Opening the text

अयोध्याकाण्ड
Ayodhyākāṇḍa merupakan titik balik etika dan politik yang menentukan dalam Ramayana: janji penobatan Rāma sebagai yauvarājya (putra mahkota) yang diumumkan di hadapan rakyat runtuh menjadi vanavāsa (pembuangan ke hutan) karena benturan antara dharma raja, hasrat pribadi, dan daya mengikat ucapan. Sarga-sarga awal membangun suasana kota dan ritual yang diidealkan—sidang-sidang, persiapan, pertanda mujur, serta perhiasan pesta di Ayodhyā—sekaligus menonjolkan watak teladan Rāma: kṣamā (pemaafan), pengendalian diri, dan rasa syukur. Kisah lalu berbelok melalui bujukan Mantharā kepada Kaikeyī dan diaktifkannya dua anugerah lama Daśaratha. Terbentuklah rangkaian tragedi: kelumpuhan moral sang raja, ketaatan Rāma tanpa ragu kepada titah ayah, keteguhan Sītā untuk ikut dalam pengasingan—menyuarakan pativratā-dharma dan etika kebersamaan—serta kesetiaan Lakṣmaṇa yang menyala, namun dituntun oleh komitmen Rāma pada ahiṃsā dan tatanan sosial. Bagian tengah ditandai ratap publik dan pertanda suram, memuncak pada keberangkatan dari Ayodhyā dan peralihan dari istana ke rimba. Persinggahan di tepi Tamasā dan Gaṅgā, keramahan Guha, kunjungan ke āśrama Bharadvāja, hingga menetap di Citrakūṭa, membentuk peta suci perjalanan hutan. Seiring itu, Ayodhyā mengalami keruntuhan batin: penyesalan Daśaratha, pengakuan dosa “śabdavedhin”, dan wafatnya; disusul kegelisahan masa tanpa raja dan pemanggilan Bharata. Kembalinya Bharata dari Kekaya, penolakannya terhadap tindakan Kaikeyī, serta ketegasannya untuk tidak merebut hak Rāma memperdalam renungan tentang legitimasi, pelepasan, dan kewibawaan dharma. Dalam Resensi Selatan, sejumlah bait tradisional sering memperluas rincian upacara, ratapan, dan permenungan moral, menegaskan fungsi Ayodhyākāṇḍa sebagai uraian utama tentang harga dharma dalam kepemimpinan raja di dalam bangunan Adi-kāvya yang agung.
गुणप्रशंसा–युवराजनिर्णयः (Praise of Rama’s Virtues and the Decision on the Heir-Apparent)
Sarga 1 dibuka dengan keberangkatan Bharata ke rumah paman dari pihak ibu, ditemani Śatrughna. Kedua saudara itu tinggal di sana dengan sambutan penuh kasih, namun tetap mengenang ayah mereka yang telah lanjut usia, Daśaratha. Kisah kemudian beralih pada lukisan etis tentang Śrī Rāma: tenang meski diprovokasi, tahu berterima kasih, teguh pada kebenaran, hormat kepada para sesepuh dan brāhmaṇa, penuh welas asih, mampu menahan diri, tajam dalam pertimbangan, serta menguasai ilmu pengetahuan, seni berdebat, dan disiplin keprajuritan. Dengan perumpamaan kosmis—ketabahan laksana bumi, kecerdasan seperti Bṛhaspati, dan keperkasaan seperti Indra—Rāma ditegaskan sebagai tokoh ideal yang dicintai rakyat dan layak memerintah. Melihat sifat-sifat itu, serta merasakan pertanda yang tidak baik dan menyadari usia senjanya, Daśaratha bermusyawarah dengan para menteri dan memutuskan mengangkat Rāma sebagai yuvarāja. Pada penutupnya, sang raja memanggil para penguasa daerah dan warga terkemuka ke sidang; pemandangan itu diibaratkan Indra dikelilingi para dewa, meneguhkan panggung politik bagi prakarsa penobatan.
यौवराज्य-प्रस्तावः (Proposal for Rāma’s Installation as Heir-Apparent)
Dalam sidang kerajaan, Maharaja Daśaratha memanggil seluruh dewan dan menyapa para raja sekutu dengan suara yang dalam, bergema, dan penuh wibawa. Ia menyatakan niatnya sebagai tata kelola demi kesejahteraan: setelah memerintah dengan waspada menurut adat leluhur, kini ia merasakan letihnya usia dan beratnya dharma; karena itu ia ingin beristirahat dengan menyerahkan pemerintahan kepada putra sulungnya, Śrī Rāma. Ia memuji kebajikan Rāma yang diwarisi dari garis keturunan dan mengusulkan saat yang mujur, yakni nakṣatra Puṣya, untuk penetapan yauvarājya, seraya memohon persetujuan atau nasihat lain demi kebaikan negeri. Para penguasa yang hadir dan rakyat menyambut dengan sorak pujian; istana pun dipenuhi gema sukacita. Para brāhmaṇa, warga terkemuka, serta penduduk kota dan desa bermusyawarah hingga bulat suara dan mendesak agar penobatan dilakukan segera. Mereka menguraikan kebajikan Rāma: kejujuran, penguasaan diri, welas asih, ketertiban dalam tutur kata, kecakapan perang, perhatian pada rakyat, dan kelayakan untuk memerintah secara universal. Bab ini ditutup dengan permohonan bersama agar Daśaratha segera menegakkan Rāma sebagai putra mahkota demi kesejahteraan kerajaan dan dunia.
यौवराज्याभिषेक-उपकल्पनम् (Preparations for Rama’s Installation as Yuvaraja)
Dalam sarga ini, rakyat mengatupkan tangan (anjali) memohon kepada Dasaratha agar menobatkan Rama sebagai Yuvaraja; sang raja membalas dengan kata-kata yang lembut dan penuh kebajikan. Lalu Dasaratha menugaskan Resi Vasistha dan Vamadeva, di hadapan para brahmana, untuk menata seluruh tata upacara; ia menegaskan kesucian bulan Caitra dan memerintahkan: “Siapkan segala sesuatu bagi yuvarajya Rama.” Vasistha memerintah para menteri menyiapkan perlengkapan di tempat agni-gara: emas, permata, obat-obatan suci, rangkaian bunga putih, laja, madu, ghee, kain, kereta dan senjata, bala caturangga, gajah bertanda baik, camara, panji dan payung kerajaan, seratus kendi satakumbha, lembu jantan bertanduk emas, kulit harimau, dan lainnya. Gerbang kota dihias dengan cendana dan dupa; diatur jamuan, dana, dan daksina bagi para dwija; disiapkan swasti-vacana, undangan dan tempat duduk; jalan raya diperciki air, bendera dipasang, pertunjukan dan irama ditata, para pelayan serta ganika diatur; persembahan dipisahkan di kuil-kuil dan caitya; para prajurit masuk dalam keadaan siap tempur—tampaklah keselarasan keagamaan, kemasyarakatan, dan pemerintahan dalam upacara penobatan. Setelah selesai, Vasistha dan Vamadeva melapor kepada raja: “Telah terlaksana.” Kemudian Sumantra menjemput Rama; para raja dari berbagai negeri menghormati Dasaratha laksana para dewa memuja Indra. Kedatangan Rama digambarkan dengan uraian rupa dan kebajikannya; Dasaratha memeluk putranya dan mempersilahkannya duduk, lalu pada saat yoga Pushya menyampaikan bahwa Rama akan memperoleh yuvarajya serta memberi wejangan raja: pengendalian indria, meninggalkan nafsu dan amarah, menyenangkan para menteri dan rakyat, menambah perbendaharaan serta gudang senjata, dan memelihara persahabatan. Pada akhir kisah, sahabat-sahabat Rama memberi kabar kepada Kausalya; ia memuliakan para utusan dengan pemberian; Rama bersujud kepada raja lalu kembali ke kediamannya, dan warga kota melakukan pemujaan kepada para dewa.
अयोध्याकाण्डे चतुर्थः सर्गः — Rāma Summoned; Pushya Coronation Decision
Setelah para warga pulang, Daśaratha kembali bermusyawarah dengan para menteri dan menetapkan keputusan negara yang tegas: penobatan Rāma sebagai yuvarāja harus dilakukan segera, tepat pada saat nakṣatra Puṣya yang dianggap sangat mujur. Sumantra diutus menjemput Rāma; panggilan yang berulang menimbulkan kegelisahan dalam diri Rāma, menandakan beratnya urusan istana dan mudah berubahnya keadaan di dalam puri. Dalam pertemuan pribadi, Daśaratha menyambut Rāma dengan kasih dan mengemukakan alasannya: tujuan hidup dan kewajiban yajña telah ia penuhi; kini tinggal satu dharma yang tersisa—abhiseka (penahbisan) Rāma. Ia menyebut kehendak rakyat (prakṛti-icchā) yang menginginkan Rāma memerintah, namun juga menambahkan alasan yang mendesak: mimpi-mimpi pertanda dan gangguan astrologis pada bintang kelahirannya oleh graha yang kuat (Surya, Maṅgala, Rāhu), seakan bahaya mengancam sang raja. Karena itu, demi menyatukan mandat rakyat, waktu mujur, dan tanda-tanda genting, ia memerintahkan agar penobatan dipercepat sebelum hati goyah dan sebelum keadaan menjadi tidak stabil. Daśaratha menetapkan laku persiapan berupa vrata: berpuasa, tidur di atas rumput darbha, serta berjaga dengan dukungan sahabat; ia juga menilai ketiadaan Bharata sebagai kesempatan yang baik, sambil mengingatkan bahwa pikiran manusia mudah berubah. Rāma lalu segera memberi tahu Kauśalyā; sang ibu tampak tekun berbhakti, melakukan prāṇāyāma dan bermeditasi pada Janārdana/Viṣṇu. Berkat penuh sukacita pun mengalir; Rāma membagi harapan kemuliaan kerajaan itu dengan Lakṣmaṇa, menegaskan kebersamaan saudara dalam memikul pemerintahan dan kesatuan batin, lalu kembali bersama Sītā.
अभिषेकोपवास-आदेशः (Coronation Preparations and the Fast Enjoined)
Sarga 5 memaparkan tata cara dan mekanika ritual menjelang yauvarājya-abhiṣeka (penobatan putra mahkota) Śrī Rāma. Setelah menasihati Rāma tentang penobatan yang segera tiba, Raja Daśaratha memanggil purohita Vasiṣṭha dan menugaskannya membimbing Rāma serta Sītā menjalankan upavāsa (puasa) disertai mantra, sebagai laku suci untuk meneguhkan kemakmuran, keberkahan, dan keabsahan dharma kerajaan. Vasiṣṭha berangkat dengan kereta yang pantas bagi seorang brāhmaṇa menuju kediaman Rāma; ia disambut dengan penghormatan resmi. Ia menyampaikan niat penuh kasih sang raja untuk menobatkan Rāma saat fajar, seraya mengibaratkannya dengan penobatan Yayāti oleh Nahuṣa. Rāma menerima perintah itu dengan rendah hati; Vasiṣṭha memulai puasa secara ritual lalu berpamitan. Kisah kemudian meluas pada suasana kota: jalan-jalan Ayodhyā dibersihkan, panji-panji dikibarkan, dan jalan raya kerajaan dipadati warga yang ingin menyaksikan; gemuruh mereka disamakan dengan suara lautan. Vasiṣṭha kembali menembus kerumunan ke istana, bertemu raja, dan menegaskan tugas telah selesai; sidang istana bangkit memberi hormat. Dengan izin guru rohani, Daśaratha membubarkan pertemuan dan masuk ke ruang dalam, digambarkan dengan perumpamaan bercahaya—laksana bulan di antara bintang—menandai ketegangan suci malam menjelang upacara.
रामाभिषेकपूर्वसज्जा — Preparations for Rama’s Coronation
Sarga 6 menampilkan dua sisi: (1) laku tapa-ritual pribadi Śrī Rāma dan (2) kesiapsiagaan publik Ayodhyā menjelang yuvarājābhiṣeka. Setelah Vasiṣṭha berpamitan, Rāma mandi suci, menghadap Nārāyaṇa, lalu melaksanakan ājya-homa sesuai tata upacara. Sesudah itu beliau menyantap sisa havis, berdiam dalam keheningan dan bermeditasi di tempat suci Viṣṇu, beristirahat di atas rumput kuśa bersama Sītā. Pada jaga terakhir malam, Rāma bangun dan memerintahkan agar kediamannya dihias sepenuhnya. Ia menunaikan tata laku fajar dan mendengarkan para brāhmaṇa melantunkan mantra-mantra penyucian; seruan puṇyāha berpadu dengan bunyi sangkakala yang menggema di seluruh kota. Kisah lalu meluas ke ruang kota: sejak pagi warga mulai menghias—panji dan bendera ditegakkan di kuil, perempatan, jalan-jalan, menara, pasar, rumah, dan balai pertemuan. Para penampil dan penyanyi menghidupkan suasana; orang dewasa dan anak-anak membicarakan penobatan. Jalan raya ditaburi bunga, diharumkan dupa, dan “pohon-pohon pelita” disusun agar kota tetap terang bila malam tiba. Penduduk desa datang dari segala arah untuk menyaksikan peristiwa itu, memenuhi Ayodhyā dengan gemuruh laksana samudra. Di alun-alun dan balai, kelompok-kelompok berkumpul memuji keputusan Daśaratha untuk menegakkan Rāma—yang berbudi, berilmu, dan tanpa kesombongan—sebagai raja pelindung.
मन्थराप्रवेशः — Manthara Observes Ayodhya and Incites Kaikeyi
Sarga 7 menampilkan peralihan yang menentukan dari perayaan umum menuju bujukan tersembunyi. Mantharā, pelayan keluarga yang telah lama mendampingi Kaikeyī, naik ke istana yang bermandikan cahaya bulan dan memandang Ayodhyā yang tengah bersiap untuk upacara agung: jalan-jalan diperciki air, bunga-bunga ditebarkan, panji-panji dikibarkan, kuil-kuil bergema oleh kidung Weda dan bunyi alat musik, dan rakyat bersukacita. Ia menanyai seorang dayang istana (dhātrī) tentang sebab kegembiraan itu; sang dayang, penuh sukacita, mengabarkan bahwa Raja Daśaratha akan menobatkan Rāma yang tanpa cela sebagai yuvarāja pada keesokan hari, di bawah nakṣatra Puṣya. Kabar itu membangkitkan amarah Mantharā. Ia turun dari istana bak Kailāsa dan mendatangi Kaikeyī yang sedang berbaring nyaman. Dengan kata-kata yang menekan—peringatan tentang bahaya yang segera datang, nasib yang tak menentu, serta tuduhan siasat negara yang menipu—ia menanamkan kesedihan dan membingkai penobatan itu sebagai kehancuran Kaikeyī (dan Bharata). Kaikeyī mula-mula cemas, lalu justru bersukacita mendengar penobatan Rāma, bahkan menghadiahkan perhiasan kepada Mantharā sebagai balasan “kabar baik”, menyingkap bahwa pada awalnya ia tidak memandang Rāma sebagai saingan Bharata. Ajaran sarga ini menegaskan kuasa vāk (ucapan) sebagai alat politik: upacara dharma di ruang publik dapat diguncang oleh bujukan pribadi dan kendali narasi yang dibangun dari rasa takut.
मन्थराकैकेयीसंवादः — Mantharā’s Counsel to Kaikeyī (Ayodhyā’s Succession Alarm)
Dalam sarga ini, Mantharā menyusun bujukan yang rapat dan tajam, membingkai yuvarājya-abhiṣeka Rāma sebagai ancaman yang menyentuh hidup-mati bagi Kaikeyī dan Bharata. Adegan dibuka dengan putusnya tata krama timbal-balik istana: Mantharā membuang perhiasan hadiah, menandai penolakan terhadap upaya menenangkan dirinya dan dimulainya nasihat yang penuh siasat. Ia menegur kegembiraan Kaikeyī sebagai keliru, berulang kali memakai kiasan “samudra duka” untuk mengubah perayaan menjadi pertanda kehilangan. Mantharā mengajukan tesis politik: suksesi akan menguat pada Rāma lalu pada putra Rāma, sehingga Bharata tersisih; kekuasaan kerajaan yang dibagi bersama digambarkan mustahil secara tata kelola. Untuk menambah rasa genting, ia meramalkan Kaikeyī akan menjadi seperti pelayan bagi Kausalyā dan Bharata akan kehilangan haknya—terampas, diasingkan, atau lebih buruk—seraya menekankan bahwa kedekatan dan persekutuan (Lakṣmaṇa bersama Rāma; Śatrughna bersama Bharata) menentukan perlindungan dan bahaya. Kaikeyī mula-mula memuji kebajikan Rāma—paham dharma, menahan diri, tahu berterima kasih, berkata benar—dan tidak menerima kegelisahan itu; maka Mantharā memperbarui peringatannya dengan gambaran kehinaan yang lebih tajam. Sarga ini menjadi pola retorika tentang bagaimana emosi dijadikan alat kebijakan, menyiapkan jalan bagi tuntutan anugerah dan pembalikan rencana penobatan.
मन्थराप्रेरणा—वरद्वय-स्मरणं च (Manthara’s Provocation and the Recalling of Two Boons)
Sarga 9 menampilkan titik balik yang menentukan: Kaikeyī, yang semula masih menerima sindiran Mantharā, berubah menjadi marah dan berketetapan hati. Ia menyatakan rencana segera untuk mengirim Rāma ke hutan dan menobatkan Bharata sebagai raja. Mantharā lalu menjadikan sejarah masa lampau sebagai daya tekan yang dapat dipakai sekarang. Ia mengingatkan perang daiva–asura, ketika Daśaratha membantu Indra dan dua kali diselamatkan oleh Kaikeyī; sebagai balas jasa, Daśaratha menganugerahkan dua anugerah (boon) yang penunaiannya ditangguhkan. Nasihat Mantharā kemudian bersifat prosedural: Kaikeyī harus masuk ke krodhāgāra (kamar murka), menanggalkan perhiasan, berbaring di tanah tanpa alas, menolak memandang atau berbicara kepada raja, lalu menuntut dua anugerah—(1) abhiṣeka Bharata dan (2) pembuangan Rāma selama empat belas tahun. Sarga ini juga mencatat pujian Kaikeyī kepada Mantharā yang sekaligus strategis dan berlebihan, disertai gambaran fisik yang berhiaskan kiasan “māyā” (siasat menipu), menegaskan bagaimana bujukan mengubah “anartha” (rancangan yang mencelakakan) menjadi “artha-rūpa” (tujuan yang tampak bermanfaat). Dengan demikian, bab ini memetakan mekanisme pengaruh istana: ingatan, janji, pertunjukan emosi, dan daya ikat sabda raja.
क्रोधागारप्रवेशः — Entry into the Chamber of Wrath (Kaikeyī’s Protest)
Sarga 10 menampilkan retaknya suasana batin dan tata upacara seputar abhiṣeka (penobatan) Rāma yang sudah di ambang. Kaikeyī, setelah didorong secara menyimpang oleh Mantharā, menetapkan siasat: ia menanggalkan perhiasan dan rangkaian bunga, lalu merebahkan diri di lantai krōdhāgāra (kamar murka). Keadaannya digambarkan dengan perumpamaan yang tajam—seperti kinnarī, sulur yang terputus, dan apsaras yang jatuh—yang memadukan iba dengan keganjilan moral. Daśaratha, setelah memerintahkan penobatan dan mendengar bahwa kabar itu telah diketahui umum, memasuki kediaman dalam Kaikeyī yang serba mewah. Keindahan istana diurai panjang: burung-burung, alunan musik, taman dan bower, perabot gading-emas-perak, serta persembahan hidangan; namun sang ratu tidak ada di ranjang. Penjaga pintu melaporkan bahwa ia bergegas ke kamar murka; raja yang mencari keakraban dan ketenteraman makin gelisah. Ia menemukan Kaikeyī terbaring dalam sikap yang tidak pantas, mengusapnya dengan kasih, lalu bertanya apakah ia terkena kutuk, dihina, atau ditakuti seseorang. Ia menawarkan tabib, hukuman atau ganjaran, bahkan kuasa kerajaan yang luas demi menyingkirkan ketakutannya. Di akhir bab, Kaikeyī—yakin akan kelenturan hati raja—bersiap mengucapkan permintaan yang “tidak menyenangkan” dan memperkeras tekanannya, sehingga sukacita upacara berbalik menjadi krisis dharma yang digerakkan oleh nasihat, janji, dan hasrat.
कैकेयीवरप्रार्थना — Kaikeyi Demands the Two Boons
Dalam sarga ini, Kaikeyī melihat Daśaratha dikuasai hasrat, lalu memaksanya mengucapkan sumpah yang tegas, dan dari sumpah itu ia menurunkan akibat politik yang tak dapat ditarik kembali. Daśaratha berulang kali bersumpah—demi nyawa dan kemuliaan Rāma—bahwa keinginan Kaikeyī pasti dipenuhi. Kaikeyī kemudian memperberat ikrar itu dengan menghadirkan saksi kosmis dan rumah tangga: Matahari, Bulan, penjuru-penjuru, planet-planet, gandharva, rākṣasa, para dewa pelindung rumah, dan semua makhluk, sehingga janji pribadi berubah menjadi perjanjian yang seakan-akan terbuka di hadapan semesta. Ia mengingatkan peristiwa perang dewa dan asura ketika ia melindungi sang raja dan menerima dua anugerah yang “disimpan sebagai titipan”. Kini ia menagihnya: (1) Bharata harus ditabalkan dengan perlengkapan yang telah disiapkan untuk penobatan Rāma; (2) Rāma harus diutus ke Daṇḍakāraṇya selama empat belas tahun, hidup sebagai pertapa dengan kulit kayu, kulit rusa, dan rambut gimbal. Kaikeyī membingkai tuntutan itu sebagai ujian satya Daśaratha dan kewajibannya menjaga garis keturunan, sementara sang raja tampak terjerat oleh kata-katanya sendiri.
द्वादशः सर्गः — Kaikeyi’s Boons and Dasaratha’s Moral Collapse (Ayodhya Kanda 12)
Sarga ini menggambarkan retaknya batin dan dharma Raja Dasaratha seketika setelah mendengar “kata-kata mengerikan” Kaikeyi yang menuntut Rama dibuang ke hutan dan Bharata dinobatkan. Sang raja terombang-ambing antara tak percaya (seperti mimpi/halusinasi), duka, dan murka; keadaannya dilukiskan dengan perumpamaan tajam—seperti rusa di hadapan harimau betina, atau ular yang terikat mantra. Dasaratha berargumen dengan menampilkan kebajikan Rama yang dikenal rakyat: kejujuran, kedermawanan, kelembutan tutur, dan bakti kepada para tua. Ia menilai tuntutan itu merusak tatanan moral wangsa Ikshvaku. Kaikeyi menjawab dengan “hukum” janji raja: anugerah yang telah diberikan wajib ditunaikan, jika tidak, nama baik dharmika sang raja akan runtuh. Ia menguatkannya dengan teladan raja-raja penepat sumpah serta ancaman menyakiti diri. Dasaratha lalu memikirkan akibat sosial—celaan rakyat dan krisis legitimasi—serta kehancuran keluarga bagi Kausalya, Sumitra, dan Sita. Dalam kehinaan diri, ia memohon di kaki Kaikeyi, hingga akhirnya roboh secara fisik; bab ini menutup dengan jatuhnya sang raja, menandai peralihan dari pertimbangan menuju tindakan yang tak dapat ditarik kembali oleh tragedi.
अयोध्याकाण्डे त्रयोदशः सर्गः | Kaikeyi Presses the Boons; Dasaratha’s Lament and Collapse
Sarga 13 makin menajamkan krisis yang bermula di balairung istana lalu berubah menjadi bencana pribadi. Daśaratha, yang tak terbiasa dipermalukan, tersungkur; ia diserupakan dengan Raja Yayāti yang jatuh dari surga setelah habis pahala—gambaran yang menandai kemerosotan batin dan martabat sang raja. Kaikeyī, setelah mencapai maksudnya, berulang kali mendesak agar dua anugerah yang dijanjikan segera dipenuhi; ia menampakkan ketakutan sebagai siasat, namun di dalam hati tetap teguh. Dengan pedih dan murka, Daśaratha membela kebajikan Rāma—ketampanan, kekuatan, pengetahuan, pengendalian diri, dan pemaafan—seraya bertanya bagaimana mungkin seorang yang layak berbahagia dijatuhi pembuangan ke hutan Daṇḍaka. Ia mengecam niat Kaikeyī sebagai kejam dan meramalkan aib serta cela yang akan menimpa. Waktu menjadi perangkat kisah: matahari terbenam, malam datang, namun bagi raja yang berduka malam terasa makin gelap. Ia memohon kepada Malam agar jangan membawa fajar, atau cepat berlalu supaya ia tak perlu memandang Kaikeyī. Dengan tangan terkatup ia mencoba melunakkan hati Kaikeyī: biarkan Rāma menerima kerajaan “melalui dirinya,” dan ia menjanjikan kemasyhuran baginya; Kaikeyī tetap tak tergoyahkan. Dihantam duka dan kejutan berulang, Daśaratha pingsan dan jatuh tak sadar. Malam yang mengerikan berlalu diiringi helaan napasnya yang berat; bahkan kebiasaan membangunkan raja oleh para pemuji pun ia tahan, menandakan runtuhnya tata laku dan keteraturan kerajaan.
सत्यपाशः — Kaikeyi’s Demand and the Noose of the King’s Promise
Sarga 14 menajamkan krisis penobatan melalui dialog yang teratur rapat antara Kaikeyī dan Daśaratha, seolah-olah sebuah perjanjian yang terikat oleh dharma. Kaikeyī menghadapi sang raja yang tergeletak tak berdaya dan menggeliat dalam duka, menuntut agar anugerah yang pernah dijanjikan harus dipenuhi; bila ia mengingkari, ia mengancam akan mengakhiri hidupnya. Daśaratha digambarkan terjerat seperti Bali dalam jerat Indra—tubuh dan batinnya goyah oleh paksaan moral dan kesedihan. Daśaratha membalas dengan kecaman keras dan bahkan membayangkan upacara kematiannya sendiri, memperingatkan Kaikeyī dan putranya agar tidak melakukan salila-kriyā (ritus air bagi arwah) bila mereka menghalangi abhiṣeka Rāma. Sementara itu fajar menyingsing dan roda upacara penobatan terus bergerak: Vasiṣṭha memasuki istana membawa perlengkapan seremonial lengkap, dan Ayodhyā digambarkan siap berpesta—jalan-jalan dibasuh, dihias rangkaian bunga, serta diharumkan oleh cendana dan dupa. Sumantra, tidak mengetahui bencana di ruang dalam, membangunkan raja dengan ungkapan pujian khas waktu fajar, namun justru membangkitkan kembali duka Daśaratha. Kaikeyī lalu mengarahkan Sumantra untuk memanggil Rāma, menampilkan sang raja seakan hanya letih karena sukacita menanti penobatan, sehingga kisah bergerak menuju pertemuan resmi Rāma dengan tuntutan itu.
अभिषेकसज्जा तथा सुमन्त्रस्य प्रेषणम् (Coronation Preparations and Sumantra’s Commission)
Sarga 15 menggambarkan kesiapan lahiriah dan kesiapan kota untuk yuvarājābhiṣeka (penobatan putra mahkota) Śrī Rāma. Para brāhmaṇa yang mahir Weda dan para pendeta istana berjaga dan berkumpul di paviliun penahbisan; para menteri, panglima, serta para pemimpin serikat dagang hadir dengan sukacita. Waktu astronomi yang mujur ditetapkan: Puṣya dengan lagna Karkaṭaka, selaras dengan rasi kelahiran Rāma. Berbagai sarana upacara dan kebesaran kerajaan dirinci: air suci dari pertemuan Gaṅgā–Yamunā, juga dari sungai-sungai lain, danau, sumur, serta lautan; bejana emas dan perak berhias teratai; madu, dadih, ghee, susu, rumput darbha, bunga; kipas ekor yak (cāmara), payung putih laksana bulan; lembu putih dan kuda pucat, serta gajah agung yang disiapkan untuk tunggangan raja; delapan gadis berhias, para pemusik, dan para pemuji. Namun setelah matahari terbit pun para hadirin tidak melihat Daśaratha. Sumantra masuk ke ruang dalam, memuji kemuliaan wangsa, memohon restu para dewa demi kemenangan, dan mendesak raja agar berkenan bangun serta memberi audiensi. Daśaratha, sudah terjaga namun gelisah, bertanya mengapa perintah Kaikeyī untuk memanggil Rāma belum terlaksana, lalu kembali memerintahkan Sumantra menjemputnya. Sumantra berangkat melalui jalan-jalan berpanji, mendengar warga membicarakan penobatan, dan tiba di istana Rāma—digambarkan berkilau bak permata—yang dipenuhi penduduk kota dan desa membawa persembahan, hingga akhirnya ia memasuki kediaman pribadi Rāma.
सुमन्त्रदर्शनम् तथा रामस्य राजदर्शनाय प्रस्थानम् (Sumantra Meets Rama; Rama Departs to See the King)
Dalam sarga ini, Sumantra menembus gerbang istana dalam yang dipenuhi orang banyak lalu memasuki sebuah ruang yang sunyi. Di sana digambarkan penjagaan ketat kawasan istana oleh para pemuda bersenjata (bertombak dan berbusur) yang selalu waspada. Melihat para pengawas perempuan yang telah lanjut usia mengenakan jubah kesucian di pintu, Sumantra dengan hormat menyampaikan kedatangannya; mereka segera memberitahu Rama. Sumantra kemudian memandang Rama—duduk di dipan emas, diolesi cendana terbaik, bercahaya laksana Vaisravana (Kubera); di sisinya Sita berdiri memegang kipas chauri, memperindah beliau bagaikan rembulan yang elok dalam lukisan. Sumantra bersujud dengan takzim dan menyampaikan pesan Dasaratha: sang raja bersama Kaikeyi ingin segera bertemu Rama, jangan berlama-lama. Rama berwajah cerah, menimbang kemungkinan pembicaraan tentang penobatan, lalu berbicara kepada Sita. Sita mengucapkan doa-doa keberkahan, memohon perlindungan para dewa penjaga arah, serta menyebut tanda-tanda laku diksha-vrata (kulit kijang, tanduk rusa, dan sebagainya). Sesudah itu Rama berangkat bersama Sumantra; di ambang pintu ia melihat Laksmana berdiri dengan tangan terkatup, lalu mengajaknya turut serta. Keberangkatan kereta digambarkan seperti pesta kota: bunyi alat musik dan pujian, gemuruh kerumunan, hujan bunga, sanjungan warga, jalan raya penuh kuda-gajah-kereta, deru kereta bak guntur awan, serta perhiasan emas dan permata. Sarga ini meneguhkan gaung harapan penobatan di tengah rakyat dan pengaruh luhur watak Rama.
रामस्य राजमार्गगमनम् (Rama’s Progress along the Royal Highway)
Sarga 17 menampilkan panorama warga Ayodhyā ketika Rāma melaju dengan kereta melalui jalan raya kerajaan. Para sahabat bersukacita, dan rakyat berjejal untuk menyaksikan darśan beliau. Kota serta rajamārga dihias secara seremonial—panji dan umbul-umbul, dupa dan agaru, tumpukan cendana serta wewangian, kain sutra, mutiara dan benda kristal, bunga, serta persembahan makanan—sehingga seluruh jalan tampak laksana lintasan suci bagi yang ilahi. Warga mengungkapkan harapan bahwa sekadar melihat Rāma bertakhta dan berjalan di hadapan umum melampaui kebutuhan jasmani; kerajaan dipahami sebagai cita-cita moral dan keindahan. Rāma mendengar berkat dan pujian, namun tetap tenang dan batiniah tidak melekat; beliau menghormati orang sesuai kedudukan sambil terus melanjutkan perjalanan. Teks menegaskan daya tarik dharma dan welas asih beliau yang membuat mata dan pikiran orang tak sanggup berpaling, serta kemurahan yang tak memihak kepada semua varṇa dan segala usia. Dengan tata krama pradakṣiṇā, Rāma menjaga agar persimpangan suci, jalan-jalan kuil, tugu, dan tempat pemujaan berada di sisi kanan. Ia tiba di kediaman raja yang menaranya diserupakan dengan awan, puncak Kailāsa, dan vimāna pucat di angkasa; melintasi pelataran yang dijaga, memulangkan para pengiring, lalu memasuki ruang dalam dekat ayahanda. Sementara itu kerumunan yang menanti mengharap kemunculan beliau kembali, bagaikan samudra menunggu terbitnya bulan.
अष्टादशः सर्गः — Kaikeyī Discloses the Boons: Exile to Daṇḍaka and Bharata’s Consecration
Rama memasuki kamar dalam dan melihat Dasaratha terbaring di ranjang yang mulia, tampak sengsara dan pucat, dengan Kaikeyi duduk di sisinya. Setelah memberi hormat terlebih dahulu kepada ayahanda, lalu kepada Kaikeyi, Rama mendapati sang raja tak sanggup menatapnya atau berkata apa pun selain menyebut “Rama,” tenggelam dalam air mata dan napas yang berat. Pertanyaan Rama tersusun seperti penelusuran sebab: apakah ia tanpa sadar telah bersalah, apakah raja menderita sakit jasmani atau batin, apakah Bharata, Satrughna, atau para permaisuri tertimpa malapetaka, ataukah Kaikeyi telah berkata keras hingga mengguncang pikiran raja. Kaikeyi menafsirkan kebisuan itu sebagai takut mengucapkan kebenaran yang pahit kepada putra tercinta, lalu menuntut agar Rama memenuhi janji lama berupa dua anugerah. Rama menyatakan ketaatan yang tak tergoyahkan—bahkan masuk ke api, meminum racun, atau menenggelamkan diri bila diperintahkan oleh ayahanda yang juga guru dan welas asihnya—dan memohon agar titah raja diucapkan. Kaikeyi pun menyatakan tuntutan anugerah itu: penobatan Bharata dan kepergian Rama ke hutan Dandaka selama empat belas tahun, meninggalkan rencana abhiseka serta hidup sebagai pertapa dengan jata dan ajina. Sarga ini ditutup dengan kontras antara keteguhan Rama di hadapan kata-kata keras dan kepedihan Dasaratha yang amat dalam, menegaskan krisis dharma tentang kebenaran, sumpah, dan suksesi.
एकोनविंशः सर्गः (Sarga 19): Rāma’s Unshaken Acceptance of Exile and Kaikeyī’s Urgency
Sarga ini menampilkan percakapan yang padat di dalam istana, ketika Rāma menerima tuntutan Kaikeyī—kata-kata “seperti maut”—namun ia tidak memperlihatkan kegelisahan. Ia meminta penjelasan tentang diamnya Daśaratha, lalu dengan tegas berikrar menjalani hidup rimba, mengenakan pakaian dari kulit kayu dan berambut gimbal, demi menegakkan janji sang raja. Rāma menempatkan ketaatan pada sabda ayah sebagai dharma tertinggi; ia tidak terpikat harta dan kemegahan, dan menyamakan dirinya dengan para resi yang hanya berpegang pada kebenaran. Akibat administratif segera berjalan: para utusan diperintah menjemput Bharata dari rumah paman pihak ibu. Kaikeyī, yakin Rāma akan pergi, mendesaknya berangkat cepat, bahkan menjadikan puasa Daśaratha sebagai tekanan—hingga Rāma berangkat, sang raja tidak akan mandi dan tidak akan makan. Daśaratha roboh dalam duka; Rāma mengangkatnya, mengelilingi ayah dan Kaikeyī dengan hormat, lalu keluar. Kisah menegaskan ketenangan Rāma yang tak tergoyahkan—cahayanya tak pudar laksana bulan—serta kehati-hatiannya menyembunyikan kabar buruk dari sahabat. Ia menanggalkan lambang kerajaan (payung, kipas, kereta), mengekang indria, dan memasuki kediaman ibunya untuk menyampaikan perubahan nasib itu, sementara Lakṣmaṇa mengikuti dengan amarah bercampur air mata.
अयोध्याकाण्डे विंशः सर्गः — Rama Enters Kauśalyā’s Antaḥpura; Ritual Preparations and the Shock of Exile
Sarga ini memperlihatkan peralihan dari jalan istana yang ramai menuju ruang dalam (antaḥpura) yang sunyi dan sakral. Ketika Rāma berpamitan dengan tangan terkatup, kegelisahan melanda antaḥpura; para permaisuri menangis dan menyalahkan raja. Daśaratha yang telah diliputi duka makin remuk batinnya saat mendengar ratapan itu. Rāma, tetap menahan diri, berjalan bersama Lakṣmaṇa melewati halaman-halaman bertingkat. Ia disambut seruan kemenangan, melihat para brāhmaṇa tua berilmu yang dihormati raja, dan melewati penjaga pintu yang waspada—perempuan, orang tua, dan anak-anak. Para dayang bergegas menyampaikan kabar kedatangannya kepada Kauśalyā. Kauśalyā digambarkan tekun dalam disiplin ritual fajar—berbusana sutra putih, menjalankan kaul, melakukan persembahan api dan libasi, memohon keselamatan putranya. Disebutkan perlengkapan upacara: dadih, akṣata, ghee, manisan, persembahan, rangkaian bunga, pāyasa, kṛsara, kayu samidh, serta bejana air yang penuh—meneguhkan suasana rumah yang sekaligus suci. Ibu dan putra berpelukan; Kauśalyā memberkati dan menantikan penobatan yang segera. Namun Rāma dengan rendah hati menyampaikan pembalikan titah: Bharata akan menerima kedudukan yuvarāja, sedangkan Rāma diasingkan ke Daṇḍakāraṇya selama empat belas tahun, hidup asketis dengan pangan hutan. Pengakuan ini menghancurkan Kauśalyā; ia pingsan dan meratap panjang—takut dipermalukan para istri lain, putus asa hidup tanpa putra, dan menganggap tapa-bratanya sia-sia. Rāma mengangkat dan menenangkannya, sementara ketegangan antara harapan ritual dan bencana dharma menjadi inti sarga ini.
अयोध्याकाण्डे एकविंशः सर्गः — Lakṣmaṇa’s militant counsel and Rāma’s dharma-based persuasion of Kausalyā
Sarga 21 menampilkan perdebatan etika yang berlapis suara di Ayodhyā tentang pengasingan Rāma ke hutan yang segera terjadi. Melihat ratap Kausalyā, Lakṣmaṇa yang gelisah memberi nasihat yang “sesuai keadaan” namun keras: ia mengusulkan merebut kekuasaan seketika, mengancam akan mengosongkan Ayodhyā bila ada perlawanan, bahkan menyebut kemungkinan memenjarakan atau membunuh Daśaratha bila sang raja, di bawah pengaruh Kaikeyī, menjadi ‘musuh’. Kausalyā lalu berbicara langsung kepada Rāma. Ia menolak tuntutan Kaikeyī yang tidak benar, mendesak Rāma tetap tinggal dan menganggap bakti kepada ibu sebagai dharma, serta memperingatkan kehancuran rohani bila ia pergi. Rāma menjawab dengan ajaran disiplin tentang menepati ikrar: ia tidak dapat melanggar perintah ayah. Ia menguatkan pendiriannya dengan teladan Kandu, putra-putra Sagara, Jāmadagnya Rāma dan Reṇukā, menunjukkan keutamaan ketaatan dalam tradisi leluhur. Ia menahan dorongan kṣatriya yang keras pada Lakṣmaṇa, memohon izin dan berkat Kausalyā melalui ritus svastyayana, serta berjanji kembali setelah masa pengasingan usai—diibaratkan seperti Yayāti yang memperoleh kembali surga. Bab ini menegaskan hirarki kewajiban: kebenaran yang berakar pada dharma mengatasi duka, amarah, dan siasat politik.
अभिषेक-निवृत्ति-उपदेशः (Withdrawal of the Coronation: Rama’s Counsel to Lakshmana)
Sarga 22 menampilkan campur tangan Rāma yang tenang ketika amarah Lakṣmaṇa meledak karena penobatan terhalang. Rāma mendekati Lakṣmaṇa—digambarkan “mendesis seperti ular kobra raja” dengan mata membesar oleh murka—lalu menahan gejolak itu dengan ajaran dhairya (keteguhan hati). Ia memerintahkan tindakan segera: tarik kembali seluruh persiapan abhiṣeka tanpa menimbulkan rintangan baru. Rāma menjelaskan bahwa bila persiapan diteruskan, penderitaan batin Daśaratha akan makin berat, sebab sang raja takut pada cela moral ketika satya (kebenaran janji) tidak terpenuhi. Rāma memandang kata-kata keras dan keteguhan Kaikeyī sebagai dorongan daiva/kṛtānta (takdir), sehingga ia melarang menyalahkan dan membalas; bahkan para resi pun, katanya, dapat terguncang oleh tekanan takdir. Dalam bab ini, bahan-bahan upacara kerajaan—terutama kendi-kendi air suci penobatan—beralih makna menjadi bekal tapa; Rāma menegaskan bahwa hidup di hutan dapat “lebih mulia” daripada kerajaan bila selaras dengan dharma. Dengan demikian, wejangan ini menuntun peralihan dari rājyadharma menuju tapodharma, sambil menjaga tanpa kekerasan dalam keluarga dan ketertiban umum.
लक्ष्मणक्रोधः—दैवपुरुषकारविवादः (Lakshmana’s Wrath and the Debate on Destiny vs Human Effort)
Sarga 23 menampilkan perdebatan etis yang tajam antara Lakṣmaṇa dan Rāma. Saat Rāma berbicara, batin Lakṣmaṇa berayun antara duka dan sukacita, lalu meledak menjadi amarah—digambarkan dengan citra seperti ular mendesis dan wajah laksana singa. Ia menolak keabsahan penobatan siapa pun selain Rāma, dan memandang pembalikan keputusan itu sebagai sesuatu yang memalukan bagi tatanan sosial. Lakṣmaṇa mengecam sandaran pada ‘daiva’ (takdir) sebagai lemah, dan menegaskan ‘puruṣakāra’ (usaha dan daya manusia) serta keberanian sebagai kekuatan yang mampu “membalikkan” nasib. Ia berulang kali bersumpah akan menundukkan siapa pun yang menghalangi penobatan Rāma—bahkan para lokapāla dan tiga dunia pun, katanya, tak cukup untuk menahan tekadnya. Ucapannya meningkat menjadi ancaman balasan keras, menyebut persenjataan dan akibat di medan perang, hingga akhirnya ia menyerahkan diri sepenuhnya: Rāma cukup menyebut musuh dan memberi perintah. Rāma menenangkan Lakṣmaṇa, menyeka air matanya, dan meneguhkan kembali tekad untuk memegang sabda ayah sebagai ‘satpatha’—jalan yang benar. Dengan demikian, kisah ini kembali menempatkan ketaatan, pengendalian diri, dan keteguhan dharma sebagai pusatnya.
कौशल्यारामसंवादः — Kausalya–Rama Dialogue on Exile-Dharma
Sarga 24 menampilkan wacana dharma yang sangat intim antara Kausalya dan Rama setelah ia melihat tekad Rama yang tak tergoyahkan untuk menaati titah Dasaratha. Kausalya meratap: bagaimana Rama, yang terbiasa dengan kenyamanan istana, dapat bertahan dengan makanan hutan dan kerasnya kehidupan rimba? Ia melukiskan dukanya dengan citra api—‘śokāgni’, api kesedihan yang bahan bakarnya ratap, dikipasi helaan napas, dan menerima persembahan air mata. Ia bersikeras hendak ikut, menyamakan dirinya dengan sapi yang harus mengikuti anaknya, lalu memohon agar dibawa ke hutan seperti ‘rusa betina liar’ daripada tinggal di tengah para istri lain. Rama menjawab dengan alasan etis yang tersusun: Kaikeyi telah lebih dahulu memperdaya raja; bila Kausalya juga meninggalkan Dasaratha, sang raja tua mungkin tak sanggup bertahan. Ia menegaskan bahwa bagi seorang istri, menelantarkan suami adalah perbuatan yang dicela. Rama menasihati ibunya agar melayani raja dengan ketenangan, mencegah duka menghancurkannya, memelihara dharma rumah tangga dan kewajiban upacara (penghormatan pada api suci dan para brahmana), serta menanti dengan disiplin dan harapan hingga ia kembali setelah empat belas tahun. Kausalya, tak mampu mengubah keputusan Rama, akhirnya memberi persetujuan, memberkati agar ia kembali dengan selamat, dan bersiap melakukan ritus-ritus kesejahteraan pelindung bagi putranya. Dengan demikian, sarga ini menandai peralihan dari penolakan yang pilu menuju dukungan yang diritualkan dan penuh bhakti.
कौशल्याया मङ्गलविधानम् — Kausalya’s Benedictions and Protective Rites for Rama
Sarga 25 menggambarkan perpisahan yang sarat upacara: Kausalya menahan duka, melakukan ācāmana, lalu memulai maṅgala-kriyā untuk perjalanan Rama ke hutan. Ia melantunkan berlapis-lapis doa perlindungan: penjaga-penjaga luhur seperti Smṛti, Dhṛti, dan Dharma; para dewa—Skanda, Soma, Bṛhaspati, Varuṇa, Sūrya, Kubera, Yama; para ṛṣi seperti Saptarṣi dan Nārada; para penjaga arah; serta penopang kosmos—gunung, samudra, sungai, bintang, planet, siang-malam, fajar-senja, musim, bulan, tahun, dan pembagian muhūrta. Ia menyebut bahaya rimba—Rākṣasa, Piśāca, pemakan daging, serangga, reptil, dan binatang buas—seraya memohon agar tak satu pun mencelakai Rama. Kausalya memuja para dewa dengan rangkaian bunga dan wewangian, menata api suci melalui seorang brāhmaṇa, mempersembahkan oblation, menyediakan karangan putih dan biji sesawi putih, serta memerintahkan pembacaan svastyayana (mantra berkat). Setelah memberi dakṣiṇā, ia mengucapkan perumpamaan maṅgala: Indra menewaskan Vṛtra, Garuḍa meraih amṛta, dan Viṣṇu melangkah tiga kali. Ia mengoleskan cendana, menaruh sisa persembahan di kepala Rama, dan mengikatkan herba Viśalyakaraṇī sebagai rakṣā pelindung. Walau batinnya pedih, ia berbicara seolah gembira, memeluk Rama berulang kali, mengelilinginya dengan hormat; Rama menyentuh kakinya dan berangkat menuju kediaman Sita.
अयोध्याकाण्डे षड्विंशः सर्गः — Rama’s Departure and Sita’s Questions; Disclosure of Exile and Counsel on Courtly Conduct
Sarga ini memperlihatkan peralihan dari kepastian upacara menuju guncangan etis. Setelah Kausalya melaksanakan svastyayana (ritus berkat), Rama bersujud hormat lalu berangkat menuju pengasingan di hutan, tetap teguh “berdiri di jalan dharma”. Ia melintasi jalan raya kerajaan di tengah kerumunan rakyat yang terharu oleh kebajikan dan keutamaannya. Di kediamannya, Sita—yang telah menuntaskan pemujaan rumah tangga serta tapa-brata demi penobatan yang dinanti—melihat wajah Rama berubah pucat dan diliputi duka. Ia mengajukan pertanyaan tajam: mengapa payung kebesaran, kipas chauri, para pemuji, seruan keberuntungan, percik madu-dadhi, para menteri, pemimpin serikat, kereta upacara, gajah terdepan, dan singgasana emas tidak tampak—mengapa tanda-tanda penobatan seakan runtuh. Rama lalu mengungkap sebab pembuangan: anugerah lama Dasaratha kepada Kaikeyi, tuntutan Kaikeyi saat persiapan abhiseka, titah empat belas tahun di hutan Dandaka, dan pengangkatan Bharata sebagai yuvaraja. Ia menasihati Sita dengan kebijaksanaan: jangan memujinya di hadapan Bharata, jangan menuntut perlakuan khusus, peliharalah laku yang baik; hormatilah Dasaratha dan semua ibu, terutama Kausalya yang dilanda dukacita; pandang Bharata dan Satrughna sebagai keluarga yang patut dijaga; jangan membuat raja murka, sebab penguasa menghargai kesetiaan dan dapat menolak bahkan orang dekat bila membawa mudarat. Sarga ditutup dengan permohonan Rama agar Sita tetap tinggal di Ayodhya, teguh dan tidak menyakiti siapa pun dalam kata maupun perbuatan, sementara ia berangkat ke hutan.
सीताया वनगमननिश्चयः (Sita’s Resolve to Accompany Rama to the Forest)
Sarga 27 memuat jawaban panjang Sītā kepada Rāma, karena ia merasa Rāma berbicara seakan menepis haknya untuk turut serta dalam pembuangan. Sītā menegaskan bahwa hanya istri yang berbagi nasib suami (bhartṛ-bhāgya), dan bahwa suami adalah perlindungan yang tetap bagi seorang perempuan, baik di dunia ini maupun di alam berikutnya. Ia menyatakan telah dididik dalam dharma oleh orang tuanya, sehingga tidak memerlukan nasihat tambahan tentang perilaku. Sītā bersumpah akan melangkah lebih dahulu memasuki hutan yang berat dan sepi, bahkan meremukkan duri-duri agar jalan Rāma menjadi mudah. Ia berjanji hidup tertib dengan buah dan umbi-umbian tanpa menjadi beban. Nada kisah pun bergeser dari alasan yang bersifat hukum ke keteguhan hati: berpisah dari Rāma baginya tak tertahankan—bahkan surga tanpa Rāma ia tolak. Ia membayangkan kehidupan hutan sebagai kebersamaan yang membahagiakan di tengah sungai, gunung, telaga teratai, dan satwa liar. Namun pada penutup sarga, meski Sītā memohon, Rāma tetap enggan dan mulai menguraikan kerasnya tinggal di hutan untuk mengurungkan niatnya, menyiapkan perdebatan berikutnya.
सीतानिवर्तनप्रयत्नः — Rama’s Attempt to Dissuade Sita from Forest Exile
Dalam sarga ini, Sri Rama menanggapi permohonan Sita dengan menolak terlebih dahulu untuk membawanya ke hutan. Sebagai dharmajña dan dharmavatsala, Rama merenungkan kesukaran nyata hidup di rimba dan menegaskan bahwa penolakannya bukanlah penolakan terhadap Sita, melainkan kehati-hatian demi melindunginya. Ia menasihati Sita agar tetap di Ayodhya, menjalankan svadharma-nya, dan mengatakan bahwa ketaatan Sita akan membawa ketenteraman batin baginya. Rama lalu merinci derita dan bahaya hutan sebagai daftar bukti: suara alam yang menakutkan (air terjun, singa), binatang buas yang ganas, sungai berlumpur penuh buaya, jalan berduri dan tanpa air, tidur keras di alas daun, hidup terbatas pada buah-buahan yang jatuh, puasa, pakaian dari kulit kayu dan rambut gimbal. Ia juga menyebut kewajiban ritual kepada para dewa, leluhur, dan tamu; mandi tiga kali sehari; persembahan Weda dengan bunga yang dipetik sendiri; makanan yang sedikit; gelap, angin, lapar; reptil dan ular; serta serangga yang menggigit. Karena itu Rama menyimpulkan bahwa hutan “bahudoṣatara”, penuh cela dan tidak layak bagi Sita. Pada penutup, Sita tidak mematuhi anjuran itu dan menjawab dengan duka, membuka jalan bagi sanggahan Sita pada bagian berikutnya.
सीताया वनगमननिश्चयः — Sita’s Resolve to Accompany Rama to the Forest
Dalam Sarga 29, Sita menanggapi dengan penuh emosi terhadap penolakan Rama untuk membawanya ke hutan. Dengan berurai air mata, ia membingkai ulang 'kesalahan' kehidupan hutan sebagai kebajikan jika dijalani bersama suami. Sita berargumen bahwa perpisahan dari suaminya sama dengan kematian, dan kehadiran Rama akan memberikan keamanan mutlak, bahkan dari ancaman ilahi sekalipun. Sita mengutip tradisi Weda yang menyatakan bahwa seorang istri tetap menjadi milik suaminya bahkan setelah kematian, serta mengingat ramalan masa lalu tentang nasibnya tinggal di hutan. Ia mengakhiri permohonannya dengan ultimatum keras: ia akan mengakhiri hidupnya dengan racun, api, atau air jika ditinggalkan. Rama, yang tetap tenang, mencoba menghiburnya namun belum setuju untuk membawanya ke hutan yang sunyi.
सीताया वनानुगमननिश्चयः — Sita’s Resolve to Accompany Rama to the Forest
Sarga 30 menampilkan perdebatan dharma suami-istri yang bernada penghiburan dan sanggahan. Rāma mula-mula berusaha mencegah Sītā ikut menjalani pembuangan ke hutan, namun Sītā menjawab dengan tegas: kesetiaan istri (pativratā-dharma) menjadikan perpisahan dari suami tak tertahankan. Ia mengubah kerasnya rimba menjadi kenyamanan bila bersama Rāma—debu laksana cendana, rumput menjadi alas lembut, dan buah-buahan yang dipetik terasa seperti amerta. Ucapannya kemudian menjadi ultimatum: lebih baik mati daripada ditinggalkan atau hidup di Ayodhyā di bawah kuasa yang memusuhi. Rāma pun memeluk dan menenteramkannya, menjelaskan bahwa ia pergi demi menaati titah ayah dan menjaga kesucian perintah orang tua; orang tua dan guru adalah dewa yang tampak, dan pelayanan kepada mereka paling utama hasilnya. Menerima Sītā sebagai sahadharmacāriṇī, Rāma memerintahkan persiapan: membagikan perhiasan, pakaian, dipan, kereta, dan harta lainnya kepada para pelayan dan brāhmaṇa, serta memberi makanan kepada para pengemis/pertapa. Sītā menaati dengan gembira; pertentangan batin berubah menjadi pelepasan yang tertata dan kesiapan etis untuk memasuki pengasingan.
लक्ष्मणस्य वनानुगमन-प्रतिज्ञा तथा आयुध-संग्रहः (Lakshmana’s Vow to Follow Rama and the Retrieval of Divine Weapons)
Sarga ini menampilkan dialog yang tersusun rapat tentang prioritas dharma menjelang pembuangan Rama ke hutan. Lakshmana datang lebih dahulu, mendengar percakapan Rama–Sita, lalu diliputi duka; ia memeluk kaki Rama dan bersumpah teguh akan menyertai Rama tanpa goyah. Rama mencoba mengarahkan secara etis dan praktis: bila Lakshmana ikut, siapa yang akan menjaga Kausalya dan Sumitra, terlebih saat keadaan politik rapuh karena Dasaratha terbelenggu oleh nafsu dan Kaikeyi sedang berkuasa; Rama menegaskan bahwa bakti kepada orang tua dan guru (guru-puja/pelayanan kepada para sesepuh) adalah kebajikan yang tiada banding, dan meminta Lakshmana tinggal sebagai pelindung para ibu. Lakshmana menjawab dengan alasan yang mantap: Bharata, mengenali tejas (wibawa rohani) Rama, akan menghormati Kausalya dan Sumitra; Kausalya memiliki nafkah mandiri dari seribu desa sehingga aman secara materi; dan dharma Lakshmana terpenuhi dengan menjadi pengikut Rama tanpa melanggar etika. Ia juga menawarkan dukungan di pengasingan—berjalan di depan dengan senjata, mengumpulkan umbi-umbian dan buah, serta berjaga siang dan malam. Rama pun berkenan dan beralih dari perdebatan ke persiapan: Lakshmana hendaknya berpamitan kepada sahabat, mengambil seperangkat senjata ilahi anugerah Varuna yang disimpan dan dipuja di rumah Vasistha (busur, zirah, tabung panah dengan anak panah tak habis, pedang berlapis emas), lalu segera kembali. Bab ini ditutup dengan Lakshmana melaksanakan tugas itu, dan Rama memberi perintah berikutnya: memanggil Suyajna (putra Vasistha) serta para brahmana lainnya untuk upacara dan pembagian dana-punya sebelum keberangkatan, menyatukan dharma (dana, tata laku) dengan perjalanan menuju hutan.
द्वात्रिंशस्सर्गः — Gifts to Suyajna and the Brahmins; Trijata’s Petition and Rama’s Charity
Sarga ini menggambarkan pembagian harta Rama sebelum pembuangan sebagai laku dharma yang diritualkan. Atas perintah suci Rama, Lakshmana mendatangi rumah brahmana Suyajna yang mahir Weda dan mengundangnya ke kediaman Rama. Rama dan Sita menyambut Suyajna dengan hormat, mengelilinginya (pradaksina) seakan menyambut api suci; perhiasan Sita serta barang berharga rumah tangga dipersembahkan kepada keluarga Suyajna, dan Rama menambahkan anugerah besar, termasuk gajah. Rama lalu memerintahkan Lakshmana untuk memuliakan para brahmana utama seperti Agastya dan Kausika, para guru Taittiriya yang melayani Kausalya, para abdi lama seperti kusir Chitraratha, serta kelompok pelajar Weda (Katha–Kalapa, brahmacarin bermekhala). Ia merinci pemberian berupa sapi, pedati berisi permata, lembu jantan, pakaian, kereta, dan para pelayan. Lakshmana membagikan harta “laksana Kubera”; Rama juga memerintahkan istana tetap dijaga sampai ia kembali dan agar perbendaharaan dikeluarkan bagi para tanggungan dan kaum papa. Puncaknya adalah kisah brahmana miskin Trijata (Gargya), yang didorong istrinya untuk memohon pertolongan. Rama dengan jenaka menguji tenaganya—memintanya melempar tongkat untuk menandai batas hadiah sapi—lalu menenangkannya, menegaskan bahwa kekayaannya memang untuk para brahmana, dan menyempurnakan sedekah itu sehingga tidak ada brahmana, pelayan, orang miskin, atau pengemis yang pulang tanpa puas.
त्रयस्त्रिंशः सर्गः — Civic Lament and Rama’s Dutiful Approach to Daśaratha
Dalam sarga ini, Rāma dan Lakṣmaṇa bersama Sītā terlebih dahulu melakukan dana-kebajikan kepada para brāhmaṇa, lalu berangkat menghadap Daśaratha. Dengan demikian, pembuangan ke hutan dipahami sebagai laku yang tetap berada dalam bingkai tata-ritual dan kewajiban sosial. Sītā menghias senjata kedua saudara itu dengan rangkaian bunga—sebuah gerak domestik yang sakral—yang menegaskan kembali bahwa senjata mereka adalah alat dharma, bukan sarana penaklukan. Jalan-jalan kota penuh sesak hingga tak dapat dilalui; warga naik ke atap untuk menyaksikan pembalikan tata-kerajaan yang menggetarkan: Rāma berjalan kaki tanpa payung kebesaran. Mereka meratap dan mengkritik: Daśaratha seakan “kerasukan” hingga sanggup mengucapkan pengasingan; seorang raja tak patut membuang putra tercinta, terlebih yang perilakunya seakan “menaklukkan dunia”. Rakyat menguraikan ṣaḍguṇa Rāma—tidak menyakiti, welas asih, berilmu, berperilaku luhur, menahan diri, dan menguasai diri—seraya menyebutnya inti dharma dan “akar” kemanusiaan, sementara masyarakat adalah cabang dan buahnya. Duka mereka menjadi metafora alam—makhluk air di musim kering, pohon yang ditebang pada akarnya—dan kesetiaan memuncak menjadi kesiapan meninggalkan rumah untuk mengikuti Rāma ke rimba, bahkan membayangkan kota dan hutan bertukar makna sebagai ruang moral. Rāma mendengar semua itu namun tetap teguh; ia memasuki istana, melihat Sumantra yang murung, lalu memerintahkannya menyampaikan kedatangannya kepada raja, dengan ketenangan dan niat yang setia pada kewajiban.
रामदर्शनार्थं दारानयनम् — The Queens Summoned; Rama’s Leave-Taking and Dasaratha’s Collapse
Sarga ini menampilkan rangkaian peristiwa di istana yang semula tertib, lalu berubah menjadi krisis batin. Rama memerintahkan Sumantra untuk memberitahukan kepada Dasaratha bahwa beliau telah datang. Sumantra masuk dan mendapati sang raja terkuras oleh duka; keadaannya digambarkan dengan perumpamaan berlapis—seperti matahari yang tertutup, api yang diselimuti abu, dan telaga yang mengering—tanda merosotnya wibawa raja karena kesedihan. Atas titah raja, Sumantra memanggil para permaisuri; Kausalya datang dengan rombongan besar, menandai dukacita yang meliputi seluruh istana. Setelah para permaisuri tiba, Dasaratha memerintahkan Rama dibawa masuk. Melihat Rama mendekat dengan tangan terkatup, sang raja bangkit dan bergegas, namun sebelum sampai ia jatuh pingsan; istana pun dipenuhi ratap banyak wanita dan gemerincing perhiasan, pertanda bencana. Rama, Laksmana, dan Sita mengangkat beliau ke pembaringan. Ketika sadar, Rama dengan tata krama memohon izin berangkat ke Dandakaranya serta memohon restu agar Laksmana dan Sita menyertainya. Terikat oleh “tali kebenaran” dan terdesak oleh Kaikeyi, terlihat Dasaratha mengusulkan jalan terbalik: agar Rama saja merebut takhta, seakan dapat menghindari sumpah. Namun Rama menegakkan satya, menolak kerajaan dan kenikmatan, serta menuntut agar anugerah dipenuhi sepenuhnya—Bharata harus menerima negeri. Dasaratha berganti-ganti antara memberkahi dan memohon penundaan, setidaknya semalam; Rama menegaskan ayah adalah laksana dewa bahkan bagi para dewa, tekadnya tak berubah, dan setelah empat belas tahun ia akan kembali. Sarga ditutup dengan Dasaratha kembali diliputi duka, memeluk Rama lalu pingsan; para permaisuri (kecuali Kaikeyi) bahkan Sumantra pun jatuh pingsan di tengah tangis yang menggema di mana-mana.
सुमन्त्रस्य कैकेयी-निन्दा (Sumantra’s Reproof of Kaikeyi in the Royal Assembly)
Sarga 35 menampilkan campur tangan Sumantra yang sarat emosi di sidang istana. Ia menangkap maksud hati Daśaratha dan menghadapi kekukuhan Kaikeyī yang menuntut pembuangan Rāma. Tanda-tanda amarah dan duka—menggelengkan kepala, berulang kali menghela napas, mengepal tangan, mengertakkan gigi—mendahului ucapannya; lalu ia melontarkan kecaman panjang yang diibaratkan “panah kata-kata” dan “ucapan laksana wajra.” Sumantra menyatakan, bila Kaikeyī tetap memaksa, Bharata boleh memerintah, namun negeri dan orang-orang saleh—para brahmana dan sādhū—akan meninggalkannya; celaan umum (parivāda) akan menyebar jika Rāma didorong ke hutan. Ia memakai peribahasa dan perumpamaan: menebang pohon mangga lalu menanam nimba; susu pun tak dapat memaniskannya; madu tak mengalir dari nimba—untuk menegur watak bawaan dan memperingatkan bahaya melampaui batas tatanan (amaryādā). Ia juga menyebut kisah singkat tentang ayah Kaikeyī yang pernah memperoleh anugerah untuk memahami suara binatang, sebagai bingkai bagi keras kepala sang ibu dan akibatnya. Kemudian Sumantra beralih memberi nasihat: terimalah sabda raja, junjung kehendak suami, dan tegakkan Rāma—yang sulung, dermawan, cakap, setia pada dharma, pelindung rakyat—di atas takhta, agar Daśaratha kelak dapat beristirahat sesuai adat purba. Namun Kaikeyī tetap tampak tak tergoyahkan, menandai batas daya bujuk dalam krisis dharma.
अयोध्याकाण्डे षट्त्रिंशः सर्गः — Daśaratha’s orders for Rama’s escort; Kaikeyi’s fear; the Asamañjasa precedent
Sarga 36 menajamkan krisis penobatan menjadi pertentangan tata-laksana dan moral. Daśaratha, “terhimpit oleh janji,” menangis dan berulang kali memanggil Sumantra, lalu memberi perintah rinci untuk menyiapkan Rāma menuju hutan: pasukan empat bagian beserta harta, para pelayan, kereta-kereta, senjata, penunjuk jalan rimba dan para pemburu, bahkan lumbung dan perbendaharaan agar turut menyertai. Kemudian kisah beralih pada reaksi Kaikeyī: ketika Daśaratha berbicara, rasa takut menelannya dan suaranya tersendat. Ia beralasan Bharata tidak akan menerima kerajaan yang kosong dari rakyat dan kemakmuran. Daśaratha mengecam kekejamannya, namun Kaikeyī makin keras dengan mengutip preseden dinasti—Sagara yang menyingkirkan putra sulungnya, Asamañjasa. Menteri tua Siddhārtha menangkisnya dengan menuturkan kejahatan Asamañjasa terhadap anak-anak warga, lalu menantang Kaikeyī menyebutkan kesalahan nyata pada Rāma; jika tidak, pengasingan itu adalah adharma yang membakar bahkan kemilau Indra. Sarga ditutup dengan teguran Daśaratha yang pilu atas “jalan hina” Kaikeyī dan pernyataannya bahwa ia akan mengikuti Rāma, meninggalkan kerajaan dan kekayaan, dan membiarkan Kaikeyī “menikmati” pemerintahan bersama Bharata—ucapan yang sarat ironi moral dan keputusasaan.
अयोध्याकाण्डे सर्गः ३७ — चीरधारणं, सीतासंकल्पः, वसिष्ठोपदेशः (Bark-Robe Episode and Vasistha’s Admonition)
Sarga 37 menampilkan perubahan yang tampak dari kehidupan istana menuju disiplin pertapaan melalui tindakan ritual mengenakan cīra, pakaian dari kulit kayu. Setelah mendengar nasihat para menteri, Rāma berbicara dengan vinaya kepada Daśaratha: ia telah melepaskan kenikmatan dan keterikatan, sehingga tidak memerlukan pengiring maupun kemegahan militer; ia hanya memohon perlengkapan paling sederhana untuk hidup di hutan. Kaikeyī, tanpa rasa malu di hadapan umum, mengeluarkan jubah kulit kayu dan memerintahkan agar dipakai. Rāma dan Lakṣmaṇa menanggalkan busana halus dan mengenakan pakaian pertapa. Sītā yang masih bersutera tertegun melihat pakaian kulit kayu; Kaikeyī memberinya pakaian dari serat kuśa. Dengan air mata dan rasa malu, Sītā mencoba memakainya namun tidak terampil, lalu bertanya bagaimana para resi hutan mengenakan pakaian demikian. Rāma sendiri kemudian mengikatkan cīra di atas sutera Sītā, membuat para wanita istana menangis dan memohon agar Sītā tidak dipaksa menanggung kerasnya hutan. Di tengah ratapan itu, Vasiṣṭha turun tangan. Ia menegur Kaikeyī karena melampaui kepatutan dan tipu daya, menegaskan bahwa Sītā tidak wajib ikut; bahkan ia layak menduduki takhta Rāma. Vasiṣṭha memperingatkan: bila Sītā dipaksa, kota dan kerajaan akan mengikuti Rāma, meninggalkan Kaikeyī memerintah negeri yang kosong. Namun, meski ada nasihat sang guru, Sītā tetap teguh—bertekad melayani suami tercinta, meneguhkan dharma kesetiaan pasangan dan tapa yang dipilih dengan sadar.
अयोध्याकाण्डे अष्टत्रिंशः सर्गः — Sita in Bark Garments; Public Outcry and Dasaratha’s Lament
Sarga ini menampilkan saat pembuangan melalui kesaksian rakyat dan runtuhnya hati seorang ayah. Warga Ayodhya, melihat Sita mengenakan pakaian kulit kayu—padahal ia berada dalam ‘perlindungan’ suami—menangisi dan memprotes Dasaratha, sehingga keputusan istana yang semula pribadi berubah menjadi kecaman moral di hadapan umum. Kegaduhan itu mengguncang batin sang raja; keyakinannya pada hidup dan dharma seakan patah. Dasaratha lalu berbicara kepada Kaikeyi dengan alasan etis yang makin tajam: Sita, putri Janaka, tidak pernah menyakiti siapa pun; tidak patut ia dikenai busana pertapa. Ia mengusulkan agar Sita pergi dengan perhiasan dan keperluan yang layak, serta membedakan janji awalnya dari kekejaman yang kini terjadi. Ia mempertanyakan kesalahan Sita dan mengecam ‘kejahatan besar’ yang melampaui pengasingan Rama. Dilanda duka tanpa ujung, Dasaratha jatuh tersungkur ke tanah. Saat Rama bersiap berangkat, ia menoleh kembali menasihati ayahnya: hormatilah dan peliharalah Kausalya—yang telah lanjut usia, mulia, dan tidak mencela raja—agar ia mampu bertahan dalam perpisahan dan tidak hancur oleh duka kehilangan putra. Bab ini mempertemukan etika publik, dharma raja (nazar versus belas kasih), dan tuntunan bakti anak kepada orang tua.
एकोनचत्वारिंशः सर्गः — Dasaratha’s Lament, Sumantra’s Commission, and Sita’s Vow of Marital Dharma
Sarga 39 menggambarkan dampak segera di dalam istana dan tata pemerintahan setelah Rāma tampil mengenakan busana pertapa. Daśaratha dan para permaisuri roboh dilanda duka; sang raja, terhimpit kesedihan, tak sanggup menatap Rāma ataupun menjawabnya. Setelah sedikit tenang, ia meratap tentang hukum karma dan penderitaan yang lahir dari siasat Kaikeyī, lalu memberi perintah kepada Sumantra: siapkan kereta yang siap berangkat dengan kuda-kuda terbaik dan antarkan Rāma hingga melewati batas kota. Kisah beralih pada tata istana: raja memanggil pejabat perbendaharaan untuk membekali Sītā selama masa tinggal di hutan. Perhiasan dan busana dibawa; Sītā digambarkan bersinar indah, seakan fajar menerangi istana. Terjadi wacana utama antara Kauśalyā dan Sītā: Kauśalyā menegaskan etika kesetiaan istri dan memperingatkan agar suami tidak ditinggalkan saat tertimpa malang. Sītā, dengan tangan terkatup, menolak disamakan dengan perilaku yang berubah-ubah dan menegaskan bahwa suami adalah daivatam—tumpuan suci bagi seorang perempuan. Rāma lalu menghibur Kauśalyā, mengingatkan bahwa masa pembuangan terbatas empat belas tahun, serta memohon maaf kepada semua permaisuri bila ada kata-kata yang tanpa sengaja menyakiti. Istana yang semula bergema oleh musik perayaan kini dipenuhi ratap bersama, menandai Ayodhyā beralih dari harap penobatan menuju dukacita yang tersusun sebagai upacara.
प्रयाणवर्णनम् (Departure from Ayodhya; Civic Lament and the Chariot’s Urgency)
Sarga 40 menggambarkan tata cara perpisahan yang khidmat sekaligus pilu. Rāma, Sītā, dan Lakṣmaṇa dengan tangan terkatup menyentuh kaki raja dan mengelilinginya sebagai tanda pamit yang disucikan oleh duka. Rāma lalu bersujud hormat kepada Kauśalyā; Lakṣmaṇa menyusul, menghaturkan sembah kepada Kauśalyā dan ibunya, Sumitrā. Nasihat Sumitrā menegakkan kerangka dharma bagi hidup di rimba: anggaplah Rāma sebagai ayah (Daśaratha), Sītā sebagai ibu, dan hutan sebagai Ayodhyā—agar pengabdian dan penjagaan tetap teguh dalam pembuangan. Sumantra, dengan kerendahan seorang abdi istana, mempersilakan Rāma naik kereta dan menegaskan bahwa hitungan empat belas tahun telah mulai berjalan. Daśaratha menyediakan pakaian, perhiasan, serta persenjataan dan perlengkapan pelindung untuk disimpan di kereta. Ketika kereta bergerak, rakyat Ayodhyā berbondong-bondong mengejar, memegang sisi kereta dan memohon agar berjalan perlahan supaya wajah Rāma tetap terlihat; bunyi lonceng, kuda, dan gajah menjadi gema kesedihan bersama. Daśaratha, laksana purnama yang tertutup Rāhu, jatuh tersungkur; rakyat meratap, dan Kauśalyā berlari mengejar kereta. Rāma tak sanggup menatap derita orang tuanya, berkali-kali menoleh, namun tetap meminta sais memacu cepat. Terjepit antara perintah raja “berhenti” dan perintah Rāma “pergi”, Sumantra menaati Rāma; kelak ia menjawab teguran dengan mengatakan ia tidak mendengar, sebab memperpanjang pedih perpisahan dipandang tercela secara etis. Sarga ditutup dengan para menteri menasihati raja agar tidak mengikuti terlalu jauh mereka yang diharapkan kembali, sementara Daśaratha berdiri, berkeringat dan diliputi duka, menatap kepergian putranya.
अयोध्यायाः शोकप्रकम्पः (Ayodhya’s Tremor of Grief and Omens)
Sarga 41 melukiskan getaran segera di tingkat warga dan kosmos setelah kepergian Śrī Rāma. Ketika Rāma melangkah keluar dengan kedua tangan terkatup dalam sikap hormat, jerit ratap membuncah dari ruang-ruang dalam istana. Daśaratha, yang telah hangus oleh pedihnya perpisahan, mendengar tangisan itu dan tenggelam lebih dalam ke dalam duka. Kesedihan ini meluas dari ratap keluarga menjadi keguncangan seluruh kota: api agnihotra tidak lagi dinyalakan, dapur-dapur rumah berhenti mengepul, dan kewajiban harian runtuh. Duka tercermin pada perilaku hewan—gajah menjatuhkan makanan, sapi enggan menyusui—serta pada renggangnya ikatan sosial, karena perhatian setiap keluarga tertuju hanya kepada Rāma. Lalu hadir deretan pertanda: bintang-bintang kehilangan sinar, planet-planet meredup, Viśākhā tampak terselubung asap, dan graha-graha yang garang berkumpul dekat Bulan; segenap penjuru seakan terbalut gelap. Gambaran meteorologis dan kosmis itu memuncak ketika Ayodhyā digambarkan ‘berguncang’ bagaikan bumi tanpa Indra—menegaskan kekosongan politis-teologis akibat tiadanya pelindung yang sah, dan menjembatani duka pribadi menuju bingkai kosmologis terganggunya dharma.
द्विचत्वारिंशः सर्गः — दशरथस्य शोक-विलापः तथा कौशल्यागृह-प्रवेशः (Dasaratha’s Lament and Return to Kausalya’s Apartments)
Sarga ini menggambarkan saat-saat segera setelah Rama berangkat. Dasaratha menatap kereta yang menjauh; selama debu yang terangkat masih tampak, ia tak sanggup memalingkan mata, dan ketika debu itu pun lenyap ia roboh ke tanah karena duka. Kausalya mengangkat raja yang berdebu itu dan membawanya kembali menuju istana. Penyesalan Dasaratha kian menyala dengan perumpamaan dharma: ia merasa terbakar seperti orang yang menanggung dosa pembunuhan brahmana, seakan menyentuh api; wajahnya pun redup laksana matahari yang tertutup gerhana. Ia meratap karena Rama tak terlihat lagi, hanya jejak kuku kuda yang tersisa; Rama yang biasa dengan cendana, alas empuk, dan bantal, kini dibayangkannya tidur di akar pohon dengan kayu atau batu sebagai bantal. Ia juga mengingat Sita yang tak terbiasa dengan hutan dan ketakutannya mendengar auman liar. Dalam putusnya ikatan batin, Dasaratha menolak Kaikeyi—menjauh dari sentuhannya bahkan seakan melepaskan ikatan pernikahan—serta melontarkan harapan pahit terkait persembahan kematian (pinda) Bharata. Dikelilingi rakyat, ia memasuki Ayodhya yang sunyi dan istana yang kosong dari Rama, Sita, dan Laksmana. Dengan suara tersendat ia meminta para pelayan membawanya kepada Kausalya, satu-satunya penghiburan. Pada tengah malam yang seperti malam kematian, ia mengaku pandangannya masih mengikuti Rama dan ia tak dapat melihat Kausalya dengan jelas; Kausalya duduk di sisinya, menghela napas dan meratap.
कौशल्याविलापः — Kausalya’s Lament and the Vision of Rama’s Return
Sarga 43 menampilkan ratapan Kauśalyā kepada Daśaratha yang terbaring lemah, letih lahir dan batin. Ia menafsirkan perilaku Kaikeyī dengan citra ular—gerak yang berliku, bisa yang dilepaskan, dan bahaya musuh yang berada di dalam rumah—sehingga ketidakadilan politik berubah menjadi ancaman moral yang sarat pertanda. Dari tudingan, Kauśalyā beralih pada kecemasan akan masa depan: ia membayangkan Rāma, Sītā, dan Lakṣmaṇa memasuki hutan yang keras, padahal mereka belum terbiasa menanggung derita; tanpa kenyamanan istana, mereka harus hidup dari buah dan umbi. Bab ini lalu berputar pada rangkaian seruan “kapan…?”, melukiskan kepulangan yang diidamkan: Ayodhyā bersukacita dengan panji-panji berkibar, rakyat menaburkan biji-bijian panggang di jalan raya, dan para saudara memasuki kota dengan senjata serta perhiasan yang membawa berkah. Kerinduan seorang ibu memuncak pada harapan melihat Rāma kembali riang seperti anak kecil, berlawanan dengan putus asa yang kini menyelimutinya. Pada akhirnya ia menyalahkan dirinya menurut hukum karma—seolah akibat kesalahan di kehidupan lampau terhadap sapi dan anak sapi—dan menyimpulkan bahwa hidup hampir tak mungkin dipertahankan tanpa memandang putra tunggalnya. Dukanya digambarkan sebagai api yang melalap, laksana terik musim panas yang membakar bumi.
सुमित्रोपदेशः — Sumitra’s Consolation to Kausalya
Sarga 44 berisi wejangan penghiburan ketika Ratu Sumitrā menenangkan Kausalyā yang diliputi duka setelah Rāma berangkat menjalani pembuangan ke hutan. Sumitrā menegaskan bahwa ratapan tidak perlu, sebab Rāma teguh dalam dharma, setia menunaikan ikrar kebenaran Daśaratha, dan perilaku luhur para bijak berbuah pahala di alam setelah mati (pretya-phala). Ia menguatkan keyakinan Kausalyā dengan beberapa jaminan: Lakṣmaṇa akan mendampingi dengan kemuliaan hati dan kesiapan berperang; Sītā dengan sadar memilih berbagi kesukaran; bahkan alam seakan akan melayani Rāma—angin sepoi, bulan, dan matahari menjadi penopang perjalanannya. Sumitrā lalu menegaskan keperkasaan dan kelayakan Rāma: senjata-senjata ilahi yang diterimanya dari Viśvāmitra, musuh yang akan binasa dalam jangkauan panahnya, serta kepastian bahwa ia akan kembali dan dinobatkan. Berulang kali ia menghadirkan bayangan pertemuan kembali—Rāma bersujud di kaki Kausalyā, air mata duka berganti air mata bahagia—hingga kesedihan Kausalyā pun lenyap seketika, laksana awan tipis musim gugur yang tercerai-berai.
अयोध्यावासिजनानुरागः — The People and Brahmins Follow Rama toward Exile
Sarga 45 menggambarkan tanggapan rakyat dan komunitas ritual ketika Rāma berangkat menuju pengasingan di hutan. Warga Ayodhyā tetap setia dan terus mengikuti keretanya, meskipun rombongan kerajaan dan para sahabat berusaha memulangkan mereka dengan paksa. Dengan kasih sayang laksana seorang ayah, Rāma menasihati penduduk agar mengarahkan kesetiaan kepada Bharata, menaati titah raja, dan menjaga ketenteraman kota sebagai bagian dari dharma. Namun justru karena keteguhan Rāma dalam kebenaran, kerinduan rakyat akan kepemimpinannya semakin memuncak. Para brāhmana lanjut usia—disebut unggul dalam kebijaksanaan, umur, dan daya tapa—meratap dari kejauhan, bahkan memohon kepada kuda-kuda agar berbalik menuju kota, sebab tuan yang bertekad suci patut diantar ke Ayodhyā, bukan ke rimba. Tersentuh oleh welas asih, Rāma turun dari kereta dan berjalan kaki bersama Sītā dan Lakṣmaṇa agar para brāhmana tidak tertinggal. Mereka menyatakan seluruh tatanan brāhmana, dengan api suci dipanggul di bahu, mengikuti beliau; mereka menaungi dengan payung yang diperoleh melalui yajña Vājapeya, dan menegaskan keputusan mereka tak berubah—bila Rāma mengabaikan dharma, apa yang tersisa dari jalan kebajikan? Mereka memohon agar beliau kembali, mengingat yajña yang belum selesai dan bakti semua makhluk, bahkan pepohonan dan burung-burung. Sungai Tamasā tampak seakan menahan beliau secara simbolis; di tepinya Sumantra merawat kuda-kuda, menandai jeda di ambang antara kota dan hutan.
तमसातीरवासः — Night on the Bank of the Tamasa and the Stratagem to Elude the Citizens
Sarga 46 menggambarkan malam pertama pembuangan sebagai peralihan yang tertib dari ruang kota menuju rimba. Śrī Rāma bernaung di tepi Sungai Tamasā yang elok, menasihati Lakṣmaṇa dengan tenang, dan memilih tapa—hanya minum air meski makanan hutan tersedia—sebagai tanda pengendalian diri sukarela, bukan kekurangan. Sumantra merawat kuda-kuda, melakukan sandhyā-upāsanā (sembahyang senja), lalu menyiapkan alas tidur dari daun di tepi sungai; Rāma beristirahat bersama Sītā dan Lakṣmaṇa. Lakṣmaṇa berjaga sepanjang malam, memuji kebajikan Rāma kepada Sumantra hingga fajar. Saat pagi, Rāma melihat para warga tertidur di bawah pepohonan. Ia menilai kesetiaan mereka dapat berubah menjadi tekad yang justru mencelakakan diri, lalu menegaskan prinsip rājadharma: rakyat harus dibebaskan dari penderitaan, bukan dibebani oleh nasib sang pangeran. Karena itu ia mengusulkan berangkat diam-diam ketika mereka masih tidur. Untuk mengelabui pengejaran, Rāma memerintahkan Sumantra mengarahkan kereta sebentar ke utara lalu berputar kembali agar para paurāḥ kebingungan. Mereka pun menaiki kereta yang telah dipasang kuk, menyeberangi Tamasā yang berarus deras dan berpusar, lalu mencapai jalan raya yang mujur, “tanpa duri”, menuju hutan tapa (tapo-vana)—menandai pembuangan sebagai pilihan moral sekaligus langkah perjalanan yang teratur.
अयोध्यायाः पौरविलापः (Lament of the Citizens of Ayodhya on Rama’s Absence)
Saat fajar, warga Ayodhyā menyadari Śrī Rāma tak lagi tampak. Perpisahan itu mengguncang batin mereka—duka digambarkan seakan merampas daya bertindak dan bahkan kemampuan mengenali. Mereka berlarian ke sana kemari mencari jejak beliau, mencela tidur yang menumpulkan kewaspadaan, lalu meratap bersama: Rāma adalah pelindung laksana ayah; tanpa beliau hidup terasa hampa dan tak bertujuan. Ratapan itu makin memuncak hingga usulan ekstrem—mati atau membakar diri—sebagai akibat eksistensial dari terpisahnya mereka dari pusat dharma kota. Mereka mencoba mengikuti bekas roda kereta, berjalan sebentar, namun jejak jalan lenyap; hilangnya ratha-mārga menjadi lambang nyata terhalangnya takdir. Akhirnya mereka berbalik pulang ke Ayodhyā dengan letih. Memasuki rumah-rumah megah pun terasa berat, dan karena sedih mereka tak mampu mengenali sanak keluarga sendiri. Sarga ini ditutup dengan perumpamaan berlapis: Ayodhyā tanpa Rāma bagaikan sungai yang disucikan Garuḍa hingga tanpa ular, langit tanpa bulan, dan samudra tanpa air—kekosongan politik dipantulkan sebagai kekurangan kosmis.
अयोध्यायाः शोकवर्णनम् (Ayodhya’s Lament and Civic Desolation)
Sarga 48 melukiskan suasana batin kota setelah warga mengikuti Rāma lalu kembali ke Ayodhyā. Mereka digambarkan buta oleh air mata, seakan napas hidupnya hendak pergi, dan meratap seperti menginginkan kematian. Kehidupan rumah tangga pun runtuh: tiap rumah menangis; para perempuan menegur suami dengan kata-kata tajam; tanda-tanda kemakmuran—perdagangan, memasak, perayaan, bahkan sukacita kelahiran—menjadi tak berarti. Bersamaan dengan itu, teks meninggikan mereka yang menyertai Rāma—Lakṣmaṇa bersama Sītā—seraya membayangkan alam sebagai “polity” yang ramah: hutan, sungai, gunung, pepohonan berbunga, dan air terjun akan memuliakan Rāma laksana tamu tercinta, mempersembahkan bunga di luar musim dan air yang jernih. Para perempuan mengusulkan pembagian bhakti-sevā: perempuan melayani Sītā, laki-laki melayani Rāma, sehingga pembuangan menjadi komunitas kasih yang bergerak. Nada lalu menjadi politis: warga mengecam keputusan Kaikeyī yang tidak beretika, mengkhawatirkan kehancuran kerajaan tanpa pemimpin, serta membayangkan wafatnya Daśaratha dan ratapannya yang besar. Keutamaan Rāma dipuji dalam rangkuman yang padat. Menjelang senja, api ritual dan pembacaan śāstra terhenti; pasar-pasar menutup; Ayodhyā tampak tanpa bintang, gelap, dan menyusut bagaikan samudra yang surut—metafora kota bagi susutnya dharma.
एकोनपञ्चाशः सर्गः (Sarga 49): Rāma’s Night Journey Beyond Kosala and the Charioteer Address
Sarga ini menggambarkan laju perjalanan Rāma pada bagian akhir malam, ketika beliau mengenang titah Daśaratha dan memandang pembuangan ke hutan bukan sekadar terusir, melainkan kaul etis yang disadari dan dijaga. Saat fajar, setelah memuja sandhyā pagi yang suci, beliau mencapai perbatasan Kosala lalu melintasinya. Di perjalanan, Rāma mendengar suara rakyat desa yang mengkritik keputusan Daśaratha yang didorong nafsu serta pelanggaran tata krama oleh Kaikeyī; suara publik ini menjadi penilaian moral dari luar atas rumah tangga kerajaan. Selanjutnya uraian beralih pada rute: Rāma menyeberangi sungai suci Vedāśruti dan bergerak ke selatan menuju arah yang dikaitkan dengan Agastya. Setelah menempuh perjalanan panjang, beliau menyeberangi Gomati yang berair sejuk—tepinya berlumpur dengan ternak merumput—lalu menyeberangi Syandikā yang bergema oleh suara merak dan angsa. Rāma menunjukkan kepada Sītā hamparan tanah luas yang secara tradisi dihubungkan dengan anugerah Manu kepada Ikṣvāku, sehingga geografi kerajaan terjalin dengan ingatan dinasti. Sambil berulang kali menyapa kusir sebagai “sūta”, Rāma berbicara dengan suara lembut bak angsa (haṃsamattasvara), mengungkap kerinduan untuk kembali ke rimbun kebun Sarayū yang sedang berbunga. Beliau juga merenungkan perburuan sebagai hiburan raja sekaligus pertapa—menyenangkan namun bukan hasrat utama—menegaskan keseimbangan budaya kṣatriya dengan pengendalian diri.
गङ्गादर्शनम् तथा गुहसमागमः (Vision of the Gaṅgā and Meeting with Guha)
Sarga 50 bergerak dari wacana perpisahan menuju peralihan ruang dan laku dharma. Setelah melintasi wilayah Kosala yang makmur, Rāma menoleh ke arah Ayodhyā dan menyampaikan pamit secara resmi kepada kota serta para dewa pelindungnya. Rakyat meratap selama ia masih tampak, hingga akhirnya Rāma lenyap dari pandangan mereka. Kisah lalu memaparkan kemuliaan Kosala dengan gaya indah: tanda-tanda ritual (yūpa, caitya), kelimpahan pertanian, kehidupan warga yang tanpa takut, serta lantunan pembacaan Weda—seakan menegaskan bahwa pemerintahan yang baik adalah ekologi budaya yang dijaga oleh dharma. Sesudah itu Rāma memandang Gaṅgā; dengan perumpamaan berlapis (buih laksana senyum, air laksana rambut terjalin) dan silsilah kosmisnya—berasal dari jejak kaki Viṣṇu, tertahan di jaṭā Śiva, mengalir berkat tapa Bhāgīratha—kesuciannya sebagai batas suci ditegaskan. Tiba di Śṛṅgiberapura, Rāma memilih berkemah di dekat pohon ingudī. Guha, raja Niṣāda dan sahabat karib, datang menyambut dengan hormat dan menawarkan kerajaannya; namun Rāma menolak pemberian demi disiplin pertapaan, hanya memohon pakan dan air bagi kuda-kuda Daśaratha. Malam berlalu dengan Guha berjaga tanpa lengah, menonjolkan persahabatan, pengendalian diri, dan kewajiban melindungi di ambang rimba.
अयोध्याकाण्डे एकपञ्चाशः सर्गः — Guha’s Vigil and Lakṣmaṇa’s Lament (Night on the riverbank)
Sarga ini menggambarkan suasana malam di perkemahan pengasingan, ketika kewaspadaan dan duka berpadu. Guha terharu melihat Lakṣmaṇa berjaga tanpa tidur demi keselamatan Śrī Rāma. Ia menawarkan tempat tidur yang telah disiapkan dan berikrar, bersama para kerabatnya, akan menjaga dengan senjata—menegaskan persahabatan (sauhṛda) sebagai kewajiban etis dan dharmis. Namun Lakṣmaṇa menolak kenyamanan. Baginya tiada yang lebih tercinta daripada Rāma; selama Rāma berbaring di atas rumput bersama Sītā, tidur dan kenikmatan duniawi mustahil baginya. Ratapannya lalu berubah menjadi ramalan moral-politik: ia membayangkan Daśaratha dapat wafat karena hasrat penobatan yang tak terpenuhi, mengkhawatirkan runtuhnya keteguhan Kauśalyā, dan membayangkan Ayodhyā menjadi sunyi setelah keletihan dan perkabungan. Sebagai kontras, terselip sejenak gambaran kemakmuran Ayodhyā yang meriah dan tertib, sehingga tragedi terasa makin tajam karena tatanan kota yang ideal segera diselimuti duka. Malam berlalu dengan Lakṣmaṇa tetap berduka; Guha, mendengar kisah yang benar demi kesejahteraan rakyat, turut menangis—persahabatan menjadi saluran kepedihan bersama dan solidaritas dalam dharma.
गङ्गातरणम्, सुमन्त्र-प्रतिनिवर्तनम्, जटाधारणम् (Crossing the Gaṅgā; Sumantra’s Return; Adoption of Ascetic Signs)
Sarga 52 menandai ambang antara tatanan sipil Ayodhyā dan tata hidup hutan yang berlandaskan vrata (laku suci). Saat fajar, Rāma memulai perjalanan menuju Gaṅgā dan mengarahkan Lakṣmaṇa, Sītā, serta para pengiring dengan ketegasan yang tertib. Ia lalu memulangkan Sumantra dengan kasih namun tegas: layani Daśaratha tanpa lalai, panggil Bharata untuk meneguhkan urusan suksesi, dan berlaku adil kepada semua permaisuri—terutama memuliakan Kauśalyā. Duka Sumantra menjadi pertanda duka kota ketika kereta kembali kosong. Ia memohon diizinkan ikut bersama para pembuang, bahkan mengancam membakar diri; Rāma menenangkannya dengan kebijaksanaan kenegaraan—Kaikeyī harus diyakinkan bahwa pembuangan ini sungguh terjadi. Guha menyediakan perahu. Rāma memohon hidup berorientasi pertapaan dan mengenakan tanda asketis dengan mengikat rambut menjadi jaṭā menggunakan getah beringin; Lakṣmaṇa pun melakukan hal yang sama. Mereka menyeberangi Gaṅgā yang berarus deras; Sītā mempersembahkan doa-nazar kepada dewi sungai, berjanji akan memuja kembali setelah pulang dengan selamat. Sesampainya di tepi selatan, Rāma menetapkan tata perlindungan: Lakṣmaṇa di depan, Sītā di tengah, dan Rāma di belakang—menegaskan etika perjalanan rimba yang disiplin dan saling menjaga.
पञ्चाशत्तमः सर्गः (Sarga 53) — Rāma’s Lament, Vigil for Sītā, and Lakṣmaṇa’s Consolation
Sarga ini menggambarkan malam pertama di luar permukiman, ketika pembuangan menjadi peralihan yang bersifat ritual sekaligus ujian etika. Setelah mencapai sebuah pohon, Rāma menunaikan sandhyā (sembahyang senja) arah barat, lalu memerintahkan Lakṣmaṇa berjaga pada malam hari, sebab keselamatan dan kesejahteraan (yogakṣema) Sītā bergantung pada kewaspadaan mereka. Walau layak menikmati kemewahan raja, Rāma berbaring di tanah dan merenungkan Ayodhyā: derita Daśaratha, ambisi Kaikeyī, serta masa depan politik ketika Bharata mungkin memerintah sebagai pemimpin tunggal. Rāma menyampaikan pelajaran tentang tata pemerintahan: bila kāma (nafsu/keinginan) mengalahkan artha dan dharma, raja yang meninggalkan kebenaran demi kesenangan akan cepat jatuh—sebagaimana kehancuran Daśaratha saat ini. Ratapannya lalu menjadi lebih pribadi: ia cemas akan Kauśalyā dan Sumitrā, mengusulkan agar Lakṣmaṇa kembali melindungi para ibu, dan menyesali dirinya karena membuat Kauśalyā berduka pada saat buah harapan seharusnya diraih. Pada puncaknya, Rāma menegaskan etika pengendalian diri: ia menyatakan mampu menundukkan Ayodhyā bahkan bumi dengan panah, namun menolak mempertontonkan kekuatan tanpa tujuan, dan menolak penobatan karena takut pada adharma serta demi kebaikan alam baka. Ketika Rāma terdiam dengan air mata, Lakṣmaṇa meneguhkan kesetiaan dan menghibur—Ayodhyā tanpa Rāma bagaikan malam tanpa bulan, dan baik ia maupun Sītā tak dapat hidup terpisah dari Rāma. Ketiganya kemudian beristirahat di ranjang yang disiapkan di bawah pohon beringin (nyagrodha); Rāma menerima tekad Lakṣmaṇa untuk menjalani seluruh masa hutan sesuai dharma pertapaan. Di rimba sunyi, kedua saudara itu tetap tanpa takut, laksana singa.
भरद्वाजाश्रमप्राप्तिः — Arrival at Bharadvāja’s Hermitage and Counsel toward Citrakūṭa
Sarga 54 menggambarkan peralihan dari perjalanan menuju percakapan di pertapaan di Prayāga, wilayah pertemuan suci Sungai Gaṅgā dan Yamunā. Setelah bermalam dengan pertanda baik di bawah pohon besar, Rāma, Sītā, dan Lakṣmaṇa menembus hutan luas menuju sangam, menyaksikan bentang alam yang asing namun memikat. Melihat asap kurban, mereka menyimpulkan ada pemukiman para pertapa di dekatnya, dan menjelang senja tiba di āśrama Bhagavān Bharadvāja. Ketiganya menunggu dengan hormat dari kejauhan, lalu masuk dan bersujud kepada sang resi—digambarkan teguh dalam tapa, tekun menjalankan agnihotra, dan tajam wawasan rohaninya. Rāma memperkenalkan diri beserta Sītā dan Lakṣmaṇa, menjelaskan sebab pembuangan, serta niat hidup sesuai dharma dengan memakan umbi dan buah. Bharadvāja menyambut sebagai tamu suci, mempersembahkan arghya, air, bekal, dan tempat beristirahat; para murid, pertapa, dan makhluk hutan turut memuliakan kedatangan mereka. Dalam dialog, Bharadvāja menyarankan mereka tinggal nyaman dekat sangam, namun Rāma menolak karena khawatir banyak orang dari permukiman sekitar akan datang berkunjung, dan memohon tempat yang lebih sunyi demi kenyamanan Sītā. Sang resi lalu menganjurkan Gunung Citrakūṭa yang termasyhur, berjarak sepuluh krośa, memuji kesuciannya, kelimpahan alamnya, serta pemandangannya yang mengangkat budi. Ia mengizinkan mereka berangkat saat fajar dan menegaskan Citrakūṭa sebagai tempat tinggal hutan yang paling layak.
चित्रकूटमार्गोपदेशः — Instructions for the Chitrakuta Route and the Yamuna Crossing
Setelah bermalam di pertapaan Bharadvāja, Rāma dan Lakṣmaṇa bersujud hormat. Sang resi memberi petunjuk jalan yang rinci menuju Citrakūṭa: capailah pertemuan Gaṅgā–Yamunā, lalu berjalan menyusuri Kālindī (Yamunā) yang mengalir ke arah barat, temukan tempat penyeberangan kuno, buat rakit, dan menyeberang. Ia juga menunjukkan sebuah nyagrodha (beringin) yang termasyhur, diyakini menjadi tempat kehadiran para siddha, serta menganjurkan agar Sītā memanjatkan seruan dan doa yang membawa keberkahan di sana. Petunjuk itu segera dilaksanakan. Kedua saudara menyusun rakit besar dari gelondongan kayu yang diikat, dilapisi bambu, dan ditutup rumput uśīra; Lakṣmaṇa menyiapkan tempat duduk yang nyaman. Rāma menuntun Sītā yang malu-malu naik ke rakit, lalu menata pakaian, perhiasan, peralatan, serta senjata. Di tengah arus, Sītā memberi hormat kepada sungai dan bernazar akan bersembahyang kembali bila kelak pulang dengan selamat; mereka pun tiba di tepi selatan. Sesudah menyeberang, Sītā mengelilingi beringin itu dan berdoa agar tekad Rāma terpenuhi serta dapat berjumpa lagi dengan Kauśalyā dan Sumitrā. Rāma kemudian memerintahkan Lakṣmaṇa berjalan di depan bersama Sītā, memenuhi rasa ingin tahunya tentang tumbuh-tumbuhan, sementara ia mengikuti dari belakang dengan senjata. Sarga ini ditutup dengan kegembiraan Sītā memandang keindahan Yamunā, kedua saudara mencari hasil hutan, dan memilih tempat tinggal yang layak di tepi sungai—memadukan dharma, isyarat ritual, dan ketepatan arah perjalanan.
चित्रकूटगमनम् तथा पर्णशालाप्रवेशः (Arrival at Chitrakuta and Establishing the Leaf-Hut)
Setelah malam berlalu, Rama membangunkan Laksmana dengan lembut dan memberi isyarat untuk berangkat, seraya mengajak peka pada bunyi-bunyi hutan yang membawa pertanda baik. Mengikuti jalan yang ditunjukkan sang resi (Bhāradvāja), mereka menuju Citrakūṭa. Rama menunjukkan kepada Sita kemeriahan musim—pepohonan berbunga, sarang madu, kicau burung, dan jejak gajah—sehingga alam itu tampak sebagai tempat berlindung sekaligus ruang hidup yang menuntun pada disiplin tapa. Sesampainya di gunung Citrakūṭa, Rama menilai tempat itu layak dihuni karena tersedia air, umbi-umbian, buah-buahan, serta kehadiran para resi agung. Mereka mendekati pertapaan Vālmīki, menyampaikan penghormatan, lalu disambut dan dipersilakan duduk. Rama kemudian memerintahkan Laksmana membangun pondok daun yang kokoh. Setelah selesai, Rama menetapkan upacara penenteraman vāstu dan pemujaan dewa penjaga rumah: persembahan daging rusa, pelafalan mantra, mandi suci, serta bali bagi para dewa—Viśvadeva, Rudra, dan Viṣṇu. Ia menata altar dan tempat api suci sebagaimana layaknya sebuah pertapaan, menenteramkan makhluk-makhluk dengan persembahan hutan, lalu ketiganya masuk ke pondok bersama, laksana para dewa memasuki Sudharmā, dan tinggal dengan tenteram di rimba yang subur.
सप्तपञ्चाशः सर्गः — Sumantra’s Return to Ayodhya and the Palace’s Lament
Sarga ini membawa kisah kembali ke Ayodhyā melalui pandangan Sumantra, setelah ia diizinkan berpisah dari Śrī Rāma di tepi Sungai Gaṅgā. Guha, yang mengantar dan berbincang dengan Sumantra hingga Rāma mencapai tebing selatan, pulang ke negerinya dengan hati remuk. Sumantra segera menempuh perjalanan pulang, melewati hutan, sungai, danau, desa, serta kota-kota, lalu pada hari ketiga saat senja tiba di Ayodhyā dan mendapati kota itu sunyi serta muram. Orang banyak berkerumun mendatanginya sambil bertanya, “Di manakah Rāma?” Warga kota meratap karena mereka takkan lagi melihat pangeran yang saleh itu dalam yajña, pernikahan, sidang-sidang, dan pertemuan derma; mereka mengenang cara Rāma memerintah laksana ayah bagi rakyat. Memasuki istana, Sumantra melewati pelataran yang penuh sesak; para wanita di rumah-rumah besar dan kediaman istana menangis dengan mata banjir air mata, sementara di antara para permaisuri Daśaratha terdengar bisik-bisik tentang betapa sulitnya menyampaikan kabar kepada Kausalyā. Akhirnya Sumantra bertemu Raja Daśaratha dan menyampaikan pesan Rāma kata demi kata. Daśaratha, dilanda duka yang tak tertahankan, pingsan dan jatuh. Ruang dalam istana pun pecah oleh ratapan; Kausalyā, dibantu Sumitrā, mengangkat sang raja yang terjatuh, mendorongnya agar tanpa gentar menanyai utusan (karena Kaikeyī tidak hadir), lalu Kausalyā sendiri roboh—membangkitkan kembali gelombang dukacita di seluruh Ayodhyā.
अष्टपञ्चाशः सर्गः (Sarga 58) — Daśaratha Questions Sumantra; Messages from the Forest Threshold
Setelah siuman, Raja Daśaratha memanggil Sumantra untuk memperoleh kabar yang tepat tentang Rāma. Dalam duka yang menyesakkan, sang raja menanyakan rincian yang sangat konkret—di mana Rāma duduk, tidur, dan apa yang dimakannya—seolah kisah yang nyata dapat menggantikan kehadiran. Sumantra datang dengan tangan terkatup, menggambarkan Daśaratha sebagai tua, berdebu, dan menghela napas seperti gajah yang baru tertangkap, menandai runtuhnya wibawa kerajaan lewat gambaran tubuh. Sumantra menyampaikan perilaku dharmis Rāma di ambang hutan. Dengan añjali dan kepala tertunduk, Rāma berpesan agar salam hormat dan kabar kesejahteraan disampaikan ke istana dalam, terutama kepada Kausalyā: tetap tekun dalam tata upacara harian, melayani Daśaratha laksana dewa, bersikap rendah hati di antara para permaisuri, serta menjaga hubungan dengan Kaikeyī dengan hati-hati. Tentang Bharata, Rāma menegaskan rājadharma: perlakukan dia sebagai raja, sampaikan kabar baik, hormati semua ibu secara setara, dan patuhi titah raja yang telah lanjut usia. Kemudian tersiar kemarahan Lakṣmaṇa dan protes moralnya atas pembuangan itu, sementara Sītā mula-mula terpaku lalu menangis ketika Sumantra berangkat. Sarga ditutup dengan gambaran perpisahan: Rāma menangis dengan tangan terkatup, ditopang Lakṣmaṇa, dan Sītā menatap kereta kerajaan—duka pribadi yang menyatu dengan etika kewajiban.
एकोनषष्ठितमः सर्गः (Sarga 59): सुमन्त्रवाक्यं, अयोध्याविषादः, दाशरथिशोकसागरः
Sarga 59 melanjutkan laporan Sumantra kepada Raja Daśaratha setelah Rāma dan Lakṣmaṇa, mengenakan busana pertapa, menyeberangi Sungai Gaṅgā dan melanjutkan perjalanan menuju Prayāga. Sang sais menceritakan kepulangannya yang tak berdaya: Lakṣmaṇa berjaga melindungi Rāma, kuda-kuda enggan menempuh jalan pulang seakan meneteskan “air mata panas”, dan Sumantra menanti bersama Guha dengan harapan dipanggil kembali, namun akhirnya harus kembali ke Ayodhyā. Kemudian tampak duka yang meliputi semesta—pepohonan, sungai, telaga, hutan, dan taman seolah layu atau terasa panas, seakan negeri dan alam turut memantulkan malapetaka yang menimpa Rāma. Saat memasuki Ayodhyā tanpa Rāma, Sumantra menyaksikan ratap tangis di mana-mana: tiada sambutan, helaan napas berulang, perempuan menangis dari rumah-rumah besar dan istana, dan kesedihan yang sama merata pada kawan, lawan, maupun rakyat yang netral. Daśaratha, dengan suara tersendat oleh tangis, menuduh dirinya sendiri: ia bertindak tergesa “demi seorang perempuan”, tanpa musyawarah. Ia menyalahkan hasutan Kaikeyī dan mengingat daya takdir yang merusak, lalu memohon kepada Sumantra agar membawanya kepada Rāma (dan Sītā), sebab ia merasa tak sanggup hidup walau sesaat tanpa memandang mereka. Sarga ini memuncak pada perumpamaan “samudra duka”—Kaikeyī laksana mulut api kuda betina (vadavānala), kata-kata Mantharā bagaikan buaya, dan air mata menjadi buih—hingga Daśaratha jatuh pingsan, sementara Kausalyā kembali dicekam ketakutan.
षष्टितमः सर्गः — Kausalyā’s Lament and Sumantra’s Consolation (Sītā’s Fearless Forest-Life)
Sarga ini menampilkan dialog yang digerakkan oleh duka. Ratu Kausalyā, tubuhnya lemah dan gemetar, berbicara kepada kusir Sumantra dan menuntut agar segera diantar kepada Rāma, Sītā, dan Lakṣmaṇa, sebab ia merasa tak akan sanggup hidup dalam perpisahan. Sumantra menyahut dengan tangan terkatup, menenangkan dengan susunan kata yang penuh hormat. Ia meminta sang ratu meninggalkan keputusasaan, menjelaskan kehidupan Rāma di hutan sebagai keteguhan berprinsip dan ketabahan dalam dharma, serta menggambarkan pengabdian Lakṣmaṇa sebagai kewajiban dharma yang disiplin dan berbuah pahala rohani. Lalu ia memuji sikap Sītā: ia tidak tampak murung, merasa tenteram di hutan sunyi seolah di rumah; dengan riang bertanya tentang desa, sungai, dan pepohonan; dan hatinya terpusat pada Rāma sehingga Ayodhyā tanpa beliau terasa seperti rimba. Sumantra menegaskan sinar Sītā yang tak pudar meski menempuh perjalanan berat—diibaratkan teratai dan rembulan—kakinya tanpa perhiasan namun bercahaya, dan ia melangkah tanpa takut di tengah binatang buas karena berada dalam lindungan Rāma. Sarga ditutup dengan penegasan bahwa laku mulia ini akan termasyhur sepanjang masa, namun duka keibuan Kausalyā tetap berulang dalam ratapannya memanggil putra tercinta.
कौसल्याविलापः — Kausalya’s Lament and Ethical Analogies on Kingship
Dalam sarga ini, setelah Rama berangkat ke hutan, Kausalya diliputi duka yang amat dalam dan meluapkan rangkaian kata-kata pilu kepada Dasaratha. Ia mula-mula mempertanyakan bagaimana Rama, Sita, dan Laksmana akan sanggup menanggung derita hidup di rimba—kelembutan Sita yang terbiasa kemewahan istana, makanan liar, sengatan dingin dan panas, serta ancaman suara auman singa dan kesukaran lainnya. Lalu ia menyebut keputusan Dasaratha sebagai perbuatan tanpa belas kasih, seraya menegaskan bahwa Rama dan para kekasihnya layak memperoleh kebahagiaan. Dengan menyatakan bahwa Bharata mustahil melepaskan kerajaan, Kausalya mengemukakan berbagai perumpamaan etis: seperti dalam upacara sraddha tidak patut memberi makan keluarga dahulu lalu baru mencari brahmana utama; brahmana mulia menolak “makan belakangan”; harimau tidak memakan sisa buruan yang ditinggalkan pihak lain; sarana yajna tidak boleh dipakai ulang; dan kerajaan yang telah “dinikmati orang lain” patut ditolak, bagaikan minuman yang telah hilang sarinya atau yajna tanpa soma yang menjadi hampa. Melalui itu ia menyingkap harga diri dan keteguhan dharma Rama—Rama tak menoleransi penghinaan, dalam murka dapat meremukkan gunung, namun demi hormat kepada ayah ia tidak sanggup mencelakai Dasaratha. Di akhir sarga ditegaskan kaidah sandaran bagi perempuan (suami–putra–kerabat), dan tampak pula rasa ditinggalkan serta dorongan putus asa dalam hati Kausalya.
अयोध्याकाण्डे द्विषष्टितमः सर्गः — Kausalyā consoles Daśaratha; grief, remorse, and nightfall
Sarga 62 menampilkan suasana batin di dalam istana yang sarat pertimbangan dharma. Setelah ucapan Kausalyā yang keras—lahir dari amarah dan duka—Daśaratha terguncang, jatuh pingsan, lalu sadar kembali dengan helaan napas panas. Di samping kesedihan karena berpisah dari Rāma, timbul pula penyesalan lama: ingatan tentang perbuatan dosa ketika ia tanpa sengaja membunuh putra seorang resi dengan panah śabdavedhin (membidik berdasarkan suara). Maka bertumpuklah beban rasa bersalah dan kehilangan. Dengan tubuh gemetar dan wajah tertunduk, Daśaratha memohon kepada Kausalyā dengan kedua tangan terkatup: bagi perempuan yang berpegang pada dharma, suami tampak laksana dewa yang nyata; karena itu janganlah mengucapkan kata pahit kepada seseorang yang sudah diliputi duka. Hati Kausalyā pun beralih dari marah menjadi welas asih; ia menangis deras, mengangkat anjali di atas kepala, dan memohon ampun, mengakui bahwa duka karena anak membuatnya berkata tidak patut. Ia lalu menyampaikan upadeśa tentang śoka: duka menghancurkan keteguhan, pengetahuan, dan segala kestabilan; ia musuh terbesar, lebih sukar ditahan daripada pukulan musuh. Bahkan pertapa dan orang bijak pun dapat tersesat ketika batin tenggelam dalam duka. Lima malam pembuangan terasa baginya seperti lima tahun, dan kesedihannya yang membesar diibaratkan samudra yang naik oleh derasnya aliran sungai. Ketika kata-kata yang menyentuh hati itu terucap, sinar matahari memudar dan malam tiba; Daśaratha sempat terhibur, namun tetap dikuasai duka dan akhirnya terlelap.
दशरथस्य शोकानुचिन्तनं शब्धवेधि-दोषस्मरणं च (Daśaratha’s grief, karmic reflection, and the remembered ‘śabdavedhī’ misdeed)
Dalam sarga ini, Daśaratha terjaga setelah pengasingan Rāma dan pikirannya dikuasai duka. Ia berkata kepada Kausalyā tentang hukum karma-phala: pelaku pasti menerima buah perbuatannya, dan orang yang memulai tindakan tanpa menimbang manfaat dan cela adalah seperti kanak-kanak. Ia mengibaratkan orang yang menebang pohon mangga namun menyirami palāśa (kiṃśuka), lalu menyesal saat musim buah—dan ia mengakui dirinya demikian karena menyingkirkan Rāma tepat ketika saat “berbuah” telah tiba. Kemudian raja mengenang kesalahan lama. Pada musim hujan ia pergi berburu di tepi Sarayū, menunggu di tempat orang mengambil air dalam gelap, dan karena tertipu oleh bunyi ia melepaskan panah ke arah yang disangkanya gajah. Teriakan yang menyusul menyatakan bahwa ia telah melukai seorang pemuda pertapa yang datang menimba air bagi orang tuanya yang tua dan buta. Pemuda yang sekarat meratap atas kekerasan yang tak adil terhadap seorang renunciant, dan terutama berduka memikirkan penderitaan orang tuanya. Ia memohon Daśaratha meminta ampun kepada mereka agar terhindar dari kutuk, serta meminta panah itu dicabut. Daśaratha tersiksa oleh dilema—dibiarkan menambah sakit, dicabut mempercepat maut—namun ketika panah ditarik, pemuda itu wafat. Kisah ini menjadi sebab karmis yang menerangkan kejatuhan Daśaratha pada masa kini.
शब्दवेध्य-अनर्थः, ऋषिशापः, दशरथस्य प्राणत्यागः (The Sound-Target Tragedy, the Sage’s Curse, and Dasaratha’s Death)
Dalam sarga ini, Raja Dasaratha meratap penuh belas kasih di hadapan Kausalya dan mengakui dosa yang timbul dari latihan lamanya, ‘sabda-vedhi’ (membidik berdasarkan bunyi). Di tepi Sungai Sarayu, ia mengira suara air saat kendi diisi sebagai suara gajah, lalu melepaskan panah; ternyata yang terkena adalah putra seorang pertapa. Melihat sang pemuda terbaring menjelang ajal, Dasaratha mencabut anak panah itu dan kemudian menghadapi ayah-ibu yang tua, buta, serta menyaksikan ratap duka mereka, perpisahan terakhir, dan permohonan terakhir sang putra. Sang resi berbicara menurut dharma dan keadilan: karena perbuatan itu terjadi tanpa sengaja, dosa berat seperti brahmahatya tidak serta-merta menimpa; namun ia menjatuhkan kutuk bahwa sang raja kelak akan wafat dalam duka yang sama—duka karena kehilangan putra. Pasangan resi naik ke perabuan dan menuju surga, sementara putra resi berwujud mulia naik ke surga bersama Sakra. Kutuk itu kini berbuah laksana vipaka karma: dilanda pedihnya perpisahan dari Rama, Dasaratha merasakan kemerosotan daya indria dan runtuhnya keteguhan batin. Menganggap tiadanya darśana Rama sebagai dukacita paling berat, di hadapan Kausalya dan Sumitra, setelah lewat tengah malam ia melepaskan napas terakhirnya.
अयोध्याकाण्डे पञ्चषष्टितमः सर्गः — Daśaratha’s Death Discovered in the Palace (Morning Rites Turn to Lament)
Sarga 65 menggambarkan perubahan mendadak dari tata upacara pagi menjadi tragedi di dalam istana. Saat fajar, sesuai protokol kerajaan, para pemuji, sūta (juru kisah/penyair istana), penyanyi, dan para pelayan datang melantunkan berkat-berkat auspisius, memenuhi istana dengan pujian, musik, dan bunyi suci. Persiapan mandi pun disusun menurut tradisi: air beraroma cendana kuning, bejana-bejana, lulur dan minyak, serta persembahan bagi pancaindra—semuanya tertata rapi dan bermutu. Namun Raja Daśaratha tidak juga menampakkan diri. Para pelayan menunggu hingga matahari terbit; kegelisahan berubah menjadi kecurigaan. Para wanita penjaga ranjang mendekati kamar Daśaratha dengan penuh kehati-hatian, menyentuh pembaringan, dan tidak menemukan tanda kehidupan; mereka gemetar ketika sangkaan menjadi kepastian. Bagian dalam istana pun pecah oleh ratap tangis. Kausalyā dan Sumitrā terbangun oleh jerit itu, menyentuh sang raja dan roboh dalam duka. Para permaisuri lain, dipimpin Kaikeyī, juga jatuh pingsan. Istana yang semula bergema oleh sanjungan kini bergaung oleh tangisan—tanda runtuhnya sukacita di hadapan umum dan awal perkabungan bersama.
अयोध्यायां शोकविलापः — Lamentation in Ayodhya after Daśaratha’s death
Sesudah Daśaratha naik ke surga, Ayodhyā diliputi ratap yang pekat. Kausalyā, tenggelam dalam duka, mengangkat kepala raja ke pangkuannya dan menegur Kaikeyī dengan ratapan yang menuduh. Ia menggambarkan bencana itu dengan perumpamaan yang tajam: api yang padam, samudra tanpa air, dan matahari tanpa cahaya. Ratapannya meluaskan lingkar derita: kerentanan Sītā menghadapi kengerian hutan, serta kemungkinan Janaka roboh oleh kesedihan. Kausalyā bahkan menyatakan tekad putus asa untuk masuk ke api bersama jasad suaminya, menampakkan puncak pedihnya duka seorang permaisuri. Para dayang menahan dan menuntunnya pergi. Atas petunjuk para sesepuh, para menteri menjaga jenazah raja dalam palung berisi minyak dan menunda upacara kematian sampai seorang putra hadir—penegasan tata-ritual dinasti. Para wanita istana meratap bersama, dan kota Ayodhyā digambarkan redup serta kacau, laksana malam tanpa bulan atau siang tanpa matahari. Perasaan rakyat beralih menjadi kecaman terhadap Kaikeyī, menunjukkan bagaimana keputusan istana menggema menjadi trauma kota dan penilaian moral.
अयोध्यायां शोक-रात्रिः तथा अराजक-राष्ट्रस्य नीतिविचारः (The Night of Lamentation in Ayodhya and the Political Ethics of a Kingless Realm)
Dalam sarga ini, malam di Ayodhya digambarkan sebagai “ākrandita-nirānandā”, malam ratap dan tanpa sukacita. Setelah wafatnya Raja Daśaratha dan karena Śrī Rāma menjalani pembuangan ke hutan, seluruh kota diliputi duka; tangis terdengar di mana-mana dan hati rakyat guncang. Pagi harinya, para dvijāti yang bertugas dalam upacara penobatan memasuki sidang. Di hadapan Vasiṣṭha, purohita kerajaan, para brāhmaṇa seperti Mārkaṇḍeya beserta para menteri menyampaikan pendapat masing-masing dan menimbang bahaya keadaan “tanpa raja”. Ajaran utamanya: tanpa kekuasaan raja, tatanan sosial runtuh—keteraturan hujan, pertanian, keamanan harta, penegakan keadilan, kelangsungan yajña, budaya perayaan dan saṁskāra, keselamatan jalur dagang, serta daya tangkal militer, semuanya merosot satu demi satu. Rangkaian perumpamaan—sungai tanpa air, hutan tanpa rumput, sapi tanpa gembala—menegaskan hakikat raja sebagai “pelindung” negeri. Pada akhirnya ditegaskan bahwa raja adalah sumber satya dan dharma, penyejahtera laksana ibu dan ayah bagi rakyat. Karena itu Vasiṣṭha dimohon menobatkan seorang pangeran dari wangsa Ikṣvāku (sebelum kedatangan Bharata) agar kerajaan kembali tegak.
दूतप्रेषणम् — Dispatch of Messengers to Kekaya (Bharata’s Recall)
Sarga ini menggambarkan tanggapan istana setelah musyawarah: Maharsi Vasiṣṭha, setelah mendengar para menteri dan brahmana, memerintahkan segera pengutusan duta untuk memanggil Bharata dan Śatrughna dari negeri Kekaya, kerajaan paman dari pihak ibu. Ia memanggil para utusan yang telah ditentukan—Siddhārtha, Vijaya, Jayanta, Aśoka, dan Nandana—serta menetapkan tata cara yang tegas: berangkat cepat ke Rājagṛha (ibu kota Kekaya), menyembunyikan tanda duka, menyampaikan salam sejahtera dari purohita dan para menteri, dan mendesak Bharata agar segera pulang untuk “urusan yang sangat mendesak.” Ada batas komunikasi yang penting: para utusan dilarang memberitahukan kepada Bharata tentang pembuangan Rāma ke hutan, wafatnya Daśaratha, maupun kemerosotan yang menimpa wangsa Raghu. Ini menunjukkan kebijakan menahan informasi demi mencegah guncangan dan menjaga kestabilan kerajaan. Para utusan dibekali keperluan perjalanan serta hadiah—busana sutra dan perhiasan—bagi raja Kekaya dan bagi Bharata, sesuai tata krama diplomatik. Perjalanan mereka dipaparkan melalui penanda-penanda wilayah India Utara: menyeberangi Gaṅgā di Hastināpura, melintasi Kuru-jāṅgala menuju Pāñcāla, menyeberangi sungai Mālinī, Śaradandā, Ikṣumatī, Vipāśā, dan Śālmalī. Mereka melewati gunung Sudāmā, tempat terlihat jejak kaki Viṣṇu, lalu tiba di Girivraja pada malam hari—menegaskan dharma tugas, kecepatan, dan ketelitian rute.
भरतस्य दुःस्वप्नदर्शनम् — Bharata’s Ominous Dream
Sarga 69 menampilkan krisis batin Bharata melalui rangkaian mimpi buruk yang bertepatan dengan tibanya para utusan di kota. Menjelang fajar, Bharata gelisah oleh mimpi yang memperlihatkan ayahnya, Daśaratha, berada dalam keadaan tercemar dan melakukan hal-hal yang tidak mujur: jatuh dari gunung ke kubangan kotoran sapi, mengapung sambil meminum minyak, memakan nasi bercampur wijen, serta berulang kali menyelam dengan kepala lebih dulu ke dalam minyak sementara tubuhnya dilumuri. Mimpi itu lalu meningkat menjadi pembalikan tanda-tanda kosmis dan lambang kerajaan—laut mengering, bulan jatuh, bumi menggelap, gading gajah kerajaan patah, api tiba-tiba padam, tanah terbelah, pepohonan mengering, dan gunung-gunung runtuh berasap—seakan ketertiban alam dan tata negara sama-sama terguncang. Ia juga melihat raja berpakaian hitam duduk di singgasana besi, diejek perempuan berkulit gelap; kemudian sang raja, berhias kalung dan olesan merah, melaju ke selatan dengan kereta yang ditarik keledai, hingga akhirnya diseret oleh rākṣasī mengerikan berwarna merah. Bharata menafsirkan mimpi itu sebagai pertanda kematian dan takut hal itu menimpa dirinya, Rāma, sang raja, atau Lakṣmaṇa. Ia menyebut kaidah mimpi tertentu: melihat seseorang menunggang kendaraan yang ditarik keledai menandakan asap kremasi yang segera tampak. Para sahabat mencoba mengalihkan hati dengan musik, tari, drama, dan kelakar, namun Bharata tetap terguncang—tenggorokan kering, suara pecah, wajah layu, timbul rasa jijik pada diri tanpa sebab jelas—dan ketakutan bertahan karena kehadiran raja dalam penglihatan itu terasa “tak terselami.”
भरतस्य दूतसमागमः तथा केकयराजनः अनुज्ञा (Bharata Meets the Messengers; Kekaya King Grants Leave)
Sarga 70 menampilkan peralihan dari Kekaya menuju Ayodhyā yang tampak tertib, namun sarat getaran batin. Bharata menceritakan mimpi yang terasa pertanda buruk; pada saat itu para utusan berkuda dari Ayodhyā tiba di kota Rājagṛha yang dijaga parit. Raja Kekaya dan pangeran Yuddhājit memuliakan para utusan, lalu mereka dengan hormat menyampaikan pesan kepada Bharata. Bharata menanyakan kabar keluarga dengan penuh perhatian—tentang Daśaratha, Rāma, Lakṣmaṇa, serta para permaisuri Kausalyā, Sumitrā, dan Kaikeyī—menunjukkan kepeduliannya pada kesehatan, dharma, dan ketenteraman rumah tangga. Para utusan mendesak agar Bharata segera kembali karena ada urusan negara yang sangat mendesak; mereka juga menyerahkan barang-barang berharga yang ditujukan bagi raja Kekaya dan Yuddhājit. Bharata menerimanya dan membalas dengan penghormatan yang layak kepada para utusan. Karena keadaan mendesak, Bharata memohon izin kepada kakek dari pihak ibu. Sang raja mengizinkan keberangkatan, memuji Bharata sebagai putra Kaikeyī yang pantas, serta mengirim salam hormat kepada Vasiṣṭha dan para pangeran. Terjadi pertukaran hadiah yang luas—gajah, kuda, emas, kain, kulit, bahkan anjing-anjing istana—namun Bharata tidak merasakan sukacita; kegelisahan bertambah oleh mimpi dan tergesa-gesanya para utusan. Sarga ditutup dengan keberangkatan Bharata bersama Śatrughna, dikawal pasukan, disertai para menteri dan iring-iringan besar—sebuah mobilisasi yang tampak mujur, tetapi dibayangi firasat muram.
भरतस्य अयोध्याप्रत्यागमनम् — Bharata’s Return Journey and the Distant Sight of Ayodhya
Sarga 71 menggambarkan perjalanan Bharata mendekati Ayodhyā dengan urutan tempat yang padat, lalu beralih menjadi potret batin-kota yang sedang dilanda duka. Berangkat dari Rājagṛha dan bergerak ke arah timur, Bharata mengamati serta menyeberangi beberapa sungai—Sudāmā, Hlādinī, dan Śatadrū yang luas berombak (mengalir ke barat)—kemudian menyeberang lagi di tempat-tempat bernama Elādhāna, Sarvatīrtha, dan Lauhitya. Disebut pula sarana perjalanan yang nyata—kuda dari perbukitan dan tunggangan gajah—seraya mencatat sungai-sungai seperti Uttānikā, Kuṭikā, dan Kapīvatī, sehingga kisah ini menjadi semacam peta perjalanan. Ketika Ayodhyā tampak dari kejauhan—termashyur dengan tanahnya yang putih, taman-tamannya, dan para ahli Weda pelaksana upacara—suasana berubah. Bharata menangkap tanda-tanda tidak baik di rumah-rumah dan tempat suci: rumah tampak tak tersapu dan terabaikan, pintu-pintu tidak terkunci, persembahan serta dupa tidak terlihat; keluarga-keluarga kelaparan, dan orang-orang menangis, kurus, serta tenggelam dalam kesedihan. Bab ini memperhadapkan citra ideal ibu kota yang semarak oleh ritus dengan kenyataan terhentinya irama keagamaan dan rumah tangga, menjadikan kemunduran kota sebagai penanda retaknya tatanan raja dan dharma.
भरतस्य मातृसदनगमनं कैकेय्या दारुणवृत्तान्तकथनं च (Bharata in Kaikeyi’s apartments: revelation of Daśaratha’s death and Rāma’s exile)
Sarga 72 dibuka dengan Bharata mencari Raja Daśaratha di kediaman istana, namun tidak menemukannya. Dengan harapan menerima sambutan dan restu seorang ayah sebagaimana adat, ia menuju ke kediaman dalam Kaikeyī. Di sana ia melihat pertanda ganjil: dipan yang kosong, para pelayan yang muram, dan hilangnya kesibukan kerajaan. Bharata pun mendesak Kaikeyī agar menjelaskan dengan tepat mengapa ia dipanggil dan di mana sang raja berada. Didorong ambisi politik, Kaikeyī menyampaikan kabar mengerikan: Daśaratha telah wafat, meratap memikirkan Rāma, Sītā, dan Lakṣmaṇa. Bharata jatuh tersungkur dalam duka, menangis, dan meratapi hilangnya sentuhan kasih ayahnya. Ia lalu menanyakan pesan terakhir raja, dan demi menjaga kemurnian nama Rāma, ia bertanya tegas apakah Rāma pernah berbuat salah—melukai siapa pun, mencuri, atau menginginkan istri orang lain. Kaikeyī menolak adanya kesalahan pada Rāma dan mengakui terus terang bahwa dialah yang menuntut kerajaan bagi Bharata serta pembuangan Rāma; setelah itu Daśaratha wafat karena sedih. Ia mendesak Bharata melaksanakan upacara kematian dan menerima penobatan, seakan-akan kota dan kerajaan kini bergantung padanya—ajakan yang kelak menjadi latar bagi penolakan bermoral Bharata dan kesetiaannya pada hak Rāma yang sah.
भरतस्य कैकेय्याः प्रति धिक्कारः — Bharata’s Rebuke of Kaikeyi and Affirmation of Ikshvaku Royal Dharma
Sarga 73 menggambarkan Bharata yang hancur oleh duka setelah mendengar wafatnya Daśaratha serta pembuangan Rāma dan Lakṣmaṇa ke hutan. Namun ratapannya tetap disertai pertimbangan dharma dan nalar: baginya kerajaan tak berarti tanpa ayah dan kakak-kakaknya, sehingga kesedihan itu terasa sebagai luka yang berlipat. Bharata mengecam Kaikeyī dengan keras, menuduhnya membawa kehancuran bagi wangsa dan menambah penderitaan Kausalyā serta Sumitrā. Ia menegaskan bahwa Rāma selalu bersikap teladan kepada Kaikeyī, menghormatinya seperti ibu kandungnya sendiri, tetapi justru Rāma yang diperlakukan tidak adil. Kemudian Bharata beralih pada norma rājadharma: dalam adat Ikṣvāku, putra sulunglah yang dinobatkan, sementara adik-adik mendukungnya dengan hormat dan disiplin; tindakan Kaikeyī dipandang memutus tradisi luhur dan nama baik leluhur. Bharata menyatakan ia tidak akan memenuhi ambisi Kaikeyī untuk menaikkan putranya, bersumpah menjemput Rāma yang tanpa cela dan dicintai rakyat dari hutan, serta bertekad melayaninya dengan kesetiaan batin yang teguh. Sarga ditutup dengan raungan duka Bharata, diumpamakan seperti singa di gua pegunungan—menggabungkan gejolak emosi dengan kecaman moral.
भरतस्य कैकेयी-गर्हा तथा सुरभि-दृष्टान्तः (Bharata’s Reproach of Kaikeyi and the Surabhi Exemplum)
Sarga 74 menajamkan penolakan Bharata terhadap Kaikeyī setelah wafatnya Daśaratha dan pembuangan Śrī Rāma. Dikuasai amarah, Bharata mengecam perbuatan Kaikeyī sebagai adharma dan menggambarkan akibatnya bagi kerajaan dan masyarakat: kehilangan ayah, renggangnya persaudaraan, serta kebencian rakyat. Ia menyebutkan ganjaran yang patut menimpa—kehilangan kerajaan, jatuh ke neraka, dan ditinggalkan masyarakat—seraya mengungkap krisis legitimasi dirinya: ia tak sanggup memikul “beban” dosa yang disangkakan kepadanya karena hubungan darah, sementara warga menangis menyaksikan. Kemudian hadir dṛṣṭānta tentang Surabhī/Kāmadhenu. Walau memiliki keturunan tak terhitung, Surabhī menangisi dua putranya yang berupa lembu jantan karena dipaksa memikul beban berat; dari situ Indra menyimpulkan betapa tiada bandingnya kasih kepada seorang putra. Bharata memakai teladan ini untuk menegaskan derita Kausalyā sebagai ibu yang terpisah dari putra tunggalnya, Rāma, sehingga kecaman etis terhadap Kaikeyī makin tajam. Pada penutup, Bharata bersumpah memulihkan kehormatan dengan membawa Rāma kembali; jika gagal, ia akan meninggalkan kenyamanan dan masuk ke hutan sebagai pertapa. Puncak emosi berakhir ketika Bharata roboh ke tanah, diibaratkan panji perayaan Indra yang jatuh—lambang kewibawaan yang letih dan duka yang mendalam.
अयोध्याकाण्डे पञ्चसप्ततितमः सर्गः (Sarga 75: Bharata and Kausalya—Reproach, Oaths, and Reconciliation)
Sarga 75 menampilkan pertarungan moral bak sidang pengadilan di dalam ranah keluarga. Bharata sadar kembali, memandang ibunya yang diliputi duka, lalu di hadapan para penasihat mengecam peran Kaikeyī, menegaskan bahwa pewarisan takhta tidak dapat dipisahkan dari legitimasi etis dan dharma. Kauśalyā, terhimpit kesedihan dan kecurigaan, berbicara kepada Bharata dengan sindiran pahit: seolah-olah ia menginginkan kerajaan yang diperoleh ‘tanpa rintangan’ melalui tipu daya Kaikeyī. Bharata menjawab dengan penyangkalan resmi: ia tidak pernah menghendaki kerajaan, tidak mengetahui rencana penobatan, karena ia sedang pergi bersama Śatrughna. Ia lalu menguatkan pembelaannya dengan rangkaian sumpah bersyarat yang menyerupai kutukan: biarlah dosa-dosa menimpa siapa pun yang menyetujui pembuangan Rāma. Puncaknya, Bharata tersungkur di kaki Kauśalyā, meratap, pingsan, lalu ditenangkan. Kauśalyā akhirnya mengakui keteguhan Bharata dalam dharma dan kebenaran, memeluknya, dan malam berlalu dalam duka serta keletihan.
दशरथस्य अन्त्येष्टि-विधानम् — Dasaratha’s Funeral Rites and Ayodhya’s Mourning
Sarga 76 beralih dari ratapan Bharata yang menggetarkan hati kepada kewajiban tata-ritual atas wafatnya raja. Vasiṣṭha, yang dipandang terunggul di antara para resi yang fasih, menasihati Bharata agar menahan duka dan melaksanakan antyeṣṭi (upacara pemakaman) Raja Daśaratha pada waktu yang semestinya. Bharata meneguhkan diri, lalu menghimpun para ṛtvik, purohita, dan ācārya untuk menjalankan tata cara sesuai śāstra. Api-api kerajaan ditangani sebagaimana ketentuan; jenazah dikeluarkan dari selubung minyak pengawet, diletakkan di dipan berhias, dan para pelayan mengusungnya dengan śibikā (usungan). Arak-arakan disertai persembahan serta penaburan emas dan kain; kemudian dibangun tumpukan pembakaran yang harum dari kayu cendana, agaru, damar guggal, dan kayu-kayu lain. Para pendeta mempersembahkan oblation, melantunkan doa-mantra, dan para penyanyi Sāma menyanyikan kidung menurut śāstra. Para permaisuri, dipimpin Kausalyā, datang dan melakukan pradaksina terbalik (prasavya) mengelilingi api pembakaran; ratap tangis kota bergema, diserupakan dengan jerit burung krauñcī. Bharata mempersembahkan libasi air, dan Ayodhyā memasuki masa berkabung sepuluh hari yang tertata—tidur di tanah—memadukan duka, ritus, dan ketertiban negeri.
और्ध्वदैहिकक्रिया-शोकविलापः (Obsequies for Daśaratha and the Brothers’ Lament)
Sesudah wafatnya Mahārāja Daśaratha, berlalu sepuluh hari masa berkabung. Bharata menjalani penyucian, lalu pada hari kedua belas ia menyelenggarakan upacara śrāddha bagi ayahanda dan membagikan dana besar kepada para brāhmaṇa—harta, bahan pangan, pakaian, permata, ternak, para pelayan, kendaraan, serta tempat tinggal—sebagai wujud kewajiban raja dalam tata upacara kematian. Pada fajar hari ketiga belas, Bharata pergi ke tanah kremasi untuk penyucian lanjutan. Melihat bekas tumpukan kayu pembakaran yang bertanda abu dan sisa tulang, ia roboh dan meratap: kepergian ayah, kesunyian Kausalyā, dan pembuangan Rāma ke hutan. Śatrughna pun pingsan karena terguncang oleh duka Bharata dan kenangan akan sang raja; setelah sadar ia meratap dengan kiasan “samudra duka” yang bersumber dari Mantharā dan dibuat makin berbahaya oleh Kaikeyī, sementara anugerah-boon menjadi kekuatan yang tak tergoyahkan. Para pengiring dan menteri segera menolong mereka. Vasiṣṭha menegur Bharata bahwa hari ketiga belas telah tiba sementara sisa upacara belum dituntaskan, lalu mengajarkan keniscayaan pasangan-pasangan hidup (lapar/haus, suka/duka, lahir/mati). Sumantra menenangkan Śatrughna dengan ajaran tentang segala yang muncul dan lenyap. Kedua saudara itu bangkit, berlinang air mata dan letih, lalu didorong menuntaskan kewajiban pemakaman, memadukan duka dengan tata dharma.
अष्टसप्ततितमः सर्गः — Śatrughna’s Fury and Bharata’s Restraint (Mantharā Episode)
Di istana Ayodhyā setelah musibah besar, Bharata yang diliputi duka bersiap berangkat menemui Rāma. Saat itu Śatrughna berbicara dengan geram: bagaimana mungkin Rāma—sandaran semua makhluk—dibuang ke hutan karena kehendak seorang perempuan; mengapa Lakṣmaṇa tidak menolak perintah itu; dan mengapa Raja Daśaratha, setelah menimbang dharma dan adharma, tidak menahan diri. Mantharā kemudian tampak di pintu istana, berhias busana dan perhiasan kerajaan. Para penjaga gerbang menangkapnya dan menghadapkannya sebagai pihak yang bersalah atas pembuangan Rāma dan wafatnya Daśaratha. Mendengar itu, Śatrughna—teguh pada ikrar namun dikuasai duka—mengancam pembalasan dan menyeret Mantharā dengan keras; perhiasannya berhamburan, dan istana digambarkan berkilau laksana langit musim gugur. Para pengiring ketakutan lalu mencari perlindungan pada Kausalyā yang penuh welas asih. Amarah Śatrughna meluas menjadi kecaman tajam kepada Kaikeyī; Kaikeyī pun memohon perlindungan Bharata. Bharata menahan dengan ajaran yang patut: perempuan tidak boleh dibunuh; ia menganjurkan pengampunan. Śatrughna mengakui bahwa ia akan membunuh Kaikeyī jika bukan karena takut teguran Rāma sebagai “pembunuh ibu,” lalu ia mengurungkan niat dan melepaskan Mantharā. Mantharā jatuh di kaki Kaikeyī sambil meratap, dan Kaikeyī menenangkannya dengan lembut—menutup sarga ini dengan kontras antara dendam, pengendalian diri, dan belas kasih di istana.
भरतस्य राज्यत्यागः तथा रामानयनप्रतिज्ञा (Bharata Rejects Kingship and Vows to Bring Rama Back)
Pada fajar hari keempat belas, para penobat raja berkumpul dan mendesak Bharata agar segera menerima kerajaan. Mereka menekankan bahaya negeri tanpa pemimpin setelah wafatnya Daśaratha serta kesiapan perlengkapan abhiṣeka (penobatan). Namun Bharata teguh pada dharmanya; ia mengelilingi (pradakṣiṇa) sarana abhiṣeka dan menolak, sebab menurut tata dinasti, takhta adalah milik putra sulung, Śrī Rāma. Bharata mengajukan pembalikan peran: ia sendiri akan menjalani hidup hutan selama empat belas tahun, sedangkan Rāma ditetapkan sebagai raja. Ia lalu memerintahkan persiapan nyata: menghimpun bala tentara empat bagian, membawa perlengkapan penobatan di depan rombongan, menyuruh para perajin meratakan dan meluruskan jalan, serta menempatkan pengawal yang piawai menilai medan sulit. Rakyat dan dewan menyambut dengan seruan auspisius, memohon anugerah Lakṣmī bagi Bharata karena niatnya menyerahkan kerajaan kepada ahli waris yang sah. Air mata bahagia menandai lega bersama; sarga ini memadukan legitimasi, kesiapan ritual, dan kecakapan tata negara menjadi satu pernyataan etis: kewibawaan disahkan oleh penyangkalan diri dan kesetiaan pada dharma, bukan oleh kesempatan.
मर्गनिर्माणम् (Roadworks and the Royal Route Prepared for Bharata)
Sarga 80 menggambarkan persiapan besar bagi perjalanan Bharata. Atas perintah para pejabat yang berwenang, berbagai kelompok ahli dikerahkan—juru ukur dan pengukur, penggali, insinyur, arsitek, tukang kayu, pekerja jalan, penebang, penggali sumur, tukang plester/kapur, perajin bambu, serta para pengawas—untuk menyiapkan rute dan tempat perkemahan lebih dahulu. Mereka menyingkirkan semak dan bongkah batu, meratakan tanah yang sulit dilalui, menimbun sumur dan jurang, membangun jembatan di titik yang perlu, memecah batu penghalang demi kelancaran aliran air, dan cepat membuat saluran serta tampungan air. Di daerah kering, digali sumur minum yang dihias dengan tanggul melingkar. Sesudah itu jalan dipermuliakan sebagai jalur arak-arakan raja: hamparan batu berpola, deretan pepohonan berbunga, kicau burung, panji-panji, percikan air cendana, dan taburan bunga. Jalur itu diserupakan dengan jalan para dewa, laksana langit malam yang berhias bulan dan bintang. Tempat singgah (niveśa) dipilih di wilayah subur dan menyenangkan, lalu didirikan pada rasi bintang dan muhūrta yang dianggap mujur. Tampak pula ciri perkemahan yang kokoh—gundukan pasir, parit, tembok, bangunan laksana istana, dan puncak bertanda panji—hingga perkemahan menyerupai kota Indra. Akhirnya rombongan mencapai sungai Jāhnavī (Gaṅgā), berair sejuk dan jernih, kaya ikan, dengan tepi berhutan, meneguhkan kisah pada geografi suci yang nyata.
एकाशीति तमः सर्गः — Bharata’s Grief, Courtly Summons, and the Assembly Hall
Pada larut malam yang disebut nāndīmukhī—malam yang dimulai dengan pertanda baik—para bard profesional (sūta-māgadha) dan bunyi alat jaga malam—gendang dipukul dengan tongkat emas serta banyak sangkakala—menciptakan suasana upacara untuk memuliakan Bharata. Namun sorak pujian rakyat justru menajamkan dukanya. Bharata yang telah diliputi kesedihan menolak isyarat penobatan; ia menghentikan musik dan berkata kepada Śatrughna bahwa ia bukan raja. Ia menyalahkan tindakan Kaikeyī sebagai sebab celaka bagi negeri, dan meratap bahwa peruntungan kerajaan kini berputar seperti perahu tanpa juru mudi, karena Rāma—pelindung semua—telah dibuang ke pengasingan. Ratap Bharata memuncak hingga ia roboh, membuat para wanita di kediaman dalam menangis serempak. Seiring krisis di istana itu, Vasiṣṭha—ahli dharma kerajaan—memasuki balairung Daśaratha, sebuah sabhā berlapis emas bertatah permata, diserupakan dengan Sudharmā milik Indra. Duduk di singgasana emas dengan alas yang nyaman, Vasiṣṭha memerintahkan para utusan untuk segera memanggil kelompok-kelompok varṇa, para menteri, panglima, para abdi istana, Bharata, Śatrughna, Yudhājit, Sumantra, serta para sahabat dan penaruh harap lainnya. Ketika undangan datang dengan kereta, kuda, dan gajah, timbul kegaduhan besar. Saat Bharata mendekat, rakyat menyambutnya sebagaimana dahulu mereka menyambut Daśaratha; balairung pun tampak bersinar seakan Daśaratha hadir kembali—sebuah gambaran yang mengikat legitimasi, ingatan, dan persetujuan umum.
भरतस्य धर्मप्रतिज्ञा तथा रामनिवर्तनयात्रा (Bharata’s Vow of Dharma and the Expedition to Recall Rama)
Sarga 82 menampilkan suasana sabhā (sidang) resmi di Ayodhyā, dihiasi perumpamaan bulan dan kilau para anggota terkemuka. Vasiṣṭha, mengingatkan rājadharma serta menyatakan pemindahan kedaulatan telah tuntas, mendorong Bharata menerima penobatan dan menikmati kerajaan tanpa duri, makmur oleh upeti dan persembahan. Namun Bharata, diliputi duka dan jijik moral, menolak di hadapan umum segala gagasan merebut hak Rama. Ia menyatakan dirinya dan kerajaan ini milik Rama semata. Ia mengecam dosa yang terkait dengan perbuatan ibunya, menyebut menerima takhta sebagai aib bagi wangsa Ikṣvāku, dan bersumpah: ia akan membawa Rama kembali, atau tinggal di hutan seperti Lakṣmaṇa. Mendengar ujaran dharmis Bharata, sidang pun meneteskan air mata haru. Bharata lalu memerintahkan Sumantra mengerahkan para pemimpin dan pasukan; para pengintai dan penjaga jalan telah lebih dahulu dikirim. Rumah tangga dan kesatuan militer menyiapkan kereta serta hewan tunggangan, dan persiapan ekspedisi dimulai untuk menenangkan hati Rama dan memulihkannya demi kesejahteraan dunia.
अयोध्याकाण्डे त्र्यशीति तमः सर्गः — Bharata’s Departure and Encampment on the Gaṅgā (Śṛṅgīberapura)
Sarga 83 menggambarkan keberangkatan Bharata saat fajar dengan kereta terbaik, didorong kerinduan yang terpusat untuk segera bertemu Rama. Para menteri dan pendeta berjalan di depan dengan kereta laksana matahari, sementara kekuatan kerajaan dihitung dengan ketelitian resmi—gajah, kereta perang, dan pasukan berkuda—menandakan daya negara yang digerakkan bukan untuk penaklukan, melainkan untuk perdamaian dan pemulihan hubungan. Para permaisuri (Kaikeyi, Sumitra, Kausalya) menempuh perjalanan dengan kendaraan yang gemilang; warga Ayodhya mengikuti dalam kebersamaan yang meriah, menyebut-nyebut kebajikan Rama sebagai penawar duka bersama. Bab ini juga mencatat beragam golongan pekerjaan—perajin, pedagang, profesi pelayanan, para penghibur, hingga nelayan—menunjukkan luasnya partisipasi kota dan ekologi sosial Ayodhya. Setelah perjalanan panjang dengan kereta, pedati, kuda, dan gajah, rombongan tiba di tepi Sungai Gangga dekat Srngiberapura, wilayah Guha, sekutu Rama, yang digambarkan waspada dan tertata baik. Pasukan berhenti di tepi sungai yang dihiasi burung-burung; Bharata memerintahkan para menteri mendirikan perkemahan senyaman mungkin, berniat menyeberang keesokan hari, dan meniatkan persembahan air (tarpana) bagi raja yang telah wafat. Sarga ditutup dengan renungan Bharata tentang cara membawa Rama kembali, menempatkan tindakan politik sebagai pemulihan etis dan dharmis.
गुहस्य सन्देहः, गङ्गातीर-रक्षा, भरतस्य सत्कारः (Guha’s Suspicion, Securing the Ganga Bank, and Hospitality to Bharata)
Sarga 84 menampilkan pertemuan yang menegangkan di tepi Sungai Gaṅgā. Guha, pemimpin kaum Niṣāda, melihat bala tentara Bharata dengan panji-panji berkemah di sepanjang sungai dan mula-mula menafsirkannya sebagai ancaman bagi Śrī Rāma yang sedang menjalani pembuangan. Ia mengutarakan kecemasan strategis: apakah Bharata datang untuk membelenggu atau membinasakan orang-orang sungai, atau berniat mencelakai Rāma. Karena itu Guha memerintahkan sikap bertahan—para nelayan dan penjaga sungai menempati posnya, serta lima ratus perahu disiapkan dengan awak lengkap dan perlengkapan penuh. Syarat Guha jelas: bila terbukti Bharata tidak beritikad buruk terhadap Rāma, maka pasukan boleh menyeberang dengan aman pada hari itu juga. Setelah keadaan menjadi terang, Guha mendatangi Bharata membawa persembahan (ikan, daging, minuman anggur) dan memohon agar Bharata berkenan bermalam di rumah para pelayannya; ia menyatakan wilayahnya tunduk dan menyambut dengan hormat. Sumantra berperan sebagai penengah diplomatik. Ia memperkenalkan Guha sebagai sahabat lama Rāma, yang mengenal daerah Dandaka, dan menasihati Bharata agar berkenan memberi audiensi. Dengan demikian kecurigaan berubah menjadi persekutuan, dan jalur Gaṅgā ditegakkan sebagai lintasan yang terkendali, dinegosiasikan secara etis, dan selaras dengan dharma.
भरत-गुहसंवादः (Bharata and Guha: Trust, Hospitality, and the Burden of Grief)
Sarga 85 menampilkan dialog yang terukur antara Bharata dan Guha, pemimpin Niṣāda, untuk menyingkirkan kecurigaan dan memastikan perjalanan aman melintasi medan Gaṅgā yang sulit menuju āśrama Bharadvāja. Guha yang waspada bertanya apakah pasukan besar Bharata menyembunyikan niat bermusuhan terhadap Rāma; Bharata menjawab dengan lembut dan mantap bahwa Rāma adalah kakak yang ia muliakan—setara dengan ayah—seraya menegaskan tujuan kedatangannya: menjemput Rāma kembali, dan meminta Guha meninggalkan keraguan. Percakapan lalu beralih pada dharma keramahtamahan dan ikatan persahabatan. Bharata memuji keluhuran hati Guha yang bersedia menjamu seluruh bala; Guha pun bersukacita, memuji niat Bharata yang bernuansa tapa dan pelepasan, serta meramalkan kemasyhuran yang akan bertahan lama. Saat senja turun dan malam tiba, Bharata mendirikan perkemahan dan beristirahat bersama Śatrughna. Penutup sarga melukiskan duka Bharata dari dalam, dengan citra gunung dan api hutan—kesedihan sebagai kobaran batin yang menimbulkan peluh, panas di hati, dan keguncangan pikiran—sementara Guha berusaha menghibur dengan mengarahkan batin pada Rāma.
लक्ष्मणगुणवर्णनम् — Lakshmana’s Vigil and Guha’s Testimony
Sarga 86 menggambarkan kewaspadaan semalam suntuk dan ratapan di tepi sungai. Pemimpin rimba, Guha, menyampaikan kepada Bharata kesaksian tentang watak Lakṣmaṇa: ia tetap terjaga, bersenjata dan siaga semata-mata demi perlindungan Śrī Rāma. Guha menawarkan pembaringan yang telah disiapkan, menegaskan dharma persahabatan dan keramahtamahan pelindung, serta memandang pelayanan kepada Rāma sebagai jalan meraih dharma dan kemasyhuran yang suci. Nada kisah lalu menjadi penuh haru: Bharata tak mampu tidur ketika Rāma berbaring di atas rumput bersama Sītā. Ia merasakan kontras antara Rāma yang tak terkalahkan di medan perang dan Rāma yang dengan kehendak sendiri menanggung laku tapa dalam pembuangan. Bharata membayangkan wafat Daśaratha yang segera tiba dan duka istana yang melelahkan, seakan bumi menjadi ‘janda’ tanpa raja. Saat fajar, di tepi Bhāgīrathī, Rāma dan Lakṣmaṇa mengenakan jaṭā (rambut gimbal pertapa). Guha menyeberangkan mereka dengan perahu; Sītā mengenakan busana kulit kayu, dan Rāma-Lakṣmaṇa berangkat bersenjata serta waspada menuju hutan—lambang kuasa kṣātra yang diarahkan ke jalan asketis dalam pengasingan.
गुहसंवादः—रामस्य रात्रिवासवर्णनम् (Dialogue with Guha: Account of Rama’s Night Halt)
Mendengar ucapan Guha, Bharata diliputi duka yang amat dalam hingga tenggelam dalam renungan. Sesaat ia tersadar, namun kembali roboh diterpa gelombang kesedihan; Shatrughna memeluknya dan ia pun pingsan karena pilu. Lalu para ibu Bharata, lemah karena berpuasa dan penuh nestapa, datang mengerumuni Bharata yang jatuh sambil meratap. Kausalya, dengan kasih keibuan yang mendalam, memeluk Bharata dan menanyakan kesehatannya serta memohon kepastian bahwa tidak ada kabar yang menyakitkan tentang Rama dan Lakshmana. Setelah agak tenang, Bharata menenteramkan Kausalya lalu bertanya kepada Guha: di mana Rama, Sita, dan Lakshmana bermalam, apa yang mereka santap, dan di alas apa mereka beristirahat. Guha dengan gembira menceritakan tata jamuan: banyak makanan, buah, dan hidangan telah dipersembahkan, namun Rama, mengingat dharma ksatria, menolak menerima pemberian dan menasihati dengan persahabatan, “hendaknya selalu memberi, bukan menerima.” Rama bersama Sita meminum air yang dibawa Lakshmana dan menjalankan puasa; Lakshmana puas dengan sisa air, dan ketiganya menjaga diam serta menunaikan pemujaan senja. Kemudian Lakshmana membawa rumput darbha, menyusun alas yang suci, membasuh kaki Rama dan Sita, lalu berjaga sepanjang malam dari kejauhan. Guha pun, bersama orang-orangnya yang bersenjata, berdiri dekat Lakshmana untuk melindungi Rama laksana Mahendra. Sarga ini memadukan bhakti saudara, dharma menjamu tamu, etika ksatria, serta disiplin hidup tapa di rimba.
रामशय्यादर्शनम् — Bharata Beholds Rama’s Forest Bed
Dalam sarga ini, setelah mendengar laporan Guha, Bharata datang bersama para menteri ke pohon ingudī dan menatap dengan saksama hamparan rumput yang remuk—alas tempat Rama tidur di tanah. Kepada para ibunya ia mengubah pengamatan itu menjadi renungan dharma: pemandangan ini terasa tak nyata seperti mimpi, dan menjadi bukti bahwa Kāla (Waktu/Takdir) menundukkan segala sandaran duniawi. Ia mengenali kehadiran Sītā dari jejak debu emas dan serat benang sutra pada alas itu, seakan perhiasan dan kainnya pernah menyentuhnya; rincian ini menambah pilu atas tapa-rajasa yang dijalani keluarga raja. Bharata membandingkan kemewahan istana Rama dahulu—lantai emas-perak, wewangian, musik, dan pujian—dengan kesukaran kini: tidur di bumi yang keras, lalu ia menyalahkan dirinya sebagai sebab tersingkirnya Rama. Ia memuji kesetiaan Lakṣmaṇa dan mengakui bahwa tujuan dharma Sītā terpenuhi karena mengikuti suaminya. Dari sisi politik, Bharata menggambarkan kerajaan bagaikan kapal tanpa juru mudi setelah wafatnya Daśaratha dan pembuangan Rama; Ayodhyā menjadi rawan dan kehilangan semangat. Sarga ditutup dengan tekad Bharata: ia akan menjalani hidup asketis, bahkan tinggal di hutan demi menegakkan janji Rama, dan terus memohon sampai Rama berkenan menerima pemulihan takhta.
गङ्गातरणम् — Bharata’s Ferrying of the Army across the Ganga
Setelah bermalam di tepi Sungai Gaṅgā, tepat di perkemahan yang dahulu dipakai Śrī Rāma, Bharata bangun saat fajar dan meminta Śatrughna memanggil Guha, pemimpin Niṣāda, agar menyiapkan penyeberangan bagi bala tentara yang sedang berarak. Śatrughna menjawab bahwa ia telah terjaga, tenggelam dalam ingatan kepada Rāma; pada saat itu Guha datang dengan tangan terkatup, menanyakan kenyamanan pasukan. Bharata, yang setia pada kehendak Rāma, memohon agar para nelayan Guha menyeberangkan mereka dengan perahu. Guha segera memberi perintah; perahu-perahu ditarik ke tepi dan, atas titah raja, terkumpul lima ratus perahu dari segala arah, termasuk perahu “Svāstika” yang indah, berlonceng, berlayar, berpanji, dan kokoh. Guha sendiri membawa sebuah perahu bertuah dengan payung putih. Proses naik perahu berlangsung tertib: para pendeta dan brahmana lebih dahulu, lalu Bharata dan Śatrughna, kemudian para permaisuri—Kauśalyā, Sumitrā, dan wanita istana lainnya—disusul kereta, perbekalan, dan barang-barang. Di tengah hiruk-pikuk membongkar kemah dan memuat muatan, armada bergerak cepat; sebagian perahu mengangkut para wanita, sebagian lagi kuda, hewan penarik, serta harta. Yang tidak kebagian perahu menyeberang dengan rakit, kendi, atau berenang. Gajah-gajah berpanji, digiring mahout dengan pengait, menerjang arus laksana gunung berpuncak bendera. Setelah diseberangkan pada Maitra muhūrta yang mujur, pasukan tiba di hutan Prayāga; Bharata mendirikan perkemahan, lalu bersama para pendeta menghadap resi agung Bharadvāja dan menyaksikan pondok-pondok serta rimbun kebun pertapaan yang menawan.
भरद्वाजाश्रमगमनम् (Bharata at Bharadvāja’s Hermitage)
Sarga ini menggambarkan kedatangan Bharata ke āśrama Bharadvāja sebagai laku kerendahan hati dan keterbukaan niat. Dari jarak satu krośa, Bharata melihat pertapaan itu lalu menghentikan seluruh bala tentara, menanggalkan senjata serta tanda kebesaran raja, dan berjalan kaki bersama para menteri. Ia menempatkan Vasiṣṭha, pendeta keluarga, di barisan depan—tanda tunduk pada kewibawaan dharma dan bahwa ia datang tanpa maksud memaksa. Bharadvāja menyambut menurut tata pertapa: arghya, pādya, serta buah-buahan, lalu menanyakan kesejahteraan Ayodhyā. Namun ia sengaja tidak menyebut Daśaratha, seakan telah mengetahui wafatnya sang raja. Karena kasihnya kepada Rāma, Bharadvāja mendesak alasan kedatangan Bharata dan mengutarakan kecurigaan: jangan-jangan Bharata ingin berkuasa tanpa halangan dengan mencelakai Rāma dan Lakṣmaṇa yang sedang dibuang. Bharata menjawab dengan duka, menolak perbuatan ibunya yang terjadi saat ia tidak berada di sana, dan menyatakan tujuan sucinya: bersujud pada kaki Rāma serta memohon agar beliau kembali ke Ayodhyā. Setelah menguji dan meneguhkan batin Bharata, Bharadvāja memuji pengendalian diri dan bhakti kepada guru, memberitahukan bahwa Rāma kini tinggal di Citrakūṭa bersama Sītā dan Lakṣmaṇa, serta meminta Bharata bermalam di āśrama sebelum berangkat keesokan harinya.
भरद्वाजाश्रमे भरतसैन्यस्य दिव्यात्मिथ्यम् / Divine Hospitality to Bharata’s Army at Bharadvaja’s Hermitage
Sarga 91 menampilkan perjumpaan yang tertata antara tata negara dan ruang pertapaan. Bharata memutuskan bermalam di āśrama Bhagawan Bharadvāja, dan sang resi menyambutnya dengan ātithya (keramahtamahan suci). Bharadvāja bertanya mengapa pasukan dibiarkan jauh; Bharata menjawab bahwa ia khawatir mengganggu pepohonan, air, tanah, dan gubuk-gubuk āśrama, maka ia datang sendiri—sebuah teladan pengendalian raja di dekat komunitas para tapasvin. Atas perintah resi, pasukan dipanggil. Bharadvāja memasuki agniśālā, melakukan penyucian, lalu memanggil Viśvakarman dan Tvaṣṭṛ untuk menata segala keperluan; juga para penjaga arah, sungai-sungai, Gandharva dan Apsaras, hutan ilahi milik Kubera, serta Soma demi kelimpahan makanan dan minuman. Tanda-tanda surgawi pun tampak: angin sejuk, hujan bunga, musik, dan bunyi berirama. Pasukan menyaksikan lanskap ciptaan Viśvakarman—tanah rata, pohon berbuah lebat, sungai ilahi, kandang-kandang, gerbang lengkung, dan istana berpermata. Kisah lalu merinci jamuan besar: aliran payasa bagaikan sungai, rumah-rumah peristirahatan, ribuan perempuan dan Apsaras, nyanyian serta tabuhan para raja Gandharva, mandi dan pengurapan, pakan bagi hewan, serta persediaan makanan, bejana, pakaian, dan perlengkapan yang melimpah. Para prajurit, takjub seperti dalam mimpi, bersukacita sepanjang malam; pagi hari para makhluk yang dipanggil berpamitan dengan izin, meninggalkan jejak wangi dan rangkaian bunga. Ajarannya: ātithya dapat menjadi “teknologi” dharma yang menundukkan daya perang pada disiplin, sekaligus menegaskan kesucian habitat pertapaan dan kewajiban raja untuk tidak mencederainya.
भरद्वाजाश्रमात् चित्रकूटमार्गनिर्देशः — Directions from Bharadvaja’s Hermitage to Chitrakuta
Sesudah menerima jamuan suci di āśrama Bharadvāja, Bharata—bersama seluruh rombongan—berpamitan dengan tata cara hormat dan memohon petunjuk jalan yang tepat untuk mencapai Rāma. Sang resi menjelaskan letak wilayah: Chitrakūṭa berada kira-kira tiga setengah yojana jauhnya di hutan sunyi; di sisi utaranya mengalir Sungai Mandākinī yang ditepianya tumbuh pepohonan berbunga, dan di seberang sungai menjulang gunung tempat Rāma dan Sītā tinggal dalam gubuk daun. Ia memerintahkan pasukan Bharata menempuh jalur selatan atau barat daya agar dapat berjumpa dengan Rāghava. Mendengar kabar keberangkatan, para permaisuri Daśaratha turun dari kendaraan dan mendekati sang resi: Kauśalyā dan Sumitrā tampak diliputi duka, sedangkan Kaikeyī menunduk dalam malu. Bharata lalu menyebut mereka satu per satu—memuliakan Kauśalyā sebagai ibu Rāma, menyatakan Sumitrā sebagai ibu Lakṣmaṇa dan Śatrughna, serta menuding Kaikeyī sebagai akar bencana yang dipandang orang. Bharadvāja menasihati Bharata agar tidak menimpakan kesalahan kepada Kaikeyī, sebab pembuangan Rāma pada akhirnya akan membawa kesejahteraan bagi para dewa, para raksasa, dan para resi. Bharata mengelilingi sang resi dengan hormat, memerintahkan agar kereta dan kendaraan dipasang, lalu bala tentara berangkat ke selatan—gajah, kereta, infanteri, dan para wanita istana—bergerak laksana awan yang sedang naik, menembus hutan serta bentang sungai di seberang Gaṅgā.
चित्रकूटमार्गवर्णनम् — Bharata’s Army Reaches Chitrakuta and Searches for Rama
Sarga 93 menggambarkan perjalanan Bharata yang berpegang pada dharma, memimpin bala tentara besar berkekuatan empat bagian. Gerak pasukan itu mengubah suasana rimba: gajah dan rusa tercerai-berai, burung-burung terdiam, debu mengepul namun segera disapu angin. Kemudian Bharata mengenali Citrakūṭa dan sungai Mandākinī. Ia melukiskan punggung-punggung bukit, pepohonan berbunga, serta lereng yang dipenuhi satwa dengan perumpamaan berlapis—laksana awan, laksana gelombang samudra, laksana langit musim gugur yang bening. Kepada Śatrughna ditegaskan bahwa walau alamnya keras, kehadiran para pertapa menjadikannya terasa ramah, “seperti jalan menuju surga.” Tujuan taktis pun ditetapkan: Bharata memerintahkan pencarian yang tertib, menahan pasukan sementara ia maju bersama Sumantra dan Vasiṣṭha. Para pengintai melihat kepulan asap dan menyimpulkan ada penghuni, sebab api tak mungkin ada di tempat tanpa manusia; maka Rama dan Lakṣmaṇa—atau pertapa yang menyerupai mereka—pastilah dekat. Sarga ditutup dengan penantian yang terkendali dan sukacita akan pertemuan yang segera, mengaitkan gambaran alam dengan pengendalian diri dan kepemimpinan yang berarah.
चित्रकूटवर्णनम् (Description of Chitrakūṭa) / Rama Shows Sita Chitrakuta
Sarga 94 merupakan varṇana yang panjang tentang alam dan etika. Rāma, yang telah lama tinggal di Gunung Citrakūṭa dan kini mencintai kehidupan rimba, dengan sengaja menyenangkan Sītā (seraya meneguhkan batinnya sendiri) dengan memperlihatkan Citrakūṭa yang ‘menakjubkan’, bagaikan Indra menampakkan keajaiban kepada Śacī. Ia menafsirkan pembuangan sebagai sesuatu yang tidak menyakitkan secara batin bila dibandingkan dengan keelokan gunung itu. Rāma lalu merinci keistimewaannya: puncak-puncak yang berkilau laksana mineral; satwa liar yang tidak memusuhi; rimbun pepohonan berbunga dan berbuah. Tanda-tanda kelengangan—pakaian dan pedang yang digantung di dahan—mengisyaratkan kehadiran kinnera dan vidyādharī. Air terjun, mata air, serta hembusan wangi dari gua-gua membentuk peta indrawi: pandangan, aroma, dan bunyi. Bersamaan dengan itu hadir wacana dharma: Rāma menegaskan bahwa tinggal di sini bersama Sītā dan Lakṣmaṇa dapat meluruhkan duka. Ia menyebut ‘dua buah’ hidup di hutan—menunaikan kewajiban kepada ayah dalam kebenaran, dan membawa sukacita bagi Bharata. Sarga ditutup dengan meninggikan hidup rimba sebagai laksana amṛta bagi kesejahteraan raja setelah wafat, serta menggambarkan Citrakūṭa melampaui teladan surgawi dalam kelimpahan umbi, buah, dan air.
मन्दाकिनीनदीदर्शनम् (The Vision of the Mandākinī at Citrakūṭa)
Sarga 95 menampilkan lukisan alam yang sarat makna rohani: setelah turun dari Gunung Citrakūṭa, Śrī Rāma menuntun Sītā menyaksikan Sungai Mandākinī. Ia menunjukkan gosong pasir yang beraneka warna, air yang dipenuhi teratai, serta tepi sungai yang rapat oleh pepohonan berbunga dan berbuah, seraya menyamakan keelokannya dengan danau Nalini milik Kubera. Keindahan alam itu berpadu dengan laku tapa: para ṛṣi mandi pada waktu-waktu yang ditetapkan, dan para pertapa lain memuja Surya dengan kedua tangan terangkat. Pucuk-pucuk pohon yang diguncang angin membuat gunung seakan “menari”; bunga-bunga yang gugur membentuk gundukan mengapung, tempat burung cakravāka bersuara merdu hinggap. Dalam wejangan Rāma, masa pembuangan dipandang sebagai hidup yang lebih luhur: menyaksikan Citrakūṭa dan Mandākinī bersama Sītā melampaui tinggal di Ayodhyā. Ia mengajak Sītā masuk ke sungai “seperti seorang sahabat”, membayangkan Mandākinī sebagai Sarayū dan gunung itu sebagai Ayodhyā. Sarga ditutup dengan rasa puas—makanan sederhana, mandi tiga kali sehari, dan kebersamaan—di mana hasrat akan kerajaan dan kota mereda oleh ketenteraman dharma.
चित्रकूटे सैन्यधूलिशब्ददर्शनम् (Alarm at Chitrakūṭa: Lakṣmaṇa sights the approaching army)
Di Citrakūṭa, Rāma memperlihatkan kepada Sītā keindahan Mandākinī, sungai yang mengalir di pegunungan, lalu dalam suasana laksana upacara rumah tangga ia duduk bersama Sītā dan mempersembahkan daging panggang. Ketenangan itu mendadak terputus oleh debu yang menjulang ke langit dan hiruk-pikuk pasukan yang mendekat; para pemimpin kawanan gajah dan satwa hutan lainnya pun dilanda ketakutan. Rāma memerintahkan Lakṣmaṇa untuk mengintai—mungkin itu perburuan kerajaan, atau mungkin pula bahaya dari makhluk buas—seraya menekankan perlunya penilaian yang cepat dan tepat meski gunung sukar dijangkau. Lakṣmaṇa memanjat pohon śāla yang sedang berbunga, meneliti segala arah, lalu melihat bala tentara besar lengkap dengan kereta, kuda, gajah, infanteri, dan panji-panji. Ia mendesak langkah berjaga: memadamkan api suci, menyembunyikan Sītā di gua, memasang busur, menyiapkan anak panah, dan mengenakan zirah. Ketika Rāma bertanya pasukan siapa itu, Lakṣmaṇa yang menyala oleh amarah keliru menafsirkan kedatangan itu sebagai upaya Bharata yang memusuhi mereka demi merebut kerajaan tanpa tandingan, dengan alasan lambang pohon kovidāra pada panji kereta. Sarga ini menempatkan damainya hidup pengasingan berdampingan dengan kecemasan politik-militer yang tiba-tiba, menonjolkan pentingnya pengintaian, pertarungan antara kendali diri dan murka, serta risiko etis bertindak atas informasi yang belum lengkap.
भरतागमनशङ्कानिवारणम् / Dispelling Suspicion about Bharata’s Arrival (Chitrakuta Encampment)
Sarga 97 berpusat pada ketenangan Śrī Rāma saat menenteramkan Lakṣmaṇa, yang diliputi amarah dan kecurigaan ketika melihat pasukan mendekat di sekitar Citrakūṭa. Rāma menalar dengan pertimbangan dharma: Bharata pada hakikatnya penuh kasih kepada saudara, lebih berharga daripada nyawa; ia pasti datang bukan untuk memusuhi, melainkan setelah mendengar kabar pembuangan, terdorong oleh kewajiban kula-dharma dan duka. Rāma menegaskan bahwa kerajaan yang diraih dengan kekerasan terhadap kerabat akan ternoda secara moral, bagaikan makanan yang bercampur racun, sehingga tak patut diterima. Ia melarang Lakṣmaṇa mengucapkan kata-kata keras tentang Bharata, sebab itu seakan-akan menyerang Rāma sendiri. Pembunuhan saudara dan pembunuhan ayah dipandangnya tak terpikirkan bahkan dalam bencana; dan bila kekhawatiran Lakṣmaṇa adalah soal takhta, Rāma akan meminta Bharata menyerahkannya kepada Lakṣmaṇa—dan Rāma yakin Bharata akan menyetujuinya. Lakṣmaṇa pun malu dan mengubah kesimpulannya, bahkan sejenak mengira Daśaratha sendiri yang datang. Rincian yang tampak—kuda-kuda, gajah Śatruñjaya, serta tiadanya payung putih kerajaan—menciptakan ambiguitas. Sarga ditutup dengan perintah Bharata agar tidak berdesakan, dan pasukan berkemah dengan disiplin mengelilingi gunung, menonjolkan kerendahan hati dan dharma dalam tata kelola negara.
चित्रकूटप्रवेशः — Bharata Enters the Forest Toward Chitrakuta
Setelah menempatkan bala tentara di posisi yang telah ditentukan, Bharata berketetapan untuk mendekati Śrī Rāma dengan berjalan kaki, menonjolkan kerendahan hati dan niat dharma sebagai putra, bukan kemegahan raja. Ia memerintahkan Śatrughna agar segera menyusuri hutan bersama kelompok orang dan para pemburu, sementara Guha—bersenjata dan ditemani seribu kerabat—mencari Rāma di rimba yang lebat. Bharata mengikrarkan rangkaian tekad suci: ia tidak akan memperoleh ketenteraman sebelum melihat Rāma, Lakṣmaṇa, dan Sītā; sebelum memandang wajah Rāma yang terang laksana bulan dengan mata bak teratai; sebelum menempatkan kaki Rāma yang bertanda kebesaran raja di atas kepalanya; dan sebelum menegakkan Rāma, pewaris sah kerajaan leluhur, melalui penobatan. Kisah lalu memuji Chitrakūṭa: tempat itu disebut penuh berkah, bagaikan raja di antara gunung-gunung, dan hutan di sana dipandang “sempurna” karena menjadi kediaman Rāma yang bercahaya dan memanggul senjata. Bharata melintasi lereng-lereng gunung dengan rimbun pepohonan berbunga, melihat panji asap yang menjulang dari api pertapaan, bersukacita bersama sanak keluarganya seperti orang yang mencapai seberang, lalu—dengan pasukan ditahan dari jauh—bergegas bersama Guha menuju āśrama suci di Chitrakūṭa.
चित्रकूटप्राप्तिः — Bharata Reaches Chitrakuta and Beholds Rama
Sarga 99 menggambarkan langkah terakhir Bharata menuju pertapaan Rāma di dekat Citrakūṭa. Setelah menempatkan bala tentara berkemah, Bharata bergegas mendahului dan memerintahkan Vasiṣṭha agar membawa para permaisuri menyusul. Di jalan ia mengenali pertapaan lewat tanda-tanda yang nyata dan selaras alam: kayu bakar yang pecah-pecah di dekat gubuk, bunga-bunga yang telah dikumpulkan, tumpukan kotoran kering untuk menahan dingin, serta penanda pada pepohonan—rumput kuśa dan pita kulit kayu; bahkan pakaian kulit kayu yang diikat tinggi sebagai tanda bagi mereka yang bergerak pada waktu-waktu tak biasa. Ia juga menyadari dekatnya Sungai Mandākinī dan melihat asap tebal dari api suci para pertapa yang tak pernah padam. Diliputi penyesalan, Bharata membayangkan pertemuan dengan Rāma yang laksana mahārṣi, dan meratapi terbaliknya martabat kerajaan: Rāma duduk di tanah dalam vīrāsana di hutan sunyi. Ia memandang parṇaśālā—gubuk berdaun—yang digambarkan dengan citra ritual dan keprajuritan: tertutup daun seperti altar yajña, dihiasi busur, tabung panah, anak panah berkilau laksana matahari, pedang bersarung perak, perisai, serta pelindung jari dari kulit biawak; “tak tertembus” bagaikan gua singa. Ia melihat altar suci yang miring ke arah timur laut dengan api menyala, lalu akhirnya melihat Rāma sendiri: berbalut kulit kijang dan pakaian kulit kayu, bercahaya seperti api, duduk bersama Sītā dan Lakṣmaṇa di atas tanah beralas darbha, diserupakan dengan Brahmā yang abadi. Bharata berlari sambil menangis, berulang kali berseru “Ārya,” dan roboh sebelum mencapai kaki Rāma. Rāma memeluk Bharata beserta Śatrughna; pertemuan itu meluas hingga Sumantra dan Guha. Para penghuni hutan menyaksikannya, dan air mata mereka mengalir bukan karena kegembiraan, melainkan karena haru dan belas kasih.
शततमः सर्गः — Rāma Questions Bharata on Rājadharma (Governance, Counsel, and Public Welfare)
Sarga 100 dibuka dengan pembalikan pemandangan yang mengguncang: Rāma melihat Bharata dalam rupa pertapa—berambut gimbal dan berpakaian kulit kayu—tersungkur di tanah dengan tangan terkatup, diserupakan dengan matahari yang tak tertahankan pada saat pralaya. Rāma memeluk dan mengangkat Bharata yang kurus lemah, hatinya dipenuhi kasih dan iba. Lalu Rāma mengajukan rangkaian pertanyaan dengan pengulangan “kaccit” (“semoga/benarkah demikian?”). Ia mula-mula menanyakan kesejahteraan keluarga: keadaan Daśaratha, keselamatan para permaisuri, serta penghormatan kepada Vasiṣṭha dan para pendeta. Setelah itu, Rāma meneliti tata kelola kerajaan menurut rājadharma: pemilihan dan kerahasiaan dewan nasihat, pengangkatan menteri dan panglima yang cakap, penggunaan mata-mata, hukuman yang sepadan, disiplin perbendaharaan, kesiapan benteng, pembayaran tepat waktu bagi pasukan, perlindungan pertanian dan kekayaan ternak, keterjangkauan raja bagi rakyat, serta keadilan yang tidak memihak. Rāma memperingatkan bahaya sofisme yang menolak dharma, menyebutkan cacat-cacat raja yang harus dihindari, dan menegaskan bahwa nasihat yang rahasia, tertata, serta berlandaskan śāstra adalah akar kemenangan. Dengan demikian sarga ini menjadi pedoman ringkas rājadharma yang lahir dari kasih persaudaraan, dan berpuncak pada ajaran bahwa pemerintahan yang benar menuntun pada kenaikan ke surga.
भरतस्य धर्मनिश्चयः — Bharata Affirms Lineage-Dharma and Urges Rama’s Coronation
Dalam sarga ini, Bharata menjawab kata-kata Rāma dengan menuduh dirinya sendiri: bila ia menerima kerajaan selagi kakak sulung masih hidup, ia telah jatuh dari dharma. Ia mengutip aturan leluhur wangsa Ikṣvāku yang kekal: selama putra sulung berdiri, adik tidak patut menjadi raja. Karena itu Bharata memohon agar Rāma kembali bersamanya ke Ayodhyā yang makmur dan menerima penobatan (abhiseka) demi kesejahteraan dinasti. Bharata menguraikan teologi pemerintahan: ada yang memandang raja hanya manusia, namun baginya raja menjadi ‘ilahi’ sejauh laku dan tata negaranya selaras dengan dharma dan melampaui kemampuan biasa. Lalu ia menyampaikan kabar duka: ketika Bharata berada di Kekaya dan Rāma telah berangkat ke hutan bersama Sītā dan Lakṣmaṇa, Raja Daśaratha—pelaksana yajña dan yang dihormati para saleh—naik ke surga, diliputi dukacita segera setelah kepergian Rāma. Bharata memanggil Rāma agar bangkit dan mempersembahkan tarpaṇa, libasi air bagi ayah, sebab persembahan putra tercinta menjadi tak binasa di alam para leluhur. Sarga ini ditutup dengan penegasan bahwa batin terakhir Daśaratha terpaku pada Rāma; wafatnya digambarkan sebagai puncak duka dan kerinduan.
पितृमरणश्रवणं जलक्रिया च (Hearing of Daśaratha’s death and the libation rites at Mandākinī)
Sarga ini menampilkan guncangan duka dan peralihan segera dari kata-kata menuju tindakan ritual. Bharata menyampaikan wafatnya Daśaratha; mendengar itu Rāma jatuh pingsan, diumpamakan seperti pohon berbunga yang ditebang kapak atau dihantam petir. Setelah sadar, Rāma mengungkapkan kesedihan dengan renungan dharma: ia mempertanyakan pantas tidaknya kembali ke Ayodhyā tanpa raja, meratap karena tidak dapat melaksanakan upacara terakhir ayahnya, dan bertanya siapa yang akan menuntunnya ketika sang ayah telah pergi ke alam baka. Rāma mengakui Bharata dan Śatrughna karena telah menghormati raja dengan upacara kematian yang lengkap. Ia lalu memberitahukan kabar itu kepada Sītā dan Lakṣmaṇa, sehingga air mata pun mengalir bersama di antara para saudara. Dipandu Sumantra, mereka menuju tīrtha Mandākinī yang suci, mempersembahkan udaka (libasi air) menghadap arah selatan, arah Yama, dan menyelesaikan nivāpa/pinda dengan bubur ingudī yang dicampur buah badarī di atas rumput darbha. Mendengar hiruk-pikuk ratapan, orang banyak dan pasukan Bharata bergegas ke pertapaan; bahkan hewan dan burung digambarkan terkejut. Bab ini menegaskan bahwa di tengah runtuhnya perasaan, maryādā dan kewajiban dharma tetap dijaga melalui pelaksanaan ritus.
पिण्डदानदर्शनम् — The Queens Behold Rama’s Śrāddha Offering
Vasiṣṭha berjalan kaki menuju tīrtha di tepi Mandākinī, memimpin para permaisuri Daśaratha yang rindu melihat Rāma. Rombongan tiba di tempat pemandian yang biasa didatangi Rāma dan Lakṣmaṇa. Kauśalyā, dengan air mata dan tubuh lemah karena duka, menunjukkan tempat suci di sisi hutan tempat tiga insan yang terusir itu terpaksa hidup dalam kesusahan. Ia menyebut pengabdian Lakṣmaṇa yang tak kenal lelah mengambilkan air bagi Rāma, dan berharap ia dijauhkan dari kerja yang merendahkan. Kauśalyā lalu melihat piṇḍa—kue dari pulpa iṅgudī—diletakkan di atas rumput darbha dengan ujung mengarah ke selatan, dipersembahkan oleh Rāma kepada ayahnya menurut tata cara. Perbandingan antara kemewahan istana Daśaratha dahulu dan persembahan hutan yang sederhana ini membuatnya meratap: ia meragukan apakah santapan demikian pantas bagi raja ‘laksana dewa’, dan menyatakan tiada yang lebih menyakitkan daripada keadaan Rāma yang merosot. Ia mengingat pepatah: sebagaimana makanan manusia, demikian pula makanan para dewanya—dan di sini terasa terbukti dengan getir. Para permaisuri lain menghibur Kauśalyā dan memandang Rāma di pertapaan, bercahaya namun seperti dewa ‘jatuh dari surga’. Para ibu menangis; Rāma bangkit, menyentuh kaki mereka dengan hormat, dan mereka menyeka debu dari punggungnya. Lakṣmaṇa pun bersujud; para permaisuri mencurahkan kasih yang sama kepadanya seperti kepada Rāma. Sītā, diliputi duka, memegang kaki para mertuanya; Kauśalyā memeluknya seperti putri dan meratapi penderitaannya, melukiskan wajah Sītā yang terpapar cuaca, serta menyamakan duka dengan api yang dinyalakan arani yang menghabiskan penopangnya sendiri. Rāma kemudian memegang kaki Vasiṣṭha dan duduk bersamanya; Bharata duduk dekat dengan tangan terkatup, dan hadirin menanti apa yang akan ia ucapkan. Rāma, Lakṣmaṇa, dan Bharata, dikelilingi sahabat, tampak laksana tiga api yajña yang dilingkari para pelaksana upacara.
भरतस्य प्रार्थना—रामस्य धर्मोपदेशः (Bharata’s Petition and Rama’s Dharma-Reasoning)
Sarga ini menampilkan dialog yang tersusun rapat tentang suksesi, kesalahan, dan ketaatan. Dengan Lakshmana hadir, Rama menenangkan Bharata lalu bertanya mengapa ia datang dengan busana pertapa. Bharata mengabarkan wafatnya Dasaratha setelah ‘tindakan yang mustahil’—mengasingkan Rama—seraya mengecam dorongan Kaikeyi, dan memohon agar Rama segera dinobatkan demi menenteramkan para permaisuri yang menjadi janda serta rakyat. Bharata mengajukan permohonan dengan dasar hak sulung, persetujuan umum, dan dukungan para menteri; ia bersujud dan memegang kaki Rama sebagai tanda tunduk. Rama menegaskan kemuliaan Bharata dan menyatakan ia tidak bersalah, serta menasihati agar tidak mencela ibu dengan sikap kekanak-kanakan; ia menyebut kelonggaran yang diakui śāstra bagi para tua terhadap istri dan putra, dan menegaskan bahwa perintah orang tua mengikat. Rama memandang pembagian yang diumumkan Dasaratha di hadapan umum sebagai pramāṇa (pedoman berwibawa): Bharata memerintah Ayodhya, Rama tinggal di Dandaka selama empat belas tahun—menjaga dharma tetap mengatasi ambisi pribadi.
भरतस्य प्रार्थना—रामस्य कालधर्मोपदेशः (Bharata’s Petition and Rama’s Instruction on Time and Mortality)
Sarga 105 dibuka dengan malam ratapan bersama: keempat saudara, dikelilingi para welas-asih, menumpahkan duka. Saat fajar, mereka menuntaskan upacara di tepi Sungai Mandākinī lalu berkumpul kembali. Dalam keheningan itu Bharata berbicara kepada Rāma: ia memohon agar kerajaan dikembalikan kepada Rāma, menegaskan bahwa negeri tak akan tegak tanpa beliau, dan menggambarkan ketidaklayakannya dengan perbandingan yang tajam. Ia memakai kiasan pohon yang dirawat dengan saksama, berbunga namun tak berbuah—menandakan harapan seumur hidup Daśaratha akan sia-sia bila Rāma tidak menerima takhta. Ia juga menyebut suara hati Ayodhyā: para serikat dan rakyat membayangkan Rāma ditabalkan laksana matahari, gajah-gajah kerajaan berseru, dan para wanita istana bersukacita. Rāma menenangkan Bharata dengan ajaran kāla-dharma tentang waktu dan kefanaan: daya upaya manusia terbatas, takdir menarik makhluk ke arah yang berlawanan, dan segala gabungan duniawi berakhir—harta menipis, ketinggian turun, pertemuan berujung perpisahan, hidup berakhir pada maut. Ia menegaskan ketidak-kekalan lewat analogi alam: buah masak pasti jatuh; rumah kokoh pun lapuk; malam tak kembali; sungai terus mengalir; siang dan malam menghabiskan usia seperti matahari musim panas mengeringkan air. Kematian digambarkan sebagai sahabat yang tak terpisahkan, dan ratap dianggap tak berbuah bagi kebijaksanaan. Sarga ditutup dengan keteguhan Rāma menaati titah Daśaratha untuk tinggal di hutan, sambil mendorong Bharata kembali ke Ayodhyā menegakkan dharma raja; orang bijak menghindari keluh-kesah dalam segala keadaan.
भरतवाक्यं—रामस्य पुनरायोध्यागमननिषेधः (Bharata’s Plea and Rama’s Refusal to Return)
Di tepi Sungai Mandākinī, setelah pernyataan Rāma yang penuh makna, Bharata menjawab dengan permohonan panjang yang bertumpu pada dharma dan penalaran. Ia memuji ketenangan batin Rāma serta kebiasaannya bermusyawarah, mengakui kesalahan Kaikeyī yang dilakukan “demi dirinya,” dan menjelaskan bahwa karena ikatan-ikatan dharma ia menahan diri untuk tidak menghukumnya. Bharata lalu mengajukan dilema moral: bagaimana mungkin seseorang yang lahir dari Daśaratha yang mulia dengan sadar melakukan adharma; namun ia juga mengingatkan pepatah bahwa orang yang menjelang ajal dapat tersesat, sehingga kekhilafan sang ayah mungkin timbul dari amarah, kebingungan, atau kecerobohan. Bharata memohon agar Rāma “meluruskan” kekeliruan ayah; menurutnya, bakti anak sejati ialah memperbaiki kesalahan ayah, bukan membenarkannya. Ia memperluas perkara ini kepada ibu, kerabat, sahabat, serta rakyat kota dan desa, dan menegaskan bahwa penobatan adalah dharma utama seorang kṣatriya karena darinya perlindungan prajā terlaksana. Ia membandingkan tapa hutan (jaṭā, araṇya) dengan kewajiban memerintah, mempertanyakan kebajikan yang menggantung pada masa depan yang tak pasti dibanding tugas kerajaan yang mendesak, dan meminta para pendeta serta para sesepuh menobatkan Rāma saat itu juga. Orang banyak menyetujui kata-kata Bharata, tetapi Rāma tetap teguh pada titah Daśaratha dan menolak kembali ke Ayodhyā; para hadirin pun bersedih sekaligus menaruh hormat pada keteguhan nazarnya.
पितृवाक्यपालनम्, गयाश्रुति-उपदेशः, भरतस्य राज्यग्रहण-निर्देशः (Rama’s Counsel on Vows, the Gaya Śruti, and Bharata’s Return to Rule)
Dalam Sarga 107 Ayodhyā Kāṇḍa, Rāma—yang dimuliakan di tengah sanak keluarga—menjawab permohonan Bharata yang kembali disampaikan, dan menegaskan bahwa sikap Bharata sebagai putra Daśaratha melalui Kaikeyī adalah patut menurut dharma. Rāma lalu menguraikan rangkaian kewajiban hukum-moral: janji lama Daśaratha pada saat pernikahan Kaikeyī, anugerah (vara) yang kemudian diberikan setelah jasa Kaikeyī dalam konflik dewa–asura, serta tuntutan Kaikeyī atas kerajaan bagi Bharata dan pembuangan Rāma ke hutan. Rāma memandang tinggalnya di rimba sebagai ketaatan pada kaul, dan mendorong Bharata segera menerima penobatan agar kebenaran janji Daśaratha tetap terjaga. Rāma juga menasihati Bharata agar “membebaskan raja dari hutangnya”, yakni beban kaul yang belum terpenuhi, serta menghormati ayah dan ibu. Untuk meneguhkan kewajiban bakti anak, Rāma mengutip śruti terkait Gayā: “putra” adalah dia yang menyelamatkan ayah dari neraka bernama Put dan melindungi para leluhur; karena itu banyak putra diharapkan, agar setidaknya seorang melaksanakan upacara leluhur di Gayā. Menutup dengan arahan pemerintahan dan penenteraman hati, Rāma memerintahkan Bharata kembali ke Ayodhyā bersama Śatrughna dan para dvija, menjaga rakyat tetap sejahtera dan puas; sedangkan Rāma sendiri memasuki Daṇḍaka bersama Sītā dan Lakṣmaṇa. Peran mereka digambarkan sebagai kedaulatan yang saling melengkapi: Bharata memayungi manusia, Rāma memayungi hutan—yang satu dinaungi payung kerajaan, yang lain dinaungi pepohonan—keduanya terikat oleh satya (kebenaran).
जाबाल्युपदेशः — Jabali’s Pragmatic Counsel to Rama
Dalam sarga ini, Jābāli—digambarkan sebagai brāhmaṇa terkemuka—berbicara kepada Rāma ketika Rāma sedang menenangkan Bharata. Dengan nada yang sangat pragmatis dan berorientasi pada dunia ini, Jābāli mempertanyakan kekekalan hubungan kekerabatan: manusia “lahir sendiri, mati sendiri”; keterikatan pada orang tua dan rumah tangga hanyalah persinggahan sementara. Karena itu ia mendesak Rāma agar tidak terus menempuh jalan yang menyakitkan dan penuh duri dengan meninggalkan kerajaan ayahanda. Jābāli menganjurkan tindakan politik segera: kembali ke Ayodhyā yang makmur, menerima penobatan, dan menikmati hak-hak kerajaan, seolah-olah kota itu menanti tuan yang sah. Argumennya lalu mengeras menjadi sikap skeptis terhadap ritus: ia meragukan kemanjuran persembahan leluhur seperti aṣṭakā dan śrāddha, serta menggambarkan sebagian ketentuan dharma-śāstra sebagai sarana sosial untuk mendorong sedekah dan kepatuhan. Ia menutup dengan menomorsatukan yang dapat disaksikan (pratyakṣa) daripada yang tak tampak (parokṣa), dan menekan Rāma agar menerima kerajaan yang ditawarkan Bharata, sebagai pilihan yang sejalan dengan penilaian bijak masyarakat dan menjadi teladan bagi dunia.
सत्यधर्मप्रतिपादनम् (Rama’s Defense of Truth and Dharma in Reply to Jabali)
Sarga 109 memuat sanggahan etis yang panjang dari Śrī Rāma terhadap nasihat Jābāli yang berusaha membujuk beliau agar secara pragmatis kembali. Rāma terlebih dahulu mengakui maksud hormat di balik nasihat itu, namun menilainya berbahaya bila ditimbang dengan dharma dan maryādā. Beliau menegaskan bahwa rajadharma berlandaskan kekal pada satya (kebenaran) dan ahiṃsā; kestabilan dunia bertumpu pada kebenaran, dan para ṛṣi serta para dewa memuliakan satya sebagai kebajikan tertinggi. Kebohongan digambarkan menjijikkan bagi tatanan sosial dan merusak batin; sedekah, yajña, tapa, bahkan Veda pun berdiri di atas dasar satya. Rāma lalu menerapkan prinsip itu pada dirinya: karena telah bersumpah di hadapan ayahanda untuk menerima hidup di hutan, beliau menolak “meruntuhkan jembatan kebenaran.” Beliau menampik dorongan seperti keserakahan, delusi, atau ketidaktahuan, serta memperingatkan bahwa orang yang tidak teguh dan condong pada ketidakbenaran akan ditolak persembahannya oleh para dewa dan leluhur. Karena itu, beliau memeluk pembuangan sebagai beban suci yang selaras dengan laku orang-orang baik. Bab ini juga memuat bagian polemis (sering dicatat mungkin sisipan) ketika Rāma mengecam penalaran ateistik. Jābāli kemudian menjelaskan bahwa sikapnya sebelumnya hanyalah bujukan sesuai keadaan; ia menegaskan kembali pendirian āstika dan memohon agar Rāma ditenteramkan serta diarahkan pada nasihat yang membawa kebaikan.
लोकसमुत्पत्ति-वर्णनम् तथा इक्ष्वाकुवंश-प्रशंसा (Cosmogony and Ikshvaku Genealogy as Counsel to Rama)
Sarga 110 tersusun sebagai nasihat korektif bagi Rama yang sedang murka. Vasiṣṭha menafsirkan kembali uraian Jābāli sebelumnya bukan sebagai ajaran yang menyalahi dharma, melainkan sebagai bujukan praktis agar Rama bersedia kembali; lalu ia beralih pada ajaran yang berwibawa menurut śāstra. Vasiṣṭha menyampaikan kosmogoni singkat: adanya perairan purba, kemunculan Svayambhū Brahmā, serta pengangkatan Bumi oleh Varāha. Sesudah itu ia menguraikan silsilah dari Manu dan Ikṣvāku hingga para raja Ayodhyā yang termasyhur. Silsilah ini menjadi bukti etis-hukum: norma Ikṣvāku menguduskan penobatan putra sulung. Karena itu Rama, sebagai ahli waris tertua Daśaratha, didorong menerima kedaulatan, melindungi rakyat, dan meneruskan rājadharma leluhur, sehingga kuladharma (tradisi keluarga) dan kesejahteraan umum tetap terpelihara.
अयोध्याकाण्डे एकादशोत्तरशततमः सर्गः (Sarga 111: Counsel on Gurus, Parental Debt, and Bharata’s Protest)
Sarga ini menampilkan perdebatan etis yang tertata tentang kewibawaan dan pelunasan kewajiban. Vasiṣṭha, sebagai rājapurohita sekaligus guru, mengingatkan Rāma bahwa bagi manusia ada tiga “guru”: ācārya, ayah, dan ibu; ketaatan kepada para sesepuh dan keputusan sidang menjaga jalan para bajik. Rāma menjawab bahwa utang kepada orang tua atas asuhan dan kasih sayang tak mungkin terbalas, dan janji kepada Daśaratha tidak boleh menjadi dusta. Perhatian lalu beralih kepada Bharata. Dalam duka, ia memerintahkan rumput kuśa dibentangkan dan hendak melakukan pratyupaveśana (berbaring sebagai protes) di depan gubuk Rāma, memohon agar Rāma kembali. Rāma menolak kepantasan tindakan itu bagi seorang raja yang telah diabhiseka, menyuruh Bharata bangkit dan pulang ke Ayodhyā, serta berbicara kepada warga kota dan desa; mereka mengakui tak sanggup memalingkan Rāma dari titah ayahnya. Bharata kemudian menyampaikan di hadapan sidang bahwa ia tidak terlibat dalam tuntutan kerajaan, bahkan menawarkan diri menjalani tinggal di hutan selama empat belas tahun. Rāma, takjub atas ketulusan Bharata, menegaskan kembali ikatan janji-janji Daśaratha dan menyatakan penggantian dalam pembuangan sebagai tindakan yang tercela secara dharma, sehingga keputusan tetap ditegakkan demi dharma dan satya.
पादुकाप्रदानम् (The Gift of the Sandals and Delegated Kingship)
Sarga 112 menggambarkan penyelesaian setelah perdamaian di Citrakūṭa. Para resi yang hadir secara tak terlihat menyaksikan dan memuji pertemuan kakak-beradik yang selaras dengan dharma, menandainya sebagai pertanda baik bagi masa depan, bahkan disertai harapan akan berakhirnya Daśagrīva/Rāvaṇa. Bharata, gemetar namun teguh, memohon agar Rāma menerima takhta demi rājadharma dan kuladharma; ia mengakui tak sanggup memerintah sendiri dan menegaskan bahwa kerabat, para ksatria, dan rakyat hanya menaruh harap pada Rāma. Rāma menjawab dengan kasih dan tuntunan: Bharata memiliki kebijaksanaan bawaan dan terlatih; hendaknya ia memerintah dengan musyawarah para menteri dan penasihat bijak, serta tidak menyimpan amarah kepada Kaikeyī. Namun Rāma menegaskan janji ayahnya tak dapat diganggu gugat, menguatkannya dengan perumpamaan tentang hal-hal kosmis yang mustahil. Bharata lalu mempersembahkan pādukā berhias emas; Rāma menginjaknya dan mengembalikannya sebagai pusat simbolik kewenangan. Bharata bersumpah hidup asketis di luar kota selama empat belas tahun, menempatkan urusan kerajaan di bawah pādukā, dan mengancam membakar diri bila Rāma tidak kembali tepat waktu. Rāma menyetujui, memeluk Bharata dan Śatrughna, memerintahkan agar Kaikeyī dilindungi tanpa dendam, lalu berpamitan setelah menghormati para sesepuh; para ibu tercekik oleh duka tak mampu mengucap perpisahan, dan Rāma masuk ke gubuknya dengan air mata.
पादुकाप्रदानं भरतस्य निवृत्तिश्च (The Sandals Bestowed; Bharata’s Return Toward Ayodhya)
Sarga ini menuntaskan peralihan dari perundingan menuju pemerintahan simbolik. Bharata, bersama Śatrughna dan rombongan para menteri, berangkat membawa pādukā (sandal suci) Rāma sebagai wakil seremonial kedaulatan yang sah. Vasiṣṭha mendorong Rāma agar menganugerahkan pādukā berhias emas demi “yogakṣema” Ayodhyā (keamanan dan kesejahteraan); Rāma, menghadap ke timur dalam sikap resmi, menyerahkannya dengan tegas “demi tujuan memerintah.” Bharata menyatakan kesetiaannya pada ikrar empat belas tahun Daśaratha dan meneguhkan syarat-syarat pembuangan sebagai sabda yang mengikat. Bharadvāja memuji keluhuran bawaan Bharata, menafsirkan bahwa kebajikan bersemayam alami padanya, serta menyatakan Daśaratha seakan tetap hidup melalui putra yang demikian dharmika. Kisah lalu beralih pada perjalanan pulang: bala tentara berbalik dengan kereta, kuda, dan gajah; penyeberangan Yamunā dan Gaṅgā disebutkan; Śṛṅgiberapura dimasuki. Akhirnya Ayodhyā tampak sepi, muram, dan meredup; pemandangan itu membuat Bharata diliputi duka, lalu ia menyapa sais kereta dengan kata-kata penuh kepedihan.
अयोध्याप्रवेशः — Bharata Enters Ayodhya and Perceives the City’s Desolation
Sarga 114 menggambarkan Bharata memasuki Ayodhyā dengan cepat menaiki kereta, sementara gema kereta yang dalam dan menenteramkan berlawanan dengan kesunyian kota. Ayodhyā tampak baginya laksana malam tanpa pelita yang dilalui kucing dan burung hantu; laksana Rohiṇī yang kehilangan kebersamaan Sang Bulan; laksana aliran gunung yang mengering, api yajña yang padam, atau bala tentara yang kalah—segala perumpamaan itu mengubah ketiadaan pemimpin menjadi kemerosotan yang terasa oleh pancaindra. Ia juga menyamakannya dengan ombak samudra yang seakan terdiam, altar yang ditinggalkan setelah pemerasan soma, dan kawanan ternak yang merana tanpa banteng. Kota itu bagaikan kalung mutiara baru yang permatanya terlepas; bagaikan bintang yang jatuh, sulur yang hangus oleh kebakaran hutan, langit tertutup awan, dan tempat minum yang ternoda—menandakan hiasan yang tercerai, cahaya yang meredup, dan kegembiraan perayaan yang terputus. Bharata lalu bertanya kepada saisnya: mengapa nyanyian, alat musik, serta harum rangkaian bunga, minuman keras, cendana, dan agaru tidak lagi memenuhi udara; mengapa bunyi lalu lintas dan gerak perayaan berhenti setelah Rama dibuang ke hutan. Ia menyimpulkan bahwa kemuliaan Ayodhyā pergi bersama Rama, dan ia merindukan kembalinya Rama untuk memulihkan sukacita bersama. Dalam duka, Bharata memasuki istana Daśaratha yang kini seakan tanpa singa; melihat kediaman dalam yang terasing, kehilangan sinarnya bagaikan siang tanpa Matahari, ia pun menangis.
पादुकाभिषेकः — The Consecration of Rama’s Sandals and Bharata’s Trusteeship at Nandigrama
Sarga 115 menegaskan jalan keluar Bharata atas krisis suksesi melalui tata-ritus kedaulatan yang didelegasikan. Setelah menempatkan para ibunya dengan aman di Ayodhya, Bharata—berduka namun teguh pada sumpah—berbicara kepada para sesepuh dan memohon izin berangkat ke Nandigrama. Ia menyatakan bahwa tanpa Rama ia lebih memilih tinggal dalam duka daripada menikmati kekuasaan. Para menteri dan resi Vasistha memuji bhakti persaudaraannya serta kesetiaannya pada jalan dharma. Bharata lalu memerintahkan kereta disiapkan dan berangkat bersama Satrughna, didahului para brahmana guru. Tentara dan rakyat mengikuti tanpa diminta, menandakan persetujuan umum atas pilihannya. Setiba di Nandigrama, Bharata menjunjung tinggi sandal Rama yang berhias emas di atas kepalanya, dan menyatakan kerajaan sebagai amanat suci (laksana sikap sanyasa) yang dititipkan Rama kepadanya. Ia menempatkan sandal itu sebagai singgasana simbolik-yuridis dharma, serta memerintahkan lambang kerajaan—payung dan kipas kebesaran—dinaungkan di atasnya. Bharata bertekad menjaga negeri hingga Rama kembali; saat itu ia akan mengembalikan Ayodhya dan kerajaan kepada Rama dan kembali menjadi pelayan. Penutup sarga menggambarkan Bharata hidup asketis—berbusana kulit kayu dan berambut gimbal—memerintah hanya sebagai bawahan sandal suci; setiap urusan dan persembahan terlebih dahulu dipersembahkan kepada sandal itu, sehingga pemerintahan berubah menjadi pengelolaan amanat yang bertanggung jawab.
तपस्विनाम् औत्सुक्यं राक्षसत्रासश्च (Ascetics’ Anxiety and the Fear of Rakshasas)
Di hutan pertapaan Citrakuta, setelah kepergian Bharata, Rama melihat perubahan sikap yang nyata di antara para pertapa. Mereka tampak cemas, saling melirik ketakutan, dan berbisik-bisik. Khawatir bahwa kesalahan dirinya, Laksmana, atau Sita mungkin telah mengganggu keharmonisan pertapaan, Rama dengan hormat bertanya kepada Kulapati (pemimpin pertapa). Resi tua itu menolak kecurigaan terhadap perilaku Sita dan menjelaskan bahwa kegelisahan itu disebabkan oleh permusuhan Raksasa yang semakin menjadi-jadi karena kehadiran Rama di sana. Para pertapa menggambarkan pola gangguan yang mengerikan: iblis mengambil wujud yang menyeramkan, menyerang dan membunuh para pertapa, serta mengganggu persiapan yadnya dengan menghancurkan peralatan ritual dan memadamkan api suci. Mereka mengidentifikasi Khara—saudara Rahwana—yang tinggal di dekat Janasthana sebagai ancaman utama. Menyimpulkan bahwa terus tinggal di sana akan membahayakan semua orang, kelompok pertapa memutuskan untuk meninggalkan ashram menuju hutan lain. Rama mengantar mereka pergi, memberi penghormatan, dan kembali ke pertapaannya yang kini sunyi tanpa kehadiran para resi tersebut.
अत्र्याश्रमगमनम् तथा अनसूयोपदेशः (Arrival at Atri’s Hermitage and Anasuya’s Counsel)
Setelah para resi pertapa yang berkunjung berpamitan, Śrī Rāma merenung dan menolak untuk terus tinggal di tempat sebelumnya. Kenangan akan Bharata, para permaisuri, dan warga Ayodhyā mengguncang batinnya, dan ia pun terganggu oleh kenajisan jasmani yang timbul karena perkemahan bala Bharata (kuda dan gajah). Maka Rāma berketetapan hati untuk berpindah, lalu berangkat bersama Sītā dan Lakṣmaṇa hingga tiba di pertapaan Bhagavān Atri. Rāma bersujud penuh bakti; Atri menyambutnya dengan kasih seperti putra sendiri, memberi jamuan dan pelayanan yang patut diteladani, serta menenteramkan Lakṣmaṇa dan Sītā. Atri kemudian memanggil istrinya yang telah lanjut usia, sang pertapa Anasūyā—termashyur karena tapa yang amat berat dan anugerahnya bagi dunia (memulihkan penghidupan, mengalirkan Gaṅgā, menyingkirkan rintangan, serta menjalankan tapa yang mengubah tatanan waktu demi maksud ilahi). Ia mempersilakan Sītā mendekat kepadanya. Sītā mengelilingi Anasūyā dengan hormat dan memberi salam, melihat usia beliau yang sangat tua dan tubuh yang gemetar, lalu menanyakan kesehatannya. Anasūyā berkenan atas keluhuran budi Sītā, memuji pilihannya mengikuti Rāma menanggung susahnya hutan, dan menasihati dharma pativratā: bagi perempuan berbudi mulia, suami adalah perlindungan tertinggi dan laksana ‘dewa’ dalam segala keadaan; kesetiaan melahirkan kemasyhuran dan kebajikan, sedangkan nafsu yang tak terkendali membawa kemerosotan moral dan aib. Sarga ini memadukan perjalanan, tata krama penyambutan, pujian atas daya tapa, dan wejangan etika bagi Sītā.
अनसूयोपदेशः तथा सीताया स्वयंवरकथा (Anasuya’s Counsel and Sita’s Swayamvara Narrative)
Sarga ini menampilkan ajaran dharma dalam suasana āśrama hutan yang penuh penghormatan dan keramahtamahan. Setelah Anasūyā menasihati Vaidehī (Sītā), Sītā menjawab dengan rendah hati: suami adalah guru bagi istri, dan patiśuśrūṣā—pelayanan penuh bakti kepada suami—dipandang sebagai tapas utama bagi perempuan. Disebutkan teladan Sāvitrī yang dimuliakan di surga karena kesetiaan, serta Rohiṇī yang tak terpisahkan dari Sang Bulan, sebagai peneguhan kaidah kesetiaan dalam ikrar pernikahan. Anasūyā pun berkenan dan menganugerahkan perhiasan ilahi: rangkaian bunga, busana, perhiasan, lulur wangi, dan minyak/olesan berharga—yang dikatakan tidak pudar dan selalu pantas. Ia mengaitkan keindahan Sītā dengan Śrī (Lakṣmī) yang memperindah Viṣṇu, sehingga keharmonisan suami-istri dipandang sebagai sesuatu yang suci. Selanjutnya Anasūyā meminta kisah asal-usul dan pernikahan Sītā. Sītā menuturkan kemunculannya yang ayoni-jā dari bumi ketika Janaka membajak tanah untuk yajña; ia diangkat dan dibesarkan oleh permaisuri utama. Janaka cemas mencari suami yang sepadan, lalu mengadakan svayaṃvara dengan busur ilahi yang berat milik Varuṇa; para raja tak sanggup mengangkatnya. Kemudian Rāma datang bersama Viśvāmitra dan Lakṣmaṇa; Rāma segera memasang tali busur dan mematahkannya. Janaka, setia pada kebenaran, memutuskan menyerahkan Sītā, namun Rāma menunggu persetujuan Daśaratha. Dengan demikian pernikahan diselesaikan menurut dharma, dan Sītā menyatakan baktinya yang teguh kepada Rāma.
अनसूयाप्रीतिदानम् — Anasūyā’s Blessing and the Forest Path
Sarga ini menutup kisah Anasūyā dan mengantar rombongan melangkah lebih dalam ke rimba. Setelah mendengar penuturan Sītā yang rinci dan manis—terutama tentang svayaṃvara-nya—Anasūyā menanggapi dengan kasih keibuan: mencium dahi Sītā dan memeluknya. Ia mengizinkan mereka berangkat, lalu memohon agar Sītā dihias di hadapannya sebagai prīti-dāna (anugerah kasih), seraya menganugerahkan perhiasan dan busana ilahi. Sītā pun bersinar laksana gadis dewata, bersujud hormat dan kembali kepada Rāma; Rāma dan Lakṣmaṇa bergembira atas kehormatan langka yang diterimanya. Kisah kemudian beralih menjadi lukisan senja hingga malam: matahari terbenam, burung kembali ke sarang, para resi pulang dari pemandian membawa kendi air, asap agnihotra mengepul, rimba terasa makin pekat, makhluk malam mulai bergerak, dan bulan terbit di antara bintang-bintang. Setelah melewati malam suci dalam jamuan para pertapa yang telah sempurna tapa, saat fajar Rāma dan Lakṣmaṇa berpamitan. Para pertapa penghuni hutan memperingatkan bahaya rākṣasa pemakan manusia yang dapat berubah rupa serta pemangsa peminum darah yang mengancam para pertapa, dan mereka menunjukkan jalan aman yang biasa dilalui para muni saat mengumpulkan buah. Diberkahi para brahmana-pertapa, Rāma memasuki hutan bersama Sītā dan Lakṣmaṇa, diibaratkan seperti matahari memasuki gugusan awan.
Daśaratha announces Rāma’s coronation; Ayodhyā prepares in joy. Mantharā incites Kaikeyī to demand two boons: Bharata’s enthronement and Rāma’s fourteen-year exile. Bound by promise, Daśaratha yields; Rāma accepts without protest, Sītā insists on accompanying him, and Lakṣmaṇa follows. Amid public grief and ominous signs, the trio departs, meets Guha, crosses the Gaṅgā, and receives guidance from Bharadvāja, settling at Citrakūṭa. In Ayodhyā, Daśaratha dies in remorse; ministers summon Bharata, who condemns Kaikeyī, rejects the throne, and sets out to bring Rāma back, carrying coronation materials toward the forest.
Ayodhya Kanda centers on vacana-dharma (the ethics of keeping one’s word) and rājadhrama (kingship as moral constraint). Daśaratha’s earlier boons bind him to a course he abhors, demonstrating that royal authority is not merely power but accountability to truth and public trust. Rāma’s response elevates obedience from passive submission to an active ethical choice: he treats the father’s command as a dharmic imperative that prevents social fracture, even at personal cost. The book also explores companionate duty (Sītā’s insistence on shared exile) and political integrity (Bharata’s refusal to benefit from wrongdoing), framing legitimacy as rooted in self-restraint rather than possession of the throne.
Key episodes include: (1) announcement and preparations for Rāma’s consecration; (2) Mantharā’s incitement of Kaikeyī; (3) Kaikeyī’s demand for Bharata’s kingship and Rāma’s exile; (4) Daśaratha’s grief and compelled consent; (5) Rāma’s acceptance, Sītā’s decision to accompany him, and Lakṣmaṇa’s resolve to follow; (6) public lament and ominous portents; (7) departure from Ayodhyā and travel via Tamasā and Gaṅgā with Guha’s help; (8) visit to Bharadvāja and settlement at Citrakūṭa; (9) Daśaratha’s remorse, confession of past sin, and death; (10) Bharata’s return, denunciation of Kaikeyī, funeral rites, refusal of the throne, and journey to bring Rāma back with coronation materials.
The principal figures are Rāma (ideal heir who chooses exile as duty), Sītā (insists on accompanying her husband), Lakṣmaṇa (protective brother whose anger is disciplined by Rāma’s dharma), Daśaratha (tragic king bound by boons), Kaikeyī (queen who activates the boons), and Mantharā (catalyst of the crisis). Supporting but pivotal roles are played by Sumantra (escort and moral witness), Vasiṣṭha (ritual-political stabilizer after the king’s death), Bharata (refuses usurpation and seeks Rāma), Śatrughna (Bharata’s ally), Guha (Niṣāda host and guide), and Bharadvāja (sage who legitimizes the forest route).
Ayodhya Kanda provides the causal bridge between the youthful heroics of Bālakāṇḍa and the wilderness-centered conflict of Araṇyakāṇḍa. It relocates the epic from courtly promise to ascetic trial, converting Rāma’s princely excellence into a sustained ethical experiment under deprivation. Politically, it explains the succession crisis that later motivates Bharata’s regency and shapes Ayodhyā’s stance during Rāma’s absence. Thematically, it establishes the Ramayana’s central claim that dharma is tested most severely when it conflicts with personal happiness and immediate justice.
The kanda teaches: (1) integrity of speech and promise-keeping as social foundations; (2) leadership through forbearance—refusing retaliatory violence even under provocation; (3) ethical companionship—Sītā’s model of shared duty and courage; (4) legitimacy through renunciation—Bharata’s refusal to profit from injustice; and (5) the inevitability of moral consequence—Daśaratha’s remorse and death underscore that unrighteous outcomes, even when legally compelled, exact psychological and karmic cost.
Read Valmiki Ramayana in the Vedapath app
Scan the QR code to open this directly in the app, with word-by-word meanings, Sanskrit recitation where available, and more.