
Saṃsāracakropākhyāne Prabodhanīya-varṇanam
Ethical-Discourse (Tapas, Dharma, and Soteriological Orientation)
Dalam bingkai pengajaran Varāha–Pṛthivī, adhyāya ini menjadi bagian penerimaan dan lanjutan dari kisah dharma sebelumnya yang dikenal sebagai alegori “roda saṃsāra”. Nārada memuji raja karena mengucapkan dharma-saṃhitā yang berbingkai ilahi, merasa puas atas keteguhannya di jalan dharma, lalu berangkat menembus langit dengan sinar laksana matahari. Kisah beralih ke sidang para pertapa yang mendengar uraian itu; mereka takjub, meneguhkan kembali keyakinan, dan disebutkan ragam laku tapa mereka—cara vānaprastha, hidup dari sedekah dan memungut sisa, kaul diam, tinggal di air, tapa pañcāgni, diet daun dan buah, serta bertahan dengan angin dan air. Tapa dipaparkan sebagai sarana merenungi kelahiran dan kematian; mendengar atau melantunkan “paramākhyāna” ini dikatakan memberi tujuan yang diinginkan dan menumbuhkan bhakti kepada Bhagavān.
Verse 1
अथ संसारचक्रोपाख्याने प्रबोधनीयवर्णनम् ॥ नारद उवाच ॥ साधु साधु महाराज सर्वधर्मविदां वर ॥ त्वया तु कथिता दिव्या कथेयं धर्मसंहिता ॥
Kini, dalam kisah yang disebut ‘Roda Saṁsāra’, disampaikan uraian tentang Prabodhinī (hari/ritus). Nārada berkata: “Baik sekali, baik sekali, wahai Maharaja, yang terbaik di antara para pengenal segala dharma. Engkau sungguh telah menuturkan wacana ilahi ini, suatu himpunan dharma.”
Verse 2
अतोऽहमपि सुप्रीतस्तव धर्मपथे स्थितः ॥ तव वाक्यान्निस्सृतानि प्रोक्तानि च श्रुतानि च ॥
Karena itu aku pun sangat berkenan, teguh berada pada jalan dharmamu; dari ucapanmu telah mengalir ajaran-ajaran—yang disampaikan dan juga didengarkan (diterima).
Verse 3
त्वयाहं चैव राजेन्द्र पूजितश्च विशेषतः ॥ गच्छामि त्वरितो लोकान्यत्र मे रमते मनः ॥
Wahai raja terbaik, engkau sungguh telah memuliakanku—terutama dengan penghormatan khusus. Kini aku berangkat segera menuju alam-alam tempat batinku berkenan.
Verse 4
स्वस्ति तेऽस्तु महाराज त्वकम्पो भव सुव्रत ॥ एवमुक्त्वा ततो यातो नारदो मुनिसत्तमः ॥
Semoga sejahtera bagimu, wahai maharaja; jadilah teguh tak terguncang, wahai yang berkaul suci. Setelah berkata demikian, Nārada, yang utama di antara para resi, pun berangkat.
Verse 5
तेजसा द्योतयन्सर्वं गगनं भास्करो यथा ॥ विचचार दिवं रम्यां कामचारो महामुनिः ॥
Bagaikan matahari, dengan sinarnya ia menerangi seluruh angkasa; sang maharsi, bebas bergerak menurut kehendaknya, mengembara di surga yang indah.
Verse 6
गते तस्मिंस्तु सुचिरं स राजा धर्मवत्सलः ॥ मां दृष्ट्वा सुमना विप्रा वाक्यैश्चित्रैरवन्दयन् ॥
Setelah ia pergi, lama kemudian raja yang mencintai dharma itu, ketika melihatku, menjadi gembira; dan para brahmana memberi hormat dengan ucapan yang beraneka dan indah.
Verse 7
कृत्वा पूजां च मे युक्तां प्रियमुक्त्वा च सुव्रत ॥ विसर्जयामास विभुः सुप्रीतेनान्तरात्मना ॥
Setelah melaksanakan pemujaan yang layak bagiku dan mengucapkan kata-kata yang menyenangkan, wahai yang berkaul suci, sang penguasa yang perkasa itu melepas kepergianku dengan batin yang sepenuhnya puas.
Verse 8
एतद्वः कथितं विप्रास्तस्य राज्ञः पुरोत्तमे ॥ यथा दृष्टं श्रुतं चैव यथा चेहागतो ह्यहम् ॥
Wahai para brahmana, di hadapan raja yang utama itu telah kukisahkan hal ini kepada kalian—sebagaimana telah kulihat dan kudengar, dan sebagaimana aku sungguh datang ke sini.
Verse 9
वैशम्पायन उवाच ॥ तस्य तद्वचनं श्रुत्वा हृष्टपुष्टास्तपोधनाः ॥ केचिद्वैखानसास्तत्र केचिदासन्निरासनाः ॥
Vaiśaṃpāyana berkata: Mendengar ucapannya, para pertapa yang kaya akan tapa menjadi gembira dan semakin teguh. Di sana ada yang termasuk Vaikhānasa, dan ada pula yang nirāsana—tanpa tempat duduk/kenyamanan.
Verse 10
शालानीश्च तथा केचित्कापोतीवृत्तिमास्थिताः ॥ तथा चान्ये जगुर्वृत्तिं सर्वभूतदयां शुभाम् ॥
Sebagian adalah ‘śālānī’ (terkait balai/permukiman), dan sebagian menempuh cara hidup ‘seperti merpati’. Yang lain pun mengajarkan mata pencaharian yang luhur, berlandaskan welas asih yang suci kepada semua makhluk.
Verse 11
शिलोञ्छाश्च तथैवान्ये काष्ठान्ताश्च महौजसः ॥ अपाकपाचिनः केचित्पाकिनश्च क्वचित्पुनः ॥
Sebagian adalah śiloñcha, dan sebagian lagi kāṣṭhānta, yang berdaya besar. Ada yang hidup dari makanan tanpa dimasak, dan pada waktu-waktu tertentu ada pula yang memasak.
Verse 12
नानाविधिधराः केचिज्जितात्मानस्तु केचन ॥ स्थानमौनव्रताः केचित्तथान्ये जलशायिनः ॥
Sebagian menjalankan beragam laku dan tata-aturan; sebagian menaklukkan diri (jitātmā). Sebagian berkaul berdiri dan berdiam (mauna); dan sebagian lagi jalāśayī, menempuh tapa dengan berbaring di air.
Verse 13
तथोर्ध्वशायिकाश्चान्ये तथान्ये मृगचारिणः ॥ पञ्चाग्नयस्तथा केचित् केचित्पर्णफलाशिनः
Demikian pula, sebagian menjalankan laku tidur dengan tubuh ditegakkan; yang lain hidup mengembara seperti rusa. Ada yang menempuh tapa lima api (pañcāgni), dan ada pula yang bertahan hidup hanya dengan daun serta buah-buahan.
Verse 14
अब्भक्षाः वायुभक्षाश्च तथान्ये शाकभक्षिणः ॥ अतोऽन्येऽप्यतितीव्रं वै तपश्चैव प्रपेदिरे
Sebagian hidup hanya dengan air, sebagian dengan udara, dan yang lain makan semata sayur-sayuran serta tumbuh-tumbuhan obat. Maka, ada pula yang menempuh tapa yang amat dahsyat dan sangat berat.
Verse 15
तपसोऽन्यन्न चास्तीति चिन्तयित्वा पुनः पुनः ॥ जन्मनो मरणाच्चैव केचिद्धीराः महर्षयः
Sambil berulang-ulang merenungkan bahwa tiada sesuatu yang lebih tinggi daripada tapa, beberapa maharsi yang teguh pun merenungi kelahiran dan kematian.
Verse 16
त्यक्त्वा धर्ममधर्मं च शाश्वतीं धियमास्थिताः ॥ श्रुत्वा चैव कथामेतामृषयो दिव्यवर्चसः
Setelah menanggalkan (dualisme) dharma dan adharma, mereka berdiam dalam kebijaksanaan yang kekal. Dan setelah mendengar kisah ini, para resi yang bercahaya ilahi pun (menyambutnya).
Verse 17
जगृहुर्नियमांस्तांस्तान्भयहेतोरणिन्दिताः ॥ नाचिकेतोऽपि धर्मात्मा पुत्रो दृष्ट्वा तपोधनम्
Para resi yang tak bercela menerima berbagai niyama itu, dengan rasa takut sebagai sebab pendorong. Bahkan Nāciketa, putra yang berhati dharma, setelah melihat “kekayaan tapa” (yakni daya/puṇya asketis), pun menautkan batinnya pada dharma.
Verse 18
प्रीत्या परमया युक्तो धर्ममेवान्वचिन्तयत् ॥ वेदार्थममितं विष्णुं शुद्धं चिन्मयमीश्वरम्
Bersatu dengan sukacita tertinggi, ia merenungkan hanya dharma—Viṣṇu yang tak terukur, makna sejati Weda; suci, berwujud kesadaran, Sang Īśvara.
Verse 19
शृणुयाच्छ्रावयेद्वापि सर्वकामानवाप्नुयात्
Barang siapa mendengarkannya—atau membuatnya dibacakan—dapat memperoleh semua tujuan yang diinginkan.
Verse 20
साधु साध्विति चैवोक्त्वा विस्मयोत्फुल्ललोचनाः ॥ यायावरास्तथा चान्ये वानप्रस्थास्तथापरे
Sambil berkata, “Sādhu, sādhu,” dengan mata terbelalak karena takjub—sebagian adalah pertapa pengembara (yāyāvara), dan sebagian lainnya adalah penghuni hutan (vānaprastha).
Verse 21
चिन्तयामास धर्मात्मा तपः परममास्थितः ॥ इदं तु परमाख्यानं भगवद्भक्तिकारकम्
Sang berhati-dharma merenung, teguh dalam tapa tertinggi: “Ini sungguh kisah yang paling luhur—yang menumbuhkan bhakti kepada Bhagavān.”
The passage emphasizes dharma articulated as a teachable compendium (dharma-saṃhitā) and presents tapas and niyama as disciplined responses to the existential problem of janma and maraṇa. It further frames hearing/reciting the narrative as spiritually efficacious, orienting the audience toward bhagavad-bhakti as a transformative disposition.
No explicit calendrical markers (tithi, nakṣatra, māsa) or seasonal timings are stated in the provided verses. The only temporal cues are narrative (“after a long time,” suchiraṃ) and the motif of celestial movement (divaṃ/gaganaṃ) without ritual dating.
Direct ecological instructions are not explicit here; however, the catalog of low-impact ascetic livelihoods (gleaning, leaf/fruit diets, minimal cooking, restraint practices) can be read as a model of reduced consumption. Within a Varāha–Pṛthivī framework, this supports an indirect ethic of terrestrial restraint and preservation through moderated resource use.
The narrative references Nārada (devarṣi), Vaiśaṃpāyana as a narrator voice, and Naciketas (known from broader Sanskrit tradition) as a dharmic figure reflecting on dharma after encountering ascetics. Ascetic communities are named by typology (e.g., vaikhānasa, vānaprastha, yāyāvara) rather than by dynastic lineage.