
Yamalokastha-pāpīvarṇanam
Ethical-Discourse (Afterlife jurisprudence and moral taxonomy)
Dalam pedagogi dialogis Varaha Purana, Varaha mengajarkan kepada Pṛthivī bahwa dharma adalah etika yang menopang bumi. Adhyaya ini beralih pada uraian yang dilaporkan, ketika Nāciketa menyajikan daftar perbuatan yang menyeret makhluk ke alam Yama: kekerasan, pengkhianatan, pelanggaran seksual, perusakan kemurnian pembelajaran Weda, eksploitasi ekonomi ritual, serta kejahatan sipil seperti pencurian tanah dan perusakan karya umum. Melalui narasi Vaiśampāyana, para resi bertanya tentang mekanisme waktu karma (kāla), ‘pematangan’ berulang perbuatan (pacyamāna), hakikat wilayah neraka seperti Vaitaraṇī, Raurava, Kūṭaśālmalī, dan para utusan Yama. Bab ini menjadi peta moral yang menghubungkan mudarat di dunia dengan pertanggungjawaban setelah kematian.
Verse 1
अथ यमलोकस्थपापिवर्णनम् ॥ नाचिकेत उवाच ॥ कथ्यमानं मया विप्राः शृण्वन्तु तपसि स्थिताः ॥ नमश्च तस्मै देवाय धर्मराजाय धीमते
Kini disusul uraian tentang para pendosa di Yamaloka. Nāciketa berkata: Wahai para brahmana resi yang teguh dalam tapa, dengarkan kisah yang kututurkan. Sembah sujud kepada Dharmarāja yang ilahi dan bijaksana.
Verse 2
संसारं तु यथाशक्ति कथ्यमानं निबोधत ॥ असत्यवादिनो ये च जन्तुस्त्रीबालघातकाः
Pahamilah, sejauh kemampuanku, uraian tentang samsāra ini saat aku menuturkannya—termasuk para pendusta serta pembunuh makhluk hidup, perempuan, dan anak-anak.
Verse 3
तथा ब्रह्महणः पापा ये च विश्वासघातकाः ॥ ये ये शठाः कृतघ्नाश्च लोलुपाः पारदारिकाः
Demikian pula para pendosa pembunuh brāhmaṇa, dan para pengkhianat kepercayaan; siapa pun yang licik, tidak tahu budi, tamak, serta mengejar pasangan orang lain.
Verse 4
कन्यानां दूषका ये च ये च पापरता नराः ॥ वेदानां दूषकाश्चैव वेदमાર્ગविहिंसकाः
Dan mereka yang menodai para gadis, serta manusia yang tenggelam dalam dosa; juga mereka yang merusak Veda, sungguh mereka yang mencederai jalan Veda.
Verse 5
शूद्राणां याजकाश्चैव हाहाभूता द्विजातयः ॥ अयाज्ययाजकाश्चैव ये ये कुष्ठयुता नराः
Dan mereka yang menjadi imam upacara bagi Śūdra—para dwija yang jatuh ke keadaan ratap; juga mereka yang memimpin yajña bagi yang tidak layak dipimpin; serta orang-orang yang terkena kusta.
Verse 6
सुरापो ब्रह्महा चैव यो द्विजो वीरघातकः ॥ तथा वार्धुषिका ये च जिह्मप्रेक्षाश्च ये नराः ॥
Seorang dwija yang meminum minuman memabukkan, pembunuh seorang brāhmaṇa, dan pembunuh seorang pria gagah berani; demikian pula para pelaku riba, serta orang-orang yang pandangannya penuh tipu daya—semua ini disebutkan di sini.
Verse 7
मातृत्यागी पितृत्यागी यः स्वसाध्वीं परित्यजेत् ॥ गुरुद्वेषी दुराचारो दूताश्चाव्यक्तभाषिणः ॥
Orang yang meninggalkan ibunya, yang meninggalkan ayahnya, dan yang menelantarkan istri sendiri yang berbudi suci; yang membenci guru, yang berperilaku buruk, serta para utusan yang berbicara tidak jelas—semua ini pun disebutkan.
Verse 8
गृहक्षेत्रहरा ये च सेतुबन्धविनाशकाः ॥ अपुत्राश्चाप्यदाराश्च श्रद्दया च विवर्जिताः ॥
Mereka yang merampas rumah dan ladang, dan mereka yang merusak bendungan/tanggul; mereka yang tanpa putra dan juga tanpa istri, serta mereka yang tidak memiliki śraddhā (keteguhan hormat dan bakti)—semua ini pun disebutkan.
Verse 9
अशौचा निर्दयाः पापा हिंसका व्रतभञ्जकाः ॥ सोमविक्रयिणश्चैव स्त्रीजितः सर्वविक्रयी ॥
Mereka yang tidak suci, yang kejam, yang berdosa; para pelaku kekerasan dan para pemecah vrata (kaul); para penjual soma; orang yang dikuasai oleh perempuan; dan orang yang menjual segala sesuatu—semua termasuk dalam daftar ini.
Verse 10
भूम्यामनृतवादी च वेदजीवी च यो द्विजः ॥ नक्षत्री च निमित्ती च चाण्डालाध्यापकस्तथा ॥ सर्वमैथुनकर्ता च अगम्यागमने रतः ॥ मायिका रतिकाश्चैव तुलाधाराश्च ये नराः ॥ सर्वपापसुसङ्गाश्च चिन्तका येऽतिवैरिणः ॥ स्वाम्यर्थे न हता ये च ये च युद्धपराङ्मुखाः ॥
Orang yang berdusta dalam perkara tanah, dan seorang dwija yang menjadikan Weda sebagai mata pencaharian; seorang ahli perbintangan (nakṣatra) dan penafsir pertanda (nimitta), serta pengajar bagi Caṇḍāla; orang yang berhubungan badan dengan siapa saja, dan yang gemar bersetubuh dengan yang terlarang; para penipu, para pencari kenikmatan, dan orang yang memanipulasi timbangan/ukuran; mereka yang bergaul erat dengan segala dosa, dan para perancang yang sangat memusuhi; mereka yang tidak menyerahkan nyawa demi tuannya, dan mereka yang berpaling dari pertempuran—semua ini disebutkan.
Verse 11
परवित्तापहारी च राजघाती च यो नरः ॥ अशक्तः पापघोषश्च तथा ये ह्यग्निजीविनः ॥
Orang yang merampas harta orang lain, dan yang membunuh raja; yang tidak mampu namun tetap bersikeras dalam dosa, yang memaklumkan dosa, serta mereka yang mencari nafkah dari api—semuanya (di sini) disebutkan.
Verse 12
शुश्रूषया च मुक्ताः ये लिङ्गिनः पापकर्मिणः ॥ पात्रकारी चक्रिणश्च नरा ये चाप्यधार्मिकाः ॥
Mereka yang bebas dari kewajiban melayani/menjaga; para pertapa bertanda (liṅgin) yang tetap berbuat dosa; pembuat/penyedia bejana ritual; mereka yang hidup dari pekerjaan berporos roda; dan orang-orang yang tidak berpegang pada dharma—semuanya (di sini) disebutkan.
Verse 13
देवागारांश्च सत्राणि तीर्थविक्रयिणस्तथा ॥ व्रतविद्वेषिणो ये च तथाऽसद्वादिनो नराः ॥
Mereka yang menjual rumah suci para dewa dan satra (balai jamuan amal), dan juga yang memperjualbelikan tīrtha; mereka yang membenci vrata (laku suci); serta orang-orang yang mengucapkan ajaran palsu atau menyimpang—(di sini) disebutkan.
Verse 14
मिथ्या च नखरोमाणि धारयन्ति च ये नराः ॥ कूटा वक्रस्वभावाश्च कूटशासनकारिणः ॥
Orang-orang yang secara palsu mengenakan kuku dan rambut (sebagai tanda buatan), yang curang dan berhati bengkok, serta yang mengeluarkan perintah/putusan pemerintahan yang palsu—(di sini) disebutkan.
Verse 15
अज्ञानादव्रती यश्च यश्चाश्रमबहिष्कृतः ॥ विप्रकीर्णप्रतिग्राही सूचकस्तीर्थनाशकः ॥
Seseorang yang karena ketidaktahuan hidup tanpa vrata/disiplin; yang dikeluarkan dari tatanan āśrama; yang menerima pemberian tanpa pilih-pilih dari berbagai sumber; seorang pengadu/informer; dan yang merusak tīrtha—(di sini) termasuk.
Verse 16
कलही च प्रतर्क्यश्च निष्ठुरश्च नराधमः॥ एते चान्ये च बहवो ह्यनिर्दिष्टाः सहस्रशः॥
Orang yang suka bertengkar, para pendebat yang suka membantah, yang kejam, dan yang paling hina di antara manusia—mereka ini dan banyak lainnya disebutkan beribu-ribu, meski tidak dirinci satu per satu.
Verse 17
स्त्रियो नराश्च गच्छन्ति यत्र तच्छृणुतामलाः॥ कुर्वन्तीह यथा सर्वे तत्र गत्वा यमालये॥
Dengarlah, wahai yang suci, ke mana perempuan dan laki-laki pergi: sebagaimana semua berbuat di sini, demikian pula setelah pergi ke kediaman Yama, mereka mengalami buah yang sepadan.
Verse 18
पप्रच्छुर्विस्मयाविष्टा नाचिकेतमृषिं तदा॥ ऋषय ऊचुः॥ त्वया सर्वं यथा दृष्टं ब्रूहि तत्र विदां वर॥
Diliputi keheranan, mereka lalu bertanya kepada resi Nāciketa. Para resi berkata: “Wahai yang terbaik di antara para bijak, ceritakanlah kepada kami seluruhnya, persis sebagaimana engkau melihatnya di sana.”
Verse 19
यथास्वरूपः कालोऽसौ येन सर्वं प्रवर्तते॥ इह कर्माणि यः कृत्वा पुरुषो ह्यल्पचेतनः॥
“Apakah hakikat sejati dari Waktu (Kāla) itu, yang olehnya segala sesuatu bergerak? Dan apakah yang terjadi pada manusia yang berakal kecil, yang setelah melakukan perbuatan di sini…”
Verse 20
वारयेत्स तदा तं तु ब्रह्मलोके च स प्रभुः॥ कल्पान्तं पच्यमानोऽपि दह्यमानोऽपि वा पुनः॥
“…maka Tuhan itu menahannya—bahkan di Brahmaloka—ketika ia ‘dimasak’ hingga akhir suatu kalpa, atau pula ketika ia kembali ‘dibakar’.”
Verse 21
न नाशो हि शरीरस्य तस्मिन्देशे तपोधनाः॥ यस्य यस्य हि यत्कर्म पच्यमानः पुनः पुनः॥
Wahai para penimbun tapa! Di wilayah itu tidak ada kebinasaan bagi tubuh; melainkan setiap makhluk berulang-ulang ‘dimasak’, yakni dibuat menanggung hasil, sesuai perbuatannya masing-masing.
Verse 22
अवश्यं चैव गन्तव्यं तस्य पार्श्वं पुनःपुनः॥ न तु त्रासाद्द्विजः शक्तस्तत्र गन्तुं हि कश्चन॥
Ke dekatnya seseorang pasti harus pergi berulang-ulang. Namun karena rasa takut, tak seorang pun dvi-ja (yang ‘dua kali lahir’) sanggup pergi ke sana—bahkan sesungguhnya tidak ada seorang pun.
Verse 23
न गच्छन्ति च ये तत्र दानेन निगमेण च॥ वैतरण्याश्च यद्रूपं किं तोयं च वहत्यसौ॥
Dan siapakah mereka yang tidak pergi ke sana berkat dana (derma suci) dan Nigama (ketetapan Weda)? Dan bagaimanakah rupa Vaitaraṇī itu, serta air macam apakah yang dibawanya mengalir?
Verse 24
रौरवो वा कथं विप्र किंरूपं कूटशाल्मलेः॥ कीदृशा वा हि ते दूताः किं कार्याः किं पराक्रमाः॥
Wahai vipra (brāhmaṇa)! Bagaimanakah Raurava itu? Seperti apakah rupa Kūṭaśālmalī? Dan bagaimana para utusan itu—apa tugas mereka, dan seberapa besar daya serta kegagahan mereka?
Verse 25
किं च किंच तु कुर्वाणाः किंच किंच समाचरन्॥ न चेतो लभते जन्तुच्छादितं पूर्वतेजसा॥
Dan melakukan ini dan itu, serta menjalankan ini dan itu—namun makhluk itu tidak memperoleh kejernihan batin, sebab ia terselubung oleh tejas terdahulu (sisa daya dari keadaan lampau).
Verse 26
धृतिं न लभते किञ्चित्तैस्तैर्दोषैः सुवासिताः ॥ दोषं सत्यंअजानन्तस्तथा मोहॆन मोहिताः ॥
Mereka yang seakan-akan terharumkan oleh cacat-cacat itu sendiri tidak memperoleh keteguhan sedikit pun. Karena tidak mengetahui hakikat sejati dari cela, mereka makin tersesat oleh kebingungan itu sendiri.
Verse 27
परं परमजानन्तो रमन्ते कस्य मायया ॥ क्लिश्यन्ते बहवस्तत्र कृत्वा पापमचेतसः ॥
Tanpa mengenal Yang Mahatinggi sebagai Mahatinggi, mereka bersenang-senang di bawah māyā siapa? Di sana banyak orang, tanpa kebijaksanaan, menderita setelah berbuat dosa.
Verse 28
एतत्कथय वत्स त्वं यतः प्रत्यक्षदर्शिवान् ।
Jelaskanlah hal ini, wahai anak terkasih, karena engkau adalah seorang yang melihatnya secara langsung.
Verse 29
तानि वै कथयिष्यामि श्रूयतां द्विजसत्तमाः ॥ वैशम्पायन उवाच ॥ एवं तस्य वचः श्रुत्वा सर्व एव तपोधनाः ॥
“Segala perkara itu sungguh akan kujelaskan—dengarkanlah, wahai yang terbaik di antara para dvija.” Vaiśampāyana berkata: “Demikian, setelah mendengar ucapannya, semua yang kaya tapa…”.
Verse 30
बोद्धव्यं नावबुध्यन्ते गुणानां तु गुणोत्तरम् ॥ हाहाभूताश्च चिन्तार्त्ताः सर्वदोषसमन्विताः ॥
Mereka tidak memahami apa yang seharusnya dipahami—keunggulan yang melampaui sekadar guṇa. Sambil berseru “aduh, aduh,” mereka dilanda kecemasan dan dipenuhi segala cela.
The text presents a moral taxonomy in which harms to persons, trust, social institutions, and public resources are treated as pāpa that culminates in accountability under Yama’s jurisdiction. It also foregrounds kāla as the mechanism through which karma matures, depicting retribution as repetitive and proportionate to one’s actions rather than arbitrary.
No explicit tithi, lunar, or seasonal markers appear in the provided passage. The chapter’s temporal framework is conceptual—kāla as the universal regulator of karmic process—rather than calendrical ritual timing.
Although not framed as ecology in modern terms, the adhyāya links dharma to the reduction of harm that burdens Pṛthivī: it condemns acts that destabilize communal life and land stewardship (e.g., gṛha-kṣetra-haraṇa—seizure of houses/fields; setu-bandha-vināśa—destruction of embankments/bridges). This positions ethical restraint and protection of shared infrastructure as part of maintaining terrestrial order.
The passage references Nāciketa as the reporting sage/speaker and Vaiśampāyana as the narrator who relays the sages’ questions. Yama (Dharmarāja) is invoked as the adjudicating authority. No royal genealogies or regional dynastic lineages are specified in the provided excerpt.