Adhyaya 228
Avanti KhandaReva KhandaAdhyaya 228

Adhyaya 228

Bab 228 berupa dialog bernuansa dharma. Yudhiṣṭhira bertanya kepada resi Mārkaṇḍeya tentang seberapa besar pahala ziarah tīrtha yang dilakukan demi manfaat orang lain (parārtha) dan bagaimana ukurannya ditetapkan. Sang resi menjelaskan tingkatan pelaku ritual: yang utama adalah menjalankan dharma sendiri; bila tidak mampu, hendaknya mengatur pelaksanaannya melalui pihak yang sepadan (savarṇa) atau kerabat dekat, serta memperingatkan bahwa pendelegasian yang tidak selaras dapat mengurangi hasilnya. Selanjutnya dijabarkan perbandingan pahala untuk ziarah perwakilan dan ziarah yang terjadi secara kebetulan, dengan pembedaan antara pahala yātrā penuh dan pahala sekadar mandi suci. Disebutkan pula pihak-pihak yang layak menerima manfaat—orang tua, para sesepuh, guru, dan kerabat luas—serta pembagian bagian pahala secara pecahan menurut kedekatan hubungan: lebih besar bagi orang tua langsung, lebih kecil bagi relasi yang lebih jauh. Penutupnya memuat catatan musim-sungai: pada waktu tertentu sungai dianggap ‘rajāsvalā’ (terikat secara ritual), dengan beberapa pengecualian yang disebutkan, menegaskan kepekaan kalender dalam ritus yang berkaitan dengan air.

Shlokas

Verse 1

युधिष्ठिर उवाच । परार्थं तीर्थयात्रायां गच्छतः कस्य किं फलम् । कियन्मात्रं मुनिश्रेष्ठ तन्मे ब्रूहि कृपानिधे

Yudhiṣṭhira berkata: Bila seseorang pergi berziarah ke tīrtha demi kepentingan orang lain, pahala itu milik siapa, dan apa hasilnya? Wahai resi terbaik, samudra welas asih, jelaskan kepadaku dengan tepat.

Verse 2

मार्कण्डेय उवाच । परार्थं गच्छतस्तन्मे वदतः शृणु पार्थिव । यथा यावत्फलं तस्य यात्रादिविहितं भवेत्

Mārkaṇḍeya berkata: Wahai raja, dengarkan; akan kujelaskan tentang orang yang menempuh perjalanan demi orang lain—bagaimana dan sejauh mana buah ziarah tīrtha serta tata-ritus yang menyertainya ditetapkan.

Verse 3

उत्तमेनेह वर्णेन द्रव्यलोभादिना नृप । नाधमस्य क्वचित्कार्यं तीर्थयात्रादिसेवनम्

Wahai raja, di dunia ini ziarah tīrtha dan laku sejenis hendaknya dilakukan oleh insan berbudi luhur; bagi yang berhati rendah, digerakkan oleh loba harta dan semisalnya, pelayanan tīrtha tidaklah patut di mana pun.

Verse 4

धर्मकर्म महाराज स्वयं विद्वान्समाचरेत् । शरीरस्याथवा शक्त्या अन्यद्वा कार्ययोगतः

Wahai maharaja, orang yang berpengetahuan hendaknya sendiri menjalankan karma-dharma—sejauh kekuatan jasmani; atau bila tidak, mengaturnya agar terlaksana melalui upaya yang patut.

Verse 5

धर्मकर्म सदा प्रायः सवर्णेनैव कारयेत् । पुत्रपौत्रादिकैर्वापि ज्ञातिभिर्गोत्रसम्भवैः

Pada umumnya, karma-dharma sebaiknya dilakukan oleh orang dari varṇa yang sama; atau oleh putra, cucu, dan seterusnya, ataupun oleh kerabat yang lahir dalam gotra/garis keturunan yang sama.

Verse 6

श्रेष्ठं हि विहितं प्राहुर्धर्मकर्म युधिष्ठिर । तैरेव कारयेत्तस्मान्नोत्तमैर्नाधमैरपि

Wahai Yudhiṣṭhira, para bijak menyatakan bahwa upacara dharma paling utama bila dilakukan sesuai ketetapan. Karena itu, hendaklah perbuatan yang ditetapkan dilaksanakan oleh mereka yang layak—bukan oleh yang terlalu diagungkan, dan bukan pula oleh yang tidak pantas.

Verse 7

अधमेन कृतं सम्यङ्न भवेदिति मे मतिः । उत्तमश्चाधमार्थे वै कुर्वन्दुर्गतिमाप्नुयात्

Menurut pandanganku, apa yang dilakukan oleh orang yang tidak layak tidak menjadi sempurna sebagaimana mestinya. Dan bahkan orang yang ‘utama’, bila bertindak demi tujuan yang hina, sungguh dapat jatuh ke dalam kemalangan.

Verse 8

न शूद्राय मतिं दद्यान्नोच्छिष्टं न हविष्कृतम् । न चास्योपदिशेद्धर्मं न चास्य व्रतमादिशेत्

Janganlah memberikan nasihat kepada seorang Śūdra; jangan pula memberinya sisa makanan, dan jangan memberikan persembahan yang disiapkan sebagai havis. Jangan mengajarinya dharma, dan jangan menetapkan vrata (kaul) baginya.

Verse 9

जपस्तपस्तीर्थयात्रा प्रव्रज्या मन्त्रसाधनम् । देवताराधनं दीक्षा स्त्रीशूद्रपतनानि षट्

Japa, tapa, ziarah ke tīrtha, pelepasan dunia (pravrajyā), sādhana mantra, pemujaan dewa, dan dīkṣā—keenam hal ini disebut sebagai sebab kejatuhan bagi perempuan dan Śūdra.

Verse 10

पतिवत्नी पतत्येव विधवा सर्वमाचरेत् । सभर्तृकाशके पत्यौ सर्वं कुर्यादनुज्ञया

Seorang istri pativratā dianggap bersalah bila bertindak menurut kehendaknya sendiri; tetapi seorang janda boleh menjalankan semua laku-ibadah. Selama suami masih ada, hendaknya ia melakukan segala sesuatu hanya dengan izinnya.

Verse 11

गत्वा परार्थं तीर्थादौ षोडशांशफलं लभेत् । गच्छतश्च प्रसङ्गेन तीर्थमर्द्धफलं स्मृतम्

Bila seseorang pergi ke tīrtha terutama demi kepentingan orang lain, ia hanya memperoleh seperenam belas bagian dari buahnya. Dan bila ia pergi sekadar karena kebetulan ikut serta, tīrtha itu diingat memberi hanya setengah buah.

Verse 12

अनुसङ्गेन तीर्थस्य स्नाने स्नानफलं विदुः । नैव यात्राफलं तज्ज्ञाः शास्त्रोक्तं कल्मषापहम्

Para yang mengetahui menyatakan: bila seseorang mandi di tīrtha hanya karena kebetulan ikut, ia memperoleh sekadar buah mandi saja—bukan buah penuh dari ziarah, yang menurut śāstra melenyapkan dosa.

Verse 13

पित्रर्थं च पितृव्यस्य मातुर्मातामहस्य च । मातुलस्य तथा भ्रातुः श्वशुरस्य सुतस्य च

Demi ayah; juga demi paman dari pihak ayah; demi ibu dan kakek dari pihak ibu; demikian pula demi paman dari pihak ibu, saudara laki-laki, mertua laki-laki, dan putra—(seseorang boleh melakukan mandi/ritus di tīrtha).

Verse 14

पोषकार्थादयोश्चापि मातामह्या गुरोस्तथा । स्वसुर्मातृष्वसुः पैत्र्या आचार्याध्यापकस्य च

Demikian pula bagi para dermawan penolong dan lainnya; bagi nenek dari pihak ibu (mātāmahī); demikian juga bagi guru rohani; bagi saudari, bibi dari pihak ibu, bibi dari pihak ayah, serta bagi ācārya dan pengajar—tindakan suci di tīrtha dapat dipersembahkan.

Verse 15

इत्याद्यर्थे नरः स्नात्वा स्वयमष्टांशमाप्नुयात् । साक्षात्पित्रोः प्रकुर्वाणश्चतुर्थांशमवाप्नुयात्

Bila seseorang mandi suci di tīrtha untuk maksud-maksud demikian dan sejenisnya, ia sendiri memperoleh seperdelapan bagian pahala. Namun bila ia melakukannya secara langsung bagi ayah-ibunya, ia memperoleh seperempat bagian pahala.

Verse 16

पतिपत्न्योर्मिथश्चार्द्धं फलं प्राहुर्मनीषिणः । भागिनेयस्य शिष्यस्य भ्रातृव्यस्य सुतस्य च । षट्त्रिपञ्चचतुर्भागान्फलमाप्नोति वै नरः

Para bijak menyatakan bahwa suami dan istri saling berbagi setengah dari buah dharma satu sama lain. Keponakan dari saudari, murid, kerabat sejalur (bhrātṛvya), dan putra pun memperoleh bagian dari pahala itu—seseorang meraih buahnya dalam bagian seperti seperenam, sepertiga, seperlima, atau seperempat, sesuai hubungan.

Verse 17

इति ते कथितं पार्थ पारम्पर्यक्रमागतम् । कर्तव्यं ज्ञातिवर्गस्य परार्थे धर्मसाधनम्

Demikianlah, wahai Pārtha, telah kukatakan kepadamu ajaran yang turun melalui urutan tradisi. Kewajiban lingkungan sanak-kerabat ialah menegakkan sarana dharma juga demi kebaikan orang lain.

Verse 18

वर्षाऋतुसमायोगे सर्वा नद्यो रजस्वलाः । मुक्त्वा सरस्वतीं गङ्गां नर्मदां यमुनानदीम्

Saat musim hujan tiba, semua sungai dianggap ‘rajāsvalā’, yakni berada dalam keadaan tidak suci—kecuali Sarasvatī, Gaṅgā, Narmadā, dan sungai Yamunā.