

वराहपुराण
The Earth-Centered Purana
The sacred dialogue between Lord Varaha (the Cosmic Boar incarnation of Vishnu) and Prithvi (Bhu Devi) — covering tirthas, vratas, dharma, and the cosmic rescue of the Earth.
Start ReadingThe Varaha Purana is one of the eighteen Mahapuranas, narrated as a dialogue between Lord Vishnu in his Varaha (Boar) avatara and Bhu Devi (Mother Earth) after rescuing her from the cosmic ocean. It covers a wide range of topics including the glory of sacred tirthas, the significance of vratas and festivals, dharma shastra, cosmology, and the symbolism of the Cosmic Boar. With 218 chapters and approximately 10,657 verses, it is a rich repository of devotional and philosophical wisdom centered on the earth and her relationship with the divine.
The Varaha Purana is structured as a simple two-level hierarchy of 218 Adhyayas (chapters), each containing shlokas (verses).
218 chapters
Verses read one by one
This edition of the Varaha Purana on Vedapath includes:
The Varaha Purana contains 218 Adhyayas.
Each Adhyaya explores topics of dharma, tirtha, vrata, and cosmic truth as told by Lord Varaha to Bhu Devi.
Adhyaya 1
Praise of Varāha and Pṛthivī’s Foundational Questions
Bab ini dibuka dengan invokasi maṅgala dan pujian panjang kepada Varāha, penyelamat kosmis yang mengangkat Bumi dari ked
Adhyaya 2
Cosmogony and the Ninefold Creation: Rudra’s Origin and the Prelude to the Sāvitrī–Veda Narrative
Bab ini menampilkan dialog pengajaran: Varāha menjawab pertanyaan Pṛthivī dengan menjelaskan lima penanda Purāṇa—sarga,
Adhyaya 3
Nārada’s Account of a Former Birth and a Hymn to Nārāyaṇa
Dalam bingkai pengajaran Varāha–Pṛthivī, adhyāya ini memuat dialog sekunder: Priyavrata menanyakan perilaku Nārada pada
Adhyaya 4
On Nārāyaṇa’s Ten Avatāras and Eightfold Manifestations, and the Account of King Aśvaśirā
Dalam bentuk dialog, Pṛthivī bertanya kepada Varāha tentang kedudukan Nārāyaṇa: apakah Ia dapat dijelaskan sepenuhnya, a
Adhyaya 5
Reconciliation of Action and Knowledge: Offering All Acts to Nārāyaṇa and the Hymn to the Yajña-Puruṣa
Dalam bingkai ajaran Varāha–Pṛthivī, bab ini menampilkan Raja Aśvaśiras mendatangi Kapila untuk menuntaskan keraguan uta
Adhyaya 6
The Puṇḍarīkākṣapāraka Hymn and Puṣkara Tīrtha: The Account of King Vasu’s Release from Sin
Pṛthivī bertanya kepada Varāha apa yang dilakukan Raja Vasu setelah menerima ajaran penjernih keraguan yang terkait deng
Adhyaya 7
The Sanctity of Gayā: Raibhya’s Encounter and Hymn to Viṣṇu (Gadādhara)
Pṛthivī bertanya kepada Varāha tentang resi Raibhya setelah mendengar kisah siddha Vasu. Varāha menuturkan bahwa Raibhya
Adhyaya 8
Dialogue on the Ethical Limits of Subsistence and the Five Great Sacrifices (Dharmavyādha, Mātaṅga, and Prasanna)
Varaha menuturkan kepada Prthivi kisah seorang dharmavyadha. Walau lama hidup sebagai pemburu, ia membatasi kekerasan ha
Adhyaya 9
The Sequence of Creation, the Emergence of the Praṇava, and the Fish Incarnation’s Retrieval of the Vedas
Pṛthivī (Dharanī) memohon kepada Varāha agar menjelaskan dengan tepat apa yang dilakukan Nārāyaṇa pada awal Kṛta Yuga da
Adhyaya 10
The Threefold Division by the Guṇas, the Deities’ Attainment of Worship, and the Opening of the Durjaya Episode
Varaha menuturkan bahwa setelah ciptaan meluas, para dewa purba melakukan yajña besar bagi Narayana di berbagai pulau da
Adhyaya 11
Hospitality at Gauramukha’s Hermitage and the Power of the Wish-Fulfilling Jewel
Varaha menuturkan kepada Pṛthivī bahwa Raja Durjaya tiba di pertapaan resi Gauramukha dan diterima dengan tata cara kera
Adhyaya 12
Supratīka’s Hymn to Rāma and the Granting of a Boon through Divine Manifestation
Varāha menuturkan kepada Pṛthivī kisah Raja Supratīka. Setelah mendengar putranya terbakar oleh rathāṅga-agni (api cakra
Adhyaya 13
The Genealogy of the Pitṛs and the Determination of Śrāddha Times
Dalam dialog, Pṛthivī bertanya kepada Varāha tentang resi Gauramukha, reaksinya saat menyaksikan tindakan Hari yang begi
Adhyaya 14
Ritual Procedure for Śrāddha: Sequence, Eligibility, and Offerings to Ancestors
Dalam bingkai ajaran Varāha kepada Pṛthivī, bab ini menjadi pedoman tata cara śrāddha (ritus leluhur) yang diwariskan me
Adhyaya 15
Gauramukha’s Recollection and the Hymn to Hari at Prabhāsa
Dalam dialog dengan Pṛthivī, Varāha melanjutkan kisah yang berpusat pada Śrāddha dengan menjelaskan apa yang terjadi set
Adhyaya 16
The Account of Saramā: Indra’s Restoration after Loss of Sovereignty
Pṛthivī memohon Varāha menjelaskan keraguan: setelah kutukan Durvāsas membuat Indra tinggal di antara manusia, tindakan
Adhyaya 17
King Prajāpāla’s Visit to Sage Mahātapā’s Hermitage and the Doctrinal Praise of Nārāyaṇa
Pṛthivī bertanya kepada Varāha tentang asal-usul para tokoh “manija”, peran mereka kelak, serta anugerah yang dikatakan
Adhyaya 18
The Origin of Fire and the Liturgical Names of Agni
Bab ini diawali dengan pertanyaan resmi tentang asal-usul dan wujud berjasad berbagai dewa yang terkait dengan tubuh dan
Adhyaya 19
The Glory of Lunar Days: The Pratipadā Observance and the Merit of Hearing Agni’s Origin
Dalam bingkai ajaran Varaha–Prthivi, Mahatapa menasihati seorang raja, beralih dari vibhuti Wisnu menuju kemuliaan tithi
Adhyaya 20
The Birth of the Aśvins: Solar Lineage, Saṃjñā and Chāyā, and the Granting of a Hymn and Boons
Adhyaya ini, dalam bingkai dialog pengajaran Varaha–Prthivi, menjawab bagaimana prana dan apana menjelma sebagai Dewa Ke
Adhyaya 21
The Disruption of Dakṣa’s Sacrifice, the Hari–Hara Conflict, and the Establishment of Rudra’s Sacrificial Share
Dalam bingkai ajaran Varāha–Pṛthivī, dikisahkan bahwa Prajāpati Brahmā mula-mula kesulitan melahirkan makhluk, lalu dari
Adhyaya 22
Gaurī’s Rebirth, Umā’s Austerities, Rudra’s Test, and the Himalayan Wedding
Dalam bingkai ajaran Varāha–Pṛthivī, adhyaya ini memakai kisah Gaurī–Umā untuk meneladankan keteguhan dharma, disiplin t
Adhyaya 23
The Birth of Gaṇapati, the Emergence of the Vināyakas, and the Significance of the Fourth Lunar Day
Dalam bingkai ajaran Varāha–Pṛthivī, bab ini menjelaskan bagaimana keteraturan dalam usaha duniawi dipelihara melalui ri
Adhyaya 24
The Birth of the Nāgas, Brahmā’s Curse, and the Pañcamī Observance
Menjawab pertanyaan Pṛthivī, Varāha menjelaskan mengapa makhluk-makhluk perkasa menjelma sebagai nāga karena pergaulan d
Adhyaya 25
The Birth of Ahaṅkāra as Guha/Skanda and His Appointment as Divine Commander
Bab ini, dalam dialog pengajaran antara Varāha dan Pṛthivī, menjelaskan asal-usul Ahaṅkāra dan bagaimana ia tampil sebag
Adhyaya 26
The Sun’s Assumption of Form and the Gods’ Hymn of Pacification
Dalam bingkai dialog Varāha Purāṇa (Varāha mengajar Pṛthivī), Prajāpāla bertanya kepada resi Mahātapā bagaimana prinsip
Adhyaya 27
The Slaying of Andhaka and the Manifestation of the Eight Mother-Goddesses from Divine Afflictions
Dalam bingkai pengajaran Varāha–Pṛthivī, adhyaya ini menuturkan bagaimana tatanan kosmis dan bumi dipulihkan ketika keku
Adhyaya 28
The Manifestation of Māyā as Durgā/Kātyāyanī and the Slaying of Vaitrāsura
Dalam bingkai ajaran Varāha–Pṛthivī, Pṛthivī bertanya bagaimana Māyā muncul di ādikṣetra sebagai Durgā/Kātyāyanī yang su
Adhyaya 29
The Birth and Marriages of the Direction-Goddesses and the Daśamī Observance
Dalam bingkai ajaran Varaha Purana tentang Pṛthivī dan tatanan kosmos, Mahātapā menasihati seorang raja: pada awal penci
Adhyaya 30
The Origin of Dhanada (Kubera) from Vāyu and the Observance of the Ekādaśī Vow
Dalam bingkai ajaran Varāha kepada Pṛthivī, bab ini menerangkan asal-usul didaktis tentang bagaimana kewenangan menjaga
Adhyaya 31
The Manifestation of Viṣṇu’s Form for Cosmic Governance (the Vaiṣṇava Creation Narrative)
Dalam bingkai pengajaran Purana (Varaha menasihati Pṛthivī), adhyaya ini menjelaskan mengapa Viṣṇu mengambil wujud nyata
Adhyaya 32
Dharma as the Bull-Form: Soma’s Transgression and the Institution of the Thirteenth Lunar Day Observance
Dalam bingkai pengajaran Varāha–Pṛthivī, bab ini menuturkan asal-mula tatanan sosial dan bumi: Brahmā, demi melindungi c
Adhyaya 33
The Origin of Rudra, the Disruption of Dakṣa’s Sacrifice, and the Establishment of Paśupati
Varaha menuturkan kepada Prthivi asal-mula kemunculan Rudra dan akibatnya bagi tatanan yajña. Seorang makhluk berdaya da
Adhyaya 34
Account of the Origin of the Ancestors (Pitṛs) and the Regulations for Śrāddha Offerings
Dalam dialog pengajaran Varāha Purāṇa (Varāha menasihati Pṛthivī), adhyāya ini menjelaskan asal-usul dan penggolongan pa
Adhyaya 35
The Account of Soma’s Decline and Restoration, and the Paurṇamāsī Observance
Dalam bingkai dialog Varāha–Pṛthivī, adhyaya ini menjelaskan sebab mitis surut dan pulihnya bulan serta kaitannya dengan
Adhyaya 36
Account of the Maṇija Kings and a Hymn to Govinda Leading to Liberation
Dalam bingkai ajaran Varāha–Pṛthivī, adhyāya ini menyajikan historiografi didaktis. Mahātapā menuturkan kepada seorang r
Adhyaya 37
The Threefold Discipline (Mental, Physical, Verbal) and the Salvific Power of Hearing Nārāyaṇa’s Name
Pṛthivī bertanya kepada Varāha bagaimana para bhakta—laki-laki dan perempuan—seharusnya beribadah, memohon tuntunan prak
Adhyaya 38
The Hunter’s Austerity and the Gaining of Durvāsas’ Favor
Varaha menuturkan kepada Prthivi kisah seorang vyadha (pemburu) yang menjalani tapa berat sambil terus mengingat gurunya
Adhyaya 39
Discrimination of the Three Bodies and the Dharaṇī Vow: A Manual for Dvādaśī Observance
Bab ini, dalam bentuk dialog ajaran antara Varāha dan Pṛthivī, menggolongkan keberadaan berjasad menjadi tiga keadaan: k
Adhyaya 40
Ritual Procedure for the Kūrma Dvādaśī Observance
Adhyaya ini memaparkan kerangka vrata yang bersifat preskriptif, dikaitkan dengan Durvāsā, untuk pemujaan Janārdana/Nārā
Adhyaya 41
Rite of the Varāha Dvādaśī Vow and an Exemplary Narrative on Expiation for Brahmin-Slaying
Dalam bingkai ajaran yang dikaitkan dengan Durvāsas, bab ini menetapkan tata cara vrata Varāha pada Dvādaśī bulan Māgha
Adhyaya 42
Ritual Procedure for the Phālguna Bright-Fortnight Dvādaśī Narasiṃha Worship, with the Narrative of King Vatsa
Dalam bingkai ajaran Varāha kepada Pṛthivī, Ṛṣi Durvāsas menjelaskan tata cara vrata Narasiṃha pada Dvādaśī paruh terang
Adhyaya 43
The Caitra Dvādaśī Observance and the Ritual Procedure for Worship of Vāmana
Dalam bingkai ajaran Varāha–Pṛthivī, adhyaya ini memaparkan tata cara vrata pada Dvādaśī bulan Caitra. Diajarkan berpuas
Adhyaya 44
The Vaiśākha Bright-Twelfth Observance: Worship of Hari as Jāmadagnya and Its Fruits
Dalam bingkai ajaran Varāha–Pṛthivī, bab ini memaparkan tata cara vrata Dvādaśī terang bulan Vaiśākha serta buahnya mela
Adhyaya 45
Ritual Procedure for Worship of Rāma and Lakṣmaṇa in the Month of Jyeṣṭha
Dalam bingkai ajaran Varāha kepada Pṛthivī, Durvāsas menyampaikan pedoman ritual pemujaan Rāma dan Lakṣmaṇa pada bulan J
Adhyaya 46
The Rite of the Āṣāḍha Bright-Fortnight Dvādaśī Fast and the Installation (Nyāsa) of the Fourfold Manifestation
Dalam bingkai ajaran Varāha kepada Pṛthivī, bab ini memaparkan tata cara vrata Dvādaśī paruh terang bulan Āṣāḍha yang di
Adhyaya 47
The Rite of Śrāvaṇa Bright-Fortnight Dvādaśī (Dāmodara Worship) and the Exemplum of King Nṛga
Dalam bingkai ajaran Varāha kepada Pṛthivī, adhyaya ini memaparkan tata cara vrata Śrāvaṇa śukla-dvādaśī yang diajarkan
Adhyaya 48
The Kalki Dvādaśī Observance and the Episode of King Viśāla
Dalam bingkai ajaran Varāha–Pṛthivī, bab ini memaparkan tata cara vrata Dvādaśī pada Bhādrapada-śukla yang berpusat pada
Adhyaya 49
The Padmanābha Dvādaśī Observance, with the Eulogy of Lamp-Offering Merit
Dalam bingkai ajaran Varāha kepada Pṛthivī, Durvāsas menyampaikan vrata Padmanābha pada Aśvayuja śukla-dvādaśī: pemujaan
Adhyaya 50
The Procedure for the Dharaṇī Vow (Kārtika Dvādaśī Observance)
Dalam bingkai ajaran Varāha–Pṛthivī, adhyaya ini memaparkan tata-ritual melalui dialog tersisip: Durvāsā menuturkan kemb
Adhyaya 51
Recollection of the Dharaṇī-vrata and the Agastya–Bhadrāśva Dialogue on Liberation
Sesudah pernyataan Durvāsas tentang Dharaṇī-vrata yang tertinggi, Varāha melanjutkan ajaran. Ia menggambarkan perjalanan
Adhyaya 52
The Genealogy of Trivarṇa, Manohvā, and the Akṣa Lineage, with the Construction of the Nine-Gated City
Dalam bingkai ajaran Varāha–Pṛthivī, bab ini memuat kisah Agastya tentang suatu silsilah yang meneladankan bagaimana tat
Adhyaya 53
The Origin Account of Saptamūrti Svara and the Emergence of Saṃbhūti through Vibhūti
Dalam bingkai pengajaran Varāha–Pṛthivī, Bhadrāśva bertanya kepada Agastya bagaimana ‘vibhūti’ (daya manifest) dari kisa
Adhyaya 54
Nārada’s Teaching on a Viṣṇu-Vrata for Securing a Husband (Narrative of the Apsarases)
Dalam bingkai ajaran Varāha–Pṛthivī, Bhadrāśva bertanya kepada Agastya dewa mana yang melahirkan pengetahuan sejati (vij
Adhyaya 55
Observance of the Auspicious Dvādaśī Vow and the Sacred Account of the Kubjākāmra Tīrtha
Dalam bingkai ajaran Varāha kepada Pṛthivī, bab ini memaparkan tuntunan brata Vaiṣṇava “Śubha Dvādaśī”: memulai niat pad
Adhyaya 56
Ritual Procedure for the Dhanyavrata (Prosperity Vow)
Dalam bingkai pengajaran Purana ketika Varaha menasihati Prthivi, adhyaya ini memaparkan tata laksana Dhanyavrata (kaul
Adhyaya 57
The Observance for Attaining Radiance: The Soma Kānti-Vrata
Dalam bingkai ajaran Varāha kepada Pṛthivī, Ṛṣi Agastya menyampaikan kepada seorang raja tata-cara Kāntivrata, laku suci
Adhyaya 58
The Procedure for the Saubhāgyakaraṇa Vow (Rite for Auspicious Fortune)
Bab ini mengajarkan tata cara Vrata Saubhāgyakaraṇa, yang diyakini menumbuhkan saubhāgya (keberuntungan/kemuliaan) bagi
Adhyaya 59
The Obstacle-Removing Vow (Procedure for Worship of Vināyaka)
Adhyaya ini memaparkan vrata “Avighnakara” yang bersifat preskriptif untuk mencegah atau menyingkirkan vighna, yakni rin
Adhyaya 60
The Rite of the Śāntivrata: A Yearlong Observance with Viṣṇu-on-Śeṣa and Nāga-Anganyāsa Worship
Dalam bingkai ajaran Varāha kepada Pṛthivī, bab ini memuat petunjuk yang diturunkan: resi Agastya menasihati seorang raj
Adhyaya 61
The Observance for the Fulfilment of Desires: Worship of Keśava in the Form of Guha (Kumāra)
Dalam bingkai ajaran Varāha–Pṛthivī, adhyaya ini memaparkan suatu vrata yang diajarkan resi Agastya kepada seorang raja
Adhyaya 62
Instruction on the ‘Health Vow’ and the Rite of Solar Worship
Dalam bingkai dialog Purāṇa (Varāha menasihati Pṛthivī), bab ini mengajarkan Ārogyavrata, suatu laku suci untuk kesehata
Adhyaya 63
Procedure for the Son-Obtaining Vow (Kṛṣṇāṣṭamī Observance)
Dalam bingkai ajaran Varāha–Pṛthivī, Agastya menyampaikan tata cara ringkas putraprāpti-vrata yang berpusat pada Kṛṣṇāṣṭ
Adhyaya 64
Procedure for the Vow that Cultivates Valor (Durgā Navamī Observance)
Dalam dialog didaktis Varāha Purāṇa (Varāha menasihati Pṛthivī), melalui suara resi yang disisipkan, Agastya menjelaskan
Adhyaya 65
The Sovereignty Vow and the Cycle of Tithi-Based Observances
Dalam bingkai ajaran Varāha kepada Pṛthivī, bab ini menjadi pedoman ringkas tentang vrata (kaul) yang terkait tithi (tan
Adhyaya 66
Nārada’s Journey to Śvetadvīpa and the Means of Attaining the Lord through the Pañcarātra
Dalam bingkai ajaran Varāha–Pṛthivī, bab ini disampaikan sebagai dialog yang diriwayatkan. Bhadrāśva bertanya kepada Aga
Adhyaya 67
On the Two ‘Sita–Kṛṣṇā’ Figures, the Sevenfold Ocean, and the Twelvefold Year
Dalam bingkai pengajaran Varāha–Pṛthivī, adhyāya ini memuat dialog sisipan ketika Bhadrāśva bertanya kepada resi Agastya
Adhyaya 68
Dharma Across the Four Yugas, the Disruption of Social Conduct, and Ritual Purification from Varṇa-Mixing Transgressions
Dalam dialog ajaran Varāha Purāṇa, Bhadrāśva bertanya kepada Agastya bagaimana memahami Viṣṇu sepanjang empat yuga serta
Adhyaya 69
Agastya’s Vision of Varuṇa as Nārāyaṇa in Ilāvṛta
Dalam bingkai ajaran Varāha–Pṛthivī, atas pertanyaan Pṛthivī, Varāha menyampaikan kisah teladan tentang persepsi, dunia-
Adhyaya 70
Nārāyaṇa as the Sacrificial Principle, Analysis of the Three Guṇas, and the Account of Delusion-Doctrines
Dalam bingkai pengajaran Varaha–Prthivi, bab ini memuat dialog tersisip: Bhadrashva menceritakan pemujaan panjang kepada
Adhyaya 71
Vision of the Trimūrti in Rudra, the Gautama Curse, the Manifestation of the Godāvarī, and the Niḥśvāsa-saṃhitā Account
Varaha menuturkan kepada Prthivi sebuah kisah ajaran melalui laporan Agastya kepada seorang raja. Para resi menyaksikan
Adhyaya 72
Instruction on the Unity of the Triad (Brahmā–Viṣṇu–Rudra)
Dalam bingkai pengajaran Varāha Purāṇa (Varāha sebagai penutur utama kepada Pṛthivī), adhyāya ini memuat dialog sekunder
Adhyaya 73
Rudra’s Hymn: Vision of Nārāyaṇa, the Emergence of the Ādityas, and the Mutual Boon of Hari and Hara
Bab ini menampilkan Varāha menuturkan kisah Rudra tentang peristiwa purba: Brahmā yang baru ditugasi penciptaan tenggela
Adhyaya 74
Measures of the Earth and the Cosmos: The Expansion of the Universe and the Division of Continents and Regions
Dalam bingkai ajaran Varāha, para resi menanyai Rudra yang abadi (Śambhu) tentang ukuran dan susunan bumi serta jagat ra
Adhyaya 75
Description of Jambūdvīpa: its regions, mountains, measurements, and cosmic structure
Dalam bingkai ajaran Varāha–Pṛthivī (pada petikan yang diterima dinisbatkan kepada Rudra), bab ini menjadi pelajaran kos
Adhyaya 76
Description of Svarga: Amarāvatī, the Sudharmā Assembly Hall, and the Directional Cities
Dalam kerangka dialog Varāha–Pṛthivī, bab ini berfokus pada kosmografi Purāṇa. Rudra menggambarkan wilayah bercahaya di
Adhyaya 77
Measurements of Mount Meru, the Boundary Mountains, and the Four Directional Great Trees
Dalam bingkai ajaran Varāha–Pṛthivī yang berlanjut, Rudra memaparkan kosmografi Gunung Meru sebagai poros penstabil bagi
Adhyaya 78
Names of the Four Directional Mountain-Kings and Their Lakes (Rudra’s Geographical Description)
Dalam bingkai ajaran Varaha–Prithivi, adhyaya ini memuat katalog geografi suci yang diajarkan oleh Rudra. Disebutkan par
Adhyaya 79
Description of the Inner Basins (Droṇīs): Śrīsaras, Śrīvana, Bilva Forest, and Tāla Grove
Dalam dialog pengajaran Varaha Purana (Varaha menasihati Pṛthivī), adhyaya ini menyajikan katalog topografi-kosmografis
Adhyaya 80
Cosmographic Ordering of the Southern and Western Quarters: Valleys, Forest-Plateaus, and Sacred Sites
Dalam kerangka ajaran Varāha–Pṛthivī (pada bagian naskah ini dinisbatkan kepada Rudra), adhyaya ini menyajikan katalog d
Adhyaya 81
Description of the Divine Mountain Abodes: Meru, Devakūṭa, and Kailāsa
Dalam bingkai ajaran Varāha–Pṛthivī (disampaikan melalui laporan Rudra), bab ini mendata zona-zona gunung suci beserta k
Adhyaya 82
The Descent of the Rivers: The Sky-Gaṅgā and Her Fourfold Division
Dalam bingkai ajaran Varāha–Pṛthivī, Rudra memaparkan kosmografi asal-usul sungai: dari “samudra langit” (ākāśa-samudra)
Adhyaya 83
Description of the Bhadrāśva and Ketumāla Regions: Niṣadha’s Western Janapadas and River Systems
Adhyaya ini, dalam bingkai pengajaran Varāha–Pṛthivī, dengan suara yang tampak sebagai Rudra, melanjutkan uraian kosmogr
Adhyaya 84
Description of the Northern Regions: Ramyaka, Hiraṇmaya, Uttarakuru, Candradvīpa, Sūryadvīpa, and Rudrākara
Dalam bingkai pengajaran Varāha–Pṛthivī, adhyaya ini memuat laporan Rudra tentang varṣa-varṣa utara (dan tersirat selata
Adhyaya 85
The Ninefold Division of Bhārata and the Enumeration of Its Mountains and River Systems
Dalam bingkai ajaran Varāha–Pṛthivī, kesaksian bersuara Rudra dikutip sebagai otoritas. Mula-mula dinyatakan bahwa tatan
Adhyaya 86
Description of Śākadvīpa and Kuśadvīpa (Cosmographic Geography)
Dalam dialog Varaha–Prithivi, uraian beralih dari kosmografi sebelumnya menuju penjelasan didaktis tentang benua-kepulau
Adhyaya 87
Description of Krauñcadvīpa: its mountains, regions, rivers, and encircling ocean
Dalam bingkai ajaran Varāha–Pṛthivī, bab ini menjadi pelajaran kosmografi yang menampilkan tatanan bumi sebagai keseimba
Adhyaya 88
Account of the Extents of Śālmaladvīpa, Gomedadvīpa, and Puṣkaradvīpa
Dalam bingkai ajaran Varāha–Pṛthivī, Rudra menyampaikan ringkas kosmografi tentang susunan dan perluasan berbanding dvīp
Adhyaya 89
The Hierarchy of the Trimūrti and the Manifestation of the Goddess Trikalā
Bab ini dibuka dengan pertanyaan Pṛthivī tentang perbedaan penetapan dewa tertinggi—Śiva, Hari (Viṣṇu), Īśāna, atau Brah
Adhyaya 90
Description of the Threefold Goddess-Power and Brahmā’s Hymn to Sṛṣṭi
Varaha, dalam ajaran kepada Pṛthivī (Varārohā/Viśālākṣī), menguraikan doktrin tiga śakti milik Śiva/Parameṣṭhin. Śakti p
Adhyaya 91
The Vaiṣṇavī Goddess on Mount Mandara: Emergence of the Maidens, Construction of the Goddess-City, and Nārada’s Visit
Varāha menuturkan kepada Pṛthivī kisah Dewi Vaiṣṇavī yang bersemayam di Gunung Mandara, menjalankan kaumāra-vrata dan be
Adhyaya 92
The Demon King’s Council Deliberation and the Mobilization of an Army to Conquer the Devas
Varāha menuturkan bahwa setelah Nārada pergi, penguasa Daitya Mahīṣa terus diliputi pikiran tentang gadis suci yang dice
Adhyaya 93
The Battle of Mahiṣa Daitya and the Gods
Dalam bingkai ajaran Varāha–Pṛthivī, adhyaya ini menuturkan perang besar dewa dan asura sebagai peringatan bahwa kekuata
Adhyaya 94
The Birth of Mahiṣāsura and the Goddess’s Victory as Mahīṣamardinī
Devī-māhātmya (Mythic-Theology) and Protective Hymn (Stotra-Prayoga)
Adhyaya 95
The Slaying of the Daitya Ruru, the Hymn to Cāmuṇḍā/Kālarātri, and the Doctrine of the Threefold Power
Mythic-Theology (Devī-Māhātmya) with Ritual/Protective Phalaśruti
Adhyaya 96
The Threefold Power: The Raudrī Observance and the Manifestation of Chāmuṇḍā
Varāha menuturkan kepada Pṛthivī kisah tentang triśakti (tiga daya Śakti) dan vrata Raudrī. Di Nīlagiri, kekuatan Raudrī
Adhyaya 97
The Glory of Rudra: The Origin of the Kapālamocana Pilgrimage Site and Rudra’s Expiatory Vow
Varaha mengajarkan kepada Pṛthivī kemuliaan Rudra: asal mula laku penebusan (rudra-vrata) dan munculnya Kapālamocana seb
Adhyaya 98
Chapter on the Sacred Hill Episode: Satyatapā and the Marvel of Varāha
Dalam dialog, Pṛthivī meminta Varāha menjelaskan sebuah keajaiban yang dikabarkan terjadi di Himavant. Varāha menuturkan
Adhyaya 99
The Greatness and Rite of the Sesame-Cow (Tiladhenu) Gift
Dalam dialog dengan Pṛthivī, Varāha memaparkan rangkaian ritual penyelamatan yang menghapus dosa besar dan memulihkan ke
Adhyaya 100
Ritual Procedure for the Donation of the ‘Water-Cow’ (Jaladhenu)
Dalam bingkai ajaran Varāha–Pṛthivī, bab ini memaparkan tata cara jaladhenu-dāna, yakni sedekah penghasil pahala berupa
Adhyaya 101
The Eulogy and Procedure of the ‘Rasadhenu’ (Sugarcane-Juice Cow) Donation
Dalam bingkai ajaran Varāha–Pṛthivī, adhyāya ini memuat pedoman ritual yang disampaikan hotṛ kepada seorang raja tentang
Adhyaya 102
The Merit and Ritual Procedure of Donating a Jaggery Cow (Guḍadhenu)
Dalam bingkai ajaran Varāha–Pṛthivī, bab ini menjadi pedoman ritual guḍadhenu-dāna: membuat dan menghadiahkan “sapi” per
Adhyaya 103
Ritual Procedure for the Donation of the ‘Sugar-Cow’ (Śarkarā-Dhenu)
Dalam kerangka ajaran Varāha–Pṛthivī, bab ini menjadi pedoman ritual bagi raja tentang pembuatan dan sedekah śarkarā-dhe
Adhyaya 104
The Eulogy and Procedure of the ‘Honey-Cow’ Gift (Madhudhenudāna)
Dalam bingkai ajaran Varāha–Pṛthivī, bab ini memaparkan tata-ritual madhudhenudāna, “sedekah sapi berbentuk madu”, yang
Adhyaya 105
Ritual Procedure for the Gift of the Milk-Cow (Kṣīradhenu)
Dalam bingkai ajaran Varāha–Pṛthivī, bab ini memaparkan tata cara dāna-vidhi untuk membuat dan mempersembahkan “kṣīradhe
Adhyaya 106
The Significance and Rite of Donating the ‘Curd-Cow’ (Dadhidhenudāna)
Dalam bingkai dialog Varāha–Pṛthivī, adhyaya ini memberi pedoman ringkas (vidhāna) tentang dadhidhenudāna: sedekah ‘sapi
Adhyaya 107
The Glorification of Donating a Butter-Cow (Navanīta-Dhenu)
Dalam bingkai ajaran Varaha kepada Prithivi, adhyaya ini memaparkan tata cara (vidhi) membuat dan mendanakan “sapi” simb
Adhyaya 108
The Eulogy and Procedure of Donating the ‘Salt-Cow’ (Lavaṇadhenu)
Dalam kerangka ajaran Varaha–Prthivi, bab ini memaparkan tata cara dan kemuliaan lavaṇadhenu-dāna, yaitu sedekah “sapi”
Adhyaya 109
The Merit and Procedure of Donating the ‘Cotton Cow’ (Kārpāsa-dhenu)
Dalam bingkai dialog Varāha–Pṛthivī, adhyaya ini mengajarkan kārpāsadhenu-dāna, yakni sedekah ‘sapi’ simbolik yang diben
Adhyaya 110
The Glory and Procedure of the Grain-Cow (Dhānyadhenu) Donation
Bab ini, dalam pola ajaran Varāha–Pṛthivī kepada seorang raja, menjelaskan kemuliaan (māhātmya) dan tata cara rinci dāna
Adhyaya 111
The Eulogy of Donating a Tawny (Kapilā) Cow
Dalam bingkai ajaran Varāha kepada Pṛthivī, adhyaya ini memaparkan kemuliaan kapilādhenudāna, yakni sedekah seekor sapi
Adhyaya 112
Praise and Procedure of Donating the Two-Faced Kapilā Cow and the Golden Pot (Hema-kumbha)
Adhyaya 112 berbentuk dialog ajaran: Pṛthivī memohon Varāha menjelaskan pahala (puṇya-phala) sapi Kapilā, terutama bila
Adhyaya 113
Hymn to Varāha and Pṛthivī’s Inquiry (Prelude to the Sanatkumāra Dialogue)
Adhyaya 113 dibuka dengan stuti kepada Varaha, memuji wujud babi hutan Viṣṇu sebagai pelaku kosmis yang mengangkat Bumi
Adhyaya 114
The Varāha Incarnation and Pṛthivī’s Inquiries on Ritual Procedure and Devotional Outcomes
Adhyaya 114 dibuka dengan para resi memuji Nārāyaṇa. Lalu Bhagavān Varāha berbicara kepada Vasundharā (Pṛthivī), berjanj
Adhyaya 115
The Arising of Diverse Dharmas: Devotional Observances and Varṇa-Based Duties
Menjawab pertanyaan Pṛthivī tentang perbuatan yang membawa kesejahteraan surgawi dan keteguhan perilaku manusia, Varāha
Adhyaya 116
An Exposition on the Causes of Happiness and Suffering
Dalam dialog dengan Pṛthivī (Vasundharā), Varāha memaparkan sebab-sebab sukha (kesejahteraan) dan duḥkha (penderitaan) m
Adhyaya 117
The Thirty-Two Offenses: Rules of Purity and Proper Conduct in Worship
Dalam adhyaya ini, Bhagavan Varaha menasihati Pṛthivī (Vasundharā) dengan “āhāra-vidhi-niścaya”, yakni penetapan tata ca
Adhyaya 118
Procedure for Divine Worship Services (Ritual Attendant Protocol)
Adhyaya ini berisi ajaran Śrīvarāha kepada Pṛthivī tentang urutan harian devopacāra (layanan pemujaan) yang disiplin bag
Adhyaya 119
Ritual Regulations on Permissible Foods for Offering and Consumption
Adhyaya 119 melanjutkan dialog ajaran antara Pṛthivī (Dharāṇī/Vasudhā) dan Varāha. Setelah mendengar karmavidhi yang men
Adhyaya 120
Procedure for the Three Daily Twilight Mantra-Observance
Dalam bentuk dialog, Varaha menasihati Pṛthivī (Dharā/Devī) dengan ajaran “sangat rahasia” untuk menyeberangkan diri dar
Adhyaya 121
Avoidance of Rebirth in the Womb: Ethical Conduct and the Prevention of Degraded Rebirth
Dalam dialog ajaran, Varāha menasihati Pṛthivī (Vasundharā/Mādhavī) tentang sifat dan laku yang membuat seseorang “tidak
Adhyaya 122
The Greatness of Kokāmukha (Sacred Site Eulogy and Salvific Narrative)
Varaha menasihati Pṛthivī (Vasundharā) dengan ajaran rahasia “Kokāmukha-māhātmya”. Ia menegaskan bahwa pembebasan bahkan
Adhyaya 123
The Greatness of Fragrant Flowers and Leaves: Prabodhinī (Awakening) Observances and Seasonal Rites
Setelah mendengar kisah pahala Kokā, Pṛthivī heran bahwa bahkan kelahiran sebagai hewan dapat mencapai tujuan tertinggi,
Adhyaya 124
Ritual Observances Aligned with the Seasons (Seasonal Devotional Procedure)
Adhyaya ini berbentuk dialog pengajaran antara Varāha (Nārāyaṇa berwujud babi hutan) dan Pṛthivī (Vasundharā). Varāha mu
Adhyaya 125
The Cycle of Māyā (Illusory Causation and Perceptual Reversal)
Sūta menuturkan dialog ketika Pṛthivī, setelah mendengar laku suci yang membawa keberuntungan dan penyucian, memohon kep
Adhyaya 126
The Greatness of Kubjāmraka: Raibhya’s Boon and the Teaching on the Sacred Tīrthas
Dalam bingkai dialog, Pṛthivī memohon Varāha menjelaskan kemuliaan Kubjāmraka yang sebelumnya disebut namun belum dikena
Adhyaya 127
Description of the Brāhmaṇa Initiation Procedure (Dīkṣā-sūtra)
Sesudah mendengar ajaran sebelumnya, Pṛthivī (Bumi) menyapa Janārdana/Varāha: kemuliaan kṣetra yang telah diceritakan me
Adhyaya 128
Rites for the comb, collyrium, and mirror; initiations for the four social orders; and the Gaṇāntikā vow/insignia
Dalam dialog ajaran Varāha kepada Pṛthivī, bab ini menetapkan tata cara dīkṣā Vaiṣṇava yang dibedakan bagi calon kṣatriy
Adhyaya 129
Initiation for the Four Social Orders, Sandhyā Mantra Procedure, and the Merit of Offering Water in a Copper Vessel
Adhyaya 129 berbentuk dialog ajaran: Pṛthivī (Vasundharā) memohon penjelasan rahasia tentang mantra dan tata cara sandhy
Adhyaya 130
Expiation and Dietary Discipline Concerning the Consumption of Royal Food (rājānna)
Adhyaya 130 berbentuk dialog ajaran. Pṛthivī (Vasundharā) setelah mendengar kisah dīkṣā bertanya kepada Varāha/Nārāyaṇa
Adhyaya 131
Expiation for Chewing the Tooth-stick (Dantakāṣṭha)
Adhyaya ini berbentuk dialog ajaran antara Varaha dan Prthivi tentang kemurnian ritual serta akibat etis dari perilaku h
Adhyaya 132
Expiatory Rites for Contact with a Corpse and with a Menstruating Woman
Adhyaya 132 disajikan sebagai dialog ajaran antara Varaha dan Prthivi (Dharani). Varaha menjelaskan prāyaścitta (ritus p
Adhyaya 133
Expiations for ritual-time impurity and the offense of defecation/urination in a sacred context
Adhyaya 133 disajikan sebagai dialog ajaran, ketika Varaha menjelaskan prāyaścitta (tata penebusan) atas kenajisan tubuh
Adhyaya 134
Expiations for Ritual and Temporal Offences in Worship, and the Prescribed Purificatory Procedure (Upaspṛśya)
Adhyaya ini menampilkan dialog ajaran antara Varaha dan Pṛthivī (Dharaṇī/Vasundharā) tentang cara para bhakta menebus ke
Adhyaya 135
Prescriptions for Expiation of Offences: Red/Black Garments, Improper Touch in Darkness, Impure Leftovers, Eating Boar-Meat, and Consuming Jālapāda
Varaha mengajarkan kepada Pṛthivī rangkaian pelanggaran sosial dan ritual beserta prāyaścitta (penebusannya), agar beban
Adhyaya 136
A Sūtra-like Manual of Expiations for Ritual Transgressions
Dalam adhyaya ini, Varāha mengajar Pṛthivī tentang prāyaścitta (tata laku penebusan) atas pelanggaran tata ritual yang t
Adhyaya 137
The Tale of the Vulture and the She-Jackal: The Māhātmya of the Saukarava Sacred Field
Bab ini berbentuk dialog pedagogis: Pṛthivī bertanya kepada Varāha tentang kesucian tertinggi kṣetra Saukarava serta bua
Adhyaya 138
The Episode of the Khañjarīṭa Bird (and the Saukarava Tīrtha’s Merit)
Dalam bentuk dialog, Pṛthivī (Bumi) bertanya kepada Varāha tentang kemuliaan kṣetra Saukarava: bagaimana “kematian tanpa
Adhyaya 139
The Glory of Varāha’s Rite: Merits of Cow-dung Plastering, Sweeping, Singing, Instrumental Music, and Dance (with a Truth-Vow Exemplum)
Varāha mengajarkan kepada Pṛthivī hasil karma dari tindakan pelayanan praktis yang terkait pemujaan-Nya, yang juga menja
Adhyaya 140
The Greatness of Kokāmukha (Badarī): Varāha’s Hidden Abode and the Sacred Waters
Dalam bentuk dialog, Pṛthivī (Dharā) bertanya kepada Varāha: di mana Ia senantiasa bersemayam, apakah tempat tertinggi-N
Adhyaya 141
The Sacred Greatness of Badarikāśrama (Badrinath Region)
Dalam dialog dengan Pṛthivī (Bumi), Varāha menjelaskan kesucian luar biasa Badarikāśrama di lereng Himalaya, sebagai kaw
Adhyaya 142
The Greatness of Esoteric Practice: Menstrual Impurity, Mental Equanimity, and Seasonal Conjugal Ethics
Adhyaya 142 disajikan sebagai dialog pengajaran antara Pṛthivī (Vasundharā) dan Varāha tentang kemuliaan praktik esoteri
Adhyaya 143
Exposition of the Glory of the Mandāra Sacred Grove
Varaha menasihati Pṛthivī (Vasundharā) dan memperkenalkan kediaman “sangat rahasia” bernama Mandāra, tercinta bagi para
Adhyaya 144
The Māhātmya of Someśvara and Related Liṅgas: The Liberation-Field of Triveṇī and the Śālagrāma Sacred Landscape
Dalam bentuk dialog, Pṛthivī (Vasundharā) memohon Varāha menjelaskan suatu loka suci yang lebih unggul daripada Mandāra.
Adhyaya 145
The Greatness of the Śālagrāma Sacred Region
Dalam dialog, Pṛthivī bertanya kepada Varāha tentang pertapa Sālaṅkāyana dan alasan tapa-bratanya di kṣetra pembebasan.
Adhyaya 146
The Greatness of Hṛṣīkeśa at Rurukṣetra: The Origin Narrative of Ruru and the Sacred Site
Dalam bingkai dialog yang disampaikan Sūta, Pṛthivī bertanya kepada Varāha tentang kesucian Rurukṣetra, asal nama “Ruru”
Adhyaya 147
The Sacred Merit of Goniṣkramaṇa (the Tīrtha of the Cows’ Emergence/Release)
Dalam dialog, Pṛthivī memohon kepada Varāha agar mengungkapkan satu tīrtha yang lebih rahasia dan menyucikan, melampaui
Adhyaya 148
The Greatness of Stutasvāmi: Varāha’s Disclosure of the Bhūtagiri Sacred Landscape and Its Ethical Discipline
Bab ini berupa dialog: Pṛthivī, setelah mendengar kemuliaan rahasia goniṣkramaṇa, memohon kepada Varāha ajaran yang lebi
Adhyaya 149
The Sacred Geography and Merit of Dvārakā
Bab ini dibuka dengan Pṛthivī (Dharaṇī) yang merasa tenteram setelah mendengar pujian sebelumnya tentang Stutasvāmin, la
Adhyaya 150
The Sacred Greatness of Sānandūra
Setelah mendengar kemuliaan Dvārakā, Pṛthivī (Vasundharā) menyatakan syukur dan memohon kepada Varāha (Viṣṇu) agar mengu
Adhyaya 151
The Sacred Greatness of Lohārgala (The ‘Iron-Bolt’ Tīrtha)
Bab ini berbentuk dialog pengajaran. Setelah mendengar kisah-kisah suci sebelumnya, Pṛthivī bertanya kepada Varāha apaka
Adhyaya 152
Praise of the Sacred Geography of Mathurā
Bab ini berbentuk dialog pengajaran: Pṛthivī (Bumi), setelah mendengar kebesaran Varāha, memohon ajaran tentang tīrtha y
Adhyaya 153
The Glory of the Mathurā Sacred Landscape: Saṃyamana Tīrtha and the Twelve Sacred Forests
Dalam dialog dengan Pṛthivī (Vasundharā), Varāha memperkenalkan siklus tīrtha Mathurā. Ia menegaskan keagungan himpunan
Adhyaya 154
The Efficacy of Yamunā River Pilgrimage Sites (Merits of Mathurā-Region Tīrthas)
Dalam dialog dengan Pṛthivī (Vasundharā), Varāha menegaskan Mathurā sebagai bentang suci berdaya-ritual yang berpusat pa
Adhyaya 155
The Efficacy and Sacred Merit of Akrūra Tīrtha
Varaha, dalam dialog ajaran kepada Pṛthivī (Vasundharā), menjelaskan kelangkaan dan keteguhan Ananta/Akrūra Tīrtha serta
Adhyaya 156
The Manifest Sacred Landscape of Mathurā: Merits of Vatsakrīḍanaka, Bhāṇḍīraka, Vṛndāvana, Keśītīrtha, and the Sūrya-Tīrthas
Bab ini, dalam dialog ajaran Varāha kepada Pṛthivī, memetakan geografi suci di sekitar Mathurā melalui uraian beberapa t
Adhyaya 157
Praise of the Malayārjuna Sacred Ford and the Mathurā–Yamunā Pilgrimage Cycle
Dalam bentuk dialog, Varaha mengajarkan kepada Pṛthivī tentang jejaring perairan suci dan rimbunan/wanagiri di sekitar Y
Adhyaya 158
The Manifestation and Sanctifying Power of the Mathurā Tīrtha
Varāha menjelaskan kepada Pṛthivī bahwa Mathurā adalah maṇḍala sucinya sendiri; mandi suci di sana melenyapkan dosa dan
Adhyaya 159
The Procedure and Merit of Circumambulating Mathurā
Bab ini berbentuk dialog ajaran antara Pṛthivī (Dharaṇī) dan Varāha. Pṛthivī berkata bahwa ia telah mendengar uraian lua
Adhyaya 160
The Prescribed Emergence and Procedure of the Mathurā Circumambulation (Parikramā)
Varaha mengajarkan kepada Pṛthivī waktu yang tepat, kaul, dan rute parikramā Mathurā, menegaskan ziarah sebagai perjalan
Adhyaya 161
The Efficacy of the Sacred Forests: The Merit of Pilgrimage to Mathurā’s Twelve Groves
Dalam dialog ajaran, Pṛthivī (Dharaṇī) bertanya kepada Varāha tentang nasib orang yang berpaling dari dharma dan tidak m
Adhyaya 162
The Efficacy and Merit of Cakra-tīrtha
Varaha menuturkan kepada Prthivi sebuah peristiwa di utara Mathura untuk menunjukkan prabhava (daya-utama) Cakratirtha.
Adhyaya 163
The Greatness of Kapila-Varāha: The Efficacy of Vaikuṇṭha Tīrtha and the Installation History of the Varāha Image
Varāha berbicara kepada Pṛthivī (Vasundharā) dan mengisahkan peristiwa lama yang menegaskan daya penyucian Vaikuṇṭha-tīr
Adhyaya 164
The Efficacy of Circumambulating Annakūṭa (Govardhana)
Dalam bentuk dialog, Varāha menjelaskan kepada Pṛthivī geografi suci serta daya ritual wilayah Govardhana/Annakūṭa di se
Adhyaya 165
The Glory of Mathurā: The Account of Piṇḍa-Offering at the Catuḥsāmudrika Well
Varaha menasihati Pṛthivī dan menceritakan teladan dari Pratiṣṭhāna di wilayah Dakṣiṇāpatha. Seorang vaiśya kaya bernama
Adhyaya 166
The Greatness of the Sacred Pond Called Asikuṇḍa
Pṛthivī memohon kepada Varāha agar menjelaskan kemuliaan tīrtha bernama Asikuṇḍa. Varāha menuturkan kisah kerajaan: raja
Adhyaya 167
The Glory of the Viśrānti Tīrtha and the Account of a Rākṣasa’s Liberation
Menjawab pertanyaan Pṛthivī, Varāha menjelaskan mengapa sebutan suci “Viśrānti” pertama kali terucap dari mulut seorang
Adhyaya 168
The Merit of Seeing Mathurā’s Guardian-Deity and a Catalog of Mathurā’s Sacred Geography
Pṛthivī menanyakan pelindung yang ditempatkan untuk menjaga Mathurā dan pahala (puṇya) apa yang timbul dari melihatnya.
Adhyaya 169
The Greatness of Mathurā: The Ardhacandra Sacred Bathing Rite and the Procedure for the Yajñopavīta Observance
Varaha memuliakan Mathura sebagai lanskap suci tiada banding di tiga dunia, dipenuhi kehadiran Sri Kresna dan ditandai p
Adhyaya 170
The Birth of Gokarṇa and the Fruits of Śiva Worship (including the Śukodara Parrot Episode and Hospitality Ethics)
Varaha menuturkan kepada Prithivi kisah lama di Mathura tentang keluarga saudagar Vasukarna dan istrinya Susila yang ber
Adhyaya 171
Śuka’s Ocean Voyage: Adverse Winds, Arrival at a Viṣṇu Shrine, and Aid from the Jaṭāyu Birds
Varāha menuturkan kepada Pṛthivī kisah Śuka dan ayahnya, Gokarṇa, yang berangkat dari Mathurā dalam pelayaran dagang men
Adhyaya 172
The Harm of Destroying a Grove and the Merit of Tree-Planting as Pūrta-Dharma
Varaha menuturkan kisah didaktis tentang Gokarna. Gokarna melihat sekelompok devi yang dahulu bercahaya kini cacat dan t
Adhyaya 173
Account of Gokarṇa’s Śuka-Satra, Temple Consecration, and the Resulting Merit
Varaha menuturkan kepada Pṛthivī peristiwa setelah Gokarṇa menetap dengan penuh keberkahan: ia memuliakan Śuka, orang tu
Adhyaya 174
The Sanctifying Power of River Confluences: Release from the Preta-State and the Rite of Śravaṇa Dvādaśī with Vāmana Worship
Adhyaya ini diajarkan oleh Varaha Bhagavan bahwa saṅgama (pertemuan dua sungai) adalah penyuci, bahkan bagi dosa berat.
Adhyaya 175
The Sanctity of the Kṛṣṇagaṅgā Pilgrimage-Ford and the Account of the Brahmin Vasu’s Daughter
Varaha melanjutkan ajaran kepada Pṛthivī dengan memuliakan kompleks tirtha Kṛṣṇagaṅgā dan Yamunā (Kālindī), menegaskan b
Adhyaya 176
The Māhātmya of Kṛṣṇagaṅgodbhava, Kāliñjara, and the Five Sacred Baths: The Tale of Pāñcāla and Tilottamā
Dalam bingkai ajaran Varāha–Pṛthivī, bab ini menegaskan bahwa tīrtha (tempat suci) di bumi menjadi sarana pemulihan etik
Adhyaya 177
The Curse of Sāmba and the Prescribed Observance of Sun-Worship
Varāha menasihati Pṛthivī untuk mendengar kisah lain tentang laku Kṛṣṇa di Dvārakā yang berpusat pada Sāmba. Nārada data
Adhyaya 178
Ritual Observance for Reciting the Deeds of Śatrughna (Remembrance of the Slaying of Lavaṇa)
Varaha, sebagai pengajar utama yang menanggapi minat Pṛthivī pada perbuatan berpahala, menjelaskan bahwa mengingat kisah
Adhyaya 179
Enumeration of Ritual Offenses and Their Expiations; The Sacred Merit of Saukara and Mathurā Pilgrimage
Dalam dialog yang dibingkai oleh kegelisahan Pṛthivī atas tertib etika-ritual, ia bertanya bagaimana “pelanggaran” (apar
Adhyaya 180
The Glory of Dhruva-Tīrtha: Rules of Ancestor Libations and Śrāddha, and the Consequences of Lineage-Continuity
Varaha menjelaskan kepada Pṛthivī sebuah kisah di Dhruva-Tīrtha untuk menegaskan makna “pitṛ-tṛpti” (kepuasan para leluh
Adhyaya 181
Ritual Procedure for Installing and Consecrating a Madhūka-Wood Icon
Bab ini berbentuk dialog pengajaran. Pṛthivī (Vasundharā), setelah mendengar keutamaan tempat suci dan ritusnya, takjub
Adhyaya 182
Installation of a Stone Image (Ritual Procedure for Consecration)
Dalam bentuk dialog, Varāha menjelaskan kepada Pṛthivī tata cara bertahap pemasangan/penahbisan (sthāpana/pratiṣṭhā) arc
Adhyaya 183
Installation of a Clay Icon (Mṛnmayārcā) and the Ritual Protocol of Worship
Dalam dialog dengan Pṛthivī (Vasundharā), Varāha memaparkan pedoman tata cara menegakkan dan memuja arca tanah liat (mṛn
Adhyaya 184
Installation of a Copper Icon (Tāmrārcā) and Its Consecratory Worship
Dalam ajaran Varāha kepada Pṛthivī, bab ini memaparkan tata cara bertahap pratiṣṭhā (penetapan) arca tembaga. Arca yang
Adhyaya 185
Installation of a Bronze (Kāṁsya) Icon (Arcā)
Adhyaya ini memuat ajaran Varāha kepada Pṛthivī tentang tata cara yang benar untuk memasang arca (arcā) beliau dari peru
Adhyaya 186
Ritual Procedure for Installing Silver and Gold Images, and the Special Status of Śālagrāma
Varāha mengajarkan Pṛthivī tata cara bertahap membuat dan memasang pratima perak: mutu bahan, iringan musik dan pujian a
Adhyaya 187
Determination of the Origin and Procedure of the Ancestral Offering (Pitṛyajña/Śrāddha)
Dalam bentuk dialog, Pṛthivī (Dharaṇī) memohon Varāha menjelaskan ajaran tersembunyi tentang pitṛyajña/śrāddha: pahala,
Adhyaya 188
Section on the Origin and Procedure of Piṇḍa-Rites and Śrāddha: Rules of Mourning Impurity (Aśauca)
Dalam dialog ajaran, Pṛthivī memohon Varāha menjelaskan aśauca (kenajisan setelah kematian) serta tata cara śrāddha dan
Adhyaya 189
Section on the Origin and Procedure of Piṇḍa-Rites (Funerary Offerings) and Donor–Recipient Purification
Pṛthivī bertanya kepada Varāha tentang dilema tata-cara dan etika dalam śrāddha: bila para brāhmaṇa menerima dan memakan
Adhyaya 190
Determinative Exposition on Śrāddha and the Pitṛyajña (Ancestral Offering)
Dalam dialog dengan Pṛthivī, Varāha menjelaskan logika ritual serta batasan sosial-etis śrāddha dan pitṛyajña (persembah
Adhyaya 191
Section on the Origin of Madhuparka and the Procedure for Its Ritual Donation
Setelah mendengar banyak ajaran dharma, Pṛthivī kembali bertanya kepada Varāha dengan permohonan penjelasan “rahasia”: a
Adhyaya 192
Description of the Universal Peace-Recitation and the Madhuparka Rite
Setelah mendengar asal-usul, persembahan, dan buah (pahala) madhuparka, Pṛthivī yang menjalankan tapa-brata mendekati Ja
Adhyaya 193
Naciketas’ Journey to Yama’s Abode and the Eulogy of Truthfulness
Dalam bingkai pengajaran Varāha–Pṛthivī, adhyaya ini menyajikan kisah teladan. Raja Janamejaya, gelisah akan akibat karm
Adhyaya 194
The Return of Naciketas from Yama’s Abode: Inquiry into Death, Karma, and Dharmic Release
Dalam gaya pengajaran Purana (dibingkai sebagai dialog Varaha–Prithivi), adhyaya ini menuturkan kembalinya Naciketas set
Adhyaya 195
Description of Sinners Abiding in Yama’s Realm (Catalog of Transgressions and the Logic of Retribution)
Dalam pedagogi dialogis Varaha Purana, Varaha mengajarkan kepada Pṛthivī bahwa dharma adalah etika yang menopang bumi. A
Adhyaya 196
Description of the City of Dharmarāja (Yama)
Dalam bingkai pengajaran Varāha–Pṛthivī, adhyaya ini disampaikan lewat narasi berantai: Vaiśampāyana melapor kepada para
Adhyaya 197
The Division of the Gates of Yama’s City and the Description of the Tribunal Hall
Dalam bingkai ajaran Varaha–Prithivi, bab ini menguraikan pengadilan karma sebagai pelajaran pengendalian etika dan tang
Adhyaya 198
Description of the Torments within the Cycle of Rebirth: Hymn to Yama and the Introduction to Citragupta’s Administration
Dalam bingkai pengajaran Varaha–Prthivi, adhyaya ini memaparkan laporan didaktis tentang putra seorang resi yang berjump
Adhyaya 199
Description of the Torments of Rebirth: The Asipatravana Punishment and the Mechanics of Karmic Retribution
Dalam adhyaya ini, dalam bingkai ajaran Varaha kepada Prithivi, dipaparkan daftar yātanā (siksaan) yang menimpa pelaku p
Adhyaya 200
Description of the Forms of Infernal Torments (Naraka Yātanās)
Dalam kerangka ajaran Varāha–Pṛthivī, adhyaya ini menjadi peringatan etis dengan memetakan “geografi” pengalaman naraka
Adhyaya 201
The Battle between the Rākṣasas and Yama’s Attendant-Messengers
Dalam bingkai ajaran Varāha kepada Pṛthivī, bab ini menampilkan tata kelola kosmis dan penegakan dharma. Para utusan Yam
Adhyaya 202
Description of Infernal Punishments and the Ripening of Karmic Consequences
Adhyaya ini mengajarkan karmavipāka melalui kisah tata kelola neraka, dalam bingkai guru–penanya: Varāha menenangkan keg
Adhyaya 203
Enumeration and Description of Classes of Sins and Their Consequences
Dalam gaya didaktik Purana ketika Varaha menasihati Prthivi, adhyaya ini menyajikan taksonomi terperinci tentang pāpa (p
Adhyaya 204
Description of the Dispatching of Messengers (Yama’s Envoys) and Chitragupta’s Orders
Dalam bingkai ajaran Varāha–Pṛthivī, bab ini disampaikan oleh seorang ṛṣi sebagai laporan atas titah Chitragupta, menamp
Adhyaya 205
Description of the Proclamation of Auspicious and Inauspicious Karmic Results
Dalam bingkai ajaran Varāha kepada Pṛthivī, adhyāya ini menyajikan laporan didaktis dari putra seorang ṛṣi tentang apa y
Adhyaya 206
Section on the Manifestation of the Fruits of Auspicious Deeds
Dalam bingkai ajaran Varāha–Pṛthivī, bab ini disampaikan sebagai laporan seorang ṛṣi tentang pesan Citragupta mengenai p
Adhyaya 207
Section on the ‘Person’ who Entices Beings within the Cycle of Rebirth
Dalam rangka ajaran Varāha kepada Pṛthivī, adhyāya ini memuat sub-dialog didaktis: Ṛṣiputra melaporkan apa yang didengar
Adhyaya 208
Narration of the Exemplum of the Pativratā (Devoted Wife)
Dalam bingkai dialog Varaha–Prithivi, adhyaya ini menyajikan teladan dharma melalui percakapan Yama (Dharmaraja), Narada
Adhyaya 209
Description of the Greatness of the Pativratā (Marital Fidelity and Ethical Devotion)
Dalam corak ajaran Varāha Purāṇa (dengan latar dialog Varāha–Pṛthivī), adhyāya ini memuat percakapan tambahan ketika Nār
Adhyaya 210
Inquiry into Moral Agency (Karma) and Practical Means for the Dissolution of Sin: the Śiśumāra Contemplation
Dalam bingkai pengajaran Varāha–Pṛthivī, adhyaya ini disampaikan sebagai dialog: Nārada bertanya kepada Yama tentang per
Adhyaya 211
Methods for the Removal of Sin and the Eulogy of Prabodhinī Ekādaśī/Dvādaśī
Bab ini dibuka dengan Nārada yang memohon petunjuk kesejahteraan kepada Dharmarāja (Yama) yang berlaku bagi semua makhlu
Adhyaya 212
An Awakening Description within the Allegory of the Wheel of Saṃsāra
Dalam bingkai pengajaran Varāha–Pṛthivī, adhyāya ini menjadi bagian penerimaan dan lanjutan dari kisah dharma sebelumnya
Adhyaya 213
The Glory of Gokarṇeśvara: Nandin’s Austerities and Śiva’s Boons
Dalam gaya dialogis Varaha Purana, Varaha mengajar Pṛthivī. Dalam dialog tersisip, Sanatkumāra bertanya kepada Brahmā te
Adhyaya 214
The Glory of Gokarṇa: Description of Nandikeśvara’s Boon and the Assembly of Deities on Mount Muñjavat
Dalam bingkai ajaran Varāha–Pṛthivī, adhyaya ini menuturkan kisah tīrtha-māhātmya tentang bagaimana anugerah ilahi dan l
Adhyaya 215
Description of the Māhātmya of Gokarṇeśvara and Jaleśvara (Śaileśvara) in the Śleṣmātaka Forest
Dalam bingkai ajaran Varāha–Pṛthivī, adhyaya ini memaparkan tīrtha-māhātmya Gokarṇeśvara dan Jaleśvara (Śaileśvara) di h
Adhyaya 216
The Sacred Account of Gokarṇa, Śṛṅgeśvara, and Related Tīrthas
Dalam bingkai ajaran Varāha kepada Pṛthivī, adhyaya ini memaparkan asal-usul lanskap suci yang berpusat pada Gokarṇa dan
Adhyaya 217
Eulogy of the Merits (Phalaśruti) of the Dharāṇī–Varāha Dialogue
Adhyaya ini merupakan phalaśruti resmi yang memuliakan saṃvāda Dharāṇī–Varāha sebagai ajaran yang bila didengar, dibaca,
Adhyaya 218
Index of Topics and Reading Protocols (Anukramaṇikā Chapter)
Adhyaya ini berfungsi sebagai anukramaṇikā, yakni daftar isi terstruktur yang merangkum unit-unit naratif dan ajaran uta
The chapter frames an Earth-centered ethic through narrative: Pṛthivī’s rescue becomes the basis for asking how the world is created, stabilized, and protected. The text positions terrestrial preservation (bhū-uddhāra and ongoing safeguarding) as a central cosmological concern, expressed through praise, inquiry, and protective recitation directed to Viṣṇu/Varāha.
No explicit tithi, lunar month, vrata timing, or seasonal markers appear in this adhyāya. The temporal framework is instead kalpa-based recurrence (“kalpe kalpe”), emphasizing cyclical cosmic time rather than ritual calendrics.
Terrestrial balance is encoded through the motif of Earth’s destabilization and recovery: Pṛthivī is carried toward rasātala and restored from the mahārṇava by Varāha. The subsequent protective stuti and body-guarding invocations function as a literary model for safeguarding the integrity of the world-body (Earth) within a broader cosmological order.
The chapter references avatāra-linked figures and antagonists as cultural memory rather than genealogical lists: Hiraṇyakaśipu, Bali (bound by Vāmana), Jāmadagnya Rāma (Paraśurāma), and Rāvaṇa. It also includes cosmological personnel: Śeṣa (supporting Viṣṇu) and Brahmā (four-faced, lotus-born from the navel).
The text foregrounds a cosmological pedagogy: correct knowledge of creation (sarga) and its ordered taxonomies is presented as foundational to understanding dharma and sustaining the intelligibility of the world. By casting Pṛthivī as ‘bhūta-dhātrī’ and by linking knowledge-loss/restoration (through Sāvitrī and the Vedas) to cosmic order, the chapter implicitly treats the maintenance of terrestrial balance as dependent on disciplined cognition, lineage memory, and orderly social-cosmic roles.
The chapter uses cosmological chronology rather than ritual calendrics: it references kalpa transitions (end of a prior kalpa and awakening at the start of a new cycle), and it introduces the caturyuga sequence (kṛta, tretā, dvāpara, kali). No tithi, nakṣatra, māsa, or seasonal observances are specified in the provided passage.
Environmental balance is encoded through cosmogony: Pṛthivī is explicitly described as bhūta-dhātrī (support of beings), and creation proceeds through graded differentiation (elements, guṇas, and sarga classes). The narrative’s emphasis on ordered emergence (rather than chaos) frames ‘Earth-sustenance’ as a function of correct cosmic sequencing and knowledge continuity—reinforced by the Śvetadvīpa episode where Vedic knowledge is lost and restored, symbolizing the recovery of an ordering principle that stabilizes worldly life.
The text references Svāyambhuva Manu and early royal figures Priyavrata and Uttānapāda, situating cosmogony alongside genealogy. It lists major sages/Prajāpatis (Sanaka and related Kumāras; Marīci, Atri, Aṅgiras, Pulaha, Kratu, Pulastya, Pracetā, Bhṛgu, Nārada, Vasiṣṭha) and introduces Dakṣa as a progenitor whose daughters generate classes of beings (devas, dānavas, gandharvas, uragas, and birds). Rudra is described as arising from Brahmā’s anger and differentiated into multiple forms (eleven Rudras).
The text advances renunciation and disciplined devotion (tapas with Nārāyaṇa-japa) as a means to transcend social dualities and reorient conduct toward restraint, continuity of learning, and service across cosmic cycles; it culminates in an explicit injunction to become viṣṇu-parāyaṇa (Viṣṇu-centered in life-practice).
No lunar tithi, vrata-calendar, or seasonal observance is specified. The chapter instead uses cosmic time markers: “brahmaṇaḥ yuga-sahasram” (a thousand yugas of Brahmā) and the creative ‘day’ of Brahmā (dinādi), placing Nārada’s rebirth within cyclical creation (sṛṣṭi) rather than ritual calendrics.