Rig Veda Sukta 135
Mandala 10Sukta 1356 Mantras

Sukta 135

Sukta 10.135

Devata

Yama (with the Devāḥ; ancestral-father principle also present)

Himne singkat namun penuh teka-teki ini merenungkan alam Yama dan jalan leluhur: para Pitṛ (Bapa-bapa) dibayangkan berada pada sebuah “pohon berdaun indah”, tempat Yama bergaul dengan para dewa, dan sang ayah yang telah wafat bersukacita menapaki jalan purba. Melalui citra berwatak riddle tentang seorang pemuda yang menggerakkan kereta, serta kidung Sāman yang menyusul sebagai pembawa, sukta ini menyiratkan bahwa ujaran suci yang tertata dan persembahan yang tepat menuntun perjalanan jiwa dan mengantarkannya pada pelepasan

Mantras

Mantra 1

यस्मिन्वृक्षे सुपलाशे देवैः सम्पिबते यमः । अत्रा नो विश्पतिः पिता पुराणाँ अनु वेनति ॥

Pada pohon berdaun indah itu, tempat Yama minum bersama para dewa, di sanalah Bapa kami, penguasa umat, bergerak dalam sukacita, mengikuti Para Purba—mencari jalan abadi para leluhur cahaya.

Mantra 2

पुराणाँ अनुवेनन्तं चरन्तं पापयामुया । असूयन्नभ्यचाकशं तस्मा अस्पृहयं पुनः ॥

Ketika ia berjalan, bersukacita di jejak Para Purba, suatu daya menyimpang menyerangnya; dalam iri ia melemparkan pandang yang memusuhi. Namun kepada (jalan yang benar) itu aku merindu lagi—kembali pada hasrat yang lurus, melampaui kedengkian kegelapan.

Mantra 3

यं कुमार नवं रथमचक्रं मनसाकृणोः । एकेषं विश्वतः प्राञ्चमपश्यन्नधि तिष्ठसि ॥

Wahai Pemuda, kereta baru yang kau bentuk hanya dengan pikiran—tanpa roda, bertiang tunggal, menghadap ke depan dari segala sisi—di atasnya engkau berdiri, melihat: kendaraan gerak batin yang dibangun dari daya pikir.

Mantra 4

यं कुमार प्रावर्तयो रथं विप्रेभ्यस्परि । तं सामानु प्रावर्तत समितो नाव्याहितम् ॥

Wahai Pemuda, kereta yang kautergerakkan mengitari para resi—Sāman pun mengikutinya dan berputar bersamanya, tersimpan laksana harta di pusar bahtera; kidung itu menjadi pengangkut perjalanan.

Mantra 5

कः कुमारमजनयद्रथं को निरवर्तयत् । कः स्वित्तदद्य नो ब्रूयादनुदेयी यथाभवत् ॥

Siapakah yang melahirkan Pemuda itu? Siapakah yang menggerakkan kereta itu? Siapakah hari ini akan mengatakan kepada kami rahasia itu—bagaimana anu-deyī (pemberian-yang-menyusul) menjadi ada: hukum yang olehnya pewarisan sejati terlaksana?

Mantra 6

यथाभवदनुदेयी ततो अग्रमजायत । पुरस्ताद्बुध्न आततः पश्चान्निरयणं कृतम् ॥

Ketika ‘anudeī’—anugerah yang mengikuti—menjadi ada, maka titik pertama pun lahir. Dasar (budhna) dibentangkan di depan; di belakang dibuat jalan keluar—jalan pelepasan: demikianlah jalan ditata dari dasar menuju bukaan.

Frequently Asked Questions

It reflects on Yama and the realm of the Fathers, describing an ancient, established path for the departed and the role of sacred chant and right offering in guiding that passage.

The tree is a symbolic meeting-place of life and immortality: a luminous locus where Yama and the gods commune, and where the Fathers are imagined as moving in delight along timeless ancestral ways.

In context it points to an ‘outlet’ or ‘way of release’—the ordered opening that allows transition beyond death, framed as something established by cosmic order rather than random fate.

Ask anything about Sukta 135 of the Rig Veda

Answers come from the texts themselves, with the shlokas they draw on shown alongside. Ask in your own words.

Not sure where to start?

A free Google sign-in keeps your chat saved across web and the app.

Read Rig Veda in the Vedapath app

Scan the QR code to open this directly in the app, with word-by-word meanings, Sanskrit recitation where available, and more.

Continue reading in the Vedapath app

Open in App