
मण्डल 10
The Closing Collection
Mandala 10 adalah kitab paling akhir dan paling luas cakupannya dalam Rig Veda, menyimpan himne-himne yang bergerak dari pujian ritual menuju refleksi filosofis dan sosial yang eksplisit. Di dalamnya terdapat teks-teks kosmogoni dan spekulatif yang sangat penting (terutama himne Nāsadīya), berdampingan dengan himne untuk ritus daur hidup seperti upacara kematian, serta doa-doa untuk perlindungan dan kemenangan. Tema-tema anuvāka menonjolkan mantra (brahman) sebagai daya batin yang menyerupai Rudra, memulihkan tatanan melalui ujaran yang terilhami, dan suatu arus pelengkap yang sepadan yaitu…
Sukta 10.1
RV 10.1 membuka Mandala 10 dengan memanggil Agni sebagai kemunculan bercahaya pertama dari kegelapan, berdiri mendahului fajar-fajar dan memenuhi segala tempat tinggal dengan cahaya. Himne ini memuji banyak wujud Agni—yang senantiasa diperbarui melalui persembahan—serta meneguhkannya sebagai Hotṛ bagi kaum-kaum manusia, pembawa doa dan pengundang para dewa ke dalam kurban.
Sukta 10.2
Kidung ini menyeru Agni sebagai Hotṛ yang termuda dan paling cakap, yang mengetahui ṛtu (musim/waktu yang tepat) dan mampu “menempatkan” para dewa dalam tatanan yang semestinya di dalam yajña. Kidung ini memohon agar Agni menyejahterakan para dewa, memperbaiki kelengahan manusia terhadap ketetapan ilahi, dan menyala di dalam para pemuja—mengetahui bahkan jalan para leluhur (pitṛyāṇa) serta menuntun upacara menuju keberhasilan yang bercahaya.
Sukta 10.3
Himne Agni yang singkat ini menggambarkan dewa api sebagai daya yang garang namun membawa berkah, tajam membedakan; sinar luasnya mengusir kegelapan dan menuntun sang pelaku yajña menuju “fajar” kejernihan. Himne ini menyalakan Agni sebagai sahabat yang ramah dan memohon agar ia segera datang dengan kuda-kuda yang terpasang kuk dengan baik, duduk di singgasana ritual, serta mengangkut persembahan dan niat di antara Langit dan Bumi.
Sukta 10.4
Himne ini memuji Agni sebagai raja purba dan tuan rumah tangga, yang menjadi perlindungan bagi pelaksana kurban, laksana mata air pemberi hidup di tanah gersang. Himne ini mengagumi sifat Agni yang tersembunyi namun tetap bekerja—terbaring terselubung lalu tiba-tiba melompat maju untuk “mengecap” persembahan—seraya memohon agar ia melindungi keluarga, keturunan, serta keutuhan tubuh dan perjalanan hidup seseorang. Secara keseluruhan, ini adalah seruan agar yajña berhasil dan doa untuk menjaga kemakmuran serta kesinambungan.
Sukta 10.5
Kidung yang penuh teka-teki ini merenungkan satu prinsip kosmis yang tersembunyi—dialami sebagai Agni–Sūrya, api batin dan pelihat surya—yang menopang kelimpahan laksana “samudra” dan menyingkap jejak rahasia yang ditempatkan di dalam mata air kehidupan. Ia bergerak melalui citra nutrisi yang terselubung, jalur-jalur Ṛta (tatanan–kebenaran), serta pelukan kosmogonis antara ada dan tiada dalam keluasan Aditi, dan berpuncak pada Agni sebagai yang sulung dari Ṛta serta sumber baik daya maupun kemakmuran.
Sukta 10.6
Kidung ini memuji Agni sebagai kehadiran bercahaya yang menerangi segalanya, melindungi penyanyi, dan menjadikan persembahan berdaya guna. Agni dirayakan sebagai utusan yang tangkas; bergembira oleh kidung-kidung, ia menarik para dewa menuju kurban dan ia sendiri menjadi “havya” yang pertama, persembahan purba. Bait-baitnya menegaskan kebesaran Agni, sinar-sinar tuanya, serta perannya membangunkan dan menambah daya-daya ilahi yang paling mula.
Sukta 10.7
Himne Agni yang singkat ini memohon svasti (kesejahteraan) dari langit dan bumi, serta meminta Agni menegakkan “kehidupan semesta” (viśvāyus) yang layak bagi yajña dan hidup yang benar. Ia juga memohon dhī (wawasan/ilham) yang ditajamkan dan menang di bawah penjagaan Agni di rumah, lalu ditutup dengan permohonan agar Agni menjadi penolong, pelindung, pemberi hidup, dan pemelihara tubuh di jalan yang tepat.
Sukta 10.8
Himne ini memuji Agni sebagai daya kosmis, yang panji cahayanya melangkah di antara Langit dan Bumi, tumbuh di dalam Perairan dan menjaga Ṛta (tatanan kosmis). Himne ini menguraikan banyak jati diri Agni—cahaya sang pelihat, penegak hukum laksana Varuṇa, Apāṃ Napāt, serta utusan yang menyampaikan persembahan—seraya mengingat sebuah episode mitis tentang kemenangan Indra atas Viśvarūpa untuk menegaskan kemenangan kuasa yang tertata atas kesombongan
Sukta 10.9
RV 10.9 adalah kidung bagi Air (Āpaḥ), dipuji sebagai sumber kenikmatan, pemeliharaan, kekuatan, penglihatan yang jernih, dan penyembuhan. Sang penyair memohon daya hidup serta pemurnian laksana obat, dan menutupnya dengan rasa persekutuan yang intim dengan rasa (esensi) Air, menarik Agni ke dalam keadaan yang diperbarui dan bercahaya itu.
Sukta 10.10
Himne dialogis ini menampilkan pertukaran terkenal Yama–Yamī: Yamī mendesak persatuan demi kelangsungan umat manusia, sedangkan Yama menegaskan pengendalian diri dan keselarasan dengan ṛta (tatanan kosmis). Himne ini mendramatisasi ketegangan antara hasrat dan hukum, memperlihatkan bagaimana norma sosial dan kosmis ditegakkan melalui pilihan sadar dan penguasaan diri. Pada penutupnya, Yama mengarahkan Yamī kepada persatuan lain yang mujur dan sah, menekankan keharmonisan (saṃvid) alih-alih pelanggaran.
Sukta 10.11
Himne akhir Maṇḍala 10 ini mengaitkan penjagaan Varuṇa yang mahatahu atas ṛta (tatanan kosmis) dengan daya pemberi-hidup Aditi serta ketepatan waktu (ṛtu) dalam yajña. Lalu himne beralih melalui Agni sebagai api imam yang bekerja, memohon agar ia bertumbuh oleh seruan-seruan, mendekat dengan kelimpahan, dan menghadirkan para dewa serta Dua Dunia ke upacara.
Sukta 10.12
Himne ini menyeru Agni sebagai Hotṛ (imam pemanggil) dalam bingkai kosmis Dyāvā–Pṛthivī (Langit dan Bumi), serta menggambarkan kurban sebagai sarana yang membuat manusia fana layak mendekati para dewa. Uraiannya bergerak dari visi purba tentang ṛta (kebenaran/tatanan kosmis) dan ujaran yang benar menuju penyelidikan diri tentang apakah seseorang telah melanggar hukum ilahi, lalu ditutup dengan permohonan langsung agar Agni mendengar, memasang kereta pembawa kekayaannya, dan menghadirkan Dua Dunia ke dalam ritus.
Sukta 10.13
Kidung singkat ini memasangkan “Sabda/rumusan suci purba” (pūrvyaṃ brahma) dengan suatu kuasa ilahi berpasangan (vām), memohon agar nyanyian yang telah dimurnikan bergerak laksana jalan yang pasti bagi resi yang terilhami. Lalu himne beralih ke dalam, menuju telaah simbolik—hampir berupa analisis metrum-ritual—atas ujaran dan bentuk: lima langkah, ukuran berkaki empat, dan suku kata yang tak binasa (akṣara), untuk menyelaraskan penyanyi dengan ṛta, tatanan kebenaran. Citra penutup tentang tujuh aliran yang mengalir dan dualitas yang bercahaya menghadirkan keutuhan yang telah diperdamaikan dan dipelihara, di mana daya-daya yang saling melengkapi bersama-sama menopang karya kebenaran
Sukta 10.14
Himne ini merupakan invokasi pemakaman dan pemanggilan leluhur yang menuntun arwah menuju Yama Vaivasvata, yang pertama “melangkah lebih dahulu” dan menemukan jalan bagi banyak orang. Himne ini memohon perjalanan yang selamat, tempat perhentian yang mantap di tengah para Bapa (Pitṛ), serta agar alam seberang ditata sebagai ranah yang sah dan teratur, berstruktur baik, bukan kekacauan yang menimbulkan ketakutan.
Sukta 10.15
RV 10.15 adalah himne Pitṛ (leluhur) yang secara ritual memanggil para Bapa—yang rendah, menengah, dan tinggi—agar bangkit dan hadir bagi yang hidup, mendengar seruan mereka serta menerima persembahan. Himne ini menghubungkan alam Pitṛ dengan Soma, ṛta (tatanan kosmis), dan pemerintahan Yama, seraya memohon perlindungan, berkat, dan “jalan napas-hidup” yang dituntun dengan baik bagi makhluk yang masih berjasad.
Sukta 10.16
RV 10.16 adalah himne pemakaman kepada Agni Jātavedas, memohon agar api kremasi mengubah mendiang tanpa “menghamburkan” secara keras, dan mengantarkan dirinya menuju Pitṛs (Para Bapa/leluhur). Himne ini menampilkan Agni sebagai psikopomp yang cermat: memasak/mematangkan tubuh untuk perjalanan, melindungi apa yang tidak boleh dilukai, dan membuka jalan ke alam leluhur. Himne ini juga memuat citra ritual tentang bejana/persembahan, serta penutup yang menenteramkan—mendinginkan dan mencerahkan api—agar ritus selesai dengan keberuntungan.
Sukta 10.17
Himne ini merajut kisah mitis–ritual tentang Tvaṣṭṛ yang menyiapkan pernikahan bagi putrinya (Saraṇyū) serta kompleks Vivasvat–Yama, dengan citra perkawinan dan peralihan untuk berbicara tentang lintasan, garis keturunan, dan penataan dunia-dunia. Lalu himne beralih kepada daya para leluhur (Pitṛ) dan kekuatan pemurnian—Sarasvatī, air, dan tumbuh-tumbuhan pembawa susu—memohon pemeliharaan, dorongan tanpa cela, serta pembersihan/pemanisan ujaran. Secara keseluruhan, ini berfungsi sebagai sukta liminal: menyatukan genealogi kosmis, ritus, dan pembaruan batin
Sukta 10.18
RV 10.18 adalah rangkaian kidung pemakaman Rigveda periode akhir yang secara ritual mengelola batas antara yang mati dan yang hidup. Kidung ini mengusir Kematian menjauh dari komunitas, mengarahkan penanganan yang tepat atas jenazah dan kubur, serta memulihkan kesinambungan sosial dan daya hidup bagi mereka yang ditinggalkan—terutama rumah tangga dan generasi-generasi mendatang.
Sukta 10.19
RV 10.19 adalah kidung bersifat apotropaik dan pemulihan, yang berulang kali memerintahkan daya-daya berbahaya, kesesatan arah, dan enas (kenajisan/dosa) untuk “berbalik kembali”, sambil memohon Agni–Soma menegakkan kembali rayi (keutuhan, kemakmuran, daya hidup) di dalam diri pemuja. Bahasanya bekerja seperti obat lewat ujaran: membalikkan kehilangan, memanggil pulang apa yang telah tersesat, dan memulihkan tatanan pelindung dari segala penjuru.
Sukta 10.20
Kidung ini dibuka dengan doa kepada Vāta—Napas/Angin yang mengilhamkan—agar meniupkan ke dalam para pemuja dorongan yang mujur (bhadra) yang menggerakkan batin dengan tepat. Lalu kidung beralih kepada Agni sebagai jalan yang aman dan kedamaian dari kurban, dan berpuncak pada persembahan ujaran terilhami sang penyair yang memohon pemeliharaan, kekuatan, serta tempat tinggal yang teguh dalam keberadaan.
Sukta 10.21
Himne ini memilih Agni sebagai Hotṛ dalam yajña dan memujinya sebagai pemurni yang bercahaya, yang membuat ritus menjadi manjur dan meluaskan batin. Ia mengingat kelahiran Agni yang purba serta garis-garis asalnya (Atharvan, Vivasvat, Yama), menampilkannya sebagai utusan di antara dunia-dunia dan sebagai daya yang menanam “benih” baru kehidupan dan wawasan di tengah kerabat dan klan. Tujuannya sekaligus ritual—keberhasilan yajña melalui api yang dinyalakan dengan tepat—dan batiniah—membangunkan kehendak yang terang dan teguh melalui nyala pemurnian Agni.
Sukta 10.22
Himne untuk Indra ini dibuka dengan pertanyaan tajam tentang ketiadaan—“Di manakah Indra terdengar hari ini?”—lalu mengubah keraguan itu menjadi pemanggilan, menghadirkan Indra melalui ujaran yang terilhami. Selanjutnya dimohonkan agar Indra menaklukkan kekuatan-kekuatan musuh yang tanpa hukum dan tanpa dharma (dasyu/dāsa) yang menindas para pemuja, dan berpuncak pada undangan persembahan Soma: Indra hendaknya minum, melindungi sang penyanyi, serta menganugerahkan kekayaan yang melimpah, bercahaya, dan kesejahteraan
Sukta 10.23
RV 10.23 adalah kidung singkat bagi Indra, ketika penyair–pelaksana yajña memanggil Indra sebagai pejuang kereta perang pembawa vajra, yang menerobos batas-batas dan membagikan kekayaan serta kekuatan kepada para sekutunya. Citraannya tajam dan jasmaniah—janggut Indra bergetar, bala tentaranya bergerak, hujan dan angin menanggapi—mengaitkan daya perang dengan kesuburan serta kegembiraan yang dibangkitkan oleh Soma. Kidung ini berpuncak pada permohonan agar persahabatan Indra dengan resi Vimadá tetap tak terputus dan menjadi pertanda baik bagi para pemuja
Sukta 10.24
Himne ini adalah invokasi persembahan Soma yang memohon Indra meminum Soma perasan yang kaya madu dan menegakkan di dalam para pemuja rayi (kekayaan, kelimpahan, kepenuhan daya hidup) yang berlipat seribu. Seiring kegembiraan Indra dan kemurahan pemberian-Nya, himne ini juga mengenang Aśvinā (Nāsatya) yang “mengaduk/mengguncang” hingga memunculkan kemanisan tersembunyi ketika dipanggil oleh Vimadá, dan berpuncak pada doa agar perjalanan pergi dan kepulangan dengan selamat dibuat “bermadu”—mujur, makmur, dan terlindungi.
Sukta 10.25
Himne ini memuji Soma (andhas) sebagai pengilham yang menghembuskan keberuntungan ke dalam diri pemuja—kejernihan batin (manas), kecakapan (dakṣa), dan kehendak/niat yang benar (kratu). Ia merayakan “mada” Soma yang memabukkan dan menggembirakan, yang meluaskan pikiran, memberdayakan sang pelihat dan sang pemberi, serta membawa seseorang melampaui ketidakmampuan (si “buta dan pincang”) menuju pertumbuhan dan pencapaian
Sukta 10.26
Himne ini memanggil Pūṣan sebagai penuntun ilahi bagi jalan dan perjalanan, memohon agar ia menempatkan kereta tenaga-hidup pada arah yang aman dan makmur serta mendengar seruan pemuja. Dalam bait-baitnya yang ringkas, himne ini menghubungkan perjalanan lahiriah dengan arah-batin yang benar: ilham yang tertata, daya-daya yang terpasang baik, dan penyingkiran rintangan bagi sang pelihat dan pelaku yajña.
Sukta 10.27
Kidung ini merupakan kritik moral-psikologis yang tajam terhadap kuasa yang dipakai tanpa daya penata Indra: mereka yang ikut menikmati kekuatan atau minuman ritual namun tetap “anindrāḥ” akan jatuh ke dalam kekerasan, pembalikan tatanan, dan pantulan balik yang menggagalkan diri sendiri. Melalui citra-citra gnomic tentang keterbalikan (jatuh namun tetap terjaga, kepala dipasang berhadapan dengan kepala), kidung ini mendiagnosis keberadaan yang terdistorsi, dan mendorong sang pencari agar tidak menyembunyikan “daya-hidup” batin serta visi tentang Svar (dunia Surya), melainkan membawanya ke dalam pergulatan demi pemenuhan yang benar.
Sukta 10.28
Kidung ini terutama merupakan proklamasi diri dalam suara Indra: ia lahir perkasa, melakukan tindakan-tindakan heroik dalam setiap perbuatan, dan dipuji karena membunuh Vṛtra serta melepaskan kekayaan yang terkurung bagi pemuja yang dermawan. Di samping nada kepahlawanan itu, sukta ini juga memuat catatan ritual-sosial—menyambut penantang/tamu yang datang dengan makanan dan Soma, lalu mengantarkannya pulang dengan puas—membingkai kuasa Indra sebagai pelindung tatanan, kemakmuran, dan pembagian yang benar.
Sukta 10.29
Himne ini memuji Indra sebagai sekutu yang selalu manjur, yang dibangunkan oleh stoma (nyanyian pujian) yang “murni”, dan yang sepanjang banyak malam dan siang bertindak laksana hotṛ bagi komunitas manusia—memanggil terang menembus kegelapan. Himne ini menekankan timbal balik: ujaran yang terilhami dan persembahan saling meneguhkan; dan daya-kekuatan Indra sendiri menyebar serta menata pertempuran, tegak kukuh seperti kereta di tengah konflik, sambil digerakkan oleh bhadrā sumati (niat-budi yang baik dan benar, membawa keberuntungan). Secara keseluruhan, sukta ini memohon kebersamaan Indra, kemenangan, dan kejernihan batin bagi pemuja di tengah pergulatan.
Sukta 10.30
Himne ini memuji Āpaḥ (Air) sebagai daya ilahi yang hidup, yang membawa kemanisan, pemurnian, dan penopang yang mujur ke dalam yajña serta ke dalam kehidupan manusia. Kebaikan Air dihubungkan dengan “dhāsi” yang luas—sokongan penyangga yang memelihara—dari Mitra–Varuṇa, dan berpuncak pada adegan ritual ketika Air “mengambil tempat duduknya” di atas barhis saat Soma diperas bagi Indra.
Sukta 10.31
Himne ini menyapa Viśve Devāḥ (Para Dewa, semua kekuatan ilahi) sebagai satu kesatuan yang cepat menolong, memohon agar pujian sang penyanyi sampai kepada mereka dan agar mereka mengantar pemuja menyeberangi kesesakan, bahaya, serta jalan-jalan yang berliku. Seiring berjalannya sukta, ia beralih ke simbolisme kosmis—Sapi sebagai cahaya/pengetahuan purba yang luas, dan “rahim Asura” sebagai sumber tunggal yang menyatukan—lalu berpuncak pada penegasan tentang ṛta (tatanan-kebenaran) dan pertambahannya yang tak berkurang
Sukta 10.32
RV 10.32 adalah kidung Indra dari bagian kitab yang tergolong akhir, mengundang Maghavan yang dermawan untuk duduk di tempat pemerasan Soma, terjaga pada sari yang telah diperas, dan menganugerahkan “keduanya”—penerimaan persembahan serta kemakmuran yang ditimbulkannya. Kidung ini bergerak melalui citra jalan yang mencari dewa, daya-daya pelindung, dan kelimpahan semanis madu, lalu memuncak pada ikrar untuk menuntaskan karya-karya ritual yang mujur dan menyimpan Soma ke dalam diri “di dalam hati”, memadukan kurban lahiriah dengan bhakti batiniah.
Sukta 10.33
Himne ini menampilkan Pūṣan sebagai penuntun batin yang “dibawa di dalam”, sementara Viśve Devāḥ berdiri sebagai para pelindung kolektif melawan bahaya dan kekuatan yang memusuhi. Ia memadukan motif perjalanan dan perlindungan dengan ajaran moral: seseorang tidak boleh melanggar vrata para dewa (hukum kosmis), dan pertumbuhan yang sejati lahir dari “pemasangan kuk” yang benar—penyelarasan yang berdisiplin dengan tatanan ilahi.
Sukta 10.34
RV 10.34, “Himne Perjudian” yang termasyhur, adalah ratapan orang pertama yang menggambarkan dadu sebagai kekuatan memikat sekaligus mengerikan, yang memabukkan pikiran dan menghancurkan rumah tangga, harta, serta nama baik. Melalui pengakuan yang tajam dan realisme sosial yang hidup, himne ini menjadi peringatan didaktis tentang kecanduan, menyeru pengendalian diri, pendamaian, dan kembali kepada kehidupan yang tertata.
Sukta 10.35
Himne ini menyambut bangkitnya Api-api suci saat fajar—Agni dalam bentuk jamak—yang dipenuhi daya laksana Indra untuk menghadirkan cahaya, tatanan menurut Ṛta, dan perjalanan yang aman memasuki hari. Seruan kemudian meluas kepada penopang kosmis (Uṣas, Dyāvāpṛthivī, dan Perairan), memohon agar “sabda Ṛta” ilahi memenuhi pemuja, serta agar keberanian tanpa takut dan kemakmuran muncul di bawah penjagaan para dewa.
Sukta 10.36
Kidung ini merupakan invokasi Viśvedevāḥ yang luas, menghimpun banyak daya kosmis—Fajar dan Malam, Langit dan Bumi, para Āditya, Indra, para Marut, Perairan, dan lainnya—ke dalam satu medan perlindungan dan tatanan benar (ṛta) bagi pemuja. Melalui pujian dan permohonan yang disusun secara enumeratif, kidung ini memohon “pertolongan” (avaḥ) bagi kurban, bagi daya hidup, dan bagi perjalanan hidup yang selamat. Pada akhirnya, kidung ini berpuncak pada seruan menyeluruh ke segala arah kepada Savitar agar menggerakkan “sarvatāti” (keutuhan/kesejahteraan total) dan menganugerahkan umur panjang
Sukta 10.37
Himne ini memuliakan Sūrya sebagai “Mata” Mitra–Varuṇa yang melihat jauh, penegak ṛta (tatanan kebenaran). Terbitnya Ia menyingkapkan, mengukur, dan menjaga dunia-dunia. Himne ini memohon penglihatan yang jernih, kesejahteraan, serta perlindungan dari permusuhan; dan memuat nada pertobatan, agar kesalahan yang dilakukan lewat ucapan atau pikiran disingkirkan dan keburukan dialihkan menjauh dari pemuja.
Sukta 10.38
Himne Triṣṭubh yang singkat ini merupakan seruan perang kepada Indra: agar mengaum lantang di tengah benturan pertempuran, meneguhkan kemenangan, dan merebut “sapi/sinar” di antara serbuan yang berkilat. Himne ini memohon Indra melumpuhkan setiap musuh—baik Dāsa maupun Ārya—yang merancang keburukan terhadap para pemuja, dan ditutup dengan dorongan kepada Sang Banteng perkasa untuk melepaskan diri dari ikatan-ikatan lalu datang cepat menolong, menjauh dari belenggu dan keterikatan yang saling menyaingi
Sukta 10.39
Kidung ini memanggil kereta Aśvin yang cepat dan bergerak ke segala arah agar datang pada malam dan fajar, menjawab seruan sang pelaksana yajña seakrab seorang ayah yang dipanggil dengan namanya. Kidung ini memuji karya khas mereka dalam penyelamatan dan pemulihan—membaharui masa muda, menyelamatkan para pemuja dari bahaya, serta mengembalikan kelincahan dan keutuhan—seraya menampilkan kidung itu sendiri sebagai persembahan yang digubah dengan saksama untuk menyenangkan dan menarik mereka mendekat.
Sukta 10.40
Himne ini merupakan seruan yang mendesak dan penuh kasih kepada Aśvinau, para tabib ilahi penunggang fajar, menanyakan di mana mereka berada dan siapa yang menyambut mereka hari ini. Ia memuji kereta mereka yang cepat, kemurahan mereka yang menjangkau tiap klan, serta penyelamatan mereka yang termasyhur—membawa kelegaan bagi yang lemah, perlindungan bagi yang rentan, dan membuka “kandang/kurungan” yang tersumbat agar kemakmuran dan kesembuhan dapat mengalir. Tujuan sang penyair ialah menarik Sang Kembar datang ke rumah si pelaksana yajña pada waktu yang tepat (saat fajar) dan memperoleh damai, kesejahteraan, serta kelancaran menyeberangi berbagai peralihan hidup.
Sukta 10.41
Himne singkat ini menyeru gerak ilahi pada waktu fajar: kedatangan Uṣas yang bercahaya dengan kereta lambangnya, serta pendekatan cepat para Aśvin menuju pemerasan Soma pagi. Fajar digambarkan sebagai ambang ritus, saat ujaran terilham, kurban yang tertata, dan kedatangan para dewa bertemu; dipanjatkan permohonan agar para dewa terjaga dan memberdayakan upacara serta para penyanyinya.
Sukta 10.42
Himne ini merupakan seruan yang membangkitkan daya kepada Indra, diteguhkan oleh Soma, yang mendorong para penyanyi untuk “membawa maju” stoma (pujian) yang ampuh bagaikan lemparan tegas yang memenangkan perolehan yang lebih baik. Ia memohon agar Indra menghalau musuh jauh-jauh, menganugerahkan kelimpahan berupa ternak dan gandum, serta memberikan ilham pikiran (dhī) yang menjadi harta kekuatan (vāja). Rumus perlindungan penutup memperluas lingkar keselamatan dengan memanggil Bṛhaspati menjaga dari segala arah, sementara Indra melindungi bagian depan dan pusat batin, menciptakan varivas—ruang lapang dan gerak tanpa rintangan bagi para sekutu dan daya-daya batin.
Sukta 10.43
Kidung ini merupakan pujian yang padu kepada Indra sebagai kekuatan yang dermawan dan pemenang pertempuran, yang dicari dengan penuh hasrat oleh pikiran-pikiran terilham sang resi, laksana sahabat-sahabat penuh kasih memeluk kekasih. Himne ini memohon Indra bergerak di antara para klan, menampakkan kemakmuran (sapi/kekayaan), dan menolong pemuja mengatasi permusuhan melalui persembahan Soma yang kuat. Penutupnya beralih pada perlindungan menyeluruh—Bṛhaspati menjaga dari segala arah, dan Indra membuka “ruang lapang” (varivas) bagi para sahabatnya di sepanjang jalan.
Sukta 10.44
Kidung ini merupakan seruan kepada Indra sebagai daya yang menaklukkan diri, selaras dengan hukum suci, yang melesat menuju sukacita Soma dan dengan vṛṣṇi yang luas (keperkasaan kepahlawanan) menundukkan segala perlawanan. Pujian dipadukan dengan ajaran: para perintis “yang pertama, dipanggil para dewa” meraih kemuliaan yang sukar diseberangi, sedangkan yang tidak layak gagal menaiki “perahu” kurban dan tenggelam. Doa penutup meluas menjadi perlindungan ke segala arah: Bṛhaspati menjaga dari belakang, dan Indra membuka ruang yang aman dan lapang bagi para sahabatnya
Sukta 10.45
Kidung ini memuji Agni sebagai Jātavedas dan Vaiśvānara, menelusuri “kelahiran tiga rangkap”-Nya—dari langit, di tengah manusia, dan di dalam perairan—serta menggambarkan bagaimana Ia senantiasa dinyalakan oleh niat yang benar dan keterampilan. Agni ditampilkan sebagai pemurni, penuntun, dan kehadiran abadi yang ditegakkan di dalam diri para fana, dengan asap dan sinar-Nya menjulang ke langit. Kidung ini ditutup dengan seruan damai kepada Langit dan Bumi serta doa memohon rayi (kelimpahan/kemakmuran) yang kaya akan daya kepahlawanan.
Sukta 10.46
Himne ini memuji Agni sebagai Hotṛ purba, yang ditegakkan oleh para dewa dan manusia sebagai pembawa persembahan serta penata tatanan benar (ṛta) dalam kehidupan komunal. Agni digambarkan duduk “di pangkuan air”, namun juga tersembunyi di dalam rumah-rumah dan ruang-ruang berpelindung laksana rahim, menghimpun orang-orang dan menggerakkan mereka dengan “kuk” dharma menuju kemakmuran serta kemuliaan leluhur yang diperbarui.
Sukta 10.47
Himne ini merupakan permohonan yang berkesinambungan kepada Indra untuk memperoleh rayi yang “citra” (beraneka rupa, bercahaya) dan “vṛṣan” (perkasa, penuh daya)—kekayaan yang sekaligus berupa kemakmuran materi, kekuatan kemenangan (vāja), dan pertambahan yang gemilang. Para pemuja menegaskan keakraban dengan Indra (“kami menggenggam tangan kananmu”) dan memuji beliau sebagai penjaga sapi/sinar, seraya memohon kediaman yang agung tiada banding serta landasan yang aman dan kukuh, diberkahi oleh Langit dan Bumi.
Sukta 10.48
Himne ini merupakan proklamasi diri Indra dalam orang pertama, yang menyatakan kedaulatan purbanya atas kekayaan, kemenangan, serta pembagian yang tepat atas “bagian kenikmatan” (bhójana) kepada sang pelaksana yajña. Indra menuturkan bagaimana ia menundukkan para lawan yang hendak mempersenjatai kekuatan untuk melawan dirinya, dan ia menegaskan kedudukannya yang tak tergoyahkan di antara golongan para dewa (Āditya, Vasu, Rudriya). Sukta ini berfungsi sebagai himne pujian yang meneguhkan keyakinan akan perlindungan Indra serta kemanjuran persembahan dan ujaran yang benar.
Sukta 10.49
Rigveda 10.49 adalah sebuah Indra-ātmastuti: Indra berbicara dalam orang pertama, memaklumkan daya kedaulatan-Nya sebagai pelaku utama di balik kemenangan, perluasan, dan penataan yang benar atas kurban (yajña). Himne ini menampilkan Indra sebagai pemberi kekayaan purba kepada penyanyi pujian, pembangkit yajamāna (pelaksana yajña), dan pemecah rintangan yang menentukan (kekuatan-kekuatan mirip Vṛtra), yang berpuncak pada peresapan-Nya atas para dewa dan manusia melalui dorongan yang tak tertahankan (cyautna).
Sukta 10.50
Himne ini adalah Indra-stuti yang memuji Indra sebagai Viśvānara/Viśvabhū—daya yang meresapi segalanya dan menopang dunia—yang bersukacita dalam Soma dan dibesarkan oleh brahman (sabda suci). Indra ditampilkan sebagai kekuatan terdepan dalam setiap pemerasan dan dalam setiap pergulatan manusia; kemasyhuran serta keperkasaan kepahlawanannya dilayani oleh kedua dunia. Himne ini ditutup dengan penegasan peran para penyair yang terilhami, yang “membuat” brahman untuk membuka jalan menuju anugerah dan pemberian Indra.
Sukta 10.51
Himne ini menampilkan Agni Jātavedas sebagai api kosmogonis yang melahirkan jagat: ia memasuki Perairan purba, mengambil banyak rupa, dan menjadi yang mengetahui serta memanggul semua kelahiran. Lalu himne beralih ke ranah ritus kini: Agni diundang untuk duduk pada nyala yang dinyalakan manusia, membuka “jalan-jalan yang menuntun kepada para dewa,” dan mengangkut persembahan, agar seluruh yajña ditegakkan sepenuhnya di dalam dirinya.
Sukta 10.52
Kidung singkat ini merupakan narasi inisiasi Hotṛ yang bersifat reflektif-diri, di mana Agni (sebagai suara imam) memohon kepada Viśve Devāḥ (Para Dewa Semua) agar mengajarinya jalan ritual yang benar, bagian yang semestinya ia terima, serta cara yang tepat untuk menyampaikan persembahan. Para dewa kemudian “menetapkan” dia sebagai havyavāha (pembawa persembahan), yang mampu melintasi kesukaran dan membentuk yajña dengan ukuran-ukuran yang tertata, hingga akhirnya ia ditahbiskan sebagai Hotṛ di atas barhis yang telah dihamparkan.
Sukta 10.53
Himne ini menggambarkan pencarian para pelaksana yajña akan Hotṛ yang sejati—Agni sebagai sang pengetahu yajña dari dalam—yang “lebih tua daripada kami” dan bersemayam di batin, mampu menegakkan kehadiran ilahi di dalam diri pemuja. Himne ini merajut citra-citra ritual (benang, tenunan, jalan-jalan cahaya) dengan disiplin batin atas pikiran dan ujaran, hingga memuncak pada visi tentang kehamilan kreatif: daya kurban ditempatkan dalam rahim kekuatan-kekuatan feminin dan meraih kemenangan melalui pembuatan/tindakan yang benar (kāra).
Sukta 10.54
Himne Indra yang singkat ini mengenang kedahsyatan sang dewa yang termasyhur: bahkan Langit dan Bumi sendiri, karena gentar, memanggilnya; ia melindungi para Deva sambil menundukkan kekuatan-kekuatan Dāsa semata-mata dengan ojas (daya/kekuatan) murni. Himne ini juga menyiratkan nama-nama Indra yang lebih dalam, bersifat “asurik” (berdaulat/berkedaulatan), dan menggambarkannya sebagai asas pencerahan batin—“cahaya yang ditempatkan di dalam cahaya”—ketika sang penyair mempersembahkan brahman (rumusan suci) yang ampuh untuk meneguhkan kemakmuran dan keturunan.
Sukta 10.55
Himne ini kepada Indra (Maghavan) memadukan pujian bagi sang pejuang heroik yang dikuatkan oleh Soma dengan renungan yang penuh teka-teki dan paradoks tentang nama-nama tersembunyi, waktu, dan pembalikan (masa muda “dilalap” oleh yang kelabu—ketuaan). Ia mengingatkan dukungan kosmis Indra atas Langit dan Bumi serta perlindungan-Nya bagi yang rentan, dan berpuncak pada dorongan pertempuran-Nya yang mengusir para Dasyu dan memulihkan tatanan. Secara keseluruhan, ini sekaligus stotra (nyanyian pujian) dan meditasi atas daya rahasia Indra yang membalikkan harapan biasa.
Sukta 10.56
Himne ini merenungkan bimbingan oleh “Cahaya ketiga” yang menuntun sang pencari menuju tempat perjumpaan yang lebih luhur, tempat makhluk berjasad menjadi bercahaya dan dikasihi para dewa. Himne ini juga menimbang bagaimana daya leluhur dan ilahi menegakkan tatanan: menghimpun kembali kekuatan yang tercerai-berai ke dalam tubuh, memungkinkan penyeberangan yang sulit dilalui dengan selamat, serta menempatkan keturunan melintasi ranah bawah maupun ranah atas.
Sukta 10.57
Kidung singkat ini adalah doa perlindungan dan pemulihan bagi para pelaksana kurban Soma, memohon kepada Indra agar para pengurban tidak menyimpang dari jalan yang benar dan tidak dihalangi oleh kekuatan-kekuatan yang memusuhi. Lalu kidung beralih ke batin, memanggil kembalinya dan pemantapan manas (budi/benak) demi kehendak yang tepat (kratu), daya pembedaan (dakṣa), kehidupan, serta penglihatan yang berkesinambungan akan Surya sebagai cahaya batin. Penutupnya menegaskan keselarasan dengan vrata Soma (tata-laku/kerja yang benar), menanggung benak yang telah dipulihkan di dalam tubuh dan meraih daya cipta yang subur dan berbuah (prajā).
Sukta 10.58
Himne ini merupakan seruan terapeutik untuk memanggil kembali dan menegakkan lagi manas (pikiran) yang mengembara agar kembali bersemayam dalam tubuh yang masih hidup dan “rumah kehidupan” (kṣaya), terutama ketika ia menyimpang menuju Yama—tarikan ke arah maut dalam citra himne. Bait-bait bergaya refrein merinci banyak tempat yang mungkin didatangi pikiran (kematian, perairan, tumbuh-tumbuhan, masa lampau dan masa depan), lalu para pelantun secara ritual “membalikkannya kembali” demi kelangsungan hidup, keterpaduan, dan kesejahteraan.
Sukta 10.59
Himne ini adalah doa āyuṣya (pelindung umur) yang mendorong daya-hidup melaju ke depan menuju kelangsungan yang “lebih jauh, senantiasa lebih baru”, sambil mengusir Nirṛti—kekuatan pelapukan dan pelarutan. Himne ini memohon pemulihan penglihatan, napas, dan kenikmatan vital, serta memohon agar dapat memandang Matahari terbit lama tanpa rintangan—tanda-tanda daya hidup yang diperbarui dan keberuntungan. Bagian penutup bernada perlindungan, menyeru kuasa-kuasa penopang (serta dorongan Indra) untuk menyingkirkan derita sehingga tiada bahaya menyentuh pemuja.
Sukta 10.60
Himne ini bergerak dari pendekatan penuh hormat kepada suatu daya bercahaya yang dipuji, menuju nada yang jelas memulihkan hidup dan menyembuhkan: memanggil kembali napas dan daya hayat, meneguhkan kembali ikatan kekerabatan, serta mendesak yang tertimpa sakit agar “maju/keluarlah.” Puncaknya adalah pentahbisan tangan manusia sebagai obat semesta (viśvabheṣaja), sentuhan mujur yang menyalurkan kesejahteraan dan damai.
Sukta 10.61
RV 10.61 adalah himne akhir berirama triṣṭubh yang membingkai mantra (brahman) sebagai daya garang mirip Rudra yang bekerja dalam “pertempuran” batin, ketika ujaran terilham dan kehendak yang benar meremukkan pemisahan yang memusuhi dan menegakkan kembali yajña dalam kesatuan. Himne ini bergerak melalui citra Aṅgiras/Bṛhaspati tentang kemenangan kuasa-kata, menamai prinsip api yang bercahaya sebagai Bharga/Agni yang mendudukkan para dewa pada landasan tiga serangkai, dan menutup dengan seruan kepada Viśve Devāḥ agar menolong dalam kerukunan serta daya pembedaan yang jernih
Sukta 10.62
Himne ini memanggil para Angirasa sebagai suatu garis kolektif kekuatan para resi; melalui yajña dan dakṣiṇā mereka meraih persahabatan Indra serta bagian dalam “ketiadaan-maut” (keabadian). Himne ini mengingat kelahiran mereka yang menyala dari Agni, persekutuan termasyhur sebagai Navagva dan Daśagva, dan memohon agar mereka “menggenggam” sang pelaku kurban manusia—melindungi pelindung Manu, mempercepat dan menguatkan dakṣiṇā, serta memanjangkan umur agar komunitas memperoleh vāja (kelimpahan, daya kemenangan).
Sukta 10.63
RV 10.63 adalah invokasi akhir yang luas kepada Viśve Devāḥ (Para Dewa Semua), yang menambatkan pemujaan masa kini pada garis keturunan teladan purba dan raja-rajanya yang bersifat kurban—Vivasvat, Manu, Yayāti, dan Nahusha. Himne ini menghimpun banyak dewa (Indra, Agni, Mitra–Varuṇa, Bhaga, Dyāvāpṛthivī, para Marut, dan para Āditya) untuk memohon perlindungan dalam pertikaian, keberhasilan dalam perolehan, serta pujian yang benar dan terilhami, agar sang pelaksana yajña tetap selaras dengan ṛta (tatanan kebenaran).
Sukta 10.64
Kidung ini dibuka sebagai seruan pencarian: sang penyair bertanya, di antara para dewa siapakah yang sungguh mendengar, menganugerahkan sukacita, dan berpaling kepada pemuja dengan pertolongan yang menyelamatkan. Lalu seruan itu meluas menjadi permohonan bersama kepada kekuatan-kekuatan ilahi—terutama Perairan dan sungai-sungai yang menumbuhkan kehidupan—dan berpuncak pada pujian kepada para Āditya dan Aditi sebagai penguasa yang menegakkan tatanan serta perlindungan.
Sukta 10.65
Himne ini merupakan pemanggilan yang menyeluruh kepada Viśve Devāḥ (Para Dewa semuanya), dengan menyebut secara jelas banyak kekuatan utama Weda dan memohon agar mereka bertindak “dalam satu kesepakatan” untuk menegakkan yajña (kurban suci) serta kesejahteraan manusia. Himne ini merajut tatanan kosmis (ṛta), orang tua penopang—Langit dan Bumi—serta perlindungan dan bimbingan para dewa yang luas jangkauannya, dan berpuncak pada doa memohon svasti (kesejahteraan) yang langgeng.
Sukta 10.66
Himne ini menyeru Viśve Devāḥ—“Para Dewa Semua”—kekuatan yang mendengar luas dan bercahaya dalam ritus, yang menegakkan yajña dan memajukan pemuja menuju kesejahteraan (svasti). Dengan Indra sebagai yang terdepan di antara mereka, para dewa dipuji sebagai penopang dan penambah ṛta, serta dikenang lewat mitos-mitos kemenangan seperti pembebasan air setelah pergulatan melawan Vṛtra. Sukta ini ditutup dengan sembah Vasiṣṭha kepada para abadi yang berdiri di atas segala dunia, memohon kemakmuran yang luas dan menjangkau jauh serta perlindungan yang terus-menerus.
Sukta 10.67
Himne ini (RV 10.67) memuliakan daya-kemenangan Indra sebagai tak terpisahkan dari arus Angirasa/Bṛhaspati: Sabda yang terilham (dhī/uktha) “ditemukan” dan “dilahirkan”, lalu dipakai untuk memecah para penimbun dan membebaskan kekayaan, cahaya, serta arus-arus kehidupan. Ayāsya ditampilkan sebagai resi yang mengucapkan ukuran/kekuatan keempat, sementara bingkai mitis mengingatkan pada penghancuran penghalang (ahi, Arbuda) dan pembebasan tujuh sungai. Tujuannya sekaligus pujian dan tindakan ritual—memanggil Indra (beserta daya brahman yang bersekutu) agar membuka kelimpahan dan melindungi komunitas.
Sukta 10.68
Kidung ini bagi Bṛhaspati merayakan daya meluap dari ujaran yang terilhami (brahman) yang membelah gua penyamaran dan membebaskan “sapi-sapi” cahaya dan kebenaran yang cemerlang. Ia mengingatkan kemenangan mitis Angiras/Bṛhaspati—menemukan Nama rahasia, membelah batu laksana telur, dan menghadirkan kelimpahan bercahaya bagi para pemuja. Para penyair menutupnya dengan mempersembahkan ritus yang telah sempurna dan memohon Bṛhaspati menegakkan kelimpahan hidup, kekuatan, serta kemakmuran manusia.
Sukta 10.69
Himne ini memuji Agni sebagai Api yang mujur dan bercahaya, yang menuntun Vadhryaśva beserta kaumnya melalui persahabatan yang benar (sumitrā) dan penyalaan yang tepat di garis depan upacara. Himne ini merayakan daya Agni yang meluas—dimurnikan oleh usaha manusia, bersinar di antara yang cemerlang—dan berpuncak pada permohonan perlindungan kepada Agni purba, Vṛtrahan (penakluk Vṛtra), agar berdiri menaungi para pemuja melawan kekuatan-kekuatan yang memusuhi.
Sukta 10.70
Himne Triṣṭubh ini dibuka dengan menyalakan Agni dan menempatkan persembahan yang berkilau oleh ghee di atas singgasana Ilā, memohon agar api bangkit di Bumi sebagai daya kecerdasan yang benar yang mengangkat pemujaan ke atas. Lalu cakrawala melebar menjadi visi liturgis di ambang: Fajar dan Malam dipanggil untuk mendudukkan para dewa dalam “rahim” ritus yang tertata—hingga memuncak pada peran Agni sebagai pemanggil yang menghadirkan Varuṇa, Indra, para Marut, dan Semua-Dewa ke kursi kurban, demi pemenuhan batin dan lahir.
Sukta 10.71
Himne ini merenungkan misteri Vāc (Sabda/ucapan yang terilhami), yang pertama kali digerakkan di bawah bimbingan Bṛhaspati, ketika “nama” yang sejati dan makna yang tanpa cela tersembunyi laksana harta di dalam gua. Himne ini membedakan mereka yang hanya mendengar bunyi kosong dari mereka yang memelihara sahabat/pembimbing yang tepat, sehingga memperoleh bagian dalam Sabda. Pada akhirnya, himne ini mengaitkan ujaran suci dengan metrum, peran-peran imam, dan pengukuran yajña yang semestinya, menampilkan Vāc sebagai kecerdasan pengatur bagi ritus dan wawasan batin.
Sukta 10.72
Himne kosmogonis ini merenungkan “kelahiran-kelahiran” (janma) dan penataan para Dewa, dengan memandang penciptaan sebagai perwujudan yang bertahap, yang sungguh dapat “dilihat” melalui ujaran yang terilhami dan wawasan yang datang kemudian. Ia menelusuri silsilah yang paradoks seputar Dakṣa dan Aditi, lalu memuncak pada motif tujuh putra Aditi dan kembalinya Mārtāṇḍa, mengungkap bagaimana keabadian dan kefanaan muncul bersama di dalam perwujudan itu sendiri.
Sukta 10.73
Himne Triṣṭubh ini memuji kelahiran, pertumbuhan, dan daya kemenangan Indra, menonjolkan bagaimana para Marut—sebagai sahabat dan pengganda kekuatan—meneguhkan dia untuk meruntuhkan kuasa-kuasa penghalang. Dari citra kosmogonis dan kejayaan perang menuju pencerahan batin, para resi memohon Indra agar menggulingkan kegelapan, memenuhi mata dengan penglihatan, dan melepaskan mereka dari belenggu bagaikan harta terpendam yang tersingkap
Sukta 10.74
Kidung ini memuji kekuatan-kekuatan bercahaya secara kolektif (Vasus) sebagai para penolong ilahi yang beraneka, yang melaluinya para pencari mencapai kepenuhan—melalui tapa batin yang tekun, wawasan yang tercerahkan, dan tindakan yajña yang menyatukan Langit dan Bumi. Lalu kidung ini beralih kepada Indra sebagai daya penentu yang memungkinkan penyeberangan menuju “perbendaharaan” kaya akan cahaya dan kelimpahan, menegaskan banyak kuasa-Nya serta kemampuan-Nya menuntaskan apa yang dicari sang aspirant.
Sukta 10.75
Himne ini merupakan pujian agung kepada Air (Āpas), dengan pengagungan khusus kepada Sindhu, yang dipuji sebagai sungai paling perkasa, paling cepat, dan paling menang di antara segala sungai. Himne ini menyebut dan menyeru jejaring luas sungai-sungai suci agar bergabung dalam stoma sang penyair, menggambarkan sungai-sungai sebagai daya hidup yang membawa kekuatan, pemeliharaan, dan gerak yang benar; serta diproklamasikan “di singgasana Vivasvat”, yakni konteks surya yang bercahaya—tatanan dan kebenaran.
Sukta 10.76
Himne Rigveda yang tergolong akhir ini merupakan nyanyian pujian yang membangkitkan Indra bersama para Marut, sambil menyeru Rodasī—dua Dunia kembar—serta dua Hari kembar untuk membuka “ruang yang luas” bagi pelaku yajña melalui terobosan cahaya dan daya. Himne ini merayakan kekuatan-kekuatan ritual—terutama batu-batu pemeras Soma dan para imam yang terampil—yang lewat kerja yang dipertajam dan diintensifkan menjadikan persembahan manjur, sehingga kekayaan dan kekuatan mengalir baik pada ranah surgawi maupun duniawi.
Sukta 10.77
Himne ini memuji para Marut sebagai pasukan badai yang bercahaya, yang “curahan” mereka adalah sekaligus hujan dan berkah, bergerak dengan tatanan yang bertujuan seperti yajña yang dituntun dengan baik. Melalui perbandingan yang hidup—semburan awan, sinar matahari, elang, dan kuda-kuda yang berlari jauh—himne ini memohon daya pelindung mereka untuk menyingkirkan mara bahaya, meneguhkan pikiran yang terilhami, dan membuat yajña bersinar. Permohonan penutup meminta kuasa-kuasa yang paling “layak bagi yajña” ini menjaga ilham secepat kereta perang serta kebesaran yang bertumbuh melalui ritus.
Sukta 10.78
Kidung ini memuji para Marut sebagai daya-daya yang tanpa cela, cemerlang, dan bergerak cepat—laksana resi yang terilhami, laksana raja-raja pahlawan, dan laksana air yang melaju deras—yang membawa tenaga, cahaya, dan dorongan kemenangan. Kidung ini memohon kehadiran mereka yang bersahabat di dalam nyanyian pujian itu sendiri, agar para penyanyi dibuat beruntung dan dianugerahi “ratna” (harta/permata) yang lestari, yang telah dipegang dan dijaga para Marut sejak zaman purba.
Sukta 10.79
Kidung ini merenungkan suatu Kuasa abadi yang menggentarkan namun membawa kebaikan, bergerak di tengah manusia—paling koheren dipahami sebagai Agni dalam aspek yang melahap dan mentransformasi. Api digambarkan sebagai “embrio” yang melahap segalanya, yang memelihara dirinya dari dua Ibunya (Langit dan Bumi), lalu sebagai daya yang “memasang kuk” untuk mendisiplinkan energi-energi yang menyimpang, hingga mencapai keselarasan dan tatanan benar (ṛta) di bawah Mitra dan para Vasu.
Sukta 10.80
Himne Agni yang singkat ini memuji Api ilahi sebagai pemberi daya-daya yang manjur, kekuatan kepahlawanan, dan pembentukan yang makmur, yang bergerak di antara serta menyelaraskan dua dunia (bumi dan langit). Himne ini memohon agar Agni meluaskan persembahan ke alam yang lebih tinggi, menopang banyak kedudukan/pos keberadaan-Nya dalam eksistensi, melindungi sang penyanyi, dan menganugerahkan “draviṇa yang agung” (kelimpahan luas dari kekayaan/keberadaan).
Sukta 10.81
Himne ini memuji Viśvakarman, sang perajin kosmis yang membentuk segala sesuatu, sebagai resi-imam yang “mempersembahkan” dunia-dunia dan menegakkan ciptaan dari kedalaman yang tersembunyi. Ia bergerak melalui pertanyaan-pertanyaan kosmogonis yang penuh takjub—bagaimana Langit dan Bumi dibentuk—dan berpuncak pada seruan langsung kepada Viśvakarman sebagai Vācaspati (Tuan Ucapan) agar menerima pemujaan serta menganugerahkan kesejahteraan dan perlindungan
Sukta 10.82
RV 10.82 merenungkan Viśvakarman sebagai perajin kosmis yang tersembunyi, yang menetapkan batas-batas pertama dan dengan demikian membiarkan Langit dan Bumi melebar menjadi ruang yang tertata. Kidung ini bergerak antara pujian dan pertanyaan: menghormati persembahan para resi purba kepada Sang Pembentuk, namun memperingatkan bahwa sekadar pelafalan dan spekulasi dapat meleset dari Sang Pencipta sejati yang terselubung di balik penampakan. Tujuannya ialah memusatkan kembali ritual dan pemikiran pada satu Inteligensi pembentuk, yang merajut kemajemukan menjadi suatu keseluruhan yang padu
Sukta 10.83
Himne ini memanggil Manyu—murka/gelora ilahi—sebagai daya laksana dewa yang berpihak pada kekuatan kemenangan Indra, memohon agar Manyu “dipasangkan pada kuk” bersama pemuja dalam pertempuran melawan rintangan seperti Vṛtra dan kekuatan-kekuatan musuh. Manyu dipuji sebagai lahir dari dirinya sendiri, tak tertahankan, dan bekerja di mana-mana, serta dimohon untuk “menaruh kekuatan dalam diri kami” bagi pergulatan batin maupun konflik lahir. Sukta ini berpuncak pada citra kedekatan sebagai sahabat—Manyu di sisi kanan—dimeteraikan dengan persembahan sari manis (Soma/curahan bermadu) untuk diminum secara rahasia, ke dalam diri.
Sukta 10.84
Himne ini menyeru Manyu—amarah pertempuran, semangat benar, dan kehendak yang tak tertaklukkan—sebagai sekutu ilahi yang memasang daya-daya perang laksana Marut pada satu kereta dan menghalaukannya melawan segala rintangan. Himne ini melatih kaum-kaum (viśaṃ-viśam) menuju kemenangan, mengubah ujaran menjadi pekik perang yang tak terputus, serta memohon kemakmuran dan perlindungan yang terpadu. Pada akhirnya diminta agar musuh dicengkeram oleh ketakutan batin dan menarik diri
Sukta 10.85
RV 10.85 adalah himne pernikahan termasyhur “Sūryā–Vivāha” (Pernikahan Sūryā) yang membingkai perkawinan sebagai tindakan kosmis yang berlandaskan satya (kebenaran) dan ṛta (tatanan yang benar). Himne ini memberkahi pasangan dengan kerukunan, kesuburan, perlindungan dari daya-daya yang mengikat, serta kehidupan yang tegak dalam hukum bercahaya yang ditegakkan oleh para Āditya, Soma, dan Sūrya (penopang dyauḥ/angkasa).
Sukta 10.86
RV 10.86 adalah himne dialog yang hidup, berpusat pada Indra dan sosok Vṛṣākapi yang penuh teka-teki, dengan Indrāṇī turut masuk dalam pertukaran kata; semuanya dibingkai oleh pujian berulang bahwa “Indra lebih tinggi daripada semua.” Di balik nada jenaka dan suasana domestik, himne ini menelaah persaingan, kesetiaan, serta penyaluran yang tepat atas daya yang dibangkitkan oleh soma, agar kekuatan kedaulatan Indra diteguhkan dan dipulihkan. Himne ini juga melestarikan motif-motif folklor (kesuburan, penyembuhan, kelahiran luar biasa) sebagai tanda kemampuan Indra mengangkat makhluk melampaui segala batasan.
Sukta 10.87
Himne ini merupakan seruan perlindungan yang garang kepada Agni sebagai rakṣohaṇa—pembantai Rakṣas dan Yātudhāna—memohon agar ia menjaga para pemuja siang dan malam serta mematahkan kekuatan-kekuatan yang memusuhi. Berulang kali Agni dijadikan “senjata” aktif dari mantra dan api kurban: membakar, menyingkap, dan mengusir bahaya tak kasatmata, kutukan, serta sihir. Tujuan sukta ini bersifat apotropaik: pemurnian, perlindungan ritus, dan penguatan batin melalui kehendak Agni yang menyala-nyala.
Sukta 10.88
Himne ini memuji Agni sebagai api yang tak menua, menjulang menyentuh langit, yang meminum persembahan dan menopang dunia-dunia melalui ṛta (tatanan kosmis). Ia mengingat bagaimana para dewa melahirkan dan membentuk Agni dalam wujud tiga rangkap, menjadikannya pengubah pertumbuhan yang mematangkan tumbuh-tumbuhan dan menopang kehidupan. Sukta ini juga menyebut Mātariśvan sebagai pembawa Agni, serta mengaitkan meluasnya cahaya fajar dengan penegakan yajña dan tatanan kependetaan yang semestinya.
Sukta 10.89
Himne ini merupakan pujian yang luas bagi Indra sebagai daya yang melampaui segalanya: ia membuka dunia-dunia bercahaya, meluap melampaui “sungai-sungai”, serta menjamin kemenangan, kekayaan, dan kesejahteraan bagi para pemujanya. Berulang kali ditegaskan kedaulatan Indra atas langit, bumi, perairan, dan pegunungan, serta dipanjatkan permohonan agar ia mendengar seruan baik dalam pertikaian maupun dalam ritus yang damai, menumbangkan rintangan bak Vṛtra. Tujuannya sekaligus perayaan dan praktis: memanggil perlindungan, kekuatan, dan kelimpahan Indra dalam “pengembanan/penopangan” (bhara) kehidupan dan dalam perolehan kepenuhan (vājasāti).
Sukta 10.90
Puruṣa Sūkta menampilkan “Pribadi Kosmis” (Puruṣa) sebagai yang meresapi segalanya—mencakup seluruh dunia namun juga melampauinya. Himne ini menggambarkan penciptaan sebagai yajña purba, di mana alam semesta, Weda, dan fungsi-fungsi sosial–kosmis muncul sebagai ungkapan yang tertata dari satu Keberadaan utuh yang integral. Tujuan himne ini bersifat kontemplatif sekaligus ritual: menegakkan dasar yajña dan dharma pada satu prototipe kosmis yang tunggal
Sukta 10.91
RV 10.91 adalah himne kepada Agni yang memuji Api sebagai kehadiran rumah tangga yang senantiasa terjaga dan sebagai Hotṛ universal yang membuat kurban menjadi manjur. Himne ini menampilkan Agni sebagai kecerdasan bercahaya (mati/medhā) yang menegakkan persembahan yang tepat, persekutuan yang tepat dengan para dewa, serta menganugerahkan kekayaan yang luas dan bersifat kepahlawanan kepada para pemuja.
Sukta 10.92
Himne ini memuji Agni sebagai kusir kurban dan imam klan (Hotṛ), tamu malam yang menyala melalui kayu bakar kering dan bangkit sebagai ketu yang bercahaya menuju langit. Ia meninggikan daya-Nya yang tak tertahankan—sedemikian besar hingga gerak surya dan kedahsyatan laksana Indra pun tersirat—seraya mengingat tradisi para resi Aṅgiras purba serta perangkat pemeras Soma yang menegakkan jalan yang terang bagi ritus dan bagi wawasan batin.
Sukta 10.93
Kidung ini memuja Dyāvāpṛthivī—Langit dan Bumi—sebagai Dua yang maha-luas laksana ibu, yang menyangga dunia-dunia dan memberi perlindungan terus-menerus dari daya yang menindas serta kekerasan. Seiring sukta terhampar, doa itu meluas menjadi visi tentang kuasa yang tertata: ritus menjadi sesuatu yang “melampaui manusia”, dan tatanan kosmis dari banyak kekuatan ditegaskan telah ditetapkan sejak awal demi kesejahteraan sang pelaku kurban.
Sukta 10.94
Kidung ini secara puitis mempersonifikasikan batu-batu pemeras Soma (Grāvāṇaḥ/Adrayaḥ) sebagai daya-daya hidup yang dapat berbicara; derak ritmisnya menjadi nyanyian yang dipersembahkan kepada Indra. Kidung ini memuliakan mekanika dan kesakralan pemerasan Soma—bunyi, kecepatan, dan gerak yang tertata—seraya menampilkan batu-batu itu sebagai pelaku yang melepaskan sari Soma dan membangunkan ujaran yang terilham (Vāc) di dalam kurban.
Sukta 10.95
RV 10.95 adalah dialog dramatis antara raja fana Purūravas (Aiḷa) dan apsaras Urvāśī, menyingkap ketegangan antara hasrat manusia dan syarat-syarat ilahi. Melalui pertukaran kata yang tajam, himne ini membingkai cinta sebagai daya yang dapat mengangkat atau meruntuhkan; dan ditutup dengan menempatkan pasangan manusia di bawah kefanaan, namun tetap membuka jalan untuk turut ambil bagian dalam surga melalui keturunan dan kurban (yajña)
Sukta 10.96
RV 10.96 adalah Indra-stuti dari maṇḍala akhir yang mengundang Indra—terutama sebagai Harivat, “ia yang memiliki sepasang (kuda) kuning keemasan”—untuk hadir ke dalam kidung melalui ujaran yang terilhami dan meminum Soma semanis madu. Kidung ini berulang kali mengaitkan dua Harī Indra (sepasang kuda/dua daya) dengan dinamika yang cepat dan menang, yang menuntaskan aspirasi, meneguhkan sang pencari, serta membawa sukacita, kekuatan, dan keberhasilan. Puncaknya adalah seruan ritual langsung: menyingkirkan perasan-perasan sebelumnya dan menuntut persembahan Soma saat ini sebagai milik Indra sendiri.
Sukta 10.97
RV 10.97 adalah kidung penyembuhan yang memanggil Oṣadhī—tumbuhan obat sebagai daya ilahi kolektif—memohon agar meresapi seluruh tubuh dan mengusir penyakit, terutama yakṣma (penyakit pelayuan/derita menahun). Kidung ini memuji tumbuhan-tumbuhan itu sebagai yang purba, berwujud banyak, dan ditempatkan secara ilahi, serta membingkai penyembuhan herbal sebagai obat jasmani sekaligus perlindungan sakral dari bahaya dan permusuhan.
Sukta 10.98
Kidung ini adalah pemanggilan hujan yang dibingkai sebagai narasi sakral: Devāpi, bertindak sebagai pendeta bagi Raja Śaṃtanū, menerima ujaran berdaya dari Bṛhaspati untuk membuka datangnya hujan Parjanya. Bṛhaspati dipuji sebagai penguasa mantra dan pengatur keselarasan ilahi, yang dapat bekerja melalui para dewa sekutu (Mitra, Varuṇa, Pūṣan, para Āditya, para Vasu, para Marut) sehingga air, kesuburan, dan kesejahteraan bersama dipulihkan. Bagian penutup beralih kepada Agni untuk perlindungan dan agar “kelimpahan air” dilepaskan dari samudra dan dari langit.
Sukta 10.99
Kidung ini memuji Indra dalam bingkai klasik pembunuhan Vṛtra: penempaan dan pelontaran vajra, pemecahan daya-daya penghalang, serta pembukaan kemakmuran bagi pemuja. Ia memadukan mitos kepahlawanan dengan nuansa etis dan sosial—Indra melindungi yang berkata benar, meremukkan benteng-benteng permusuhan, dan menganugerahkan iṣa (dorongan/impuls), ūrj (daya hidup), serta sukṣiti (kediaman yang aman dan mantap). Gambaran penutup tentang “semut” yang mendekati Indra menegaskan bhakti yang rendah hati dan tekun sebagai jalan menuju pertambahan ilahi dan pancaran terang yang merata ke seluruh jagat
Sukta 10.100
Himne ini merupakan seruan yang penuh daya kepada Indra agar “berdiri teguh”, terjaga oleh Soma, dan menganugerahkan kepada para pemuja kenikmatan kemenangan, pertambahan, serta perlindungan. Seiring daya kepahlawanan Indra, Savitṛ juga diseru untuk menuntun dan menjaga upacara; dan Aditi berulang kali dipilih sebagai “keutuhan yang luas”, yang memelihara kebenaran, keutuhan, dan kebebasan dari selubung ketidakbenaran.
Sukta 10.101
Kidung ini merupakan seruan bangun bersama kepada sekelompok sahabat sehaluan: menyalakan Agni bersama dan menggerakkan yajña, memanggil Uṣas (Fajar) dan Dadhikrāvan, dengan Indra sebagai sekutu pemberi daya (indra-vat). Dengan citra yang hidup—membuat kereta, membangkitkan “kuda-kuda” (daya-daya vital), serta memenuhi palung/bejana—yajña digambarkan sebagai kerja terkoordinasi dan terampil yang memenangkan kekuatan, kemakmuran, dan gerak yang berjaya. Puncaknya mendorong kerja yang tegas dan secara eksplisit memanggil Indra untuk meminum Soma serta menganugerahkan pertolongan.
Sukta 10.102
Kidung ini bagi Indra disusun dalam idiom yang hidup tentang perlombaan kereta, memohon agar sang dewa menjaga sang pemacu, pasangan kuda, serta hasil berupa kemasyhuran dan kekayaan. Ia memuliakan Indra sebagai penguasa keterampilan, kecepatan, dan daya dorong kemenangan—dia yang “melihat” seluruh dunia yang bergerak dan memberdayakan kekuatan-kekuatan berpasangan yang memenangkan lomba. Di balik citra lahiriahnya, ini adalah doa memohon tuntunan yang benar, sarana yang manjur, dan kemenangan atas rintangan, baik dalam pertempuran maupun dalam ikhtiar kehidupan.
Sukta 10.103
Kidung ini merupakan seruan perang kepada Indra sebagai sang juara tunggal yang cepat, tak berkedip, yang menghancurkan bala tentara musuh dan membuka ruang-ruang yang terhalang bagi komunitas Arya. Kidung ini memohon kemenangan dalam pertempuran, perlindungan bagi pasukan sendiri, serta keberanian dan kekompakan yang diperlukan untuk maju dan menang di bawah kepemimpinan Indra.
Sukta 10.104
Kidung ini merupakan undangan yang mendesak kepada Indra—yang paling sering diseru, ditarik oleh kuda-kuda kuning kecokelatan—agar segera datang ke yajña dan meminum Soma yang baru diperas. Kidung ini memuji Indra sebagai pendengar doa, yang mengetahui jalan upacara, dan sebagai pemenang yang menumpas kekuatan-kekuatan penghalang (perlawanan laksana Vṛtra), yang dimohon pertolongannya dalam pergulatan serta untuk meraih kekayaan, kekuatan, dan kelimpahan.
Sukta 10.105
Kidung ini merupakan pujian yang kuat kepada Indra (disapa dengan gelar “Vasu”), menanyakan kapan stotra itu sungguh-sungguh akan “menyenangkan” beliau, serta menyeru pemerasan Soma sebagai dasar yang memberi tenaga bagi pertolongan beliau. Kidung ini mengingat kembali daya dan keterampilan Indra yang ditempa dengan cermat (diibaratkan seperti Ṛbhu dan Mātariśvan), dan berpuncak pada kenangan akan perlindungannya atas Kutsa serta kemenangan-kemenangannya dalam pembantaian Dasyu, menegaskan bahwa pujian dan persekutuan menarik pertolongan beliau yang menentukan.
Sukta 10.106
Himne ini merupakan seruan pemujaan kepada Dua Kuasa Ilahi—dipahami sebagai Aśvin—agar datang dengan kereta mereka, meluaskan ilham pikiran, dan menggerakkan daya-daya kehidupan bagaikan para perajin yang terampil. Himne ini memuji tindakan mereka yang cepat dan menyelaraskan, serta memohon kekuatan (vāja), kegembiraan, dan pertambahan tenaga-hayat yang “tak menua”, dan berpuncak pada permintaan agar mereka memenuhi hasrat terdalam sang pemuja.
Sukta 10.107
Himne ini memuji Dakṣiṇā—pemberian suci yang diarahkan dengan benar, yang menyempurnakan kurban (pūrtí) dan menuntun pemuja dari kegelapan menuju jalan yang luas dan bercahaya. Pemberian dipahami bukan sekadar amal, melainkan daya yang ditahbiskan: menyempurnakan tugas-tugas kependetaan, menopang tatanan sosial, serta menghasilkan perlindungan, kemakmuran, dan kemenangan.
Sukta 10.108
RV 10.108 menampilkan dialog dramatis: Saramā, utusan Indra yang tangkas, berhadapan dengan kaum Paṇi yang menyembunyikan “sapi” (cahaya/kekayaan/harta) di seberang sungai Rasā. Kidung ini berporos pada bujukan, penolakan, dan peringatan: para Paṇi mencoba menyuap dan menyesatkan, sedangkan Saramā berpihak pada ṛta (tatanan-kebenaran) dan pemulihan yang sah atas kekayaan yang disembunyikan. Penutupnya menunjuk pada daya pewahyuan Bṛhaspati yang menemukan apa yang tersembunyi—sapi, Soma, perlengkapan suci, bahkan para resi itu sendiri—agar cahaya dapat memancar keluar.
Sukta 10.109
Kidung ini membahas “brahma-kilbiṣa” yang berat (pelanggaran terhadap tatanan suci dan kesakralan Brahmanis), serta memperlihatkan bagaimana daya-daya kosmis—terutama Para Perairan (Āpaḥ) yang bergerak dalam Ṛta—lebih dahulu berbicara tentang kesalahan itu dan penawarnya. Ditekankan pemulihan melalui ganti rugi (mengembalikan apa yang diambil secara tidak benar), penyucian oleh Āpaḥ ilahi, dan masuk kembali ke dalam keselarasan dengan para dewa, yang berpuncak pada pemujaan yang diperbarui dan kedudukan yang benar dalam Ṛta.
Sukta 10.110
Himne ini berpusat pada Agni Jātavedas sebagai api rumah tangga yang dinyalakan, yang bertindak sebagai Hotṛ dan utusan ilahi, membawa persembahan serta niat manusia kepada para dewa. Ia membingkai yajña sebagai gerak yang tertata dalam Ṛta, ketika daya-daya pelengkap seperti Fajar dan Malam menopang irama ritus, dan berpuncak pada persembahan yang dipersiapkan dengan seruan “svāhā” agar para dewa berkenan menyantapnya
Sukta 10.111
Kidung ini memanggil para pemikir yang terilhami untuk meninggikan manīṣā (wawasan yang telah terbentuk) dan, melalui kebenaran serta tindakan yang telah terlaksana, “menggerakkan Indra” menuju kemenangan dan perlindungan. Kidung ini mengingatkan kembali perbuatan arketipal Indra—menghancurkan Vṛtra dengan vajra dan mencerai-beraikan māyā kaum tanpa dewa—lalu mengubah kemenangan kosmis itu menjadi keuntungan masa kini: sungai-sungai mengalir ke laut, kekayaan datang, dan ujaran benar nan elok (sūnṛtā) hadir bagi pemuja.
Sukta 10.112
Kidung ini merupakan undangan Soma pada pagi hari kepada Indra, mendesak-Nya meminum Soma yang telah diperas sebagai “tegukan pertama” dan membangkitkan daya kemenangan-Nya melawan kekuatan-kekuatan yang memusuhi. Kidung ini memuji hak Indra yang kuno dan sah atas bejana Soma, merayakan hasrat bersama para dewa akan minuman manis laksana madu itu, dan diakhiri dengan permohonan agar Indra memandang para pemuja yang berjuang, menganugerahkan kemenangan dalam pertempuran, serta membagikan kekayaan bahkan dari bagian yang tampaknya belum ditetapkan.
Sukta 10.113
Himne ini memuji gelora kedahsyatan Indra ketika Langit dan Bumi serta para Dewa semuanya menopang kekuatannya, terutama setelah Soma menyegarkan kehendak dan kecerdasannya. Himne ini mengingatkan kembali perbuatannya menewaskan Vṛtra—membelah kegelapan yang menahan air—lalu menjadikan kemenangan itu sebagai doa untuk perlindungan masa kini, perjalanan selamat melampaui kesukaran, dan landasan yang luas serta teguh bagi para pemuja.
Sukta 10.114
RV 10.114 adalah kidung bernuansa teka-teki tentang arsitektur tersembunyi yajña (kurban): bagaimana Api (Mātariśvan) dan daya-daya pengetahuan (Viśve Devāḥ) menegakkan tatanan melalui metrum, bilangan, dan ujaran yang terilham. Kidung ini berbicara tentang “mengukur dan membagi” pekerjaan—menetapkan chandas, menyusun hitungan kosmis, dan menggerakkan kereta kurban maju oleh Ṛk dan Sāman—agar santapan surgawi serta pembagian yang tepat atas kerja dan takdir terjamin.
Sukta 10.115
Himne untuk Agni ini memuji dewa api sebagai “anak muda” yang menakjubkan, yang pertumbuhannya melampaui kedua Ibunya dan yang sekaligus memikul peran agung sebagai utusan antara manusia dan para dewa. Himne ini menonjolkan kuasa Agni untuk menegakkan dan melindungi tatanan ritus, mengangkut persembahan, serta menjaga para penyanyi dan pemimpin pelihat—terutama garis Kaṇva—hingga mencapai puncak liturgis dengan seruan vaṣaṭ dan pengulangan namas.
Sukta 10.116
Kidung ini merupakan seruan mendesak kepada Indra agar meminum Soma dan bangkit ke dalam daya kemenangan sepenuhnya, supaya ia meremukkan kekuatan-kekuatan penghalang (perlawanan seperti Vṛtra) dan melindungi kemakmuran para pemuja. Kidung ini memadukan citra kemartialan—menebas dan merobohkan kuasa musuh yang bersifat sihir—dengan tindakan ritual-puitik: ujaran sang resi diluncurkan bagaikan perahu, mengangkut pujian kepada para dewa demi kekayaan, terbukanya jalan, dan lintasan yang selamat.
Sukta 10.117
Rigveda 10.117 adalah himne didaktis dari masa akhir yang mengajarkan dharma kedermawanan: kekayaan dimaksudkan untuk beredar, dan orang yang menolak berbagi akan ditinggalkan secara rohani maupun sosial. Himne ini menempatkan tindakan “memberi” (pṛṇ-) sebagai keselarasan dengan ṛta (tatanan kosmis), memperingatkan bahwa penimbunan dan pengabaian terhadap yang membutuhkan membawa kemerosotan, sedangkan berbagi menopang baik si pemberi maupun komunitas.
Sukta 10.118
Himne Agni yang singkat ini menggambarkan api kurban yang menjulang ketika dinyalakan dengan benar, bersukacita dalam ghee, dan menjaga persembahan dengan menumbangkan “pemangsa” yang memusuhi (atriṇa). Himne ini memuji Agni sebagai gṛhapati yang abadi (tuan kediaman), yang dipanggil di tengah manusia untuk melindungi, menyucikan, dan menegakkan ritus dalam tatanan yang semestinya.
Sukta 10.119
Himne ini adalah gelora keyakinan yang terilham dan menatap diri sendiri dengan tajam: sang penutur merasakan daya, perolehan, dan kesetaraan dengan seluruh dunia bangkit dari dalam, sambil berulang kali bertanya apakah itu datang “dari Perairan Soma.” Dengan irama bak refrein, Soma digambarkan bukan semata minuman perasan, melainkan medan kenikmatan yang bercahaya dan berwatak air, yang mengangkat pikiran, keberanian, dan kecakapan. Sukta ini memuncak pada kesiapan untuk pelayanan ilahi—menjadi “rumah yang dibuat dengan baik,” layak memanggul persembahan bagi para dewa.
Sukta 10.120
RV 10.120 adalah kidung kepahlawanan bernuansa perang yang merayakan suatu daya penakluk yang baru bangkit dan menjadi yang terunggul di dunia—Indra dalam aspek Ugra (ganas)—yang segera menundukkan musuh dan menyingkirkan rintangan. Sang penyair menggambarkan mantra (brahman) sebagai sekutu yang aktif, menajamkan senjata dan menambah momentum sang dewa, menghubungkan ilham batin dengan kemenangan lahir. Penutupnya membingkai Indra sebagai perwujudan kosmis yang diteguhkan oleh otoritas Atharvanik, dipelihara dan ditingkatkan oleh daya-daya pendukung berwujud ibu/saudari.
Sukta 10.121
Himne ini merenungkan asas pertama penciptaan—Hiraṇyagarbha, “Benih Emas”—sebagai satu-satunya Tuhan yang menopang langit dan bumi, dan darinya semua makhluk muncul. Setiap bait berpuncak pada refrein pencarian “kasmai devāya haviṣā vidhema” (“kepada dewa yang manakah kita akan mempersembahkan persembahan?”), mengungkapkan takzim di hadapan Yang Esa di balik yang banyak. Bait terakhir menuntaskan pertanyaan itu dengan menyebut Prajāpati sebagai Tuhan yang meliputi segalanya, kepada-Nya hasrat dan persembahan dipercayakan demi kepenuhan dan kemakmuran
Sukta 10.122
Himne ini memuji Agni sebagai “tamu” rumah yang membawa keberuntungan dan tidak memusuhi, serta sebagai Hotṛ yang tak tergantikan, pengantar persembahan dan berkat antara manusia dan para dewa. Himne ini memohon agar Agni melepaskan “arus-arus” kelimpahan berupa kekayaan dan daya hidup, agar ia dinyalakan dan dimurnikan di rumah sang pelaksana yajña, dan agar ia meneguhkan kesejahteraan yang langgeng serta pertumbuhan bagi para yajamāna. Garis keturunan Vasiṣṭha secara tegas mengklaim pemanggilan ini, menempatkan himne dalam tradisi keluarga yang hidup—pujian ritual dan perlindungan.
Sukta 10.123
RV 10.123 memuji Vena sebagai daya bercahaya yang menjadi perantara—sering dibaca sebagai kompleks Gandharva–Sūrya—yang menggerakkan kelahiran, pewahyuan, dan penyatuan pertentangan kosmis. Bait-baitnya bergerak melalui citra kuat tentang cahaya yang sedang mengandung, pertemuan Air dan Matahari, serta persatuan surgawi yang erotik-simbolik, dan berpuncak pada “tetes/sinar” yang menegakkan tatanan di tiga alam.
Sukta 10.124
Himne ini terutama memanggil Agni agar datang ke kurban sebagai api penuntun dan pembawa persembahan, yang berjalan di depan serta menyingkirkan kegelapan panjang dengan cahaya yang lestari. Seiring bait-baitnya berkembang, himne ini melampaui Agni menuju tema-tema kedaulatan yang bersekutu—Ṛta (tatanan/kebenaran) berhadapan dengan ketidakbenaran (Varuṇa), meredupnya kekuatan-kekuatan yang memusuhi, dan pada puncaknya pengenalan Indra melalui citra simbolik—menunjukkan kecenderungan Rigveda akhir untuk menenun banyak dewa ke dalam satu gerak ritual–spiritual.
Sukta 10.125
RV 10.125 adalah Devī-sūkta yang termasyhur, di mana Vāk (Ucapan/Sabda) berbicara dalam orang pertama sebagai daya ilahi yang meresapi segalanya, menyertai serta menopang setiap dewa dan setiap fungsi kosmis. Himne ini menyatakan bahwa sabda yang terilhami menganugerahkan wibawa dan otoritas, menjadikan seseorang seorang ṛṣi atau brahmā, dan meluas melampaui langit dan bumi, menyingkapkan Sabda sebagai prinsip rohani di balik penciptaan, pengetahuan, dan kedaulatan.
Sukta 10.126
Kidung ini adalah doa perlindungan dan pembebasan yang berpusat pada para Āditya—Varuṇa, Mitra, dan Aryaman—yang bergerak “dalam satu keselarasan,” menuntun pemuja melampaui permusuhan, dosa, dan kemalangan. Kidung ini lalu meluas menjadi koalisi para penolong ilahi (Rudra bersama para Marut, Indra, Agni, dan para Vasu), memohon kesejahteraan (svasti), pelepasan dari ikatan/kesesakan, serta perjalanan yang aman menuju daya-hidup yang lebih penuh dan lebih mantap
Sukta 10.127
Himne ini memuji Rātrī (Malam) sebagai daya ilahi yang menampakkan diri dengan banyak cahaya, menghimpun segala kemilau, dan menenangkan dunia ke dalam keheningan serta keselamatan. Himne ini memohon agar Malam meneduhkan makhluk-makhluk yang berkeliaran dan kegelisahan batin, melindungi rumah tangga, serta menerima nyanyian sang penyair sebagai persembahan seorang pencari demi damai dan kesejahteraan.
Sukta 10.128
Kidung ini merupakan doa kemenangan dan perlindungan yang berpusat pada Agni sebagai panglima kekuatan dan kemilau daya (varcas), baik batin maupun lahir, dalam pertarungan, memohon agar segala penjuru dan segala daya menjadi berpihak dan membawa keberuntungan. Dari ketuhanan Agni, kidung ini meluas kepada koalisi ilahi yang lebih luas—para Dewi, Semua Dewa, Soma, Indra–Agni, serta golongan dewa (Vasus, Rudras, Ādityas)—untuk menjamin keturunan, keutuhan jasmani, dan kekalahan para lawan.
Sukta 10.129
Nāsadīya Sūkta merenungkan misteri asal-mula, menolak kepastian yang mudah tentang apa yang ada “sebelum” keberadaan dan ketiadaan. Himne ini menelusuri gerak halus dari keadaan tak-terbedakan yang terselubung menuju getaran pertama dari batin dan hasrat, sambil berulang kali mempertanyakan batas-batas pengetahuan. Tujuannya bukan menuturkan kosmogoni secara dogmatis, melainkan menyucikan rasa takjub, penyelidikan, dan agnostisisme yang penuh hormat di hadapan Yang Mutlak (tad ekam).
Sukta 10.130
Himne ini menampilkan yajña (kurban/upacara persembahan) sebagai alat tenun kosmis: suatu jaring yang direntangkan ke segala arah oleh “pekerjaan/olah” ilahi, ditenun oleh para Leluhur (Fathers/Pitṛ) dan ditegakkan oleh para resi yang terilhami. Himne ini juga menawarkan pemetaan reflektif antara para dewa dan metrum Weda (chandas), yang menyiratkan bahwa ujaran ritual yang tepat dan ukuran yang tepat itu sendiri adalah tatanan-dunia (ṛta) yang sedang bekerja.
Sukta 10.131
Himne Rigweda yang tergolong akhir ini memanggil Indra sebagai pelindung empat penjuru, yang menyingkirkan kekuatan bermusuhan dari setiap arah agar para pemuja bersukacita dalam naungan luas (śarman) miliknya. Himne ini memadukan doa perlindungan yang bersifat apotropaik dengan ingatan mitis (termasuk kisah Namuci bersama para Aśvin) untuk menegaskan daya kemenangan Indra dan menjamin kesejahteraan bersama. Pada penutupnya, dipanjatkan harapan untuk berdiam dalam budi ilahi yang penuh kemurahan, dan agar bahkan permusuhan sekecil apa pun dihalau jauh sekali.
Sukta 10.132
Himne singkat ini memuji kedua Aśvin sebagai penolong yang cepat dan penuh kebaikan, yang menguatkan pelaku yajña yang sejati, dengan Langit dan Bumi digambarkan sebagai daya kosmis penopang yang menambah kemakmuran pemuja. Himne ini juga memuat nada etis-kerajaan yang mencolok, menyeru Varuṇa sebagai raja semesta yang mengekang dosa dan mengakhiri perbuatan salah. Pada penutupnya muncul kesaksian pribadi tentang menyeberangi kesusahan, memohon agar pertolongan Aśvin yang bergerak maju membawa para penyanyi melampaui derita
Sukta 10.133
Himne Indra tujuh bait ini adalah doa perang memohon perlindungan dan kemenangan: para penyanyi membangunkan Indra, pembentuk dunia dan pembunuh Vṛtra, agar berdiri bersama mereka dalam pertempuran jarak dekat dan mengacaukan kekuatan-kekuatan musuh. Seperti refrein, dimohonkan agar tali busur lawan mengendur dan para penyerang ditekan hingga jatuh; lalu ditutup dengan anugerah kelimpahan—pemberian Indra mengalir laksana sapi kemakmuran yang memancarkan seribu aliran bagi penyair pemuji.
Sukta 10.134
Himne ini memuji Indra sebagai penguasa agung yang meluaskan dunia; kuasanya bukan semata kepahlawanan, melainkan juga daya penghasil—dilahirkan oleh Devī Janitrī, Kuasa-Ibu yang membawa keberuntungan. Himne ini mengaitkan tindakan kosmis Indra (membentangkan Langit dan Bumi, menyingkirkan perlawanan) dengan pertolongan nyata bagi pemeras Soma, menganugerahkan “rayi”, yakni kelimpahan dan kepenuhan. Penutupnya menyatakan ikrar penghormatan yang tak bersekat—tidak menghalangi dewa mana pun—serta pendakian batin melalui “mendengar mantra”, seakan-akan mengepakkan sayap lewat pendengaran yang benar.
Sukta 10.135
Himne singkat namun penuh teka-teki ini merenungkan alam Yama dan jalan leluhur: para Pitṛ (Bapa-bapa) dibayangkan berada pada sebuah “pohon berdaun indah”, tempat Yama bergaul dengan para dewa, dan sang ayah yang telah wafat bersukacita menapaki jalan purba. Melalui citra berwatak riddle tentang seorang pemuda yang menggerakkan kereta, serta kidung Sāman yang menyusul sebagai pembawa, sukta ini menyiratkan bahwa ujaran suci yang tertata dan persembahan yang tepat menuntun perjalanan jiwa dan mengantarkannya pada pelepasan
Sukta 10.136
Himne ini memuliakan Keśin atau Muni—pertapa berambut panjang yang terilhami—yang digambarkan sebagai sosok liminal nan bercahaya, memanggul pertentangan (api dan racun) dan bergerak bebas melintasi berbagai dunia. Muni ditampilkan sebagai yang digerakkan angin, didorong para dewa, dan bersekutu dengan “Dewa para dewa,” menyingkapkan cita-cita Weda tentang kebebasan batin yang terilhami serta penglihatan visioner.
Sukta 10.137
Himne penyembuhan singkat ini memohon para dewa secara kolektif sebagai daya pemulih, untuk mengangkat orang yang jatuh kembali ke dalam kekuatan, sekalipun penyakit itu terkait dengan kesalahan atau kekhilafan. Ia memadukan doa, berkat perlindungan, dan tindakan ritual-psikologis berupa “sentuhan-mantra”, mengusir yakṣma (penyakit pelayuan/penyakit yang menggerogoti) dan menegakkan kembali keutuhan tanpa sakit (anāmaya).
Sukta 10.138
Himne Indra yang singkat ini mengenang terobosan-terobosan masyhur sang dewa: ia menghancurkan kekuatan yang mengepung (Vala), membebaskan Fajar dan air-air, serta memastikan kemenangan bagi Kutsa melawan himpitan yang menyerupai ular. Himne ini juga mengangkat Indra dari sekadar penguasa pertempuran menjadi pengatur kosmos, dengan memuji bahwa ia menegakkan tatanan waktu (bulan-bulan) dan mengubah “yang tidak berkurban” menjadi sosok yang layak bagi yajña.
Sukta 10.139
Himne ini mengaitkan dorongan-fajar Savitṛ—kebangkitan-Nya yang mantap sebagai cahaya—dengan gerak Pūṣan yang menuntun dan melindungi, yang “melihat” serta menggembalakan semua dunia. Lalu himne ini meluas menjadi visi mitis-ritual, ketika Perairan, Gandharva (Viśvāvasu), dan Indra turut serta menyingkap Ṛta: batas-batas yang tersembunyi, cakrawala yang bercahaya, serta pelepasan kekayaan yang terhalang (amṛta/energi) dari kepungan yang menyerupai batu.
Sukta 10.140
Himne enam bait ini memuji Agni sebagai daya yang bercahaya luas dan menerangi segalanya; sinar-sinar serta kekuatannya menegakkan kelimpahan yang menang (vāja) pada pemuja. Himne ini memohon agar Agni berkembang di tengah manusia, memperkaya pelaksana yajña dengan harta dan kehendak yang berdaya guna (kratu), serta menegaskan bahwa umat manusia pada setiap zaman menempatkan Agni di depan demi berkat, melagukannya sebagai pemimpin ilahi pembawa ṛta.
Sukta 10.141
Kidung singkat ini merupakan seruan bersama komunitas yang menghimpun kekuatan-kekuatan utama Weda—Agni, Soma, para Āditya, Viṣṇu, Sūrya, dan terutama Indra–Vāyu bersama Bṛhaspati—memohon agar mereka berpaling kepada para pemuja dengan perkenan dan pertolongan. Tujuan praktisnya ialah kemakmuran dan perlindungan, dan tujuan sosialnya ialah kerukunan: agar di dalam sidang, semua orang ketika berkumpul menjadi “sehati dalam niat yang baik”.
Sukta 10.142
Himne Agni yang singkat ini menampilkan ketergantungan penuh pemuja pada Agni sebagai satu-satunya perlindungan yang benar-benar pasti, memohon penjagaan “tiga lapis” terhadap bahaya dan para pelanggar. Lalu Agni digambarkan sebagai daya yang mempersatukan dan menata—mengarahkan banyak gerak menuju satu jalur yang benar—dan ditutup dengan citra pertumbuhan yang mujur serta air—rumput dūrvā, danau-danau, teratai—yang menyertai sang dewa dalam datang dan perginya.
Sukta 10.143
Himne Aśvin yang singkat ini menyeru Nā́satyā sebagai penyelamat yang tangkas dan pembaru yang memulihkan kekuatan, kemampuan, serta gerak yang benar dalam kehidupan. Dengan mengingat pertolongan mereka yang menghidupkan kembali para resi seperti Atri dan Kakṣīvant, sang penyair memohon agar Sang Kembar datang ke “singgasana luas” milik pemuja dan menyeberangkan komunitas dengan selamat melampaui kesukaran, memenuhi mereka dengan pemeliharaan yang melimpah dan niat baik yang luhur.
Sukta 10.144
Himne singkat ini memuliakan Soma yang telah diperas (Indu) sebagai daya hidup yang mengalir deras dan melesat, dipersembahkan kepada seorang penerima “yang tak-mati”—pada akhirnya ditegaskan sebagai Indra—yang dikuatkan dan dibuat menang olehnya. Soma digambarkan secepat kuda, menopang kehidupan dan memiliki daya membedakan (dakṣa), serta sebagai harta yang dahulu dibawa dari jauh melampaui sana melalui motif Suparṇa/Śyena. Tujuan himne ini ialah menguduskan Soma sebagai kekuatan yang memperbesar vitalitas, kehendak (kratu), dan kemenangan ilahi.
Sukta 10.145
Himne singkat ini adalah oṣadhi-sūkta yang bersifat praktis: sebuah mantra yang memanggil daya tumbuhan yang ampuh untuk menyingkirkan “sapatnī” (pesaing/kehadiran yang menghalangi) serta memulihkan daya tarik, keharmonisan, dan penyatuan yang semestinya. Sang penutur secara ritual “menggali” dan menerapkan herba itu sebagai kekuatan pemaksa yang menganugerahkan kemenangan, agar batin orang yang diinginkan berbalik dan berlari kembali—seperti sapi kepada anaknya—sementara sang pesaing diusir jauh
Sukta 10.146
Himne singkat ini memuji Araṇyānī—kehadiran hidup dari rimba—sebagai sosok yang tak gentar, sukar ditangkap, dan kaya memberi daya hidup, namun berada di luar kehidupan desa. Himne ini menangkap lanskap bunyi rimba yang misterius—panggilan, bunyi retak, dan suara-suara yang seakan terbayang—mengubah kesunyian menjadi suasana ilahi yang mengasuh dan menenteramkan. Pada akhirnya, Araṇyānī dipuji sebagai yang semerbak, berlimpah, ibu bagi makhluk-makhluk liar, tak tersentuh oleh bajak.
Sukta 10.147
Kidung singkat ini memuji Indra melalui Manyu-nya—daya murka yang pertama lahir—yang menghancurkan Vṛtra dan membebaskan air yang tertahan, hingga Langit dan Bumi pun bergetar. Lalu kidung ini beralih ke ranah sosial dan ritual, memohon agar Indra berkenan mendengar para dermawan pelindung, serta meluaskan bagi para pemuja ruang, kekayaan, perlindungan, dan pembagian yang adil, laksana ayah yang penuh welas asih.
Sukta 10.148
Himne Indra yang singkat ini berpusat pada pujian para pemeras Soma, memohon agar Indra membawa suvita ("lintasan yang baik" dan keberhasilan yang benar) serta vāja yang menyegarkan, yang menyertai daya kepahlawanan-Nya yang luas. Sang penyair membingkai pemujaan sebagai sukacita timbal balik: manusia menyenangkan Indra dengan Soma dan persembahan yang menyehatkan, dan Indra sebagai balasan menegakkan kekuatan batin serta kehidupan yang berwujud dalam diri mereka. Himne ini berpuncak pada seruan yang hidup dari bumi yang lapang, ketika kuda-kuda yang cepat mengusung ujaran terilham menuju singgasana Indra yang berkilau oleh ghee
Sukta 10.149
Kidung singkat ini kepada Savitṛ (Sang Pendorong ilahi) memuji daya “memasang kuk” kosmis-Nya, yang menegakkan Bumi dan Langit pada tatanan yang semestinya serta membatasi ruang antara dan samudra di dalam hukum yang tak dapat diganggu gugat. Lalu kidung ini menyinggung lambang Savitṛ yang menyerupai burung (Garutmān) yang bergerak menurut dharma, dan ditutup dengan kewaspadaan bakti sang penyair—menanti dorongan penggerak Savitṛ sebagaimana orang berjaga menatap sinar Soma yang berkilau.
Sukta 10.150
Himne singkat ini memanggil Agni Jātavedas, sang havya-vāhana (pembawa persembahan), agar datang bersama rombongan ilahi utama—Āditya, Rudra, dan Vasu—seraya membawa mṛḻīka (rahmat penyembuhan). Agni dipuji sebagai api yang senantiasa dinyalakan kembali, yang memanggil para dewa dan menegakkan kehadiran pelindung serta membawa keberuntungan bagi para pemuja. Bait penutup mengingat pertolongan Agni pada masa lampau kepada para resi dan raja termasyhur, sehingga permohonan bantuan kini berlandaskan teladan yang dikenang.
Sukta 10.151
Himne singkat ini mempersonifikasikan Śraddhā (Iman/Persetujuan) sebagai daya tersembunyi yang membuat kurban yajña menjadi manjur—menyalakan Agni, mengangkat persembahan, dan memastikan bagian yang mujur melalui Bhaga. Himne ini memohon agar keyakinan teguh yang sama, yang ditegakkan para dewa di tengah kekuatan-kekuatan yang memusuhi, ditegakkan pula dalam tujuan sang pelaksana kurban. Iman diseru sepanjang tiga “persendian” hari—fajar, tengah hari, dan senja—agar niat yang berorientasi pada kebenaran menjadi kukuh di dalam hati.
Sukta 10.152
Himne Indra yang singkat ini memanggil Kuasa-Penguasa ilahi sebagai sekutu yang tak pernah meleset, yang menjadikan sahabatnya tak terkalahkan. Ia memohon Indra untuk menghancurkan kekuatan-kekuatan penghalang (rakṣas, mṛdhaḥ, Vṛtra), mencerai-beraikan amarah permusuhan, dan menegakkan naungan luas (śarma) sebagai perlindungan dari hantaman musuh. Secara keseluruhan, himne ini berfungsi sebagai doa ringkas untuk perlindungan dan kemenangan bagi mereka yang menghadapi konflik, persaingan, dan kegelisahan batin.
Sukta 10.153
Himne Indra yang singkat ini memuji kehadiran sang dewa yang baru terjaga di tengah para “pelaku kerja” yang giat, yang mendekatinya untuk turut mengambil bagian dalam daya kepahlawanan (suvīrya). Himne ini mengingatkan kembali laku kosmis Indra yang klasik—membunuh Vṛtra, meluaskan ruang antara, dan menyangga langit—lalu berpuncak pada pernyataan bahwa Indra adalah kekuatan yang mengatasi segalanya, melampaui semua makhluk melalui ojas (daya pekat/terkonsentrasi). Tujuan himne ini ialah memanggil energi kemenangan Indra demi perlindungan, kekuatan, dan keberhasilan dalam pelaksanaan karya.
Sukta 10.154
Kidung singkat ini adalah doa pemakaman/berorientasi leluhur, memohon agar yang wafat dituntun menuju perhimpunan yang berbahagia, bagi siapa Soma mengalir sebagai kemanisan, sebagai cahaya laksana ghee, dan sebagai persembahan suci. Kidung ini menyebut golongan “yang telah pergi dengan baik”: para pemberani di medan perang, para pengorban diri, para dermawan agung, serta para resi yang lahir dari tapas, dan memohon agar jiwa mencapai alam mereka yang bercahaya di bawah pemerintahan Yama.
Sukta 10.155
Himne apotropaik singkat ini merupakan pengusiran yang tegas terhadap Arāyi—kekurangan, kemelaratan yang memusuhi, dan kemalangan—yang diperintahkan pergi ke tempat-tempat terpencil tak berpenghuni (pegunungan, atau tepi seberang sungai yang jauh). Himne ini memanggil daya bantu Śirimbiṭha sebagai kekuatan pendorong dan pemukul untuk menyingkirkan derita itu, lalu ditutup dengan penegasan perlindungan yang mantap di sekitar Agni dan “sapi/cahaya”, menyatakan lingkar perlindungan itu tak dapat ditembus.
Sukta 10.156
Himne Agni yang singkat ini mendesak agar pikiran yang terilhami dan pujian mendorong Agni maju seperti kuda cepat dalam perlombaan, sehingga pemuja memperoleh kelimpahan berulang-ulang (harta demi harta). Himne ini memohon Agni membawa kekayaan yang luas dan kukuh—cahaya, ternak, dan daya-daya yang tangkas—seraya meremukkan Paṇi batin (kecenderungan menimbun dan menghalangi) dan terjaga pada kidung sebagai panji-cahaya bagi bangsa-bangsa.
Sukta 10.157
Himne singkat ini memanggil Indra bersama Viśve Devāḥ (para Dewa) untuk “menata dunia-dunia pada tatanan yang benar”, menegakkan harmoni di seluruh bidang keberadaan dan kehidupan manusia. Dipohonkan agar Indra, disertai para Āditya dan Marut, menjadi pelindung daya hidup yang berwujud dalam diri kita; dan himne ini berpuncak pada pembalikan ke dalam dari sinar-nyanyian suci (arká) yang memulihkan svadhā—hukum bawaan diri serta daya penopang dan pemelihara.
Sukta 10.158
Himne singkat ini adalah doa perlindungan dan penyembuhan yang memanggil triad penjaga kosmis—Sūrya di langit, Vāta di wilayah antara, dan Agni di bumi—agar meneguhkan dan melindungi pemuja pada setiap tataran. Lalu himne beralih pada pemulihan serta perluasan penglihatan (cakṣus), memohon kepada daya-daya ilahi yang menata, menegakkan, dan menetapkan daya lihat agar menganugerahkan penglihatan yang jernih, lahir maupun batin. Himne berpuncak pada harapan untuk memandang Sūrya “tampak sempurna”, dan untuk melihat seluas mereka yang penglihatan manusianya menjadi tersinari.
Sukta 10.159
Himne singkat ini berbicara dengan suara perempuan orang pertama—sering dibaca sebagai suara pengantin atau istri—yang memohon Sūrya yang sedang terbit dan Bhaga (pemberi bagian yang menjadi hak seseorang) untuk meneguhkan persatuan perkawinan, kemakmuran, dan kedaulatan sosial. Himne ini berfungsi sebagai jimat kemenangan atas para “saingan” (sapatnī) dan daya-daya korosif yang merusak keharmonisan, menyelaraskan keberuntungan rumah tangga dengan kuasa kemenangan yang diteladankan oleh Indra.
Sukta 10.160
Himne Indra yang singkat ini merupakan undangan yang terarah agar sang dewa tinggal bersama pelaksana yajña saat ini dan melindungi Soma yang baru diperas, ampuh dan penuh daya. Hymne ini memohon Indra melepaskan kekang kuda-kudanya di upacara, jangan sampai “ditarik pergi” oleh para pelindung atau patron saingan, serta menganugerahkan kepada pemuja karunia khas Indra—sapi, kuda, dan kekuatan kemenangan. Himne ini menegaskan bahwa persembahan yang tulus sepenuh hati, yang sungguh merindukan dewa, akan memastikan perkenan Indra dan kemakmuran.
Sukta 10.161
Himne penyembuhan (bhaiṣajya/āyuṣya) yang singkat ini memohon daya berpasangan Indra dan Agni untuk melepaskan si penderita dari penyakit yang mencengkeram dan mengikis, serta dari “penyergap” yang tak terlihat (grāhi). Melalui kekuatan havis (persembahan/oblat) dan ujaran suci, pasien secara simbolis “dibawa kembali”, dipulihkan penglihatan, anggota tubuh, dan rentang hidupnya, serta dituntun melampaui durita (kesusahan, kemalangan, atau gerak yang menyimpang).
Sukta 10.162
Himne pelindung singkat ini memanggil Agni sebagai rakṣohā (pembunuh/penyingkir kekuatan bermusuhan), yang diberdayakan oleh brahman, untuk mengusir suatu kehadiran yang menggerogoti dan “bernama buruk”, yang diyakini telah masuk ke dalam rahim dan mengancam pembuahan serta keturunan. Himne ini menyebut berbagai cara penyusupan—mengintai secara fisik, merayap ke dalam yoni, dan menyesatkan melalui mimpi serta kegelapan—dan berulang kali memerintahkan daya penyingkir itu agar menghalau bahaya tersebut jauh-jauh. Sukta ini berfungsi sebagai doa pengusiran–penyembuhan untuk menjaga kesuburan, kehamilan, dan kesinambungan garis keluarga
Sukta 10.163
Himne penyembuhan singkat ini adalah rumus “mencabut/menarik keluar” (vṛh-) yang bertujuan mencabut yakṣman—penyakit yang menyebabkan kemerosotan dan kurus merana—dari setiap bagian tubuh pasien. Bait demi bait menyebut wilayah tubuh, dari kepala dan indra turun ke pinggul, anggota badan, rambut, dan persendian, untuk secara ritual memisahkan penyakit dan memulihkan keutuhan. Daya yang dipanggil terutama adalah mantra itu sendiri serta tindakan terapeutik berupa penamaan, pelokalan, dan pengusiran penyakit.
Sukta 10.164
RV 10.164 adalah kidung penolak bala dan penebus-kesalahan, yang memalingkan batin dari Nirṛti (kemerosotan, kehancuran, nasib sial) dan mengarahkan kembali kesadaran kepada hidup, keluasan, dan arah yang mujur. Kidung ini memohon agar kesalahan yang dilakukan saat terjaga maupun saat tidur—karena takut, karena kutuk, atau karena niat yang tersesat—disingkirkan oleh daya-daya penyuci (terutama Agni), serta menutup ritus dengan perlindungan: memindahkan niat jahat menjauh dari sang pelaku yajña
Sukta 10.165
Himne apotropaik singkat ini ditujukan kepada para Deva secara kolektif untuk menolak suatu pertanda buruk: seekor merpati yang muncul sebagai kemungkinan utusan Nirr̥ti (kemalangan, pelarutan/kehancuran). Melalui mantra (ṛc), himne ini melakukan suatu “pelepasan” (niṣkṛti), memohon perlindungan bagi seluruh kemakmuran makhluk hidup—yang berkaki dua dan berkaki empat—terutama di sekitar ruang api ritual
Sukta 10.166
Himne singkat ini adalah mantra kompetitif yang meneguhkan diri, memohon keunggulan atas para pesaing: menjadi “banteng” di antara yang setara, penghantam musuh, serta pemegang kemakmuran dan kedudukan. Ia memadukan idiom kemenangan bergaya Indra dengan seruan tajam kepada Vācaspati (Tuan Wicara) agar mengekang kata-kata lawan, dan ditutup dengan gambaran yang kuat: para pesaing dipaksa berteriak dari bawah, seperti katak yang muncul dari air.
Sukta 10.167
Himne Indra yang singkat ini dibingkai sebagai seruan dalam upacara pemerasan Soma: Soma yang manis dituangkan bagi Indra, yang dipuji sebagai penguasa bejana Soma yang telah diperas dan sebagai pemberi rayi (kelimpahan yang disertai daya kepahlawanan). Himne ini mengaitkan kemenangan Indra—merebut svah (langit bercahaya)—dengan tatanan ritus yang ditegakkan oleh Soma, Varuṇa, dan Bṛhaspati, lalu menutup dengan menonjolkan peran aktif sang penyair dalam menyiapkan persembahan dan membentuk stoma (nyanyian pujian).
Sukta 10.168
Himne Vāta-stuti yang singkat ini memuji Angin sebagai daya yang tak terlihat namun tak terbantahkan: keretanya menggelegar laksana guruh, menjangkau langit, dan mengangkat debu bumi. Ia mengagumi gerak Vāta yang tak henti melintasi ruang antara serta asal-usulnya yang misterius, lalu berpuncak dengan menyatakan bahwa Vāta adalah “Diri” para dewa dan rahim/janin dunia, layak menerima persembahan.
Sukta 10.169
Kidung singkat ini adalah doa untuk penyembuhan dan kemakmuran, memanggil Angin pembawa sukacita (Vāta) agar berhembus dengan baik sehingga tumbuh-tumbuhan obat pemberi hidup (Oṣadhī) bertambah kuat dan menjadi sumber gizi. Ia mengaitkan kesejahteraan jasmani dengan dukungan kosmis: Rudra dimohonkan anugerah pelindung, sementara “Kekuatan-kekuatan” yang menyehatkan diundang untuk menetap di goṣṭha yang aman—lambang medan kehidupan yang terlindungi, bercahaya, dan penuh vitalitas—di bawah restu Indra, Soma, dan Prajāpati.
Sukta 10.170
Kidung singkat ini memuji Sūrya sebagai Cahaya tertinggi yang meresapi segalanya (Bṛhat, Vibhrāṭ), yang meminum madu Soma dan dengan itu meneguhkan daya-hidup serta yajña (kurban suci). Matahari digambarkan sebagai yang menopang dirinya sendiri, bergerak didorong angin, menjaga makhluk-makhluk, memancarkan sinar beraneka, dan menegakkan semua dunia melalui karya-tata kosmis Viśvakarman serta dukungan para Dewa semuanya.
Sukta 10.171
Himne Indra yang singkat ini berulang kali menyapa sang dewa sebagai dia yang “mendorong ke depan” apa pun yang terhenti atau tersembunyi—kereta, niat, bahkan Matahari itu sendiri. Penyair memuji Indra karena mendengar seruan sang pemersembah Soma, melonggarkan manusia fana dari belenggu yang mengikat, dan memajukan penerangan melampaui kuasa-kuasa yang membatasi.
Sukta 10.172
Himne singkat ini mengaitkan kedatangan Uṣas (Fajar) dengan dibukanya kembali “jalan yang benar” (vartani) bagi kehidupan dan kurban yajña: kegelapan diusir, sinar-sinar/cow (sapi-sapi) berkumpul, dan pekerjaan ditata kembali agar bergerak dalam keteraturan. Ia menghadirkan pembaruan sekaligus sebagai peristiwa kosmis (Uṣas memulihkan cahaya) dan sebagai tindakan ritual–psikologis (menegakkan kembali “benang” kesinambungan dalam yajña dan dalam kesadaran).
Sukta 10.173
Himne singkat ini adalah mantra–doa pesona rāṣṭra (kedaulatan/prinsip kerajaan) yang secara ritual “menegakkan” seorang penguasa (atau prinsip pemerintahan) dalam keteguhan yang tak tergoyahkan (dhruva), agar negeri tidak terlepas. Ia menyelaraskan tatanan politik dengan tatanan kosmis—langit, bumi, gunung-gunung, dan dunia yang bergerak dipanggil sebagai teladan kekokohan—lalu memohon kepada Soma dan Indra (beserta dewa-dewa penopang kedaulatan menurut tradisi) untuk meneguhkan kesetiaan sukarela rakyat serta upeti mereka.
Sukta 10.174
Himne Triṣṭubh yang singkat ini merupakan doa rāṣṭra/abhīvarta (kedaulatan dan kemenangan), memohon kepada Brahmaṇaspati agar “membalikkan/mengarahkan” sang pemuja menuju kekuasaan yang tertata dan keberhasilan, dengan “pembalikan” Indra yang menang sebagai teladan. Himne ini memohon perlindungan serta daya menundukkan para pesaing dan kekuatan yang memusuhi, dan berpuncak pada keyakinan bahwa ia akan menjadi asapatna—“tanpa lawan”—melalui kemanjuran persembahan yang telah dikonsekrasi dan berkat perkenan ilahi
Sukta 10.175
Sinopsis himne ritual singkat dari maṇḍala akhir ini ditujukan kepada grāvāṇaḥ (batu-batu pemeras Soma), mendorong mereka menempati tempatnya di papan pemerasan dan memeras Soma. Savitṛ, Sang Penggerak ilahi, dipanggil untuk menempatkan perangkat-perangkat itu dalam gerak yang benar dan sah (dharmaṇā), agar pemerasan sang pelaksana yajña menghasilkan kekuatan dan kegembiraan bagi para dewa—terutama “Yang Perkasa” (seringnya Indra).
Sukta 10.176
Kidung singkat ini memanggil para R̥bhu—daya-daya perajin ilahi—beserta “putra-putra” mereka sebagai kekuatan yang memperluas dan menyempurnakan karya agung, menyerap pemeliharaan dari Bumi laksana sapi-ibu. Lalu kidung beralih kepada daya kerja kurban itu sendiri: Hotṛ pencari para dewa dan Agni, yang bergerak seperti kereta yang dipandu dengan baik dan “dibentuk” di dalam diri kita demi perlindungan, meluaskan hidup menuju asal-usul yang tak fana
Sukta 10.177
Himne singkat namun sangat mistis ini merenungkan Pataṅga, prinsip surya “bersayap”, sebagai Matahari kesadaran yang tersembunyi, yang dipersepsi para resi melalui hati dan budi. Ia mengaitkan burung-surya itu dengan māyā Asura (daya kedaulatan yang membentuk), dengan Marīcī (sinar-sinar pencerahan), serta dengan Vāk (Sabda ilham) yang dijaga di stasiun Ṛta (tatanan kebenaran).
Sukta 10.178
Kidung singkat dua bait ini memanggil Tārkṣya sebagai pelindung yang tangkas, digerakkan oleh daya ilahi, yang menjamin perjalanan selamat dan kemenangan di tengah bahaya pengembaraan dan pertikaian. Sang penyair memohon kesejahteraan (svasti), menyamakan pertolongan yang dicari dengan anugerah Indra dan dengan perahu yang mengantar menyeberang dengan aman, tanpa cedera, baik saat datang maupun saat pergi.
Sukta 10.179
Himne singkat ini merupakan seruan ritual untuk bangkit, memandang, dan mempersembahkan bagian Indra yang semestinya dalam yajña yang tepat pada waktunya. Ia menekankan kesiapsiagaan (śrāta) dari persembahan—terutama pemerasan tengah hari—serta mengundang Indra untuk datang, duduk di antara para sahabat, dan meminum dadih/persembahan hasil perasan dengan sukacita, menegaskan bahwa tindakan itu selaras dengan Ṛta (tatanan kosmis).
Sukta 10.180
Kidung singkat untuk Indra ini memanggil sang pahlawan yang kerap diseru agar menundukkan musuh dan “membawa kekayaan dengan tangan kanan”, yakni melalui kuasa yang mujur dan sah. Indra digambarkan sebagai binatang buas mengerikan yang berkeliaran di pegunungan, menajamkan senjatanya, mencerai-beraikan pasukan lawan, dan membuka suatu ranah yang luas dan aman tempat para dewa (serta daya-daya luhur pemuja) dapat bertindak.
Sukta 10.181
Kidung singkat ini merenungkan bagaimana daya kurban (yajña) “dipanggul” dan dibuat manjur melalui perumusan yang tepat—metrum (Anuṣṭubh), penemuan yang lahir dari ilham, dan ujaran yajñika yang benar (yajus). Kemujaraban ritus ditelusuri pada triad sumber ilahi—Dhātṛ sebagai penata/penetap, Savitṛ sebagai penggerak, dan Viṣṇu sebagai yang meresapi—oleh mereka “singgasana” yajña yang tersembunyi, rumus-rumus purba, serta “gharma” surya (panas kurban) dipulihkan dan dibawa masuk ke ranah pelaksanaan ritual.
Sukta 10.182
Kidung singkat ini memanggil Narāśaṃsa untuk melindungi pelaksana yajña, khususnya pada persembahan pendahulu (prayāja) dan persembahan penutup (anuyāja), agar upacara berlangsung damai dan membawa kesejahteraan. Dipohonkan agar ujaran yang mencelakakan (aśasti) dan niat jahat (durmati) disingkirkan, serta agar kekuatan-kekuatan bermusuhan—terutama para Rakṣasa yang menentang brahman (rumusan/mantra suci)—dibakar dan dimusnahkan oleh daya pelindung yang menyala-nyala
Sukta 10.183
Himne singkat Rigveda akhir ini memanggil suatu Daya generatif yang lahir dari tapas agar “terlahir” dan menganugerahkan keturunan—terutama putra yang diidamkan—beserta kemakmuran. Sang resi mengaku melihat daya ini lewat penglihatan batin sebagai sesuatu yang sadar, bekerja menurut musim, dan berwujud; lalu memuncak pada pewahyuan orang pertama tentang Sang Pencipta-perempuan yang bersemayam di dalam, yang menempatkan embrio pada tumbuh-tumbuhan dan menopang kelahiran di segenap dunia.
Sukta 10.184
RV 10.184 adalah himne singkat namun kuat tentang daya penciptaan, yang memanggil beberapa perajin ilahi pencipta alam untuk menegakkan dan melindungi kehamilan. Himne ini memohon kepada Viṣṇu agar “menyiapkan rahim”, kepada Tvaṣṭṛ agar membentuk wujud, kepada Prajāpati dan Dhātṛ agar menyalurkan daya hidup serta menempatkan embrio; lalu menyeru Sinīvālī, Sarasvatī, dan kedua Aśvin untuk meneguhkan pembuahan dan membawa anak hingga kelahiran cukup bulan pada bulan kesepuluh
Sukta 10.185
Kidung singkat tiga bait ini menyeru “Tiga” Āditya—Mitra, Aryaman, dan Varuṇa—sebagai penopang agung ṛta (tatanan kosmis) dan pelindung kehidupan manusia. Dipohonkan kekuatan mereka yang bercahaya serta penjagaan yang tak tertembus, agar daya-daya permusuhan dan ujaran jahat tidak memperoleh kuasa di jalan sang pemuja. Kidung ini berpuncak pada janji bahwa putra-putra Aditi menganugerahkan terang dan daya hidup yang berkesinambungan kepada insan fana yang mereka berkenan
Sukta 10.186
Kidung singkat tiga bait ini memohon Vāta (Angin) sebagai penyembuh yang welas asih, yang membawa damai dan sukacita ke dalam hati serta mengantar napas-hidup menuju kepenuhan kehidupan. Hubungan itu diperdalam dengan menyapa Vāta sebagai ayah, saudara, dan sahabat; lalu pada akhirnya memohon bagian dari “harta keabadian” yang diyakini tersimpan di kediaman Vāta sendiri—yakni daya-hidup yang menopang, tak-fana, bagi kelangsungan hidup.
Sukta 10.187
Himne Agni yang singkat ini berulang kali menyeru Sang Api sebagai “banteng” perkasa dari dunia-dunia, dan memohon agar ia mengantar pemuja melampaui kekuatan-kekuatan yang memusuhi—baik lawan di luar maupun perlawanan di dalam diri. Agni dipuji sebagai daya terang yang menghancurkan rakṣas (kekuatan penyimpangan) dengan nyala sucinya, serta sebagai api transenden “yang lahir di seberang sana,” menuntun kurban dan ujaran menuju keselamatan dan kemenangan.
Sukta 10.188
Kidung singkat ini memanggil Agni sebagai Jātavedas, mendesak “kuda tunggangan”-nya (daya yang cepat dan manjur) agar datang dan duduk di atas barhis yang telah dibentangkan, yakni landasan ritus yang suci. Sang penyair lalu mengangkat pujian yang tersusun baik kepada Agni, sang pemberi yang dermawan, dan akhirnya menyeru berkas-berkas cahaya Agni yang cemerlang—yang mengantarkan persembahan kepada para dewa—agar mendorong dan menuntaskan yajña (kurban suci) dengan berhasil.
Sukta 10.189
Himne singkat namun sangat simbolik ini menelusuri gerak “sapi” bercahaya dengan sinar beraneka warna—sering ditafsirkan sebagai Fajar atau penerangan Sang Surya—yang melangkah di hadapan Sang Ibu (Bumi) lalu menuju Sang Bapa (Langit). Kemudian digambarkan Daya kosmis yang “mengembus keluar dan menarik masuk napas”, menyingkapkan langit melalui gerak berirama, dan berpuncak pada visi “burung surya” (pataṅga) tempat Vāk (Sabda/Kata) ditetapkan, bersinar melintasi banyak ranah pada setiap fajar dan setiap hari.
Sukta 10.190
Himne kosmogonis singkat ini menelusuri penggelaran penciptaan yang tertata: dari tapas (panas/tenaga kreatif) lahir Ṛta dan Satya, lalu Malam dan Samudra kosmis, dan darinya muncul Tahun yang mengukur siang dan malam. Puncaknya adalah Dhātṛ, Sang Penetap, yang menempatkan Matahari dan Bulan serta menegakkan lapisan-lapisan dunia—langit, bumi, ruang antara, dan svah—menegaskan bahwa kosmos berlandaskan tatanan yang dapat dipahami
Sukta 10.191
Himne singkat ini mengaitkan penyalaan Agni dengan penyalaan kerukunan di antara manusia: sebagaimana api menjadi penuh oleh bahan bakar yang dihimpun, demikian pula suatu komunitas diteguhkan oleh niat yang dihimpun. Himne ini memohon ujaran bersama, pikiran bersama, dan ritus bersama, serta menampilkan yajña sebagai sarana praktis untuk membentuk “satu kesadaran” di dalam yang banyak.
It is widely regarded as a late compilation because it gathers many seers and styles and includes more explicit philosophical speculation, social themes, and life-cycle rites than the family books. Its contents range from ritual praise to reflective hymns on creation, speech, law (ṛta), and death.
The best-known are RV 10.129 (Nāsadīya Sūkta on creation and uncertainty), RV 10.121 (Hiraṇyagarbha on the cosmic origin), RV 10.125 (Vāc Sūkta on the divinity of speech), and RV 10.14–10.15 (Yama and the Fathers in funerary context).
They emphasize two complementary strands: mantra (brahman) as an inner, forceful power that breaks hostile divisions and restores right order through inspired speech, and protection/victory through cosmic guardianship—especially Night’s shelter and Agni’s commanding, protective agency. Together they frame Mandala 10 as both reflective and practical: metaphysical inquiry alongside rites and safeguards for human life.
Read Rig Veda in the Vedapath app
Scan the QR code to open this directly in the app, with audio, word-by-word meanings, and more.