Rig Veda - Mandala 8
KanvaSomaPragatha

Mandala 8

मण्डल 8

The Kanva Collection

Mandala 8 adalah kumpulan lapisan awal yang sangat terkait dengan garis puisi Kāṇva dan Aṅgiras, dan terutama ditandai oleh pujian Indra yang meluap-luap yang terikat pada ritus pemerasan Soma. Himne-himnenya berulang kali mengundang Indra ke pemerasan itu, memohon kelimpahan tanpa gentar, ternak, dan kemenangan; sekaligus menampilkan bahan penting tentang Marut dan Agni, dengan sesekali menyebut Varuṇa–Mitra serta dewa-dewa lainnya. Ciri metrum yang khas mencakup penggunaan struktur Pragātha yang sering, sehingga banyak himne berwatak dialogis dan cocok untuk pelantunan responsorial/bersahut-sahutan.

Period

Early Rig Vedic

Principal rishis

Kāṇva (Kāṇva lineage)Aṅgiras (Aṅgiras lineage)Vālakhilya seers (appendix tradition)

Suktas in Mandala 8

Sukta 1

Sukta 8.1

Himne ini merupakan undangan yang padat untuk memuji Indra saja, berulang-ulang, dalam kebersamaan dengan Soma yang telah diperas, agar kekuatan, keberanian, dan daya kemenangan bertambah dalam diri para pelantun. Bergerak antara bumi dan langit luas yang bercahaya, himne ini menggambarkan kedahsyatan Indra yang nyata-terasa serta bagaimana kehadiran-Nya “memenuhi” pemuja dengan kelimpahan, pemeliharaan, dan daya dorong maju. Dengan demikian, sukta ini berfungsi sekaligus sebagai seruan ritual pada saat pemerasan Soma dan sebagai panggilan penyemangat batin untuk pujian yang teguh dan bersatu

34 mantras | Rishi: Kaṇva (Kāṇva tradition predominates in Maṇḍala 8; exact ṛṣi for 8.1 varies by Anukramaṇī, flagged as likely Kāṇva) | Devata: Indra (with Soma as accompaniment)

Chandas: Gāyatrī (common in Indra hymns of Maṇḍala 8; flagged as probable)

Sukta 2

Sukta 8.2

RV 8.2 adalah kidung persembahan Soma yang berulang kali mengundang Indra—juga disapa sebagai “Vasu”—untuk meminum sari yang baru diperas, dan sebagai balasan mencurahkan kelimpahan tanpa gentar, kekuatan, dan kemenangan kepada para penyanyi. Para resi Kaṇva memuji Indra sebagai “penolong seratus” yang tiada banding, mengintensifkan curahan persembahan dan pujian hingga kidung ini meluas menjadi perayaan pertumbuhan yang menyehatkan serta kelahiran-kembali dan pembaruan menjadi (janitva).

42 mantras | Rishi: Medhyātithi Kāṇva (traditional for RV 8.2) | Devata: Indra (addressed as Vasu; Soma-drinking context strongly Indraic)

Chandas: Gāyatrī (probable for RV 8.2 opening; requires metrical verification)

Sukta 3

Sukta 8.3

Kidung ini merupakan undangan Soma sekaligus pujian bagi Indra, mendesak beliau meminum sari yang telah diperas, memasuki kegembiraan bersama (sadhamāda), dan melindungi para penyanyi dengan daya ilham dari kecerdasan batin (dhī). Kidung ini merayakan kedahsyatan Indra yang tiada banding (indriya) yang menuntun menuju Cahaya, dan ditutup dengan renungan yang lebih esoteris, memanggil Rohita/Pākasthāmā sebagai asas yang melimpah, pemberi kekuatan, yang berpadu dengan daya Indra.

24 mantras | Devata: Indra

Sukta 4

Sukta 8.4

Kidung ini bagi Indra memanggil sang dewa dari segala penjuru, mendesak kedatangannya yang cepat ke pemerasan Soma, serta memujinya sebagai pemenang yang menghancurkan rintangan. Hymne ini merajut kedekatan dan kesegeraan ritus (Adhvaryu didorong agar membuat Soma mengalir) dengan peran kosmis Indra sebagai pembunuh Vṛtra, lalu menutup dengan citra kelimpahan, ketika bahkan daya-daya alam yang mapan seakan turut “membagikan” pertambahan.

21 mantras | Rishi: Kaṇva (Kaṇva lineage; Kaṇvāḥ) | Devata: Indra

Chandas: Triṣṭubh (probable; needs verification)

Sukta 5

Sukta 8.5

Himne ini dari kumpulan Kāṇva dibuka dengan citra bercahaya tentang Uṣas—Fajar sejati yang datang dari jauh dan menyebarkan sinarnya ke segala arah, membangunkan kehidupan serta gerak yang benar. Seiring himne berlanjut, bingkai pujian meluas menjadi permohonan yang berporos pada Aśvin demi kemakmuran—ternak, keturunan, kekuatan, dan “iṣ” yang menyejahterakan (pertambahan)—dan berpuncak dengan membedakan jalan perolehan yang sejati dari pamer kosong, seraya memuji para dermawan (kaum Cedayas) sebagai teladan kemajuan yang benar.

39 mantras | Rishi: Kaṇva lineage (Aṣṭaka 8 Kaṇva collection) | Devata: Uṣas (Dawn) (probable from aruṇa + spreading beam imagery; hymn context continues with Aśvins and Uṣas)

Chandas: Gāyatrī (probable; requires verification)

Sukta 6

Sukta 8.6

RV 8.6 adalah himne Kaṇva kepada Indra yang membesarkan ojas (daya kemenangan) serta kedermawanannya yang laksana hujan, memohon agar ia bertumbuh melalui pujian dan segera datang melindungi kaum-kaum pemuja. Himne ini bergerak antara citra kosmis (Indra sebagai daya yang melebarkan jalan dan melepaskan kelimpahan) dan kedekatan ritual (persembahan Soma dan seruan bersama komunitas), lalu berpuncak pada sebuah teladan bergaya dānastuti yang merayakan pengangkatan martabat melalui pemberian dan kemasyhuran

43 mantras | Rishi: Kaṇva (Kaṇva family; RV 8.6 attributed to Kaṇvas) | Devata: Indra

Chandas: Anuṣṭubh (likely; compact praise verse)

Sukta 7

Sukta 8.7

Himne ini terutama memanggil para Marut sebagai pasukan perkasa yang menjelajah pegunungan, dibangunkan dan dikuatkan oleh pujian Triṣṭubh sang penyair, membawa daya hidup, perlindungan, dan dorongan kemenangan. Rumusan yang terilhami garis Kaṇva dipersembahkan sebagai “aliran-aliran” (iṣaḥ) yang menyehatkan laksana ghee, untuk mengembang-besarkan kuasa Marut dan, melalui mereka, kemakmuran sang pelaksana yajña. Gerak penutup beralih kepada Agni, sang pengetahu purba yang cemerlang, yang nyala-apinya bagaikan matahari menempatkan daya-daya pada kedudukannya, memeteraikan ritus dengan tatanan yang bercahaya.

36 mantras | Rishi: Kaṇva lineage (Mandala 8 context) | Devata: Maruts

Chandas: Tr̥ṣṭubh (explicitly referenced; verse likely in Tr̥ṣṭubh)

Sukta 8

Sukta 8.8

Kidung ini merupakan seruan fajar yang mendesak kepada Aśvin, memanggil mereka agar segera datang dengan kereta yang berselimut cahaya matahari dan menganugerahkan karunia yang sempurna—kesehatan, perlindungan, dan keberhasilan upacara. Kidung ini memuji mereka sebagai pasangan kembar yang berpenglihatan mendalam, yang menempuh jalan-jalan ṛta (tatanan kosmis), dekat dengan makhluk hidup, serta memohon agar para pemuja tidak ditinggalkan pada cela atau kegagalan dalam pekerjaan musiman yang tertata benar menurut ketertiban.

22 mantras | Rishi: Kaṇva lineage (probable; hymn explicitly references Kaṇva in nearby verses) | Devata: Aśvins

Sukta 9

Sukta 8.9

Himne ini dengan mendesak memanggil Aśvinau agar menolong resi Vatsa dan kaumnya, memohon perlindungan yang luas, teguh, tak tertembus, serta pengusiran kekuatan-kekuatan bermusuhan. Himne ini memperluas penjagaan Aśvin dari naungan yang segera menuju perlindungan kosmis—atas dunia yang bergerak, atas tubuh, dan atas masa depan anak-anak—dan berakhir dengan nada yang lebih batiniah dan kontemplatif, tentang Sang Kembar yang “bersemayam” melalui pikiran yang terilham dan berkat.

20 mantras | Rishi: Kāṇva tradition (Vatsa prominently) | Devata: Aśvinau

Chandas: Jagatī (probable due to longer line; requires metrical verification)

Sukta 10

Sukta 8.10

Sinopsis kidung Kāṇva yang singkat ini memanggil sepasang Aśvinau dari setiap kedudukan kosmis—dari cahaya kemilau langit, dari kediaman samudra, dan dari ruang antara—seraya mendesak mereka agar segera tiba pada upacara sang penyanyi. Kidung ini memuji mereka sebagai dermawan yang berpengetahuan luas, yang bergerak menurut svadhā mereka sendiri, dan yang meminum Soma-madu, sehingga menguatkan yajña dan para resi.

6 mantras | Rishi: Kāṇva (Kāṇva lineage) | Devata: Aśvinau

Chandas: Likely Triṣṭubh (requires verification)

Sukta 11

Sukta 8.11

Kidung ini memuji Agni sebagai vratapā (penjaga tatanan suci) yang dengan sukarela datang di tengah manusia fana dan menjadi yang paling layak dipanggil dalam yajña. Berulang kali Agni diseru sebagai Hotṛ yang purba namun senantiasa baru, dimohon agar melindungi, memelihara, dan menganugerahkan saubhaga (keberuntungan yang mujur) melalui perantaraan kurban sucinya.

10 mantras | Devata: Agni

Sukta 12

Sukta 8.12

Kidung ini merupakan seruan Soma yang mendesak kepada Indra, memuji “mada” yang memabukkan—daya yang menyalakan keperkasaan-Nya dan mendorong-Nya membinasakan musuh pemangsa cahaya. Para penyair berulang kali memanggil Indra datang ke Soma perasan mereka, sekalipun Ia “jauh,” dan menutupnya dengan permohonan kesejahteraan dalam bentuk-bentuk Weda yang klasik—kekuatan kepahlawanan, kuda, dan ternak—yang diteguhkan melalui persembahan yang tepat dan wawasan kependetaan kuno

33 mantras | Devata: Indra

Chandas: Gayatri (likely; needs confirmation by metrical count)

Sukta 13

Sukta 8.13

Himne ini merupakan pemanggilan Soma yang panjang kepada Indra, memuji beliau sebagai Vajrin yang perkasa, yang datang kepada Soma yang telah diperas dan menjadikan kratu (kehendak, keteguhan, kecerdasan yang terilhami) sang pemuja jernih serta efektif bagi nyanyian pujian. Himne ini berulang kali mengaitkan “pertolongan yang beraneka warna” (citrā ūtayaḥ) milik Indra dengan pertumbuhan: menguatkan daya-daya batin laksana bumi, memperluas kapasitas, dan membuat pujian itu sendiri bertambah sebagai tanggapan.

33 mantras | Devata: Indra

Sukta 14

Sukta 8.14

Himne ini memuji Indra sebagai penguasa kekayaan dan kemenangan, yang menghancurkan rintangan, membebaskan Cahaya yang tersembunyi (yakni “sapi-sapi”), dan memulihkan gerak yang benar bagi sang pelaku yajña. Ia memadukan aspirasi pribadi—“andaikan aku dapat memerintah kekayaan seperti Engkau”—dengan ingatan mitis atas karya Indra bagi para Aṅgirasa serta penumbangan Vala dan kekuatan-kekuatan bermusuhan yang tidak berkurban. Tujuannya ialah memanggil daya-soma Indra agar menganugerahkan kemakmuran, ilham, dan kemenangan atas perlawanan batin maupun lahir.

15 mantras | Devata: Indra

Chandas: Likely Anuṣṭubh-like shorter meter in this opening (exact scansion required)

Sukta 15

Sukta 8.15

Kidung ini merupakan seruan yang membangkitkan daya kepada Indra—“yang banyak diseru” dan “yang banyak dipuji”—memohon agar Ia ditarik mendekat oleh nyanyian yang terilhami dan berdiam bersama pemuja sebagai kuasa yang menang. Kidung ini merayakan indriya Indra yang luas (kemahakuasaan berdaulat), śuṣma (daya dorong yang menggebu), dan kratu (kehendak yang terarah benar), lalu berpuncak pada doa agar segala bentuk kekuatan memasuki komunitas demi pertambahan, tempat tinggal yang mantap, dan kemenangan.

13 mantras | Devata: Indra

Sukta 16

Sukta 8.16

Himne ini merupakan pujian yang meluap-luap kepada Indra sebagai penguasa semesta atas segala bangsa, yang diseru dengan ujaran segar nan terilhami agar menganugerahkan kekuatan, kemenangan, dan kelimpahan. Pada akhirnya, himne ini memuncak dalam permohonan langsung agar Indra menuntun para pemuja di jalan yang benar serta menganugerahkan kegembiraan batin (sumna) beserta kepenuhan kemakmuran materi.

12 mantras | Devata: Indra

Sukta 17

Sukta 8.17

Kidung dari aliran Kāṇva ini merupakan undangan Soma bagi Indra, memanggil-Nya ke tempat duduk barhis yang telah disiapkan untuk meminum persembahan yang diperas dengan baik dan membangunkan daya kemenangan-Nya. Kidung ini memuji wujud Indra yang perkasa serta kekuatan-Nya sebagai pembunuh Vṛtra—menyingkirkan rintangan dan melepaskan aliran bebas cahaya, tenaga, dan pertambahan bagi sang pemuja.

14 mantras | Rishi: Kāṇva tradition (Mandala 8) | Devata: Indra (invoked to drink Soma)

Sukta 18

Sukta 8.18

Kidung ini merupakan permohonan yang berkesinambungan kepada para Āditya untuk memohon súmna (anugerah rahmat), śárman (perlindungan/naungan yang aman), serta pembebasan moral dari enas (kesalahan/dosa). Kidung ini menegaskan Āditya sebagai penegak ṛta yang mampu melonggarkan rasa bersalah manusia, menganugerahkan jalan selamat melewati bahaya, dan memperpanjang hidup bagi para fana yang terikat pada kematian.

22 mantras | Devata: Ādityas (collective), with emphasis on their grace (súmna)

Sukta 19

Sukta 8.19

Himne ini berpusat pada Agni sebagai pemimpin dan pengangkut persembahan yang bergerak dengan tepat; para dewa sendiri “menggerakkannya” agar persembahan terangkat ke ranah ilahi. Berulang kali ia memberkahi yajña sebagai bhadra—mujur/berkah dalam api, dalam pemberian, dalam ritus, dan dalam pujian—mengaitkan gerak ritual yang benar dengan kesejahteraan. Menjelang akhir, nadanya bergeser ke corak mirip dānastuti, mengingat para dermawan/pelindung serta ganjaran sosial yang menyertai keberhasilan yajña dan kemurahan hati

37 mantras | Devata: Agni (implied as carrier/leader of the oblation), supported by the gods

Sukta 20

Sukta 8.20

RV 8.20 adalah himne bagi para Marut yang memanggil bala badai itu agar maju dalam kesatuan—bukan untuk mencelakakan, melainkan untuk meneguhkan si pelaksana yajña dan masyarakat. Himne ini memuji daya mereka yang tak tertahankan serta kemurahan yang tak berbatas, lalu mengarahkan kekuatan yang sama itu ke dalam doa pemulihan—memohon agar para Marut menenangkan kegelisahan, membetulkan yang telah menyimpang, dan memulihkan keutuhan.

26 mantras | Rishi: Sobharī Kāṇva (traditional attribution for RV 8.20, Kāṇva lineage) | Devata: Maruts (Rudras, storm-powers; collective)

Chandas: Trishtubh (probable for RV 8.20; verse-length and cadence align with common Marut hymns)

Sukta 21

Sukta 8.21

Himne ini merupakan seruan yang kuat kepada Indra sebagai pelindung yang senantiasa segar dan pemberi vāja (kekuatan kemenangan, kelimpahan), memohon agar ia mendekat kepada para penyanyi pujian dan menganugerahkan sapi, kuda, serta kekayaan yang berlimpah. Indra dipuji sebagai tuan yang sejati, yang berkenan pada pemerasan soma dan pada pujian yang tersusun baik; kedermawanannya dapat mencapai ukuran “seribu” dan “sepuluh ribu”, laksana hujan yang dicurahkan oleh Parjanya.

18 mantras | Devata: Indra

Sukta 22

Sukta 8.22

Kidung ini merupakan seruan fajar yang mendesak kepada Aśvin (Nāsatyā), memanggil kereta ajaib mereka agar segera datang membawa penyembuhan, perlindungan, dan kelimpahan. Kidung ini mengingat kesiapsiagaan mereka bagi Sūryā, dan berulang kali memohon agar mereka menaiki kereta bertakhta emas serta menganugerahkan “pemeliharaan yang penuh” (iṣaḥ) dan kekayaan bercahaya kepada sang pemuja.

16 mantras | Devata: Aśvins (Nāsatyā)

Sukta 23

Sukta 8.23

Himne ini merupakan penyalaan api yang panjang dan pujian kepada Agni sebagai Jātavedas—api yang mahatahu, penerima persembahan, pelindung ritus, dan pembawa doa kepada para dewa. Berulang kali himne ini memohon kepada Agni kelimpahan (vasu), kekuatan, dan yajña yang tertata baik, seraya menampilkannya sebagai nyala yang tak dapat digenggam, dengan asap yang menjulang sebagai tanda yang tampak dari pemujaan yang berhasil. Bagian penutup menegaskan Agni sebagai kemuliaan dari karya dan pemanggil Mitra serta Varuṇa, menyelaraskan ritus dengan Ṛta (tatanan kosmis).

30 mantras | Devata: Agni (Jātavedas)

Sukta 24

Sukta 8.24

Kidung ini adalah seruan bersama untuk “menggerakkan” Sabda yang terilhami (brahman) bagi Indra Vajrin, memuji-Nya sebagai kekuatan yang berani, paling jantan, yang meremukkan rintangan dan menganugerahkan kemenangan. Berulang kali kidung ini mengaitkan kedahsyatan Indra dengan pemerasan Soma dan persembahan, mendesak sang Adhvaryu menuangkan tegukan yang lebih membangkitkan agar Sang Pahlawan yang senantiasa bertambah kuat diteguhkan. Di latar belakang hadir motif Vala: kurungan-kurungan tersembunyi dan kerja-kerja rahasia yang dapat ditembus Indra untuk membebaskan “sapi-sapi” bercahaya (kekayaan, cahaya, dan wawasan).

28 mantras | Devata: Indra

Chandas: Anuṣṭubh (probable; requires pada-length verification against a metrical index)

Sukta 25

Sukta 8.25

RV 8.25 terutama merupakan doa kepada Mitra–Varuṇa sebagai para penjaga semesta yang menegakkan Ṛta (tatanan kebenaran), melindungi pemuja, dan meluaskan “ruang” batin maupun lahir (vārya) yang diperlukan untuk hidup benar. Himne ini berganti-ganti antara pujian atas perlindungan mereka yang senantiasa waspada dan permohonan akan perjalanan yang selamat, kerukunan sosial, serta kebebasan dari segala penyempitan, dengan menautkan anugerah-anugerah itu pada kedaulatan moral dan persahabatan bernuansa perjanjian dari kedua dewa.

24 mantras | Devata: Mitra-Varuṇa (dual; likely given the following verse explicitly names them)

Sukta 26

Sukta 8.26

Himne ini terutama memanggil Aśvinau (Nā́satyā), mengundang kereta mereka yang secepat kilat menuju pujian sang pelaksana yajña, serta memohon daya kemenangan, perlindungan, dan kesejahteraan yang bercahaya. Ibadah digambarkan sebagai tindakan memperindah dan laksana mengenakan pakaian: “membalut” Dwi-Ilahi dengan persembahan dan pelayanan, sehingga melahirkan śubha (kemujuran yang gemilang). Pada bait penutup, himne ini sejenak beralih kepada Vāyu, memohon kegairahan batin, kelimpahan tenaga (vāja), dan pengaktifan yang tepat atas pikiran-pikiran ilham dalam tindakan

25 mantras | Devata: Aśvinau (Nā́satyā)

Sukta 27

Sukta 8.27

Kidung ini dibuka dengan menegaskan Agni sebagai daya kependetaan yang paling utama dalam yajña, lalu memperluas pemanggilan kepada kekuatan ilahi yang menyertai—Marut, Brahmaṇaspati, dan Para Dewa Semua (Viśve Devāḥ)—demi perlindungan dan keberhasilan persembahan. Di bagian tengah, kidung beralih pada dorongan fajar yang mengangkat dari Savitṛ, yang menggerakkan semua makhluk menuju gerak yang bertujuan, menggambarkan tatanan kosmis sebagai kebangkitan kembali setiap hari. Penutupnya menampilkan pilihan bersama akan pertolongan ilahi—laksana seorang anak memilih pelindung yang kuat—memohon “yang lebih baik” (vasu/vasīyas) melalui persembahan curahan yang dituangkan dengan benar.

22 mantras | Devata: Agni (with Maruts, Brahmaṇaspati, and the Viśve Devāḥ as invoked powers)

Sukta 28

Sukta 8.28

Kidung singkat ini memanggil Viśve Devāḥ—yang dipahami sebagai “tiga puluh tiga” daya ilahi—agar duduk pada tempatnya yang tersusun semestinya di atas rumput kurban dan menegakkan tatanan yang benar dari ritus. Ia memohon para dewa-semuanya ini menjadi penjaga yang menyeluruh di setiap sisi (depan, belakang, atas, bawah), dan berpuncak pada suatu visi heptadik (tujuh lipat) tentang kekuatan-kekuatan ilahi, yang cahaya, senjata, dan kemilau kemuliaannya ditegakkan dengan sempurna.

5 mantras | Devata: Viśve Devāḥ (the Thirty-Three Gods)

Sukta 29

Sukta 8.29

Kidung ini merenungkan satu Daya ilahi yang heroik—disebut “Yang Satu”—yang bergerak secara khas, menyelubungi diri dengan cahaya keemasan, dan mengetahui jalan-jalan rahasia serta “harta” batin. Kidung ini mengaitkan Yang Satu itu dengan nyanyian ilham para resi (Sāman), yang dengannya terang yang tersembunyi dimunculkan ke dalam perwujudan dan Matahari dibuat bersinar, menandakan kemenangan esoteris pencerahan atas penyelubungan.

10 mantras | Devata: A single deity-power presented as 'the One' (likely Agni/Indra-type heroic power; identification uncertain from isolated verses)

Sukta 30

Sukta 8.30

Kidung singkat kepada Viśve Devāḥ (Para Dewa Semua) ini menegaskan bahwa tiada satu pun di antara kuasa ilahi yang “kecil”, sebab semuanya agung dalam hakikat sejatinya dan mampu memberi perlindungan. Kidung ini memohon para dewa secara kolektif agar menjaga pemuja, berbicara mewakili mereka, menuntun mereka tetap selaras dengan jalan manusia leluhur, serta menganugerahkan naungan yang luas dan kemakmuran (sapi dan kuda), dengan penekanan khusus pada daya-api universal, Vaiśvānara.

4 mantras | Devata: Viśve Devāḥ (All Gods)

Sukta 31

Sukta 8.31

Himne ini berpusat pada kegembiraan Indra atas yajña yang dilaksanakan dengan baik: Soma diperas, persembahan dimasak, dan brahman (ucapan suci yang terilhami) dilantunkan dengan tepat. Himne ini mengaitkan ritus lahiriah dengan kesiapan batin, memohon perlindungan, kekuatan, dan kemenangan—hingga pada gagasan bahwa yajamāna yang berbakti mengatasi kekuatan-kekuatan “yang tidak berkorban”, yakni daya kekacauan di dalam maupun di luar.

18 mantras | Devata: Indra

Sukta 32

Sukta 8.32

Kidung kaum Kāṇva ini memanggil Indra ke pemerasan Soma dan menuturkan karya-karya agung yang telah Ia tuntaskan, seraya memohon agar daya kemenangan-Nya hadir melalui nyanyian yang terilhami. Himne ini menekankan timbal balik dan keutuhan ritus—pujian, persembahan, dan jawaban ilahi—agar tiada sesuatu pun dalam yajña yang tersisa “belum terbayar”, sehingga para pemuja memperoleh kekuatan, perlindungan, dan kemenangan.

30 mantras | Rishi: Kaṇva | Devata: Indra

Chandas: Gāyatrī or Anuṣṭubh-like short meter (uncertain; requires syllable count)

Sukta 33

Sukta 8.33

RV 8.33 adalah invokasi kepada Indra dari aliran Kāṇva yang berpusat pada pemerasan Soma: para penyair, setelah memurnikan Soma melalui saringan, duduk mengelilingi Indra dan memanggilnya agar turun ke dalam arus pujian dan persembahan yang telah dijernihkan. Himne ini berulang kali mendesak Indra agar datang cepat dengan kuda-kuda kuning kecokelatan miliknya, melampaui para penuntut saingan atas kurban, serta melepaskan daya, kemenangan, dan gerak naik bagi para pemuja.

19 mantras | Rishi: Kanva (Kāṇva tradition; RV 8.33 is associated with Kāṇvas in general) | Devata: Indra

Chandas: Likely Jagatī (longer line; needs metrical verification)

Sukta 34

Sukta 8.34

Kidung ini merupakan undangan yang mendesak kepada Indra agar datang dengan kuda-kuda kuning kecokelatan, menerima Soma, dan membangkitkan daya pada pujian yang tersusun indah milik resi dari garis Kāṇva. Sebuah refrein yang berulang menarik Indra “dari surga itu, tempat tatanan yang memerintah” ke medan pemujaan yang hadir kini, memohon agar Ia meneguhkan daya-daya yang cepat dan mengubah gerak menjadi kuasa kemenangan yang menopang kebenaran

18 mantras | Rishi: Kāṇva lineage (explicitly referenced: ‘kaṇvasya’) | Devata: Indra

Chandas: likely Gāyatrī/Anuṣṭubh-like refrain structure; exact meter not provided in input

Sukta 35

Sukta 8.35

Kidung ini merupakan seruan fajar yang mendesak kepada Aśvin, memohon agar mereka segera datang dan meminum Soma yang telah diperas dalam keselarasan bersama seluruh rombongan dewa—Agni, Indra, para Āditya, Rudra, para Vasu, Fajar, dan Matahari. Aśvin digambarkan sebagai penolong universal yang datang bersama ṛta/dharma, menanggapi panggilan sang penyanyi, dan membalas sang pelaksana yajña dengan “ratnāni” (harta, kelimpahan). Seruan yang diulang (“ā yātam… ā gatam”) membingkai sukta ini sebagai sambutan ritual sekaligus permohonan akan perlindungan, daya hidup, dan kemakmuran.

24 mantras | Devata: Aśvins (invoked with the entire divine host as companions)

Sukta 36

Sukta 8.36

Himne ini adalah undangan Soma kepada Indra—terutama Indra “bersama para Marut” (marutvān)—memohon agar ia meminum Soma yang telah diperas dan, melalui kegairahan/kemabukan suci (mada) itu, menganugerahkan penyelamatan, kemenangan, dan kekuatan yang meluas kepada sang pelaksana yajña. Berulang kali himne ini mengaitkan hak Indra atas persembahan (“bagian yang ditetapkan bagimu”) dengan daya yang telah terbukti: memenangkan pertempuran, menaklukkan bahkan di perairan/kedalaman, serta menegakkan kemanjuran ujaran ilham, mantra-mantra suci (brahmāṇi). Bait terakhir mempersonalisasi permohonan dengan menyebut Śyāvāśva dan mengingat pertolongan ilahi terdahulu kepada Atri dan kepada raja Trasadasyu, sehingga harapan kini berakar pada teladan yang dikenang.

7 mantras | Devata: Indra (with Maruts as associated powers)

Chandas: Jagatī/triṣṭubh-like; requires verification

Sukta 37

Sukta 8.37

Kidung ini memanggil Indra ke pemerasan Soma pada tengah hari (mādhyandina), memohon agar ia minum dan melimpahkan “segala pertolongan” (viśvābhir ūtibhiḥ) kepada imam pemeras dan sang dermawan penyelenggara yajña. Kidung ini mengingat kembali pertempuran Indra melawan Vṛtra serta kuasanya menghalau kekuatan yang mengepung, lalu ditutup dengan seruan atas kesigapan Indra menanggapi para resi terdahulu—terutama Śyāvāśva dan Atri—dan perlindungannya atas Trasadasyu, ketika Indra menambah kṣatra (daya kedaulatan/kemegahan kuasa raja).

7 mantras | Devata: Indra

Chandas: Jagatī (likely; recurring refrain with mādhyandina-savana)

Sukta 38

Sukta 8.38

Himne gāyatrī ini mengundang Indra dan Agni bersama-sama, sebagai pasangan imam ṛtvij dan daya-daya kemenangan yang menjadikan kurban efektif serta berbuah dalam segala “pekerjaan kekuatan” (vājeṣu karmasu). Sang penyair memohon agar keduanya terjaga menyambut persembahan, menerima pujian yang tersusun baik yang bergerak dalam “lintasan” gāyatrī, serta menganugerahkan perlindungan dan ujaran yang terilhami; menjelang penutup, kehadiran Sarasvatī yang memberdayakan dipanggil secara jelas.

10 mantras | Rishi: Śyāvāśva Ātreya (Anukramaṇī attribution for this Indrāgnī hymn; consistent with 8.38 context) | Devata: Indrāgnī (Indra and Agni together)

Chandas: Gāyatrī (8.38 is a gāyatrī hymn; short 3-pāda structure typical)

Sukta 39

Sukta 8.39

Himne sembilan bait ini memuji Agni sebagai resi yang terilhami dan utusan batin yang bergerak di antara sidang manusia dan sidang ilahi, membawa persembahan serta mendekatkan para Dewa. Himne ini memohon agar Agni menguduskan para pemuja, memberdayakan ritus, dan menghalau kekuatan yang memusuhi “ke wilayah lain”. Puncaknya menegaskan kedudukan kosmis Agni—bersemayam pada tiga landasan—seraya menyeru beliau untuk memuja kelompok-kelompok ilahi (Tiga dan Sebelas) serta menambah kekuatan dan kemakmuran para pelaksana kurban

9 mantras | Devata: Agni

Sukta 40

Sukta 8.40

Himne ini memanggil Indra–Agni sebagai daya tunggal kemenangan dan perlindungan, memohon “rayi” (kelimpahan/kekayaan) yang memberi ketahanan dan kejayaan dalam pertikaian yang “berteguh”. Berulang kali dipanjatkan doa agar para lawan tercerai-berai di gelanggang perjuangan yang sama, sementara api batin (Agni) menerobos rintangan laksana angin melaju di rimba. Penutupnya mengaitkan pujian kini dengan para resi leluhur serta memohon “damai bertumpu tiga” dan penguasaan atas segala kelimpahan

12 mantras | Rishi: Nabhāka (as indicated by the refrain/epithet nabhāka-vat in the hymn; traditional attribution) | Devata: Indrāgnī (dual deity: Indra and Agni conjoint)

Chandas: Jagatī (probable; requires full metrical count verification against pada lengths)

Sukta 41

Sukta 8.41

Kidung ini memuji Varuṇa bersama para Marut sebagai daya-daya yang paling mengetahui, yang menegakkan tatanan benar (ṛta) serta melindungi komunitas manusia, ternak, dan kemakmuran. Berulang kali dipanjatkan permohonan agar kekuatan-kekuatan ilahi itu “bersinar” dalam keselarasan yang lebih tinggi, sambil menggambarkan Varuṇa sebagai Sang Pengikat, di dalam-Nya karya-karya yang terilhami berpadu, dan oleh penopang-Nya dunia-dunia dipisahkan sekaligus ditegakkan.

10 mantras | Devata: Varuṇa with the Maruts (associated powers)

Sukta 42

Sukta 8.42

Kidung singkat ini dibuka dengan gambaran agung Varuṇa sebagai Asura yang mahatahu, yang menegakkan langit, mengukur bumi, dan memerintah semua dunia melalui ṛta yang tak terpatahkan—“hukum-hukum” (vratāni) tatanan kosmis-Nya. Pada bait-bait selanjutnya, fokus beralih ke suasana kurban Soma, memanggil para Aśvin (Nāsatya) agar datang ke pemerasan dan meminum Soma, menyelaraskan gerak-gerik ritus dalam kesatuan yang seimbang.

6 mantras | Devata: Varuṇa

Sukta 43

Sukta 8.43

Himne ini merupakan pujian yang berkesinambungan kepada Agni sebagai imam yang terilhami dan pelaksana yajña yang tak pernah gagal, yang membangkitkan kehendak ilahi serta membawa ujaran dan persembahan manusia kepada para dewa. Berulang kali himne ini memohon agar Agni ditarik oleh panggilan pemuja, memasuki “rumah” sang pelaku yajña, dan menganugerahkan kekayaan pilihan yang tahan lama serta perlindungan, melalui pemberian-Nya yang teguh dan mantap.

32 mantras | Devata: Agni

Sukta 44

Sukta 8.44

Himne Agni ini menyalakan api kurban sebagai Tamu ilahi (atithi), dibangunkan oleh ghee dan dipanggil untuk menerima persembahan serta membawanya kepada para dewa. Sukta ini memuji keagungan kosmis Agni—kepala langit dan puncak berdaulat di bumi—yang menggerakkan “benih-benih” tersembunyi di dalam perairan menuju hidup dan perwujudan. Di akhir, dipanjatkan doa perlindungan: semoga Agni, resi yang terilhami, mengantar hidup dan kekayaan sang pemuja melampaui kejahatan dan kuasa-kuasa yang memusuhi.

30 mantras | Devata: Agni

Sukta 45

Sukta 8.45

Himne ini merupakan undangan yang berkesinambungan kepada Indra agar datang ke pemerasan Soma, meminum tuangan yang telah diperas, dan menganugerahkan kekuatan, kemenangan, serta kekayaan yang diidamkan kepada para pelaksana yajña. Ia dibuka dengan penetapan syarat ritual yang tepat—Agni dinyalakan dan barhis dibentangkan—yang menjadikan Indra sahabat muda para pemuja; lalu berlanjut dengan seruan berulang agar Indra bersemangat-mabuk sukacita (mada) dan bermurah hati, dan ditutup dengan permohonan akan harta paling utama, yang dikenal melalui anugerah-anugerah Indra sebelumnya

42 mantras | Devata: Indra (with Agni as the invoked support in the opening condition)

Sukta 46

Sukta 8.46

Kidung ini merupakan pujian yang berkesinambungan kepada Indra sebagai pelindung, penuntun, dan pemberi pertumbuhan bagi komunitas, mengundang-Nya datang dengan segera ke persembahan bersama kekuatan-kekuatan-Nya (harī) untuk menganugerahkan daya, kemakmuran, dan kemenangan. Kidung ini mengembangkan persekutuan Indra dengan para Marut sebagai daya dinamis yang memajukan ikhtiar manusia dan keberhasilan ritus, lalu menutup dengan citra yang kuat tentang suatu kuasa feminin yang kembali, membawa penguasaan dan kedaulatan yang bercahaya—menandakan bahwa buah pertolongan Indra adalah capaian lahiriah sekaligus perolehan batiniah.

33 mantras | Devata: Indra

Sukta 47

Sukta 8.47

Kidung ini berulang kali memanggil para Āditya—terutama Varuṇa dan Mitra—sebagai pelindung yang maha-luas dan tanpa cela, yang melindungi pemuja dari tipu daya, permusuhan, dan segala bagian dalam kejahatan. Kidung ini memohon agar para dewa menegakkan dalam diri pelaksana yajña segala bentuk kesejahteraan—damai, perlindungan, dan “perlindungan tiga-lapis”—serta menutup dengan nada kemenangan dan pemurnian, mengusir rasa takut dan mimpi buruk ketika Fajar terbit

18 mantras | Devata: Ādityas (Varuṇa, Mitra, and the Āditya group).

Sukta 48

Sukta 8.48

Himne Soma ini merayakan “kemanisan” (madhu) Soma yang telah dicecap sebagai daya pemberi-hidup: menjernihkan budi, meluaskan kebebasan batin, dan menghimpun para dewa serta manusia di sekeliling satu sari penopang yang sama. Soma dipuji sebagai penjaga yang bersemayam di dalam, duduk di setiap anggota tubuh; dimohon agar mengampuni kelengahan dalam menjalankan tata-ikrar yang benar (vrata); dan diseru untuk perlindungan dari segala sisi serta akses menuju dunia-surya (svar). Dengan demikian, kidung ini bergerak dari pengalaman ekstatis, menuju rekonsiliasi etis, dan akhirnya pada penjagaan menyeluruh oleh Soma/Indu.

14 mantras | Devata: Soma (implicit as ‘sweet/honey’ of life-force)

Sukta 49

Sukta 8.49

Kidung ini memuji Indra sebagai Maghavan yang garang namun dermawan, yang daya dan kekayaannya tak habis-habisnya mengangkat serta “melatih” sang penyanyi, sehingga pikiran ilham mengalir seperti air dari kantong kulit yang penuh. Kidung ini mengingat kembali pertolongan Indra terdahulu kepada para resi Kaṇva dan bangsa-bangsa sekutu, lalu mengubah ingatan itu menjadi permohonan kini: kemakmuran yang bercahaya, berlimpah sapi dan emas, serta dukungan yang membawa kemenangan.

10 mantras | Devata: Indra

Sukta 50

Sukta 8.50

Kidung ini merupakan pujian dan undangan bergaya Kāṇva kepada Indra, sang pemenang termasyhur yang dermawan, yang meluaskan kemakmuran si pelaksana yajña dan menjamin keberhasilan dalam perlombaan maupun dalam ritus. Kidung ini berulang kali mengaitkan kedahsyatan Indra dengan pemerasan Soma dan kedermawanan, memohon agar Ia melipatgandakan kekayaan yang diinginkan “seakan-akan dengan curahan seribu kali lipat”, serta membuka “sapi-sapi” yang bercahaya (cahaya/anugerah) bagi sang penyanyi, sebagaimana Ia dahulu melakukannya bagi para resi terdahulu.

10 mantras | Rishi: Kaṇva (Kāṇva family; common for RV 8.50) | Devata: Indra (Śakra)

Chandas: Jagatī (probable; needs verification)

Sukta 51

Sukta 8.51

Kidung ini memanggil Indra ke upacara pemerasan Soma, sambil mengingat teladan terdahulu ketika Indra meminum Soma bersama para leluhur dan para tuan rumah yang bersahabat. Kidung ini memuji Indra sebagai Sang Pemberi yang “melatih” para pemuja dalam kemurahan hati, dan dengan demikian menganugerahkan kekayaan, kekuatan, serta perluasan. Penutupnya memandang ritus itu sendiri sebagai ladang pertumbuhan: nyanyian ilham, tetes-tetes Soma yang mengalir, dan bertumbuhnya vṛṣṇya śavas (daya laksana banteng) di dalam para penyembah.

10 mantras | Rishi: Kanva tradition (Kāṇva); specific rishi for 8.51 uncertain in this excerpt | Devata: Indra (with Soma context)

Chandas: Jagatī/Tr̥ṣṭubh probable; requires scan

Sukta 52

Sukta 8.52

Himne Indra dari aliran Kāṇva ini mengundang sang dewa ke pemerasan Soma saat ini, dengan mengingat bagaimana ia dahulu dengan gembira meminum dan menerima pujian dalam kurban-kurban purba Manu, Vivasvat, dan Trita. Himne ini memuliakan Indra sebagai pemberi kekayaan dan pertumbuhan (rāyaḥ, poṣa), dan memuncak pada suatu visi tentang Indra yang menggerakkan kelimpahan luas—menyelaraskan bumi dan matahari ketika daya-daya terang Soma menyegarkannya.

10 mantras | Devata: Indra

Sukta 53

Sukta 8.53

Himne Indra dari aliran Kāṇva ini memanggil Indra sebagai kuasa tertinggi yang melimpahkan karunia—yang tertua di antara para kuat, pemecah benteng, dan penemu “sapi” (sinar/kekayaan)—untuk meraih kelimpahan dan perlindungan. Ia memohon agar Ia menghancurkan segala permusuhan, meminum Soma hingga penuh, dan menuntun pemuja melewati gelanggang pertarungan hidup menuju kemenangan, ternak sapi, dan daya-kuda (kekuatan dan dinamika).

7 mantras | Rishi: Kaṇva (Kāṇva tradition) | Devata: Indra

Chandas: Triṣṭubh (probable; 8.53 frequently Triṣṭubh in Indra hymns, though confirmation requires full metrical count)

Sukta 54

Sukta 8.54

Himne untuk Indra ini memuji vīrya (daya kepahlawanan) sang dewa sebagai sesuatu yang dicapai melalui ujaran yang terilhami dan wawasan bercahaya, sebagaimana “para leluhur” dahulu mencapainya. Lalu sang penyair mengubah pujian itu menjadi permohonan yang praktis: semoga Indra terjaga dan berpaling kepada para penyanyi sebagai sahabat dalam sukacita bersama, serta menegakkan bagi mereka kelimpahan yang teguh dan tak berkurang—terutama bagi Praskaṇva.

8 mantras | Devata: Indra

Sukta 55

Sukta 8.55

Himne Kāṇva yang singkat ini kepada Indra merayakan gelora nyata vīrya (daya kepahlawanan) beliau yang “datang mendekat” kepada pemuja, membawa rādhas (anugerah/kelimpahan) bagi pemohon yang berjuang. Melalui enumerasi yang mencolok tentang “ratusan” dan “empat ratus”, pemberian Indra digambarkan sebagai kepenuhan yang meluap—material, kemiliteran, dan vital. Puncaknya ialah citra Indra menegakkan tatanan tujuh-lapis dan menghalau daya-daya gelap penghalang melampaui jalan-jalan, membersihkan lintasan bagi kemasyhuran, penglihatan, dan keberhasilan

5 mantras | Rishi: Kāṇva / Kāṇvāyana (RV 8.55 is in the Kāṇva collection) | Devata: Indra

Chandas: Not securely determinable from excerpt alone

Sukta 56

Sukta 8.56

Himne Kāṇva yang singkat ini terutama memuji Indra sebagai pelindung perkasa “laksana serigala”, yang kedermawanannya luas dan tak berkurang, nyata bagi pencari yang berbakti. Himne ini merayakan kemakmuran yang nyata (ternak, pelayanan, sumber daya) sebagai tanda daya Indra yang meluaskan, lalu ditutup dengan putaran ritual yang bercahaya: Agni terjaga sebagai pembawa persembahan yang mengetahui, membuat sinar Surya memancar—menghubungkan anugerah Indra dengan penyingkapan melalui api kurban.

5 mantras | Rishi: Kāṇva / Kāṇvāyana | Devata: Indra

Chandas: Not securely determinable from excerpt alone

Sukta 57

Sukta 8.57

Himne singkat ini merupakan undangan kepada Aśvin (Nāsatya) agar datang dengan kereta mereka yang perkasa dan meminum Soma dari “perasan ketiga”. Himne ini memuji karya-karya mereka yang mengagumkan di seluruh langit dan bumi, menegaskan bahwa bagian yang telah ditetapkan bagi mereka telah disiapkan, serta memohon agar mereka melindungi dan memakmurkan sang pelaksana yajña melalui daya-daya mereka yang manjur (śacī).

4 mantras | Devata: Aśvins (Nāsatyas)

Sukta 58

Sukta 8.58

Himne singkat ini merupakan penyelidikan reflektif atas yajña itu sendiri: bagaimana beragam tatanan ritual, para imam, dan peran-peran yang berbeda tetap tertuju pada satu maksud kurban yang padu. Ia mengungkap visi kesatuan yang mencolok—satu Agni, satu Surya, satu Fajar—yang menampakkan diri dalam banyak rupa, lalu beralih kepada pemanggilan Aśvin yang terkait dengan peminuman Soma serta citra “kereta” bercahaya sebagai pertolongan yang cepat

3 mantras | Devata: Reflective/ritual inquiry (yajña-centered; not a single devatā explicitly addressed)

Sukta 59

Sukta 8.59

Himne singkat ini menyeru dwitunggal Indra dan Varuṇa sebagai penjaga bersama pemerasan Soma, memohon agar mereka segera datang ke tiap kurban dan menerima bagian persembahan yang menjadi hak mereka. Himne ini mengaitkan kedaulatan kosmis dan daya kemenangan lahiriah keduanya dengan penataan batin sang pelaksana yajña—mendidiknya menuju Ṛta (tatanan/ukuran yang benar) serta menganugerahkan kemakmuran, keturunan, dan umur panjang.

7 mantras | Devata: Indra-Varuṇa

Sukta 60

Sukta 8.60

Kidung ini merupakan seruan kepada Agni sebagai hotṛ pilihan, memohon agar ia datang dan duduk di atas barhis untuk melaksanakan yajña serta mengantarkan persembahan kepada para dewa. Berulang kali dimohonkan perlindungan Agni—terutama dari rakṣas (kekuatan gelap/permusuhan), yātu (sihir), rintangan, kemalangan, dan kelaparan—seraya berdoa memohon kekuatan, pertambahan, dan perolehan yang berhasil (vājas). Secara keseluruhan, Agni digambarkan sebagai imam ritual sekaligus penjaga yang dekat dan dapat diandalkan, yang meneguhkan serta mengamankan jalan sang pelaksana kurban.

19 mantras | Devata: Agni

Chandas: Gāyatrī/Anuṣṭubh-like short meter (uncertain; needs metrical verification)

Sukta 61

Sukta 8.61

Kidung ini merupakan undangan yang langsung dan mendesak agar Indra mendengar seruan sang penyair “dari kedua sisi” dan mendekat untuk meminum Soma, dikuatkan oleh daya-ilham pemikiran (dhī). Kidung ini memuji Indra sebagai pemilik lengan yang perkasa, pemecah rintangan dan penghancur benteng-benteng kokoh (purandara), berulang kali memohon agar Ia datang, menerima persembahan, serta melepaskan kekayaan, perlindungan, dan daya kemenangan. Citra penutup memusatkan kedahsyatan Indra ke dalam vajra yang tertahan mantap, siap meremukkan perlawanan dan menegakkan tatanan yang berjaya.

18 mantras | Devata: Indra

Sukta 62

Sukta 8.62

Himne untuk Indra ini mendorong komunitas para pemeras Soma agar mengajukan pujian yang luhur, sebab Indra berkenan pada stotra dan uktha yang tersusun baik, dan Ia membalas dengan “bhadrā rātayaḥ” (anugerah-anugerah yang mujur). Himne ini merayakan kepahlawanan Indra yang dianugerahkan secara ilahi serta perannya sebagai penjaga atas segala proses menjadi, seraya membandingkan kemakmuran dan “banyak cahaya” yang diberikan kepada para pemersembah Soma dengan akibat yang keras bagi mereka yang mengabaikan ritus Soma

12 mantras | Devata: Indra

Sukta 63

Sukta 8.63

Kidung ini melanjutkan arus pujian kepada Indra dalam Mandala 8, menggambarkan Indra sebagai “pencari” purba yang didekati oleh daya-daya kehendak dan siasat yang terarah (kratu), serta sebagai gerbang ilahi tempat aspirasi manusia dan pikiran yang terilhami memasuki ranah para dewa. Kidung ini mengaitkan pemanggilan bersama (komunitas manusia yang berlipat lima) dengan tindakan ritual membentangkan barhis (alas/dudukan suci), dan berpuncak pada permohonan perlindungan: para Rudra dan semua dewa, dengan Indra di depan, menopang pemuja dalam pergulatan pembunuh Vṛtra—baik pertempuran lahiriah maupun rintangan batin.

12 mantras | Devata: Indra (probable continuation of Indra praise across the sequence; verse uses pronominal style)

Sukta 64

Sukta 8.64

Kidung ini merupakan undangan Soma yang penuh daya kepada Indra, memohon agar nyanyian pujian menyegarkan dan menggembirakan-Nya sehingga Ia menganugerahkan kelimpahan (rādhas) dan menghancurkan kekuatan mereka yang membenci Sabda suci (brahma-dviṣ). Indra digambarkan sebagai banteng muda perkasa yang tak menunduk, sukar didekati kecuali melalui brahman sejati (ucapan ilham), dan berpuncak pada seruan mendesak: “datanglah segera dan minumlah” Soma yang cemerlang demi daya kepahlawanan yang menyala-nyala.

12 mantras | Devata: Indra

Sukta 65

Sukta 8.65

Kidung ini merupakan seruan mendesak ke segala arah kepada Indra, memohon agar ia datang secepatnya sebagai pertolongan segera, kapan pun dan di mana pun ia dipanggil. Kidung ini memuji Indra sebagai satu-satunya yang sungguh “mudah dijangkau”, bahkan di antara kuasa-kuasa yang kekal, serta memohon kekuatan, perlindungan, dan kemasyhuran melalui kedermawanan ilahi. Nada penutup meluas pada pancaran cemerlang Indra (“napātaḥ”), menegaskan pertolongan dan kemasyhuran berlipat seribu di tengah para dewa.

12 mantras | Devata: Indra

Sukta 66

Sukta 8.66

Kidung ini merupakan seruan persembahan Soma yang penuh daya kepada Indra—penemu kekayaan dan penolong dalam pertempuran—yang dipanggil ke yajña melalui nyanyian yang meluas dan niat yang dijernihkan. Kidung ini memuji daya-kuasa Indra yang dinamis, yang “bersukacita dalam berbagai pekerjaan” (vayuneṣu), serta memohon agar ia menerima stoma, maju dengan kecerdasan yang bercahaya, dan menghalau kegelapan yang mengikis, sehingga kekuatan dan kemakmuran dapat bekerja

15 mantras | Devata: Indra

Sukta 67

Sukta 8.67

Himne ini memohon kepada para Āditya—para penegak ṛta (tatanan kosmis) yang bersifat rajawi—agar memberi perlindungan, kemurahan hati, dan keberhasilan dalam mencapai tujuan. Dari seruan pemanggilan, nyanyian beralih kepada permohonan perlindungan yang mendesak saat bahaya, lalu menuju pengusiran menyeluruh atas kebencian, dosa, dan derita penindasan. Dengan demikian, para Āditya digambarkan sebagai penjaga hukum sekaligus penyembuh kekacauan sosial dan batin.

21 mantras | Devata: Ādityas (collective)

Sukta 68

Sukta 8.68

Himne ini memanggil kereta Indra ke upacara yajña, memuji beliau sebagai pelindung ṛta (tatanan benar kosmis) yang paling perkasa, yang menaklukkan segala serangan dan menganugerahkan “sumná” (keutuhan, kesejahteraan). Melalui yajña dan ujaran yang terilhami, sang penyair memohon Indra mengulangi pertolongan purba-Nya—menganugerahkan vāja (kekuatan kemenangan, kelimpahan) serta perlindungan tanpa cela bagi para sekutu-Nya. Nada penutup menegaskan ketaktercelaan karya ilahi: tiada pencela manusiawi yang dapat berhasil menimpakan salah atau cela pada rombongan Indra.

19 mantras | Devata: Indra

Sukta 69

Sukta 8.69

Himne ini berpusat pada Soma sebagai pengilham dan pemberi kekuatan, yang berulang kali dihadirkan melalui lantunan Triṣṭubh serta ditopang oleh Purandhī—daya kelimpahan yang “memenuhi” kurban dan batin dengan pertambahan. Ia bergerak melalui citra penyiapan dan persembahan Soma yang cermat tanpa menumpahkan setetes pun—agar tegukan itu tertahan mantap bagi Indra untuk diminum—seraya menegaskan tatanan ritual yang berdisiplin (barhis yang dirapikan, daya-daya yang ditata tepat) sebagai syarat untuk meraih “kemajuan” yang purba dan asal-mula.

18 mantras | Devata: Soma (with Purandhī as supporting power of abundance/fulfilment)

Chandas: Triṣṭubh (explicitly referenced)

Sukta 70

Sukta 8.70

Himne ini merupakan pujian dan seruan yang penuh daya kepada Indra sebagai penguasa bangsa-bangsa dan jawara yang tak terkalahkan, yang menundukkan setiap pertempuran dan membinasakan Vṛtra. Ia memanggil Indra sebagai kekuatan yang selalu tersedia untuk diseru di tempat dekat maupun jauh—“di kedalaman” dan “di hamparan yang jauh”—demi kemenangan, tenaga, dan kedermawanan pemberian. Bait penutup juga mempertahankan ingatan bergaya patron (Karṇagṛhyā), mengaitkan kemurahan Indra dengan anugerah yang nyata serta kemakmuran ritual

15 mantras | Devata: Indra

Sukta 71

Sukta 8.71

Kidung ini kepada Agni adalah doa perlindungan sekaligus pemanggil kemakmuran: para penyanyi memohon Dewa Api agar dengan kuasa-Nya yang agung menjaga mereka dari kekurangan, dari permusuhan, dan dari kebencian manusia. Agni dipuji sebagai tuan sah atas kekayaan (vasu), yang anugerah-Nya tidak boleh diusir oleh kekuatan yang tidak saleh, serta sebagai pelindung klan yang membawa damai, kesejahteraan, dan tempat tinggal yang aman bagi daya ilham para resi.

15 mantras | Devata: Agni

Sukta 72

Sukta 8.72

Kidung ini merupakan petunjuk liturgis sekaligus pujian yang berpusat pada pelaksanaan Adhvaryu yang tepat—menyiapkan havis, bergerak menurut titah (praśāsana), dan memajukan yajña agar ia “memenangkan” tujuannya. Melalui citra persembahan cair yang hidup (menuang ke dalam bejana yang dalam dan beredar luas), kidung ini mengaitkan tindakan ritual yang presisi dengan sirkulasi kosmis soma/persembahan serta tatanan penopang yajña. Penutupnya mengisyaratkan lapisan yang lebih dalam: “tapak/posisi” (pada) dari daya yang diinginkan dibentangkan mengelilingi langit oleh lidah—menunjukkan bahwa Vāk (ucapan sakral) adalah daya halus yang menyempurnakan ritus.

18 mantras | Devata: Ritual action centered on the Adhvaryu (and implicitly Agni/yajña)

Sukta 73

Sukta 8.73

Sinopsis himne Aśvin ini berulang kali memanggil sepasang tabib ilahi agar bangkit, memasang kuk pada kereta mereka, dan datang mendekat, supaya pertolongan mereka “dekat dan bersemayam” di dalam diri pemuja. Dengan penegasan bak refrein, himne ini memohon penyelamatan yang cepat, penguatan daya, serta pemecahan kegelapan yang menghalangi, seolah-olah menyerbu sebuah benteng. Tujuan keseluruhannya ialah bantuan segera—penyembuhan, perlindungan, dan pemulihan ṛta (tatanan yang benar) dalam hidup dan batin.

18 mantras | Rishi: Atri (probable, as the hymn repeatedly references Atraye; traditional attribution to Atri or Atris in Aśvin hymns) | Devata: Aśvins

Chandas: Gāyatrī (probable: short refrain-like structure; exact meter requires full hymn scan)

Sukta 74

Sukta 8.74

Himne ini terutama memuji Agni sebagai Atithi (Tamu ilahi) dan Jātavedas—api rumah tangga yang bersemayam di dalam, yang disambut dan ditegakkan oleh setiap kaum sebagai pembawa daya, kelimpahan, dan damai yang mujur. Dengan citra yang akrab, seolah dekat di tangan, sang penyair memohon agar Agni menerima pujian yang termanis dan menjadi makin kuat karenanya, sehingga menjamin kemakmuran bagi para pemuja. Bagian penutup juga menyeru sungai besar Paruṣṇī, mengaitkan motif daya dan perlindungan himne ini dengan lanskap nyata kehidupan dan perjalanan Veda.

15 mantras | Devata: Agni (Atithi, Jātavedas)

Sukta 75

Sukta 8.75

Kidung ini memanggil Agni secara khusus dalam aspek Hotṛ (imam kurban): dia yang paling utama dipanggil para dewa, yang mengambil tempat duduknya dalam ritus, dan yang mengantarkan persembahan dengan kemahiran serta wibawa purba. Bersama undangan liturgis itu, penyair memohon perlindungan di tengah permusuhan—agar serangan musuh yang mengepung tidak menghantam para pemuja seperti gelombang menghantam perahu. Sukta ini ditutup dengan kepercayaan bakti seorang anak: pertolongan Agni dikenal “sejak dahulu kala,” laksana sokongan seorang ayah, dan anugerahnya yang ramah (sumná) kembali dimohon.

16 mantras | Devata: Agni (as Hotṛ).

Chandas: Likely Anuṣṭubh (requires verification).

Sukta 76

Sukta 8.76

Kidung ini menyeru Indra “bersama para Marut” sebagai penguasa daya yang tak terkalahkan, memohon agar Ia datang ke kurban, meminum Soma, serta menjamin kemenangan dan pertambahan bagi para pemuja. Di samping seruan yang bernuansa perang dan ritual, kidung ini juga memuat nada reflektif tentang ujaran terilham (Vāc) yang bangkit melalui Indra, mengaitkan penaklukan lahiriah dengan pembentukan batiniah melalui ṛta (tatanan–kebenaran).

11 mantras | Devata: Indra (with Maruts)

Sukta 77

Sukta 8.77

Kidung ini memuji Indra sejak kelahirannya sebagai pahlawan penentu yang berdaya banyak, yang mencari sekutu yang layak dan segera berpaling kepada pertempuran serta anugerah kelimpahan. Kidung ini mengingatkan bagaimana ia membelah dan membuka pegunungan untuk melepaskan pangan penopang dan kekayaan, serta memuliakan senjata dan lengan yang ditempa dengan sempurna sebagai sarana tatanan yang menang. Tujuannya ialah memanggil Indra agar mendengar dan menolong—memberi kekuatan, perlindungan, dan kelimpahan—bagi pelaksana yajña dan komunitas.

11 mantras | Devata: Indra

Sukta 78

Sukta 8.78

Kidung ini kepada Indra memohon sang dewa kekuatan kemenangan agar menganugerahkan sukacita Soma yang melimpah, kekayaan, serta “kawanan” cahaya yang menopang hidup dan wawasan batin. Indra dipuji sebagai yang tak pernah gagal dan tak dapat diperdaya—yang melihat lebih dahulu dan menahan amarah manusia serta niat bermusuhan. Sukta ini berpuncak pada tindakan kepercayaan yang intim: bahkan sabit pun diletakkan ke dalam tangan Indra, memohon agar ia memenuhi panen, baik yang baru dipetik maupun yang tersimpan.

10 mantras | Devata: Indra

Sukta 79

Sukta 8.79

Himne ini memuji Soma sebagai daya yang tak terkalahkan, pemenang segala, yang membukakan apa yang tertutup dan membuat penyair–resi bercahaya melalui penglihatan ilham. Soma ditampilkan sebagai pemenuh tujuan yang sejati—menuntun para pencari kepada anugerah sang pemberi dan mengubah dahaga yang gelisah menjadi kepuasan. Himne ini berpuncak pada permohonan bernuansa kerajaan kepada Soma, yang bertakhta di antara para dewa, agar memandang ke bawah pada pikiran yang bengkok dan mengusir kekuatan yang memusuhi serta segala yang menghalangi

9 mantras | Devata: Soma

Sukta 80

Sukta 8.80

Kidung ini merupakan seruan mendesak kepada Indra, sang perkasa tiada banding dan penyembuh yang mampu “membetulkan kembali” apa yang telah rusak. Kidung ini memohon agar Indra menganugerahkan belas kasih, kemenangan, dan kesejahteraan; agar Ia datang dengan kereta yang membawa kelimpahan, menyingkirkan rintangan, dan menjadikan para pemuja sebagai para penakluk. Bait penutup memperluas pandangan: para abadi dan para dewi bekerja sama menambah cahaya ilahi, menyiapkan “rādhas” (anugerah/kemuliaan) yang dipuji, serta kedatangan cepat kekayaan yang terilhami, datang secepat fajar.

10 mantras | Devata: Indra

Sukta 81

Sukta 8.81

Kidung sembilan bait ini merupakan pujian undangan yang langsung kepada Indra, memohon agar Ia mendekat dan “menggenggam/meraih” bagi para pemuja suatu bagian yang nyata dan melimpah berupa daya, kekayaan, dan kekuatan kemenangan. Kidung ini menekankan kemanjuran tindakan tangan kanan (dakṣiṇā), nyanyian sāman yang didesakkan agar Indra mendengarnya, serta kedatangan cepat vāja-vāja Indra yang bercahaya (kelimpahan) untuk mematangkan pertumbuhan dan keberhasilan.

9 mantras | Devata: Indra

Sukta 82

Sukta 8.82

Kidung untuk Indra ini merupakan undangan yang cepat bagi Vṛtrahan agar datang dari dekat maupun jauh dan menerima persembahan Soma yang manis, disiapkan untuk membangkitkan kegembiraan-Nya. Kidung ini memuliakan pemerasan Soma, sukacita serta kekuatan Indra, dan mengingatkan mitos Soma yang dibawa oleh śyena (rajawali), sambil mendesak Indra untuk meminumnya sebagai penguasa daya-kuasa Soma itu.

9 mantras | Devata: Indra

Sukta 83

Sukta 8.83

Himne ini memanggil para Dewa secara kolektif—terutama para Āditya yang berdaulat (Varuṇa, Mitra, Aryaman)—sebagai pertolongan (avaḥ) yang luas dan melindungi, yang dipilih oleh pemuja demi kekuatan batin dan lahir. Himne ini memuji kesadaran mereka yang waspada, pemerintahan moral mereka, serta kuasa mereka untuk menolak kejahatan, dan berpuncak pada sapaan kepada rombongan ilahi yang dermawan, dipimpin oleh Indra.

9 mantras | Devata: Devas / Ādityas (collective divine powers; opening of a hymn that soon names Varuṇa, Mitra, Aryaman)

Sukta 84

Sukta 8.84

Kidung ini memuji Agni sebagai “Tamu” yang paling dicintai dalam yajña—laksana sahabat yang akrab dan mudah didekati, serta pengangkut yang efektif (bagaikan kereta) bagi maksud dan niat ritus. Kidung ini juga berbalik ke dalam dengan pertanyaan reflektif tentang persembahan batin yang tepat dan sapaan yang benar dalam pemujaan, lalu ditutup dengan perlindungan Agni yang menganugerahkan kesejahteraan yang aman dan mantap (kṣema) serta pertumbuhan daya kepahlawanan (suvīrya). Secara keseluruhan, ini adalah invokasi ringkas untuk yajña yang benar, sikap yang benar, dan kemakmuran yang terlindungi melalui penjagaan Agni.

9 mantras | Devata: Agni

Sukta 85

Sukta 8.85

Himne Aśvin yang singkat ini berulang kali mengundang para Nāsatya agar segera datang memenuhi panggilan sang penyair dan meminum Soma yang manis laksana madu. Ia memohon agar Dwi-Ilahi itu membawa perlindungan yang teguh (chardiḥ), menguatkan ujaran ilham sang penyanyi, dan menjadikan upacara berbuah melalui kedatangan mereka yang tepat waktu serta pertolongan mereka.

9 mantras | Devata: Aśvins (Nāsatyas)

Sukta 86

Sukta 8.86

Himne Jagatī yang singkat ini menyeru Aśvin kembar sebagai tabib ajaib dan pembawa sukacita, memohon agar mereka “membentuk makhluk yang berjasad” (tanūkṛ-) serta menjaga ikatan persahabatan tetap tak terputus. Dalam permohonan-permohonan berulang dengan refrein, resi Viśvaka mengenang anugerah Aśvin dan membingkai pertolongan mereka sebagai perlindungan atas keutuhan daya hidup, kemakmuran, dan persahabatan yang teguh di bawah Ṛta (tatanan kosmis).

5 mantras | Rishi: Viśvaka | Devata: Aśvinau (Dasrā, Bhiṣajā, Mayobhūvā)

Chandas: Jagatī (12-syllable cadence typical for longer pādas; refrain-like closing)

Sukta 87

Sukta 8.87

Himne Aśvin yang singkat ini mengundang sepasang tabib ilahi agar segera datang ke pemerasan Soma, sebagai pujian bercahaya yang “memercikkan” dan memanggil mereka. Himne ini memohon agar mereka duduk di barhis, meminum Soma semanis madu, serta menganugerahkan kekuatan, keberhasilan dalam meraih harta/tenaga (vājasāti), dan kesediaan mendengar dengan tanggap terhadap seruan ilham para penyair.

6 mantras | Rishi: Priyamedha (as indicated by Priyameḍhāḥ in 8.87.3; hymn attribution likely to the Priyamedhas) | Devata: Aśvins

Sukta 88

Sukta 8.88

Kidung Indra yang singkat ini memuji sang pejuang penghasil keajaiban, yang bersukacita dalam Soma, yang melampaui semua makhluk yang lahir oleh kehendak, kekuatan, dan perbuatan yang berdaya guna. Para penyair (Gautama) mendesak mendekat kepada-Nya dengan ujaran, laksana sapi menuju anaknya, memohon agar Ia terjaga oleh nyanyian mereka dan menganugerahkan kemurahan tanpa batas, perlindungan, serta kemenangan dalam perolehan kuasa.

6 mantras | Devata: Indra

Sukta 89

Sukta 8.89

Himne singkat ini memanggil para Marut untuk melantunkan pujian “bṛhat” (luas, agung) yang membangunkan Indra, pembunuh Vṛtra, agar ia melepaskan cahaya, air, dan ranah bercahaya yang lapang (svaḥ). Sepanjang bait-baitnya Indra didorong maju dengan berani, membelah kekuatan penghalang, dan menggerakkan tatanan kosmis—matahari, air, serta daya-daya penguat kebenaran bergerak bersama. Tujuannya sekaligus ritual (menguatkan Indra demi kemenangan dan hujan) dan batiniah (membangunkan daya ilahi yang memecah kelembaman dan menghadirkan kejernihan).

7 mantras | Rishi: Gautama (Gautama family context continues into 8.89 in many traditions; exact assignment should be confirmed in Anukramaṇī) | Devata: Indra with Maruts (Indra-Maruṭ association; primary addressed: Indra; Maruts as invoked singers/allies)

Chandas: Trishtubh (probable; verify in critical edition)

Sukta 90

Sukta 8.90

Himne enam bait ini memanggil Indra agar hadir “dalam segala pertempuran”, mendekat kepada mantra para penyair dan pemerasan Soma, serta menghancurkan kuasa-kuasa penghalang (vṛtra) yang menghambat kemenangan dan kemakmuran. Indra dipuji sebagai yang benar, tak tergoyahkan, dan bersenjata petir; dimohon agar mendatangkan kekayaan mendekat dan meluaskan perlindungan-Nya laksana selubung yang lebar. Himne ini berpuncak pada pencarian Indra sebagai Asura yang berpandangan jauh (kuasa ketuanan), yang rahmat-Nya (sumná) dan naungan-Nya hendak dicapai.

6 mantras | Devata: Indra

Sukta 91

Sukta 8.91

Himne singkat ini menampilkan Soma sebagai harta yang ditemukan dan dibawa, diperas khusus untuk Indra—kekuatan pemenang—yang meminum persembahan dan menganugerahkan daya. Nyanyian bergerak dari citra mitis yang hidup tentang penemuan Soma menuju suasana seruan penuh harap—“barangkali” Indra akan bertindak demi kebaikan kita—dan berpuncak pada episode Apālā, ketika daya pemurni Indra memperbarui dan menerangi.

7 mantras | Devata: Soma (primary in narrative) oriented to Indra as recipient; effectively an Indra-Soma setting

Sukta 92

Sukta 8.92

Kidung bagi Indra ini merupakan stotra yang berkesinambungan, mendesak para penyanyi untuk memuji dan “mendorong maju” Indra melalui Soma, agar daya kemenangan-Nya sebagai pembunuh Vṛtra (vṛtrahan) menjadi aktif di tengah para pemuja. Kidung ini merayakan Indra sebagai penakluk dunia dan yang paling dermawan bagi bangsa-bangsa, serta berulang kali memohon agar kedahsyatan yang membangkitkan semangat dan ekstase pemberi-kekuatan-Nya memasuki komunitas

33 mantras | Devata: Indra

Sukta 93

Sukta 8.93

Himne ini merupakan seruan menjelang fajar, memuji Sūrya sebagai daya yang terbit dan menang, yang “membawa melampaui”, sementara pujian itu sekaligus memakai bahasa yang kuat bernuansa Indra tentang penaklukan, perlindungan, dan penganugerahan karunia. Himne ini memohon kebangkitan, kekuatan, dan kemakmuran—terutama penaklukan rintangan (belenggu mirip Vṛtra), vitalitas yang melimpah, serta daya kemenangan (vāja) bagi para pemuja

33 mantras | Devata: Sūrya (with strong Indraic epithets in the praise)

Sukta 94

Sukta 8.94

Kidung ini menyeru rombongan Marut sebagai daya-daya bercahaya dan melesat garang, yang menerobos rintangan dan bergerak laksana air yang mengalir deras, membawa kekuatan, kejernihan, dan dorongan kemenangan. Kidung ini mengaitkan energi badai kosmis mereka dengan ritus Soma, memanggil mereka—yang bersemayam di pegunungan dan perkasa—untuk menikmati Soma yang telah diperas serta mendorong kenaikan dan kemasyhuran sang pelaksana kurban.

12 mantras | Devata: Marut (Maruts), with allied deities implied (bountiful powers)

Sukta 95

Sukta 8.95

Kidung ini merupakan pemanggilan Indra yang berpusat pada persembahan Soma: perasan-perasan yang terang dan jernih dikatakan mengalir menuju Indra, dan ia didorong untuk meminum sari yang telah disiapkan serta memasuki karya-karya yajña sang penyaji. Melalui pujian (giraḥ, ukthāni) para penyair “meningkatkan” Indra, memohon agar memperoleh banyak dayanya—kekayaan, kemenangan, dan daya (vāja) yang menaklukkan rintangan bak Vṛtra. Penekanan yang menyerupai refrein pada “kemurnian” (śuddha) Indra menampilkan dia sebagai kekuatan yang dimurnikan dan menjernihkan, penganugerahi harta serta penghancur segala penghalang.

8 mantras | Devata: Indra

Sukta 96

Sukta 8.96

Himne ini memuji Indra sebagai daya yang memungkinkan “penyeberangan” yang aman—dari malam menuju fajar, dari rintangan menuju jalan terbuka—dengan dukungan Uṣas (Fajar) serta Air/Sungai yang menyehatkan (Āpas/Sindhus). Himne ini memohon agar Indra mengusung Sabda yang terilham (uktha) dan mendorong pemahaman sang pencari laksana perahu menuju tepi seberang yang jauh, berpuncak pada pertolongan Indra yang cekatan, cepat menampakkan diri—Indra sang pembunuh Vr̥tra.

21 mantras | Devata: Indra (with supporting powers: Uṣas, Āpas/Sindhus)

Chandas: Trishtubh (probable)

Sukta 97

Sukta 8.97

Kidung ini mengundang Indra datang kepada Soma yang telah diperas, menerima tegukan manisnya, dan meluaskan daya bagi penyanyi serta para pelaksana yajña yang dipersiapkan dengan baik. Kidung ini mengingatkan kuasa Indra untuk merebut harta bercahaya dari “dunia-surya” dari kekuatan Asura yang memusuhi, memohon perlindungan melalui ṛta (tatanan-kebenaran), dan berdoa agar dibawa melampaui duritā (kesukaran/kesesatan) menuju kemakmuran berlimpah yang membawa manfaat bagi semua secara universal.

15 mantras | Devata: Indra

Sukta 98

Sukta 8.98

Himne Indra yang ringkas ini merupakan seruan untuk melantunkan Sāman bagi Indra, sang resi yang agung, dipuji sebagai penegak dharma dan pemberi kekuatan kemenangan. Para penyair “menggerakkan” cita-cita besar mereka menuju-Nya bagaikan air yang menggelora, dan menutupnya dengan permohonan akan suvīrya—kepahlawanan dan daya yang luhur serta efektif, demi tindakan yang benar.

12 mantras | Devata: Indra

Chandas: Likely Anuṣṭubh or a short meter (verse is compact; confirm by scan)

Sukta 99

Sukta 8.99

Himne untuk Indra ini merupakan undangan yang mendesak agar Sang pemegang Vajra mendengar para penyanyi pujian dan segera datang memenuhi panggilan mereka, sebagaimana dahulu Ia telah dikuatkan oleh sanjungan. Himne ini memuliakan Indra sebagai penakluk semesta, yang mematahkan perlawanan musuh dan ujaran palsu, menganugerahkan pertolongan berulang-ulang serta hasil yang benar kepada pemuja yang berjuang dengan tekun.

8 mantras | Devata: Indra

Sukta 100

Sukta 8.100

Kidung ini memuliakan Indra sebagai pemenang yang menentukan, yang memecahkan penghalang (Vṛtra) dan membebaskan sungai-sungai pemberi hidup; sementara Viśve Devāḥ serta sekutu seperti Viṣṇu dan Dyauḥ dipanggil untuk meluaskan ruang kosmis bagi halilintar-Nya. Sang penyair mendekat dengan rasa bahwa ia dituntun dan ditopang para dewa, memohon Indra untuk “menetapkan bagian” (bhāga) agar tindakan kepahlawanan dan kemakmuran dapat terlaksana. Dengan demikian, sukta ini memadukan pemberdayaan pribadi, seruan kebersamaan, dan mitos arketipal pembunuhan Vṛtra menjadi satu gerak ritual dan psikologis: dari keterkungkungan menuju pelepasan.

12 mantras | Devata: Indra (with Viśve Devāḥ as supporting powers)

Sukta 101

Sukta 8.101

Kidung ini terutama memuja Mitra dan Varuṇa sebagai sepasang penjaga ṛta (tatanan kosmis), memohon agar keduanya ditempatkan “di depan” sebagai pelindung supaya yajña dan pelaksana yajña beroleh kemakmuran. Di sepanjangnya, kidung ini menyinggung daya-daya kurban yang bersekutu (terutama Vāyu dan aliran Soma yang telah dijernihkan), lalu berpuncak pada penghormatan yang kuat kepada Vāc sebagai Sapi ilahi—ucapan/wawasan yang tidak boleh disakiti atau dihalau pergi. Secara keseluruhan, kidung ini merajut tatanan sosial-etis, ketepatan ritual, dan ujaran yang terilhami menjadi satu visi tentang perlindungan dan keberlimpahan

16 mantras | Rishi: Kāṇva tradition (probable for RV 8.101) | Devata: Mitra-Varuṇa

Chandas: Triṣṭubh (probable; verification needed)

Sukta 102

Sukta 8.102

Kidung ini kepada Agni memuji beliau sebagai “tuan rumah” yang muda namun bijaksana, yang menganugerahkan kepada pelaksana yajña daya hidup yang luas, perlindungan, dan tuntunan yang benar. Agni diseru sebagai kekuatan yang perkasa dan menang—laksana kuda penakluk—serta sebagai pengatur laksana Mitra yang menghalau permusuhan dan kekacauan. Sukta ini berpuncak pada tindakan penyalaan batin: insan fana menyalakan Agni dengan budi dan pikiran yang terjaga, menyelaraskan diri dengan tatanan yang bercahaya.

22 mantras | Devata: Agni

Sukta 103

Sukta 8.103

Himne ini memuji Agni sebagai “penemu jalan” (gātuvittama) yang tertinggi, dia yang di dalamnya ketetapan-ketetapan ṛta ditegakkan, dan melalui dirinya ucapan sang pelaku yajña mencapai para dewa. Himne ini memanggil para penyanyi untuk mendekati Agni dengan pujian yang tersusun indah, menggambarkannya sebagai luas, berlidah api terang, dermawan, dan bersekutu dengan para Marut/Rudra. Sukta ini berpuncak pada undangan yang tegas agar Agni datang untuk minum Soma, bersukacita dalam pujian para Sobharyā, dan menguatkan pertumbuhan mulia yang tertata menurut tatanan benar.

14 mantras | Devata: Agni

Deities of Mandala 8

  • Indra

    Notable hymns: RV 8.2, RV 8.48 and RV 8.69

    In 55 hymns

  • Agni

    Notable hymns: RV 8.44, RV 8.60 and RV 8.71

    In 12 hymns

  • Maruts

    Notable hymns: RV 8.7, RV 8.20 and RV 8.94

    In 10 hymns

  • SomaPavamāna/Soma praise outside Mandala 9

    Notable hymns: RV 8.48, RV 8.79 and RV 8.83

    In 8 hymns

  • Mitra-Varuna / AdityasMitra-Varuṇa / Ādityas

    Notable hymns: RV 8.25, RV 8.41 and RV 8.42

    In 4 hymns

Inside Mandala 8

Principal rishis

  • Kāṇva (Kāṇva lineage)Indra-Soma invitations and victory/wealth hymns; noted for Pragātha-style compositions and energetic praise-poetry 60 hymns, famous hymns RV 8.2, RV 8.48, RV 8.69.
  • Aṅgiras (Aṅgiras lineage)Ritual-centered praise of Indra, Agni, and allied deities; strong sacrificial and priestly orientation 25 hymns, famous hymns RV 8.1, RV 8.19, RV 8.44.
  • Vālakhilya seers (appendix tradition)Short, concentrated hymns transmitted as an appendix; preserves a distinct micro-collection within Mandala 8 18 hymns, famous hymns RV 8.49, RV 8.50, RV 8.51.

What sets it apart

  • Early-layer mandala closely linked to the Kāṇva and Aṅgiras families
  • Strong emphasis on Indra’s invitation to Soma-pressings and victory/wealth boons (fearless abundance)
  • Notable use of Pragātha-type metrical/structural patterns suited to ritual performance
  • Contains/associated with the Vālakhilya appendix, indicating layered compilation and preservation

Language and style

  • Predominantly archaic diction with compact, formulaic praise-invocations typical of early hymn layers
  • Frequent imperative and vocative address (especially to Indra) aligned with Soma-ritual performance
  • High density of epithets and stock collocations for Indra, Soma, and the Maruts
  • Pragātha-style pairing/structure that supports antiphonal or responsorial recitation patterns

Frequently Asked Questions

It is strongly tied to the Kāṇva and Aṅgiras families, shows frequent Pragātha-style composition, and is associated with the Vālakhilya appendix—together indicating both performative metrical habits and layered compilation.

Indra dominates, most often addressed in the context of the Soma-pressing: the hymns invite him to drink Soma and to grant fearless abundance, cattle, and victory to the patrons and priests.

It points to an accretive transmission history: a compact set of short hymns circulated as a recognizable sub-collection and was preserved alongside Mandala 8 material, reflecting how Rigvedic books could grow through curated additions.

Read Rig Veda in the Vedapath app

Scan the QR code to open this directly in the app, with word-by-word meanings, Sanskrit recitation where available, and more.

Download on the App StoreGet it on Google Play

Continue reading in the Vedapath app

Open in App
Download on the App StoreGet it on Google Play