Adhyaya 118
Varaha PuranaAdhyaya 11857 Shlokas

Adhyaya 118: Procedure for Divine Worship Services (Ritual Attendant Protocol)

Devopacāra-vidhiḥ

Ritual-Manual

Adhyaya ini berisi ajaran Śrīvarāha kepada Pṛthivī tentang urutan harian devopacāra (layanan pemujaan) yang disiplin bagi bhakta atau pelayan ritual. Dimulai dari kemurnian tubuh dan tangan: mengangkat dantakāṣṭha dengan mantra, menyalakan pelita hanya setelah menyentuh tanah, serta mencuci tangan berulang-ulang, lalu tata cara pembersihan mulut. Sesudah itu dipaparkan persembahan wewangian, dupa, lampu, bunga, dan naivedya, masing-masing dengan mantra tertentu. Prosedur diperluas dengan abhyāṅga (mengoles minyak/ghi), udvartana (menggosok bubuk), snāna (mandi) memakai bejana yang ditetapkan, kemudian berhias dengan gandha, mālya, dan vastra. Kebersihan yang tertib dan persembahan yang berurutan dihubungkan dengan niat menuju mokṣa, sebagai etika bhakti yang hormat dan sadar akan bumi.

Primary Speakers

VarāhaPṛthivī

Key Concepts

devopacāra-krama (ordered sequence of offerings)śauca (purity discipline: hands, mouth, body)dantadhāvana and mukhaprakṣālana (oral cleansing rites)dīpa-vidhi (lamp-lighting protocol)abhyāṅga (anointing with taila/ghṛta) and its merit calculusudvartana (powder rubbing) for bodily purificationsnāna-vidhi (ritual bathing with kumbha types)gandha-mālya-vastra-upacāra (fragrance, garlands, clothing offerings)tāmbūla-upacāra (betel offering as mouth-adornment)mokṣa-orientation (saṃsāra-mokṣa framing of ritual intent)

Shlokas in Adhyaya 118

Verse 1

अथ देवोपचारविधिः ॥ श्रीवराह उवाच ॥ शृणु तत्त्वेन मे भद्रे प्रायश्चित्तं यथाविधि ॥ यथावत्स च दातव्यो मम भक्तेन विद्यया ॥

Kini tata cara upacara pelayanan kepada dewa. Śrī Varāha bersabda: Wahai Bhadrā, dengarkanlah dari-Ku, sesuai hakikat, penebusan (prāyaścitta) menurut ketentuan. Dan hendaknya itu diberikan/dilaksanakan dengan tepat oleh bhakta-Ku dengan pemahaman (vidyā).

Verse 2

वक्ष्यमाणेन मन्त्रेण उद्धृत्य दन्तकाष्ठकम् ॥ दीपं न ज्वालयेत् तावद् यावन्न स्पृश्यते धरा ॥

Dengan mantra yang akan disebutkan, setelah mengambil dantakāṣṭha (kayu siwak), jangan menyalakan pelita sampai tanah tersentuh (yakni sampai laku pendahuluan selesai).

Verse 3

दीपे प्रज्वालिते तत्र हस्तशौचं तु कारयेत् ॥ ततः प्रक्षाल्य हस्तौ तु पुनरेवमुपागतः ॥

Ketika pelita telah dinyalakan di sana, hendaknya dilakukan penyucian tangan; kemudian setelah membasuh kedua tangan, hendaknya mendekat kembali dengan cara yang sama (untuk melanjutkan ritus).

Verse 4

वन्दयित्वास्य चरणौ दन्तधावनमानयेत् ॥ अनेनैव तु मन्त्रेण दद्याद्वै दन्तकाष्ठकम् ॥

Setelah bersujud hormat pada kedua kakinya, hendaknya membawa perlengkapan pembersihan gigi; dan sungguh, dengan mantra yang sama ini hendaknya mempersembahkan dantakāṣṭha (kayu siwak).

Verse 5

मन्त्रश्च— भुवनभवन रविसंहरण अनन्तो मध्यश्चेति गृह्णेमं भुवनं दन्तधावनम्

Dan mantranya adalah: “Wahai tempat bersemayamnya segala dunia, wahai penarik kembali sang Surya, wahai Ananta, dan wahai Yang di Tengah; aku menerima ‘dunia’ ini—yakni pembersihan gigi ini.”

Verse 6

यत्त्वया भाषितं सर्वमेवं धर्मविनिश्चयम् ॥ दन्तधावनं दन्ते दद्याद्यावत्कर्म वसुन्धरे ॥

Wahai Vasundharā, segala yang engkau ucapkan demikianlah penetapan tentang dharma. Menurut tata laku yang ditentukan, hendaknya dantadhāvana ditempatkan pada gigi selama tindakan itu disyaratkan.

Verse 7

नित्यं शिरसोत्‍तार्य धृत्वा शिरसि चात्मनः ॥ पश्चात्तु जलपूतेन ततो हस्तेन सुन्दरी

Setiap hari, setelah merapikan (kain/rambut) di atas kepala dan meletakkannya pada kepala sendiri, kemudian, wahai jelita, dengan tangan yang disucikan oleh air sesudah itu…

Verse 8

कार्याणि मुखकर्माणि स्वल्पेन सलिलेन च ॥ मुखप्रक्षालने चेमं शृणु मन्त्रं च सुन्दरी

Tindakan-tindakan yang berkaitan dengan mulut hendaknya dilakukan dengan sedikit air; dan ketika membasuh wajah, wahai jelita, dengarkan pula mantra ini.

Verse 9

इष्ट्वेममुक्तमन्त्रेण संसारात्तु प्रमुच्यते

Dengan memuja melalui mantra yang telah dinyatakan ini, seseorang dibebaskan dari saṁsāra.

Verse 10

ततः पुष्पाञ्जलिं दत्त्वा भगवन् भक्तवत्सल ॥ नमो नारायणेत्युक्त्वा इमं मन्त्रमुदीरयेत्

Kemudian, setelah mempersembahkan segenggam bunga, (berseru) “Wahai Bhagavān, yang mengasihi para bhakta,” dan setelah mengucap “Namo Nārāyaṇa,” hendaknya melantunkan mantra ini.

Verse 11

मन्त्रज्ञानां यज्ञयष्टारं भूतस्रष्टारमेव च ॥ अन्य पुष्पाणि संगृह्य कल्यमुत्थाय माधवि

(Bermeditasi/bersujudlah) kepada-Nya sebagai yang mengetahui mantra, pelaksana yajña, dan juga pencipta makhluk. Setelah mengumpulkan bunga-bunga lainnya, bangkitlah pada waktu yang mujur, wahai Mādhavī…

Verse 12

पूजयेद्देवदेवेशं ज्ञानी भागवतः शुचिः ॥ निपतेद्दण्डवद्भूमौ सर्वकर्मसमन्वितः ॥ कायं निपतितं कृत्वा प्रसीदेति जनार्द्दनम् ॥ शिरसा चाञ्जलिं कृत्वा इमं मन्त्रं मुदाहरेत्

Seorang Bhāgavata yang suci dan berpengetahuan hendaknya memuja Tuhan para dewa. Dengan lengkapnya segala laku ritual, ia bersujud penuh di bumi seperti tongkat (dandavat). Setelah tubuh rebah bersujud, ucapkan: ‘Berkenanlah, wahai Janārdana.’ Dengan kepala tertunduk dan tangan terkatup, hendaknya melafalkan mantra ini.

Verse 13

मन्त्रैर्लब्ध्वा संज्ञां त्वयि नाथ प्रसन्ने त्वदिच्छातो ह्यपि योगिनां चैव मुक्तिः

Dengan memperoleh pengakuan/keteguhan melalui mantra-mantra—wahai Nātha, ketika Engkau berkenan—maka pembebasan bahkan bagi para yogin sungguh datang dari kehendak-Mu.

Verse 14

यतस्त्वदीयः कर्मकरोऽहमस्मि त्वयोक्तं यत्तेन देवः प्रसीदतु

Sebab aku adalah pelayan-Mu yang melaksanakan pekerjaan; maka, sesuai dengan apa yang telah Engkau sabdakan, semoga Sang Tuhan berkenan.

Verse 15

एवं मन्त्रविधिं कृत्वा मम भक्तिव्यवस्थितः ॥ पृष्ठतोऽनुपदं गत्वा शीघ्रं यावन्न हीयते

Demikian, setelah melaksanakan tata-cara mantra, tetap teguh dalam bhakti kepada-Ku; hendaknya ia melangkah mundur setapak demi setapak dengan segera, selama (tata-ritus) itu belum terganggu atau terabaikan.

Verse 16

एवं सर्वं समादाय मम कर्म दृढव्रतः ॥ शीघ्रं मेऽभ्यञ्जनं दद्यात्तैलेनाथ घृतेन वा

Demikian, setelah menata/menyelesaikan semuanya dengan semestinya, teguh dalam nazar mengenai ritus-Ku, hendaknya ia segera memberikan kepada-Ku pengurapan (abhyajana)—dengan minyak atau dengan ghee.

Verse 17

ततः स्नेहं समुद्दिश्य मन्त्रज्ञः कर्मकारकः ॥ एवं चित्तं समाधाय इमं मन्त्रमुदीरयेत्

Kemudian, dengan menunjuk pada snehā (minyak atau ghee), sang pelaku upacara yang mahir mantra dan tata-ritus hendaknya menenangkan batin dan melafalkan mantra ini.

Verse 18

मया प्रोक्तः क्षमस्वेति तुभ्यं चैव नमो नमः ॥ एवं मन्त्रः समाख्यातस्तेनाज्यात्प्रथमं शिरः

“Diucapkan olehku: ‘Ampunilah (aku),’ dan kepadamu sungguh hormat, hormat.” Demikianlah mantra dinyatakan; dengan mantra itu hendaknya terlebih dahulu mengurapi kepala dengan ghee.

Verse 19

दक्षिणाङ्गं ततोऽभ्यज्याद्वाममङ्गं ततोऽनु च ॥ पश्चात्पृष्ठं समभ्यज्य ततोऽभ्यज्यात्कटिं तथा

Kemudian hendaknya mengurapi sisi kanan, lalu menyusul sisi kiri. Setelah itu, setelah mengurapi punggung dengan saksama, hendaknya mengurapi pinggang pula.

Verse 20

पश्चालिम्पेत् ततो भूमिं गोमयेन दृढव्रतः ॥ तस्य दृष्ट्वा श्रुतं भद्रे गोमयेन सुनिश्चितम्

Sesudah itu, pengamal yang teguh dalam kaul hendaknya mengolesi tanah dengan kotoran sapi. Wahai yang mulia, mengenai hal ini, apa yang telah dilihat dan didengar telah diteguhkan sebagai laku yang memakai kotoran sapi.

Verse 21

यानि पुण्यान्यवाप्नोति तानि मे गदतः श्रुणु ॥ आज्यमानमपि तथा यावन्तस्तैलबिन्दवः

Dengarkan dariku ketika kujelaskan kebajikan yang diperoleh. Demikian pula, bahkan saat mengurapi dengan minyak atau ghee—sebanyak tetes minyak itu pula (dihitung sebagai pahala).

Verse 22

तावद्वर्षसहस्राणि स्वर्गलोके महीयते ॥ ततः पुण्यकृताँल्लोकान्पुरुषो योऽनुलिप्यते

Selama ribuan tahun sebanyak itu seseorang dimuliakan di alam surga. Setelah itu, orang yang demikian diolesi/diurapi mencapai dunia-dunia para pelaku kebajikan (punya).

Verse 23

एकैककणसंख्यातः स्वर्गलोके महीयते ॥ एवं योऽभ्यञ्जयेद्गात्रं तैलेन तु घृतेन वा

Ia dimuliakan di surga menurut ukuran yang dihitung dari tiap butir/tiap tetes. Demikianlah, siapa pun yang mengurapi tubuh dengan minyak, atau dengan ghee, memperoleh pahala itu.

Verse 24

तावद्वर्षसहस्राणि मम लोके प्रतिष्ठति ॥ अथ चोद्वर्त्तनं भद्रे प्रवक्ष्यामि प्रियं मम

Selama ribuan tahun sebanyak itu ia berdiam di duniaku. Kini, wahai yang mulia, akan kujelaskan udvartana—gosokan/pijatan—yang kukasihi.

Verse 25

येन शुध्यन्ति चाङ्गानि मम प्रीतिश्च जायते ॥ भोगिना यदि वा रोध्रं यदि पिप्पलिकामधु

Dengan itu anggota-anggota tubuh menjadi suci dan keridaan-Ku pun timbul. (Untuknya) dapat digunakan bhoginā; atau lodhra; atau madu pippalikā.

Verse 26

मधूकमश्वपर्णं वा रोहिणं चैव कर्कटम् ॥ एतेषां प्राप्य लभते शास्त्रज्ञः कर्मकारकः

(Atau) madhūka, atau aśvaparṇa; juga rohiṇa, dan karkaṭa. Setelah memperolehnya, pelaku yang memahami śāstra dan terampil dalam pelaksanaan karma-ritual meraih hasil yang dimaksud.

Verse 27

यदीच्छेत्परमां सिद्धिं मम कर्मानुसारकः ॥ एवमुद्वर्त्तनं कृत्वा स्नानकर्म तु कारयेत् ॥

Jika pengikut-Ku, yang bertindak sesuai tata-ritus yang ditetapkan, menginginkan siddhi tertinggi, maka setelah melakukan udvartana dengan cara ini hendaknya ia melaksanakan upacara mandi suci.

Verse 28

तत आमलकं चैव वसुगन्धार्णमुत्तमम् ॥ तेन मे सर्वगात्राणि मर्द्दयित्वा दृढव्रतः ॥

Kemudian ambillah āmalaka (amalaki) serta bahan harum unggul yang disebut vasugandhārṇa; dengan itu, sang pelaku tapa yang teguh dalam kaul hendaknya menggosok seluruh anggota tubuh-Ku.

Verse 29

जलकुम्भं ततो गृह्य इमं मन्त्र मुदाहरेत् ॥ देवानां देवदेवोऽसि देवोऽनादिरभूः परः ॥

Kemudian, dengan mengambil kendi air, hendaknya ia melafalkan mantra ini: “Engkau adalah dewa para dewa di antara para dewa; Engkau Sang Dewa—tanpa awal dan Mahatinggi.”

Verse 30

तव व्यक्तस्वरूपेण स्नानं गृह्णीष्व मेऽनघ ॥ एवं तु स्नपनं कुर्यान्मम मार्गानुसारकः ॥

“Wahai Yang Tanpa Noda, terimalah pemandian ini dariku dalam wujud-Mu yang nyata.” Demikianlah pengikut-Ku, yang menapaki jalan-Ku, hendaknya melakukan snapana (pemandian pemujaan).

Verse 31

अथ सौवर्णकुम्भेन रजतस्य घटेन वा ॥ एतेषामप्यलाभे तु कर्मज्ञः कर्म कारयेत् ॥

Selanjutnya, (ritus itu dapat dilakukan) dengan kendi emas atau bejana perak; dan bila keduanya pun tidak diperoleh, maka orang yang memahami tata-ritus hendaknya mengatur pelaksanaannya dengan pengganti yang layak.

Verse 32

ताम्रकुम्भमयेनैव कुर्यात्स्नपनमुत्तमम् ॥ एवं तु स्नपनं कृत्वा विधिदृष्टेन कर्मणा ॥

Dengan kendi tembaga hendaknya dilakukan snāpana (pemandian ritual) yang utama. Demikian setelah snāpana dilakukan menurut karma yang ditetapkan oleh vidhi, ia melanjutkan tata-urutnya.

Verse 33

पश्चाद्गन्धः प्रदातव्यः प्रकृष्टो मन्त्रसंयुतः ॥ सर्वगन्धाः सौमनस्याः सर्ववर्णाश्च ते मताः ॥

Sesudah itu hendaknya dipersembahkan wewangian yang unggul, disertai mantra. Segala harum dianggap ‘saumanasya’ (menyenangkan hati), dan dipandang memiliki segala warna/jenis.

Verse 34

उत्पन्नाः सर्वलोकेषु त्वया सत्येषु योजिताः ॥ मया च ते तवाङ्गेषु तानावह शुचीन् प्रभो ॥

Wewangian ini, yang timbul di segenap loka dan oleh-Mu ditempatkan pada tatanan yang benar, kini kubawa ke anggota-anggota-Mu. Datanglah kemari, wahai yang suci, O Tuhan.

Verse 35

मम भक्त्या सुसन्तुष्टः प्रतिगृह्णीष्व माधव ॥ एवं गन्धान्स्ततो दत्त्वा उत्कृष्टं कर्म कारयेत् ॥

“Karena berkenan oleh bhakti-ku, terimalah ini, wahai Mādhava.” Demikian, setelah mempersembahkan wewangian itu, hendaknya ia melaksanakan upacara yang unggul menurut urutan.

Verse 36

ततः पुष्पाञ्जलिं दत्त्वा इमं मन्त्र मुदीरयेत् ॥ जलजं स्थलजं चैव पुष्पं कालोद्भवं शुचि ॥

Kemudian, setelah mempersembahkan segenggam bunga, hendaknya melafalkan mantra ini: “Bunga yang suci—yang lahir di air, yang lahir di darat, dan yang tumbuh pada musimnya.”

Verse 37

मम संसारमोक्षाय गृह्ण गृह्ण ममाच्युत ॥ एवंविधोपचारेण अर्चयित्वा मम प्रियम्

“Demi pembebasanku dari saṃsāra, terimalah ini, terimalah ini, wahai Acyuta.” Setelah demikian memuja yang Kukasihi dengan pelayanan penuh hormat seperti itu—

Verse 38

पश्चाद्धूपं च मे दद्याद् सुगन्धद्रव्यसम्मितम् ॥ धूपं गृह्य विधानॆन मयोक्तं सुखवल्लभम्

Sesudah itu hendaknya ia mempersembahkan kepada-Ku dupa yang tersusun dari bahan-bahan harum. Setelah mengambil dupa menurut tata cara yang ditetapkan—yang telah Kunyatakan dan menyenangkan dalam hasilnya—

Verse 39

उभयेषु कुलेष्वात्मा धूपमन्त्रं उदीरयेत् ॥ वनस्पतिरसं दिव्यं बहुद्रव्यसमन्वितम्

Demi kesejahteraan kedua garis keluarga, pemuja hendaknya melafalkan mantra dupa. (Dupa itu) adalah sari ilahi tumbuh-tumbuhan, diperlengkapi dengan banyak bahan,

Verse 40

मम संसारमोक्षाय धूपोऽयं प्रतिगृह्यताम् ॥ मन्त्रः— शान्तिर्वै सर्वदेवानां शान्तिर्मम परायणम्

“Demi pembebasanku dari saṃsāra, semoga dupa ini diterima.” Mantra: “Damai sungguh (tujuan) semua dewa; damai adalah perlindungan tertinggiku.”

Verse 41

सांख्यानां शान्तियोगेन धूपं गृह्ण नमोऽस्तु ते ॥ त्राता नान्योऽस्ति मे कश्चित् त्वां विहाय जगद्गुरो

“Terimalah dupa ini melalui disiplin yoga kedamaian yang diajarkan di kalangan Sāṃkhya; hormat sujud kepada-Mu. Tiada pelindung lain bagiku selain Engkau, wahai Guru jagat.”

Verse 42

एवमभ्यर्च्चनं कृत्वा माल्यगन्धानुलेपनैः ॥ पश्चाद्वस्त्रं च वै दद्यात् क्षौमशुक्लं सपीतकम्

Demikian setelah melakukan pemujaan dengan rangkaian bunga, wewangian, dan olesan suci, kemudian hendaknya benar-benar mempersembahkan pakaian—kain linen putih, beserta sehelai kain kuning.

Verse 43

एवं चैव समादाय कृत्वा शिरसि चाञ्जलिम् ॥ दिव्ययोगं समादाय इमं मन्त्रमुदीरयेत्

Dan dengan cara demikian, setelah mengambil persembahan itu dan meletakkan kedua telapak tangan yang dirapatkan di atas kepala, dengan menempuh disiplin yoga yang luhur, hendaknya ia melafalkan mantra ini.

Verse 44

प्रीयतां भगवान् पुरुषोत्तमः श्रीनिवासः श्रीमानानन्दरूपः ॥ गोप्ता कर्ताधिकर्ता मान्यनाथ भूतनाथ आदिरव्यक्तरूपः ॥ क्षौमं वस्त्रं पीतरूपं मनोज्ञं देवाङ्गे स्वे गात्रप्रच्छादनाय

Semoga Bhagavān Puruṣottama—Śrīnivāsa, Yang mulia berwujud kebahagiaan—berkenan. Dialah pelindung, pelaku dan Penguasa tertinggi atas segala pelaku; Tuhan yang dihormati, Penguasa makhluk, Yang mula-mula berwujud tak termanifest. Terimalah kain linen ini, berwarna kuning dan elok, untuk menutupi tubuh ilahi-Mu sendiri.

Verse 45

गृहीत्वा प्रणवाद्येन धर्मपुण्येन संवृतः

Setelah menerimanya dengan praṇava (Oṁ) di awal, terlingkupi oleh dharma dan kebajikan,

Verse 46

इदं परायणं परस्परप्रीतिकरं प्राणरक्षणं प्राणिनां स्विष्टं तदनुकल्पं सत्यमुपयुक्तमात्मने तद्देव गृहाण

Ini (persembahan/tindakan) adalah sandaran tertinggi, penyebab saling berkenan, dan pelindung kehidupan bagi makhluk hidup; ia dipersembahkan dengan baik, sesuai kepatutan, benar, dan bermanfaat bagi diri—maka, wahai Deva, terimalah itu.

Verse 47

एवं तु प्रापणं कृत्वा मम मार्गानुसारकः ॥ मुखप्रक्षालनं दत्त्वा शीघ्रम् एव प्रकल्पितम्

Demikianlah, setelah menyiapkan persembahan (prāpaṇa) menurut tata cara yang telah Kutetapkan, hendaknya pengikut jalan-Ku segera mengatur dan mempersembahkan air untuk berkumur/membasuh wajah dan mulut (mukha-prakṣālana).

Verse 48

शुचिः स्तुवति देवानाम् एतदेव परायणम् ॥ शौचार्थं तु जलं गृह्णन् कृत्वा प्रापणम् उत्तमम्

Dalam keadaan suci, hendaknya ia memuji para dewa—itulah sungguh tempat berlindung yang tertinggi. Demi penyucian, dengan mengambil air, hendaknya ia menyiapkan persembahan (prāpaṇa) yang utama.

Verse 49

एवं तु भोजनं दत्त्वा व्यपनीय तु प्रापणम् ॥ ताम्बूलं तु ततो गृह्य छेमं मन्त्रम् उदीरयेत्

Demikianlah, setelah mempersembahkan makanan dan kemudian menyingkirkan tata-persembahan (prāpaṇa), hendaknya ia mengambil sirih (tāmbūla) lalu melafalkan mantra yang membawa kesejahteraan.

Verse 50

मन्त्रः— अलङ्कारं सर्वतो देवानां द्रव्यानुक्तौ सर्वसौगन्धिकादिभिः गृह्य ताम्बूलं लोकनाथ विशिष्टम् अस्माकं च भवनं तव प्रतिमा च ह

Mantra: ‘Sebagai perhiasan bagi para dewa dari segala sisi—beserta segala bahan, termasuk semua wewangian dan lainnya—dengan menerima tāmbūla ini, wahai Penguasa dunia (Lokanātha), (semoga ini) menjadi persembahan yang istimewa; dan semoga kediaman kami serta arca-Mu pun dimuliakan.’

Verse 51

अलङ्कारं मुखे श्रेष्ठं तव प्रीत्या मया कृतम् ॥ मुखप्रसाधनं श्रेष्ठं देव गृह्ण मया कृतम्

‘Perhiasan terbaik bagi mulut/wajah telah kusiapkan demi keridaan-Mu. Wahai Deva, terimalah hiasan mulut/wajah yang utama ini, yang telah kusiapkan.’

Verse 52

एतेनैवोपचारेण मद्भक्तः कर्म कारयेत् ॥ अनुमुक्तो महालोकान् पश्यते मम नित्यशः

Dengan upacāra (tata cara pelayanan) inilah, bhakta-Ku hendaknya melaksanakan tindakan ritual. Setelah dilepaskan/diizinkan sebagaimana mestinya, ia senantiasa memandang alam-alam agung-Ku.

Verse 53

मन्त्रश्च— तद्भगवन्त्वां गुणश्च आत्मनश्चापि गृह्ण वारिणः सर्वदेवतानां मुखमेव प्रक्षालयेत् ॥ एतेन मन्त्रेण सुगन्धधूपदीपनैवेद्यं पुनरेवं समर्पयेत्

Dan mantranya: ‘Wahai Bhagavan, terimalah pula sifat-sifat ini dan diri (ātman) yang dipersembahkan dengan air.’ Dengan air hendaknya membasuh hanya mulut/wajah semua dewa. Dengan mantra ini, persembahkan kembali dupa harum, pelita, dan naivedya dengan cara yang sama.

Verse 54

मन्त्राः ऊचुः ॥ स्नेहं स्नेहेन संगृह्य लोकनाथ मया हृतम् ॥ सर्वलोकेषु सिद्धात्मा ददाम्यात्मकरेण च

Mantra-mantra berkata: ‘Wahai Lokanātha, setelah menghimpun bahan berminyak dengan yang berminyak, aku telah membawanya. Wahai yang berjiwa sempurna di semua alam, aku pun mempersembahkannya dengan tanganku sendiri.’

Verse 55

करेण तस्य चूर्णेन पिष्टचूर्णेन वा पुनः ॥ एतदुद्वर्त्तनं कुर्यान् मम गात्रसुखावहम्

Dengan tangan, memakai bubuk itu—atau bubuk yang ditumbuk halus—hendaknya dilakukan udvartana (gosokan/pijatan) ini, yang mendatangkan kenyamanan bagi anggota tubuh-Ku.

Verse 56

कर्मण्यन्यापि माल्यानि ततो मह्यं प्रदापयेत् ॥ तदेव चार्च्चनं कृत्वा कर्मण्यः कर्मसम्मितः

Kemudian hendaknya ia mempersembahkan kepada-Ku pula rangkaian bunga lainnya yang layak bagi upacara. Setelah melakukan arcana itu juga, sang pelaksana yang cakap bagi ritus bertindak sesuai tata cara yang ditetapkan.

Verse 57

वस्त्रैर्विभूषणं कृत्वा मम गात्रानुसारि यत् ॥ पश्चात्पुष्पं गृहीत्वा तु आसनं चोपकल्पयेत् ॥

Setelah menghias (tempat pemujaan) dengan kain dan perhiasan sesuai dengan wujud-Ku, kemudian mengambil setangkai bunga, hendaknya ia menyiapkan āsana (tempat duduk).

Frequently Asked Questions

The chapter’s internal logic presents disciplined śauca (cleanliness and controlled bodily conduct) and orderly devopacāra (sequenced offerings with mantras) as a normative ethic of practice. It frames material substances—water, oils, flowers, incense, cloth—not as ends in themselves but as regulated media for cultivating reverence, restraint, and liberation-oriented intent (saṃsāra-mokṣa), expressed through repeated mantra-guided actions.

No explicit calendrical markers (tithi, nakṣatra, māsa, ṛtu, or vrata-days) are specified in the provided text. The procedures are presented as nitya-oriented (regular/daily) ritual discipline, indicated by phrases such as “nityam,” but without lunar-phase or seasonal scheduling.

Environmental/terrestrial balance is implied through the dialogic frame with Pṛthivī and through the emphasis on substances drawn from the earth-system—jala (water), gomaya (cow-dung), vanaspati-rasa (plant essences), jalaja/sthalaja puṣpa (aquatic/terrestrial flowers). The text models an ethic of measured use and purification: careful handling of water for śauca, plant-based aromatics, and natural materials integrated into a controlled ritual economy rather than wasteful consumption.

No royal genealogies, dynastic lineages, or named sages beyond the principal divine instructor (Varāha/Nārāyaṇa/Mādhava/Puruṣottama as epithets within mantras) are referenced in the provided chapter segment. The content is primarily procedural, focusing on the ritual attendant/devotee (karmakāraka, mantrajña) rather than historical personages.