengingat keadaan lampau serta memahami daya Śivarātri dan kesucian Prabhāsa, kembali ke sana dan menyaksikan kekuatan luar biasa dari tapak tersebut. Ia menjalankan tapa yang berat dalam waktu lama, lalu menegakkan (pratiṣṭhā) liṅga dan memujanya sesuai tata cara. Berkat anugerah Śiva, Dhanada memperoleh kedudukan luhur sebagai penguasa Alakā; dengan tapa dan bhakti ia meneguhkan bahwa Śaṅkara sungguh hadir nyata di sana. Di akhir bab diberikan tuntunan devosi: pemujaan dengan pañcopacāra serta persembahan harum dikatakan mendatangkan kemakmuran yang langgeng bagi garis keturunan, memberi ketakterkalahkan dan meredam kesombongan musuh, serta mencegah kemiskinan. Siapa pun yang mendengar dan menghormati kisah ini dengan saksama akan memperoleh keberkahan yang mantap.

वरारोहामाहात्म्यवर्णनम् / The Māhātmya of Varārohā (Umā as Icchā-Śakti) at Somēśvara
Bab ini berisi ajaran teologis Īśvara kepada Devī tentang kerangka tiga śakti: icchā (kehendak), kriyā (tindakan), dan jñāna (pengetahuan). Setelah pemujaan liṅga-liṅga suci sesuai kemampuan, pelaku dianjurkan melanjutkan dengan pemujaan kepada ketiga śakti tersebut menurut tata-urutan ritual. Icchā-śakti dilokalkan di Prabhāsa-kṣetra, wilayah Somēśvara, sebagai Dewi Varārohā. Dikisahkan dua puluh enam istri yang ditinggalkan Soma melakukan tapa di tanah Prabhāsa yang mulia; Gaurī/Parvatī menampakkan diri, menganugerahkan karunia, dan menetapkan laku dharma sebagai penawar kemalangan bagi para perempuan. Ditetapkan pula Gaurī-vrata pada tṛtīyā (hari ketiga) bulan Māgha, meliputi darśana dan pemujaan, disertai pola “enam belas” persembahan/dana (buah, makanan, hidangan matang) serta penghormatan kepada pasangan suami-istri. Phalaśruti menegaskan lenyapnya kesialan, datangnya kemakmuran, tercapainya tujuan yang diinginkan, dan bahwa pemujaan Varārohā di Somēśvara menghancurkan dosa serta kemiskinan.

अजापालेश्वरीमाहात्म्यवर्णनम् | Ajāpāleśvarī Māhātmya (Glorification of Ajāpāleśvarī)
Īśvara menjelaskan wujud kedua Śakti di Prabhāsa, yang bersifat kriyātmikā—daya ilahi yang menggerakkan tindakan—serta menyenangkan para dewa. Di wilayah antara Somēśa dan Vāyu terdapat sebuah pīṭha yang dipuja para yoginī, dekat sebuah pātāla-vivara (celah bawah tanah); di sana disebut adanya simpanan tersembunyi berupa nidhī, obat-obatan ilahi, dan rasāyana yang dapat diperoleh para pemuja yang berbakti. Dewi itu dikenali sebagai Bhairavī. Kisah lalu beralih ke teladan raja pada Tretā-yuga: Raja Ajāpāla, tersiksa penyakit, memuja Bhairavī selama lima ratus tahun. Sang Dewi berkenan melenyapkan semua penyakit jasmaninya; penyakit-penyakit itu keluar dari tubuhnya dalam rupa kambing, dan raja diperintah melindunginya—maka ia disebut Ajāpāla, dan Dewi termasyhur sebagai Ajāpāleśvarī sepanjang empat yuga. Ditetapkan pula tata-ritus dan hari suci: pemujaan pada aṣṭamī dan caturdaśī mendatangkan kemakmuran yang berlipat. Pada Aśvayuk-śukla-aṣṭamī, dilakukan tiga pradakṣiṇā dengan Somēśvara sebagai pusat, lalu mandi suci dan memuja Dewi secara terpisah; hasilnya adalah bebas dari takut dan duka selama tiga tahun. Bagi perempuan yang mengalami kemandulan, sakit, atau kemalangan, dianjurkan menjalankan laku navamī di hadapan Dewi. Bab ini juga memuat silsilah kerajaan dan mitos politik: Ajāpāla menjadi penguasa besar; ketika Rāvaṇa menundukkan para dewa, Ajāpāla mengutus personifikasi “Jvara” (demam) untuk menimpanya hingga ia mundur. Penutup menegaskan kuasa Ajāpāleśvarī menenteramkan penyakit dan menghancurkan rintangan; pemujaan dengan persembahan gandha, dhūpa, perhiasan, dan busana dipuji sebagai sarana menyapu derita dan dosa.

अजादेवीमाहात्म्यवर्णनम् | The Māhātmya of Ajā Devī (Chapter 59)
Bab ini berbentuk dialog teologis Śiva–Devī yang mengaitkan ajaran metafisis dengan geografi suci dan pahala ritual. Īśvara memperkenalkan ‘kekuatan pengetahuan ketiga’ (jñāna-śakti) yang bersemayam di Prabhāsa, dipenuhi daya Śiva, dan dikenal sebagai penghapus kemiskinan. Devī bertanya tentang doktrin wajah-wajah Śiva: bagaimana nama wajah keenam, dan bagaimana Ajā Devī lahir darinya. Īśvara mengungkap rahasia esoteris: dahulu ada tujuh wajah; dari sana, wajah ‘Ajā’ terkait dengan Brahmā dan wajah ‘Picu’ terkait dengan Viṣṇu, sehingga pada tatanan kini Śiva dikenal sebagai pañcavaktra (berwajah lima). Dari wajah Ajā, Ajā Devī menampakkan diri saat perang dahsyat melawan Andhāsura—membawa pedang dan perisai, menunggang singa, disertai banyak kekuatan ilahi. Para asura yang lari dikejar ke arah samudra selatan hingga memasuki wilayah Prabhāsa dan dimusnahkan; setelah itu Devī menyadari kesucian kṣetra tersebut dan menetap di sana, dekat Somēśa, dengan penempatan arah yang dijelaskan dalam kaitannya dengan Saurīśa. Phalaśruti menyatakan: darśana memberi sifat-sifat mujur hingga tujuh kelahiran; mempersembahkan musik dan tari membebaskan garis keturunan dari kemalangan; mempersembahkan pelita ghee dengan sumbu merah memberi kemujuran panjang sesuai jumlah helai benang pada pelita; dan membaca atau mendengarkan kisah ini—terutama pada hari lunar tṛtīyā—mewujudkan tujuan yang diinginkan. Penutup menegaskan bahwa pemujaan para Śakti ini menjadi persiapan untuk memuja Somēśa bagi peziarah yang menghendaki buah ziarah yang sempurna.

मङ्गलामाहात्म्यवर्णनम् (Mangalā Devī Māhātmya: Account of the Glory of Mangalā)
Bab ini menampilkan dialog tanya-jawab teologis antara Devī dan Īśvara. Īśvara mula-mula menyebut tiga “dūtī” (kekuatan pelindung perempuan) di Prabhāsa-kṣetra yang memberi buah ziarah Prabhāsa-yātrā: Mangalā, Viśālākṣī, dan Catvara-devī. Devī lalu memohon keterangan yang tepat tentang tempat mereka bersemayam dan tata cara pemujaannya. Īśvara menjelaskan jati diri mereka sebagai wujud-śakti: Mangalā sebagai Brāhmī, Viśālākṣī sebagai Vaiṣṇavī, dan Catvara-devī sebagai śakti Raudrī; serta menegaskan lokasi Mangalā—di utara Ajādevī dan tidak jauh di selatan Rāhvīśa. Asal nama Mangalā diterangkan melalui kisah Somadeva yang berupacara di Somēśvara: di sana Mangalā menganugerahkan kemujuran kepada Brahmā dan para dewa, sehingga ia dipuji sebagai “Sarva-māṅgalya-dāyinī”, pemberi segala keberkahan. Bab ini juga memberi kerangka phala: pemujaan pada hari ketiga (tṛtīyā) menyingkirkan kemalangan serta duka. Dianjurkan pula amal kebajikan seperti menjamu pasangan suami-istri (dampatī-bhojana), bersedekah buah beserta pakaian, dan menyantap ghee dengan pṛṣad sebagai laku penyucian. Penutupnya menegaskan māhātmya Mangalā sebagai pemusnah segala dosa (sarva-pātaka-nāśana).

ललितोमाविशालाक्षी-माहात्म्यवर्णनम् (Lalitā-Umā and Viśālākṣī: Account of the Sacred Greatness)
Īśvara menuturkan kemuliaan sebuah Dewi di Prabhāsa-kṣetra, pada sisi timur dekat tempat suci Śrīdaittyasūdana—ia adalah kṣetra-dūtī, pelindung wilayah suci, berwatak Vaiṣṇavī. Ketika para daitya yang sangat kuat terdesak oleh Viṣṇu, mereka bergerak ke arah selatan dan berperang lama dengan beragam senjata ilahi. Melihat mereka sukar ditundukkan, Viṣṇu memanggil Bhairavī-Śakti, Mahāmāyā yang bercahaya, dan ia segera menampakkan diri. Saat memandang Viṣṇu, sang Dewi memperluas pandangan matanya secara visioner; karena itu ia dikenal sebagai Viśālākṣī, lalu ditegakkan di sana sebagai pemusnah kekuatan yang memusuhi. Ajaran kemudian mengaitkan penampakan ini dengan pemujaan berpasangan Umā (Umā-dvaya) sehubungan dengan Somēśvara dan Daittyasūdana, serta menetapkan urutan ziarah: terlebih dahulu Somēśvara, kemudian Śrīdaittyasūdana. Ditekankan pula laku kalender: pemujaan pada tithi ketiga bulan Māgha. Buahnya ialah kelangsungan garis keturunan (lenyapnya kemandulan turun-temurun), kesehatan, kebahagiaan, dan keberuntungan suci bagi pemuja harian. Penutupnya berupa phala-śruti singkat: mendengar kisah ini menghapus dosa dan menumbuhkan dharma.

चत्वरादेवी-माहात्म्यवर्णनम् | The Māhātmya of Catvarā Devī (the Crossroads Goddess)
Bab 62 memuat ajaran ringkas teologis-geografis ketika Īśvara menjelaskan catvara (simpang/halaman suci) ketiga yang sangat dicintai dewa, terletak di arah timur dari Lalitā pada jarak tertentu (daśa-dhanvantara). Di sana Īśvara menegakkan Dewi pelindung yang amat kuat untuk kṣetra-rakṣā (penjagaan wilayah suci), disebut Kṣetra-dūtī, Mahāraudrī, dan Rudraśakti. Dewi itu beserta rombongan bhūta berkelana melalui rumah-rumah yang runtuh, taman, istana, menara, jalan, dan semua persimpangan; pada malam hari ia berpatroli menjaga pusat kṣetra. Pada hari Mahānavamī, baik perempuan maupun laki-laki hendaknya memujanya menurut tata cara dengan beragam persembahan. Phalaśruti menyatakan bahwa māhātmya ini menghancurkan dosa dan mendatangkan kemakmuran; bila berkenan, Dewi menganugerahkan tujuan yang diinginkan. Sebagai etika ziarah, mereka yang mengharap buah yātrā dianjurkan memberi jamuan makan bagi sepasang suami-istri (dampatī) di tempat itu.

भैरवेश्वरमाहात्म्यवर्णनम् | The Māhātmya of Bhairaveśvara (Chapter 63)
Bab ini memuat tuntunan Īśvara kepada Devī agar pergi ke tempat suci Bhairaveśvara, yang terletak tidak jauh di sebelah selatan Yogēśvarī. Liṅga di sana dipuji sebagai pemusnah segala dosa dan penganugerahan kemakmuran ilahi (divyaiśvarya). Kewibawaan tempat itu diteguhkan lewat kisah terdahulu: ketika Devī bertindak demi membinasakan para asura, beliau memanggil Bhairava dan mengangkatnya sebagai utusan (dūta). Karena penetapan itu Devī dikenal sebagai Śivadūtī, dan kemudian sebagai Yogēśvarī, sehingga tampak kaitan antara gelar-gelar Dewi dan geografi setempat. Sebab Bhairava ditugaskan di sana sebagai utusan, liṅga itu termasyhur sebagai Bhairaveśvara; dikatakan pula liṅga tersebut didirikan oleh Bhairava dan dipuja oleh para deva maupun daitya, menandakan kesucian yang diakui lintas alam. Phalaśruti menyatakan: seorang bhakta yang memuja dengan bhakti pada bulan Kārttikā menurut tata cara, atau bersembahyang terus-menerus selama enam bulan, akan memperoleh buah yang diinginkan.

लक्ष्मीश्वरमाहात्म्यवर्णनम् | Lakṣmīśvara Māhātmya (Account of the Glory of Lakṣmīśvara)
Bab ini memuat uraian Īśvara tentang sebuah tempat suci di sisi timur lanskap Prabhāsa, berjarak lima dhanu. Tīrtha itu bernama Lakṣmīśvara, dipuji sebagai pemusnah gelombang kemiskinan dan kesialan (dāridrya-augha-vināśana). Dikisahkan bahwa setelah para daitya ditumpas, Dewi Lakṣmī dibawa ke sana, dan melalui tindakan penahbisan (pratiṣṭhā) Dewi sendiri menegakkan nama-dewa “Lakṣmīśvara”. Selanjutnya diberikan tuntunan praktik: pada hari Śrīpañcamī hendaknya dilakukan pemujaan kepada Lakṣmīśvara dengan tata cara yang benar (vidhānataḥ) dan penuh bhakti. Phalaśruti menegaskan kesinambungan anugerah Lakṣmī—pemuja tidak terpisah dari Lakṣmī—bahkan berlangsung lama hingga sepanjang satu manvantara. Kolofon menyatakan ini sebagai adhyāya ke-64 dalam Skanda Mahāpurāṇa, Prabhāsa Khaṇḍa, bagian Prabhāsakṣetramāhātmya.

वाडवेश्वरमाहात्म्यवर्णनम् | Vāḍaveśvara Liṅga — Description of its Māhātmya
Bab ini memuat ajaran ringkas Śaiva: Īśvara menasihati Devī agar peziarah menuju Liṅga Vāḍaveśvara di Prabhāsa-kṣetra. Letaknya ditunjukkan lewat peta suci yang saling terkait—di utara Lakṣmīśa dan di selatan Viśālākṣī—sehingga arah perjalanan mudah dikenali. Dijelaskan pula asal-usulnya: ketika Kāma (Kṛtasmarā) terbakar, api Vāḍavā meratakan sebuah gunung; pada saat itu Vāḍava menegakkan (mempratiṣṭhakan) liṅga di sana, maka tempat itu dikenal sangat berdaya. Sang bhakta hendaknya memuja menurut aturan dan melakukan penyiraman suci/abhiṣeka kepada Śaṅkara sebanyak sepuluh kali. Di tempat itu pula dianjurkan memberi dana berupa dadhi (dadih/yogurt) kepada brāhmaṇa yang mahir Weda; buahnya ialah mencapai Agni-loka dan memperoleh hasil ziarah yang sempurna.

अर्घ्येश्वरमाहात्म्यवर्णनम् (Arghyeśvara Māhātmya—Account of the Glory of Arghyeśvara)
Īśvara menjelaskan perpindahan di Prabhāsa-kṣetra menuju sebuah liṅga yang sangat berdaya, bernama Arghyeśvara, terletak di utara Viśālākṣī dan tidak jauh dari sana. Liṅga ini dipuji sebagai sangat manjur serta dipuja oleh para deva dan gandharva. Kisahnya mengingatkan kedatangan Devī yang memanggul vāḍavānala (api samudra). Setibanya di Prabhāsa dan melihat samudra agung (mahodadhi), ia mempersembahkan arghya kepada lautan menurut tata cara (vidhi). Sesudah itu ia menegakkan sebuah liṅga besar, melakukan pemujaan sebagaimana mestinya, lalu masuk ke laut untuk mandi suci. Dijelaskan pula penamaan teologisnya: karena arghya dipersembahkan terlebih dahulu dan kemudian Tuhan ditegakkan, liṅga itu dikenal sebagai Arghyeśa/Arghyeśvara, dan ditegaskan sebagai penghancur dosa (pāpa-praṇāśana). Ajaran ritual menyusul: siapa yang memandikan liṅga dengan pañcāmṛta dan memujanya menurut aturan akan memperoleh vidyā selama tujuh kelahiran, menjadi guru śāstra yang cakap serta seorang bijak yang mampu menuntaskan keraguan. Bab ini ditutup sebagai adhyāya ke-66 dalam bagian Prabhāsa Khaṇḍa.

कामेश्वरमाहात्म्यवर्णनम् | Kāmeśvara Liṅga Māhātmya (Description of the Glory of Kāmeśvara)
Bab ini berisi ajaran Śiva kepada Devī tentang sebuah mahāliṅga bernama Kāmeśvara yang berada di Prabhāsa-kṣetra. Śiva memberi penunjuk arah bagi peziarah: liṅga itu terletak di sebelah barat Daityasūdana, dalam jarak tujuh panjang busur, dan dahulu dipuja oleh Kāma. Dikisahkan kembali peristiwa ketika Kāma terbakar oleh api dari mata ketiga Śiva. Setelah itu, dengan ingatan akan keadaan Ananga (tanpa raga), Kāma melakukan pemujaan kepada Maheśvara selama seribu tahun dan memperoleh kembali daya yang berkaitan dengan kāmanā-sarga, yakni kemampuan hasrat/kreativitas. Selanjutnya dijelaskan kemuliaan tempat suci ini: Kāmeśvara termasyhur di bumi, melenyapkan segala dosa, dan menganugerahkan semua buah yang diinginkan. Ditetapkan pula laku bakti: pada hari ke-13 paruh terang (śukla trayodaśī) bulan Mādhava (Vaiśākha), hendaknya memuja Kāmeśvara menurut tata cara yang benar; hasilnya disebut sebagai pemenuhan keinginan, kemakmuran, serta peningkatan daya tarik dan keberuntungan bagi perempuan, sesuai ungkapan pahala dalam Purāṇa.

गौरीतपोवनमाहात्म्यवर्णनम् | The Māhātmya of Gaurī’s Forest of Austerity
Bab 68 berbentuk dialog Śiva–Devī. Īśvara menunjukkan letak sebuah hutan suci bertuah besar di Prabhāsa, di sebelah timur Someśa. Devī pada kelahiran terdahulu digambarkan berkulit gelap dan secara pribadi disebut “Kālī”; dengan logika kaul (vrata) ia bertekad menjadi “Gaurī” melalui tapa. Ia datang ke Prabhāsa, menegakkan dan memuja sebuah liṅga yang kemudian dikenal sebagai Gaurīśvara. Dengan tapa yang berat—berdiri satu kaki, pañcāgni pada musim panas, menahan hujan, serta beristirahat di air pada musim dingin—tubuhnya menjadi cerah; perubahan ini dinarasikan sebagai buah bhakti yang disiplin. Śiva lalu menganugerahkan rangkaian anugerah, dan Devī menyampaikan phalaśruti: siapa yang melihatnya di sana memperoleh keturunan baik, keberuntungan rumah tangga dan kelangsungan garis keluarga; persembahan musik dan tari menyingkirkan kemalangan; pemujaan tertinggi diperoleh dengan terlebih dahulu memuja liṅga lalu memuja Devī. Disebutkan pula sedekah: memberi kepada brāhmaṇa, mempersembahkan kelapa bagi yang tanpa anak, serta menyalakan lampu ghee dengan sumbu merah untuk kemujuran yang berkelanjutan. Ada tīrtha di dekatnya; mandi di sana menghapus dosa, śrāddha menyejahterakan leluhur, dan berjaga malam disertai nyanyian-bhakti serta tarian dianjurkan. Penutup menegaskan kehadiran ilahi yang terus-menerus melintasi pergantian musim, serta memuji pembacaan dan pendengaran bab ini—terutama pada tithi ketiga dan di hadapan Devī—sebagai sumber kemujuran yang lestari.

गौरीश्वरमाहात्म्यवर्णनम् (The Glory of Gaurīśvara Liṅga)
Bab ini berbentuk dialog teologis antara Devī dan Īśvara tentang kemuliaan Liṅga ‘Gaurīśvara’ serta buah-ritual (phala) dari pemujaannya. Devī bertanya di mana letak liṅga Gaurīśvara yang termasyhur dan pahala apa yang diperoleh. Īśvara menjelaskan bahwa kisah ini adalah māhātmya yang melenyapkan dosa (pāpa-nāśana), lalu menggambarkan sebuah tapo-vana terkenal yang terkait dengan Gaurī, berupa kawasan suci melingkar yang diukur dengan satuan dhanus. Di sana Devī digambarkan menjalani tapa dengan satu kaki (ekapāda), dan lokasi liṅga ditentukan secara arah—sedikit ke utara, pada penempatan berorientasi Īśāna—disertai penanda jarak. Selanjutnya ditegaskan daya guna ritus: pemujaan liṅga dengan bhakti, terutama pada hari Kṛṣṇāṣṭamī, membebaskan dari dosa. Dianjurkan pula dana yang benar sebagai bagian dari tatanan ibadah: go-dāna (sedekah sapi), emas kepada brāhmaṇa yang layak, dan terutama anna-dāna (sedekah makanan) untuk meredakan kesalahan. Puncaknya adalah janji penebusan yang kuat: bahkan pendosa berat pun dilepaskan dari pāpa hanya dengan darśana (melihat dengan hormat) liṅga tersebut.

वरुणेश्वरमाहात्म्यवर्णनम् (Varuṇeśvara Māhātmya—Account of the Glory of Varuṇeśvara)
Bab ini berupa petunjuk tempat suci dalam dialog ilahi. Īśvara menasihati Sang Dewi agar menuju liṅga Varuṇeśvara yang utama, berada di hutan tapa milik Gaurī pada penjuru tenggara (āgneya), dengan penanda jarak dua puluh dhanu. Kemuliaan tempat itu dijelaskan melalui kisah sebab: dahulu Kumbhaja (Agastya) pernah “meminum” samudra, sehingga Varuṇa, penguasa perairan, dilanda amarah dan panas. Mengetahui Prābhāsa-kṣetra sebagai lahan yang tepat untuk tapa berat, Varuṇa bertapa dengan keras, menegakkan mahāliṅga, dan memujanya dengan bhakti selama satu yuta tahun. Śiva pun berkenan; dengan air Gaṅgā miliknya sendiri Ia mengembalikan kepenuhan samudra yang kosong dan menganugerahkan anugerah kepada Varuṇa. Sejak itu lautan tetap terisi, dan liṅga tersebut dikenal sebagai Varuṇeśvara. Selanjutnya disebutkan phalaśruti serta tata laku: darśana semata atas Varuṇeśvara memberi buah semua tīrtha; pada tithi ke-8 dan ke-14, memandikan liṅga dengan dadih dikaitkan dengan keunggulan Weda. Mandi, japa, bali, homa, pūjā, stotra, dan tarian yang dilakukan di sana dinyatakan berbuah tak-lenyap (akṣaya), bermanfaat bagi beragam golongan dan keadaan tubuh; bagi pencari buah ziarah dan tujuan surgawi dianjurkan dana seperti teratai emas dan mutiara.

उषेश्वरमाहात्म्यवर्णनम् | The Māhātmya of Uṣeśvara Liṅga
Adhyāya ini memperkenalkan sebuah liṅga suci di lanskap Prabhāsa-kṣetra. Liṅga itu disebut berada di selatan Varuṇeśa, berjarak tiga panjang-busur. Dikisahkan Uṣā, istri Varuṇa, yang diliputi duka karena suaminya, menjalani tapa yang sangat berat lalu menegakkan liṅga tersebut; karenanya ia dikenal sebagai Uṣeśvara. Uṣeśvara-liṅga dipuji sebagai pemberi segala siddhi dan dihormati oleh para pencari siddhi. Dengan pemujaan penuh bhakti, dosa-dosa dilenyapkan, bahkan mereka yang terbebani dosa besar dapat menuju pada tujuan tertinggi. Disebut pula pahala khusus bagi perempuan: menganugerahkan keberuntungan rumah tangga (saubhāgya) serta melenyapkan derita dan nasib malang.

Jalavāsa Gaṇapati Māhātmya (The Glory of Gaṇeśa ‘Dwelling in Water’)
Bab ini memuat ajaran singkat dari Īśvara tentang tata-ritus dan makna teologisnya. Umat diarahkan untuk melakukan darśana kepada Vighneśa di tempat yang sama, yang disebut ‘Jalavāsa’ (yang bersemayam di air); darśana ini dinyatakan ampuh melenyapkan rintangan dan mendatangkan keberhasilan dalam segala pekerjaan. Dijelaskan asal-usulnya: Varuṇa memuja dewa itu dengan bhakti melalui persembahan yang lahir dari air (jalaja), agar tapa (tapas) berlangsung tanpa halangan. Pada tithi Caturthī hendaknya dilakukan tarpaṇa, lalu pemujaan dengan wewangian, bunga, dan modaka; persembahan sesuai kadar bhakti dan kemampuan dipandang sebagai jalan yang menyenangkan Gaṇādhipa.

कुमारेश्वरमाहात्म्यवर्णनम् | Kumāreśvara Māhātmya (Account of the Glory of Kumāreśvara)
Bab ini berupa dialog teologis Śiva–Devī yang sekaligus menjadi panduan ziarah singkat di Prabhāsa-kṣetra. Īśvara mengarahkan Devī menuju śrī-kuil Kumāreśvara; liṅga di sana dipuji sebagai sangat ampuh dan mampu melenyapkan mahāpātaka (dosa besar). Letaknya dijelaskan dengan petunjuk arah Varuṇa dan Naiṛta serta penanda Gaurī-tapovana, sehingga topografi sucinya mudah ditelusuri. Dikisahkan pula asal-usulnya: setelah tapa besar, Ṣaṇmukha (Kumāra/Skanda) menegakkan liṅga itu, yang menjadi dasar nama dan kewibawaannya. Lalu ditegaskan perbandingan pahala: satu hari pemujaan Kumāreśvara yang benar menurut vidhi setara dengan pahala pemujaan berbulan-bulan di tempat lain. Syarat etisnya ialah meninggalkan kāma, krodha, lobha, rāga, dan matsara, serta memegang brahmacarya/pengekangan diri bahkan untuk satu kali pemujaan. Penutupnya menyatakan bahwa pemujaan yang tepat memberikan yātrā-phala, buah ziarah yang semestinya.

Śākalyeśvara-liṅga Māhātmya (शाकल्येश्वरलिङ्गमाहात्म्य) — The Glory of Śākalyeśvara and Its Four Yuga-Names
Īśvara menasihati Mahādevī agar berangkat ke tirtha agung Śākalyeśvara di Prabhāsa-kṣetra, dengan petunjuk arah dan penanda jarak. Liṅga ini dipuji sebagai “sarvakāmadam”, pemberi segala tujuan yang diinginkan. Dikisahkan raja-ṛṣi Śākalya melakukan tapa besar dan memuaskan Mahādeva; Sang Dewa yang berkenan kemudian menampakkan/menetapkan diri di sana dalam wujud liṅga. Phalaśruti menyatakan bahwa sekadar darśana (melihat dengan bhakti) melenyapkan dosa tujuh kelahiran, laksana gelap sirna saat matahari terbit. Teks menetapkan tata cara pemujaan: pada Aṣṭamī dan Caturdaśī hendaknya dilakukan abhiṣeka Śiva dengan susu, lalu pūjā dengan persembahan berurutan seperti wewangian dan bunga; bagi yang menghendaki buah ziarah yang sempurna dianjurkan pula dāna emas. Diberikan pula daftar nama menurut yuga: pada Kṛta disebut Bhairaveśvara; pada Tretā, Sāvarṇikeśvara (terkait Manu Sāvarṇi); pada Dvāpara, Gālavēśvara (terkait ṛṣi Gālava); dan pada Kali, Śākalyeśvara (karena muni Śākalya meraih siddhi seperti aṇimā). Kesucian wilayahnya ditetapkan hingga radius delapan belas dhanu; bahkan makhluk kecil di dalamnya disebut layak memperoleh mokṣa. Air setempat disucikan laksana Sarasvatī, dan darśana disamakan dengan hasil yajña Veda yang besar. Pada Soma-parvan, disiplin sebulan di dekat liṅga dengan japa Aghora serta homa ghee menjanjikan “siddhi utama” bahkan bagi mereka yang terbebani dosa berat. Liṅga ini juga disebut “kāmika”; Aghora adalah wajah-Nya dan kehadiran Bhairava menonjol—menjelaskan mengapa dahulu nama Bhairaveśvara masyhur dan kini pada Kali-yuga dikenal sebagai Śākalyeśvara.

कलकलेश्वरमाहात्म्यवर्णनम् | The Māhātmya of Kalakaleśvara (Origin, Worship, and Merits)
Bab ini memuat uraian teologis setempat: Īśvara menasihati Devī tentang liṅga bernama Śākalakaleśvara/Kalakaleśvara di Prabhāsa-kṣetra, letaknya, serta kemasyhurannya sebagai penghapus pāpa (dosa). Disampaikan pula rangkaian empat nama menurut yuga: liṅga yang sama dikenang sebagai Kāmeśvara (Kṛta), Pulahēśvara (Tretā), Siddhinātha (Dvāpara), dan Nāradeśa (Kali), serta dijelaskan asal-usul nama ‘Kalakaleśa/Kalakaleśvara’ melalui etimologi bunyi ‘kalakala’. Kisah penamaan pertama mengaitkannya dengan gemuruh ‘kalakala’ ketika Sarasvatī mencapai lautan dan para makhluk surgawi bersukacita. Kisah kedua bernuansa sosial-etik: Nārada bertapa keras dan mengadakan Pauṇḍarīka-yajña dekat liṅga, memanggil banyak ṛṣi; saat brāhmaṇa setempat datang mengharap dakṣiṇā, Nārada melemparkan harta untuk memancing pertikaian, hingga terjadi perkelahian dan ditegur oleh brāhmaṇa miskin namun berilmu—dari keributan itulah nama ‘Kalakaleśvara’ dipahami. Pada penutup (phalaśruti) disebutkan: memandikan liṅga dan melakukan pradakṣiṇā tiga kali membawa ke Rudraloka; memuja dengan wewangian dan bunga serta menghadiahkan emas kepada penerima yang layak mengantarkan pada keadaan tertinggi.

Lakuleśvara-nāma Liṅgadvaya Māhātmya (near Kalakaleśvara) — Glory of the Twin Liṅgas established by Lakulīśa
Bab 76 menyajikan wejangan Īśvara yang ringkas tentang tata-ritus suci. Disebutkan sepasang liṅga yang sangat berpahala, berada dekat Devadeva dalam kawasan suci terkait Someshvara; keduanya dinyatakan telah dipratiṣṭhita (ditahbiskan) oleh Lakulīśa. Kompleks kembar ini dinamai ‘Lakuleśvara’ dan dipuji sebagai objek darśana yang ‘anuttama’, paling unggul. Teks menegaskan bahwa sekadar memandangnya saja dapat melebur dosa hingga batas lingkar kelahiran dan kematian. Ditentukan pula laku khusus pada bulan Bhādrapada, hari Śukla Caturdaśī: berpuasa (upavāsa) dan berjaga semalam (prajāgara). Urutannya: mula-mula memuja Lakulīśa dalam wujud berarca (mūrtimant), lalu memuja kedua liṅga satu per satu dengan tata cara yang benar disertai stuti-mantra secara berurutan. Buahnya adalah mencapai ‘tempat tertinggi’ tempat Mahēśvara bersemayam, sebagai penutup keselamatan rohani bab ini.

उत्तंकेश्वरमाहात्म्य वर्णनम् | The Māhātmya of Uttankeśvara (Description of Uttankeśvara’s Sanctity)
Īśvara berbicara kepada Mahādevī dan mengarahkan agar peziarah bergerak menuju Uttankeśvara, sebuah tīrtha yang sangat utama di Prabhāsa-kṣetra. Tempat suci itu berada di sebelah selatan dari titik yang telah disebut sebelumnya dan tidak terlalu jauh, sehingga urutan perjalanan ziarah menjadi jelas. Dikisahkan bahwa liṅga tersebut didirikan oleh Uttanka, seorang bhakta agung, yang menegakkannya sendiri dengan penuh bhakti. Seorang peziarah yang tenang dan terpusat, setelah melihat (darśana) dan menyentuh (sparśana) tempat itu, hendaknya memuja sesuai tata cara dengan devosi; buahnya ialah terbebas dari segala noda dan pelanggaran. Kolofon menandai ini sebagai adhyāya ke-77 Prabhāsa Khaṇḍa dalam Skanda Mahāpurāṇa tentang māhātmya Uttankeśvara.

वैश्वानरेश्वरमाहात्म्यवर्णनम् (Glory of Vaiśvānareśvara)
Īśvara menasihati Mahādevī agar pergi kepada dewa Vaiśvānareśvara yang berada di sektor tenggara (āgneya), dalam batas ukuran “lima busur”. Dewa ini dipuji sebagai pāpa-ghna: penghapus noda dan dosa, baik melalui darśana (melihat) maupun sparśa (menyentuh). Lalu disampaikan kisah pengajaran: seekor burung nuri (śuka) pernah membuat sarang di istana dan hidup lama bersama pasangannya. Mereka sering melakukan pradakṣiṇā bukan karena bhakti, melainkan karena keterikatan pada tempat sarang; akhirnya keduanya wafat. Karena kemuliaan tempat itu, mereka terlahir kembali sebagai jātismara dan menjadi masyhur sebagai Lopāmudrā dan Agastya. Mengingat tubuh terdahulu, Agastya mengucapkan sebuah gāthā: siapa yang mengelilingi dengan benar dan memandang Vahnīśa (Tuhan Api) akan memperoleh kemasyhuran, sebagaimana dahulu ia peroleh. Penutupnya memberi tata cara: mandikan dewa dengan ghee (ghṛta-snāna), sembahyangkan sesuai aturan, dan dengan iman berikan emas kepada Brahmana yang layak. Dengan itu buah ziarah menjadi sempurna; sang bhakta mencapai Vahni-loka dan bersukacita untuk masa yang tak binasa.

लकुलीश्वरमाहात्म्य (The Māhātmya of Lakulīśvara)
Dalam adhyāya ini, Īśvara mengarahkan perhatian pada Lakulīśa/Lakulīśvara sebagai kehadiran suci yang dipuja di Prabhāsa-kṣetra. Letaknya disebut di arah barat, pada jarak terukur ‘tujuh rentang busur (dhanuṣāṃ saptake)’. Wujud-Nya digambarkan tenang dan membawa berkah, sebagai pāpa-ghna—penghapus dosa bagi semua makhluk—serta terkait dengan tema penampakan/penjelmaan di medan suci yang agung itu. Selanjutnya dipaparkan sosok Lakulīśa sebagai pertapa dan guru: menjalani tapas yang kuat, memberi dīkṣā kepada para murid, dan berulang kali mengajarkan berbagai śāstra, khususnya Nyāya dan Vaiśeṣika, hingga mencapai parā siddhi (kesempurnaan tertinggi). Pada penutup, diberikan tuntunan ibadah bagi para bhakta: pemujaan yang benar, dengan daya buah yang meningkat pada bulan Kārttika dan saat Uttarāyaṇa. Dianjurkan pula vidyā-dāna, yakni menghadiahkan/mengajarkan ilmu kepada brāhmaṇa yang layak. Buahnya dinyatakan sebagai kelahiran berulang yang mujur dalam garis brāhmaṇa yang makmur, disertai kecerdasan dan kesejahteraan.

Gautameśvara-māhātmya (गौतमेश्वरमाहात्म्य) — The Glory of the Gautameśvara Liṅga
Bab ini menyajikan mahātmya singkat dalam bentuk ajaran Īśvara kepada Devī tentang Liṅga suci bernama Gautameśvara. Disebutkan bahwa liṅga pemusnah dosa ini berada di arah timur, dikenali dengan acuan penanda di barat yang terkait Daitya-sūdana; jaraknya dinyatakan “dalam lima dhanu”. Tīrtha ini dipuji sebagai sarva-kāma-da, pemberi segala tujuan dan keinginan. Dijelaskan asal-usul pemujaannya: Raja Śalya dari Madra melakukan tapa yang sangat berat dan memuaskan Maheśvara, sehingga pemujaan di sana menjadi termasyhur. Pola ini digeneralisasi—para bhakta lain yang bersembahyang dengan cara serupa dan sesuai aturan akan meraih siddhi tertinggi. Terdapat ketentuan ritual: pada hari ke-14 paruh terang bulan Caitra, liṅga hendaknya disnāpana dengan susu, lalu dipuja dengan air harum dan bunga-bunga terbaik secara tertib dan penuh bhakti; pahalanya setara dengan aśvamedha. Penutupnya menegaskan bahwa dosa yang dilakukan lewat ucapan, pikiran, maupun perbuatan lenyap bahkan hanya dengan memandang liṅga ini.

श्रीदैत्यसूदनमाहात्म्यवर्णनम् (Glorification of Śrī Daityasūdana)
Dalam bab ini, Īśvara menjelaskan kepada Devī keistimewaan kesucian Prabhāsa-kṣetra. Ia adalah wilayah suci Vaiṣṇava berbentuk ‘yava-ākāra’ (seperti jelai) dengan batas-batas penjuru yang tegas. Dinyatakan bahwa segala laku di sana—wafat di dalam kṣetra, dāna, persembahan homa, japa mantra, tapa, serta memberi makan brāhmaṇa—menganugerahkan pahala kebajikan yang tak habis hingga tujuh kalpa. Selanjutnya dipaparkan pola-pola praktik: berpuasa dengan bhakti, mandi suci di Cakrātīrtha, dāna emas pada Kārttika-dvādaśī, persembahan pelita, pemandian pañcāmṛta, berjaga pada Ekādaśī dengan seni-seni bhakti, serta menjalankan tapa-brata Cāturmāsya. Kemudian kisah etimologis disampaikan: Viṣṇu, dipuji para deva atas karya avatāra-Nya, berjanji membinasakan dānava; Ia mengejar mereka hingga Prabhāsa dan memusnahkan dengan cakra, sehingga tegaklah sebutan ‘Daityasūdana’. Penutupnya menegaskan bahwa melihat dan memuja Tuhan di kṣetra ini menghancurkan dosa serta menghadirkan hasil hidup yang mujur dan sejahtera.

चक्रतीर्थोत्पत्तिवृत्तान्तमाहात्म्यवर्णनम् (Origin and Glory of Cakratīrtha)
Bab ini berbentuk dialog: Dewi bertanya kepada Īśvara tentang makna, letak, dan daya suci “Cakratīrtha”. Īśvara menuturkan kisah purba perang dewa–asura: setelah Hari (Viṣṇu) menumpas para raksasa, Ia membasuh Cakra Sudarśana yang berlumur darah pada suatu tempat; peristiwa penyucian itulah yang menegakkan tempat itu sebagai Cakratīrtha. Dinyatakan pula bahwa banyak sekali tīrtha pendamping bersemayam di sana, dengan kemuliaan yang meningkat pada hari Ekādaśī serta saat gerhana matahari dan bulan. Mandi suci di sana disebut memberi buah gabungan mandi di semua tīrtha, dan dana (sedekah suci) yang diberikan di sana berbuah tak terukur. Kawasan itu ditetapkan sebagai Viṣṇu-kṣetra dengan ukuran wilayah tertentu, dan nama-namanya menurut perbedaan kalpa disebutkan: Koṭitīrtha, Śrīnidhāna, Śatadhārā, Cakratīrtha, dan lainnya. Tapas, belajar Weda, pelaksanaan homa, śrāddha, serta kaul dan laku penebusan yang dilakukan di sana melipatgandakan pahala dibanding tempat lain. Penutupnya berupa phalāśruti: tīrtha ini pemusnah dosa, pemenuh harapan, menolong bahkan keadaan kelahiran yang terpinggirkan, dan menjanjikan tujuan luhur bagi mereka yang wafat di sana.

योगेश्वरीमाहात्म्यवर्णनम् (Yogeśvarī Māhātmya—Account of Yogeśvarī’s Glory)
Īśvara menuturkan kepada Mahādevī asal-usul serta makna ritual Dewi Yogeśvarī yang bersemayam di sisi timur kṣetra suci Prabhāsa. Asura Mahiṣa, dengan kesaktian berubah rupa, mengancam tiga dunia. Brahmā lalu menciptakan seorang gadis tiada banding yang menjalani tapa berat. Nārada terpikat oleh keelokannya, namun ditolak karena ia teguh pada kaul keperawanan; Nārada kemudian mendatangi Mahiṣa dan menceritakan tentang sang pertapa. Mahiṣa berusaha memaksa sang gadis untuk menikah; sang Dewi tertawa, dan dari hembusan napasnya lahir wujud-wujud perempuan bersenjata yang membinasakan bala tentaranya. Dalam pertempuran puncak, Dewi menundukkan dan membunuh Mahiṣa hingga memenggal kepalanya; para dewa memuji-Nya sebagai daya semesta—vidyā dan avidyā, kemenangan, serta perlindungan. Para dewa memohon agar Dewi menetap selamanya di kṣetra itu dan menganugerahkan karunia bagi para pemuja. Bab ini lalu menetapkan tata perayaan pada bulan Āśvina paruh terang: berpuasa dan memperoleh darśana pada Navamī untuk penghapusan dosa, serta pembacaan pagi yang memberi keberanian tanpa takut. Pada malam hari diajarkan pemujaan rinci terhadap khaḍga yang disucikan: pendirian paviliun, homa, arak-arakan, berjaga semalam, persembahan, bali bagi para penjaga arah dan makhluk halus, serta pradakṣiṇā Yogeśvarī dengan kereta kerajaan. Penutupnya memberi jaminan perlindungan bagi para pelaku—terutama brāhmaṇa yang menetap—seraya menegaskan festival ini sebagai upacara bersama yang membawa keberkahan dan menyingkirkan rintangan.

आदिनारायणमाहात्म्यवर्णनम् (Glorification and Narrative Account of Ādinārāyaṇa)
Īśvara menasihati Devī agar pergi kepada Ādinārāyaṇa Hari yang berada di arah timur, Sang Pemusnah segala dosa, bersemayam pada “pādukā-āsana” (singgasana berupa sandal suci). Lalu dikisahkan peristiwa pada Kṛta-yuga: raksasa perkasa bernama Meghavāhana memperoleh anugerah bahwa ia hanya dapat mati dalam pertempuran oleh pādukā Viṣṇu; karena itu ia hampir tak terkalahkan, menindas dunia dalam waktu amat lama, dan menghancurkan āśrama para ṛṣi. Para ṛṣi yang terusir berlindung kepada Keśava berpanji Garuḍa, melantunkan himne panjang yang memuji Viṣṇu sebagai sebab kosmis, penyelamat, serta kemurnian yang lahir dari nama dan ingatan kepada-Nya. Viṣṇu menampakkan diri dan menanyakan keperluan mereka; para ṛṣi memohon agar sang raksasa disingkirkan demi mengembalikan rasa aman bagi semesta. Viṣṇu memanggil Meghavāhana, lalu menghantam jantungnya dengan pādukā yang suci hingga ia gugur; Sang Bhagavān pun tetap menetap di tempat itu pada singgasana pādukā. Kemudian disebutkan pahala laku-bhakti: pemujaan wujud ini pada Ekādaśī memberi pahala setara Aśvamedha, dan darśana dipersamakan dengan mahādāna seperti pemberian sapi dalam jumlah besar. Ada penghiburan bagi Kali-yuga: bagi yang menegakkan Ādinārāyaṇa di dalam hati, derita berkurang dan manfaat rohani bertambah; mandi suci dan pemujaan pada Ekādaśī—terutama bila bertepatan dengan hari Minggu—membebaskan dari “bhava-bandhana”. Phalaśruti menutup dengan janji bahwa mendengarkan kisah ini menghapus dosa dan melenyapkan kemiskinan.

सांनिहित्य-माहात्म्य-वर्णन (Glorification of the Sānnidhya Tīrtha)
Bab ini disusun sebagai dialog Devī–Īśvara yang menjelaskan asal-usul, letak, dan daya ritual Tīrtha Sānnidhya, berupa aliran air suci laksana sungai besar. Devī bertanya bagaimana Mahānadī yang dimuliakan dan terkait Kurukṣetra dapat hadir di Prabhāsa, serta buah apa yang diperoleh dari memandang, menyentuh, mandi suci, dan upacara terkait. Īśvara menjawab bahwa tīrtha ini amat mujur dan penghancur dosa bahkan melalui darśana (melihat) dan sparśa (sentuhan), serta menyebut lokasinya di sebelah barat pada jarak tertentu dari Ādinārāyaṇa. Kisah kemudian mengaitkan kemunculan tīrtha dengan peristiwa teologis: karena takut kepada Jarāsandha, Viṣṇu memindahkan para Yādava ke Prabhāsa dan memohon kepada samudra agar memberi tempat berdiam. Pada waktu parva, ketika matahari “ditangkap” Rāhu (gerhana), Viṣṇu menenteramkan Yādava, masuk ke samādhi, lalu memunculkan sebuah śubhā vāridhārā—aliran air suci—yang menembus bumi untuk mandi ritual. Para Yādava mandi saat gerhana dan memperoleh buah penuh ziarah Kurukṣetra. Bab ini juga menetapkan penguat pahala: mandi di tempat itu saat gerhana memberi buah lengkap Agniṣṭoma; memberi makan brāhmaṇa dengan enam rasa melipatgandakan kebajikan; homa dan japa-mantra menghasilkan “sejuta-kali” (krorefold) pahala pada tiap persembahan/ucapan; dianjurkan pula dāna emas serta pemujaan kepada Ādideva Janārdana. Penutupnya berupa phalaśruti: mendengar kisah ini dengan iman menghapus dosa.

पाण्डवेश्वरमाहात्म्यवर्णनम् | Pāṇḍaveśvara Māhātmya (Account of the Glory of Pāṇḍaveśvara)
Adhyaya ini memaparkan kemuliaan liṅga termasyhur bernama Pāṇḍaveśvara yang berada di bagian selatan kompleks suci Prabhāsa. Pada masa penyamaran dan kehidupan rimba para Pāṇḍava, mereka datang berziarah ke Prabhāsa; pada hari Somaparvan di tepi pantai/sungai, kelima Pāṇḍava secara berurutan menegakkan dan menahbiskan liṅga itu menurut tata-vidhi. Markandeya dan para brāhmaṇa ṛtvij terkemuka ditunjuk sebagai pemimpin upacara; abhiṣeka dilakukan dengan lantunan Veda, disertai pemberian dāna seperti go-dāna (sedekah sapi) dan persembahan lainnya. Para ṛṣi yang berkenan lalu menyampaikan phalaśruti: siapa pun yang memuja Pāṇḍaveśvara yang ditahbiskan para Pāṇḍava akan menjadi terhormat bahkan di kalangan para dewa dan makhluk-makhluk adikodrati; pahala bhakti itu setara dengan Aśvamedha. Disebut pula bahwa mandi di Sannihitā Kuṇḍa dan memuja Pāṇḍaveśvara—terutama sepanjang bulan Māgha—memberi buah agung hingga mencapai kesatuan dengan Puruṣottama; bahkan darśana semata melipatgandakan lenyapnya dosa. Liṅga ini juga digambarkan berwujud Vaiṣṇava, menandai perpaduan ajaran Vaiṣṇava dalam konteks tempat suci Śaiva.

Bhūteśvara Māhātmya and the Sequential Worship of the Eleven Rudras (एकादशरुद्र-यात्रा)
Bab ini menyajikan garis besar liturgi yang teknis tentang yatra sebelas Rudra di wilayah suci Prabhāsa. Īśvara menjelaskan bahwa peziarah yang menuntaskan yatra dengan śraddhā hendaknya, terutama pada saat-saat sakral seperti saṅkrānti, pergantian ayana, gerhana, dan tithi-tithi mujur lainnya, memuja sebelas Rudra menurut urutan yang telah ditetapkan. Disebutkan dua himpunan nama Rudra yang saling berkaitan: nama-nama lama (mis. Ajāikapāda, Ahirbudhnya, Virūpākṣa, dan seterusnya) serta nama-nama untuk Kali-yuga (Bhūteśa, Nīlarudra, Kapālī, Vṛṣavāhana, Tryambaka, Ghora, Mahākāla, Bhairava, Mṛtyuñjaya, Kāmeśa, Yogeśa). Devī memohon penjelasan lebih rinci mengenai urutan sebelas liṅga, mantra, waktu, dan perbedaan tempat. Īśvara kemudian memberi kerangka penafsiran: sepuluh Rudra bersesuaian dengan sepuluh vāyu (prāṇa, apāna, samāna, udāna, vyāna, nāga, kūrma, kṛkala, devadatta, dhanañjaya), sedangkan yang kesebelas adalah ātman; dengan demikian keragaman ritual dihubungkan dengan model batiniah-fisiologis dan metafisis. Rute praktis dimulai di Somanātha, dengan stasiun pertama Bhūteśvara (Somēśvara sebagai ādi-deva), disertai persembahan bergaya rājopacāra, pemandian pañcāmṛta, pemujaan dengan rumus Sadyōjāta, lalu pradakṣiṇā dan sujud. Makna “Bhūteśvara” dijelaskan sebagai ketuhanan atas bhūta-jāla dalam kerangka 25 tattva; pengetahuan tattva dikaitkan dengan pembebasan, dan pemujaan Bhūteśarudra dinyatakan menuntun pada mokṣa yang tak binasa.

नीलरुद्रमाहात्म्यवर्णनम् | Nīlarudra Māhātmya (Glory of Nīlarudra)
Bab ini memuat petunjuk tempat suci dari Īśvara kepada Mahādevī: peziarah diarahkan menuju śrī-kṣetra Nīlarudra yang disebut sebagai “Nīlarudra kedua”, terletak di sebelah utara Bhūteśa, dengan penanda jarak tradisional pada ukuran “keenam belas” terkait dhanuṣ (busur). Di sana, peziarah hendaknya memandikan mahāliṅga secara seremonial, melakukan pūjā dengan Īśa-mantra, mempersembahkan bunga kumuda dan utpala, lalu melakukan pradakṣiṇā dan namaskāra. Pernyataan buah (phala) menegaskan bahwa laku ini memberi pahala setara Rājasūya; dan bagi yang menginginkan buah yātrā sepenuhnya, ditambahkan kewajiban dāna berupa persembahan seekor lembu jantan (vṛṣa). Penutup menjelaskan asal sebutan “Nīlarudra”: dahulu dewa membunuh daitya berwarna gelap seperti anjana bernama Āntaka, dan karena terkait ratapan (rodana) para perempuan, beliau dikenang sebagai Nīlarudra. Mahātmya ini dinyatakan sebagai pemusnah dosa dan patut didengar serta diterima dengan śraddhā oleh para pencari darśana.

कपालीश्वरमाहात्म्यवर्णनम् | The Māhātmya of Kapālīśvara (Kāpālika Rudra Shrine)
Bab ini disajikan sebagai wejangan teologis Īśvara kepada Devī, yang menetapkan Kapālīśvara sebagai “Rudra ketiga” dalam urutan Rudra di Prabhāsa-kṣetra. Śiva menuturkan peristiwa pemenggalan kepala kelima Brahmā; sesudah itu tengkorak (kapāla) melekat pada tangan-Nya—motif asal-usul yang menjelaskan jati diri Kāpālika. Dengan kapāla itu Śiva datang ke Prabhāsa dan berdiam lama di bagian tengah kṣetra, memuja liṅga sepanjang rentang waktu yang amat luas, sehingga kesucian tempat dan liṅga diteguhkan oleh laku ilahi yang berkelanjutan. Bab ini juga memberi penanda ruang bagi peziarah: tempat suci itu berada di sebelah barat Budheśvara dan dikaitkan dengan ukuran “tujuh busur” (dhanuṣāṃ saptaka) sebagai sistem koordinat internal. Śiva menetapkan para penjaga bertombak trisula serta banyak gaṇa untuk melindungi kawasan dari niat dan watak yang merusak. Ajaran praktiknya meliputi pemujaan dengan iman terpusat, sedekah emas kepada brāhmaṇa yang mahir Weda, serta tata cara mantra yang terkait dengan Tatpuruṣa. Buah kebajikannya dinyatakan: dosa yang terkumpul sejak lahir lenyap dengan memandang liṅga, dan kemanjuran sentuhan serta darśana (melihat suci) ditekankan. Penutupnya merangkum secara singkat māhātmya Kapālī—Rudra ketiga di Prabhāsa—sebagai pemusnah dosa (pāpa-nāśana).

वृषभेश्वर-माहात्म्यवर्णनम् (Narration of the Māhātmya of Vṛṣabheśvara Liṅga)
Bab ini memuat ajaran Īśvara kepada Devī tentang sebuah tempat suci Rudra yang utama di Prabhāsa-kṣetra, yakni Vṛṣabheśvara kalpa-liṅga, yang dipandang sangat mujur dan dicintai para dewa. Kewibawaan liṅga ini dijelaskan melalui urutan kalpa, ketika liṅga yang sama dikenal dengan nama berbeda sesuai pemuja dan buahnya: pada kalpa terdahulu disebut Brahmeśvara karena Brahmā memujanya lama hingga lahir penciptaan makhluk; pada kalpa berikutnya menjadi Raivateśvara karena Raja Raivata meraih kemenangan dan kemakmuran berkat dayanya; pada kalpa ketiga menjadi Vṛṣabheśvara karena Dharma memuja dalam wujud lembu (wahana Śiva) dan memperoleh janji kedekatan/penyatuan; dan pada kalpa keempat (Varāha-kalpa) terkait Raja Ikṣvāku yang bersembahyang tiga waktu dengan disiplin hingga memperoleh kedaulatan dan kelangsungan wangsa, sehingga muncul sebutan Ikṣvākvīśvara. Ukuran wilayah kṣetra dijelaskan menurut arah dengan satuan dhanu, dan ditegaskan bahwa mandi suci, japa, bali, homa, pūjā, serta stotra yang dilakukan di sana menjadi tak binasa buahnya. Selanjutnya disampaikan phalaśruti yang kuat: berjaga dekat liṅga dengan brahmacarya dan seni bhakti, memberi makan para brāhmaṇa, serta pemujaan pada tithi tertentu—terutama malam Māgha kṛṣṇa-caturdaśī, juga aṣṭamī dan caturdaśī—mendatangkan pahala besar, setara dengan ‘oktaf tīrtha’ yang termuat di sana (Bhairava, Kedāra, Puṣkara, Drutijaṅgama, Vārāṇasī, Kurukṣetra, Mahākāla, Naimiṣa). Ritus leluhur seperti piṇḍa-dāna pada amāvasyā dianjurkan, demikian pula pemandian liṅga dengan dadhi, kṣīra, ghṛta, pañcagavya, air kuśa, dan wewangian, yang dikatakan menyucikan pelanggaran berat serta menganugerahkan martabat Weda. Bab ditutup dengan penegasan bahwa mendengar mahātmya ini bermanfaat bagi yang terpelajar maupun yang sederhana pengetahuannya.

त्र्यंबकेश्वरमाहात्म्यवर्णनम् | Trimbakeśvara: Account of the Shrine’s Glory
Īśvara menasihati Devī agar berangkat ke Tr̥yambakeśvara yang tak binasa, disebut sebagai Rudra kelima dan wujud ilahi yang mula-mula. Bab ini menempatkan śrī-kṣetra itu dalam geografi suci yang jelas: dekat Sāmbapura, dengan rujukan lebih dahulu kepada Śikhāṇḍīśvara (terkait yuga lampau), serta di sisi lain terdapat Kapālikā-sthāna, tempat Kapāleśvara berwujud liṅga yang melenyapkan kesalahan melalui darśana dan sparśana. Dari sana, pada jarak terukur di arah timur laut, berdirilah Tr̥yambakeśvara—mahabermanfaat bagi semua dan pemberi hasil yang diinginkan. Seorang resi bernama Guru menjalankan tapa yang berat, melafalkan mantra Tr̥yambaka menurut tata ilahi, dan memuja Śaṅkara tiga kali sehari. Berkat anugerah Śiva ia meraih kewibawaan ilahi dan menegakkan nama tempat suci itu. Dinyatakan pula phala: dosa hancur karena kedekatan, pemujaan, dan japa-mantra; cela lenyap melalui bhakti dengan mantra Vāmadeva; serta keampuhan khusus pada malam Caitra-śukla-caturdaśī dengan berjaga, pūjā, pujian, dan pembacaan suci. Penutupnya menetapkan dana sapi bagi yang menghendaki buah ziarah sepenuhnya, serta menegaskan māhātmya ini sebagai penghasil puṇya dan pemusnah pāpa.

अघोरेश्वरमाहात्म्यवर्णनम् | Aghoreśvara Liṅga Māhātmya (Glorification of Aghoreśvara)
Bab ini memuat uraian ringkas Īśvara tentang kemuliaan Aghoreśvara. Aghoreśvara disebut sebagai “liṅga keenam”, dengan Bhairava sebagai ‘wajah’ (vaktra)-nya. Kuilnya ditempatkan dekat Tryambakeśvara dan dinyatakan sebagai simpul tirtha yang menyingkirkan noda zaman Kali serta melimpahkan pahala. Dijelaskan laku bhakti bertahap: mandi suci dan pemujaan dengan devosi, yang buahnya disamakan dengan dana agung seperti Meru-dāna. Persembahan yang dilakukan dalam bhāva Dakṣiṇāmūrti disebut menjadi akṣaya, yakni berbuah tak habis-habis. Ditambahkan ranah ritual-etik leluhur: śrāddha di sisi selatan Aghoreśvara memberi kepuasan jangka panjang bagi para pitara, bahkan dipuji melampaui śrāddha di Gayā dan juga Aśvamedha. Yātrā-dāna—bahkan emas sedikit—dinyatakan sangat berbuah, dan pada Somāṣṭamī di dekat Aghoreśvara dianjurkan tapa Brahmakūrcha sebagai prāyaścitta besar. Penutupnya menegaskan: mendengar mahātmya ini menghancurkan dosa dan menyempurnakan tujuan.

महाकालेश्वरमाहात्म्यवर्णनम् (Narration of the Māhātmya of Mahākāleśvara)
Īśvara menasihati Devī agar menuju liṅga Mahākāleśvara, yang terletak sedikit di utara Aghoreśa pada arah vāyavya (barat laut); tempat ini dipuji sebagai tīrtha pemusnah dosa. Bab ini memaparkan sejarah nama menurut yuga: pada Kṛtayuga ia dikenang sebagai Citrāṅgadeśvara, sedangkan pada Kaliyuga dimuliakan sebagai Mahākāleśvara. Rudra digambarkan sebagai kāla-rūpa (wujud Waktu) sekaligus prinsip kosmis yang mampu “menelan” matahari, sehingga kosmologi dipadukan dengan teologi kṣetra suci. Ditetapkan tata-ritus pemujaan saat fajar dengan mantra enam suku kata. Pada Kṛṣṇāṣṭamī dianjurkan laku khusus: mempersembahkan guggulu yang dicampur ghee dalam upacara malam yang dilakukan dengan benar; Bhairava disebut menganugerahkan pengampunan luas atas pelanggaran. Dāna ditekankan melalui dhenu-dāna (derma sapi) yang mengangkat garis leluhur; juga pembacaan Śatarudrīya di sisi selatan dewa untuk menyejahterakan garis ayah dan ibu. Pada saat uttarāyaṇa, persembahan ghṛta-kambala (selimut ghee) dijanjikan meredakan kelahiran kembali yang keras. Phalaśruti menuturkan kemakmuran, bebas dari kesialan, dan bhakti yang makin teguh dari kelahiran ke kelahiran, serta menutup dengan kemasyhuran kṣetra yang terkait pemujaan Citrāṅgada pada masa lampau.

भैरवेश्वरमाहात्म्य (Bhairaveśvara—Glory of the Shrine)
Bab 94 menyajikan ringkasan teologi dan tata-ritual Bhairaveśvara di Prabhāsa-kṣetra. Īśvara menasihati Devī agar pergi ke śrī-kṣetra Bhairaveśvara yang utama, ditandai dengan petunjuk arah dan ukuran jarak yang jelas, dekat motif sudut api (agnikoṇa). Liṅga di sana dipuji sebagai pemenuh segala harapan serta penghapus kemiskinan dan kemalangan. Disebut pula asal nama: pada masa lampau ia dikenal sebagai Caṇḍeśvara, karena seorang gaṇa bernama Caṇḍa memujanya dalam waktu lama sehingga sebutan itu dikenang. Teks menekankan bahwa darśana dan sentuhan dengan hati tenang menyucikan, membebaskan dari dosa dan dari lingkar kelahiran-kematian. Ditentukan pula vrata pada Kṛṣṇa Caturdaśī bulan Bhādrapada: berpuasa dan berjaga malam (prajāgara) membawa ke kediaman tertinggi Maheśvara. Kesalahan ucapan, pikiran, dan perbuatan dihancurkan oleh memandang liṅga; dan etika ziarah dilengkapi dengan anjuran dāna—wijen, emas, dan pakaian—kepada penerima yang berilmu demi menghapus kekotoran dan menyempurnakan buah perjalanan. Pada penutup, Bhairava ditafsirkan secara kosmologis: saat pralaya, Rudra mengambil rupa Bhairava dan menarik kembali/menyerap dunia; dari fungsi kosmis inilah nama tempat itu ditegakkan. Phalaśruti menyatakan bahwa mendengar māhātmya ini membebaskan bahkan dari pelanggaran berat dan mengantar pada pembebasan.

मृत्युञ्जयमाहात्म्यवर्णनम् / The Glory of Mṛtyuñjayeśvara (Mṛtyuñjaya Liṅga)
Bab ini memuat uraian ajaran Īśvara tentang liṅga khusus bernama Mṛtyuñjayeśvara di Prabhāsa-kṣetra. Tempat sucinya ditunjukkan dengan penanda arah dan ukuran jarak (dhanu), serta ditegaskan sebagai pelenyap dosa: cukup dengan melihat dan menyentuhnya. Dikisahkan pula asal-usulnya: pada yuga terdahulu tempat itu dikenal sebagai Nandīśvara; di sana seorang gaṇa bernama Nandin bertapa berat, menegakkan mahā-liṅga, dan memujanya setiap hari. Dengan japa mantra yang disebut Mahāmṛtyuñjaya, Dewa berkenan dan menganugerahkan kepadanya kedudukan di antara para gaṇa Śiva, kedekatan rohani (sāmīpya), serta buah yang bernafaskan pembebasan. Selanjutnya ditetapkan tata cara pūjā liṅga: abhiṣeka dengan susu, dadih, ghee, madu, dan sari tebu; olesan kuṅkuma; persembahan wewangian (kapur barus, uśīra, esensi kesturi), cendana, bunga; dhūpa dan aguru; persembahan kain sesuai kemampuan; naivedya disertai pelita; lalu sujud penghormatan. Penutupnya memerintahkan dāna berupa emas kepada brāhmaṇa yang menguasai Veda, dan menyatakan bahwa pelaksanaan yang benar memberi “buah kelahiran”, menghapus segala pāpa, serta mengabulkan harapan.

कामेश्वर–रतीश्वरमाहात्म्यवर्णनम् | Kameśvara and Ratīśvara: Etiology and Merits of Worship
Bab ini berbentuk dialog tanya‑jawab suci antara Devī dan Īśvara. Īśvara mula‑mula menunjukkan letak Ratīśvara di sebelah utara Kāmeśvara dengan penanda arah dan jarak, serta menyatakan pahala: sekadar darśana dan pemujaan diyakini melenyapkan dosa tujuh kelahiran dan mencegah keretakan rumah tangga. Devī lalu menanyakan asal‑usul tempat itu dan alasan sebutan “Ratīśvara”. Īśvara menuturkan legenda etiologis: setelah Kāma (Manasija) dibakar oleh Tripurāri (Śiva), Ratī melakukan tapa panjang di sana—berdiri di ujung ibu jari selama masa yang amat lama—hingga sebuah liṅga Māheśvara muncul dari bumi. Suara gaib memerintahkan Ratī memuja liṅga itu dan menjanjikan pertemuan kembali dengan Kāma. Ratī bersembahyang dengan sangat tekun; Kāma dipulihkan, dan liṅga itu dikenal sebagai Kāmeśvara. Ratī juga menyatakan pahala umum: para pemuja di masa depan akan memperoleh siddhi yang diinginkan dan tujuan yang mujur melalui anugerah liṅga. Penutupnya memberi ketentuan waktu: pemujaan pada hari ke‑13 paruh terang bulan Caitra disebut paling utama, membawa keberkahan dan pemenuhan hasrat.

योगेश्वरमाहात्म्यवर्णनम् (Glorification of Yogeśvara Liṅga)
Īśvara menasihati Mahādevī tentang liṅga yang sangat mujarab bernama Yogeśvara, terletak di Prabhāsa-kṣetra pada bagian arah Vāyu, dekat Kāmeśa, dalam batas ukuran “tujuh busur”. Liṅga ini mahāprabhāva; hanya dengan darśana (melihat dengan hormat) dosa-dosa pun lenyap. Disebut pula bahwa pada zaman terdahulu ia dikenal sebagai Gaṇeśvara. Asal-usulnya dijelaskan: tak terhitung gaṇa yang perkasa, mengetahui Prabhāsa sebagai medan suci Māheśvara, datang dan bertapa dengan disiplin yoga yang keras selama seribu tahun ilahi. Berkenan atas ṣaḍaṅga-yoga mereka, Vṛṣadhvaja (Śiva) menganugerahkan nama Yogeśvara dan menetapkannya sebagai pemberi buah-buah yoga. Dinyatakan tata-laku: siapa yang memuja Yogeśa dengan prosedur ritual yang benar dan bhakti akan memperoleh yoga-siddhi serta kebahagiaan surgawi; pemujaan ini dipuji lebih utama daripada sedekah yang paling agung, bahkan diumpamakan melampaui pemberian Meru emas dan seluruh bumi. Untuk menyempurnakan hasil, disebut pula upacara vṛṣabha-dāna (derma lembu jantan). Ajaran kemudian meluas kepada “sebelas Rudra” yang bersemayam di Prabhāsa, yang patut senantiasa dipuja oleh pencari buah kṣetra; mendengar kisah Rudra-ekādaśa memberi pahala penuh kṣetra, sedangkan tidak mengenal mereka dicela. Pada penutup, setelah memuja Someśvara hendaknya melantunkan Śatarudrīya; dengan itu diperoleh pahala semua Rudra. Seluruh wejangan ini disebut rahasya—penenang dosa dan penambah kebajikan.

पृथ्वीश्वर-माहात्म्यवर्णनम् (Glorification of Pṛthvīśvara and the Origin of Candreśvara)
Dalam adhyaya ini, Devī bertanya mengapa sebuah liṅga disebut Pṛthvīśvara dan kemudian dikenal sebagai Candreśvara. Īśvara menjawab dengan kisah penyuci dosa (pāpa-praṇāśinī kathā), menyatakan bahwa liṅga itu telah termasyhur sejak yuga/manvantara terdahulu dan berada di wilayah Prabhāsa dengan penanda arah serta jarak. Ketika Bumi tertindas oleh beban para daitya, ia menjelma sebagai sapi dan mengembara hingga mencapai Prabhāsa-kṣetra. Di sana ia bernazar menegakkan liṅga dan bertapa keras selama seratus tahun; Rudra berkenan, memberi jaminan bahwa Viṣṇu akan menyingkirkan para daitya, serta menetapkan bahwa liṅga itu akan masyhur sebagai Dharitrī/Pṛthvīśvara. Phalaśruti menyebutkan: pemujaan pada Bhādrapada kṛṣṇa tṛtīyā setara pahala kurban agung; kawasan sekitarnya adalah medan pembebasan; bahkan kematian tanpa sengaja di dalamnya mengantar pada keadaan tertinggi. Lalu kisah beralih ke Varāha-kalpa: karena kutukan Dakṣa, Bulan terserang derita, jatuh ke bumi, dan tiba di Prabhāsa dekat samudra. Ia memuja Pṛthvīśvara selama seribu tahun, memperoleh kembali sinar dan penyucian, sehingga liṅga itu dikenal sebagai Candreśvara. Mendengar māhātmya ini dikatakan menghapus kekotoran batin dan menopang kesehatan.

Cakradhara–Daṇḍapāṇi Māhātmya (Establishment of Cakradhara near Somēśa and the Pacification of Kṛtyā)
Īśvara menuturkan kepada Devī legenda tempat suci yang menjelaskan mengapa Cakradhara (Viṣṇu pemegang cakra) dan Daṇḍapāṇi (gaṇeśvara/penjaga Śaiva) ditempatkan bersama di Prabhāsa dekat Somēśa. Kisah bermula dari Pauṇḍraka Vāsudeva, raja yang tersesat, meniru tanda-tanda Viṣṇu dan menantang Kṛṣṇa agar meninggalkan cakra serta lambang-lambang lainnya. Bhagavān Hari membalik tantangan itu: di Kāśī Ia “membuang” cakra dengan memakainya untuk menumpas Pauṇḍraka, lalu membunuh Pauṇḍraka dan Kāśirāja, sehingga kepalsuan klaim mereka tersingkap. Putra Kāśirāja memuja Śaṅkara dan memperoleh kṛtyā yang ganas, yang melaju menuju Dvārakā. Viṣṇu melepaskan Sudarśana untuk menetralkannya; kṛtyā melarikan diri ke Kāśī dan memohon perlindungan Śaṅkara. Ketegangan antara senjata-senjata ilahi pun mengancam keselamatan dunia, hingga Viṣṇu tiba di Prabhāsa dekat Somēśa/Kālabhairava. Daṇḍapāṇi menasihati pengekangan: jika cakra dilepaskan lagi, kerusakan luas dapat terjadi; Viṣṇu menerima nasihat itu dan menetap di sana sebagai Cakradhara di sisi Daṇḍapāṇi. Pada akhir bab diberikan tata cara pemujaan dan phalaśruti: mereka yang menghormati Daṇḍapāṇi terlebih dahulu lalu Hari secara berurutan dibebaskan dari “baju zirah dosa” dan mencapai tujuan yang mulia. Disebut pula tithi bulan tertentu serta puasa dan vrata yang membawa pemusnahan rintangan dan pahala yang mengarah pada pembebasan.

सांबाय दुर्वाससा शापप्रदानवर्णनम् — Durvāsas’ Curse upon Sāmba and the Origin-Frame of Sāmbāditya
Bab ini berupa dialog suci Śiva–Devī yang membuka rangkaian Sāmbāditya-māhātmya dalam kerangka ziarah Prabhāsa. Īśvara mengarahkan Devī ke wilayah utara dan vāyavya (barat laut), lalu memperkenalkan Sāmbāditya—perwujudan Surya yang ditegakkan oleh Sāmba. Disebutkan tiga pusat pemujaan Surya yang utama di kawasan itu: Mitravana, Muṇḍīra, dan sebagai yang ketiga Prabhāsakṣetra. Sesudah itu Devī bertanya siapakah Sāmba dan mengapa sebuah kota menyandang namanya. Īśvara menjelaskan bahwa Sāmba adalah putra perkasa Vāsudeva, lahir dari Jāmbavatī; karena kutukan ayahnya ia terserang kuṣṭha (kusta). Kisah sebabnya: resi Durvāsas datang ke Dvāravatī; Sāmba yang mabuk oleh muda dan rupa mengejek wujud tapa sang resi dengan sikap dan gerak yang tidak hormat. Durvāsas murka lalu mengucapkan kutukan bahwa Sāmba segera dikuasai kusta. Bab ini menegakkan ajaran etika—rendah hati di hadapan para pertapa—seraya menyiapkan latar bagi pertobatan Sāmba melalui pemujaan Surya dan penetapan kehadiran Surya di kota Sāmba demi kesejahteraan umum.

सांबादित्यमाहात्म्यवर्णनम् | The Māhātmya of Sāmba-Āditya (Sun Worship at Prabhāsa)
Bab ini menampilkan kisah bernuansa teologis dan etis yang mengaitkan perilaku, akibat, serta bhakti sebagai penebusan. Nārada datang ke Dvāravatī dan menyaksikan dinamika istana para Yādava; ketidaksopanan Sāmba menjadi pemicu peristiwa. Nārada mengangkat tema goyahnya perhatian karena mabuk dan keadaan sosial; Śrī Kṛṣṇa menanggapinya dengan perenungan hingga rangkaian kejadian seperti ujian pun terjadi. Saat tamasya, Nārada menghadirkan Sāmba di hadapan Kṛṣṇa dan para wanita di ruang dalam; dalam kegelisahan dan hilang kendali (diperkuat oleh mabuk), timbul kekacauan. Kutukan Kṛṣṇa berfungsi sebagai peringatan moral tentang perhatian yang tersesat, kerentanan sosial, dan biaya karma dari kelalaian. Disebutkan sebagian wanita jatuh dari tujuan yang dijanjikan dan kemudian dirampas para perampok, sedangkan para permaisuri utama terlindungi oleh keteguhan mereka. Sāmba pun dikutuk menderita kusta, sehingga kisah beralih pada jalan penebusan. Ia bertapa keras di Prabhāsa, menegakkan dan memuja Sūrya dengan kidung yang ditetapkan, lalu memperoleh anugerah kesembuhan beserta batasan perilaku. Selanjutnya dipaparkan ajaran-ritual: dua belas nama Sūrya, dua belas Āditya yang selaras dengan bulan-bulan, serta urutan vrata (terutama sekitar hari kelima hingga ketujuh paruh terang bulan Māgha) dengan persembahan seperti bunga karavīra dan cendana merah, tata cara pemujaan, jamuan bagi brāhmaṇa, dan hasil yang dijanjikan. Penutupnya adalah phalāśruti: mendengar mahātmya ini melenyapkan dosa dan menganugerahkan kesehatan.

कंटकशोधिनीदेवीमाहात्म्य (Glory of the Goddess Kaṇṭakaśodhinī)
Adhyaya ini memberikan petunjuk singkat berorientasi tīrtha tentang Devī bernama Kaṇṭakaśodhinī, “Penghapus Duri/Halangan”. Umat diarahkan menuju tempat suci beliau di sektor utara, berjarak “dua dhanu” (ukuran tradisional sepanjang busur). Devī dipuji sebagai Mahīṣaghnī, bertubuh agung, dipuja oleh Brahmā dan para devarṣi, serta berwatak pelindung dan gagah dalam pertempuran. Dijelaskan alasan mitisnya: dari zaman ke zaman beliau menyingkirkan “duri” berupa kekuatan asura yang disebut devakantaka, para pengganggu para dewa. Ditentukan pula upacara pada navamī, hari kesembilan paruh terang bulan Āśvayuja, dengan persembahan hewan (paśu), bunga, lampu terbaik, dan dupa. Phalaśruti menjanjikan bagi pemuja ketiadaan musuh selama satu tahun; dan bila dipandang dengan bhakti tulus, Devī melindungi laksana seorang ibu menjaga putranya, baik dalam kunjungan khusus maupun darśana rutin. Penutup menegaskan bahwa ini adalah māhātmya singkat yang melenyapkan dosa, dan mendengarkannya saja sudah menjadi perlindungan tertinggi.

कपालेश्वरमाहात्म्यवर्णनम् | The Māhātmya of Kapāleśvara (Origin and Merit of the Shrine)
Bab 103 memaparkan legenda asal-usul yang menjelaskan kesucian dan penamaan Kapāleśvara di Prabhāsa-kṣetra. Īśvara menuturkan kepada Devī agar orang pergi ke Kapāleśvara yang mulia di arah utara, dipuja para dewa. Kisah lalu beralih ke yajña Dakṣa: seorang pertapa berdebu yang membawa tengkorak (kapāla) datang, namun para brāhmaṇa menganggapnya tidak layak memasuki ruang yajña dan mengusirnya. Sosok itu—tersirat sebagai Śaṅkara—tertawa, melemparkan tengkorak ke arena yajña, lalu lenyap. Tengkorak itu terus muncul kembali meski dibuang berulang kali, membuat para resi tercengang dan akhirnya menyimpulkan bahwa hanya Mahādeva yang mampu melakukan keajaiban demikian. Mereka menenangkan-Nya dengan kidung pujian, persembahan api, serta pembacaan Śatarudrīya; Śiva pun menampakkan diri. Saat diminta memilih anugerah, para brāhmaṇa memohon agar Śiva bersemayam di tempat itu sebagai liṅga bernama Kapāleśvara, karena tengkorak-tengkorak tak terhitung seakan berulang hadir di sana. Śiva mengabulkan, yajña dilanjutkan, dan disebutkan pahala darśana Kapāleśvara: setara buah Aśvamedha serta membebaskan dari dosa, termasuk dosa dari kelahiran-kelahiran lampau. Teks juga menyebut perbedaan nama menurut manvantara (Kapāleśvara; kemudian Tattveśvara) dan menegaskan bahwa penyamaran (jālma) Śiva menjadi sarana penetapan kesakralan tempat itu.

कोटीश्वरमाहात्म्यवर्णनम् | Kotīśvara Liṅga: Account of its Sacred Greatness
Īśvara menasihati Devī tentang urutan ziarah suci menurut arah: seorang pencari hendaknya terlebih dahulu menuju Kotīśvara yang mulia, serta mengunjungi Koṭīśa (Kotīśa) yang berada di sebelah utaranya. Kesucian tempat ini diteguhkan melalui kisah lama yang terjadi dekat Kapāleśvara. Di sana para pertapa Pāśupata—bertubuh berlumur abu suci, berambut gimbal, mengenakan ikat pinggang muñja, berpengendalian diri dan penakluk amarah, para brāhmaṇa yogin Śiva—melakukan tapa yang panjang sambil meliputi kṣetra ke empat penjuru. Mereka, berjumlah ‘sekoṭi’, tekun dalam japa mantra, lalu dengan tata cara yang benar menegakkan sebuah liṅga dekat Kapāleśa dan memujanya dengan bhakti. Mahādeva berkenan dan menganugerahkan mukti kepada mereka; karena ‘sekoṭi’ ṛṣi meraih siddhi di sana, liṅga itu termasyhur di bumi sebagai Kotīśvara. Dinyatakan pula kesetaraan pahala: pemujaan Kotīśvara dengan bhakti memberi buah sekoṭi japa mantra; dan sedekah emas kepada brāhmaṇa yang menguasai Veda di tempat ini setara dengan sekoṭi homa—maka ziarah ini ditegaskan benar-benar berbuah.

ब्रह्ममाहात्म्यवर्णनम् (Brahmā-Māhātmya: Theological Discourse on Brahmā’s Sanctity at Prabhāsa)
Īśvara memperkenalkan sebuah “tempat rahasia yang unggul” di dalam Prabhāsa-kṣetra, dipuji sebagai tirtha yang memurnikan semua. Ia menyebutkan kehadiran-kehadiran ilahi di sana dan menegaskan bahwa sekadar darśana saja mampu meluruhkan kekotoran berat yang timbul dari kelahiran serta dosa besar, sehingga membuka jalan menuju pembebasan. Devī bertanya mengapa Brahmā di sini disebut “berwujud anak” (bāla-rūpī), padahal di tempat lain digambarkan tua; ia juga memohon penjelasan tentang lokasi, waktu, tata cara pemujaan, dan urutan ziarah. Īśvara menjelaskan bahwa kedudukan tertinggi Brahmā berada di arah Īśānya (timur laut) dari Somnātha beserta penanda-penanda tirtha terkait; Brahmā datang pada usia delapan tahun, menjalankan tapa yang keras, dan turut serta dalam pendirian/penahbisan liṅga Somnātha dengan dukungan ritual yang luas. Selanjutnya dipaparkan perhitungan waktu kosmologis: satuan dari trुटि hingga muhūrta, susunan bulan dan tahun, ukuran yuga dan manvantara, nama-nama Manu dan Indra, serta daftar kalpa yang membentuk “bulan” Brahmā; kalpa kini diidentifikasi sebagai Varāha-kalpa. Penutupnya menyatukan teologi Brahmā–Viṣṇu–Rudra dalam pandangan adwaita: daya-daya ilahi tampak berbeda menurut fungsi, namun hakikatnya satu; karena itu peziarah yang menginginkan buah yātrā hendaknya terlebih dahulu menghormati Brahmā dan menghindari permusuhan sektarian.

ब्राह्मणप्रशंसा-वर्णनम् (Praise of Brahmins and Conduct in Prabhāsa-kṣetra)
Bab ini berbentuk tanya-jawab teologis: Devī bertanya bagaimana memuja Brahman non-dual yang menampakkan diri di Prabhāsa sebagai Pitāmaha (Brahmā) dalam wujud kanak-kanak; mantra dan aturan ritual apa yang dipakai; serta jenis-jenis brāhmaṇa yang tinggal di kṣetra dan bagaimana tinggal di sana menghasilkan kṣetra-phala. Īśvara menjawab dengan menegaskan logika pemujaan yang berporos pada etika sosial-ritual: brāhmaṇa dinyatakan sebagai perwujudan ilahi yang nyata di bumi, sehingga menghormati mereka setara dengan—bahkan pada beberapa pernyataan lebih utama daripada—penghormatan kepada arca. Teks memperingatkan agar tidak menguji, menghina, atau menyakiti brāhmaṇa, termasuk yang miskin, sakit, atau memiliki keterbatasan fisik. Akibat buruk yang berat bagi kekerasan dan penghinaan dijelaskan, dan memberi makanan serta minuman ditegaskan sebagai cara utama penghormatan. Selanjutnya diberikan tipologi gaya hidup/vṛtti brāhmaṇa penghuni kṣetra (beberapa kategori bernama) beserta tanda-tanda perilaku singkat seperti laku tapa, kaul, disiplin, dan pola nafkah. Penutupnya menyatakan bahwa brāhmaṇa yang berdisiplin dan tekun pada Veda di Prabhāsa adalah pemuja yang layak bagi Pitāmaha berwujud anak, sedangkan mereka yang tercela oleh pelanggaran besar tidak patut mendekati pemujaan itu.

बालरूपी-ब्रह्मपूजाविधानम्, रथयात्रा-विधिः, नामशत-स्तोत्र-माहात्म्यम् (Bālarūpī Brahmā Worship Procedure, Chariot-Festival Protocol, and the Merit of the Hundred Names)
Adhyaya ini disajikan sebagai ajaran Īśvara yang memadukan tata-cara dan ajaran rohani. Bhakti diklasifikasikan menjadi tiga: mānasī (batin/mental), vācikī (ucapan), dan kāyikī (tindakan jasmani); serta dibedakan pula orientasinya: laukikī (duniawi), vaidikī (Weda), dan ādhyātmikī (kontemplatif/inner). Selanjutnya dijelaskan tata pemujaan khas Prabhāsa bagi Brahmā dalam wujud kanak-kanak (Bālarūpī): mandi di tīrtha, abhiṣeka dengan pañcagavya dan pañcāmṛta disertai kutipan mantra, urutan nyāsa pada anggota tubuh, penyucian persembahan, upacara bunga-dupa-lampu-naivedya, serta penghormatan kepada korpus Weda dan kebajikan-kebajikan sebagai objek pemuliaan. Pada bulan Kārttika, terutama sekitar Pūrṇimā, diperkenalkan protokol ratha-yātrā: peran warga, kehati-hatian ritual, dan hasil yang dijanjikan bagi peserta maupun para penonton. Disisipkan pula katalog panjang nama-nama/manifestasi Brahmā yang terikat pada tempat-tempat tertentu, bagaikan indeks geografi teologis. Dalam phalāśruti ditegaskan bahwa pembacaan stotra seratus nama dan pelaksanaan yang benar menghapus kesalahan serta menganugerahkan pahala luhur; yoga kalender yang langka seperti Padmaka-yoga di Prabhāsa juga ditonjolkan. Penutupnya menganjurkan dāna, termasuk hadiah tanah dan benda-benda tertentu, serta kebiasaan resitasi bagi para brāhmaṇa yang menetap di sana pada masa perayaan besar.

प्रत्यूषेश्वरमाहात्म्यवर्णनम् / The Māhātmya of Pratyūṣeśvara
Īśvara menasihati Devī agar menuju sebuah liṅga agung milik para Vasu, terletak di sektor arah Īśāna (timur-laut) wilayah Somnātha pada jarak yang telah ditentukan; liṅga itu bermuka empat dan dicintai para dewa. Namanya Pratyūṣeśvara, pemusnah dosa besar; bahkan darśana semata dikatakan melenyapkan dosa yang terkumpul selama tujuh kelahiran. Devī bertanya siapakah Pratyūṣa dan bagaimana liṅga itu ditegakkan. Īśvara lalu mengisahkan silsilah: Dakṣa, putra Brahmā, menikahkan putri-putrinya kepada Dharma; di antaranya Viśvā melahirkan delapan putra, yakni Aṣṭa Vasu: Āpa, Dhruva, Soma, Dhara, Anala, Anila, Pratyūṣa, dan Prabhāsa. Pratyūṣa yang mendambakan seorang putra datang ke Prabhāsa, mengenalinya sebagai kṣetra suci pemenuh harapan, menegakkan Mahādeva, lalu bertapa dengan meditasi terpusat selama seratus tahun ilahi. Mahādeva berkenan dan menganugerahkan putra bernama Devala, dipuji sebagai yogin utama; karena itu liṅga tersebut dikenal sebagai Pratyūṣeśvara. Bab ini menegaskan buah ritual: mereka yang tanpa keturunan, bila bersembahyang di sini, memperoleh kesinambungan garis keluarga. Pemujaan pada waktu fajar (pratyūṣa) dengan bhakti yang teguh menghancurkan bahkan dosa yang sangat berat, termasuk yang bersumber dari brahmahatyā. Bagi yang menghendaki buah ziarah sepenuhnya dianjurkan vṛṣa-dāna (derma seekor banteng), dan berjaga semalam pada Māgha kṛṣṇa caturdaśī dikatakan memberi pahala seluruh derma dan yajña.

अनिलेश्वरमाहात्म्यवर्णनम् (Anileśvara Māhātmya—Description of the Glory of Anileśvara)
Īśvara menasihati Mahādevī agar melanjutkan perjalanan menuju tīrtha Anileśvara yang utama. Tempat suci itu disebut berada di arah utara, berjarak tiga dhanus, dengan penunjukan jarak yang jelas. Liṅga di sana digambarkan “mahāprabhāva”, dan darśana (memandang dengan bhakti) saja dinyatakan sebagai pemusnah pāpa. Kisah mengaitkan Anila dengan para Vasu sebagai Vasu kelima. Anila bersembahyang kepada Mahādeva dengan śraddhā, menjadikan Śiva tampak nyata (pratyakṣa), lalu menegakkan liṅga menurut tata cara. Karena kuasa Īśa, putranya Manojava menjadi kuat dan sangat cepat; geraknya sukar dilacak—sebagai teladan anugerah ilahi. Teks menyebutkan bahwa siapa pun yang memandang wujud/tempat itu memperoleh perlindungan: bebas dari derita, tanpa cacat dan tanpa kemiskinan, serta memperoleh keberuntungan. Bahkan mempersembahkan satu bunga di atas liṅga pun menjanjikan kebahagiaan, kemakmuran, dan keindahan. Bab ditutup dengan phalāśruti: mendengar dan menyetujui māhātmya yang memusnahkan pāpa ini membawa tercapainya tujuan hidup.

प्रभासेश्वरमाहात्म्यवर्णनम् | The Māhātmya of Prabhāseśvara (Installation, Austerity, and Pilgrimage Observance)
Īśvara menasihati Devī agar berangkat ke arah barat dari Gaurī-tapovana menuju tirtha agung Prabhāseśvara. Beliau menjelaskan batas kemuliaan tempat itu dalam lingkup tujuh panjang busur, serta menyatakan bahwa mahāliṅga di sana dahulu ditegakkan oleh Vasu kedelapan, Prabhāsa. Selanjutnya dikisahkan niat Prabhāsa yang menginginkan keturunan, penegakan mahāliṅga, dan tapa panjang bernama ‘Āgneyī’ selama seratus tahun ilahi. Rudra pun berkenan dan menganugerahkan anugerah yang dimohon. Diselipkan pula silsilah: Bhuvanā (saudari Bṛhaspati) sebagai permaisuri Prabhāsa; garis keturunan mereka dihubungkan dengan Viśvakarmā, sang perajin-pencipta kosmis, serta Takṣaka yang termasyhur karena kekuatannya. Akhirnya dipaparkan tata laku peziarah: pada bulan Māgha, hari ke-14 paruh bulan, mandi di pertemuan samudra, melantunkan japa Śatarudrīya, hidup menahan diri (tidur di tanah, berpuasa), memandikan liṅga dengan pañcāmṛta, bersembahyang menurut aturan, dan bila mampu mempersembahkan dana seekor lembu jantan. Buahnya adalah penyucian dan kemakmuran menyeluruh.

रामेश्वरक्षेत्रमाहात्म्यवर्णन — Rāmeśvara Kṣetra Māhātmya (at Puṣkara)
Īśvara menuturkan kepada Devī māhātmya setempat tentang sebuah kuṇḍa dekat Puṣkara bernama “Aṣṭapuṣkara”—sukar dicapai oleh mereka yang tak berdisiplin, namun dipuji sebagai penghapus dosa dan pemberi kebajikan. Di sana disebutkan adanya liṅga bernama Rāmeśvara yang didirikan oleh Rāma; sekadar bersembahyang dan memujanya dipaparkan sebagai prāyaścitta, bahkan membebaskan dari dosa besar seperti brahmahatyā. Devī memohon kisah yang lebih luas: bagaimana Rāma datang bersama Sītā dan Lakṣmaṇa, serta bagaimana liṅga itu dipasang. Īśvara lalu mengaitkan dengan konteks hidup Rāma—lahir untuk memusnahkan Rāvaṇa, kemudian menjalani pembuangan hutan karena kutukan seorang resi; dalam perjalanan rombongan tiba di wilayah Prabhāsa. Setelah beristirahat, Rāma bermimpi melihat Daśaratha dan bertanya kepada para brāhmaṇa. Mereka menafsirkan mimpi itu sebagai pesan leluhur dan menganjurkan śrāddha di tīrtha Puṣkara. Rāma mengundang brāhmaṇa yang layak, mengutus Lakṣmaṇa mengumpulkan buah, dan Sītā menyiapkan persembahan. Saat upacara, Sītā menyingkir dengan penuh malu setelah mengalami penglihatan seakan leluhur dari pihak ayahnya hadir di antara para brāhmaṇa; ketidakhadirannya membuat Rāma sempat marah, lalu Sītā menjelaskan alasannya—dan peristiwa ini dihubungkan dengan penetapan liṅga Rāmeśvara dekat Puṣkara. Penutupnya berupa phalaśruti: pemujaan dengan bhakti memberi tujuan tertinggi. Śrāddha pada tithi tertentu—terutama dvādaśī, juga beberapa pertemuan yang melibatkan caturthī/ṣaṣṭhī—disebut berbuah tak terukur; kepuasan leluhur bertahan dua belas tahun. Memberi sedekah seekor kuda disamakan pahalanya dengan Aśvamedha. Bagian ini menandai dirinya sebagai adhyāya ke-111 dalam seksi Prabhāsa Khaṇḍa.

लक्ष्मणेश्वरमाहात्म्यवर्णनम् (Lakṣmaṇeśvara Māhātmya—Account of the Glory of Lakṣmaṇeśvara)
Bab 112 memuat petunjuk Śiva kepada Devī dalam gaya penuntun perjalanan, mengarahkan beliau ke śrī-kṣetra Lakṣmaṇeśvara yang termasyhur, terletak di sebelah timur Rāmeśa pada jarak tiga puluh dhanus. Liṅga di sana disebut dipasang (dipratiṣṭhā) oleh Lakṣmaṇa ketika melakukan ziarah, bersifat melenyapkan dosa besar dan dipuja para dewa. Bab ini menetapkan tata-bhakti: pemujaan dengan tarian, nyanyian, dan musik, disertai homa serta japa, dengan penyembah teguh dalam dhyāna-samādhi; puncaknya dijanjikan ‘paramā gati’. Diatur pula protokol dāna: setelah memuliakan dewa dengan persembahan berurutan seperti wewangian dan bunga, hendaknya memberi makanan, air, dan emas kepada dvija yang layak. Ditekankan waktu khusus: hari ke-14 paruh gelap (kṛṣṇa-caturdaśī) pada bulan Māgha; mandi suci, pemberian, dan japa pada hari itu dinyatakan berbuah akṣaya, tak pernah susut. Penutup menempatkan bab ini dalam Prabhāsa Khaṇḍa, dalam rangka Prabhāsakṣetra-māhātmya.

जानकीश्वरमाहात्म्यवर्णनम् (Jānakīśvara Māhātmya: Account of the Glory of Jānakīśvara)
Dalam bab ini, Īśvara berbicara kepada Devī dan menunjuk sebuah liṅga agung bernama Jānakīśvara, terletak di sektor barat daya (naiṛta) wilayah Prabhāsa, dekat Rāmeśa/Rāmeśāna. Tempat suci ini dipuji sebagai pāpa-hara, penghancur dosa bagi semua makhluk, dan liṅga yang dahulu dipuja secara khusus oleh Jānakī (Sītā). Riwayat penamaan juga dijelaskan: mula-mula dikenal sebagai Vasiṣṭheśa, pada Tretā-yuga termasyhur sebagai Jānakīśa, lalu setelah enam puluh ribu resi Vālakhilya meraih siddhi di sana, ia disebut Siddheśvara. Pada Kali-yuga, liṅga ini digambarkan sebagai ‘yuga-liṅga’ yang sangat berdaya; sekadar memandangnya membebaskan bhakta dari derita yang lahir dari kemalangan. Ditetapkan tata bhakti-pūjā yang berlaku bagi perempuan maupun laki-laki, termasuk memandikan/menyiram (abhiseka) liṅga. Dalam laku yang lebih tinggi, setelah mandi di Puṣkara-tīrtha, dengan perilaku tertib dan diet terkendali, seseorang bersembahyang terus-menerus selama satu bulan; pahala harian disebut melampaui Aśvamedha. Disebut pula penanda waktu: pada hari ketiga (tṛtīyā) bulan Māgha, pūjā oleh seorang perempuan menghapus duka dan kemalangan bahkan dalam garis keturunannya. Penutupnya menyatakan bahwa mendengar māhātmya ini menghancurkan dosa dan menganugerahkan keberuntungan suci.

वामनस्वामिमाहात्म्यवर्णनम् | Vāmana-Svāmin Māhātmya (Glorification of Vāmana Svāmin)
Īśvara menasihati Devī agar melanjutkan perjalanan ke tīrtha Viṣṇu bernama Vāmana Svāmin. Tempat suci ini dipuji sebagai pemusnah dosa (pāpa-praṇāśana) dan penghancur segala pelanggaran besar (sarva-pātaka-nāśana), terletak dekat wilayah barat-daya Puṣkara. Di sana dikisahkan peristiwa pengikatan Bali: tiga langkah Trivikrama—langkah pertama menjejakkan kaki kanan di tempat ini, langkah kedua di puncak Meru, dan langkah ketiga di langit; pada langkah ketiga batas kosmos terlampaui dan air memancar, dikenali sebagai Gaṅgā, yakni Viṣṇupadī. Nama “Puṣkara” dijelaskan secara etimologis melalui makna “langit” dan “air”, menegaskan kesuciannya sebagai pertemuan yang terkait Prajāpati. Buah ritualnya disebutkan: mandi suci dan memandang jejak kaki Hari membawa ke kediaman tertinggi Hari; persembahan piṇḍa memberi kepuasan panjang bagi leluhur; dan sedekah alas kaki kepada brāhmaṇa yang berdisiplin dipuji, berbuah kehormatan berupa sarana tunggangan di alam Viṣṇu. Sebuah gāthā yang dinisbatkan kepada Vasiṣṭha dikutip untuk meneguhkan daya penyucian tīrtha ini.

Puṣkareśvaramāhātmya-varṇana (Glorification of Puṣkareśvara)
Īśvara menasihati Mahādevī tentang urutan ziarah di Prabhāsa-kṣetra: mula-mula menuju Puṣkareśvara yang termasyhur, lalu ke Jānakīśvara yang terletak di sebelah selatannya. Liṅga Puṣkareśvara dinyatakan sangat berdaya; kemuliaannya diteguhkan oleh pemujaan teladan—oleh Brahmaputra (putra Brahmā) dan oleh resi Sanatkumāra yang mempersembahkan bunga puṣkara emas menurut tata cara yang ditetapkan—sehingga nama dan kewibawaannya masyhur. Bab ini juga mengajarkan kaidah kemanjuran ritual: pemujaan penuh bhakti dengan persembahan seperti gandha (wewangian) dan puṣpa (bunga), dilakukan berurutan dan tepat, dihitung sebagai telah menuntaskan Puṣkarī-yātrā. Tempat ini dikenal sebagai sarva-pātaka-nāśana, pemusnah segala dosa; ziarah dipahami sebagai pemurnian etis sekaligus laku bhakti yang tertib.

शंखोदककुण्डेश्वरीगौरीमाहात्म्य (Glory of Śaṅkhodaka Kuṇḍa and Kuṇḍeśvarī/Gaurī)
Īśvara menasihati Devī agar memperhatikan tempat suci bernama Kuṇḍeśvarī di Prabhāsa Khaṇḍa. Dewi Kuṇḍeśvarī dipuji sebagai pemberi saubhāgya (keberuntungan suci) serta penghapus dosa dan kemiskinan; letaknya dijelaskan dengan penunjuk arah dan jarak. Di dekatnya ada perairan suci bernama Śaṅkhodaka Kuṇḍa, yang disebut memusnahkan segala pāpa (dosa). Dikisahkan, dahulu Viṣṇu membunuh makhluk bernama Śaṅkha; tubuhnya yang besar laksana kerang/sangkha dibawa ke Prabhāsa, lalu dibasuh, dan dari peristiwa itu berdirilah tīrtha yang sangat berdaya. Bunyi sangkha menarik kedatangan sang Dewi; ia menanyakan sebabnya, dan dari perjumpaan itu lahir nama Kuṇḍeśvarī (Dewi yang terkait dengan kuṇḍa) serta Śaṅkhodaka (air yang terkait sangkha). Diajarkan pula bahwa pemujaan pada tithi tṛtīyā di bulan Māgha menuntun para bhakta—laki-laki maupun perempuan—mencapai gaurīpada (keadaan/alam Gaurī). Bab ini menegaskan etika ziarah melalui dana: memberi makan sepasang suami-istri (dampatī), menghadiahkan pakaian (kañcuka), dan memberi makan para perempuan yang dipandang sebagai perwujudan Gaurī (gourīṇī).

भूतनाथेश्वरमाहात्म्यवर्णनम् (Glorification of Bhūtanātheśvara)
Bab ini dalam Prabhāsa Khaṇḍa memuat ajaran Īśvara kepada Mahādevī tentang kemuliaan Bhūtanātheśvara. Umat diarahkan menuju Bhūtanātheśvara-Hara yang berada dekat bagian Īśa milik Kuṇḍeśvarī, pada jarak yang disebut ‘dua puluh busur’, sebagai penanda lokasi dan tata cara ziarah. Liṅga ini dinyatakan abadi tanpa awal dan akhir, disebut Kalpa-liṅga, serta memiliki nama menurut yuga: pada Tretā dikenang sebagai Vīrabhadreśvarī, dan pada Kali dikenal sebagai Bhūteśvara/Bhūtanātheśvara. Dikisahkan pula bahwa pada suatu peralihan Dvāpara, tak terhitung bhūta meraih keberhasilan tertinggi berkat pengaruh liṅga ini, sehingga nama tempat suci itu teguh di bumi. Ditetapkan laku khusus pada malam Kṛṣṇa-caturdaśī: setelah memuja Śaṅkara, menghadap selatan dan memuja Aghora dengan pengendalian diri, tanpa takut, serta konsentrasi meditasi—menjanjikan tercapainya siddhi apa pun yang tersedia di alam dunia. Dianjurkan pula sedekah wijen dan emas serta persembahan piṇḍa bagi para pitṛ demi pembebasan dari keadaan preta. Penutupnya menyatakan bahwa membaca atau mendengar kemuliaan ini dengan iman menghancurkan timbunan dosa dan meneguhkan penyucian diri.

गोप्यादित्यमाहात्म्यवर्णनम् | The Māhātmya of Gopyāditya (Sun consecrated by the Gopīs)
Īśvara menasihati Devī agar mendatangi tirtha Surya yang sangat dipuji bernama Gopyāditya di lanskap Prabhāsa, yang ditunjukkan dengan penanda arah dan jarak, serta dikenal sebagai tempat pemusnah dosa. Lalu diceritakan asal-usulnya: Kṛṣṇa datang ke Prabhāsa bersama para Yādava; para gopī dan putra-putra Kṛṣṇa juga hadir. Selama masa tinggal yang panjang, banyak Śiva-liṅga didirikan dengan nama masing-masing, menjadikan kawasan suci yang padat liṅga, dihiasi panji, bangunan megah, dan tanda-tanda sakral. Teks menyebut enam belas gopī “utama” dan menafsirkan mereka sebagai śakti/kala yang berkaitan dengan fase-fase bulan. Kṛṣṇa ditegaskan sebagai Janārdana/Paramātman, sedangkan para gopī dipahami sebagai daya-daya-Nya. Bersama para ṛṣi seperti Nārada dan penduduk setempat, para gopī melakukan pratiṣṭhā sesuai tata cara dan menegakkan arca Surya; sesudahnya dilakukan dana. Sejak itu dewa tersebut termasyhur sebagai Gopyāditya, pemberi keberuntungan dan penghapus dosa. Selanjutnya diberikan tuntunan: bhakti kepada Gopyāditya disebut setara hasilnya dengan tapa dan yajña yang kaya persembahan; pemujaan pagi pada Māgha-saptamī dianjurkan dan membawa manfaat bagi leluhur. Di akhir, dipaparkan batasan perilaku dan kemurnian—terutama larangan terkait sentuhan minyak serta pakaian biru/merah—beserta penebusannya, sebagai pagar etika-ritual bagi para pelaku.

बलातिबलदैत्यघ्नीमाहात्म्यवर्णनम् (Māhātmya of the Goddess who Slays Bala and Atibala)
Bab ini berbentuk dialog teologis: Devī bertanya mengapa dewi setempat termasyhur sebagai “Bālātibala-daityaghnī”, dan memohon kisah lengkapnya. Īśvara menuturkan legenda penyucian: Bala dan Atibala, putra-putra Raktāsura, menaklukkan para dewa lalu menegakkan pemerintahan penindas dengan para panglima bernama dan bala tentara yang sangat besar. Para dewa bersama para devarṣi berlindung kepada Sang Dewi dan melantunkan stotra panjang yang menyebut gelar-gelar beliau dalam corak Śākta-Śaiva-Vaiṣṇava, menegaskan beliau sebagai daya kosmis dan tumpuan perlindungan. Sang Dewi menampakkan diri dalam wujud perang yang menggetarkan—menunggang singa, berlengan banyak, memegang senjata—lalu bertempur dahsyat dan memusnahkan pasukan asura dengan mudah, memulihkan tatanan dharma. Kemenangan itu kemudian dihubungkan dengan Prabhāsa-kṣetra: Ambikā bersemayam di sana, dikenal sebagai pembunuh Bala dan Atibala, serta disertai rombongan enam puluh empat yoginī. Atas permintaan Devī, Īśvara menyebut nama-nama yoginī dan menutup dengan tuntunan laku bhakti: memuji Caṇḍikā dengan devosi, berpuasa dan bersembahyang teratur pada tithi tertentu (terutama caturdaśī, aṣṭamī, navamī), serta mengadakan perayaan demi kemakmuran dan perlindungan. Disebutkan pula bahwa māhātmya ini memusnahkan dosa dan menjadi sarana “sarvārtha-sādhaka” bagi para pemuja Dewi Prabhāsa.

गोपीश्वरमाहात्म्यवर्णनम् | Gopīśvara Māhātmya (Account of the Glory of Gopīśvara)
Dalam adhyāya ini, Īśvara menyampaikan wejangan teologi Śaiva kepada Mahādevī, serta mengarahkan peziarah untuk menuju ke tempat suci Gopīśvara yang “tiada banding”, terletak di arah utara, dengan petunjuk jarak ‘tiga busur’. Kṣetra ini dipuji sebagai pāpa-śamana, penghapus noda-dosa, dan dikisahkan telah dipratiṣṭhita oleh para gopī, sehingga kemuliaan serta kewibawaan setempat sang dewa diteguhkan. Selanjutnya dipaparkan tata-ritus yang ringkas: pemujaan kepada Mahādeva/Maheśvara demi putra (putra-hetu). Dinyatakan bahwa beliau menganugerahkan segala tujuan yang diinginkan manusia dan terutama dikenal sebagai santati-prada, pemberi keturunan. Ditambahkan aturan waktu: pemujaan pada Caitra-śukla-tṛtīyā dengan wewangian, bunga, dan persembahan menghasilkan buah yang diharapkan. Penutupnya menegaskan bahwa ini adalah ringkasan māhātmya penyucian Gopīśvara di Prabhāsa-kṣetra.

जामदग्न्येश्वरमाहात्म्य (Glory of Jāmadagnyēśvara Liṅga)
Bab ini memaparkan legenda tempat suci Śaiva tentang asal-usul serta kemuliaan liṅga Jāmadagnyēśvara di Prabhāsakṣetra. Īśvara menjelaskan urutan ziarah menuju Rāmeśvara yang dikatakan didirikan oleh Rāma Jāmadagnya (Paraśurāma), serta menunjukkan sebuah liṅga yang sangat kuat dan pemusnah dosa di dekat Gopīśvara, lengkap dengan penanda jaraknya. Kisahnya mengingatkan krisis etika Paraśurāma—pembunuhan ibu atas perintah ayah—yang disusul penyesalan, penenteraman Jamadagni, dan anugerah yang menghidupkan kembali Reṇukā. Walau telah memperoleh anugerah itu, Paraśurāma melakukan tapa yang luar biasa di Prabhāsa, menegakkan Mahādeva (Śaṅkara), lalu menerima keridaan ilahi dan buah yang diinginkan; Mahēśvara pun tetap bersemayam di sana. Selanjutnya diringkas kampanye perang Paraśurāma melawan para kṣatriya, tindakan-tindakan ritualnya (dengan rujukan ke Kurukṣetra dan Pañcanada), penyelesaian kewajiban leluhur, serta penyerahan bumi sebagai dana kepada para brāhmaṇa. Phalaśruti menyatakan bahwa pemujaan liṅga ini membebaskan bahkan orang berdosa dari segala cela dan mengantarkannya ke alam Umāpati; berjaga pada caturdaśī paruh gelap memberi pahala laksana aśvamedha dan kegembiraan surgawi.

चित्राङ्गदेश्वरमाहात्म्यवर्णनम् | The Māhātmya of Citrāṅgadeśvara
Bab ini memuat ajaran ringkas ketika Īśvara berbicara kepada Devī, mengarahkan beliau kepada sebuah liṅga di Prabhāsa-kṣetra bernama Citrāṅgadeśvara. Disebutkan pula petunjuk letaknya: berada di kuadran barat daya, kira-kira berjarak dua puluh “busur”, sesuai urutan ziarah dalam bagian ini. Asal-usulnya dikaitkan dengan Citrāṅgada, raja para gandharva. Setelah mengenali kesucian tempat itu, ia melakukan tapa yang berat, memuja Maheśvara, lalu menegakkan dan menahbiskan liṅga tersebut. Siapa pun yang bersembahyang dengan bhāva—niat bhakti yang tulus—akan memperoleh alam gandharva dan kebersamaan dengan para gandharva. Ditetapkan pula tata waktu: pada śukla-trayodaśī, hendaknya memandikan Śiva menurut aturan, lalu memuja secara berurutan dengan aneka bunga, wewangian, dan dupa. Buahnya adalah terpenuhinya segala tujuan yang diinginkan, sebagai hasil dari tata cara yang benar dan batin yang penuh bhakti.

रावणेश्वरमाहात्म्यवर्णनम् | The Māhātmya of Rāvaṇeśvara (Foundation Narrative of the Rāvaṇeśvara Liṅga)
Īśvara menuturkan kepada Devī kemuliaan Rāvaṇeśvara di kṣetra Prabhāsa. Rāvaṇa, yang berhasrat menaklukkan tiga dunia, terbang dengan Puṣpaka-vimāna, namun tiba-tiba wahana itu berhenti tak bergerak di angkasa—tanda bahwa ada batas kṣetra karena kehadiran Śiva yang tak terlampaui. Ia mengutus Prahasta menyelidiki; Prahasta melihat Somēśvara (Śiva) dipuji para dewa dan dilayani komunitas pertapa seperti para resi Vālakhilya, lalu melaporkan bahwa vimāna tak dapat melintas karena kemahakuasaan Śiva. Rāvaṇa pun turun dan bersembahyang dengan bhakti; penduduk setempat lari ketakutan sehingga sekitar tempat suci tampak sepi. Lalu terdengar suara tanpa wujud yang memberi ajaran etis: jangan menghalangi musim yātrā sang Dewa; para peziarah dvijāti datang dari jauh dan tidak boleh dibahayakan. Suara itu juga menyatakan bahwa darśana Somēśvara saja mampu “mencuci” cela yang terkumpul sejak masa kanak-kanak, muda, hingga tua. Kemudian Rāvaṇa menegakkan sebuah liṅga dan menamainya Rāvaṇeśvara, menjalankan upavāsa serta berjaga semalam dengan nyanyian dan musik. Śiva menganugerahinya anugerah: kehadiran-Nya yang menetap di sana, kejayaan duniawi, dan janji bahwa para pemuja liṅga ini menjadi sukar dikalahkan serta meraih siddhi. Rāvaṇa lalu pergi melanjutkan ambisinya; bab ini terutama menguduskan tempat suci itu dan menegaskan tata-phalanya bagi pemujaan.

सौभाग्येश्वरीमाहात्म्यवर्णनम् (Glory of Saubhāgyeśvarī / The Saubhāgya-Granting Gaurī Shrine)
Dalam bab ini, melalui dialog Śiva–Devī, pendengar diarahkan ke sebuah tirtha di arah barat yang terkait dengan Gaurī sebagai penganugerahi saubhāgya—kemujuran rumah tangga, kesejahteraan, dan keberkahan pernikahan. Lokasi dewi dijelaskan dengan penanda setempat, termasuk kaitan dengan Rāvaṇa yang disebut ‘Rāvaṇeśa’, serta sebutan toponimik ‘sekumpulan lima busur’. Sebagai kisah asal-usul, diceritakan bahwa Dewi Arundhatī melakukan tapa yang sangat berat di sana, terdorong oleh hasrat memperoleh saubhāgya dan tekun memuja Gaurī; berkat kuasa sang Dewi ia meraih pencapaian tertinggi. Disebutkan pula hari suci: tṛtīyā (hari ketiga) paruh terang bulan Māgha. Phalaśruti menegaskan bahwa siapa pun yang bersembahyang kepada Saubhāgyeśvarī dengan bhakti akan memperoleh saubhāgya, bahkan hingga kelahiran-kelahiran mendatang.

पौलोमीश्वरमाहात्म्यवर्णनम् | Paulomīśvara Māhātmya (Glorification of the Paulomīśvara Liṅga)
Bab ini menampilkan bimbingan topografis dan tata‑ritual dari Īśvara, yang menunjuk sebuah liṅga agung bernama ‘Mahāliṅga’, terkasih bagi para dewa, berada pada arah tertentu dengan jarak yang telah ditetapkan. Liṅga ini dipuji sebagai kāma‑prada (pemberi tujuan yang diinginkan) dan sarva‑pātaka‑nāśana (penghapus noda dosa besar), serta dikenal sebagai Paulomīśvara karena didirikan oleh Paulomī. Dalam kisahnya, para dewa dikalahkan dalam konflik melawan Tāraka; Indra diliputi duka dan ketakutan. Indrāṇī, demi kemenangan Indra, memuja Śambhu; Mahādeva berkenan dan menubuatkan bahwa seorang putra perkasa bermuka enam, Ṣaṇmukha, akan lahir dan membunuh Tāraka. Dijanjikan pula: siapa pun yang bersembahyang kepada liṅga Paulomīśvara dengan bhakti akan menjadi gaṇa Śiva dan memperoleh kedekatan dengan-Nya. Pada penutup, Indra menetap di sana dan terbebas dari duka serta takut, menegaskan tempat suci ini sebagai perlindungan ritual dan ladang pahala.

Śāṇḍilyeśvara-māhātmya (Glory of Śāṇḍilyeśvara)
Īśvara menasihati Devī agar pergi menuju liṅga Śāṇḍilyeśvara yang mulia, terletak di wilayah barat Brahmā, dengan penanda dan ukuran jarak sebagaimana disebutkan. Liṅga itu dipuji sangat manjur; sekadar darśana (melihat dengan hormat) saja dinyatakan sebagai pāpa-nāśana, penghancur kekotoran batin. Kemudian diperkenalkan Brahmarṣi Śāṇḍilya—kusir Brahmā, pertapa yang bercahaya, teguh dalam pengetahuan, dan mengendalikan diri. Ia tiba di Prabhāsa, melakukan tapa yang berat, lalu menegakkan sebuah liṅga agung di utara Somēśa dan memujanya sendiri selama seratus tahun ilahi. Sesudah itu ia meraih tujuan yang diinginkan dan menjadi paripurna; oleh anugerah Nandīśvara ia dianugerahi aṇimā dan kesempurnaan yoga lainnya. Akhirnya ditegaskan buah rohaninya: siapa pun yang memandang Śāṇḍilyeśvara menjadi suci seketika; dosa yang dilakukan pada masa kanak-kanak, muda, maupun tua—sadar atau tidak—dikatakan lenyap oleh darśana tersebut.

Kṣemakareśvara-liṅga Māhātmya (क्षेमंकरॆश्वरलिङ्गमाहात्म्य) — Glory of Kṣemeśvara/Kṣemakareśvara
Dalam bab ini, Īśvara menasihati Devī tentang kemuliaan liṅga agung bernama Kṣemeśvara (dalam rangka māhātmya Kṣemakareśvara). Tempat sucinya dijelaskan secara relasional: berada di sudut utara dari Kapāleśa, masih dalam jangkauan darśana dan pemujaan kawasan Kapāleśa, pada jarak “lima belas busur”. Liṅga ini disebut mahāprabhāva dan sarva-pātaka-nāśana, pemusnah segala dosa. Kemudian dikisahkan asal-usulnya: raja perkasa bernama Kṣemamūrti bertapa lama di sana dan, dengan bhakti serta tekad yang terpusat, menegakkan liṅga tersebut. Darśana atasnya mendatangkan kṣema (kesejahteraan dan kemantapan auspisius), keberhasilan usaha, kemakmuran tujuan yang diinginkan lintas kelahiran, serta saubhāgya. Buah sekadar melihatnya disamakan dengan pahala menyedekahkan seratus sapi, dan para pencari buah kṣetra dianjurkan senantiasa berlindung pada liṅga itu.

सागरादित्यमाहात्म्यवर्णनम् | Sāgarāditya Māhātmya (Glory of Sāgara’s Solar Shrine)
Īśvara menasihati Devī tentang kemuliaan ‘Sāgarāditya’, sebuah situs arca Surya yang utama di Prabhāsa-kṣetra. Letaknya dijelaskan dengan penunjuk arah—di sebelah barat Bhairaveśa, dekat Kāmeśa pada arah selatan/agneya. Kewibawaan tempat suci ini diteguhkan oleh teladan raja: Raja Sagara yang masyhur dalam Purāṇa dikisahkan memuja Surya di sana; keluasan samudra serta kaitan nama ‘Sagara’ menambah gaung mitis-historisnya. Selanjutnya diajarkan tata laku upacara pada bulan Māgha, paruh terang: menahan diri, berpuasa pada tithi keenam, tidur dekat Dewa, lalu pada tithi ketujuh bangun pagi untuk bersembahyang dengan bhakti, serta memberi jamuan kepada para brāhmaṇa dengan pemberian yang tanpa tipu daya. Surya dimuliakan sebagai dasar tiga dunia dan prinsip ilahi tertinggi; meditasi juga dipetakan pada rupa-warna Surya menurut pergantian musim. Di akhir, diberikan stava ringkas berisi 21 nama rahasia/suci sebagai pengganti pembacaan seribu nama; japa pada fajar dan senja dikaitkan dengan pelepasan dosa, kemakmuran, dan pencapaian alam Surya. Mendengar māhātmya ini disebut meredakan penderitaan dan memusnahkan dosa-dosa besar.

उग्रसेनेश्वरमाहात्म्यवर्णनम् / The Māhātmya of Ugraseneśvara (formerly Akṣamāleśvara)
Bab 129 menguraikan kemuliaan sebuah liṅga di Prabhāsa: asal-usulnya, pergantian nama, dan daya penyelamatnya, yang berada dekat laut dan arah matahari pada sudut tertentu. Īśvara menunjukkan tempat itu dan menyebutnya “yugaliṅga” pereda dosa; dahulu dikenal sebagai Akṣamāleśvara dan kemudian termasyhur sebagai Ugraseneśvara. Devī menanyakan sebab historis-etimologis nama lama tersebut. Īśvara menuturkan kisah āpaddharma: saat kelaparan, para ṛṣi yang lapar mendatangi rumah seorang Caṇḍāla (antyaja) yang menyimpan gandum. Sang antyaja mengingatkan larangan kemurnian dan akibat buruk; namun para ṛṣi membenarkan penerimaan demi mempertahankan hidup dengan contoh Ajīgarta, Bharadvāja, Viśvāmitra, dan Vāmadeva. Dengan syarat tertentu, Vasiṣṭha menikahi putri antyaja bernama Akṣamālā; karena laku bajik dan pergaulannya dengan para ṛṣi, ia dikenal sebagai Arundhatī. Di Prabhāsa ia menemukan liṅga di sebuah rimbunan dan, dengan ingatan suci serta pemujaan berkelanjutan, menampakkan kemasyhuran liṅga itu sebagai penghapus kesalahan. Pada peralihan Dvāpara–Kali, Ugrasena putra Andhāsura memuja liṅga yang sama selama empat belas tahun dan memperoleh putra bernama Kaṃsa; sejak itu tempat suci tersebut disebut Ugraseneśvara. Bagian akhir menyatakan buahnya: darśana dan sparśa saja meredakan pelanggaran besar; pemujaan pada Bhādrapada Ṛṣi-pañcamī membebaskan dari takut neraka; dan dana sapi, makanan, serta air dipuji untuk penyucian dan kesejahteraan setelah wafat.

पाशुपतेश्वरमाहात्म्यवर्णनम् | The Māhātmya of Pāśupateśvara (and Anādīśa) at Prabhāsa
Bab ini memaparkan, dalam bentuk dialog teologis, jejaring tempat suci bernuansa Pāśupata di Prabhāsa serta kemuliaan liṅga yang dikenal sebagai Santoṣeśvara/Anādīśa/Pāśupateśvara. Īśvara menunjukkan letaknya di antara penanda-penanda suci Prabhāsa dan menegaskan bahwa darśana saja menghancurkan dosa serta mengabulkan harapan; tempat ini adalah siddhi-sthāna dan laksana “obat” bagi mereka yang terserang penyakit moral-rohani. Sejumlah resi sempurna dikaitkan dengan liṅga itu, dan hutan Śrīmukha di dekatnya dipuji sebagai kediaman Lakṣmī serta lahan tapa bagi para yogin. Devī memohon penjelasan tentang yoga/kaul Pāśupata, ragam penamaan dewa, tata penghormatan ritual, dan kisah para yogin yang mencapai alam surgawi dengan tubuh mereka. Lalu diceritakan tugas Nandikeśvara memanggil para pertapa ke Kailāsa dan peristiwa padma-nāla (tangkai teratai): para yogin, dengan daya yoga, memasuki tangkai itu dalam wujud halus dan bergerak di dalamnya, memperlihatkan siddhi serta kebebasan bergerak (svacchanda-gati). Reaksi Devī memunculkan motif kutukan, kemudian ditenteramkan dan diberi sebab-usul: tangkai yang jatuh menjadi liṅga Mahānāla, kelak pada Kali-yuga terkait dengan Dhruveśvara, sedangkan pusat pemujaan utama ditegaskan sebagai Anādīśa/Pāśupateśvara. Penutupnya berisi phala: pemujaan—terutama dengan bhakti berkesinambungan pada bulan Māgha—memberi buah setara yajña dan dāna, serta menjadi jalan menuju siddhi dan mokṣa; disertakan pula catatan etis-ritual tentang praktik bhasma dan tanda-tanda identitas Pāśupata.

ध्रुवेश्वरमाहात्म्यवर्णनम् | Dhruveśvara Māhātmya (The Glory and Origin Account of Dhruveśvara)
Bab ini berbentuk dialog teologis: Śrī Devī bertanya mengapa liṅga yang dikenal sebagai “Nāleśvara” juga disebut “Dhruveśvara”. Īśvara lalu menuturkan asal-usul dan kemuliaannya. Dhruva, putra Raja Uttānapāda, datang ke Prabhāsa-kṣetra yang suci, menjalani tapa yang berat, menegakkan (mempratiṣṭhākan) Mahādeva, dan bersembahyang dengan bhakti tak putus selama seribu tahun ilahi. Īśvara kemudian menyampaikan stotra Dhruva, tersusun dari rumusan perlindungan yang berulang—“taṃ śaṃkaraṃ śaraṇadaṃ śaraṇaṃ vrajāmi”—yang memuji kedaulatan kosmis Śiva serta karya-karya-Nya yang termasyhur. Dalam phalaśruti ditegaskan: pembacaan himne dengan pikiran tertib dan kemurnian membawa pencapaian Śiva-loka. Śiva yang berkenan menganugerahkan darśana ilahi dan menawarkan berbagai anugerah; Dhruva menolak ganjaran berupa kedudukan, memohon hanya bhakti murni dan kehadiran abadi Śiva pada liṅga yang ia dirikan. Īśvara meneguhkan anugerah itu, mengaitkan “kedudukan tetap” Dhruva dengan tempat tinggal tertinggi, serta menetapkan pemujaan liṅga pada Śrāvaṇa amāvāsyā atau Āśvayuja paurṇamāsī, menjanjikan pahala setara Aśvamedha dan beragam hasil duniawi maupun rohani bagi para pemuja dan pendengar.

सिद्धलक्ष्मीमाहात्म्यवर्णनम् | The Māhātmya of Siddhalakṣmī (Prabhāsa)
Dalam bab ini, Īśvara berbicara kepada Devī dan mengarahkan perhatian pada śakti Vaiṣṇavī yang agung, berada di dekat Prabhāsa pada sektor arah Somēśa/Īśa. Dewi pelindung pīṭha itu bernama Siddhalakṣmī; Prabhāsa dipandang sebagai “pīṭha pertama” dalam tatanan kosmis, dihuni para yoginī—yang bergerak di bumi maupun di angkasa—berkelana bebas bersama Bhairava. Disajikan pula daftar pīṭha-pīṭha utama seperti Jālaṃdhara, Kāmarūpa, Śrīmad-Rudra-Nṛsiṃha, Ratnavīrya, dan Kāśmīra; pengetahuan tentang pīṭha-pīṭha ini dikaitkan dengan kecakapan mantra (mantravit). Selanjutnya disebut pīṭha penopang di Saurāṣṭra bernama Mahodaya, tempat pengetahuan seperti di Kāmarūpa dikatakan tetap bekerja. Di sana Sang Dewi juga dipuji sebagai Mahālakṣmī—yang menenteramkan dosa dan menganugerahkan keberhasilan yang suci dan mujur. Petunjuk ritual diberikan: pemujaan pada Śrīpañcamī dengan wewangian dan bunga diyakini menghapus takut akan alakṣmī (kemalangan). Di dekat kehadiran Mahālakṣmī ditetapkan laku mantra menghadap utara: setelah dīkṣā dan mandi suci, dilakukan lakṣa-japa, lalu persembahan api sebesar sepersepuluhnya (daśāṃśa-homa) dengan tri-madhu dan śrīphala. Phalaśruti menyatakan Lakṣmī menampakkan diri dan memberi siddhi yang diinginkan di dunia ini dan di alam berikutnya; hari tṛtīyā, aṣṭamī, dan caturdaśī juga disebut sangat berkhasiat untuk pemujaan.

महाकालीमाहात्म्यवर्णनम् | Mahākālī Māhātmya (Glorification of Mahākālī)
Dalam adhyaya ini, Īśvara menasihati Devī tentang kemuliaan Mahākālī, suatu perwujudan Dewi yang sangat kuat. Mahākālī dikatakan bersemayam di sebuah pīṭha agung yang ditandai oleh pātāla-vivara, celah menuju alam bawah. Ia dipuji sebagai penenteram penderitaan dan pemusnah permusuhan. Pada malam Kṛṣṇāṣṭamī, pemujaan dilakukan menurut tata cara dengan wewangian, bunga, dupa, persembahan (naivedya), serta bali. Disebut pula laku-vrata yang berfokus pada kaum perempuan: pemujaan teratur selama satu tahun pada paruh terang (śukla pakṣa), disertai pemberian buah kepada seorang brāhmaṇa sesuai aturan. Ada pantangan makanan: beberapa jenis kacang-kacangan/biji-bijian dihindari pada malam hari selama Gaurī-vrata dijalankan. Phalaśruti menegaskan berkah bagi rumah tangga—kekayaan dan persediaan pangan tidak menyusut—serta lenyapnya kesialan sepanjang banyak kelahiran. Bab ini menutup dengan menyebut pīṭha tersebut sebagai tempat pemberi mantra-siddhi, menganjurkan berjaga pada hari kesembilan paruh terang bulan Āśvina dan melakukan japa malam dengan batin tenang demi tercapainya tujuan yang diinginkan.

पुष्करावर्तकानदीमाहात्म्यवर्णनम् (Māhātmya of the Puṣkarāvartakā River)
Īśvara menasihati Devī tentang sungai suci bernama Puṣkarāvartakā, yang terletak di utara Brahmakuṇḍa dan tidak jauh darinya di wilayah Prabhāsa-kṣetra, serta menegaskannya sebagai simpul tirtha yang utama. Diselipkan kisah lama: dalam konteks yajña Soma, Brahmā datang ke Prabhāsa terkait penetapan Somnātha dan ikatan janji terdahulu. Muncul persoalan ketepatan waktu sandhyā: Brahmā dipahami hendak menuju Puṣkara untuk menjalankan sandhyā, namun para ahli penentu waktu (daiva-cintaka/daivajña) menegaskan bahwa saat itu sangat mujur dan tidak boleh terlewat. Dengan batin terpusat, Brahmā menampakkan banyak perwujudan Puṣkara di tepi sungai; lahirlah tiga āvarta (pusaran/kelokan)—utama, tengah, dan muda—membentuk tatanan suci bertiga. Brahmā menamai sungai itu Puṣkarāvartakā dan menyatakan kemasyhurannya di dunia berkat anugerahnya. Bab ini juga menyebut buah ritual: mandi di sana dan mempersembahkan pitṛ-tarpaṇa dengan bhakti memberi pahala setara “Tri-Puṣkara”; khususnya pada bulan Śrāvaṇa, paruh terang, tithi ketiga, tarpaṇa menjanjikan kepuasan leluhur untuk masa yang amat panjang.

दुःखान्तकारिणी–लागौरीमाहात्म्य (Duhkhāntakāriṇī / Lāgaurī Māhātmya) — Śītalā as the Ender of Afflictions
Bab ini memaparkan kemuliaan seorang Dewi pelindung yang bersemayam di Prabhāsa. Pada zaman Dvāpara beliau dikenal sebagai Śītalā, sedangkan pada zaman Kali beliau dikenali kembali sebagai Kaliduḥkhāntakāriṇī, “yang mengakhiri penderitaan zaman Kali”. Īśvara menjelaskan kehadiran beliau serta tata-bhakti yang bersifat praktis untuk meredakan penyakit anak-anak, terutama gangguan yang meletus seperti visphoṭa, dan menenangkan kegelisahan yang menyertainya. Urutannya: datang ke tempat suci dan memandang (darśana) Dewi di ruang pemujaannya; menyiapkan persembahan terukur dari masūra (lentil) yang ditumbuk sebagai sarana penenangan; lalu meletakkannya di hadapan Śītalā demi kesejahteraan anak-anak. Disebut pula upacara pendamping seperti śrāddha dan memberi jamuan kepada para brāhmaṇa. Persembahan wewangian—kapur barus, bunga, kesturi, cendana—serta ghṛta-pāyasa (bubur manis beras dengan ghee) ditetapkan sebagai naivedya; dan pada penutupnya pasangan suami-istri dianjurkan mengenakan kembali benda/wastra yang telah dipersembahkan (paridhāpana). Pada hari śukla-navamī, mempersembahkan rangkaian bilva yang suci dikatakan menghasilkan “sarva-siddhi”, yakni segala keberhasilan, sebagai puncak laku ritual bab ini.

लोमशेश्वरमाहात्म्यवर्णनम् (The Māhātmya of Lomaśeśvara)
Dalam bab ini, Īśvara menasihati Devī agar pergi berziarah ke tirtha agung Lomaśeśvara, yang terletak di sebelah timur tempat bernama Duḥkhāntakāriṇī, dalam kawasan yang disebut ‘jangkauan tujuh busur’ (dhanuṣāṃ saptake). Di sana, di dalam sebuah gua, resi Lomaśa menegakkan Mahāliṅga setelah menjalani tapa yang amat berat. Selanjutnya diuraikan rahasia umur panjang: jumlah Indra disamakan dengan jumlah rambut/bulu pada tubuh; ketika para Indra lenyap satu demi satu, terjadi kerontokan rambut yang sepadan. Berkat anugerah Īśvara, Lomaśa memperoleh usia luar biasa, melampaui rentang hidup banyak Brahmā. Barangsiapa dengan bhakti memuja liṅga yang dahulu dihormati Lomaśa, ia dianugerahi umur panjang, bebas penyakit, sehat tanpa derita, serta hidup tenteram dan bahagia.

कंकालभैरवक्षेत्रपालमाहात्म्यवर्णनम् | The Māhātmya of Kaṅkāla Bhairava as Kṣetrapāla
Bab ini, dengan tutur yang disahkan oleh Īśvara, menetapkan Kaṅkāla Bhairava sebagai kṣetrapāla (penjaga) utama wilayah suci. Ia ditugaskan oleh Bhairava untuk melindungi kṣetra serta menahan dan menangkis niat-niat merusak dari makhluk yang berwatak menyimpang. Waktu pemujaan khusus disebutkan: bulan Śrāvaṇa pada tithi Śukla Pañcamī, dan bulan Āśvina pada tithi Śukla Aṣṭamī. Dengan bhakti mempersembahkan bali dan bunga sesuai urutan sederhana, seorang pemuja yang tinggal di dalam kṣetra memperoleh kelancaran tanpa rintangan (nirvighna) dan perlindungan Kaṅkāla Bhairava laksana menjaga anaknya sendiri.

Tṛṇabindvīśvara Māhātmya (तृणबिन्द्वीश्वरमाहात्म्य) — Glory of the Shrine of Tṛṇabindvīśvara
Dalam adhyaya ini, dengan gaya pewahyuan Śaiva “Īśvara uvāca”, ditunjukkan letak Tṛṇabindvīśvara di bagian barat Prabhāsa-kṣetra. Tempat suci ini digambarkan berada dalam batas ukuran “lima dhanus”, dan kemuliaan liṅga Śiva di sana dipuji sebagai sangat berbuah. Kesucian tirtha itu dijelaskan melalui kisah tapa brata resi Tṛṇabindu. Selama bertahun-tahun ia menjalani askese yang keras, dengan disiplin bulanan: setiap bulan hanya meminum setetes air dari ujung rumput kuśa, sebagai lambang pengendalian diri dan bhakti yang mendalam. Karena pemujaannya yang tekun kepada Īśvara, ia meraih siddhi tertinggi di “kṣetra Prābhāsika yang suci”; adhyaya ini pun menjadi mikro-māhātmya yang memetakan situs, memberi asal-usul kesakralannya, dan menegaskan teladan tapa-bhakti sebagai dasar daya rohaninya.

चित्रादित्यमाहात्म्यवर्णनम् / The Māhātmya of Citrāditya (and the Stotra of the 68 Names of Sūrya)
Īśvara mengajarkan agar orang pergi ke Citrāditya, yang berada dekat Brahmakuṇḍa dan dikenal melenyapkan kemiskinan. Dikisahkan seorang kāyastha saleh bernama Mitra, yang mengabdi bagi kesejahteraan semua makhluk, memiliki dua anak: Citra (putra) dan Citrā (putri). Setelah Mitra wafat dan sang istri melakukan sahagamana, kedua anak itu dilindungi para resi, lalu kemudian bertapa di wilayah Prabhāsa. Citra menegakkan pratishṭhā Bhāskara (Sūrya) dan memuja-Nya dengan tata cara yang benar, serta melantunkan stotra turun-temurun yang memuat enam puluh delapan nama rahasia/ritual Sūrya, mengaitkan-Nya dengan banyak tīrtha suci di seluruh India. Disebutkan faedah mendengar dan mengulang nama-nama itu: lenyapnya dosa, tercapainya tujuan (kerajaan, kekayaan, keturunan, kebahagiaan), kesembuhan, dan terbebas dari belenggu. Berkenan, Sūrya menganugerahi Citra kematangan dalam tindakan dan pengetahuan; kemudian Dharmarāja mengangkatnya sebagai Citragupta, pencatat agung perbuatan makhluk. Bab ini ditutup dengan anjuran pemujaan khusus pada tithi ketujuh serta dāna: kuda, pedang beserta sarungnya, dan emas kepada seorang brāhmaṇa untuk memperoleh pahala ziarah.

चित्रपथानदीमाहात्म्यवर्णनम् | The Māhātmya of the Citrāpathā River
Adhyaya ini menuturkan kemuliaan (māhātmya) Sungai Citrāpathā di Prabhāsa Kṣetra serta daya hasil-ritualnya. Devī diajari untuk menuju sungai dekat Brahmakūṇḍa, yang berkaitan dengan Citrāditya. Dikisahkan: atas perintah Yama, para Yamadūta membawa seorang bernama Citra; mendengar hal itu, saudari Citra yang diliputi duka menjelma menjadi sungai Citrā, masuk ke samudra sambil mencari saudaranya; kemudian para dvija menamai aliran itu sebagai “Citrāpathā”. Buahnya dinyatakan: siapa yang mandi di Citrāpathā dan memandang Citrāditya memperoleh kedudukan tertinggi yang berhubungan dengan Divākara (Dewa Surya). Pada Kali-yuga sungai ini dikatakan menjadi tersembunyi dan jarang tampak, terutama pada musim hujan; namun kapan pun ia terlihat, sekadar darśana (melihat dengan hormat) sudah dianggap sah, tidak bergantung pada penanggalan. Tempat ini juga dihubungkan dengan pitṛ-loka: para leluhur di surga bersukacita saat sungai terlihat dan menantikan śrāddha dari keturunan, yang memberi kepuasan yang bertahan lama. Karena itu dianjurkan melakukan snāna dan śrāddha di sana untuk pemusnahan pāpa dan kebahagiaan para pitṛ, meneguhkan Citrāpathā sebagai unsur pembangkit kebajikan dalam geografi suci Prabhāsa.

कपर्दिचिन्तामणिमाहात्म्यवर्णनम् (Kapardī–Chintāmaṇi Māhātmya: Description of the Sacred Efficacy)
Bab 141 memuat ajaran ringkas tentang tata-ritual yang dinisbatkan kepada Īśvara. Peziarah terlebih dahulu diarahkan menuju tempat suci tempat Kapardī ditegakkan, lalu ke lokasi di sebelah utara yang berdekatan, tempat suatu dewa dipuji sebagai ‘Chintitārthaprada’—pemberi tujuan yang direnungkan—bagaikan permata Chintāmaṇi kedua yang mengabulkan harapan. Selanjutnya ditetapkan waktu dan urutan upacara: pada tithi Caturthī, khususnya bila bertepatan dengan hari Aṅgāraka (Selasa), bhakta hendaknya melakukan pemandian/ablusi (snāna/abhiṣeka) bagi dewa, melaksanakan pemujaan secara lengkap, serta mempersembahkan beragam naivedya yang baik dan membawa berkah. Tindakan ini dipandang sebagai pemuasan Vighnarāja (Gaṇeśa, penguasa rintangan), dan dengan disiplin demikian dijanjikan tercapainya segala keinginan.

चित्रेश्वरमाहात्म्यवर्णनम् (Citreśvara Māhātmya—Account of the Glory of Citreśvara)
Dalam bab ini, Īśvara bersabda kepada Devī agar memperhatikan sebuah liṅga utama bernama Citreśvara, yang berada di wilayah Prabhāsa-kṣetra pada sisi āgneya (tenggara), berjarak tujuh panjang-busur. Liṅga ini digambarkan sebagai mahāprabhāva dan ditegaskan sebagai sarva-pātaka-nāśana, pemusnah segala dosa; darśana dan pūjā kepadanya membuat bhakta terbebas dari takut akan neraka. Dosa diibaratkan sebagai noda yang dapat “dibersihkan” (mārjayati) oleh Citreśvara, menandakan bahwa ketekunan bhakti dan pemujaan membawa penyucian. Karena itu dianjurkan untuk menyembah Citreśa dengan segenap upaya; phalaśruti menyatakan bahwa bahkan orang yang terbebani dosa pun tidak akan melihat neraka. Kolofon menempatkannya dalam Skanda Mahāpurāṇa, Prabhāsa Khaṇḍa, Prabhāsa-kṣetra-māhātmya (bagian pertama), Bab 142.

विचित्रेश्वरमाहात्म्यवर्णनम् | The Māhātmya of Vicitreśvara
Īśvara mengajarkan Mahādevī tata cara ziarah ke Vicitreśvara. Disebutkan bahwa liṅga yang mulia itu berada di wilayah Prabhāsa, pada sektor timur, sedikit masuk ke arah āgneya (tenggara), berjarak sepuluh panjang-busur. Dalam kisah asal-usulnya, liṅga agung itu dikatakan didirikan melalui perantaraan Vicitra, sang lekhaka (juru tulis) Yama, setelah menjalani tapa yang sangat berat. Bab ini menegaskan buah rohani yang nyata: darśana (melihat dengan hormat) disertai pemujaan melenyapkan segala dosa; dan bila dipuja menurut vidhāna (tata cara yang benar), sang bhakta tidak dikuasai penderitaan.

पुष्करकुण्डमाहात्म्य (Puṣkara-kuṇḍa Māhātmya) — The Glory of Puṣkara Pond
Īśvara menasihati Mahādevī agar melanjutkan perjalanan menuju “Puṣkara agung yang ketiga”. Di bagian timurnya, dekat arah Īśāna, disebutkan sebuah kolam kecil yang dikenang dengan nama Puṣkara. Kemuliaan tīrtha ini diteguhkan oleh teladan purba: pada tengah hari Brahmā pernah bersembahyang di sana, dan Sandhyā—disebut sebagai ibu tiga dunia—dikaitkan dengan pratiṣṭhā (peneguhan/pendirian). Ditetapkan suatu laku khusus: siapa yang mandi di sana dengan batin tenang pada hari purnama (pūrṇamāsī), memperoleh buah seakan telah menyempurnakan mandi suci di Ādi-Puṣkara. Sebagai pelengkap etis, diperintahkan pula hiraṇya-dāna, yakni sedekah emas, demi lenyapnya segala dosa. Penutupnya menyatakan bahwa mendengar māhātmya singkat ini menghapus dosa dan menganugerahkan tujuan yang diinginkan.

गजकुंभोदरमाहात्म्यवर्णनम् (The Māhātmya of Gajakumbhodara: Vighneśa at the Kuṇḍa)
Bab 145 menyajikan uraian teologis-ritual yang ringkas tentang Vighneśa (Gaṇeśa) di Prabhāsa-kṣetra. Īśvara memperkenalkan wujud arca setempat bernama Gajakumbhodara—berciri gajah, dipuji sebagai penghapus rintangan dan pemusnah perbuatan salah. Kemudian ditetapkan laku ibadahnya: peziarah yang berdisiplin hendaknya mandi di kuṇḍa terkait pada hari caturthī (tanggal empat bulan terang/gelap) dan memuja dengan bhakti. Ketepatan waktu, kemurnian niat, dan kebenaran etis membuat dewa berkenan (tuṣyati), sehingga halangan terselesaikan dan buah keberuntungan matang. Penutup menegaskan kedudukannya dalam Skanda Purāṇa sebagai “Gajakumbhodara-māhātmya”.

यमेश्वर-प्रतिष्ठा तथा पापविमोचन-उपदेशः (Yameśvara Installation and Guidance on Release from Demerit)
Bab ini mengisahkan Dharma-rāja Yama yang menderita akibat kutukan terkait Chāyā; salah satu kakinya terlepas sehingga ia menanggung kesakitan besar. Ia bertapa di Prabhāsa-kṣetra dan menegakkan liṅga Śiva, Sang Śūlin. Śiva menampakkan diri, mempersilakan Yama memohon anugerah; Yama memohon agar kakinya yang jatuh dipulihkan. Yama juga memohon agar makhluk yang memandang liṅga Yameśvara dengan bhakti memperoleh pāpa-vimocana, pelepasan dari noda dosa. Śiva mengabulkan dan lenyap; Yama pulih dan kembali ke surga. Lalu diberikan tuntunan ziarah: pada pertemuan waktu Bhātr̥-dvitīyā hendaknya mandi di telaga dan melakukan darśana Yameśvara dekat tempat suci. Persembahan berupa wadah berisi wijen (tila-pātra), pelita (dīpa), sapi, dan emas (kāñcana) dipersembahkan kepada Yama, menjanjikan lenyapnya segala dosa; penekanan ajarannya ialah bahwa bhakti, tapa, dan tata-ritus menenteramkan takut tanpa meniadakan hukum moral.

ब्रह्मकुण्डमाहात्म्य (Brahmakuṇḍa Māhātmya) — The Glory of Brahmakuṇḍa at Prabhāsa
Adhyaya ini berbentuk dialog Śiva–Devī. Īśvara mengarahkan Devī menuju Brahmakuṇḍa di Prabhāsa, sebuah tīrtha tiada banding yang diciptakan oleh Brahmā. Asal-usulnya dikaitkan dengan masa ketika Soma/Śaśāṅka menegakkan Somnātha dan para dewa berkumpul untuk upacara konsekrasi. Diminta menghadirkan tanda swayaṃbhū atas peneguhan itu, Brahmā bertapa dan bermeditasi, lalu menghimpun seluruh tīrtha di surga, bumi, dan alam bawah ke satu tempat; karena itulah dinamai “Brahmakuṇḍa”. Dijelaskan manfaat ritualnya: mandi suci dan pitṛ-tarpaṇa memberi pahala setara Agniṣṭoma serta kemampuan menuju alam surgawi. Dianjurkan pula dana kepada brāhmaṇa terpelajar untuk penghapusan dosa. Disebutkan Sarasvatī mandi di sana pada pūrṇimā dan pratipad, menandai kesakralan berdasarkan penanggalan. Air kuṇḍa digambarkan sebagai siddha-rasāyana, eliksir sempurna dengan banyak warna dan wewangian, suatu keajaiban; namun kemanjurannya bergantung pada keridaan Mahādeva. Teks memaparkan tata cara praktis (menyiapkan bejana, memanaskan, menginfus berulang) serta laku jangka panjang: mandi bertahun-tahun disertai japa-mantra dan pemujaan Hiraṇyeśa, Kṣetrapāla, dan Bhairaveśvara untuk memperoleh kesehatan, umur panjang, kefasihan, dan pengetahuan. Penutupnya menegaskan phala: lenyapnya berbagai dosa, bertambahnya jasa lewat pradakṣiṇā, terpenuhinya tujuan lewat pūjā, dan phalaśruti bahwa pendengar yang beriman terbebas dari dosa serta naik ke Brahmaloka.

Kūpa–Kuṇḍala-janma-kathā and Śivarātri-phala (The Well of Kundala and the Fruit of Śivarātri)
Bab ini disajikan sebagai dialog teologis Śiva–Devī. Mula-mula ditunjukkan sebuah sumur (kūpa) bernama Kuṇḍala di utara Brahmakunda dekat Brahmatīrtha, yang memiliki daya penyucian besar. Dinyatakan bahwa mandi di sana membebaskan seseorang dari cela dosa pencurian. Śivarātri juga dianjurkan sebagai waktu utama untuk upacara seperti piṇḍadāna demi kesejahteraan mereka yang mati terbunuh secara keras dan mereka yang dianggap tercela secara moral. Atas pertanyaan Devī tentang asal kemasyhuran tempat itu, Īśvara menuturkan legenda sebab-mula. Raja Sudarśana mengingat kelahiran lampau yang terkait dengan laku Śivarātri di Prabhāsa: dahulu ia seorang pencuri yang pada malam berjaga bersama hendak berbuat jahat, namun terbunuh oleh pengawal raja; sisa jasadnya dikuburkan di utara Brahmatīrtha. Karena keterkaitan tak disengaja dengan berjaga pada Śivarātri dan kemuliaan kṣetra, sang pencuri memperoleh hasil yang mengubah nasibnya hingga terlahir kembali sebagai Raja Sudarśana yang saleh. Peristiwa itu kemudian dihubungkan dengan tanda nyata berupa ditemukannya emas yang meneguhkan keyakinan umum, serta muncul dan dinamainya sungai Citrāpathā. Diajarkan pula bahwa pada bulan Śrāvaṇa, mandi di sumur itu, melakukan śrāddha sesuai aturan, dan memuja Citrāditya membawa kehormatan di alam Śiva. Bab ditutup dengan phalaśruti: membaca atau mendengarkannya menjanjikan penyucian dan kemuliaan di Rudra-loka.

Bhairaveśvara at Brahmakuṇḍa (भैरवेश्वर-ब्रह्मकुण्ड-माहात्म्यम्)
Īśvara berbicara kepada Devī dan mengarahkan peziarah-pencari menuju Bhairaveśvara, perwujudan luhur yang bersemayam di sektor īśāna (timur laut) Brahmakuṇḍa, sebagai pemusnah dosa dan penjaga tīrtha. Dewa ini digambarkan bercaturwajah (caturvaktra), menegaskan kehadiran pelindung serta kewibawaan ritus di lanskap suci itu. Bab ini menetapkan tata laku ziarah yang sederhana: mandi di kuṇḍa agung, lalu memuja dengan bhakti melalui panca-upacāra, disertai pengendalian indria. Dalam phalaśruti ditegaskan bahwa pemuja ‘menyeberangkan’ (tārayet) garis keturunan masa lampau dan masa depan, serta tiada kerugian atau kebinasaan menimpa sang bhakta. Ganjaran dilukiskan secara surgawi—vimāna yang bercahaya, gerak terus-menerus dalam sinar laksana matahari, dan kenikmatan ilahi—hingga dinyatakan bahwa sekadar melihat liṅga bercaturwajah ini membebaskan dari segala dosa.

ब्रह्मकुण्डसमीपस्थ-ब्रह्मेश्वरमाहात्म्यवर्णनम् (Glory of Brahmeśvara near Brahma-kuṇḍa)
Bab ini dibingkai sebagai ajaran Īśvara tentang sebuah tempat suci Śaiva bernama Brahmeśvara, terletak di selatan Brahma-kuṇḍa yang telah disebut sebelumnya. Teks menegaskan kemasyhurannya di tiga dunia serta perlindungannya oleh gaṇa-gaṇa Śiva, sehingga kedudukannya sah dalam jejaring ziarah Prabhāsa. Ditetapkan pula urutan ritual yang tegas: peziarah hendaknya mendatangi Brahmeśvara dan mandi suci di sana—terutama pada caturdaśī, dan lebih utama lagi pada amāvāsyā. Sesudah itu ia melakukan śrāddha sesuai tata cara, lalu memuja Brahmeśvara. Kemudian disampaikan unsur dāna: mempersembahkan sedekah emas kepada para brāhmaṇa dianjurkan sebagai perbuatan yang menyenangkan Śaṅkara. Buahnya dikaitkan dengan perolehan “buah kelahiran” (janma-phala), meluasnya nama baik (vipulā kīrti), serta keadaan sukacita berkat anugerah Brahmā.

Sāvitrīśvara-bhairava-māhātmya (सावित्रीश्वरभैरवमाहात्म्य)
Bab 151 menyajikan tīrtha-māhātmya yang terfokus pada kawasan sekitar Brahma-kuṇḍa di Prabhāsa-kṣetra. Īśvara menjelaskan Bhairava ketiga yang berada di bagian selatan tempat itu, dekat Brahma-kuṇḍa, di mana Sāvitrī terkait dengan suatu penetapan (pratiṣṭhā) Śaiva. Dikisahkan Sāvitrī menjalani tapa-bhakti yang keras, penuh pengendalian diri dan disiplin, untuk menyenangkan Śaṅkara. Ketika Śiva berkenan, Beliau menganugerahkan anugerah berupa tata cara dan buahnya: siapa pun yang mandi di kuṇḍa itu lalu pada hari purnama (pūrṇimā) memuja “liṅga-Ku” dengan persembahan yang tertib—wangi-wangian dan bunga sesuai urutan—akan memperoleh hasil baik yang diinginkan. Bahkan orang yang terbebani pelanggaran besar pun dibebaskan dari cela dan dianugerahi tercapainya tujuan hidup di bawah perlindungan Vṛṣabhadhvaja (Śiva). Pada akhir kisah, Śiva menghilang, Sāvitrī berangkat ke Brahma-loka setelah menegakkan kehadiran Śaiva; dan disebutkan pula bahwa pendengar yang bijaksana terbebas dari dosa-cela melalui mendengarkan kisah ini.

नारदेश्वरभैरवप्रादुर्भावः (Naradeśvara Bhairava: Origin and Merit)
Īśvara menjelaskan urutan penampakan Bhairava dan menunjukkan tirtha Bhairava keempat yang terletak di sebelah barat Brahmeśa, dengan jarak yang diukur tepat dalam satuan panjang busur. Di sana terdapat liṅga bernama Naradeśvara, didirikan oleh resi Nārada, termasyhur sebagai penghapus segala dosa dan pemberi tujuan yang diinginkan. Dikisahkan Nārada dahulu berada di Brahmaloka. Ia melihat vīṇā ilahi yang bercahaya, terkait dengan Sarasvatī, lalu karena rasa ingin tahu memainkannya tanpa tata cara yang benar. Nada yang keluar—dipahami sebagai tujuh svara—diceritakan sebagai ‘brāhmaṇa yang jatuh’; Brahmā menafsirkan perbuatan itu sebagai kesalahan karena ketidaktahuan, suatu pelanggaran berat yang disamakan dengan menyakiti tujuh brāhmaṇa, dan memerintahkan Nārada segera berziarah ke Prabhāsa untuk memuja Bhairava demi penyucian. Nārada tiba di Prabhāsa, mencapai Brahmakuṇḍa, dan menyembah Bhairava selama seratus tahun ilahi; ia menjadi suci dan memperoleh keahlian dalam nyanyian. Penutup bab menegaskan kemasyhuran liṅga Naradeśvara Bhairava sebagai pemusnah dosa besar, serta anjuran agar mereka yang memainkan vīṇā/nota dengan bodoh datang ke sana untuk pembersihan. Ditambahkan pula vrata: pada bulan Māgha, dengan diet terkendali, bersembahyang tiga kali sehari; sang bhakta meraih keadaan surgawi yang mujur dan menyenangkan.

Hiraṇyeśvara-māhātmya (हिरण्येश्वरमाहात्म्य) — The Glory of Hiraṇyeśvara near Brahmakuṇḍa
Īśvara menuturkan kepada Devī letak serta kemuliaan penyelamat Hiraṇyeśvara-liṅga. Liṅga yang unggul ini berada di barat laut Brahmakuṇḍa, di kawasan suci yang ditandai oleh Kṛtasmarā, Agnitīrtha, Yameśvara, dan wilayah samudra di utara; di sekitar Brahmakuṇḍa juga disebutkan adanya ‘lima Bhairava’ yang termasyhur. Brahmā melakukan tapa yang berat di sisi timur liṅga itu lalu memulai yajña yang sangat mulia. Para dewa dan ṛṣi datang menuntut bagian masing-masing, namun timbul krisis: dakṣiṇā (honorarium persembahan) tidak mencukupi sehingga yajña terancam tidak selesai. Brahmā memohon kepada Mahādeva; atas dorongan-Nya, Sarasvatī dipanggil demi kesejahteraan para dewa dan menjadi ‘kāñcana-vāhinī’ (pembawa emas). Arusnya yang mengalir ke barat melahirkan tak terhitung teratai emas hingga memenuhi wilayah sampai Agnitīrtha. Brahmā membagikan teratai emas itu sebagai dakṣiṇā kepada para pendeta dan menuntaskan yajña; sisanya ditanam di bawah tanah dan liṅga ditegakkan di atasnya—maka dinamai Hiraṇyeśvara, yang dipuja dengan teratai emas ilahi. Air Brahmakuṇḍa dikatakan tampak beraneka warna dan, karena teratai yang terbenam, sesaat menjadi seperti emas. Melihat atau memuja Hiraṇyeśvara menghapus dosa dan melenyapkan kemiskinan; pemujaan pada caturdaśī bulan Māgha disamakan dengan menghormati seluruh jagat, dan mendengar atau melafalkan kisah ini dengan bhakti membawa ke devaloka serta membebaskan dari dosa.

गायत्रीश्वरमाहात्म्यवर्णनम् (Glory of Gayatrīśvara Liṅga)
Īśvara berbicara kepada Devī dan mengarahkan peziarah menuju sebuah liṅga pemusnah dosa (pāpa-vimocana) di kawasan Hiraṇyeśvara, arah barat-laut, pada jarak ‘tiga panjang busur’ (dhanuṣāṁ tritaye). Liṅga itu disebut memusnahkan dosa semua makhluk melalui darśana (melihat) maupun sparśana (menyentuh). Ia juga dikenali sebagai ‘ādi-liṅga’ yang ditegakkan melalui tradisi/mantra Gāyatrī (gāyatrīyā saṁpratiṣṭhitam). Seorang sādhaka—disebut khususnya brāhmaṇa yang menjadi śuci (suci secara ritual)—bila tiba di sana dan melakukan Gāyatrī-japa, dibebaskan dari cela duṣpratigraha (penerimaan hadiah yang tidak patut). Pada Purnama bulan Jyeṣṭha, siapa yang memberi makan sepasang suami-istri (dampatī) serta memberi pakaian sesuai kemampuan, dilepaskan dari kemalangan (daurbhāgya). Pemujaan pada hari Paurṇamāsī dengan wewangian, bunga, dan persembahan dikatakan menumbuhkan ‘brāhmaṇya’ selama tujuh kelahiran. Uraian ditutup sebagai sari yang paling pekat (sārāt sāratara) yang tersedia berkat anugerah Brahma-kuṇḍa.

Ratneśvara-māhātmya (रतनॆश्वरमाहात्म्य) — Sudarśana Kṣetra and the Merit of Ratnakuṇḍa Worship
Bab ini disajikan sebagai dialog teologis ketika Īśvara menasihati Devī agar menujukan perhatian kepada Ratneśvara, tirtha yang tiada banding. Dinyatakan bahwa Viṣṇu yang mahakuat bertapa di sana dan menegakkan sebuah liṅga yang menganugerahkan segala tujuan yang diinginkan. Poros laku ritualnya jelas: mandi suci di Ratnakuṇḍa dan memuja dewa terus-menerus dengan persembahan lengkap serta bhakti akan menghasilkan buah yang dicari. Kemuliaan tempat itu diteguhkan lagi dengan kisah bahwa Śrī Kṛṣṇa yang bercahaya tak terukur melakukan tapa berat di sana dan memperoleh Sudarśana-cakra, pemusnah semua daitya. Īśvara menyatakan kṣetra itu senantiasa terkasih baginya dan kehadirannya tetap bersemayam di sana bahkan saat pralaya. Kṣetra itu bernama “Sudarśana” dengan batas wilayah tiga puluh enam dhanvantara. Bahkan mereka yang dianggap ‘rendah’ bila wafat di dalam batas itu mencapai keadaan tertinggi; dan upacara dāna—mempersembahkan Garuḍa emas serta busana kuning kepada Viṣṇu—disebut memberi buah setara ziarah suci.

गरुडेश्वरमाहात्म्यवर्णनम् (Garudeśvara Māhātmya—Account of the Glory of Garudeśvara)
Bab ini, dalam alur Ratneśvara-māhātmya, memberi petunjuk tirtha yang ringkas. Īśvara menuturkan kepada Devī bahwa di sebelah utara Ratneśvara, pada jarak yang diukur dengan satuan dhanus, terdapat sebuah Śiva-liṅga yang didirikan oleh Vainateya (Garuda), terkenal sebagai “Vainateya-pratiṣṭhita”. Garuda, setelah mengenali tempat itu bercorak Vaiṣṇava, menegakkan liṅga tersebut demi pemusnahan dosa. Ditetapkan pemujaan pada tithi pañcamī sesuai tata cara; bila liṅga dimandikan dengan pañcāmṛta dan dipuja secara ritual, diperoleh seluruh kebajikan serta kenikmatan surga. Phalaśruti menyatakan perlindungan dari racun yang berasal dari ular hingga tujuh kelahiran, beserta perolehan semua pahala suci. Dengan demikian, bab ini memadukan bhakti kepada liṅga Śaiva dengan simbolisme Garuda/Vaiṣṇava, menegaskan tirtha itu sebagai sarana penyucian dan perlindungan dalam etika ziarah.

सत्यभामेश्वरमाहात्म्यवर्णनम् | Satyabhāmeśvara Māhātmya (Account of the Glory of Satyabhāmeśvara)
Īśvara menasihati Mahādevī dan mengarahkan peziarahan menuju tirtha suci Satyabhāmeśvara. Tempatnya disebut berada di selatan Ratneśvara sejauh satu panjang busur; ia dipuji sebagai sarva-pāpa-praśamana, penenteram segala dosa. Dinyatakan pula bahwa lingga/śrī-kṣetra ini didirikan oleh Satyabhāmā, permaisuri Śrī Kṛṣṇa yang berhiaskan rupa dan keluhuran budi. Mandi suci di tempat yang terkait tradisi Vaiṣṇava ini disebut pātaka-nāśana, pemusnah dosa. Ada ketentuan waktu: pada tithi Tritīyā di bulan Māgha, baik perempuan maupun laki-laki hendaknya bersembahyang dengan bhakti; dengan demikian dosa-dosa dilepaskan. Phalaśruti menambahkan manfaat nyata: mereka yang tertimpa kemalangan, duka, kesedihan, dan rintangan akan terbebas. Para pemuja pun menjadi “satyabhāmānvitā”, yakni selaras dan terhubung dengan kesucian pendirian Satyabhāmā di tirtha itu.

अनंगेश्वरमाहात्म्यवर्णनम् (Māhātmya of Anangeśvara: Narrative of the Shrine’s Glory)
Bab 158 memuat petunjuk perjalanan dari Īśvara yang mengarahkan pendengar menuju Anangeśvara, yang disebut berada sejauh ‘jarak tembakan panah’ di depan Ratneśvara. Liṅga di sana dinyatakan didirikan oleh Kāmadeva—juga disebut sebagai putra Viṣṇu—dan tempat itu dipandang sebagai kṣetra yang terkait dengan tradisi Vaiṣṇava, sangat berkhasiat pada Kali-yuga untuk menghapus noda dosa dan kekotoran batin. Phala (buah)nya ditegaskan: melihat dan memuja Anangeśvara memberi daya tarik, keelokan, dan pesona sosial laksana Kāmadeva, bahkan membawa kebaikan bagi garis keturunan dengan meredakan kemalangan atau kekurangan tanda-tanda keberuntungan. Disebut pula upacara khusus berupa vrata pada Ananga-trayodaśī, yang dipuji sebagai sebab ‘kesempurnaan kelahiran’ (janma-sāphalya). Sebagai penyempurna dharma ziarah, dianjurkan śayyā-dāna, yakni sedekah tempat tidur kepada brāhmaṇa yang berbudi; pahalanya lebih besar bila penerimanya seorang bhakta Viṣṇu.

रत्नकुण्ड-माहात्म्य (Ratnakuṇḍa Māhātmya) / The Glory of Ratna-Kuṇḍa near Ratneśvara
Īśvara menasihati Mahādevī tentang Ratnakuṇḍa, sebuah tirtha air yang utama, terletak di selatan Ratneśvara pada jarak tradisional tujuh busur. Kuṇḍa ini dipuji sebagai penyuci dosa besar dan kesalahan berat, serta disebut didirikan oleh Viṣṇu. Dikisahkan pula bahwa Śrī Kṛṣṇa menghimpun banyak tirtha dari bumi dan alam surgawi lalu menempatkannya di sini; para gaṇa ilahi menjaganya, sehingga pada Kali-yuga orang yang tanpa disiplin dan tanpa śraddhā sulit memperoleh anugerahnya. Mandi suci menurut tata-aturan memberi buah yajña yang berlipat, bahkan hasil Aśvamedha menjadi berlipat ganda. Pada hari Ekādaśī dianjurkan mempersembahkan piṇḍa bagi leluhur, menjanjikan kepuasan yang tak habis; berjaga malam (jāgaraṇa) dengan iman teguh dikatakan mengantarkan pada tercapainya tujuan. Petunjuk dāna mencakup pemberian pakaian kuning dan seekor sapi perah yang dipersembahkan kepada Viṣṇu, demi kesempurnaan buah ziarah. Disebut pula nama menurut yuga: Hemakuṇḍa (Kṛta), Raupya (Tretā), Cakrakuṇḍa (Dvāpara), dan Ratnakuṇḍa (Kali); adanya aliran Gaṅgā bawah tanah menjadikan mandi di sini setara dengan mandi di semua tirtha.

रैवंतकराजभट्टारकमाहात्म्यवर्णनम् | The Māhātmya of Raivanta Rājabhaṭṭāraka
Bab ini memuat tuntunan Īśvara kepada Devī tentang urutan ziarah dan pemujaan di Prabhāsa-kṣetra yang berpusat pada Raivanta Rājabhaṭṭāraka. Ia digambarkan sebagai putra Sūrya, menunggang kuda, dan berdaya besar; bersemayam di dalam kawasan suci dekat Sāvitrī, menghadap ke arah barat daya. Disebutkan bahwa sekadar darśana (melihat dengan hormat) saja membebaskan pemuja dari segala mara bahaya. Waktu ritual yang dianjurkan ialah hari Minggu (ravivāra) yang bertepatan dengan tithi Saptamī. Pemujaan pada saat itu dijanjikan meniadakan kemiskinan, bahkan dalam garis keturunan pemuja. Ajaran ditutup dengan anjuran bersembahyang sepenuh upaya demi tinggal tanpa rintangan di kṣetra serta meraih tujuan duniawi-kerajaan, khususnya pertambahan kuda, seraya menegaskan manfaat rohani dan kemasyarakatan dari bhakti.

अनन्तेश्वरमाहात्म्यवर्णनम् | Ananteśvara Māhātmya (Glorification of Ananteśvara)
Bab ini memaparkan petunjuk arah dari Īśvara di dalam Prabhāsa-kṣetra. Di sebelah selatan sebuah tempat suci yang disebutkan, pada jarak dekat yang dinyatakan dalam ukuran “panjang busur”, terdapat liṅga yang dikenal sebagai “Ananteśvara”. Liṅga ini dikisahkan ditegakkan oleh Ananta dan berhubungan dengan raja para Nāga, sehingga kesucian tempat itu juga memuat nuansa penjagaan dan perlindungan nāga. Diajarkan tata pemujaan yang terfokus: pada pañcamī paruh terang bulan Phālguna, seorang pelaku yang mengekang makan dan indria hendaknya bersembahyang dengan metode pañcopacāra. Phalaśruti menjanjikan perlindungan dari gigitan ular serta racun tidak berkembang selama jangka waktu tertentu. Selanjutnya dijelaskan “Ananta-vrata”, dengan persembahan madu dan bubur manis susu-beras (madhu-pāyasa), serta menjamu seorang brāhmaṇa dengan pāyasa bercampur madu—menegaskan dāna dan penghormatan tamu sebagai bagian tak terpisahkan dari pemujaan di śrī-kṣetra.

Aṣṭakuleśvara-māhātmya (अष्टकुलेश्वरमाहात्म्य) — The Glory of Aṣṭakuleśvara Liṅga
Bab 162 disajikan sebagai wejangan Śiva kepada Devī, yang menempatkan Liṅga Aṣṭakuleśvara dalam tata-suci Prabhāsa: letaknya disebut ke arah selatan dari suatu titik rujukan dan di sebelah timur Lakṣmaṇeśa. Lalu dijelaskan makna teologisnya: tempat ini meredakan segala dosa (sarva-pāpa-praśamana) dan menghancurkan penderitaan berat, termasuk bahaya “mahā-viṣa” yang digambarkan sebagai motif ancaman. Kemuliaan śrī-kṣetra ini diteguhkan karena para siddha dan gandharva pun bersembahyang di sana, dan Aṣṭakuleśvara dinyatakan sebagai pemberi tujuan yang diinginkan (vāñchitārtha-prada). Diberikan pula tuntunan ritual: pada hari Kṛṣṇāṣṭamī hendaknya dilakukan pemujaan menurut tata cara (vidhānataḥ). Phalaśruti menjanjikan lepas dari pelanggaran besar serta memperoleh kehormatan di Nāga-loka, sebagai buah khusus dari vrata dan tempat suci ini.

नासत्येश्वराश्विनेश्वरमाहात्म्यवर्णनम् (The Māhātmya of Nāsatyeśvara and Aśvineśvara)
Adhyaya ini disajikan sebagai ajaran Śiva (“Īśvara uvāca”) yang menuntun pencari menuju sebuah tempat suci di sebelah timur dari titik yang dirujuk. Di sana berdiri liṅga bernama Nāsatyeśvara, dipuji sebagai pemusnah utama kalmaṣa—kenajisan moral-ritual yang melekat pada laku dharma dan karma. Dengan darśana, sentuhan, dan pemujaan, seorang peziarah dijanjikan penyucian serta pertambahan pahala kebajikan. Pada bagian penutup (kolofon) ditegaskan kedudukan bab ini dalam Skanda Purāṇa berjumlah 81.000 śloka: termasuk dalam bagian ketujuh, Prabhāsa Khaṇḍa, subbagian pertama Prabhāsakṣetramāhātmya, dengan tema “māhātmya Nāsatyeśvara dan Aśvineśvara”. Dengan demikian, adhyaya ini berfungsi sebagai penunjuk ziarah yang ringkas: mengaitkan arah perjalanan, nama tempat suci, dan janji pemurnian khas sastra sthala-māhātmya.

अश्विनेश्वरमाहात्म्यवर्णनम् (The Māhātmya of Aśvineśvara)
Īśvara menasihati Devī agar berjalan ke arah timur menuju tempat suci bernama Aśvineśvara, yang disebut berada “dalam batas lima busur.” Tempat ini dipuji sebagai pemadam tumpukan dosa besar dan sebagai pemberi segala keinginan bila dipuja. Ditekankan pula sisi penyembuhan: darśana atas liṅga ini dikatakan menenteramkan segala penyakit, menjadi laksana obat agung bagi mereka yang menderita sakit. Disebutkan bahwa darśana pada tithi Dwitiya di bulan Māgha sulit diperoleh, sehingga hari itu bernilai sangat langka dan utama. Di sana ada sepasang liṅga yang didirikan oleh putra Surya; karena itu, seorang yang berdisiplin dan mengekang diri hendaknya melakukan darśana pada hari Dwitiya tersebut dengan bhakti, menyatukan ketepatan waktu suci dan pengendalian diri dalam ziarahnya.

Savitrī’s Departure to Prabhāsa and the Ritual-Political Crisis of Brahmā’s Yajña (सावित्री-गायत्री-विवादः प्रभासप्रवेशश्च)
Adhyaya ini disusun sebagai dialog Śiva–Devī yang menerangkan mengapa Sāvitrī berhubungan dengan Kṣetra Prabhāsa, serta bagaimana desakan pelaksanaan yajña dapat menimbulkan ketegangan etis dan teologis. Śiva menuturkan bahwa Brahmā menetapkan mahāyajña di Puṣkara, namun untuk dīkṣā dan homa diperlukan kehadiran patnī (pasangan ritual). Karena tertahan kewajiban rumah tangga, Sāvitrī belum hadir; Indra lalu menghadirkan seorang gadis penggembala yang ditetapkan sebagai Gāyatrī, sehingga yajña pun berjalan. Ketika Sāvitrī datang bersama para dewi, ia menegur Brahmā di tengah sidang dan mengucapkan rangkaian śāpa: pemujaan Brahmā dibatasi hanya setahun sekali pada masa Kārtikī; Indra kelak mengalami penghinaan dan belenggu; Viṣṇu dalam penjelmaan fana menanggung derita perpisahan dengan pasangan; Rudra mengalami pertentangan dalam peristiwa Dāruvana; juga Agni serta para ṛtvij/yājaka terkena akibatnya. Semua itu menjadi kritik atas tindakan yang digerakkan nafsu-keinginan dan atas “kemudahan prosedural” yang mengabaikan dharma. Viṣṇu kemudian mempersembahkan stuti kepada Sāvitrī; Sāvitrī menganugerahkan vara penyeimbang, meredakan akibat śāpa, dan mengizinkan yajña diselesaikan. Gāyatrī memberi peneguhan tentang japa, prāṇāyāma, dāna, serta penawar kekurangan ritual, khususnya dalam konteks Prabhāsa dan Puṣkara. Penutupnya menempatkan Sāvitrī di Prabhāsa dekat Someśvara dan menetapkan laku setempat: pemujaan selama dua pekan, mandi suci di Pāṇḍu-kūpa disertai darśana lima liṅga yang ditegakkan para Pāṇḍava, serta pembacaan Brahma-sūkta di dekat tempat Sāvitrī pada purnama Jyeṣṭha. Phala yang dijanjikan ialah pelepasan pāpa dan pencapaian keadaan tertinggi.

सावित्रीव्रतविधि–पूजनप्रकार–उद्यापनादिकथनम् (Sāvitrī-vrata: procedure, worship method, and concluding observances)
Bab ini berbentuk dialog Dewi–Īśvara: mula-mula menuturkan tradisi Sāvitrī di Prabhāsa, lalu mengubahnya menjadi pedoman ritual yang terperinci. Dewi memohon penjelasan tentang Sāvitrī di Prabhāsa beserta itihāsa dan buah (phala) dari nazar itu. Īśvara menceritakan bahwa Raja Aśvapati, ketika berziarah ke Prabhāsa, melaksanakan Sāvitrī-vrata di Sāvitrī-sthala dan memperoleh anugerah Dewi; dari rahmat itu lahirlah putrinya yang dinamai Sāvitrī. Kemudian diringkas kisah Sāvitrī–Satyavān: meski diperingatkan Nārada tentang ajal Satyavān, Sāvitrī tetap memilihnya, mengikuti ke hutan, menghadapi Yama, dan meraih anugerah—kembalinya penglihatan serta kerajaan Dyumatsena, keturunan bagi ayahnya dan bagi dirinya, serta hidupnya kembali sang suami. Paruh kedua bersifat preskriptif: menetapkan laku bulan Jyeṣṭha mulai hari ke-13 dengan puasa/niyama tiga malam, tata cara mandi suci (keutamaan Pāṇḍukūpa dan mandi air bercampur biji sesawi pada purnama), pembuatan serta sedekah arca Sāvitrī (emas/tanah liat/kayu) berbalut kain merah, dan pemujaan bermatra—menyapa Sāvitrī sebagai pemegang vīṇā dan pustaka serta memohon perlindungan dari kedukaan janda (avaidhavya). Disebutkan pula berjaga malam dengan pembacaan dan musik, pemujaan ‘pernikahan’ Sāvitrī dengan Brahmā, urutan jamuan bagi beberapa pasangan/Brāhmaṇa, pantangan rasa asam dan alkali dengan anjuran hidangan manis, pemberian hadiah serta penghormatan pelepasan, dan penyertaan unsur śrāddha rumah tangga secara halus. Penutupnya menegaskan upacara ini sebagai penyuci, penghasil pahala, pelindung kemuliaan rumah tangga perempuan, serta menjanjikan kesejahteraan duniawi luas bagi peziarah yang melaksanakannya atau bahkan hanya mendengar tata caranya.

भूतमातृकामाहात्म्यवर्णनम् (The Māhātmya of Bhūtamātṛkā: Origin, Residence, and Worship Protocols)
Adhyaya 167 menampilkan wacana teologis antara Īśvara dan Devī. Devī melihat perilaku publik yang mengganggu, seperti kerasukan/ekstase, yang dikaitkan dengan pujian kepada “Bhūtamātā”, lalu bertanya apakah itu berlandaskan śāstra, bagaimana penduduk Prabhāsa seharusnya memuja beliau, mengapa beliau datang ke sana, dan kapan perayaan utamanya dilangsungkan. Īśvara menjawab dengan kisah asal-usul: pada suatu masa mitis, dari pancaran tubuh Devī muncul sosok perempuan dahsyat berkalung tengkorak dan bertanda senjata, disertai para pendamping berwatak brahma-rākṣasī serta rombongan besar. Īśvara menetapkan batas tugasnya, memberi dominasi pada malam hari, dan menunjuk Prabhāsa di Saurāṣṭra sebagai tempat tinggal jangka panjang dengan penanda lokasi/astral tertentu. Selanjutnya dipaparkan etika terapan: keadaan rumah tangga yang mengundang bhūta/pīśāca—mengabaikan pemujaan liṅga, japa, homa, kemurnian, kewajiban harian, serta pertengkaran berkepanjangan—dan ciri rumah yang terlindungi karena nama-nama ilahi dan tata-ritual dijaga. Lalu diberikan ketentuan kalender: pemujaan dari pratipadā bulan Vaiśākha hingga caturdaśī, dengan laku utama terkait waktu amāvasyā/caturdaśī; persembahan bunga, dupa, sindūra, benang leher, penyiraman/abhiseka di bawah pohon (motif siddha-vata), jamuan dan sedekah, serta pertunjukan jalanan preraṇī–prekṣaṇī yang lucu namun mendidik. Phalaśruti menjanjikan perlindungan anak, kesejahteraan rumah, bebas dari gangguan makhluk halus, dan keberuntungan bagi yang memuliakan Bhūtamātā dengan bhakti yang tertib.

Śālakaṭaṅkaṭā Devī Māhātmya (शालकटंकटा देवी माहात्म्यम्) — Glory of the Goddess Śālakaṭaṅkaṭā
Bab 168, sebagai sabda Īśvara, memaparkan māhātmya (kemuliaan) Dewi Śālakaṭaṅkaṭā yang bersemayam di wilayah suci Prābhāsa. Letaknya disebut di selatan Sāvitrī dan di timur Raivatā, sehingga pemujaannya terikat pada peta ziarah yang telah dikenal. Sang Dewi dipuji sebagai penghapus dosa besar dan pemusnah segala derita, dihormati para gandharva, serta digambarkan berwajah dahsyat dengan taring yang menyala; penetapannya dikaitkan dengan Poulastya, dan ia dipandang sebagai penakluk musuh-musuh tangguh, termasuk sebagai ‘mahiṣaghnī’ (pembunuh raksasa berwujud kerbau). Ditetapkan pula ketentuan waktu: pemujaan pada hari ke-14 paruh bulan (caturdaśī) di bulan Māgha mendatangkan kemakmuran, kecerdasan, dan kelangsungan garis keluarga. Selain itu, ritus berorientasi dāna dijelaskan: dengan menyenangkan Dewi melalui ‘paśu-pradāna’ serta persembahan (bali, pūjā, upahāra), seorang bhakta memperoleh kebebasan dari gangguan musuh—itulah inti phalaśruti bab ini.

Vaivasvateśvara-māhātmya (Glorification of Vaivasvateśvara)
Adhyaya ini disajikan sebagai dialog Īśvara–Devī yang menguraikan tata perjalanan ritual di dalam Prabhāsa-kṣetra. Īśvara memerintahkan Devī menuju liṅga bernama Vaivasvateśvara, yang berada di sektor selatan pada wilayah arah Devī, pada jarak terukur (disebut dalam satuan dhanu). Liṅga itu dikatakan dipratiṣṭhā-kan oleh Vaivasvata Manu dan dipuji sebagai sarva-kāma-da, pemberi segala tujuan yang diinginkan. Di dekat tempat suci itu terdapat devakhāta, sebuah sumber air yang dianggap digali secara ilahi, menjadi lokasi mandi penyucian. Setelah mandi, dipaparkan urutan pemujaan yang tertib: melakukan pūjā dengan lima persembahan (pañcopacāra) sesuai vidhi, dengan bhakti dan pengendalian indria (jita-indriya). Kemudian dianjurkan pembacaan stotra menurut aghora-vidhi, yang berujung pada janji perolehan siddhi. Penutupnya menegaskan kedudukan bab ini dalam Prabhāsa Khaṇḍa dan Prabhāsakṣetramāhātmya.

Mātṛgaṇa–Balādevī Māhātmya (Glorification of the Mother-Hosts and Balādevī)
Bab ini disajikan sebagai ajaran Īśvara kepada Mahādevī: seorang sādhaka yang bijaksana hendaknya menuju tempat para mātṛgaṇa dan memuja Balādevī yang berada di dekatnya dengan penuh bhakti. Dengan demikian, bab ini menegaskan keterkaitan tempat suci di Prabhāsa-kṣetra dengan tata cara pemujaan yang ringkas. Pemujaan Balādevī dianjurkan khusus pada bulan Śrāvaṇa, terutama pada hari observansi Śrāvaṇī. Persembahan seperti pāyasa (bubur susu-manis), madu, dan bunga-bunga suci dipersembahkan seraya memohon anugerah Devī. Dalam phalaśruti dinyatakan: bila pemujaan berhasil, tahun sang bhakta berlalu dalam kenyamanan, kesejahteraan, dan kebahagiaan.

दशरथेश्वरमाहात्म्यवर्णनम् (Daśaratheśvara Māhātmya—Account of the Glory of Daśaratheśvara)
Īśvara berbicara kepada Devī, menunjuk sebuah tempat suci Dewi yang dekat bernama Ekallavīrikā, lalu menuturkan kisah asal-usul di Prabhāsa-kṣetra. Raja Daśaratha dari wangsa Surya datang ke Prabhāsa dan menjalankan tapa yang berat. Ia menegakkan sebuah liṅga dan memuja Śaṅkara dengan tata cara yang benar, kemudian memohon seorang putra yang sangat perkasa. Dewa menganugerahkan putra bernama Rāma, termasyhur di tiga dunia; para makhluk surgawi, para dewa, daitya/asura, serta para resi (termasuk Vālmīki) melantunkan kemuliaannya. Di akhir bab diberikan tuntunan ritual dan phalaśruti: oleh daya liṅga itu Daśaratha meraih kemasyhuran besar; demikian pula siapa pun yang memujanya pada bulan Kārttika—terutama pada laku Kārttikā—dengan pemujaan lampu dan persembahan sesuai aturan, akan memperoleh nama baik dan kemasyhuran.

भरतेश्वरमाहात्म्यवर्णनम् (The Glory of Bharateśvara Liṅga)
Īśvara menasihati Devī agar pergi ke liṅga bernama Bharateśvara yang terletak sedikit ke arah utara. Lalu dijelaskan asal-usulnya: Raja Bharata, putra Agnīdhra yang termasyhur, bertapa dengan sangat berat di kṣetra ini dan menegakkan (pratiṣṭhā) Mahādeva demi memperoleh keturunan. Śaṅkara berkenan dan menganugerahkan delapan putra serta seorang putri yang mulia. Bharata membagi kerajaannya menjadi sembilan bagian dan menyerahkannya kepada anak-anaknya; sesuai itu nama-nama dvīpa pun dikenal—Indradvīpa, Kaśeru, Tāmravarṇa, Gabhastimān, Nāgadvīpa, Saumya, Gāndharva, Cāruṇa; bagian kesembilan, milik putrinya, disebut Kumāryā. Dikatakan delapan dvīpa kemudian ditenggelamkan lautan, sedangkan dvīpa bernama Kumāryā tetap ada; juga disebut ukuran bentang selatan–utara dan lebarnya dalam yojana. Kemuliaan ritual Bharata ditegaskan melalui banyaknya Aśvamedha dan ketenarannya di wilayah Gaṅgā–Yamunā; berkat anugerah Īśvara ia bersukacita di surga. Phalaśruti menyatakan: pemujaan liṅga yang ditegakkan Bharata memberi buah semua yajña dan dāna; dan darśana pada bulan Kārttika saat Kṛttikā-yoga mencegah bahkan mimpi melihat neraka yang mengerikan.

कुशकादिलिङ्गचतुष्टयमाहात्म्यवर्णनम् | The Māhātmya of the Four Liṅgas beginning with Kuśakeśvara
Dalam wacana teologi Śaiva, Īśvara menasihati Devī tentang rute ziarah singkat menuju empat liṅga yang berada dalam satu kawasan di Prabhāsa. Letaknya di sebelah barat Sāvitrī, dengan penanda arah: sepasang liṅga di sisi timur dan sepasang di sisi barat, masing-masing menghadap sesuai ketentuannya. Nama-namanya berurutan: Kuśakeśvara (pertama), Gargeśvara (kedua), Puṣkareśvara (ketiga), dan Maitreyēśvara (keempat). Dinyatakan buah pahala: seorang bhakta yang memandang liṅga-liṅga ini dengan bhakti dan pengendalian diri terbebas dari dosa dan mencapai kediaman luhur Śiva. Lalu ditambahkan penyempurnaan ritual-etis: pada hari ke-14 paruh terang (caturdaśī), terutama di bulan Vaiśākha, hendaknya ia mandi dengan sungguh-sungguh, memberi jamuan kepada para brāhmaṇa, serta berdana sesuai kemampuan—emas dan pakaian. Dengan terpenuhinya kewajiban ini, yātrā dinyatakan ‘tuntas’, memadukan darśana dengan tata waktu suci dan dharma sosial.

कुन्तीश्वरमाहात्म्यवर्णनम् | Kuntīśvara Liṅga: The Glory of the Shrine
Īśvara menasihati Devī tentang sebuah liṅga agung bernama Kuntīśvara di kṣetra Prabhāsa, berada di sektor timur dan ditempatkan dalam ‘khāta’ (cekungan/ruang yang digali). Kewibawaan śrī-sthāna ini diteguhkan oleh ingatan pendirian: Kuntī disebut telah mempratiṣṭhākan liṅga itu, dan dikenang pula bahwa para Pāṇḍava pernah datang lebih dahulu ke Prabhāsa dalam rangka ziarah bersama Kuntī. Dalam phalaśruti, liṅga ini dipuji sebagai penghapus rasa takut akan segala dosa, dengan penekanan khusus pada pemujaan di bulan Kārttika. Seorang bhakta yang melakukan pūjā pada masa itu dikatakan memperoleh tujuan yang diinginkan dan dimuliakan di alam Rudra. Bahkan, hanya dengan darśana saja, dosa yang lahir dari ucapan, pikiran, dan perbuatan dihancurkan; demikianlah darśana dan pūjā dipaparkan sebagai dua jalan penyucian yang saling melengkapi dalam etika peziarahan.

अर्कस्थलमाहात्म्यवर्णनम् (Glorification of Arkasthala / the Sun-site)
Dalam adhyāya ini, Īśvara mengajarkan kepada Mahādevī kemuliaan tempat suci bernama Arkasthala, yang berada di arah Āgneya (tenggara) dari titik rujukan sebelumnya. Tempat ini dipuji sebagai sarva-pātaka-nāśana, pemusnah segala dosa. Hanya dengan darśana (melihat/berziarah) ke sana, duka lenyap dan kemiskinan tidak muncul hingga tujuh kelahiran; penyakit seperti kuṣṭha (penyakit kulit) pun dikatakan hancur dengan kuat. Pahala darśana disamakan dengan buah sedekah besar, seperti mendermakan seratus sapi di Kurukṣetra. Ditetapkan pula tata laku ringkas: mandi suci di tīrtha Tri-saṅgama selama tujuh hari Minggu, memberi jamuan kepada para brāhmaṇa, serta mendermakan seekor kerbau betina (mahiṣī). Penutupnya menjanjikan kediaman dan kehormatan di surga selama seribu tahun ilahi, menyatukan ziarah, laku suci, dan dana-kebajikan dalam satu pedoman tirthayātrā.

सिद्धेश्वरमाहात्म्यवर्णनम् (Siddheśvara Māhātmya—Description of the Glory of Siddheśvara)
Dalam adhyāya ini, Īśvara berbicara kepada Mahādevī dan menunjukkan sebuah liṅga bernama Siddheśvara, terletak tidak jauh dari Arkasthala di arah Āgneya (tenggara). Asal penamaannya dijelaskan: delapan belas ribu ṛṣi yang ūrdhva-retas (menjaga kemurnian brahmacarya) dikisahkan meraih siddhi terkait liṅga ini; karena itu ia dikenal sebagai Siddheśvara. Pada bagian akhir diberikan tuntunan laku bhakti: hendaknya penyembah mandi suci, memuja dengan bhakti, menjalankan upavāsa (puasa), mengekang indria, melaksanakan pūjā sesuai aturan, serta mempersembahkan dakṣiṇā kepada para brāhmaṇa. Phalaśruti menyatakan terpenuhinya segala tujuan (sarva-kāma-samṛddhi) dan tercapainya keadaan tertinggi (parama pada).

Lakulīśa-māhātmya (लकुलीशमाहात्म्य) — Glory of Lakulīśa in the Eastern Quarter of Prabhāsa
Adhyaya ini memuat pemberitahuan teologis Śaiva yang singkat, ketika Īśvara menyampaikan kepada Devī. Beliau menunjukkan bahwa Lakulīśa, yang digambarkan berwujud (mūrtimān), berada di arah timur kṣetra Prabhāsa, telah ditegakkan di tempat yang tinggi setelah tapa yang sangat berat pada masa lampau; tempat itu dinyatakan berorientasi pada penenteraman dosa (pāpa-śamana) dan penyucian. Kemudian disebutkan syarat waktu: pemujaan pada masa Kārttikī, khususnya saat terjadi kṛttikā-yoga, menghasilkan pengakuan yang istimewa. Pemuja menjadi layak dihormati di antara semua golongan makhluk, termasuk para deva dan asura. Penutupnya memuat kolofon yang menandai kedudukan teks dalam Skanda Purāṇa, Prabhāsa Khaṇḍa, bagian Prabhāsakṣetramāhātmya.

Bhārgaveśvara Māhātmya (Glorification of Bhārgaveśvara)
Dalam adhyāya ini, Īśvara bertutur kepada Devī dan menuntun tata gerak peziarah di Prabhāsa-kṣetra. Sang bhakta diperintahkan menuju tempat di sisi selatan, ke śrī-kuil bernama Bhārgaveśvara, yang dimuliakan sebagai tirtha suci pemusnah segala dosa (sarva-pāpa-praṇāśana). Di sana ditegaskan cara pemujaan utama: menghormati Dewa dengan bunga-bunga ilahi serta persembahan (divya-puṣpa-upahāra). Buahnya, penyembah menjadi kṛta-kṛtya—tujuan dharmanya terpenuhi—dan dianugerahi kemakmuran serta terpenuhinya segala harapan; demikianlah petunjuk tempat, ritual, dan phala dirangkum singkat.

माण्डव्येश्वरमाहात्म्यवर्णनम् | Māṇḍavyeśvara Māhātmya (Glorification of Māṇḍavyeśvara)
Adhyāya ini disajikan sebagai ajaran teologis singkat dari Īśvara kepada Mahādevī. Diterangkan letak liṅga Māṇḍavyeśvara—penghancur dosa dan pelanggaran besar (mahāpātaka)—yakni di sudut tenggara (āgneya) dari Siddheśa, berjarak “tiga busur” (dhanuṣ-tritaya), sebagai penanda arah bagi para peziarah. Kemudian ditetapkan laku bakti yang terikat waktu: pada bulan Māgha, hari ke-14 paruh bulan (caturdaśī), hendaknya pemuja melakukan pūjā dan berjaga semalam (jāgaraṇa). Buahnya dinyatakan sebagai pahala pembebasan: siapa yang menjalankannya dengan bhakti yang tertib tidak kembali lagi ke keberadaan fana; penutup juga menandai kedudukannya dalam Prabhāsa Khaṇḍa, bagian Prabhāsakṣetramāhātmya.

Puṣpadanteśvara Māhātmya (पुष्पदन्तेश्वर-माहात्म्यम्) — The Glory of Puṣpadanteśvara
Dalam adhyaya ini, ‘Īśvara bersabda’ menuntun peziarah untuk ber-darśana ke tempat suci yang mujur bernama Puṣpadanteśvara di Kṣetra Prabhāsa. Puṣpadanteśvara dikenali sebagai Gaṇeśa yang terkait dengan kedekatan Śaṅkara, sehingga kewibawaan tirtha ini diteguhkan oleh naungan Śaiva. Dikisahkan bahwa di sana dilakukan tapa yang sangat berat, dan pada puncaknya ditegakkan (pratiṣṭhā) sebuah liṅga di tempat itu. Buah rohaninya dinyatakan tegas: sekadar memandang darśana atas pratishṭhā suci ini membebaskan makhluk dari belenggu kelahiran-ulang dan ikatan saṃsāra. Selain itu, disebut pula tercapainya tujuan yang diinginkan di dunia ini serta manfaat kebajikan di alam sesudahnya.

Kṣetrapāleśvara-māhātmya (The Glory of Kṣetrapāleśvara)
Īśvara menasihati Mahādevī tentang sebuah tempat suci unggul bernama Kṣetrapāleśvara. Dikatakan letaknya dekat Siddheśvara, sedikit ke arah timur, dan peziarah dianjurkan menuju ke sana. Pada tithi Śukla-pañcamī hendaknya melakukan darśana, lalu memuja secara tertib dengan wewangian dan bunga. Puncak ajaran ritual-etiknya adalah kemurahan sosial: sesuai kemampuan, memberi jamuan makanan beraneka kepada para brāhmaṇa, sehingga pūjā pribadi berpadu dengan dharma dāna/annadāna. Penutupnya menandai bab ini sebagai adhyāya ke-181 dari Prabhāsakṣetramāhātmya dalam Prabhāsa Khaṇḍa ketujuh Skanda Mahāpurāṇa, bagian dari uraian geografi-sakral yang tersusun rapi.

वसुनन्दा-मातृगण-श्रीमुख-विवर-माहात्म्य (Vasunandā Mothers and the Śrīmukha Cleft: Sacred Significance)
Adhyaya 182 memberikan petunjuk tirtha yang sangat setempat di dalam Prabhāsa-kṣetra. Diajarkan bahwa di sisi selatan, dekat Arka-sthala, terdapat kelompok Para Ibu (mātṛgaṇa) yang dipimpin oleh nama “Vasunandā”; peziarah hendaknya memandang dan bersembah kepada mereka. Pada hari navamī (tanggal sembilan) paruh terang (śukla-pakṣa) bulan Āśvayuja, seorang bhakta yang berdisiplin wajib memuja Para Ibu itu sesuai tata cara (vidhi) dengan batin tenang dan terarah. Buahnya adalah samṛddhi (kemakmuran), yang dikatakan sukar diraih oleh mereka yang tidak terkendali. Setelah itu disebut pula sebuah celah suci (vivara) yang terkait dengan “Śrīmukha”; para pencari siddhi dianjurkan memujanya pada hari yang sama. Inilah māhātmya tentang Vasunandā-mātṛgaṇa dan Śrīmukha-vivara dalam Prabhāsakṣetra-māhātmya, Prabhāsa Khaṇḍa.

त्रिसंगममाहात्म्यवर्णनम् | The Glory of Trisaṅgama (Threefold Confluence)
Bab 183 memuat ajaran Īśvara kepada Devī tentang tīrtha utama bernama Miśra-tīrtha, termasyhur sebagai Trisaṅgama—pertemuan Sarasvatī, Hiraṇyā, dan samudra. Tempat ini dinyatakan amat langka bahkan bagi para dewa, paling utama di antara semua tīrtha; terutama pada perayaan surya (sūrya-parvan), mandi suci, derma, dan japa di sana memberi hasil “berlipat crore”, melampaui kemanjuran ritual Kurukṣetra. Dijelaskan pula teologi kedekatan dengan liṅga Maṅkīśvara: hingga batas itu terdapat jumlah tīrtha yang sangat banyak. Bahkan makhluk yang dipandang rendah secara sosial pun, karena daya suci tempat ini, dapat meraih buah surgawi—menunjukkan kekuatan transformatif Trisaṅgama. Etika ziarah dipaparkan: demi memperoleh buah yātrā yang benar, hendaknya mendermakan pakaian yang telah dipakai, emas, dan seekor sapi kepada brāhmaṇa, serta melakukan persembahan bagi leluhur pada hari ke-14 paruh gelap (caturdaśī). Penutupnya menegaskan Trisaṅgama sebagai pemusnah dosa besar, sangat mujarab pada bulan Vaiśākha, dan menganjurkan pelepasan/derma seekor banteng (vṛṣotsarga) untuk penghapusan dosa serta menyenangkan para leluhur.

मंकीश्वरमाहात्म्यवर्णनम् | Mankīśvara Māhātmya (Account of the Glory of Mankīśvara)
Īśvara bersabda kepada Devī agar memperhatikan sebuah tīrtha agung bernama Mankīśvara di dekat Trisaṅgama, yang termasyhur sebagai penghapus dosa. Di sana resi Mankī, yang utama di antara para pertapa, mengetahui Prabhāsa sebagai mahākṣetra kesayangan Śaṅkara, lalu menjalani tapa yang sangat berat dalam waktu lama dengan menyantap akar, umbi, dan buah-buahan. Setelah masa tapa yang panjang, ia menegakkan Mahādeva dalam wujud liṅga dan memujanya. Śiva yang berkenan menawarkan anugerah; sang resi memohon agar Śiva bersemayam di tempat itu sebagai liṅga yang dikenal dengan namanya untuk rentang zaman yang luas. Śiva menyetujuinya dan bersemayam secara tersembunyi; sejak itu liṅga tersebut disebut Mankīśvara. Dinyatakan pula waktu dan tata cara ringkas: pemujaan pada tithi ke-13 atau ke-14 bulan Māgha dengan lima upacāra memberi hasil yang diinginkan. Para peziarah yang menghendaki buah yātrā sepenuhnya dianjurkan melakukan go-dāna di sana.

Devamātā Sarasvatī in Gaurī-Form at the Nairṛta Quarter (Worship, Feeding, and Golden Sandal Dāna)
Adhyāya ini memuat tuntunan Īśvara kepada Mahādevī tentang perwujudan setempat Devamātā Sarasvatī di kṣetra Prabhāsa. Sang Dewi dikenal sebagai “Devamātā” (Ibu para dewa) dan dipuji di dunia dengan nama Sarasvatī; beliau berada di arah nairṛta (barat daya), menampakkan diri dalam wujud Gaurī, serta digambarkan duduk dalam sikap pādukāsana. Ada pula isyarat citra “vaḍavā/vaḍavānala”; dijelaskan bahwa para dewa dilindungi laksana oleh seorang ibu dari ketakutan akan vaḍavānala, maka sebutan Devamātā diteguhkan oleh para bijak. Ditetapkan pula ketentuan waktu: pada tithi tṛtīyā di bulan Māgha, pria yang berdisiplin atau wanita yang terkendali dan berbudi, bila memuja beliau, akan memperoleh tujuan yang diinginkan. Selanjutnya dijelaskan kebajikan jamuan: memberi makan sepasang suami-istri dengan pāyasa (bubur susu manis) beserta gula dan hidangan manis lainnya menghasilkan buah setara dengan upacara besar “pemberian makan bagi Gaurī”. Penutupnya adalah anjuran dāna: mempersembahkan sandal emas (suvarṇa-pādukā) kepada brāhmaṇa yang berperilaku baik di tempat suci itu.

Nāgasthāna-māhātmya (Glory of the Nāga Station at Tri-saṅgama)
Īśvara menasihati Devī agar pergi ke Nāga-sthāna yang utama di sebelah barat Maṅkīśa, terkait dengan tri-saṅgama (pertemuan tiga aliran), yang dipuji sebagai tīrtha sangat ampuh dan penghancur dosa. Di dalamnya tersisip legenda Balabhadra: setelah mendengar wafatnya Kṛṣṇa, ia datang ke Prabhāsa, menyadari kemuliaan kṣetra itu serta musnahnya kaum Yādava, lalu menempuh jalan pelepasan (vairāgya). Ia meninggalkan tubuh dalam wujud Śeṣa-nāga, mencapai tīrtha tri-saṅgama yang tertinggi, melihat sebuah bukaan besar menuju pātāla bagaikan “pintu”, dan segera masuk ke alam tempat Ananta bersemayam. Karena ia masuk di sana dalam rupa nāga, tempat itu dikenal sebagai Nāgasthāna; dan lokasi ia melepaskan tubuhnya termasyhur sebagai Śeṣasthāna, di sebelah timur Nāgarāditya. Ajaran praktiknya: mandi suci di tri-saṅgama, memuja Nāgasthāna, berpuasa pada hari kelima bulan (pañcamī) dengan pengendalian makan, melakukan śrāddha, serta memberi dakṣiṇā kepada brāhmaṇa sesuai kemampuan. Buahnya dijanjikan: bebas dari kesusahan dan mencapai Rudra-loka; bahkan memberi makan brāhmaṇa dengan nasi manis susu bercampur madu dan hidangan lain yang dipersembahkan kepada Śeṣa-nāga disebut menghasilkan pahala setara memberi makan “berkrores-krores”, meneguhkan dāna sebagai laku utama.

प्रभासपञ्चकमाहात्म्यवर्णनम् | The Māhātmya of the Five Prabhāsas
Adhyaya 187 berbentuk dialog teologis Śiva–Devī. Īśvara menjabarkan rangkaian ziarah ‘Prabhāsa-pañcaka’—lima tirtha yang saling terkait: Prabhāsa sebagai yang utama, Vṛddha-Prabhāsa, Jala-Prabhāsa, serta Kṛta-smara-Prabhāsa (terkait suasana kremasi/Bhairava), dan dua situs lainnya dalam lingkaran itu. Ziarah dengan śraddhā diyakini mengantar peziarah pada keadaan tanpa kembali, melampaui usia tua dan kematian. Dipaparkan pula tata laku: mandi suci di laut Prabhāsa, terutama pada amāvāsyā serta hari-hari sekitar caturdaśī/pañcadaśī, berjaga semalam, memberi makan brāhmaṇa sesuai kemampuan, dan berdāna—terutama sapi dan emas—sebagai pedoman pahala yang berlandaskan dharma. Devī bertanya mengapa ada lima Prabhāsa padahal yang dikenal umum hanya satu. Maka disampaikan kisah asal-usul: Śiva, mengembara dalam wujud ilahi, memasuki hutan Dāruka; para resi murka karena dianggap mengacaukan tatanan rumah tangga, lalu mengutuk hingga liṅga Śiva jatuh. Kejatuhan itu menimbulkan guncangan kosmis: gempa, lautan meluap, gunung retak. Para dewa meminta petunjuk kepada Brahmā, lalu Viṣṇu, dan akhirnya mendatangi Śiva; Śiva memerintahkan agar kutuk tidak dilawan, melainkan liṅga yang jatuh itu dipuja. Para dewa membawa dan menegakkan liṅga di Prabhāsa, memujanya, serta menyatakan daya penyelamatnya. Di akhir disebutkan manusia makin sedikit mencapai surga karena penutupan/halangan Indra, lalu ditegaskan kebangkitan (mahodaya) Prabhāsa sebagai pemadam segala dosa dan pemenuh segala harapan.

Rudreśvaramāhātmya (Glorification of Rudreśvara)
Adhyaya ini memaparkan petunjuk singkat perjalanan suci di dalam Prabhāsa-kṣetra. Īśvara berbicara kepada Devī, memerintahkannya menuju suatu tempat tertentu: pada jarak tiga panjang-busur dari Ādi-Prabhāsa, di bumi berdiri liṅga svayaṃbhū bernama Rudreśvara; di sanalah hendaknya dilakukan darśana dan pūjā. Dijelaskan pula asal-mula kesakralannya: Rudra memasuki keadaan dhyāna dan menempatkan/menanamkan tejas-Nya sendiri di sana, sehingga daya sucinya bersumber dari kehadiran ilahi, bukan dari bangunan manusia. Pada penutup, disebutkan phalaśruti: darśana dan pemujaan kepada Rudreśvara melenyapkan segala dosa dan menganugerahkan tercapainya tujuan serta keinginan yang diharapkan.

कर्ममोटीमाहात्म्यवर्णनम् — Karmamoṭī Māhātmya (Glorification of Karmamoṭī)
Bab 189 menyajikan uraian teologis singkat yang terikat pada lokasi tertentu di Prabhāsa-kṣetra. Īśvara menunjuk suatu kompleks śrī-kṣetra di arah barat, “tidak jauh,” tempat Caṇḍikā dan Karmamoṭī hadir bersama, dikelilingi himpunan besar para yoginī yang “berjumlah koti.” Tempat ini juga ditegaskan sebagai pīṭha-traya—purba dan dihormati di tiga dunia—sehingga kewibawaannya melampaui batas lokal meski letaknya sangat spesifik. Bab ini menetapkan laku kalender: pada tithi Navamī hendaknya dilakukan pemujaan lengkap kepada Devī-pīṭha beserta kehadiran para yoginī. Buahnya dinyatakan jelas: pelaku meraih segala tujuan yang diinginkan dan disebut menjadi kesayangan para wanita surgawi di svarga—ungkapan bagi bertambahnya pahala surgawi dan keberhasilan yang mujur melalui waktu dan tempat ritual yang tepat.

मोक्षस्वामिमाहात्म्यवर्णनम् | The Māhātmya of Mokṣasvāmin (Liberation-Granting Hari)
Īśvara menasihati Devī tentang wujud Hari yang menganugerahkan mokṣa, bernama Mokṣasvāmin, yang berada di wilayah Prabhāsa pada arah nairṛta (barat daya), tidak jauh dari kawasan suci utama. Pada hari Ekādaśī, seorang bhakta yang menjalani jitāhāra (pola makan terkendali) hendaknya bersembahyang dan memuja sesuai tata cara, terutama pada bulan Māgha yang disebut sangat utama. Buah ibadah ini dinyatakan setara dengan pahala yajña Agniṣṭoma. Di tempat yang sama, tapa seperti anaśana (puasa total) serta kaul Cāndrāyaṇa dan sejenisnya disebut memberi hasil berlipat—bahkan koṭi-guṇa dibanding tīrtha lain—serta menganugerahkan tercapainya tujuan yang diinginkan. Penutupnya menegaskan kedudukan bab ini dalam Skanda Purāṇa, Prabhāsa Khaṇḍa, pada bagian Prabhāsakṣetramāhātmya.

अजीगर्तेश्वरमाहात्म्यवर्णनम् | Ajeegarteśvara Māhātmya (Glorification of Ajeegarteśvara)
Dalam adhyāya ini, disampaikan petunjuk singkat dalam rangkaian ziarah tirtha pada Prabhāsa Khaṇḍa. Īśvara menasihati Devī agar melanjutkan perjalanan menuju Ajeegarteśvara, wujud Hara (Śiva) yang berada dekat Candravāpī, sumber air suci, serta di sekitar penanda tempat suci lainnya. Ritualnya ringkas: mendekati śrī-kuil, mandi suci (snāna) di perairan terkait, lalu memuja liṅga Śiva. Dinyatakan dalam phalaśruti bahwa pemujaan liṅga setelah snāna membebaskan dari dosa-dosa berat dan mengantarkan peziarah mencapai śivapada, kedudukan luhur dalam Śiva.

Viśvakarmeśvara-māhātmya (विश्वकर्मेश्वरमाहात्म्य) — The Glory of Viśvakarmeśvara
Dalam adhyaya ini, Īśvara menyampaikan wejangan teologis kepada Devī dan mengarahkan beliau (serta para peziarah pembaca) untuk menziarahi sebuah liṅga khusus yang ditahbiskan oleh Viśvakarman. Kuilnya berada di sebelah utara Mokṣasvāmin, disebut berdaya agung (mahāprabhāva), dan lokasinya ditegaskan dengan penanda jarak: berada dalam ukuran “lima dhanuṣ”, sehingga urutan perjalanan ziarah menjadi jelas. Teks kemudian menegaskan pahala yang berpusat pada darśana: siapa pun yang dengan benar memandang liṅga itu memperoleh buah ziarah; dan kesalahan atau dosa yang bersifat lisan (vācika) maupun batin (mānasa) lenyap oleh pandangan tersebut. Pada penutup (kolofon), bab ini diidentifikasi sebagai bagian dari Skanda Mahāpurāṇa berjumlah 81.000 śloka, dalam Prabhāsa Khaṇḍa, pada Prabhāsakṣetramāhātmya pertama, dengan nama “Viśvakarmeśvara-māhātmya”.

Yameśvara-māhātmya-varṇanam (Glorification of Yameśvara)
Adhyaya ini disajikan sebagai wejangan teologis langsung dari Īśvara kepada Mahādevī. Di dalam Prabhāsa-kṣetra, peziarah diarahkan untuk melangkah menuju Yameśvara yang dipuji sebagai “anuttama” (tiada banding). Letak śrī-kṣetra itu juga ditunjukkan dengan jelas—di sektor nairṛta (barat daya), tidak jauh—sehingga menjadi penunjuk arah sekaligus pedoman laku ziarah. Buahnya dinyatakan ringkas dan tegas: darśana semata kepada Yameśvara menenteramkan serta melenyapkan pāpa (pāpa-śamana), dan beliau disebut pemberi hasil segala tujuan yang diinginkan (sarva-kāma-phala-prada). Pada penutup disebutkan bahwa ini bagian Skanda Mahāpurāṇa, Prabhāsa Khaṇḍa, Prabhāsa-kṣetra-māhātmya, dengan judul pemuliaan Yameśvara.

अमरेश्वरमाहात्म्यवर्णनम् (Amareśvara Māhātmya—Description of the Glory of Amareśvara)
Adhyaya ini memuat ajaran Īśvara kepada Mahādevī tentang sebuah liṅga yang disebut “dipratishtha oleh para dewa” (devaiḥ pratiṣṭhitam). Mengetahui “prabhāva” (daya suci) tempat itu dinyatakan membawa pemusnahan segala dosa, sehingga kemuliaan Amareśvara dipaparkan dalam bingkai moral dan tata-ritus. Ditetapkan pula laku tapa yang keras (ugra tapas) terkait liṅga tersebut; peziarah yang memperoleh darśana-nya disebut menjadi kṛtakṛtya, yakni tuntas dalam kewajiban rohani. Selanjutnya dianjurkan go-dāna (sedekah sapi) kepada brāhmaṇa yang vedapāraga (mendalam dalam Weda), karena pemberian yang tepat sasaran menguatkan dan melipatgandakan buah ziarah (yātrā-phala).

वृद्धप्रभासमाहात्म्यवर्णनम् | The Māhātmya of Vṛddha Prabhāsa (Origin and Merit)
Bab ini berbentuk dialog penjelasan Śaiva. Īśvara mengajarkan agar peziarah yang berdisiplin pergi ke Vṛddha Prabhāsa, yang terletak di selatan Ādi Prabhāsa. Di sana dipuji sebuah liṅga termasyhur bernama “Caturmukha” (berwajah empat) yang menghancurkan dosa hanya dengan dipandang. Śrī Devī menanyakan asal nama tempat itu serta buah dari melihat, memuji, dan memuja tirtha tersebut. Īśvara lalu menuturkan kisah pada manvantara purba dalam suasana Tretā-yuga. Para ṛṣi yang datang dari arah utara hendak berdarśana di Prabhāsa, namun liṅga Śiva tersembunyi karena kaitannya dengan vajra Indra. Menolak pulang tanpa darśana, mereka menjalani tapa panjang melintasi musim—brahmacarya, disiplin keras, menahan panas dan dingin—hingga usia tua menimpa mereka. Melihat keteguhan mereka yang hanya menginginkan darśana, Śaṅkara berbelas kasih menyingkap liṅga-Nya dengan membelah bumi; para ṛṣi pun memperoleh darśana dan naik ke alam surga. Indra mencoba menyembunyikannya lagi, tetapi tempat itu dikenal sebagai Vṛddha Prabhāsa karena darśana diperoleh dalam keadaan lanjut usia. Pada penutup (phalaśruti) disebutkan bahwa darśana dengan bhakti di tempat itu memberi pahala setara yajña Rājasūya dan Aśvamedha; dan bagi yang menghendaki buah ziarah sepenuhnya dianjurkan memberi sedekah seekor ukṣā (lembu jantan) kepada seorang brāhmaṇa.

जलप्रभासमाहात्म्यवर्णनम् | Jala-Prabhāsa: The Māhātmya of the Water-Prabhāsa Tīrtha
Īśvara menuntun Devī menuju sebuah Prabhāsa-tīrtha yang berlandaskan air, terletak di selatan Vṛddha-Prabhāsa, seraya menjelaskan māhātmya-nya yang ‘uttama’ (paling luhur). Kisah berpusat pada Jāmadagnya Rāma (Paraśurāma) yang, setelah pembantaian besar para kṣatriya, diliputi kegelisahan batin dan rasa jijik/penyesalan, lalu bertahun-tahun melakukan tapa dan pemujaan yang keras kepada Mahādeva. Śiva pun berkenan menampakkan diri dan menawarkan anugerah. Rāma memohon darśana atas liṅga Śiva sendiri, yang dikisahkan selalu ditutupi berulang kali oleh vajra Indra karena ketakutan. Śiva tidak memberikan liṅga-darśana dalam wujud itu, namun menunjukkan jalan penebusan: melalui sentuhan (sparśana) pada tīrtha dan dengan mendekati liṅga yang akan muncul dari dalam air suci, duka dan dosa Rāma akan lenyap. Lalu sebuah mahā-liṅga bangkit dari air, dan tempat itu dikenal sebagai Jala-Prabhāsa. Di akhir, ditegaskan buah kebajikan: sekadar menyentuh tīrtha membawa ke Śiva-loka, dan memberi makan satu brāhmaṇa yang berperilaku baik di sana disamakan dengan memberi makan Śiva bersama Umā. Riwayat ini dipuji sebagai pereda dosa (pāpa-upaśamanī) dan pemberi hasil segala keinginan (sarvakāma-phalapradā).

जमदग्नीश्वरमाहात्म्यवर्णनम् | Jamadagniśvara: Account of the Sacred Merit
Dalam adhyāya ini, Īśvara menasihati Devī tentang perjalanan ziarah menuju Śiva Jamadagniśvara yang berada dekat Vṛddha-Prabhāsa. Tempat suci ini dikatakan didirikan oleh resi Jamadagni, berdaya menyirnakan segala dosa; bahkan sekadar darśana (melihat dengan bhakti) kepada dewa tersebut disebut membebaskan dari ‘tiga hutang’ (ṛṇa-traya) menurut ajaran Purāṇa. Selanjutnya diperkenalkan situs air suci bernama Nidhāna-vāpī. Mandi suci (snāna) dan pemujaan (pūjā) di sana dinyatakan memberi kemakmuran (dhana) serta tercapainya tujuan yang diinginkan. Nama dan kemasyhurannya dihubungkan dengan kisah lama ketika para Pāṇḍava menemukan harta (nidhāna), sehingga tempat itu dipuji sebagai yang dihormati oleh tiga dunia. Pada penutup phalāśruti ditegaskan bahwa snāna mengubah kemalangan menjadi keberuntungan dan menganugerahkan harapan yang dimohon, meneguhkan daya guna ritual yang bertumpu pada kesucian tempat.

Pañcama-prabhāsa-kṣetra-māhātmya: Mahāprabhāsa, Tejas-udbhava, and the Spārśa-liṅga Tradition
Dalam dialog ketika Īśvara menasihati Mahādevī, bab ini mengarahkan perhatian pada kṣetra agung bernama Mahāprabhāsa. Tempat suci ini berada di selatan Jalaprabhāsa dan dipuji sebagai penghalang jalan Yama—yakni pelindung serta pemberi keselamatan rohani. Pada zaman Tretā-yuga dikenang adanya Spārśa-liṅga yang bercahaya ilahi; dengan menyentuhnya saja seseorang memperoleh pembebasan. Pada masa kemudian, Indra yang diliputi ketakutan datang dan menutupi/menahan liṅga itu dengan penghalang laksana vajra. Seketika uṣmā/tejas yang dahsyat meletus tanpa terkendali, meluas sebagai wujud liṅga raksasa berpuncak nyala, mengguncang tiga dunia dengan asap dan api. Para dewa dan ṛṣi yang menguasai Veda memuji Śiva, Śaśiśekhara, memohon agar sinar yang membakar dirinya sendiri itu ditahan supaya ciptaan tidak runtuh menuju pralaya. Tejas itu lalu terbagi menjadi lima aliran, menerobos bumi sebagai perwujudan Prabhāsa yang lima; sebuah gerbang batu didirikan pada jalur keluarnya, dan ketika retakan ditutup, asap pun reda, dunia kembali stabil, sementara tejas tetap terpusat di sana. Atas dorongan Śiva, para dewa menegakkan liṅga di tempat itu; tejas “beristirahat” di sana dan kṣetra itu termasyhur sebagai Mahāprabhāsa. Bagian penutup menyatakan buahnya: pemujaan penuh bhakti dengan aneka bunga menganugerahkan keadaan tertinggi yang tak binasa; sekadar memandangnya membebaskan dari dosa dan mengabulkan tujuan. Sedekah pun dipuji—memberi emas kepada brāhmaṇa yang berdisiplin serta memberi sapi dengan tata cara benar kepada penerima dwija—memberikan “buah kelahiran” dan pahala yang disamakan dengan yajña Rājasūya dan Aśvamedha.

दक्षयज्ञविध्वंसनम् (Destruction/Disruption of Dakṣa’s Sacrifice) and the Etiology of Kṛtasmaradeva
Bab ini menampilkan dialog teologis Śiva–Devī dalam bingkai tuntunan tīrtha. Īśvara mengarahkan Devī ke sebuah tempat suci di selatan, di tepi Sarasvatī yang elok, seraya menunjuk suatu dewa svayaṃbhūta yang dikenal dengan gelar Kṛtasmaradeva, pemurni dosa. Lalu dikisahkan sebab-musababnya: setelah Kāma terbakar, Ratī meratap; Śiva menenangkannya dan menjanjikan pemulihan Kāma kelak melalui anugerah ilahi. Devī bertanya mengapa Kāma dibakar dan bagaimana kelahiran kembali terjadi. Śiva pun menuturkan rangkaian besar seputar yajña Dakṣa: pembagian pernikahan putri-putri Dakṣa, berkumpulnya para dewa dan resi di yajña agung, serta penghinaan berupa pengecualian terhadap Śiva karena tanda asketis seperti kapāla dan abu. Hal itu memicu murka Satī yang melepaskan tubuhnya melalui tapa-yoga. Śiva kemudian mengutus gaṇa-gaṇa dahsyat dipimpin Vīrabhadra untuk mengacaukan upacara. Terjadi pertempuran dengan para dewa; Sudarśana milik Viṣṇu ditelan, dan Vīrabhadra tetap tak terkalahkan berkat anugerah Rudra. Śiva maju dengan trisula; para dewa mundur, para brāhmaṇa melakukan homa pelindung dengan mantra Rudra, namun yajña tetap dihancurkan. Yajña lalu melarikan diri dalam wujud rusa dan disebut tetap tampak di langit bagaikan bintang sebagai penanda kosmis yang abadi.

कामकुण्डमाहात्म्यवर्णनम् | The Māhātmya of Kāma Kuṇḍa
Dalam wacana teologis Śiva–Devī, bab ini mengisahkan akibat terganggunya suasana yajña dan munculnya asura Tāraka sebagai kekuatan pengacau. Ia mengalahkan para dewa dan mengusir mereka dari Svarga. Para dewa memohon kepada Brahmā; Brahmā menasihati bahwa krisis ini hanya dapat diselesaikan oleh energi Śaṅkara, dan bahwa persatuan Śiva kelak dengan sang Dewi putri Himālaya akan melahirkan pelaku pemusnahan Tāraka. Untuk memicu persatuan itu, Kāmadeva diutus bersama Vasantā; namun ketika mendekati Śiva, Kāma akhirnya hangus oleh api yang memancar dari mata ketiga Śiva. Śiva kemudian menetap di kṣetra Prābhāsika yang suci, menjadikan tempat itu tugu kesakralan atas peristiwa tersebut. Ratī meratap; sebuah suara tanpa wujud menghiburnya bahwa Kāma akan kembali sebagai Ananga, tanpa tubuh, demi kesinambungan kosmos. Para dewa kembali memohon tentang terganggunya penciptaan tanpa Kāma; Śiva menjelaskan bahwa Kāma akan bekerja tanpa raga, dan sebuah liṅga muncul di bumi sebagai tanda kejadian itu. Teks mengaitkannya dengan sebutan Kṛtasmarā serta menyinggung kelahiran Skanda yang kelak membunuh Tāraka. Bab ditutup dengan penetapan sebuah kuṇḍa di selatan Kṛtasmarā bernama Kāma Kuṇḍa: mandi suci di sana dan sedekah teratur (tebu, emas, sapi, kain) kepada brāhmaṇa pengenal Veda dianjurkan, dengan buah berupa lenyapnya keadaan tidak mujur dan datangnya keberkahan.

कालभैरवस्मशानमाहात्म्यवर्णनम् (The Māhātmya of Kālabhairava’s Great Cremation-Ground)
Adhyaya ini memaparkan wejangan teologi Śaiva ketika Īśvara (Śiva) menunjukkan sebuah lokasi khusus di Prabhāsa: mahāśmaśāna (tanah kremasi agung) yang terkait dengan Kālabhairava serta Brahma-kuṇḍa di dekatnya. Śiva juga mengaitkan kemuliaan tempat itu dengan kehadiran Maṅkīśvara. Pokok ajarannya bersifat soteriologis dan terikat tempat: makhluk yang wafat atau dikremasi di sana—bahkan dalam keadaan buruk atau kematian yang tidak pada waktunya (kāla-viparyaya)—dinyatakan mencapai mokṣa. Janji ini diperluas sampai kepada mereka yang digolongkan sebagai pelaku dosa besar (mahāpātaka) dalam taksonomi etika teks. Śiva menegaskan bahwa daya tempat itu terkait dengan ‘kṛtasmaratā’, yakni teguh dalam ingatan/penyebutan kepada Tuhan, sehingga śmaśāna itu dipuji sebagai wilayah ‘apunarbhava-dāyaka’, pemberi kebebasan dari kelahiran kembali. Waktu viṣuva (titik peralihan/ekuinoks) disebut sebagai penanda sakral bagi penilaian ritualnya, dan pada akhir bab Śiva menyatakan keterikatan abadi pada kṣetra yang dicintai ini, bahkan dipuji lebih dear daripada Avimukta dalam bingkai retorika bagian ini.

रामेश्वरमाहात्म्य — Rāmeśvara at Prabhāsa and the Pratiloma Sarasvatī Purification
Īśvara menjelaskan kepada Devī letak serta kemuliaan Rāmeśvara di Prabhāsa, dekat Sungai Sarasvatī. Kisahnya menuturkan Balabhadra (Rāma/Halāyudha) yang menolak berpihak dalam pertikaian Pāṇḍava–Kaurava lalu kembali ke Dvārakā; karena mabuk ia masuk ke taman kenikmatan di hutan. Di sana ia melihat para brāhmaṇa terpelajar mendengarkan pembacaan seorang sūta; dalam amarah ia membunuh sūta itu, kemudian menyadari perbuatannya sebagai kenajisan laksana brahma-hatyā dan meratap atas akibat etis serta jasmaninya. Ajaran tentang prāyaścitta (penebusan) pun diuraikan: beda antara kekerasan yang disengaja dan yang tak disengaja, tingkatan penebusan, serta peran vrata (laku suci). Sebuah suara tanpa wujud memerintahkan Rāma pergi ke Prabhāsa, tempat Pratilomā Sarasvatī yang bercabang lima dipuji sebagai pemusnah lima dosa besar; tīrtha lain dinyatakan tidak sebanding. Balabhadra menjalankan tata cara ziarah, memberi dāna, mandi suci di pertemuan Sarasvatī dan samudra, lalu menegakkan serta memuja liṅga agung bernama Rāmeśvara hingga menjadi suci. Penutupnya menyatakan buah kebajikan: pemujaan liṅga Rāmeśvara menghapus dosa; pada tithi kedelapan, vrata dengan tata brahma-kūrcha memberi pahala setara Aśvamedha; dan mandi suci, pemujaan, serta sedekah sapi dianjurkan bagi pencari buah yātrā yang sempurna.

मंकीश्वरमाहात्म्यवर्णनम् | Mankīśvara Māhātmya (Glory of the Mankīśvara Liṅga)
Īśvara menjelaskan kepada Devī tata cara ziarah ke śrī-kṣetra Maṅkīśvara. Tempat suci ini berada di utara Rāmeśa, dekat situs Devamātṛ, dengan petunjuk arah tambahan dari Arka-sthala dan Kṛta-smara. Dahulu kala seorang brāhmaṇa bernama Maṅki, bertubuh bungkuk (kubja) namun penuh bhakti kepada Śiva, menegakkan liṅga ini dan memujanya setiap hari dengan tapa yang panjang. Meski bertahun-tahun bersembahyang, ia merasa belum memperoleh kepuasan batin, lalu memperkeras disiplin melalui japa dan dhyāna hingga usia tua. Akhirnya Śiva menampakkan diri dan menerangkan rintangan praktis: Maṅki sulit meraih dahan-dahan untuk mengumpulkan banyak bunga seperti pertapa lain; namun satu bunga yang dipersembahkan dengan bhakti saja sudah memberi pahala setara seluruh yajña. Ajaran kemudian meluas pada kesatuan pemujaan: Brahmā berada di sisi kanan liṅga, Viṣṇu di sisi kiri, dan Śiva di tengah—maka pemujaan liṅga mencakup pemujaan Trimūrti. Disebutkan persembahan yang utama: bilva, śamī, karavīra, mālatī, unmattaka, campaka, aśoka, kahlāra, serta bunga-bunga harum lainnya. Maṅki memohon anugerah agar siapa pun yang mandi suci dan bahkan hanya mempersembahkan air kepada liṅga ini memperoleh buah semua bentuk pemujaan, serta agar pepohonan ilahi dan duniawi hadir di sekitarnya. Śiva mengabulkan, menyatakan tempat itu akan dikenal sebagai Nāga-sthāna karena kehadiran para nāga, lalu menghilang. Maṅki melepaskan raganya dan mencapai alam Śiva. Penutupnya adalah phalaśruti: mendengar kisah ini dengan iman melenyapkan dosa.

Sarasvatī-māhātmya and the Ritual Order of Dāna–Śrāddha at Prabhāsa (सरस्वतीमाहात्म्यं दानश्राद्धविधिक्रमश्च)
Bab ini tersusun sebagai wacana teologis tanya–jawab. Devī memohon uraian panjang tentang māhātmya Sarasvatī serta mengajukan pertanyaan teknis mengenai tata laku ziarah: pahala masuk melalui “gerbang-mulut” (mukha-dvāra), buah dari mandi suci dan memberi dāna, akibat berendam di tempat lain, serta prosedur śrāddha yang benar—aturan, mantra, pelaksana yang layak, hidangan yang pantas, dan dāna yang dianjurkan. Īśvara menjanjikan pemaparan yang sistematis tentang tata cara dāna dan śrāddha. Selanjutnya Īśvara meninggikan kesucian Sarasvatī melalui pujian berlapis. Air Sarasvatī dinyatakan sangat besar pahalanya, terlebih ketika bercampur dengan samudra—bahkan langka bagi para dewa; sungai itu digambarkan sebagai pemberi kemudahan duniawi dan penghapus duka. Kelangkaan waktu-waktu suci, terutama bulan Vaiśākha dan laku yang terkait Soma, ditekankan; akses kepada Sarasvatī di Prabhāsa dinyatakan melampaui tapa dan penebusan dosa lainnya. Pernyataan phala menegaskan bahwa mereka yang bertekun tinggal/berada dalam air Sarasvatī memperoleh kediaman panjang di Viṣṇu-loka; sedangkan yang tidak mampu menyadari Sarasvatī di Prabhāsa disamakan secara retoris dengan orang yang cacat batin. Sarasvatī juga dipuji sebagai laksana pengetahuan yang luas dan daya-beda yang murni; sangama-nya dengan sungai-sungai termasyhur dan samudra disebut puncak tīrtha, di mana mandi suci dan dāna menghasilkan buah setara jasa kurban agung, dan mereka yang tersucikan oleh air Sarasvatī disebut beruntung serta patut dihormati.

श्राद्धविधि-काल- पात्र- ब्राह्मणपरीक्षा (Śrāddha: timing, requisites, and examination of eligible Brāhmaṇas)
Adhyaya 205 berbentuk dialog teologis-ritual: Devī memohon kepada Īśvara penjelasan tata cara śrāddha yang berpahala, terutama waktu pelaksanaan yang tepat dalam sehari serta pelaksanaannya dalam konteks tīrtha Prabhāsa/Sarasvatī. Īśvara menguraikan pembagian muhūrta dan menegaskan bahwa kutapa-kāla sekitar tengah hari sangat manjur, sementara pelaksanaan pada sore/malam hari diperingatkan agar dihindari. Bab ini menyebut sarana pelindung dan penyuci—terutama kuśa/darbha dan wijen hitam—serta menjelaskan gagasan waktu svadhā-bhavana. Disebut pula tiga “penyuci” yang dipuji dalam śrāddha: dauhitra, kutapa, dan tila, disertai anjuran kebersihan, bebas amarah, dan tidak tergesa-gesa. Selanjutnya harta diklasifikasikan menurut kemurnian (śukla/śambala/kṛṣṇa) dan ditegaskan bahwa persembahan dari harta yang diperoleh secara tidak adil tidak memuaskan para leluhur, melainkan mengalihkan kepuasan kepada makhluk yang tidak menguntungkan. Bagian besar bab ini memaparkan kriteria penerima: brāhmaṇa yang berilmu dan berdisiplin dianjurkan, sedangkan daftar panjang yang tidak layak (apāṅkteya) dijelaskan berdasarkan perilaku, pekerjaan, dan kondisi moral; penutup menegaskan bahwa pemilihan yang keliru merusak buah upacara.

Śrāddha-vidhi-varṇana (श्राद्धविधिवर्णन) — Procedural Discourse on Śrāddha
Adhyaya ini memuat uraian teknis Īśvara tentang tata cara śrāddha, terutama kerangka pārvaṇa. Dibahas berlapis: protokol mengundang, kelayakan dan penataan tempat duduk, batas-batas kesucian, penentuan waktu menurut taksonomi muhūrta, serta pemilihan bejana, bahan bakar (samidh), bunga, makanan, dan rumput suci (kuśa). Disertakan pedoman etika: perjamuan yang tidak semestinya dan kelalaian prosedur dapat menggugurkan penerimaan para leluhur. Diuraikan pula disiplin diam pada tindakan tertentu (japa, makan, pitr̥-kārya, dan lain-lain), aturan arah untuk ritus dewa versus ritus pitr̥, serta beberapa upaya praktis untuk memperbaiki cacat ritual. Bab ini juga mengatalogkan bahan yang mujur dan tidak mujur (kayu untuk samidh, bunga dan makanan yang boleh/harus dihindari), menyebut pengecualian wilayah untuk pelaksanaan śrāddha, serta menjelaskan persoalan kalender seperti larangan pada malamāsa/adhimāsa dan cara menghitung bulan yang tepat. Penutupnya memberi rangkaian mantra (termasuk pujian ‘saptārcis’) dan klaim phala: pembacaan serta pelaksanaan yang benar diyakini membawa penyucian, keabsahan sosial-ritual, dan anugerah seperti kemakmuran, daya ingat, serta kesehatan, terutama bila dilakukan di Prabhāsa pada pertemuan Sarasvatī dan samudra.

पात्रापात्रविचारवर्णनम् | Discernment of Worthy and Unworthy Recipients (Pātra–Apātra Vicāra)
Bab ini, dalam bingkai Prabhāsa-kṣetra, memuat wejangan teologis dari Īśvara tentang urutan dāna yang terkait śrāddha beserta buahnya. Ditekankan bahwa persembahan bagi pitṛ (leluhur), bahkan memberi makan satu dvija di dekat kesucian Sarasvatī, dipandang sebagai kebajikan yang sangat agung. Selanjutnya disusun taksonomi etika-hukum: peringatan atas kelalaian kewajiban ritual, kecaman terhadap perampasan tanah dan penghasilan terlarang, serta kritik panjang tentang veda-vikraya—komersialisasi pengajaran Weda—dengan ragam bentuk dan konsekuensi karmanya. Bab ini juga menetapkan batas-batas kemurnian sosial-ritual, mata pencaharian yang tidak patut, dan bahaya menerima atau memakan makanan/kekayaan dari sumber yang tercela. Ajaran dāna dipertegas: nilai perbandingan berbagai pemberian, keharusan memilih penerima yang layak (śrotriya, berkeutamaan, berperilaku luhur), dan bahwa pemberian yang salah sasaran dapat menggugurkan pahala. Penutupnya mengulang etika bertingkat tentang kebajikan—kejujuran, ahiṃsā, pelayanan, dan konsumsi yang teratur—serta buah dari dāna tertentu seperti makanan, pelita, wewangian, pakaian, dan alas tidur, memadukan tata-ritual dengan tuntunan moral.

दानपात्रब्राह्मणमाहात्म्यवर्णनम् (Glorification of Proper Giving, Worthy Recipients, and Brāhmaṇa Eligibility)
Dalam bab ini, Devī memohon penjelasan teratur tentang dana (pemberian suci): apa yang patut diberikan, kepada siapa, kapan, di mana, dan dalam syarat-syarat kelayakan penerima. Īśvara menjelaskan perbedaan kelahiran yang “tanpa buah” dan dana yang “tanpa buah” dibanding kelahiran yang baik, lalu menyebutkan ketentuan enam belas mahādāna, dengan contoh utama seperti pemberian sapi, emas, tanah, pakaian, biji-bijian, serta rumah beserta perlengkapannya. Selanjutnya diterangkan etika niat dan asal-usul harta: dana yang didorong kesombongan, takut, marah, atau pamer hanya berbuah lambat atau berkurang; dana yang lahir dari kemurnian batin dan harta yang diperoleh secara dharmis memberi manfaat tepat waktu. Kriteria penerima (pātra-lakṣaṇa) dirinci: berilmu, berdisiplin yoga, tenang, memahami Purāṇa, penuh welas asih, jujur, bersih, dan mampu mengendalikan diri. Aturan khusus tentang go-dāna menegaskan ciri sapi yang baik serta melarang pemberian sapi cacat atau yang diperoleh secara tidak sah, disertai peringatan akibat buruk dari pemberian yang keliru. Bab ini juga memuat kehati-hatian kalender terkait puasa, pāraṇa, dan waktu śrāddha, serta cara śrāddha yang menyesuaikan bila sarana terbatas atau penerima yang layak sulit ditemukan. Pada penutupnya ditekankan penghormatan kepada pembaca/pendidik teks, larangan mengajarkan kepada pendengar yang memusuhi atau tidak hormat, dan bahwa mendengar serta menopang dengan benar merupakan bagian dari kemanjuran ritus.

मार्कण्डेयेश्वरमाहात्म्यवर्णनम् | Māhātmya of Mārkaṇḍeyeśvara (Foundation and Merit Narrative)
Bab ini memuat dua bagian ajaran teologis ketika Īśvara berbicara kepada Devī. Pertama, beliau memetakan perjalanan ziarah: Devī diarahkan menuju Mārkaṇḍeyeśvara yang mulia, terletak di utara, dekat sektor timur Sāvitrī. Kesucian tempat itu dikaitkan dengan Ṛṣi Mārkaṇḍeya yang, berkat anugerah Padmayoni (Brahmā), menjadi “tanpa tua dan tanpa mati” dalam pengertian Purāṇa. Menyadari keunggulan kṣetra, sang ṛṣi menegakkan Śiva-liṅga dan bersemadi lama dalam dhyāna, duduk padmāsana. Setelah rentang zaman yang panjang, kuil tertutup debu yang dibawa angin; ketika terjaga, ia menggali dan membuka kembali gerbang besar agar pemujaan berlangsung. Ditegaskan pula: siapa yang masuk dan memuja Vṛṣabhadhvaja (Śiva) dengan bhakti akan mencapai kediaman tertinggi tempat Maheśvara bersemayam. Kedua, Devī bertanya mengapa Mārkaṇḍeya disebut “abadi” padahal kematian berlaku bagi semua. Īśvara menuturkan kisah asal-usul pada kalpa terdahulu: Ṛṣi Mṛkaṇḍu, putra Bhṛgu, memperoleh seorang anak saleh yang ditakdirkan wafat dalam enam bulan. Sang ayah melaksanakan upanayana dan mengajarkan salam hormat harian. Dalam ziarah, Saptarṣi memberkati sang brahmacārin dengan “umur panjang”, lalu cemas ketika menyadari umurnya singkat; mereka membawanya menghadap Brahmā. Brahmā menegaskan takdir khusus: anak itu akan menjadi Mārkaṇḍeya, berumur setara Brahmā, serta menjadi sahabat pada awal dan akhir kalpa. Bab ditutup dengan lega dan syukur bhakti sang ayah, meneguhkan tema disiplin penghormatan, otorisasi ilahi, dan kṣetra yang tetap dapat diakses untuk ritual meski sempat tersembunyi.

Pulastyēśvaramāhātmya (The Glory of Pulastyēśvara) | पुलस्त्येश्वरमाहात्म्यम्
Adhyaya ini berisi petunjuk tirtha yang ringkas, dibingkai sebagai wacana teologis Īśvara kepada Mahādevī. Peziarah diarahkan menuju Pulastyēśvara, sebuah tempat suci Śiva yang disebut ‘utama’, terletak pada posisi tertentu dalam peta sakral Prabhāsa, ditandai dengan keterangan arah serta ukuran/jarak. Urutan bhakti dijelaskan dengan jelas: terlebih dahulu melakukan darśana, lalu melaksanakan pūjā secara vidhānataḥ (sesuai tata cara yang benar). Pada bagian phalaśruti ditegaskan bahwa penyembah dibebaskan dari dosa yang terkumpul selama tujuh kelahiran—“tanpa keraguan.” Dengan demikian, adhyaya ini memadukan penunjuk lokasi, tuntunan ritual, dan janji keselamatan karmis dalam satu unit ziarah yang padat.

पुलहेश्वरमाहात्म्यवर्णनम् | Pulahēśvara Māhātmya (Glorification of Pulahēśvara)
Dalam adhyaya ini, Īśvara memberi ajaran kepada Devī tentang kemuliaan tirtha Pulahēśvara di wilayah suci Prabhāsa. Beliau menunjukkan letaknya dengan penunjuk arah: menuju kuadran naiṛta (barat daya), pada jarak yang diukur dengan skala dhanuṣ; di sana berdiri liṅga Śiva bernama Pulahēśvara, yang patut didatangi untuk darśana dan pūjā dengan bhakti. Ditegaskan pula bahwa pemujaan yang berlandaskan bhakti kepada Pulahēśvara mendatangkan yātrā-phala, buah kebajikan ziarah. Secara khusus, hiranya-dāna—derma emas atau harta—dinyatakan sebagai tata cara penyempurna yang menuntaskan pahala ziarah. Penutupnya menyebutkan kedudukan teks ini sebagai adhyaya ke-211 dalam Prabhāsakṣetramāhātmya, Prabhāsa Khaṇḍa, Skanda Purāṇa.

Kratvīśvaramāhātmya (क्रत्वीश्वरमाहात्म्यम्) — The Glory of Kratvīśvara
Dalam adhyaya (212) ini, Īśvara menasihati Devī tentang sebuah tempat suci bernama Kratvīśvara, terletak di arah barat daya (nairṛta) dari Pulahīśvara pada jarak delapan dhanuṣa. Kratvīśvara dipuji sebagai pemberi “mahākratu-phala”, yakni pahala setara upacara kurban besar, sehingga kemuliaan yajña Veda dapat diraih melalui darśana di tīrtha. Dalam phalaśruti disebutkan: siapa pun yang memandang (dṛṣṭvā) Kratvīśvara memperoleh buah ritual Pauṇḍarīka, terlindung dari kemiskinan selama tujuh kelahiran, dan di tempat itu penderitaan tidak muncul. Bab ini menjadi catatan topografi suci yang ringkas—menunjukkan letak, menyebut nama serta kesetaraan pahala, dan menjanjikan hasil rohani bagi para peziarah.

Kaśyapeśvara Māhātmya (काश्यपेश्वरमाहात्म्य) — Glory of the Kaśyapeśvara Shrine
Adhyaya ini menyajikan māhātmya Śaiva secara ringkas dalam bentuk dialog, ketika Īśvara bertutur kepada Devī tentang kemuliaan Tīrtha Kaśyapeśvara. Letaknya dijelaskan dengan penunjuk arah yang teknis: berada di bagian timur, pada jarak “enam belas panjang busur” (dhanuḥ-ṣoḍaśa-kāntara). Dinyatakan bahwa darśana di tempat suci itu membawa kemakmuran dan keturunan; bahkan seseorang yang terbebani “segala dosa” pun dilepaskan darinya—sebagai phalaśruti yang ditegaskan tanpa keraguan. Pada penutup, kolofon menandai kedudukan bab ini dalam Skanda Purāṇa, Prabhāsa Khaṇḍa, bagian Prabhāsakṣetra-māhātmya.

कौशिकेश्वरमाहात्म्यवर्णनम् | Narrative of the Glory of Kauśikeśvara
Adhyaya ini menampilkan wejangan teologis yang dipimpin oleh Īśvara tentang kemuliaan Kauśikeśvara di Prabhāsa. Tempat suci ini disebut berada di arah īśāna (timur laut) dari Kaśyapeśvara, berjarak delapan dhanus, dan dipuji sebagai tirtha yang sangat menyucikan serta pemusnah dosa besar (mahāpātaka-nāśana). Dikisahkan asal namanya: Kauśika, setelah membunuh putra-putra Vasiṣṭha dan menanggung cela, menegakkan liṅga di sana, melakukan pemujaan, lalu terbebas dari dosa. Penutupnya berupa phalaśruti singkat: siapa yang berdarśana dan ber-pūjā kepada liṅga itu memperoleh hasil yang diinginkan (vāñchita-phala).

कुमारेश्वरमाहात्म्यवर्णनम् / The Māhātmya of Kumāreśvara
Īśvara menuntun Devī menuju tirtha Kumāreśvara, terletak sedikit jauh di selatan Mārkaṇḍeśvara. Di sana dipuji liṅga Śiva yang didirikan oleh seorang bhakta bernama Svāmī, dan tempat itu dipandang sebagai simpul prāyaścitta (penebusan) dalam lanskap suci. Tapa yang berat terkait Kārttikeya dinyatakan mampu melenyapkan dosa yang lahir dari hasrat yang melanggar dharma, khususnya kesalahan terhadap pasangan orang lain. Seorang bhakta teladan memasang liṅga itu; ia terbebas dari kenajisan dan melalui pelepasan memperoleh kembali keadaan ‘kaumāra’—kemurnian muda yang diperbarui. Contoh kedua menyebut Sumālī: setelah melakukan dosa besar berupa pembunuhan leluhur, ia bersembahyang di sana dan dilepaskan dari dosa kekerasan terhadap ayah/leluhur. Teks juga menandai sebuah sumur di hadapan dewa: mandi di sana dan memuja liṅga yang didirikan Svāmī memberi pembebasan dari cela serta jalan menuju kota ilahi agung bernama Svāmīpura. Pada akhir bab ditetapkan aturan dana: menghadiahkan benda ‘tāmracūḍa’ dari emas śātakaumbha (emas sangat murni) kepada seorang dvijāti atas nama Svāmī menghasilkan pahala ziarah.

Gautameśvara-māhātmya (गौतमेश्वरमाहात्म्य) — The Glory of Gautameśvara Liṅga
Dalam adhyāya ini, Īśvara menyampaikan kepada Devī secara ringkas kemuliaan sebuah tīrtha Śaiva. Disebutkan bahwa di sebelah utara Mārkaṇḍeśvara, berjarak lima belas dhanu, berdiri liṅga utama bernama Gautameśvara. Kisahnya menempatkan tempat suci ini sebagai sarana penebusan: resi Gautama, diliputi dosa dan duka akibat membunuh gurunya, menegakkan (pratiṣṭhā) liṅga di sana dan terbebas dari beban moral tersebut melalui tapa dan pemujaan. Bagi para peziarah ditetapkan laku kebajikan: mandi di sungai menurut tata cara yang benar, memuja liṅga sesuai aturan ritual, serta mempersembahkan dāna berupa sapi kapilā (berwarna cokelat kekuningan). Buahnya adalah lenyapnya lima dosa besar (pañca-pātaka), kemurnian batin, dan akhirnya pembebasan (mokṣa).

Devarājeśvara-māhātmya (Glorification of Devarājeśvara)
Adhyaya ini memuat uraian singkat kemuliaan tempat suci Devarājeśvara, disampaikan oleh Īśvara kepada Devī. Dinyatakan bahwa Devarājeśvara berada di sebelah barat Gautameśvara, tidak jauh, berjarak enam belas dhanu. Dijelaskan pula rangkaian sebab-akibat: bila sebuah liṅga ditegakkan (sthāpanā), sang pendiri dilepaskan dari pāpa. Lalu diberikan tuntunan bagi para pemuja: siapa pun yang menyembah liṅga itu dengan batin tenang dan terpusat (samāhita-manas) akan memperoleh pembebasan dari dosa-dosa yang timbul karena kelahiran sebagai manusia. Pada penutup (kolofon) disebutkan bahwa ini bagian dari Skanda Mahāpurāṇa, himpunan 81.000 śloka, dalam Prabhāsa Khaṇḍa, bagian Prabhāsakṣetramāhātmya, yakni adhyaya ke-217 berjudul Devarājeśvara-māhātmya.

Mānaveśvara Māhātmya (The Glory of Mānaveśvara) | मानवेश्वरमाहात्म्य
Bab ini berupa ajaran teologis singkat yang dinisbatkan kepada Īśvara. Diperkenalkan sebuah liṅga khusus di Prabhāsa-kṣetra, dikenal sebagai “Mānava-liṅga”, yang dahulu dipasang dan ditahbiskan oleh Manu. Manu, yang menanggung beban dosa (pāpa) akibat membunuh putranya sendiri, menyadari tempat itu sebagai pāpa-hara, penghapus dosa. Dengan tata cara suci—abhiseka dan pratishṭhā—ia menegakkan Īśvara di sana, sehingga ia dinyatakan terbebas dari beban moral tersebut. Ajaran itu lalu meluaskan buahnya: siapa pun insan yang berbhakti dan memuja Mānava-liṅga akan dilepaskan dari dosa-dosa. Penutupnya menyebutkan bahwa ini adalah Skanda Mahāpurāṇa, Prabhāsa Khaṇḍa, Prabhāsakṣetramāhātmya, adhyāya ke-218 tentang kemuliaan Mānaveśvara.

मार्कण्डेयेश्वरमाहात्म्यवर्णनम् (Glorification of Mārkaṇḍeyeśvara and associated liṅgas near Mārkaṇḍeya’s āśrama)
Bab ini memuat ajaran Śaiva: Īśvara menuturkan kepada Devī tentang gugusan tempat suci di arah āgneya (tenggara) dekat āśrama Mārkaṇḍeya. Pertama disebutkan Guhāliṅga yang termasyhur, juga dikenal sebagai Nīlakaṇṭha, dahulu dipuja oleh Viṣṇu dan dipuji sebagai ‘pemusnah sisa-sisa dosa’. Pemujaan dengan bhakti dikatakan memberi hasil nyata: kemakmuran, keturunan, ternak, dan ketenteraman hati. Selanjutnya digambarkan pertapaan yang tampak, gua-gua para tapa, serta banyak lokasi yang terkait dengan liṅga. Motif utama yang bersifat preskriptif menyatakan bahwa mendirikan (pratiṣṭhā) liṅga di dekat Mārkaṇḍeya mengangkat garis keturunan yang luas, sehingga tindakan itu dipandang sebagai sarana religius yang berdampak sosial. Kerangka teologinya menegaskan: semua dunia bersifat Śiva; segala sesuatu tegak dalam Śiva; maka orang berilmu yang menginginkan kesejahteraan hendaknya memuja Śiva. Dengan contoh para dewa, raja, dan manusia, pemujaan serta pendirian liṅga dinormalkan sebagai upaya yang ampuh; bahkan pelanggaran besar pun mereda oleh ‘cahaya/tejas Śiva’. Kisah singkat seperti Indra sesudah membunuh Vṛtra, pemujaan Surya di tempat pertemuan sungai, pemulihan Ahalyā, dan lainnya menjadi bukti naratif; penutupnya menegaskan kembali inti Prabhāsa-kṣetra terkait āśrama Mārkaṇḍeya.

वृषध्वजेश्वरमाहात्म्यवर्णनम् | Vṛṣadhvajeśvara Māhātmya (Glorification of Vṛṣadhvajeśvara)
Bab ini berisi wejangan teologis Śaiva: Īśvara mengajar Sang Dewi dan mengarahkan peziarah menuju Vṛṣadhvajeśvara, dewa yang “dipuja tiga dunia”, terletak di sisi selatan dalam peta suci Prabhāsa. Lalu hakikat Śiva dijelaskan: Ia akṣara dan avyakta (tak binasa, tak termanifestasi), tiada prinsip yang lebih tinggi dari-Nya, dapat dicapai melalui yoga, dan hadir meliputi segalanya—seakan tangan, kaki, mata, kepala, dan mulut-Nya berada di mana-mana. Deretan raja teladan—Pṛthu, Marutta, Bharata, Śaśabindu, Gaya, Śibi, Rāma, Ambarīṣa, Māndhātṛ, Dilīpa, Bhagiratha, Suhotra, Rantideva, Yayāti, Sagara—disebut sebagai preseden: mereka berlindung pada Prabhāsa, memuja Vṛṣadhvajeśvara dengan yajña, dan memperoleh surga. Teks menegaskan urgensi etis-asketis dengan mengingatkan berulang tentang samsāra: kelahiran, kematian, derita, penyakit, dan usia tua; di dunia yang tak kukuh ini, arcanā kepada Śiva dinyatakan sebagai “inti”. Bhakti dipuji sebagai daya pembawa kemakmuran: bagi penyembah yang teguh, anugerah bagaikan cintāmaṇi dan kalpadruma, bahkan Kubera diibaratkan menjadi pelayan. Kesederhanaan ritual juga dimuliakan: memuja dengan lima bunga saja dikatakan memberi buah setara sepuluh aśvamedha. Selain itu, dianjurkan sedekah berupa pemberian seekor lembu jantan di dekat Vṛṣadhvaja untuk memusnahkan dosa dan menyempurnakan buah ziarah.

ऋणमोचनमाहात्म्यवर्णनम् (R̥ṇamocana Māhātmya—Theological Account of Debt-Release at Prabhāsa)
Adhyaya ini dibingkai sebagai sabda Īśvara yang memuliakan simpul suci di Prabhāsa, berpusat pada dewa/liṅga bernama “R̥ṇamocana” (pembebas utang). Dinyatakan bahwa dengan darśana (melihat dengan bhakti) kepada R̥ṇamocana, utang leluhur yang timbul dari garis ibu dan ayah (pitr̥-ṛṇa) lenyap. Dikisahkan para Pitṛ melakukan tapa panjang di Prabhāsa dan dengan devosi menegakkan sebuah liṅga. Mahādeva yang berkenan menampakkan diri dan mempersilakan mereka memohon anugerah. Para Pitṛ memohon sarana kebajikan yang mantap bagi makhluk dari golongan dewa, ṛṣi, dan manusia: siapa pun yang datang dengan śraddhā hendaknya terbebas dari utang leluhur dan noda dosa; bahkan para leluhur yang wafat tidak wajar (oleh ular, api, racun, dan sebagainya) atau yang upacara pascakematian mereka tidak lengkap—seperti tanpa sapīṇḍīkaraṇa, ekoddiṣṭa/ṣoḍaśa persembahan, vṛṣotsarga, atau śauca yang semestinya—hendaknya memperoleh jalan yang lebih luhur bila dipuaskan di sini. Īśvara menegaskan: manusia yang berbakti kepada Pitṛ, mandi di air suci dan melakukan pitṛ-tarpaṇa, memperoleh pelepasan seketika; Maheśvara adalah pemberi anugerah meski dosa berat. Mandi dan pemujaan liṅga yang ditegakkan para Pitṛ menjadi sebab lepasnya pitr̥-ṛṇa; karena membebaskan dari ṛṇa melalui darśana, ia disebut R̥ṇamocana. Disebut pula tata cara mandi setelah meletakkan emas di kepala, dengan pahala setara sedekah seratus sapi. Penutupnya menganjurkan pelaksanaan śrāddha dengan sungguh-sungguh di sana serta pemujaan pitṛ-liṅga yang dikatakan dicintai para dewa.

रुक्मवतीश्वरमाहात्म्यवर्णनम् | Rukmavatīśvara Māhātmya (Account of the Glory of Rukmavatīśvara)
Adhyāya ini, dalam sabda ilahi “Īśvara uvāca”, menyatakan kemuliaan liṅga Rukmavatīśvara yang didirikan oleh Rukmavatī. Liṅga ini dipuji sebagai pemberi kedamaian bagi semua, penghapus dosa, dan penganugerahan hasil yang diinginkan. Selanjutnya ditetapkan urutan ziarah-ritual: mandi suci di mahātīrtha yang terkait, lalu dengan penuh kehati-hatian melakukan samplāvana/abhiṣeka (pemandian suci) pada liṅga sesuai tata cara. Sesudahnya, dianjurkan memberi dana berupa harta kepada para brāhmaṇa. Dengan mengikat tempat suci, ikon liṅga, tindakan snāna dan abhiṣeka, serta dāna, teks menegaskan jalan pemurnian dan tercapainya tujuan melalui bhakti yang disiplin dan kemurahan yang teratur.

Puruṣottama-tīrtha and Pretatīrtha (Gātrotsarga) Māhātmya — पुरुषोत्तमतीर्थ-प्रेततीर्थ(गात्रोत्सर्ग)माहात्म्य
Īśvara menasihati Devī tentang cara mendekati liṅga yang dipuja di tiga dunia serta tīrtha di sisinya, yang pada Kṛta-yuga disebut Pretatīrtha dan kemudian terkenal sebagai Gātrotsarga. Letaknya dijelaskan dekat Ṛṇamocana dan Pāpamocana; ditegaskan bahwa wafat di sana atau melakukan perendaman suci membawa peluruhan dosa dan penghapusan kesalahan. Tempat itu juga dikaitkan dengan kehadiran Vaiṣṇava: Puruṣottama bersemayam di sana; pemujaan kepada Nārāyaṇa, Balabhadra, dan Rukmiṇī membebaskan dari tiga golongan dosa, sedangkan śrāddha dan persembahan piṇḍa membebaskan leluhur dari keadaan preta dan memberi kepuasan yang panjang. Kemudian hadir kisah berbingkai tentang Ṛṣi Gautama. Ia menjumpai lima preta mengerikan yang terhalang memasuki kawasan suci; mereka menjelaskan bahwa nama-nama mereka adalah label moral dari pelanggaran masa lalu—menolak permohonan, berkhianat, menjadi pelapor yang mencelakakan, lalai dalam memberi, dan sejenisnya. Mereka menyebut sumber makanan najis bagi preta serta perilaku yang menjerumuskan pada kelahiran sebagai preta: dusta, pencurian, kekerasan terhadap sapi atau Brāhmaṇa, fitnah, mencemari air, dan mengabaikan ritus. Mereka juga menyebut penangkalnya: ziarah, pemujaan dewa, bakti kepada Brāhmaṇa, mendengar śāstra, dan melayani orang bijak. Gautama melakukan śrāddha khusus bagi masing-masing hingga mereka lepas; yang kelima, Paryuṣita, memerlukan śrāddha tambahan pada saat uttarāyaṇa. Preta yang terbebas memberi anugerah: tempat itu termasyhur sebagai Pretatīrtha, dan keturunan yang melakukan śrāddha di sana tidak akan jatuh ke keadaan preta; penutupnya menyatakan bahwa mendengar kisah ini dan berziarah memberi pahala luas setara kurban suci besar.

इन्द्रेश्वरमाहात्म्यवर्णनम् (Indreśvara Māhātmya: The Glory of Indra’s Liṅga)
Adhyaya ini memuat penjelasan teologis-ritual ketika Īśvara berbicara kepada Devī, menunjuk sebuah liṅga yang didirikan oleh Indra di selatan Puruṣottama, terkenal dengan sebutan “Pāpamocana”, penghapus dosa. Setelah membunuh Vṛtra, Indra menanggung kenajisan mirip brahmahatyā; hal itu tampak sebagai perubahan warna tubuh dan bau busuk yang merusak daya hidup, kekuatan, dan sinarnya. Para resi dan para dewa—termasuk Nārada—menasihati Indra agar pergi ke Prabhāsa, kṣetra yang dikenal sebagai penghancur dosa. Di Prabhāsa, Indra menegakkan dan memuja liṅga Tuhan bertombak tiga (pemegang triśūla) dengan dupa, wewangian, dan baluran harum. Tanda penebusan tampak pada perubahan tubuhnya: bau dan perubahan warna lenyap, dan wujudnya kembali unggul. Indra lalu menyatakan manfaat abadi bagi para pemuja: siapa pun yang menyembah liṅga ini dengan bhakti akan memperoleh lenyapnya dosa-dosa berat, termasuk brahmahatyā. Bab ditutup dengan tuntunan etis-ritual: memberi sedekah sapi (go-dāna) kepada brāhmaṇa yang menguasai Veda serta melakukan śrāddha di tempat itu sebagai tindakan pendukung untuk meredakan penderitaan terkait brahmahatyā.

Narakeśvara-darśana and the Catalogue of Narakas (Ethical-Theological Discourse)
Īśvara memperkenalkan sebuah tirtha suci di arah utara yang terkait dengan Narakeśvara, dipuji sebagai pemusnah dosa. Lalu disampaikan teladan dari Mathurā: seorang brāhmaṇa bernama Devaśarman (gotra Agastya), yang dilanda kemiskinan, terseret dalam kekeliruan administrasi ketika utusan Yama dikirim untuk menjemput Devaśarman yang lain. Yama membetulkan kesalahan itu dan menegaskan perannya sebagai Dharma-rāja: kematian tidak terjadi sebelum waktunya; meski ada luka dan cedera, tiada makhluk mati “di luar musim”. Brāhmaṇa itu kemudian memohon penjelasan teknis tentang alam-alam neraka (naraka): jumlahnya dan sebab karmanya. Yama menyebutkan dua puluh satu naraka dan mengaitkannya dengan pelanggaran etika seperti mengkhianati kepercayaan, kesaksian palsu, ucapan kasar dan menipu, perzinaan, pencurian, menyakiti para pemegang vrata, kekerasan terhadap sapi, permusuhan kepada deva dan brāhmaṇa, serta penggelapan harta kuil/brāhmaṇa dan pelanggaran dharma sosial-keagamaan lainnya. Ajaran memuncak pada soteriologi pencegahan: siapa yang mencapai Prabhāsa dan memandang Narakeśvara dengan bhakti tidak akan memandang naraka; liṅga itu dikatakan didirikan oleh Yama melalui Śiva-bhakti dan patut dijaga sebagai ajaran rahasia. Penutup memberi tuntunan ritual dan phalaśruti: pemujaan seumur hidup membawa “pencapaian tertinggi”; śrāddha pada Kṛṣṇa Caturdaśī di bulan Āśvayuja memberi pahala laksana Aśvamedha; dan sedekah kulit rusa hitam kepada brāhmaṇa yang menguasai Veda mendatangkan kehormatan surgawi sebanding jumlah biji wijen (tila).

मेघेश्वरमाहात्म्यवर्णनम् | Meghēśvara Māhātmya (Glorification of Meghēśvara)
Adhyāya ini memuat ajaran Īśvara tentang sebuah tempat suci bernama Meghēśvara, terletak di bagian timur kṣetra mengarah ke nairṛta (barat daya). Tempat ini dipuji sebagai pāpa-mocana, pelebur dosa, serta sarva-pātaka-nāśana, penghancur segala pelanggaran besar. Ketika masyarakat dilanda ketakutan akan anāvṛṣṭi (tidak turunnya hujan), diajarkan tata cara penenangan (śānti) yang harus dilakukan di sana: para brāhmaṇa terpelajar melaksanakan śānti, dan bumi disucikan/ditahbiskan dengan air menurut cara vāruṇī yang terkait Varuṇa—sebuah ritus pemanggil hujan dan pemulih tatanan. Ditegaskan pula bahwa di tempat liṅga yang “ditegakkan dengan awan” dipuja setiap hari, ketakutan akan kekeringan tidak muncul, sehingga Meghēśvara menjadi jaminan kestabilan alam dan sosial melalui bhakti yang disiplin.

बलभद्रेश्वरमाहात्म्य (Glory of Balabhadreśvara Liṅga)
Dalam adhyaya ini, Īśvara menasihati Devī agar melangkah menuju liṅga yang didirikan oleh Balabhadra menurut tata cara yang benar. Liṅga itu dipuji sebagai penghapus dosa besar (mahāpāpa-hara), disebut sebagai “mahāliṅga”, dan dinyatakan menganugerahkan buah pencapaian rohani agung (mahāsiddhi-phala); penetapannya ditegaskan dilakukan oleh Balabhadra demi pemurnian dosa (pāpa-śuddhi). Selanjutnya dijelaskan tata bhakti: memuja dengan persembahan berurutan seperti wewangian dan bunga (gandha-puṣpādi). Pada saat Revati-yoga yang ketiga, pelaku pemujaan ini dikatakan meraih “yogeśa-pada”, suatu kedudukan yogik yang luhur. Kolofon menandai bagian ini sebagai adhyaya ke-227 dari bagian pertama (Prabhāsakṣetramāhātmya) dalam Prabhāsa Khaṇḍa Skanda Mahāpurāṇa.

भैरवेश-मातृस्थान-विधानम् | Rite of Bhairaveśa at the Supreme Mothers’ Shrine
Bab 228 memuat ajaran Īśvara kepada Mahādevī tentang sebuah ‘mātṛ-sthāna’ agung bernama Bhairaveśa, yang dipuji sebagai ‘penghancur segala rasa takut’. Tempat suci ini dipandang sebagai kṣetra yang menghadirkan perlindungan para Yoginī dan para Ibu Ilahi. Ditetapkan pula konteks waktunya: pada tithi caturdaśī di kṛṣṇa-pakṣa, seorang sādhaka yang berdisiplin diri hendaknya bersembahyang dengan gandha (wewangian), puṣpa (bunga), serta persembahan bali yang utama. Penutupnya memberi jaminan bahwa Yoginī dan para Ibu menjaga pemuja di dunia laksana seorang putra; sehingga laku bhakti ini menegaskan tata-ritus setempat, tujuan lenyapnya takut, dan keutamaan pengendalian diri.

गंगामाहात्म्यवर्णनम् (Gaṅgā-māhātmya: Discourse on the Glory of the Gaṅgā at Prabhāsa)
Bab ini memuat ajaran Īśvara kepada Mahādevī agar memusatkan perhatian pada Gaṅgā yang “menempuh tiga jalan” (tripathagāminī) di arah Īśānya. Gaṅgā dipuji sebagai arus suci yang svayaṃbhū (menampakkan diri sendiri), dan juga sebagai aliran yang dahulu diangkat oleh Viṣṇu dari kedalaman bumi demi keselamatan kaum Yādava serta penenteraman dosa-dosa semesta. Dinyatakan bahwa mandi suci (snāna) di tempat itu—meski terjadi berkat timbunan pahala masa lampau—serta melaksanakan śrāddha menurut tata cara (vidhāna) menganugerahkan keadaan tanpa penyesalan atas perbuatan yang dilakukan maupun yang terlewat. Pahala mandi dalam air Jāhnavī pada bulan Kārttikī disamakan dengan pahala mempersembahkan sedekah sebesar seluruh jagat (brahmāṇḍa). Karena pada Kali-yuga darśana semacam ini kian sulit, nilai snāna–dāna di Prabhāsa pada tirta Gaṅgā/Jāhnavī ditegaskan semakin luhur.

गणपतिमाहात्म्यवर्णनम् | Gaṇapati-Māhātmya (Account of Gaṇeśa’s Glory in Prabhāsa)
Īśvara menasihati Devī tentang Gaṇapati yang sangat dikasihi para dewa dan ditempatkan di Prabhāsa atas penetapan Īśvara sendiri. Dewa ini berada di sisi selatan Sungai Gaṅgā dan digambarkan senantiasa giat melindungi kṣetra (kawasan suci) tersebut. Ditetapkan suatu ritus khusus: pemujaan pada kṛṣṇa-caturdaśī (hari ke-14 paruh gelap) di bulan Māgha. Urutan persembahan disebutkan ringkas: modaka ilahi sebagai naivedya, disertai bunga, dupa, dan upacāra lainnya sesuai tata urut. Buahnya bersifat melindungi dan nyata: bagi pemuja, tidak timbul vighna (rintangan), dengan penegasan bahwa jaminan ini terkait dengan tetap berada/berdiam di dalam kṣetra. Penutup menyatakan ini sebagai adhyāya ke-230 dari Prabhāsa Khaṇḍa, bagian pertama Prabhāsakṣetramāhātmya, berjudul Gaṇapati-māhātmya-varṇana.

जांबवतीतीर्थमाहात्म्यम् / The Māhātmya of the Jāmbavatī Tīrtha
Īśvara berbicara kepada Devī dan menunjukkan sebuah tempat suci di Prabhāsa Khaṇḍa yang terkait dengan sungai Jāmbavatī, yang dikenang dalam tradisi Purāṇa sebagai permaisuri tercinta Viṣṇu. Dalam dialog itu, Jāmbavatī menanyai Arjuna tentang peristiwa terkini; Arjuna, diliputi duka, melaporkan bencana besar yang menimpa kaum Yādava—gugurnya tokoh-tokoh utama seperti Baladeva dan Sātyaki serta runtuhnya komunitas Yādava, sebagai sebuah patahan moral dan sejarah. Mendengar wafatnya sang suami, Jāmbavatī melakukan pembakaran diri di tepi Gaṅgā, mengumpulkan abu kremasi, lalu melalui perubahan mitis menjelma menjadi sungai dan mengalir menuju samudra. Dengan demikian, aliran air itu disucikan sebagai sebuah tīrtha. Dinyatakan pula buah kebajikan: para wanita yang mandi di sana dengan bhakti—bahkan wanita dalam garis keturunannya—tidak akan mengalami penderitaan menjadi janda; dan siapa pun, pria atau wanita, yang mandi di sana dengan upaya sepenuh hati akan memperoleh tujuan rohani tertinggi (paramā gati).

Pāṇḍava-kūpa-pratiṣṭhā and Vaiṣṇava-sānnidhya at Prabhāsa (पाण्डवकूप-प्रसङ्गः)
Bab ini, dituturkan oleh Īśvara, meneguhkan kemuliaan tirtha Prabhāsa melalui kisah pendirian Pāṇḍava-kūpa. Dalam masa pengembaraan hutan, para Pāṇḍava tiba di Prabhāsa dan tinggal sementara dengan hati tenang. Ketika hendak menjamu banyak brāhmaṇa, jauhnya sumber air menjadi kendala; atas dorongan Draupadī, mereka menggali sebuah sumur (kūpa) dekat āśrama sebagai sumber air suci. Kemudian Śrī Kṛṣṇa datang dari Dvārakā bersama para Yādava (termasuk Pradyumna dan Sāmba). Dalam pertukaran yang khidmat, Kṛṣṇa menanyakan anugerah yang diinginkan Yudhiṣṭhira; Yudhiṣṭhira memohon kehadiran abadi (nitya-sānnidhya) Kṛṣṇa di sumur itu, serta menyatakan bahwa siapa pun yang mandi di sana dengan bhakti akan mencapai tujuan Vaiṣṇava berkat anugerah Kṛṣṇa. Īśvara meneguhkan anugerah tersebut, lalu Kṛṣṇa berangkat. Penutupnya berupa phalaśruti: śrāddha di tempat itu memberi pahala setara Aśvamedha; tarpaṇa dan snāna memberi manfaat sesuai kadar pelaksanaannya. Pada purnama Jyeṣṭha dengan pemujaan Sāvitrī, seseorang meraih “keadaan tertinggi”; dan bagi yang menghendaki buah ziarah yang sempurna, go-dāna dianjurkan.

पाण्डवेश्वरमाहात्म्यवर्णनम् (Pandaveśvara Māhātmya—Account of the Glory of Pāṇḍaveśvara)
Adhyaya ini berisi ajaran teologis singkat ketika Īśvara menasihati Devī tentang gugusan lima liṅga yang telah mapan di Prabhāsa-kṣetra. Dinyatakan bahwa kelima liṅga itu dahulu dipratiṣṭhita (dikukuhkan) oleh para Pāṇḍava yang berhati luhur, sehingga kesucian kompleks pemujaan itu diteguhkan oleh ingatan garis-epik dan kewibawaan tradisinya. Selanjutnya disampaikan phalaśruti: siapa pun yang memuja liṅga-liṅga tersebut dengan bhakti akan terbebas dari pātaka (dosa). Dengan demikian, adhyaya ini menegaskan daya penyelamatan dari liṅga-pūjā yang diliputi bhakti pada tempat suci yang telah terautentikasi.

दशाश्वमेधिकतीर्थमाहात्म्य (Māhātmya of the Daśāśvamedhika Tīrtha)
Dalam bab ini, Īśvara menuturkan kepada Devī asal-mula serta kemuliaan tīrtha termasyhur bernama Daśāśvamedhika. Kisah diawali dengan petunjuk menuju tempat yang “terkenal di tiga dunia”, pemusnah dosa-dosa besar. Di sana Raja Bharata melaksanakan sepuluh yajña aśvamedha, mengakui wilayah itu tiada banding; para dewa pun dipuaskan oleh persembahan yajña. Ketika para dewa menawarkan anugerah, Bharata memohon agar siapa pun bhakta yang mandi suci di sana memperoleh pahala mulia setara sepuluh aśvamedha. Para dewa meneguhkan nama dan kemasyhuran tīrtha itu di bumi; sejak saat itu ia dikenal luas sebagai Daśāśvamedhika, berdaya menghapus dosa. Bab ini menempatkan tīrtha tersebut di antara penanda Āindra dan Vāruṇa, sebagai Śiva-kṣetra dan salah satu stasiun dalam himpunan tīrtha yang agung. Phalaśruti menyatakan: wafat di sana membawa sukacita di alam Śiva; bahkan makhluk yang lahir bukan sebagai manusia pun mencapai keadaan yang lebih tinggi. Persembahan kepada leluhur berupa tila-udaka disebut memuaskan para pitṛ hingga pralaya. Disebut pula yajña terdahulu oleh Brahmā, Indra meraih kedudukan devarāja melalui pemujaan di sana, serta seratus yajña Kartavīrya; penutupnya menegaskan apunarbhava bagi yang meninggal di sana dan kemuliaan surgawi melalui vṛṣotsarga sebanding dengan jumlah rambut pada seekor lembu jantan.

Śatamedhādi Liṅgatraya Māhātmya (Glory of the Three Liṅgas: Śatamedha, Sahasramedha, Koṭimedha)
Dalam adhyāya ini, Īśvara menasihati Devī agar memandang “triad liṅga yang tiada banding” yang berada di Prabhāsa-kṣetra, masing-masing ditempatkan menurut arah dan dikenal dengan sebutan yang terkait yajña. Di selatan berdiri liṅga bernama Śatamedha, yang dikatakan menganugerahkan buah seratus korban suci; ia dihubungkan dengan Kārtavīrya yang dahulu melaksanakan seratus yajña, dan penegakannya disebut melenyapkan seluruh beban dosa. Di bagian tengah termasyhur Koṭimedha; Brahmā dikisahkan melakukan yajña-yajña unggul yang tak terhitung (koṭi) dan menegakkan Mahādeva sebagai “Śaṅkara, pembawa kesejahteraan dunia.” Di utara ada Sahasrakratu (Sahasramedha), terkait Śakra/Indra yang melakukan seribu ritus dan menegakkan liṅga agung sebagai keilahian purba para dewa. Bab ini juga menyebut pemujaan dengan wewangian dan bunga, serta abhiṣeka dengan pañcāmṛta dan air, menegaskan bahwa para bhakta memperoleh buah sesuai nama liṅga yang dipuja. Bagi yang menghendaki hasil ziarah sepenuhnya, dianjurkan go-dāna (sedekah sapi). Pada penutup dinyatakan bahwa “sepuluh juta tīrtha” bersemayam di sana, dan kompleks tri-liṅga di pusat itu bersifat universal sebagai penghancur dosa.

दुर्वासादित्यमाहात्म्यवर्णनम् | The Māhātmya of Durvāsā-Āditya (Sūrya) at Prabhāsa
Adhyaya 236 mengisahkan penetapan dan kemuliaan tirtha ‘Durvāsā-Āditya’ (Sūrya) di dalam Prabhāsa-kṣetra. Para peziarah diarahkan mendatangi tempat suci itu, tempat Mahārṣi Durvāsā menjalani tapa selama seribu tahun dengan disiplin dan pengendalian diri, disertai pemujaan kepada Sūrya. Sūrya menampakkan diri, menganugerahkan anugerah; Durvāsā memohon agar Sūrya bersemayam di sana selama bumi masih ada, agar tirtha itu termasyhur, dan agar kedekatan ilahi dengan arca yang dipasang tetap berlangsung. Sūrya menyetujui, lalu memanggil Yamunā dalam wujud sungai serta Dharma-rāja Yama untuk turut menjaga tatanan kṣetra, memberi perlindungan—terutama bagi para bhakta dan brāhmaṇa berumah tangga. Selanjutnya dijelaskan topografi sucinya: kemunculan Yamunā melalui jalur bawah tanah, penyebutan sebuah kuṇḍa, serta kaitan ‘Dundubhi’/Kṣetrapāla. Disebutkan pula buah kebajikan dari mandi suci dan persembahan bagi leluhur. Bagian akhir menetapkan laku kalender: pemujaan Durvāsā-arka pada Māgha śukla saptamī, mandi dan pūjā Sūrya pada bulan Mādhava, serta pembacaan seribu nama Sūrya di dekat śrīnātha. Phalaśruti menegaskan pahala berlipat, lenyapnya dosa berat, tercapainya tujuan, perlindungan, kesehatan, dan kemakmuran; ditutup dengan batas kesucian (setengah gavyūti) dan ketidaklayakan bagi mereka yang tanpa bhakti kepada Sūrya.

यादवस्थलोत्पत्तौ वज्रेश्वरमाहात्म्यवर्णनम् | Origin of Yādava-sthala and the Māhātmya of Vajreśvara
Bab ini disajikan sebagai dialog Śiva–Devī yang mengubah kisah pasca-epik menjadi peta kesucian setempat: asal-usul Yādava-sthala dan kemuliaan Vajreśvara. Īśvara menunjukkan kepada Devī Yādava-sthala, tempat gugurnya bala Yādava yang besar. Devī memohon sebabnya: mengapa Vṛṣṇi, Andhaka, dan Bhoja musnah di hadapan Vāsudeva. Śiva menuturkan rangkaian kutuk: Sāmba menyamar sebagai perempuan dan memperolok para resi seperti Viśvāmitra, Kaṇva, dan Nārada; para resi murka mengutuk bahwa dari Sāmba akan “lahir” muśala (gada) besi yang membinasakan klan. Walau kata-kata kutuk menyebut Rāma dan Janārdana seakan dikecualikan, keputusan Kāla (waktu/takdir) tetap tak terelakkan. Muśala itu lahir, dihancurkan menjadi serbuk, lalu dibuang ke laut; namun di Dvārakā pertanda-pertanda mengerikan merebak—pembalikan tatanan sosial, bunyi ganjil, keanehan hewan, gagalnya ritual, dan mimpi menakutkan—sebagai peringatan etis. Kṛṣṇa kemudian memerintahkan ziarah ke Prabhāsa. Di sana, karena mabuk, permusuhan internal Yādava memuncak; kekerasan meledak (terutama melibatkan Sātyaki dan Kṛtavarman) hingga terjadi pembantaian saling bunuh. Rumpun alang-alang di pantai berubah menjadi gada laksana vajra, menjadi daya kerja kutuk para resi (brahma-daṇḍa) dan Kāla. Tempat kremasi serta timbunan tulang menjadikan lanskap itu dikenal sebagai ‘Yādava-sthala’. Penutupnya memperkenalkan Vajra, pewaris yang selamat: ia datang ke Prabhāsa, menegakkan liṅga Vajreśvara, dan meraih siddhi melalui tapa di bawah bimbingan Nārada. Ditetapkan pula tata-ritual dan buahnya: mandi suci (mis. di Jāmbavatī-jala), pemujaan Vajreśvara, memberi makan brāhmaṇa, serta persembahan simbolik ṣaṭkoṇa—mendatangkan pahala ziarah agung, disamakan dengan hasil sedekah besar seperti gosahasra-phala.

Hiraṇyā-nadī-māhātmya (हिरण्यानदीमाहात्म्य) — The Glory of the Hiraṇyā River
Adhyaya ini memuat ajaran Īśvara tentang kemuliaan Sungai Hiraṇyā. Sungai ini dipuji sebagai pāpanāśinī (penghapus dosa), puṇyā (pemberi pahala suci), sarvakāmapradā (pemenuh segala tujuan), serta dāridryāntakāriṇī (penghancur kemiskinan). Dijelaskan tata laku ziarah yang ringkas: mendatangi sungai, mandi suci sesuai vidhāna, melaksanakan ritus piṇḍa-udaka bagi para leluhur, lalu menjalankan dana dan penyambutan tamu dengan aturan yang benar. Ditegaskan bahwa pelaksanaan yang tepat mengantar peziarah meraih alam yang tak binasa (akṣaya-loka) dan menolong para leluhur terangkat dari dosa. Ada penekanan khas: memberi makan satu brāhmaṇa yang layak, dengan niat murni dan dalam konteks ritual yang benar, disamakan nilainya dengan memberi makan sangat banyak kaum dvija. Pada akhir bab, dianjurkan persembahan ‘kereta emas’ (hemaratha-dāna) kepada brāhmaṇa yang mahir Weda sebagai arpaṇa bagi Śiva; buahnya diserupakan dengan pahala ziarah yang luas.

नागरादित्यमाहात्म्यम् | The Māhātmya of Nāgarāditya (Nagarabhāskara)
Īśvara menuturkan kepada Devī kemuliaan arca Surya bernama Nāgarāditya/Nāgarabhāskara yang berada dekat tirta suci Hiranyā. Mula-mula dikisahkan asal-usulnya: Satrājit, raja Yādava, menjalankan vrata agung dan tapa untuk menyenangkan Bhāskara. Surya menganugerahinya permata Syamantaka yang setiap hari menghasilkan emas. Ketika diminta memilih anugerah, Satrājit memohon agar Surya senantiasa hadir di pertapaan setempat; sebuah arca bercahaya pun dipratishtha, dan para brāhmana serta warga kota ditugasi menjaganya, sehingga tempat itu dikenal sebagai Nāgarāditya. Selanjutnya disebutkan phalaśruti: sekadar darśana kepada Nāgarārka disamakan dengan dana besar di Prayāga. Dewa ini dipuji sebagai penghapus kemiskinan, duka, dan penyakit, serta ‘tabib sejati’ bagi segala derita. Tata cara meliputi mandi dengan air Hiranyā, pemujaan arca, dan menjalankan Saptamī pada paruh terang—terutama yang bertepatan dengan saṅkramaṇa—ketika semua upacara menjadi berlipat daya hasilnya. Pada penutup terdapat stotra ringkas 21 nama Surya (Vikartana, Vivasvān, Mārtaṇḍa, Bhāskara, Ravi, dan lainnya) yang disebut ‘stavarāja’, penambah kesehatan jasmani. Japa pada fajar dan senja dikatakan memberi hasil yang diinginkan dan akhirnya mengantarkan ke kediaman Bhāskara.

बलभद्र-सुभद्रा-कृष्ण-माहात्म्यवर्णनम् (The Māhātmya of Balabhadra, Subhadrā, and Kṛṣṇa)
Adhyaya ini disampaikan dengan suara “Īśvara uvāca”, mengarahkan bhakta kepada triad suci: Balabhadra, Subhadrā, dan Śrī Kṛṣṇa. Ketiganya dinyatakan sangat berdaya rohani dan pemberi pahala; khususnya Śrī Kṛṣṇa dipuji sebagai “sarva-pātaka-nāśana”, pemusnah segala dosa. Kemuliaan mereka diteguhkan melalui ingatan lintas-kalpa: pada kalpa terdahulu Hari melepaskan tubuh (gātrotsarga) di tempat ini, dan pada kalpa sekarang pun peristiwa serupa dikenang. Dinyatakan pula buah ziarah dan pemujaan: siapa yang melakukan pūjā kepada Balabhadra-Subhadrā-Kṛṣṇa di hadapan (saṃnidhi) Nāgarāditya, ia ditetapkan sebagai svarga-gāmin, menuju surga.

शेषमाहात्म्यवर्णनम् (The Māhātmya of Śeṣa at Mitra-vana)
Bab 241 memuat uraian Īśvara tentang sebuah śrīna di Prabhāsa-kṣetra yang terkait dengan Balabhadra dan dikenali sebagai Śeṣa (berwujud ular). Tempat suci ini berada di Mitra-vana, yang disebut membentang dua gavyūti; di sana juga ada tīrtha pada tri-saṅgama yang dicapai melalui jalur mitis “pātāla-path”. Wujud śrīna digambarkan liṅgākāra dan mahāprabha (sangat bercahaya), serta termasyhur sebagai “Śeṣa” bersama Revatī. Kemudian disampaikan legenda setempat: seorang siddha bernama Jarā, seorang penenun (kaulika) yang dalam idiom kisah disebut ‘pembunuh Viṣṇu’, mencapai peleburan (laya) di tempat ini; sejak itu kawasan tersebut dikenal luas dengan nama Śeṣa. Teks menetapkan pemujaan pada Caitra-śukla-trayodaśī, dengan janji kesejahteraan rumah tangga—keturunan hingga cucu, ternak, dan kebaikan sepanjang setahun. Disebut pula perlindungan bagi anak-anak dari penyakit beruntusan/lepuh seperti masūrikā dan visphoṭaka. Tempat ini digemari berbagai golongan; Śeṣa cepat berkenan oleh persembahan hewan, bunga, dan beragam bali, serta diyakini melenyapkan timbunan dosa.

कुमारीमाहात्म्यवर्णनम् (Kumārī Māhātmya—The Glory of the Maiden Goddess)
Īśvara menuturkan kepada Mahādevī sebuah kisah pelindung di dekat Devī Kumārikā, dengan penanda arah timur sebagai petunjuk letak suci. Pada kalpa Rathantara, asura agung bernama Ruru bangkit menjadi teror bagi dunia: ia mengacaukan para dewa dan gandharwa, membunuh para pertapa serta pelaku dharma, hingga kesinambungan budaya Weda runtuh; di bumi meredup svādhyāya, seruan vaṣaṭ, dan perayaan yajña. Para dewa dan mahārṣi bermusyawarah mencari cara membinasakannya; dari emanasi tubuh mereka berupa keringat, tampaklah seorang gadis ilahi bermata teratai. Ia menanyakan tugasnya, lalu ditetapkan untuk menuntaskan krisis. Sang Devī tertawa; dari tawa itu lahir para pendamping gadis yang membawa pāśa dan aṅkuśa, dan dalam pertempuran mereka memukul mundur bala Ruru. Ruru mengerahkan ilusi gelap (tāmasī), namun Devī tidak terkelabui; ia menembusnya dengan śakti. Ketika Ruru lari menuju laut, Devī mengejar, memasuki samudra, memenggal kepalanya dengan pedang, lalu muncul sebagai Cārma-Muṇḍa-dharā, pembawa kulit dan kepala terpenggal. Kembali ke kṣetra Prabhāsa dengan rombongan yang bercahaya dan beraneka wujud, Devī dipuji para dewa yang takjub sebagai Cāmuṇḍā, Kālarātri, Mahāmāyā, Mahākālī/Kālikā, dan nama-nama pelindung yang dahsyat lainnya. Devī menganugerahkan anugerah; para dewa memohon agar ia tetap bersemayam di kṣetra itu, agar stotranya memberi berkah bagi para pelantun, dan agar para bhakta yang mendengar asal-usulnya dengan bhakti memperoleh penyucian serta tujuan tertinggi (parā gati). Disebutkan pula laku ibadah: pemujaan pada paruh terang, terutama Navamī bulan Āśvina, dinyatakan sangat mujur. Bab ditutup dengan Devī menetap di sana dan para dewa kembali ke surga setelah musuh-musuh mereka ditundukkan.

मंत्रावलिक्षेत्रपालमाहात्म्यवर्णनम् / The Māhātmya of the Mantrāvalī Kṣetrapāla
Dalam bab ini, Īśvara menasihati Devī tentang cara mendekati seorang kṣetrapāla (penjaga wilayah suci) yang sangat kuat, berada di arah Īśāna (timur laut). Sang penjaga digambarkan berhias rangkaian mantra (mantramālā), berjaga demi perlindungan di dekat tepi keemasan (hiraṇya-taṭa), serta menjaga secara khusus sub-wilayah bernama Hīraka-kṣetra, laksana ladang permata. Selanjutnya ditetapkan tata waktu ritus: pada hari ke-13 (trayodaśī) paruh gelap bulan (kṛṣṇa-pakṣa), pemuja hendaknya menghormatinya dengan wewangian, bunga, persembahan makanan, dan bali (persembahan ritual). Pada penutupnya dinyatakan buah kebajikan: bila dipuja dengan benar, sang dewa menjadi pemberi segala keinginan (sarva-kāma-prada), sehingga bhakti kepada kṣetrapāla menghadirkan perlindungan sekaligus pemenuhan harapan dalam tata susila praktik tīrtha.

Vicitreśvaramāhātmya (विचित्रेश्वरमाहात्म्य) — The Glory of Vicitreśvara
Īśvara menasihati Devī agar berangkat ke śrī-kṣetra agung bernama Vicitreśvara, yang berada di tepi Hiraṇyā-tīra. Tīrtha ini dipuji sebagai pemusnah dosa-dosa besar (mahāpātaka-nāśana) dan sangat utama di dalam etika ziarah Prabhāsa-kṣetra. Asal-usulnya dikaitkan dengan Vicitra, juru tulis Yama, yang menjalankan tapa-brata yang amat keras. Berkat tapas itu, sebuah liṅga yang dahsyat (mahāraudra) ditegakkan di sana. Dalam phalaśruti ditegaskan: siapa yang memandang liṅga ini tidak akan memandang alam Yama; karena itu darśana dipandang sebagai tindakan penolak mara-bahaya sekaligus jalan keselamatan rohani.

ब्रह्मेश्वरमाहात्म्यवर्णनम् | Brahmeśvara Māhātmya (Account of the Glory of Brahmeśvara)
Adhyāya ini disampaikan sebagai wejangan ilahi: Īśvara berbicara kepada Devī dan mengarahkan beliau—serta para peziarah—menuju sebuah tempat suci tertentu di wilayah yang sama. Tempat itu berada di tepi Sungai Sarasvatī, di sebelah barat penanda yang terkait dengan Pārṇāditya, dengan petunjuk arah relatif (dekat/lebih tinggi). Di sana terdapat liṅga termasyhur yang pada zaman purba ditegakkan oleh Brahmā, bernama “Brahmeśvara”, yang dipuji sebagai pemusnah segala dosa (sarva-pātaka-nāśana). Tata laku yang diajarkan bersifat khusus tithi: pada hari lunar kedua (dvitīyā), hendaknya seseorang mandi suci di sana, berpuasa (upavāsa), mengekang indria (jitendriya), dan memuja Tuhan para dewa dengan nama “Brahmeśvara”. Ajaran ini juga menekankan bakti kepada leluhur: lakukan tarpaṇa dan śrāddha bagi para pitṛ demi memperoleh kedudukan/alam yang kekal (śāśvataṃ padam).

Piṅgā-nadī-māhātmya (Glorification of the Piṅgā River)
Īśvara menasihati Devī agar pergi ke Piṅgalī, sungai Piṅgā yang berada di barat Ṛṣi-tīrtha, penghancur dosa, dan mengalir menuju samudra. Keutamaannya dijelaskan bertingkat: sekadar memandang (sandarśana) setara pahala upacara besar bagi leluhur; mandi suci (snāna) melipatgandakannya dua kali; tarpaṇa menjadi empat kali; sedangkan śrāddha memberikan buah yang tak terukur. Dikisahkan pula peristiwa lama: para resi yang datang hendak memperoleh darśana Somēśvara—digambarkan sebagai orang selatan, berkulit gelap/berwujud kurang elok—mandi di āśrama yang mulia dekat sungai itu, lalu berubah menjadi indah, “kāma-sadṛśa” (sebanding dengan ideal ketampanan). Mereka takjub dan menyatakan bahwa karena memperoleh “piṅgatva” (nuansa keemasan), sungai itu kelak dinamai Piṅgā. Ditegaskan pula bahwa siapa pun yang mandi di sana dengan bhakti tertinggi, garis keturunannya tidak akan melahirkan anak-cucu yang buruk rupa. Bab ini ditutup dengan para resi menyebar di sepanjang tepi sungai, hidup asketis dengan “yajñopavīta-mātra”, lalu menetapkan berbagai tīrtha melalui kehadiran disiplin dan penamaan ritual.

पिंगलादित्य–पिंगादेवी–शुक्रेश्वरमाहात्म्यवर्णनम् (Māhātmya of Piṅgalāditya, Piṅgā Devī, and Śukreśvara)
Bab ini berbentuk wejangan teologis dari Īśvara kepada Devī, yang menyebutkan tempat-tempat darśana di Prabhāsa-kṣetra beserta laku ritual dan buahnya. Pertama, peziarah diarahkan untuk memandang Piṅgalāditya, wujud Sūrya yang memusnahkan dosa; darśana kepada Surya ditegaskan sebagai tindakan penyucian dan pemberi pahala suci. Lalu Piṅgā Devī diperkenalkan sebagai perwujudan Parvatī, sehingga pemujaan Dewi menjadi bagian dari rangkaian ziarah yang sama. Selanjutnya ditetapkan puasa khusus pada hari lunar ketiga (tṛtīyā); pelakunya dikatakan memperoleh tujuan yang diinginkan serta hasil baik seperti kekayaan dan keturunan. Pada bagian akhir, disebut Śukreśvara, sebuah liṅga/kuil, yang darśananya membebaskan seseorang dari segala noda moral (sarva-pātaka). Dengan demikian, melihat, berpuasa, dan berbhakti dipaparkan sebagai sarana penyucian etis-ritual di dalam kṣetra.

Brahmeśvara-māhātmya (ब्रह्मेश्वरमाहात्म्य) — Origin and Merit of the Brahmeśvara Liṅga
Īśvara menasihati Mahādevī agar pergi ke tempat suci yang telah disebut sebelumnya, yang pernah dipuja Brahmā, terletak di tepi Sungai Sarasvatī dan di sebelah barat Parnāditya. Lalu beliau menuturkan kisah asal-usulnya: sebelum Brahmā menciptakan himpunan makhluk yang empat macam, muncullah seorang perempuan luar biasa, dari golongan yang tak terlukiskan, dihiasi tanda-tanda keindahan sebagaimana lazim dalam Purāṇa. Melihatnya, Brahmā dikuasai nafsu dan memohon persetubuhan; akibatnya seketika kepala kelimanya jatuh dan menjadi seperti keledai—dipahami sebagai kesalahan moral yang langsung berbuah. Menyadari beratnya nafsu terlarang yang timbul terhadap ‘putrinya’, Brahmā datang ke Prabhāsa untuk penyucian, sebab tanpa mandi di tīrtha kemurnian jasmani dan dharma dikatakan tak tercapai. Setelah mandi di Sarasvatī, ia menegakkan liṅga Śiva, Devadeva Śūlin, dan terbebas dari noda, lalu kembali ke kediamannya. Phalaśruti menyatakan: siapa mandi di Sarasvatī dan memandang liṅga Brahmeśvara itu akan lepas dari segala dosa dan dimuliakan di Brahmaloka; terlebih, bila melihatnya pada hari ke-14 paruh terang bulan Caitra, ia meraih kedudukan tertinggi yang terkait dengan Maheśvara.

संगमेश्वरमाहात्म्यवर्णनम् | Sangameśvara Māhātmya (Glory of the Lord of the Confluence)
Īśvara menasihati Devī agar pergi kepada dewa bernama Saṅgameśvara, yang juga dikenal sebagai “Golaka” dan dipuji sebagai pemusnah dosa. Kisah ini menunjukkan letak tirtha pada pertemuan (saṅgama) sungai Sarasvatī dan Piṅgā, serta memperkenalkan resi Uddālaka, pertapa yang telah sempurna dalam tapa di tempat suci itu. Saat Uddālaka menjalani tapa yang sangat berat, sebuah liṅga Śiva menampakkan diri di hadapannya sebagai tanda penerimaan bhakti. Lalu terdengar suara tanpa wujud (aśarīriṇī vāk) yang menyatakan bahwa kehadiran ilahi akan menetap di sana untuk selamanya, dan menetapkan nama tempat suci itu “Saṅgameśvara” karena liṅga muncul tepat di pertemuan sungai. Dinyatakan pula phala: siapa yang mandi suci di saṅgama yang termasyhur dan memandang Saṅgameśvara akan mencapai tujuan tertinggi. Uddālaka memuja liṅga itu tanpa henti dan pada akhir hayat mencapai kediaman Maheśvara, menjadi teladan bhakti di tirtha yang menuntun pada pembebasan.

Gaṅgeśvara Māhātmya (गंगेश्वरमाहात्म्य) — The Glory of Gaṅgeśvara Liṅga
Īśvara berbicara kepada Devī dan mengarahkan perhatiannya pada liṅga termasyhur bernama Gaṅgeśvara, yang dikenal di tiga dunia dan terletak di sebelah barat Saṅgameśvara. Ia mengingatkan kisah lama: pada saat yang genting, Prabhaviṣṇu memanggil Gaṅgā untuk keperluan abhiṣeka (penyiraman suci). Setibanya di sana, Gaṅgā menyaksikan sebuah kṣetra yang amat penuh jasa—sering didatangi para ṛṣi, dipenuhi banyak liṅga, serta dikelilingi āśrama para pertapa. Didorong oleh śiva-bhakti, Gaṅgā pun menegakkan dan menetapkan liṅga di tempat itu; itulah Gaṅgeśvara. Bab ini menyatakan buah ritualnya: darśana semata pada tempat suci ini memberi pahala setara mandi di Gaṅgā, dan seseorang memperoleh kebajikan sebanding dengan seribu yajña Aśvamedha. Dengan demikian, penunjuk lokasi, kisah penetapan oleh Gaṅgā, dan phalaśruti yang tegas menjadi tuntunan bhakti sekaligus penanda ziarah.

Śaṅkarāditya-māhātmya (The Glory of Śaṅkarāditya)
Dalam wacana singkat antara Īśvara dan Devī, bab ini menuntun peziarah untuk memuja tempat suci bernama Śaṅkarāditya, yang disebut berada di sebelah timur Gaṅgeśvara dan didirikan oleh Śaṅkara. Waktu yang paling mujur untuk pemujaan ditetapkan pada hari keenam bulan terang (ṣaṣṭhī, śukla pakṣa). Tata cara persembahan dijelaskan: arghya dipersembahkan dalam bejana tembaga (tāmra-pātra), disiapkan dengan cendana merah (rakta-candana) dan bunga merah (rakta-puṣpa), dilakukan dengan perhatian yang terpusat (samāhita). Buahnya mencakup anugerah rohani dan kesejahteraan: pemuja mencapai alam tertinggi yang terkait dengan Divākara (Surya), memperoleh keberhasilan luhur (parā siddhi), serta terhindar dari kemiskinan (daridratā). Penutupnya menegaskan agar di kṣetra itu orang berupaya sepenuh hati memuja Śaṅkarāditya, sang pemberi hasil bagi segala tujuan yang diinginkan (sarva-kāma-phala-prada).

शङ्करनाथमाहात्म्यवर्णनम् (Śaṅkaranātha Māhātmya—Account of the Glory of Śaṅkaranātha)
Īśvara berbicara kepada Devī dan mengarahkan urutan ziarah menuju liṅga termasyhur bernama Śaṅkaranātha, yang dikenal di tiga dunia sebagai pemusnah dosa. Dikisahkan bahwa Bhānu (Dewa Matahari) melakukan tapa yang agung lalu menegakkan dan menahbiskan liṅga itu, serta mendirikan tempat sucinya. Selanjutnya diajarkan laku etika-ritual yang ringkas: memuja Mahādeva disertai puasa, memberi jamuan kepada para brāhmaṇa, melakukan śrāddha dengan pengendalian indria, serta berdana emas dan pakaian sesuai kemampuan. Buah ajarannya ditegaskan: pelaksana memperoleh Paramadhāma, kediaman tertinggi.

गुफेश्वरमाहात्म्यवर्णनम् | Gufeśvara Shrine-Māhātmya (Description of the Glory of Gufeśvara)
Bab ini disajikan sebagai ajaran ilahi: Īśvara menasihati Mahādevī dan mengarahkan peziarah menuju sebuah tempat suci utama bernama Gufeśvara. Situs ini berada di bagian utara Hiranyā, dipuji sebagai tiada banding dan secara tegas disebut “pemusnah segala dosa”. Penekanan teologisnya terletak pada darśana—sekadar memandang Dewa di Gufeśvara diyakini mengubah batin dan menghapus dosa yang paling berat. Dalam phalaśruti dinyatakan secara hiperbolis bahwa bahkan cela sebesar “krores pembunuhan” pun tersingkir; karena itu Gufeśvara ditetapkan sebagai simpul penting peta kesucian Prabhāsa-kṣetra dan sebagai pusat pemurnian yang menuntun pada keselamatan.

घण्टेश्वरमाहात्म्यवर्णनम् | Ghanteśvara Shrine-Māhātmya (Description of the Glory of Ghanteśvara)
Adhyaya ini menyajikan māhātmya singkat sebagai ajaran Īśvara tentang kehadiran suci di Prabhāsa yang disebut ‘Ghanteśvara’. Beliau dipuji sebagai pemusnah segala dosa (sarva-pātaka-nāśana), dihormati oleh para deva maupun dānava, disembah oleh para ṛṣi dan siddha, serta dikenal menganugerahkan hasil yang diidamkan (vāñchitārtha-phala-prada). Diberikan pula ketentuan waktu ibadah: seorang bhakta manusia yang memuja Ghanteśvara pada tithi Aṣṭamī yang jatuh pada hari Senin (Soma-vāra) akan memperoleh apa yang diinginkan dan dinyatakan terbebas dari dosa. Penutupnya menegaskan bahwa uraian ini berada dalam Skanda Purāṇa, Prabhāsa Khaṇḍa, Prabhāsakṣetra-māhātmya, sebagai adhyaya ke-254.

ऋषितीर्थमाहात्म्य (The Māhātmya of Ṛṣi-tīrtha / Rishi Tirtha)
Īśvara menjelaskan kemuliaan Ṛṣi-tīrtha yang termasyhur di dekat Prabhāsa, terutama bagian baratnya yang menjadi tempat banyak maharsi. Aṅgiras, Gautama, Agastya, Viśvāmitra, Vasiṣṭha bersama Arundhatī, Bhṛgu, Kaśyapa, Nārada, Parvata, dan para ṛṣi lainnya menjalankan tapa yang berat dengan pengendalian diri dan pemusatan batin demi mencapai Brahma-loka yang kekal. Lalu datang kekeringan dan kelaparan besar. Raja bernama Uparicara menawarkan gandum serta harta, beralasan bahwa menerima pemberian adalah mata pencaharian yang tak tercela bagi brāhmaṇa. Para ṛṣi menolak, menjelaskan bahaya etis dari hadiah raja: jatuhnya batin karena loba, belenggu penimbunan (sañcaya) dan dahaga keinginan (tṛṣṇā), serta kemerosotan rohani. Utusan raja menebarkan harta ‘hiranyagarbha’ di dekat pohon udumbara, namun para ṛṣi kembali menolaknya dan melanjutkan perjalanan. Mereka tiba di sebuah danau besar penuh teratai, mandi suci, lalu mengumpulkan batang teratai (bīsa) untuk bertahan hidup. Seorang pertapa pengembara bernama Śunomukha mengambil bīsa itu untuk memancing penyelidikan dharma; para ṛṣi kemudian mengucap sumpah/kutuk yang menggambarkan kemerosotan moral seorang pencuri. Śunomukha menyingkap jati dirinya sebagai Purandara (Indra) dan memuji ketidakserakahan mereka sebagai dasar dunia-dunia yang tak binasa. Para ṛṣi lalu memohon tata cara setempat: siapa pun yang datang, menjaga kemurnian, berpuasa tiga malam, mandi, memberi tarpaṇa kepada leluhur, dan melakukan śrāddha, memperoleh pahala setara semua tīrtha, terhindar dari nasib rendah, serta menikmati pergaulan ilahi.

नन्दादित्यमाहात्म्यवर्णनम् (The Māhātmya of Nandāditya)
Dalam adhyāya ini, Īśvara menjelaskan kepada Devī bahwa di Prabhāsa-kṣetra diperkenankan pendirian dan pemujaan Nandāditya, wujud Sūrya yang dahulu dipasang oleh Raja Nanda. Nanda digambarkan sebagai raja teladan yang membawa kesejahteraan sosial; namun karena buah karma ia terserang kusta yang berat. Saat mencari sebabnya, diceritakan peristiwa lampau: dengan vimāna ilahi pemberian Viṣṇu, Nanda tiba di Mānasarovar dan melihat “teratai kelahiran Brahmā” yang langka, di dalamnya ada Puruṣa bercahaya sebesar ibu jari. Demi gengsi, ia memerintahkan teratai itu diambil; ketika tersentuh terdengar suara mengerikan dan Nanda seketika jatuh sakit. Ṛṣi Vasiṣṭha menafsirkan: teratai itu amat suci; niat memamerkannya kepada khalayak menjadi kesalahan moral, dan sosok di dalamnya adalah Pradyotana/Sūrya sendiri. Ia menetapkan agar Nanda menenangkan dan memuja Bhāskara di Prabhāsa. Nanda pun menegakkan arca Nandāditya dan bersembah dengan arghya serta persembahan lainnya; Sūrya segera menyembuhkan dan berjanji bersemayam di sana, serta menyatakan bahwa siapa yang memandang-Nya pada Saptamī yang jatuh pada hari Minggu akan mencapai keadaan tertinggi. Penutupnya berupa phalaśruti: mandi suci, śrāddha, dan dana—terutama sedekah sapi kapilā atau “sapi ghee”—di tīrtha ini memberi pahala tak terhingga dan menjadi penopang menuju pembebasan.

त्रितकूपमाहात्म्य (Glory of the Trita Well)
Īśvara menuturkan kepada Devī kisah Ātreya, seorang raja/brāhmaṇa terpelajar dari Saurāṣṭra, beserta tiga putranya: Ekata, Dvita, dan yang bungsu, Trita. Trita digambarkan saleh dan menguasai Weda, sedangkan dua kakaknya berwatak menyimpang. Setelah Ātreya wafat, Trita memimpin keluarga, bernazar mengadakan yajña, mengundang para ṛtvij, serta memuja para dewa. Demi memperoleh dakṣiṇā, ia pergi bersama saudara-saudaranya menuju Prabhāsa untuk mengumpulkan ternak; karena kepandaiannya ia menerima sambutan dan pemberian di perjalanan, yang menyalakan iri hati kedua kakaknya. Di tengah jalan muncul seekor harimau yang mengerikan sehingga ternak tercerai-berai. Dekat sebuah sumur kering yang menakutkan, kedua kakak itu memanfaatkan kesempatan: Trita dilemparkan ke dalam lubang tanpa air, lalu mereka pergi membawa kawanan. Di dalam sumur, Trita tidak putus asa; ia melakukan ‘yajña batin’ (mānasa-yajña), melantunkan sūkta dan mempersembahkan homa simbolis dengan pasir. Para dewa berkenan atas śraddhā-nya dan mengutus Sarasvatī untuk memenuhi sumur dengan air, sehingga Trita dapat keluar. Tempat itu kemudian dikenal sebagai Tritakūpa. Bab ini menutup dengan anjuran: mandi suci di sana, melakukan pitṛ-tarpaṇa, serta bersedekah wijen (tila) bersama emas dipuji sebagai kebajikan besar. Tīrtha ini disebut terkasih bagi para pitṛ, termasuk golongan Agniṣvātta dan Barhiṣad; bahkan sekadar melihatnya diyakini menghapus dosa hingga akhir hayat, maka para peziarah dianjurkan mandi di sana demi kesejahteraan.

शशापानतीर्थप्रादुर्भावः (Origin of the Śaśāpāna Tīrtha) / The Emergence of Shashapana Tirtha
Īśvara menuturkan kepada Devī asal-usul tīrtha pemusnah dosa bernama Śaśāpāna, yang terletak di selatan tempat yang dikenang sebagai Śaśāpāna. Setelah para dewa memperoleh amṛta dari pengadukan samudra, banyak tetesannya jatuh ke bumi. Seekor kelinci (śaśaka) yang kehausan masuk ke air; karena bersentuhan dengan telaga yang terisi amṛta, ia memperoleh keadaan luar biasa dan tampak menetap sebagai tanda. Para dewa cemas manusia akan meminum amṛta yang jatuh dan menjadi abadi. Pada saat itu Candra (Niśānātha), terluka oleh serangan pemburu dan tak mampu bergerak, memohon amṛta. Para dewa mengarahkannya untuk minum dari telaga itu, sebab banyak amṛta telah jatuh di sana. Candra meminum air yang terkait dengan kelinci—“bersama kelinci”—lalu menjadi segar dan bercahaya; kelinci pun tetap terlihat sebagai pertanda sentuhan amṛta. Kemudian para dewa menggali kembali cekungan yang mengering hingga air muncul lagi. Karena Candra meminum air yang berhubungan dengan śaśaka, tempat itu dikenal sebagai Śaśāpāna (“minum bersama/melalui kelinci”). Dalam phalaśruti disebutkan: para bhakta yang mandi di sana mencapai tujuan tertinggi yang terkait dengan Maheśvara; yang memberi makanan kepada para brāhmaṇa memperoleh buah semua yajña; dan kelak Sarasvatī datang bersama Vadavāgni untuk semakin menyucikan tīrtha, menegaskan anjuran agar mandi di sana dengan segenap upaya.

पर्णादित्यमाहात्म्यवर्णनम् | The Māhātmya of Parnāditya (Sun Shrine) on the Prācī Sarasvatī
Bab ini, dalam bingkai ajaran Īśvara kepada Mahādevī, menuntun peziarah menuju Parnāditya—tempat suci Dewa Surya di tepi utara Prācī Sarasvatī. Lalu dikisahkan legenda masa lampau: pada zaman Tretā-yuga, seorang brāhmaṇa bernama Parnāda datang ke Prabhāsa-kṣetra dan menjalani tapa yang berat, memelihara bhakti tanpa putus siang dan malam. Ia memuja Surya dengan dupa, rangkaian bunga, olesan wewangian, serta kidung pujian yang selaras dengan Veda. Berkenan, Surya menampakkan diri dan menawarkan anugerah. Sang bhakta memohon terutama karunia darśana langsung yang langka, dan berikutnya memohon agar Surya bersemayam tetap di tempat itu. Surya menyetujui, menjanjikan pencapaian alam Surya baginya, lalu menghilang. Penutupnya memuat tuntunan ziarah dan buah kebajikan: mandi suci pada tithi keenam (ṣaṣṭhī) di bulan Bhādrapada dan memandang Parnāditya mencegah penderitaan; pahala darśana itu disamakan dengan buah sedekah seratus sapi yang dilakukan dengan benar di Prayāga. Disebut pula bahwa mereka yang tersiksa penyakit berat namun tidak mengenali Parnāditya digambarkan kurang kebijaksanaan—menegaskan pentingnya ziarah yang berpengetahuan dan bhakti yang sadar.

Siddheśvara-māhātmya (Glorification of Siddheśvara)
Īśvara menasihati Devī agar menuju Siddheśvara, wujud ketuhanan tertinggi yang berada di bagian barat wilayah Prabhāsa dan dahulu ditegakkan oleh para siddha. Para siddha, makhluk ilahi, datang dan menguduskan serta menegakkan liṅga dengan tujuan jelas: memperoleh siddhi dalam setiap usaha; melihat tapa yang sangat keras itu, Śiva pun berkenan. Śiva menganugerahkan kepada mereka beragam kemampuan luar biasa—seperti aṇimā dan aiśvarya lainnya—serta menyatakan kehadiran-Nya yang abadi (nitya-sānidhya) di tempat tersebut. Lalu diberikan ketentuan waktu: siapa yang memuja Śiva di sana pada hari keempat belas paruh terang (śukla-caturdaśī) bulan Caitra akan mencapai keadaan tertinggi berkat anugerah Śiva. Pada penutup kisah, Śiva lenyap dari pandangan, sementara para siddha terus bersembahyang; ditegaskan pula bahwa pemujaan penuh bhakti kepada Siddheśvara mendatangkan pencapaian besar dan hasil yang diinginkan, maka hendaknya dilakukan terus-menerus.

न्यंकुमतीमाहात्म्यवर्णनम् | Nyankumatī River Māhātmya (Glorification of the Nyankumatī)
Dalam adhyāya ini, Īśvara memberi ajaran teologis kepada Devī dan mengarahkan beliau menuju sungai Nyankumatī. Dikatakan bahwa demi kṣetra-śānti, Śambhu menempatkan sungai ini dalam batas suci (maryādā), dan di bagian selatannya terdapat tempat yang memusnahkan segala dosa. Di tīrtha itu, mandi suci (snāna) sesuai tata cara lalu melaksanakan śrāddha diyakini membebaskan para leluhur dari keadaan neraka dan penderitaan. Ditentukan pula waktu ritual: pada bulan Vaiśākha, paruh terang, tithi ketiga (śukla-tṛtīyā), hendaknya mandi dan mempersembahkan tarpaṇa dengan wijen, rumput darbha, dan air; śrāddha demikian dinyatakan setara pahalanya dengan yang dilakukan di tepi Gaṅgā.

वराहस्वामिमाहात्म्यवर्णनम् (Varāha Svāmī Māhātmya—Account of the Glory of Varāha Svāmī)
Bab ini disajikan sebagai ajaran teologis singkat dari Īśvara kepada Mahādevī. Sang pendengar diarahkan untuk menuju tempat suci Varāha Svāmī yang berada di sebelah selatan Goṣpada, sebuah lokasi kecil yang dipuji sebagai “pāpa-praṇāśana”, yakni tempat lenyapnya dosa dan kekotoran batin. Ditegaskan pula syarat waktu yang utama: pemujaan pada hari Ekādaśī di paruh terang (śukla pakṣa) dinyatakan sangat berdaya guna. Buahnya jelas dan bersifat keselamatan: penyembah terbebas dari segala pāpa dan akhirnya mencapai “Viṣṇu-pada”, kedudukan luhur yang terkait dengan Viṣṇu. Dengan demikian, bab ini merangkum pola tempat–waktu–tindakan (pūjā)–buah sebagai pedoman ringkas dalam peta kesucian Prabhāsa.

छायालिङ्गमाहात्म्यवर्णनम् | The Māhātmya of Chāyā-liṅga (Shadow Liṅga)
Bab ini memuat ajaran ringkas yang bersifat teologis sekaligus geografis: Īśvara berbicara kepada Devī dan menunjuk sebuah liṅga suci bernama Chāyā-liṅga. Tempatnya ditandai dengan jelas—di sebelah utara tīrtha Nyanku(m)atī—sehingga kesucian dipautkan pada lanskap yang dapat dikenali. Selanjutnya ditegaskan kemanjuran luar biasa dan “buah besar” dari darśana Chāyā-liṅga. Seorang bhakta yang memandangnya dengan bhakti memperoleh penyucian dari dosa; namun mereka yang sangat sarat demerit/pāpa dikatakan tidak dapat melihatnya, menandakan bahwa darśana adalah tindakan ritual sekaligus kelayakan moral-spiritual. Penutupnya menyatakan kedudukan teks ini dalam Skanda Purāṇa, Prabhāsa Khaṇḍa, rangkaian Prabhāsakṣetra-māhātmya, sebagai narasi māhātmya Chāyā-liṅga.

नंदिनीगुफामाहात्म्यवर्णनम् / The Māhātmya (Sacred Account) of Nandinī Cave
Adhyaya ini memuat dialog singkat Śaiva–Devī, ketika Īśvara menjelaskan Gua Nandinī yang berada di Prabhāsa-kṣetra. Gua itu disebut secara hakiki sebagai pātaka-nāśinī, yakni tempat yang melenyapkan dosa dan menyucikan. Kesuciannya diteguhkan karena menjadi kediaman serta tempat berkumpul para ṛṣi dan siddha yang berbudi luhur. Inti ajarannya berlandaskan darśana: siapa pun yang datang dan memandang Gua Nandinī diyakini terbebas dari segala dosa dan memperoleh pahala setara dengan laku Cāndrāyaṇa (vrata penebusan/disiplin yang diakui). Dengan demikian, bab ini menandai lokasi suci itu, mengesahkan kemuliaannya melalui kaitan dengan makhluk sempurna, dan menyatakan phalāśruti yang menyamakan ziarah-darśana dengan suatu ritus peniten.

कनकनन्दामाहात्म्यवर्णनम् (Glorification of Goddess Kanakanandā)
Adhyāya ini menyajikan ajaran ringkas bercorak Śaiva-Śākta: Īśvara berbicara kepada Mahādevī dan mengarahkan perhatian pada kṣetra Dewi Kanakanandā yang berada di arah Īśānya (timur laut). Dewi ini dipuji sebagai sarva-kāma-phala-pradā, pemberi buah bagi segala keinginan yang luhur. Ditetapkan pula tata cara ziarah: melakukan yātrā pada bulan Caitra, tepat pada tithi Śukla Tṛtīyā, dan melaksanakannya sesuai aturan (vidhānataḥ), disertai pemujaan kepada sang Dewi. Dengan memadukan tempat suci, waktu yang tepat, dan bhakti yang tertib, peziarah yang disiplin memperoleh tujuan yang diinginkan—sarva-kāma-avāpti—sebagaimana dinyatakan dalam phalāśruti.

Kumbhīśvara Māhātmya (कुम्भीश्वरमाहात्म्य) — The Glory of Kumbhīśvara
Adhyaya ini dibingkai sebagai ajaran Īśvara kepada Mahādevī, yang mengarahkan perhatian pada śrī-kṣetra Kumbhīśvara, dipuji sebagai “tiada banding”, terletak tidak jauh di sebelah timur Śarabhasthāna. Dengan demikian, tempat suci ini ditempatkan dalam jejaring tirtha ziarah Prabhāsa. Inti phalaśruti dinyatakan tegas: hanya dengan darśana (memandang dengan bhakti) kepada Kumbhīśvara, seorang manusia terbebas dari semua dosa (sarva-pātaka). Geografi suci dipahami sebagai sarana penyucian etis-ritual. Pada penutup (kolofon) disebutkan bahwa ini bagian dari Skanda Mahāpurāṇa berjumlah 81.000 śloka, dalam Prabhāsa Khaṇḍa, Prabhāsakṣetra-māhātmya yang pertama, dan dinamai “Kumbhīśvara Māhātmya”, adhyaya ke-266.

गङ्गापथ-गङ्गेश्वर-माहात्म्यवर्णनम् | Glory of Gaṅgāpatha and Gaṅgeśvara
Bab ini merupakan petunjuk tīrtha yang ringkas dalam dialog Śaiva. Īśvara menasihati Devī agar memusatkan perhatian pada tempat suci bernama Gaṅgāpatha, tempat Gaṅgā yang berarus besar mengalir dan perwujudan Śiva sebagai Gaṅgeśvara bersemayam. Gaṅgā dipuji sebagai yang menuju samudra (samudragāminī), pemusnah dosa (pāpanāśinī), terkenal di bumi sebagai ‘Uttānā’, serta perhiasan bagi tiga dunia. Tata cara yang diajarkan: mandi suci di sana lalu memuja Gaṅgeśvara. Dalam phalaśruti dinyatakan bahwa penyembah terbebas dari dosa-dosa berat dan memperoleh pahala setara dengan pelaksanaan Aśvamedha yang sangat banyak. Penutup menegaskan bagian ini sebagai Skanda Mahāpurāṇa, Prabhāsa Khaṇḍa, Prabhāsakṣetra-māhātmya, tentang kemuliaan Gaṅgāpatha–Gaṅgeśvara.

चमसोद्भेदमाहात्म्य (Camasodbheda Māhātmya: The Glory of the Camasodbheda Tīrtha)
Dalam adhyaya ini, Īśvara berbicara kepada Devī dan menuntun peziarah menuju tīrtha agung bernama Camasodbheda di Prabhāsa Khaṇḍa. Asal-usul namanya dijelaskan: Brahmā melakukan satra-yajña yang panjang; para dewa dan maharsi meminum soma dengan menggunakan camas (cawan ritual), sehingga tempat itu di bumi dikenal sebagai Camasodbheda. Selanjutnya dipaparkan tata cara: mandi suci di Sarasvatī yang terkait dengan tīrtha itu, lalu melakukan piṇḍadāna bagi para leluhur. Buah kebajikannya disebut setara ‘sejuta kali Gayā’ (gayā-koṭi-guṇa), dengan penekanan khusus bahwa bulan Vaiśākha adalah waktu yang paling utama. Penutupnya menyatakan kolofon bahwa bab ini termasuk dalam Prabhāsa Khaṇḍa, bagian Prabhāsakṣetra-māhātmya.

विदुराश्रम-माहात्म्यवर्णनम् (Glorification of Vidura’s Hermitage)
Dalam adhyāya ini, Īśvara berbicara kepada Mahādevī dan mengarahkan perhatiannya pada tujuan suci utama: āśrama agung Vidura. Tempat ini dipuji sebagai tīrtha yang luhur, di mana Vidura—dipandang sebagai perwujudan dharma—melakukan tapa yang sangat keras, bersifat ‘raudra’. Kesucian kṣetra ini dihubungkan dengan tindakan Śaiva yang mendasar: penetapan (pratiṣṭhā) liṅga Mahādeva yang dikenal sebagai Tribhuvaneśvara, seakan-akan menampakkan kedaulatan Śiva atas tiga dunia secara setempat. Dinyatakan bahwa para bhakta yang memperoleh darśana atas liṅga itu akan meraih tujuan yang diinginkan serta mengalami peredaan dosa. Lokasi ini disebut Vidurāṭṭālaka, diiringi oleh gaṇa dan gandharva, serta merupakan kompleks suci ‘dua belas stasiun’ (dvādaśasthānaka) yang sulit dicapai tanpa kebajikan besar. Ciri alam yang khas—tidak turunnya hujan—disebut sebagai penanda keistimewaan kṣetra. Penutupnya menegaskan bahwa memandang liṅga-liṅga ilahi di sana menolong menenteramkan dan menghapus akibat dosa.

Prācī Sarasvatī–Maṅkīśvara Māhātmya (प्राचीसरस्वतीमंकीश्वरमाहात्म्य)
Bab ini menampilkan wejangan teologis Śaiva: Īśvara (Śiva) mengajar Devī tentang sebuah liṅga di tempat mengalirnya Prācī Sarasvatī, bernama Maṅkīśvara. Dikisahkan asal-usulnya: ṛṣi pertapa Maṅkaṇaka menjalani tapa panjang dengan diet teratur dan studi suci. Ketika dari tangannya keluar cairan mirip getah tumbuhan, ia mengira itu tanda siddhi luar biasa lalu menari dalam ekstase. Tarian itu mengguncang kosmos—gunung bergeser, samudra bergejolak seperti dimantha, sungai menyimpang, dan tatanan benda langit kacau—hingga para dewa, dipimpin Indra bersama Brahmā dan Viṣṇu, memohon kepada Tripurāntaka (Śiva) agar menghentikannya. Śiva datang menyamar sebagai brāhmaṇa, menanyai sebabnya, lalu menunjukkan keajaiban yang lebih tinggi dengan memunculkan abu suci (bhasma) dari ibu jari, meluruskan kekeliruan sang ṛṣi dan memulihkan keteraturan. Maṅkaṇaka mengakui keunggulan Śiva dan memohon agar tapanya tidak berkurang; Śiva menganugerahkan peningkatan tapa dan menetapkan kehadiran-Nya yang abadi di tempat itu. Bagian berikutnya memaparkan tata cara tirtha dan buah kebajikan. Prācī Sarasvatī dipuji sangat utama, terutama di Prabhāsa; wafat di tepi utara disebut mencegah kembali (dalam kerangka pembebasan teks) dan memberi pahala laksana aśvamedha. Mandi dengan disiplin membawa siddhi tertinggi dan kedudukan luhur Brahman; sedekah emas sekecil apa pun kepada brāhmaṇa yang layak berbuah sebesar Meru; śrāddha menyejahterakan banyak generasi; persembahan satu piṇḍa dan tarpaṇa mengangkat leluhur dari keadaan buruk; anna-dāna meneguhkan jalan menuju mokṣa; pemberian seperti dadih dan selimut wol memberi capaian loka tertentu; mandi untuk menghapus kenajisan disamakan dengan buah go-dāna. Ditekankan pula mandi pada caturdaśī kṛṣṇa-pakṣa, serta bahwa sungai ini sukar dijangkau oleh yang kurang berjasa; disebut Kurukṣetra, Prabhāsa, dan Puṣkara. Bab ditutup dengan penetapan sānnidhya Śiva dan sebuah bait yang dinisbatkan kepada Viṣṇu, menasihati putra Dharma agar memilih Prācī Sarasvatī melebihi tirtha-tirtha termasyhur lainnya.

Jvāleśvara Māhātmya (ज्वालेश्वरमाहात्म्य) — The Glory of the Jvāleśvara Liṅga
Bab ini mengisahkan asal-usul liṅga bernama Jvāleśvara yang berada dekat kawasan suci utama Prabhāsa. Īśvara menjelaskan bahwa liṅga itu dikenang sebagai “Jvāleśvara” karena di tempat itulah daya panah/astrā Pāśupata yang terkait dengan Tripurāri—Śiva sebagai penghancur Tripura—pernah dijatuhkan, digambarkan memancar seperti nyala dan sinar yang menyala-nyala. Dengan demikian, peristiwa mitis-teologis diikatkan pada penanda ziarah yang tetap, menjadikan mitos hadir sebagai geografi suci. Ajaran praktisnya singkat: darśana (melihat dengan hormat) liṅga ini saja dikatakan menyucikan, membebaskan seorang bhakta manusia dari segala pāpa (dosa). Bingkai awal-akhir menegaskan bahwa ini bagian Skanda Mahāpurāṇa, dalam Prabhāsa Khaṇḍa, unit pertama Prabhāsakṣetramāhātmya, dan dinamai sebagai adhyāya ke-271.

त्रिपुरलिंगत्रयमाहात्म्यम् | The Māhātmya of the Three Tripura Liṅgas
Adhyāya ini disampaikan sebagai wejangan teologis oleh Īśvara. Sang peziarah diarahkan untuk memandang, di wilayah suci yang sama, suatu tempat di arah timur (prācī) dekat hadirat Dewi (devyāḥ saṃnidhi). Di sana disebutkan adanya tiga liṅga yang dipersembahkan bagi tokoh-tokoh Tripura yang “berjiwa agung”, yakni Vidyunmālī, Tāraka, dan Kapola. Inti ajaran bab ini mengaitkan arah tempat, pengenalan liṅga-traya, dan buah etika-ritualnya: darśana semata atas liṅga-liṅga yang telah dipratishtha itu dinyatakan membebaskan dari pāpa. Pada penutupnya, bab ini ditempatkan dalam Skanda Mahāpurāṇa, Prabhāsa Khaṇḍa, bagian Prabhāsakṣetramāhātmya, dengan tema “māhātmya tiga Tripura liṅga”.

शंडतीर्थ-उत्पत्ति तथा कपालमोचन-लिङ्गमाहात्म्य (Origin of Śaṇḍa-tīrtha and the Kapālamocana Liṅga)
Īśvara menasihati Devī tentang kemuliaan Śaṇḍa-tīrtha—sebuah tempat suci yang tiada banding, menenteramkan segala dosa dan menganugerahkan hasil yang diinginkan. Dalam kisah terdahulu, Brahmā digambarkan berkepala lima; pada suatu keadaan, Īśvara memenggal satu kepalanya. Dari aliran darah dan tanda-tanda yang menyertainya, wilayah itu menjadi tersucikan, dan pohon-pohon palem besar pun tumbuh; karenanya tempat itu dikenang sebagai rimba palem. Tengkorak (kapāla) melekat pada tangan Īśvara; akibatnya tubuh beliau dan lembu tunggangannya menjadi gelap. Karena takut akan pelanggaran, keduanya berziarah, namun tiada tempat yang mampu melepaskan beban itu. Akhirnya di Prabhāsa, beliau melihat Sarasvatī yang menghadap ke timur (Prācī Devī). Saat lembu itu mandi, seketika ia menjadi putih; pada saat yang sama Īśvara terbebas dari dosa pembunuhan (hatyā). Ketika itu kapāla jatuh dari tangan, dan tempat tersebut ditegakkan sebagai wujud Liṅga Kapālamocana. Bab ini juga menetapkan tata cara śrāddha di dekat Prācī Devī, yang memberi kepuasan luas bagi para leluhur—terutama bila dilakukan pada Caturdaśī paruh gelap (Kṛṣṇa-pakṣa) bulan Āśvayuja, dengan prosedur yang benar, penerima yang layak, serta persembahan dan dana seperti makanan, emas, dadih, dan selimut. Penamaan Śaṇḍa-tīrtha dijelaskan dari perubahan warna lembu menjadi putih.

Sūryaprācī-māhātmya (Glory of Sūryaprācī)
Adhyaya ini menyajikan ajaran singkat tentang tirtha di dalam Prabhāsa-kṣetra. Īśvara berbicara kepada Mahādevī, memerintahkannya (dan juga para peziarah) untuk menuju Sūryaprācī, yang digambarkan bercahaya dan sangat berdaya. Tempat suci ini dipahami sebagai sarana penyucian—penenang segala dosa—serta pemberi buah dari tujuan yang sah, selaras dengan etika Purāṇa tentang ziarah yang tertib dan berdisiplin. Tindakan ritual utama yang ditetapkan adalah mandi suci (snāna) di tirtha tersebut. Dinyatakan bahwa dengan bersnāna di Sūryaprācī seseorang terbebas dari pañca-pātaka, yakni lima pelanggaran besar dalam wacana dharma, menegaskan corak penebusan dosa yang kuat dalam sastra māhātmya. Kolofon menyebutnya sebagai bagian Skanda Mahāpurāṇa, saṃhitā 81.000 śloka, khanda ketujuh (Prabhāsa Khaṇḍa), bagian Prabhāsakṣetramāhātmya, dengan nama bab: kemuliaan Sūryaprācī.

त्रिनेत्रेश्वरमाहात्म्यवर्णनम् | The Māhātmya of Trinetreśvara (Three-Eyed Śiva)
Bab 275 memaparkan secara ringkas kemuliaan tirtha Trinetreśvara, wujud Śiva bermata tiga, beserta tuntunan ritualnya di dekat Ṛṣi-tīrtha. Īśvara menasihati Mahādevī agar peziarah mendatangi Śiva Trinetra di tempat yang berada di utara tepi sungai Nyanku-matī, lokasi yang dahulu dipuja para resi. Air setempat digambarkan bening laksana kristal, dan disebut pula ciri khas perairan (lambang ikan/mahluk air) yang melekat pada identitas tirtha itu. Ajaran utamanya menekankan penyucian: mandi suci di sana dikatakan membebaskan dari golongan dosa berat seperti brahmahatyā. Selanjutnya ditetapkan sebuah vrata menurut penanggalan: pada caturdaśī paruh gelap (kṛṣṇa-pakṣa) bulan Bhādrapada hendaknya berpuasa dan berjaga semalam. Pada pagi harinya dilakukan śrāddha, lalu pemujaan kepada Śiva sesuai tata cara yang benar. Bagian phalaśruti menjanjikan tinggal lama di Rudra-loka dalam ungkapan durasi yang besar dan baku, mengaitkan praktik tirtha, pelaksanaan vrata, dan ganjaran pascakematian dalam kerangka keselamatan Śaiva.

Devikā-tīra Umāpati-māhātmya (देविकायामुमापतिमाहात्म्यवर्णनम्) — The Glory of Umāpati at the Devikā Riverbank
Adhyāya ini memuat ajaran Īśvara kepada Devī tentang perjalanan ziarah menuju Ṛṣi-tīrtha serta kemuliaan sebuah kṣetra yang amat utama di tepi sungai Devikā. Teks melukiskan ‘Mahāsiddhivana’, hutan para siddha, dengan gambaran alam yang kaya: pepohonan berbunga dan berbuah, kicau burung, satwa, gua, dan pegunungan; lalu terbentang perhimpunan banyak makhluk—deva, asura, siddha, yakṣa, gandharva, nāga, dan apsaras—yang melakukan puja-bhakti melalui pujian, tarian, musik, hujan bunga, meditasi, dan gerak ekstase, menjadikan tempat itu laksana lanskap liturgis. Selanjutnya Īśvara menetapkan sebuah kedudukan ilahi yang kekal bernama ‘Umāpatīśvara’, menyatakan kehadiran-Nya terus-menerus sepanjang yuga, kalpa, dan manvantara, serta keterikatan khusus pada tepi Devikā yang membawa keberkahan. Ditetapkan pula waktu ritual: śrāddha pada amāvāsyā (bulan mati) di bulan Puṣya; phalāśruti menegaskan pahala persembahan tak akan binasa dan darśana di sana melenyapkan dosa besar, bahkan yang disamakan dengan “seribu brahmahatyā”. Dianjurkan dāna seperti sapi, tanah, emas, dan pakaian; pelaksana upacara leluhur di sana dipuji sebagai sangat berjasa. Di akhir, dijelaskan asal nama: sungai disebut ‘Devikā’ karena para dewa berkumpul untuk mandi; karenanya ia termasyhur sebagai ‘pāpa-nāśinī’, penghancur dosa.

Bhūdhara–Yajñavarāha Māhātmya (भूधरयज्ञवराहमाहात्म्य)
Bab ini menandai sebuah tirtha suci di tepi Sungai Devikā, tempat ‘Bhūdhara’ patut didarśan (dikunjungi dan dipuja). Asal nama dijelaskan melalui kisah puranik dan penalaran ritual: Varāha, sang babi hutan ilahi yang mengangkat bumi, dihadirkan kembali, dan lokasi ini dipahami lewat alegori yajña yang panjang. Tubuh Varāha dipetakan ke unsur-unsur Veda dan yajña—Veda sebagai kaki, yūpa sebagai taring, sruva/sruc sebagai mulut/wajah, agni sebagai lidah, darbha sebagai rambut, dan brahman sebagai kepala—sehingga kosmologi dan struktur kurban suci dipadukan menjadi satu ajaran teologis. Bagian akhir menetapkan tata cara śrāddha dengan penanda kalender: bulan Puṣya, amāvāsyā, ekādaśī, konteks musim, serta saat matahari memasuki Kanyā (Virgo). Disebutkan persembahan makanan seperti pāyasa bercampur gula aren dan havis bercampur gula aren, pemanggilan serta penyucian bagi para Pitṛ, dan mantra-mantra terperinci untuk ghee, dadih, susu, dan hidangan lain; kemudian jamuan bagi vipra yang berilmu dan piṇḍa-dāna. Pernyataan buah (phala) menegaskan bahwa śrāddha yang dilakukan dengan benar di sini memuaskan leluhur untuk masa kosmis yang panjang dan memberikan hasil setara Gayā-śrāddha tanpa harus pergi ke Gayā, sehingga kemuliaan penyelamat tirtha setempat ditinggikan.

देविकामाहात्म्य–मूलस्थानमाहात्म्यवर्णनम् (Devikā Māhātmya and the Glory of Mūlasthāna/Sūryakṣetra)
Bab ini tersaji sebagai dialog suci Śiva–Devī. Īśvara menunjuk sebuah tempat termasyhur dekat tepi indah Sungai Devikā, yang terhubung dengan Bhāskara (Sūrya). Devī memohon penjelasan: bagaimana Vālmīki menjadi “siddha”, dan mengapa Tujuh Resi dirampok. Īśvara lalu menuturkan kisah lampau: seorang putra dari garis brāhmaṇa (disebut Vaiśākha/Viśākha) mencuri demi menafkahi orang tua yang renta dan rumah tangga. Dalam ziarah, ia menghadang Saptaṛṣi; para resi tetap tenang. Aṅgiras mengajukan tanya dharma: siapa yang akan menanggung beban karma dari harta yang diperoleh lewat adharma? Ketika si pencuri bertanya kepada orang tua dan kemudian istrinya, mereka menolak berbagi dosa, menegaskan bahwa buah karma ditanggung pelaku sendiri. Kesadaran itu menumbuhkan vairāgya. Ia mengaku bersalah dan memohon cara meninggalkan tindak kekerasan dan pencurian. Para resi mengajarkan mantra empat suku kata “झाटघोट”, yang disebut pemusnah dosa dan pemberi mokṣa bila dijapa dengan satu titik perhatian serta selaras dengan guru. Dengan japa dan penyerapan panjang, ia menjadi mantap; waktu berlalu hingga tubuhnya tertutup gundukan semut (valmīka). Para resi kembali, menggali gundukan itu, mengenali pencapaiannya, menamainya Vālmīki, dan menubuatkan lahirnya tutur ilham yang kelak menjadi Rāmāyaṇa. Kemudian diteguhkan kemuliaan tirtha: di bawah akar pohon nimba bersemayam Sūrya sebagai dewa penjaga; tempat itu disebut Sūryakṣetra dan Mūlasthāna. Mandi suci, tarpaṇa dengan air wijen, serta śrāddha di sana mengangkat para leluhur; bahkan hewan memperoleh manfaat lewat sentuhan air. Disebut pula bahwa pada waktu kalender tertentu, upacara di tempat itu meredakan beberapa penyakit kulit. Bab ditutup dengan anjuran darśana kepada dewa dan mendengarkan kisah ini sebagai sarana menyingkirkan dosa besar.

च्यवनादित्यमाहात्म्य—सूर्याष्टोत्तरशतनाम-माहात्म्यवर्णनम् (Cāvanāditya Māhātmya—The Glory of Sūrya’s 108 Names)
Bab ini memuat ajaran bhakti-ritual dalam bingkai kisah tempat suci. Īśvara menuturkan kepada Devī tentang kedudukan surya yang utama bernama Cāvanārka, berada di sisi timur Hiraṇyā dan dahulu ditegakkan oleh resi Cyavana. Pada hari lunar ketujuh (saptamī), pemuja hendaknya bersuci, mengikuti tata cara yang tertib, memuji Sang Surya, dan melafalkan aṣṭottaraśata-nāma—108 nama Surya—dengan perhatian yang terpusat. Daftar nama yang panjang kemudian menguraikan jati diri Surya melalui padanan kosmis: sebagai satuan-satuan waktu (kalā, kāṣṭhā, muhūrta, pakṣa, māsa, ahorātra, saṃvatsara), sebagai wujud para dewa (Indra, Varuṇa, Brahmā, Rudra, Viṣṇu, Skanda, Yama), serta sebagai fungsi semesta (dhātṛ, prabhākara, tamonuda, lokādhyakṣa). Disampaikan pula garis transmisi: himne ini diajarkan oleh Śakra, diterima Nārada, lalu Dhaumya, dan akhirnya Yudhiṣṭhira yang memperoleh tujuan yang diinginkan. Pada penutup (phalaśruti) ditegaskan bahwa pembacaan harian—terutama saat matahari terbit—menganugerahkan kemakmuran (harta dan permata), keturunan, peningkatan daya ingat dan kecerdasan, lenyapnya duka, serta terpenuhinya niat; semuanya dipandang sebagai buah sah dari bhakti yang disiplin.

च्यवनेश्वरमाहात्म्यवर्णनम् | The Māhātmya of Cyavaneśvara
Bab ini berupa dialog Śiva–Devī yang memperkenalkan liṅga Cyavaneśvara di Prabhāsa-kṣetra, dipuji sebagai ‘sarva-pātaka-nāśana’, pemusnah segala dosa dan cela. Lalu dikisahkan asal-usul resi Bhārgava, Cyavana: ia tiba di Prabhāsa, bertapa sangat keras hingga tak bergerak seperti sthāṇu, kemudian tertutup gundukan semut, sulur, dan semut-semut. Raja Śaryāti datang berziarah dengan rombongan besar bersama putrinya, Sukanyā. Saat berjalan dengan para sahabatnya, Sukanyā mendekati gundukan itu dan, mengira mata sang resi sebagai benda bercahaya, menusuknya dengan duri. Murka Cyavana menimbulkan hukuman berupa gangguan yang melumpuhkan pasukan raja—digambarkan sebagai tersumbatnya fungsi pembuangan. Setelah diselidiki, Sukanyā mengakui perbuatannya dan Śaryāti memohon ampun. Cyavana memberi pengampunan dengan syarat Sukanyā dinikahkan dengannya; raja pun menyetujui. Penutup bab menonjolkan bakti Sukanyā: dengan disiplin, penghormatan kepada tamu, dan ketulusan, ia melayani suami pertapanya, sehingga kemuliaan tirtha dihubungkan dengan tuntunan etika—tanggung jawab, penebusan, dan pelayanan setia.

च्यवनेश्वर-माहात्म्यवर्णनम् (Chyavaneśvara Māhātmya—Narration of the Glory of Chyavana’s Lord/Shrine)
Īśvara menuturkan kisah Sukanyā, putri Śaryāti dan istri resi Cyavana. Di hutan, Aśvinīkumāra—dua dewa tabib—menemui Sukanyā; mereka memuji kecantikannya dan menonjolkan ketidakmampuan Cyavana yang telah renta, agar ia meninggalkan suaminya. Namun Sukanyā teguh dalam dharma kesetiaan istri (pativratā) dan menolak bujukan itu. Kemudian Aśvin menawarkan jalan pemulihan: mereka akan membuat Cyavana kembali muda dan tampan; setelah itu Sukanyā boleh memilih suami di antara mereka bertiga. Sukanyā menyampaikan usul itu kepada Cyavana dan sang resi menyetujuinya. Cyavana dan kedua Aśvin masuk ke air danau untuk mandi ritual, lalu segera muncul kembali dalam wujud muda yang sama-sama bercahaya sehingga sulit dibedakan. Dengan kebijaksanaan dan keteguhan hati, Sukanyā mengenali dan memilih Cyavana sebagai suaminya yang sah. Cyavana yang puas menawarkan anugerah kepada Aśvin. Mereka memohon hak meminum Soma dan memperoleh bagian dalam upacara yajña—kedudukan yang konon ditolak oleh Indra. Cyavana berjanji menetapkan kelayakan mereka atas bagian yajña dan Soma; Aśvin pun pergi dengan gembira, sementara Cyavana dan Sukanyā menikmati kembali kehidupan rumah tangga yang pulih. Bab ini menegaskan teladan kesetiaan, keabsahan penyembuhan dalam bingkai dharma, serta penetapan status ritual melalui wibawa resi.

Chyavanena Nāsatyayajñabhāga-pratirodhaka-vajra-mocanodyata-śakra-nāśāya Kṛtyodbhava-Madonāma-mahāsurotpatti-varṇanam (Chyavaneśvara Māhātmya)
Bab ini mengisahkan pertentangan ritual-teologis di āśrama ṛṣi Cyavana dari garis Bhārgava. Raja Śaryāti, gembira mendengar Cyavana kembali berdaya, muda, dan makmur, datang bersama rombongan dan disambut dengan hormat. Cyavana menawarkan diri menjadi pemimpin upacara yajña bagi sang raja; arena kurban disiapkan dengan tata cara yang teladan. Saat pembagian soma, Cyavana mengambil soma-graha untuk Aśvin (Nāsatya). Indra menolak, dengan alasan Aśvin dikenal sebagai tabib dan pelayan yang bergaul di tengah manusia, sehingga tidak berhak atas bagian soma seperti para dewa lainnya. Cyavana menegur Indra, menegaskan keilahian serta jasa Aśvin bagi dunia, lalu tetap mempersembahkan soma meski Indra memperingatkan. Indra murka dan hendak memukul Cyavana dengan vajra, namun lengan Indra dibuat kaku oleh daya tapa Cyavana. Untuk menegaskan wibawa yajña, Cyavana mempersembahkan oblation bermatra hingga lahir kṛtyā; dari tapasnya muncul makhluk dahsyat bernama Mada, digambarkan berukuran kosmis, mengaum menutupi jagat, melesat hendak menelan Indra. Kisah ini menyoroti hak dalam yajña, otoritas sang ṛtvij, dan batas etis paksaan ilahi di dalam ruang kurban suci.

च्यवनेश्वरमाहात्म्यवर्णनम् | The Māhātmya of Chyavaneśvara (Glory of the Chyavana-installed Liṅga)
Bab ini memaparkan asal-usul tempat suci dan tata-ritus bagi liṅga bernama Chyavaneśvara di Prabhāsa-kṣetra. Dalam sabda Īśvara, diceritakan suasana pertentangan: Śakra (Indra) digambarkan gentar di hadapan kehadiran yang dahsyat, sementara ṛṣi Bhārgava, Chyavana, tampil sebagai otoritas tapa yang menentukan. Hak Aśvin untuk menikmati Soma ditegaskan sebagai buah tindakan Chyavana; hal itu bukan kebetulan, melainkan diatur untuk menampakkan daya rohani sang ṛṣi serta menegakkan kemasyhuran abadi bagi Sukanyā dan garis keturunannya. Selanjutnya disebutkan bahwa Chyavana bersuka-ria (vijahāra) bersama Sukanyā di kawasan hutan suci ini dan menegakkan liṅga yang melenyapkan dosa, yang dikenal sebagai Chyavaneśvara. Disampaikan pula ketentuan jelas: pemujaan yang benar kepada liṅga ini menghasilkan pahala setara yajña Aśvamedha. Bab ini juga menunjuk Candramas-tīrtha, tempat yang sering didatangi para resi Vaikhānasa dan Vālakhilya. Pada hari purnama (pauṇamāsī), terutama di bulan Aśvin, hendaknya dilakukan śrāddha menurut aturan dan memberi jamuan kepada brāhmaṇa secara terpisah; dengan itu diperoleh pahala ‘koṭi-tīrtha’. Penutupnya menyatakan bahwa mendengar kisah pemusnah dosa ini membebaskan seseorang dari timbunan dosa yang terkumpul sepanjang kelahiran-kelahiran.

सुकन्यासरोमाहात्म्यवर्णनम् (Glorification of Sukanyā-saras)
Dalam adhyāya ini, Īśvara berbicara kepada Mahādevī dan mengarahkan perhatian pada Sukanyā-saras, sebuah danau tirtha yang utama di dalam Prabhāsa-kṣetra. Kisah terkenal tentang Sukanyā, resi Cyavana, dan pasangan Aśvin ditempatkan di sini: Aśvin dikatakan berendam bersama Cyavana di danau itu, lalu karena daya suci pemandian, Cyavana mengalami perubahan rupa dan memperoleh wujud yang sebanding dengan Aśvin. Dijelaskan pula alasan penamaannya: karena keinginan Sukanyā terpenuhi melalui kemuliaan mandi di saras (saras-snāna-prabhāva), danau itu dikenang juga sebagai “Kanyā-saras.” Sesudahnya hadir uraian seperti phalaśruti, menekankan terutama perempuan yang mandi di sana, khususnya pada tithi tṛtīyā; buahnya disebut sebagai perlindungan dari keretakan rumah tangga sepanjang banyak kelahiran, serta terhindar dari pasangan yang ditandai kemiskinan, cacat, atau kebutaan—sebagai pernyataan pahala tradisional dari laku tirtha.

अगस्त्याश्रम-गंगेश्वर-माहात्म्यवर्णनम् (Agastya’s Āśrama and the Glory of Gaṅgeśvara)
Bab ini disusun sebagai dialog teologis Śiva–Devī yang sekaligus menjadi penuntun ziarah tīrtha. Īśvara mengarahkan Devī menuju Sungai Nyanku-matī dan simpul-simpul sucinya: melakukan Gayā-śrāddha di tīrtha utama bernama Goṣpada, menyaksikan Varāha, melanjutkan ke kediaman Hari, menghormati para Ibu Ilahi (Mātṛ), serta mandi suci di pertemuan sungai dan samudra. Setelah itu kisah bergerak ke timur, ke āśrama ilahi Agastya di tepi Nyanku-matī yang indah, dipuji sebagai tempat penghapus lapar (kṣudhā-hara) dan pelenyap dosa. Devī bertanya mengapa Vātāpi ditundukkan dan apa yang membangkitkan murka Agastya. Īśvara menuturkan peristiwa Ilvala–Vātāpi: dengan jamuan palsu mereka berulang kali membunuh para brāhmaṇa dan menipu dengan siasat menghidupkan kembali. Para brāhmaṇa lalu memohon perlindungan Agastya. Di Prabhāsa, Agastya menghadapi para raksasa itu, memakan Vātāpi yang disajikan dalam wujud domba sehingga tipu daya kebangkitannya gugur, lalu membakar Ilvala menjadi abu; tempat yang pulih dan kaya itu kemudian dianugerahkan kepada para brāhmaṇa, sehingga dikenal sebagai wilayah ‘penghapus lapar’. Karena memakan raksasa dipandang menimbulkan kenajisan tertentu, Gaṅgā dipanggil untuk menyucikan Agastya; Gaṅgā pun bersemayam di sana dan tempat suci itu dinamai Gaṅgeśvara. Penutup bab menegaskan klaim tīrtha: melihat Gaṅgeśvara serta melakukan snāna, dāna, dan japa membebaskan dari dosa yang timbul dari ‘konsumsi terlarang’, menekankan penebusan melalui tempat, ritus, dan ingatan suci.

बालार्कमाहात्म्यवर्णन (Bālārka Māhātmya — Account of the Glory of Bālārka)
Bab ini disajikan sebagai ajaran Īśvara kepada Devī dalam rangkaian penjelasan perjalanan suci di Prabhāsa-kṣetra. Īśvara menuntun peziarah menuju tīrtha Bālārka yang termasyhur sebagai pemusnah dosa (pāpa-nāśana), terletak di utara āśrama Agastya dan tidak terlalu jauh. Lalu dijelaskan asal nama tempat itu: pada masa lampau Surya (Arka) dikisahkan bertapa (tapas) di sana dalam wujud muda/kanak-kanak (bāla), sehingga disebut Bālārka. Disebut pula phala darśana pada hari Minggu (ravivāra): orang yang melihatnya tidak akan terserang kuṣṭha (penyakit kulit) dan penderitaan anak-anak yang timbul dari penyakit tidak akan muncul. Dengan demikian, bab ini memadukan petunjuk geografi suci, teologi asal-nama, dan phalaśruti kesehatan yang terkait bhakti menurut penanggalan.

अजापालेश्वरीमाहात्म्यम् | Ajāpāleśvarī Māhātmya (Glory of Ajāpāleśvarī)
Īśvara berbicara kepada Devī dan mengarahkan perhatiannya pada sebuah kṣetra suci bernama Ajāpāleśvarī, yang terletak tidak jauh dari Agastya-sthāna. Di sana, Raja Ajāpāla dari wangsa Raghu memuja Sang Dewī sebagai penghancur dosa dan penyakit. Kisah ini menuturkan bahwa raja menenangkan berbagai derita yang diibaratkan sebagai penyakit “berwujud kambing” (ajā-rūpa), lalu menegakkan (mempratiṣṭhākan) arca/kehadiran Dewī dengan namanya sendiri, agar beliau bersemayam sebagai pemusnah dosa. Bab ini memadukan kemuliaan tempat suci, dukungan raja, dan tuntunan waktu ritual. Pada bagian phalaśruti disebutkan: pemujaan dengan bhakti pada tithi Tṛtīyā, sesuai tata cara, menganugerahkan kekuatan, kecerdasan, kemasyhuran, pengetahuan, dan keberuntungan.

बालार्कमाहात्म्यवर्णनम् | The Māhātmya of Bālārka (the ‘Child-Sun’ Shrine)
Īśvara menuturkan kepada Devī petunjuk perjalanan: di sebelah timur tempat Agastya, pada jarak yang ditandai ukuran gavyūti, terdapat situs suci yang masyhur bernama Bālāditya/Bālārka. Bab ini menyebut tanda-tanda wilayah sekitar, termasuk tempat yang terkait dengan Sapāṭikā, serta menegaskan kemasyhuran śrī-kṣetra tersebut. Lalu dikisahkan asal-usulnya: resi Viśvāmitra memuja Vidyā (daya pengetahuan suci) di sana, menegakkan tiga liṅga, dan menempatkan wujud Surya, Ravi. Melalui sādhana yang disiplin ia memperoleh siddhi dari Sang Surya; sejak itu dewa tersebut dikenal luas sebagai Bālāditya/Bālārka. Phalaśruti menutup ajaran: siapa pun yang memandang Bhāskara ini—dipuji sebagai ‘pencuri dosa’—tidak akan menderita kemiskinan selama hidupnya; darśana ditegaskan sebagai perbuatan penuh pahala dalam ziarah Prabhāsa.

पातालगंगेश्वर–विश्वामित्रेश्वर–बालेश्वर लिङ्गत्रयमाहात्म्य (Glory of the Three Liṅgas: Pātāla-Gaṅgeśvara, Viśvāmitreśvara, and Bāleśvara)
Dalam adhyāya ini, Īśvara berbicara kepada Devī dan menunjukkan sebuah tīrtha yang menyucikan di arah selatan pada jarak dekat (diukur dengan gav-yūti). Di sana tampak perwujudan Gaṅgā sebagai pātāla-gāminī, yang dengan tegas dipuji sebagai pāpa-nāśinī, penghancur dosa. Kisah lalu mengaitkannya dengan Ṛṣi Viśvāmitra, yang dikatakan memanggil Gaṅgā demi mandi suci. Disebutkan bahwa mandi di tīrtha itu membebaskan seseorang dari segala dosa. Selanjutnya dipaparkan kemuliaan tiga liṅga—Gaṅgeśvara, Viśvāmitreśvara, dan Bāleśvara—bahwa darśana kepada ketiganya menganugerahkan pemenuhan tujuan yang diinginkan, pelenyapan dosa, dan tercapainya harapan.

Kuberanagarotpatti and Kubera-sthāpita Somanātha Māhātmya (Origin of Kuberanagara and the Glory of the Somanātha Liṅga Installed by Kubera)
Bab ini berbentuk dialog Śiva–Devī. Śiva menunjukkan sebuah tempat utama di Prabhāsa, di tepi sungai Nyanku-matī, tempat Kubera dahulu memperoleh kedudukan sebagai Dhanada, penguasa kekayaan. Devī bertanya bagaimana seorang brāhmaṇa dapat jatuh ke perbuatan seperti pencuri namun kemudian menjadi Kubera. Śiva lalu menuturkan kisah lampau brāhmaṇa bernama Devaśarman yang tinggal di Prabhāsa; ia tenggelam dalam urusan rumah tangga, lalu karena loba meninggalkan kehidupan keluarga demi mencari harta. Istrinya digambarkan tidak teguh dalam moral; putra mereka, Duḥsaha, lahir dalam keadaan buruk, kemudian dikuasai kebiasaan jahat dan ditinggalkan masyarakat. Duḥsaha mencoba mencuri di kuil Śiva, tetapi melalui peristiwa lampu yang hampir padam dan sumbu, ia tanpa sengaja melakukan ‘pelayanan lampu’ yang bernilai kebajikan. Ia ketahuan oleh pelayan kuil, lari ketakutan, dan akhirnya mati secara keras di tangan para penjaga. Ia terlahir kembali di Gandhāra sebagai raja terkenal buruk, Sudurmukha; meski tetap tercela, ia melakukan pemujaan kebiasaan tanpa mantra kepada liṅga warisan keluarganya, terutama dengan persembahan lampu yang sering. Saat berburu, karena bekas saṃskāra masa lalu ia tiba di Prabhāsa, gugur dalam pertempuran di tepi Nyanku-matī, dan melalui pemujaan Śiva dosa-dosanya dinyatakan musnah. Kemudian ia lahir sebagai Vaiśravaṇa (Kubera) yang bercahaya, mendirikan sebuah liṅga dekat Nyanku-matī, dan melantunkan stotra panjang kepada Mahādeva. Śiva menampakkan diri, menganugerahkan persahabatan, jabatan sebagai Dikpāla, serta kekuasaan atas kekayaan, dan menetapkan tempat itu termasyhur sebagai Kuberanagara. Liṅga yang didirikan di sebelah barat dikenang sebagai Somanātha (di sini dikaitkan dengan Umānātha). Pada penutup (phalaśruti) disebutkan: pemujaan pada Śrīpañcamī sesuai aturan mendatangkan Lakṣmī yang langgeng hingga tujuh generasi.

भद्रकालीमाहात्म्यवर्णनम् (Bhadrakālī Māhātmya Description)
Bab ini merupakan keterangan teologis singkat: Īśvara menunjuk sebuah tempat suci Bhadrakālī yang berada di sebelah utara lokasi bernama “Kaubera-sañjñaka” (yang terkait dengan Kubera). Bhadrakālī dipuji sebagai pemberi anugerah tujuan yang diinginkan (vāñchitārtha-pradāyinī) dan dihubungkan langsung dengan kisah terganggunya yajña Dakṣa, hadir bersama Vīrabhadra serta menjadi pelaksana penghancuran kurban Dakṣa. Selanjutnya diberikan petunjuk waktu: pemujaan Dewi pada tithi tṛtīyā di bulan Caitra dianjurkan. Disebut pula buah kebajikan (phala) dari penghormatan luas kepada perwujudan Cāmuṇḍā—bhakta memperoleh keberuntungan (saubhāgya), kemenangan (vijaya), dan kehadiran Lakṣmī (kemakmuran). Dengan demikian, bab ini mengikat otoritas kisah suci pada penanda tempat dan tanggal tertentu sebagai pedoman ibadah praktis.

भद्रकालीबालार्कमाहात्म्यवर्णनम् | The Māhātmya of Bhadrakālī and Bālārka (Solar Installation)
Adhyaya ini memuat penuturan Īśvara tentang sebuah tirtha di sektor utara, melampaui tempat yang dikenal sebagai Kaurava-sañjñaka. Di sana Dewi Bhadrakālī menjalankan tapa yang sangat berat, lalu dengan bhakti tertinggi beliau menegakkan/menetapkan (pratiṣṭhā) Ravi atau Sūrya. Waktu ritual yang ditekankan ialah hari Minggu (ravivāra) yang bertepatan dengan tithi saptamī. Persembahan yang dianjurkan meliputi bunga merah serta olesan/urapan merah seperti cendana merah. Disebutkan pula buah kebajikan: pemujaan dengan bhakti memberi pahala setara “kroti yajña” dan membebaskan dari penyakit yang bersumber dari vāta dan pitta serta berbagai penyakit berat lainnya. Pada penutupnya ada anjuran dana: mereka yang menghendaki pahala ziarah secara utuh hendaknya melakukan aśva-dāna (sedekah kuda) di tempat itu juga. Dengan demikian, pemujaan di tempat suci, ketepatan waktu kalender, dan dana dipadukan sebagai satu laku dharma-ritual.

कुबेरस्थानोत्पत्तौ कुबेरमाहात्म्यवर्णनम् (Origin of Kubera’s Station and its Māhātmya)
Dalam adhyāya ini, Īśvara menyampaikan uraian teologis tentang sebuah stasiun suci yang berkaitan dengan Kubera. Letaknya disebut berada di arah nairṛtya (barat daya) dalam pemetaan kawasan suci; di sana Kubera hadir secara svayambhū, dipuji sebagai penghapus segala kemiskinan (sarva-dāridrya-nāśana). Ditetapkan laku bhakti khusus pada tithi pañcamī dengan persembahan gandha (wewangian), puṣpa (bunga), dan anulepana (olesan suci). Tempat itu digambarkan berhias delapan “nidhāna” yang terkait makara. Dengan keselarasan waktu-ritual, bahan persembahan, dan kekhususan tempat-dewa, pemuja memperoleh nidhāna-prāpti—kekayaan yang tiada banding—secara nirvighna, tanpa rintangan.

Ajogandheśvara-māhātmya (अजोगन्धेश्वरमाहात्म्य) — The Glory of Ajogandheśvara at Puṣkara
Bab ini berbentuk dialog suci antara Śiva dan Devī. Īśvara menunjukkan kepada Devī sebuah Puṣkara yang keramat di sebelah timur kedudukan Kubera, termasyhur sebagai tīrtha utama. Devī memohon penjelasan bagaimana seorang kaivarta (nelayan), pelaku dosa dan pembunuh ikan, dapat meraih keberhasilan rohani. Īśvara menceritakan peristiwa lampau: pada bulan Māgha, nelayan itu kedinginan dan membawa jala basah; ia memasuki kawasan Puṣkara dan melihat bangunan kuil Śaiva yang tertutup sulur dan pepohonan. Demi menghangatkan diri, ia memanjat prāsāda dan membentangkan jalanya di puncak tiang panji untuk dijemur; karena lalai/terpana ia terjatuh dan wafat mendadak di dalam kṣetra Śiva. Seiring waktu, jala itu tetap melekat dan seakan “mengikat” panji kuil sehingga menjadi pertanda baik; oleh māhātmya panji, ia terlahir kembali sebagai raja di Avanti, masyhur bernama Ṛtadhvaja, memerintah, mengembara luas, dan menikmati kenikmatan kerajaan. Kelak, setelah menjadi jāti-smara (mengingat kelahiran lampau), ia kembali ke Prabhāsa-kṣetra, membangun/merenovasi kompleks suci terkait Ajogandha, menegakkan atau memuliakan liṅga agung bernama Ajogandheśvara di dekat sebuah kuṇḍa, serta berbakti dalam pemujaan jangka panjang. Teks ini juga menetapkan tata cara ziarah: mandi suci di kuṇḍa barat Puṣkara yang disebut ‘pāpataskara’, mengingat kurban-kurban Brahmā yang dahulu dilakukan di sana, memanggil kehadiran tīrtha, menegakkan/menyembah liṅga Ajogandheśvara, dan mempersembahkan teratai emas kepada brāhmaṇa terkemuka. Phalaśruti menyatakan bahwa pemujaan yang benar dengan wewangian, bunga, dan akṣata membebaskan dari dosa yang terkumpul bahkan selama tujuh kelahiran.

चन्द्रोदकतीर्थमाहात्म्य–इन्द्रेश्वरमाहात्म्यवर्णनम् (Glory of Candrodaka Tīrtha and the Indreśvara Shrine)
Īśvara menjelaskan kepada Devī sebuah kawasan suci di arah Īśāna (timur laut): sebuah Indra-sthāna yang utama pada jarak terukur (berdasar gavyūti), terkait dengan Candrasaras dan air Candrodaka. Air suci itu dipuji berdaya memulihkan—mengurangi jarā (kemunduran/usia tua) dan melenyapkan dāridrya (kemiskinan). Keadaan tīrtha mengikuti gerak bulan: bertambah saat bulan terang dan berkurang saat bulan surut, namun tetap dapat disaksikan bahkan pada zaman yang penuh dosa (pāpa-yuga). Mandi di sana ditegaskan sebagai penebusan yang menentukan, bahkan bagi mereka yang terbebani banyak kesalahan, tanpa perlu banyak pertimbangan. Kemudian diingatkan kisah Indra pada masa krisis moral besar terkait Ahalyā dan kutukan Gautama. Indra bersembahyang dengan anugerah dana melimpah dan menegakkan pemujaan Śiva selama seribu tahun. Wujud yang dipasang itu dikenal sebagai Indreśvara, pemusnah segala pelanggaran. Bab ini menutup dengan tata laku ziarah: mandi di Candratīrtha, mempersembahkan tarpaṇa bagi leluhur dan persembahan bagi para dewa, memuja Indreśvara, lalu meraih kebebasan dari dosa tanpa keraguan.

ऋषितोयानदीमाहात्म्यवर्णन (Māhātmya of the Ṛṣitoyā River)
Adhyāya ini memuat uraian teologis Īśvara tentang sebuah tirtha suci bernama Devakula di Prabhāsa Khaṇḍa. Tempat itu berada di arah āgneya (tenggara) pada jarak terukur menurut gavyūti; kesuciannya berakar pada pertemuan purba para dewa dan ṛṣi, serta pada penegakan liṅga yang telah didirikan lebih dahulu, sehingga nama Devakula menjadi sah dan berwibawa. Kemudian kisah beralih ke barat, kepada Sungai Ṛṣitoyā—“yang dicintai para resi”—yang dipuji sebagai penghancur segala dosa. Diberikan tuntunan ritual: peziarah yang mandi dengan tata cara benar dan mempersembahkan tarpaṇa serta persembahan bagi para pitṛ akan menghasilkan kepuasan leluhur untuk waktu yang panjang. Etika dana juga dijelaskan: pada hari bulan baru Āṣāḍha, pemberian emas, ajina (kulit/binatang), dan kambala (selimut) disebut melipatgandakan pahala hingga enam belas kali, terus meningkat sampai purnama. Phalaśruti menegaskan bahwa melalui mandi suci, tarpaṇa, dan dana di wilayah suci ini, dosa yang terkumpul bahkan selama tujuh kelahiran pun lenyap, dan pembebasan (mokṣa) diperoleh.

ऋषितोयामाहात्म्यवर्णनम् (The Māhātmya of Ṛṣitoyā at Mahodaya)
Dewi memohon kepada Īśvara agar menjelaskan asal-usul dan kemasyhuran air suci bernama Ṛṣitoyā serta bagaimana ia sampai ke Devadāruvana yang membawa keberkahan. Īśvara menuturkan bahwa banyak ṛṣi pertapa, karena tidak merasakan sukacita ritual pada perairan setempat sebagaimana pada sungai-sungai agung, pergi ke Brahmaloka; mereka memuji Brahmā sebagai pencipta, pemelihara, dan pelebur, lalu memohon sebuah sungai pemusnah dosa yang layak untuk mandi penyucian (abhiṣeka). Brahmā, digerakkan oleh welas asih, meninjau para dewi sungai yang berwujud—Gaṅgā, Yamunā, Sarasvatī, dan lainnya—menghimpun mereka ke dalam kamaṇḍalu, lalu melepaskannya menuju bumi. Air yang dilepaskan itu dikenal sebagai Ṛṣitoyā—terkasih bagi para ṛṣi dan penghapus segala pāpa—tiba di Devadāruvana dan, dengan tuntunan para ṛṣi yang memahami Veda, mengalir menuju samudra. Bab ini juga menyatakan bahwa Ṛṣitoyā pada umumnya mudah diakses, namun manfaatnya disebut sukar diperoleh secara khusus di tiga lokasi: Mahodaya, Mahātīrtha, dan dekat Mūlacāṇḍīśa. Diberikan pula padanan aliran sungai menurut waktu—Gaṅgā pada pagi, Yamunā pada senja, Sarasvatī pada tengah hari, dan seterusnya—sebagai pedoman mandi dan śrāddha; buahnya: lenyapnya dosa dan tercapainya tujuan yang diinginkan.

गुप्तप्रयागमाहात्म्यवर्णनम् | The Māhātmya of Gupta-Prayāga (Hidden Prayāga)
Bab ini berbentuk dialog ketika Pārvatī memohon penjelasan tentang hadirnya Tīrtha-rāja Prayāga serta sungai Gaṅgā, Yamunā, dan Sarasvatī di wilayah Prabhāsa dekat tempat suci Saṅgāleśvara. Īśvara menerangkan bahwa pada masa lampau, dalam suatu sidang ilahi terkait peristiwa liṅga, tak terhitung banyaknya tīrtha berkumpul; di antara mereka Prayāga menyembunyikan dirinya, sehingga dikenal sebagai ‘Gupta’ (tersembunyi). Lalu dipaparkan tata-topografi suci: Brahma-kuṇḍa di barat, Vaiṣṇava-kuṇḍa di timur, Rudra/Śiva-kuṇḍa di tengah, serta kawasan Tri-saṅgama, tempat pertemuan Gaṅgā dan Yamunā dengan Sarasvatī yang digambarkan halus dan tersembunyi di antara keduanya. Teks juga memberi ketentuan waktu dan ajaran pemurnian bertingkat: mandi berturut-turut menghapus noda batin, ucapan, tubuh, relasi, pelanggaran rahasia, dan kesalahan kecil; pengulangan mandi serta kuṇḍa-abhisheka disebut mampu membersihkan kekotoran besar. Penghormatan kepada para Ibu (Mātṛ) dengan persembahan—terutama pada Kṛṣṇa-pakṣa Caturdaśī—dianjurkan untuk meredakan rasa takut dari banyak pengiring mereka. Ritus leluhur (śrāddha) dipuji karena mengangkat garis ayah dan ibu, dan sedekah seekor lembu jantan dianjurkan bagi peziarah yang menghendaki buah perjalanan yang sempurna. Penutupnya berupa phalaśruti: mendengar dan membenarkan māhātmya ini diyakini menuntun menuju kediaman Śaṅkara.

माधवमाहात्म्यवर्णनम् | Mādhava Māhātmya (Glorification of Mādhava at Prabhāsa)
Īśvara menggambarkan sebuah tempat suci/śrīne Mādhava di dalam kawasan suci Prabhāsa, sedikit ke arah selatan. Dewa di sana dikenali sebagai Mādhava berwujud Viṣṇu, pemegang śaṅkha, cakra, dan gadā. Pada hari ekādaśī paruh terang (śukla pakṣa), seorang bhakta yang berpuasa, mengekang indria (jitendriya), serta memuja dengan cendana dan wewangian, bunga, dan baluran suci, dikatakan mencapai ‘kediaman tertinggi’—keadaan bebas dari kelahiran kembali (apunarbhava). Sebuah gāthā yang dinisbatkan kepada Brahmā meneguhkan bahwa mandi di Viṣṇukuṇḍa lalu memuja Mādhava merupakan jalan langsung menuju alam tempat Hari hadir sebagai perlindungan tertinggi. Penutupnya memuat pernyataan pahala: māhātmya Vaiṣṇava ini menganugerahkan seluruh tujuan hidup dan melenyapkan segala dosa, sekaligus menjadi pengesahan teologis dan pedoman ringkas tata-ritus.

संगालेश्वरमाहात्म्यवर्णनम् (Sangāleśvara Māhātmya—Account of the Glory of Sangāleśvara)
Bab ini menempatkan Liṅga Sangāleśvara di bagian utara Prabhāsa-kṣetra, selaras arah barat-laut (vāyavya), dan dipuji sebagai “sarva-pātaka-nāśana”, pemusnah segala dosa. Īśvara menuturkan bahwa Brahmā, Viṣṇu, Indra (Śakra), para Lokapāla, serta Āditya dan Vasu datang bersembahyang memuja liṅga di sana. Karena para dewa berkumpul dan menegakkan pemujaan, tempat suci itu akan dikenal di bumi dengan nama “Sangāleśvara”—demikian alasan penamaannya. Dinyatakan bahwa pemujaan manusia kepada Sangāleśvara membawa kemakmuran bagi garis keturunan dan menyingkirkan kemiskinan. Sekadar darśana (melihat dengan bhakti) disamakan dengan pahala menyedekahkan seribu sapi di Kurukṣetra. Dianjurkan mandi pada hari Amāvāsyā lalu melakukan śrāddha tanpa amarah; dengan itu para leluhur memperoleh kepuasan untuk waktu yang panjang. Luas kṣetra ditetapkan sebatas parikrama setengah krośa, bersifat pengabul keinginan dan penghancur dosa. Lebih lanjut ditegaskan: siapa pun yang wafat di dalam wilayah suci ini—baik “utama” maupun “madya”—mencapai tujuan yang lebih tinggi; mereka yang berpuasa hingga ajal dikatakan menyatu ke dalam Parameśvara. Bahkan kematian yang biasanya dianggap bermasalah secara ritual—kekerasan, kecelakaan, bunuh diri, gigitan ular, atau wafat tanpa kemurnian—di tīrtha mahāpuṇya ini dipandang mampu menganugerahkan apunarbhava (tiada kembali kelahiran). Pembebasan juga dihubungkan dengan rangkaian upacara: enam belas śrāddha, vṛṣotsarga, dan jamuan yang layak bagi brāhmaṇa; dan ditutup dengan phalaśruti bahwa mendengar māhātmya ini melenyapkan dosa, duka, dan kesedihan.

Siddheśvara-māhātmya (Glory of Siddheśvara)
Bab ini memuat dialog teologis singkat antara Īśvara dan Devī. Di dalam jejaring tirtha Prabhāsa, Siddheśvara ditetapkan sebagai tempat liṅga yang unggul, dengan keterangan letak, kedekatan, dan arah posisinya. Dikisahkan para dewa segera mengonsekrasi Śiva-liṅga bernama Saṅgāleśvara; kemudian para siddha-gaṇa menegakkan dan memuji Siddheśvara sebagai pemberi segala pencapaian rohani (siddhi). Śiva menganugerahkan anugerah: seorang pelaku tapa yang datang sesuai aturan, mandi suci, memuja Siddhanātha, dan melakukan japa—terutama Śatarudrīya, mantra Aghora, serta Gāyatrī bagi Maheśvara—akan meraih siddhi dan daya seperti aṇimā dalam waktu enam bulan. Ditambahkan penegasan waktu: pada malam agung caturdaśī di paruh gelap bulan Āśvayuja, pelaku yang teguh dan tanpa takut disebut memperoleh keberhasilan. Penutupnya berupa phalaśruti yang menyatakan kisah ini sebagai pemusnah dosa dan pemberi buah bagi segala keinginan yang luhur.

गन्धर्वेश्वरमाहात्म्यवर्णनम् | Gandharveśvara—Account of the Shrine’s Glory
Īśvara menasihati Devī agar menuju ke tirtha agung Śiva bernama Gandharveśvara di Prabhāsa-kṣetra. Di sana, liṅga berada di sektor utara pada jarak lima dhanus—sebuah petunjuk arah bagi peziarah. Dinyatakan bahwa darśana (memandang suci) di tempat itu menjadikan seseorang ‘rūpavān’, yakni beroleh keelokan dan daya tarik. Liṅga tersebut didirikan oleh para Gandharva, menegaskan asal-usulnya yang menyucikan. Setelah mandi suci, cukup lakukan pemujaan sekali dengan tata cara yang benar; buahnya ialah tercapainya segala keinginan serta tanda mujur ‘raktakaṇṭha’ (berleher merah) sebagai anugerah dari tirtha itu.

Sangāleśvara–Uttareśvara Māhātmya (संगालेश्वरमाहात्म्य–उत्तरेश्वरमाहात्म्यवर्णनम्)
Bab 303 memuat titah Īśvara kepada Devī agar bergerak ke arah utara menuju suatu ‘dewa yang unggul’, yang pemujaannya disebut sebagai pemusnah mahāpātaka (dosa besar). Di sebelah barat dewa itu disebutkan adanya liṅga yang lebih utama, didirikan setelah tapa yang berat oleh para nāga dengan Śeṣa sebagai pemimpin. Tema utamanya adalah religiositas pelindung: siapa yang bersembahyang kepada dewa yang dihormati para nāga itu dikatakan tidak tersentuh bahaya racun sepanjang hidup, dan para ular menjadi bersahabat serta menahan diri dari mencelakai. Karena itu manusia diperintahkan untuk memuja liṅga tersebut dengan segenap upaya. Kemudian disebutkan pula jaringan tempat suci: di tepi sungai Gaṅgā yang sangat berpahala di wilayah barat, para ṛṣi telah menegakkan banyak liṅga. Darśana dan pūjā terhadapnya membebaskan dari segala dosa dan memberi pahala setara seribu yajña Aśvamedha—sebagai penegasan buah ziarah dalam bab ini.

गंगामाहात्म्यवर्णनम् (Gaṅgā-Māhātmya near Saṅgāleśvara)
Bab ini dibingkai sebagai dialog: Sūta membuka kisah, lalu Īśvara menjelaskan kepada Pārvatī tentang penampakan lokal Gaṅgā, Sang Tripathagāminī, di dekat Saṅgāleśvara di Prabhāsa. Pārvatī menanyakan dua keanehan—bagaimana Gaṅgā bisa hadir di sana dan mengapa ada ikan bermata tiga (trinetra-matsya). Īśvara menuturkan asal-usulnya: beberapa resi yang terlibat dalam peristiwa kutukan terkait Mahādeva kemudian menyesal dan melakukan tapa berat serta pemujaan di Saṅgāleśvara. Karena bhakti mereka, Śiva berkenan menganugerahkan tanda “bermata tiga” sebagai nidarśana bagi dunia, serta mengabulkan permohonan agar Gaṅgā dihadirkan untuk abhiṣeka. Seketika Gaṅgā menampakkan diri bersama ikan-ikan; ketika para resi melihatnya, ikan-ikan itu pun menjadi “bermata tiga” oleh anugerah ilahi. Selanjutnya dijelaskan laku dan buahnya: mandi di kuṇḍa tersebut membebaskan dari lima dosa besar (pañca-pātaka). Pada hari amāvāsyā, siapa yang mandi lalu berdana emas, sapi, kain, dan wijen kepada seorang brāhmaṇa dikatakan memperoleh “trinetra” sebagai lambang rahmat Śiva. Kisah ini ditutup dengan penegasan bahwa mendengarkan mahātmya ini pun suci dan menganugerahkan hasil yang diinginkan.

Nārada-Āditya Māhātmya (Glory of Nāradaāditya)
Bab ini disusun sebagai dialog teologis Śiva–Devī yang menempatkan sebuah tempat suci Surya bernama Nāradaāditya di wilayah Prabhāsa. Dinyatakan bahwa darśana di sana berdaya menyingkirkan jarā (ketuaan) dan dāridrya (kemiskinan). Devī bertanya bagaimana resi Nārada dapat tertimpa jarā. Śiva lalu menuturkan kisah di Dvāravatī: putra Kṛṣṇa, Sāmba, tidak memberi hormat semestinya; ketika ditegur Nārada, Sāmba mencela hidup asketis dan dalam amarah mengutuk Nārada agar berada di bawah kuasa jarā. Tersiksa oleh jarā, Nārada mengasingkan diri ke tempat yang bersih dan sunyi, menegakkan arca Surya yang elok, dipuji sebagai “pemusnah segala kemiskinan,” lalu melantunkan rangkaian stotra: Surya sebagai wujud Ṛk dan Sāman, cahaya murni, sebab yang meliputi segalanya, serta penghalau kegelapan. Surya berkenan menampakkan diri dan menganugerahkan anugerah: Nārada kembali memperoleh tubuh muda. Disebut pula ketentuan umum: siapa yang melihat Surya pada hari Minggu yang bertepatan dengan tithi saptamī dijanjikan bebas dari takut penyakit. Penutupnya menegaskan daya penghancur pāpa dari tempat suci itu sebagai phalāśruti.

सांबादित्यमाहात्म्यवर्णनम् (The Māhātmya of Sāmbāditya: Sāmba’s Sun-Worship at Prabhāsa)
Īśvara menuturkan kemuliaan tirtha Sāmbāditya, tempat pemusnah dosa di bagian utara wilayah Prabhāsa. Sāmba, putra Jāmbavatī, menderita akibat kutukan ayahnya yang timbul dari amarah, lalu memohon perlindungan kepada Viṣṇu. Viṣṇu memerintahkannya pergi ke Prabhāsa-kṣetra, ke Brahmabhāga di tepi indah sungai Ṛṣitoyā yang dihiasi para brāhmaṇa, seraya berjanji akan menganugerahkan karunia di sana dalam wujud Sūrya. Sāmba tiba di tempat suci itu, memuji Bhāskara dengan banyak kidung, dan diarahkan ke tepi Ṛṣitoyā tempat Nārada bertapa. Para brāhmaṇa setempat meneguhkan kesucian Brahmabhāga dan merestui niatnya; Sāmba pun menjalankan pemujaan dan tapa secara teratur. Viṣṇu menguraikan peran ilahi—Rudra pemberi kekuasaan, Viṣṇu pemberi mokṣa, Indra pemberi surga; air, bumi, dan abu sebagai penyuci; Agni sebagai pengubah; Gaṇeśa sebagai penghalau rintangan—namun yang khas pada Divākara ialah anugerah kesehatan (ārogya). Karena kutukan menghalangi karunia biasa, Viṣṇu menampakkan diri sebagai Sūrya dan menyucikan Sāmba serta membebaskannya dari kusta. Sāmba memohon kehadiran ilahi yang abadi di tempat itu; Sūrya menegaskan penyucian tubuh dan menetapkan vrata: pada Saptamī yang jatuh pada hari Minggu, berpuasa disertai berjaga pada malam hari. Dinyatakan pula bahwa penyakit kusta dan penyakit berdosa tidak akan muncul dalam garis keturunan pemuja; mandi dengan bhakti, pemujaan Sāmbāditya pada hari Minggu, serta śrāddha dan jamuan bagi brāhmaṇa di kuṇḍa pemusnah dosa di dekatnya mendatangkan kesehatan, kekayaan, keturunan, pemenuhan hasrat, dan kehormatan di Sūrya-loka.

अपरनारायणमाहात्म्यवर्णनम् (The Māhātmya of Apara-Nārāyaṇa)
Bab 307 memuat uraian Īśvara tentang sebuah tirtha/kehadiran ilahi bernama Apara-Nārāyaṇa yang terletak agak di sebelah timur dari Sāmbāditya. Di sana ditegaskan bahwa Sūrya adalah wujud Viṣṇu; demi menganugerahkan anugerah kepada para bhakta, Tuhan menampakkan ‘apara’, yakni rupa lain/lebih lanjut, sehingga sebutan ‘Apara’ dijelaskan asalnya. Selanjutnya diberikan tuntunan: di tempat itu hendaknya memuja Puṇḍarīkākṣa sesuai tata-aturan, terutama pada Ekādaśī paruh terang bulan Phālguna. Buahnya dinyatakan jelas—lenyapnya dosa dan tercapainya segala tujuan yang diinginkan; dengan demikian tersusun ringkas: tempat, identitas dewa, waktu, laku pemujaan, dan hasilnya.

मूलचण्डीशोत्पत्तिमाहात्म्यवर्णनम् (Origin-Glory of Mūla-Caṇḍīśa and the Taptodaka Kuṇḍa)
Īśvara menuturkan kepada Devī bagaimana liṅga bernama Mūla-Caṇḍīśa menjadi termasyhur di tiga dunia. Dahulu di Devadāruvana, beliau menjelma sebagai pertapa-pengemis bernama Ḍiṇḍi yang mengguncang para resi; karena murka, para resi mengucapkan kutuk sehingga liṅga utama jatuh. Ketika tanda-tanda keberkahan lenyap, para resi memohon petunjuk Brahmā. Brahmā menyuruh mereka mendatangi Rudra yang hadir dalam wujud gajah di dekat āśrama Kubera. Dalam perjalanan, Gaurī dengan welas asih memberi gōrasa (susu) dan menampakkan tempat mandi yang sangat baik untuk menghapus lelah; karena terkait air panas, tempat itu dikenal sebagai Taptodaka Kuṇḍa. Akhirnya para resi bertemu Rudra, memuji-Nya, memohon ampun, dan meminta pemulihan kesejahteraan bagi semua makhluk. Rudra berkenan: liṅga ditegakkan kembali (dikaitkan dengan makna “Unnata”, yang ditinggikan), lalu disampaikan phalāśruti—darśana Mūla-Caṇḍīśa memberi pahala melampaui jasa karya-karya besar pengairan; dianjurkan dāna tertentu; dan pemujaan setelah mandi disebut membawa daya rohani serta motif kedaulatan duniawi menurut ungkapan Purāṇa. Bab ditutup dengan penamaan dan etimologi liṅga (tuan bagi Caṇḍī; “akar” tempat ia jatuh) serta penyebutan tīrtha terkait: Sangameśvara, Kuṇḍikā, dan Taptodaka.

Caturmukha-Vināyaka Māhātmya (Glory of Four-Faced Vināyaka)
Bab ini memuat petunjuk ringkas tentang ziarah dan tata pemujaan yang disampaikan Īśvara kepada Mahādevī. Sang peziarah diarahkan menuju śrī-kuil Vināyaka termasyhur bernama Caturmukha, yang disebut berada di sebelah utara Caṇḍīśa; letaknya ditandai pula dengan petunjuk arah menuju kuadran Īśāna dan jarak empat dhanus. Di sana Vināyaka hendaknya dipuja dengan niat yang mantap dan kehati-hatian: persembahan wewangian (gandha), bunga (puṣpa), serta sajian makanan (bhakṣya, bhojya), terutama modaka. Waktu utamanya ialah hari lunar keempat (caturthī); dengan ketepatan waktu, arah, dan persembahan, peziarah meraih siddhi, rintangan (vighna) tersingkir, dan tujuan dharma terselesaikan dengan baik.

कलंबेश्वरमाहात्म्य (Kalambeśvara Māhātmya) — The Glory of Kalambeśvara
Bab 310, disampaikan sebagai sabda Īśvara, menempatkan śrī-kṣetra Kalambeśvara di dalam Prabhāsa-kṣetra. Letaknya disebut di sektor vāyavya (barat laut), berjarak ‘dhanus-dvitaya’, yakni dua panjang busur. Dinyatakan bahwa sekadar darśana (melihat dengan bhakti) dan pūjā (pemujaan) kepada Kalambeśvara menyucikan dari segala kilbiṣa (noda moral) serta menjadi sarva-pātaka-nāśana, penghancur semua dosa. Hari Somavāra (Senin) yang bertepatan dengan Amāvāsyā (bulan baru) disebut sangat memberi pahala di tempat itu. Para pencari buah kebajikan diajarkan untuk memberi dāna melalui jamuan makanan bagi para vipra (Brahmana); penutupnya menegaskan bab ini sebagai Kalambeśvara-māhātmya dalam Prabhāsakṣetramāhātmya, Prabhāsa Khaṇḍa.

गोपालस्वामिहरिमाहात्म्यवर्णनम् (The Māhātmya of Gopāla-svāmin Hari)
Adhyāya ini menyajikan wejangan teologis yang ringkas. Īśvara memerintahkan Mahādevī untuk menuju śrī-kuil Gopāla-svāmin Hari, dengan petunjuk lokasi yang tepat: di sebelah timur dari Caṇḍīśa, berjarak dua puluh dhanu (ukuran busur). Dinyatakan bahwa darśana dan pūjā kepada Hari di sana menenteramkan segala dosa serta menghancurkan gelombang kemiskinan. Ibadah terutama dianjurkan pada bulan Māgha, disertai pūjā dan jāgaraṇa (berjaga pada malam hari); pelakunya dijanjikan mencapai paraṃ padam, keadaan tertinggi.

Bakulsvāmi-Sūrya Māhātmya (बकुलस्वामिमाहात्म्यवर्णनम्) — The Glory of Bakulsvāmin as Sūrya
Bab ini menyajikan petunjuk singkat tentang lokasi tirtha dan tata laku ritual dalam bentuk wejangan Īśvara. Disebutkan bahwa di sektor utara, pada jarak terukur ‘delapan busur’, berdiri śrī-kuil Bakulsvāmin yang dipahami sebagai wujud Sūrya; darśana kepada-Nya dipuji sebagai pemusnah duka dan penderitaan. Selanjutnya ditetapkan suatu upacara: bila hari Minggu (Ravivāra) bertepatan dengan tithi Saptamī, hendaknya dilakukan jāgaraṇa, berjaga semalam suntuk. Buahnya adalah tercapainya segala harapan serta kemuliaan dan peninggian derajat di Sūrya-loka. Kolofon menegaskan konteksnya dalam Skanda Mahāpurāṇa, Prabhāsa Khaṇḍa, bagian Prabhāsakṣetra-māhātmya, dengan nama bab ‘Bakulsvāmin-māhātmya’.

उत्तरार्कमाहात्म्यवर्णनम् (Uttarārka Māhātmya—Description of the Glory of Uttarārka)
Dalam adhyāya ini, ajaran disampaikan secara otoritatif dengan gaya “Īśvara uvāca”. Di wilayah suci Prabhāsa, pada sektor arah vāyavya (barat laut), disebutkan sebuah sub-situs suci bernama “Uttarārka” yang terletak pada jarak enam belas dhanu, beserta kemuliaannya. Tempat ini dipuji sebagai “sadyah pratyaya-kāraka”, yakni memberi bukti hasil yang segera bagi pelaku sādhana. Bab ini menetapkan laku Nimba-saptamī (vrata pada hari ketujuh terkait nimba/neem) dan menyatakan phalaśruti bahwa pelaksanaannya membawa pembebasan dari segala penyakit serta memperoleh kesehatan dan kesejahteraan.

ऋषितीर्थसंगममाहात्म्यवर्णनम् (Glorification of the Ṛṣi-tīrtha Confluence)
Dalam dialog ketika Īśvara menasihati Devī, bab ini menyebut sebuah tīrtha utama bernama Ṛṣitīrtha yang terletak di tepi laut, di wilayah yang terkait Devakula (devakulāgneiyyāṃ gavyūtyāṃ). Tempat ini digambarkan sangat indah dan penuh daya rohani; keistimewaannya, para ṛṣi hadir dalam wujud seperti batu (pāṣāṇākṛtayaḥ) dan masih dapat ‘terlihat’ oleh manusia. Tīrtha ini dinyatakan mampu melenyapkan segala dosa. Ditetapkan pula tata waktu dan laku: pada hari bulan baru (amāvāsyā) di bulan Jyeṣṭha, para bhakta yang berśraddhā hendaknya mandi suci dan terutama melakukan piṇḍa-dāna sebagai persembahan bagi leluhur. Di pertemuan air Ṛṣitoyā, mandi dan śrāddha dipuji sebagai amalan yang langka namun sangat berbuah. Bab ini juga menganjurkan go-pradāna (derma sapi) serta memberi makan brāhmaṇa sesuai kemampuan, menyatukan ziarah dengan dana, kebajikan, dan penghormatan tamu suci.

मरुदार्यादेवीमाहात्म्यवर्णनम् (Mārudāryā Devī Māhātmya—Glorification of the Goddess Mārudāryā)
Bab ini memuat petunjuk kṣetra yang ringkas dalam dialog Śiva–Devī. Īśvara memerintahkan Mahādevī menuju tempat bercahaya bernama Mārudāryā, terletak di arah barat pada jarak setengah krośa. Dewi di sana dipuja oleh para Marut dan dipuji sebagai pemberi “buah segala keinginan” (sarva-kāma-phala). Selanjutnya dijelaskan ketentuan waktu dan tata cara pemujaan: terutama pada Mahānavamī, dan juga pada Saptamī, hendaknya bersembahyang dengan cermat memakai persembahan umum seperti wewangian dan bunga (gandha-puṣpa dan lainnya). Ajarannya menegaskan kaitan Purāṇik antara tempat, waktu, dan metode—geografi suci, kalender vrata, serta vidhi pūjā—sebagai laku bhakti yang terarah demi hasil yang diinginkan dan pahala kebajikan.

क्षेमादित्यमाहात्म्यवर्णनम् / The Māhātmya of Kṣemāditya (Solar Shrine of Welfare)
Bab ini merupakan uraian singkat tentang sebuah tīrtha: letak pemujaan Dewa bernama Kṣemāditya di dekat Devakula, pada jarak lima gavyūti, di wilayah/sekitar Śambara-sthāna. Disebutkan bahwa dengan darśana (memandang dengan bhakti) kepada beliau, seorang pemuja memperoleh kṣemārtha-siddhi—keberhasilan yang membawa kesejahteraan dan keselamatan. Ditetapkan pula aturan waktu: pūjā yang dilakukan pada tithi saptamī ketika bertepatan dengan hari Minggu (Ravivāra) dinyatakan sarva-kāma-dā, pemberi segala tujuan yang diinginkan. Penutupnya menegaskan bahwa ajaran ini adalah pernyataan māhātmya tīrtha yang berpusat di Devakula.

कंटकशोषिणीमाहात्म्यवर्णनम् (The Māhātmya of Goddess Kaṇṭakaśoṣiṇī)
Īśvara menuturkan kepada Devī kisah asal-mula seorang Dewi yang bersemayam di suatu tempat di Prabhāsa yang ditandai dengan petunjuk arah. Di tepi sungai yang disucikan, para ṛṣi agung berkumpul melaksanakan yajña Weda yang megah—gema pembacaan Weda, bunyi nyanyian dan musik, dupa dan pelita, persembahan havis, serta tata upacara para pendeta yang terpelajar menjadikan suasana sangat sakral. Saat itu para daitya yang kuat dan mahir ilusi muncul untuk mengacaukan yajña. Orang-orang panik dan tercerai-berai, namun sang adhvaryu meneguhkan hati, mempersembahkan oblation pelindung. Dari tindakan suci itu memancar Śakti yang bercahaya—bersenjata, dahsyat, dan ilahi—yang membinasakan para pengganggu dan memulihkan ketertiban yajña. Para resi memuji Sang Dewi; Beliau menganugerahkan anugerah. Mereka memohon agar Beliau berdiam selamanya di tempat itu demi kesejahteraan para pertapa dan kelangsungan yajña; maka Beliau dikenal sebagai Kaṇṭakaśoṣiṇī, “yang mengeringkan duri/derita,” yakni menetralkan kekuatan yang mencelakakan. Bab ini menutup dengan tuntunan pemujaan pada tithi hari ke-8 atau ke-9, serta phalaśruti: bebas dari takut akan rākṣasa dan piśāca, dan memperoleh siddhi tertinggi.

ब्रह्मेश्वरमाहात्म्यवर्णनम् | Brahmeśvara Liṅga: Account of Its Sacred Efficacy
Adhyaya ini memuat catatan teologis ringkas di tengah pemetaan Prabhāsa-kṣetra. Īśvara menjelaskan adanya sebuah liṅga yang sangat manjur di arah timur, tidak jauh dari titik acuan, yang berdaya mengikis dan melenyapkan dosa (pāpa-kṣaya). Liṅga itu bernama Brahmeśvara, dan disebut didirikan (pratiṣṭhā) oleh para brāhmaṇa, sebagai penanda legitimasi garis penahbisan. Urutan laku juga disiratkan: terlebih dahulu mandi suci di air tīrtha bernama Ṛṣitoya, lalu memuja liṅga Brahmeśvara. Buahnya mencakup pemurnian dan pencerahan: pemuja menjadi veda-vid (pengenal Weda), memperoleh kelayakan sebagai brāhmaṇa, serta terbebas dari jāḍya-bhāva—kelambanan dan kekakuan batin. Dengan demikian, letak tempat, tata-ritus, dan hasil rohani dipadukan dalam satu ajaran.

उन्नतस्थानमाहात्म्यवर्णनम् | The Māhātmya of Unnata-Sthāna (The ‘Elevated Place’)
Dalam dialog Īśvara–Devī, Śiva menuntun Devī ke wilayah suci di utara dekat tepi sungai Ṛṣitoyā dan memperkenalkan sebuah tempat bernama Unnata. Devī menanyakan asal-usul nama itu, latar “pemberian secara paksa” tempat tersebut kepada para brāhmaṇa, serta batas-batas kawasannya. Śiva menjelaskan beberapa lapis makna “Unnata”: liṅga yang ‘terangkat/menampakkan diri’ di Mahodaya, adanya ‘gerbang yang ditinggikan’ terkait Prabhāsa, dan keunggulan tempat itu karena tapa serta vidyā para resi yang luhur. Kisah berlanjut: banyak resi pertapa menjalankan tapa panjang; Śiva datang sebagai pengemis suci dan dikenali, namun pada akhirnya para resi hanya menyaksikan liṅga Mūlacandīśa. Siapa yang memperoleh darśana naik ke surga, sehingga semakin banyak yang berdatangan. Indra (Śatakratu) lalu menutupi liṅga dengan vajra, menghalangi darśana bagi resi lainnya. Śiva menenangkan para resi yang murka, mengajarkan bahwa surga tidak kekal, dan memerintahkan mereka menerima sebuah permukiman indah tempat agnihotra, yajña, pemujaan leluhur, keramahtamahan, dan studi Weda terus berlangsung—seraya menjanjikan mokṣa pada akhir hayat melalui anugerah-Nya. Viśvakarmā dipanggil untuk membangun, tetapi ia mengingatkan bahwa para perumah tangga tidak sepatutnya menetap permanen tepat di zona liṅga. Maka Śiva memerintahkan pembangunan di Unnata pada tepi Ṛṣitoyā. Wilayah suci yang lebih luas (termasuk “Nagnahara”) ditetapkan dengan penanda arah dan ukuran delapan yojana. Untuk perlindungan di Kali-yuga diberikan jaminan: Mahākāla sebagai penjaga, Unnata sebagai Vighnarāja/Gaṇanātha pemberi kekayaan, Durgāditya pemberi kesehatan, dan Brahmā penganugerahi tujuan hidup serta pembebasan. Uraian berpuncak pada penetapan Sthalakeśvara, gambaran tempat suci menurut tiap yuga, dan laku khusus pada tithi ke-14 bulan Māgha dengan berjaga malam (jāgara).

लिंगद्वयमाहात्म्यवर्णनम् | The Māhātmya of the Pair of Liṅgas
Dalam wacana teologis antara Īśvara dan Devī, bab ini menempatkan sepasang liṅga yang sangat berpahala di kawasan suci bagian tenggara. Dikisahkan bahwa keduanya didirikan oleh Viśvakarmā; ketika Tvaṣṭṛ datang untuk membangun kota, ia terlebih dahulu menegakkan Mahādeva, lalu kota didirikan, dan liṅga-liṅga itu ditegakkan (kembali), menegaskan hubungan timbal balik antara tatanan kota dan peneguhan ikon suci. Selanjutnya, uraian beralih dari legenda asal-usul ke petunjuk ritual: pemujaan liṅga-pasangan ini dianjurkan pada awal dan akhir setiap usaha, khususnya saat bepergian dan dalam arak-arakan pernikahan, sebagai upacara yang segera membuahkan hasil. Standar persembahan pun disebutkan—bahan harum, cairan laksana amṛta, serta beragam naivedya—sebagai pedoman etis untuk bhakti yang cermat dan penuh niat, bukan sekadar formalitas.

उन्नतस्थाने ब्रह्ममाहात्म्यवर्णनम् (The Glorification of Brahmā at Unnata-sthāna)
Bab ini berbentuk dialog Śiva–Devī. Īśvara mengumumkan sebuah tempat suci yang rahasia dan luhur, disebut Unnata-sthāna, yang memusnahkan dosa manusia, lalu memaparkan māhātmya Brahmā di sana. Devī bertanya mengapa Brahmā di tempat ini berwujud kanak-kanak, padahal di tempat lain digambarkan tua; ia juga menanyakan letak tempat itu, sebab kehadiran Brahmā, serta tata cara dan waktu pemujaan yang tepat. Īśvara menjelaskan bahwa singgasana utama Brahmā berada dekat sungai Ṛṣitoyā, dan di wilayah Prabhāsa terdapat peta pemujaan tiga serangkai: Brahmā di tepi sungai yang suci, Rudra di Agnitīrtha, dan Hari (Dāmodara) di bukit Raivataka yang menyejukkan. Dikisahkan Soma memohon kepada Brahmā; Brahmā datang ke Unnata-sthāna sebagai anak berusia delapan tahun, dan darśana semata membebaskan para bhakta dari dosa. Kemudian disampaikan pujian ajaran: tiada dewa, guru, pengetahuan, atau tapa yang menyamai Brahmā; pembebasan dari derita dunia bergantung pada bhakti kepada Pitāmaha. Penutupnya memberi tuntunan: mula-mula mandi suci di Brahma-kuṇḍa, lalu memuja Brahmā berwujud anak dengan bunga, dupa, dan persembahan lainnya.

दुर्गादित्यमाहात्म्यवर्णनम् (Durgāditya Māhātmya—Account of the Glory of Durgāditya)
Bab ini disajikan sebagai wejangan teologis: Īśvara menuturkan kepada Mahādevī tentang sebuah tirtha suci di arah selatan bernama “Durgāditya”, yang termasyhur sebagai penghapus segala dosa. Dikisahkan asal-usulnya: Dewi Durgā, pemusnah penderitaan, pernah dilanda kesusahan; demi memperoleh kelegaan ia memuja Sūrya dengan tapa yang panjang. Setelah tapa yang lama, Dewa Matahari (Divākara) menampakkan diri dan menawarkan anugerah. Durgā memohon agar penderitaannya dihancurkan. Sūrya memberi jaminan nubuat: dalam waktu singkat Bhagavān Tripurāntaka (Śiva) akan menegakkan sebuah liṅga yang mulia di tempat yang tinggi dan membawa keberkahan; di lokasi itu nama beliau akan dikenal sebagai “Durgāditya”, lalu ia menghilang. Penutup bab memberi tuntunan: pemujaan kepada Durgāditya ketika tithi Saptamī jatuh pada hari Minggu; disebutkan buahnya bahwa segala kesusahan mereda dan berbagai penyakit kulit, termasuk kuṣṭha, menjadi surut melalui pemujaan ini.

Kṣemeśvara Māhātmya (क्षेमेश्वरमाहात्म्य) — The Glory of Kṣemeśvara
Dalam dialog ajaran antara Śiva dan Devī, Īśvara mengarahkan perhatian Devī pada sebuah tempat suci di ‘sebelah selatan’ titik keramat yang telah disebut sebelumnya, terletak di tepi Sungai Ṛṣitoya. Situs itu dikenali sebagai Kṣemeśvara; tradisi penamaan juga dijaga—dahulu disebut Bhūtīśvara, sedangkan pada zaman Kali dinyatakan sebagai Kṣemeśa/Kṣemeśvara. Ajaran praktis bab ini singkat dan berpusat pada ziarah: dengan sekadar memandang (darśana) lalu memuja (pūjā) dewa tersebut, seorang bhakta dibebaskan dari segala kilbiṣa (noda moral/ritual). Pada penutup, bab ini diklasifikasikan dalam Skanda Mahāpurāṇa versi 81.000 śloka, pada bagian ketujuh (Prabhāsa Khaṇḍa), subbagian Prabhāsakṣetramāhātmya, berjudul ‘Kṣemeśvaramāhātmya-varṇana’.

गणनाथमाहात्म्यवर्णनम् (Glorification and Ritual Protocol of Gaṇanātha/Vināyaka at Prabhāsa)
Adhyaya ini memuat ajaran Īśvara kepada Devī tentang sebuah stasiun Vināyaka (Gaṇanātha) di sektor utara Prabhāsa, tepatnya pada sub-wilayah arah vāyavya (barat laut). Vināyaka ini disebut sebagai pemberi “segala siddhi”; ia juga dijelaskan secara menyatu sebagai sosok yang dahulu dikenal sebagai sahabat Dhanada (Kubera), kini hadir dalam wujud Gaṇanātha sebagai penjaga nidhis (harta/khazanah) demi menganugerahkan keberhasilan kepada makhluk. Selanjutnya diberikan tata cara pemujaan yang ringkas dan terikat waktu: lakukan pemujaan pada tithi caturthī ketika bertepatan dengan hari Selasa (bhauma-vāra), dengan persembahan makanan—bhakṣya, bhojya—serta modaka. Penutupnya menegaskan buahnya: pemujaan yang benar demikian menghasilkan dhruva-siddhi, yakni keberhasilan yang pasti.

उन्नतस्वामिमाहात्म्यवर्णनम् (Uṇṇatasvāmi Māhātmya—Description of the Glory of Unnatasvāmi)
Dalam adhyaya ini, Īśvara menasihati Devī agar melanjutkan perjalanan menuju tirtha Vināyaka yang utama, terletak di tepi sungai yang indah dan terkait dengan ṛṣi-toya, air yang disucikan para resi. Dewa di sana dipuji sebagai Gaṇeśa/Gaṇanātha, pemimpin para gaṇa ilahi, serta dipersatukan dengan daya kosmis penghancur Tripura, sehingga kemuliaannya ditegaskan dalam kerangka teologi Śaiva. Di mahākṣetra Prabhāsa, beliau bersemayam dalam gaja-rūpa yang luhur, dikelilingi gaṇa yang tak terhitung. Para peziarah diperintahkan untuk memuja dengan segenap upaya agar perjalanan bebas rintangan; persembahan harian seperti bunga dan dupa dianjurkan. Adhyaya ini juga menetapkan laku bersama pada tithi caturthī: warga kota hendaknya berulang kali mengadakan mahotsava pada caturthī demi kesejahteraan negeri (rāṣṭra-kṣema) dan tercapainya siddhi dalam segala usaha.

Mahākāla-māhātmya (महाकालमाहात्म्य) — The Glory of Mahākāleśvara
Adhyaya ini memaparkan petunjuk arah dari Īśvara dalam rangkaian ziarah suci Prabhāsa. Sang bhakta diarahkan menuju tempat di utara, tempat Mahākāleśvara bersemayam, yang dipuji sebagai pelindung tertinggi, sarva-rakṣā-kara. Bhairava, dalam wujud Rudra, disebut sebagai penjaga utama kota/permukiman yang terkait dengan śrī-kṣetra ini, sehingga kemuliaan tempat suci itu terikat pada teologi Śaiva yang menekankan perlindungan. Ditetapkan pula tata waktu ritual: pada darśa (bulan baru) dan pūrṇimā (bulan purnama) hendaknya diselenggarakan mahā-pūjā, menegaskan disiplin kalender dalam etika peziarahan. Dalam phalaśruti dikatakan: siapa yang mandi pada saat mujur bernama mahodaya lalu memandang Mahākāla, akan memperoleh kemakmuran duniawi—menjadi kaya—bahkan hingga ‘tujuh ribu kelahiran’.

महोदयमाहात्म्यवर्णनम् | The Glorification of Mahodaya Tīrtha
Adhyaya ini memuat ajaran Īśvara tentang Mahodaya, sebuah tīrtha di arah Īśāna. Peziarah hendaknya pergi ke Mahodaya, mandi suci sesuai vidhi, lalu melakukan tarpaṇa bagi para pitṛ dan para dewa. Mahodaya dipuji memiliki daya khas sebagai penawar bagi mereka yang terlibat dalam urusan yang peka secara etis, terutama “dosa akibat menerima pemberian” (pratigraha-kṛta doṣa); bagi pelaku yang bersembahyang di sana, rasa takut tidak muncul. Tīrtha ini menjadi sumber sukacita besar bagi kaum dvija, dan bahkan bagi mereka yang melekat pada kenikmatan indria maupun terjerat dalam penerimaan hadiah, dijanjikan buah yang mengarah pada pembebasan. Di utara Mahākāla, para Mātṛ ditempatkan untuk menjaga kawasan; setelah mandi, peziarah hendaknya memuja para Mātṛ tersebut. Penutupnya menyatakan Mahodaya sebagai pemusnah dosa dan pemberi mokṣa melalui abhiṣeka; luasnya kira-kira setengah krośa, dengan pusatnya dipuji sebagai tempat suci yang senantiasa dicintai para ṛṣi.

संगमेश्वरमाहात्म्यवर्णनम् / Description of the Glory of Saṅgameśvara
Bab ini memuat tuntunan teologis-ritual singkat yang disampaikan oleh Īśvara. Saṅgameśvara dinyatakan sebagai tirtha Śaiva yang melenyapkan dosa, berada di sektor barat-laut (vāyavya), serta dikenal sebagai tempat pertemuan para ṛṣi; dengan demikian kewibawaan dan kesuciannya diteguhkan. Di dekatnya, pada sektor timur, disebut sebuah kolam suci bernama Kuṇḍikā yang bersifat pāpa-nāśinī (penghapus dosa). Di sana Sarasvatī digambarkan hadir bersama daya api vaḍavānala, sebagai tanda mitis-hidrologis yang menambah kemuliaan tempat itu. Tata laku yang dianjurkan berurutan: mandi suci di Kuṇḍikā, lalu memuja Saṅgameśvara. Buahnya: keberuntungan jangka panjang—tidak terpisah dari kemakmuran dan keturunan tercinta dalam banyak kelahiran—serta lenyapnya dosa dari lahir hingga ajal.

उन्नतविनायकमाहात्म्यवर्णनम् | The Māhātmya of Unnata-Vināyaka (the Exalted Gaṇeśa)
Dalam adhyāya ini, Īśvara menyebut sebuah tempat suci termasyhur di wilayah Prabhāsa bernama “Uttamasthāna”. Tempat itu dikatakan berada di sebelah utara suatu kawasan ilahi yang dirujuk, dengan ukuran jarak menurut satuan setempat. Lebih ke utara lagi, pada jarak dua belas dhanu, berdiri Unnata Vighnarāja, yang dipuji sebagai pemusnah segala rintangan (sarva-pratyūha-nāśana). Pada hari caturthī (tithi keempat), dianjurkan pemujaan dengan wewangian, buah-buahan, serta persembahan manis seperti modaka. Buahnya adalah tercapainya tujuan yang diinginkan (vāñchita-kāma) dan keberhasilan yang digambarkan sebagai “kemenangan di tiga dunia”, sebagai jaminan phalaśruti dalam rangkaian pemuliaan tempat-tempat suci.

तलस्वामिमाहात्म्यवर्णनम् | The Glory of Taptodaka-Talāsvāmin (Talāsvāmi Māhātmya)
Bab ini menampilkan wejangan teologis Īśvara yang menunjuk sebuah tīrtha suci di sebelah utara suatu tempat tinggi, kira-kira tiga yojana jauhnya. Di sana disebut Taptakuṇḍa, sumber air taptodaka yang berdaya panas, serta kemuliaan dewa Talāsvāmin. Diingatkan pula kisah lampau: setelah pertarungan panjang, Talāsvāmin—pemimpin di antara para daitya—ditewaskan oleh Viṣṇu. Kenangan itu kemudian menjadi tuntunan ziarah: peziarah hendaknya mandi di Taptakuṇḍa, memuja Talāsvāmin dengan tata cara yang benar, serta melakukan piṇḍa-pradāna bagi leluhur. Buahnya disebut berlipat, setara dengan pahala “koṭi-yātrā”; dengan demikian penunjuk lokasi, legitimasi mitis, dan prosedur ritual dipadukan menjadi satu unit tīrtha yang jelas.

कालमेघमाहात्म्यवर्णनम् (The Māhātmya of Kāla-Megha)
Bab ini disajikan sebagai ajaran Īśvara kepada Mahādevī tentang tempat suci yang dimuliakan bernama Kāla-Megha. Sang pemuja diarahkan untuk pergi ke sana, dan di sisi timur disebutkan adanya kṣetrapa/penjaga wilayah yang menampakkan diri dalam wujud liṅga. Tata pemujaan ditetapkan menurut penanggalan: terutama pada hari lunar ke-8 (aṣṭamī) atau ke-14 (caturdaśī), orang hendaknya memuliakan liṅga itu dengan persembahan bali. Buah ajarannya menyatakan bahwa dewa tersebut menganugerahkan tujuan yang diinginkan (vāñchitārtha-prada) dan, pada zaman Kali, bagaikan pohon pengabul harapan yang mudah memberi hasil melalui bhakti yang tertib. Kolofon menandai bagian ini sebagai adhyāya ke-331 dari Prabhāsa-kṣetra-māhātmya (bagian pertama) dalam Prabhāsa Khaṇḍa, Skanda Mahāpurāṇa.

रुक्मिणीमाहात्म्यवर्णनम् | Rukmiṇī Māhātmya (Glorification of Rukmiṇī and the Hot-Water Kuṇḍa)
Adhyāya ini disampaikan sebagai ajaran teologis oleh Īśvara tentang dua unsur suci yang saling terkait di Prabhāsa-kṣetra: kumpulan taptodaka-kuṇḍa (kolam air panas) di arah selatan pada jarak tertentu, serta penempatan Dewi Rukmiṇī di arah timur pada selang yang telah ditetapkan. Taptodaka-kuṇḍa ditegaskan sebagai tirtha pemurnian, yang mampu melenyapkan dosa-dosa amat berat, bahkan seperti “koṭi-hatyā-vināśana”. Tata-urut ritualnya dijelaskan: mula-mula bersnāna di kuṇḍa air panas, kemudian melakukan saṃpūjā kepada Dewi Rukmiṇī. Beliau dipuji sebagai penghapus segala dosa dan penganugerahi kemujuran. Dalam phalaśruti disebutkan janji etis-sosial bagi keteguhan rumah tangga: khususnya bagi perempuan, gangguan atau pecahnya rumah tangga (gṛha-bhaṅga) tidak akan terjadi hingga tujuh kelahiran, sebagai buah ziarah, laku, dan bhakti di tempat suci itu.

मधुमत्यां पिङ्गेश्वर-भद्रा-सङ्गम-माहात्म्यवर्णनम् (Glorification of Pingeshvara and the Bhadrā Confluence at Madhumatī)
Īśvara menjelaskan urutan titik-titik suci di Prabhāsa-kṣetra, di sekitar Sungai Bhadrā dan dekat pesisir samudra. Disebutkan sebuah liṅga bernama Durvāseśvara yang sangat menyucikan dan menganugerahkan kebahagiaan. Mandi pada hari bulan baru (amāvasyā) lalu mempersembahkan piṇḍa bagi para leluhur dikatakan memberi kepuasan luas dan lama bagi para pitṛ. Banyak liṅga telah dipasang oleh para ṛṣi; peziarah memperoleh pelepasan dari cela melalui melihat, menyentuh, dan memujanya. Bab ini juga menetapkan batas-batas kṣetra: sebuah tempat di keliling bernama Madhumatī, dan di arah barat daya lokasi yang disebut Khaṇḍaghaṭa. Di tepi laut berdiri Pingeshvara; disebut pula tujuh sumur, di mana pada hari perayaan tampak ‘tangan’ para leluhur, menegaskan kemuliaan śrāddha. Melaksanakan śrāddha di sini dinyatakan berbuah berlipat melampaui Gayā. Akhirnya, pertemuan (saṅgama) Bhadrā—dengan bingkai timur–barat—diidentifikasi, dan pahalanya disamakan dengan kesucian Gaṅgā–Sāgara, menghubungkan geografi setempat dengan nilai ritual pan-India.

तलस्वामिमाहात्म्यवर्णनम् (Talasvāmi Māhātmya: Origin Legend and Pilgrimage Rite)
Dalam adhyaya ini, Devī bertanya kepada Īśvara tentang sebab “Tala” jatuh sebagaimana disebut sebelumnya, serta mengapa Talasvāmi menjadi termasyhur. Īśvara mengungkap kisah asal yang rahasia: seorang dānava ganas bernama Mahendra bertapa lama, menaklukkan para dewa, lalu menuntut duel yang membawa bencana. Dari energi api yang menjelma dari Rudra lahirlah makhluk bernama Tala; berdaya oleh vīrya Rudra, Tala mengalahkan Mahendra dan menari, hingga guncangan tarinya membuat tiga dunia bergetar, gelap menyelimuti, dan semua makhluk diliputi takut. Para dewa memohon kepada Rudra; Rudra menyatakan Tala tak dapat dilukai karena ia “putranya”, lalu mengarahkan mereka kepada Hṛṣīkeśa (Viṣṇu) di Prabhāsa, dekat Taptodaka-kuṇḍa dan tempat suci yang dikenal dengan nama Stutisvāmi. Viṣṇu bergulat (malla-yuddha) dengan Tala, menjadi letih, lalu memohon Rudra memulihkan panas air Taptodaka agar lelahnya sirna; Rudra memanaskan kuṇḍa dengan mata ketiga, Viṣṇu mandi dan kembali kuat, kemudian menaklukkan Tala. Tala justru tertawa dan berkata bahwa meski niatnya tidak murni, ia telah mencapai keadaan tertinggi Viṣṇu; Viṣṇu pun memberi anugerah. Tala memohon agar kemasyhurannya abadi dan agar siapa pun yang memandang Viṣṇu dengan bhakti pada ekādaśī terang bulan di Mārgāśīrṣa memperoleh lenyapnya dosa. Penutupnya menjelaskan daya tīrtha itu: penghancur dosa, penghapus letih, dan penebus bahkan kesalahan berat; di sana hadir Nārāyaṇa serta wujud kṣetrapāla Śaiva bernama Kāla-megha. Ditentukan pula tata cara ziarah: mengingat Viṣṇu sebagai Talasvāmi, melafalkan mantra (termasuk Sahasraśīrṣa), mandi, mempersembahkan arghya, pūjā dengan wewangian/bunga/kain, pengurapan, naivedya, mendengarkan dharma, berjaga malam, memberi dana (termasuk lembu jantan, emas, kain) kepada brāhmaṇa Veda yang layak, berpuasa, dan menghormat Rukmiṇī. Phalaśruti menyatakan kesetaraan dengan banyak upacara, pengangkatan leluhur, serta manfaat lintas kelahiran dari darśana Talasvāmi dan mandi di kuṇḍa.

शंखावर्त्ततीर्थमाहात्म्यवर्णनम् (The Māhātmya of Śaṅkhāvartta Tīrtha)
Bab ini memuat petunjuk Īśvara kepada Devī dengan arah yang sangat jelas. Peziarah diminta bergerak ke barat menuju tepi suci Sungai Nyankumatī, lalu ke selatan menuju tīrtha agung bernama Śaṅkhāvartta. Di sana terdapat batu bertanda gambar (citrāṅkitā śilā) yang dikaitkan dengan kehadiran svayaṃbhū ‘raktagarbhā’; bahkan setelah batu itu “dipotong”, tanda kemerahan tetap tampak, menegaskan kesakralan yang menetap pada lanskap. Tempat ini disebut sebagai Viṣṇu-kṣetra. Asal-usulnya dihubungkan dengan kisah lama ketika Viṣṇu membunuh ‘Śaṅkha’, pencuri Veda (vedāpahārī). Perairannya digambarkan berbentuk cangkang kerang (śaṅkha), sehingga nama dan kewibawaan tīrtha memperoleh dasar bentuk yang nyata. Pernyataan buah (phala) menyebutkan: mandi suci di sini membebaskan dari beban dosa brahmahatyā, dan bahkan seorang Śūdra dikatakan meraih kelahiran-kelahiran berikutnya sebagai brāhmaṇa. Perjalanan lalu berlanjut ke timur menuju Rudragayā; mereka yang menghendaki buah ziarah yang sempurna diperintahkan melakukan sedekah sapi (godāna) di sana, menyatukan penyucian, pahala, dan pemberian dharmis dalam satu rute.

गोष्पदतीर्थमाहात्म्यवर्णनम् (The Glory of Goṣpada Tīrtha)
Bab ini menampilkan dialog teologis antara Īśvara dan Devī tentang sebuah tirtha yang tersembunyi namun sangat manjur di wilayah Prabhāsa: Goṣpada Tīrtha, di sekitar sistem sungai Nyanku-matī, beserta ‘preta-śilā’ yang terkait pelepasan leluhur. Buah śrāddha di tempat ini dinyatakan “tujuh kali lipat dari Gayā”, dan ditampilkan teladan: śrāddha Raja Pṛthu yang mengangkat Raja Vena dari kelahiran penuh dosa. Devī memohon asal-usul tempat, tata cara, mantra, serta kualifikasi pelaksana; Īśvara menegaskan ajaran ini bersifat rahasya dan hanya patut disampaikan kepada yang beriman. Selanjutnya dipaparkan itinerary ritual yang teratur: disiplin kemurnian (brahmacarya, śauca, āstikya), menjauhi pergaulan nāstika, menyiapkan bahan śrāddha, mandi di Nyanku-matī, lalu tṛpaṇa bagi para deva dan pitṛ. Mantra pemanggilan dewa-dewa pitṛ seperti Agniṣvātta, Barhiṣad, dan Somapā disebut, disertai pinda-persembahan yang luas bagi leluhur yang dikenal maupun tak dikenal, termasuk yang berada dalam keadaan pascakematian yang sulit bahkan yang terlahir dalam wujud non-manusia. Persembahan seperti pāyasa, madu, saktu, piṣṭaka, caru, biji-bijian, umbi dan buah, serta dāna seperti go-dāna dan dīpa-dāna, pradakṣiṇā, dakṣiṇā, dan pelarungan pinda juga dijelaskan. Bagian itihāsa mengisahkan pemerintahan adharma Vena, kematiannya oleh para ṛṣi, kemunculan Niṣāda dan Pṛthu, kerajaan Pṛthu serta motif ‘memerah bumi’, lalu upaya Pṛthu menebus Vena. Tirtha-tirtha biasa gentar oleh dosa Vena, hingga petunjuk surgawi mengarahkan Pṛthu ke Prabhāsa, khususnya Goṣpada, tempat ritus itu berhasil dan Vena memperoleh pembebasan. Penutup menegaskan keluwesan waktu pelaksanaan, menyebut kesempatan-kesempatan baik, dan memerintahkan agar rahasya ini hanya diwariskan kepada praktisi yang tulus.

न्यंकुमतीमाहात्म्ये नारायणगृहमाहात्म्यवर्णनम् | Narāyaṇa-gṛha: Glory and Observances near Nyankumatī
Īśvara menasihati Devī agar peziarah menuju sebuah tirtha tertinggi bernama Narāyaṇa-gṛha, terletak di tepi laut yang suci di sebelah selatan tempat yang disebut Goṣpada, dekat Nyankumatī yang dikenal sebagai penghapus dosa. Di sana Keśava hadir tetap melampaui pergantian kalpa; setelah menumpas kekuatan yang memusuhi dan demi pengangkatan para leluhur pada zaman Kali yang keras, Hari berdiam di “rumah” itu untuk beristirahat, sehingga tempat tersebut termasyhur di dunia. Dijelaskan pula penamaan menurut yuga: pada Kṛta Ia disebut Janārdana, pada Tretā Madhusūdana, pada Dvāpara Puṇḍarīkākṣa, dan pada Kali Nārāyaṇa. Dengan demikian tirtha ini dipandang sebagai pusat yang mantap bagi penataan dharma sepanjang empat zaman. Petunjuk laku diberikan: pada hari Ekādaśī, orang yang berpuasa tanpa makan (nirāhāra) dan memandang Dewa di sana dikatakan memperoleh buah berupa penglihatan akan kedudukan tertinggi Hari yang “tanpa akhir”. Ritus ziarah seperti mandi suci dan śrāddha dianjurkan, serta diperintahkan memberi pakaian kuning sebagai dāna kepada brāhmaṇa yang utama. Penutupnya menyatakan bahwa mendengar atau melantunkan kisah kemuliaan ini menganugerahkan sadgati, tujuan rohani yang baik.

Jāleśvara-liṅga-prādurbhāvaḥ (Origin and Glory of Jāleśvara at the Devikā Riverbank)
Īśvara menjelaskan sebuah liṅga yang bercahaya di tepi Sungai Devikā, dikenal sebagai Jāleśvara, dipuja para gadis nāga; bahkan sekadar mengingatnya dikatakan melenyapkan dosa besar seperti brahmahatyā. Devī menanyakan asal nama itu dan pahala berhubungan dengan tempat suci tersebut. Īśvara lalu menuturkan itihāsa kuno: di Prabhāsa, resi Āpastamba bertapa dan bermeditasi di dalam air. Para nelayan melempar jala besar dan tanpa sengaja menarik sang resi dari air; mereka menyesal dan memohon ampun. Sang resi merenungkan welas asih dan dharma, berdoa agar pahala tapanya bermanfaat bagi makhluk lain dan agar kesalahan para nelayan berbalik ia tanggung. Raja Nābhāga datang bersama menteri dan pendeta, hendak memberi ‘harga’ sebagai ganti rugi, namun resi menolak ukuran uang. Resi Lomasha menasihati bahwa harga yang pantas adalah seekor sapi; Āpastamba memuji kesucian sapi, kemuliaan pañcagavya, serta kewajiban melindungi dan menghormati sapi setiap hari. Nelayan mempersembahkan sapi; resi memberkati mereka agar naik ke surga bersama ikan-ikan yang terangkat dari air, menegaskan bahwa niat baik dan kesejahteraan makhluk adalah yang utama. Nābhāga dipuji karena mencari pergaulan suci, dinasihati agar meninggalkan kesombongan raja, dan dianugerahi karunia langka: kecerdasan dharma. Pada akhir bab, Īśvara menyatakan liṅga itu didirikan oleh sang resi dan dinamai Jāleśvara karena ia pernah jatuh ke dalam jala (jāla). Diajarkan pula tata ziarah: mandi suci dan pemujaan di Jāleśvara, mendengarkan māhātmya, serta mempersembahkan upacara—terutama piṇḍa-dāna pada Śukla Trayodaśī bulan Caitra dan go-dāna kepada brāhmaṇa yang menguasai Veda—sebagai amal yang sangat berpahala.

Huṁkāra-kūpa Māhātmya (The Glory of the Well Filled by the Huṁkāra)
Īśvara menuturkan kepada Mahādevī kemuliaan Sumur Huṁkāra yang termasyhur di tiga dunia, terletak di tepi indah Sungai Devikā. Di sana, resi Taṇḍī yang tinggal di tepi Devikā menjalankan tapa dengan bhakti teguh kepada Śiva. Suatu ketika seekor rusa tua yang buta jatuh ke dalam lubang/sumur yang dalam dan kering. Sang muni tergerak oleh welas asih, namun tetap menjaga laku tapa; ia berulang kali melafalkan huṁkāra “huṁ”. Dengan daya bunyi suci itu, sumur terisi air sehingga rusa tersebut dapat keluar dengan susah payah. Rusa itu kemudian mengambil wujud manusia dan bertanya kepada resi tentang buah karma yang tampak begitu ajaib. Ia menjelaskan bahwa di tempat inilah, semata karena kemanjuran tīrtha ini, ia jatuh ke kelahiran sebagai rusa dan di sini pula kembali menjadi manusia—tanpa sebab lain. Resi kembali mengucap huṁkāra dan sumur pun terisi air seperti sebelumnya; ia mandi suci dan melakukan pitṛ-tarpaṇa, mengenali tempat itu sebagai tīrtha utama, lalu mencapai keadaan luhur (parā gati). Phalaśruti menyatakan: hingga kini, bila huṁkāra dilantunkan di sana, pancaran air akan muncul. Seorang bhakta yang berziarah—meski dahulu bergelimang dosa—tidak memperoleh kelahiran manusia lagi di bumi. Siapa yang mandi, menjadi suci, dan melaksanakan śrāddha dibebaskan dari segala dosa, dimuliakan di pitṛloka, serta dikatakan mengangkat tujuh garis keturunan, lampau dan yang akan datang.

चण्डीश्वरमाहात्म्यवर्णनम् (Glorification of Caṇḍīśvara)
Dalam bab ini, Īśvara menasihati Devī agar memusatkan perhatian pada sebuah tirtha di Prabhāsa: Caṇḍīśvara, sebuah mahāliṅga yang termasyhur sebagai pemusnah segala dosa dan pelanggaran. Dengan darśana dan pemujaan penuh bhakti, batin menjadi suci dan pahala kebajikan besar diperoleh. Selanjutnya dijelaskan tata laku waktunya: pada hari keempat belas paruh terang (śukla-caturdaśī) di bulan Kārttika, hendaknya seseorang berpuasa (upavāsa) dan berjaga semalam (prajāgara). Dengan menjalankan laku ini, pelaku terbebas dari noda dosa dan meraih kedudukan tertinggi yang terkait dengan Maheśvara, sebagaimana dinyatakan dalam phalaśruti penutup.

आशापूरविघ्नराजमाहात्म्यवर्णनम् (The Māhātmya of Āśāpūra Vighnarāja)
Bab ini memuat uraian teologis Īśvara tentang sebuah śrī-kṣetra bernama Āśāpūra Vighnarāja yang berada di arah Vāyavya (barat laut). Tempat suci ini dipuji sebagai akalmaṣa (tanpa noda) dan vighna-nāśana (pelenyap rintangan); sebutan Āśāpūraka dijelaskan sebagai “pemenuh harapan/keinginan” karena dewa berkenan mengabulkan aspirasi para bhakta. Keampuhannya diteguhkan lewat kisah teladan: Rāma, Sītā, dan Lakṣmaṇa dikatakan memuja Gaṇeśa/Vighneśa di sana dan memperoleh tujuan yang diinginkan. Candra (Dewa Bulan) pun memuja Gaṇādhipa dan menerima anugerah yang dimohon, termasuk kesembuhan—dinyatakan sebagai lenyapnya segala kuṣṭha (penyakit kulit). Tata-ritualnya: pada śukla-caturthī (hari keempat paruh terang) bulan Bhādrapada, hendaknya memuja beliau dan memberi jamuan kepada para brāhmaṇa dengan modaka. Buahnya ialah keberhasilan sesuai harapan oleh anugerah Vighnarāja; penutup menegaskan beliau ditetapkan oleh Īśvara untuk melindungi kṣetra serta menyingkirkan rintangan bagi para peziarah dan musafir.

Chandreśvara–Kalākuṇḍa Tīrtha Māhātmya (चंद्रेश्वरकलाकुण्डतीर्थमाहात्म्य)
Bab 342 dalam Prabhāsa Khaṇḍa memuat ajaran Īśvara tentang suatu tempat suci tertentu. Di arah selatan–nairṛtya, pada jarak dekat, disebutkan sebuah liṅga penghapus dosa yang berdiri sendiri, didirikan oleh Soma (Bulan), dikenal sebagai Candreśa/Chandreśvara. Di dekatnya ada perairan suci bernama Amṛta-kuṇḍa, yang juga disebut Kalā-kuṇḍa. Urutan laku ritual ditegaskan: terlebih dahulu mandi suci (snāna) di kuṇḍa, lalu memuja Candreśvara. Buahnya dinyatakan besar—pemuja memperoleh pahala tapa selama seribu tahun. Disebut pula sebuah kolam (taḍāga) yang dibangun oleh Candra, berukuran enam belas panjang busur, dan terletak menurut orientasi timur–barat relatif terhadap Candreśa, sehingga bagian ini berfungsi seperti peta tirtha yang dapat ditelusuri. Kolofon menempatkannya dalam Prabhāsakṣetra-māhātmya, pada alur tema Aśāpūrā-māhātmya.

कपिलधाराकपिलेश्वरमाहात्म्ये कपिलाषष्ठीव्रतविधानमाहात्म्यवर्णनम् (Kapiladhārā–Kapileśvara Māhātmya and the Procedure/Glory of the Kapilā-Ṣaṣṭhī Vrata)
Bab ini disusun sebagai dialog suci antara Śiva dan Devī. Mula-mula dijelaskan letak Kapileśvara dan Kapila-kṣetra melalui penunjuk arah serta rujukan tīrtha, lalu kewibawaan tempat itu diteguhkan oleh kisah purba: tapa panjang resi Kapila dan penegakan (pratiṣṭhā) Maheśvara. Disebut pula arus sungai suci ‘Kapiladhārā’ yang berhubungan dengan samudra, yang hanya tampak/terasa bagi mereka yang berpunya kebajikan. Inti ajaran adalah tata cara vrata ‘Kapilā-Ṣaṣṭhī’, ditandai oleh pertemuan kalender yang langka. Umat diajari urutan laku: mandi suci (di kṣetra atau di tempat yang terkait Sūrya), japa, mempersembahkan arghya kepada Sūrya dengan bahan-bahan tertentu, pradakṣiṇā, dan pemujaan di dekat Kapileśvara. Selanjutnya ditetapkan rangkaian dāna: penataan kumbha, ikonografi Sūrya, serta pemberian kepada brāhmaṇa yang menguasai Veda. Penutupnya berupa phalaśruti yang luas: penghapusan dosa yang menumpuk dan pahala amat tinggi, disetarakan dengan yajña besar dan derma di banyak tīrtha.

जरद्गवेश्वरमाहात्म्यवर्णनम् | Jaradgaveśvara Māhātmya (Glorification of Jaradgaveśvara)
Bab 344 menggambarkan bimbingan Īśvara kepada Devī tentang tirtha dalam kerangka Prabhāsa-kṣetra. Disebutkan sebuah liṅga pemusnah dosa bernama Jaradgaveśvara, didirikan oleh Jaradgava, dan letaknya dijelaskan berhubungan dengan Kapileśvara menurut arah. Bersembahyang dan berziarah ke sana dinyatakan melenyapkan dosa besar seperti brahmahatyā beserta pelanggaran terkait. Di tempat yang sama hadir dewi sungai Aṃśumatī. Umat dianjurkan mandi suci sesuai tata cara, lalu melakukan piṇḍa-dāna (persembahan bagi leluhur); buahnya ialah kepuasan leluhur untuk waktu yang panjang. Juga dianjurkan memberi sedekah seekor lembu jantan (vṛṣabha) kepada Brāhmaṇa yang menguasai Weda. Rincian bhakti meliputi persembahan gandha dan puṣpa, pemandian liṅga dengan pañcāmṛta, dupa guggulu, serta pujian, sujud, dan pradakṣiṇā yang berkesinambungan. Memberi jamuan kepada para Brāhmaṇa dengan beragam makanan disebut sebagai dharma dengan pahala berlipat. Tirtha ini diingat bernama Siddhodaka pada Kṛta-yuga dan Jaradgaveśvara-tīrtha pada Kali-yuga.

नलेश्वरमाहात्म्यवर्णनम् (Naleśvara Māhātmya—Account of the Glory of Naleśvara)
Adhyāya ini memaparkan secara ringkas kemuliaan liṅga bernama Hāṭakeśvara di medan suci Prabhāsa, serta menyebutkan bahwa di sisi timurnya terdapat tempat suci bernama Naleśvara. Īśvara menuturkan kepada Devī petunjuk arah beserta ukuran jarak tertentu, agar peziarah dapat mengenali dan menemukan lokasi śrī-kṣetra tersebut. Dinyatakan bahwa Naleśvara didirikan oleh Raja Nala bersama Damayantī, sehingga kewibawaan tempat itu diteguhkan oleh teladan pasangan raja yang mulia dan pengakuan mereka atas keunggulan kṣetra. Pada bagian phalaśruti disebutkan: manusia yang melihat dan memuja liṅga itu menurut tata cara yang benar akan terbebas dari penderitaan “kali” (cela zaman) dan juga dianugerahi kemenangan dalam permainan dadu/judi (dyūta), sebagai buah duniawi yang khas dari bhakti di sana.

कर्कोटकार्कमाहात्म्यवर्णनम् — Karkoṭakārka Māhātmya (Account of the Glory of the ‘Karkoṭaka Sun’)
Adhyaya ini disampaikan sebagai ajaran Īśvara tentang wujud suci Surya bernama Karkoṭaka-ravi yang berada di sektor Āgneya (tenggara) Prabhāsa-kṣetra. Dinyatakan bahwa sekadar darśana (melihat dengan bhakti) kepada wujud ini membuat semua dewa berkenan, sehingga satu penampakan ilahi setempat menjadi pusat restu para dewa. Kemudian ditetapkan tata laku ringkas: pemujaan menurut vidhi dilakukan pada tithi saptamī ketika bertepatan dengan hari Minggu (ravivāra), dengan persembahan dhūpa (dupa), gandha (wewangian), dan anulepana (olesan/urapan suci). Ajaran etis-doktrinalnya menegaskan pemurnian yang nyata: waktu yang tepat dan persembahan yang benar membebaskan dari sarva-kilbiṣa, yakni segala noda moral dan ritual. Kolofon menandainya sebagai adhyaya ke-346 dalam Skanda Mahāpurāṇa, Prabhāsa Khaṇḍa, Prabhāsakṣetramāhātmya.

हाटकेश्वरमाहात्म्यम् (Hāṭakeśvara Māhātmya: The Glory of Hatakeśvara Liṅga and Agastya’s Āśrama)
Īśvara menuturkan kepada Devī letak dan kesucian Hāṭakeśvara-liṅga. Ia berada dekat Naleśvara, di sisi rimbun Agastyāmra-vana, tempat dahulu Ṛṣi Agastya menjalani tapa. Lalu disampaikan kisah sebab-musabab: setelah Viṣṇu membinasakan para daitya Kālakeya, sisa-sisanya bersembunyi di samudra dan pada malam hari menyerang wilayah Prabhāsa, memangsa para tapasvin serta merusak budaya yajña dan dāna; tanda-tanda dharma seperti svādhyāya dan vaṣaṭ-kāra pun merosot. Para deva yang gelisah mendatangi Brahmā; Brahmā mengenali mereka sebagai Kālakeya dan mengarahkan para deva menuju Agastya di Prabhāsa. Agastya pergi ke tepi samudra dan meminumnya seteguk (gandūṣa), sehingga para daitya tersingkap dan dikalahkan; sebagian lari ke pātāla. Ketika diminta mengembalikan samudra, Agastya berkata airnya telah ‘menua/tercemar’, dan menubuatkan bahwa kelak Bhāgīratha akan membawa Gaṅgā untuk mengisinya kembali. Penutupnya berupa anugerah: pemujaan dan mandi suci dekat āśrama Agastya dan Hāṭakeśvara memberi hasil rohani agung; pemujaan harian setara pahala go-dāna, dan pemujaan pada musim/ayana serta śrāddha berbuah lebih tinggi. Mendengar kisah ini dengan śraddhā membebaskan dosa siang-malam seketika.

नारदेश्वरीमाहात्म्यवर्णनम् | Nāradeśvarī Māhātmya (Glorification of Nāradeśvarī)
Adhyaya ini menyajikan petunjuk tirtha yang ringkas dalam bingkai wejangan Īśvara. Sang bhakta—dengan menyapa Mahādevī—diarahkan berjalan ke arah barat menuju tempat suci Dewi Nāradeśvarī; kedekatan (sānnidhya) beliau dipuji sebagai pemusnah segala kemalangan (daurbhāgya). Ditetapkan pula tata-bhakti khusus: seorang perempuan yang memuja Dewi dengan hati tenang pada tithi Tṛtīyā menegakkan pahala pelindung, sehingga dalam garis keturunannya para perempuan tidak akan ditandai oleh kemalangan. Dengan demikian, petunjuk tempat, ketentuan waktu, dan buah (phala) dirangkum, lalu bab ini ditutup sebagai ‘Nāradeśvarī-māhātmya’ dalam Prabhāsakṣetra-māhātmya.

मन्त्रविभूषणागौरी-माहात्म्यवर्णनम् (Glorification of Mantravibhūṣaṇā Gaurī)
Dalam adhyāya ini, Īśvara menasihati Devī agar memberi perhatian khusus pada wujud Dewi “Mantravibhūṣaṇā” yang berada dekat Bhīmeśvara. Disebutkan pula bahwa dahulu Soma telah memuja Dewi ini dengan tata cara yang benar, sehingga kemuliaan Dewi dan kesucian tempatnya ditegaskan. Selanjutnya ditetapkan waktu dan tata laksana vrata: pada bulan Śrāvaṇa, tepat pada tithi tṛtīyā di paruh terang (śukla-pakṣa), seorang perempuan yang memuja Dewi ini sesuai aturan akan terbebas dari segala duka. Dengan demikian, uraian tentang lokasi suci, garis bhakti, dan penentuan waktu vrata dipadukan menjadi ajaran ringkas yang berorientasi pada buah (phala).

दुर्गकूटगणपतिमाहात्म्यवर्णनम् | The Māhātmya of Durgakūṭa Gaṇapati (Glorification Narrative)
Dalam adhyāya ini, melalui sabda Īśvara, diberikan petunjuk topografi halus tentang Viśveśa yang bersemayam di Durgakūṭaka—terletak di sebelah timur Bhallatīrtha dan di selatan Yoginīcakra. Lalu disampaikan teladan: Bhīma berhasil memuja dan menyenangkan dewa ini, menegaskan kemujaraban tempat suci tersebut sebagai “sarvakāmaprada”, pemberi segala tujuan yang diinginkan bila pemujaan dilakukan sesuai aturan. Waktu pemujaan ditetapkan pada bulan Phālguna, paruh terang (śukla pakṣa), hari lunar keempat (caturthī). Dengan persembahan sederhana—wewangian, bunga, dan air—serta tata cara yang benar, pemuja memperoleh, tanpa ragu, kehidupan bebas rintangan selama satu tahun; demikianlah phala (buah) yang dinyatakan secara ringkas.

कौरवेश्वरीमाहात्म्यवर्णनम् | The Māhātmya of Kauraveśvarī (Protectress of the Kṣetra)
Adhyaya ini memuat ajaran Īśvara kepada Mahādevī agar pergi kepada Dewi Kauraveśvarī. Dijelaskan bahwa nama beliau terhubung dengan Kurukṣetra karena pemujaan terdahulu (ārādhanā), dan beliau dipandang sebagai kekuatan pelindung yang menjaga kṣetra suci; diingatkan pula bahwa Bhīma pernah memuja beliau setelah memikul tugas melindungi kṣetra. Ditetapkan pula ketentuan waktu: pemujaan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh pada hari Mahānavamī disebut sangat manjur. Bab ini menegaskan etika jamuan dan dana: persembahan makanan hendaknya diberikan khusus kepada pasangan suami-istri (dampatī), disertai santapan bermutu luhur serta manisan yang disiapkan dengan baik. Dengan pujian dan pemberian demikian, sang Dewi berkenan dan melindungi pemuja bagaikan seorang putra; bhakti pada tempat suci, kewajiban menjaga, dan dana yang teratur saling menguatkan.

सुपर्णेलामाहात्म्यवर्णनम् (Supārṇelā Māhātmya—Account of the Glory of Supārṇelā)
Īśvara menasihati Devī dengan petunjuk arah ziarah: di selatan Durga-kūṭa, pada jarak tertentu, terdapat tīrtha Supārṇelā beserta locus Bhairavī. Lalu dijelaskan asal-usulnya: Garuḍa (Supārṇa) pernah membawa amṛta dari Pātāla dan melepaskannya di sana di hadapan para nāga; tempat yang disaksikan dan dijaga para nāga itu kemudian termasyhur di bumi sebagai Supārṇelā. Tanah itu disebut ‘Ilā’ yang ditegakkan oleh Supārṇa, dan nama Supārṇelā ditegaskan berkaitan dengan pemusnahan pāpa (dosa). Tata laku yang dianjurkan ialah mandi suci di Supārṇa-kuṇḍa, bersembahyang di tempat itu, serta memberi jamuan dan dāna—terutama anna-dāna kepada brāhmaṇa. Buahnya nyata: perlindungan dari bahaya mematikan, serta keberuntungan rumah tangga, termasuk perempuan menjadi jīva-vatsā (anak-anaknya hidup) dan berhias dengan keturunan.

भल्लतीर्थमाहात्म्यवर्णनम् | Bhallatīrtha Māhātmya (Glorification of Bhallatīrtha)
Īśvara berbicara kepada Devī tentang sebuah tīrtha agung bernama Bhallatīrtha, terletak di wilayah barat Prabhāsa, dekat Mitravana. Tempat ini ditegaskan sebagai ‘ādi-kṣetra’ Vaiṣṇava, di mana Viṣṇu bersemayam secara istimewa sepanjang yuga, dan kehadiran Gaṅgā dinyatakan tampak demi kesejahteraan semua makhluk. Ditekankan tata waktu dan laku: pada hari Dvādaśī (dengan disiplin Ekādaśī), peziarah hendaknya mandi menurut aturan, memberi dāna kepada brāhmaṇa yang layak, melakukan pitṛ-tarpaṇa/śrāddha dengan bhakti, memuja Viṣṇu, berjaga pada malam hari, serta mempersembahkan dāna lampu; semuanya dipuji sebagai penyuci dan pemberi pahala kebajikan. Kemudian disampaikan kisah asal-usul: setelah Yādava ditarik dari dunia, Vāsudeva bermeditasi di tepi laut. Seorang pemburu bernama Jarā, mengira kaki Viṣṇu sebagai rusa, melepaskan panah (bhalla). Setelah menyadari wujud ilahi, ia memohon ampun; Viṣṇu menyatakan peristiwa itu menuntaskan akhir kutuk terdahulu, menganugerahkan kenaikan bagi sang pemburu, dan berjanji bahwa siapa pun yang datang, memandang, dan berbhakti di tempat ini akan mencapai alam Viṣṇu. Nama Bhallatīrtha berasal dari peristiwa bhalla itu, dan tempat ini juga dikenal sebagai Harikṣetra pada siklus kosmis terdahulu. Pada penutup, kelalaian terhadap tata laku Vaiṣṇava—terutama mengabaikan pantangan Ekādaśī—dikritik, sedangkan pemujaan Dvādaśī di dekat Bhallatīrtha dipuji sebagai pemberi perlindungan rumah tangga dan pahala. Bagi yang menghendaki buah ziarah sepenuhnya, dianjurkan memberi hadiah seperti kain dan sapi kepada brāhmaṇa terkemuka.

Kardamālā-tīrtha Māhātmya and the Varāha Uplift of Earth (कर्दमालतीर्थमाहात्म्यं तथा वाराहोद्धारकथा)
Adhyaya ini dibingkai sebagai wejangan teologis Īśvara kepada Devī tentang tīrtha bernama Kardamālā, yang termasyhur di tiga dunia dan dipuji sebagai penghapus segala pāpa. Dalam suasana pralaya—ketika bumi tenggelam dalam ekārṇava dan para penerang langit pun seakan lenyap—Janārdana menjelma sebagai Varāha dan mengangkat bumi di ujung taring-Nya, lalu menegakkannya kembali pada tempatnya. Sesudah itu Viṣṇu menyatakan kehadiran-Nya yang teratur dan berkelanjutan di lokasi tersebut, serta mengaitkan daya tīrtha dengan bakti kepada leluhur: tarpaṇa di Kardamālā dikatakan memuaskan pitṛ selama satu kalpa, dan śrāddha dengan persembahan sederhana seperti sayur, umbi, dan buah disamakan dengan śrāddha di semua tīrtha. Phalāśruti menuturkan bahwa mandi suci dan darśana di sana membawa kelahiran yang luhur serta pembebasan dari kelahiran rendah. Lalu hadir kisah mukjizat: kawanan rusa yang ketakutan, terdesak para pemburu, memasuki Kardamālā dan seketika memperoleh status manusia; para pemburu pun meninggalkan senjata, mandi, dan terbebas dari dosa. Menjawab permintaan Devī tentang asal-usul dan batas wilayah, Īśvara mengungkap kisah ‘rahasia’: tubuh Varāha dijelaskan sebagai anatomi simbolik yajña dengan anggota-anggota Veda dan unsur ritual; ujung taring (daṃṣṭrāgra) disebut berlumur lumpur di medan Prabhāsa, sehingga bernama Kardamālā. Disebut pula mahākuṇḍa dan sumber air laksana abhiṣeka Gaṅgā yang agung, ukuran wilayah suci Viṣṇu, serta penegasan bahwa pada Kali Yuga, di kṣetra ‘Saukara’ ini, darśana Varāha memberi pahala istimewa dan jalan mokṣa yang unik.

Guptēśvara-māhātmya (गुप्तेश्वरमाहात्म्य) — The Glory of Guptēśvara
Īśvara menasihati Devī agar pergi ke Devaguptēśvara di Prabhāsa-kṣetra, yang terletak ke arah barat–barat laut. Di sana Soma (Bulan) mengalami penyakit kulit mirip kusta dan kemerosotan tubuh; karena malu ia bertapa secara tersembunyi (gupta). Setelah bertapa selama seribu tahun ilahi, Śiva menampakkan diri, berkenan, lalu melenyapkan kemerosotan (kṣaya) dan penyakit Soma. Soma kemudian menegakkan sebuah liṅga agung yang dihormati para dewa maupun asura; karena tapa yang tersembunyi itulah nama ‘Guptēśvara’ dijelaskan. Liṅga ini dipuji berdaya menyembuhkan: dengan melihat atau menyentuhnya, penyakit kulit sirna. Terutama pemujaan pada hari Senin (Somavāra) menjanjikan bahwa dalam garis keturunan sang pemuja pun tidak akan lahir seseorang dengan kusta; demikianlah penutup bab ini.

बहुसुवर्णेश्वरमाहात्म्यवर्णनम् | Bahusuvarṇeśvara Māhātmya (Glory of Bahusuvarṇeśvara)
Īśvara menasihati Sang Dewi agar beliau menuju liṅga yang dikenal sebagai Bahusuvarṇaka/Bahusuvarṇeśvara, yang berada di bagian timur (hiraṇyā-pūrva-dik-bhāga) dari lanskap suci Prabhāsa. Kesucian tempat itu dikaitkan dengan teladan masa lampau: Dharmaputra dikisahkan melaksanakan yajña yang amat sulit di sana dan menegakkan liṅga yang sangat berdaya bernama Bahusuvarṇa. Liṅga itu juga dikenali sebagai “Sarveśvara”, pemberi buah semua kurban (sarva-kratu-phala-da), serta dianggap sempurna menurut tata-ritus karena keterkaitannya dengan air Sarasvatī. Selanjutnya diajarkan ketentuan: mandi suci di sana dan mempersembahkan piṇḍadāna diyakini mengangkat garis leluhur yang luas (kula-koṭi) dan menganugerahkan kehormatan di alam Rudra. Pemujaan bhakti dengan wewangian dan bunga sesuai aturan ditegaskan oleh Sadāśiva sebagai pemberi hasil setara “pemujaan berlipat sejuta” (koṭi-pūjā-phala). Kolofon menempatkan bab ini dalam Skanda Purāṇa, Prabhāsa Khaṇḍa, Prabhāsakṣetramāhātmya, sebagai uraian kemuliaan Bahusuvarṇeśvara.

शृंगेश्वरमाहात्म्यवर्णनम् | Śṛṅgeśvara Māhātmya (Account of the Glory of Śṛṅgeśvara)
Bab ini dibuka dengan “Īśvara uvāca”, ketika Śiva mengarahkan Devī menuju tīrtha Śṛṅgeśvara yang “anuttama” (tiada banding), terletak dekat Śukastḥāna (tempat Śuka). Diajarkan tata cara ziarah: datang ke sana, melakukan snāna (mandi suci) dengan benar, lalu memuja Śṛṅgeśa secara vidhivat (sesuai aturan). Tempat suci ini dipuji sebagai “sarva-pātaka-nāśana”, penghancur segala dosa; buahnya adalah lepas dari seluruh dosa melalui praktik ziarah yang tepat. Sebagai teladan, disebutkan bahwa Ṛṣyaśṛṅga dahulu memperoleh penyucian dan pembebasan di sana. Kolofon menandai bab ini dalam Skanda Mahāpurāṇa, Prabhāsa Khaṇḍa, bagian Prabhāsakṣetramāhātmya, bernama “Śṛṅgeśvaramāhātmyavarṇana.”

कोटीश्वरमाहात्म्यवर्णनम् | Description of the Māhātmya of Koṭīśvara
Bab ini, diawali dengan “Īśvara uvāca”, memaparkan uraian singkat tentang tirtha Koṭīśvara Mahāliṅga beserta phalaśruti-nya. Disebutkan adanya tempat bernama Koṭinagara di arah Īśāna (timur laut), dan liṅga Koṭīśvara berada di bagian selatannya pada jarak satu yojana. Teks juga menetapkan tata laku pemujaan: mandi sesuai aturan (vidhi) lalu melakukan liṅga-pūjā. Koṭīśvara dipuji sebagai pemberi buah kebajikan setara “koṭi-yajña” (sejuta-juta kurban suci) serta pembebas dari segala dosa. Dengan mandi dan pemujaan yang benar, seseorang memperoleh pelepasan dari semua pāpaka dan meraih pahala agung setara koṭi-yajña. Ini termasuk dalam Skanda Purāṇa, Prabhāsa Khaṇḍa, bagian Prabhāsakṣetra-māhātmya, bab tentang kemuliaan Koṭīśvara.

Nārāyaṇa-tīrtha-māhātmya (Glory of Nārāyaṇa Tīrtha)
Bab ini dibingkai sebagai ajaran Īśvara kepada Mahādevī, agar peziarah melanjutkan perjalanan menuju tīrtha bernama Nārāyaṇa. Diberikan petunjuk tempat yang jelas: di bagian īśāna (timur laut) dari tīrtha itu terdapat sebuah vāpī/kolam bertangga bernama Śāṇḍilyā. Urutan laku dijelaskan: mandi suci di sana menurut vidhi, lalu melakukan pemujaan kepada Śāṇḍilya. Pada hari Ṛṣi-pañcamī, bagi seorang wanita pativratā, pelaksanaan aturan sentuh–tak sentuh (sparśa–asparśa) dinyatakan menghapus rasa takut akan rajo-doṣa (ketidakmurnian ritual terkait haid) dengan pasti. Penutup menegaskan bahwa ini adalah bagian Skanda Purāṇa, Prabhāsa Khaṇḍa, bab “Nārāyaṇa-tīrtha-māhātmya”.

Śṛṅgāreśvara Māhātmya (Glory of Śṛṅgāreśvara at Śṛṅgasara)
Dalam bab ini, Īśvara berbicara kepada Mahādevī dan mengarahkan perhatian pada tirtha suci bernama Śṛṅgasara. Di sana bersemayam sebuah liṅga yang dikenal sebagai Śṛṅgāreśvara. Kesucian tempat itu dijelaskan melalui kisah ilahi terdahulu: Hari, bersama para gopī, dikatakan melakukan śṛṅgāra di sana, sehingga menjadi asal-usul sebutan bagi tirtha dan liṅga tersebut. Selanjutnya disampaikan tuntunan bhakti yang praktis: pemujaan kepada Bhava (Śiva) di tempat itu, sesuai vidhāna yang ditetapkan, disebut sebagai penghancur tumpukan dosa (pāpaugha). Pada bagian phalaśruti ditegaskan bahwa seorang bhakta yang dilanda kemiskinan dan duka, bila bersembahyang di sana, tidak akan mengalami keadaan demikian lagi; karena itu tempat ini dipandang sebagai pusat bhakti pemulihan dan laku etika-ritual yang sahih.

मार्कण्डेश्वरमाहात्म्यवर्णनम् | The Glory of Mārkaṇḍeśvara (Narrative Description)
Bab 361 menyajikan petunjuk tirtha yang ringkas dalam dialog Īśvara–Devī. Pencari diarahkan menuju Hiranyātaṭa, dan di sana ditunjukkan satu titik khusus bernama Ghaṭikāsthāna, yang dahulu dikaitkan dengan seorang siddha-ṛṣi. Kesucian tempat itu dijelaskan bersumber dari pencapaian yoga Mṛkaṇḍu. Melalui dhyāna-yoga—disebut menghasilkan buah dalam satu satuan nāḍī—ia menegakkan sebuah liṅga tepat di lokasi tersebut. Liṅga itu dinamai Mārkaṇḍeśvara; teks menegaskan daya penyelamatannya: darśana dan pūjā semata dikatakan menenteramkan/menghapus segala dosa. Dengan demikian, bab ini menghubungkan tapa batin (disiplin meditasi) dengan akses bhakti yang terbuka bagi semua, sekaligus memetakan rute ziarah praktis di Prabhāsa-kṣetra.

Koṭihrada–Maṇḍūkeśvara Māhātmya (कोटिह्रद-मण्डूकेश्वरमाहात्म्य)
Īśvara menasihati Devī tentang tata cara ziarah tirtha secara berurutan di Prabhāsa-kṣetra. Mula-mula peziarah diarahkan menuju Maṇḍūkeśvara, dengan penyebutan sebuah liṅga yang didirikan dalam kaitan dengan Māṇḍūkyāyana. Di dekatnya terdapat perairan suci Koṭihrada; di sana Koṭīśvara Śiva menjadi wujud pelindung yang bersemayam, dan Mātṛgaṇa ditempatkan sebagai pemberi hasil yang diinginkan. Tata laksana yang diajarkan: mandi suci di tirtha Koṭihrada, memuja liṅga, serta memuja para Mātṛ. Buahnya ialah terbebas dari duḥkha dan śoka—penderitaan dan duka. Selanjutnya disebutkan tempat lain di sebelah timur, sejauh satu yojana: Tritakūpa, yang dipuji sangat murni dan pemusnah segala dosa; bahkan ditegaskan bahwa kemanjuran banyak tirtha seakan-akan terkumpul dan ‘bersemayam’ di sana. Kolofon menyatakan ini sebagai adhyāya ke-362 pada bagian Prabhāsa Khaṇḍa ini.

एकादशरुद्रलिङ्गमाहात्म्यवर्णनम् | The Māhātmya of the Eleven Rudra-Liṅgas
Bab ini memuat petunjuk singkat perjalanan ziarah di Prabhāsa-kṣetra. Īśvara menasihati Devī agar berjalan ke arah utara dari tempat bernama Goṣpada, sejauh dua gavyūti, menuju tirtha suci yang termasyhur, Valāya. Di Valāya disebutkan gugusan “sebelas Rudra” yang hadir sebagai liṅga-liṅga setempat (sthāna-liṅga); nama seperti Ajāikapād dan Ahirbudhnya turut disebut. Seseorang hendaknya memuja liṅga-liṅga itu sesuai tata cara (vidhivat); buahnya adalah penyucian menyeluruh dan lenyapnya segala dosa.

Hiraṇya-taṭa–Tuṇḍapura–Gharghara-hrada–Kandeśvara Māhātmya (हिरण्यातुण्डपुर-घर्घरह्रद-कन्देश्वर माहात्म्यम्)
Īśvara berbicara kepada Mahādevī dan menunjukkan perjalanan menuju Hiraṇya-taṭa, tempat berdirinya Tuṇḍapura yang terkait dengan perairan suci bernama Gharghara-hrada. Di sana, dewa pelindung (adhisthātā) yang dipuja adalah Kandeśvara. Śiva menegaskan kewibawaan tempat itu melalui ingatan mitis: di sanalah jaṭā (rambut gimbal suci) beliau pernah diikat. Karena itu, peziarah dianjurkan datang, melakukan snāna (mandi suci) di tīrtha, lalu memuja Kandeśvara dengan tata cara yang benar. Buahnya bersifat etis dan membebaskan: pelaku bhakti dilepaskan dari dosa-dosa berat (ghora-pātaka) dan memperoleh ‘śāsana’ yang baik—yakni perlindungan/ketetapan ilahi serta restu yang diakui dalam ungkapan Purāṇa.

संवर्तेश्वरमाहात्म्यवर्णनम् | Saṃvarteśvara Māhātmya (Glorification of Saṃvarteśvara)
Dalam adhyāya ini, Īśvara menasihati Devī dan menuntun peziarah-pencari menuju śrī-kṣetra Saṃvarteśvara yang disebut “uttama” (paling utama). Letaknya dijelaskan: di sebelah barat Indreśvara dan di sebelah timur Arkabhāskara, sehingga tempat suci ini dipahami dalam kaitannya dengan simpul-simpul tirtha di sekitarnya. Rangkaian laku yang minimal pun ditetapkan: terlebih dahulu darśana kepada Mahādeva, lalu mandi suci (snāna) di air puṣkariṇī. Phalaśruti menyatakan bahwa siapa yang melaksanakan hal ini memperoleh pahala setara sepuluh yajña Aśvamedha. Pada penutup disebutkan kedudukannya dalam Skanda Purāṇa: Prabhāsa Khaṇḍa, bagian pertama Prabhāsakṣetramāhātmya, sebagai adhyāya ke-365 berjudul Saṃvarteśvara-māhātmya-varṇana.

प्रकीर्णस्थानलिङ्गमाहात्म्यवर्णनम् — Discourse on the Māhātmya of Liṅgas in Dispersed Sacred Sites
Īśvara menasihati Mahādevī agar bergerak ke utara dari Hiraṇyā menuju wilayah-wilayah yang disebut siddhi-sthāna, tempat para resi yang telah sempurna bersemayam. Lalu bab ini memaparkan kemuliaan liṅga-liṅga di tempat suci yang tersebar, disertai hitungan sakral: liṅga memang tak terbilang, namun disebutkan gugus utama—lebih dari seratus liṅga terkemuka di satu kelompok; sembilan belas di tepi sungai Vajriṇī; lebih dari 1.200 di tepi Nyaṅkumatī; enam puluh liṅga unggul di tepi Kapilā; sedangkan yang terkait Sarasvatī tak dapat dihitung. Prabhāsa-kṣetra ditandai oleh lima aliran Sarasvatī (pañca-srotas) yang membentangkan medan suci seluas dua belas yojana. Air muncul di seluruh kawasan melalui telaga dan sumur; air itu hendaknya dikenali sebagai ‘Sārasvata’, dan meminumnya dipuji. Dengan iman yang benar, mandi di mana pun di wilayah ini dikatakan menghasilkan buah kebajikan setara Sārasvata-snāna. Pada penutup, ‘Sparśa-liṅga’ diidentifikasi sebagai Śrī-Somēśa; dan ditegaskan bahwa pemujaan terhadap liṅga pusat mana pun di kṣetra, bila dipahami sebagai Somēśa, pada hakikatnya adalah pemujaan Somēśa—menyatukan banyak tempat suci yang terpencar dalam satu rujukan Śaiva.
Prabhāsa is presented as a spiritually efficacious kṣetra where tīrtha-contact, devotion, and disciplined listening to purāṇic discourse are said to remove fear of saṃsāra and confer elevated destinies.
Merits are framed in yajña-like terms: purification, removal of sins, freedom from afflictions, and attainment of higher states—often conditioned by faith (śraddhā), tranquility, and proper eligibility.
The opening chapter emphasizes transmission-legends (Śiva → Pārvatī → Nandin → Kumāra → Vyāsa → Sūta) and the Naimiṣa inquiry setting, establishing Prabhāsa’s māhātmya within an authoritative purāṇic lineage.