
किष्किन्धाकाण्ड
Kiṣkindhākāṇḍa menandai peralihan tegas dalam Ramayana: dari pengembaraan sunyi di hutan menuju politik persekutuan dan tindakan yang teratur. Bagian awalnya bernada sangat puitis; duka Rāma karena terpisah dari Sītā dipertentangkan dengan kelimpahan musim semi yang memabukkan, sehingga kebangkitan alam justru menajamkan kesunyian batin sang pahlawan. Landasan rasa (bhāva) ini mengantar pada perjumpaan dengan Sugrīva di Ṛśyamūka, yang dimediasi oleh kecemerlangan diplomasi Hanumān. Di sini persahabatan (sakhya) ditegakkan secara ritual dan etis: Rāma berikrar menolong Sugrīva melawan Vālin, sementara Sugrīva memberikan petunjuk tentang penculikan Sītā dan mengikat seluruh polity Vanara pada tugas suci pencarian. Pusat dramatis kitab ini adalah pembunuhan Vālin dari tempat tersembunyi—tindakan yang sarat persoalan moral—disusul teguran Vālin dan pembelaan dharma dari Rāma dengan kerangka wewenang raja serta penghukuman atas pelanggaran. Ratapan Tārā dan peralihan politik menuju penobatan Sugrīva memperlihatkan perhatian Valmiki pada harga kekuasaan, rapuhnya legitimasi, dan pengelolaan duka sebagai kewajiban publik. Sarga-sarga pertengahan menampilkan citra musim hujan dan ketidaksabaran Rāma ketika Sugrīva terlena dalam kenikmatan; ketegangan memuncak pada utusan keras Lakṣmaṇa, lalu diredakan oleh kebijaksanaan Tārā. Gerak akhir bersifat logistik dan nyaris ensiklopedis: Sugrīva mengirim regu pencari ke empat penjuru, memetakan geografi “maṇḍala” klasik. Ujian regu selatan (episode gua Vindhya) serta wahyu Sampāti mengarahkan pencarian ke Laṅkā, dan Hanumān ditetapkan sebagai tokoh yang akan melompati samudra. Dalam Resensi Selatan, sejumlah bait tambahan kerap memperkaya deskripsi, nasihat, dan katalog, meneguhkan Kiṣkindhākāṇḍa sebagai epos politik istana sekaligus poros naratif-bhakti dalam Ādikāvya berjumlah 24.000 śloka.
पम्पा-तीर-वर्णनम् / Rama’s Lament at Pampa and the Approach to Rishyamuka
Dalam sarga ini, Sri Rama bersama Laksmana tiba di tepi Pampa-puskarini dan memandang telaga yang dipenuhi padma dan utpala, angsa, karandava, serta cakravaka, juga hutan yang dihiasi sungai, air terjun, dan gua-gua. Musim semi (Madhava/Caitra) dilukiskan puitis: hujan bunga, dengung lebah, kicau kukila, tari merak, serta kelimpahan sulur dan tumbuhan. Namun keindahan itu justru menajamkan duka Rama: perpisahan dari Vaidehi (Sita), kegelisahan akan krisis dharma dan ikatan sosial yang menyangkut Janaka, Kausalya, dan Bharata, serta keputusasaan tentang “apa guna hidup ini.” Laksmana menasihati agar teguh, meninggalkan ratap, mengutamakan semangat, berusaha hingga tujuan tercapai, dan menegaskan bahwa pembinasaan Ravana tak terelakkan. Dengan nasihat itu Rama memperoleh keteguhan, melampaui Pampa dan menuju dekat Risyamuka; di sana Sugriva melihat mereka dan diliputi takut serta cemas, sementara para wanara lain gentar dan masuk ke perlindungan asrama—menjadi pembuka perjumpaan dengan kaum wanara.
द्वितीयः सर्गः (Sarga 2): Sugriva’s Alarm and Hanuman’s Commission
Sarga ini menggambarkan ketegangan menjelang perjumpaan pertama di Gunung Ṛśyamūka. Sugrīva, yang telah lama terluka batin karena permusuhan dengan Vālī, melihat Śrī Rāma dan Lakṣmaṇa—bersenjata dan berwibawa—lalu mengira mereka sebagai utusan Vālī yang datang menyamar. Ketakutannya tampak dalam kegelisahan dan pandangan yang terus menyapu segala arah; para menterinya segera berkumpul di puncak-puncak gunung, lompatan mereka mengguncang pepohonan berbunga dan membuat satwa hutan terkejut, menandakan kelincahan tempur kaum vānarā. Hanumān, yang disebut vākya-kovida (mahir bertutur), menenangkan kegundahan Sugrīva. Ia menegaskan bahwa perlindungan di jajaran Malaya mengurangi ancaman langsung dari Vālī, sehingga Sugrīva hendaknya tetap tenang dan menimbang dengan jernih. Lalu ia menguraikan tata cara penyelidikan: mendekat dalam wujud biasa, membaca isyarat (iṅgita), sifat, rupa, dan percakapan untuk mengetahui maksud; bila sikap mereka berkenan, bangun kepercayaan dengan pujian yang terukur, kemudian tanyakan tujuan mereka memasuki rimba. Pada akhirnya Sugrīva memberi wewenang kepada Hanumān untuk melakukan pengintaian diplomatik itu. Hanumān menerima perintah, memberi hormat, dan melangkah menuju Rāma serta Lakṣmaṇa—meneguhkan bahwa tutur kata yang benar adalah sarana yang mengubah kecurigaan menjadi jalan menuju persahabatan dan persekutuan.
हनूमत्संवादः / Hanuman’s Diplomatic Approach to Rama and Lakshmana
Sarga ini menampilkan perjumpaan resmi pertama antara para Rāghava dan perkemahan Sugrīva. Atas perintah Sugrīva, Hanumān melompat turun dari Ṛṣyamūka dan, dengan kebijaksanaan taktis, meninggalkan wujud kera lalu mengambil rupa seorang pengemis/pertapa—sebagai tanda tanpa permusuhan dan agar dialog berlangsung terarah. Ia mendekat dengan hormat melalui praṇipāta. Hanumān kemudian memuji Rāma dan Lakṣmaṇa dengan tutur yang indah: pandangan laksana singa, sinar ilahi, mata seperti kelopak teratai, dada bidang, serta senjata yang digambarkan lewat perumpamaan—busur bagaikan pelangi Indra, tabung anak panah seperti ular mendesis, pedang berkilau seperti ular yang baru berganti kulit. Dari pujian ia beralih pada pertanyaan: mengapa dua insan layak raja berada di hutan; lalu ia mengungkapkan bahwa Sugrīva, raja vānar yang saleh, dizalimi saudaranya dan menghendaki persahabatan. Setelah memperkenalkan diri sebagai menteri Sugrīva serta menyebut kemampuan berubah rupa dan bergerak cepat, Rāma meminta Lakṣmaṇa menjawab dengan lembut. Rāma menilai ucapan Hanumān sebagai teladan—menunjukkan pendidikan Weda, penguasaan tata bahasa, pelafalan tanpa cela, dan suara yang seimbang—sebab kefasihan adalah tanda kecakapan diplomasi. Lakṣmaṇa menerima ajakan untuk bertemu Sugrīva; Hanumān pun bersukacita dan berniat meresmikan persahabatan, sehingga ikatan persekutuan mulai terjalin.
हनूमद्-दूत्यम् / Hanuman’s Mediation and Lakshmana’s Appeal to Sugriva
Sarga ini menata sebuah persekutuan melalui dialog yang resmi. Hanumān, gembira mendengar tutur santun Lakṣmaṇa, dalam hati menantikan kembalinya kerajaan Sugrīva (rājyāgama), sebab kedatangan Rāma menandakan pertolongan yang pasti berhasil. Hanumān menanyakan maksud kedua saudara itu memasuki wilayah hutan Pampā yang berbahaya. Atas dorongan Rāma, Lakṣmaṇa menyampaikan uraian singkat tentang silsilah dan kebajikan: pemerintahan Daśaratha yang berlandaskan dharma, tanda-tanda kebesaran dan kemasyhuran Rāma, ketidakadilan pembuangan, serta krisis utama—penculikan Sītā oleh rākṣasa yang tak dikenal dan mampu berubah wujud. Lakṣmaṇa menyatakan śaraṇāgati dengan jelas: ia dan Rāma memohon perlindungan Sugrīva, merendahkan diri demi urgensi dharma. Diperkenalkan pula jaminan bernuansa nubuat melalui Danu (putra Diti) yang terkena kutuk hingga berada dalam keadaan rākṣasa; ia menubuatkan bahwa Sugrīva mampu mengenali pelaku penculikan. Hanumān menjawab dengan keyakinan yang halus: Sugrīva sendiri dizalimi Vālin, terusir dan kehilangan haknya, sehingga ia akan membalas pertolongan; Hanumān berjanji bekerja sama dalam pencarian Sītā. Bab ini ditutup dengan tata krama suci: Lakṣmaṇa menghormati Hanumān dan menaruh percaya pada kebenarannya. Hanumān lalu meninggalkan samaran pertapa, mengambil wujud vānar, dan mengangkat Rāma serta Lakṣmaṇa menuju Sugrīva di Ṛśyamūka—tanda bahwa persekutuan segera diresmikan.
मैत्रीप्रतिष्ठा (Rama–Sugriva Alliance and Fire-Rite of Friendship)
Dalam sarga ini, Hanuman pergi dari Risyamuka ke Gunung Malaya untuk memberitahukan kepada raja kera Sugriva tentang kedatangan kedua putra Raghu. Ia juga menegaskan kemuliaan Sri Rama—keturunan Ikshvaku, kesetiaan pada titah ayah, serta keberanian yang berpijak pada kebenaran. Mendengar itu, ketakutan Sugriva sirna; ia mengambil wujud manusia, berbicara lembut kepada Rama, dan mengajukan ikatan persahabatan: merentangkan lengan, menggenggam tangan, dan meneguhkan batas dharma yang tak tergoyahkan. Rama pun berkenan, menjabat tangan dan memeluknya. Hanuman lalu meninggalkan samaran pertapa, kembali ke wujud aslinya, dan menyalakan api suci dengan menggesekkan kayu. Dengan pemujaan bunga ia memuliakan Agni dan menempatkannya di antara keduanya. Rama dan Sugriva mengelilingi api (pradaksina) dan meneguhkan waisyatva—persahabatan resmi. Sugriva mengadukan sebab dukanya: ditipu Vali, dirampas istrinya, dan hidup di hutan karena ketakutan. Rama yang menjunjung dharma bersumpah akan menumbangkan Vali dengan panah yang tak meleset, berkilau laksana matahari, secepatnya. Di penutup, Sugriva berharap berkat Rama ia memperoleh kembali kerajaan dan permaisurinya. Disebut pula pertanda (sakuna) tentang bergetarnya mata kiri Sita, Vali, dan Ravana—menurut beda pertanda bagi perempuan dan laki-laki—sebagai isyarat halus bagi akibat yang akan datang dalam kisah ini.
आभरण-प्रत्यभिज्ञानम् (Recognition of Sītā’s Ornaments)
Sarga ini berfokus pada pengenalan bukti dan psikologi kesedihan. Sugriwa melaporkan kepada Rama bahwa ia telah melihat Sita diculik oleh seorang raksasa yang membunuh Jatayu. Sugriwa mengingat melihat seorang wanita dibawa pergi sambil berteriak memanggil "Rama" dan "Laksmana," meronta-ronta di pangkuan Rahwana. Sita menjatuhkan selendang (uttariya) dan perhiasan keberuntungan, yang kemudian disimpan oleh para wanara. Atas permintaan mendesak Rama, Sugriwa mengambil bungkusan itu dari dalam gua. Pemandangan pakaian dan permata itu membuat Rama sangat terpukul; ia menangis, jatuh pingsan, dan mendekapkan perhiasan itu ke dadanya. Rama memperlihatkan barang-barang itu kepada Laksmana. Laksmana menyatakan bahwa ia tidak mengenali gelang lengan atau anting-anting, tetapi ia mengenali gelang kaki karena setiap hari ia bersujud di kaki Sita—sebuah detail etis yang menonjolkan kesopanan dan pengabdiannya. Bab ini berakhir dengan Rama menuntut informasi arah tempat tinggal raksasa itu untuk melakukan pembalasan.
काकुत्स्थस्य शोकनिग्रहः—सुग्रीवसान्त्वनम् (Rama’s Grief Restrained—Sugriva’s Consolation)
Dalam sarga ini, Sugrīva melihat duka Rāma yang nyata lalu menenangkan beliau dengan tangan terkatup dan suara tersendat oleh air mata. Ia menegaskan bahwa kesedihan bagaikan lubang yang menghisap kebahagiaan, tejas (wibawa/kemilau daya), bahkan daya hidup; karena itu, dalam bencana hendaknya dijaga dhairya (keteguhan), air mata ditahan, dan kecerdasan yang jernih dipakai untuk menimbang jalan keluar. Duka disebutnya tidak layak bagi yang mulia dan justru melemahkan usaha. Kemudian Sugrīva mengubah empati menjadi tekad: ia berjanji akan berupaya dengan penuh tenaga untuk menemukan dan memulihkan Maithilī (Sītā), bahkan bersedia memusnahkan Rāvaṇa bersama kaumnya. Jaminan itu ia dasarkan pada persahabatan, bukan pada kesombongan. Rāma pun terhibur, menyeka air mata, kembali tenang, memeluk Sugrīva, dan mengakui betapa langkanya sahabat seperti itu di saat genting. Pada akhir adegan, Rāma meminta bantuan yang nyata untuk menelusuri jejak Sītā dan Rāvaṇa, menawarkan kewajiban timbal balik, serta meneguhkan kebenaran dengan sumpah. Sugrīva dan para penasihatnya bersukacita; lalu keduanya berbicara empat mata, saling berbagi suka dan duka—mengokohkan persekutuan melalui kerentanan bersama dan janji tindakan.
मैत्रीप्रतिज्ञा-वैरकारणप्रश्नः (Friendship Vow and Inquiry into the Cause of Enmity)
Dalam sarga ini, Sugriva merasa puas oleh sabda Sri Rama dan, dengan Laksmana sebagai saksi, berbicara kepada Rama dengan penuh kerendahan hati. Di tengah hutan disiapkan tempat duduk dari dahan-dahan pohon sala—Sugriva membentangkan dahan untuk Rama agar bersemayam, dan Hanuman dengan sopan mempersilakan Laksmana duduk. Kemudian Sugriva, dengan kasih dan suara yang bergetar oleh sukacita, menyampaikan kisah dukanya: ia disingkirkan dari kerajaan oleh saudaranya, Vali; istrinya dirampas; para sahabatnya dibelenggu; dan berkali-kali diupayakan kebinasaannya. Karena takut, ia tinggal di Gunung Rsyamuka, dijaga oleh para kera yang dipimpin Hanuman. Ia menegaskan kemuliaan persahabatan—demi sahabat, harta, kenikmatan, bahkan tubuh dapat dikorbankan—seraya mengingatkan ikrar persahabatan yang diteguhkan dengan penyerahan tangan di hadapan api sebagai saksi. Dengan mata basah ia sejenak tak mampu berkata-kata; lalu menahan tangis dan memohon, bahwa lenyapnya duka hanya mungkin bila Vali ditumpas. Rama, yang memahami dharma, seakan tersenyum dan berjanji: tanda sahabat adalah menolong, tanda musuh adalah mencelakakan; hari ini juga Vali akan Kubunuh. Ia menggambarkan anak panahnya yang bersayap bulu bangau dan dahsyat laksana wajra Indra. Setelah itu Rama ingin mengetahui sebab sejati permusuhan dan menenteramkan Sugriva bahwa setelah menimbang kekuatan dan kelemahan, Ia akan bertindak; Sugriva pun gembira memulai penuturan sebab permusuhan itu.
वालि–मायावी–बिलप्रवेशः (Vali’s Pursuit of Mayavi and the Cave Episode)
Dalam sarga ini, Sugriwa menceritakan kepada Sri Rama tentang asal mula perselisihannya dengan kakaknya, Wali. Ia mengisahkan bagaimana iblis Mayawi menantang Wali, yang kemudian mengejar iblis itu hingga masuk ke dalam gua yang sulit dijangkau. Wali memerintahkan Sugriwa untuk menjaga pintu gua. Setelah setahun berlalu, Sugriwa melihat darah dan buih mengalir keluar dari gua, sehingga ia menyimpulkan bahwa Wali telah tewas. Demi melindungi kerajaan, Sugriwa menutup pintu gua dengan batu besar dan kembali ke Kishkindha untuk dinobatkan sebagai raja oleh para menteri. Namun, Wali ternyata masih hidup dan kembali setelah membunuh Mayawi. Melihat Sugriwa bertahta, Wali menjadi murka. Meskipun Sugriwa bersujud dan meletakkan mahkotanya di kaki Wali sebagai tanda penyerahan diri serta menjelaskan kesalahpahaman tersebut, Wali tetap tidak mau memaafkannya dan mengusirnya.
सुग्रीवस्य वैरानुकथनम् (Sugriva’s Account of Enmity and Appeal to Rama)
Dalam sarga ini, Sugriwa menceritakan kepada Rama akar penyebab permusuhannya dengan Subali (Vali). Awalnya, ia berusaha menenangkan Subali yang marah dan menawarkan untuk mengembalikan kerajaan, menganggap dirinya hanya sebagai pemegang amanah. Sugriwa menjelaskan bagaimana raksasa bernama Mayawi menantang mereka di malam hari. Subali dan Sugriwa mengejarnya hingga raksasa itu masuk ke dalam gua besar. Sugriwa menunggu di pintu gua, namun setelah sekian lama melihat aliran darah keluar, ia mengira Subali telah tewas. Dalam kesedihan, ia menutup pintu gua dengan batu besar dan kembali ke Kishkindha. Para menteri kemudian memaksanya untuk menjadi raja. Ketika Subali ternyata masih hidup dan kembali, Sugriwa memohon ampun dan bersujud, ingin menyerahkan kembali tahta. Namun, Subali mencelanya di depan umum, mengusirnya, dan merampas istrinya, Ruma. Sugriwa yang ketakutan melarikan diri ke Gunung Resyamuka untuk berlindung. Pada akhirnya, Rama memberikan janji suci untuk membunuh Subali dengan panah saktinya dan menyelamatkan Sugriwa dari lautan kesedihan.
दुन्दुभिवधप्रसङ्गः — The Dundubhi Episode and the Proof of Rama’s Prowess
Sarga ini menampilkan kegelisahan Sugrīva untuk menghadapi Vāli dan membangun wacana “pembuktian” atas keperkasaan Rāma. Setelah kata-kata penguatan dari Rāma, Sugrīva memuji beliau sambil mengisahkan peristiwa terdahulu: raksasa Dundubhi menantang Samudra; Samudra mengarahkannya kepada Himavān; dan Himavān menyuruhnya menuju Vāli di Kiṣkindhā. Dalam wujud kerbau, Dundubhi menghadang gerbang kota dan memancing Vāli. Terjadilah duel dahsyat hingga Vāli membunuhnya dan melemparkan jasadnya jauh. Tetes darah jatuh di pertapaan resi Mataṅga; dengan daya tapa, sang resi mengenali pelaku dan mengutuk Vāli: memasuki hutan yang dilindungi itu (beserta radius satu yojana) akan mendatangkan kematian. Karena kutuk inilah Vāli menjauhi Ṛśyamūka, sehingga Sugrīva dapat berlindung di sana. Sugrīva lalu menunjukkan “penanda” kekuatan Vāli—tumpukan tulang Dundubhi dan tujuh pohon sāla—seraya memohon verifikasi dari Rāma. Rāma dengan mudah mengangkat jasad Dundubhi yang telah kering hanya dengan ujung jari kaki dan melemparkannya sejauh sepuluh yojana, lalu bersiap membuktikan lebih lanjut dengan menembus pohon sāla. Ajaran bab ini menegaskan: keyakinan dalam tindakan yang benar diteguhkan oleh kemampuan yang nyata, sementara kekerasan dibatasi oleh tata-aturan duel yang adil dan oleh kesucian ruang yang dilindungi para resi.
द्वादशः सर्गः — Rama’s Proof of Power, the First Duel, and the Identification Mark (Kishkindha Kanda, Sarga 12)
Sarga 12 menggambarkan perkembangan dari pembuktian kekuatan menuju tindakan nyata. Pertama, Rama membuktikan kemampuannya kepada Sugriwa dengan melepaskan satu anak panah yang menembus tujuh pohon sala, sebuah gunung, dan bumi, lalu kembali ke tabungnya. Meyakini kekuatan Rama, Sugriwa meminta izin untuk segera menantang Wali. Rama setuju dan memerintahkan Sugriwa untuk menantang kakaknya di Kishkindha. Duel pun dimulai, namun Rama menahan panah saktinya karena tidak dapat membedakan kedua bersaudara yang memiliki rupa, perhiasan, dan gaya bertarung yang identik. Sugriwa yang terluka parah melarikan diri ke hutan Matanga, tempat yang tidak berani dimasuki Wali karena kutukan resi. Ketika Sugriwa menyalahkan Rama, Rama menjelaskan bahwa membunuh teman sendiri karena salah identitas adalah dosa besar. Sebagai solusi, Laksmana mengalungkan tanaman gajapuspi yang sedang mekar di leher Sugriwa sebagai tanda pengenal, dan mereka pun kembali untuk pertarungan penentuan.
Saptajana-āśrama Darśana and the Approach to Kiṣkindhā (Hermitage of Seven Sages; March toward Vāli’s Capital)
Sarga 13 mengisahkan gerak cepat dari Ṛṣyamūka menuju Kiṣkindhā, disertai pengamatan alam yang rinci—sekaligus catatan perjalanan dan suasana etis. Sugrīva dan Lakṣmaṇa berjalan di depan Rāma; Hanumān, Nala, Nīla, dan Tārā mengikuti di belakang, membentuk iring-iringan yang tertata. Di sepanjang jalan mereka melihat sungai-sungai, telaga penuh teratai, burung-burung bersuara merdu, rusa yang tak gentar, serta gajah-gajah besar yang menyendiri namun menggetarkan, sampai mampu merobohkan tanggul—menandai rimba yang subur sekaligus berbahaya. Rāma kemudian melihat gumpalan pepohonan lebat laksana awan, dilingkari kebun pisang, lalu meminta Sugrīva menjelaskan tempat itu. Sugrīva menyebutnya pertapaan Saptajana yang luas—āśrama penghilang lelah, kaya umbi-umbian, buah, dan air, dijaga oleh tapa tujuh pertapa. Mereka hidup dari udara, menjalankan disiplin yang amat keras (berdiri terbalik, berendam dalam air, dan sebagainya), dan mencapai surga bersama raganya; daya tapa mereka melindungi kawasan suci itu. Pertapaan itu digambarkan sangat sakral sekaligus berbahaya bagi yang tidak paham: burung dan binatang menghindarinya; orang yang masuk tanpa pengetahuan tidak kembali. Terdengar bunyi-bunyi ilahi, tercium wewangian, dan asap dari tiga api suci menjulang memahkotai pucuk-pucuk pohon. Mengikuti nasihat Sugrīva, Rāma dan Lakṣmaṇa bersujud dalam batin dengan tangan terkatup, lalu melanjutkan perjalanan hingga memandang Kiṣkindhā yang tak tertembus, terlindungi oleh keperkasaan Vāli, sambil menyiapkan senjata untuk pertemuan yang akan datang.
किष्किन्धायां सुग्रीवस्य नादः — Sugriva’s War-Cry at Kishkindha
Sarga ini menggambarkan pendekatan taktis menuju Kiṣkindhā serta penetapan tata cara pengenalan dan keterlibatan sebelum duel dengan Vāli. Rāma, Lakṣmaṇa, dan Sugrīva tiba di dekat Kiṣkindhā yang dikuasai Vāli, lalu bersembunyi menanti di hutan lebat di balik pepohonan. Sugrīva mengamati sekeliling, diliputi amarah, kemudian mengaumkan tantangan yang menggetarkan, dikelilingi para pengikut—bagaikan awan besar didorong angin seolah membelah langit. Sugrīva menyatakan mereka telah sampai di ibu kota yang berkubu, berhias gerbang emas dan panji-panji, serta mendesak Rāma menunaikan janji sebelumnya untuk menewaskan Vāli pada saat yang tepat. Rāma memberi jaminan: Lakṣmaṇa telah mengalungkan pada leher Sugrīva rangkaian gaja-latā sebagai tanda pengenal dalam pertempuran. Rāma berjanji akan melenyapkan takut dan permusuhan Sugrīva dengan satu anak panah, meminta Sugrīva menunjukkan “musuh dalam rupa saudara”, dan menegaskan bahwa begitu Vāli terlihat, ia takkan lolos hidup-hidup. Sebagai bukti kemampuan, Rāma mengingatkan peragaan terdahulu ketika satu panah menembus tujuh pohon sāla; ia meneguhkan kebenaran yang terikat dharma dan bersumpah menjadikan janjinya berbuah laksana hujan Indra yang turun pada waktunya. Rāma lalu memerintahkan Sugrīva mengangkat seruan pemanggil khusus agar Vāli—berkalung emas—keluar menyambut tantangan. Teks menegaskan watak ksatria: para pahlawan tak menahan hinaan, terlebih di hadapan perempuan; Sugrīva pun mengaum, membuat kawanan sapi tercerai, rusa tertegun, burung-burung berjatuhan, dan gaungnya diserupakan dengan gugusan awan bergemuruh serta gelombang samudra yang dicambuk angin—menyiapkan kemunculan Vāli dan bentrokan penentu.
तारोपदेशः — Tara’s Counsel to Vali on Sugriva’s Roar and Rama’s Alliance
Sarga ini dibuka dengan Vālī yang dari dalam istana mendengar auman Sugrīva yang dahsyat, digambarkan mengguncang semua makhluk. Suara itu menggoyahkan kesombongannya dan menyalakan amarah yang ganas; Vālī pun menerjang keluar dengan citra bagaikan api, berniat segera bertarung. Tārā menahan Vālī dengan tubuh dan kata-kata: memeluknya, memohon agar ia menahan diri, serta menyarankan agar pertempuran ditunda hingga pagi—bukan karena takut, melainkan sebagai siasat. Ia lalu mengajukan penalaran penting: Sugrīva yang pernah kalah kini berani menantang kembali; keberanian dan kelancangannya pasti bersandar pada dukungan dari luar. Berdasarkan kabar Aṅgada dan para mata-mata, Tārā menyampaikan bahwa Rāma dan Lakṣmaṇa, pangeran Ikṣvāku yang tak terkalahkan dalam perang, telah bersekutu dengan Sugrīva. Ia memuji kebajikan Rāma dan memperingatkan bahwa memusuhi kesatria yang tak terukur akan membawa bencana bagi kerajaan dan diri sendiri. Karena itu ia menasihati jalan damai: berdamai, menobatkan Sugrīva, meninggalkan permusuhan, memuliakannya dengan hadiah, dan menjalin persahabatan dengan Rāma. Namun Vālī, dikuasai takdir yang buruk, menolak nasihat yang membawa kebaikan itu di ambang kehancurannya.
वालिवधः — The Slaying of Vali
Dalam sarga ini, Tara berusaha menahan Vali, namun Vali menegaskan dharma perang yang sejalan dengan kehormatan dan dharma ksatria. Ia menganggap auman Sugriva sebagai penghinaan dan bersumpah tidak akan kembali sebelum menaklukkan Sugriva. Tara menuturkan kata-kata lembut, memeluknya, mengitari (pradaksina), melantunkan mantra keselamatan serta doa kemenangan, lalu masuk ke istana dalam. Vali yang murka keluar dari kota, menatap ke segala arah demi melihat musuh, dan mendapati Sugriva. Keduanya mengangkat kepalan, bertarung dahsyat dengan hantaman pohon serta serangan kuku, tinju, kaki, lutut, dan lengan—diumpamakan seperti pertarungan Vrtra dan Vasava (Indra), atau seperti bulan dan matahari. Dalam pertempuran, kekuatan Vali tampak meningkat sementara Sugriva kian terdesak; melihat bahaya itu, Rama memasang anak panah laksana ular berbisa pada busurnya. Dentang talinya mengguncang hutan, dan panah agung dilepaskan menembus dada Vali. Berlumuran darah, Vali roboh ke bumi bagaikan panji Indra atau pohon asoka yang tumbang; sarga ini menjadi titik penentu antara dharma persahabatan, siasat perang, dan dilema dharma, membuka jalan bagi penegakan kerajaan Sugriva.
वालिवधः — Vālī’s Fall and Dharma-Accusation (Kiṣkindhā Sarga 17)
Sarga ini menggambarkan saat-saat segera setelah Vālī terkena panah Rāma. Vālī roboh seketika “seperti pohon yang ditebang.” Tubuhnya dilukiskan dengan citra kepahlawanan yang panjang—berhias perhiasan emas, laksana panji Indra—serta perbandingan kosmis: seperti api tanpa nyala, seperti Yayāti jatuh dari surga, atau seperti Matahari yang dijatuhkan pada akhir zaman. Rāma, bersama Lakṣmaṇa, mendekat dan menyaksikan bahwa bahkan dalam kekalahan pun wibawa Vālī tetap menggetarkan. Vālī lalu menyampaikan kritik dharma yang tajam. Ia mengakui keluhuran wangsa dan kebajikan Rāma, namun mempertanyakan etika dibunuh ketika sedang berhadapan dengan yang lain—dalam keadaan berpaling (parāṅmukha), seolah dibunuh secara tidak langsung—yang menurutnya tidak pantas bagi seorang kṣatriya dan berbahaya bagi legitimasi raja. Ia membedakan hidup para vānarā penghuni hutan dari tata kerajaan manusia, menyoal motif Rāma (tanah dan harta atau sekadar buah-buahan hutan), serta mengingatkan norma hukuman, pengendalian diri, dan pemerintahan yang berpegang pada kebenaran. Vālī mengingat peringatan Tārā yang dahulu diabaikannya karena delusi. Ia menyatakan bahwa seandainya ia berkehendak, Sītā dapat dipulihkan dengan cepat. Setelah mendesak Rāma untuk merenung dan menjawab, Vālī terdiam karena lelah dan sakit, memandang Rāma yang digambarkan bercahaya laksana Matahari.
वाली–रामसंवादः (Rama’s Justification to Vali on Rājadharma)
Sarga 18 menampilkan dialog yuridis-etis yang tajam setelah Vālī terluka parah. Vālī mula-mula menegur Śrī Rāma karena tindakan yang tampak keras—memanah tanpa berhadapan langsung. Rāma menjawab bahwa peristiwa itu adalah penegakan rājadharma; di bawah perwalian de facto Bharata, kewibawaan Ikṣvāku memberi raja hak nigraha dan anugraha (menghukum dan menganugerahi) atas makhluk di wilayahnya. Rāma menegaskan pelanggaran utama Vālī ialah bhrātṛbhāryāvamarśa—mengambil istri saudara—yang menurut smṛti merupakan dosa berat, layak dikenai daṇḍa, bahkan vadhā. Ia mengemukakan logika dharmaśāstra: hukuman menyucikan pelaku; bila raja tidak menghukum, cela berpindah kepada raja; dan melalui analogi berburu, ‘śākhāmṛga’ (kera) boleh dipanah tanpa terikat kaidah duel tatap muka. Kebingungan Vālī pun sirna; ia menerima alasan Rāma, memohon ampun, lalu memikirkan etika suksesi—meminta perlindungan bagi Aṅgada dan perlakuan adil bagi Tārā di bawah Sugrīva. Rāma menghibur Vālī, menjelaskan sebab-akibat karma dan keniscayaan takdir, serta menjamin kelangsungan pemeliharaan Aṅgada; sarga ditutup dengan perdamaian yang berlandaskan dharma.
ताराविलापः — Tara’s Lament and Counsel after Vali’s Fall
Sarga ini menggambarkan kejadian segera setelah Vali terluka parah oleh panah Rama. Vali, yang terbaring di tanah dan mendekati ajal, tidak lagi mampu menanggapi jawaban Rama, menandai berakhirnya perdebatan dan beralih ke suasana duka. Tara mendengar berita tentang Vali, bergegas keluar bersama Anggada, dan menyaksikan pasukan wanara berlarian ketakutan melihat Rama yang memegang busur. Dia menghadapi para kera yang melarikan diri, mempertanyakan mengapa mereka meninggalkan raja mereka. Para wanara menjawab dengan nasihat pragmatis: lindungi Anggada, amankan gerbang kota, dan lakukan penobatan untuk menstabilkan suksesi, serta memperingatkan adanya ancaman internal. Namun, Tara menolak penghiburan politik semata, menyatakan bahwa tanpa suaminya, baik putra, kerajaan, maupun hidup tidak lagi bermakna. Dia memutuskan untuk mendekati Vali yang sedang sekarat. Dia melihat Vali bagaikan singa yang jatuh dan juga melihat Rama, Laksmana, dan Sugriwa di dekatnya. Diliputi kesedihan, dia meratap memanggil "Aryaputra," yang membuat Sugriwa dan Anggada turut larut dalam kepedihan.
ताराविलापः — Tara’s Lament over Vāli
Sarga ini menggambarkan saat-saat segera setelah Vāli gugur oleh panah Śrī Rāma. Tārā, yang digambarkan berwajah laksana bulan dan berwibawa, mendekati Vāli yang terbaring, memeluknya, lalu melantunkan vilāpa (ratapan) panjang. Ia melukiskan Vāli seakan memeluk bumi sebagai kekasih dalam kematian; kekuatannya bagaikan gajah, namun kini rebah seperti pohon yang tercabut akarnya. Ratapan Tārā bercampur dengan perhitungan moral. Ia heran mengapa hatinya belum juga hancur, lalu menegaskan bahwa perbuatan Vāli terhadap Sugrīva—mengusirnya dan merampas Rūmā—kini berbuah dan matang sebagai akibatnya. Ia juga mengingatkan bahwa nasihat baiknya dahulu justru dicemooh dan diabaikan. Tārā kemudian berpaling kepada Aṅgada, memintanya memandang ayahnya yang mencintai dharma, menerima kasih sayang dan wejangan terakhir; namun ia juga takut akan masa depan Aṅgada di bawah paman yang tersesat oleh amarah. Ia mengakui tindakan Rāma sebagai pemenuhan janji kepada Sugrīva, lalu berbicara kepada Sugrīva bahwa keinginannya telah tercapai dan kerajaan kini menjadi miliknya. Sarga ditutup dengan ratapan para istri Vāli yang lain, serta tekad Tārā untuk menjalani prāya—berpuasa hingga wafat—di sisi Vāli.
ताराशोकविनोदनम् (Consolation of Tara and Counsel on Succession)
Sarga ini menceritakan nasihat Hanuman untuk menghibur Tara yang sedang berduka setelah kematian Vali. Sebagai penasihat senior, Hanuman menjelaskan filosofi 'Karmaphala', bahwa setiap makhluk akan menuai hasil dari kebajikan dan keburukan mereka setelah kematian. Ia mengingatkan bahwa tubuh itu rapuh, sehingga ratapan yang berlebihan tidaklah bijaksana secara filosofis. Hanuman kemudian mengarahkan perhatian Tara pada dharma praktis: melindungi Angada sebagai pewaris dan melaksanakan tugas kerajaan. Hanuman menyarankan agar upacara peralihan kekuasaan segera dilakukan dan Angada dinobatkan agar ketenangan pulih. Namun, Tara menolak logika politik tersebut dengan etika kesetiaan. Ia menyatakan bahwa memeluk suaminya yang telah gugur lebih mulia daripada kekuasaan masa depan. Tara menegaskan bahwa ia tidak berhak memutuskan tahta, melainkan Sugriwa sebagai paman yang kini berkuasa, dan akhirnya ia memilih untuk tetap berada di sisi jasad Vali.
वालिविलापः — Vali’s Final Counsel and the Succession Charge
Sarga 22 menampilkan wejangan terakhir Vālin yang mengubah hasil pertempuran menjadi tatanan kerajaan. Dalam luka yang mematikan, Vālin menyadari kehadiran Sugrīva dan berbicara dengan kasih seorang saudara; ia menafsirkan kesalahan masa lalu sebagai kekeliruan karena takdir, lalu mendorong perdamaian dan rekonsiliasi. Ia kemudian menyerahkan suksesi: memerintahkan Sugrīva menerima takhta, menjadi ayah, penopang, dan pelindung bagi Aṅgada, serta menjadikan Tārā—dengan kecakapan menghadapi krisis dan penilaian halusnya—sebagai nasihat yang teguh. Vālin mengikat raja baru pada dharma luar: tugas Rāghava harus dilaksanakan tanpa ragu; kelalaian akan menjadi adharma dan merugikan kerajaan. Sebagai tanda legitimasi, Vālin memberikan kalung emas ilahi kepada Sugrīva, meneguhkan kesinambungan di tengah duka. Kepada Aṅgada ia meninggalkan pedoman: peka pada waktu dan tempat, tabah menahan gejolak hati, setia kepada Sugrīva, tidak berpihak pada kelompok musuh, dan menjaga keseimbangan—tidak terlalu akrab namun juga tidak menjauh. Setelah itu Vālin wafat; para vānarā meratap, Kiṣkindhā terasa sunyi, kepahlawanannya dikenang (termasuk duel panjang melawan gandharva Golabha), dan Tārā roboh di atas jasad Vālin, menutup bab dengan suasana ratapan.
ताराविलापः (Tārā’s Lament over Vāli)
Sarga ini menampilkan ratapan (vilāpa) yang padat setelah gugurnya Vāli di medan laga. Tārā mendekati raja kera yang terbaring, mencium/menghirup keningnya, lalu melantunkan ungkapan duka yang sekaligus sapaan mesra dan renungan dharma: ia mengenang keberanian Vāli dan ikatan mereka, meratapi keadaan janda sebagai penderitaan sosial-rohani meski berharta atau beranak, serta menggambarkan tubuh yang terbaring dalam darah dan debu. Tārā juga mengakui akibat politiknya—ketakutan Sugrīva sirna oleh satu anak panah Rāma—seraya menyesali ketidakmampuannya menahan Vāli dari perang. Ratapan kemudian beralih menjadi kewajiban bakti: Tārā memerintahkan Aṅgada memberi hormat kepada ayahnya yang menuju kediaman Yama; Aṅgada menunduk hormat, namun sang raja yang telah wafat tak dapat memberkati, sehingga pilu kian mendalam. Nīla lalu mencabut anak panah yang tertancap di jantung Vāli; sinarnya yang basah darah digambarkan dengan citra matahari dan gunung, disusul derasnya darah dari luka-luka. Sarga ditutup dengan penilaian diri Tārā: bersama gugurnya Vāli, runtuhlah kemakmuran dan keteguhannya, menandai peralihan dari duka pribadi menuju penataan ulang dinasti.
वालिवधोत्तरशोकः — Sugriva’s Remorse and Tara’s Lament after Vali’s Death
Sarga ini berpusat pada dua wacana kesedihan yang memurnikan pertaruhan etis atas kematian Vali. Pertama, Sugriwa, yang melihat Tara diliputi air mata dan kesedihan, mendekati Rama dengan pengakuan akan keruntuhan moral. Ia mengakui bahwa penahan diri Vali sebelumnya mencerminkan sifat mulia, sedangkan nafsunya sendiri, kemarahan, dan 'kapitva' (sifat kera) menyebabkan konsekuensi pembunuhan saudara. Menolak kenikmatan kerajaan, Sugriwa bahkan meminta izin untuk memasuki api sebagai penebusan dosa, sambil menegaskan bahwa para pemimpin Wanara akan terus mencari Sita. Kedua, Tara bangkit dari tubuh Vali, memandang cahaya agung Rama, dan—meskipun terguncang namun tetap sadar—memohon kepada-Nya untuk membunuhnya dengan panah yang sama agar ia dapat bersatu kembali dengan Vali. Ia berargumen dari sastra bahwa seorang istri tidak dapat dipisahkan dari diri suaminya. Rama menanggapi dengan nasihat yang menghibur tentang takdir (vidhata), tatanan dunia yang tetap, dan kesejahteraan masa depan Angada, setelah itu ratapan keras Tara mereda. Bab ini dengan demikian memetakan kesedihan ke dalam pemerintahan: penyesalan diakui, tatanan sosial distabilkan, dan misi pencarian Sita tetap terjaga.
वालिनः और्ध्वदैहिकम् — Vali’s Funeral Rites and the Consolation of the Bereaved
Dalam sarga ini, Sri Rama menenangkan Sugriva, Tara, dan Angada dengan duka yang sama. Beliau mengajarkan bahwa ratap tangis tidak membawa manfaat bagi yang wafat; segala yang terjadi berada di bawah ketetapan (niyati), waktu (kala), dan kodrat (svabhava). Kebaikan bagi mendiang dicapai melalui pelaksanaan kewajiban dan upacara pada waktunya, bukan melalui tangisan. Kemudian Laksmana dengan rendah hati mendorong Sugriva melaksanakan upacara kematian (aurdhvadaihika) bagi Vali: mengumpulkan kayu dan cendana, menyiapkan usungan jenazah (sibika), menata para wanara yang akan mengusung, serta meneguhkan hati Angada. Tara segera masuk ke gua dan membawa sibika ilahi yang indah, konon buatan Visvakarma; Rama memerintahkan agar Vali segera diusung sesuai tata cara. Sugriva bersama Angada, sambil menangis, menempatkan Vali di atas sibika dan memerintahkan penyelenggaraan kremasi yang layak bagi raja—iring-iringan dengan taburan permata dan penghormatan bagi sang suami. Para wanari mengikuti dengan suara pilu; Tara meratap melihat suaminya terbaring, menunjuk kedatangan Kala dalam wujud Rama, dan mengungkapkan pedihnya menjadi janda. Di tepi sungai disiapkan tumpukan kayu pembakaran; Angada bersama Sugriva menempatkan ayahnya di atasnya, menyalakan api sesuai aturan, lalu mengitari dengan arah yang ditetapkan. Setelah pembakaran, para wanara menuju sungai yang jernih untuk mempersembahkan air (udaka-dana); Rama, tetap berduka, mengatur seluruh ritus bagi arwah, dan tampak jelas peralihan dari duka menuju pelaksanaan dharma.
महाभिषेकः — Sugriva’s Coronation and Angada’s Installation
Sarga ini menampilkan peralihan dari duka menuju pemerintahan yang sah. Para pemimpin wanara mendatangi Sugriva yang masih berbalut kain basah seusai mandi upacara kematian—tanda bahwa masa berkabung telah ditutup dan kini ia siap memikul kewajiban di hadapan rakyat. Hanuman memohon agar Sri Rama memasuki Kishkindha untuk meresmikan hubungan kerajaan, namun Rama menolak memasuki desa atau kota selama empat belas tahun demi menaati titah ayahanda. Meski demikian, Rama mengesahkan proses politik: Sugriva hendaknya masuk ke kota-gua yang makmur dan ditahbiskan menurut tata upacara. Rama juga memerintahkan agar Angada—putra sulung Vali dan setara dalam keberanian—dikukuhkan sebagai yuvaraja (putra mahkota) demi meneguhkan suksesi. Ia memberi arahan musim: ketika hujan empat bulan dimulai pada Sravana, usaha segera tidaklah tepat; persiapan untuk menumpas Ravana hendaknya dilakukan saat Kartika tiba. Sugriva memasuki Kishkindha dan menerima sujud hormat rakyat. Kerabat serta para pemuka menobatkannya melalui persembahan api Weda dan abhiseka: air suci yang dihimpun dari sungai, tirtha, dan samudra disimpan dalam bejana emas, lalu dituangkan dengan sarana bertuah seperti tanduk banteng dan kendi emas. Payung putih, kipas chamar, busana, wewangian, permata, ramuan, minyak oles, dan pigmen disebutkan, menegaskan keabsahan raja melalui kelengkapan upacara. Sesudah penobatan Sugriva, Angada ditahbiskan sebagai pangeran wali. Kota dihiasi panji-panji dan dipenuhi sukacita. Sugriva melaporkan selesainya mahābhiṣeka kepada Sri Rama dan memperoleh kembali Ruma, laksana Indra yang mendapatkan kembali kedaulatannya.
प्रस्रवणगिरिवासवर्णनम् (Residence on Mount Prasravana; Counsel during the Rains)
Sesudah penobatan Sugrīva dan kembalinya ia ke kota-gua Kiṣkindhā, Śrī Rāma dan Lakṣmaṇa menuju Gunung Prasravaṇa untuk berdiam selama musim hujan. Di sana mereka memilih sebuah gua yang luas, sejuk, dan berpenghawaan baik. Sarga ini menonjolkan pemetaan alam: puncak-puncak bertabur mineral beraneka warna, gua dan air terjun, telaga penuh teratai, serta ciri-ciri arah di sekitar gua (turunan di timur laut, ketinggian di barat, tempat terlindung dari angin). Mengalir ke timur, sebuah sungai yang jernih disamakan dengan Jāhnavī (Gaṅgā) di Trikūṭa; tepiannya dihiasi aneka pohon dan tumbuhan berbunga yang disebutkan satu per satu. Suasana bunyi dipenuhi kicau burung, merak, angsa, sārasā, dan cakravāka yang bergerak berpasangan. Dari kejauhan terdengar musik dan tabuh genderang dari Kiṣkindhā, menandakan kemakmuran Sugrīva yang pulih. Namun batin Rāma beralih pada duka: meski tempatnya nyaman, sukacitanya tipis; bulan yang naik membangkitkan ingatan pada Sītā hingga tidur pun menjauh. Lakṣmaṇa memberi penghiburan yang teratur—menolak putus asa, menumbuhkan daya upaya, menanti datangnya musim gugur setelah hujan, lalu memusnahkan musuh dengan tekad yang teguh. Rāma menerima nasihat itu, berikrar bersabar menurut musim, dan menegaskan etika membalas pertolongan—rasa syukur sebagai kewajiban seorang pahlawan.
वर्षावर्णनम् — The Monsoon Description and Rama’s Counsel on Timing
Sesudah kematian Vālī dan penobatan Sugrīva, ketika musim hujan mulai turun, Śrī Rāma tinggal di Gunung Mālyavān dan menasihati Lakṣmaṇa. Sarga ini memaparkan ṛtu-varṇana yang panjang: awan laksana puncak gunung, kilat seperti cambuk emas, gemuruh bagaikan lantunan Weda, air terjun seperti untaian mutiara; hutan pun seakan hidup oleh merak, katak, lebah, bangau, serta sungai-sungai yang meluap. Di tengah peta rasa dan bunyi itu, tersingkap pula batin Rāma—duka perpisahan dari Sītā, sulitnya perjalanan di musim hujan, dan besarnya ancaman Rāvaṇa. Rāma menjelaskan mengapa ia tidak segera mendesak Sugrīva: sang sekutu telah lama menderita, baru saja memperoleh kembali ketenteraman rumah tangga, dan tugas suci harus dijalankan dengan kāla-jñāna, pertimbangan waktu yang tepat. Akhirnya ditegaskan prinsip kewajiban timbal balik: pertolongan patut dibalas, dan ketidakberterimaan budi melukai hati orang berbudi. Lakṣmaṇa menyetujui dengan hormat, menyarankan ketabahan hingga musim gugur, saat Sugrīva dapat bertindak dengan efektif.
हनूमता सुग्रीवस्य कालधर्मोपदेशः — Hanuman’s Counsel on Timely Ally-Duty
Sarga 29 dibuka dengan gambaran malam yang jernih bermandikan cahaya bulan, bergema oleh suara burung-burung. Hanumān melihat Sugrīva, setelah meraih kerajaan dan kemakmuran, menjadi lengah dan tenggelam dalam kenikmatan. Ia kurang memperhatikan urusan kerajaan dan pesan-pesan istana, menyerahkan pekerjaan kepada para menteri tanpa pengawasan. Hanumān lalu mendekatinya dengan vākyanīti yang terukur—tutur kata manis, bernalar, dan menenteramkan—agar kepercayaan tetap terjaga sambil menegur kelalaian. Ia menegaskan ajaran tata pemerintahan: rājya, kīrti, dan pratāpa seorang raja bertumbuh bila ia menghormati sekutu dan memahami waktu; perbendaharaan, daṇḍa (kekuatan penegakan), para sahabat, serta disiplin diri harus dijaga seimbang. Hanumān memperingatkan bahwa tugas sahabat yang ditunda sering gagal meski kemudian diupayakan, dan mendesak kewajiban mendesak: memulai pencarian Vaidehī (Sītā) demi Rāma, yang kekuatannya tak terukur dan yang pertolongannya telah menegakkan takhta Sugrīva. Tersentuh oleh nasihat yang tepat waktu, Sugrīva bertekad bertindak. Ia mengutus Nīla untuk menghimpun pasukan dari segala penjuru, menetapkan batas waktu kedatangan yang tegas, serta memerintahkan koordinasi dengan Angada dan para tetua—mengubah suasana istana yang terlena menjadi mobilisasi yang tertata.
शरत्प्रवेशे रामविलापः तथा सुग्रीवप्रमादे लक्ष्मणप्रेषणम् (Autumn’s Onset: Rama’s Lament and Lakshmana Sent to Sugriva)
Setelah musim hujan berlalu dan langit menjadi jernih, datanglah awal musim gugur (śarat). Memandang bulan śarat, Śrī Rāma—terbakar oleh kāma dan śoka karena perpisahan dari Sītā—tersadar bahwa waktu telah lewat sementara Sugrīva masih larut dalam kenikmatan; kesadaran itu membuatnya jatuh pingsan. Setelah siuman, Rāma meratap untuk Janakī melalui renungan yang terkait alam—burung, sungai, teratai, angin, dan cahaya bulan—menjadikan perubahan dari varṣā ke śarat sebagai cermin pedihnya viraha. Lakṣmaṇa kembali, mendapati Rāma tak sadarkan diri, lalu menasihatinya menuju kriyābhiyoga: bangkit berusaha kembali dengan ketenangan dan tindak lanjut yang terarah. Ia menegaskan bahwa Janakī tidak mudah ditahan lama bila berada dalam lindungan dan keperkasaan Rāma. Rāma menerima nasihat itu, namun menilai janji dan batas waktu telah dilanggar; ia memerintahkan Lakṣmaṇa memasuki Kiṣkindhā untuk menegur Sugrīva dengan tegas, memperingatkan bahwa mengingkari ikrar dapat berujung akibat seperti nasib Vāli. Dengan demikian, sarga ini mengikat keindahan ṛtu-varṇana dengan etika pemerintahan: janji, persekutuan, dan tindakan tepat waktu adalah syarat dharma dan keberhasilan misi.
लक्ष्मणक्रोधः सुग्रीवप्रबोधनं च (Lakshmana’s Wrath and the Summoning of Sugriva)
Sarga 31 menampilkan krisis tata kelola dalam persekutuan Rama–Sugriva. Melihat Rama diliputi duka dan menilai Sugriva lalai terhadap kewajibannya, Lakshmana tersulut amarah; namun Rama menasihatinya agar menahan murka dan berbicara dengan sāman—kata-kata pendamaian—bukan dengan kekerasan. Dengan busur laksana busur Indra, Lakshmana melangkah ke Kishkindha bagaikan badai atau banjir. Kehadirannya yang menggelegar membuat para penjaga vanara panik; mereka sempat mengangkat pohon dan batu sebagai senjata, lalu tercerai-berai karena takut. Angada menjadi penghubung diplomatik. Lakshmana memerintahkannya mengumumkan kedatangannya dan mengundang Sugriva untuk memberi tanggapan menurut kehendaknya. Sugriva, mabuk dan larut dalam kesenangan bersama Tara, mula-mula mengabaikan peringatan; kemudian para menteri Plaksha dan Prabhava menjelaskan kedatangan Lakshmana serta beratnya perkara dharma dan artha yang dipertaruhkan. Nasihat itu berujung pada tata cara yang tepat: Sugriva harus segera datang bersama kerabat, memberi hormat kepada Lakshmana, meredakan amarahnya, serta meneguhkan kembali janji kepada Rama yang saleh—memulihkan kembali jadwal moral persekutuan mereka.
किष्किन्धाकाण्डे द्वात्रिंशः सर्गः — Lakshmana’s Anger Reported; Hanuman Advises Propitiation and Timely Mobilization
Sarga ini tersusun sebagai sidang krisis di Kishkindhā. Angada melaporkan kemarahan Lakshmana. Sugriva—yang bijaksana dan mahir bermusyawarah—tidak panik; ia mengumpulkan para menteri dan meneliti sebab-musababnya. Mula-mula ia menduga ada salah paham yang dipanaskan oleh para penyampai kabar yang memusuhi, lalu ia merenungkan rapuhnya persahabatan serta ketidakmampuannya membalas pertolongan Rama yang dahulu. Di hadapan sidang, Hanuman berbicara dengan nalar yang tertata, menegur kelupaan terhadap budi, dan mengingatkan bahwa Rama telah membunuh Vali demi melenyapkan ketakutan Sugriva dan menegakkan kebahagiaannya. Ia menafsirkan tugas Lakshmana sebagai ketidaksenangan Rama yang lahir dari kasih, bukan niat jahat. Hanuman menekankan kāla—waktu yang tepat: musim gugur yang baik telah tiba, langit cerah, inilah saat layak untuk usaha perang; karena itu kedatangan Lakshmana menandai tindakan yang sudah terlambat. Ia menasihati agar kata-kata keras dari Rama yang tersiksa karena terpisah dari istri hendaknya ditanggung, dan memberi obat yang jelas: mohonkan ampun kepada Lakshmana dengan tangan terkatup. Nasihat itu berakhir dengan peringatan tentang daya Rama yang tak tertandingi bila murka, serta perintah terakhir: Sugriva jangan mengabaikan titah Rama atau Lakshmana bahkan dalam pikiran; hormatilah sumpah, setia selaras dengan kehendak beliau, sebagaimana istri yang berpadu dengan kehendak suami—sebuah rumusan tajam tentang kesetiaan politik dan rasa syukur.
किष्किन्धाप्रवेशः—लक्ष्मणस्य कोपः, तारासान्त्वम्, सुग्रीवदर्शनम् (Lakshmana Enters Kishkindha: Anger, Tara’s Mediation, and Sugriva Encountered)
Atas perintah Sri Rama, Laksmana memasuki Kishkindha. Ia menyaksikan gua yang mengerikan namun bertatahkan permata, jalan kerajaan yang makmur, serta rumah-rumah para pemuka wanara. Istana Sugriva digambarkan bertingkat-tingkat putih, dinaungi pohon-pohon pemenuh segala keinginan, dan dijaga para pengawal bersenjata. Di dalam puri tampak tujuh ruang, dipan emas-perak, alunan nyanyian dan petikan alat musik, serta keramaian para wanita muda; mendengar gemerincing perhiasan dan gelang kaki, Laksmana merasakan malu sekaligus murka, lalu menggetarkan tali busurnya sebagai tanda kedatangan. Sugriva pun gentar dan bertanya kepada Tara sebab kemarahan itu. Tara, meski masih terhuyung oleh mabuk, mendatangi Laksmana dan berbicara dengan lembut untuk menenangkan. Laksmana menegaskan kelalaian Sugriva—tenggelam dalam minum, kesenangan, dan hiburan, serta melampaui batas waktu caturmas yang telah dijanjikan—yang membawa kerugian bagi dharma dan artha. Tara menjawab dengan menyebut kuatnya belenggu kama, tetapnya rasa persahabatan, dan bahwa penghimpunan bala wanara sedang diusahakan. Dengan izinnya, Laksmana masuk dan melihat Sugriva laksana matahari, dikelilingi para wanita; sementara Laksmana sendiri, karena amarah, tampak bagaikan maut yang mendekat. Pusat ajaran sarga ini: tanggung jawab, pengendalian diri, dan menepati waktu.
कृतघ्ननिन्दा तथा सुग्रीवप्रबोधनम् (Condemnation of Ingratitude and Admonition of Sugriva)
Sarga 34 menggambarkan Lakṣmaṇa memasuki ruang kerajaan Sugrīva dengan tegas, seakan melakukan penilaian atas rājadharma (kewajiban raja). Melihat Lakṣmaṇa yang “tak terhalangi” dan murka, Sugrīva menjadi gelisah lalu bangkit dari singgasana emas. Rumā dan para wanita lain turut berdiri, membentuk pemandangan istana laksana bintang-bintang mengitari purnama. Lakṣmaṇa menegur Sugrīva yang berdiri di tengah para wanita dengan rangkaian ajaran normatif: raja ideal itu berdarah mulia, berbelas kasih, mampu mengendalikan diri, tahu berterima kasih, dan berkata benar. Raja yang berlaku adharma terhadap para penolongnya serta mengumbar janji palsu memikul kesalahan yang berat. Ia menegaskan bobot dosa kebohongan hingga pada dakwaan yang lebih luas: siapa yang lebih dahulu menerima manfaat dari sahabat namun tidak membalasnya adalah kṛtaghna (tidak tahu budi) dan patut dihukum. Lakṣmaṇa mengutip sebuah bait yang sangat dihormati, dinisbatkan kepada seorang brāhmaṇa: untuk pelanggaran besar—membunuh brāhmaṇa, mabuk, mencuri, melanggar kaul—masih ada penebusan (prāyaścitta), tetapi untuk ketidakberterimaan budi tidak ada. Nasihat itu lalu menjadi tekanan politik: Sugrīva harus menepati perjanjian dan bersungguh-sungguh mengerahkan upaya mencari Sītā; jika tidak, Lakṣmaṇa mengancam tindakan paksa, mengingatkan preseden kematian Vāli dan bahwa jalan yang sama masih tersedia.
तारोपदेशः — Tara’s Counsel to Lakshmana (Restraint, Time, and Mobilization)
Sarga 35 menampilkan nasihat Tārā yang tersusun rapi kepada Lakṣmaṇa ketika cahaya wibawa dan amarahnya menyala karena mengira Sugrīva menunda-nunda. Tārā mula-mula meluruskan etika tutur: kata-kata keras tidak patut diarahkan kepada raja para vānarā, terlebih dari Lakṣmaṇa. Ia lalu membela watak Sugrīva—bukan orang tak tahu budi dan bukan pula penipu—seraya menjelaskan keterlambatan itu lewat teladan: bahkan Viśvāmitra yang bijak akan waktu pernah luput menghitung waktu karena terpaut pada Ghṛtācī; maka insan biasa pun dapat khilaf. Tārā menganjurkan kesabaran dan pengendalian diri yang disertai pertimbangan, sebab orang yang teguh tidak serta-merta dikuasai amarah. Demi “kepentingan Sugrīva”, Tārā menenangkan Lakṣmaṇa dan menegaskan bahwa Sugrīva siap melepaskan kerajaan, harta, bahkan keterikatan pribadi demi menyenangkan Rāma. Nasihat itu kemudian beralih pada kenyataan strategi: di Laṅkā terdapat bala rākṣasa yang besar; Rāvaṇa tidak dapat ditumbangkan sebelum mengatasi para raksasa kuat yang mampu berubah wujud, dan Sugrīva tidak sanggup melakukannya sendirian. Mengutip pengetahuan dari Vālī (seraya menyatakan bahwa itu kabar yang didengar), Tārā menerangkan bahwa para kepala pasukan telah diutus untuk menghimpun kekuatan besar; Sugrīva menanti kedatangan mereka agar tujuan Rāghava terlaksana. Di akhir sarga, para vānarī melihat mata Lakṣmaṇa yang merah karena marah dan takut bahaya lama (terkait kematian Vālī) terulang, sehingga mereka gelisah—menegaskan perlunya kekuatan yang terkendali dan ucapan yang terukur.
किष्किन्धाकाण्डे षट्त्रिंशः सर्गः — सुग्रीवस्य भय-त्यागः, कृतज्ञता, तथा लक्ष्मणेन सान्त्वन-प्रेरणा (Sugriva’s Reassurance and Lakshmana’s Counsel)
Dalam sarga ini, Laksmana (Saumitra) menerima kata-kata Tara yang selaras dengan dharma dan penuh kerendahan hati. Sesudah itu Sugriva menanggalkan ketakutan besar yang timbul karena Laksmana, bagaikan membuang pakaian yang basah; ia menahan sisa mabuknya dan melepaskan kalung besar di leher—tanda pengendalian diri. Sugriva lalu berbicara dengan sopan kepada Laksmana: ia mengingatkan bahwa berkat anugerah Rama ia memperoleh kembali kemuliaan kerajaan, nama baik, dan kejayaan. Ia menegaskan keperkasaan Rama yang tiada banding—menembus tujuh pohon, membelah gunung, dan dentang busur yang mengguncang bumi—seraya menempatkan perannya hanya sebagai pengiring dan pembantu. Jika ada kesalahan seperti terlambat menepati waktu, ia mengakuinya sebagai akibat kepercayaan dan kasih, memohon ampun seperti seorang hamba, serta meminta maaf atas kata-kata keras yang pernah terucap. Laksmana pun berkenan dan menjawab: ia memuji tata krama Sugriva sebagai cerminan perlindungan Rama, meneguhkan bahwa wibawa, kemurnian, dan ketulusannya layak bagi kemakmuran raja, serta menguatkan tekad Rama untuk segera menumpas musuh dengan bantuan Sugriva. Pada akhirnya Laksmana mengajak Sugriva segera berangkat untuk menenangkan Rama yang diliputi duka karena penculikan permaisuri—di sini berpadu rasa syukur, pengampunan, ketepatan waktu, dan dorongan untuk menuntaskan tugas.
वानरसेनामोचनम् / Mobilization of the Vanara Hosts
Dalam sarga ini, teguran Laksmana membangkitkan Sugriva untuk segera bertindak sebagai raja. Ia mengeluarkan perintah resmi kepada Hanuman, menterinya, agar pengiriman utusan dipercepat dan diperluas, memanggil semua wanara—termasuk yang lalai dan lamban—untuk segera menghadap. Ditetapkan pula aturan kepatuhan yang tegas: siapa pun yang tidak datang dalam sepuluh hari akan dihukum sebagai pelanggar titah kerajaan. Sugriva kemudian memerintahkan pengerahan besar-besaran wanara perkasa bak singa ke segala penjuru. Perjalanan di jalur langit digambarkan dengan citra kosmis yang mengingatkan pada langkah agung Wisnu, disertai sebutan luas tentang gunung, rimba, pesisir samudra, gua, sungai, dan pertapaan. Hanuman melaksanakan titah itu dengan mengirim regu-regu cakap ke semua arah; karena takut pada sanksi raja dan karena dharma untuk menolong Sri Rama, para wanara segera berkumpul di Kiskindha. Terselip pula uraian tentang Himavat, mengenang suatu yajna Mahesvara pada masa lampau; buah-buahan, umbi, dan herba yang lahir dari havis dikumpulkan sebagai persembahan. Para pemimpin yang telah berhimpun menyerahkan persembahan itu kepada Sugriva, melaporkan bahwa semua arah telah dijangkau, dan Sugriva menerimanya dengan puas—menandai tuntasnya siklus mobilisasi pasukan wanara.
उद्योगप्रवर्तनम् (Mobilization and Counsel on Kingship)
Sarga 38 menggambarkan Sugrīva beralih dari penerimaan istana menuju kesiapan menjalankan misi. Setelah menerima persembahan para vānarā dan memulangkan mereka dengan hati puas, Lakṣmaṇa dengan hormat mendesak Sugrīva agar meninggalkan Kiṣkindhā dan menemui Śrī Rāma. Sugrīva menyetujui, menyatakan kesediaannya menaati perintah Lakṣmaṇa, lalu mempersilakan Tārā dan para wanita istana kembali, memanggil vānarā yang layak, serta memerintahkan agar tandu kerajaan disiapkan. Dengan payung kebesaran, kipas ekor yak, bunyi sangkakala dan genderang, serta diiringi pasukan bersenjata, Sugrīva berangkat dalam arak-arakan raja menuju kediaman Rāma. Setibanya di sana ia turun, mendekat dengan tangan terkatup, dan Rāma memeluknya penuh kasih. Rāma kemudian menyampaikan ajaran singkat tentang rājanīti: seorang raja harus membagi waktu bagi dharma, artha, dan kāma; mengejar kenikmatan semata membawa kehancuran; pemerintahan yang benar mencakup menundukkan musuh, mengokohkan sahabat, dan menikmati buah tiga tujuan hidup menurut urutannya. Beliau menegaskan bahwa saat untuk bertindak telah tiba dan mengajak bermusyawarah strategi. Sugrīva menjawab dengan syukur, mengakui bahwa keberuntungan, kemasyhuran, dan kedaulatannya yang hilang telah kembali berkat anugerah Rāma. Ia melaporkan bahwa pasukan vānarā dan bala sekutu telah dihimpun dalam jumlah besar, sanggup menaklukkan Rāvaṇa dan merebut kembali Maithilī.
वानरसेनामिलनम् / The Mustering of the Vanara Hosts
Sarga ini menampilkan peneguhan persahabatan secara resmi dan pengerahan pasukan yang cepat. Sri Rama, yang dipuji sebagai pelindung dharma, memeluk Sugriva dan menegaskannya: membalas budi sahabat adalah seteratur hukum semesta—seperti Indra menurunkan hujan dan Surya serta Candra memberi cahaya. Rama menyatakan penculikan Vaidehi oleh Ravana sebagai tindakan yang membawa kebinasaan bagi dirinya sendiri, lalu bersumpah menimpakan hukuman segera dengan panah-panah tajam; teladan Indra–Poulomi mengangkat perang yang akan datang ke ranah etika-epik. Sesudah itu kisah beralih pada kemegahan logistik: awan debu menutupi sinar matahari, arah seakan kabur, dan bumi terasa terguncang ketika vanara dan beruang tak terhitung berdatangan. Disebutkan para pemimpin beserta bala mereka—Satavali, ayah Tara, ayah Ruma (mertua Sugriva), Kesari (ayah Hanuman), Gavaksha, Dhumra, Panasa, Nila, Gavaya, Darimukha, Mainda dan Dvivida, Gaja, Jambavan, Rumanvan, Gandhamadana, Angada, Tara, Indrajanu, Rambha, Durmukha, Hanuman, Nala, Dadhimukha, dan lainnya (Sarabha, Kumuda, Vahni, Ramha). Mereka mengaum dan bersujud, melapor kepada Sugriva. Sugriva lalu mempersembahkan para pemimpin yang telah berkumpul kepada Sri Rama, dan memerintahkan agar pasukan berkemah dengan nyaman di dekat aliran pegunungan, hutan, dan perbukitan, serta memastikan jumlah pasukan secara tepat—sebuah momen epik tentang tata kelola, pengintaian, dan disiplin komando.
पूर्वदिशि सीतामार्गण-नियोगः (Deployment to the Eastern Quarter for the Search of Sita)
Dalam sarga ini, Sugriva melaporkan kepada Sri Rama bahwa bala tentara wanara telah terkumpul dengan melimpah, lalu memohon perintah. Rama memeluk Sugriva dan menetapkan tujuan utama: memastikan apakah Vaidehi Sita masih hidup atau telah tiada, serta memperoleh pengetahuan tentang wilayah tempat tinggal Rahwana. Setelah itu Rama menyerahkan dharma kepemimpinan kepada Sugriva—hak memberi komando atas pasukan wanara adalah milik Sugriva, bukan Rama dan Laksmana. Sugriva memanggil panglima pasukan bernama Vinata dan menugaskannya mencari ke arah timur; ia memuji kecakapan Vinata mengambil keputusan sesuai tempat, waktu, dan tata-naya, lalu memerintahkan keberangkatan bersama seratus ribu wanara. Peta pencarian diuraikan rinci: sungai, negeri-negeri, gunung, pulau, samudra, serta negeri-negeri menakjubkan—Yavadwipa, Gunung Sisira, Laut Lohita, Kshiroda, Jaloda, Jatarupashila, Ananta, Gunung Udaya, dan lainnya. Pada akhir sarga, Sugriva menetapkan batas waktu tugas satu bulan dan menegaskan hukuman tanggung jawab bila tidak kembali (dihukum mati). Dengan demikian, pencarian Sita dikendalikan sebagai strategi yang tertata menurut kaidah sastra.
दक्षिणदिशि सीतान्वेषण-आदेशः (Commissioning the Southern Search for Sītā)
Dalam sarga ini, Sugrīva menetapkan pencarian Sītā ke arah selatan sebagai operasi yang teratur dan berdisiplin. Ia mengutus pasukan wanara pilihan dan mengangkat Aṅgada yang perkasa sebagai pemimpin lapangan, sambil menyebut para kepala pasukan dan ahli utama—termasuk Hanumān, Nīla, dan Jāmbavān—seraya menekankan kecepatan, keberanian, dan pelaksanaan yang tertib. Sugrīva lalu memberi pengarahan berdasarkan rute: rombongan harus menyisir pegunungan, hutan, sungai, kota-kota, dan wilayah pesisir, menempuh rangkaian tempat dan aliran air seperti Vindhya, Narmadā, Godāvarī, Kāverī, dan Tāmraparṇī, serta memeriksa gua, tepi sungai, dan tempat-tempat tersembunyi. Uraian meningkat dari geografi daratan menuju kawasan perbatasan dan samudra; sebuah pulau jauh di seberang seratus yojana ditandai penting karena terkait wilayah Rāvaṇa, dan bahaya seperti rākṣasī perampas bayangan (Aṅgārakā/Siṃhikā) juga disebutkan. Tampak pula penanda mitis-kosmografis—Gunung Mahendra, Gunung Puṣpitaka, kota ular Bhogavatī, serta hutan cendana yang dijaga Gandharva—hingga peringatan tentang batas menuju ibu kota Yama dan ketakterjangkauan wilayah setelahnya. Sugrīva menutup dengan dorongan operasional: kembalilah dalam sebulan dengan kabar pasti tentang Sītā; ganjarannya adalah kemakmuran dan perkenan, sehingga tanggung jawab dan semangat pasukan diteguhkan.
पश्चिमदिशि अन्वेषणादेशः (Instructions for the Western Search Party)
Dalam sarga ini, Sugriva meneguhkan secara resmi ekspedisi ke arah barat sebagai bagian dari pencarian Sita ke segala penjuru. Setelah mengutus pasukan ke arah lain, ia menasihati para pemimpin pasukan dan menetapkan rute pengintaian yang tertib: menyusuri sungai-sungai yang mengalir ke barat, melewati pertapaan dan taman para resi, hutan, pegunungan, padang tandus, serta jajaran yang sukar dijangkau, hingga mencapai samudra barat yang digambarkan bergelora dan penuh bahaya makhluk air. Ia juga menyebut wilayah, kota, dan penanda alam—ketaka, tamāla, serta kebun-kebun kelapa—sebagai pedoman perjalanan. Uraian kemudian naik ke simpul-simpul geografi suci yang bernuansa mitis: Hemagiri di pertemuan Sindhu dengan samudra, puncak Pariyātra, gunung Vajra yang berongga gua, serta Chakravān tempat kisah roda seribu jari-jari karya Viśvakarmā dan peristiwa Viṣṇu memperoleh kembali sangkha dan cakra. Di tengah samudra yang dalam disebut pula Gunung Varāha sebagai wilayah Varuṇa, dan Pragjyotiṣa, kediaman raksasa Naraka. Sugriva memberi peringatan operasional: jangan memancing murka gandharva yang perkasa, jangan mengambil buah-buahan yang dilindungi, dan agar terhindar dari pertikaian hendaknya tetap berperilaku ‘seperti kera biasa’. Ia menetapkan batas waktu yang tegas: dalam satu bulan rombongan harus kembali ke kawasan Gunung Asta. Dengan demikian sarga ini memadukan tata komando, pengendalian diri yang dharmis, dan peta geografi suci menjadi protokol pencarian yang utuh.
सुग्रीवस्य शतवलि-प्रेषणम् (Sugriva’s Commission to Satavali for the Northern Search)
Dalam sarga ini, Raja Sugriva yang memahami dharma menugaskan pahlawan wanara bernama Satavali sebagai bagian dari pengaturan pasukan pencari, lalu menjelaskan kebijakan ‘parimarga’, yakni pencarian yang teratur dan sistematis. Pada awalnya Satavali disebut dalam konteks pengutusan ke arah barat, namun ajaran utama kemudian mengalir sebagai daftar geografi yang luas untuk penelusuran ke arah utara hingga wilayah Himavan. Sugriva menyebut benteng-benteng hutan, sungai, celah pegunungan, serta nama-nama negeri dan suku—Mleccha, Pulinda, Surasena, Kuru, Kamboja, Yavana, Saka, Bahlika, Cina, Paramacina, Darada, dan lainnya—beserta rangkaian gunung seperti Kailasa, Kraunca, Mainaka, Sudarsana, Devasakha, dan Somagiri. Ia menetapkan protokol pencarian: telusuri gua, jurang terjal, rimbunan hutan, dan air terjun, dengan sasaran ganda yang jelas—“Ravana bersama Vaidehi (Sita)”. Gambaran kemakmuran Uttarakuru (permata, manik-manik, mutiara, hutan teratai biru, dan kenikmatan surgawi) membentuk peta puitis ‘geografi mitis’, namun Sugriva juga memberi batas tegas: jangan melampaui wilayah Kuru ke utara; bagi para wanara, perjalanan hanya mungkin sampai Somagiri. Penutupnya menekankan rasa syukur dan balas budi—membalas pertolongan Rama adalah keberhasilan hidup, dan perjumpaan dengan Sita akan menambah sukacita Rama serta Sugriva.
हनूमत्प्रशंसा–अङ्गुलीयकप्रदानम् (Praise of Hanumān and the Gift of the Signet Ring)
Sarga ini meneguhkan penugasan Hanumān melalui kesaksian berlapis dan sebuah tanda suci. Sugrīva, raja para vānara, menyatakan dengan tegas bahwa gerak Hanumān tiada banding di tiga ranah—bumi, langit, dan air; dalam kecepatan serta cahaya kewibawaannya ia laksana Māruta; dan ia sepenuhnya cakap dalam kekuatan, kecerdasan, pertimbangan tempat-waktu (deśa-kāla), serta naya (tata siasat kenegaraan). Mendengar keyakinan Sugrīva, Śrī Rāma merasakan kelegaan seakan tujuan telah tercapai. Agar Sītā dapat mengenali dan mempercayai utusan di lingkungan musuh, Rāma menyerahkan sebuah cincin bertuliskan namanya sebagai abhijñāna, tanda pengenal yang mengesahkan. Rāma menegaskan bahwa keberhasilan misi akan terwujud dari pertemuan antara usaha dan keberanian Hanumān dengan jaminan Sugrīva. Hanumān menerima cincin itu dengan tata hormat—menyentuhkannya ke dahi, memberi salam, dan bersujud—lalu berangkat, bersinar di tengah pasukan vānara bagaikan bulan di antara bintang-bintang. Rāma pun mempercayakan pencarian putri Janaka kepada keberanian Hanumān yang luar biasa.
वानरसेनानिर्गमनम् — Dispatch of the Vanara Search Parties
Sarga 45 menampilkan saat Sugrīva menegakkan kendali setelah tekad para vānarā dipersatukan. Ia memanggil seluruh bala vānara dan menegaskan kembali perintah operasi: carilah Sītā tepat sebagaimana telah diperintahkan, agar tujuan Śrī Rāma terlaksana. Para prajurit menjawab dengan keyakinan ksatria dan sumpah saling berlomba—ada yang menyatakan sanggup menaklukkan Rāvaṇa seorang diri dan segera membawa kembali Janakī, ada pula yang membanggakan kekuatan laksana kosmis: membelah gunung, mengaduk samudra, serta melompat sejauh ukuran yojana. Sesudah itu, kata-kata berubah menjadi tindakan. Memahami titah raja yang tegas, pasukan kera menyebar ke seluruh bumi bagaikan kawanan belalang. Śrī Rāma dan Lakṣmaṇa tetap tinggal di Prasravaṇa, menanti bulan yang telah ditetapkan untuk pencarian. Ekspedisi pun dibagi menurut penjuru: Śatavalī menuju utara, Vinata ke timur, Hanumān putra Dewa Angin bersama Aṅgada dan yang lain bergerak ke selatan terkait wilayah Agastya, dan Suṣeṇa menuju barat di bawah penjuru Varuṇa. Setelah para panglima utama diberangkatkan, Sugrīva bersukacita, sementara para pemimpin berangkat cepat ke arah tugas masing-masing.
पृथिवीमण्डलपरिज्ञानम् — Sugriva on Surveying the Earth’s Regions
Setelah para pemimpin Vānara berangkat, Śrī Rāma bertanya kepada Sugrīva bagaimana ia mengetahui seluruh “maṇḍala” (lingkaran bentangan) bumi. Sugrīva menjawab dengan kisah pribadinya: ketika Vāli mengejar musuh berawal dari peristiwa Dundubhi di gua Gunung Malaya, Sugrīva menunggu di mulut gua; melihat darah menyembur keluar, ia menyangka Vāli telah gugur, lalu menutup pintu gua dengan batu besar. Mengira Vāli telah tiada, ia kembali ke Kiṣkindhā dan memegang kerajaan bersama Tārā dan Rumā. Namun Vāli ternyata kembali setelah membunuh raksasa itu, merebut kerajaan, dan dalam amarah mengejar Sugrīva bersama para menteri. Pelarian itu tanpa sengaja menjadi peninjauan wilayah: Sugrīva berlari ke timur, lalu ke selatan (melewati Vindhya dan hutan cendana), kemudian ke barat hingga daerah gunung tempat matahari terbenam, dan akhirnya ke utara melewati Himavān, Meru, sampai lautan utara; ia menyaksikan sungai, rimba, kota-kota, danau, serta gunung-gunung termasyhur seperti Udaya dan gunung senja. Akhirnya Hanūmān mengingatkan kutuk Ṛṣi Matanga: Vāli tidak dapat memasuki maṇḍala āśrama Matanga, sebab kepalanya akan terbelah menjadi seratus bagian. Karena itu Sugrīva mencapai Ṛṣyamūka, tempat Vāli tak berani masuk, dan ia menyimpulkan bahwa melalui perjalanan terpaksa itu ia telah menelusuri lingkaran bumi. Dalam tradisi resensi selatan, bagian kutuk Matanga juga tampak dengan penomoran/penegasan ayat yang berulang, penting bagi penelaahan naskah digital.
सप्तचत्वारिंशः सर्गः — वानरयूथपानां अन्वेषणवृत्तान्तनिवेदनम् (Search Reports of the Vanara Leaders)
Sarga ini menggambarkan pelaksanaan pencarian yang tertib selama sebulan oleh para vānarā demi menemukan Vaidehī Sītā, serta laporan hasilnya. Atas titah kapirāja Sugrīva, para pemimpin pasukan segera menyebar ke segala penjuru, menelusuri telaga, dasar sungai, kota-kota, hamparan langit, pegunungan, rimba, gua, semak belukar berbelit sulur, dan wilayah pedalaman yang sukar dijangkau. Siang hari mereka mengintai dan menyisir, malam hari berkumpul kembali dan beristirahat seadanya di pohon-pohon berbuah—menegaskan ketekunan mereka. Setelah genap sebulan, para pemimpin kembali dengan hati kecewa: Vinata melaporkan kegagalan di timur, Śatabalī di utara, dan Suṣeṇa di barat. Suṣeṇa mendatangi Sugrīva yang duduk bersama Śrī Rāma di Gunung Prasravaṇa, bersujud hormat, lalu menyampaikan laporan menyeluruh tentang pencarian yang telah menguras tenaga, termasuk perjumpaan dengan binatang-binatang raksasa di daerah berbahaya yang sampai harus mereka tewaskan. Sarga ditutup dengan harapan dan kesimpulan strategis: Hanumān, putra Dewa Vāyu, telah berangkat ke arah yang sama dengan arah Sītā dibawa, dan dialah yang paling mampu menemukan beliau serta kembali membawa kabar—menempatkan Hanumān sebagai tumpuan kisah berikutnya.
विन्ध्यगुहाविचयः — Searching the Vindhya Caves and the Cursed Forest (Southern Search)
Atas titah Sugrīva, Hanumān bersama Tārā dan Aṅgada bergerak ke selatan, memimpin pasukan vānar menelusuri wilayah Vindhya yang terjal dengan pencarian yang tertata. Gua-gua, rimba yang rapat, puncak gunung, sumber-sumber sungai, danau, serta semak-belukar diperiksa satu per satu; namun Sītā dan sang penculik tetap tak terlihat. Semakin jauh, alam tampak ganjil: sungai-sungai tanpa air, pepohonan tanpa daun dan buah, tiada hewan maupun burung; bahkan teratai tumbuh di tanah kering, harum mekar tetapi tanpa lebah. Tradisi setempat menjelaskan ini sebagai kutukan Ṛṣi Kaṇḍu: setelah kehilangan putranya yang berusia enam belas tahun di hutan, sang pertapa mengutuk seluruh rimba hingga menjadi tandus dan tak layak dihuni. Saat memasuki kawasan mengerikan yang tertutup sulur, para vānar dihadang asura jahat yang menyerbu; Aṅgada, mengira dia Rāvaṇa, menghantamnya hingga tewas. Setelah menyisir gua-gua pegunungan dengan saksama namun tetap tanpa jejak Sītā, rombongan keluar dari sebuah gua lain yang menakutkan, lalu berkumpul diam-diam di bawah sebatang pohon dan duduk lesu—sebuah jeda kisah yang menegaskan letih, ketidakpastian, dan disiplin yang diperlukan untuk melanjutkan pengabdian.
एकोनपञ्चाशः सर्गः (Sarga 49) — Aṅgada Re-energizes the Southern Search Party
Sarga ini mencatat krisis keletihan yang menimpa pasukan pencari di selatan dan pemulihannya melalui wacana kepemimpinan. Aṅgada, meski letih namun tajam budi, mengumpulkan para vānarā dan memberi petunjuk dengan tenang: hutan, gunung, sungai, benteng, rimba lebat, gua, serta ceruk-ceruk pegunungan telah disisir, tetapi Jānakī maupun sang penculik belum tampak. Ia menafsirkan saat itu sebagai ujian ketekunan di bawah desakan waktu dan tanggung jawab ketat atas titah Sugrīva, seraya menyeru agar meninggalkan lesu, duka, dan tidur. Aṅgada menegaskan kebajikan yang harus diwujudkan—semangat pantang surut (anirveda), kecakapan (dākṣya), dan keteguhan batin yang tak terkalahkan (aparājaya)—sebagai syarat lahirnya keberhasilan, serta menolak putus asa sebagai kelalaian. Ia juga membuka ruang bagi pendapat berbeda demi kesejahteraan rombongan, menampilkan kepemimpinan yang bermusyawarah. Gandhamādana, lemah karena haus dan payah, menyetujui rencana Aṅgada sebagai baik dan menguntungkan. Pasukan lalu melanjutkan pencarian secara sistematis: memeriksa ulang gunung, gua, hutan, daerah sunyi, dan aliran air; menembus jajaran Vindhya; mendaki “gunung perak” yang berpuncak dan berongga; meninjau rimbun Lodhra serta taman saptaparṇa—namun Vaidehī tetap tak ditemukan. Mereka turun, beristirahat sejenak di bawah sebatang pohon, lalu memulai lagi pencarian dengan Hanumān menonjol di antara mereka. Bab ini menjadi teladan kesinambungan tugas: beristirahat, berhimpun kembali, meneliti ulang medan, dan tekun dalam tata perintah yang dijaga oleh dharma.
ऋक्षबिलप्रवेशः — Entry into the Rikshabilam Cave
Sarga 50 mencatat perjumpaan rombongan pencari di selatan dengan sistem gua yang menggentarkan di wilayah Vindhya. Waktu telah banyak berlalu, para vānarā kelelahan, dan air sangat langka. Hanumān bersama Aṅgada dan Tārā menelusuri gua-gua serta jurang, hingga mencapai gua bernama Ṛkṣabilam—harum semerbak namun sukar dimasuki. Burung-burung yang keluar dalam keadaan basah memberi petunjuk alamiah bahwa di dalam terdapat cadangan air bawah tanah. Dengan rasa takut sekaligus takjub, mereka memasuki bagian dalam yang gelap tanpa cahaya bulan; pancaindra seakan gagal dan langkah hanya dipandu naluri. Setelah maju kira-kira satu yojana sambil saling berpegangan, mereka menemukan alam batin yang bercahaya: ruang laksana hutan dengan pepohonan keemasan, kolam-kolam teratai, altar bertatah permata, bangunan istana dari emas dan perak, perabot mewah, serta simpanan wewangian, makanan, dan benda-benda berharga. Dalam penjelajahan itu tampak seorang pertapa wanita yang bercahaya, mengenakan kulit kayu dan kulit rusa. Hanumān dengan hormat menanyakan jati dirinya serta siapa pemilik gua dan harta tersebut. Bab ini mempertemukan bahaya dan pemeliharaan ilahi, menegaskan pentingnya bertanya dengan tertib (praśna), menarik simpulan dari tanda-tanda lingkungan, dan ketekunan bersama di bawah kepemimpinan yang berlandaskan dharma.
स्वयंप्रभा-प्रश्नोत्तरम् / Svayamprabha Explains the Golden Forest and Questions the Vanaras
Sarga 51 menampilkan rangkaian tanya-jawab yang teratur di dalam sebuah gua gelap, yang tiba-tiba terbuka ke “hutan emas” (kāñcana vana) yang menyilaukan dan seakan mustahil. Para Vanara, letih oleh lapar dan dahaga, mengakui bahwa mereka masuk tanpa sengaja; terpesona oleh pepohonan keemasan, teratai, ikan, dan kura-kura yang menakjubkan, mereka bertanya kuasa tapa atau daya siapa yang menciptakan semua itu. Hanumān menjadi penanya utama, memohon penjelasan tentang asal-usul dan pelakunya. Pertapa wanita penghuni tempat itu, Svayamprabhā—digambarkan saleh dan bertekad bagi kesejahteraan semua makhluk—menjawab bahwa hutan emas dan rumah megah itu diciptakan melalui māyā oleh makhluk kuat namun licik bernama Maya. Ia dikaitkan dengan garis arsitektural di antara para pemimpin dānava, bersambung pada tradisi Viśvakarmā; setelah tapa panjang ia memperoleh anugerah dari Brahmā dan menikmati tempat itu. Namun ketika ia tergila-gila pada apsaras Hemā, Indra menimpanya dengan vajra (petir). Kemudian Brahmā menganugerahkan hutan dan rumah emas itu untuk selamanya kepada Hemā, dan Svayamprabhā—putri Meru Sāvarṇi—ditetapkan sebagai penjaga, dilindungi oleh anugerah dan berwenang. Di akhir, ia menyambut para Vanara dengan akar, buah, dan air, lalu menanyai tujuan perjalanan mereka serta bagaimana mereka menemukan hutan yang sukar dijangkau itu—menjadikan bagian ini sekaligus kisah keajaiban dan gerbang pengungkapan misi.
स्वयंप्रभा-संवादः (Svayamprabha’s Dialogue with the Vanaras)
Dalam sarga ini, kisah di dalam gua berkembang melalui dialog. Setelah para pemimpin pasukan wanara beristirahat, pertapa wanita yang saleh, Svayamprabha, dengan pikiran terpusat bertanya: bila lelah telah reda setelah menyantap buah, hendaklah mereka menceritakan keadaan mereka. Hanuman, putra Dewa Bayu, menjawab dengan jujur apa adanya: Rama putra Dasaratha masuk ke Hutan Dandaka bersama Laksmana dan Vaidehi Sita; dari Janasthana Sita direnggut paksa oleh Ravana; Sugriva adalah raja para wanara dan sahabat Rama; dan Angada beserta para wanara diutus ke arah selatan (wilayah yang terkait dengan Agastya, terlindungi oleh Yama) untuk mencari Sita dan Ravana. Sesudah pencarian, mereka diliputi lapar, letih, dan keputusasaan, seakan tenggelam dalam samudra kecemasan. Mereka melihat sebuah liang yang tertutup sulur dan pepohonan, diselimuti gelap; ketika angsa, burung kurara, sarasa, dan burung-burung lain keluar dari sana, mereka menduga ada air di dekatnya lalu masuk ke gua, saling berpegangan tangan agar tidak tersesat. Svayamprabha menyambut mereka menurut dharma tamu dengan umbi dan buah; para wanara memakannya dan dengan rasa terima kasih bertanya jasa apa yang dapat mereka lakukan. Svayamprabha menjawab bahwa ia tidak memiliki keperluan apa pun dan tidak mengharapkan balasan; demikian ditegaskannya hakikat keramahtamahan suci dan pertolongan tanpa pamrih.
स्वयम्प्रभा-विमोचनम् — Svayamprabha Leads the Vanaras Out (Time-Limit Crisis and Counsel)
Sarga 53 menampilkan peralihan dari keterjebakan menuju krisis moral. Hanumān menjawab dengan hormat wejangan pertapa wanita Svayaṃprabhā yang membawa berkah dan selaras dengan dharma. Para vānarā berlindung kepadanya dan mengakui bahwa batas waktu satu bulan yang ditetapkan Sugrīva telah terlampaui, karena mereka tersesat di dalam kompleks gua gaib yang dikaitkan dengan Māyā. Svayaṃprabhā, berkat tapa dan niyama, berjanji membebaskan mereka, namun menetapkan tata cara bak upacara: para vānarā harus memejamkan dan menutup mata agar dapat keluar dengan selamat; seketika itu pula ia membawa mereka ke luar. Sesudah keluar, ia menunjukkan arah dan letak wilayah—Vindhya, bukit Prasravaṇa, dan samudra raya—memberi restu, lalu kembali masuk ke gua. Di luar, para vānarā melihat tanda-tanda musim semi pada pepohonan berbunga dan menyadari lamanya waktu berlalu; kegelisahan berubah menjadi keputusasaan. Aṅgada, setelah menimbang, berbicara kepada para sesepuh dan penghuni rimba, menegaskan tanggung jawab, serta mengusulkan prāyopaveśana (berpuasa hingga wafat) agar tidak pulang menanggung hukuman. Yang lain menyetujui bahwa kembali tanpa jejak Sītā dapat berujung pada hukuman mati demi memuaskan Rāma. Tārā menawarkan jalan lain: tetap tinggal di gua gaib yang tak terjangkau dan penuh bekal itu, tempat mereka tak perlu takut bahkan kepada Indra, Rāma, atau Sugrīva. Maka mereka mencari siasat yang menghindarkan hukuman, namun tetap menjaga kelangsungan hidup bersama dan kewajiban dharma.
अङ्गद-उपदेशः — Hanuman’s Counsel to Angada on Succession and Strategy
Sarga 54 menampilkan rangkaian nasihat yang tajam: setelah mendengar Tārā—yang cahayanya diibaratkan seperti bulan—Hanuman menimbang risiko politik bila Aṅgada sampai berniat merebut kerajaan. Namun Hanuman juga mengakui kelayakan Aṅgada sebagai putra raja, menyebut kecerdasan, kecakapan “beranggota delapan”, kekuatan empat macam, serta empat belas sifat raja. Lalu, dengan nīti (kebijaksanaan politik) ia menata krisis faksi, memakai upāya ketiga, bheda (dari sāma, dāna, bheda, daṇḍa), untuk memisahkan pendapat para vānarā dan menggoyahkan sikap Aṅgada yang hendak menarik diri. Hanuman mengemukakan alasan yang tegas dan menimbulkan kewaspadaan: para tetua seperti Jāmbavān, Nīla, dan Suhotra tidak akan mengikuti Aṅgada melawan Sugrīva; dan pasukan tidak dapat dipisahkan dari raja yang sah, baik dengan bujukan maupun paksaan. Ia menegaskan ketimpangan kekuatan karena Lakṣmaṇa: “gua” bukan perlindungan, sebab panah Lakṣmaṇa bagaikan halilintar, sanggup meremukkan gunung, dan musuh yang lari pun tak dapat menghindarinya. Akhirnya Hanuman menawarkan jalan yang membangun: mendekatlah kepada Sugrīva dengan rendah hati; menurut urutan pewarisan yang benar (ānupūrvyā), Sugrīva akan menegakkan Aṅgada sebagai ahli waris, karena Sugrīva berbudi, setia pada janji, tidak memiliki keturunan lain, dan berbakti menyenangkan Tārā. Tema sarga ini menegaskan tata kelola krisis melalui retorika yang terukur, suksesi yang sah, dan menghindari pertikaian yang mustahil dimenangkan.
अङ्गदस्य प्रायोपवेशननिश्चयः (Angada’s Resolve to Fast unto Death)
Dalam sarga ini, Hanumān menyampaikan nasihat yang terukur—rendah hati, selaras dengan dharma, dan menegaskan kesetiaan kepada raja. Menanggapi itu, Aṅgada melontarkan kecaman etis yang panjang terhadap watak dan tata pemerintahan Sugrīva. Ia menilai kebajikan yang semestinya ada pada seorang penguasa—keteguhan, kemurnian batin, welas asih, kelurusan, keberanian, dan kesabaran—tidak tampak pada Sugrīva. Aṅgada menyebut tindakan yang dipandang tercela: mengambil permaisuri kakak yang masih hidup, serta menutup mulut gua ketika sang kakak sedang bertarung. Aṅgada juga menegaskan bahwa Sugrīva mudah melupakan budi, bertindak bukan karena takut pada adharma melainkan karena takut kepada Lakṣmaṇa; karena itu ia tidak dapat diandalkan bagi sekutu maupun ahli waris. Ia menyimpulkan bahwa kembali ke Kiṣkindhā berisiko mendapat hukuman tersembunyi dan dipenjarakan akibat politik suksesi; maka ia memilih prāyopaveśana—berpuasa hingga ajal—sebagai jalan keluar. Ia menitipkan salam hormat kepada Rāma dan Lakṣmaṇa, menyampaikan doa baik bagi Sugrīva, serta berpesan agar ibunya Tārā dan Rūmā dijaga. Aṅgada lalu berbaring di atas rumput darbha. Para vānarā meratap tentang Sugrīva dan memuji Vālin, mengelilinginya dan bersiap menjalankan laku yang sama. Mereka melakukan ācaman (menyesap air secara ritual) dan duduk menghadap timur di tepi utara; ketakutan akan murka Rāma serta ingatan akan bencana-bencana terdahulu membuat suasana kian mencekam.
सम्पातिदर्शनम् (Encounter with Sampāti) — Angada’s Lament and the Vulture-King’s Response
Di sebuah dataran di pegunungan Vindhya, para vānarā duduk dalam prāyopaveśa (berpuasa hingga mati), diliputi putus asa karena gagal menemukan Maithilī dan takut kembali tanpa menunaikan titah Sugrīva. Keletihan batin dan rasa bersalah menekan mereka. Saat itu Sampāti—kakak tua Jaṭāyu yang panjang umur dan termasyhur sebagai raja burung nasar (gṛdhrarāja)—keluar dari sebuah gua. Melihat para vānarā tergeletak tak bergerak, ia mula-mula mengira mereka adalah santapan yang telah ditetapkan oleh takdir dan tatanan ilahi, lalu berbicara dengan nada demikian. Aṅgada, sangat terpuruk, menyebut keadaan ini sebagai malapetaka yang tak terduga: tugas Śrī Rāma belum selesai, dan pasukan berada dalam bahaya besar. Percakapan pun beralih pada kenangan akan pengorbanan Jaṭāyu—yang demi persahabatan dan welas asih bagi keselamatan Rāma, menyerahkan nyawanya; pengabdian diri seperti itulah ukuran dharma dalam kisah ini. Mendengar kabar duka itu dan melihat para vānarā jatuh di tanah, batin Sampāti terguncang. Ia menjawab dengan iba, membuka jalan bagi perannya kelak sebagai pemberi informasi penentu dalam pencarian.
सम्पाति–अङ्गदसंवादः / Sampati and Angada: Genealogy, Jatayu, and the Search Vow
Sarga ini beralih dari keputusasaan pasukan Vānara menuju percakapan yang tertata tentang jati diri dan ingatan. Mendengar kata-kata Angada, burung nasar Sampāti—berparuh tajam dan bersuara lantang—seketika diliputi duka saat nama saudaranya, Jatāyu, disebut. Ia meminta kisah rinci peristiwa di Janasthāna dan memohon diturunkan dari gunung, karena sayapnya hangus oleh panas sinar matahari. Para kera mula-mula curiga, takut ia akan memangsa mereka ketika mereka berniat berpuasa sampai mati; bahkan ada yang menalar bahwa dimakan justru akan “menyelesaikan” tujuan mereka dengan mengakhiri ketakutan pulang terlambat. Angada lalu menurunkan Sampāti dan menceritakan garis keturunan serta ikatan: Ṛkṣarāja sebagai raja kera leluhur; Sugrīva dan Vālī sebagai putra-putranya; serta Angada sebagai putra Vālī. Ia juga menjelaskan bahwa Śrī Rāma, keturunan Ikṣvāku, memasuki hutan Daṇḍaka bersama Lakṣmaṇa dan Sītā atas perintah ayahanda. Angada menuturkan penculikan Sītā dari Janasthāna, pertempuran Jatāyu melawan Rāvaṇa, wafatnya Jatāyu, dan upacara pemakaman yang dilakukan Śrī Rāma. Ia menutup dengan ringkasan persahabatan Rāma dan Sugrīva, kematian Vālī, penobatan Sugrīva, serta misi pencarian Sītā yang telah melampaui batas waktu—sebab itulah rombongan menjalankan prāya (puasa hingga ajal).
सम्पातिवाक्यम् (Sampāti’s Counsel and the Revelation of Laṅkā)
Sarga 58 dibuka dengan keputusasaan rombongan pencari Vānara yang berbicara kepada burung nasar bersuara lantang, Sampāti. Sampāti menangis ketika mendengar wafatnya adik kandungnya, Jaṭāyu. Ia mengisahkan peristiwa dahulu: saat terbang menuju Matahari, ia menutupi Jaṭāyu dengan sayapnya demi melindungi, sehingga sayapnya sendiri terbakar dan ia jatuh di Pegunungan Vindhya, hidup lama tanpa kabar tentang saudaranya. Aṅgada dan para pemimpin Vānara mendesak petunjuk yang dapat ditindaklanjuti: bila Sampāti mengetahui tempat tinggal Rāvaṇa, dekat ataupun jauh, hendaknya ia mengungkapkannya. Sampāti menegaskan bahwa meski tua dan tak bersayap, ia dapat menolong besar melalui kata-kata dan pengetahuan. Dari jeritan “Rāma” dan “Lakṣmaṇa” serta perhiasan yang dijatuhkan, ia mengenali perempuan yang diculik itu sebagai Sītā Devī. Ia lalu memberi peta strategi yang jelas: Rāvaṇa, putra Viśravas dan saudara seayah Vaiśravaṇa (Kubera), bersemayam di Laṅkā—kota pulau yang dibangun oleh Viśvakarmā, terletak seratus yojana melintasi lautan, diperkokoh gerbang emas, pelataran, istana, dan tembok yang berkilau, dikelilingi samudra. Sītā dikurung di bagian dalam istana Rāvaṇa, dijaga para rākṣasī; Sampāti mendorong para Vānara agar segera menyeberangi lautan asin dan membuktikan kekuatan mereka. Pada penutup, Sampāti memohon dibawa ke tepi samudra untuk mempersembahkan tarpaṇa air bagi Jaṭāyu. Para Vānara mengangkatnya, ia menunaikan upacara itu, lalu mereka kembali dengan sukacita, karena kini telah memperoleh kabar penentu bagi misi tersebut.
सम्पातिवाक्यम् (Sampati’s Intelligence Report on Sita’s Abduction)
Sarga 59 beralih dari keputusasaan menuju kabar yang dapat ditindaklanjuti. Rombongan wanara—kembali teguh dan bersemangat—memohon kepada Sampāti, raja burung nasar, agar menjelaskan sepenuhnya keberadaan Sītā dan siapa penculiknya. Sampāti menerangkan bahwa ia kini lemah dan tak bersayap di sebuah gunung yang sukar dijangkau, serta memperkenalkan putranya, Suparśva, yang menolongnya dengan membawa makanan tepat waktu. Melalui laporan Suparśva, Sampāti menceritakan peristiwa di udara dekat pintu masuk Gunung Mahendra: sosok gelap yang mengerikan membawa seorang wanita yang bercahaya. Suparśva semula hendak menyergap mereka sebagai santapan, namun permohonan yang sopan untuk lewat menahannya—menunjukkan batas etis untuk tidak mencelakai orang yang berlaku santun. Setelah itu, sosok tersebut melesat pergi dengan kecepatan menyala. Para siddha dan resi kemudian menegaskan bahwa penculik itu adalah Rāvaṇa, dan wanita itu adalah putri Janaka, istri Śrī Rāma, yakni Sītā, yang menangis memanggil “Rāma” dan “Lakṣmaṇa”, rambutnya kusut dan tanpa perhiasan. Sampāti mengakui ia tak mampu bertindak karena tak bersayap, namun memberi dorongan strategis: para wanara sanggup, panah Rāma-Lakṣmaṇa menundukkan dunia, dan utusan bijak tidak goyah oleh tekanan waktu—maka teruskan misi dengan keteguhan hati.
सम्पातिवृत्तान्तः — Sampāti’s Account and the Sage Niśākara
Sesudah melaksanakan upacara air dan persembahan libasi bagi Jatāyu, para vānar duduk mengelilingi burung nasar Sampāti di sebuah gunung yang elok. Melihat Aṅgada di dekatnya dan dikelilingi para pemimpin pasukan, Sampāti pun merasa tenang; ia memohon keheningan penuh perhatian lalu memulai kisah yang benar tentang bagaimana ia mengenal Maithilī (Sītā). Ia menuturkan kejatuhannya dahulu di puncak Vindhya, ketika sayapnya hangus oleh panas sinar matahari; setelah enam malam barulah ia siuman. Dengan memandang lautan, pegunungan, sungai, telaga, hutan, dan berbagai wilayah, ingatannya perlahan pulih. Ia mengenali tempat itu sebagai rangkaian Vindhya di tepi samudra selatan, dan menyebut sebuah pertapaan suci yang dihormati bahkan oleh para dewa, milik resi pertapa Niśākara; Sampāti berkata delapan ribu tahun telah berlalu sejak sang resi wafat, dan ia sendiri tinggal di sana. Dengan susah payah ia turun ke dataran yang dipenuhi rumput darbha yang tajam, mendekati pertapaan untuk mencari sang resi. Ia melihat Niśākara bersinar—menghadap utara, baru selesai mandi—di hadapannya makhluk-makhluk liar berkumpul lalu menyingkir dengan tenang. Sang resi menyambut Sampāti dengan kasih, menilai luka dan sayapnya yang terbakar, mengenali Sampāti dan Jatāyu sebagai raja-raja nasar yang secepat angin dan mampu berubah rupa; Sampāti memohon agar diperlakukan sebagai yang tua dan dihormati. Kemudian resi menanyakan sebab kecacatan dan hukuman Sampāti, membuka uraian penjelasan yang menyusul.
सूर्यानुगमनवृत्तान्तः — The Account of Following the Sun
Dalam sarga ini, sang penutur menyampaikan pengakuan kilas balik kepada seorang muni. Ia menuturkan bagaimana di Gunung Kailāsa, karena tergesa dan diliputi kesombongan, ia bertaruh dengan Jaṭāyu: akan mengejar Surya mengikuti lintasannya hingga matahari terbenam di gunung sebelah barat. Lalu kisah berubah menjadi catatan perjalanan di ketinggian: kota-kota di bawah tampak sebesar roda; terdengar musik dan lantunan Weda; hutan terlihat seperti hamparan rumput hijau; sungai seperti benang; dan jajaran besar—Himavān, Vindhya, Meru—tampak laksana gajah di kolam. Ketika pengejaran makin sengit, tubuh dan pikiran mulai runtuh: keringat, nyeri, takut, kebingungan, gelap, dan pingsan; arah tak lagi terbedakan, dan dunia terasa seperti kobaran api pralaya. Dengan susah payah ia memusatkan diri kembali, dan Surya tampak sebesar bumi—menegaskan sekaligus kekaguman dan bahaya. Akhirnya Jaṭāyu turun ke bumi tanpa pamit; sang penutur menyusul, menaungi Jaṭāyu dengan sayapnya, namun terbakar panas dan jatuh ke Vindhya dalam keadaan tak bertenaga. Penutupnya menjadi hasrat untuk mati yang lahir dari kehilangan—kerajaan, saudara, dan sayap—menunjukkan bahwa keangkuhan memicu kemerosotan yang tak dapat dipulihkan, dan bahwa pengendalian diri adalah penawar dharmisnya.
संपाति-उपदेशः / Sampati Instructed and the Search Mission Foretold
Sarga 62 berbentuk wejangan dan nubuat yang berpusat pada ketidakberdayaan Sampāti (kehilangan sayap) serta manfaatnya kelak bagi pencarian Sītā. Setelah luapan emosi dan sejenak hening merenung, seorang muni yang mulia—di akhir disebut sebagai mahārṣi yang telah merealisasi diri—meneguhkan Sampāti bahwa ia akan dipulihkan: sayap dan bulu baru, penglihatan, usia, keberanian, serta kekuatan. Sang mahārṣi menempatkan pemulihan itu dalam cakrawala itihāsa-purāṇa: kemunculan Daśaratha dan kelahiran Rāma, pembuangan Rāma ke hutan bersama Lakṣmaṇa, serta penculikan Sītā oleh Rāvaṇa dari Jana-sthāna. Ditekankan bahwa Sītā menolak kenikmatan dan makanan; Indra lalu memberinya santapan laksana amṛta. Sītā mempersembahkan sebagian ke bumi bagi Rāma, mengucapkan tekad suci yang melampaui jarak dan ketidakpastian. Mahārṣi menubuatkan bahwa para vānarā—utusan Rāma—akan datang mencari Sītā; Sampāti harus menyampaikan pengetahuan ini kepada mereka. Hingga saat itu ia diminta tetap tinggal, menanti waktu dan tempat yang tepat, serta mengabdi bagi kesejahteraan dunia. Penutupnya menyatakan hasrat sang mahārṣi untuk melihat Rāma dan Lakṣmaṇa, namun tanpa keterikatan pada umur panjang—menegaskan laku tapa dan pelepasan, sekaligus tuntunan yang menentukan misi.
सम्पातेः पक्षलाभः — Sampāti Regains His Wings and Re-energizes the Search
Sarga ini berpusat pada kesaksian Sampāti dan pulihnya keyakinan para vānarā. Ia mengenang bagaimana ia memuji lalu melepas lawan bicaranya, kemudian perlahan keluar dari gua, mendaki Gunung Vindhya, dan menanti lebih dari seratus tahun saat pertemuan tempat dan waktu yang telah ditetapkan, sambil menyimpan sabda resi Niśākara di dalam hati. Ia menceritakan wafatnya sang resi dan duka yang menyusul, termasuk dorongan untuk mengakhiri hidup yang berulang kali ditahan oleh nasihat resi yang menjaga kehidupan. Dengan perenungan dan rasa tanggung jawab, Sampāti mengingat bagaimana ia menegur putranya karena gagal melindungi Maithilī meski mengetahui kedahsyatan Rāvaṇa. Ia juga menyatakan kegelisahan karena persahabatannya dengan Daśaratha serta penderitaan Rāma dan Lakṣmaṇa yang terpisah dari Sītā. Ketika ia berbicara di hadapan para penghuni rimba, sayapnya tampak tumbuh kembali dengan bulu kemerahan; ia mengalami sukacita yang tiada banding dan mengaitkan pertumbuhan itu pada anugerah (prabhāva) resi yang mulia. Ia menyatakan bahwa kekuatan mudanya yang pulih adalah tanda bukti (siddhi-pratyaya) bagi keberhasilan para vānarā, mendorong mereka berusaha sepenuh daya, lalu melompat dari puncak gunung untuk menguji jalur udara. Mendengar itu, para vānarā bersorak gembira dan berangkat menuju arah/rasi Abhijit, terdorong oleh pertanda baik keberhasilan, untuk mencari putri Janaka.
अङ्गदोपदेशः समुद्रदर्शन-विषादश्च (Angada’s Counsel and the Vanaras’ Despondency at the Ocean)
Mendengar wejangan Sampati, raja burung nasar, para wanara bersukacita, melompat dan bersorak, lalu berangkat menuju samudra dengan harapan dapat melihat Sita. Di tepi utara Samudra Selatan mereka berkemah dan menyaksikan wujud lautan yang menggetarkan—makhluk air raksasa, gelombang yang bergulung-gulung, gumpalan air setinggi gunung, serta bayang-bayang kengerian yang dikaitkan dengan dunia bawah (patala) dan para danawa. Melihat samudra yang tampak tak terlampaui itu, pasukan wanara seketika diliputi duka dan kebimbangan: “Bagaimana tugas ini dapat diselesaikan?” Saat itulah Angada, yang utama di antara para hari, menenangkan mereka. Ia menegaskan bahwa keputusasaan adalah “cacat terbesar”, karena pada saat keberanian dibutuhkan, putus asa menghancurkan daya upaya—seperti ular yang murka membinasakan seorang anak. Setelah malam berlalu, Angada bermusyawarah kembali dengan para wanara tua, meneguhkan keyakinan pasukan, lalu mengajak kepemimpinan bangkit lewat pertanyaan: siapa yang akan melompati samudra, siapa yang akan menegakkan janji Sugriva, dan oleh pengaruh siapa semua akan berhasil lalu pulang dengan tujuan tercapai? Mendengar itu pasukan terdiam; kemudian Angada mengingatkan mereka akan kemuliaan keluarga, nama baik, dan kekuatan masing-masing, serta mendorong setiap orang menyatakan ukuran kesanggupannya—itulah ajaran pokok sarga ini.
पञ्चषष्टितमः सर्गः — वानराणां प्लवन-पराक्रम-निरूपणम् (Assessment of the Vanaras’ Leaping Capacity; Jambavan Motivates Hanuman)
Mendengar ucapan Anggada, para pahlawan wanara satu per satu menyatakan kemampuan melompat mereka: Gaja sanggup 10 yojana, Gavaksha 20, Gavaya 30, Sharabha 40, Gandhamadana 50, Mainda lebih dari 60, Dwivida 70, dan Sushena hingga 80 yojana. Kemudian Jambavan yang tertua menilai daya mereka dan menyampaikan bahwa usia tuanya membatasi kekuatan; namun ia mengingat kejayaan masa muda pada peristiwa yajña Trivikrama Wisnu, lalu berkata bahwa kini ia hanya mampu menempuh 90 yojana—tetapi itu belum cukup untuk menyelesaikan tugas. Anggada menyatakan mampu 100 yojana, namun kekuatan untuk kembali masih tidak pasti. Jambavan menegaskan Anggada tidak patut diutus—ia panglima pasukan, ‘akar tugas’; menurut nalar menjaga akar, ia harus dilindungi. Anggada tetap menunjukkan kegelisahan kewajiban dan bersumpah mengerikan: bila tak seorang pun pergi, ia akan melakukan prayopaveshana. Akhirnya Jambavan bertekad mendatangi Hanuman, pelompat termasyhur yang duduk menyendiri, untuk membangkitkan semangatnya—di sinilah benih penugasan Hanuman untuk melompati lautan mulai ditanamkan.
हनूमद्बलप्रबोधनम् / Jāmbavān Rekindles Hanūmān’s Power
Sarga 66 berisi wejangan yang membangkitkan semangat sekaligus silsilah, ketika Jāmbavān menegur kemurungan bala tentara vānarā dan membangunkan kesadaran diri Hanūmān. Ia mempertanyakan mengapa Hanūmān diam dan menarik diri, lalu menghadirkan perbandingan dengan Garuḍa (Vainateya), menegaskan bahwa kekuatan bahu, kecepatan, dan keberanian Hanūmān tidaklah kalah. Jāmbavān kemudian menuturkan asal-usul Hanūmān: Añjanā—dahulu apsaras Puñjikāsthalā yang berubah karena kutuk—mengambil wujud manusia. Dewa Angin, Māruta/Pavana, mendekatinya secara batin (bukan jasmani) dan menganugerahkan putra yang berhikmat, berani, serta memiliki daya lompatan luar biasa. Pada masa kanak-kanak Hanūmān terbang menuju matahari terbit; Indra memukulnya dengan vajra hingga rahang kirinya patah, sehingga nama “Hanūmān” dijelaskan. Vāyu lalu memprotes secara kosmis dengan berhenti berembus; para dewa menenangkannya dan memberi anugerah. Brahmā menganugerahkan kekebalan terhadap senjata, dan Indra menganugerahkan bahwa kematian Hanūmān hanya terjadi atas kehendaknya sendiri. Pada penutup sarga, Jāmbavān menyeru agar menyeberangi samudra agung; tersentuh upadeśa itu, Hanūmān membesarkan tubuhnya, membangkitkan kembali semangat pasukan untuk melompat menuju Laṅkā.
हनूमद्विक्रम-प्रशंसा तथा महेन्द्रारोहणम् (Hanuman’s Self-Assertion of Power and Ascent of Mount Mahendra)
Sarga ini menandai titik balik batin dan strategi sebelum penyeberangan samudra menuju Lanka. Melihat Hanuman membesarkan wujudnya untuk lompatan seratus yojana, para vanara meninggalkan duka dan memujinya; adegan itu disandingkan dengan perbandingan Vamana–Trivikrama, disertai gambaran tubuh yang mengembang dan bercahaya. Hanuman bangkit di tengah sidang, memberi hormat kepada para sesepuh, lalu menyatakan kemampuan-kemampuannya dengan terukur: ia adalah putra sah Maruta (Dewa Angin); ia sanggup mengitari Meru, mengguncang atau menahan lautan, melampaui makhluk-makhluk udara, serta menandingi Garuda dan angin dalam kecepatan. Ia bahkan menyebut laku berskala kosmis—mendekati Surya dan kembali tanpa menyentuh bumi, atau merebut amerta dari tangan Indra—sebagai jaminan retoris untuk meneguhkan semangat dan memperjelas misi. Jambavan menanggapi dengan berkat resmi dan upacara pertanda baik, menegaskan bahwa keberhasilan didukung para resi, para tua, dan harapan seluruh pasukan. Hanuman lalu memilih Gunung Mahendra sebagai landasan, sebab bumi takkan sanggup menahan hentakan lompatan; ketika ia memacu diri di puncak-puncak yang kokoh, batu-batu berhamburan, satwa lari, gandharva dan vidyadhara menyingkir, ular-ular bersembunyi—sebuah tableau “getaran kosmis” yang terkendali akibat vīrya yang terkonsentrasi. Sarga ditutup dengan Hanuman memusatkan batin pada kecepatan dan, sebelum tubuh melompat, telah mencapai Lanka dalam pikiran—menegaskan samādhi batin sebagai penggerak utama tindakan kepahlawanan.
Kiṣkindhā Kāṇḍa centers on mitradharma (the obligations of friendship and alliance) and rājadharma (the ethics of rule and punishment). The Rama–Sugrīva pact models reciprocal duty: protection and political restoration on one side, intelligence and organized assistance on the other. This ethical frame is tested by two crises: Rama’s controversial slaying of Vālin and Sugrīva’s delay in fulfilling his vow due to indulgence. The book repeatedly asserts that dharma is inseparable from kāla (timely action) and from responsible governance of emotion—grief and desire must be acknowledged but subordinated to duty.
Major episodes include: Rama’s lament in spring; Hanumān’s approach and introduction; the alliance with Sugrīva; Sugrīva’s account of his conflict with Vālin; Rama’s demonstrations of strength; the duel and Vālin’s death by Rama’s arrow; the dharma-debate and Vālin’s final counsel about Aṅgada; funeral rites and Sugrīva’s consecration; Rama’s monsoon waiting and Lakṣmaṇa’s reprimand; mobilization of the Vanara hosts; dispatch of search parties across the four directions; the southern party’s cave ordeal; meeting Sampāti and learning Sītā is in Laṅkā; and the recognition of Hanumān as capable of the ocean crossing.
The principal figures are Rama and Lakṣmaṇa as the human protagonists; Sugrīva as the allied Vanara king; Hanumān as minister, diplomat, and chief agent; Vālin as the rival king whose death raises ethical questions; Tārā as queen and political mediator; Aṅgada as Vālin’s heir and southern expedition leader; Jāmbavān as the elder who catalyzes Hanumān’s self-realization; and Sampāti as the informant whose testimony redirects the search toward Laṅkā.
This book is the narrative hinge between the forest quest (Araṇya Kāṇḍa) and the transoceanic campaign (Sundara and Yuddha Kāṇḍas). It transforms Rama’s private grief into public strategy by securing a powerful non-human alliance, establishing legitimacy for Sugrīva’s rule, and assembling the logistical apparatus for a world-wide search. The conclusion—Sampāti’s identification of Laṅkā and Hanumān’s readiness to leap—directly sets up Sundara Kāṇḍa, where reconnaissance becomes possible and the epic’s scale expands from regional wandering to international (island) warfare.
Key lessons include: (1) gratitude and reciprocity sustain alliances; neglect of obligations corrodes legitimacy; (2) leadership demands kāla-jñāna—acting at the right time is itself a moral duty; (3) grief should be honored through rites and remembrance but not allowed to paralyze collective responsibility; (4) wise counsel requires truthful, measured speech tailored to circumstance (as exemplified by Hanumān and Tārā); and (5) power must be ethically justified, and even necessary violence invites scrutiny—hence the enduring interpretive importance of the Vālin episode.
Read Valmiki Ramayana in the Vedapath app
Scan the QR code to open this directly in the app, with audio, word-by-word meanings, and more.