Reva Khanda
Avanti Khanda232 Adhyayas7935 Shlokas

Reva Khanda (Narmada Section)

Reva Khanda

A Narmadā (Revā)–centered sacred-geography unit mapping tīrthas and devotional memory along the river’s banks. The chapter’s frame situates narration at Naimiṣāraṇya (a classical Purāṇic recitation landscape), from which the Revā region is described through hymnic praise, origin inquiry, and tīrtha-oriented questioning.

Adhyayas in Reva Khanda

232 chapters to explore.

Adhyaya 1

Adhyaya 1

Revā-stutiḥ, Naimiṣa-saṃvādaḥ, Purāṇa-prāmāṇya-nirdeśaḥ (Invocation to Revā; Naimiṣa Dialogue; On the Authority of Purāṇa)

Bab ini diawali dengan penanda invokasi dan kidung pujian panjang kepada Revā/Narmadā. Ia dipuji sebagai penghancur dūrīta (dosa dan cela), sungai suci yang dimuliakan para dewa, resi, dan manusia, bahkan tepiannya didambakan para pertapa sebagai tempat penyucian. Sesudah itu, narasi beralih ke bingkai klasik Purāṇa di Naimiṣa. Śaunaka yang duduk dalam sidang yajña bertanya kepada Sūta tentang ‘sungai besar ketiga’ setelah Brahmī dan Viṣṇu-nadī, yakni sungai Raudrī—Revā—memohon penjelasan letaknya, asal-usulnya yang terkait Rudra, serta tīrtha-tīrtha yang berhubungan dengannya. Sūta memuji pertanyaan itu lalu menegaskan bahwa śruti, smṛti, dan purāṇa saling melengkapi sebagai sarana pengetahuan; purāṇa dinyatakan sebagai otoritas utama, kerap disebut ‘Veda kelima’, dan dijelaskan definisi pañcalakṣaṇa. Kemudian disajikan daftar delapan belas mahāpurāṇa beserta nama dan jumlah bait, disusul upapurāṇa; penutupnya menyatakan pahala besar dari membaca dan mendengar, berupa kebajikan melimpah dan tujuan akhir yang mulia setelah wafat.

54 verses

Adhyaya 2

Adhyaya 2

रेवातीर्थकथाप्रस्तावः — Janamejaya’s Inquiry and the Vindhya Āśrama Prelude

Bab kedua dibuka dengan Sūta yang mulai membingkai kemuliaan tīrtha-tīrtha Narmadā, seraya menyatakan bahwa mustahil menguraikannya secara tuntas. Ia lalu mengingatkan sebuah teladan lama: di tengah suasana yajña agung, Raja Janamejaya menanyai Vaiśampāyana, murid Dvaipāyana/Vyāsa, tentang perjalanan pelayanan tīrtha para Pāṇḍava setelah kalah berjudi dan menjalani pembuangan. Vaiśampāyana bersujud penuh hormat kepada Virūpākṣa (Śiva) dan Vyāsa, lalu berjanji menuturkan kisahnya. Para Pāṇḍava bersama Draupadī dan para brāhmaṇa pendamping, setelah mandi suci di banyak tīrtha, tiba di wilayah Vindhya. Di sana digambarkan hutan-āśrama yang ideal: pepohonan dan bunga-buah melimpah, aliran air jernih, suasana damai, serta satwa yang tidak saling bermusuhan—sebuah ruang selaras bagi tapa dan dharma. Mereka bertemu Ṛṣi Mārkaṇḍeya, dikelilingi para pertapa yang tertib, menjalankan beragam laku asketis. Yudhiṣṭhira mendekat dengan takzim dan bertanya tentang rahasia usia panjang Mārkaṇḍeya yang melampaui pralaya, serta sungai-sungai mana yang bertahan atau lenyap saat pralaya. Mārkaṇḍeya memuji Purāṇa yang diucapkan Rudra, menegaskan pahala besar bagi pendengaran yang penuh bhakti, menyebut sungai-sungai utama, dan menyatakan bahwa lautan serta sungai mengalami surut dalam putaran waktu; namun Narmadā secara unik tetap ada hingga tujuh akhir-kalpa—menjadi pengantar bagi uraian selanjutnya.

59 verses

Adhyaya 3

Adhyaya 3

Mārkaṇḍeya’s Account of Yuga-Dissolution and the Matsya-Form Encounter (युगक्षय-वर्णनं मत्स्यरूप-समागमश्च)

Dalam adhyaya ini, Yudhiṣṭhira bertanya kepada resi Mārkaṇḍeya tentang keadaan mengerikan pada akhir suatu yuga yang telah ia saksikan berulang kali: kekeringan panjang, lenyapnya tumbuhan obat, mengeringnya sungai dan telaga, serta perpindahan makhluk menuju alam yang lebih tinggi. Mārkaṇḍeya mula‑mula meneguhkan rantai kewibawaan pewarisan Purāṇa—Śambhu → Vāyu → Skanda → Vasiṣṭha → Parāśara → Jātūkarṇya → para resi lainnya—seraya menegaskan bahwa mendengar Purāṇa adalah śravaṇa yang menyucikan, menghapus kekotoran yang menumpuk lintas kelahiran dan menuntun pada pembebasan. Ia lalu menggambarkan pralayā: dunia dipanggang oleh dua belas matahari hingga menjadi satu samudra raya. Saat mengembara di perairan itu, ia menyaksikan Wujud Tertinggi yang purba dan bercahaya, dan juga melihat seorang Manu lain beserta keturunannya bergerak di samudra yang gelap. Dalam takut dan letih, ia berjumpa dengan ikan raksasa—wujud itu dikenali sebagai Maheśvara—yang memanggilnya mendekat. Kisah beralih pada pemandangan menakjubkan: di tengah samudra tampak aliran seperti sungai, dan seorang perempuan ilahi bernama Abalā menjelaskan asalnya dari tubuh Īśvara serta keselamatan sebuah perahu yang terhubung dengan kehadiran Śaṅkara. Mārkaṇḍeya naik perahu bersama Manu dan melantunkan himne Śaiva, memuja Śiva sebagai sebab semesta dalam rupa Sadyojāta, Vāmadeva, Bhadrakālī, dan Rudra. Pada akhirnya Mahādeva berkenan dan mempersilakan permohonan anugerah, menegaskan bhakti dan śravaṇa yang sahih sebagai jawaban atas ketidakkekalan kosmis.

41 verses

Adhyaya 4

Adhyaya 4

Origin and Boons of Revā (Narmadā) as Rudra-born River

Bab ini menyajikan rangkaian dialog berlapis tentang asal-usul dan kemuliaan Sungai Revā (Narmadā). Mārkaṇḍeya mendaki puncak Trikūṭa, bersujud dan memuja Mahādeva. Lalu Yudhiṣṭhira bertanya tentang seorang perempuan bermata teratai yang tampak mengembara di samudra kosmis yang gelap, mengaku lahir dari Rudra. Mārkaṇḍeya menuturkan bahwa ia dahulu menanyakan hal yang sama kepada Manu; Manu menjelaskan: Śiva bersama Umā bertapa sangat keras di Ṛkṣaśaila, dan dari keringat Śiva lahirlah sebuah sungai yang amat suci—dialah sosok bermata teratai itu, Dewi Revā. Pada Kṛtayuga, sang sungai menjelma sebagai perempuan, memuja Rudra dan memohon anugerah: tetap abadi saat pralaya, kuasa melenyapkan dosa-dosa berat melalui mandi suci dengan bhakti, kedudukan sebagai “Gaṅgā Selatan”, buah mandi yang setara dengan pahala upacara besar, serta kehadiran Śiva yang senantiasa bersemayam di tepiannya. Śiva mengabulkan semuanya, menjelaskan perbedaan hasil bagi penghuni tepi utara dan selatan, serta meluaskan daya penyelamatan bagi banyak makhluk. Bab ditutup dengan daftar nama-nama aliran/nadi yang terkait asal Rudra dan sebuah phalaśruti: mengingat, melantunkan, atau mendengar nama-nama itu mendatangkan kebajikan besar dan tujuan luhur setelah wafat.

54 verses

Adhyaya 5

Adhyaya 5

नर्मदाया उत्पत्तिः, नामकरणं च (Origin and Naming of Narmadā; Kalpa-Framing Discourse)

Bab ini tersusun sebagai tanya-jawab teologis. Yudhiṣṭhira bersama sidang para resi merasa takjub akan kesucian Narmadā dan bertanya mengapa sang Dewi-Sungai tidak binasa bahkan ketika tujuh kalpa mencapai kelelahan. Ia juga memohon penjelasan ajaran tentang proses kosmis: bagaimana dunia ditarik kembali saat pralaya, bagaimana ia berdiam dalam keadaan samudra, lalu diciptakan kembali dan dipelihara. Selain itu ia menanyakan alasan makna dan pemujaan di balik banyak nama sang sungai—seperti Narmadā, Revā, dan gelar lainnya—serta dasar tradisi yang menyebutnya ‘Vaiṣṇavī’ di kalangan ahli Purāṇa. Mārkaṇḍeya menjawab dengan menempatkan ajaran ini dalam garis transmisi dari Maheśvara melalui Vāyu, lalu menguraikan ringkas taksonomi kalpa. Ia kemudian memberi sketsa kosmogoni: dari kegelapan purba muncul prinsip kosmis, tercipta telur emas (hiraṇyāṇḍa), dan Brahmā menampakkan diri. Kisah beralih pada asal-mula Narmadā: seorang putri bercahaya terkait Umā dan Rudra yang memukau para dewa dan asura; Śiva menetapkan aturan perlombaan/ujian, sang gadis lenyap dan muncul kembali di kejauhan, hingga akhirnya Śiva menamainya ‘Narmadā’, dikaitkan dengan ‘narma’ (tawa) dan permainan ilahi. Penutup menyebut ia dipercayakan kepada samudra agung, memasuki lautan dari konteks pegunungan, serta kemunculannya dalam bingkai kalpa tertentu (dengan rujukan Brāhma dan Matsya).

52 verses

Adhyaya 6

Adhyaya 6

Narmadā–Revā Utpatti and Nāma-Nirukti (Origin and Etymologies of the River’s Names)

Markandeya menuturkan pralaya pada akhir yuga: Mahadewa mula-mula menampakkan wujud berapi, lalu wujud semesta laksana awan, dan menenggelamkan dunia ke dalam satu samudra raya. Di perairan purba yang gelap, tampak sosok merak bercahaya—sebagai daya-karya Siwa—melalui mana proses penciptaan kembali berlangsung. Pada saat itu Narmada dijumpai sebagai dewi-sungai yang suci dan membawa berkah; oleh anugerah ilahi ia tidak binasa meski pralaya terjadi. Atas titah Siwa, dunia ditegakkan kembali; dari sayap merak muncul golongan dewa dan asura, Gunung Trikuta menampakkan diri, lalu aliran-aliran sungai mengembalikan tatanan bumi. Selanjutnya dipaparkan himpunan nama Narmada beserta etimologinya—Mahati, Shona, Kripa, Mandakini, Maharṇava, Reva, Vipapa, Vipasha, Vimala, Ranjana, dan lainnya—masing-masing terkait daya penyucian, welas asih, penyeberangan yang menyelamatkan dari samsara, serta kemuliaan yang tampak. Penutupnya menegaskan bahwa mengetahui nama-nama itu beserta asal-maknanya membebaskan dari kesalahan dan mengantar menuju alam Rudra.

45 verses

Adhyaya 7

Adhyaya 7

Kūrma-Prādurbhāva and the Epiphany of Devī Narmadā (Revā’s Manifestation)

Mārkaṇḍeya menuturkan gambaran pralaya: seluruh dunia beserta makhluk yang diam dan bergerak lenyap dalam kegelapan, menyisakan ekārṇava—samudra tunggal yang dahsyat. Di tengah lautan itu Brahmā seorang diri menyaksikan suatu wujud ilahi yang amat bercahaya dalam rūpa kūrma (bentuk kura-kura), dipuji dengan sifat-sifat kosmis yang melampaui segala. Brahmā membangunkan-Nya dengan lembut, melantunkan stuti yang bernuansa Weda dan Wedāṅga, lalu memohon agar dunia-dunia yang telah ditarik kembali dipancarkan lagi. Sang Dewa bangkit dan melepaskan kembali tiga loka beserta tatanan makhluknya—deva, dānava, gandharva, yakṣa, nāga, rākṣasa—juga matahari, bulan, dan gugus bintang. Bumi pun tampak terbentang dengan gunung, benua, samudra, serta batas Lokāloka. Dalam lanskap yang diperbarui itu, terjadi teofani sungai: Devī Narmadā (Revā) menampakkan diri dari air sebagai perempuan berhias anugerah ilahi; ia dipuji dan didekati dengan hormat. Bab ini ditutup dengan janji bak phalaśruti bahwa mempelajari atau mendengar kisah penampakan kūrma ini melenyapkan kilbiṣa, yakni dosa.

27 verses

Adhyaya 8

Adhyaya 8

बकरूपेण महेश्वरदर्शनं तथा नर्मदामाहात्म्योपदेशः | Mahādeva as the Crane and the Instruction on Narmadā’s Sanctity

Mārkaṇḍeya menuturkan suasana kosmis yang dahsyat: ketika dunia tenggelam dalam pralaya, ia bertahan di tengah samudra luas, letih setelah masa yang panjang, lalu bermeditasi mengingat Dewa yang menyeberangkan makhluk melewati banjir agung. Ia melihat seekor burung bercahaya, mirip bangau, dan bertanya bagaimana wujud ilahi dapat muncul di lautan yang mengerikan. Burung itu menyatakan diri sebagai Mahādeva—Hakikat Tertinggi yang meliputi Brahmā dan Viṣṇu—seraya menegaskan bahwa alam semesta kini telah ditarik kembali dalam saṃhāra. Mahādeva mengundang sang resi beristirahat di bawah naungan sayap-Nya; sang resi mengalami peralihan seakan melampaui waktu. Tiba-tiba bunyi gemerincing gelang kaki terdengar: sepuluh gadis berhias datang dari segala penjuru, memuja burung itu, lalu masuk ke suatu alam tersembunyi laksana bagian dalam gunung. Di sana tampak kota menakjubkan, sungai yang gemilang, dan sebuah liṅga ajaib beraneka warna, dikelilingi para dewa dalam keadaan menyusut/tertarik kembali. Kemudian seorang gadis bercahaya memperkenalkan diri sebagai Narmadā (Revā), lahir dari tubuh Rudra. Ia menjelaskan bahwa sepuluh gadis itu adalah para arah, dan Mahādeva sebagai yogin agung menghadirkan liṅga untuk dipuja bahkan saat kontraksi kosmis. Ia mengajarkan makna “liṅga” sebagai tempat larutnya dunia yang bergerak dan tak bergerak; para dewa kini dipadatkan oleh māyā, namun akan tampak kembali saat penciptaan. Penutupnya berupa tuntunan: mandilah dan pujalah Mahādeva di air Narmadā dengan mantra serta tata cara yang benar; hal itu menghapus dosa, dan Narmadā ditegaskan sebagai penyuci agung bagi dunia manusia.

55 verses

Adhyaya 9

Adhyaya 9

युगान्तप्रलयः, वेदापहारः, मत्स्यावतारः, नर्मदामाहात्म्यम् (Yugānta-Pralaya, Veda-Abduction, Matsya Intervention, and Narmadā Māhātmya)

Bab ini, dituturkan oleh Śrī Mārkaṇḍeya, melukiskan pemandangan pralaya pada akhir zaman: seluruh dunia tergenang air. Para resi dan makhluk ilahi menyaksikan Parameśvara Śiva berbaring dalam penyerapan yoga (samādhi), ditopang oleh Prakṛti, dan mereka memuji kemuliaan-Nya. Kemudian Brahmā meratap karena empat Veda lenyap, menegaskan bahwa Veda mutlak diperlukan bagi penciptaan, ingatan akan waktu (masa lampau dan kini), serta tatanan pengetahuan yang benar. Atas pertanyaan Śiva, Narmadā menjelaskan sebabnya: dua daitya perkasa, Madhu dan Kaiṭabha, memanfaatkan celah saat keadaan “tidur ilahi” dan menyembunyikan Veda di kedalaman samudra. Selanjutnya dikenang campur tangan Vaiṣṇava: Bhagavān menjelma sebagai ikan (Matsya), turun ke Pātāla, menemukan Veda, menaklukkan para daitya, lalu mengembalikan Veda kepada Brahmā sehingga penciptaan dapat berlangsung kembali. Penutupnya menegaskan teologi sungai: Gaṅgā, Revā (Narmadā), dan Sarasvatī adalah satu daya suci dalam tiga wujud, masing-masing terkait dengan rupa ketuhanan utama. Narmadā dipuji sebagai halus, meresap ke segala, menyucikan, dan sarana menyeberangi saṃsāra; bersentuhan dengan airnya serta memuja Śiva di tepinya disebut membawa penyucian dan buah rohani yang luhur.

55 verses

Adhyaya 10

Adhyaya 10

Revātīra-āśrayaḥ: Kalpānta-anāvṛṣṭi, Ṛṣi-saṅgama, and Narmadā’s Salvific Efficacy (रेवातीराश्रयः)

Bab ini dibuka dengan pertanyaan Yudhiṣṭhira tentang rentang waktu kosmis (kalpa) serta pembagian dan tatanan wilayah Narmadā. Mārkaṇḍeya menjawab dengan kisah akhir-kalpa terdahulu: anāvṛṣṭi (kemarau panjang) yang dahsyat membuat sungai dan samudra mengering, makhluk-makhluk mengembara karena lapar, tata homa dan bali runtuh, dan disiplin kemurnian ritual-sosial merosot. Dalam krisis itu, banyak ṛṣi dan pertapa—penghuni Kurukṣetra, Vaikhānasa, tapasvin penghuni gua, dan lainnya—memohon petunjuk; Mārkaṇḍeya mengarahkan mereka meninggalkan arah utara menuju selatan, khususnya ke tepi Narmadā yang amat suci dan sering didatangi para siddha. Tepi Revā digambarkan sebagai perlindungan istimewa: kuil dan āśrama berkembang, agnihotra tetap menyala, dan berbagai laku tapa-bhakti dijalankan—pañcāgni, agnihotra, pola puasa, cāndrāyaṇa, kṛcchra, dan sebagainya. Ajaran teologisnya memadukan pemujaan Śaiva kepada Maheśvara dengan ingatan terus-menerus kepada Nārāyaṇa; bhakti yang selaras dengan watak batin memberi buah yang sepadan, sedangkan keterikatan pada penopang yang parsial—ibarat berpegang pada dahan, bukan pada pohon—memanjangkan saṃsāra. Ditegaskan pula buahnya: pemujaan dan tinggal dengan disiplin di tepi Revā dapat berujung pada “tidak kembali lagi”; bahkan yang wafat di perairan Narmadā disebut mencapai keadaan luhur. Bab ditutup dengan pujian bahwa membaca dan melantunkan kisah ini menumbuhkan pengetahuan yang menyucikan, sejalan dengan sabda otoritatif Rudra.

73 verses

Adhyaya 11

Adhyaya 11

Śraddhā, Narmadā-tīra Sādhanā, and the Pāśupata-Oriented Ethical Code (श्रद्धा–रेवातीरसाधना–पाशुपतधर्मः)

Bab ini dibuka sebagai dialog ketika Yudhiṣṭhira bertanya mengapa beberapa laku suci dan tempat tirtha tetap manjur bahkan pada masa krisis menjelang akhir yuga, serta bagaimana para resi meraih pembebasan melalui niyama (disiplin rohani). Mārkaṇḍeya menegaskan bahwa śraddhā—iman dan ketulusan batin—adalah kunci: tanpa śraddhā, ritual menjadi tak berbuah; dengan śraddhā, setelah kematangan pahala kebajikan banyak kelahiran, bhakti kepada Śaṅkara menjadi tercapai. Selanjutnya Narmadā-tīra (Revā-tīra) dipuji sebagai tirtha yang mempercepat siddhi. Pemujaan Śiva, terutama liṅga-pūjā, mandi teratur, dan pemakaian bhasma (abu suci) disebut sebagai penyuci dosa yang cepat, bahkan bagi mereka yang memiliki masa lalu moral yang tercela. Lalu muncul peringatan etis tentang ketergantungan pada makanan yang dianggap tidak semestinya—khususnya kategori “śūdrānna” dalam wacana kemurnian—dengan menautkan konsumsi pada akibat karma dan kemerosotan rohani. Teks membedakan laku Pāśupata yang tulus dari kemunafikan, keserakahan, dan pamer, yang dapat meniadakan manfaat tirtha. Dalam bagian bernada kidung ajaran (dikaitkan dengan Nandin), dianjurkan meninggalkan loba, teguh berbhakti kepada Śiva, berjapa mantra pañcākṣarī, dan bersandar pada kesucian Revā. Penutupnya menyatakan bahwa pembacaan Rudra-adhyāya, petikan Veda, pembacaan Purāṇa di tepi Narmadā, serta disiplin yang mantap membawa pemurnian dan tujuan luhur; kisah kekeringan di akhir yuga—ketika para resi berlindung di Narmadā-tīra—meneguhkan Revā sebagai suaka abadi dan “yang terbaik di antara sungai-sungai” untuk dilayani demi kesejahteraan tertinggi.

94 verses

Adhyaya 12

Adhyaya 12

नर्मदास्तोत्रम् (Narmadā-Stotra) — Hymn of Praise to the Revā

Markandeya, dalam bingkai pendengar kerajaan, menuturkan bahwa setelah mendengar ajaran sebelumnya para resi yang berkumpul bersukacita dan dengan tangan terkatup mulai memuji Narmadā (Revā). Bab ini tersusun sebagai stotra yang mengalir terus-menerus, menyapa sungai itu sebagai kuasa ilahi: air penyuci, penghapus dosa, perlindungan para tīrtha, serta yang berasal dari anggota tubuh Rudra (rudrāṅga-samudbhavā). Himne ini menegaskan daya Narmadā untuk menyucikan dan melindungi makhluk yang dilanda duka dan kekeliruan moral; membandingkan pengembaraan dalam keadaan sengsara dengan pembebasan melalui sentuhan air Narmadā; serta menyatakan bahwa di zaman Kali, ketika air lain dianggap melemah atau tercemar, Narmadā tetap menjadi kehadiran suci yang teguh. Pada penutup (phalaśruti) disebutkan: siapa yang melantunkan atau mendengarkan himne ini—terutama setelah mandi di Narmadā—meraih tujuan yang disucikan dan mendekat kepada Maheśvara/Rudra, digambarkan dengan kendaraan ilahi dan perhiasan surgawi. Bab ini berfungsi sebagai teks liturgi sekaligus tuntunan bhakti, etika, dan laku menuju pembebasan.

18 verses

Adhyaya 13

Adhyaya 13

नर्मदाया दिव्यदर्शनं कल्पान्तरस्थैर्यं च (Narmadā’s Divine Epiphany and Her Continuity Across Kalpas)

Bab ini menampilkan rangkaian kisah teologis tentang Narmadā/Revā sebagai daya suci yang melindungi dan bertahan lama. Mārkaṇḍeya menuturkan bahwa Dewi, dipuji para resi, bertekad menganugerahkan anugerah; pada malam hari Ia menampakkan diri dalam mimpi, menenteramkan mereka dan mengundang: “Tinggallah di tepi-Ku tanpa takut; tiada kekurangan dan kesusahan.” Sesudah itu, tanda-tanda ajaib—terutama melimpahnya ikan di dekat pertapaan—menjadi isyarat rahmat ilahi yang menopang kehidupan para pertapa. Dalam visi jangka panjang, para resi menetap di bantaran Narmadā, menjalankan japa, tapa, serta ritus bagi leluhur dan para dewa; tepi sungai bersinar oleh banyak tempat suci liṅga dan para brāhmaṇa yang berdisiplin. Kemudian, pada tengah malam, dari air muncul Dewi dalam wujud gadis bercahaya, membawa trisula dan mengenakan benang suci berupa ular; Ia memperingatkan datangnya pralaya dan memerintahkan para resi beserta keluarga masuk ke dalam diri-Nya (ke sungai) demi perlindungan. Akhirnya ditegaskan keistimewaan Narmadā yang tetap lestari melintasi banyak kalpa: Ia dikenali sebagai Śaṅkarī-śakti, dan disebutkan kalpa-kalpa ketika Ia tidak binasa. Dengan demikian, Narmadā dipahami sekaligus sebagai geografi suci dan prinsip kosmis.

47 verses

Adhyaya 14

Adhyaya 14

नीललोहितप्रवेशः तथा रौद्रदेव्याः जगत्संहारवर्णनम् | Entry into the Śaiva State and the Description of the Fierce Devī in Cosmic Dissolution

Bab ini berbentuk dialog raja dan resi. Yudhiṣṭhira bertanya peristiwa luar biasa apa yang terjadi setelah para resi di tepi Narmadā berangkat ke alam yang lebih tinggi. Mārkaṇḍeya menuturkan krisis kosmis yang disebut rāudra-saṃhāra; para dewa dipimpin Brahmā dan Viṣṇu memuji Mahādeva yang abadi di Kailāsa dan memohon agar peleburan terjadi pada akhir siklus waktu yang amat panjang. Ajaran teologis tiga-modus ditegaskan: satu kenyataan ilahi menampakkan diri sebagai Brāhmī (penciptaan), Vaiṣṇavī (pemeliharaan), dan Śaivī (peleburan), yang berpuncak pada masuknya ke ‘pada’ Śaiva yang transenden, melampaui kondisi unsur-unsur. Kemudian proses peleburan diaktifkan. Mahādeva memerintahkan Devī meninggalkan wujud lembut dan mengambil wujud garang yang selaras dengan Rudra; Devī mula-mula menolak karena belas kasih, namun sabda murka Śiva memaksanya berubah menjadi manifestasi laksana Kālārātri. Digambarkan secara bertahap: ikonografi yang menggetarkan, penggandaan menjadi tak terhitung rupa, iringan gaṇa, serta guncangan dan pembakaran tiga dunia—menunjukkan peleburan sebagai proses ilahi yang tertata, bukan bencana acak.

66 verses

Adhyaya 15

Adhyaya 15

Amarāṅkaṭa at the Narmadā: Kālarātri, the Mātṛgaṇas, and Śiva’s Yuga-End Vision (अमरंकट-माहात्म्य तथा संहारा-दर्शनम्)

Mārkaṇḍeya menuturkan suatu penglihatan dahsyat laksana akhir-yuga: Kālarātri, dikelilingi Mātṛgaṇa yang garang, menenggelamkan segenap dunia. Para Ibu Ilahi—dipandang sebagai daya yang bernafaskan Brahmā, Viṣṇu, dan Śiva serta selaras dengan dewa-dewa unsur dan penjaga arah—bergerak di sepuluh penjuru sambil mengangkat senjata; jerit dan hentakan kaki mereka membakar tiga alam. Kehancuran meluas hingga tujuh benua-pulau, dengan gambaran meminum darah dan melahap makhluk, menandai suasana pralaya (pelarutan kosmis). Sesudah puncak kehancuran itu, kisah kembali ke pusat kesucian: kehadiran Śiva di tepi Narmadā pada tempat bernama Amarāṅkaṭa, yang dijelaskan melalui etimologi “amarā” dan “kaṭa”. Śaṅkara bersama Umā, para gaṇa dan para mātṛ, bahkan Mṛtyu yang dipersonifikasikan, menari dalam ekstase—ikon Rudra sebagai kedahsyatan sekaligus perlindungan. Narmadā dipuji sebagai sungai-ibu yang dihormati dunia, dengan rupa yang kuat dan bergelora. Akhirnya terjadi teofani yang meninggi: angin badai Saṃvarta keluar dari mulut Rudra dan mengeringkan samudra. Śiva, bertanda lambang-lambang krematorium dan bercahaya kosmis, melaksanakan pelarutan, namun tetap menjadi tujuan pemujaan tertinggi bagi Kālarātri, para mātṛ, dan para gaṇa. Penutupnya menghadirkan stuti pelindung kepada Hari-Hara/Śiva sebagai sebab semesta dan pusat ingatan yang tak putus.

41 verses

Adhyaya 16

Adhyaya 16

Saṃvartaka-Kāla Nṛtya and Mahādeva-Stotra (Cosmic Dissolution Motif)

Adhyaya ini, melalui tuturan Markandeya, menampilkan rangkaian teologi tinggi. Śiva yang dahsyat (Śūlī/Hara/Śambhu) menari di tengah gaṇa bhūta yang mengerikan, berselimut kulit gajah, dengan citra asap dan percikan api, serta mulut menganga laksana vadavāmukha—menandai suasana saṃhāra (pelarutan kosmis). Gelombang tawa dahsyat-Nya (aṭṭahāsa) menggema ke segala arah, mengaduk samudra, mencapai Brahmaloka, dan mengguncang para ṛṣi; mereka memohon penjelasan kepada Brahmā. Brahmā menafsirkan gejala itu sebagai wujud Kāla (Waktu) sendiri—diuraikan lewat siklus tahun (saṃvatsara, parivatsara, dan seterusnya), ukuran halus/atomik, serta kedaulatan tertinggi—sehingga rasa takut diarahkan menjadi pemahaman metafisis. Lalu Brahmā melantunkan stotra bernuansa mantra kepada Mahādeva, menegaskan bahwa Ia meliputi Śaṅkara, Viṣṇu, dan prinsip penciptaan, serta melampaui kata dan pikiran. Mahādeva menenangkan Brahmā, menyuruhnya menyaksikan dunia yang ‘terbakar’ ditarik oleh banyak mulut, lalu lenyap. Phalaśruti menutup dengan janji: mendengar atau melafalkan stotra ini membawa nasib baik, bebas dari takut, dan perlindungan dalam bahaya—perang, pencurian, api, hutan, dan lautan—karena Śiva adalah pelindung yang dapat diandalkan.

24 verses

Adhyaya 17

Adhyaya 17

रुद्रवक्त्रप्रलयवर्णनम् (Description of the Dissolution Imagery from Rudra’s Mouth)

Adhyaya ini menampilkan gambaran pralaya yang sangat dahsyat dalam dialog resi kepada raja. Markandeya menjelaskan bahwa Tuhan semesta menarik kembali (menyamhara) dunia yang termanifestasi, sementara para dewa dan resi memuji-Nya. Fokusnya pada wajah selatan Mahadeva yang mengerikan—mata menyala, taring besar, unsur ular, dan lidah yang melahap—melalui mulut itu dunia seakan masuk ke dalam peleburan, bagaikan sungai-sungai menyatu ke samudra. Dari mulut tersebut memancar api ganas, lalu muncul perwujudan dua belas Aditya yang membakar bumi, gunung, lautan, dan alam bawah; tujuh patala serta naga-loka pun terselimuti panasnya. Di puncak kehancuran itu, ditegaskan kontras pemeliharaan: meski segalanya terbakar dan jajaran pegunungan runtuh, tirtha Reva–Narmada diingat sebagai tidak musnah, meneguhkan geografi suci yang berpusat pada tirtha.

37 verses

Adhyaya 18

Adhyaya 18

Saṃvartaka-megha-prādurbhāvaḥ (The Manifestation of the Saṃvartaka Clouds) / Cosmic Inundation and the Search for Refuge

Bab 18, dituturkan oleh Śrī Mārkaṇḍeya, menggambarkan rangkaian citra pralaya. Dunia seakan hangus oleh daya surya; lalu dari sumber ilahi muncullah awan-awan Saṃvartaka—beraneka warna, raksasa laksana gunung, gajah, dan benteng, disertai kilat serta gemuruh. Pasukan Saṃvartaka disebutkan, dan hujan mereka memenuhi segala alam hingga samudra, pulau, sungai, dan lingkup bumi melebur menjadi satu hamparan air—ekārṇava. Pada saat itu penglihatan lenyap; matahari, bulan, dan bintang tak tampak, kegelapan pekat meraja, angin pun seolah diam—segala arah menjadi kacau. Di tengah banjir kosmis ini, sang narator melantunkan pujian dan merenung: di manakah perlindungan sejati? Ia berbalik ke dalam, meneguhkan ingatan dan meditasi pada Dewa Pelindung (śaraṇya). Ketika sandaran luar sirna, disiplin ingatan, bhakti, dan perlindungan kontemplatif menjadi jawaban rohani; oleh anugerah ilahi ia memperoleh keteguhan dan kemampuan menyeberangi lautan air itu.

14 verses

Adhyaya 19

Adhyaya 19

एकोर्णवप्रलये नर्मदागोरूपिण्या रक्षणम् तथा वाराहावतारवर्णनम् | Markandeya’s Rescue by Narmadā (Cow-Form) and the Varāha Cosmogony

Bab ini menyajikan dua bagian kisah teologis melalui kesaksian orang pertama Resi Mārkaṇḍeya. Dalam keadaan pralaya ekārṇava—hanya satu samudra tanpa daratan—sang resi kelelahan, dilanda lapar dan dahaga, nyaris wafat. Ia melihat seekor sapi bercahaya berjalan di atas air. Sapi itu menenangkan: berkat Mahādeva, kematian tidak akan menimpanya; ia diminta memegang ekornya dan diberi susu ilahi yang melenyapkan lapar-dahaga serta memulihkan daya hidup luar biasa. Sapi itu memperkenalkan diri sebagai Narmadā, diutus Rudra untuk menyelamatkan sang brāhmaṇa, menegaskan sungai suci sebagai agen penyelamat yang sadar dan wahana anugerah Śaiva. Bagian kedua beralih pada visi kosmogoni: sang penutur menyaksikan Tuhan Tertinggi di dalam perairan, bersama Umā dan śakti kosmis. Sang Dewa terjaga lalu mengambil wujud Varāha untuk mengangkat Bumi yang tenggelam. Teks menegaskan sintesis non-sektarian: Rudra, Hari, dan fungsi penciptaan pada puncaknya tidak berbeda, serta memperingatkan agar tidak memelihara permusuhan tafsir. Penutupnya berupa phalaśruti: membaca atau mendengar setiap hari menyucikan dan menuntun pada tujuan pascakematian yang mulia di alam surgawi.

61 verses

Adhyaya 20

Adhyaya 20

Pralaya-lakṣaṇa, Dvādaśa-Āditya Vision, and the Revelation of Revā (Narmadā) as Refuge

Dalam bab ini Yudhiṣṭhira memohon kepada Mārkaṇḍeya agar menjelaskan prabhāva (daya yang dialami) dari Śārṅgadhanvan, yakni Viṣṇu. Mārkaṇḍeya menuturkan tanda-tanda pralaya: jatuhnya meteor, gempa, hujan debu, suara mengerikan, serta lenyapnya makhluk dan bentang alam. Lalu ia menggambarkan penglihatan dua belas matahari (dvādaśa āditya) yang membakar dunia; yang tampak tak terbakar hanyalah Revā dan dirinya sendiri. Dilanda dahaga, ia naik dan menjumpai kediaman kosmis yang luas dan berhias, lalu melihat Puruṣottama berbaring, beratribut ilahi seperti śaṅkha-cakra-gadā. Ia melantunkan himne panjang yang menegaskan Viṣṇu sebagai penopang dunia, pengatur waktu dan yuga, serta sebab penciptaan dan peleburan. Kemudian muncul sosok kedua, Hara (Śiva), disusul perwujudan Devī yang menimbulkan dilema dharma: apakah memberi susu-ibu demi mencegah kematian seorang anak itu patut; norma saṃskāra brāhmaṇa (hingga daftar empat puluh delapan saṃskāra) dikemukakan, namun Devī memperingatkan dosa besar bila mengabaikan nyawa anak. Sesudah jeda panjang bak mimpi, Devī mengungkap identitas: yang tidur adalah Kṛṣṇa/Viṣṇu, yang kedua Hara, empat kendi adalah samudra, anak itu Brahmā, dan Devī sendiri adalah Bumi dengan tujuh benua; Revā dinamai Narmadā dan dinyatakan tidak musnah. Bab ditutup dengan penegasan nilai penyucian dari kisah pengalaman ini serta ajakan untuk bertanya lebih lanjut.

83 verses

Adhyaya 21

Adhyaya 21

अमरकण्टक-रेवा-माहात्म्य तथा कपिला-नदी-उत्पत्ति (Amarakantaka and Revā Māhātmya; Origin of the Kapilā River)

Bab ini disusun sebagai dialog tanya-jawab teologis antara Yudhiṣṭhira dan Mārkaṇḍeya, yang menegaskan kemuliaan Revā/Narmadā sebagai sungai penyuci yang tiada banding. Jika kesucian Gaṅgā dan tirtha lain sering tampak terikat pada tempat tertentu, maka Revā dipuji suci di mana pun ia mengalir. Kawasan Amarakantaka dipaparkan sebagai siddhi-kṣetra yang didatangi para dewa, gandharva, dan ṛṣi; di kedua tepinya tirtha begitu rapat dan seakan tak habis-habisnya. Selanjutnya disebutkan tirtha-tirtha penting di tepi utara dan selatan: di utara antara lain Charukā-saṅgama, Charukeśvara, Dārukeśvara, Vyatīpāteśvara, Pātāleśvara, Koṭiyajña, serta gugus liṅga dekat Amareśvara; di selatan antara lain Kedāra-tīrtha, Brahmeśvara, Rudrāṣṭaka, Sāvitra, dan Soma-tīrtha. Bab ini juga memberi tuntunan laku: mandi suci dengan disiplin, berpuasa, menjaga brahmacarya, serta melakukan pitṛ-kriyā—tarpaṇa dengan air bertil (tilodaka) dan persembahan piṇḍa—dengan buah berupa kenikmatan surga yang panjang dan kelahiran kembali yang mujur. Dinyatakan pula bahwa karena anugerah Īśvara, upacara di sana menjadi “koṭi-guṇa”, berlipat ganda. Bahkan pepohonan dan hewan yang tersentuh air Narmadā ikut memperoleh pahala; disebut juga air suci lain seperti Viśalyā. Penutupnya adalah kisah asal-usul Kapilā: saat Dākṣāyaṇī (Pārvatī) bermain di Narmadā bersama Śiva, air yang diperas dari kain mandinya mengalir menjadi sungai Kapilā, meneguhkan nama, sifat, dan keutamaannya yang penuh puṇya.

78 verses

Adhyaya 22

Adhyaya 22

Viśalyā–Kapilā-hrada Māhātmya (The Etiology of the ‘Arrowless/Healed’ Tīrtha)

Mārkaṇḍeya menjelaskan asal-usul Viśalyā serta kesucian Kapilā Hrada melalui kisah sebab-mula yang bertingkat. Agni—putra lahir-dari-pikiran Brahmā dan api utama dalam Weda—bertapa di tepi sungai. Berkat anugerah Mahādeva, Narmadā dan lima belas sungai lainnya menjadi permaisurinya; mereka disebut Dhīṣṇī (istri-istri sungai). Keturunan mereka dikenal sebagai api kurban (adhvara-agni) yang bertahan hingga pralaya; dari Narmadā lahirlah putra perkasa bernama Dhīṣṇīndra. Kemudian terjadi perang besar dewa dan asura yang terkait Mayatāraka. Para dewa memohon perlindungan Viṣṇu; Viṣṇu memanggil Pavaka (api) dan Māruta (angin), lalu memerintahkan Dhīṣṇī/Pavakendra membakar para raksasa Narmadeya. Musuh berusaha mengepung Agni dengan senjata ilahi, namun Agni bersama Vāyu melahap mereka; banyak yang terlempar ke perairan bawah tanah. Sesudah kemenangan, para dewa memuliakan Agni muda, putra Narmadā. Ia pulang dalam keadaan terluka dan tertusuk senjata (saśalya) lalu mendekati ibunya; Narmadā memeluknya dan memasuki Kapilā Hrada. Air telaga itu seketika menyingkirkan ‘śalya’ (luka yang menusuk), sehingga ia menjadi ‘viśalya’ (bebas dari panah dan luka). Bab ini menegaskan bahwa siapa pun yang mandi di sana terbebas dari ‘pāpa-śalya’ (luka moral), dan yang wafat di sana memperoleh tujuan surgawi—itulah dasar nama dan kemasyhuran penyelamat tirtha tersebut.

36 verses

Adhyaya 23

Adhyaya 23

Viśalyā–Saṅgama Māhātmya (Glory of the Viśalyā Confluence) — Chapter 23

Mārkaṇḍeya menasihati seorang raja tentang nilai keselamatan rohani dari wafat dengan bhakti di pertemuan sungai (saṅgama), dan terutama tentang kemuliaan air Revā (Narmadā) yang luar biasa menyucikan. Bab ini menguraikan hasil bertingkat: (1) mereka yang melepaskan hidup di Viśalyā-saṅgama dengan bhakti tertinggi mencapai tujuan tertinggi; (2) kematian dalam semangat saṃnyāsa, setelah meninggalkan segala niat dan tekad, membawa seseorang mendekat kepada Amareśvara lalu berdiam di alam-alam surga; (3) yang wafat di Śailendra naik dengan vimāna berwarna laksana matahari menuju Amarāvatī, disambut gambaran surgawi ketika para apsaras memuji sang bhakta. Selanjutnya dipaparkan peringkat kesucian air: sebagian otoritas menyebut Sarasvatī dan Gaṅgā setara, namun para ahli menempatkan air Revā di atas keduanya dan menganjurkan agar tidak berdebat tentang keunggulannya. Wilayah Revā digambarkan dihuni makhluk-makhluk mulia seperti vidyādhara dan yang menyerupai kinnara; siapa yang menyentuhkan air Revā ke kepala dengan hormat memperoleh kedekatan dengan ranah Indra. Ajaran etis pun diberikan: bagi yang tak ingin melihat “samudra saṃsāra” yang menakutkan lagi, dianjurkan senantiasa melayani Narmadā; ia menyucikan tiga dunia, dan bahkan kematian di mana pun dalam lingkupnya memberi “gati gaṇeśvarī” (kedudukan sebagai pengiring ilahi). Tepi sungai dipenuhi tempat-tempat yajña; bahkan pendosa yang wafat di sana mencapai surga. Kapilā dan Viśalyā disebut sebagai ciptaan awal Īśvara demi kesejahteraan semesta; mandi dengan puasa dan pengendalian indria memberi buah setara Aśvamedha. Laku anāśaka di tīrtha ini menghapus semua dosa dan mengantar ke kediaman Śiva; satu kali mandi di Viśalyā-saṅgama disamakan dengan buah mandi dan bersedekah di seluruh bumi hingga tepi samudra.

16 verses

Adhyaya 24

Adhyaya 24

Kara–Narmadā Saṅgama Māhātmya (The Glory of the Kara–Narmadā Confluence at Māndhātṛpura)

Dalam adhyāya ini, Śrī Mārkaṇḍeya menetapkan sebuah tīrtha khusus: pertemuan (saṅgama) Sungai Kara dengan Narmadā (Revā) di pemukiman bernama Māndhātṛ. Disampaikan tata laku ringkas: hendaknya seseorang mendatangi saṅgama itu, melakukan snāna (mandi suci), lalu menekuni bhakti yang berpusat pada Viṣṇu—pemujaan dan pengingatan sebagai laku penyucian. Kemudian dijelaskan asal-kesucian tempat tersebut. Saat Viṣṇu berniat membinasakan seorang daitya dan mengangkat cakra, dari keringat (sveda) Beliau muncul sebuah sungai yang mulia; sungai itu mengalir dan menyatu dengan Revā tepat di sana. Karena itu, mandi suci di tempat sungai itu bertemu Revā membebaskan dari dosa dan memberi kemurnian—demikianlah phalaśruti penutupnya.

4 verses

Adhyaya 25

Adhyaya 25

Revā–Nīlagāṅgā Saṅgama Māhātmya (Confluence Theology and Ritual Fruits)

Bab ini, sebagaimana dituturkan oleh Mārkaṇḍeya, menyebut sebuah tīrtha yang masyhur di bagian timur Oṃkāra, tempat Sungai Revā bertemu dengan Nīlagāṅgā. Dinyatakan bahwa mandi suci (snāna) dan melafalkan japa di sangama itu membuat tujuan duniawi mudah tercapai, sehingga lokasi tersebut dipandang sebagai sarana kemanjuran ritual. Bab ini juga menjanjikan bahwa setelah wafat, pelaku kebajikan memperoleh kediaman suci selama enam puluh ribu tahun di Nīlakaṇṭhapura, mengaitkan geografi setempat dengan ranah suci yang bernafaskan Śaiva. Pada saat śrāddha, bila tarpaṇa bagi leluhur dilakukan dengan air bercampur wijen (tila), sang pelaku dikatakan mengangkat dua puluh satu orang bersama dirinya—buahnya bersifat pribadi sekaligus genealogis.

4 verses

Adhyaya 26

Adhyaya 26

Jāleśvara Tīrtha-प्रशंसा, Tripura-उपद्रवः, तथा Madhūkā (Lalitā) Vrata-विधानम् | Praise of Jāleśvara, the Tripura crisis, and the Madhūkā vow

Bab ini menampilkan tanya jawab teologis: Yudhiṣṭhira bertanya kepada Mārkaṇḍeya bagaimana Tīrtha Jāleśvara yang telah disebutkan sebelumnya memberi pahala yang luar biasa dan mengapa dihormati para siddha serta ṛṣi. Mārkaṇḍeya memuliakan Jāleśvara sebagai tīrtha yang tiada banding, lalu menjelaskan latar kosmisnya: para dewa dan ṛṣi diganggu oleh Bāṇa beserta asura sekutunya yang terkait dengan Tripura yang perkasa dan bergerak. Mereka mula‑mula berlindung kepada Brahmā; Brahmā menyatakan Bāṇa nyaris tak terkalahkan dan hanya Śiva yang mampu menundukkannya. Para dewa kemudian memuji Mahādeva dengan himne yang menyingkap teologi Śiva—motif pañcākṣara, pañcavaktra, dan aṣṭamūrti. Śiva berjanji menuntaskan krisis dan memanggil Nārada sebagai pelaksana rencana. Nārada diutus ke Tripura untuk menimbulkan perbedaan batin melalui “berbagai dharma”. Ia tiba di kota Bāṇa yang gemilang, diterima dengan hormat, lalu berdialog dengan Bāṇa dan permaisuri. Setelah itu, uraian beralih menjadi tuntunan: Nārada mengajarkan kerangka vrata dan dāna bagi para perempuan menurut tithi bulan, merinci pemberian seperti makanan, pakaian, garam, ghee, dan lainnya beserta buahnya—kesehatan, keberuntungan, kelangsungan keluarga, dan kemuliaan. Bagian utama menjelaskan Madhūkā/Lalitā Vrata yang dimulai pada Caitra śukla tṛtīyā: pemasangan dan pemujaan citra pohon madhuka bersama Śiva‑Umā, pemujaan anggota tubuh dengan mantra, tata arghya dan rumus karaka‑dāna, disiplin bulanan, serta udyāpana tahunan dengan persembahan kepada guru/ācārya. Penutupnya menyatakan phala: lenyapnya kemalangan, bertambahnya keharmonisan rumah tangga dan kemakmuran, serta kelahiran kembali yang baik sesuai dharma dan laku ritual.

169 verses

Adhyaya 27

Adhyaya 27

Dāna-viveka and Pati-dharma Assertion (दानविवेकः पतिधर्मप्रतिज्ञा च)

Dalam bab ini, setelah mendengar wejangan Nārada, sang ratu hendak mempersembahkan hadiah besar—emas, permata, kain halus, bahkan barang langka. Namun Nārada menolak pengayaan pribadi dan mengarahkan kembali makna dāna: para resi hidup oleh bhakti, bukan oleh penimbunan; karena itu pemberian sebaiknya ditujukan kepada para brāhmaṇa yang papa dan lemah penghidupannya. Ratu lalu memanggil brāhmaṇa miskin yang mahir dalam Weda dan Vedāṅga, dan memberi sesuai anjuran Nārada, seraya menyatakan bahwa dāna itu untuk menyenangkan Hari dan Śaṅkara. Sesudahnya ia menegaskan ikrar pati-dharma: Bāṇa adalah satu-satunya dewanya; ia memohon umur panjang dan kebersamaan lintas kelahiran, sambil tetap menyebut bahwa ia telah mengikuti petunjuk Nārada dalam berdāna. Nārada pun berpamitan; setelah ia pergi, para wanita digambarkan menjadi pucat dan kehilangan cahaya, seakan “terpesona” oleh Nārada—penutup yang menandai perubahan arah kisah dan daya wacana resi dalam mengubah batin serta tatanan sosial.

14 verses

Adhyaya 28

Adhyaya 28

दग्धत्रिपुरप्रसङ्गः, बाणस्तोत्रम्, अमरकण्टक-ज्वालेश्वरमाहात्म्यम् (Burning of Tripura, Bāṇa’s Hymn, and the Māhātmya of Amarakāṇṭaka–Jvāleśvara)

Mārkaṇḍeya menuturkan bahwa Rudra, bersama Umā, bersemayam di tepi Narmadā; di sana Nārada menyampaikan kabar tentang Bāṇa dan kemegahan istananya. Śiva lalu merenungkan penaklukan Tripura dan membangun kereta kosmis beserta sistem senjata ilahi, dengan menempatkan para dewa, Weda, metrum (chandas), dan prinsip-prinsip kosmis pada bagian-bagian kereta. Ketika tiga kota sejajar pada saat yang tepat, Ia melepaskan panah dan Tripura pun terbakar serta runtuh. Tanda-tanda gaib, kedahsyatan kobaran, dan kekacauan sosial di Tripura digambarkan dengan kuat. Bāṇa, menyadari kesalahan moral dan sebab kehancuran itu, berlindung kepada Śiva dan melantunkan stotra panjang yang memuliakan Śiva sebagai Yang Mahahadir, landasan para dewa dan unsur-unsur alam. Murka Śiva mereda; Ia menganugerahkan perlindungan dan kedudukan kepada Bāṇa, serta menghentikan sebagian api pemusnah. Fragmen Tripura yang jatuh dan masih menyala kemudian dihubungkan dengan situs-situs suci seperti Śrīśaila dan Amarakāṇṭaka, menjelaskan asal nama Jvāleśvara dan menegakkan teologi ziarah. Mārkaṇḍeya juga menguraikan tata cara ‘pātana’ di Amarakāṇṭaka—kṛcchra, japa, homa, dan pemujaan—serta menyebut tīrtha-tīrtha di tepi selatan Revā, menekankan disiplin laku, ritus leluhur, dan penghapusan cela (doṣa).

142 verses

Adhyaya 29

Adhyaya 29

Kāverī–Narmadā Saṅgama Māhātmya (Kubera’s Observance and the Fruits of Tīrtha-Discipline)

Bab ini tersusun sebagai wacana teologis tanya–jawab. Yudhiṣṭhira memohon uraian yang tepat tentang kemasyhuran Sungai Kāverī serta buah nyata dari melihat, menyentuh, mandi suci, melafal japa, memberi dana, dan berpuasa dalam kaitannya dengan kesuciannya. Mārkaṇḍeya menjunjung pertemuan Kāverī–Narmadā sebagai tīrtha yang termasyhur dan meneguhkan dayanya melalui kisah teladan. Dikisahkan Kubera, yakṣa yang perkasa, menjalani tapa panjang dengan tata-aturan di sangam: menjaga kemurnian ritual, bersembahyang disiplin kepada Mahādeva, serta menapaki pengendalian makan bertahap—pembatasan teratur, puasa berkala, dan laku yang keras. Śiva menampakkan diri dan menganugerahkan anugerah; Kubera memohon kepemimpinan atas para yakṣa, bhakti yang tak putus, dan keteguhan berpihak pada dharma; Śiva mengabulkannya. Sesudah itu hadir daftar buah kebajikan seperti phalaśruti: sangam disebut pemusnah dosa dan gerbang menuju alam surga; persembahan yang menyejahterakan leluhur ditekankan; serta dinyatakan pahala yang sebanding dengan yajña agung. Bab ini juga memperkenalkan ekologi sakral yang melindungi wilayah—kṣetrapāla, yoga sungai yang dijaga, dan liṅga-liṅga bernama di kawasan Amareśvara—serta peringatan bahwa pelanggaran di medan suci berakibat sangat berat. Penutup menegaskan kembali keunggulan Kāverī dan kesuciannya yang berakar pada Rudra.

48 verses

Adhyaya 30

Adhyaya 30

Dārutīrtha-māhātmya (The Glory of Dārutīrtha on the Narmadā)

Bab ini disusun sebagai dialog: Mārkaṇḍeya menjawab pertanyaan Yudhiṣṭhira tentang tīrtha termasyhur di tepi utara Sungai Narmadā, yaitu Dārutīrtha. Tīrtha itu dikaitkan dengan tokoh bernama Dāru dari garis Bhārgava, seorang brāhmaṇa terpelajar yang mahir dalam Veda dan Vedāṅga. Riwayat hidupnya dipaparkan menurut urutan āśrama (brahmacarya, gṛhastha, vānaprastha) dan berpuncak pada tapa serta disiplin pertapaan selaras dengan yati-dharma; ia bermeditasi terus-menerus kepada Mahādeva hingga akhir hayat, sehingga kemasyhuran tīrtha itu tegak “di tiga dunia”. Selanjutnya diberikan tuntunan: mandi suci di sana sesuai aturan, serta pemujaan kepada pitṛ (leluhur) dan para dewa. Keutamaan etis—kejujuran, pengendalian amarah, dan kesejahteraan semua makhluk—dipasangkan dengan janji tercapainya tujuan hidup. Puasa yang disertai satya dan śauca, serta pembacaan Ṛg, Sāma, dan Yajus Veda, dinyatakan berbuah sangat utama. Penutupnya berupa pernyataan doktrinal yang dikaitkan dengan Śaṅkara: siapa yang melepaskan hidup di sana dengan tata laku yang benar mencapai anivartikā gati, jalan tanpa kembali (tanpa kelahiran ulang).

11 verses

Adhyaya 31

Adhyaya 31

ब्रह्मावर्ततीर्थमाहात्म्य — The Glory of the Brahmāvarta Tīrtha

Mārkaṇḍeya menjelaskan kepada pendengar raja tentang tīrtha termasyhur bernama Brahmāvarta, yang dipandang sebagai penyuci segala kenajisan. Di sana Brahmā senantiasa hadir, tekun dalam tapa yang berat—hidup teratur, pengendalian diri, dan pemusatan batin pada Maheśvara. Ajarannya bersifat tuntunan: hendaknya mandi suci menurut tata cara, mempersembahkan tarpaṇa bagi leluhur dan para dewa, serta memuja Īśāna (Śiva) atau Viṣṇu sebagai Tuhan Yang Mahatinggi. Dinyatakan pula buahnya: kemuliaan tīrtha ini memberi pahala setara dengan yajña yang dilakukan dengan benar beserta dāna/dakṣiṇā yang semestinya. Bab ini menegaskan bahwa kesucian tempat bagi manusia tidak hadir tanpa upaya; tekad, kemampuan, dan keteguhan membawa keberhasilan, sedangkan kelalaian dan keserakahan membawa kejatuhan. Penutupnya memuliakan pelepasan yang berdisiplin: di mana pun seorang muni yang menahan diri berdiam, tempat itu menjadi setara dengan Kurukṣetra, Naimiṣa, dan Puṣkara.

11 verses

Adhyaya 32

Adhyaya 32

पत्त्रेश्वरतीर्थमाहात्म्य (Patreśvara Tīrtha Māhātmya)

Bab ini berbentuk dialog: Yudhiṣṭhira bertanya kepada Mārkaṇḍeya tentang siddha agung yang terkait dengan tīrtha Patreśvara, tempat suci yang melenyapkan dosa. Mārkaṇḍeya menuturkan bahwa Patreśvara—putra bercahaya dari Citra (Citrā), juga dikenal sebagai Jaya—pernah terpikat oleh tarian Menakā di sidang para dewa hingga kehilangan pengendalian diri. Indra, menyaksikan kelengahan itu, menjatuhkan kutuk agar ia lama menjalani kehidupan fana, sebagai peringatan tentang bahaya indria yang tak tertaklukkan. Untuk menebus kutuk tersebut, ia diperintahkan bertapa dengan disiplin selama dua belas tahun di tepi Sungai Narmadā (Revā). Ia mandi suci, melantunkan japa, memuja Śaṅkara, dan menjalani tapa berat termasuk pañcāgni, hingga Śiva berkenan menampakkan diri dan menawarkan anugerah. Ia memohon agar Śiva bersemayam di tīrtha itu dengan namanya; demikianlah berdiri śrī Patreśvara dan kemasyhurannya tersebar di tiga dunia. Penutupnya adalah phalaśruti: sekali mandi di sana menghapus dosa; pemujaan memberi pahala laksana aśvamedha, kenikmatan surga, kelahiran kembali yang baik, umur panjang, bebas penyakit dan duka, serta ingatan yang tetap akan air suci itu.

26 verses

Adhyaya 33

Adhyaya 33

अग्नितीर्थमाहात्म्य — Agnitīrtha Māhātmya (The Glory of Agni-Tīrtha)

Mārkaṇḍeya menasihati Yudhiṣṭhira tentang tata cara menuju Agni-Tīrtha, seraya menguraikan ajaran bahwa karena kehendak (kāma) dan sebab-akibat sosial-etis, Agni dapat menjadi ‘hadir’ di suatu tempat. Dalam Kṛtayuga, raja bernama Duryodhana memerintah di Māhiṣmatī; ia berhubungan dengan Narmadā dan lahirlah putri Sudarśanā. Saat Sudarśanā beranjak dewasa, Agni datang menyamar sebagai brahmana miskin dan meminangnya, namun sang raja menolak dengan alasan ketidaklayakan harta dan kedudukan. Sesudah itu Agni lenyap dari api yajña, sehingga upacara terganggu dan para brahmana menjadi cemas. Setelah penyelidikan dan laku tapa, Agni menampakkan diri dalam mimpi dan menyatakan bahwa penolakan itulah sebab ia menarik diri. Para brahmana menyampaikan syarat: bila raja menyerahkan putrinya, Agni akan menyala kembali di rumah tangga. Raja pun setuju, pernikahan berlangsung, dan Agni menjadi hadir selamanya di Māhiṣmatī; karena itu tempat tersebut dikenal sebagai Agni-Tīrtha. Teks lalu menyebut pahala: mandi suci dan bersedekah pada pertemuan paruh bulan (pakṣa-sandhi), persembahan bagi leluhur dan para dewa, sedekah emas disetarakan dengan pahala sedekah tanah, serta laku puasa yang mengantar kenikmatan di dunia Agni. Bab ditutup dengan penegasan bahwa mendengar kemuliaan tīrtha ini saja sudah menyucikan dan membawa kebaikan.

46 verses

Adhyaya 34

Adhyaya 34

Āditya’s Manifestation at a Narmadā Tīrtha and the Stated Fruits of Worship (आदित्य-तत्त्व एवं तीर्थफल-प्रशंसा)

Bab ini disampaikan sebagai dialog: Mārkaṇḍeya menuturkan kisah tambahan tentang Āditya yang agung di tepi Sungai Narmadā. Yudhiṣṭhira terpesona, lalu dijelaskan bahwa Sang Dewa bersifat mahahadir (sarvavyāpin) dan menjadi penyelamat bagi semua makhluk. Seorang brāhmaṇa bhakta dari garis Kulika menjalani tapa-ziarah yang sangat berat—perjalanan panjang tanpa makanan dan hanya sedikit air—hingga Āditya menampakkan diri dalam mimpi, memerintahkannya melunakkan nazar, serta mengajarkan hakikat bahwa Yang Ilahi meresapi dunia yang bergerak maupun yang tak bergerak. Ketika diminta memilih anugerah, sang bhakta memohon agar Āditya bersemayam tetap di tepi utara Narmadā; ia juga memohon agar siapa pun yang mengingat atau memuja-Nya, meski dari tempat yang jauh, memperoleh berkah dan belas kasih, termasuk mereka yang memiliki kekurangan jasmani. Setelah itu dipaparkan buah tirtha: mandi suci dan persembahan di sana memberi pahala setara Agniṣṭoma; tindakan tertentu menjelang akhir hayat di tirtha itu dikaitkan dengan pencapaian agni-loka, varuṇa-loka, atau kehormatan panjang di svarga. Disebut pula bahwa mengingat Bhāskara setiap fajar melenyapkan dosa-dosa yang timbul sepanjang hidup.

25 verses

Adhyaya 35

Adhyaya 35

मेघनादतीर्थ-प्रादुर्भावः (Origin and Merit of Meghnāda Tīrtha)

Bab ini disusun sebagai dialog. Yudhiṣṭhira bertanya mengapa Mahādewa bersemayam teguh di tengah arus air Narmadā, bukan di salah satu tepinya. Mārkaṇḍeya menjawab dengan kisah asal-usul. Pada Tretāyuga, Rāvaṇa bertemu dānava Maya di wilayah Vindhya dan mendengar bahwa putri Maya, Mandodarī, menjalani tapa yang sangat berat demi memperoleh suami; Rāvaṇa memohon dan menerimanya sebagai istri. Lahir seorang putra yang aumannya mengguncang dan membuat dunia tertegun; Brahmā menamainya Meghnāda. Meghnāda kemudian melakukan kaul dan pemujaan yang keras kepada Śaṅkara bersama Umā. Ia membawa dua liṅga dari Kailāsa dan berangkat ke selatan. Di Narmadā ia mandi suci dan bersembahyang; ketika hendak mengangkat liṅga-liṅga itu untuk dibawa ke Laṅkā, sebuah liṅga agung jatuh ke Narmadā dan menetap di tengah arus, disertai suara gaib yang menyuruhnya melanjutkan perjalanan. Meghnāda bersujud lalu pergi. Sejak itu tīrtha tersebut termasyhur sebagai Meghnāda Tīrtha (dahulu disebut Garjana). Disebutkan pula buah kebajikannya: mandi dengan tinggal sehari semalam memberi pahala setara Aśvamedha; piṇḍadāna setara hasil sattra; memberi makan brāhmaṇa dengan hidangan enam rasa mendatangkan pahala tak binasa; dan wafat sukarela di sana mengantar tinggal di alam Śaṅkara hingga pralaya.

32 verses

Adhyaya 36

Adhyaya 36

दारुतीर्थमाहात्म्य (Darutīrtha Māhātmya) — Origin Narrative and Pilgrimage Merits

Bab ini disusun sebagai dialog ajaran tentang kemuliaan Darutīrtha, tīrtha utama di tepi Sungai Narmadā. Menjawab pertanyaan Yudhiṣṭhira, Mārkaṇḍeya memaparkan kisah asal-usulnya: Mātali, kusir kereta Indra, pada suatu peristiwa mengutuk putranya. Sang putra yang menderita kutuk lalu memohon perlindungan Indra. Indra memerintahkannya tinggal bertapa lama di tepi Narmadā, berbakti kepada Maheśvara, serta menubuatkan kelahiran kembali sebagai pertapa termasyhur bernama Dāruka; ia juga akan menumbuhkan bhakti kepada Tuhan Tertinggi yang disebut dengan gelar Vaiṣṇava, “pemegang śaṅkha-cakra-gadā”, sehingga meraih siddhi dan tujuan akhir yang baik. Bagian berikutnya menjelaskan tata cara ziarah dan buah kebajikannya. Peziarah yang mandi dengan benar, melaksanakan sandhyā, memuja Śiva, dan menekuni studi Weda memperoleh pahala besar yang disamakan dengan Aśvamedha. Memberi jamuan kepada para brāhmaṇa berbuah tinggi; dan tindakan seperti mandi suci, dana, japa, homa, svādhyāya, serta pemujaan dewa menjadi sepenuhnya berdaya bila dilakukan dengan niat yang disucikan.

19 verses

Adhyaya 37

Adhyaya 37

देवतीर्थमाहात्म्यम् (Devatīrtha Māhātmya: The Glory of Devatīrtha on the Narmadā)

Dalam adhyaya ini, Resi Mārkaṇḍeya menjelaskan kepada Yudhiṣṭhira asal-usul dan kemuliaan Devatīrtha, tīrtha yang tiada banding di tepi Sungai Narmadā. Dikatakan bahwa tiga puluh tiga dewa mencapai keberhasilan tertinggi setelah mandi suci di sana; Yudhiṣṭhira lalu bertanya bagaimana para dewa yang pernah dikalahkan para daitya yang lebih kuat dapat meraih kembali kejayaan hanya dengan mandi di tempat itu. Resi menceritakan bahwa Indra dan para dewa tercerai-berai dalam perang, diliputi duka dan terpisah dari keluarga, lalu berlindung kepada Brahmā. Brahmā menasihati mereka bahwa kekuatan tertinggi untuk menundukkan daitya adalah tapas (pertapaan); lakukan tapa di tepi Narmadā. Tiada mantra atau perbuatan lain yang menyamai daya penyucian air Revā, yang memusnahkan dosa. Dipimpin Agni, para dewa pergi ke Narmadā, menjalankan tapa yang panjang, dan memperoleh siddhi; sejak itu tempat tersebut termasyhur di tiga dunia sebagai Devatīrtha, penghancur segala dosa. Adhyaya ini juga menetapkan laku dan buahnya: orang yang menahan diri dan mandi di sana dengan bhakti memperoleh hasil “laksana mutiara”; memberi makan para brāhmaṇa melipatgandakan pahala; kehadiran batu suci (devaśilā) menambah puṇya. Beberapa laku terkait kematian (wafat dalam pelepasan duniawi, masuk api, dan sejenisnya) dikaitkan dengan tujuan yang luhur atau menetap. Di tīrtha ini, mandi suci, japa, homa, svādhyāya, dan pemujaan berbuah tak binasa. Penutupnya menyatakan: siapa yang membaca atau mendengar kisah penghapus dosa ini terbebas dari derita dan menuju alam ilahi.

23 verses

Adhyaya 38

Adhyaya 38

गुहावासी-नर्मदेश्वर-उत्पत्ति (Guhāvāsī and the Origin of Narmadeśvara)

Bab ini disajikan sebagai dialog: Yudhiṣṭhira bertanya kepada Mārkaṇḍeya mengapa Mahādeva, sang jagad-guru, lama berdiam di sebuah guha (gua). Mārkaṇḍeya menuturkan kisah pada Kṛtayuga di pertapaan besar Dāruvana, tempat para tapa yang disiplin dari berbagai āśrama hidup tertib. Atas desakan Umā, Śiva menyamar seperti pertapa Kāpālika—berambut gimbal, berbalur abu, berselimut kulit harimau, membawa mangkuk tengkorak dan ḍamaru—lalu memasuki hutan, sehingga batin para perempuan pertapaan terguncang. Para resi kembali, melihat kegaduhan itu, lalu bersatu melakukan satya-prayoga (tindakan kebenaran) yang menyebabkan liṅga Śiva jatuh dan menimbulkan guncangan kosmis. Para dewa memohon kepada Brahmā; para resi menasihati Śiva tentang dahsyatnya tapas dan murka brahmana, hingga terjadi perdamaian dan penyucian kembali. Setelah itu Śiva menuju tepi Narmadā, menjalankan mahāvrata sebagai ‘Guhāvāsī’, dan menegakkan liṅga di sana; karena itu tempat tersebut dikenal sebagai Narmadeśvara. Penutupnya memuat tuntunan tirtha dan phalaśruti: pemujaan, mandi suci, persembahan bagi leluhur, menjamu brahmana, dana, puasa pada tithi tertentu, dan laku lainnya memberi buah ritual serta perlindungan; bahkan membaca atau mendengarkan dengan iman disebut setara dengan pahala mandi suci.

77 verses

Adhyaya 39

Adhyaya 39

कपिलातीर्थमाहात्म्य (Kapilā-tīrtha Māhātmya: The Glory and Origin of Kapilā Tīrtha)

Bab ini menampilkan tanya jawab: Yudhiṣṭhira memohon penjelasan tentang kemuliaan serta asal-usul Kapilā-tīrtha di tepi Narmadā (Revā), dan resi Mārkaṇḍeya menjawab. Di awal ditegaskan phalāśruti: mandi di Kapilā-tīrtha dengan bhakti, bahkan hanya dengan tindakan itu, diyakini menghapus kekotoran dan dosa yang menumpuk. Pada fajar Kṛta-yuga, Brahmā sedang tenggelam dalam ritus kontemplatif ketika dari sebuah kuṇḍa yang menyala muncul Kapilā yang bercahaya, beraspek api. Brahmā memuji beliau sebagai wujud berbagai daya ilahi dan ukuran-ukuran waktu, serba meresapi tatanan kosmis. Kapilā yang berkenan menanyakan maksud Brahmā; Brahmā menugaskan beliau turun dari alam luhur ke dunia fana demi kesejahteraan makhluk. Kapilā lalu menuju Narmadā yang menyucikan, bertapa di tepinya, dan dengan itu menegakkan Kapilā-tīrtha sebagai tempat suci yang abadi. Selanjutnya dijelaskan pemetaan tubuh-kosmos Kapilā: berbagai loka dikatakan bertumpu pada punggungnya, sementara dewa dan prinsip kosmis menempati bagian-bagian tertentu—api di mulut, Sarasvatī di lidah, angin di wilayah hidung, Śiva di dahi, dan seterusnya. Bab ditutup dengan etika-ritual: pemujaan Kapilā di rumah, pradakṣiṇā dan persembahan dipuji; tata cara mandi, upavāsa, serta tarpaṇa bagi leluhur dianjurkan, dengan janji manfaat bagi para pendahulu dan keturunan. Mendengar kisah ini pun dinyatakan menyucikan.

39 verses

Adhyaya 40

Adhyaya 40

Karañjeśvara Tīrtha Māhātmya (करञ्जेश्वरतीर्थमाहात्म्य) / The Glory of the Karañjeśvara Pilgrimage-Site

Bab ini disusun sebagai dialog: menjawab pertanyaan Yudhiṣṭhira, Mārkaṇḍeya mengisahkan kemuliaan seorang siddha yang terkait dengan tīrtha Karañjeśvara. Kisah diawali dengan silsilah purba pada Kṛta-yuga—munculnya resi Marīci yang lahir dari pikiran, lalu Kaśyapa, serta kerangka keturunan melalui putri-putri Dakṣa (Aditi, Diti, Danu, dan lainnya). Dari garis Danu lahirlah seorang daitya bernama Karañja, bertanda baik, yang bertapa sangat keras di tepi Sungai Narmadā dengan laku panjang, pantangan, dan pola makan teratur. Karena tapasnya, Śiva sebagai Tripurāntaka hadir bersama Umā dan menganugerahkan anugerah. Karañja memohon agar keturunannya kelak cenderung pada dharma. Setelah Sang Dewa berangkat, Karañja mendirikan tempat pemujaan Śiva atas namanya sendiri; liṅga itu dikenal sebagai Karañjeśvara. Selanjutnya disebutkan buah kebajikan (phalaśruti): mandi suci di tīrtha ini melenyapkan dosa; persembahan kepada leluhur memberi pahala setara Agniṣṭoma; dan tapa tertentu, termasuk puasa, mengantar ke Rudra-loka. Wafat dalam api atau air di tempat ini dipandang membawa tinggal lama di kediaman Śiva serta kelahiran kembali yang baik—berilmu, sehat, dan makmur. Bab ditutup dengan pujian bahwa mendengar atau melantunkan kisah ini, terutama saat konteks śrāddha, menghasilkan pahala yang tak binasa.

27 verses

Adhyaya 41

Adhyaya 41

कुण्डलेश्वरतीर्थमाहात्म्य (Kundaleśvara Tīrtha Māhātmya)

Adhyāya ini tersaji sebagai dialog teologis antara resi dan raja: Mārkaṇḍeya menuntun Yudhiṣṭhira kepada kemuliaan Tīrtha Kuṇḍaleśvara. Dikisahkan pada Tretāyuga, Viśravā dari garis Pulastya melakukan tapa panjang dan melahirkan Dhanada (Vaiśravaṇa/Kubera), yang ditetapkan sebagai penjaga kekayaan serta lokapāla. Dari garis keturunan itu muncul yakṣa bernama Kuṇḍa/Kuṇḍala. Dengan restu orang tua, Kuṇḍala bertapa keras di tepi Sungai Narmadā—menahan panas, hujan, dingin, menjalankan disiplin napas, dan berpuasa lama. Śiva, Sang Vṛṣavāhana, berkenan dan menganugerahkan anugerah: Kuṇḍala menjadi pengiring yang tak terkalahkan dan, berkat perkenan penguasa yakṣa, dapat bergerak bebas ke mana pun. Setelah Śiva kembali ke Kailāsa, Kuṇḍala menegakkan liṅga di sana sebagai Kuṇḍaleśvara, menghias dan memujanya, serta memuliakan para brāhmaṇa dengan jamuan dan sedekah. Penutupnya berupa phalaśruti: berpuasa dan bersembahyang di tīrtha ini melenyapkan dosa; dāna mendatangkan kenikmatan surga; mandi suci dan melantunkan bahkan satu ṛk memberi buah sempurna; menghadiahkan seekor sapi menghasilkan tinggal di surga selama jumlah rambut sapi itu, dan akhirnya para dermawan mencapai alam Maheśa.

30 verses

Adhyaya 42

Adhyaya 42

पिप्पलादचरितं पिप्पलेश्वरतीर्थमाहात्म्यं च | Pippalāda’s Account and the Māhātmya of Pippaleśvara Tīrtha

Menjawab pertanyaan Yudhiṣṭhira, Mārkaṇḍeya menuturkan kisah asal-usul yang terkait dengan Pippaleśvara. Kisah bermula dari tapa Yājñavalkya dan sebuah kerumitan etika rumah tangga yang melibatkan saudari beliau yang telah menjanda; dari peristiwa itu lahir seorang anak yang kemudian ditinggalkan di bawah pohon aśvattha (pippala). Anak itu bertahan hidup dan tumbuh dengan nama Pippalāda. Selanjutnya terjadi perjumpaan bernuansa kosmis-etis dengan Śanaiścara (Saturnus/Śani) yang memohon dibebaskan dari amarah Pippalāda; ditetapkan batas bahwa Śani tidak akan menimpakan penderitaan khusus kepada anak-anak hingga usia enam belas tahun, sebagai kaidah normatif dalam dialog mitis. Kemudian amarah Pippalāda melahirkan kṛtyā yang dahsyat untuk membinasakan Yājñavalkya. Sang resi mencari perlindungan ke berbagai alam ilahi dan akhirnya memperoleh naungan Śiva; dengan perlindungan-Nya, bahaya itu diselesaikan. Pippalāda menjalani tapa berat di tepi Narmadā, memohon agar Śiva bersemayam tetap di tīrtha itu, lalu menegakkan pemujaan. Di penutup bab diberikan tuntunan ziarah: mandi suci (snāna), tarpaṇa, memberi makan Brāhmaṇa, serta Śiva-pūjā. Disebutkan pahala yang tegas—bahkan disamakan dengan Aśvamedha—dan phalaśruti menyatakan bahwa membaca atau mendengar kisah ini melenyapkan dosa serta menyingkirkan mimpi buruk.

74 verses

Adhyaya 43

Adhyaya 43

Vimalēśvara–Puṣkariṇī–Dīvakara-japa and Revā/Narmadā Purificatory Doctrine (विमलेश्वर-तीर्थमाहात्म्यं तथा दिवाकरजपः)

Bab ini berbentuk dialog ajaran: Mārkaṇḍeya menuntun Yudhiṣṭhira tentang urutan laku ziarah (tīrtha) beserta buahnya. Mula-mula diarahkan ke tīrtha Vimalēśvara, dengan ‘devśilā’—batu/altar suci yang dikisahkan dibuat para dewa. Mandi suci di sana serta memuliakan para brāhmaṇa disebut memberi pahala tak habis-habis, bahkan dari pemberian kecil. Lalu dipaparkan dāna yang dianjurkan sebagai penyucian: emas, perak, tembaga, permata/mutiara, tanah, dan sapi. Lapisan phala menegaskan: wafat di tīrtha itu memberi kediaman di alam Rudra hingga pralaya; dan pelepasan nyawa yang teratur—melalui puasa, api, atau air—dinyatakan mengantar pada keadaan tertinggi. Ajaran meluas pada bhakti kepada Surya di sebuah puṣkariṇī yang menyucikan, dengan tuntunan japa: bahkan satu ṛc atau satu suku kata pun berbuah seperti Veda dan menghapus kekotoran; bila dilakukan dengan benar, pahala disebut berlipat “koṭi-guṇa”. Bagian akhir memberi pedoman etika menjelang ajal bagi semua varṇa: menahan nafsu dan amarah, taat pada śāstra, serta melayani Yang Ilahi; penyimpangan dikaitkan dengan neraka dan kelahiran rendah. Penutupnya memuji Revā/Narmadā sebagai lahir dari Rudra dan menyelamatkan semua; diberikan pula rumusan mantra harian bagi yang bangun pagi, menyentuh tanah secara ritual, lalu memuliakan sungai sebagai penyuci dan penghapus dosa.

34 verses

Adhyaya 44

Adhyaya 44

शूलभेदतीर्थमाहात्म्य (Śūlabheda Tīrtha Māhātmya) — The Glory of the Śūlabheda Pilgrimage-Site

Bab ini berbentuk dialog ajaran: Mārkaṇḍeya menjawab pertanyaan Yudhiṣṭhira tentang pembebasan (mokṣa). Ia menyingkap sebuah tīrtha tertinggi di tepi selatan Sungai Revā, didirikan oleh Śūlapāṇi (Śiva) bagi para pencari mokṣa. Tīrtha itu berada di puncak gunung bernama Bhṛgu dan termasyhur di tiga dunia sebagai Śūlabheda. Dengan kīrtana dan darśana di sana, cela ucapan, batin, dan tubuh dikatakan tersucikan; wilayah sucinya seluas lima krośa, serta memberi bhukti dan mukti. Kemudian hadir motif air-sakral: arus Gaṅgā yang terkait Bhogavatī (alam bawah) muncul dan menjadi aliran pemusnah dosa, berhubungan dengan “penembusan” (bheda) trisūla. Sarasvatī pun disebut jatuh ke sebuah kuṇḍa di tempat trisūla membelah batu, sehingga tempat itu dikenal sebagai pelepas dosa-dosa lama (prācīna-aghavimocanī). Keagungan Śūlabheda ditegaskan dengan perbandingan: Kedāra, Prayāga, Kurukṣetra, dan Gayā pun tidak menyamainya sepenuhnya. Bab ini menetapkan tata laku: śrāddha dengan persembahan piṇḍa dan air, kebiasaan meminum air tīrtha, menghormati brāhmaṇa yang layak tanpa kemunafikan dan amarah, serta motif dāna tiga belas hari dengan pahala berlipat. Ziarah bakti mencakup darśana Gaṇanātha/Gajānana dan penghormatan kepada Kambalakṣetrapa, lalu pemujaan Mahādeva (Śūlapāṇi), Umā, dan Mārkaṇḍeśa yang bersemayam di gua. Memasuki gua dan melafalkan mantra “tiga suku kata” dikaitkan dengan perolehan sebagian pahala Nīlaparvata; tempat ini disebut sarvadevamaya dan terhubung dengan koṭiliṅga agung. Tanda daya tīrtha juga disebut: percikan/gerak pada liṅga saat mandi, serta setetes minyak yang tidak melebar. Penutup menekankan kerahasiaan, lenyapnya segala dosa, dan phalaśruti bahwa mendengar atau mengingat Śūlabheda tiga kali sehari menyucikan lahir dan batin.

34 verses

Adhyaya 45

Adhyaya 45

अन्धकस्य रेवातटे तपोवरप्राप्तिः (Andhaka’s Austerity on the Revā Bank and the Granting of a Boon)

Markandeya mengingatkan bahwa dahulu Raja Uttānapāda, di hadapan para resi dan para dewa, menanyakan kepada Maheśvara tentang sebuah tīrtha yang sangat rahasia dan amat berpahala—asal-usul “Śūlabheda” serta mengapa tempat itu begitu mulia. Īśvara lalu mengisahkan daitya Andhaka, yang luar biasa kuat dan congkak, memerintah tanpa tandingan. Untuk menyenangkan Mahādeva, Andhaka pergi ke tepi Sungai Revā dan menjalani tapa bertahap selama ribuan tahun: mula-mula berpuasa, kemudian hidup dari air saja, lalu “memakan” asap, dan akhirnya disiplin yoga yang panjang, hingga tubuhnya tinggal tulang dan kulit. Daya tapasnya terasa sampai Kailāsa; Umā bertanya tentang kerasnya tapa yang belum pernah terjadi dan meragukan kelayakan memberi anugerah dengan cepat. Śiva bersama Umā mendatangi sang pertapa dan menawarkan anugerah. Andhaka memohon kemenangan atas semua dewa; Śiva menolak karena tidak patut dan menyuruhnya meminta yang lain. Andhaka jatuh putus asa; Umā mengingatkan bahwa mengabaikan seorang bhakta dapat mencederai nama Śiva sebagai pelindung para pemuja. Maka ditetapkan anugerah jalan tengah: Andhaka dapat menaklukkan semua dewa kecuali Viṣṇu, dan tidak dapat mengalahkan Śiva. Dipulihkan kembali, Andhaka menerima anugerah itu, dan Śiva kembali ke Kailāsa; kisah ini menegaskan pelajaran tentang tapas, hasrat, dan pengaturan anugerah yang terkait dengan kemuliaan tīrtha.

42 verses

Adhyaya 46

Adhyaya 46

अन्धकस्य स्वपुरप्रवेशः स्वर्गागमनं च (Andhaka’s Return, Ascent to Heaven, and the Abduction of Śacī)

Mārkaṇḍeya menuturkan: Andhaka, sang Daitya yang memperoleh kekuatan dari anugerah Śambhu, kembali ke kotanya dan disambut dengan perayaan besar. Alun-alun dihias, taman, telaga, dan kuil-kuil dipermak; lantunan Weda, seruan auspisius, sedekah, serta sukacita bersama memenuhi seluruh kota. Andhaka pun tinggal dalam kemakmuran untuk beberapa waktu. Kemudian para Dewa mendengar bahwa ia menjadi tak terkalahkan karena anugerah itu, lalu bersama-sama berlindung kepada Vāsava (Indra) dan bermusyawarah. Sementara itu Andhaka, makin berani, pergi seorang diri ke ketinggian Meru yang sukar ditempuh dan memasuki wilayah Svarga yang berkubu seakan-akan miliknya sendiri. Indra yang gentar, tak menemukan pelindung bagi Svarga, menyambutnya sebagai tamu dan memperlihatkan harta surgawi atas permintaannya: Airāvata, Uccaiḥśravas, Urvaśī dan para apsara lainnya, bunga Pārijāta, serta musik dan pertunjukan. Di arena pertunjukan, perhatian Andhaka tertuju pada Śacī; ia merampas permaisuri Indra dan pergi, memicu pertikaian. Peperangan pun terjadi, dan para Dewa terpukul mundur oleh kekuatan tunggal Andhaka—menunjukkan goyahnya tatanan kosmis ketika daya anugerah berpadu dengan hasrat tak terkendali dan dominasi paksa.

39 verses

Adhyaya 47

Adhyaya 47

अन्धकविघ्ननिवेदनम् — The Devas Seek Refuge from Andhaka

Dalam adhyāya ini, Mārkaṇḍeya menceritakan laporan krisis para dewa dan jawaban ilahi. Para dewa dipimpin Indra datang ke Brahmaloka dengan wahana-wahana agung, bersujud penuh hormat kepada Brahmā, memuji-Nya, lalu menyampaikan penderitaan mereka: asura Andhaka yang sangat kuat telah mengalahkan mereka, merampas kekayaan serta permata, bahkan merebut paksa permaisuri Indra; para dewa pun dipermalukan. Brahmā merenung dan menyatakan batasan penting: Andhaka disebut ‘avadhya’ bagi para dewa, yakni tidak mudah dibunuh oleh mereka karena anugerah terdahulu atau hukum kosmis. Maka para dewa, dengan Brahmā di depan, pergi berlindung kepada Viṣṇu (Keśava/Janārdana), melantunkan kidung pujian dan berserah diri. Viṣṇu menerima mereka dengan kasih, menanyakan sebabnya, dan setelah mendengar penghinaan itu berikrar akan membinasakan pelaku kezaliman, di mana pun ia berada—di alam bawah, di bumi, ataupun di surga. Ia bangkit bersenjata sangkha, cakra, gada, dan busur, menenteramkan para dewa, serta memerintahkan mereka kembali ke kediaman masing-masing; adhyāya pun ditutup dengan janji perlindungan ilahi dan pemulihan dharma yang segera.

23 verses

Adhyaya 48

Adhyaya 48

अन्धकस्य विष्णुस्तुतिः शिवयुद्धप्राप्तिः च (Andhaka’s Hymn to Viṣṇu and the Provocation of Śiva for Battle)

Bab ini dibuka dengan pertanyaan raja tentang di mana Andhaka berada dan apa yang ia lakukan setelah menundukkan para dewa. Mahādeva menjelaskan bahwa Andhaka telah memasuki Pātāla dan melakukan tindakan-tindakan perusakan. Keśava datang membawa busur dan melepaskan senjata āgneya; Andhaka membalas dengan senjata vāruṇa yang dahsyat. Andhaka muncul mengikuti jalur panah, menantang Janārdana dengan kata-kata angkuh; namun setelah dikalahkan dalam pertarungan jarak dekat, ia mengubah siasat dari konfrontasi menjadi sāma (pendekatan damai) dan melantunkan stuti panjang kepada Viṣṇu—mengingat rupa Narasiṃha, Vāmana, Varāha, serta memuji welas asih-Nya. Viṣṇu berkenan dan menawarkan anugerah. Andhaka memohon pertempuran yang suci dan mulia agar ia dapat naik ke alam yang lebih tinggi. Viṣṇu menolak bertarung dan mengarahkannya kepada Mahādeva, menasihati agar puncak Kailāsa diguncang untuk membangkitkan murka Śiva. Andhaka mengikuti nasihat itu; gangguan kosmis pun terjadi, Umā menanyakan pertanda, dan Śiva memutuskan menghadapi pelanggar tersebut. Para dewa menyiapkan kereta ilahi; Śiva maju dan perang besar dimulai, dengan rangkaian astra—āgneya, vāruṇa, vāyavya, sārpa, gāruḍa, nārasiṃha—yang saling menetralkan. Pertempuran memuncak menjadi duel tangan kosong; Śiva sempat terbelenggu, lalu pulih dan menghantam Andhaka dengan senjata besar hingga ia tertancap pada śūla. Tetes darah Andhaka melahirkan dānava baru; untuk mencegahnya, Śiva memanggil Durgā/Cāmuṇḍā agar meminum darah yang jatuh. Setelah ancaman tambahan terkendali, Andhaka memuji Śiva, dan Śiva menganugerahkan tempat baginya di antara gaṇa sebagai Bhṛṅgīśa—kisah yang bergerak dari permusuhan ganas menuju keterikatan dalam tatanan kosmis Śiva.

90 verses

Adhyaya 49

Adhyaya 49

Śūlabheda Tīrtha-Māhātmya (The Glory of the Śūlabheda Pilgrimage Site)

Markandeya menuturkan bahwa setelah membunuh Andhaka, Mahadewa kembali ke Kailasa bersama Uma. Para dewa berkumpul dan diperintahkan duduk; Śiva menjelaskan bahwa walau sang raksasa telah tewas, trisulanya masih ternoda darah dan tidak menjadi suci hanya dengan laku kebiasaan. Karena itu ia bertekad melakukan perjalanan tīrtha yang teratur bersama para dewa. Mereka mandi di banyak tīrtha dari Prabhāsa hingga wilayah Gaṅgā-sāgara, namun kemurnian yang diinginkan belum tercapai; lalu Śiva menuju tepi Revā (Narmadā), mandi di kedua tepi, sampai ke gunung yang terkait Bhṛgu, berhenti karena letih, dan mengenali sebuah tempat yang sangat memikat serta istimewa secara ritual. Di sana Śiva menembus gunung dengan trisulanya hingga terbentuk celah ke bawah; trisula pun tampak tanpa noda, meneguhkan alasan pemurnian di tīrtha bernama Śūlabheda. Kisah memperkenalkan Sarasvatī sebagai kehadiran penuh jasa yang muncul dari gunung dan membentuk pertemuan sungai kedua, dianalogikan dengan sangam ‘putih-dan-gelap’ di Prayāga. Brahmā menegakkan liṅga agung Brahmeśa/Brahmeśvara yang menyingkirkan duka, dan Viṣṇu disebut senantiasa hadir di bagian selatan kawasan itu. Topografi ritual lalu diuraikan: garis yang dibuat ujung trisula menyalurkan air menjadi aliran suci menuju Revā; disebut pula “liṅga air” serta tiga kolam/kuṇḍa berarus berpusar. Bab ini memaparkan aturan mandi, pilihan mantra (rumus sepuluh suku kata dan mantra-mantra Weda), kelayakan menurut tata cara bagi berbagai varṇa serta perempuan dan laki-laki, dan kaitan mandi dengan tarpaṇa, tindakan mirip śrāddha, serta dāna. Penjaga (vināyaka dan kṣetrapāla) disebutkan, dan rintangan muncul bagi mereka yang perilakunya menyimpang—menjadikan ziarah sebagai disiplin etis. Phalāśruti menegaskan pemurnian, lenyapnya cela, dan terangkatnya para leluhur melalui ritus yang benar di Śūlabheda.

49 verses

Adhyaya 50

Adhyaya 50

द्विजपात्रता-दानविधि-तीर्थश्राद्धकन्यादानोपदेशः (Eligibility of Brahmins, Ethics of Dāna, Tīrtha-Śrāddha, and Guidance on Kanyādāna)

Bab ini disajikan sebagai dialog teologis antara Uttānapāda dan Īśvara tentang kelayakan penerima dalam penghormatan dan dāna. Dengan perumpamaan ditegaskan bahwa brāhmaṇa yang tidak mempelajari Veda (anadhīyāna/anṛca) hanyalah penyandang status secara nama; persembahan dan pemberian kepadanya tidak menghasilkan buah ritual. Lalu dipaparkan daftar sifat dan pelanggaran yang menggugurkan kelayakan—moral, ritual, dan sosial—hingga ditegakkan prinsip bahwa dāna kepada penerima yang tidak patut menjadi tidak berdaya guna. Selanjutnya dijelaskan tata cara tīrtha-śrāddha: menjaga kesucian setelah śrāddha rumah tangga, menaati aturan batas, bepergian ke titik tīrtha yang disebutkan, mandi suci, lalu melaksanakan śrāddha di beberapa tempat dengan persembahan tertentu, termasuk piṇḍa dengan payasa, madu, dan ghee. Kerangka phala diberikan: kepuasan leluhur untuk masa yang panjang serta hasil surgawi bertingkat bagi dāna tertentu—alas kaki, ranjang, kuda, payung, rumah beserta biji-bijian, tiladhenu, air dan makanan—dengan penekanan kuat pada annadāna. Bagian akhir memberi tuntunan kanyādāna: keutamaannya di antara semua dāna, kelayakan penerima (berasal dari keluarga baik, berbudi, dan berilmu), kecaman terhadap memonetisasi urusan pernikahan, serta tipologi dāna menurut apakah diberikan tanpa diminta, karena undangan, atau karena permintaan. Ditutup dengan peringatan agar tidak memberi kepada yang tidak mampu/ tidak layak dan agar tidak menerima pemberian secara tidak patut.

47 verses

Adhyaya 51

Adhyaya 51

Śrāddha-kāla-nirṇaya, Viṣṇu-jāgaraṇa, and Markaṇḍeśvara-guhā-liṅga Māhātmya (Ritual Timing and Cave-Shrine Observances)

Bab ini disusun sebagai dialog teologis. Uttānapāda memohon kepada Īśvara agar menetapkan kapan śrāddha, dāna, dan ziarah tīrtha sebaiknya dilakukan. Īśvara menjawab dengan penentuan waktu-waktu śrāddha yang utama menurut kalender—tithi tertentu sepanjang bulan-bulan, peralihan ayana, aṣṭakā, saṅkrānti, vyatīpāta, serta konteks gerhana—seraya menegaskan bahwa dāna pada saat-saat itu berbuah akṣaya, yakni pahala yang tak berkurang. Selanjutnya diajarkan disiplin bhakti: berpuasa pada ekādaśī paruh terang di Madhu-māsa, berjaga malam di dekat kaki Viṣṇu, memuja dengan dupa, pelita, persembahan, rangkaian bunga, serta membaca/menyimak kisah-kisah suci terdahulu. Japa sūkta Weda dipaparkan sebagai sarana penyucian dan keselamatan. Pada pagi hari dilakukan śrāddha dengan penghormatan cermat kepada brāhmaṇa, disertai dāna sesuai kemampuan—emas, sapi, pakaian—yang menjanjikan kepuasan panjang bagi para pitṛ. Kemudian diuraikan laku ziarah: pada trayodaśī peziarah mendatangi liṅga yang bersemayam di gua, dikenali sebagai Markaṇḍeśvara, yang ditegakkan oleh ṛṣi Markaṇḍeya setelah tapa berat dan latihan yoga. Tata cara di gua meliputi mandi suci, upavāsa, pengendalian indria, berjaga, dāna pelita, pemandian dewa dengan pañcāmṛta/pañcagavya, serta mantra-japa yang luas (termasuk hitungan japa Sāvitrī). Teks menekankan pātra-parīkṣā (kelayakan penerima) dan menjelaskan persembahan lahir maupun batin melalui ‘delapan bunga’ kebajikan: ahiṃsā, indriya-nigraha, dayā, kṣamā, dhyāna, tapas, jñāna, satya. Penutupnya memperluas daftar dāna—kendaraan, biji-bijian, alat pertanian, terutama go-dāna—serta menyanjung pahala tak tertandingi saat gerhana; di mana sapi terlihat, di sana seluruh tīrtha hadir, dan mengingat/berkembali ke tīrtha atau wafat di sana dipandang sebagai kedekatan dengan Rudra.

62 verses

Adhyaya 52

Adhyaya 52

Dīrghatapā-āśrama and the Account of Ṛkṣaśṛṅga (दीर्घतपा-आश्रमः तथा ऋक्षशृङ्गोपाख्यानप्रस्तावः)

Bab 52 diawali ketika Īśvara menyatakan adanya kisah terdahulu tentang seorang pertapa agung yang bersama seisi rumahnya mencapai surga; mendengar itu Raja Uttānapāda memohon agar riwayatnya dituturkan. Uraian lalu beralih pada gambaran etnografis Kāśī: pada masa pemerintahan Raja Citrasena, Vārāṇasī dilukiskan makmur, dipenuhi gema pembacaan Weda, ramai oleh perdagangan, serta padat dengan kuil dan āśrama. Di utara kota, di dalam Mandāravana, disebutkan sebuah pertapaan termasyhur. Di sana tinggal brahmana pertapa Dīrghatapā, masyhur karena tapa yang berat; dan ditunjukkan bahwa laku tapa dapat selaras dengan tatanan rumah tangga—ia hidup bersama istri, putra, dan menantu perempuan, dilayani oleh lima putra. Yang bungsu, Ṛkṣaśṛṅga, terlatih dalam Weda, selibat, berbudi luhur, teguh dalam yoga, dan sangat sederhana dalam makan. Motif khas muncul: ia bergerak dalam wujud rusa dan bergaul dengan kawanan rusa, namun setiap hari kembali untuk bersujud dan berbakti kepada kedua orang tuanya—ketertiban bakti keluarga di tengah ekologi pertapaan. Pada penutup kutipan, oleh kehendak nasib (daiva-yoga) Ṛkṣaśṛṅga wafat, menyiapkan renungan berikutnya tentang takdir, pahala kebajikan, dan arah perjalanan akhirat bagi keluarga para pertapa.

18 verses

Adhyaya 53

Adhyaya 53

चित्रसेन-ऋक्षशृङ्गसंवादः (King Citrasena and Sage Ṛkṣaśṛṅga: Accidental Injury and Ethical Remediation)

Īśvara menyampaikan kisah ini kepada Uttānapāda sebagai ajaran: mendengarkannya dengan penuh perhatian dan śraddhā menyucikan kesalahan. Raja Citrasena dari Kāśī, yang saleh dan perkasa, berangkat berburu bersama para raja sekutu; di hutan, debu dan kekacauan membuatnya terpisah dari rombongan. Lelah oleh lapar dan dahaga, ia tiba di sebuah telaga ilahi, mandi suci, mempersembahkan tarpaṇa kepada para pitṛ dan para deva, lalu memuja Śaṅkara dengan bunga teratai. Di sana ia melihat banyak rusa tersusun dalam berbagai arah, dan di tengahnya duduk pertapa agung Ṛkṣaśṛṅga. Mengira itu kesempatan berburu, sang raja melepaskan anak panah, namun tanpa sengaja melukai sang resi. Ketika Ṛkṣaśṛṅga berbicara dengan suara manusia, raja terkejut, mengakui perbuatannya yang tidak disengaja, dan—menganggap brahmahatyā sebagai dosa paling berat—mengusulkan membakar diri sebagai penebusan. Ṛkṣaśṛṅga menolak, memperingatkan bahwa tindakan itu akan menambah kematian dalam jaringan keluarga yang bergantung padanya. Ia memerintahkan raja untuk mengangkatnya ke āśrama orang tuanya dan mengaku di hadapan sang ibu sebagai “pembunuh putra”, agar mereka menunjukkan jalan menuju ketenteraman. Raja membawanya, tetapi saat beberapa kali berhenti, Ṛkṣaśṛṅga wafat melalui pemusatan yoga. Raja melaksanakan upacara pemakaman sesuai tata cara dan meratap—menjadi landasan bagi ajaran berikutnya tentang pemulihan, penebusan, dan tanggung jawab moral.

50 verses

Adhyaya 54

Adhyaya 54

अध्याय ५४ — शूलभेदतीर्थ-माहात्म्य तथा चित्रसेनस्य प्रायश्चित्त-मार्गः (Shūlabheda Tīrtha-Māhātmya and King Citraseṇa’s Expiatory Path)

Bab ini mengisahkan krisis sebab‑akibat moral dan jalan penebusannya. Dalam delusi saat berburu, Raja Citraseṇa membunuh Ṛkṣaśṛṅga, putra resi Dīrghatapā, lalu datang ke āśrama untuk mengaku. Rumah tangga sang resi runtuh oleh duka: sang ibu meratap, pingsan, lalu wafat; para putra dan menantu pun turut binasa—menegaskan beratnya kekerasan terhadap kehidupan pertapaan dalam tatanan sosial dan buah karma. Dīrghatapā mula‑mula mengecam raja, kemudian menguraikan ajaran karma: manusia dapat terdorong oleh karma lampau, namun akibat tetap harus dijalani. Ia menetapkan program prāyaścitta: lakukan kremasi seluruh keluarga dan larungkan tulang‑belulang di Śūlabheda tīrtha yang masyhur di tepi selatan Sungai Narmadā, tempat yang disebut melenyapkan dosa dan derita. Citraseṇa melaksanakan kremasi, menempuh perjalanan asketis ke selatan dengan berjalan kaki, makan‑minum sangat sedikit, dan sering mandi suci; ia bertanya arah kepada para resi setempat hingga tiba di tīrtha yang ramai laku tapa. Sebuah tanda penglihatan—makhluk yang terangkat karena daya tīrtha—meneguhkan kemujarabannya. Raja menaruh sisa jenazah, mandi, melakukan tarpaṇa dengan air bercampur wijen, lalu menenggelamkan tulang‑belulang. Para mendiang tampak dalam wujud ilahi dengan kendaraan surgawi; Dīrghatapā yang telah ditinggikan memberkati raja, menyatakan ritus itu teladan serta menjanjikan penyucian dan buah yang diinginkan.

73 verses

Adhyaya 55

Adhyaya 55

Śūlabheda-Tīrtha Māhātmya (शूलभेदतीर्थमाहात्म्य) — The Glory of the Śūlabheda Sacred Ford

Setelah menyaksikan daya sebuah tīrtha, Uttānapāda menanyakan kisah Raja Citraseṇa. Īśvara menuturkan bahwa Citraseṇa naik ke Bhṛgutunga dan bertapa sangat keras di dekat sebuah kuṇḍa, bermeditasi pada Brahmā, Viṣṇu, dan Maheśvara, hingga berniat meninggalkan raga sebelum waktunya. Saat itu Rudra dan Keśava menampakkan diri, menahannya, serta menasihati agar ia kembali, menikmati kemakmuran yang sah, dan memerintah tanpa rintangan. Namun Citraseṇa menolak keterikatan kerajaan dan memohon anugerah: semoga Triad ilahi menetap selamanya di tempat itu, semoga kawasan itu setara pahala dengan Gayāśiras, dan semoga ia memperoleh kepemimpinan di antara gaṇa Śiva. Īśvara mengabulkan—di Śūlabheda, ketiga dewa bersemayam dalam wujud sebagian sepanjang tiga masa; Citraseṇa menjadi gaṇādhipa bernama Nandi, berfungsi laksana Gaṇeśa, serta memperoleh keutamaan pemujaan di dekat Śiva. Bab ini menegaskan kemuliaan tīrtha (melampaui tīrtha lain kecuali Gayā), menjelaskan batas-batas area kuṇḍa untuk pelaksanaan ritus, dan menguraikan daya śrāddha/piṇḍa: pembebasan bagi leluhur, manfaat bahkan bagi kematian sulit tanpa upacara, penyucian dosa tak sengaja hanya dengan mandi, serta hasil luhur bagi pelepasan duniawi yang dilakukan di sana. Penutup (phalaśruti) memuji pembacaan, pendengaran, penulisan, dan pemberian māhātmya ini sebagai penghapus cela, pemberi hasil yang diinginkan, dan pengantar tinggal di alam Rudra selama naskah ini terpelihara.

41 verses

Adhyaya 56

Adhyaya 56

देवशिला-शूलभेद-तीर्थमाहात्म्य तथा भानुमती-व्रताख्यान (Devāśilā–Śūlabheda Tīrtha Māhātmya and the Bhānumatī Vrata Narrative)

Adhyaya 56 disusun sebagai wacana tanya-jawab teologis. Uttānapāda bertanya bagaimana Gaṅgā turun ke dunia dan bagaimana Devāśilā yang sangat berpahala muncul; lalu Īśvara menuturkan kisah asal-usul geografi suci: para dewa memohon Gaṅgā, Rudra melepaskannya dari jalinan rambut (jaṭā), ia mengalir sebagai Devanadī demi kesejahteraan manusia, dan terbentuklah gugus tīrtha di sekitar Śūlabheda, Devāśilā, serta lokasi Prācī Sarasvatī. Sesudah itu diberikan petunjuk ritual yang terapan—mandi suci, tarpaṇa, śrāddha bersama brāhmaṇa yang layak, puasa Ekādaśī, berjaga malam (jāgaraṇa), pembacaan Purāṇa, dan dāna—sebagai sarana penyucian dosa dan pemuasan leluhur. Sebagai teladan, Bhānumatī, putri Raja Vīrasena yang telah menjanda, menjalani kaul keras dan ziarah bertahun-tahun (Gaṅgā → jalur selatan → wilayah Revā → dari tīrtha ke tīrtha), lalu menetap disiplin di Śūlabheda/Devāśilā dengan pemujaan berkelanjutan serta keramahtamahan kepada para brāhmaṇa. Teladan kedua menampilkan pemburu yang dilanda kelaparan (śabara/vyādha) beserta istrinya; melalui persembahan bunga dan buah, menjalankan Ekādaśī, ikut dalam ritus bersama di tīrtha, serta memegang kejujuran dan etika derma, mereka mengarahkan ulang nafkah menuju pahala bhakti. Penutupnya memuat ringkasan buah dāna (wijen, pelita, tanah, emas, dan lain-lain), menempatkan brahmadāna sebagai yang tertinggi, serta menegaskan bahwa bhāva (niat batin) menentukan hasil.

134 verses

Adhyaya 57

Adhyaya 57

Padmaka-parva and the Śabara’s Liberation at Markaṇḍa-hrada (Revā Khaṇḍa, Adhyāya 57)

Bab ini memuat ajaran teologis dalam dua bagian. Pertama, Bhānumatī menjalankan observansi Śaiva secara tertib pada hari-hari lunar: memberi makan para brāhmaṇa, menjalani upavāsa-niyama, mandi suci di Markaṇḍa-hrada, lalu memuja Maheśvara—Vṛṣabhadhvaja—dengan pañcāmṛta, wewangian, dupa, pelita, persembahan makanan, bunga, serta berjaga semalam suntuk (kṣapā-jāgaraṇa) disertai pembacaan Purāṇa, nyanyian, tarian, dan kidung pujian. Para brāhmaṇa menegaskan bahwa saat itu adalah perayaan Padmaka (padmaka-parva), menjelaskan penanda tithi/nakṣatra/yoga/karana, dan menyatakan bahwa dāna, homa, serta japa di sini berbuah akṣaya, tak berkurang. Kedua, kisah beralih pada dialog etika: Bhānumatī menjumpai seorang Śabara yang hendak melompat dari gunung Bhṛgumūrdhan bersama istrinya. Ia bukan terdorong derita seketika, melainkan takut pada saṃsāra dan cemas karena setelah memperoleh kelahiran manusia ia merasa gagal menegakkan dharma. Bhānumatī menasihati bahwa waktu masih ada untuk dharma; penyucian dapat ditempuh lewat kaul dan derma. Namun Śabara menolak bantuan berbasis harta, mengingatkan bahaya “utang-makanan” dan kenajisan—“siapa memakan makanan orang lain, memakan pula kesalahan orang itu.” Ia mengikat diri dengan setengah kain, bermeditasi pada Hari, lalu jatuh; tak lama kemudian ia dan istrinya tampak naik ke vimāna ilahi, menandai pembebasan atau tujuan luhur sebagai penutup kisah.

32 verses

Adhyaya 58

Adhyaya 58

Śūlabheda-tīrtha Māhātmya (Glory of the Śūlabheda Sacred Site)

Bab ini memaparkan kemuliaan Tirtha Śūlabheda beserta phalaśruti di akhir. Uttānapāda bertanya kepada Īśvara tentang makna tindakan Bhānumatī. Īśvara menuturkan bahwa Bhānumatī mendatangi sebuah kuṇḍa suci, mengenali kesuciannya, lalu segera memanggil para brāhmaṇa, memuliakan mereka, memberi dāna sesuai aturan, dan meneguhkan tekadnya. Setelah itu ia melakukan pemujaan bagi pitṛ dan para deva, menjalani laku disiplin selama dua pekan pada Madhu-māsa, dan pada hari amāvāsyā pergi ke kawasan pegunungan. Naik ke puncak, ia memohon para brāhmaṇa menyampaikan pesan perdamaian kepada keluarga dan kerabat: melalui tapas dengan kekuatan dirinya di Śūlabheda, ia akan melepaskan raga dan mencapai keadaan surgawi. Para brāhmaṇa menyanggupi dan menghapus keraguannya. Ia pun mengikat pakaiannya, memusatkan batin, lalu meninggalkan tubuh; para wanita surgawi datang, menaikkannya ke vimāna ilahi menuju Kailāsa, dan ia terangkat di hadapan para saksi. Mārkaṇḍeya menegaskan garis pewarisan kisah ini dan menyampaikan phalaśruti yang kuat: pembacaan atau pendengaran dengan bhakti—di tirtha maupun di kuil—melenyapkan dosa besar yang menumpuk lama; pelanggaran sosial, ritual, dan pengkhianatan kepercayaan diputus oleh daya “Śūlabheda”. Pembacaan saat śrāddha ketika brāhmaṇa sedang makan membahagiakan para pitṛ; para pendengar memperoleh kesejahteraan, kesehatan, umur panjang, dan kemasyhuran yang baik.

25 verses

Adhyaya 59

Adhyaya 59

पुष्करिणीतीर्थमाहात्म्यं (Puṣkariṇī Tīrtha Māhātmya on the Revā’s Northern Bank)

Markandeya menjelaskan sebuah puṣkariṇī (telaga suci) yang melenyapkan dosa dan patut diziarahi untuk penyucian diri. Tempat suci ini berada di tepi utara Sungai Revā (Narmadā) dan dipandang amat mujur, sebab Divākara (Surya), yang disebut sebagai wujud Veda (vedamūrti), senantiasa bersemayam di sana. Keutamaannya disamakan dengan Kurukṣetra—terutama karena mampu menganugerahkan hasil segala keinginan (sarvakāma-phala) serta melipatgandakan pahala sedekah (dāna-vṛddhi). Dijelaskan pahala mandi saat gerhana matahari lalu memberi dāna dengan tata cara benar—berupa harta berharga, emas-perak, juga ternak. Disebut pula bahwa dāna emas dan perak kepada brāhmaṇa berbuah berlipat selama tiga belas hari. Tarpana dengan air bercampur wijen menenteramkan para pitṛ dan para dewa; śrāddha dengan payasa, madu, dan ghee memberi surga serta manfaat tak binasa bagi leluhur. Persembahan biji-bijian dan buah—akṣata, badara, bilva, iṅguda, tila—juga dinyatakan menghasilkan buah yang tak habis. Inti bhakti berpuncak pada pemujaan Surya: mandi suci, pūjā kepada Divākara, pembacaan Ādityahṛdaya, dan japa Veda. Bahkan japa satu ṛc/yajus/sāman saja dikatakan memberi buah seluruh Veda, membebaskan dari dosa, dan mengantar ke alam luhur. Bab ini ditutup dengan pernyataan bahwa siapa yang melepaskan hidup di sana menurut ritus akan mencapai kedudukan tertinggi yang terkait dengan Surya.

15 verses

Adhyaya 60

Adhyaya 60

रवितीर्थ-आदित्येश्वर-माहात्म्य एवं नर्मदास्तोत्रफलम् (Ravītīrtha–Ādityeśvara Māhātmya and the Fruit of the Narmadā Hymn)

Mārkaṇḍeya melanjutkan ajaran kepada Yudhiṣṭhira dengan memuji Ādityeśvara dan Ravītīrtha sebagai kṣetra suci utama yang melampaui kemasyhuran tīrtha-tīrtha lain dalam daya guna rohaninya. Ia menyampaikan kisah yang didengarnya di dekat Rudra: pada masa kelaparan, banyak resi berkumpul di tepi Narmadā dan tiba di kawasan tīrtha yang rimbun berhutan. Di sana mereka berjumpa sosok-sosok menakutkan—perempuan dan laki-laki pembawa jerat—yang mendesak para resi untuk maju menemui ‘tuan-tuan’ mereka di tīrtha itu. Para resi lalu melantunkan himne panjang kepada Narmadā, memuji kuasa beliau yang menyucikan dan melindungi. Sang Dewi menampakkan diri dan menganugerahkan karunia-karunia luar biasa, termasuk jaminan langka yang mengarah pada pembebasan (mokṣa). Sesudah itu muncul kisah lima pria perkasa yang tekun mandi suci dan bersembahyang; mereka menjelaskan bahwa bahkan pelanggaran berat dapat luruh oleh pengaruh tīrtha ini. Mereka melakukan pemujaan kepada Bhāskara (Surya) serta mengingat Hari di dalam batin, hingga para resi menyaksikan hasil yang mengubah diri. Bab ini juga menetapkan tata laku Ravītīrtha: berkunjung saat gerhana dan peralihan kalender yang suci, berpuasa, berjaga malam, mempersembahkan pelita, mendengarkan kathā Vaiṣṇava dan melantunkan Veda, japa Gāyatrī, memuliakan brāhmaṇa, serta berdana makanan, emas, tanah, pakaian, tempat bernaung, kendaraan, dan lainnya. Phalaśruti menjanjikan penyucian dan kediaman di alam Surya bagi pendengar yang beriman, seraya menasihati agar rahasia tīrtha disampaikan dengan bijak dan tidak kepada mereka yang terjerumus dalam pelanggaran etika yang berat.

86 verses

Adhyaya 61

Adhyaya 61

शक्रतीर्थ-शक्रेश्वर-माहात्म्य (Glory of Śakra-tīrtha and Śakreśvara)

Mārkaṇḍeya mengarahkan pendengar kepada Śakra-tīrtha di tepi selatan Sungai Narmadā, tempat yang sangat berjasa dan dikenal sebagai penghapus timbunan dosa. Keagungannya diteguhkan melalui kisah asal-usul: dahulu Indra (Śakra) bertapa dengan sangat keras di sana, penuh bhakti kepada Maheśvara (Śiva). Berkenan, Umāpati menganugerahkan anugerah berupa kedudukan sebagai raja para dewa, kemakmuran kerajaan, serta daya untuk menundukkan makhluk-makhluk lawan yang digambarkan sebagai dānava. Sesudah itu, ajaran praktik diberikan: puasa bhakti pada Kārttika kṛṣṇa trayodaśī ditetapkan sebagai sarana pelepasan dari dosa, termasuk yang berkaitan dengan mimpi buruk, pertanda sial, dan gangguan yang dikaitkan dengan graha/śākinī. Darśana kepada Śakreśvara dinyatakan memusnahkan kesalahan yang terkumpul sejak kelahiran, dan juga disebutkan bahwa berbagai perbuatan pelanggaran dapat disucikan dalam konteks suci ini. Pada akhirnya dianjurkan dāna—terutama menghadiahkan seekor sapi (atau hewan penarik yang layak) kepada brāhmaṇa yang utama—dengan penuh bhakti bagi pencari kediaman surgawi; lalu buah-buah (phalāni) tempat itu dirangkum secara singkat.

11 verses

Adhyaya 62

Adhyaya 62

क्रोडीतीर्थ-माहात्म्य (Kroḍī Tīrtha Māhātmya) — The Glory of the Kroḍīśvara Shrine

Adhyaya ini memuat tuntunan Resi Mārkaṇḍeya kepada seorang raja tentang ziarah ke tirtha agung bernama Kroḍīśvara. Setelah pasukan dānava dihancurkan, para dewa yang bersukacita mengumpulkan kepala-kepala yang terpenggal dan menghanyutkannya ke perairan Narmadā sambil mengenang ikatan kekerabatan; kemudian mereka mandi suci, menegakkan Umāpati (Śiva), dan memuja-Nya demi kesejahteraan serta “keberhasilan duniawi” (lokasiddhi). Sejak itu tirtha tersebut dikenal di bumi sebagai “Kroḍī”, pemusnah dosa (pāpa-ghna). Rangkaian ritualnya dijelaskan: berpuasa dengan bhakti pada hari ke-8 dan ke-14 (di kedua paruh bulan), berjaga malam di hadapan Śūlin dengan pembacaan kisah suci dan studi Veda, lalu pagi hari memuja Tridaśeśvara. Dewa dipandikan dengan pañcāmṛta, diolesi cendana, dipersembahkan daun dan bunga, dilakukan japa mantra menghadap selatan, serta tindakan berendam/menyelam di air secara terkendali. Juga dianjurkan persembahan air menghadap selatan bagi leluhur (tila-añjali), śrāddha, dan memberi jamuan serta dana kepada brāhmaṇa yang disiplin dan berpegang pada Veda; pahalanya disebut berlipat ganda. Phalaśruti menyatakan: wafat di tirtha ini menurut aturan memberi tinggal lama di Śivaloka selama tulang-belulang masih berada dalam air Narmadā; kemudian terlahir kembali sebagai pribadi kaya, terhormat, berbudi, dan panjang umur, yang akhirnya mengingat tirtha itu dan mencapai tujuan tertinggi melalui pemujaan Kroḍīśvara. Bab ini juga mendorong pembangunan tempat suci di tepi utara Revā dengan harta yang diperoleh secara jujur, terbuka bagi semua varṇa dan juga perempuan sesuai kemampuan; dan ditutup dengan janji bahwa mendengar kemuliaan tirtha ini dengan bhakti melenyapkan dosa dalam enam bulan.

24 verses

Adhyaya 63

Adhyaya 63

कुमारेश्वरतीर्थ-माहात्म्य (Kumāreśvara Tīrtha Māhātmya)

Mārkaṇḍeya menasihati sang pendengar raja agar pergi ke Tīrtha Kumāreśvara yang mulia, terkenal di dekat Agastyeśvara dan berada di tepi Sungai Narmadā. Dahulu kala Ṣaṇmukha (Skanda) bersembahyang di sana dengan bhakti yang sangat mendalam dan memperoleh siddhi; ia menjadi pemimpin bala tentara para dewa serta penakluk musuh. Karena teladan itu, tempat tersebut dinyatakan sebagai tīrtha yang sangat berdaya di Narmadā. Ditetapkan pula disiplin bagi peziarah: mendekat dengan pikiran terpusat dan pengendalian indria, terutama pada Kārttika caturdaśī dan aṣṭamī. Tindakan ritual meliputi mandi suci serta abhiṣeka kepada Girijā-nātha (Śiva) dengan dadih, susu, dan ghee; melantunkan nyanyian bhakti; serta melakukan piṇḍa-dāna sesuai śāstra, sebaiknya di hadapan brāhmaṇa terpelajar yang teguh dalam kewajiban ortodoks. Ajaran pahala menyatakan: apa pun yang dipersembahkan di sana menjadi akṣaya (tak binasa); tīrtha ini dipuji sebagai perwujudan semua tīrtha; dan darśana Kumāra mendatangkan puṇya. Penutupnya menegaskan bahwa siapa yang wafat dalam keterkaitan dengan tatanan suci ini mencapai surga—sebagai pernyataan Tuhan yang benar.

10 verses

Adhyaya 64

Adhyaya 64

अगस्त्येश्वरतीर्थमाहात्म्य (Agastyeśvara Tīrtha-Māhātmya)

Dalam adhyāya ini, Mārkaṇḍeya menasihati seorang raja dan mengarahkannya kepada tīrtha yang sangat suci bernama Agastyeśvara di Avantī Khaṇḍa. Tīrtha ini dipaparkan sebagai sarana berbasis tempat untuk menghapus noda adharma dan meluruhkan dosa. Dijelaskan tata laku utama berupa snāna (mandi suci) di sana, yang secara tegas dikaitkan dengan pelepasan dari pelanggaran berat, bahkan dalam ungkapan pengampunan brahmahatyā. Waktu pelaksanaannya ditentukan: bulan Kārttika, paruh gelap (kṛṣṇapakṣa), pada hari caturdaśī, sehingga waktu, tempat, dan praktik menyatu dalam satu ketetapan etis-ritual. Selanjutnya diperintahkan agar pelaku tapa berketetapan batin (samādhistha) dan mengekang indria (jite-indriya), lalu melakukan abhiṣeka kepada Dewa dengan ghee. Disertakan pula anjuran dāna: harta, alas kaki, payung, selimut berlumur ghee, serta memberi makan semua orang; semua itu disebut melipatgandakan pahala. Ajarannya menegaskan etika ziarah yang teratur: penyucian lahir dari disiplin, bhakti, dan kemurahan hati, bukan dari perjalanan semata.

5 verses

Adhyaya 65

Adhyaya 65

Ānandeśvara-tīrtha Māhātmya (Glory of the Ānandeśvara Tīrtha)

Bab ini disusun sebagai dialog ketika Mārkaṇḍeya menasihati Yudhiṣṭhira tentang sebuah tirtha suci di tepi Narmadā bernama Ānandeśvara. Setelah para raksasa ditumpas, Maheśvara (Śiva) dipuja oleh para dewa dan makhluk luhur; lalu Ia, bersama Gaurī sebagai pendamping, mengambil wujud Bhairava dan menari dengan sukacita di tepi selatan Sungai Narmadā. Dari peristiwa asal inilah tempat suci itu dikenal sebagai Ānandeśvara, sebagai pusat daya penyucian. Selanjutnya diberikan tuntunan laku: pemujaan dianjurkan pada Aṣṭamī, Caturdaśī, dan Paurṇamāsī, dengan pengurapan wewangian serta penghormatan kepada brāhmaṇa sesuai kemampuan. Dianjurkan pula go-dāna (sedekah sapi) dan vastra-dāna (sedekah pakaian). Disebutkan tata śrāddha musiman—terutama pada trayodaśī di musim Vasanta—dengan persembahan yang sederhana namun tepat, seperti inguda, badara, bilva, akṣata, dan air. Pada penutupnya, phalaśruti menjanjikan kepuasan leluhur yang berkelanjutan serta kesinambungan keturunan dalam banyak kelahiran, menegaskan bahwa ritual adalah kewajiban etis sekaligus kesejahteraan rohani jangka panjang.

12 verses

Adhyaya 66

Adhyaya 66

मातृतीर्थमाहात्म्य (Mātṛtīrtha Māhātmya: The Glory of the Mothers’ Pilgrimage Site)

Markandeya menasihati Yudhiṣṭhira agar pergi ke Mātṛtīrtha yang tiada banding, terletak dekat pertemuan sungai di tepi selatan Narmadā. Kesucian tempat itu dijelaskan melalui asal-usulnya: para Mātṛ (Ibu-ibu Ilahi) dikisahkan menampakkan diri di tepi sungai; Śiva—yang digambarkan menyatu dengan Umā sebagai setengah diri-Nya dan mengenakan ular bagaikan benang suci—menjawab permohonan sidang Yoginī. Śiva menetapkan tīrtha itu termasyhur di bumi lalu menghilang, sehingga restu ilahi menjadi dasar kemujarabannya. Bab ini menetapkan laku pada hari kesembilan (navamī): penyembah yang suci dan tertib hendaknya berpuasa serta memuja dalam lingkup para Ibu (mātṛ-gocara), sehingga para Mātṛ dan Śiva berkenan. Bagi perempuan yang mandul, kehilangan anak, atau tanpa putra, seorang guru yang menguasai mantra dan śāstra memulai upacara mandi suci dengan bejana emas berisi lima permata dan buah-buahan; sang guru memandikan dengan bejana perunggu demi memperoleh putra. Penutupnya menyatakan: apa pun yang diinginkan akan tercapai, dan tiada tīrtha yang melampaui Mātṛtīrtha.

10 verses

Adhyaya 67

Adhyaya 67

Luṅkeśvara/Liṅgeśvara Tīrtha Māhātmya and the Daitya Kālapṛṣṭha’s Boon

Bab 67 disampaikan oleh Mārkaṇḍeya sebagai uraian teologis yang berpusat pada tīrtha. Diperkenalkan sebuah tempat ziarah yang sangat utama, berada di perairan, bernama Luṅkeśvara; juga dijelaskan sebagai Liṅgeśvara melalui logika “sparśa-liṅga” (liṅga yang termaknai lewat sentuhan). Inti kisahnya adalah krisis akibat anugerah. Daitya Kālapṛṣṭha menjalani tapa yang amat berat, termasuk laku asketis “meminum asap”, sehingga Pārvatī mendorong Śiva untuk memberinya anugerah. Śiva memperingatkan bahaya etis memberi anugerah karena paksaan dan dorongan yang tidak patut; namun tetap menganugerahkan kuasa berbahaya: siapa pun yang kepalanya disentuh tangan sang daitya akan menjadi abu. Kālapṛṣṭha lalu hendak memakai kuasa itu melawan Śiva dan mengejar-Nya melintasi dunia-dunia. Śiva memohon pertolongan; Nārada diutus kepada Viṣṇu. Viṣṇu turun tangan lewat māyā dengan menampakkan taman musim semi dan seorang gadis memesona; karena terdelusi oleh nafsu, sang daitya mengikuti isyarat adat dan meletakkan tangannya sendiri di kepala sendiri, seketika binasa. Sesudah itu hadir phalaśruti dan penunjuk ritual: mandi dan meminum air di Luṅkeśvara menghancurkan dosa hingga ke unsur-unsur tubuh serta rentang karma yang luas. Puasa pada hari-hari bulan tertentu dan sedekah kecil kepada brāhmaṇa terpelajar disebut melipatgandakan pahala; juga disebut para dewa penjaga yang memelihara kesucian tempat itu.

109 verses

Adhyaya 68

Adhyaya 68

धनदतीर्थमाहात्म्य (Glory of Dhanada Tīrtha on the Southern Bank of the Narmadā)

Mārkaṇḍeya menasihati Yudhiṣṭhira agar pergi ke Tīrtha Dhanadā di tepi selatan Sungai Narmadā. Tīrtha ini dipuji sebagai pemusnah segala dosa dan pemberi buah semua tīrtha. Pada hari Trayodaśī paruh terang bulan Caitra, pelaku hendaknya menahan diri, berpuasa, dan berjaga sepanjang malam. Di sana dilakukan pemandian suci ‘Dhanadā’ dengan pañcāmṛta, persembahan pelita ghee, serta penguatan bhakti melalui nyanyian dan alat musik. Saat fajar, hormatilah para brāhmaṇa yang layak menerima dana: teguh dalam ilmu dan pembahasan śāstra, menjalankan tata laku śrauta/smārta, serta beretika dan terkendali. Persembahan meliputi sapi, emas, pakaian, alas kaki, makanan, dan bila mampu payung serta tempat tidur; disebutkan bahwa ini menghapus dosa secara menyeluruh hingga tiga kelahiran. Phalāśruti membedakan hasil menurut sikap batin: yang tak berdisiplin meraih surga, yang berdisiplin mencapai mokṣa; yang miskin memperoleh makanan berulang kali; lahir dengan kemuliaan dan berkurang penderitaan; serta penyakit lenyap oleh air Narmadā. Keutamaan khusus diberikan pada vidyā-dāna di Tīrtha Dhanadā, yang mengantar ke ‘dunia Matahari’ tanpa penyakit; dan mereka yang memperbanyak persembahan di Devadroṇī di tepi selatan Revā mencapai ‘dunia Śaṅkara’ yang bebas duka.

12 verses

Adhyaya 69

Adhyaya 69

Maṅgaleśvara-liṅga Pratiṣṭhā and Aṅgāraka-vrata (मङ्गलेश्वरलिङ्गप्रतिष्ठा तथा अङ्गारकव्रत)

Markandeya menggambarkan urutan ziarah yang menuntun ke tirtha Maṅgaleśvara yang utama. Dikisahkan bahwa Bhūmiputra, Maṅgala (Aṅgāraka), mendirikan tempat suci itu demi kesejahteraan semua makhluk. Pada tithi Caturdaśī, karena bhakti yang sangat mendalam, Śaṅkara—Śaśiśekhara—menampakkan diri sebagai Maṅgaleśvara dan menganugerahkan anugerah. Maṅgala memohon karunia yang lestari sepanjang kelahiran-kelahiran, menyatakan dirinya lahir dari keringat tubuh Śiva dan berdiam di antara para graha; ia juga memohon agar para dewa mengakui serta memujanya. Śiva mengabulkan bahwa di tempat itu Tuhan akan dikenal dengan nama Maṅgala, lalu lenyap. Maṅgala kemudian menegakkan liṅga dan memujanya dengan daya yoga. Selanjutnya bab ini memberi tuntunan dharma: liṅga Maṅgaleśvara disebut menghapus duka; orang bijak hendaknya memuaskan para brāhmaṇa di tirtha, terutama dengan upacara bersama pasangan, serta menjalankan vrata yang berkaitan dengan Aṅgāraka. Di akhir vrata dianjurkan dana untuk Śiva: sapi/kerbau jantan, busana merah, hewan dengan warna tertentu, serta payung, ranjang, rangkaian bunga merah dan olesan suci—semuanya dengan kemurnian batin. Diajarkan pula śrāddha pada tithi ke-4 dan ke-8 di kedua pakṣa, serta larangan menipu dalam urusan harta. Buahnya: kepuasan leluhur selama satu yuga, keturunan yang baik, kelahiran berulang dengan kedudukan mulia, cahaya tubuh karena pengaruh tirtha, dan lenyapnya dosa bagi yang rutin melantunkan kisah ini dengan bhakti.

17 verses

Adhyaya 70

Adhyaya 70

Ravi-kṛta Tīrtha on the Northern Bank of Revā (रविणा निर्मितं तीर्थम् — रेवोत्तरतीरमाहात्म्यम्)

Mārkaṇḍeya menggambarkan sebuah tīrtha yang “sangat cemerlang” di tepi utara Revā (Narmadā), yang dikaitkan dengan Ravi (Dewa Surya). Tempat suci ini dipandang sebagai sarana pāpa-kṣaya (peluruhan dosa), dan dikatakan bahwa Bhāskara tetap hadir di sana melalui sebagian diri-Nya (svāṁśa), menetap di tepi utara dalam lanskap Narmadā. Kemudian diberikan tuntunan waktu: mandi suci (snāna) terutama pada tithi keenam (ṣaṣṭhī), kedelapan (aṣṭamī), dan keempat belas (caturdaśī), disertai śrāddha dengan bhakti bagi para leluhur/yang telah wafat (preteṣu). Buahnya berlapis: penyucian segera dan kemuliaan di Sūrya-loka, lalu kembali dari surga terlahir dalam keluarga yang murni, dianugerahi kekayaan serta terbebas dari penyakit sepanjang kelahiran-kelahiran berikutnya; demikian bab ini merangkum ajaran tīrtha-māhātmya yang mengikat tempat, waktu, ritus, dan hasil karma.

5 verses

Adhyaya 71

Adhyaya 71

Kāmeśvara-tīrtha Māhātmya (कामेश्वरतीर्थमाहात्म्य) / The Glory of the Kāmeśvara Sacred Site

Markandeya melanjutkan ajarannya kepada Yudhiṣṭhira dengan memperkenalkan sebuah tīrtha suci yang terkait dengan Kāmeśvara. Di sana, putra perkasa Gaurī, sang gaṇādhyakṣa, dinyatakan hadir sebagai wujud siddha; tempat ini dipuji sebagai pemantik bhakti dan pelebur dosa. Inti bab ini menetapkan tata-ibadah: seorang pemuja yang berbhakti dan menahan diri hendaknya mandi suci (snāna), lalu melakukan abhiṣeka dengan pañcāmṛta; sesudah itu mempersembahkan dupa (dhūpa) dan persembahan makanan (naivedya), serta melaksanakan pūjā menurut aturan. Buahnya adalah penyucian moral-ritual dan terbebas dari segala dosa. Disebutkan pula penentuan waktu: hari kedelapan paruh bulan (aṣṭamī) pada bulan Mārgaśīrṣa sangat utama untuk mandi di tīrtha ini. Penutupnya menegaskan bahwa hasil mengikuti niat—apa pun tujuan pemujaan, itulah yang dicapai oleh sang pemuja.

5 verses

Adhyaya 72

Adhyaya 72

Maṇināgeśvara-tīrtha Māhātmya (मणिनागेश्वरतीर्थमाहात्म्य) — Origin Legend and Ritual Merits

Mārkaṇḍeya mengarahkan sang pendengar raja kepada Tīrtha Maṇināgeśvara, tempat suci yang auspisius di tepi utara Sungai Narmadā, didirikan oleh nāga Maṇināga demi kesejahteraan semua makhluk dan dipuji sebagai pemusnah dosa. Yudhiṣṭhira bertanya bagaimana seekor ular berbisa dapat menyenangkan Īśvara. Maka dikisahkan silsilah kuno: pertaruhan Kadrū dan Vinatā, istri Kaśyapa, tentang warna kuda Uccaiḥśravas; tipu daya Kadrū yang memaksa para ular menghitamkan rambut kuda; sebagian menuruti, sebagian lain lari karena takut kutuk sang ibu, lalu tersebar ke perairan dan berbagai wilayah. Takut akibat kutuk itu, Maṇināga bertapa dengan keras di tepi utara Narmadā, bermeditasi pada Yang Tak Binasa. Śiva, Sang Tripurāntaka, menampakkan diri, memuji baktinya, memberi perlindungan dari nasib yang mengancam, serta menganugerahkan kedudukan luhur dan kebaikan bagi garis keturunannya. Atas permohonan Maṇināga, Śiva berkenan bersemayam di sana dalam wujud kehadiran sebagian dan memerintahkan penegakan liṅga, sehingga kewibawaan tīrtha itu tegak. Bab ini juga merinci waktu-waktu ritual (terutama tithi tertentu), bahan abhiṣeka seperti dadhi, madhu, ghṛta, dan kṣīra, pedoman śrāddha, serta anjuran dāna dan tata laku para pelayan upacara. Pada akhirnya, phalaśruti menegaskan pembebasan dari dosa, perjalanan akhirat yang baik, perlindungan dari ketakutan terkait ular, dan pahala istimewa bagi yang mendengar atau melantunkan kisah tīrtha ini.

66 verses

Adhyaya 73

Adhyaya 73

गोपारेश्वरतीर्थमाहात्म्य (Gopāreśvara Tīrtha Māhātmya)

Bab ini tersusun sebagai wacana teologis tanya–jawab. Yudhiṣṭhira memohon kepada Mārkaṇḍeya penjelasan singkat mengapa sebuah liṅga yang disebut “muncul dari tubuh sapi” berada di tepi selatan Sungai Narmadā dekat Maṇināga, serta mengapa ia dipandang sebagai pemusnah dosa. Mārkaṇḍeya menuturkan bahwa Surabhi/Kapilā, sapi teladan, melakukan bhakti, tapa, dan kontemplasi kepada Maheśvara demi kesejahteraan dunia; Śiva berkenan menampakkan diri dan berjanji bersemayam di tīrtha itu, sehingga tempat tersebut masyhur memberi penyucian cepat bahkan dengan sekali mandi suci. Selanjutnya ditetapkan pedoman etika pemberian ritual: “gopāreśvara-go-dāna” hendaknya dilakukan dengan devosi, yakni menghadiahkan sapi yang layak (dengan emas/perhiasan sebagaimana disebutkan) kepada brāhmaṇa yang pantas, dengan catatan waktu seperti kṛṣṇa pakṣa caturdaśī atau aṣṭamī, dan penekanan khusus pada bulan Kārttika. Disebut pula upacara pendukung: piṇḍadāna untuk mengangkat preta, rudra-namaskāra harian sebagai peluruh dosa, serta vṛṣotsarga (pelepasan/donasi banteng) yang menguntungkan para pitṛ dan menganugerahkan kehormatan panjang di Śiva-loka sebanding dengan jumlah bulu banteng, lalu kelahiran kembali yang baik. Uraian ditutup dengan penegasan identitas situs: Gopāreśvara di tepi selatan Narmadā, dan asal-usul liṅga yang luar biasa menjadi tanda kesucian tīrtha tersebut.

24 verses

Adhyaya 74

Adhyaya 74

Gautameśvara-tīrtha Māhātmya (गौतमेश्वरतीर्थमाहात्म्य) — Revā’s Northern Bank

Bab ini menampilkan laporan dialogis oleh Mārkaṇḍeya tentang kemuliaan Tīrtha Gautameśvara yang amat cemerlang di tepi utara Sungai Revā. Asal-usulnya dikaitkan dengan resi Gautama yang menegakkannya demi kesejahteraan manusia; dalam ungkapan Purāṇa, tempat ini dipuji sebagai ‘tangga menuju surga’ (svarga-sopāna-rūpa). Diajarkan bahwa peziarah yang datang dengan bhakti yang mendalam ke hadapan Dewa ‘guru dunia’ akan memperoleh pemusnahan dosa (pātaka-vināśa), pemurnian batin, dan janji tinggal di alam surga. Disebut pula manfaat nyata: kemenangan, lenyapnya penderitaan, serta bertambahnya keberuntungan; dan dalam ritus leluhur, satu persembahan piṇḍa dikatakan mengangkat tiga generasi dalam garis keturunan. Pada penutup ditegaskan kaidah penilaian: apa pun yang dipersembahkan dengan bhakti—kecil maupun besar—dilipatgandakan buahnya oleh wibawa Gautama. Tīrtha ini juga dinyatakan sebagai yang tertinggi di antara semua tīrtha, serta diteguhkan sebagai sabda Rudra, menandai pengesahan Śaiva.

7 verses

Adhyaya 75

Adhyaya 75

Śaṅkhacūḍa-tīrtha-māhātmya (Glory of the Śaṅkhacūḍa Tīrtha on the Narmadā)

Mārkaṇḍeya menguraikan kemuliaan tīrtha yang sangat suci di tepi selatan Sungai Narmadā, bernama Śaṅkhacūḍa. Dikatakan bahwa Śaṅkhacūḍa hadir dan bersemayam di sana; ia mencari perlindungan dari rasa takut kepada Vainateya (Garuda), sehingga tempat itu menjadi kediamannya. Kemudian ditetapkan tata laku pemujaan: dengan kemurnian dan konsentrasi, seorang bhakta hendaknya datang, memandikan/menyiram Śaṅkhacūḍa secara berurutan dengan zat-zat mujarab seperti susu, madu, dan ghee, serta melakukan berjaga malam (jāgaraṇa) di hadapan dewa. Pemujaan dilengkapi dengan memuliakan para brāhmaṇa yang berkaul terpuji, memberi persembahan berupa dadhibhakta dan jamuan, lalu ditutup dengan go-dāna (sedekah sapi) yang dipuji sebagai penyuci pemusnah segala dosa. Akhirnya disebutkan pahala khusus: siapa pun yang di tīrtha ini menenangkan atau memuaskan seseorang yang menderita karena gigitan ular, akan mencapai alam tertinggi sesuai sabda Śaṅkara—mengaitkan kesucian tempat, welas asih, dan hasil keselamatan rohani.

5 verses

Adhyaya 76

Adhyaya 76

Pāreśvara-Tīrtha Māhātmya and Parāśara’s Vrata on the Narmadā (Chapter 76)

Markandeya menuturkan bahwa di tepi suci Sungai Narmadā, di Pāreśvara-Tīrtha, resi Parāśara menjalani tapa yang sangat berat demi memperoleh putra yang layak. Dewi—disebut Gaurī Nārāyaṇī, permaisuri Śaṅkara—menampakkan diri, memuji bhaktinya, lalu menganugerahkan anugerah: seorang putra yang berpegang pada kebenaran dan kemurnian, tekun mempelajari Veda, serta mahir dalam ilmu śāstra. Parāśara memohon agar Dewi tetap bersemayam di tempat itu demi kesejahteraan manusia; Dewi menyetujui dan kemudian hadir secara tak-terlihat (tak termanifestasi) di sana. Parāśara lalu menegakkan pratishṭhā bagi Pārvatī dan juga memasang Śaṅkara, seraya menyatakan keagungan-Nya yang tak terkalahkan dan sukar didekati bahkan oleh para dewa. Bab ini kemudian menetapkan laku-ibadah berbasis tīrtha bagi para bhakta—perempuan maupun laki-laki—yang suci, terkendali batinnya, serta bebas dari nafsu dan amarah. Disebutkan bulan-bulan yang baik dan paruh terang (śukla pakṣa) sebagai waktu utama, beserta aturan puasa, berjaga malam, persembahan lampu, dan seni bhakti yang pantas. Dijelaskan pula penghormatan kepada brāhmaṇa dengan dana—harta, emas, kain, payung, alas tidur, sirih, makanan—serta tuntunan śrāddha, termasuk pembedaan bagi perempuan dan śūdra (āmā-śrāddha) dan tata duduk menurut arah. Penutupnya adalah phalaśruti: siapa yang mendengarkan dengan iman dibebaskan dari dosa-dosa berat dan memperoleh kebajikan luhur.

25 verses

Adhyaya 77

Adhyaya 77

भीमेश्वरतीर्थे जपदानव्रतफलप्रशंसा | Bhīmeśvara Tīrtha: Praise of Japa, Dāna, and Vrata-Fruits

Adhyāya ini memuat tuntunan teologis-ritual Śrī Mārkaṇḍeya tentang Tīrtha Bhīmeśvara. Bhīmeśvara dipuji sebagai tempat suci yang melenyapkan dosa (pāpa-kṣaya) dan didatangi para resi yang menegakkan disiplin suci. Urutan laku dijelaskan: mendekat kepada Bhīmeśvara, mandi di tīrtha, menjalankan upavāsa (puasa) serta pengendalian indria, lalu melakukan mantra-japa—khususnya mantra “satu suku kata” (ekākṣara) dengan kedua tangan terangkat pada siang hari ketika matahari hadir. Selanjutnya dipaparkan buah (phala) yang bertingkat: lenyapnya keburukan yang menumpuk, bahkan dosa dari banyak kelahiran, serta daya penyucian khusus dari japa Gāyatrī. Ditegaskan pula bahwa pengulangan japa—baik vaidika maupun laukika—membakar kekotoran bagaikan api melahap rumput kering. Namun ada peringatan etis: jangan berbuat salah dengan dalih “kekuatan ilahi”; kebodohan dapat cepat sirna, tetapi kesalahan tidak menjadi benar karenanya. Penutupnya menegaskan bahwa sedekah sesuai kemampuan di tīrtha ini menghasilkan buah yang tak binasa (akṣayya).

8 verses

Adhyaya 78

Adhyaya 78

नारदतीर्थ-नारदेश्वर-माहात्म्य (Glory of Nārada’s Tīrtha and Nāradeśvara)

Bab ini disajikan sebagai uraian dialog. Mārkaṇḍeya mula-mula menyebut sebuah tīrtha tertinggi yang dikatakan didirikan oleh Nārada; Yudhiṣṭhira lalu menanyakan asal-usulnya. Kisah beralih ke tapa-brata Nārada di tepi utara Sungai Revā (Narmadā), hingga Īśvara menampakkan diri dan menganugerahkan anugerah: keberhasilan yoga, bhakti yang teguh, kebebasan bergerak melintasi alam-alam, pengetahuan tiga masa, serta kemahiran dalam tata musik—svara, grāma, mūrcchanā. Beliau juga menjanjikan bahwa tīrtha Nārada akan termasyhur di dunia dan memusnahkan dosa. Setelah Śiva lenyap, Nārada menegakkan Śūlin (wujud Śiva) demi kesejahteraan semesta dan menetapkan tīrtha itu. Selanjutnya dipaparkan etika dan tata laku ziarah: pengendalian indria, puasa dan berjaga pada Bhādrapada kṛṣṇa caturdaśī, sedekah seperti payung kepada brāhmaṇa yang layak, śrāddha bagi mereka yang wafat karena senjata, persembahan sapi kapilā bagi para leluhur, derma dan jamuan bagi brāhmaṇa, persembahan lampu, serta nyanyian dan tarian bhakti di lingkungan kuil. Disebut pula bahwa homa dan pemujaan kepada Havyavāhana/Agni (bersama para dewa dipimpin Citrabhānu) meredakan kemiskinan dan mendatangkan kemakmuran. Bab ditutup dengan penegasan bahwa tīrtha di tepi utara Revā ini adalah pemusnah dosa-dosa besar.

33 verses

Adhyaya 79

Adhyaya 79

दधिस्कन्द-मधुस्कन्दतीर्थमाहात्म्य / The Māhātmya of Dadhiskanda and Madhuskanda Tīrthas

Adhyaya ini disampaikan sebagai wejangan teologis oleh Śrī Mārkaṇḍeya kepada seorang raja. Beliau mengarahkan pencari dharma menuju dua tīrtha yang sangat dipuji—Dadhiskanda dan Madhuskanda—yang disebut sebagai sarana pembersih pāpa (pāpa-kṣaya). Diuraikan pula bahwa mandi suci di sana hendaknya disertai dana (sedekah) sesuai ketentuan. Di tīrtha Dadhiskanda, setelah mandi suci dianjurkan memberi dana dadhi (dadih/yoghurt) kepada seorang dvija. Buahnya disebut meliputi banyak kelahiran: terbebas dari penyakit, derita karena usia tua, duka dan iri hati, serta terus terlahir dalam garis keturunan yang “murni” untuk waktu yang panjang. Di tīrtha Madhuskanda, dana wijen yang dicampur madu, dan secara terpisah persembahan piṇḍa bercampur madu, dikaitkan dengan terhindarnya pandangan/alam Yama selama banyak kelahiran serta kemakmuran yang berlanjut hingga anak-cucu dan cicit. Pada penutup, disebut lagi ketentuan piṇḍa yang dicampur dadhi, beserta tata cara: setelah mandi, upacara dilakukan menghadap selatan (dakṣiṇāmukha). Dengan demikian ayah, kakek, dan buyut dinyatakan puas selama dua belas tahun—sebuah penegasan daya guna ritus leluhur.

7 verses

Adhyaya 80

Adhyaya 80

नन्दिकेश्वरतीर्थमाहात्म्य — Nandikeśvara Tīrtha Māhātmya

Markandeya menjelaskan kepada sang raja tentang Tirtha Nandikeśvara yang agung dan suci, terkait dengan siddha Nandī. Nandī ditampilkan sebagai teladan ziarah yang berdisiplin: menempatkan Sungai Revā di hadapan sebagai pusat bhakti, ia berpindah dari satu tirtha ke tirtha lain sambil menjalankan tapa tanpa henti. Śiva yang berkenan menawarkan anugerah, namun Nandī menolak kekayaan, keturunan, dan kenikmatan indria; ia memohon hanya bhakti yang tak tergoyahkan pada padma-caraṇa Śiva di setiap kelahiran, bahkan bila terlahir dalam wujud non-manusia. Śiva mengabulkan dan menuntun sang bhakta yang telah sempurna ke dhāma-Nya, meneguhkan kewibawaan tirtha itu. Dalam phalaśruti disebutkan: mandi suci dan pemujaan kepada Śiva bermata tiga di sana memberi pahala setara yajña Agniṣṭoma. Wafat di tirtha itu dikatakan berbuah kebersamaan dengan Śiva dan kenikmatan panjang dalam aeon yang tak binasa, lalu kelahiran kembali yang baik dalam garis keturunan murni, berpengetahuan Weda, dan berumur panjang. Penutup menegaskan kelangkaan tirtha ini serta daya pemusnah dosa yang besar.

12 verses

Adhyaya 81

Adhyaya 81

Varuṇeśvara-tīrtha Māhātmya (Glory of Varuṇeśvara Shrine and Charity)

Markandeya menasihati sang raja agar berziarah ke tirtha Varuṇeśvara yang sangat utama. Di sana dimuliakan kisah bahwa Varuṇa memperoleh siddhi setelah memuja Girijā-nātha (Śiva) melalui tapa-brata, termasuk laku kṛcchra dan cāndrāyaṇa. Bab ini menetapkan tata cara tirtha: siapa yang mandi suci di sana, mempersembahkan tarpana untuk memuaskan para pitṛ dan para dewa, serta menyembah Śaṅkara dengan bhakti, dikatakan mencapai keadaan tertinggi (paramā gati). Lalu diajarkan dana khusus: memberi bejana air—kuṇḍikā, vardhanī, atau wadah air besar—bersama pemberian makanan sangat dipuji; buahnya disamakan dengan pahala satra (kurban yajña) selama dua belas tahun. Ditegaskan pula bahwa di antara segala dana, dana makanan adalah yang paling utama dan segera menyenangkan. Mereka yang wafat di tirtha itu dengan batin yang terolah akan tinggal di kota Varuṇa hingga pralaya; sesudahnya lahir kembali sebagai manusia, menjadi dermawan makanan yang tekun, dan hidup seratus tahun.

9 verses

Adhyaya 82

Adhyaya 82

Vahnītīrtha–Kauberatīrtha Māhātmya (Glory of the Fire Tīrtha and Kubera Tīrtha)

Bab ini memuat wejangan tirtha yang disampaikan Śrī Mārkaṇḍeya kepada seorang raja. Mula-mula beliau mengarahkan ke Vahnītīrtha, tempat istimewa di tepi Narmadā, di mana Hutāśana (Agni) dikisahkan memperoleh penyucian setelah peristiwa terdahulu dalam konteks Daṇḍaka. Di sana dianjurkan mandi suci, pemujaan kepada Maheśvara, laku bhakti, serta persembahan tarpaṇa bagi para pitṛ dan para dewa; tiap ritus dihubungkan dengan buah (phala) tertentu, bahkan ada yang disetarakan dengan hasil yajña Veda agung. Selanjutnya dibahas Kauberatīrtha, terkait pencapaian Kubera sebagai penguasa para Yakṣa. Ditetapkan mandi suci, pemujaan kepada Jagadguru bersama Umā, serta dana-pemberian, terutama sedekah emas kepada seorang brāhmaṇa, dengan pernyataan pahala yang terukur. Penutupnya memuliakan “pañcaka tirtha Narmadā”, menjanjikan tujuan pascakematian yang luhur dan menegaskan kesucian abadi Revā yang tetap bertahan meski pada pralaya air lainnya menyusut.

16 verses

Adhyaya 83

Adhyaya 83

हनूमन्तेश्वरतीर्थमाहात्म्य (Hanūmanteśvara Tīrtha Māhātmya)

Chapter 83 unfolds as a theological discourse between Mārkaṇḍeya and Yudhiṣṭhira concerning a Revā-bank tīrtha called Hanūmanta/Hanūmanteśvara, described as capable of removing grave demerit (including brahmahatyā-type impurity). The chapter first frames the site’s identity: a distinguished liṅga on the southern bank of the Revā. Yudhiṣṭhira asks how the name Hanūmanteśvara arose. Mārkaṇḍeya narrates an epic backstory: after the Rāma–Rāvaṇa conflict and the destruction of rākṣasas, Hanumān is warned by Nandinī that he bears a burden of impurity from extensive killing and is directed to the Narmadā for austerity and bathing. Hanumān performs prolonged worship; Śiva appears with Umā, reassures him of purity through Narmadā māhātmya and divine दर्शन, and grants additional boons, including enumerated honorific names of Hanumān. Hanumān then establishes a liṅga—Hanūmānīśvara/Hanūmanteśvara—described as wish-granting and indestructible. A second exemplum provides “pratyakṣa-pratyaya” (a demonstrative proof) through a later narrative involving King Supārva and his son Śatabāhu, a morally wayward ruler who encounters a brāhmaṇa tasked with immersing bone-remains at Hanūmanteśvara. The brāhmaṇa recounts a princess’s previous-life memory: her body was killed in the forest; a bone fragment fell into the Narmadā at Hanūmanteśvara, resulting in a meritorious rebirth and strong ethical constraint against remarriage. The rite of collecting and immersing remaining bones is prescribed with temporal markers (Aśvina month, dark fortnight, and Śiva-related tithi), alongside night vigil and post-rite bathing. The narrative culminates in heavenly ascent imagery for those properly aligned, while also warning about greed and mental attachment that can obstruct purification. The chapter closes with ritual prescriptions: specific days (aṣṭamī, caturdaśī; especially Aśvina kṛṣṇa caturdaśī), abhiṣeka substances (honey-milk, ghee, curd with sugar, kuśa-water), sandal paste anointing, bilva and seasonal flowers, lamp offering, śrāddha with qualified brāhmaṇas, and strong emphasis on go-dāna as a superior gift. It articulates a theological rationale for the cow as “sarvadevamayī,” and ends with a phala claim: even distant remembrance of Hanūmanteśvara is said to relieve demerit.

118 verses

Adhyaya 84

Adhyaya 84

Kapitīrtha–Hanūmanteśvara–Kumbheśvara Māhātmya (कपितीर्थ–हनूमन्तेश्वर–कुम्भेश्वर माहात्म्य)

Bab 84 disampaikan oleh Resi Mārkaṇḍeya sebagai kisah kuno dalam bingkai Kailāsa, ketika tuntunan ilahi dimohon dan dianugerahkan. Setelah Rāvaṇa dibinasakan, para rākṣasa dihancurkan dan tatanan dharma dipulihkan; Hanumān mendatangi Kailāsa namun mula-mula dihalangi oleh Nandī. Hanumān menanyakan sisa cela/gelap (doṣa/tamas) akibat pembunuhan rākṣasa serta penebusannya. Śiva lalu menyebut sungai-sungai penyuci dan menunjuk sebuah tīrtha utama di tepi selatan Reva (Narmadā) dekat Somanātha; mandi suci dan tapa yang berat di sana melenyapkan kegelapan itu. Śiva memeluk Hanumān, menganugerahkan anugerah, menetapkan tempat itu sebagai Kapitīrtha, serta menegakkan liṅga bernama Hanūmanteśvara. Dinyatakan kemujarabannya untuk penghapusan dosa, pelaksanaan ritus leluhur, dan pelipatgandaan buah derma. Selanjutnya dikisahkan tapa Rāma di tepi Reva (terutama selama 24 tahun), penegakan liṅga oleh Rāma dan Lakṣmaṇa, serta kemunculan Kumbheśvara (Kalākumbha) melalui motif air-kumbha ketika para resi menghimpun air dari berbagai tīrtha. Bagian phalāśruti merinci pahala: Reva-snāna, darśana liṅga (dengan isyarat “tiga-liṅga” yang dipandang), hasil śrāddha yang mengangkat leluhur untuk masa panjang, serta anjuran dāna—khususnya go-dāna dan persembahan bernilai—yang buahnya dikatakan abadi. Bab ini ditutup dengan seruan berziarah secara tertib ke Kumbheśvara dan liṅga-liṅga terkait di sekitar Jyotiṣmatīpurī, menegaskan tīrtha ini sebagai simpul ziarah penting dalam peta suci Revākhaṇḍa.

51 verses

Adhyaya 85

Adhyaya 85

सोमनाथतीर्थमाहात्म्य (Somānātha Tīrtha Māhātmya at Revā-saṅgama)

Bab ini berbentuk dialog: Yudhiṣṭhira bertanya kepada Mārkaṇḍeya tentang sebuah tīrtha di pertemuan Revā (Narmadā) yang dikatakan setara dengan Vārāṇasī dalam pahala dan mampu melenyapkan dosa brahmahatyā. Mārkaṇḍeya menuturkan silsilah kosmogonis hingga Dakṣa dan dewa bulan Soma; karena kutukan Dakṣa, Soma merosot, lalu memohon kepada Brahmā. Brahmā mengarahkan Soma untuk mencari simpul-simpul suci Revā yang langka, terutama sangama, guna bertapa dan bersembahyang. Soma kemudian berbakti lama kepada Śiva; Śiva menampakkan diri dan meneguhkan pendirian liṅga yang sangat berdaya, pemusnah duka dan dosa besar. Sebagai teladan, diceritakan Raja Kaṇva yang tersangkut brahmahatyā karena membunuh seorang brāhmaṇa berwujud rusa; ia tiba di sangama Revā, mandi suci, memuja Somanātha, dan berjumpa brahmahatyā yang dipersonifikasikan sebagai gadis berpakaian merah. Berkat prabhāva tīrtha, ia terbebas dari penderitaan itu. Selanjutnya dipaparkan tata laku vrata: berpuasa pada tithi bulan tertentu, berjaga malam, abhiṣeka pañcāmṛta, persembahan, pelita, musik, memuliakan brāhmaṇa yang layak, serta disiplin etika. Phalaśruti menegaskan bahwa pradakṣiṇā, mendengar kisah, dan praktik yang tertib di tīrtha Somanātha menyucikan dosa-dosa besar serta menganugerahkan kesehatan, kemakmuran, dan alam luhur; juga disebutkan Soma menegakkan beberapa liṅga di berbagai tempat, mengaitkan ziarah setempat dengan jejaring Śaiva yang lebih luas.

99 verses

Adhyaya 86

Adhyaya 86

Piṅgaleśvara-pratiṣṭhā at Piṅgalāvarta (Agni’s Cure at Revā)

Dalam adhyāya ini, Yudhiṣṭhira bertanya kepada Mārkaṇḍeya tentang asal-usul Piṅgaleśvara di Piṅgalāvarta, dekat pertemuan sungai di tepi utara Revā. Mārkaṇḍeya menuturkan bahwa Havyavāhana (Agni) tersiksa—terbakar oleh daya benih Rudra—hingga jatuh sakit. Karena itu ia menempuh perjalanan ziarah, tiba di tepi Revā, lalu bertapa dengan sangat keras dalam waktu lama, termasuk menjalani laku hidup dengan “makanan angin” (menahan diri sepenuhnya). Śiva berkenan dan menawarkan anugerah; Agni memohon kesembuhan. Śiva menetapkan agar Agni mandi suci di tīrtha itu; seketika setelah mandi, Agni pulih dan kembali ke wujud ilahinya. Sebagai ungkapan syukur, Agni menegakkan (pratiṣṭhā) dewa itu sebagai Piṅgaleśvara, memuja dengan penyebutan nama serta melantunkan himne. Penutupnya berupa ajaran pahala: siapa berpuasa di sana dengan amarah yang telah ditaklukkan memperoleh hasil luar biasa hingga mencapai keadaan laksana Rudra. Juga dipuji sedekah seekor sapi kapilā yang dihias, beserta anaknya, kepada brāhmaṇa yang layak sebagai jalan menuju tujuan tertinggi.

16 verses

Adhyaya 87

Adhyaya 87

ऋणमोचनतीर्थमाहात्म्य (R̥ṇamocana Tīrtha Māhātmya) — The Glory of the Debt-Removing Pilgrimage Site

Mārkaṇḍeya menasihati sang raja agar menuju tīrtha yang amat suci di tepi Revā (Narmadā) bernama R̥ṇamocana. Tempat suci ini dikisahkan telah ditegakkan oleh perhimpunan para resi dari garis brahma, sehingga kewibawaan dan keabsahan ritusnya ditegaskan. Ajaran utamanya ialah pelepasan dari ‘utang’ (ṛṇa) melalui laku bhakti: siapa yang selama enam bulan melaksanakan pitṛ-tarpaṇa dengan penuh bakti, lalu mandi di air Narmadā, ia dibebaskan terutama dari kewajiban kepada para dewa, leluhur, dan sesama manusia. Dinyatakan pula bahwa buah perbuatan—termasuk akibat dosa—menjadi tampak di sana laksana buah yang nyata, meneguhkan hukum sebab-akibat moral. Tata laku yang dianjurkan: keteguhan satu tujuan, pengendalian indria, mandi suci, sedekah, serta pemujaan kepada Girijā-pati (Śiva). Buahnya ialah terbebas dari tiga utang (ṛṇa-traya) dan memperoleh keadaan bercahaya laksana dewa di surga.

6 verses

Adhyaya 88

Adhyaya 88

Kapila-Tīrtha and Kapileśvara Pūjā (कापिलतीर्थ–कपिलेश्वरपूजा)

Bab 88 memaparkan tata cara pemujaan dan buah (phala) berziarah di Kāpilatīrtha, yang dikatakan didirikan oleh Kapila dan berdaya menghapus segala dosa (sarvapātakanāśana). Mārkaṇḍeya menasihati sang raja agar pada tanggal-tanggal tertentu—terutama aṣṭamī dan caturdaśī pada paruh terang bulan—melakukan mandi suci lalu melayani dewa; lakukan abhiṣeka kepada Kapileśvara dengan susu dan ghee dari sapi kapilā, oleskan pasta cendana śrīkhaṇḍa, dan sembahyangkan bunga putih harum, sambil menahan amarah (jitakrodha). Dalam phalaśruti disebutkan bahwa para bhakta Kapileśvara terhindar dari wilayah hukuman yang dikaitkan dengan Yama; gambaran siksaan yang menakutkan tidak dialami oleh orang bijak karena pemujaan ini. Selanjutnya etika ziarah dipadukan dengan kewajiban sosial: setelah mandi di air suci Revā, hendaknya memberi jamuan kepada brāhmaṇa yang baik dan melakukan dāna—sapi, kain, wijen, payung, dan tempat tidur—sehingga raja menjadi dhārmika. Manfaat penutupnya meliputi tejas/semangat, keturunan yang mantap (memiliki putra yang hidup), tutur kata yang menyenangkan, serta ketiadaan faksi musuh.

8 verses

Adhyaya 89

Adhyaya 89

पूतिकेश्वरमाहात्म्य (Glory of Pūtikēśvara)

Bab ini memuat tīrtha-māhātmya singkat: Mārkaṇḍeya menasihati seorang raja agar berziarah ke Pūtikēśvara, śrī-kṣetra utama di tepi selatan Sungai Narmadā, yang diyakini manjur untuk mengikis segala pāpa. Kewibawaan tempat suci ini diteguhkan lewat kisah asal-usul: Jāmbavān menegakkan liṅga Śiva di sana demi kesejahteraan semua makhluk (lokānāṃ hitārthinā). Dihubungkan pula episode etiologis tentang Raja Prasenajit dan sebuah permata yang terkait dengan dadanya; ketika permata itu direnggut atau dibuang, timbullah luka. Di tīrtha inilah, melalui tapas, ia memperoleh kesembuhan hingga menjadi ‘nirvraṇa’—tanpa luka. Selanjutnya ajaran bersifat preskriptif: para bhakta yang mandi suci dengan bhakti dan memuja Parameśvara akan meraih tujuan yang diinginkan. Ditekankan pula bhakti menurut penanggalan, terutama pada Kṛṣṇāṣṭamī dan Caturdaśī; mereka yang tekun bersembahyang tidak menuju kediaman Yama—sebuah jaminan phalaśruti dalam bingkai sebab-akibat moral Purāṇa.

6 verses

Adhyaya 90

Adhyaya 90

चक्रतीर्थ-माहात्म्य (Cakratīrtha Māhātmya) and जलशायी-तीर्थ (Jalśāyī Tīrtha) on the Revā/Narmadā

Dalam adhyaya ini, Mārkaṇḍeya menjawab pertanyaan Yudhiṣṭhira tentang asal-usul Cakratīrtha, keagungan kuasa Viṣṇu, serta buah kebajikan yang terkait dengan Revā/Narmadā. Dikisahkan daitya perkasa bernama Tālamēgha menundukkan para dewa; mereka mula-mula berlindung kepada Brahmā, lalu memuji Viṣṇu yang bersemayam di samudra susu sebagai Jalśāyī. Viṣṇu berjanji memulihkan tatanan kosmis, berangkat menaiki Garuḍa, bertempur dengan saling menangkis senjata, dan pada puncaknya melepaskan Sudarśana cakra untuk menewaskan sang daitya. Sesudah kemenangan, cakra itu jatuh ke perairan Revā dekat tīrtha Jalśāyī dan disebut menjadi “tersucikan”; dari peristiwa inilah nama serta kemujaraban Cakratīrtha ditegakkan. Bagian berikut memberi tuntunan laku: waktu utama seperti Mārgaśīrṣa, terutama Ekādaśī paruh terang, menahan diri dengan bhakti, mandi suci dan darśana, berjaga malam, pradakṣiṇā, persembahan, serta śrāddha bersama brāhmaṇa yang layak. Diuraikan pula tata-dana tiladhenu (sapi-wijen), etika pemberi, dan janji keselamatan pascakematian melampaui alam-alam menakutkan; ditutup dengan phalaśruti bahwa mendengar dan melantunkan kisah ini menyucikan serta menambah pahala.

116 verses

Adhyaya 91

Adhyaya 91

चण्डादित्य-तीर्थ-माहात्म्य (Glory of the Caṇḍāditya Tīrtha)

Markandeya menuturkan kepada sang raja kemuliaan Tirtha Caṇḍāditya yang amat menyucikan, terkait dengan wujud Surya (Bhāskara) yang dipasang dan dipuja. Di tepi suci Sungai Narmadā, para daitya ganas Caṇḍa dan Muṇḍa menjalani tapa panjang sambil bermeditasi pada Surya, penghalau kegelapan di tiga dunia. Sahasrāṃśu, Sang Surya bersinar seribu sinar, berkenan memberi anugerah; mereka memohon tak terkalahkan terhadap semua dewa serta bebas penyakit setiap waktu. Surya mengabulkan, lalu menjadi terkait dengan tempat itu melalui sthāpanā (penetapan/instalasi) penuh bhakti. Kemudian dijelaskan tata cara ziarah dan buahnya: pencari hendaknya datang demi ātma-siddhi, melakukan tarpaṇa bagi para dewa, manusia, dan leluhur, serta mempersembahkan pelita ghee—terutama pada tithi keenam (ṣaṣṭhī). Mendengar kisah asal-usul Caṇḍabhānu (Caṇḍāditya) menjanjikan lenyapnya dosa, tercapainya kota/alam Surya, serta kemenangan yang langgeng dan kebebasan dari penyakit.

10 verses

Adhyaya 92

Adhyaya 92

Yamahāsya-tīrtha Māhātmya (यमहास्यतीर्थमाहात्म्य) — Theological Discourse on the ‘Yamahāsya’ Shrine on the Narmadā

Adhyaya ini berbentuk dialog. Yudhiṣṭhira memohon kepada Mārkaṇḍeya agar menjelaskan asal-usul tīrtha di tepi Narmadā yang bernama Yamahāsya (“tawa Yama”). Mārkaṇḍeya menuturkan bahwa Yama, Dharmarāja, datang lebih dahulu untuk mandi di Revā; ia menyaksikan daya penyucian dari satu kali celupan saja, lalu merenung: orang yang terbebani dosa tetap sampai ke alamnya, sedangkan mandi di Revā dipuji sebagai pemberi keadaan yang mujur, bahkan menuju kedudukan Vaiṣṇava. Ia tertawa kepada mereka yang mampu namun tidak memandang sungai suci, lalu menegakkan dewa di sana bernama Yamahāseśvara dan berangkat. Selanjutnya ditetapkan laku-ibadah: pada bulan Aśvina, hari caturdaśī paruh gelap, hendaknya berpuasa dengan bhakti, berjaga semalam, dan membangunkan dewa dengan pelita ghee; ini dinyatakan menghapus beragam cela. Diberikan pula pedoman etika berlandas dāna: pada amāvāsyā, dengan amarah terkendali (jita-krodha) hormatilah brāhmaṇa dan berikan sedekah yang ditentukan—emas/tanah/wijen, kulit kijang hitam, “sapi-wijen”, serta terutama persembahan “sapi-kerbau” dengan tata-ritual yang rinci. Daftar siksaan menakutkan di alam Yama disebutkan, namun ditafsirkan menjadi luluh oleh kemuliaan tīrtha dan daya dāna. Penutupnya menyatakan: bahkan mendengar kisah ini saja membebaskan dari cela dan mencegah penglihatan atas kediaman Yama.

30 verses

Adhyaya 93

Adhyaya 93

कल्होडीतीर्थमाहात्म्य (Kalhoḍī Tīrtha Māhātmya)

Bab ini memuat tuntunan Mārkaṇḍeya kepada Yudhiṣṭhira tentang Kalhoḍī-tīrtha, tempat ziarah agung di tepi Revā (Narmadā). Tīrtha ini termasyhur di Bhārata sebagai penghapus dosa dan penyuci laksana Gaṅgā; letaknya di Revā-taṭa dan dikatakan sukar dijangkau manusia biasa, menegaskan kesuciannya yang istimewa. Kewibawaannya ditegakkan melalui ajaran bahwa “inilah tīrtha suci,” sebagai sabda Śūlin (Śiva); juga disebutkan kisah asal-usul bahwa Jāhnavī (Gaṅgā) datang mandi di sana dalam wujud hewan, menjadi sebab kemasyhurannya. Ditetapkan laku tiga malam pada saat purnama, disertai disiplin meninggalkan cela batin: rajas, tamas, amarah, kemunafikan/kemegahan, dan iri hati. Tata bhakti meliputi memandikan Dewa tiga kali sehari selama tiga hari dengan susu sapi yang memiliki anak, dicampur madu dalam bejana tembaga, sambil melafalkan mantra Śaiva “oṃ namaḥ śivāya.” Buahnya dijanjikan berupa pencapaian surga dan pergaulan dengan wanita-wanita ilahi; dan bagi yang mandi dengan benar serta memberi derma atas nama yang wafat, para leluhur memperoleh kepuasan. Dāna khusus yang ditekankan ialah menghadiahkan sapi putih beserta anaknya, dihias kain dan diletakkan bersama emas, kepada brāhmaṇa yang suci dan setia pada dharma rumah tangga—yang mengantarkan ke Śāmbhava-loka.

11 verses

Adhyaya 94

Adhyaya 94

नन्दितीर्थ-माहात्म्य (Nanditīrtha Māhātmya)

Bab ini, yang disampaikan oleh Śrī Mārkaṇḍeya kepada Yudhiṣṭhira, menetapkan urutan ziarah ke Nanditīrtha di tepi Sungai Narmadā. Tīrtha ini dipuji sebagai sangat suci, membawa keberuntungan, dan melenyapkan segala dosa; kemuliaannya dikaitkan dengan pembangunan terdahulu oleh Nandin, seorang pengiring Śiva. Diajarkan pula agar peziarah bermalam satu hari satu malam (ahorātra-uṣita) di Nandinātha, karena tinggal dalam batas waktu tertentu memperkuat daya laku ritual. Tata bhakti dirinci melalui pañcopacāra-pūjā kepada Nandikeśvara, sehingga pemujaan di tīrtha mengikuti kaidah pemujaan yang baku. Bab ini juga menganjurkan dāna—khususnya menghadiahkan permata kepada para brāhmaṇa—sebagai pengikat ziarah dengan kebajikan dan pemerataan dharma. Buahnya digambarkan luhur: mencapai kediaman tertinggi tempat Pinākin (Śiva) bersemayam, memperoleh kesejahteraan menyeluruh, serta menikmati kenikmatan surgawi bersama para apsarā, memadukan bahasa ganjaran mokṣa dan surga khas Purāṇa.

5 verses

Adhyaya 95

Adhyaya 95

Badrikāśrama–Narmadā-tīra: Śiva-liṅga-sthāpana, Vrata, and Śrāddha-Vidhi (Chapter 95)

Mārkaṇḍeya menasihati sang raja agar pergi ke tīrtha Badrikāśrama yang utama, dahulu dipuji oleh Śambhu. Tempat ini dikaitkan dengan Nara–Nārāyaṇa; seseorang yang berbhakti kepada Janārdana dan memandang kesamaan pada semua makhluk—melampaui batas tinggi-rendah—dinyatakan berkenan di hadapan Yang Ilahi. Nara–Nārāyaṇa mendirikan āśrama di sana, dan demi kesejahteraan dunia Śaṅkara dipratishṭhākan; sebuah liṅga yang terkait Tri-mūrti disebut memberi jalan ke surga dan pembebasan. Disampaikan tata laku: menjaga kesucian, berpuasa satu malam, meninggalkan rajas dan tamas demi sikap sāttvika, serta berjaga pada malam tithi tertentu—termasuk aṣṭamī di Madhu-māsa dan caturdaśī pada salah satu paruh bulan, dengan penekanan pada Aśvin. Abhiṣeka kepada Śiva dijelaskan dengan pañcāmṛta: susu, madu, dadih, gula, dan ghee. Buahnya: kedekatan dengan Śiva dan hasil di alam Indra; bahkan salam yang belum sempurna kepada Śūlapāṇi melonggarkan belenggu, sedangkan japa “namaḥ śivāya” yang tekun meneguhkan pahala. Bab ini juga menguraikan śrāddha dengan air Narmadā: penerima hendaknya brāhmaṇa yang layak, sementara pelaku yang tidak etis atau tidak pantas harus dihindari. Dianjurkan dana seperti emas, makanan, kain, sapi, banteng, tanah, payung, dan persembahan yang sesuai, dengan ganjaran mencapai surga. Kematian di atau dekat tīrtha—termasuk di air—disebut membawa ke kediaman Śiva, tinggal lama di alam ilahi, lalu terlahir kembali sebagai penguasa cakap yang mengingat tīrtha itu dan datang lagi.

28 verses

Adhyaya 96

Adhyaya 96

Koṭīśvara-tīrtha Māhātmya (कोटीश्वरतीर्थमाहात्म्य) — Theological Account of the Koṭīśvara Pilgrimage Site

Markandeya menasihati sang raja agar pergi ke tīrtha tertinggi bernama Koṭīśvara. Keagungan tempat ini diteguhkan dengan kisah bahwa ‘sekoṭi ṛṣi’ pernah berkumpul di sana, menjadikannya tumpuan wibawa rohani. Selanjutnya disebutkan para ṛṣi utama, setelah bermusyawarah dengan para dvija terpelajar pelantun mantra-mantra Weda yang suci, menegakkan Śaṅkara dalam wujud liṅga demi kesejahteraan dan perlindungan dunia; tempat ini dipuji sebagai pelepas belenggu, pemutus saṃsāra, dan pereda duka makhluk hidup. Ditekankan laku suci mandi (snāna) dengan bhakti pada hari purnama, terutama Śrāvaṇa Pūrṇimā. Lalu dihubungkan dengan upacara leluhur: setelah tarpaṇa dan piṇḍadāna yang dilakukan dengan benar, para pitṛ memperoleh kepuasan yang tak habis hingga masa pralaya. Bab ini ditutup dengan menyebut tepi Sungai Revā sebagai lokasi ‘rahasia’ dan tertinggi bagi leluhur, dibangun para ṛṣi, serta menganugerahkan mokṣa bagi semua makhluk.

7 verses

Adhyaya 97

Adhyaya 97

Vyāsatīrtha-prādurbhāvaḥ — Origin and Merit of Vyāsa Tīrtha (व्यासतीर्थप्रादुर्भावः)

Bab ini menampilkan dialog ajaran: Mārkaṇḍeya menjelaskan kepada Yudhiṣṭhira kemuliaan Vyāsa Tīrtha yang sangat langka dan penuh pahala. Tīrtha ini disebut “berada di angkasa” (antarikṣe), dijelaskan sebagai akibat daya adikodrati Revā/Narmadā. Lalu disampaikan kisah asal-usul: tapa Parāśara, perjumpaan dengan gadis penyeberang yang ternyata putri bangsawan (Satyavatī/Yojaṇagandhā), benih yang dikirim melalui burung nuri pembawa surat, kematian burung itu, benih masuk ke ikan, dan kemunculan sang gadis—hingga kelahiran Mahārṣi Vyāsa. Selanjutnya diceritakan perjalanan suci Vyāsa dan tapanya di tepi Narmadā. Śiva menampakkan diri karena pemujaan, dan Narmadā pun berkenan atas stotra Vyāsa. Timbul persoalan dharma-ritual: para resi ingin menerima jamuan tanpa melanggar kaul dengan menyeberang ke tepi selatan; Vyāsa memohon kepada Narmadā, semula ditolak, Vyāsa pingsan, para dewa cemas, lalu Narmadā akhirnya menyetujui. Sesudah itu dilakukan snāna, tarpaṇa, homa, dan terjadi manifestasi liṅga yang meneguhkan nama tīrtha. Bagian akhir memuat tuntunan upacara berbuah besar—terutama pada Kārttika śukla caturdaśī dan pūrṇimā—bahan abhiṣeka liṅga, persembahan bunga, pilihan japa mantra, kriteria brāhmaṇa penerima yang layak, serta jenis-jenis dāna. Phalāśruti menegaskan perlindungan dari alam Yama, hasil bertingkat sesuai persembahan, dan pencapaian akhirat yang mulia berkat daya Vyāsa Tīrtha.

185 verses

Adhyaya 98

Adhyaya 98

प्रभासेश्वर-माहात्म्य (Prabhāseśvara Māhātmya) — The Glory of the Prabhāseśvara Tīrtha

Bab ini berbentuk tanya-jawab teologis: Mārkaṇḍeya menasihati Yudhiṣṭhira agar berziarah ke Tīrtha Prabhāseśvara yang termasyhur di tiga dunia, disebut “svarga-sopāna” (tangga menuju surga). Yudhiṣṭhira memohon ringkasan asal-usul dan buah kebajikannya. Kisah menuturkan Prabhā, istri Ravi (Dewa Surya), yang merasa tertimpa nasib malang; ia bertapa amat keras—hidup hanya dari udara dan tenggelam dalam meditasi selama setahun—hingga Śiva berkenan menganugerahkan anugerah. Prabhā menyatakan ajaran etika bahwa bagi seorang perempuan, suami adalah “dewa”-nya tanpa memandang sifat baik-buruk, lalu mengadukan dukanya. Śiva menjanjikan pemulihan kasih suami melalui rahmat-Nya; Umā mempertanyakan bagaimana hal itu terlaksana, dan Bhānu (Surya) pun datang ke tepi utara Sungai Narmadā. Śiva memerintahkan Surya melindungi serta menyenangkan Prabhā; Umā memohon agar Prabhā dijadikan utama di antara para istri, dan Surya menyetujuinya. Prabhā meminta agar sebagian (aṃśa) Surya tetap hadir di tempat itu untuk “membuka” tīrtha; sebuah liṅga yang “mewujudkan semua dewa” ditegakkan dan dikenal sebagai Prabhāseśa. Selanjutnya dipaparkan tata-etik ziarah: Prabhāseśvara memberi hasil yang segera, terutama pada Māgha śukla saptamī. Disebutkan laku ritual yang benar di bawah bimbingan brahmana, termasuk keterkaitan dengan kuda, mandi suci penuh bhakti, serta pemberian dana kepada para dvija; ada pula pola-pola dāna, khususnya go-dāna dengan ciri-ciri tertentu. Phalaśruti menegaskan bahwa mandi suci, dan terutama kanya-dāna di tīrtha ini, meluruhkan pelanggaran berat; peziarah meraih alam Surya dan Rudra serta pahala setara yajña agung. Kemuliaan go-dāna dipuji sebagai abadi, dengan penekanan khusus pada caturdaśī.

35 verses

Adhyaya 99

Adhyaya 99

Nāgeśvara-liṅga at the Southern Bank of Revā (Vāsuki’s Atonement and Tīrtha Procedure) / रेवायाः दक्षिणतटे नागेश्वरलिङ्गमाहात्म्यम्

Adhyaya ini disusun sebagai uraian tanya-jawab. Yudhiṣṭhira bertanya mengapa Vāsuki ditegakkan di tepi selatan Revā (Narmadā). Mārkaṇḍeya menjelaskan sebab mitisnya: saat tarian Śambhu, dari mahkota Śiva muncul keringat bercampur air Gaṅgā; seekor ular meminumnya sehingga Maṇḍākinī murka dan akibat seperti kutuk membuatnya jatuh ke ajagara-bhāva (keadaan rendah/terbelenggu). Vāsuki memohon dengan kata-kata peniten, memuji daya penyuci sungai dan meminta belas kasih. Gaṅgā menetapkan agar ia bertapa kepada Śaṅkara di Vindhya. Setelah tapa yang panjang, Śiva berkenan memberi anugerah dan memerintahkan Vāsuki mandi dengan tata cara yang benar di tepi selatan Revā. Vāsuki masuk ke Narmadā dan menjadi suci; lalu digambarkan penegakan Nāgeśvara-liṅga, termasyhur sebagai penghapus dosa. Selanjutnya dipaparkan petunjuk ritual dan phalaśruti: pada Aṣṭamī atau Caturdaśī, lakukan abhiṣeka Śiva dengan madu; mereka yang belum beranak mandi di saṅgama memperoleh keturunan yang baik; śrāddha disertai puasa menenteramkan para leluhur; dan garis keturunan dilindungi dari takut ular melalui nāga-prasāda.

22 verses

Adhyaya 100

Adhyaya 100

Mārkaṇḍeśa Tīrtha Māhātmya (मार्कण्डेशतीर्थमाहात्म्य) — Summary of Merits and Ritual Observances

Bab ini memuat ajaran Resi Mārkaṇḍeya kepada seorang raja yang disapa “mahīpāla” dan “Pāṇḍunandana”, agar berziarah ke tīrtha yang sangat dipuji bernama Mārkaṇḍeśa di tepi selatan Sungai Narmadā. Tempat itu digambarkan amat suci, dihormati bahkan oleh para dewa, serta menjadi pusat pemujaan Śaiva yang bersifat rahasia. Mārkaṇḍeya juga menyampaikan kesaksian: dahulu ia menegakkan pratishtha suci di sana, dan melalui anugerah Śaṅkara timbul dalam dirinya pengetahuan yang membebaskan. Dijelaskan pula tata laku dan buahnya: melakukan japa saat memasuki air tīrtha melenyapkan timbunan dosa; pelanggaran yang lahir dari pikiran, ucapan, dan perbuatan termasuk dalam penyucian. Ada ketentuan arah dan sikap tubuh—berdiri menghadap selatan sambil memegang piṇḍikā—lalu memuja Śūlin (Śiva) dalam berbagai wujud dengan bhakti-yoga yang terpusat; setelah wafat, pemuja mencapai Śiva. Pada malam hari tithi kedelapan, menyalakan pelita dengan ghee disebut membawa pencapaian alam surga. Melaksanakan śrāddha di tempat itu menenteramkan para leluhur hingga masa pralaya. Terakhir, tarpaṇa dengan persembahan sederhana—iṅguda, badara, bilva, akṣata, atau air—dinyatakan memberi “buah kelahiran” bagi garis keturunan, merangkum etika-ritual yang terikat pada lokasi tepi sungai tersebut.

10 verses

Adhyaya 101

Adhyaya 101

Saṅkarṣaṇa-Tīrtha Māhātmya (संकर्षणतीर्थमाहात्म्य) — The Glory of Saṅkarṣaṇa Tīrtha

Bab 101, disampaikan oleh Mārkaṇḍeya kepada seorang raja, mengarahkan pendengar menuju sebuah tīrtha yang amat suci di tepi utara Sungai Narmadā, tepat di bagian tengah kawasan yajnawāṭa (pelataran kurban). Tempat itu bernama Saṅkarṣaṇa dan dipuji sebagai pemusnah dosa. Kesuciannya dikaitkan dengan tapa yang dahulu dijalankan Balabhadra di sana, serta kedekatan ilahi yang terus hadir: Śambhu bersama Umā, Keśava, dan para dewa dikatakan bersemayam di tempat itu. Demi kesejahteraan semua makhluk, Balabhadra dengan bhakti tertinggi menegakkan Śaṅkara di sana dan menetapkan tempat itu sebagai pusat upacara. Diajarkan pula tata laku: seorang bhakta yang menaklukkan amarah dan indria, setelah mandi suci di sana, hendaknya pada Ekādaśī paruh terang melakukan pemujaan kepada Śiva dengan memandikan-Nya dengan madu. Di tīrtha itu juga diperkenankan mempersembahkan śrāddha bagi leluhur; buahnya adalah pencapaian keadaan tertinggi, sebagaimana dinyatakan Balabhadra.

7 verses

Adhyaya 102

Adhyaya 102

मन्मथेश्वर-तीर्थमाहात्म्य (Glory of the Manmatheśvara Tīrtha)

Adhyāya ini memuat wejangan Mārkaṇḍeya kepada seorang pendengar raja tentang tata cara ziarah dan logika pahala saat mengunjungi Manmatheśvara, sebuah tīrtha Śaiva yang dipuji dan dihormati para dewa. Disebutkan tingkatan laku: mandi suci saja sudah menjadi pelindung rohani; mandi disertai kemurnian batin dan puasa semalam memberi pahala besar; tapa‑brata tiga malam menghasilkan buah yang kian meningkat. Pada malam hari dianjurkan berjaga di hadapan Dewa, mempersembahkan nyanyian, alat musik, dan tarian sebagai bhakti yang menyenangkan Parameśvara. Manmatheśvara digambarkan sebagai “tangga” menuju surga, sehingga kāma (hasrat) diarahkan ke saluran bhakti yang disucikan. Ritus tambahan juga diajarkan: śrāddha dan dāna pada waktu senja, dengan annadāna (sedekah makanan) sebagai yang paling dipuji. Ada pula ketentuan kalender: go‑dāna pada trayodaśī paruh terang bulan Caitra, serta persembahan lampu ghee saat berjaga malam. Penutupnya menegaskan pahala yang sama bagi perempuan maupun laki‑laki.

13 verses

Adhyaya 103

Adhyaya 103

एरण्डीसङ्गममाहात्म्य — The Māhātmya of the Eraṇḍī–Reva Confluence

Bab 103 disusun sebagai dialog berlapis. Mārkaṇḍeya mengarahkan seorang raja menuju pertemuan sungai Eraṇḍī–Reva, sambil mengingatkan bahwa rahasia ini dahulu diungkapkan Śiva kepada Pārvatī sebagai “lebih rahasia daripada rahasia.” Śiva menuturkan ketiadaan keturunan pada Atri dan Anasūyā, serta nilai dharmis keturunan sebagai penopang kewajiban garis keluarga dan kesejahteraan setelah wafat. Anasūyā menjalani tapa panjang di sangam pada tepi utara Reva: disiplin musiman (pañcāgni saat panas, cāndrāyaṇa saat hujan, tinggal di air saat dingin), dan laku harian berupa mandi suci, sandhyā, tarpaṇa bagi dewa-ṛṣi, homa, serta pemujaan. Brahmā, Viṣṇu, dan Rudra lalu hadir menyamar sebagai dvija, mengungkap jati diri serta kaitan kosmis-musiman mereka—hujan/benih, dingin/pemeliharaan, panas/pengeringan—dan menganugerahkan anugerah, meneguhkan kesucian abadi serta daya pengabul harapan dari tīrtha itu. Selanjutnya ditetapkan tata laku di sangam, terutama pada bulan Caitra: mandi suci, berjaga malam, memberi makan dvija, piṇḍadāna, pradakṣiṇā, dan berbagai dāna, dengan pahala yang berlipat. Kisah teladan kedua menyebut seorang perumah tangga bernama Govinda yang tanpa sengaja menyebabkan kematian seorang anak saat mengumpulkan kayu; kemudian ia mengalami derita jasmani yang dipahami sebagai buah karma. Ia terbebas melalui mandi di sangam beserta pemujaan dan dāna—sebagai ajaran etis tentang disiplin ziarah yang memulihkan. Bab ditutup dengan janji pahala bagi yang mendengar atau melantunkan kisah ini, juga bagi pola tinggal/puasa di tempat itu, bahkan bagi sentuhan tak sengaja dengan lingkungan sangam (air dan tanah).

210 verses

Adhyaya 104

Adhyaya 104

सौवर्णशिला-तीर्थमाहात्म्य (Glory of the Sauvarṇaśilā Tīrtha)

Markandeya menasihati seorang raja agar pergi ke tirtha utama bernama Sauvarṇaśilā, termasyhur di tepi utara Sungai Revā dekat pertemuan (saṅgama). Tempat ini dipuji sebagai penghapus segala dosa, dahulu ditegakkan melalui tata-ritus oleh kelompok para resi, sukar diperoleh (durlabha), dan meski wilayahnya ringkas tetap merupakan ladang pahala yang sangat kuat. Tata laksana ibadah disampaikan berurutan: mandi suci di Sauvarṇaśilā; memuja Maheśvara; bersujud kepada Bhāskara (Dewa Surya); lalu mempersembahkan ke dalam api suci bilva yang dicampur ghee, atau daun bilva. Disertakan doa singkat memohon agar Tuhan berkenan dan penyakit dihentikan. Kemudian dibahas dāna: menghadiahkan emas kepada brahmana yang layak disamakan dengan buah terbaik dari pemberian emas yang luas dan yajña agung. Buahnya ialah naik ke surga setelah wafat, bergaul lama dalam kedekatan Rudra, lalu turun kembali dan terlahir baik dalam garis keturunan yang murni serta makmur, dengan ingatan yang terus hidup akan air suci tirtha itu.

9 verses

Adhyaya 105

Adhyaya 105

करञ्जातीर्थगमनफलम् | The Merit of Going to the Karañjā Tīrtha

Bab ini memuat ajaran ringkas dari resi Mārkaṇḍeya kepada seorang raja (rājendra) tentang tata cara pergi ke Tīrtha Karañjā dan buahnya. Seorang pencari hendaknya berangkat ke Karañjā sambil menjalankan upavāsa (puasa) dan pengendalian indria; dengan mandi suci di sana ia dinyatakan terbebas dari segala pāpa (dosa). Sesudah itu ditetapkan urutan bhakti: memuja Mahādeva dan memberi dāna dengan penuh devosi. Disebutkan jenis-jenis dāna bertingkat—emas, perak, permata/mutiara/karang—serta barang berguna seperti alas kaki, payung, tempat tidur, dan penutup. Pahalanya dipuji berlipat ‘koṭi-koṭi guṇa’, menyatukan ziarah disiplin, pemujaan Śaiva, dan kedermawanan sebagai jalan keselamatan.

4 verses

Adhyaya 106

Adhyaya 106

Mahīpāla Tīrtha Māhātmya (Auspiciousness Rite to Umā–Rudra) | महीपालतीर्थमाहात्म्य (उमारुद्र-सौभाग्यविधिः)

Bab ini memuat wejangan Mārkaṇḍeya kepada seorang raja tentang kemuliaan Mahīpāla Tīrtha serta tata-laksana ziarah dan pemujaannya. Tīrtha di tepi Sungai Narmadā ini digambarkan amat indah dan sangat membawa saubhāgya (keberuntungan suci), bermanfaat bagi perempuan maupun laki-laki, terutama mereka yang diliputi kemalangan. Ditetapkan pemujaan khusus kepada Umā dan Rudra: hidup berdisiplin dengan pengendalian indria, berpuasa pada tithi ketiga (tṛtīyā), serta mengundang dengan bhakti sepasang brāhmaṇa yang patut. Rangkaian upacara menekankan penghormatan tamu: wewangian, rangkaian bunga, busana harum, jamuan pāyasa dan kṛsara, lalu pradakṣiṇā dan pengucapan doa bhakti memohon Mahādeva beserta permaisurinya berkenan serta dianugerahi keadaan tanpa perpisahan. Diuraikan pula perbedaan hasil: kelalaian membawa kemalangan panjang—kemiskinan, duka, bahkan kemandulan lintas kelahiran—sedangkan pelaksanaan yang benar, terutama pada tṛtīyā di paruh terang bulan Jyeṣṭha, melenyapkan dosa dan melipatgandakan pahala melalui dāna. Ada pula ikonografi ritual: memuliakan brāhmaṇī dan brāhmaṇa sebagai perwujudan Gaurī dan Śiva, mengoleskan sindūra dan kuṅkuma, serta menghadiahkan perhiasan, biji-bijian, makanan, dan sedekah lainnya. Phalaśruti menutup dengan janji pahala duniawi dan rohani: kebajikan berlipat, kenikmatan luhur selaras dengan Śaṅkara, saubhāgya melimpah, anak bagi yang tanpa keturunan, kekayaan bagi yang miskin, dan penegasan Mahīpāla Tīrtha di Narmadā sebagai tempat pemenuh harapan.

20 verses

Adhyaya 107

Adhyaya 107

भण्डारीतीर्थमाहात्म्य (Bhaṇḍārī Tīrtha Māhātmya: The Glory of Bhaṇḍārī Pilgrimage Site)

Bab ini memuat ajaran singkat tentang tirtha dalam Revakhaṇḍa, disampaikan oleh Śrī Mārkaṇḍeya kepada seorang raja. Ia mengarahkan sang pendengar untuk pergi ke Bhaṇḍārī-tīrtha yang mulia, yang kemujarabannya disebut mampu memutus kemiskinan (daridra-ccheda) hingga rentang waktu yang sangat panjang, yakni sembilan belas yuga. Sebagai dasar kisahnya, diceritakan bahwa Kubera (Dhanada) bertapa di sana; ketika Brahmā (Padmasambhava) berkenan, Kubera memperoleh anugerah perlindungan kekayaan bahkan melalui sedekah yang kecil di tempat itu. Maka ditetapkan aturan praktis: siapa yang datang dengan bhakti, mandi suci, dan berdana, tidak akan mengalami susut atau terputusnya rezeki (vitta-pariccheda); kemakmuran diteguhkan bukan dengan menimbun, melainkan dengan ziarah suci, niat bakti, dan kedermawanan yang terukur di tirtha yang sah.

4 verses

Adhyaya 108

Adhyaya 108

रोहिणीतीर्थमाहात्म्य (Rohiṇī Tīrtha Māhātmya)

Bab ini disusun sebagai dialog ajaran: Mārkaṇḍeya menuntun seorang raja menuju Rohiṇī-tīrtha, yang dipuji termasyhur di tiga alam dan mampu menyucikan noda-dosa. Yudhiṣṭhira memohon penjelasan tepat tentang kemujarabannya; maka kisah asal-usul dimulai pada suasana pralaya: Viṣṇu Padmanābha/Cakrin berbaring di atas samudra, dari pusarnya muncul teratai bercahaya yang melahirkan Brahmā. Brahmā memohon tuntunan; Viṣṇu menugaskannya menjalankan penciptaan, lalu diuraikan kemunculan para ṛṣi, garis Dakṣa, serta putri-putri Dakṣa. Di antara para istri Candra, Rohiṇī disebut paling dikasihi, namun karena ketegangan hubungan ia menumbuhkan vairāgya dan bertapa di tepi Narmadā. Laku tapanya meliputi puasa bertahap, mandi suci berulang, serta bhakti berserah kepada Dewi Nārāyaṇī/Bhavānī yang digambarkan melindungi dan melenyapkan derita. Sang Dewi berkenan atas kaul dan pengendalian diri, mengabulkan permohonan Rohiṇī; dari situlah nama tīrtha ditegakkan dan buahnya dinyatakan: mereka yang mandi di sana menjadi dicintai pasangan seperti Rohiṇī, dan siapa yang wafat di sana dijanjikan bebas dari perpisahan suami-istri selama tujuh kelahiran.

23 verses

Adhyaya 109

Adhyaya 109

चक्रतीर्थमाहात्म्य (Cakratīrtha Māhātmya) — The Glory of Cakra Tīrtha at Senāpura

Adhyaya ini, dituturkan oleh Mārkaṇḍeya, memuliakan Cakra Tīrtha di Senāpura sebagai tempat ziarah yang tiada bandingnya untuk menyucikan dosa dan kesalahan. Dalam bingkai kisah asal-usulnya, diceritakan upacara penobatan Mahāsena sebagai panglima (senāpatyābhiṣeka) yang dihadiri para dewa dipimpin Indra demi menundukkan para dānava dan menegakkan kemenangan bala ilahi. Saat upacara hendak berlangsung, dānava bernama Ruru mengacaukan keadaan dan pecahlah pertempuran besar dengan gambaran senjata serta formasi perang sebagaimana lazim dalam Purāṇa. Titik balik terjadi ketika Sudarśana-cakra milik Viṣṇu dilepaskan: cakra itu memenggal kepala Ruru dan menyingkirkan rintangan bagi penobatan. Cakra yang telah bebas kemudian membelah sang dānava dan jatuh ke perairan yang murni; dari peristiwa inilah nama “Cakra Tīrtha” dan fungsi kesuciannya ditegakkan. Bagian berikutnya memaparkan pahala: mandi suci dan pemujaan kepada Acyuta memberi buah setara Puṇḍarīka-yajña; mandi lalu menghormati brāhmaṇa yang berdisiplin menghasilkan pahala “berlipat koti”; dan menyerahkan tubuh di sana dengan bhakti mengantar ke Viṣṇuloka, menikmati keberuntungan, lalu terlahir kembali dalam garis keturunan mulia. Penutupnya menegaskan tirtha ini sebagai yang diberkahi, pemusnah duka, dan penghapus dosa, serta memberi isyarat kelanjutan ajaran berikutnya.

18 verses

Adhyaya 110

Adhyaya 110

Cakratīrtha-Nikaṭa Vaiṣṇava-Tīrtha Māhātmya (Glorification of the Vaiṣṇava Tīrtha near Cakratīrtha)

Mārkaṇḍeya menguraikan urutan ziarah penyucian yang berpuncak pada sebuah tīrtha Vaiṣṇava di dekat Cakratīrtha, yang dikisahkan telah didirikan oleh Viṣṇu (Janārdana) pada masa purba. Sesudah menumpas para Dānava yang sangat dahsyat, Viṣṇu menetapkan tīrtha itu untuk menetralkan sisa cela (doṣa) serta akibat karmis yang timbul dari konflik dengan kaum Dānava—demikianlah asal-usul kemujarabannya. Bab ini menonjolkan laku tapa di tempat itu: menaklukkan amarah (jitakrodha), tapas yang keras, dan ikrar diam (mauna), yang bahkan makhluk ilahi maupun anti-ilahi sukar menirunya. Lalu diberikan tuntunan ringkas: mandi suci (snāna), memberi dana kepada penerima yang layak (dvijāti), dan japa menurut tata cara; semuanya disebut segera menyucikan, melepaskan dosa berat, dan mengantar pelaku menuju keadaan rohani Vaiṣṇava (vaiṣṇava pada).

6 verses

Adhyaya 111

Adhyaya 111

स्कन्दतीर्थ-सम्भवः (Origin and Merits of Skanda-Tīrtha on the Narmadā)

Bab ini berbentuk dialog: Yudhiṣṭhira memohon uraian lengkap tentang latar kehidupan Skanda serta tata cara dan pahala Skanda-Tīrtha di tepi Sungai Narmadā. Mārkaṇḍeya menjelaskan bahwa para dewa, karena tidak memiliki panglima, memohon kepada Śiva. Lalu dikisahkan keadaan ilahi yang mengiringi kemunculan Skanda: niat Śiva terhadap Umā, campur tangan para dewa melalui Agni, kutukan Umā yang berdampak pada keturunan para dewa, serta perpindahan tejas (cahaya daya ilahi) dari satu wadah ke wadah lain. Agni tak sanggup menanggung tejas itu lalu menaruhnya pada Gaṅgā; Gaṅgā pun meletakkannya di rimbunan alang-alang (śara-stamba). Para Kṛttikā menyusui sang bayi; ia menampakkan diri sebagai Ṣaṇmukha (berwajah enam) dan dikenal dengan gelar Kārttikeya, Kumāra, Gaṅgāgarbha, Agnija, dan lainnya. Sesudah tapa panjang dan berkeliling tīrtha, Skanda bertapa keras di tepi selatan Narmadā. Śiva dan Umā menganugerahkan karunia: Skanda diangkat sebagai senāpati abadi (panglima para dewa) dan menerima wahana merak. Tempat itu termasyhur sebagai Skanda-Tīrtha, langka dan penghancur dosa. Bab ini menutup dengan pernyataan phala: mandi suci dan pemujaan Śiva di sana memberi pahala setara yajña; pemujaan leluhur dengan air bercampur wijen serta satu piṇḍa yang benar memuaskan pitṛ selama dua belas tahun; segala amal di sana menjadi tak binasa; dan wafat menurut tuntunan śāstra mengantar ke kediaman Śiva, lalu kelahiran kembali yang baik dengan pengetahuan Weda, kesehatan, umur panjang, dan kelangsungan garis keturunan.

45 verses

Adhyaya 112

Adhyaya 112

Āṅgirasatīrtha-māhātmya (Glory of the Āṅgirasa Tīrtha)

Markandeya menuntun sang raja-penanya menuju Tirtha Āṅgirasa di tepi utara Sungai Narmadā, seraya memujinya sebagai pemurni semesta yang melenyapkan segala dosa (sarva-pāpa-vināśana). Lalu dikisahkan asal-usulnya: resi brāhmaṇa Aṅgiras, mahir dalam Weda, pada awal suatu zaman menjalani tapa panjang demi memperoleh seorang putra. Ia melakukan mandi triṣavaṇa, japa kepada Dewa Yang Kekal, serta pemujaan Mahādeva dengan disiplin asketis seperti kṛcchra dan cāndrāyaṇa. Setelah dua belas tahun, Śiva berkenan dan menawarkan anugerah. Aṅgiras memohon putra ideal: berilmu Weda, berperilaku tertib, luas penguasaan śāstra, mulia bagaikan menteri para dewa, dan dihormati semua. Śiva mengabulkan, maka lahirlah Bṛhaspati. Sebagai ungkapan syukur, Aṅgiras menegakkan Śaṅkara di tempat itu. Penutup māhātmya menyatakan: mandi di tirtha ini dan memuja Śiva menghapus dosa, menganugerahkan keturunan dan kekayaan bagi yang membutuhkan, memenuhi tujuan yang diinginkan, serta menuntun bhakta menuju alam Rudra.

12 verses

Adhyaya 113

Adhyaya 113

Koṭitīrtha–Ṛṣikoṭi Māhātmya (Merit of Koṭitīrtha and Ṛṣikoṭi)

Adhyaya ini, yang dituturkan oleh Mārkaṇḍeya, memberi petunjuk seperti rute perjalanan kepada seorang raja menuju Koṭitīrtha, yang dipuji sebagai tirtha (tempat penyeberangan suci) yang tiada banding. Kewibawaan tempat itu diteguhkan dengan mengingat para ṛṣi yang meraih siddhi tertinggi di sana, sehingga kawasan itu dikenal pula sebagai Ṛṣikoṭi. Selanjutnya dijelaskan tiga sarana pahala yang terikat pada tempat: (1) mandi suci (snāna) di tirtha lalu memberi jamuan kepada para Brahmana; memberi makan bahkan satu Brahmana dinyatakan bernilai seperti memberi makan ‘koṭi’ (sepuluh juta), menandakan pelipatgandaan pahala. (2) setelah snāna, menghormati pitṛ-devatā (leluhur) melalui tṛpaṇa/śrāddha, menyatukan etika bakti leluhur dengan ziarah. (3) memuja Mahādeva di sana menjanjikan buah setara yajña Vājapeya. Dengan demikian adhyaya ini menjadi piagam ringkas: tempat → laku yang dianjurkan → phalaśruti (buah rohani).

4 verses

Adhyaya 114

Adhyaya 114

अयोनिजतीर्थ-माहात्म्य (Ayonija Tīrtha: Ritual Procedure and Salvific Claim)

Bab ini memuat petunjuk singkat bergaya itinerary dari resi Mārkaṇḍeya kepada seorang raja, mengarahkan beliau ke tīrtha yang sangat suci bernama Ayonija. Tempat itu ditegaskan memiliki keindahan luar biasa, pahala besar, serta daya menghapus segala pāpa (dosa). Rangkaian ritus minimal dijelaskan: mandi suci di Ayonija, memuja Parameśvara, lalu melaksanakan penghormatan dengan penuh śraddhā bagi leluhur (pitṛ) dan para dewa (deva) melalui tarpaṇa dan upacara sejenis. Penutupnya menyatakan phala yang kuat: siapa yang melepaskan hidup di sana sesuai vidhi (prāṇatyāga) dikatakan terhindar dari ‘yoni-dvāra’, gerbang kelahiran kembali; praktik tīrtha dipahami sebagai laku disiplin menuju pelepasan dari ikatan karma.

4 verses

Adhyaya 115

Adhyaya 115

अङ्गारकतीर्थमाहात्म्य (Aṅgāraka Tīrtha Māhātmya) — The Glory of the Aṅgāraka Tīrtha on the Narmadā

Mārkaṇḍeya menasihati sang raja tentang Tīrtha Aṅgāraka yang utama di tepi Sungai Narmadā, termasyhur di kalangan manusia dan dikatakan menganugerahkan rūpa—keindahan dan wibawa rupa. Di sana Aṅgāraka, sang “lahir dari bumi” yang terkait dengan graha Maṅgala (Mars), menjalani tapa yang sangat panjang selama rentang tahun yang tak terhingga. Mahādeva berkenan, menampakkan diri secara langsung, dan menawarkan anugerah yang bahkan langka di antara para dewa. Aṅgāraka memohon kedudukan yang kekal dan tak binasa: agar ia senantiasa bergerak di antara planet-planet, dan agar anugerah itu bertahan selama gunung, matahari dan bulan, sungai serta samudra masih ada. Śiva mengabulkan dan berangkat, dipuji oleh para dewa dan asura. Setelah itu Aṅgāraka menegakkan (memasang) Śaṅkara di tempat tersebut, lalu mengambil posisinya dalam tatanan graha. Bagian ajaran menyatakan: siapa yang mandi suci di tīrtha itu dan memuja Parameśvara, serta melakukan persembahan dan homa dengan amarah yang telah ditaklukkan, memperoleh pahala yajña Aśvamedha. Pada hari caturthī yang terkait Aṅgāraka, mandi suci dan pemujaan graha menurut tata cara memberi hasil baik, termasuk keindahan rupa dan manfaat yang berpanjang; bahkan wafat di tempat itu—sengaja atau tidak—disebut berbuah kebersamaan dengan Rudra dan sukacita dalam hadirat-Nya.

12 verses

Adhyaya 116

Adhyaya 116

Pāṇḍu-tīrtha Māhātmya (Glory of Pāṇḍu Tīrtha)

Dalam bab ini, Resi Mārkaṇḍeya menuturkan kepada seorang raja ringkasan tīrtha-māhātmya tentang Pāṇḍu-tīrtha. Pāṇḍu-tīrtha dipuji sebagai tempat suci yang menyucikan semua; mandi di sana dikatakan membebaskan seseorang dari ‘sarva-kilbiṣa’, yakni segala kenajisan dan pelanggaran. Sesudah mandi, orang yang telah suci dianjurkan melakukan kāñcana-dāna (derma emas); dengan itu, dosa-dosa berat—bahkan yang diserupakan dengan bhrūṇa-hatyā—dinyatakan lenyap, sebagai penegasan buah (phala) yang kuat. Selanjutnya, dengan mempersembahkan piṇḍa dan air (piṇḍodaka-pradāna), seseorang memperoleh pahala setara yajña Vājapeya, dan para leluhur (pitṛ) serta pitāmaha digambarkan bersukacita. Bab ini merangkai ziarah, sedekah, dan ritus leluhur menjadi satu laku keselamatan yang berpusat pada Pāṇḍu-tīrtha.

4 verses

Adhyaya 117

Adhyaya 117

त्रिलोचनतीर्थमाहात्म्य (Glory of the Trilocana Tīrtha)

Dalam adhyāya ini, Śrī Mārkaṇḍeya menasihati seorang raja (rājendra) tentang kemuliaan Trilocana Tīrtha. Tempat suci ini disebut sangat penuh pahala (puṇya) dan menjadi lokasi kehadiran Deveśa, Tuhan yang dipuja oleh semua alam. Tata cara bhaktinya ringkas: mandi suci di tīrtha lalu memuja Śaṅkara dengan bhakti. Dinyatakan bahwa siapa yang wafat setelah melakukan pemujaan demikian akan mencapai alam Rudra, tanpa keraguan. Ditambahkan pula bahwa setelah berakhirnya satu siklus kosmis (kalpa-kṣaya), penerima anugerah itu digambarkan kembali hadir, tetap tanpa perpisahan, dan dimuliakan selama seratus tahun. Dengan demikian, adhyāya ini mengikat tempat suci, laku sederhana, dan janji keselamatan dalam bingkai kosmologi Purāṇa.

4 verses

Adhyaya 118

Adhyaya 118

इन्द्रतीर्थमाहात्म्य (Indratīrtha Māhātmya) — The Glory of Indra’s Ford on the Narmadā

Dalam adhyāya ini, Yudhiṣṭhira menanyakan asal-usul Indratīrtha di tepi selatan Sungai Narmadā, dan resi Mārkaṇḍeya menjawabnya dalam bentuk dialog teologis dengan menuturkan itihāsa kuno. Setelah pembunuhan Vṛtra, Indra dikejar oleh beban brahmahatyā (dosa besar); ia berkeliling ke berbagai tīrtha dan perairan suci namun tetap tidak memperoleh ketenteraman, menegaskan bahwa pelanggaran etis yang mendalam tidak lenyap hanya dengan ziarah biasa. Indra menjalani tapas yang berat—puasa, laku asketis, dan disiplin panjang—hingga akhirnya para dewa bersidang dan Brahmā membagi dosa itu menjadi empat bagian, disalurkan kepada unsur-unsur seperti air, bumi, perempuan, serta ranah kerja/fungsi sosial; kisah ini menjadi penjelasan etiologis bagi sejumlah pembatasan ritual dan sosial. Di tepi Narmadā, Mahādeva dipuja; Śiva berkenan memberi anugerah. Indra memohon agar kehadiran ilahi menetap di sana, sehingga Indratīrtha ditegakkan sebagai tempat suci. Phalaśruti menutup bab ini: mandi suci, tarpaṇa, dan pemujaan Parameśvara di Indratīrtha menyucikan bahkan pelaku dosa berat dan memberi pahala setara yajña agung; mendengarkan māhātmya ini pun dipandang memurnikan.

41 verses

Adhyaya 119

Adhyaya 119

कल्होडीतीर्थमाहात्म्यं तथा कपिलादानप्रशंसा (Kahlodī Tīrtha Māhātmya and the Eulogy of Kapilā-Dāna)

Mārkaṇḍeya menasihati seorang raja agar pergi ke Kahlodī-tīrtha yang utama, terletak di tepi utara Sungai Revā/Narmadā, yang termasyhur sebagai pemusnah segala dosa. Tempat suci ini dikatakan dahulu ditegakkan oleh para resi purba demi kesejahteraan semua makhluk, dan kemuliaannya ditinggikan oleh daya tapa yang berhubungan dengan air agung Narmadā. Selanjutnya ditonjolkan Kapilā-tīrtha serta ditetapkan tata cara kapilā-dāna: mempersembahkan seekor sapi kapilā, terutama yang baru beranak dan bertanda mujur, dengan berpuasa, berdisiplin, dan terutama menaklukkan amarah. Bab ini membandingkan berbagai sedekah—tanah, harta, biji-bijian, gajah, kuda, emas—dan menegaskan kapilā-dāna sebagai yang paling unggul. Dalam phalaśruti disebutkan: sedekah di tīrtha ini melenyapkan dosa ucapan, pikiran, dan perbuatan yang terkumpul selama tujuh kelahiran; sang dermawan mencapai alam Viṣṇu yang dipuji para apsarā; menikmati kebahagiaan surga selama masa yang sebanding dengan jumlah bulu sapi; lalu kembali lahir sebagai manusia dalam garis keturunan makmur, berbekal pengetahuan Weda, kecakapan śāstra, kesehatan, dan umur panjang. Penutupnya menegaskan kembali tiada bandingnya daya Kahlodī-tīrtha untuk membebaskan dari dosa.

14 verses

Adhyaya 120

Adhyaya 120

कम्बुतीर्थ-स्थापनम् (Establishment and Merit of Kambu Tīrtha)

Bab ini memaparkan asal-usul tirtha dan ajaran pahala yang berpusat pada “Kambukeśvara/Kambu” serta penamaan Kambu Tīrtha. Śrī Mārkaṇḍeya menuturkan silsilah dari Hiraṇyakaśipu kepada Prahlāda, lalu Virocana, Bali, Bāṇa, Śambara, hingga Kambu. Kambu, seorang asura, menyadari ketakutan eksistensial di hadapan daya kosmis Viṣṇu; ia lalu menjalani tapa di perairan Narmadā: mauna (diam suci), mandi teratur dengan disiplin, busana dan laku asketis, serta pemujaan panjang kepada Mahādeva. Śiva berkenan dan menganugerahkan anugerah, namun menegaskan batas teologis: tiada makhluk, bahkan Śiva, dapat meniadakan keunggulan Viṣṇu dalam pertarungan kosmis; permusuhan terhadap Hari tidak membawa kesejahteraan yang langgeng. Setelah Śiva pergi, Kambu menegakkan wujud Śiva yang damai dan bebas penyakit di tempat itu; lokasi tersebut dikenal sebagai Kambu Tīrtha dan dipuji sebagai pemusnah dosa besar. Pada bagian phalaśruti disebutkan: mandi dan pemujaan di sana—terutama pemujaan Surya dengan pujian Ṛg/Yajus/Sāman—memberi buah setara pelaksanaan Veda; persembahan bagi leluhur serta pemujaan Īśāna memberi hasil seperti Agniṣṭoma; dan wafat di sana dikatakan mengantar ke Rudra-loka.

26 verses

Adhyaya 121

Adhyaya 121

Candrahāsa–Somatīrtha Māhātmya (Glory of Candrahāsa and Somatīrtha)

Bab ini disusun sebagai tanya-jawab: Yudhiṣṭhira bertanya dan Mārkaṇḍeya menjawab, menunjuk Candrahāsa sebagai tujuan suci berikutnya serta mengingatkan bahwa di sanalah Soma (Dewa Bulan) meraih ‘pencapaian tertinggi’ (parā-siddhi). Penderitaan Soma dijelaskan bersumber dari kutukan Dakṣa; sekaligus ditegaskan ajaran etika bahwa mengabaikan kewajiban suami-istri dalam dharma rumah tangga menimbulkan akibat karmis. Sebagai penebus, Soma mengembara ke berbagai tīrtha hingga tiba di tepi Narmadā/Revā, sang penghapus dosa. Selama dua belas tahun ia menjalankan tapa-aturan: puasa, derma, kaul, dan pengendalian diri, hingga terbebas dari kenajisan. Puncaknya ialah memandikan (abhiseka) Mahādeva serta menegakkan dan memuja Śiva, yang menghasilkan pahala dharma yang tak susut (akṣaya) dan tujuan luhur. Tata cara dan waktu ziarah juga dijelaskan: mandi suci di Somatīrtha dan Candrahāsa, terutama saat gerhana bulan/matahari serta pada peralihan kalender (saṅkrānti, vyatīpāta, ayana, viṣuva), memberi pemurnian, kebajikan yang menetap, dan sinar bak Soma. Di akhir, teks membedakan peziarah yang mengetahui kemuliaan Candrahāsa di Revā dari yang tidak mengetahuinya; dan disebutkan bahwa pelepasan dunia (renunsiasi) di sana menuntun pada jalan mujur yang tak berbalik, terkait dengan alam Soma.

27 verses

Adhyaya 122

Adhyaya 122

Ko-hanasva Tīrtha Māhātmya and Varṇa–Āśrama Ethical Discourse (कोहनस्वतीर्थमाहात्म्य तथा वर्णाश्रमधर्मोपदेशः)

Adhyaya 122 bergerak dalam dua bagian yang saling terkait. Pertama, Mārkaṇḍeya menyatakan kemuliaan tīrtha bernama Ko-hanasva, yang dipuji sebagai tempat penghapus dosa dan pemusnah ketakutan akan kematian. Lalu, atas pertanyaan Yudhiṣṭhira, dijelaskan asal-usul serta kewajiban karmis empat varṇa: Brahmā sebagai sebab mula, dan melalui metafora tubuh—brāhmaṇa dari mulut, kṣatriya dari lengan, vaiśya dari paha, śūdra dari kaki. Dipaparkan pedoman etika dan pola hidup: bagi brāhmaṇa—svādhyāya dan mengajar, yajña, api suci, pañca-yajña, dharma berumah tangga serta cita-cita pelepasan pada masa lanjut; bagi kṣatriya—tata pemerintahan dan perlindungan rakyat; bagi vaiśya—pertanian, pemeliharaan sapi, dan perdagangan; serta bagi śūdra—dharma pelayanan, disertai pembatasan akses mantra/saṃskāra sebagaimana suara normatif teks. Bagian kedua menghadirkan kisah teladan tentang maut dan perlindungan ilahi: seorang brāhmaṇa terpelajar mendengar seruan mengerikan “hanasva”, berjumpa Yama beserta pengiringnya, lalu melarikan diri sambil melantunkan pujian kepada Rudra (Śatarudrīya). Ia mencari perlindungan pada sebuah liṅga dan jatuh tak berdaya; Śiva turun tangan dengan sabda pelindung, menghalau bala Yama. Tempat itu pun termasyhur sebagai Ko-hanasva. Penutupnya berupa phalaśruti: mandi dan pemujaan di sana memberi pahala setara Agniṣṭoma; wafat di sana menghindarkan penglihatan terhadap Yama; serta disebutkan buah khusus bagi kematian melalui api atau air, diikuti kembalinya kesejahteraan.

39 verses

Adhyaya 123

Adhyaya 123

कर्मदीतीर्थे विघ्नेशपूजा-फलप्रशंसा | Karmadī Tīrtha and the Merit of Vighneśa Observance

Adhyāya ini memuat tīrtha-māhātmya singkat yang disampaikan oleh resi Mārkaṇḍeya kepada seorang raja. Ia menasihati sang pendengar agar pergi ke Karmadī-tīrtha yang utama, tempat Vighneśa, Gaṇanātha yang mahābala, diyakini bersemayam. Dinyatakan bahwa mandi suci di sana—terutama bila disertai upavāsa pada hari caturthī—menetralisir vighna (rintangan) hingga tujuh kelahiran. Dāna yang dilakukan di tempat itu menghasilkan akṣaya-phala, pahala yang tak binasa, sebagai kepastian ajaran tanpa keraguan; demikian ziarah, disiplin caturthī, dan pemberian dipadukan dalam teologi penghapus rintangan melalui anugerah Vighneśa.

4 verses

Adhyaya 124

Adhyaya 124

नर्मदेश्वरतीर्थमाहात्म्य (The Māhātmya of Narmadeśvara Tīrtha)

Bab ini menyajikan petunjuk tirtha secara ringkas dalam bingkai dialog. Śrī Mārkaṇḍeya menasihati Raja Mahīpāla agar berangkat ke Narmadeśvara, sebuah tirtha yang dipuji sebagai tempat suci yang utama dan luhur. Pokok ajarannya bersifat penyelamatan dan penebusan: siapa pun yang mandi suci di tirtha itu dibebaskan dari seluruh kilmbiṣa (cela moral/ritual). Lalu ditambahkan catatan tentang hasil akhir: entah kematian terjadi karena memasuki api, karena air, ataupun melalui kematian ‘unanāśaka’ (tidak merusak/tidak efektif), arah perjalanannya disebut ‘anivartikā gati’ (jalan yang tak berbalik), sebagaimana diajarkan sebelumnya oleh Śaṅkara. Dengan demikian, perintah ziarah, janji penyucian, dan rantai otoritas (Śiva → penutur) meneguhkan kemuliaan penyelamat Narmadeśvara.

3 verses

Adhyaya 125

Adhyaya 125

रवीतीर्थ-माहात्म्य एवं आदित्य-तपःकथा (Ravītīrtha Māhātmya and the Discourse on Āditya’s Tapas)

Dalam adhyaya ini Yudhiṣṭhira bertanya: bagaimana Surya yang tampak di dunia dan dipuja semua dewa dapat disebut tapasvin (pertapa), dan bagaimana ia meraih kedudukan serta sebutan Āditya/Bhāskara. Mārkaṇḍeya menjawab dengan kisah kosmologis: mula-mula keadaan gelap, lalu tampak prinsip ilahi yang menyala-nyala; darinya hadir wujud yang dipersonifikasikan, kemudian dijelaskan fungsi-fungsi kosmos. Sesudah itu dipaparkan kemuliaan Ravītīrtha di tepi Sungai Narmadā, tempat pemujaan Surya dijalankan melalui snāna (mandi suci), pūjā, japa-mantra, dan pradakṣiṇā. Ditekankan bahwa mantra adalah syarat utama keberhasilan ritual; tindakan tanpa mantra diibaratkan tidak berdaya dan tidak berbuah. Penutupnya memuat ketentuan waktu dan tata cara pada saṅkrānti, vyatīpāta, ayana, viṣuva, gerhana, serta Māgha saptamī; juga litani dua belas nama Surya, dan phalaśruti tentang penyucian, kesehatan, kesejahteraan, serta hasil sosial yang membawa keberuntungan.

45 verses

Adhyaya 126

Adhyaya 126

अयोनिज-महादेव-तीर्थमाहात्म्य (Glory of the Ayoni-ja Mahādeva Tīrtha)

Bab ini memuat wejangan Mārkaṇḍeya tentang tīrtha tertinggi bernama “Ayoni-ja” (yang ‘tidak lahir dari rahim’), sebagai tempat penawar dan penyuci bagi mereka yang dilanda “yoni-saṅkaṭa”, yakni kesesakan akibat kelahiran berjasad. Ziarah dan mandi suci di sana dikatakan menghapus rasa terbelenggu oleh derita kelahiran. Setelah itu dilakukan pūjā kepada Īśvara/Mahādeva dengan permohonan agar dibebaskan dari saṃbhava (menjadi-berulang/kelahiran kembali) dan yoni-saṅkaṭa; persembahan wewangian, bunga, dan dupa menjadi sarana peluruhan dosa. Dengan bhakti, linga-pūraṇa/penyempurnaan pemujaan liṅga dianjurkan; buahnya digambarkan secara hiperbolik melalui “siktha-saṅkhyā” (jumlah tetes/lilin), menandakan lama tinggal dekat Dewa-dewa. Abhiṣeka Mahādeva memakai air harum, madu, susu, atau dadih memberi “vipulā śrī”, kemakmuran berlimpah. Waktu utama ialah paruh terang (śukla pakṣa), khususnya hari ke-14 (caturdaśī), dengan pemujaan diiringi nyanyian dan alat musik; pradakṣiṇā dilakukan sambil terus mengulang permohonan yang sama. Di akhir, kemuliaan ṣaḍakṣara “namaḥ śivāya” ditegaskan melampaui ragam mantra yang panjang; japa-nya sendiri dianggap mencakup belajar, mendengar, dan penyelesaian ritual. Pelayanan kepada para Śiva-yogin serta dana-etis—memberi makan pertapa yang terkendali (dānta, jitendriya), bersedekah dan memberi air—dipandang melengkapi mandi dan pūjā; pahalanya diserupakan dengan kebesaran Meru dan samudra.

17 verses

Adhyaya 127

Adhyaya 127

अग्नितीर्थ-माहात्म्य तथा कन्यादान-फलश्रुति (Agni Tīrtha Māhātmya and the Merit of Kanyādāna)

Bab ini disusun sebagai bagian petunjuk ziarah dalam Revākhaṇḍa. Mārkaṇḍeya menasihati sang raja agar menuju Agnitīrtha, yang dipuji sebagai tirtha (tempat suci penyeberangan) yang tiada banding. Ia menetapkan mandi suci (tīrtha-snāna) pada awal paruh bulan (pakṣa-ādau), dan menyatakan bahwa mandi itu melenyapkan segala kilbiṣa—noda moral-ritual dan dosa. Selanjutnya ajaran beralih pada etika dana yang berpusat pada kanyādāna: mempersembahkan seorang gadis, dihias sesuai kemampuan (yathāśaktyā alaṅkṛtām). Buah kebajikannya dipaparkan dengan perbandingan terhadap yajña soma besar seperti Agnīṣṭoma dan Atirātra, bahkan dinyatakan berlipat ganda secara luar biasa. Pada penutup, pahala itu diperluas secara genealogis: kenaikan sang dermawan ke Śiva-loka digambarkan sebanding dengan kesinambungan keturunannya, diungkapkan puitis lewat citra “hitungan rambut”. Dengan demikian, kelangsungan sosial, kewajiban dana, dan janji keselamatan bernuansa Śaiva dipadukan dalam satu rangkaian ajaran.

5 verses

Adhyaya 128

Adhyaya 128

भृकुटेश्वरतीर्थमाहात्म्य (Bhrikuṭeśvara Tīrtha Māhātmya)

Adhyāya ini disampaikan sebagai ajaran Resi Mārkaṇḍeya kepada seorang raja, agar bergerak menuju Bhṛkuṭeśvara, yang dipuji sebagai tirtha (tempat suci) yang unggul. Kewibawaan tempat ini diteguhkan melalui kisah tapa-brata Maharsi Bhṛgu—sangat berdaya dan berwatak keras—yang menjalani pertapaan panjang demi memperoleh keturunan. Lalu Dewa yang disebut dengan gelar ‘Andhakaghātin’ (pembunuh Andhaka), yakni Parameśvara, berkenan memberi anugerah; dengan demikian tirtha ini bernaung pada kuasa ilahi Śaiva. Selanjutnya dijelaskan laku ritual beserta buahnya: mandi suci di tirtha lalu memuja Parameśvara menghasilkan pahala delapan kali buah yajña Agniṣṭoma. Pencari putra yang menyiramkan (snāpana) Bhṛkuṭeśa dengan ghee dan madu akan memperoleh putra yang diidamkan. Kemuliaan dāna juga ditegaskan—memberi emas kepada brāhmaṇa, atau sebagai pilihan memberi sapi dan tanah, dipandang setara dengan menganugerahkan seluruh bumi beserta lautan, gua, gunung, hutan, dan kebun. Pada penutupnya, sang dermawan menikmati kenikmatan surga dan kemudian lahir kembali di bumi dengan kedudukan tinggi, sebagai raja atau brāhmaṇa yang sangat dihormati—sebuah tatanan pahala yang mengikat bhakti dan derma pada kesucian tempat.

9 verses

Adhyaya 129

Adhyaya 129

ब्रह्मतीर्थमाहात्म्य (Glory of Brahmatīrtha on the Narmadā)

Dalam bab ini, Śrī Mārkaṇḍeya menasihati seorang raja tentang kemuliaan Brahmatīrtha di tepi Sungai Narmadā. Tempat suci ini dipuji sebagai tirtha yang tiada banding, melampaui tirtha-tirtha lain, dengan Brahmā sebagai dewa pelindung (adhiṣṭhātā) yang bersemayam di sana. Pemurnian dijelaskan bertingkat menurut kesalahan yang lahir dari ucapan, pikiran, dan perbuatan; bahkan darśana—sekadar melihat dan berziarah—dinyatakan berdaya menyucikan. Mereka yang mandi suci lalu menjalankan tuntunan śruti-smṛti melakukan prāyaścitta dan memperoleh kediaman surgawi; sedangkan yang meninggalkan śāstra karena nafsu dan ketamakan dicela sebagai menyimpang dari jalan penebusan yang benar. Setelah mandi, pemujaan kepada leluhur (pitṛ) dan para dewa memberi pahala setara Agniṣṭoma; sedekah yang dipersembahkan bagi Brahmā disebut tak binasa. Japa Gāyatrī yang singkat pun dimuliakan sebagai mencakup daya buah Ṛg-Yajus-Sāman. Pada penutupnya disebutkan: wafat di tirtha ini mengantar ke Brahmaloka tanpa kembali; bahkan keterkaitan jasad/abu di tempat itu pun bernilai kebajikan. Dari pahala tersebut seseorang terlahir sebagai pengenal Brahman, berilmu, terhormat, sehat, dan panjang umur; dan para peziarah berhati luhur mencapai “amṛtatva”, yakni keabadian dalam makna teologis.

16 verses

Adhyaya 130

Adhyaya 130

Devatīrtha Māhātmya (Glory of Devatīrtha on the Southern Bank of the Narmadā)

Dalam adhyāya ini, resi Mārkaṇḍeya menyebut sebuah tirtha yang tiada banding bernama Devatīrtha, terletak di tepi selatan Sungai Narmadā (Revā). Kesuciannya ditegakkan melalui teladan ilahi: para dewa berkumpul di sana, dan Parameśvara dinyatakan berkenan pada tempat itu. Adhyāya ini juga menetapkan kelayakan batin peziarah: mandi suci (snāna) hendaknya dilakukan dengan bebas dari kāma (nafsu/hasrat) dan krodha (amarah). Buahnya ditegaskan dengan jelas—snāna demikian memberi pahala setara dengan hasil sedekah seribu ekor sapi (go-sahasra-phala), mengajarkan bahwa laku lahiriah harus menyatu dengan pengendalian diri.

3 verses

Adhyaya 131

Adhyaya 131

Nāgatīrtha Māhātmya (Legend of the Nāgas’ Fear and Śiva’s Protection) / नागतीर्थमाहात्म्य

Bab 131 disusun sebagai dialog antara resi Mārkaṇḍeya dan Raja Yudhiṣṭhira. Pembukaannya menempatkan Nāgatīrtha yang ‘tiada banding’ di tepi selatan Sungai Narmadā, lalu mengajukan pertanyaan: mengapa para Nāga agung melakukan tapa karena ketakutan yang sangat. Mārkaṇḍeya kemudian menuturkan itihāsa lama: dua istri Kaśyapa, Vinatā (terkait Garuḍa) dan Kadrū (terkait para ular), bertaruh setelah melihat kuda surgawi Uccaiḥśravas. Dengan siasat memaksa, Kadrū mendorong putra-putra Nāga melakukan tipu daya; sebagian menuruti karena takut kutuk ibu, sementara yang lain mencari perlindungan lain dan menempuh tapa panjang. Setelah tapa yang lama, Mahādeva berkenan memberi anugerah: Vāsuki ditegakkan sebagai pelindung tetap di dekat Śiva, dan para Nāga dijamin keselamatan, terutama melalui berendam/mandi dalam air Narmadā. Penutupnya memuat tuntunan ritual dan buahnya: pemujaan kepada Śiva di tīrtha itu pada hari lunar kelima (pañcamī) membuat delapan garis keturunan Nāga tidak mencelakai pemuja, dan orang yang wafat memperoleh kedudukan sebagai pengiring (gaṇa) Śiva selama masa yang diinginkan.

37 verses

Adhyaya 132

Adhyaya 132

वाराहतीर्थमाहात्म्यम् (Glory of Varāha Tīrtha on the Northern Bank of the Narmadā)

Mārkaṇḍeya menasihati seorang raja agar pergi ke tīrtha bernama Varāha di tepi utara Sungai Narmadā, yang termasyhur sebagai “penghapus segala dosa.” Bab ini memuliakan Varāha sebagai jagaddhātā, Sang Pencipta dan Penopang dunia, yang bersemayam di sana demi lokahita serta menjadi penuntun penyelamat untuk menyeberangkan makhluk melampaui saṃsāra. Tata laku yang diajarkan meliputi mandi suci di tīrtha, pemujaan kepada Dharāṇīdhara/Varāha dengan wewangian dan rangkaian bunga, seruan-seruan auspisius, serta puasa—terutama pada hari dvādaśī. Sesudahnya dianjurkan berjaga pada malam hari sambil mendengarkan/menuturkan kisah suci. Ditetapkan pula batas sosial-ritual: menghindari sentuhan dan makan bersama orang yang digambarkan bergelimang perbuatan dosa, sebab kenajisan dikatakan menular melalui ucapan, sentuhan, napas, dan santap bersama. Penghormatan kepada brāhmaṇa sesuai kemampuan dan aturan juga diperintahkan. Buahnya ditegaskan: sekadar darśana wajah Varāha pun cepat memusnahkan dosa yang paling berat, diumpamakan seperti ular lari melihat Garuḍa dan gelap sirna oleh matahari. Kesederhanaan mantra ditonjolkan—“namo nārāyaṇāya” dipuji sebagai mantra serba guna; satu kali sujud kepada Kṛṣṇa disamakan dengan pahala yajña agung dan menuntun melampaui kelahiran kembali. Pada akhirnya dinyatakan bahwa para bhakta yang berdisiplin, bila melepaskan raga di sana, mencapai kediaman tertinggi Viṣṇu yang suci tanpa noda, melampaui dikotomi yang fana dan yang tak fana.

14 verses

Adhyaya 133

Adhyaya 133

लोकपालतीर्थचतुष्टयमाहात्म्य तथा भूमिदानपालन-उपदेशः (Glory of the Four Lokapāla Tīrthas and Counsel on Protecting Land-Gifts)

Mārkaṇḍeya menjelaskan empat tīrtha tertinggi yang hanya dengan darśana-nya saja dikatakan melenyapkan dosa: tempat-tempat yang berkaitan dengan Kubera, Varuṇa, Yama, dan Vāyu. Yudhiṣṭhira bertanya mengapa para lokapāla bertapa di tepi Sungai Narmadā. Sang ṛṣi menerangkan bahwa di dunia yang tidak tetap mereka mencari landasan yang teguh, dan menegaskan bahwa dharma adalah penopang semua makhluk. Setelah tapas yang sangat berat, Śiva menganugerahkan anugerah: Kubera menjadi penguasa yakṣa dan kekayaan; Yama memperoleh wewenang atas pengendalian diri dan penghakiman; Varuṇa menikmati kedaulatan di alam perairan; dan Vāyu mencapai kehadiran yang meresapi segalanya. Mereka mendirikan tempat suci terpisah atas nama masing-masing serta melakukan pemujaan dan persembahan. Kemudian ajaran beralih pada tata etika sosial: brāhmaṇa yang berilmu diundang dan diberi dāna, terutama hibah tanah, disertai peringatan keras agar tidak dirampas atau dibatalkan. Disebutkan pula skema hukuman bagi yang menganulir hibah, sementara menjaga hibah dipuji lebih utama daripada sekadar memberi. Buah tiap tīrtha dirinci: pemujaan di Kubereśa memberi pahala laksana aśvamedha; di Yameśvara membebaskan dosa lintas kelahiran; di Varuṇeśa memberi pahala laksana vājapeya; dan di Vāteśvara menyempurnakan tujuan hidup. Phalaśruti menutup: mendengar atau melantunkan kisah ini menghapus dosa dan menambah kemujuran.

48 verses

Adhyaya 134

Adhyaya 134

Rāmeśvara-tīrtha Māhātmya (रामेश्वरतीर्थमाहात्म्य) — The Glory of Rāmeśvara on the Southern Bank of the Narmadā

Dalam adhyāya ini, Śrī Mārkaṇḍeya menyampaikan pernyataan singkat tentang kemuliaan tīrtha. Disebutkan sebuah tempat suci yang tiada banding bernama Rāmeśvara, terletak di tepi selatan Sungai Narmadā (Revā), yang dipuji sebagai penghapus pāpa, pemberi puṇya, dan pelenyap segala duka. Ditegaskan tata laku utamanya: siapa pun yang mandi suci (snāna) di tīrtha itu lalu memuja Maheśvara—Mahādeva, Mahātmā—akan terbebas dari seluruh kilbiṣa (pelanggaran/kenajisan batin). Dengan demikian, geografi, urutan ritual (snāna→pūjā), dan buahnya (lenyapnya kenajisan) dirangkum sebagai pedoman ziarah yang padat.

3 verses

Adhyaya 135

Adhyaya 135

सिद्धेश्वरतीर्थमाहात्म्य (Siddheśvara Tīrtha Māhātmya)

Markandeya menjelaskan kemuliaan sebuah tīrtha agung bernama Siddheśvara, yang dipuja di seluruh alam dan dianggap paling sempurna dalam memberi siddhi. Inti ajarannya ringkas: lakukan mandi suci (snāna) di tīrtha itu, lalu sembahyang dengan tata cara kepada Umā‑Rudra (Umā‑Maheśvara). Dinyatakan bahwa laku ini memberikan pahala setara dengan yajña Vājapeya, sehingga bhakti di tempat suci itu memperoleh martabat sebanding dengan kemuliaan Weda. Dalam phalaśruti disebutkan: karena timbunan puṇya, setelah wafat pelaku naik ke surga, disambut seruan auspisius dan ditemani apsarā; setelah lama menikmati surga, ia terlahir kembali dalam garis keturunan yang makmur dan terkemuka, kaya harta serta hasil bumi, berilmu dalam Weda dan Vedāṅga, dihormati masyarakat, bebas dari penyakit dan duka, serta berumur penuh seratus tahun—semuanya dalam bingkai bhakti Śaiva.

6 verses

Adhyaya 136

Adhyaya 136

अहल्येश्वरतीर्थमाहात्म्य (Ahalyeśvara Tīrtha Māhātmya)

Mārkaṇḍeya menuturkan kemuliaan tīrtha dan śrī-kṣetra ‘Ahalyeśvara’. Gautama digambarkan sebagai brāhmaṇa-pertapa teladan, sedangkan Ahalyā termasyhur karena kecantikannya. Karena nafsu, Indra (Śakra) menyamar menyerupai Gautama dan mendekati Ahalyā di dekat pertapaan. Saat Gautama datang dan mengetahui pelanggaran itu, ia mengutuk Indra; pada tubuh Indra muncul tanda yang disebut sebagai perwujudan banyak ‘bhaga’, lalu Indra meninggalkan kedaulatan dan menjalani tapa-penebusan. Ahalyā pun terkena kutuk menjadi batu, namun ada ketentuan pembebasan: setelah seribu tahun, ia disucikan dan dilepaskan ketika memandang Śrī Rāma yang datang dalam ziarah bersama Viśvāmitra. Setelah pulih, Ahalyā melakukan ritus di tepi Narmadā—mandi suci (snāna) dan tapa, termasuk cāndrāyaṇa serta kṛcchra lainnya. Mahādeva berkenan memberi anugerah; Ahalyā menegakkan Śiva dengan nama ‘Ahalyeśvara’. Phalaśruti menyatakan: siapa yang mandi di tīrtha itu dan memuja Parameśvara di sana memperoleh surga, dan kelak terlahir sebagai manusia dengan kemakmuran, pengetahuan, kesehatan, umur panjang, serta kelangsungan keluarga.

25 verses

Adhyaya 137

Adhyaya 137

कर्कटेश्वरतीर्थमाहात्म्य (Karkaṭeśvara Tīrtha-Māhātmya)

Adhyaya ini memuat petunjuk tempat suci dari Resi Mārkaṇḍeya kepada seorang raja, mengarahkan peziarah menuju Tīrtha Karkaṭeśvara—tīrtha Śaiva yang utama di tepi utara Sungai Narmadā—yang dipuji sebagai pemusnah dosa. Dinyatakan bahwa siapa yang mandi sesuai vidhi dan memuja Śiva akan memperoleh perjalanan pascakematian yang tak berbalik menuju alam Rudra. Sang resi menegaskan bahwa kebesaran tīrtha ini tak mungkin diringkas sepenuhnya, namun menyampaikan ajaran pokok: perbuatan baik maupun buruk yang dilakukan di sana menjadi “tak binasa” (akṣaya), menandakan daya ketahanan karma yang menguat di ruang suci. Kehadiran para resi Vālakhilya dan para pertapa terkait Marīci yang memilih tinggal dan bersukacita di sana, serta Devī Nārāyaṇī yang terus menjalankan tapa berat, menjadi penopang kemuliaannya. Di akhir, ditetapkan tata cara persembahan leluhur: orang yang mandi dan melakukan tarpana di sana memuaskan para leluhur selama dua belas tahun. Dengan demikian, keselamatan diri, laku dharma, dan kewajiban garis keturunan dipadukan dalam satu program ritual berbasis tīrtha.

9 verses

Adhyaya 138

Adhyaya 138

Śakratīrtha Māhātmya (The Glory of Śakra-tīrtha) — Indra’s Restoration and the Merit of Śiva-Pūjā

Mārkaṇḍeya mengajarkan agar peziarah menuju Śakratīrtha yang tiada banding. Kesuciannya dijelaskan melalui kisah asal-usul: Indra (Śakra), karena kutukan Ṛṣi Gautama, kehilangan kemuliaan kerajaannya. Para dewa dan para resi pertapa pun gelisah lalu memohon kepada Gautama dengan kata-kata yang menyejukkan—tanpa Indra, tatanan dharma bagi dewa dan manusia menjadi pincang; mohon belas kasih kepada dewa yang menderita, yang menyepi karena malu atas kesalahannya sendiri. Gautama, sang mahatahu Weda, berkenan memberi anugerah: apa yang dahulu menjadi ‘seribu tanda’ aib diubah oleh rahmat resi menjadi ‘seribu mata’, sehingga martabat Indra pulih. Indra kemudian mendatangi Narmadā, mandi dalam air yang suci, menegakkan dan memuja Tripurāntaka (Śiva penghancur Tripura), lalu kembali ke kediaman surgawi dengan penghormatan para apsarā. Pernyataan buah (phala) menutup bab ini: siapa yang mandi di tīrtha ini dan memuja Parameśvara dibebaskan dari dosa mendekati pasangan orang lain secara terlarang; tempat ini dipuji dalam wacana Śaiva sebagai sarana penyucian dan pemulihan etika.

11 verses

Adhyaya 139

Adhyaya 139

Somatīrtha Māhātmya (Glory of Somatīrtha) — Ritual Bathing, Solar Contemplation, and Merit of Feeding the Learned

Bab 139 disampaikan oleh Mārkaṇḍeya sebagai petunjuk perjalanan menuju Somatīrtha, sebuah tirtha yang tiada banding, tempat Soma bertapa dan meraih jalan nakṣatra di alam surgawi. Di sana ditetapkan urutan laku: mandi suci di tirtha, lalu ācaman dan japa dengan benar, kemudian bermeditasi pada Ravi (Matahari). Kemuliaan Somatīrtha ditegaskan melalui perbandingan pahala: buah praktik di tempat ini disamakan dengan pahala pembacaan tiga Veda (Ṛg, Yajur, Sāma) serta japa Gāyatrī. Dijelaskan pula dharma jamuan suci: memberi makan Brahmana berprofil keilmuan tertentu (Bahvṛca, Adhvaryu, Chāndoga; yang telah menuntaskan studi), serta memberi dana seperti alas kaki, payung, pakaian, selimut, dan kuda kepada Brahmana utama—masing-masing dipuji dengan bahasa pahala “koti”. Penutupnya menekankan etika tapa: di mana seorang muni mengekang indria, tempat itu setara Kurukṣetra, Naimiṣa, dan Puṣkara; karena itu para yogin patut dihormati khusus pada saat gerhana, saṅkrānti, dan vyatīpāta. Siapa yang mengambil jalan pelepasan (sannyāsa) di tirtha ini akan mencapai surga dengan vimāna, menjadi pengiring Soma, dan turut menikmati kebahagiaan surgawi Soma.

14 verses

Adhyaya 140

Adhyaya 140

नन्दाह्रदमाहात्म्य (Nandāhrada Māhātmya: The Glory of Nandā Lake)

Bab ini disampaikan sebagai tuntunan perjalanan ziarah dalam Revākhaṇḍa. Mārkaṇḍeya mengarahkan pendengar raja agar menuju Nandāhrada, sebuah danau suci tiada banding tempat para siddha bersemayam, dan Dewi Nandā dipuji sebagai pemberi anugerah. Kesucian tempat itu diteguhkan oleh kisah pertempuran: Mahīṣāsura yang menakutkan para dewa ditaklukkan ketika Sang Dewi dalam wujud Śūlinī menusuknya dengan trisula. Setelah itu Dewi bermata lebar mandi di sana; karena itulah danau tersebut dikenal dengan nama “Nandāhrada”. Selanjutnya diajarkan tata laku: dengan niat kepada Nandā, lakukan mandi suci di tīrtha itu dan berikan dana kepada para brāhmaṇa; pahalanya disamakan dengan kebajikan Aśvamedha. Nandāhrada juga ditempatkan sejajar dengan tirtha langka bernilai tinggi seperti Bhairava, Kedāra, dan Rudra Mahālaya, namun banyak orang luput mengenalinya karena teralihkan oleh nafsu dan keterikatan. Dalam phalaśruti ditegaskan bahwa buah gabungan mandi suci dan dana di seluruh bumi yang dilingkupi samudra terkumpul dalam satu tindakan: mandi di Nandāhrada.

12 verses

Adhyaya 141

Adhyaya 141

Tāpeśvara Tīrtha Māhātmya (The Glory of the Tāpeśvara Ford)

Mārkaṇḍeya menuturkan kisah asal-usul tīrtha yang berpusat pada Tāpeśvara. Seorang pemburu (vyādha) menyaksikan seekor rusa betina yang ketakutan melompat ke air, seketika bebas dari gentar, lalu bangkit melayang ke langit. Tersentuh oleh keajaiban itu, ia diliputi penyesalan dan pelepasan; ia meletakkan busurnya dan menjalani tapa (tapas) yang panjang, selama seribu tahun ilahi. Mahēśvara berkenan menampakkan diri dan menawarkan anugerah; sang pemburu memohon tinggal dekat Śiva, dan Sang Dewa mengabulkan lalu menghilang. Kemudian pemburu itu menegakkan (sthapana) wujud Mahēśvara, bersembahyang dengan tata cara pemujaan yang benar, dan mencapai surga. Sejak saat itu tīrtha ini termasyhur di tiga dunia sebagai “Tāpeśvara”, terkait dengan panasnya tapa dan penyesalan sang pemburu (vyādha-anuttāpa). Dinyatakan pula buah ritualnya: siapa mandi suci di sana dan memuja Śaṅkara akan mencapai Śiva-loka; siapa mandi di air Narmadā pada Tāpeśvara terbebas dari tiga derita (tāpa-traya). Anjuran khusus diberikan untuk mandi suci pada Aṣṭamī, Caturdaśī, dan Tṛtīyā demi penenteraman segala dosa.

12 verses

Adhyaya 142

Adhyaya 142

रुक्मिणीतीर्थमाहात्म्य (Rukmiṇī Tīrtha Māhātmya) and the Naming of Yodhanīpura

Bab ini berbentuk dialog: Mārkaṇḍeya menasihati Yudhiṣṭhira tentang kemuliaan Rukmiṇī-tīrtha. Dikatakan bahwa mandi suci di sana saja sudah menganugerahkan kecantikan dan keberuntungan; terutama pada tithi Aṣṭamī, Caturdaśī, dan khususnya Tṛtīyā, pahala mandi dan pemujaan menjadi sangat utama. Lalu dipaparkan asal-usul (itihāsa) untuk meneguhkan kewibawaan tīrtha: Bhīṣmaka, raja Kuṇḍina, memiliki putri Rukmiṇī; suara tak berwujud menubuatkan bahwa ia harus dipersembahkan kepada dewa berlengan empat. Karena siasat politik ia dijanjikan kepada Śiśupāla; kemudian Kṛṣṇa dan Saṅkarṣaṇa datang, Hari menemui Rukmiṇī dalam penyamaran, dan Kṛṣṇa menculiknya. Terjadi pengejaran dan perang, dengan gambaran kepahlawanan Baladeva serta bentrokan melawan Rukmī; atas permohonan Rukmiṇī, serangan Sudarśana ditahan, lalu wujud ilahi dinyatakan dan perdamaian terjadi. Sesudah itu Kṛṣṇa memuliakan tujuh tokoh resi (tradisi mānasaputra), menganugerahkan desa-desa, dan memberi peringatan keras agar tidak merampas tanah yang telah didanakan (dāna-bhūmi), beserta akibat karmanya. Penutup mahātmya merinci laku suci—mandi, pemujaan Baladeva-Keśava, pradakṣiṇā, serta dāna seperti kapilā-dāna, emas-perak, alas kaki, kain—membandingkan pahalanya dengan tīrtha besar di seluruh Bhārata, dan menyebut फलश्रुति tentang nasib akhir bagi yang wafat oleh api, air, atau puasa dalam lingkup tīrtha itu.

102 verses

Adhyaya 143

Adhyaya 143

Yojaneśvara Tīrtha Māhātmya and the Worship of Balakeśava

Bab ini memuat uraian tīrtha-māhātmya yang disampaikan Śrī Mārkaṇḍeya kepada seorang raja. Ia menunjuk Yojaneśvara sebagai tīrtha yang utama, tempat Nara–Nārāyaṇa Ṛṣi bertapa dan memenangkan para dewa dalam pertarungan purba melawan para dānava. Riwayat suci itu diringkas melintasi yuga: pada Tretā-yuga, prinsip ilahi yang sama tampak sebagai Rāma–Lakṣmaṇa; setelah mandi suci di tīrtha, Rāvaṇa ditaklukkan dan dharma ditegakkan. Pada Kali-yuga, Ia hadir sebagai Bala–Keśava (Balarāma–Kṛṣṇa) dari garis Vāsudeva, menuntaskan karya-karya berat dengan membinasakan Kaṃsa, Cāṇūra, Muṣṭika, Śiśupāla, Jarāsandha, dan lainnya; juga disinggung peran ilahi yang menentukan dalam perang Dharma-kṣetra Kurukṣetra. Selanjutnya diberikan tuntunan: mandi di tīrtha, memuja Bala–Keśava, berpuasa, berjaga malam (prajāgara), melantunkan nyanyian bhakti, serta menghormati para brāhmaṇa. Phalaśruti menjanjikan lenyapnya dosa—termasuk pelanggaran berat—buah persembahan dan pemujaan yang tak berkurang (akṣaya), dan pembebasan dari pāpa bagi orang saleh yang mendengar, membaca, atau melafalkan bab ini.

18 verses

Adhyaya 144

Adhyaya 144

Cakratīrtha–Dvādaśī Tīrtha Māhātmya (Non-diminishing Merit at Cakratīrtha)

Dalam bab ini, Śrī Mārkaṇḍeya memberi wejangan singkat bergaya petunjuk perjalanan kepada seorang raja. Ia mengarahkan sang pendengar untuk menuju tirtha Dvādaśī yang “utama”, serta membandingkan hukum umum buah-buah ritual dengan keistimewaan Cakratīrtha. Dinyatakan bahwa pada umumnya pahala dana (derma), japa (pengulangan mantra), homa (persembahan api), dan bali/persembahan ritual dapat menyusut atau habis oleh waktu; namun perbuatan yang dilakukan di Cakratīrtha disebut tidak berkurang, bersifat akṣaya. Bab ini ditutup dengan penegasan bahwa mahātmya tertinggi tirtha ini—mencakup makna masa lampau dan masa depan—telah dijelaskan secara khusus, jelas, dan lengkap, sebagai kalimat penutup unit pujian ini.

4 verses

Adhyaya 145

Adhyaya 145

Śivātīrtha Māhātmya (Glory of the Śiva Tīrtha)

Adhyaya ini memuat ajaran teologis ringkas dari Mārkaṇḍeya kepada seorang pencari yang disapa sebagai pelindung/pemimpin negeri, agar menuju Śivātīrtha yang tiada banding. Dinyatakan bahwa darśana (melihat dengan hormat) terhadap Dewa di Śivātīrtha saja sudah melenyapkan seluruh noda-dosa (sarva-kilbiṣa). Selanjutnya ditetapkan laku disiplin: mandi suci di tīrtha sambil menaklukkan amarah dan mengendalikan indria, lalu memuja Mahādeva; pahalanya disamakan dengan yajña Agniṣṭoma. Praktik ini dipertegas dengan bhakti disertai puasa (sopavāsa) dan pemujaan Śiva, yang menjanjikan perjalanan rohani yang tak berbalik hingga mencapai Rudraloka.

4 verses

Adhyaya 146

Adhyaya 146

Asmahaka Pitṛtīrtha Māhātmya and Piṇḍodaka-Vidhi (अस्माहक-पितृतीर्थ-माहात्म्य एवं पिण्डोदक-विधि)

Bab ini berbentuk dialog: Yudhiṣṭhira memohon penjelasan kemuliaan (māhātmya) tīrtha leluhur utama bernama Asmahaka. Mārkaṇḍeya menjawab dengan mengutip tanya-jawab otoritatif dalam sidang para ṛṣi dan dewa, menegaskan bahwa Asmahaka melampaui himpunan tempat ziarah lain. Dinyatakan bahwa satu piṇḍa dan persembahan air saja dapat membebaskan para pitṛ dari derita sebagai preta, memberi kepuasan panjang, dan menghadirkan pahala yang tahan lama. Sambil menekankan maryādā menurut śruti–smṛti serta hukum karma—bahwa makhluk berjasad berangkat “seperti angin” dan menuai hasilnya sendiri—bab ini meneguhkan kewajiban dharma: snāna, dāna, japa, homa, svādhyāya, pemujaan dewa, penghormatan tamu, dan terutama piṇḍodaka-pradāna. Dijabarkan pula waktu dan ciri tempat: amāvāsyā, Vyatīpāta, Manv-ādi, Yug-ādi, ayana/viṣuva, serta peralihan matahari; juga Brahma-śilā buatan ilahi yang digambarkan laksana gaja-kumbha, yang pada Kali-yuga tampak khususnya sekitar amāvāsyā bulan Vaiśākha. Tata cara meliputi mandi suci, pujian bermatra kepada Nārāyaṇa/Keśava, memberi makan brāhmaṇa, śrāddha dengan darbha dan dakṣiṇā, serta persembahan pilihan (susu, madu, dadih, air sejuk) yang dipahami sebagai penopang langsung bagi pitṛ. Disebutkan para saksi kosmis—dewa, pitṛ, sungai, samudra, dan banyak ṛṣi—yang meneguhkan kewibawaan tempat ini. Penutupnya memuat phalāśruti luas: penyucian dari dosa besar, kesetaraan pahala dengan yajña Veda yang agung, pengangkatan leluhur dari keadaan neraka, dan kemakmuran duniawi. Secara teologis, bab ini menjaga sintesis netral dengan menampilkan Brahmā–Viṣṇu–Maheśvara sebagai daya yang satu dalam fungsi-fungsinya.

117 verses

Adhyaya 147

Adhyaya 147

Siddheśvara-tīrtha-māhātmya (सिद्धेश्वरतीर्थमाहात्म्य) — Merits of Bathing, Śiva Worship, and Śrāddha on the Narmadā’s Southern Bank

Dalam adhyāya ini, Mārkaṇḍeya menasihati seorang raja (mahīpāla/nṛpasattama) agar pergi ke tīrtha Siddheśvara yang tiada banding, terletak di tepi selatan Sungai Revā (Narmadā). Tempat itu diperkenalkan sebagai sangat suci; setelah mandi suci di sana, hendaknya ia memuja Vṛṣabhadhvaja, Bhagavān Śiva, dengan penuh bhakti. Dinyatakan bahwa mandi di tīrtha itu lalu bersembahyang kepada Śiva melenyapkan segala pāpa dan menganugerahkan pahala yang disamakan dengan para pelaksana Aśvamedha. Dengan bersungguh-sungguh mandi dan melaksanakan śrāddha, para pitṛ memperoleh kepuasan yang sempurna—demikian buah tīrtha yang ditegaskan. Bagi makhluk yang wafat di tīrtha itu atau dalam kaitannya dengannya, teks menjanjikan terbebas dari berulangnya ‘garbha-vāsa’, kurungan dalam kandungan yang pada hakikatnya penuh derita. Penutupnya mengaitkan mandi dengan air tīrtha sebagai sarana penghentian punarbhava (kelahiran kembali), menempatkan laku sungai suci ini sebagai jalan pembebasan dalam bingkai bhakti Śaiva.

6 verses

Adhyaya 148

Adhyaya 148

Āṅgāraka-Śiva Tīrtha Vidhi on the Northern Bank of the Narmadā (अङ्गारक-शिवतीर्थविधिः)

Markandeya menasihati sang raja agar pergi ke tirtha Śiva yang terkait dengan Aṅgāraka di tepi utara Sungai Narmadā, yang dipuji sebagai tempat peluruhan dosa (pāpa-kṣaya). Di sana dijelaskan vrata yang terikat waktu pada Caturthī dan hari Selasa (Caturthī–Aṅgāraka): menetapkan saṅkalpa, mandi saat senja, serta tekun melakukan sandhyā-upāsanā secara berkesinambungan. Rangkaian pūjā kemudian diuraikan: penetapan pada sthaṇḍila, pengolesan cendana merah, pemujaan bergaya padma/maṇḍala, serta arcanā kepada Kuja/Aṅgāraka dengan sebutan seperti Bhūmiputra dan Svedaja. Arghya dipersembahkan dalam bejana tembaga berisi air cendana merah, bunga merah, tila, dan beras. Pantangan makan ditetapkan: menghindari rasa asam dan asin, memilih rasa yang lembut dan menyehatkan. Ritual dapat diperluas: arca emas bila mampu, beberapa karaka ditempatkan menurut arah, ditandai bunyi śaṅkha dan tūrya, serta memuliakan brāhmaṇa yang layak—berilmu, teguh berkaul, dan welas asih. Dāna meliputi sapi merah dan lembu jantan merah, diikuti pradakṣiṇā, keterlibatan keluarga, permohonan maaf dan penutupan, lalu pelepasan (visarjana). Phalaśruti menjanjikan kecantikan dan keberuntungan lintas kelahiran, setelah wafat mencapai Aṅgāraka-pura, menikmati kenikmatan ilahi, dan akhirnya memperoleh kerajaan yang dharmis, kesehatan, serta umur panjang.

27 verses

Adhyaya 149

Adhyaya 149

Liṅgeśvara Tīrtha Māhātmya and Dvādaśī-Māsa-Nāma Kīrtana (लिङ्गेश्वरतीर्थमाहात्म्यं तथा द्वादशी-मासनामकीर्तनम्)

Mārkaṇḍeya menjelaskan kemuliaan tīrtha bernama Liṅgeśvara; darśana kepada “Tuhan para dewa” di sana dikatakan melenyapkan dosa. Bab ini ditempatkan dalam bingkai teologi yang berpusat pada Viṣṇu, mengingatkan daya pelindung-Nya—termasuk motif Varāha—serta menuntun tata laku ziarah: mandi suci di tīrtha, memberi hormat dan memuja dewa, serta memuliakan para brāhmaṇa dengan dana, penghormatan, dan jamuan. Selanjutnya diuraikan disiplin pada hari dvādaśī: dengan puasa/pengekangan diri, memuja Tuhan dengan wewangian dan rangkaian bunga, melakukan tarpaṇa bagi leluhur dan para dewa, serta melantunkan dua belas nama ilahi. Ibadah bulanan juga disistematisasi dengan mengaitkan tiap bulan lunar pada satu epitet Viṣṇu (dari Keśava hingga Dāmodara), dan kīrtana nama dipuji sebagai laku penyucian yang menghapus kesalahan ucapan, pikiran, dan perbuatan. Penutupnya menilai keberuntungan para bhakta dan kerugian rohani hidup tanpa bhakti. Ada pula petunjuk persembahan bagi leluhur—air bercampur wijen—pada saat gerhana dan masa aṣṭakā, lalu diakhiri pujian luhur kepada Hari dalam wujud Varāha sebagai darśana berkat demi kedamaian.

23 verses

Adhyaya 150

Adhyaya 150

कुसुमेश्वर-माहात्म्य (Kusumeśvara Māhātmya: Ananga, Kāma, and the Narmadā-bank Liṅga स्थापना)

Markandeya mengarahkan sang raja ke tirtha agung Kusumesvara di tepi selatan Sungai Narmada, yang disebut mampu menghapus pelanggaran-pelanggaran ringan (upapātaka) dan termasyhur di tiga dunia karena dipasang oleh Kāma. Yudhiṣṭhira lalu memohon penjelasan: bagaimana Ananga, Kāma yang tanpa tubuh, dapat memperoleh kembali ‘aṅgitva’ (beranggota/berwujud). Kisah beralih ke Kṛtayuga: Mahādeva bertapa sangat keras di Gaṅgāsāgara hingga dunia-dunia gelisah. Para dewa mendatangi Indra; ia mengutus apsara, Musim Semi, burung kukuk, angin selatan, dan Kāma untuk mengusik tapa Śiva. Suasana pesona musim semi digambarkan, namun akhirnya api mata ketiga Śiva menyala; Kāma menjadi abu dan alam pun seakan tanpa hasrat. Para dewa mencari perlindungan Brahmā; Brahmā memuji Śiva dengan bahan-bahan Veda dan stotra hingga Śiva berkenan. Śiva merenungkan sulitnya mengembalikan tubuh Kāma, namun Ananga kembali hadir sebagai pemberi kehidupan. Setelah itu Kāma bertapa di tepi Narmada, memohon perlindungan kepada Kuṇḍaleśvara dari makhluk-makhluk penghalang, dan memperoleh anugerah: kehadiran Śiva yang abadi di tirtha itu. Kāma kemudian menegakkan liṅga bernama Kusumesvara. Bab ini menetapkan laku: mandi suci dan berpuasa di tirtha, terutama pada Caitra caturdaśī (hari Madana), pemujaan Surya pada pagi hari, tarpaṇa dengan air bercampur wijen, serta persembahan piṇḍa. Phalaśruti menyamakan piṇḍa-dāna di sini dengan sattra selama dua belas tahun, menjanjikan kepuasan panjang bagi leluhur, bahkan menyatakan keselamatan bagi makhluk kecil yang wafat di tempat itu; dengan bhakti, pelepasan, dan pengendalian diri di Kusumesvara, seseorang menikmati alam Śiva dan akhirnya terlahir kembali sebagai penguasa terhormat, sehat, dan fasih.

52 verses

Adhyaya 151

Adhyaya 151

जयवाराहतीर्थमाहात्म्य तथा दशावतारकथनम् (Jaya-Vārāha Tīrtha Māhātmya and the Account of the Ten Avatāras)

Adhyaya ini disajikan sebagai dialog. Mārkaṇḍeya menunjukkan sebuah tīrtha yang sangat dipuji di tepi utara Sungai Narmadā, dikenal dengan nama ‘Jaya-Vārāha’. Mandi suci di sana dan memperoleh darśana Madhusūdana disebut melenyapkan dosa; terlebih lagi, mengingat atau melantunkan kisah sepuluh kelahiran Ilahi (daśa-janma) dipuji sebagai sarana penyucian yang agung. Yudhiṣṭhira lalu memohon penjelasan: perbuatan apa yang dilakukan Bhagavān dalam tiap perwujudan avatāra dari Matsya hingga Kalki. Mārkaṇḍeya menjawab ringkas—Matsya menyelamatkan Weda yang tenggelam; Kūrma menjadi penopang pengadukan samudra dan meneguhkan bumi; Varāha mengangkat bumi dari alam bawah; Narasiṃha membinasakan Hiraṇyakaśipu; Vāmana menundukkan Bali dengan tiga langkah dan menampakkan kedaulatan kosmis; Paraśurāma menertibkan kṣatriya yang lalim dan menyerahkan bumi kepada Kaśyapa; Rāma membunuh Rāvaṇa dan memulihkan pemerintahan dharma; Kṛṣṇa menyingkirkan raja-raja tiran serta menubuatkan keberhasilan Yudhiṣṭhira; Buddha digambarkan sebagai rupa kemudian yang menimbulkan kebingungan sosial-keagamaan pada Kali-yuga; dan Kalki dinyatakan sebagai kelahiran kesepuluh yang akan datang. Penutupnya menegaskan kembali bahwa mengingat sepuluh kelahiran ini adalah sebab lenyapnya pāpa, memadukan kemuliaan tīrtha dengan teologi avatāra serta peringatan etis tentang kemerosotan zaman.

28 verses

Adhyaya 152

Adhyaya 152

भार्गलेश्वर-माहात्म्य (Bhārgaleśvara Māhātmya) — Merit of Worship and Final Passage at the Tīrtha

Dalam uraian teologis singkat ini, Mārkaṇḍeya menuntun peziarah untuk menuju śrī-kṣetra Bhārgaleśvara yang mulia. Ia menyebut Śaṅkara sebagai “napas kehidupan dunia” dan menegaskan bahwa sekadar mengingat-Nya saja sudah melenyapkan dosa (smṛta-mātra-agha-nāśana). Kemudian disebutkan dua buah utama dari tirtha itu: (1) siapa yang mandi suci di sana dan memuja Parameśvara memperoleh pahala yajña Aśvamedha; (2) siapa yang melepaskan nyawa (prāṇatyāga) di tirtha itu meraih “anivartikā gati”, menempuh jalan yang tak berbalik, dan tanpa ragu mencapai Rudra-loka. Pesannya: bhakti, tempat suci, dan ingatan kepada Śiva dipandang sebagai sarana keselamatan dalam ajaran Śaiva.

4 verses

Adhyaya 153

Adhyaya 153

रवितीर्थ-आदित्येश्वर-माहात्म्य (Ravi Tīrtha and Ādityeśvara: Theological Account and Merit Framework)

Bab ini dibuka dengan uraian Mārkaṇḍeya tentang Ravi Tīrtha yang “tiada banding”, yang sekadar dipandang saja dikatakan meluruhkan dosa. Ia menjelaskan kerangka pahala: mandi suci di Ravi Tīrtha dan memandang Bhāskara (Dewa Surya) memberi hasil tertentu; sedekah yang dipersembahkan kepada Ravi dan diberikan dengan tata cara yang benar kepada brahmana yang layak berbuah tak terukur, terutama pada waktu-waktu penting seperti ayana, viṣuva, saṅkrānti, saat gerhana matahari/bulan, maupun vyatīpāta. Ditegaskan pula ajaran bahwa Surya adalah “pengembali” persembahan—membalas pemberian melampaui waktu, bahkan lintas kelahiran, dengan tingkat pahala yang berbeda menurut ketepatan waktunya. Yudhiṣṭhira lalu bertanya mengapa Ravi Tīrtha dianggap sangat utama. Mārkaṇḍeya menuturkan legenda asal-usul: pada awal Kṛtayuga, brahmana terpelajar bernama Jābāli berulang kali menolak hubungan suami-istri pada masa subur istrinya demi ketaatan pada kaul; sang istri yang berduka wafat setelah berpuasa, dan Jābāli tertimpa penyakit mirip kusta serta kemerosotan tubuh akibat dosa itu. Ia mendengar tentang Bhāskara Tīrtha di tepi utara Narmadā, terkait Ādityeśvara dan disebut memusnahkan segala penyakit; namun karena terlalu sakit untuk bepergian, ia bertapa keras untuk “mendatangkan” Ādityeśvara ke tempatnya. Setelah seratus tahun, Surya menganugerahi anugerah dan menampakkan diri di sana; tempat itu pun dinyatakan sebagai tīrtha penghapus dosa dan duka. Ditetapkan laku: selama setahun, setiap hari Minggu mandi suci, melakukan tujuh pradakṣiṇā (mengitari), memberi persembahan, dan memandang Surya; hal ini dikaitkan dengan cepatnya lenyap penyakit kulit serta tercapainya kemakmuran duniawi. Disebut pula bahwa śrāddha yang dilakukan di sana pada saṅkrānti memuaskan para leluhur, sebab Bhāskara dipandang berhubungan dengan para pitṛ. Bab ditutup dengan penegasan kembali daya penyuci dan penyembuh Ādityeśvara.

44 verses

Adhyaya 154

Adhyaya 154

कलकलेश्वरतीर्थमाहात्म्य (Glory of the Kalakaleśvara Tīrtha)

Bab ini, dituturkan oleh Śrī Mārkaṇḍeya, menyebut sebuah tīrtha termasyhur bernama Kalakaleśvara di tepi selatan Sungai Narmadā, yang dikatakan didirikan secara ilahi oleh Dewa sendiri. Setelah Mahādeva menewaskan Andhaka dalam pertempuran, para dewa, gandharva, kinnara, dan ular-ular agung memuliakan-Nya dengan gemuruh pujian: bunyi śaṅkha, tūrya, mṛdaṅga, paṇava, vīṇā, veṇu, serta lantunan mantra Sāman, Yajus, Chandas, dan Ṛc. Nama ‘Kalakaleśvara’ dijelaskan berasal dari hiruk-pikuk bunyi “kalakala” para pramatha dan para pemuji, saat liṅga ditegakkan di sana. Tata laku utamanya: mandi suci di tempat itu dan memandang Kalakaleśvara memberi pahala kebajikan yang melampaui yajña Vājapeya. Buahnya ialah penyucian dosa, naik ke surga dengan kendaraan agung yang dipuji para apsarā, menikmati kenikmatan surgawi, dan akhirnya terlahir kembali dalam garis keturunan yang murni sebagai brāhmaṇa yang berilmu, sehat, dan panjang umur.

10 verses

Adhyaya 155

Adhyaya 155

शुक्लतीर्थमाहात्म्यम् (The Glory of Śukla Tīrtha on the Narmadā)

Dalam bab ini, Mārkaṇḍeya menunjukkan Śukla Tīrtha di tepi utara Sungai Narmadā sebagai tempat ziarah yang tiada banding. Disusunlah hierarki tīrtha, ditegaskan bahwa tempat suci lain tidak sebanding bahkan dengan sebagian kecil daya-berkah Śukla Tīrtha. Kemuliaan Narmadā pun dipuji sebagai sungai yang menyucikan semua makhluk dan melenyapkan dosa. Kisah asal-usulnya menyatakan bahwa Viṣṇu bertapa lama di Śukla Tīrtha; lalu Śiva menampakkan diri dan menguduskan wilayah itu sebagai pemberi kesejahteraan duniawi sekaligus mokṣa. Selanjutnya hadir teladan tentang Raja Cāṇakya: dua makhluk terkutuk berwujud gagak dikirim ke alam Yama; Yama menyatakan bahwa siapa pun yang wafat di Śukla Tīrtha berada di luar yurisdiksinya dan mencapai keadaan luhur tanpa pengadilan. Kedua gagak menceritakan penglihatan atas kota Yama, ragam neraka beserta sebab moralnya, serta kenikmatan buah dāna yang dinikmati para dermawan. Pada penutup, Cāṇakya meninggalkan nafsu, membagikan harta, dan setelah berendam di tīrtha meraih akhir yang Vaiṣṇava—meneguhkan ajaran etika dan keselamatan bab ini.

119 verses

Adhyaya 156

Adhyaya 156

शुक्लतीर्थमाहात्म्य (Śukla-tīrtha Māhātmya) — The Glory of Śukla Tīrtha on the Revā

Markandeya memuliakan Śuklatīrtha di tepi Narmadā (Revā) sebagai tempat ziarah yang tiada banding, berada di tanah yang menurun menurut arah tertentu dan ramai didatangi para resi. Mandi suci di sini ditegaskan meluruhkan dosa; sebagaimana kain dibersihkan oleh tukang cuci, demikian pula cela moral dapat disucikan melalui tata laku yang ditetapkan. Inti kisahnya bertumpu pada waktu suci: pada Caturdaśī paruh gelap (terutama bulan Vaiśākha, juga ditekankan pada Kārttika), Śiva datang dari Kailāsa bersama Umā dan dapat dipandang setelah mandi ritual. Brahmā, Viṣṇu, Indra, para Gandharva, Apsaras, Yakṣa, Siddha, Vidyādhara, dan Nāga turut hadir sebagai rombongan ilahi yang menguatkan daya penyucian tīrtha. Upacara untuk leluhur—tarpaṇa dan persembahan air Revā—dinyatakan memberi kepuasan panjang bagi para pitṛ. Bab ini juga merinci dana: selimut yang dibasahi ghee, emas sesuai kemampuan, serta alas kaki, payung, ranjang, tempat duduk, makanan, air, biji-bijian; buahnya dikaitkan dengan tujuan pascakematian seperti Śiva-loka/Rudra-loka, dan dalam satu jalur tapa-vrata disebut pula kota Varuṇa. Laku tambahan meliputi puasa sebulan, pradakṣiṇā (disamakan dengan mengelilingi bumi), vṛṣa-mokṣa (melepas banteng), pemberian gadis berhias sesuai kemampuan, serta pemujaan “sepasang yang indah” yang dipersembahkan kepada Rudra sebagai jaminan tidak berpisah lintas kelahiran. Penutup (phalaśruti) menegaskan: mendengar dengan bhakti menghadirkan tujuan yang diinginkan—keturunan, kekayaan, atau pembebasan.

45 verses

Adhyaya 157

Adhyaya 157

हुङ्कारतीर्थ-माहात्म्य (Glory of Hūṅkāra Tīrtha and Vāsudeva’s Sacred Site)

Bab ini memuat wejangan Resi Mārkaṇḍeya kepada seorang raja di dekat Śuklatīrtha, seraya memperkenalkan Vāsudeva-tīrtha yang termasyhur di tepi Narmadā (Revā). Dikisahkan bahwa hanya dengan mengucapkan “hūṅkāra”, sungai itu berpindah sejauh satu krośa; karena itu tempat tersebut dikenal para pandita sebagai “Hūṅkāra”, dan tempat pemandian disebut “Hūṅkāratīrtha”. Dinyatakan bahwa mandi suci di Hūṅkāratīrtha dan memandang Acyuta yang tak binasa membebaskan manusia dari dosa yang menumpuk selama banyak kelahiran—sebuah penegasan bhakti Vaiṣṇava dalam bingkai laku ziarah. Bagi yang tenggelam dalam saṃsāra, tiada penolong melebihi Nārāyaṇa; lidah, batin, dan tangan yang dipersembahkan bagi Hari dipuji, dan mereka yang menegakkan Hari di dalam hati disebut memperoleh segala kemujuran. Buah yang dicari melalui pemujaan dewa lain dikatakan dapat diraih juga dengan sujud aṣṭāṅga kepada Hari. Bahkan sentuhan debu kuil, atau pelayanan seperti menyapu, memercikkan air, dan memplester di kediaman Dewa, menghancurkan pāpa; dan namaskāra yang dilakukan tanpa ketulusan penuh pun cepat meluruhkan dosa serta mengantar ke Viṣṇuloka—demikian rangkaian phalaśruti. Penutupnya menegaskan prinsip ketetapan: perbuatan baik maupun buruk yang dilakukan di Hūṅkāratīrtha berbuah kuat dan bertahan, menandai daya moral-ritual tempat suci itu.

16 verses

Adhyaya 158

Adhyaya 158

Saṅgameśvara-Tīrtha Māhātmya (Glory of the Saṅgameśvara Confluence Shrine)

Bab 158 memuat uraian teologis-ritual dari Mārkaṇḍeya tentang tīrtha unggul bernama Saṅgameśvara, di tepi selatan Sungai Narmadā, yang dipuji sebagai penghapus dosa dan rasa takut. Kewibawaan tempat ditegaskan lewat tanda alam dan hidrologi suci: sebuah aliran suci yang muncul dari Vindhya bermuara ke Narmadā di titik pertemuan, dan tanda-tanda yang tetap—seperti batu-batu gelap berkilau laksana kristal—disebut masih terlihat sebagai bukti. Selanjutnya dipaparkan tingkatan laku bhakti beserta phalaśruti-nya. Mandi di sangam dan memuja Saṅgameśvara memberi buah setara yajña Aśvamedha. Persembahan berupa lonceng, panji, dan kanopi dikaitkan dengan perolehan wahana surgawi serta kedekatan dengan Rudra. Pengisian liṅga dengan dadih, kelapa, dan persembahan lain, serta abhiṣeka yang ditetapkan (dadih, madu, ghee), menghasilkan tinggal lama di alam Śiva, buah-buah surgawi, dan kesinambungan pahala lintas kelahiran, termasuk motif “tujuh kelahiran”. Ajaran etika melengkapi ritual: Mahādeva ditegaskan sebagai penerima tertinggi (mahāpātra); pemujaan yang disertai brahmacarya dipuji; dan penghormatan kepada para Śiva-yogin ditinggikan—memberi makan satu pertapa demikian dikatakan melampaui jamuan besar bagi brāhmaṇa pengenal Veda. Penutupnya menyatakan janji keselamatan: siapa yang melepaskan hidup di Saṅgameśvara tidak kembali lagi dari Śivaloka, tanpa kelahiran kembali.

22 verses

Adhyaya 159

Adhyaya 159

नरकेश्वरतीर्थ-माहात्म्यं, वैतरणीदाना-विधानं च (Narakeśvara Tīrtha Glory and the Procedure of Vaitaraṇī-Gift)

Bab ini dibuka dengan arahan Mārkaṇḍeya kepada sang raja menuju sebuah tīrtha Narmadā yang langka dan sangat menyucikan, bernama Narakeśvara, yang digambarkan sebagai pelindung dari kengerian bayangan “gerbang neraka”. Yudhiṣṭhira lalu bertanya: setelah makhluk mengalami buah karma baik dan buruk, bagaimana mereka terlahir kembali dengan tanda-tanda yang dapat dikenali? Mārkaṇḍeya menjawab dengan uraian tertata tentang hukum karma: pelanggaran tertentu dan kegagalan moral dikaitkan dengan cacat tubuh, kemiskinan, keterasingan sosial, atau kelahiran non-manusia, sebagai katalog ajaran sebab-akibat etis. Pembahasan kemudian beralih pada pembentukan janin: perkembangan bulan demi bulan, penyatuan lima unsur, serta munculnya daya indria, batin, dan kecerdasan—sebagai fisiologi teologis di bawah tata kelola Ilahi. Pada paruh kedua, dipaparkan geografi akhirat: sungai Vaitaraṇī di gerbang Yama yang mengerikan, kotor, dan dihuni makhluk air ganas; penderitaan makin berat bagi mereka yang melanggar etika relasi—tidak hormat kepada ibu, guru, ācārya; menyakiti yang bergantung; menipu dalam dana dan janji; serta pelanggaran seksual dan sosial. Sebagai penawar, diajarkan dāna “Vaitaraṇī-dhenū”: membuat dan mempersembahkan sapi yang dihias sesuai ketentuan ritual, disertai mantra dan pradakṣiṇā, sehingga sungai menjadi “sukhavāhinī”, mudah diseberangi. Bab ditutup dengan tuntunan waktu (terutama Kṛṣṇa Caturdaśī di bulan Āśvayuja): Narmadā-snāna, śrāddha, berjaga malam, tarpaṇa, persembahan lampu, memberi makan brāhmaṇa, dan pemujaan Śiva—menjanjikan terbebas dari naraka serta memperoleh keadaan luhur sesudah wafat dan hasil kelahiran manusia yang baik kemudian.

102 verses

Adhyaya 160

Adhyaya 160

मोक्षतीर्थमाहात्म्य (Mokṣatīrtha Māhātmya) — The Glory of the Liberation-Fording Place

Mārkaṇḍeya menasihati seorang keturunan Pāṇḍu dan mengarahkannya kepada Mokṣatīrtha yang “tiada banding”, tempat suci yang didatangi para dewa, gandharva, dan para resi pertapa. Banyak orang tidak mengenali tirtha ini karena delusi yang dikaitkan dengan māyā Viṣṇu, sedangkan para ṛṣi yang telah sempurna dikatakan mencapai pembebasan di sana. Disebutkan deretan resi agung seperti Pulastya, Pulaha, Kratu, Prācetasa, Vasiṣṭha, Dakṣa, dan Nārada; bahkan “tujuh ribu” makhluk mulia beserta putra-putra mereka mencapai mokṣa di tempat itu, meneguhkan jati diri tirtha ini sebagai pemberi mokṣa. Kemudian ditunjukkan sebuah saṅgama: di tengah arus, sungai bernama Tamahā jatuh dan bertemu, dan pertemuan itu dipuji sebagai pemusnah segala dosa. Japa Gāyatrī yang dilakukan dengan tata cara benar di sana disamakan buahnya dengan hasil belajar luas Veda (Ṛg/Yajus/Sāman). Dana, persembahan homa, serta pembacaan/mantra yang dilakukan di sana menjadi tak binasa dan menjadi sarana unggul menuju pembebasan. Akhirnya ditegaskan bahwa para dwija-pertapa yang wafat di tirtha ini memperoleh anivartikā gati, tujuan tanpa kembali, karena daya kesuciannya; uraian disampaikan singkat, sedangkan perluasannya diajarkan dalam Purāṇa.

10 verses

Adhyaya 161

Adhyaya 161

सर्पतीर्थमाहात्म्य (Glory of Sarpa-tīrtha)

Bab 161 memuat tuntunan Resi Mārkaṇḍeya kepada Raja Yudhiṣṭhira tentang ziarah ke Sarpa-tīrtha, sebuah tempat suci yang amat istimewa, tempat para nāga agung meraih keberhasilan melalui tapa yang berat. Disebutkan nama-nama makhluk ular terkemuka—Vāsuki, Takṣaka, Airāvata, Kāliya, Karkoṭaka, Dhanañjaya, Śaṅkhacūḍa, Dhṛtarāṣṭra, Kulika, Vāmana—beserta garis keturunannya, sehingga tirtha ini tampak laksana tatanan suci yang hidup, di mana pencapaian tapa menghadirkan kehormatan dan kenikmatan. Selanjutnya diberikan ajaran ritual dan etika: mandi suci di Sarpa-tīrtha serta mempersembahkan tarpaṇa kepada leluhur dan para dewa, menurut pernyataan Śaṅkara sebelumnya, menghasilkan pahala setara yajña Vājapeya. Dinyatakan pula ajaran perlindungan bahwa peziarah yang mandi di sana terbebas dari rasa takut terhadap ular dan kalajengking. Untuk Mārgaśīrṣa kṛṣṇa aṣṭamī ditetapkan laku khusus: berpuasa, menjaga kesucian, mengisi liṅga dengan wijen (tila), memuja dengan wewangian dan bunga, lalu bersujud serta memohon ampun/menjalani penebusan. Phalāśruti menjanjikan kenikmatan surga sesuai banyaknya wijen dan persembahan, kemudian kelahiran kembali dalam keluarga suci dengan rupa elok, keberuntungan, dan kekayaan besar.

12 verses

Adhyaya 162

Adhyaya 162

गोपेश्वरतीर्थमाहात्म्य (Gopeśvara Tīrtha-Māhātmya)

Bab 162 menyajikan māhātmya singkat Tīrtha Gopeśvara dalam Avantī Khaṇḍa. Mārkaṇḍeya menyebut Gopeśvara sebagai tujuan ziarah berikutnya setelah Sarpakṣetra, lalu menegaskan tatanan buah rohani yang bertingkat sesuai tindakan ritual dan pemujaan. Dinyatakan bahwa sekali mandi suci di tīrtha ini membebaskan manusia dari pātaka (dosa-kesalahan). Namun, mandi lalu mengakhiri hidup dengan kehendak sendiri dipandang tercela—sekalipun orang itu mencapai kuil Śiva, ia tetap ‘terkait dengan dosa’; ini menjadi batas etis agar daya tīrtha tidak disalahgunakan. Mandi lalu memuja Īśvara menghasilkan pelepasan dari segala dosa dan pencapaian Rudra-loka. Setelah menikmati kebahagiaan di Rudra-loka, ia terlahir kembali sebagai raja yang saleh; dan buah duniawinya berupa kemakmuran kerajaan—gajah, kuda, kereta, para pelayan, penghormatan dari raja-raja lain, serta umur panjang yang bahagia.

6 verses

Adhyaya 163

Adhyaya 163

नागतीर्थमाहात्म्य (Nāgatīrtha-māhātmya) — Observances at Nāga Tīrtha

Mārkaṇḍeya menasihati sang pendengar raja agar pergi ke Nāga Tīrtha yang utama di tepi Revā, lalu menjalankan laku-vrata pada waktu yang tepat, yakni hari kelima paruh terang (śukla-pañcamī) bulan Āśvina. Dengan menjaga kesucian dan pengendalian diri, ia hendaknya berjaga semalam (jāgaraṇa) sambil mempersembahkan wewangian, dupa, dan upacara pemujaan menurut tata-aturan. Saat fajar, dalam keadaan suci ia mandi di tīrtha, kemudian melaksanakan śrāddha sesuai ketentuan (yathā-vidhi). Disebutkan buahnya: laku ini melenyapkan segala dosa; dan siapa yang melepaskan nyawa di tīrtha itu mencapai tujuan yang tak berbalik (anivartikā gati), sebagaimana dinyatakan oleh Śiva.

5 verses

Adhyaya 164

Adhyaya 164

सांवाौरतीर्थमाहात्म्य — The Māhātmya of the Sāṃvaura Tīrtha

Śrī Mārkaṇḍeya menguraikan kemuliaan tīrtha utama bernama Sāṃvaura, tempat Bhānu (Sūrya) hadir secara istimewa dan dipuja oleh para dewa maupun asura. Tīrtha ini dipandang sebagai perlindungan bagi mereka yang tenggelam dalam samudra duka—yang menderita cacat tubuh, sakit yang menyiksa, ditinggalkan, dan terasing secara sosial. Di tepi Sungai Narmadā bersemayam Sāṃvauranātha, pelindung para papa, penghapus derita (ārtihā) dan pemusnah kesengsaraan. Ditetapkan laku: mandi suci di tīrtha itu terus-menerus selama satu bulan, disertai pemujaan kepada Bhāskara (Sang Surya). Pahalanya disamakan dengan mandi di lautan-lautan dari berbagai penjuru; bahkan dosa yang terkumpul sepanjang masa muda, dewasa, dan tua lenyap hanya dengan mandi. Buah lainnya ialah terbebas dari penyakit, kemiskinan, dan perpisahan dari yang dicintai, dengan kebaikan yang meluas hingga tujuh kelahiran. Puasa pada tithi Saptamī serta persembahan arghya dengan cendana merah juga sangat dipuji. Air Narmadā dimuliakan sebagai penghancur segala dosa; para bhakta yang mandi dan memandang Sāṃvaureśvara dinyatakan berbahagia, dan dijanjikan tinggal di alam Surya hingga pralaya.

14 verses

Adhyaya 165

Adhyaya 165

सिद्धेश्वरतीर्थमाहात्म्य (Siddheśvara Tīrtha—Glory and Observances)

Markandeya menggambarkan sebuah tīrtha termasyhur bernama Siddheśvara di tepi selatan Sungai Narmadā. Tempat ini dipuji sebagai yang paling menyucikan di antara semua tīrtha. Diajarkan urutan laku: mandi suci di tīrtha, mempersembahkan tarpaṇa bagi para pitṛ dan para dewa, lalu melaksanakan śrāddha untuk leluhur; disebutkan pula phala bahwa śrāddha di sana memberi kepuasan bagi leluhur selama dua belas tahun. Selanjutnya diuraikan tata-bhakti Śaiva: mandi dengan penuh bhakti, memuja Śiva, berjaga pada malam hari (jāgaraṇa), melantunkan atau mendengarkan kisah Purāṇa, kemudian mandi kembali pada pagi yang suci sesuai aturan. Puncaknya adalah janji keselamatan: sang pemuja memperoleh darśana Girijā-kānta (Śiva, pendamping Pārvatī) dan mencapai keadaan yang luhur. Akhirnya, kemuliaan tīrtha diteguhkan dengan menyebut para siddha dan resi kuno seperti Kapila; berkat daya kesucian Narmadā, mereka digambarkan mencapai siddhi tertinggi melalui kematangan yoga.

8 verses

Adhyaya 166

Adhyaya 166

Siddheśvarī-Vaiṣṇavī Tīrtha Māhātmya (सिद्धेश्वरी-वैष्णवी तीर्थमाहात्म्य) — Ritual Merits of Seeing and Worship

Markandeya menggambarkan sebuah tīrtha suci tempat Dewi dipuja sebagai Siddheśvarī sekaligus Vaiṣṇavī, sang pemusnah noda-dosa (pāpa-nāśinī). Darśana di tempat itu dinyatakan membawa keberkahan. Bab ini menata urutan laku yang praktis: mandi suci di tīrtha, mempersembahkan ritus bagi para leluhur dan para dewa (pitṛ-devatāḥ), lalu mendekati Sang Dewi dengan bhakti dan śraddhā untuk bersembahyang. Dinyatakan pula buahnya: siapa yang memandang dengan devosi dibebaskan dari dosa; perempuan yang berduka karena kehilangan anak atau yang mandul memperoleh keturunan; dan laki-laki maupun perempuan yang mandi di pertemuan arus (saṅgama) dianugerahi putra serta kekayaan. Dewi melindungi garis keturunan (gotra-rakṣā) dan, bila dipuja sesuai tata cara, senantiasa menjaga anak-cucu serta komunitas. Ada petunjuk waktu: laku khusus pada Aṣṭamī dan Caturdaśī, serta pada Navamī dilakukan mandi suci, puasa/disiplin (upavāsa), dan pemujaan dengan niat yang disucikan oleh śraddhā. Penutupnya menjanjikan tercapainya alam tertinggi yang bahkan sukar diraih para dewa, menegaskan kemuliaan tīrtha ini bagi dharma, ritual, dan pembebasan.

9 verses

Adhyaya 167

Adhyaya 167

Mārkaṇḍeya Tīrtha on the Southern Bank of the Narmadā (Śaiva–Vaiṣṇava Installation and Vrata Protocols)

Bab ini berbentuk tanya-jawab tentang tīrtha: Yudhiṣṭhira memohon kepada resi Mārkaṇḍeya agar menunjukkan tīrtha bertanda khusus di tepi selatan Sungai Narmadā serta menjelaskan asal-usulnya. Mārkaṇḍeya menuturkan bahwa dahulu ia bertapa di wilayah Vindhya dan Daṇḍaka, lalu kembali ke tepi selatan Narmadā dan mendirikan āśrama yang dihuni para brahmacārin, gṛhastha, vānaprastha, dan yati yang berdisiplin. Karena tapa panjang dan bhakti kepada Vāsudeva, Kṛṣṇa dan Śaṅkara menampakkan diri; Mārkaṇḍeya memohon agar keduanya bersemayam tetap di sana, senantiasa muda dan bebas penyakit, beserta para pengiring ilahi. Mereka berkenan lalu menjadi tak tampak; kemudian Mārkaṇḍeya melakukan pratishṭhā (penetapan suci) Śaṅkara dan Kṛṣṇa serta menegakkan tata pemujaan di tempat itu. Selanjutnya dipaparkan tata laku ibadah: mandi suci di tīrtha dan memuja Parameśvara dengan penekanan nama Mārkaṇḍeśvara, serta memuliakan Viṣṇu sebagai penguasa tiga dunia. Persembahan meliputi ghee, susu, dadih, madu, air Narmadā, wewangian, dupa, bunga, dan naivedya; juga berjaga malam (jāgara), serta vrata pada paruh terang bulan Jyeṣṭha dengan puasa dan pūjā. Disertakan pula śrāddha/tarpaṇa bagi leluhur, pemujaan sandhyā, japa mantra Weda (Ṛg/Yajus/Sāman), dan prosedur Rudra-mantra: menempatkan kalaśa di sisi selatan liṅga dan memandikan dengan mantra ‘Rudra-ekādaśa’, yang dijanjikan berbuah keturunan dan umur panjang. Phalaśruti menegaskan penyucian dosa bagi yang mendengar atau membaca kisah ini serta hasil yang mengarah pada pembebasan dalam bingkai Vaiṣṇava maupun Śaiva.

32 verses

Adhyaya 168

Adhyaya 168

अङ्कूरेश्वरतीर्थमाहात्म्य — The Glory and Origin of Aṅkūreśvara Tīrtha

Bab ini berbentuk dialog: Mārkaṇḍeya menunjukkan sebuah tīrtha agung di tepi selatan Sungai Narmadā, bernama Aṅkūreśvara, termasyhur di tiga dunia. Atas pertanyaan Yudhiṣṭhira, diceritakan silsilah rākṣasa yang terkait tempat itu: dari Pulastya dan Viśravas, lalu Vaiśravaṇa (Kubera), kemudian putra-putra Kaikasī—Rāvaṇa, Kumbhakarṇa, Vibhīṣaṇa—berlanjut kepada keturunan Kumbhakarṇa, yakni Kumbha dan Vikumbha, dan akhirnya Aṅkūra, putra Kumbha. Menyadari asal-usulnya serta melihat kecenderungan dharmis Vibhīṣaṇa, Aṅkūra menjalani tapa berat ke segala penjuru dan pada akhirnya di tepi Narmadā. Śiva menampakkan diri dan menganugerahkan anugerah. Aṅkūra memohon dua hal: pertama anugerah yang sukar, yakni keabadian; kedua, agar Śiva bersemayam tetap di tīrtha itu dengan nama Aṅkūra. Śiva mengabulkan dengan syarat: kedekatan-Nya berlangsung selama Aṅkūra menjaga perilaku selaras dengan dharma seperti sikap Vibhīṣaṇa. Setelah itu Aṅkūra menegakkan liṅga Aṅkūreśvara menurut tata-ritus, lalu memuja dengan persembahan meriah—panji, payung, seruan auspisius, dan berbagai upacara. Bab ini juga menetapkan tata cara ziarah: mandi suci, sandhyā, japa, tarpaṇa bagi leluhur/dewa/manusia, puasa pada Aṣṭamī atau Caturdaśī, serta disiplin diam. Disebutkan buah-buahnya: pemujaan setara Aśvamedha, dāna yang dipersembahkan dengan benar memberi pahala tak habis, dan hasil homa, japa, upavāsa, serta snāna menjadi berlipat. Bahkan makhluk non-manusia yang wafat di tīrtha ini memperoleh keselamatan. Penutupnya adalah phalaśruti: pendengar yang beriman meraih alam Śiva.

44 verses

Adhyaya 169

Adhyaya 169

माण्डव्यतीर्थमाहात्म्य-प्रस्तावः (Mandavya Tīrtha: Prologue to the Sacred Narrative)

Bab ini dibuka dengan Markandeya yang mengarahkan perhatian pada sebuah tīrtha yang amat utama dan memusnahkan dosa (pāpa-pranāśana), terkait dengan resi Māṇḍavya serta Nārāyaṇa. Ia mengingatkan peristiwa lama tentang śuśrūṣā (pelayanan bhakti) kepada Nārāyaṇa ketika sang resi berada “di atas pasak” (śūla-stha); hal itu membuat Yudhiṣṭhira takjub dan memohon kisah lengkapnya. Markandeya lalu memulai legenda kilas balik pada zaman Tretā-yuga: Raja Devapanna, yang saleh, dermawan, dan melindungi rakyat, meski makmur tetap menderita karena tidak memiliki keturunan. Bersama istrinya Dātyāyanī, ia menjalani tapa selama dua belas tahun—mandi suci, homa, puasa, dan kaul—seraya memuji Dewi Cāmuṇḍā dengan himne. Sang Dewi menampakkan diri namun menyatakan bahwa keturunan hanya akan datang melalui pemujaan Yajñapuruṣa; setelah raja melaksanakan ritus itu, lahirlah putri bercahaya bernama Kāmapramodinī. Saat dewasa, kecantikannya digambarkan dengan rinci. Ketika pergi bersembahyang kepada Dewi, ia dan para sahabat bermain di sebuah kolam; rākṣasa Śambara, menyamar sebagai burung, menculiknya dan merampas perhiasannya. Dalam pelarian, sebagian perhiasan jatuh ke perairan dekat tepi Narmadā, tempat resi Māṇḍavya bersemadi dalam di sebuah Maheśvara-sthāna yang selaras dengan kedudukan tertinggi Nārāyaṇa; bab ditutup dengan penyebutan saudara/pelayan sang resi yang tekun melayani dan bermeditasi pada Janārdana, menyiapkan kelanjutan kisah kemuliaan tīrtha itu.

38 verses

Adhyaya 170

Adhyaya 170

कामप्रमोदिनी-हरणं तथा तपस्वि-दण्डविधान-विपर्यासः (Abduction of Kāmapramodinī and the Misapplied Punishment of an Ascetic)

Markandeya menuturkan krisis yang terjadi di sebuah tirtha, tempat air suci. Di dekat hadirat ilahi, Kāmapramodinī yang sedang bermain di kolam tiba-tiba disambar seekor burung yang disebut śyena dan dibawa pergi. Para sahabatnya melapor kepada raja dan memohon pencarian; sang raja pun mengerahkan bala tentara besar berkekuatan empat matra, sehingga kota gempar oleh persiapan perang. Seorang penjaga kota kemudian menyerahkan perhiasan milik perempuan yang diculik dan melaporkan bahwa benda-benda itu terlihat dekat pertapaan resi Māṇḍavya, di tengah para tapasvin. Dikuasai amarah dan salah sangka, raja menafsirkan sang pertapa sebagai pencuri yang menyamar—seakan-akan ia mengambil wujud burung untuk melarikan diri—dan tanpa membedakan yang patut dan tidak patut, memerintahkan agar brahmana-pertapa itu ditusuk pada pasak (impalement). Warga kota dan penduduk desa meratap serta memprotes: seorang brahmana, terlebih yang tekun bertapa, tidak layak dihukum mati; bila pun ada tuduhan, paling jauh pengasinganlah yang pantas. Bab ini menonjolkan rājadharma saat tertekan—bahaya hukuman tergesa-gesa, ketidakpastian bukti, dan kewajiban luhur melindungi kesucian para pertapa dalam lanskap tirtha.

27 verses

Adhyaya 171

Adhyaya 171

माण्डव्य-शूलावस्था, कर्मविपाकोपदेशः, शाण्डिली-सत्यव्रत-प्रसङ्गश्च (Māṇḍavya on the Stake: Karmic Consequence Teaching and the Śāṇḍilī Episode)

Bab ini disampaikan dalam bingkai tutur Mārkaṇḍeya. Para resi—Nārada, Vasiṣṭha, Jamadagni, Yājñavalkya, Bṛhaspati, Kaśyapa, Atri, Bharadvāja, Viśvāmitra, dan lainnya—melihat pertapa Māṇḍavya tertancap pada śūla (pancang) lalu mendatangi Nārāyaṇa. Nārāyaṇa hendak menghukum raja, namun Māṇḍavya menahan dorongan itu dan mengajarkan hakikat karma-vipāka: setiap pelaku mengalami buah perbuatannya sendiri, laksana anak sapi menemukan induknya di antara banyak sapi. Ia menyebut satu kesalahan kecil di masa muda—meletakkan kutu pada ujung duri/jarum—sebagai benih penderitaan kini, menegaskan etika tanggung jawab bahkan atas tindakan yang halus. Selanjutnya dipaparkan pedoman dharma: mengabaikan dāna, snāna, japa, homa, penghormatan tamu, pemujaan dewa, serta pitṛ-śrāddha membawa kemerosotan, sedangkan pengendalian diri, welas asih, dan kemurnian perilaku mengantar pada keadaan luhur. Pada bagian akhir muncul Śāṇḍilī, seorang pativratā, yang tanpa sengaja tersandung pada sang resi saat menggendong suaminya; disalahpahami dan ditegur, ia menyatakan kemuliaan kesetiaan dan etika keramahtamahan, lalu bersumpah bahwa matahari tidak boleh terbit bila suaminya harus wafat. Akibatnya kosmos seakan berhenti: rangkaian svāhā/svadhā, pañca-yajña, snāna-dāna-japa, dan persembahan śrāddha terganggu—bab ini menempatkan hukum karma berdampingan dengan daya sumpah suci dan keteguhan dharma.

61 verses

Adhyaya 172

Adhyaya 172

माण्डव्यतीर्थमाहात्म्यं — Māṇḍavya Tīrtha Māhātmya (Glory of the Māṇḍavya Sacred Ford)

Adhyaya ini tersusun dalam dua bagian. Bagian pertama mengisahkan para dewa dan para resi yang berkumpul di āśrama suci Māṇḍavya di tepi Sungai Narmadā, memuji siddhi yang lahir dari tapas beliau serta menganugerahkan anugerah. Lalu muncul episode terkait kutukan dan rākṣasa; seorang gadis diserahkan kepada Māṇḍavya, pernikahan berlangsung, dan terjadi saling penghormatan dengan dukungan raja berupa hadiah serta dana. Bagian kedua memaparkan tīrtha-māhātmya dan phalaśruti bagi Māṇḍavyeśvara/Māṇḍavya-Nārāyaṇa beserta tempat-tempat terkait seperti Devakhāta. Dijelaskan tata cara mandi suci, pengurapan, pemujaan, menyalakan dīpa, pradakṣiṇā, memberi makan brāhmaṇa, waktu śrāddha, dan laku vrata—terutama berjaga pada malam caturdaśī. Pahala dibandingkan dengan yajña besar dan tīrtha termasyhur, serta ditegaskan pelepasan dari pāpa dan tujuan akhir yang mulia bagi pendengar dan pelaku.

91 verses

Adhyaya 173

Adhyaya 173

शुद्धरुद्रतीर्थ-माहात्म्य (Māhātmya of Śuddharudra Tīrtha / Siddheśvara on the Southern Bank of the Narmadā)

Markandeya menasihati sang raja tentang sebuah tirtha yang sangat suci di tepi selatan Sungai Narmada, yang dipuji sebagai pemusnah segala dosa, bahkan pelanggaran besar. Dikisahkan asal-usulnya: karena konteks ucapan Brahma yang tidak benar, Siwa (pemegang trisula) memenggal satu kepala Brahma sehingga menanggung beban brahmahatya; tengkorak itu melekat pada tangan Siwa dan tak juga lepas. Siwa berziarah ke Varanāsi, mengelilingi samudra ke segala arah, serta mendatangi banyak tirtha, namun noda itu belum sirna; akhirnya di tirtha Narmada dekat Kulakoti, setelah menjalankan penebusan (prāyaścitta), Siwa terbebas dari kenajisan. Sejak saat itu tempat itu termasyhur sebagai ‘Śuddharudra’, dikenal di tiga dunia sebagai tirtha tertinggi yang menghapus brahmahatya. Bab ini juga menetapkan laku berkala: pada hari amāvāsyā di paruh terang (śukla pakṣa), hendaknya mandi sesuai aturan, mempersembahkan tarpaṇa kepada leluhur dan para dewa, serta memberikan piṇḍa dengan niat batin yang disucikan. Disarankan memuja Parameśvara dengan wewangian, dupa, dan pelita; dewata di sana disebut ‘Śuddheśvara’ dan dikatakan dihormati di Śiva-loka. Buahnya: lenyapnya segala dosa dan tercapainya Rudra-loka bagi mereka yang menjalankan disiplin dan mengingat kemuliaan tirtha ini.

16 verses

Adhyaya 174

Adhyaya 174

गोपेश्वरतीर्थमाहात्म्य (Gopeśvara Tīrtha Māhātmya) — Lamp-offering and Śaiva Merit on the Northern Narmadā Bank

Bab ini memuat ajaran Resi Mārkaṇḍeya kepada seorang raja: peziarah hendaknya mendatangi Tīrtha Gopeśvara di tepi utara Sungai Narmadā, wilayah Avantī Khaṇḍa. Dinyatakan bahwa sekali mandi suci di sana saja sudah meluruhkan noda-dosa dan membuka jalan pembebasan. Lalu diuraikan urutan pahala: pertama, snāna di tīrtha; kedua, bila dikehendaki, prāṇasaṃkṣaya (wafat sukarela) di tempat itu yang mengantarkan dengan wahana surgawi menuju kediaman Śiva; ketiga, menikmati kebahagiaan di Śiva-loka lalu terlahir kembali secara mulia sebagai raja yang kuat, makmur, dan berumur panjang. Pada bulan Kārttika, khususnya hari kesembilan paruh terang (śukla navamī), ditetapkan vrata: berpuasa, menjaga kesucian, mempersembahkan lampu (dīpa-dāna), memuja dengan wewangian dan bunga, serta berjaga semalam suntuk. Pahala dijelaskan secara terukur: sebanyak jumlah lampu, demikian pula ribuan yuga penghormatan di Śiva-loka. Disebut pula persembahan lain—ritus liṅga-pūraṇa, persembahan teratai, dan dadhy-anna (nasi dengan dadih)—dengan pahala menurut hitungan biji wijen dan teratai. Penutupnya menegaskan bahwa setiap dana di tīrtha ini berlipat “sejuta-juta kali” (koṭi-guṇa), melampaui perhitungan, dan Gopeśvara dinyatakan tiada banding di antara tīrtha-tīrtha.

12 verses

Adhyaya 175

Adhyaya 175

कपिलेश्वरतीर्थमाहात्म्य (Kapileśvara Tīrtha Māhātmya)

Markandeya menyebut Kapileśvara—di tepi utara Sungai Narmadā, di tengah Bhṛgu-kṣetra—sebagai tīrtha unggul untuk pemusnahan dosa. Kapila dipahami sebagai perwujudan Vāsudeva/Jagannātha, dan kedudukan dewata ini digambarkan melalui penurunan kosmografis ke alam-alam bawah hingga Pātāla ketujuh yang agung, tempat Parameśvara purba bersemayam. Kisah mengingatkan musnahnya putra-putra Sagara secara tiba-tiba di hadapan Kapila. Dengan batin yang condong pada pelepasan, Kapila menilai pembinasaan massal itu “tidak patut”, berduka, lalu mencari penebusan melalui Kapila-tīrtha. Ia kemudian bertapa keras di tepi Narmadā, memuja Rudra yang tak binasa, dan mencapai keadaan tertinggi laksana nirvāṇa. Bab ini juga memaparkan tata cara dan pahala: mandi suci dan pemujaan memberi pahala setara “seribu sedekah sapi”; dana pada hari ke-14 paruh terang bulan Jyeṣṭha menjadi tak habis bila diberikan kepada brāhmaṇa yang layak; puasa dan mandi pada tithi tertentu (termasuk laku terkait Aṅgāraka) menjanjikan kecantikan, kemakmuran, dan kebaikan garis keturunan dalam banyak kelahiran. Persembahan bagi leluhur pada purnama dan bulan baru memuaskan mereka selama dua belas tahun dan mengantar ke alam surga; persembahan lampu menumbuhkan cahaya tubuh; dan wafat di tīrtha ini disebut membawa jalan tanpa kembali menuju kediaman Śiva.

20 verses

Adhyaya 176

Adhyaya 176

देवखात-उत्पत्ति एवं पिङ्गलेश्वर-माहात्म्य (Origin of Devakhāta and the Māhātmya of Piṅgaleśvara)

Mārkaṇḍeya menasihati sang raja agar pergi ke Piṅgalāvarta, tīrtha yang amat langka di bumi; dengan mendekat kepada Piṅgaleśvara, dosa yang lahir dari ucapan, pikiran, dan perbuatan menjadi luluh. Ia menegaskan bahwa mandi suci dan bersedekah (dāna) di Devakhāta menghasilkan buah yang tak binasa, lalu—menjawab pertanyaan Yudhiṣṭhira—menuturkan asal-usul kolam suci itu. Dalam kisah sisipan, Rudra (Śiva) membawa kamaṇḍalu dan berkelana bersama para dewa demi penyucian trisulanya. Para dewa mandi di banyak tīrtha dan menghimpun airnya dalam sebuah bejana; setelah trisula tersucikan, mereka tiba di Bhṛgukaccha dan menjumpai Agni serta Piṅgala yang sakit, bermata kekuningan, sedang bertapa keras dan bermeditasi pada Maheśvara. Para dewa memohon Śiva memulihkan Piṅgala agar layak menerima persembahan; Śiva menganugerahi karunia, menampakkan wujud laksana Āditya, dan menyingkirkan penyakitnya hingga tubuhnya pulih kembali. Piṅgala memohon agar Śiva tetap bersemayam demi kesejahteraan makhluk—menenteramkan penyakit, memusnahkan dosa, dan menambah kebajikan. Śiva lalu memerintahkan para dewa menggali Devakhāta di sebelah utara-Nya dan menuangkan air tīrtha yang terkumpul ke sana; air itu menjadi pemurni universal dan penghancur penyakit. Bab ini merinci laku ritual: mandi pada hari Minggu, mandi dengan air Narmadā, melakukan śrāddha dan dāna, serta pemujaan Piṅgeśa, dengan janji kediaman surgawi; juga disebutkan faedah penebusan dan terapi bagi demam, gangguan kulit, dan penyakit mirip kusta, termasuk tata cara lebih panjang berupa mandi berulang tiap Minggu dan memberi bejana wijen kepada seorang dvija. Penutupnya menegaskan keunggulan mandi di Devakhāta dan menyatakan bahwa memuja Piṅgaleśvara setelah persembahan leluhur memberi pahala setara yajña soma agung seperti Aśvamedha dan Vājapeya.

34 verses

Adhyaya 177

Adhyaya 177

Bhūtīśvara-tīrtha Māhātmya and the Taxonomy of Purificatory Snānas (भूतीश्वरतीर्थमाहात्म्यं स्नानविधिवर्गीकरणं च)

Bab ini berbentuk dialog ajaran: Mārkaṇḍeya menasihati Yudhiṣṭhira tentang kemuliaan Tīrtha Bhūtīśvara. Disebutkan bahwa sekadar darśana (melihat dengan hormat) sudah mengurangi pāpa; dan nama tempat itu dikaitkan dengan Śiva (Śūlin) yang melakukan uddhūlana, yakni melumuri diri dengan bhasma (abu suci), di sana. Mandi suci di Bhūtīśvara—terutama pada kesempatan kelahiran yang terkait nakṣatra Puṣya dan pada amāvāsyā—dinyatakan membawa manfaat luas bagi peningkatan leluhur. Selanjutnya diuraikan rangkaian phala bagi aṅga-guṇṭhana/ pemakaian bhasma: setiap butir abu yang melekat pada tubuh berpadanan dengan kehormatan yang panjang di alam Śiva. Bhasma-snāna ditinggikan sebagai penyucian yang utama, lalu diperkenalkan klasifikasi bertingkat snāna: āgneya, vāruṇa, brāhmya, vāyavya, dan divya. Āgneya adalah mandi abu suci; vāruṇa ialah berendam dalam air; brāhmya dilakukan dengan mantra “Āpo hi ṣṭhā”; vāyavya memakai debu sapi; dan divya ialah mandi saat memandang matahari, disamakan pahalanya dengan mandi air Gaṅgā. Penutupnya menyatukan laku lahir dan disiplin batin: snāna dan pemujaan Īśāna memberi kemurnian luar-dalam; japa menyucikan dosa; dhyāna menuntun menuju Yang Tak Terbatas. Sebuah stotra kepada Śiva merangkum pujian teologi yang melampaui rupa, dan buah mandi di tīrtha ini disetarakan dengan pahala Aśvamedha-yajña.

19 verses

Adhyaya 178

Adhyaya 178

Gaṅgāvāhaka-tīrtha Māhātmya (The Glory of the Gaṅgāvāhaka Ford)

Markandeya mengarahkan perhatian pada tirtha agung bernama Gaṅgāvāhaka di sungai Narmadā/Revā, dekat Bhṛgutīrtha. Bab ini memuat dialog teologis: Dewi Gaṅgā melakukan tapa panjang lalu memohon kepada Viṣṇu (Janārdana/Nārāyaṇa). Ia menuturkan kisah turunnya ke dunia dan kenyataan bahwa banyak orang yang terbebani dosa berat mencari penyucian melalui airnya; karena menanggung akumulasi cela itu, ia merasa seakan “terpanaskan” secara simbolis. Viṣṇu menenangkan Gaṅgā dengan menetapkan tatanan kesucian setempat: Ia menyatakan kehadiran-Nya di sana, dengan Gaṅgādhara sebagai penolong. Gaṅgā diperintahkan memasuki Revā dalam wujud berjasad, sehingga tercipta kesucian air campuran Gaṅgā–Revā. Ditentukan pula sebuah parvan khusus terkait naiknya debit air pada musim hujan dan motif sangkha (kerang suci) Viṣṇu, yang dinyatakan melampaui pertemuan kalender biasa. Ritual yang ditetapkan meliputi mandi suci (snāna) di air campuran, tarpaṇa dan śrāddha di tirtha, pemujaan Bāla-Keśava, serta berjaga pada malam hari. Buahnya: gugurnya timbunan dosa, kepuasan leluhur yang berkelanjutan, dan bagi para bhakta yang wafat di tempat itu, perjalanan akhirat yang baik dan tak berbalik lagi.

35 verses

Adhyaya 179

Adhyaya 179

Gautameśvara-tīrtha Māhātmya (गौतमेश्वरतीर्थमाहात्म्य) — Rituals, Offerings, and Phala

Mārkaṇḍeya menasihati Yudhiṣṭhira agar menuju tīrtha Gautameśvara yang termasyhur, pemurni dosa yang dipuji luas. Kewibawaannya bersumber dari tapa panjang Ṛṣi Gautama; Maheśvara berkenan lalu bersemayam dan dipratishtha di sana, sehingga dikenal sebagai Gautameśvara. Dikisahkan para dewa, gandharva, para ṛṣi, serta dewa-dewi terkait pitṛ memperoleh keberhasilan luhur dengan memuja Parameśvara di tempat ini. Selanjutnya diajarkan laku: mandi suci di tīrtha, pemujaan kepada pitṛ-devatā, dan Śiva-pūjā sebagai jalan lepas dari pāpa. Banyak orang tidak menyadari kemuliaannya karena terkelabui Viṣṇu-māyā, namun Śiva tetap hadir di sana. Disiplin khusus ditegaskan: brahmacarya disertai snāna dan arcana memberi pahala setara aśvamedha; dāna kepada seorang dvijātiya dinyatakan berbuah tak habis. Ritus kalender pun disebut: pada Aśvayuja kṛṣṇa caturdaśī dianjurkan memberi seratus pelita; pada Kārttika aṣṭamī dan caturdaśī berpuasa serta melakukan abhiṣeka dengan ghee, pañcagavya, madu, dadih, atau air sejuk. Persembahan bunga dan daun—terutama bilva yang utuh—dipuji. Pemujaan terus-menerus selama enam bulan dikatakan menggenapi keinginan dan berujung pada pencapaian alam Śiva.

17 verses

Adhyaya 180

Adhyaya 180

Daśāśvamedhika Tīrtha Māhātmya (दशाश्वमेधिकतीर्थमाहात्म्यम्) — Merit of Ten Aśvamedhas through Narmadā Worship

Bab ini berbentuk tanya-jawab antara raja dan resi tentang dharma. Mārkaṇḍeya menunjukkan Daśāśvamedhika tīrtha di tepi Narmadā: dengan tapa-brata dan tata cara yang tertib, pemuja memperoleh pahala setara sepuluh Aśvamedha. Yudhiṣṭhira mengajukan keberatan: Aśvamedha sangat mahal dan sulit dijangkau orang kebanyakan; bagaimana buahnya bisa diraih oleh para pelaku biasa? Mārkaṇḍeya lalu menyampaikan kisah teladan. Śiva bersama Pārvatī mendatangi tīrtha itu; Śiva menyamar sebagai brāhmaṇa-pertapa yang lapar untuk menguji sikap sosial dan kesalehan ritual. Banyak orang menolak atau tidak menangkap maksud Purāṇa, tetapi seorang brāhmaṇa berilmu, berpegang pada kesaksian veda–smṛti–purāṇa, melaksanakan snāna, japa, śrāddha, dāna, serta persembahan kapilā, dan menjamu Śiva yang menyamar sesuai dharma tamu. Śiva berkenan memberi anugerah; sang brāhmaṇa memohon agar Śiva senantiasa hadir di tīrtha itu, meneguhkan kewibawaan sucinya. Selanjutnya dipaparkan tata laksana pada Āśvina śukla daśamī: berpuasa, memuja Śiva sebagai Tripurāntaka, menghormati kehadiran Sarasvatī di tīrtha, pradakṣiṇā, menghadiahkan sapi, berjaga malam dengan pelita, pembacaan dan musik bhakti, serta memberi makan brāhmaṇa dan para pemuja Śiva. Buahnya meliputi penyucian, pencapaian Rudraloka, kelahiran yang baik, dan berbagai tujuan pascakematian bagi yang wafat di sana—semuanya bergantung pada āstikya (iman yang meneguhkan) dan pelaksanaan yang benar.

81 verses

Adhyaya 181

Adhyaya 181

Bhṛgutīrtha–Vṛṣakhāta Māhātmya (भृगुतीर्थ–वृषखात माहात्म्य)

Bab ini disajikan sebagai dialog. Menjawab pertanyaan Yudhiṣṭhira, Mārkaṇḍeya menjelaskan sebuah tīrtha termasyhur di tepi Narmadā, nama tempatnya “Vṛṣakhāta”, serta kehadiran Bhagavān Ṛṣi Bhṛgu di Bhṛgukaccha. Ia menuturkan tapa yang amat berat dari Bhṛgu dan menghadirkan peristiwa ilahi ketika Śiva dan Umā mengamati sang resi. Umā bertanya mengapa anugerah belum diberikan; Śiva mengajarkan bahwa amarah merusak tapas dan menghalangi pencapaian rohani. Untuk memperlihatkan ajaran itu, Śiva memanifestasikan/mengutus seorang agen berwujud banteng (vṛṣa) guna memancing Bhṛgu. Banteng itu melempar Bhṛgu ke Narmadā, sehingga Bhṛgu bangkit dalam amarah besar dan mengejarnya. Vṛṣa yang dikejar melintasi wilayah kosmis—benua-benua, alam bawah, hingga alam-alam luhur—menunjukkan luasnya akibat dari murka yang tak terkendali. Akhirnya vṛṣa berlindung pada Śiva; Umā memohon agar anugerah diberikan sebelum amarah sang resi mereda. Śiva menetapkan tempat itu sebagai “krodha-sthāna”, lokasi yang ditandai oleh peristiwa amarah. Lalu Bhṛgu melantunkan stotra panjang, termasuk kidung bernama “Karuṇābhyudaya”, dan Śiva menganugerahkan berbagai vara. Bhṛgu memohon agar tempat itu menjadi siddhi-kṣetra atas namanya dan agar kehadiran ilahi bersemayam di sana; kisah ditutup dengan musyawarah Bhṛgu bersama Śrī (Lakṣmī) tentang peneguhan tempat yang membawa keberkahan, menanamkan identitas tīrtha dalam laku bhakti dan teologi pembentukan tempat suci.

65 verses

Adhyaya 182

Adhyaya 182

Bhṛgukaccha-utpattiḥ and Koṭitīrtha Māhātmya (भृगुकच्छोत्पत्तिः / कोटितीर्थमाहात्म्यम्)

Adhyaya 182 menuturkan asal-usul Bhṛgukaccha di tepi utara Sungai Revā melalui kisah Mārkaṇḍeya. Bhṛgu Ṛṣi, bersama Śrī (Lakṣmī/Ramā), mendatangi Kūrma-avatāra (kura-kura ilahi) dan memohon izin mendirikan permukiman berlandaskan cāturvidyā; Kūrma mengabulkan serta menubuatkan kota yang akan bertahan lama dan menyandang namanya. Teks lalu menandai kṣetra itu dengan ketepatan waktu (bulan Māgha, tithi-nakṣatra yang mujur), ciri topografi (tepi utara, perairan dalam), kaitan dengan Koṭitīrtha, serta tatanan peran varṇa dalam permukiman baru. Konflik muncul ketika Lakṣmī pergi ke devaloka dan menitipkan kunci-gembok (kūñcikā-ṭṭāla) kepada Bhṛgu; sepulangnya, kepemilikan diperselisihkan. Para brāhmaṇa yang diminta mengadili diam karena takut murka Bhṛgu, lalu mengusulkan aturan: pihak yang memegang kunci dianggap berhak. Lakṣmī pun mengutuk para dvija—agar ilmu, kestabilan, dan kejernihan etika merosot—seraya menuding keserakahan dan ditinggalkannya kebenaran. Bhṛgu yang gelisah memuja Śaṅkara; Śiva menafsirkan tempat itu sebagai ‘krodha-sthāna’, namun menjanjikan bahwa berkat anugerah-Nya para brāhmaṇa kelak tetap berilmu, dan mengangkatnya sebagai Koṭitīrtha yang memusnahkan dosa. Śiva kemudian menyatakan pahala: mandi suci dan pūjā setara buah yajña agung; tarpaṇa menyejahterakan leluhur; abhiṣeka dengan susu, dadih, ghee, dan madu memberi kediaman surgawi; sedekah dan laku pada peristiwa langit seperti gerhana dipuji; nazar, pelepasan, bahkan wafat di kṣetra itu dikaitkan dengan akhir yang mulia. Śiva menyatakan bersemayam di sana bersama Ambikā (Saubhāgya-sundarī), sementara Bhṛgu akhirnya menuju Brahmaloka. Penutup menegaskan daya penyucian kisah ini dan phalaśruti bagi para pendengar.

66 verses

Adhyaya 183

Adhyaya 183

Kedāra-tīrtha Māhātmya on the Northern Bank of the Narmadā (केदारतीर्थमाहात्म्य)

Bab 183 disusun sebagai dialog. Mārkaṇḍeya menasihati Yudhiṣṭhira tentang tata ziarah ke tīrtha bernama Kedāra: pergi ke tempat Kedāra, melaksanakan śrāddha, meminum air tīrtha, dan memuja Tuhan, Devadeveśa; dengan demikian diperoleh pahala suci yang lahir dari Kedāra. Lalu Yudhiṣṭhira memohon penjelasan rinci bagaimana Kedāra ditegakkan di tepi utara Sungai Narmadā. Mārkaṇḍeya mengisahkan asal-usulnya: pada awal Kṛtayuga, karena kutuk yang terkait Padmā/Śrī, wilayah Bhṛgu menjadi najis dan “kehilangan Weda”. Bhṛgu bertapa berat selama seribu tahun; kemudian Śiva menampakkan diri sebagai liṅga yang muncul menembus lapisan alam bawah. Bhṛgu memuji Śiva sebagai Sthāṇu dan Tryambaka, lalu memohon pemulihan kesucian kṣetra. Śiva menetapkan sebuah ‘ādi-liṅga’ bernama Kedāra, disusul sepuluh liṅga lainnya; di pusatnya ada kehadiran kesebelas yang tak terlihat, yang menyucikan seluruh medan suci. Di sana juga bersemayam dua belas Āditya, delapan belas Durgā, enam belas Kṣetrapāla, serta para Ibu (Mātṛ) yang terkait Vīrabhadra, membentuk jaringan pelindung yang sakral. Pada penutup disebutkan buah kebajikan: mandi pagi dengan disiplin pada bulan Nāgha, memuja Kedāra, dan melakukan śrāddha dengan benar di tīrtha akan memuaskan para leluhur, menghapus dosa, melenyapkan duka, dan membawa keberkahan.

18 verses

Adhyaya 184

Adhyaya 184

धौतपापतीर्थमाहात्म्यम् (Māhātmya of the Dhoutapāpa Tīrtha)

Bab ini memaparkan tīrtha-māhātmya Dhoutapāpa (Vidhoutapāpa) yang berada dekat Bhṛgu-tīrtha di tepi utara Sungai Narmadā. Mārkaṇḍeya menjelaskan bahwa tempat ini termasyhur karena mampu “mencuci” dosa, dan bahwa Śiva senantiasa bersemayam di sana untuk menghormati Ṛṣi Bhṛgu. Mandi suci di tīrtha ini membebaskan dari dosa bahkan bila niatnya kurang sempurna; namun bila dilakukan menurut tata cara—mandi ritual, pemujaan kepada Śiva, serta persembahan dan tarpaṇa bagi para deva dan pitṛ—maka penyucian menjadi menyeluruh. Yudhiṣṭhira bertanya bagaimana brahmahatyā, noda paling berat, tidak dapat memasuki atau dapat dihancurkan di sana. Mārkaṇḍeya menjawab dengan legenda kosmogonis: setelah memenggal satu kepala Brahmā, Śiva terkena brahmahatyā; noda itu mengikuti-Nya sampai Dharma yang menjelma sebagai lembu (vṛṣa) mengguncang dan menyingkirkannya, lalu Dewi Dhauteśvarī ditegakkan sebagai kekuatan pemusnah brahmahatyā. Brahmahatyā dipersonifikasikan sebagai sosok menakutkan yang menjauh dari tīrtha tersebut. Bab ini juga menetapkan waktu laku: Āśvayuja śukla navamī, dengan rentang tiga hari sejak saptamī; disertai puasa, pembacaan Weda (Ṛg/Yajus/Sāman), dan japa Gāyatrī sebagai disiplin penebusan. Phalaśruti menyatakan pembebasan dari pelanggaran berat, anugerah terkait keturunan, serta kenaikan ke alam luhur setelah wafat; bahkan disebutkan bahwa wafat dengan kehendak sendiri di tempat itu menghasilkan pencapaian surgawi, sebagai ajaran dalam teologi tīrtha teks ini.

32 verses

Adhyaya 185

Adhyaya 185

Ēraṇḍī-tīrtha Māhātmya (एरण्डीतीर्थमाहात्म्य) — Ritual Bathing, Upavāsa, and Tarpaṇa on Āśvayuja Śukla Caturdaśī

Dalam adhyāya ini, Śrī Mārkaṇḍeya menyampaikan petunjuk teologis-ritual secara ringkas. Ia menasihati sang raja (mahīpāla) agar pergi ke Ēraṇḍī-tīrtha yang mulia dan mandi suci di sana; bahkan mandi semata di tempat itu disebut mampu menghapus dosa besar dan menyingkirkan cela yang berat. Selanjutnya ditetapkan laku pada waktu tertentu: pada bulan Āśvayuja, hari keempat belas (caturdaśī) paruh terang (śukla-pakṣa), hendaknya berpuasa (upavāsa), mandi dengan disiplin dan kesucian niat, lalu melakukan tarpaṇa bagi para leluhur (pitṛ) dan para dewa. Buahnya disebut berlapis: memperoleh putra yang makmur dan elok, umur panjang, serta setelah wafat mencapai Śivaloka; dan ditegaskan agar tidak meragukan hasil ini.

4 verses

Adhyaya 186

Adhyaya 186

Garuḍa-tapas, Mahādeva-varadāna, and Cāmuṇḍā–Kanakeśvarī-stuti at a Tīrtha

Markandeya menuturkan kisah yang berpusat pada sebuah tīrtha. Di tempat suci yang utama, Garuḍa menjalani tapa dan pemujaan yang berat kepada Maheśvara; Śiva pun menampakkan diri dan terjadilah dialog anugerah. Garuḍa memohon dua karunia langka: menjadi wahana Viṣṇu dan memperoleh “indratva/dvijendratva” yakni kepemimpinan tertinggi di antara para burung. Śiva mengingatkan tatanan kosmis—Nārāyaṇa sebagai penopang segala sesuatu dan keunikan kedudukan Indra—namun tetap menganugerahkan pemenuhan yang layak: Garuḍa akan menjadi pembawa Tuhan bersenjata śaṅkha-cakra-gadā dan menjadi pemimpin para burung. Setelah Śiva lenyap, Garuḍa menenangkan Devī Cāmuṇḍā yang dahsyat—digambarkan dengan ikonografi kremasi dan kaitan para yoginī—seraya mempersembahkan stuti panjang. Pujian itu juga menampakkan beliau sebagai Kanakeśvarī, Dewi pelindung yang bercahaya, Parāśakti yang bekerja dalam penciptaan, pemeliharaan, dan peleburan. Cāmuṇḍā menganugerahi Garuḍa ketakterlukkan, kemenangan atas sura dan asura, serta berkenan tinggal dekat tīrtha. Penutupnya menjelaskan tīrtha-phala: mandi suci dan pemujaan memberi pahala setara yajña, keberhasilan yoga, dan tujuan akhir yang mujur ditemani rombongan yoginī.

41 verses

Adhyaya 187

Adhyaya 187

कालाग्निरुद्र-स्वयम्भू-लिङ्गमाहात्म्य (Kālāgnirudra Svayambhū Liṅga Māhātmya)

Adhyaya ini disampaikan sebagai ajaran Resi Mārkaṇḍeya kepada seorang raja tentang urutan ziarah suci serta makna teologis sebuah liṅga termasyhur. Sang peziarah diarahkan menuju Jāleśvara di Bhṛgukaccha, yang dikenali sebagai liṅga svayambhū (menampakkan diri sendiri) yang sangat kuno, terkenal dengan nama Kālāgnirudra. Tempat suci ini dipuji sebagai pusat pemulihan rohani: menenteramkan dosa dan meluruhkan derita, hadir karena welas asih untuk melenyapkan ‘kṣetra-pāpa’ (kenajisan yang melekat pada suatu wilayah). Kisah latarnya menempatkan kemunculannya pada kalpa terdahulu ketika para asura menguasai tiga dunia dan upacara Weda serta dharma merosot. Dari Kālāgnirudra timbul asap purba (dhūma), dan dari asap itu liṅga termanifestasi, menembus tujuh alam bawah lalu tegak dengan sebuah lubang/cekungan menghadap selatan. Disebut pula sarana ritual air di sekitarnya: sebuah kuṇḍa yang lahir dari nyala api terkait pembakaran sebuah kota (pura) oleh Śiva, serta formasi berpusar seperti pusaran air bernama dhūmāvarta. Amalan yang dianjurkan meliputi mandi suci di tīrtha dan di air Narmadā, melaksanakan śrāddha bagi leluhur, memuja Trilocana (Śiva), serta melafalkan nama-nama Kālāgnirudra—yang berujung pada janji ‘paramā gati’ (tujuan tertinggi). Adhyaya ini juga menyatakan daya guna tīrtha: upacara berlandas niat, tindakan penolak bala/abhicāra, tujuan melemahkan musuh, dan maksud terkait garis keturunan dikatakan cepat berhasil di sini, sebagai penegasan kemuliaan tempat suci.

10 verses

Adhyaya 188

Adhyaya 188

Śālagrāma-tīrtha Māhātmya (शालग्रामतीर्थमाहात्म्य) — Observances on the Revā/Narmadā Bank

Markandeya menasihati sang raja agar berangkat ke tirtha suci bernama Śālagrāma di tepi Revā/Narmadā. Tempat ini dipuja oleh semua dewa, dan di sana Bhagavān Vāsudeva—dikenal sebagai Trivikrama dan Janārdana—bersemayam demi kesejahteraan makhluk. Kesuciannya dikaitkan dengan teladan para pertapa serta penetapan ruang laku ritual bagi para dvija dan para pencari. Ketika Ekādaśī paruh terang bulan Mārgaśīrṣa tiba, hendaknya mandi di Revā, berpuasa, berjaga pada malam hari sambil memuja Janārdana. Keesokan paginya, pada Dvādaśī, mandi kembali, mempersembahkan tarpaṇa bagi para dewa dan leluhur, lalu menuntaskan śrāddha dengan tata cara yang benar. Brāhmaṇa dihormati sesuai kemampuan dengan dana emas, kain, dan makanan; memohon ampun, serta berbhakti kepada Tuhan dengan sebutan seperti khaga-dhvaja. Buah ajarannya: lenyapnya duka, terbebas dari dosa-dosa berat termasuk brahmahatyā, dan tercapainya keadaan yang mengarah pada mokṣa melalui darśana Śālagrāma berulang serta ingatan kepada Nārāyaṇa. Para pelepas dunia yang tekun dalam disiplin kontemplatif pun dikatakan meraih kedudukan tertinggi Murāri di sana.

14 verses

Adhyaya 189

Adhyaya 189

पञ्चवराहदर्शन-व्रत-फलश्रुति (Vision of the Five Varāhas: Vrata Procedure and Promised Fruits)

Mārkaṇḍeya menuntun Yudhiṣṭhira menuju sebuah tīrtha yang “parama-śobhana”, tempat Varāha—Viṣṇu—dikenang sebagai dharaṇīdhara, pengangkat Bumi. Dalam kisah kosmogoni yang tersisip, Hari berbaring dalam yoganidrā di atas Śeṣa di Samudra Susu; ketika para dewa gelisah karena Bumi tenggelam oleh beban, mereka memohon agar keseimbangan kosmos dipulihkan. Viṣṇu lalu menjelma sebagai Varāha yang bertaring dahsyat dan mengangkat Bumi di ujung taring-Nya, menegakkan kembali kestabilan dunia. Bab ini kemudian menyebut lima perwujudan Varāha di tepi utara Sungai Narmadā, pada lokasi-lokasi yang dinamai dalam teks; puncaknya adalah wujud kelima, Udīrṇa-Varāha, yang dikaitkan dengan Bhṛgukaccha. Selanjutnya dipaparkan tata laku vrata: pada bulan Jyeṣṭha, paruh terang, terutama hari Ekādaśī, peziarah menjalani hāviṣya (pantang makan tertentu), berjaga malam, mandi sungai, mempersembahkan tarpaṇa bagi leluhur dan dewa dengan wijen serta jelai, dan memberi dāna bertingkat—sapi, kuda, emas, tanah—kepada brāhmaṇa yang layak, sambil bersembahyang di tiap simpul Varāha. Phalaśruti menegaskan bahwa darśana serentak atas lima Varāha, disertai ritus Narmadā dan ingatan kepada Nārāyaṇa, melenyapkan bahkan dosa besar dan menganugerahkan mokṣa; sebuah otoritas Śaṅkara menambahkan bahwa darśana tepat waktu di Loṭāṇeśvara membebaskan dari keterikatan pada tubuh.

43 verses

Adhyaya 190

Adhyaya 190

चन्द्रहास-समतीर्थमाहात्म्य (Chandra-hāsa & Somatīrtha Māhātmya)

Bab ini berbentuk dialog. Yudhiṣṭhira bertanya kepada Ṛṣi Mārkaṇḍeya bagaimana Soma (dewa/raja bulan) memperoleh siddhi tertinggi di Somatīrtha, yang juga disebut Candra-hāsa, tempat suci yang dihormati para dewa. Mārkaṇḍeya menuturkan kisah asal-usulnya: Soma dikutuk Dakṣa menderita penyakit susut (kṣaya-roga) karena mengabaikan dharma rumah tangga dan kewajiban suami-istri; dari sini dijelaskan tuntunan etika kewajiban grihastha beserta akibat karmanya. Selanjutnya dipaparkan tata cara ziarah. Soma mengembara ke banyak tīrtha, mencapai tepi Narmadā, lalu selama dua belas tahun menjalani tapa: puasa, dana, vrata, disiplin, dan pengendalian diri, hingga terbebas dari derita. Ia menegakkan (pratiṣṭhā) Mahādeva (Śiva) sebagai penghapus dosa besar dan kembali ke alam mulia; bab ini menegaskan bahwa penetapan dan pemujaan dewa melahirkan pahala yang langgeng. Di akhir, diberikan aturan mandi suci dan pemujaan di Candra-hāsa/Somatīrtha—pada tithi bulan, hari Senin, dan saat gerhana—dengan buah berupa penyucian, kesejahteraan, kesehatan, dan pelepasan dari cela.

34 verses

Adhyaya 191

Adhyaya 191

सिद्धेश्वर-लिङ्गमाहात्म्यं तथा द्वादशादित्य-तपःफल-प्रशंसा (Siddheśvara Liṅga Māhātmya and the Merit of the Twelve Ādityas’ Austerity)

Bab ini dibuka dengan wejangan Mārkaṇḍeya yang menuntun peziarah menuju Siddheśvara, serta menyebut liṅga svāyambhuva di dekatnya yang ‘amṛta-srāvin’ (mengalirkan nektar); darśana seketika di sana dipuji sebagai pemberi pahala suci yang besar. Yudhiṣṭhira lalu bertanya bagaimana para dewa meraih siddhi di Siddheśvara, terutama terkait sebutan ‘dua belas Āditya’. Mārkaṇḍeya menyebut Dvādaśa Āditya—Indra, Dhātā, Bhaga, Tvaṣṭā, Mitra, Varuṇa, Aryaman, Vivasvān, Savitṛ, Pūṣan, Aṃśumān, dan Viṣṇu—seraya menjelaskan bahwa demi menggapai kedudukan surya mereka bertapa dengan sangat keras di tepi Narmadā, di Siddheśvara. Keberhasilan tapa itu ditandai dengan ditegakkannya Divākara di tīrtha tersebut melalui pembagian ‘aṃśa’ (bagian) kekuatan surya, sehingga tempat itu termasyhur. Uraian kemudian mengaitkan para Āditya dengan tugas kosmis pada masa pralaya serta penempatan daya-daya surya menurut arah (dik-vyavasthā). Pada penutup, diajarkan etika ziarah dan phala: mandi pagi lalu darśana Dvādaśāditya melenyapkan dosa ucapan, pikiran, dan perbuatan; pradakṣiṇā disamakan dengan mengelilingi bumi; puasa pada saptamī di tīrtha ini memberi hasil istimewa; dan pradakṣiṇā berulang membawa bebas penyakit, kesehatan, kemakmuran, serta anugerah keturunan bagi bhakti yang disiplin.

25 verses

Adhyaya 192

Adhyaya 192

देवतीर्थ-दर्शनम्, नरनारायण-तपः, उर्वश्युत्पत्तिः (Devatīrtha, the Nara–Nārāyaṇa Austerity, and the Origin of Urvaśī)

Bab 192 dibuka ketika Mārkaṇḍeya menunjukkan Devatīrtha yang amat mulia; darśana (melihat dengan hormat) tempat suci itu dikatakan melenyapkan dosa. Dalam konteks itu Yudhiṣṭhira bertanya, “Siapakah Śrīpati, dan bagaimana Keśava berhubungan dengan garis Bhṛgu?” Mārkaṇḍeya menjawab singkat dalam bingkai kosmogoni-silsilah: dari Nārāyaṇa lahir Brahmā; lalu muncul Dakṣa dan kemudian Dharma. Disebutkan sepuluh istri Dharma, dan dari mereka para Sādhya melahirkan putra-putra yang dikenal sebagai Nara, Nārāyaṇa, Hari, dan Kṛṣṇa—dipaparkan sebagai aṁśa (bagian) Viṣṇu. Nara dan Nārāyaṇa lalu menjalankan tapas yang sangat berat di Gandhamādana hingga mengguncang jagat. Indra, cemas oleh kekuatan tapa mereka, mengutus para apsarā bersama Kāma dan Vasantā untuk mengalihkan perhatian lewat tari, musik, kecantikan, dan godaan indria. Upaya itu gagal; kedua resi tetap teguh, diibaratkan pelita tanpa angin dan samudra yang tak terusik. Kemudian Nārāyaṇa memanifestasikan seorang perempuan tiada banding dari pahanya—Urvaśī—yang melampaui kecantikan para apsarā. Para utusan surga memuji Nara–Nārāyaṇa. Nārāyaṇa menyampaikan ajaran: Sang Diri Tertinggi meresapi semua makhluk; karena itu rāga–dveṣa (lekat–benci) dan nafsu pemecah-belah tak mendapat tempat bagi yang teguh dalam kebijaksanaan. Ia memerintahkan agar Urvaśī dibawa kepada Indra, serta menegaskan bahwa tapas mereka bukan untuk kenikmatan atau persaingan dengan para dewa, melainkan untuk menunjukkan jalan yang benar dan melindungi dunia.

96 verses

Adhyaya 193

Adhyaya 193

नारायणस्य विश्वरूपदर्शनम् (Nārāyaṇa’s Vision of the Cosmic Form)

Bab ini disampaikan dalam bingkai tutur Śrī Mārkaṇḍeya sebagai wejangan teologis. Para apsaras—terutama Vasantakāmā dan Urvaśī—berulang kali bersujud memohon kepada Nārāyaṇa agar berkenan memberi darśana langsung atas wujud kosmis-Nya, seraya menyatakan bahwa ajaran sebelumnya telah menjernihkan doktrin yang mereka cari. Nārāyaṇa mengabulkan permohonan itu dengan menyingkapkan bahwa seluruh dunia dan semua makhluk berada di dalam tubuh-Nya; tampaklah Brahmā, Indra, para Rudra, Āditya, Vasu, golongan yakṣa-gandharva-siddha, manusia, hewan, tumbuhan, sungai, gunung, samudra, pulau-pulau, hingga lingkup langit. Para apsaras kemudian melantunkan pujian panjang, menyebut Nārāyaṇa sebagai landasan unsur-unsur dan indria, satu-satunya Yang mengetahui dan menyaksikan, serta sumber tempat semua makhluk turut hadir sebagai bagian-bagian (aṁśa). Terguncang oleh kedahsyatan penglihatan itu, mereka memohon agar wujud kosmis ditarik kembali. Nārāyaṇa pun menyerap kembali manifestasi tersebut, menegaskan bahwa semua makhluk adalah bagian-Nya dan mengajarkan samatā—pandangan setara terhadap dewa, manusia, dan hewan. Penutupnya, melalui suara Mārkaṇḍeya kepada seorang raja, ditegaskan bahwa meditasi pada Keśava yang hadir dalam semua makhluk menuntun pada pembebasan; ketika dunia dipahami sebagai tersusun oleh Vāsudeva, permusuhan dan rasa memecah-belah pun melemah.

72 verses

Adhyaya 194

Adhyaya 194

मूलश्रीपतिवैश्वानरूपदर्शनम् तथा नारायणगिरि-देवतीर्थ-प्रादुर्भावः (Vision of the Vaiśvarūpa, the cult of Mūlaśrīpati, and the arising of Nārāyaṇagiri & Devatīrtha)

Markaṇḍeya menuturkan kepada Yudhiṣṭhira: para dewa terperanjat mendengar pewartaan viśvarūpa (wujud kosmis) Vaiṣṇava, dan semakin takjub ketika Urvaśī menampakkan diri. Śrī (Lakṣmī), yang lahir dari garis Bhṛgu, bertekad memperoleh Nārāyaṇa sebagai suami melalui tapa yang berat, setelah menimbang kaul, derma, disiplin, dan pelayanan. Ia bertapa di tepi samudra selama seribu tahun ilahi. Para dewa, tak mampu menyingkapkan viśvarūpa sendiri, melapor kepada Nārāyaṇa; Viṣṇu mendatangi Śrī, mengabulkan permohonannya, dan memperlihatkan viśvarūpa. Nārāyaṇa mengajarkan tata pemujaan selaras bhakti gaya Pañcarātra: pemujaan harian mendatangkan kemakmuran, kemuliaan, dan kehormatan; brahmacarya disebut sebagai tapa yang mendasar; dan Sang Dewa dipuji dengan sebutan “Mūlaśrīpati”. Mandi di air Revā dengan pengendalian diri dikaitkan dengan tercapainya hasil yang diinginkan, serta melipatgandakan pahala dāna. Śrī memohon peneguhan orientasi dharma bagi āśrama rumah tangga; Nārāyaṇa menetapkan nama tempat “Nārāyaṇagiri” dan menjelaskan bahwa mengingatnya membawa keselamatan. Kemudian diuraikan yajña pernikahan ilahi: Brahmā dan para resi menjadi pemimpin upacara, samudra menghadirkan aneka harta, Kubera menyediakan kekayaan, dan Viśvakarmā membangun kediaman laksana permata. Diceritakan pula pemukiman para Brahmana yang berdisiplin. Pada akhirnya lahir sebuah tīrtha untuk mandi avabhṛtha: dari air kaki Viṣṇu mengalir arus suci bak Jahnavī yang mencapai Revā, disebut Devatīrtha, dipuji amat menyucikan—bahkan melebihi pahala banyak avabhṛtha aśvamedha.

81 verses

Adhyaya 195

Adhyaya 195

Devatīrtha Māhātmya and Ekādaśī–Nīrājana Observances (देवतीर्थमाहात्म्य तथा एकादशी-नीराजनविधानम्)

Adhyaya ini diawali dengan pertanyaan Yudhiṣṭhira tentang nama Devatīrtha, kemuliaannya (māhātmya), serta buah dari mandi suci dan bersedekah di sana. Mārkaṇḍeya menjelaskan bahwa semua tīrtha yang dihormati para dewa dan resi dipersatukan di Devatīrtha melalui perenungan Viṣṇu; karena itu Devatīrtha ditegaskan sebagai pusat ziarah Vaiṣṇava yang tiada banding, dan mandi di sana setara dengan mandi di seluruh tīrtha. Disebut pula bahwa amalan pada waktu grahaṇa (gerhana) berbuah “ananta”; berbagai dāna—emas, tanah, sapi, dan lainnya—diuraikan nilainya menurut keterkaitan dewa, hingga ditegaskan bahwa setiap pemberian yang dilakukan dengan śraddhā di Devatīrtha menjadi berbuah tak habis-habis. Selanjutnya dipaparkan tata-bhakti berpusat pada Ekādaśī: mandi (termasuk dengan air Narmadā), berpuasa, memuja Śrīpati, berjaga semalam, serta nīrājana dengan pelita ghee. Pada pagi Dvādaśī diperintahkan menghormati brāhmaṇa dan pasangan suami-istri dengan pakaian, perhiasan, sirih, bunga, dupa, dan wewangian, lalu bersedekah. Bahan-bahan pūjā seperti olahan susu, air tīrtha, kain halus, harum-haruman, naivedya, dan lampu juga dijelaskan; pelaku yang tekun disebut naik ke Viṣṇuloka dengan tanda-tanda Vaiṣṇava. Penutup phalaśruti menegaskan nilai pelindung dan kesehatan dari nīrājana harian, pemakaian sisa pelita untuk mata, serta pahala mendengar dan melantunkan māhātmya—termasuk kepuasan leluhur bila dibaca dalam konteks śrāddha.

42 verses

Adhyaya 196

Adhyaya 196

हंसतीर्थमाहात्म्य (Hamsa Tīrtha Māhātmya) — Merit of Bathing, Donation, and Renunciation

Bab 196 memuat petunjuk perjalanan dari Mārkaṇḍeya agar pendengar mendatangi Haṃsatīrtha, yang dipuji sebagai tirtha (tempat suci penyeberangan) yang tiada banding. Kewibawaannya ditegakkan melalui kisah asal-usul: seekor haṃsa (angsa suci) bertapa di sana dan meraih kedudukan sebagai wahana Brahmā (brahma-vāhanatā), sehingga tempat itu dikenal sangat berdaya. Selanjutnya dijelaskan tata laku ritual dan etika: peziarah yang mandi suci di Haṃsatīrtha dan mempersembahkan sedekah emas (kāñcana-dāna) dinyatakan bebas dari segala dosa serta menuju Brahmaloka. Buahnya digambarkan dengan penglihatan surgawi—berkendara dengan vimāna yang ditarik angsa, bercahaya laksana matahari muda, dipenuhi kenikmatan yang diinginkan, dan diiringi kelompok apsaras. Setelah menikmati kesenangan sesuai kehendak, jiwa kembali lahir sebagai manusia dengan jāti-smaraṇa (ingatan kelahiran lampau), menandakan kesinambungan moral antar-kehidupan. Penutupnya bersifat soteriologis: siapa yang melepaskan tubuh melalui saṃnyāsa mencapai mokṣa. Ringkasnya, buah Haṃsatīrtha adalah penghancur dosa, pemberi kebajikan, dan penghapus duka.

7 verses

Adhyaya 197

Adhyaya 197

Mūlasthāna-Sūryatīrtha Māhātmya (Glorification of the Mūlasthāna Solar Tīrtha)

Bab ini memuat uraian Mārkaṇḍeya tentang sebuah Sūryatīrtha agung bernama Mūlasthāna di tepi Sungai Narmadā. Tempat ini disebut ‘akar-situs’ yang suci dan membawa keberuntungan, terkait dengan Padmajā (Brahmā), serta menjadi lokasi penetapan (pratiṣṭhā) Bhāskara, Dewa Matahari. Seorang peziarah yang berdisiplin hendaknya mandi dengan batin terkendali, mempersembahkan tarpaṇa kepada leluhur dan para dewa dengan piṇḍa serta air, lalu menatap dan bersembahyang di kuil Mūlasthāna. Laku khusus ditekankan: bila Śukla Saptamī bertepatan dengan hari Minggu (Ādityavāsara), lakukan mandi di air Revā, tarpaṇa, berdana sesuai kemampuan, membawa bunga karavīra dan air cendana merah, menegakkan/menyembah Bhāskara dengan bhakti, mempersembahkan dupa (terutama dengan bunga kundā), menyalakan pelita ke segala arah, berpuasa, dan berjaga semalam dengan nyanyian serta musik devosi. Buahnya dijanjikan: terhindar dari penderitaan yang berat dan berdiam lama di alam Surya, disertai pelayanan para gandharva dan apsarā.

12 verses

Adhyaya 198

Adhyaya 198

Śūlatīrtha–Śūleśvarī–Śūleśvara Māhātmya (Origin of the Shula Tirtha and the Manifestation of Devī and Śiva)

Markandeya mengarahkan pendengar menuju pertemuan Bhadrakali (Bhadrakālī-saṅgama) yang termasyhur sebagai Śūlatīrtha, tempat suci yang ditetapkan secara ilahi dan senantiasa didatangi para dewa. Dinyatakan bahwa sekadar darśana, terlebih bila disertai snāna dan dāna, mampu meluruhkan kemalangan, pertanda buruk, pengaruh kutukan, serta berbagai noda dosa. Yudhiṣṭhira lalu bertanya bagaimana di tepi Narmadā Dewi dikenal sebagai Śūleśvarī dan Śiva sebagai Śūleśvara. Markandeya menuturkan kisah pertapa brāhmaṇa bernama Māṇḍavya, yang tenggelam dalam tapa berat dan kaul diam. Pertapaannya terusik ketika para pencuri menyembunyikan barang curian di pertapaannya. Para pengawal kerajaan menanyainya, namun sang resi tetap diam; karena itu ia dihukum dengan ditusuk pada śūla. Walau menderita lama, Māṇḍavya bertahan berkat ingatan batin yang teguh kepada Śiva. Śiva menampakkan diri, memotong śūla, dan menjelaskan kematangan buah karma (karmavipāka): ragam suka-duka lahir dari perbuatan lampau, dan menanggungnya dengan sabar tanpa mencela dharma adalah tapa itu sendiri. Māṇḍavya memohon rahasia daya ‘seperti amṛta’ dari śūla dan meminta agar Śiva serta Umā bersemayam pada pangkal dan ujung śūla. Seketika wujud liṅga tampil: Śiva pada dasar, dan citra Dewi di sisi kiri, menegakkan pemujaan setempat Śūleśvara–Śūleśvarī. Dewi kemudian menyebutkan banyak nama-manifestasi-Nya di berbagai tīrtha, memaparkan peta suci rupa-rupa Dewi. Bab ditutup dengan phalāśruti dan tuntunan ritual: pemujaan, persembahan, upacara pitṛ, serta puasa dan berjaga malam diyakini memberi penyucian dan kedekatan dengan Śiva-loka; tirtha ini pun masyhur sebagai Śūleśvarī-tīrtha.

118 verses

Adhyaya 199

Adhyaya 199

Aśvinī Tīrtha Māhātmya (The Glory of the Aśvinī Pilgrimage Ford)

Markandeya melanjutkan uraian daftar tirtha dengan memperkenalkan Aśvinī Tīrtha sebagai tempat ziarah utama. Tirtha ini disebut “kāmika”, yakni berdaya memenuhi niat dan harapan, serta menganugerahkan siddhi kepada makhluk hidup. Di sini, pasangan Aśvin kembar (Nā́satyau), tabib ilahi, menjalankan tapa yang besar sehingga berhak atas bagian persembahan yajña dan memperoleh persetujuan luas dari para dewa. Yudhiṣṭhira lalu menanyakan sebab mereka disebut putra Sang Surya. Markandeya memberi kisah ringkas: seorang permaisuri tak sanggup menahan pancaran Surya yang berlebihan, lalu bertapa keras di wilayah Meru; Surya, digerakkan oleh hasrat, mengambil wujud kuda; pembuahan terjadi melalui jalan hidung, dan lahirlah Nā́satyau yang termasyhur. Kisah kembali ke geografi Narmadā: dekat Bhṛgukaccha di tepi sungai, kedua kembar itu menempuh tapa yang sulit dan meraih pencapaian tertinggi. Pada penutupnya dinyatakan, siapa yang mandi di tirtha ini serta mempersembahkan tarpaṇa kepada leluhur dan para dewa, akan memperoleh keelokan dan keberuntungan di mana pun ia terlahir.

15 verses

Adhyaya 200

Adhyaya 200

Sāvitrī-tīrtha Māhātmya and Sandhyā–Gāyatrī Discipline (सावित्रीतीर्थमाहात्म्यं तथा सन्ध्यागायत्रीविधानम्)

Bab ini disajikan sebagai dialog: Mārkaṇḍeya menunjukkan dan memuji Sāvitrī-tīrtha sebagai tempat suci yang utama, lalu menjawab pertanyaan Yudhiṣṭhira tentang Sāvitrī—jati dirinya sebagai Veda-mātṛ, cara merenungkan wujudnya, serta tata pemujaannya. Sāvitrī dihubungkan dengan citra teratai dan dianjurkan untuk divisualisasikan dalam tiga waktu sandhyā: fajar, tengah hari, dan senja, masing-masing dengan kontemplasi yang berbeda sesuai struktur ritus waktu. Selanjutnya dipaparkan urutan penyucian bagi peziarah: mandi suci dan ācamana, prāṇāyāma untuk membakar kekeliruan yang terkumpul, pemercikan dengan mantra ‘Āpo hi ṣṭhā’, serta penggunaan Aghamarṣaṇa dan mantra-mantra Weda lain untuk menghapus cela. Setelah sandhyā, japa Gāyatrī yang disiplin ditegaskan sebagai praktik inti, dengan janji hasil berupa lenyapnya dosa dan pencapaian alam-alam luhur. Bab ini juga menyebut buah khusus bagi upacara leluhur di tīrtha dan bagi laku akhir hayat di sana, hingga janji keadaan pascakematian yang mulia dan kelahiran kembali yang baik, menegaskan etika ritual yang tertib dan preskriptif.

28 verses

Adhyaya 201

Adhyaya 201

देवतीर्थमाहात्म्यम् | Devatīrtha Māhātmya (Glorification of Devatīrtha)

Bab ini disampaikan sebagai wejangan tirtha oleh Śrī Mārkaṇḍeya kepada raja Mahīpāla, dengan Yudhiṣṭhira disebut sebagai teladan raja yang menegakkan dharma. Sang resi mengarahkan peziarah menuju Devatīrtha yang “tiada banding”, tempat para siddha dan para dewa—beserta Indra—bersemayam. Di sana, praktik-praktik utama seperti snāna (mandi suci), dāna, japa, homa, svādhyāya, dan pemujaan dewa (devatā-arcana) dinyatakan menghasilkan buah “ananta”, tak terbatas, karena daya suci tirtha itu sendiri. Ditegaskan pula penanggalan khusus: tithi Trayodaśī pada Kṛṣṇa-pakṣa di bulan Bhādrapada dianggap paling utama, sebab dahulu kala para dewa “mendiami” hari itu. Rangkaian laku ditutup dengan mandi pada Trayodaśī, melaksanakan śrāddha sesuai aturan, lalu memuja dewa yang ditegakkan para dewa, yakni Vṛṣabhadhvaja (Śiva). Buahnya adalah penyucian dari segala dosa dan pencapaian Rudra-loka, sebagai jaminan keselamatan rohani bagi peziarah.

5 verses

Adhyaya 202

Adhyaya 202

Śikhitīrtha-māhātmya (The Glory of Śikhitīrtha) / शिखितीर्थमाहात्म्य

Markandeya menjelaskan kemuliaan Śikhitīrtha, sebuah tempat ziarah utama yang disebut sebagai tīrtha terkemuka dan lingkungan pemujaan ‘pañcāyatana’ yang unggul. Di sana Havyavāhana (Agni) bertapa untuk memperoleh ‘śikhā’ (jambul/nyala), lalu dikenal sebagai ‘Śikhī’, dan menegakkan kehadiran Śiva bernama Śikhā-ākhya, yakni Śiva dengan sebutan yang terkait ‘śikhā’. Pada waktu bulan tertentu di Āśvayuja, peziarah hendaknya datang ke tīrtha, mandi di perairan Narmadā, mempersembahkan tarpaṇa kepada para dewa, resi, dan leluhur dengan air bercampur wijen, memberi sedekah emas kepada seorang brāhmaṇa, serta menghormati dan memuaskan api suci. Upacara ditutup dengan pūjā kepada Śiva memakai wewangian, rangkaian bunga, dan dupa; buahnya ialah mencapai alam Rudra dengan wahana udara berwarna seperti matahari, ditemani apsara dan dipuji gandharva, serta memperoleh manfaat duniawi berupa lenyapnya musuh dan bertambahnya tejas (cahaya wibawa).

8 verses

Adhyaya 203

Adhyaya 203

कोटितीर्थमाहात्म्य (Koṭitīrtha Māhātmya) — Ritual Efficacy of the Koṭitīrtha

Mārkaṇḍeya menggambarkan Koṭitīrtha sebagai tirtha yang “tiada banding”, dipenuhi kehadiran para siddha dan dikelilingi banyak maharsi, sehingga menjadi kṣetra yang amat suci. Setelah tapa yang panjang, para resi menegakkan dan mempratiṣṭhā-kan Śiva di sana; bersamaan itu Devī ditegakkan sebagai Koṭīśvarī dan Cāmuṇḍā (Mahīṣārdinī), menandai kesucian terpadu Śaiva-Śākta. Ditetapkan pula waktu ritual yang khusus: pada caturdaśī kṛṣṇa-pakṣa bulan Bhādrapada, ketika bertepatan dengan nakṣatra Hasta, tirtha ini disebut pemusnah dosa bagi semua. Mandi suci di tirtha, persembahan tilodaka, dan pelaksanaan śrāddha dinyatakan memberi buah besar—menenteramkan para leluhur serta mengangkat sejumlah orang dengan cepat dari naraka. Pada akhirnya diajarkan prinsip penggandaan pahala: karena kemuliaan tirtha ini, snāna, dāna, japa, homa, svādhyāya, dan arcana kepada dewa menjadi “koṭi-guṇa”, berbuah berlipat sejuta-juta; demikian ditegaskan daya guna ibadah yang diperkuat oleh kesucian tempat.

7 verses

Adhyaya 204

Adhyaya 204

Paitāmaha Tīrtha (Bhṛgu Tīrtha) Māhātmya — ब्रह्मशाप-शमनं, श्राद्ध-फलश्रुति, रुद्रलोक-गति

Bab ini memuat dialog ketika Mārkaṇḍeya mengarahkan perhatian pada Bhṛgu Tīrtha, yang dikenal sebagai Paitāmaha Tīrtha—tīrtha paling utama yang mampu melenyapkan dosa dan cela moral. Yudhiṣṭhira bertanya mengapa Brahmā, sang Pitāmaha, memuja Maheśvara dengan bhakti yang sangat mendalam. Mārkaṇḍeya lalu menuturkan itihāsa kuno: karena hasrat mendekati putrinya sendiri, Brahmā dikutuk oleh Śiva; akibatnya kemuliaan Weda dan pengetahuannya merosot, serta kedudukan pemujaannya di hadapan dunia menjadi berkurang. Dilanda duka, Brahmā bertapa lama di tepi utara Sungai Revā (Narmadā), mandi suci dan memuja Śiva selama tiga ratus tahun. Śaṅkara berkenan, memulihkan kelayakan Brahmā untuk dipuja pada waktu-waktu perayaan yang berulang, serta menyatakan kehadiran-Nya yang tetap di sana bersama para dewa dan para leluhur. Karena itu tīrtha tersebut termasyhur sebagai Paitāmaha, yang terbaik di antara semua tīrtha. Bab ini juga menetapkan waktu dan buah ritual: mandi suci terutama pada hari amāvāsyā di paruh gelap bulan Bhādrapada, lalu melakukan tarpaṇa bagi pitṛ dan para dewa, memberi kepuasan panjang bagi leluhur meski persembahan sangat sedikit (satu piṇḍa atau air wijen). Ditekankan pula pelaksanaan śrāddha ketika matahari berada di Kanyā (Virgo), dan dinyatakan bahwa buah śrāddha dari seluruh pitṛ-tīrtha diperoleh di sini pada amāvāsyā. Penutupnya menyebutkan: siapa yang mandi dan memuja Śiva terbebas dari kesalahan besar maupun kecil; dan siapa yang wafat di tīrtha ini dengan batin terdisiplin akan mencapai Rudra-loka tanpa kembali lagi.

17 verses

Adhyaya 205

Adhyaya 205

कुर्कुरीतीर्थमाहात्म्य (Kurkuri Tīrtha Māhātmya)

Bab ini memaparkan uraian singkat tentang tirtha suci bernama Kurkurī. Śrī Mārkaṇḍeya menasihati sang raja agar berangkat ke tempat ziarah yang amat mujur ini, yang dipuji sebagai pemusnah segala dosa (sarva-pāpa-praṇāśana). Dijelaskan bahwa dewi penjaga tirtha, Kurkurī, adalah pemberi anugerah sesuai permohonan: ternak, putra, dan kekayaan, sehingga bhakti di tempat ini berbuah nyata sekaligus meneguhkan dharma. Di sana juga bersemayam kṣetrapāla bernama Ḍhauṇḍheśa; pemujaannya dianjurkan bagi perempuan maupun laki-laki. Dalam phalaśruti disebutkan: penghormatan saja sudah mengurangi kemalangan, menghapus kemandulan, meringankan kemiskinan, dan mengabulkan tujuan yang diinginkan. Pada penutup ditegaskan bahwa menyentuh dan memandang tirtha menurut tata cara yang benar (vidhi-pūrvakam) menjadi kunci terwujudnya manfaat tersebut.

6 verses

Adhyaya 206

Adhyaya 206

Daśakanyā-Tīrtha Māhātmya (The Glory of the ‘Ten Maidens’ Sacred Ford)

Markandeya menasihati sang raja (kṣoṇinātha/narādhipa) dan menunjukkan sebuah tīrtha yang amat mujur bernama Daśakanyā, digambarkan sangat indah serta melenyapkan dosa bagi semua. Kewibawaan tempat suci ini ditegakkan melalui legenda asal-usul bercorak Śaiva: di tīrtha ini Mahādeva dikaitkan dengan sepuluh gadis berbudi (daśa-kanyāḥ) dan pengaturan pernikahan mereka dengan Brahmā; sejak itu tempat tersebut termasyhur dengan nama Daśakanyā. Selanjutnya ajaran beralih pada tuntunan dharma: melakukan kanyādāna—menyerahkan seorang gadis yang dihias dalam pernikahan—di tīrtha ini menghasilkan pahala besar, digambarkan sebagai tinggal dekat Śiva selama “tahun sebanyak helai rambut”, lalu memperoleh kelahiran manusia yang langka dan akhirnya kekayaan melimpah. Ditekankan pula mandi suci (snāna) dengan bhakti serta memberi sedekah emas kepada brāhmaṇa yang tenang; bahkan sedikit emas dikatakan melarutkan kesalahan lampau dalam ucapan, pikiran, dan tubuh. Phalāśruti menutup dengan janji naik ke surga, dimuliakan di antara Vidyādhara dan Siddha, serta menetap hingga pralaya—menampilkan tīrtha ini sebagai titik temu tindakan ritual, niat etis, dan ganjaran kosmis.

11 verses

Adhyaya 207

Adhyaya 207

स्वर्णबिन्दुतीर्थमाहात्म्य (Glory of the Svarṇabindu Tīrtha)

Mārkaṇḍeya memperkenalkan sebuah tīrtha suci bernama Svarṇabindu (“Tetes Emas”) serta menjelaskan tata laku dan buah kebajikannya. Pokok ajaran bab ini adalah snāna (mandi suci) di tīrtha itu dan dāna berupa kāñcana (emas) kepada seorang brāhmaṇa, yang dinyatakan sebagai perbuatan bermahapahala. Emas dipandang sebagai “ratna yang tertinggi”, lahir dari cahaya api, sehingga memiliki daya khusus sebagai persembahan dana. Dinyatakan bahwa bahkan emas yang amat sedikit—seukuran ujung rambut—bila didanakan menurut tata cara dengan mengaitkannya pada tīrtha ini, akan mengantar ke surga bila seseorang wafat di sana. Sang dermawan dimuliakan di antara Vidyādhara dan Siddha, berdiam dalam vimāna yang unggul hingga akhir kalpa, lalu kembali lahir sebagai manusia yang utama: seorang dwija dalam keluarga kaya. Inti etisnya adalah pemulihan karma: kesalahan pikiran, ucapan, dan perbuatan dikatakan cepat luluh melalui dāna emas yang dilakukan di tatanan suci tīrtha ini.

10 verses

Adhyaya 208

Adhyaya 208

पितृऋणमोचनतीर्थप्रशंसा — Praise of the Tīrtha that Releases Ancestral Debt (Pitṛ-ṛṇa-mocana)

Bab ini memuat ajaran Resi Mārkaṇḍeya kepada seorang raja tentang sebuah tīrtha termasyhur yang disebut “pitṛṇām ṛṇa-mocanam”, terkenal di tiga dunia sebagai tempat pelepas kewajiban kepada leluhur. Diuraikan urutan laku: mandi suci sesuai vidhi, menunaikan tarpaṇa untuk para pitṛ-deva, lalu memberi dāna; dengan itu seseorang menjadi “anṛṇa”, bebas dari ikatan utang-kewajiban. Dijelaskan pula dasar ajaran tentang keturunan dan kesinambungan ritus: para leluhur menghendaki seorang putra karena putra dipandang sebagai pembebas dari neraka “Puṇnāmā”, sehingga śrāddha dan tarpaṇa harus terus berlangsung dalam garis keluarga. Teks kemudian menggolongkan ṛṇa-traya (tiga utang): pitṛ-ṛṇa ditebus dengan piṇḍadāna dan persembahan air; deva-ṛṇa dengan agnihotra dan yajña; serta utang manusia/sosial dengan memenuhi janji pemberian, kewajiban kepada brahmana, pelayanan tīrtha, dan karya-karya di mandir. Pada penutup, sebagai phalaśruti, dinyatakan bahwa persembahan dan pemuasan para guru di tīrtha ini menghasilkan pahala yang tak habis, dan manfaatnya menjangkau para mendiang hingga tujuh kelahiran. Dengan demikian, bab ini meneguhkan orientasi etika-ritual demi kesejahteraan leluhur dan keluhuran dharma keluarga.

10 verses

Adhyaya 209

Adhyaya 209

भारभूतीतीर्थ-माहात्म्य / The Māhātmya of Bhārabhūti Tīrtha (Bhāreśvara) on the Revā (Narmadā)

Markandeya menyebutkan berturut-turut tīrtha-tīrtha di tepi Narmadā—termasuk Puṣkalī dan Kṣamānātha—lalu menuturkan asal-usul tīrtha Bhārabhūti di mana Śiva hadir sebagai Rudra-Maheśvara. Yudhiṣṭhira memohon penjelasan mengapa disebut ‘Bhārabhūti’. Dalam teladan pertama, brāhmaṇa saleh Viṣṇuśarman hidup dengan kebajikan, kesucian, dan laku tapa; Mahādeva datang menyamar sebagai baṭu (murid) dan belajar padanya. Terjadi perselisihan dengan murid lain tentang urusan makanan hingga ditetapkan suatu taruhan; Śiva menampakkan makanan berlimpah, lalu di tepi sungai menjalankan taruhan: para murid dilempar ke Narmadā dengan ‘beban’ (bhāra), namun Śiva menyelamatkan mereka. Di sana ditegakkan liṅga bernama Bhārabhūti, dan rasa takut brāhmaṇa akan dosa pun disingkirkan. Teladan kedua mengisahkan seorang pedagang yang mengkhianati sahabat yang percaya kepadanya dengan membunuhnya; setelah mati ia menerima hukuman berat dan mengalami kelahiran berulang, hingga akhirnya menjadi lembu pemikul beban di rumah raja yang saleh. Pada bulan Kārttika, saat Śivarātri di Bhāreśvara, sang raja melakukan snāna, persembahan, pūraṇa liṅga empat macam pada tiap jaga malam, dāna (emas, wijen, kain, dan hadiah sapi), serta jāgaraṇa; lembu itu tersucikan dan naik ke keadaan luhur. Penutupnya menyatakan buah kebajikan: snāna dan tapa-aturan di Bhārabhūti memusnahkan bahkan dosa besar; dāna sekecil apa pun memberi pahala tak binasa; wafat di tīrtha ini menganugerahkan Śiva-loka tanpa putus, atau kelahiran baik yang kembali menuntun pada pembebasan.

186 verses

Adhyaya 210

Adhyaya 210

पुङ्खतीर्थमाहात्म्य (Puṅkha Tīrtha Māhātmya)

Dalam adhyāya ini, Śrī Mārkaṇḍeya menjelaskan kemuliaan Puṅkha Tīrtha dan menegaskannya sebagai tempat ziarah yang “utama”. Kesuciannya diteguhkan melalui teladan masa lampau: Puṅkha pernah meraih siddhi di tīrtha ini. Selanjutnya, ketenaran tempat ini dihubungkan dengan tapa Jāmadagnya (Paraśurāma), sosok perkasa yang dikenal mengakhiri dominasi para kṣatriya, yang menjalankan pertapaan panjang di tepi utara Sungai Narmadā. Kemudian dipaparkan phalaśruti secara teratur: mandi suci di tīrtha disertai pemujaan kepada Parameśvara memberi kekuatan di dunia ini dan pembebasan (mokṣa) di alam berikutnya; penghormatan kepada para dewa dan pitṛ membebaskan dari hutang kepada leluhur; wafat (prāṇatyāga) di sana menjanjikan perjalanan pascakematian yang tak berbalik hingga mencapai Rudra-loka. Mandi suci memberi buah Aśvamedha; memberi makan brāhmaṇa melipatgandakan pahala secara besar; dan pemujaan kepada Vṛṣabhadhvaja (Śiva) memberikan buah yajña Vājapeya. Dengan demikian, adhyāya ini menjadi peta tuntunan etika-ritual berbasis tempat dalam cakrawala bhakti Śaiva.

9 verses

Adhyaya 211

Adhyaya 211

Atithi-dharma Parīkṣā on the Narmadā Bank and the Māheśvara Āyatana ‘Muṇḍināma’ (अतिथिधर्मपरीक्षा तथा ‘मुण्डिनाम’ आयतनमाहात्म्यम्)

Mārkaṇḍeya menuturkan kepada Yudhiṣṭhira sebuah peristiwa di tepi Sungai Narmadā pada waktu śrāddha, saat jamuan untuk para brāhmaṇa diselenggarakan. Mahēśvara datang menyamar sebagai brāhmaṇa berpenyakit kusta dan berbau busuk, lalu memohon agar diizinkan makan bersama para brāhmaṇa yang telah berkumpul. Namun tuan rumah dan para peserta menolaknya dengan kata-kata keras, menganggap penampilannya menajiskan secara ritual. Setelah “tamu” itu pergi, hidangan tiba-tiba rusak tanpa sebab—ulat dan cacing muncul di bejana-bejana makanan, membuat semua orang tercengang. Seorang brāhmaṇa yang arif menafsirkan hal itu sebagai vipāka akibat menghina atithi; ia mengenali bahwa sang tamu adalah Tuhan Tertinggi yang sedang menguji dharma mereka. Ia menegaskan aturan: atithi tidak boleh dinilai dari rupa (indah/jelek), keadaan (bersih/tidak bersih), atau tampilan sosial; terlebih pada śrāddha, kelalaian terhadap tamu mengundang kekuatan perusak untuk melahap persembahan. Mereka lalu mencari dan menemukan sosok itu berdiri tak bergerak laksana tiang, kemudian bersujud memohon ampun. Mahēśvara berbelas kasih, memulihkan/menyediakan kembali makanan, serta mengajarkan agar pemujaan pada maṇḍala-Nya diteruskan. Kisah ditutup dengan pujian atas śrī-āyatana bertanda trisula bernama ‘Muṇḍināma’, yang membawa keberuntungan, melenyapkan dosa, sangat berdaya pada bulan Kārttika, dan pahalanya setara dengan Gayā-tīrtha.

23 verses

Adhyaya 212

Adhyaya 212

Dīṇḍimeśvaranāmotpattiḥ (Origin of the Name Dīṇḍimeśvara) / The Etiology of Dindimeshvara

Markandeya menuturkan bahwa Mahesvara mengambil rupa pengemis suci (bhiksu-rupa) dan memasuki sebuah desa dalam keadaan lapar dan haus. Tubuh-Nya berlumur abu suci, mengenakan aksasutra, membawa trisula, berambut gimbal (jata) serta berhias; Ia membunyikan damaru, dan dentingnya disamakan dengan dindima (genderang besar). Dikelilingi anak-anak dan warga, Ia berganti-ganti bernyanyi, tertawa, berbicara, dan menari—kadang tampak, kadang lenyap dari pandangan. Muncul pula motif peringatan: di mana pun Ia dengan bermain-main meletakkan genderang itu, rumah tersebut menjadi “terbebani” dan dikatakan binasa; ini menjadi nasihat etis-ritual tentang bahaya tidak hormat, salah mengenali, atau daya mengguncang dari perjumpaan ilahi yang tak terkendali. Ketika orang-orang mulai memuji Sankara dengan bhakti, Tuhan menampakkan diri dalam “rupa dindima,” dan sejak itu disebut Dindimesvara. Bab ini ditutup dengan phalasruti: melalui darsana dan sparshana atas rupa/situs ini, seseorang terbebas dari segala dosa.

10 verses

Adhyaya 213

Adhyaya 213

Āmaleśvara-Māhātmya: Śambhu in Child-Form and the Fruit of Worship (आमलेश्वर-माहात्म्य)

Śrī Mārkaṇḍeya menuturkan kisah singkat namun sarat ajaran, sebagai kemuliaan tirtha sekaligus tuntunan etika. Ia memperkenalkan “perbuatan agung” Sang Dewa, dan menegaskan bahwa mendengarnya saja dapat melebur segala dosa—sebagai phalaśruti bab ini. Dalam kisah itu, Śambhu (Śiva) menampakkan diri dalam wujud anak kecil dan bermain dengan anak-anak desa menggunakan buah āmalaka (amalaka/emblica). Anak-anak melempar buah, dan Śiva seketika mengambilnya lalu melempar kembali; permainan meluas ke segala arah hingga mereka menyadari bahwa āmalaka itu tidak lain adalah perwujudan Parameśvara. Pada akhirnya ditegaskan bahwa tempat paling utama adalah Āmaleśvara, dan pemujaan di sana—meski hanya sekali dengan bhakti yang tulus—menganugerahkan pencapaian “keadaan tertinggi” (paramaṃ padam).

6 verses

Adhyaya 214

Adhyaya 214

Devamārga–Balākeśvara Māhātmya (कन्थेश्वर–बलाकेश्वर–देवमार्ग माहात्म्य)

Dalam bab ini, Mārkaṇḍeya menuturkan asal-usul dan kemuliaan sebuah tirtha Śaiva. Di awal disebutkan phalāśruti: mendengar kisah ini saja membebaskan dari segala dosa. Śiva digambarkan sebagai Kapālī/Kānthika dalam wujud Bhairava—dikelilingi piśāca, rākṣasa, bhūta, ḍākinī, dan yoginī—bersemayam di atas preta-āsana, menempuh tapa yang dahsyat namun sekaligus menganugerahkan tanpa takut bagi tiga dunia. Pada suatu peristiwa ‘āṣāḍhī’, jubah (kanthā) Śiva terlepas dan jatuh di tempat lain; sejak itu beliau dikenal sebagai Kantheśvara, dan darśana-Nya disebut memberi pahala setara Aśvamedha. Selanjutnya kisah beralih ke pelajaran tentang hasrat dan anugerah di Devamārga. Śiva bertemu seorang pedagang dan menguji dia untuk “mengisi/meninggikan” liṅga dengan ‘balāka’ (dipahami sebagai burung bangau/kuntul sebagai hiasan atau sarana setempat). Karena serakah dan bingung, sang pedagang menghabiskan seluruh bekalnya; Śiva dengan jenaka memecah liṅga dan menggugat gagasan “selesai”, lalu setelah pengakuan dan penyesalan, menganugerahkan kekayaan yang tak habis. Liṅga itu tetap berdiri sebagai pratyaya (tanda-bukti) demi kesejahteraan makhluk, berhias balāka, dan tempat itu termasyhur sebagai Devamārga; dewa dipuja sebagai Balākeśvara. Melihat atau bersembahyang di sana menghapus dosa; pemujaan Balākeśvara di Devamārga dalam konteks pañcāyatana mengantar ke Rudraloka; dan wafat di Devamārga bagi pencari rohani berarti tiada kembali dari Rudraloka.

18 verses

Adhyaya 215

Adhyaya 215

Śṛṅgitīrtha-Māhātmya (Glory of Śṛṅgī Tīrtha): Mokṣa and Piṇḍadāna

Adhyaya ini memuat ajaran ringkas yang dinisbatkan kepada Śrī Mārkaṇḍeya, yang menganjurkan ziarah ke Śṛṅgitīrtha serta menjelaskan daya penyelamatannya. Tempat suci ini dipuji sebagai “mokṣada”, pemberi pembebasan; bahkan ditegaskan bahwa siapa pun yang wafat di sana akan mencapai mokṣa tanpa keraguan. Selanjutnya, lokasi yang sama dihubungkan dengan tanggung jawab kepada leluhur. Dengan melakukan piṇḍadāna di Śṛṅgitīrtha, seseorang terbebas dari hutang kepada pitṛ (anṛṇa); dan melalui pahala yang terkumpul, ia disucikan serta mencapai “gāṇeśvarī gati”, suatu tujuan luhur dalam tatanan kosmologi Śaiva. Dengan demikian, bab ini menyatukan mokṣa, kewajiban bakti kepada leluhur, dan disiplin ziarah dalam pedoman teologis yang berpusat pada satu tempat suci.

2 verses

Adhyaya 216

Adhyaya 216

Aṣāḍhī Tīrtha Māhātmya (Glory of the Aṣāḍhī Sacred Ford)

Markandeya menasihati sang raja agar mendekati Tirtha Aṣāḍhī, tempat Mahesvara hadir dalam wujud “kāmika”, yakni yang mengabulkan hasrat dan anugerah yang diinginkan. Ia lalu meninggikan kemuliaan tirtha itu sebagai “cāturyuga”—berdaya guna di keempat yuga—serta tiada banding di antara tempat-tempat suci. Dalam phalaśruti disebutkan: mandi suci (snāna) di sana menjadikan seseorang pelayan Rudra, tanda kedekatan dengan lingkup Śiva dan bakti pelayanan. Bab ini juga menegaskan ajaran wafat di tirtha: siapa yang melepaskan hidup di tempat itu memperoleh tujuan yang tak berbalik; tanpa ragu ia mencapai Rudraloka. Dengan demikian, bab ini merangkum petunjuk ziarah, laku ritual snāna, dan jaminan keselamatan rohani bagi para bhakta yang berpegang pada dharma.

3 verses

Adhyaya 217

Adhyaya 217

एरण्डीसङ्गमतīर्थमाहात्म्य (Glory of the Eraṇḍī Confluence Tīrtha)

Adhyaya ini memuat ajaran singkat tentang tirtha yang disampaikan oleh resi Mārkaṇḍeya. Beliau menegaskan Eraṇḍī-saṅgama sebagai tirtha pertemuan sungai yang sangat dimuliakan, dihormati oleh para dewa maupun asura, sehingga kesuciannya dinyatakan luar biasa. Peziarah dianjurkan menjalankan upavāsa (puasa) dengan pengendalian indria dan batin, serta melakukan snāna (mandi suci) sesuai vidhāna (tata cara). Ditekankan ajaran pemurnian: laku demikian di tempat ini membebaskan dari beban dosa berat, bahkan brahmahatyā. Sebagai phalaśruti, disebutkan bahwa bhakta yang melepaskan hidup di tirtha ini memperoleh anivartikā gati (jalan tanpa kembali), mencapai Rudra-loka tanpa keraguan.

3 verses

Adhyaya 218

Adhyaya 218

जमदग्नितीर्थ-माहात्म्यं तथा कार्तवीर्यार्जुन-परशुराम-चरितम् (Jamadagni Tīrtha Māhātmya and the Kārtavīrya–Paraśurāma Narrative)

Markandeya menuntun Yudhiṣṭhira menuju Jamadagni-tīrtha yang sangat dipuji, tempat kemuliaan ‘siddhi’ dikaitkan dengan laku welas-asih Janārdana/Vāsudeva dalam wujud manusia. Lalu diceritakan raja Haihaya, Kārtavīrya Arjuna yang berlengan seribu, datang ke pertapaan Jamadagni saat berburu. Berkat keajaiban sapi suci Kāmadhenu/Surabhī, sang ṛṣi menjamu dengan kelimpahan; ketika sumbernya diketahui, raja menuntut sapi itu dan menawarkan banyak sapi biasa sebagai ganti, namun Jamadagni menolak. Pertikaian pun meletus—Jamadagni memakai daya tapa ‘brahma-daṇḍa’, sementara dari tubuh Kāmadhenu muncul pasukan bersenjata sehingga kekerasan meningkat. Akhirnya Jamadagni gugur di tangan Kārtavīrya dan para kṣatriya sekutunya; Paraśurāma bersumpah membalas dengan memusnahkan garis-garis kṣatriya berulang kali, serta menciptakan lima danau berisi darah di Samantapañcaka untuk menuntaskan upacara leluhur. Kemudian para pitṛ dan para resi menasihati agar menahan diri, dan kawasan sekitar danau-danau itu disucikan sebagai tempat penuh pahala. Bab ini ditutup dengan tuntunan tata-ritus di pertemuan Narmadā dan samudra: peringatan agar tidak menyentuh sembarangan, mantra untuk sentuhan ritual (sparśana), tata cara berendam, persembahan arghya, dan pelepasan (visarjana). Dijanjikan buahnya: penyucian diri, peninggian leluhur, serta kediaman yang mujur di alam ilahi bagi para bhakta yang memandang Jamadagni dan Reṇukā serta menjalankan ritus dengan bhakti.

57 verses

Adhyaya 219

Adhyaya 219

Koṭīśvara Tīrtha Māhātmya (कोटीश्वरतीर्थमाहात्म्य) — Multiplication of Merit at Koṭīśvara on the Narmadā

Bab ini memuat uraian teologis Resi Mārkaṇḍeya tentang Koṭīśvara, tīrtha utama di tepi selatan Sungai Narmadā. Pokok ajarannya ialah kaidah kemanjuran ritual: mandi suci (snāna), sedekah (dāna), dan pada umumnya setiap perbuatan—baik maupun buruk—yang dilakukan di sana menjadi ‘koṭi-guṇa’, yakni berbuah berlipat satu krore. Kewibawaan Koṭitīrtha diteguhkan dengan teladan terdahulu: para dewa, gandharva, dan para ṛṣi yang telah disucikan dikisahkan meraih siddhi yang langka di tempat itu. Di sana pula Mahādeva ditegakkan sebagai Koṭīśvara; darśana kepada deva-deveśa saja dipuji sebagai sarana pencapaian yang tiada banding. Selanjutnya diperkenalkan geografi ritual yang berarah: para pertapa di jalur selatan dikaitkan dengan pitṛloka, sedangkan para resi teladan di tepi utara Narmadā dikaitkan dengan devaloka, sebagai ketetapan śāstra. Dengan demikian, bab ini memadukan pemuliaan tempat suci, etika buah perbuatan menurut tempat, dan kosmologi terstruktur atas kedua tepi sungai.

6 verses

Adhyaya 220

Adhyaya 220

लोटणेश्वर-रेवासागर-सङ्गम-माहात्म्य (Lotaneśvara at the Revā–Sāgara Confluence: Ritual Procedure and Merit)

Mārkaṇḍeya mengarahkan sang pendengar raja menuju tīrtha Lotaneśvara, sebuah tīrtha Śaiva tertinggi di tepi utara Sungai Narmadā, yang melalui darśana dan pemujaan mampu melarutkan timbunan dosa, bahkan dari banyak kelahiran. Terkesan oleh daya penyucian Narmadā, Yudhiṣṭhira memohon satu tīrtha paling utama yang memberi buah semua tīrtha; jawabannya berpusat pada saṅgama Revā–Sāgara: samudra digambarkan menerima Revā dengan hormat, dan dikisahkan sebuah liṅga muncul di lautan, mengaitkan kesucian Narmadā dengan ajaran asal-mula liṅga. Bab ini lalu menguraikan tata cara: laku Karttika (terutama puasa caturdaśī), mandi suci di Narmadā, tarpaṇa dan śrāddha, berjaga malam (jāgaraṇa) disertai pūjā Lotaneśvara, serta tata pagi dengan mantra untuk mengundang samudra dan mantra mandi. Ada unsur etis-diagnostik khas: peziarah melakukan ‘berguling/berputar’ (luth-) setelah mandi untuk menilai kondisi moral (pāpa-karmā atau dharma-karmā), kemudian menyatakan pengakuan atas kesalahan lampau di hadapan brāhmaṇa terpelajar dan perwujudan lokapāla, lalu mandi kembali dan menunaikan śrāddha dengan benar. Phalaśruti menjanjikan: pahala setara Aśvamedha bagi mandi di saṅgama disertai pemujaan Lotaneśvara, ganjaran surga yang luas melalui dāna dan śrāddha, serta hasil berorientasi pembebasan—mencapai Rudra-loka—bagi yang dengan bhakti mendengar dan melantunkan kisah ini.

55 verses

Adhyaya 221

Adhyaya 221

Haṃseśvara-Tīrtha Māhātmya (The Glory of the Haṃseśvara Sacred Ford)

Mārkaṇḍeya menuntun Yudhiṣṭhira menuju tīrtha yang lebih utama di tepi selatan Sungai Revā (Narmadā), berjarak dua krośa dari Matṛtīrtha, bernama Haṃseśvara, yang dipuji sebagai pemusnah ketidakharmonisan batin dan keputusasaan. Bab ini memaparkan kisah asal-usulnya: seekor Haṃsa dari garis Kaśyapa, dikenal sebagai wahana Brahmā, menjadi gelisah setelah bertindak tanpa petunjuk dan melarikan diri karena takut saat kekacauan akibat terganggunya yajña Dakṣa. Brahmā murka karena Haṃsa tidak kembali ketika dipanggil, lalu mengucapkan kutuk yang menyebabkan kejatuhannya. Haṃsa kemudian mendatangi Brahmā, menjelaskan keterbatasan kodrat hewan, mengakui kesalahan meninggalkan Sang Tuan, memohon ampun, dan melantunkan pujian teologis panjang kepada Brahmā sebagai satu-satunya Pencipta, sumber pengetahuan, penentu dharma-adharma, serta asal kekuatan kutuk dan anugerah. Brahmā memberi tuntunan: Haṃsa harus menyucikan diri dengan tapa, melayani Revā melalui mandi suci, dan menegakkan (pratiṣṭhā) Mahādeva/Trayambaka di tepi sungai. Ditegaskan bahwa pendirian Śiva di sana menghasilkan buah banyak yajña dan dana agung, bahkan pelanggaran berat pun dilepaskan melalui penegakan itu di tepi Revā. Haṃsa menjalankan tapa, menegakkan Śaṅkara dengan namanya sendiri sebagai Haṃseśvara, bersembahyang, lalu meraih keadaan yang lebih luhur. Phalaśruti penutup menetapkan ziarah ke Haṃseśvara: mandi suci, pemujaan, pujian, śrāddha, persembahan pelita, memberi makan brāhmaṇa, serta pilihan pūjā Śiva dengan aturan waktu. Dijanjikan lenyapnya dosa, terhindar dari putus asa, kehormatan di surga, dan tinggal lama di alam Śiva bila disertai persembahan yang semestinya.

27 verses

Adhyaya 222

Adhyaya 222

तिलादा-तीर्थमाहात्म्य / Tilādā Tīrtha Māhātmya (The Glory of the Tilādā Pilgrimage Site)

Mārkaṇḍeya menguraikan kemuliaan tīrtha unggul bernama Tilādā, yang dapat dicapai dalam jarak perjalanan satu krośa. Di sana Jābāli memperoleh penyucian melalui tilaprāśana (memakan wijen) dan tapa yang panjang. Namun masa lalunya tercela—menelantarkan orang tua, hasrat terlarang, tipu daya, serta perbuatan yang dikecam masyarakat—hingga ia dicela dan tersingkir dari pergaulan. Karena itu ia menempuh ziarah, berulang kali berendam di Sungai Narmadā, lalu menetap di tepi selatan dekat Aṇivāpa-anta. Di tempat itu ia menjalankan laku bertahap dengan wijen (tila): pola makan sekali sehari dan selang sehari, aturan tiga/enam/dua belas hari, siklus dua pekan dan bulanan, serta vrata besar seperti kṛcchra dan cāndrāyaṇa, diteruskan selama bertahun-tahun. Akhirnya Īśvara berkenan, menganugerahkan kemurnian dan sālokya (berdiam bersama di alam ilahi). Dewa yang didirikan Jābāli dikenal sebagai Tilādeśvara, dan Tilādā dinyatakan termasyhur sebagai penghancur dosa. Bab ini juga menetapkan tata laku: pemujaan khusus pada caturdaśī, aṣṭamī, dan hari Hari; upacara berbasis wijen seperti homa, pengurapan, mandi wijen, serta penggunaan air wijen. Mengisi liṅga dengan wijen dan menyalakan pelita dengan minyak wijen menjanjikan pencapaian Rudra-loka serta penyucian tujuh generasi. Dalam śrāddha, persembahan tila-piṇḍa memberi kepuasan lama bagi para leluhur dan mengangkat tiga garis keturunan (kula-traya): pihak ayah, ibu, dan keluarga istri.

16 verses

Adhyaya 223

Adhyaya 223

Vāsava Tīrtha Māhātmya (वसवतीर्थमाहात्म्य) — Foundation by the Eight Vasus and the Merit of Śiva-Pūjā

Mārkaṇḍeya menjelaskan sebuah tīrtha tertinggi bernama Vāsava di tepi Narmadā, dalam lingkup satu krośa, yang dikaitkan dengan pendirian oleh Delapan Vasu. Para Vasu—Dhara, Dhruva, Soma, Āpa, Anila, Anala, Pratyūṣa, dan Prabhāsa—tertimpa kutukan ayah sehingga harus mengalami “garbha-vāsa” (keadaan tinggal dalam rahim/terikat pada penjelmaan). Demi terbebas, mereka datang ke tīrtha Narmadā itu dan menjalani tapa yang disiplin sambil memuja Bhavānīpati, Mahādeva (Śiva). Setelah dua belas tahun, Śiva menampakkan diri secara langsung dan menganugerahkan anugerah yang mereka mohon; para Vasu menegakkan Śiva di sana atas nama mereka sendiri lalu berangkat melalui angkasa, sehingga tempat itu termasyhur sebagai Vāsava-tīrtha. Bab ini juga menetapkan etika bhakti: lakukan pemujaan Śiva di tīrtha ini sesuai kemampuan dengan persembahan apa pun yang tersedia—daun, bunga, buah, air—terutama dīpa-dāna (persembahan pelita) yang sangat berpahala. Hari kedelapan paruh terang (śukla-aṣṭamī) ditekankan sebagai waktu istimewa, atau lakukan secara teratur menurut kesanggupan. Phalaśruti menjanjikan kedekatan dengan Śiva, terhindar dari garbha-vāsa, bebas dari kemiskinan dan duka, kehormatan di surga, serta lenyapnya dosa bahkan dengan tinggal satu hari; di akhir disebutkan kewajiban memberi makan brāhmaṇa, menyumbang pakaian, dan memberikan dakṣiṇā.

11 verses

Adhyaya 224

Adhyaya 224

Koṭīśvara Tīrtha Māhātmya (कोटीश्वरतीर्थमाहात्म्य) — The Merit of Koṭīśvara at the Revā–Ocean Confluence

Markandeya menjelaskan kepada Yudhiṣṭhira tentang tīrtha tertinggi bernama Koṭīśvara, berada dalam jangkauan satu krośa di kawasan pertemuan Revā (Narmadā) dengan samudra. Ajaran utamanya ialah penggandaan pahala: snāna, dāna, japa, homa, dan arcana yang dilakukan dengan bhakti di tempat ini dikatakan menjadi “koṭi-guṇa”, berlipat tak terhingga. Di sangam Revā–sāgara itu para dewa, gandharva, ṛṣi, siddha, dan cāraṇa berkumpul untuk menyaksikan keajaiban pertemuan sungai dan lautan. Sesudah mandi suci, hendaknya menegakkan dan memuja Śiva sebagai Koṭīśvara sesuai kadar devosi, dengan bilva, bunga arka, persembahan sesuai musim, dhattūra, kuśa, serta sarana yang ditetapkan; disertai upacāra bermatra, dupa, pelita, dan naivedya. Para peziarah dan pertapa yang bernaung pada tīrtha ini dijanjikan tujuan luhur seperti pitṛ-loka dan deva-loka. Disebut pula bahwa Pauṣa kṛṣṇa aṣṭamī sangat utama untuk pemujaan, dan pada caturdaśī serta aṣṭamī dianjurkan laku rutin disertai jamuan bagi brāhmaṇa yang layak.

12 verses

Adhyaya 225

Adhyaya 225

Alikā’s Austerity at Revā–Sāgara Saṅgama and the Manifestation of Alikeśvara (अलिकेश्वर-माहात्म्य)

Markandeya menuturkan kepada Yudhisthira krisis moral yang berpusat pada sebuah tirtha serta jalan penyelesaiannya. Seorang gandharvi bernama Alika, terkait garis Citraseṇa, hidup bersama resi Vidyānanda selama sepuluh tahun; kemudian, dalam keadaan yang tidak dijelaskan, ia membunuh suaminya yang sedang tidur. Ia mengaku kepada ayahnya, Ratnavallabha, namun kedua orang tuanya menolak dengan kecaman keras dan mengusirnya, menandainya sebagai pelanggar berat (patighnī, garbhaghnī, brahmaghnī). Dilanda penyesalan, Alika bertanya kepada para brāhmaṇa tentang tirtha penebus dosa. Mereka menunjukkan tempat penghapus pāpa di pertemuan Revā–Sāgara. Di sana ia menjalani tapa yang berkesinambungan: nirāhāra, disiplin vrata, penitenan seperti kṛcchra/atikṛcchra dan cāndrāyaṇa, disertai dhyāna dan pemujaan kepada Śiva dalam waktu lama. Atas dorongan Pārvatī, Śiva menampakkan diri, menyatakan Alika telah suci, dan menganugerahkan anugerah: ia harus menegakkan Śiva di sana atas namanya sendiri dan kelak mencapai surga. Alika mandi suci, menahbiskan Śaṅkara sehingga tempat itu dikenal sebagai Alikeśvara, lalu memberi dāna kepada para brāhmaṇa. Ia kemudian berdamai dengan keluarganya dan akhirnya naik kendaraan ilahi menuju alam Gaurī. Phalaśruti menegaskan: siapa pun yang mandi dan memuja Mahādeva bersama Umā di tirtha ini terbebas dari dosa pikiran, ucapan, dan perbuatan; memberi makan dvija dan mempersembahkan pelita meredakan penyakit; serta persembahan bejana dupa, miniatur vimāna, lonceng, dan kalaśa menghasilkan pencapaian surgawi yang luhur.

22 verses

Adhyaya 226

Adhyaya 226

Vimaleśvara-Tīrtha Māhātmya (विमलेश्वरतीर्थमाहात्म्य) — The Glory of the Vimaleśvara Sacred Site

Markandeya menguraikan kemuliaan tīrtha suci bernama Vimaleśvara dalam Avantī Khaṇḍa. Tīrtha ini berada dalam jangkauan satu krośa dan dipaparkan sebagai sarana suci—melalui mandi suci, pemujaan, dan tapa—untuk penyucian dosa serta pemenuhan harapan. Rangkaian teladan menegaskan dayanya: Indra menjadi suci setelah membunuh Triśiras putra Tvaṣṭṛ; seorang brāhmaṇa pertapa menjadi bercahaya dan tanpa noda karena tapas; Bhānu sembuh dari cacat yang mencemarkan rupa berkat tapa dan anugerah Śiva. Putra Vibhaṇḍaka (Ṛśyaśṛṅga) menyadari kenajisan yang timbul dari keterikatan sosial, lalu bersama istrinya Śāntā menjalani disiplin dua belas tahun di pertemuan Revā–samudra; ia melaksanakan kṛcchra dan cāndrāyaṇa untuk menyenangkan Tryambaka dan meraih ‘vaimalya’ (kemurnian). Dalam episode Daruvana, atas dorongan Śarvāṇī, Śiva menegakkan stasiun pemurnian di pertemuan Narmadā–samudra dan menjelaskan nama Vimaleśvara sebagai kehadiran welas asih yang menopang dunia. Keguncangan moral setelah Brahmā mencipta Tilottamā dipulihkan melalui diam, mandi tiga kali, mengingat Śiva, dan bersembahyang di sangam hingga kemurnian kembali. Penutupnya bersifat preskriptif: mandi suci dan pemujaan Śiva menghapus dosa dan mengantar ke Brahmaloka; puasa serta darśana pada aṣṭamī, caturdaśī, dan hari raya melenyapkan pāpa yang menumpuk dan membuka jalan ke kediaman Śiva; śrāddha menurut aturan melunasi hutang leluhur. Dianjurkan pula dāna (emas, biji-bijian, pakaian, payung, alas kaki, kamaṇḍalu), seni bhakti (nyanyian, tari, resitasi), serta pembangunan kuil sebagai pahala agung bagi raja.

23 verses

Adhyaya 227

Adhyaya 227

Revā-Māhātmya and Narmadā-Yātrā Vidhi (Expiatory Rules and Yojana Measure)

Bab ini berbentuk dialog: Mārkaṇḍeya menjelaskan kepada Yudhiṣṭhira kesucian luar biasa Revā/Narmadā. Revā dimuliakan sebagai kekasih Mahādeva, ‘Gaṅgā Māheśvarī’ dan juga ‘Gaṅgā Selatan’; sekaligus diperingatkan bahwa keraguan, celaan, dan sikap tidak hormat merusak hasil rohani. Ditegaskan bahwa daya guna ritual bertumpu pada śraddhā (iman yang sadar) dan laku yang dituntun śāstra; praktik serampangan yang digerakkan nafsu tidak membuahkan hasil. Selanjutnya diberikan etika yātrā: menjaga brahmacarya, makan secukupnya, berkata benar, menghindari tipu daya, rendah hati, serta menjauhi pergaulan yang merusak. Tindakan baku di tīrtha meliputi mandi suci, pemujaan dewa, śrāddha/pinda bila sesuai, dan memberi jamuan/dana kepada brāhmaṇa menurut kemampuan. Lalu dipaparkan kerangka penebusan (prāyaścitta) bertingkat: jarak ziarah—terutama 24 yojana—dikaitkan dengan hasil setara kṛcchra, dengan pelipatgandaan pahala di pertemuan sungai dan tempat-tempat termasyhur. Pada akhir bab dijelaskan ukuran tradisional (aṅgula, vitasti, hasta, dhanu, krośa, yojana) serta penggolongan sungai menurut lebar/skala, meneguhkan ziarah Revā sebagai jalan penyucian yang terukur dan tertib.

67 verses

Adhyaya 228

Adhyaya 228

परार्थतीर्थयात्राफलनिर्णयः | Determining the Merit of Pilgrimage Performed for Another

Bab 228 berupa dialog bernuansa dharma. Yudhiṣṭhira bertanya kepada resi Mārkaṇḍeya tentang seberapa besar pahala ziarah tīrtha yang dilakukan demi manfaat orang lain (parārtha) dan bagaimana ukurannya ditetapkan. Sang resi menjelaskan tingkatan pelaku ritual: yang utama adalah menjalankan dharma sendiri; bila tidak mampu, hendaknya mengatur pelaksanaannya melalui pihak yang sepadan (savarṇa) atau kerabat dekat, serta memperingatkan bahwa pendelegasian yang tidak selaras dapat mengurangi hasilnya. Selanjutnya dijabarkan perbandingan pahala untuk ziarah perwakilan dan ziarah yang terjadi secara kebetulan, dengan pembedaan antara pahala yātrā penuh dan pahala sekadar mandi suci. Disebutkan pula pihak-pihak yang layak menerima manfaat—orang tua, para sesepuh, guru, dan kerabat luas—serta pembagian bagian pahala secara pecahan menurut kedekatan hubungan: lebih besar bagi orang tua langsung, lebih kecil bagi relasi yang lebih jauh. Penutupnya memuat catatan musim-sungai: pada waktu tertentu sungai dianggap ‘rajāsvalā’ (terikat secara ritual), dengan beberapa pengecualian yang disebutkan, menegaskan kepekaan kalender dalam ritus yang berkaitan dengan air.

18 verses

Adhyaya 229

Adhyaya 229

नर्मदाचरितश्रवणफलप्रशंसा | Praise of the Fruits of Hearing the Narmadā Narrative

Adhyāya ini memuat uraian penutup bernuansa teologis dari Ṛṣi Mārkaṇḍeya kepada seorang raja (rājan/bhūpāla). Ia menyatakan bahwa kisah Purāṇa yang diucapkan dalam sidang ilahi dan berkenan bagi Śiva kini telah disampaikan secara ringkas. Ditegaskan pula bahwa tīrtha-tīrtha di sepanjang Narmadā tak terhitung jumlahnya, meliputi hulu, tengah, hingga hilir alirannya. Selanjutnya disampaikan phalaśruti: mendengarkan Narmadā-carita menghasilkan pahala yang melampaui pembacaan Veda yang luas dan pelaksanaan yajña besar, serta setara dengan mandi suci di banyak tīrtha. Buah rohaninya adalah mencapai alam Śiva dan bergaul dengan para pengiring Rudra; bahkan sekadar melihat, menyentuh, memuji, atau mendengar tentang tīrtha-tīrtha itu diyakini menghapus dosa. Manfaatnya dipetakan bagi berbagai varṇa dan juga bagi perempuan; bahkan pelanggaran berat pun dikatakan tersucikan oleh mendengar Narmadā-māhātmya. Penutupnya menganjurkan pemujaan dengan persembahan, memuliakan jasa menulis serta menghadiahkan teks kepada seorang dvija, dan memanjatkan doa kesejahteraan semesta, seraya memuji Revā/Narmadā sebagai pemurni dunia dan penganugerahi dharma.

28 verses

Adhyaya 230

Adhyaya 230

Revā-Tīrthāvalī-Prastāvaḥ (Introduction to the Catalogue of Revā Tīrthas)

Bab 230 merupakan pengantar yang bersifat programatis sekaligus indeks ringkas bagi katalog besar tīrtha di sepanjang Revā (Narmadā). Sūta, menyampaikan ajaran yang dinisbatkan kepada Mārkaṇḍeya, menutup kisah sebelumnya dan menegaskan bahwa Revā-māhātmya telah disampaikan dalam intinya; lalu ia mengumumkan ‘tīrthāvalī’ yang mujur, dimulai dari Oṅkāra. Pembukaan diisi dengan pemujaan hormat kepada Śoma, Maheśa, Brahmā, Acyuta, Sarasvatī, Gaṇeśa, dan Sang Dewi, kemudian salam khusus kepada Narmadā sebagai penyuci ilahi. Sesudah itu bukan cerita panjang, melainkan deretan padat nama-nama tīrtha: tempat pertemuan sungai (saṅgama), lokasi āvarta, stasiun liṅga, serta hutan dan āśrama suci—sebagai daftar penunjuk jalan. Bagian akhir memuat tata cara pembacaan dan phalaśruti: tīrthāvalī ini disusun demi kesejahteraan orang saleh; pembacaannya diyakini menetralkan dosa harian, bulanan, musiman, dan tahunan, berkhasiat dalam konteks śrāddha dan pūjā, serta membawa penyucian keluarga dan pahala yang sebanding dengan tolok ukur ritual yang diakui.

113 verses

Adhyaya 231

Adhyaya 231

Revātīrtha-stabaka-nirdeśaḥ (Enumeration of Tīrtha Clusters on the Revā)

Dalam adhyāya ini, Sūta menyampaikan kepada Pārtha ringkasan ajaran Mārkaṇḍeya tentang ‘tīrtha-stabaka’—gugusan tempat ziarah suci di kedua tepi Sungai Revā (Narmadā). Revā dipuji laksana ‘kalpalatā’, pohon merambat pengabul harapan, dengan bunga-bunganya berupa tīrtha; lalu disajikan perhitungan teratur berbagai saṅgama dari Oṅkāratīrtha hingga samudra di barat, dibedakan menurut sebaran tepi utara dan tepi selatan, serta ditegaskan bahwa pertemuan Revā dengan samudra adalah yang paling utama. Selanjutnya disebutkan jumlah-jumlah besar (termasuk empat ratus tīrtha yang dikenal) dan pengelompokan menurut jenis dewa serta dasar pemujaannya—terutama himpunan Śaiva yang luas, disertai kelompok Vaiṣṇava, Brāhma, dan Śākta. Lapisan indeks berikutnya menetapkan pada banyak saṅgama, rimba, desa, dan śrī-kṣetra tertentu besaran tīrtha yang tersembunyi dan yang tampak (dari ratusan hingga laksa dan koṭi), seperti Kapilā-saṅgama, Aśokavanikā, Śuklatīrtha, Mahīṣmatī, Luṅkeśvara, Vaidyanātha, Vyāsadvīpa, Karañjā-saṅgama, Dhūtapāpa, dan Skandatīrtha; pada akhirnya dinyatakan bahwa keluasan seluruhnya melampaui uraian tuntas.

55 verses

Adhyaya 232

Adhyaya 232

रेवामाहात्म्य-समापनम् (Conclusion of the Revā/Narmadā Māhātmya and Phalaśruti)

Adhyaya ini menjadi penutup resmi Narmadā-māhātmya dalam Revākhaṇḍa. Sūta menyapa para brāhmaṇa, menyatakan bahwa kemuliaan Revā telah disampaikan sebagaimana dahulu diajarkan oleh Mārkaṇḍeya kepada putra Pāṇḍu, dan gugusan-gugusan tīrtha telah diuraikan berurutan. Ditegaskan bahwa kisah serta air Revā sangat suci dan melenyapkan dosa; sungai ini dipandang sebagai pancaran Śaiva yang ditegakkan demi kesejahteraan dunia. Keunggulan dan kepadatan tīrtha Revā disebutkan secara hiperbolis, serta diingatkan bahwa pada zaman Kali, mengingat, melantunkan, dan melayani Revā amat berdaya guna. Phalaśruti menyatakan: mendengar dan membacanya memberi buah melampaui studi Veda dan yajña panjang, setara pahala tīrtha termasyhur seperti Kurukṣetra, Prayāga, dan Vārāṇasī. Adhyaya ini juga mengajarkan etika pemuliaan naskah—menyimpan teks tertulis di rumah, menghormati pembaca dan kitab dengan persembahan—yang menjanjikan kemakmuran duniawi, kesejahteraan sosial, serta kedekatan dengan Śiva-loka setelah wafat. Bahkan pelanggaran berat dikatakan mereda melalui pendengaran yang tekun; penutupnya menegaskan kembali garis transmisi dari Śiva kepada Vāyu, para ṛṣi, dan kini melalui tuturan Sūta.

55 verses

FAQs about Reva Khanda

The section emphasizes the glory of the Revā/Narmadā as a purifying sacred presence whose banks and waters are treated as tīrtha-space, integrating hymn, doctrine, and pilgrimage cartography.

The discourse repeatedly frames Revā’s waters and riverbanks as instruments of removing dūrīta (moral and ritual impurity), presenting bathing, remembrance, and reverential approach as merit-generating ethical guidelines.

Chapter 1 introduces the inquiry into Revā’s location and Rudra-linked origin (śrī-rudra-sambhavā), setting up subsequent tīrtha narratives; it also embeds a meta-legend on Purāṇic authority and compilation attributed to Vyāsa and earlier divine transmission.