
मण्डल 7
The Family Book of Vasishtha
Mandala 7 Rigveda adalah “kitab keluarga” agung milik garis Vasiṣṭha, menampilkan suara kependetaan yang terjalin rapat, yang meneguhkan ritus soma melalui ujaran terilham (brahman), perlindungan, dan solidaritas komunal. Mandala ini termasyhur karena ingatan historis tentang Pertempuran Sepuluh Raja (Dāśarājña), ketika kewibawaan ritual Vasiṣṭha dan daya perang Indra teranyam dengan nasib suku-suku dan para raja. Sepanjang tiga pengelompokan anuvāka, kitab ini berulang kali mengobarkan kurban dengan mengundang Indra, para Marut sebagai...
Sukta 7.1
RV 7.1 membuka “buku” Vasiṣṭha dengan “melahirkan Agni” dari araṇi (kayu penggesek api) dan menobatkannya sebagai gṛhapati (tuan rumah) serta perantara imam bagi kurban. Himne ini bergerak dari penyalaan Agni yang nyata dan sinarnya yang tampak dari jauh menuju permohonan perlindungan dari rākṣasa dan kekuatan-kekuatan yang memusuhi, lalu ditutup dengan permintaan agar Agni mengangkat brahman (ucapan suci) sang penyair dan menjamin kesejahteraan dalam memberi maupun menerima.
Sukta 7.2
Kidung ini dari Vasiṣṭha menyalakan Agni sebagai imam bercahaya dari yajña, memohon agar ia menerima kayu bakar persembahan, menyala menjulang ke atas, dan meluas selaras dengan sinar-sinar Sūrya. Hymne ini merajut seluruh tatanan yajña—Fajar dan Malam sebagai daya penopang, alas suci (barhis), perlindungan Aditi, serta kedatangan Indra dan para dewa—agar persembahan menghadirkan suvitā (lintasan yang baik), kelimpahan, dan sukacita ilahi.
Sukta 7.3
Himne karya Vasiṣṭha ini menyeru Agni sebagai utusan (dūta) yang paling layak serta kekuatan kependetaan, yang teguh bersemayam di tengah manusia namun mengemban ṛta—tatanan Kebenaran. Agni dipuji dalam kemilau cemerlangnya yang bagai surya dan menggelegar bagai guntur, dan dimohon untuk menyalakan kemakmuran, kecerdasan jernih (su-cetas/kratu), serta kesejahteraan yang lestari bagi para penyanyi pujian dan komunitas mereka.
Sukta 7.4
Himne Vasiṣṭha ini menyalakan Agni sebagai api terang di dalam dan di luar, memohon para pelaku yajña membawa kepada-Nya baik persembahan (havya) maupun niat yang telah dimurnikan (mati). Agni dipuji sebagai Sang Pengetahu, yang bergerak menembus segala kelahiran—ilahiah dan manusia—menganugerahkan keabadian, kekayaan, dan daya kepahlawanan bila didekati dengan kekuatan serta pengertian yang benar. Himne ini ditutup dengan doa bagi kesejahteraan yang lestari (svasti) dan berkat bagi penyanyi serta semua yang memuji.
Sukta 7.5
Kidung ini menyeru Agni sebagai Vaiśvānara—api semesta yang bergerak di antara Langit dan Bumi serta bertumbuh oleh kewaspadaan para pemuja yang telah terjaga. Ia memuji-Nya sebagai tuan atas bangsa-bangsa dan tanda bercahaya dari fajar dan siang, lalu memohon anugerah kekayaan berlimpah, kekuatan termasyhur (vāja), dan perlindungan yang luas, selaras dengan para Rudra dan para Vasu.
Sukta 7.6
Himne ini memuji Agni sebagai “kuasa asura” yang berdaulat (daya rohani kepenguasaan), yang dinyalakan dalam kayu suci dan menampakkan diri sebagai pengilham serta pelindung umat. Agni dirayakan karena membalikkan makhluk-makhluk dari kegelapan yang mengarah ke barat menuju timur cahaya, menundukkan musuh batin maupun lahir, dan membagikan kekayaan dari kedalaman kosmos kepada langit dan bumi.
Sukta 7.7
Dalam kidung Triṣṭubh yang singkat ini, Vasiṣṭha menyalakan dan memuji Agni sebagai kuda ilahi yang perkasa serta utusan yang mengetahui, yang mengantarkan persembahan kurban kepada para dewa. Agni ditegakkan di kediaman manusia sebagai viśpati (tuan para klan), bertutur manis dan setia kepada Ṛta, dan dimohon menganugerahkan pemeliharaan, dorongan, serta kesejahteraan yang lestari kepada para penyanyi dan para pelindung.
Sukta 7.8
Kidung Vasiṣṭha ini menyalakan Agni sebagai kehadiran yang rajawi dan mulia, yang berdiri di hadapan Fajar-fajar dan menerima persembahan yang disiram ghee dengan pujian penuh hormat. Kidung ini mengingatkan kembali pancaran Agni yang luas laksana matahari serta pertolongan pelindungnya bagi Bharata dan Pūru dalam pertikaian, lalu ditutup dengan doa langsung memohon pemeliharaan, dorongan/semangat, dan kesejahteraan yang lestari bagi para penyanyi dan para dermawan.
Sukta 7.9
Kidung ini kepada Agni (Jātavedas) memuliakan imam-api yang terjaga saat fajar, digambarkan sebagai kekasih yang bangkit dari pangkuan Uṣas, lalu menjalankan tugas perantaranya antara manusia dan para dewa. Kidung ini memohon agar Agni meluruskan “keberadaan yang dua-lapis” (hidup batin dan hidup lahir), menegakkan persembahan di tengah para dewa, serta menganugerahkan kekayaan, kekuatan, dan kesejahteraan yang lestari kepada orang yang saleh.
Sukta 7.10
Himne singkat kepada Agni ini menggambarkan api yang terang laksana fajar—memancarkan sinar luas, berkilat, dan membangunkan ilham pikiran seperti kekasih Uṣas. Vasiṣṭha menampilkan Agni sebagai yang elok, bergerak dengan tepat, pengangkut persembahan, serta penuntun manusia yang mendatangkan kekayaan dan kehadiran ilahi melalui malam-malam kurban.
Sukta 7.11
Kidung lima bait ini memanggil Agni sebagai Hotṛ yang paling utama, yang membuat kurban menjadi dapat dipahami dan berdaya guna; tanpa Dia, bahkan para abadi pun tidak mencapai kegembiraan mereka. Agni dimohon datang bersama Viśve Devāḥ, melaksanakan persembahan “dengan cara manusia,” menjadi utusan dan pelindung dari ujaran yang memusuhi, dan pada akhirnya menegakkan ritus di antara para dewa di surga demi kesejahteraan yang lestari.
Sukta 7.12
Kidung singkat karya Vasiṣṭha ini mendekati Agni dengan “rasa hormat yang besar”, memuji beliau sebagai nyala muda yang bersinar ketika dinyalakan di kediamannya sendiri dan yang cahayanya meresapi kedua dunia. Agni diseru sebagai Jātavedas, sang mengetahui segala kelahiran, untuk menaklukkan semua kesukaran serta menjaga para pemuja dari kesusahan dan cela moral. Dalam penegasan puncak, Agni dipuji sebagai perwujudan fungsi Mitra dan Varuṇa, dan dimohon menganugerahkan harta, keberhasilan pencapaian, serta kesejahteraan yang lestari
Sukta 7.13
Himne singkat tiga bait karya Vasiṣṭha ini menyeru Agni dalam wujud Vaiśvānara, api yang menyucikan segalanya, memenuhi dunia, menghancurkan kekuatan yang memusuhi dan menyingkirkan rintangan. Himne ini memuji kelahiran Agni sebagai peristiwa kosmis yang memenuhi kedua alam dan membebaskan para dewa dari penindasan. Puncaknya adalah doa agar Agni menyingkapkan “jalan” bagi brahman (sabda suci/aspirasi) dan agar kuasa-kuasa ilahi melindungi para pemuja dengan kesejahteraan yang lestari.
Sukta 7.14
Himne singkat karya Vasiṣṭha ini merupakan invokasi Agni yang padat untuk kurban: para penyair menyalakan Jātavedas dengan samidh (kayu bakar persembahan), pujian, dan persembahan, memohon agar ia menerima seruan vaṣaṭ dan menghadirkan para dewa. Himne ini menegaskan jati diri sang pelaksana yajña sebagai pemberi yang penuh hormat (dāśat), dan ditutup dengan permohonan akan svasti yang lestari (kesejahteraan/perlindungan) melalui perantaraan Agni.
Sukta 7.15
Kidung ini karya Vasiṣṭha memanggil Agni sebagai sekutu ilahi yang paling dekat dan paling akrab—hadir dalam yajña dan di dalam rumah tangga—ke dalam “mulut”-Nya persembahan dituangkan. Kidung ini memohon agar Agni bersinar menembus malam dan fajar, menjadikan para pemuja penyala api yang sejati, serta melindungi mereka dari dosa, himpitan yang menyesakkan, dan niat permusuhan, baik siang maupun malam.
Sukta 7.16
RV 7.16 adalah kidung Vasiṣṭha yang memanggil Agni sebagai penuntun yajña yang terkasih dan paling arif—“utusan bagi semua”—yang membawa persembahan kepada para dewa dan menegakkan keteraturan dalam ritus. Kidung ini memuji Agni sebagai Hotṛ/Vahni, yang dibentuk oleh para dewa untuk menerangi adhvara, serta memohon agar ia mendudukkan para resi dan para pelindung dermawan dalam keberuntungan, menganugerahkan harta, kekuatan kepahlawanan (suvīrya), dan kepemimpinan yang benar di antara bangsa-bangsa
Sukta 7.17
Himne Agni yang singkat ini mengundang api untuk dinyalakan dengan sempurna dengan bahan bakar yang baik dan barhis yang terbentang rapi, agar kurban menjadi lapang dan layak bagi para dewa. Agni sebagai Jātavedas dipuji sebagai yang menata ritus, mendatangkan para abadi, dan menambah daya mereka melalui persembahan yang benar, lalu ditutup dengan doa agar “harta-benda” (ratna) dibagikan kepada para pemuja.
Sukta 7.18
Kidung bagi Indra ini, yang diatribusikan kepada Vasiṣṭha, memuliakan Indra sebagai perlindungan leluhur kaum Bharata—pemberi sapi, kuda, dan kemenangan—serta mengenang pertolongan-Nya yang menentukan dalam pertikaian antarsuku. Kidung ini memuji persahabatan Indra dengan para resi yang terilhami, dan menuturkan bagaimana para lawan dijatuhkan, sedangkan mereka yang memilih persekutuan dengan Indra memperoleh “hari-hari yang terang”, kemakmuran, dan kepemimpinan yang aman serta teguh.
Sukta 7.19
Himne Triṣṭubh karya Vasiṣṭha ini menyeru Indra sebagai banteng yang dahsyat, bertanduk tajam, yang menata bangsa-bangsa dan kekuatan-kekuatan agar bergerak pada arah yang benar serta menuntun sang pelaku yajña menuju lintasan yang lebih terang. Himne ini mengaitkan anugerah dan kemenangan Indra yang purba dengan kemakmuran raja pemberi persembahan (Sudās), dengan menambatkan kuda-kuda kuning keemasan Indra melalui mantra dan persembahan untuk meraih vāja (kelimpahan, kekuatan). Penutupnya berupa permohonan langsung akan perlindungan yang berkelanjutan, kedudukan yang mantap, dan kesejahteraan melalui pertolongan Indra, “didorong oleh brahman” (sabda-kebenaran).
Sukta 7.20
Sinopsis himne Indra karya Vasiṣṭha ini memuji dewa yang garang dan muda, yang menata air-air dan menuntaskan karya-karya yang bermanfaat bagi manusia, menyelamatkan para pemuja bahkan dari kesalahan besar dan kebingungan. Himne ini mengajarkan bahwa pelayanan penuh hormat dan kurban bagi Indra meneguhkan diri dan batin, menuntun pada kemakmuran yang menetap, berakar pada ṛta (tatanan kosmis). Himne ditutup dengan doa memohon ilham yang berpusat pada Indra (iṣ) serta kesejahteraan yang lestari bagi sang penyair dan para dermawan pelindung yang menguatkan ritus.
Sukta 7.21
Kidung Vasiṣṭha ini memanggil Indra pada saat pemerasan soma, mendesak beliau untuk “terjaga” menyambut yajña dan pujian sang penyair dalam kegembiraan yang dibangkitkan soma. Himne ini merayakan keluasan dan daya perkasa Indra yang tak tertandingi—terutama pembunuhan Vṛtra—serta mengubah kemenangan kosmis itu menjadi doa yang nyata bagi kekuatan, kemakmuran, dan perlindungan yang berkesinambungan bagi para pemuja.
Sukta 7.22
Kidung ini adalah undangan Soma dari Vasiṣṭha kepada Indra: Soma yang telah diperas didesak untuk diminum, agar daya dan sukacita Indra yang meluas terbangun demi kemenangan dan perlindungan. Sang penyair memuji penguasaan Indra yang cepat dan berwibawa, menegaskan ingatan yang terus-menerus akan nama-Nya, serta memohon persahabatan yang sama penuh kemurahan yang Indra anugerahkan kepada para resi dahulu maupun sekarang. Kidung ini ditutup dengan harapan perlindungan bagi kesejahteraan yang lestari (svasti), seraya memperluas permohonan kepada kekuatan-kekuatan ilahi sekutu yang menjaga sang pemuja.
Sukta 7.23
Dalam himne Triṣṭubh enam bait ini, Vasiṣṭha (juga berbicara atas nama klan Vasiṣṭha) mengangkat doa-doa pertempuran yang membawa kemenangan kepada Indra, memohon agar Ia mendengar, datang segera, serta menganugerahkan kekuatan, kemasyhuran, dan perlindungan. Himne ini mengaitkan pujian yang terilhami secara benar dengan ṛta (kebenaran/tatanan kosmis), menggambarkan Indra sebagai daya yang meluas, yang membagikan vāja (daya kemenangan, kelimpahan) kepada mereka yang mendekat dengan dhī (pikiran tercerahkan). Penutupnya berupa berkat singkat: semoga Indra menegakkan kemakmuran yang kaya para pahlawan dan kaya ternak, dan semoga para penjaga ilahi memelihara para pemuja dalam kesejahteraan yang lestari.
Sukta 7.24
Himne Indra yang singkat ini mengundang Sang Tuan yang kerap diseru untuk datang ke tempat duduk yang telah disiapkan dalam ritus, memohon agar ia hadir beserta kuasa-kuasanya, berkenan pada brahman (ucapan suci), dan meneguhkan para pemuja dengan daya kemenangan. Sang penyair memohon perlindungan, pelebaran ruang (penyingkiran tekanan/rintangan), kekayaan, serta dorongan penghidup yang menopang para dermawan pelindung dan keturunan yang gagah. Penutupnya adalah doa bagi kesejahteraan yang lestari (svasti) di bawah Indra beserta para penolong ilahi sekutunya.
Sukta 7.25
Himne Triṣṭubh enam bait karya Vasiṣṭha ini memanggil Indra sebagai pelindung yang garang, pemimpin di medan laga, yang dengan daya kilatnya meneguhkan barisan dan memastikan kemenangan. Sang penyair memohon agar Indra tetap teguh dan terarah, menganugerahkan naungan serta perlindungan yang lestari hari demi hari, dan memenuhi para pemuja dengan kelimpahan, kekuatan, dan kesejahteraan.
Sukta 7.26
Himne singkat karya Vasiṣṭha ini mendesak Indra agar hanya menanggapi ketika Soma diperas dengan benar dan kata-puji (brahman/uktha) dibentuk dengan tepat, menegaskan bahwa ketepatan ritus dan ujaran yang terilhami bersama-sama “menggembirakan” sang dewa. Himne ini mengingatkan kuasa Indra yang senantiasa diperbarui untuk memecah “barisan” musuh dan menyingkirkan rintangan, lalu menutup dengan permohonan kekuatan seribu kali lipat, harta kemenangan, dan kesejahteraan yang lestari bagi para pemuja
Sukta 7.27
Himne Indra yang singkat karya Vasiṣṭha ini menyeru Indra sebagai daya dasar yang dipanggil para pencari ketika mereka “memasang kuk” pada pikiran menuju tujuan yang lebih jauh. Himne ini memuji kedaulatan Indra atas dunia yang beraneka ragam dan memohon agar Ia mengarahkan kekayaan serta perlindungan kepada pemuja—dilambangkan sebagai sapi, kuda, dan kereta—menganugerahkan ruang lapang (varivas) dan kesejahteraan yang lestari (svasti).
Sukta 7.28
Himne Indra yang singkat ini merupakan undangan yang terarah, memohon agar sang dewa mengarahkan kekuatannya kepada kurban sang penyair dan mendengar seruan khusus mereka di tengah banyaknya orang yang memanggil-Nya. Himne ini memuji Indra sebagai dia yang menghimpun dan memimpin orang-orang yang berjuang, membangunkan bahkan yang lembam menjadi bergerak, serta menganugerahkan “kekayaan besar” kepada mereka yang menggubah dan melantunkan brahman (sabda ilham yang membentuk). Himne ditutup dengan permohonan akan perlindungan yang lestari dan kesejahteraan (svasti).
Sukta 7.29
Himne singkat karya Vasiṣṭha ini mengundang Indra ke pemerasan Soma, mendesaknya datang dengan segera, meminum Soma yang diperas dengan baik, dan menganugerahkan pemberian yang dermawan (maghāni). Nyanyian ini memadukan pujian yang yakin dengan pertanyaan yang lugas tentang persembahan apa yang sungguh dapat memuaskan Indra, lalu ditutup dengan ikrar untuk mengucapkan sabda yang benar tentang Indra serta doa bagi kesejahteraan yang lestari dan perlindungan.
Sukta 7.30
Himne Indra yang singkat dari tradisi Vasiṣṭha ini memanggil “yang perkasa” agar datang dengan daya, meluaskan kekayaan pemuja, dan menegakkan kedaulatan yang menang dalam pertikaian. Himne ini mengaitkan cahaya perang Indra—yang mengangkat panji terang dalam pertempuran—dengan kependetaan batin Agni yang memanggil para dewa demi kesejahteraan. Penutupnya memuji Indra sebagai pemberi harta besar dan penolong yang pasti bagi penyanyi yang “membentuk brahman”, seraya berdoa memohon perlindungan yang senantiasa dan keberuntungan yang mujur.
Sukta 7.31
RV 7.31 adalah himne Vasiṣṭha kepada Indra yang mendesak “Sang Banteng” perkasa agar mendengar kebutuhan mendesak kaum dan melindungi mereka dari ujaran bermusuhan, celaan, dan pemaksaan. Himne ini memuji Indra sebagai yang meliputi segala arah dan teguh dalam vrata (hukum/tata tindakan)-Nya, menegaskan bahwa para pelihat sejati merangkai brahman (daya mantrik) yang manjur, selaras dengan tatanan-Nya. Nyanyian ini berfungsi sekaligus sebagai pemanggilan dan perisai: memanggil Indra untuk menolong, serta menambatkan kratu (kehendak/daya pertimbangan) sang pemuja pada-Nya.
Sukta 7.32
Himne Triṣṭubh karya Vasiṣṭha ini memanggil Indra agar mendekat ke pemerasan soma dan mendengarkan dengan saksama seruan sang penyair, menegaskan bahwa tiada manusia fana yang dapat menandingi dewa yang “kaya akan pertolongan”. Himne ini menenun pujian atas kedahsyatan dan kemurahan Indra dengan benang kuat śraddhā (kepercayaan/iman) sebagai daya yang mengantar pemuja menuju kemenangan dan kelimpahan. Penutupnya berupa doa perlindungan: dengan Indra sebagai sahabat, semoga bahaya tersembunyi tidak menimpa kita, dan semoga kita menyeberangi “air-air” penghalang serta kemerosotan yang berkepanjangan.
Sukta 7.33
RV 7.33 adalah kidung Vasiṣṭha yang bersifat merujuk-diri, memanggil kelompok pelihat Vasiṣṭha untuk berkumpul rapat di sekitar barhis (rumput suci) dan melindungi ritus serta sang penyanyi. Kidung ini memuji daya imamat kolektif—menerangi seperti Sūrya, luas seperti Samudra, dan menggerakkan seperti Vāta—agar stoma (nyanyian pujian) mencapai komunitas yang dituju dan berdaya guna. Penutupnya membangkitkan rangkaian pemerasan soma (grāvan, uktha, sāman), menampilkan Vasiṣṭha sebagai “pembuka jalan” yang menuntun arus ritual maju ke depan.
Sukta 7.34
RV 7.34 adalah kidung Vasiṣṭha yang menyeru Manīṣā—kecerdasan ilham yang cemerlang—sebagai daya-dewi yang menggerakkan yajña maju, laksana kereta yang tersusun kokoh. Bait-baitnya bergerak dari penyucian pikiran dan ujaran menuju cahaya pelindung yang menolak permusuhan dan derita jasmani, lalu berakhir dengan berkat yang luas, memanggil banyak kuasa ilahi dan alam untuk menganugerahkan damai, perlindungan, dan kesejahteraan yang lestari.
Sukta 7.35
Himne ini merupakan berkat śānti (kedamaian) dan svasti (kesejahteraan) yang luas, memanggil banyak pasangan dewa—terutama Indra yang bergandengan dengan kekuatan-kekuatan lain—untuk menganugerahkan perlindungan, gerak yang benar, dan kemenangan bagi para pemuja. Doa ini meluas dari sekutu-sekutu ritual (Indra–Agni, Indra–Varuṇa, Indra–Soma, Indra–Pūṣan) menuju penopang kosmis seperti Sūrya, penjuru-penjuru, gunung, sungai, dan perairan, memohon agar segala arah kehidupan menjadi mujur. Doa penutup menghimpun “semua yang abadi dan layak dipersembahi” agar menganugerahkan kebahagiaan yang menjangkau luas serta penjagaan yang berkesinambungan.
Sukta 7.36
Himne ini membuka siklus Vasiṣṭha dengan menempatkan ritus di dalam ṛta (tatanan kosmis): ujaran yang terilhami muncul dari singgasana Kebenaran, Sūrya melepaskan “sapi-sapi” cahaya, dan Agni dinyalakan di pusat altar. Himne ini memuji Agni sebagai nyala perantara yang menegakkan kejernihan, daya hidup, dan hubungan yang tepat antara para dewa dan manusia, sambil sejenak memperluas pemanggilan kepada kekuatan-kekuatan sekutu (terutama Rudra, para Marut, dan Viṣṇu) demi perlindungan dan pertambahan. Tujuan keseluruhannya ialah menyucikan kurban—ucapan, cahaya, dan api bekerja bersama—agar kesejahteraan, keturunan, dan tenaga-hidup yang meluas dapat diperoleh.
Sukta 7.37
Kidung ini (secara tradisional dikaitkan dengan Vasiṣṭha) dibuka dengan undangan kepada para Ṛbhu—juga dipuji sebagai Vāja dan Ṛbhukṣaṇa—agar datang ke pemerasan Soma dengan kereta mereka yang tanpa cela, memohon agar mereka bersukacita dalam tiga macam tegukan dan menganugerahkan daya-daya yang meluas. Doa kemudian merentang kepada kuasa ilahi yang bersekutu (terutama Indra dalam satu bait dan Savitar pada penutup), memohon dorongan kemenangan, perlindungan, serta datangnya kekayaan dan “bantuan/karunia” (rādhāṃsi) dari ketinggian. Secara keseluruhan, ini adalah seruan liturgis menuju ritus Soma yang memadukan pujian dengan permohonan akan keterampilan, kelimpahan, dan kesejahteraan yang bertahan (svasti).
Sukta 7.38
Himne ini memanggil Savitar sebagai Penggerak ilahi, yang mengangkat dan menggerakkan “pikiran keemasan”, membangunkan niat yang benar, gerak, dan permulaan yang mujur. Bhaga dikenang sebagai pembagi bagian, dimohon agar membagikan kekayaan dan kesejahteraan, sementara kekuatan sekutu Langit dan Bumi diundang untuk perlindungan dan pertambahan. Sukta ini memuncak dalam kegembiraan laksana soma: kuasa-kuasa abadi yang mengetahui kebenaran didorong untuk meminum sari bermadu dan melaju di jalan-jalan devayāna (jalan menuju para dewa).
Sukta 7.39
Himne singkat karya Vasiṣṭha ini memuji Agni sebagai nyala api yang menjulang ke atas dan sebagai Hotṛ—imam yang mengusung persembahan di jalan ṛta (tatanan-kebenaran) menuju para dewa. Ia menggambarkan para dewa berkumpul di tempat duduk ritual bersama, serta memohon agar Agni melaksanakan upacara yang diinginkan, berpuncak pada berkat bagi daya kidung yang terilhami (arka) dan kesejahteraan yang lestari (svasti).
Sukta 7.40
Himne ini dibuka dengan pemanggilan vidathyā śruṣṭi—daya “mendengar” yang reseptif dari sidang suci—agar stoma sang penyair diterima dengan tepat dan diberdayakan. Savitṛ dipuji sebagai penggerak yang menyalakan gerak pemberian dan kelimpahan bercahaya. Lalu himne meluas menjadi permohonan berporos pada ṛta, memohon Varuṇa, Mitra, Aryaman, para Perairan, dan Aditi untuk mengantar para pemuja melampaui kesesakan. Penutupnya berupa seruan bersama kepada Langit dan Bumi serta para dewa ṛtāvān, agar menganugerahkan kidung cahaya yang tiada banding dan perlindungan yang berkesinambungan melalui kesejahteraan
Sukta 7.41
Kidung ini adalah litani waktu fajar yang berulang-ulang menyeru lingkaran para dewa—Agni, Indra, Mitra–Varuṇa, para Aśvin, Bhaga, Pūṣan, Brahmaṇaspati, Soma, dan Rudra—agar hari dimulai dalam tatanan yang benar dan daya yang mujur. Kidung ini memohon bhaga (bagian kebahagiaan/keberuntungan), perlindungan, dan “svasti” (kesejahteraan) sepanjang segala fase hari. Penutupnya beralih kepada Uṣas (para Fajar), memanjatkan doa bagi fajar-fajar yang senantiasa diperbarui dan makmur, yang “memerah” kenikmatan laksana ghee dan menopang daya-hidup sang pelaku yajña.
Sukta 7.42
Himne enam bait karya Vasiṣṭha mendorong yajña Soma maju dengan memanggil daya-daya ritual bak Angiras, “sapi-sapi” Soma yang mengalir, serta batu-batu pemeras, agar pekerjaan (peśaḥ) dari adhvara berhasil digerakkan. Agni dipuji sebagai Tamu ilahi yang disambut (atithi); bila dikenali dengan tepat dan ditegakkan di rumah/ruang ritual, ia menganugerahkan kekayaan yang diinginkan dan kemajuan yang aman. Himne ini ditutup dengan doa ringkas bernuansa phala-śruti: memohon vitalitas yang meluas (iṣ), harta (rayi), kekuatan/kemenangan (vāja), dan perlindungan yang bertahan melalui svasti.
Sukta 7.43
Himne lima bait dari keluarga Vasiṣṭha ini dibuka dengan pujian kepada Dyāvā–Pṛthivī (Langit dan Bumi) sebagai landasan yang luas, yang diteguhkan oleh ujaran penuh hormat dalam yajña. Lalu himne beralih ke liturgi praktis: mengundang para Dewa ke barhis, memohon kepada Agni untuk menguduskan ritus serta melindungi “menjadi-ilahi” sang penyaji kurban dari permusuhan. Penutupnya adalah doa bersama untuk kesejahteraan yang lestari (svasti), keteguhan, dan partisipasi tanpa cedera dalam kemakmuran bersama
Sukta 7.44
Himne singkat yang dikaitkan dengan Vasiṣṭha ini dibuka dengan daftar panggilan yang luas dan disengaja kepada kekuatan-kekuatan ilahi penolong, dipimpin oleh Dadhikrāvan, untuk menegakkan perlindungan, kejernihan, dan gerak yang benar dalam hidup maupun ritus. Himne ini mengaitkan bangun saat fajar dan penyalaan Agni dengan peniadaan duritā (lintasan/penyeberangan yang membawa celaka) serta perolehan jalan yang aman selaras dengan ṛta. Tujuannya bersifat praktis sekaligus rohani: menjamin perjalanan yang mujur, tatanan yang tepat, dan pendengaran ilahi yang saksama bagi sang pelaksana kurban.
Sukta 7.45
Dalam kidung Triṣṭubh yang singkat ini, Vasiṣṭha memanggil Savitṛ sebagai Penggerak ilahi yang melintasi ruang antara dengan kuda-kudanya, membawa anugerah serta arah yang benar bagi kehidupan manusia. Savitṛ dimohon untuk “menetapkan” para pemuja di kediaman yang layak, menggerakkan karya-karya mereka, meluaskan kecerdasan yang bercahaya, serta menganugerahkan pangan penopang dan daya hidup yang luas. Kidung ini ditutup sebagai persembahan pujian yang diucapkan, memohon kesejahteraan yang lestari dan perlindungan.
Sukta 7.46
Himne Triṣṭubh yang singkat karya Vasiṣṭha ini ditujukan kepada Rudra sebagai pemanah perkasa, yang daya cepat dan tajamnya dapat melukai sekaligus menyembuhkan. Sang penyair memohon agar kekuatan laksana kilat dan murka Rudra dialihkan menjauh, sambil menyeru “seribu obat” miliknya untuk perlindungan keluarga, keturunan, dan kelangsungan hidup yang panjang. Tujuan sukta ini adalah penenteraman (śamana) dan kesejahteraan/berkah (svasti) melalui pujian yang penuh hormat serta permohonan langsung akan belas kasih.
Sukta 7.47
Himne Triṣṭubh yang singkat karya Vasiṣṭha ini memuji Āpaḥ (Air/Sungai) sebagai pemurni ilahi; gelombang pertama mereka yang manis laksana madu menjadi layak bagi Indra dan bagi persembahan manusia. Himne ini memohon agar air-air itu mengalir selaras dengan jalan para dewa dan ketetapan Indra, serta menganugerahkan ruang lapang (varivas) dan kesejahteraan yang lestari (svasti) kepada para pemuja.
Sukta 7.48
Himne Triṣṭubh yang singkat karya Vasiṣṭha ini memanggil para Ṛbhu—R̥bhukṣaṇa dan Vāja sebagai daya kesempurnaan keterampilan—agar bersukacita dalam Soma yang telah diperas dan “menggerakkan” karya-karya manjur yang membawa kekuatan serta kemenangan. Himne ini menautkan kerajinan mereka yang bekerja luas dengan daya kepahlawanan Indra, memohon agar ketetapan-ketetapan kuno yang benar berjaya dan tipu daya musuh dinyatakan sia-sia. Penutupnya berupa seruan universal kepada semua Dewa, terutama para Vasu, memohon kelapangan kebebasan (varivas), pemeliharaan, dan perlindungan yang terus-menerus melalui kesejahteraan (svasti).
Sukta 7.49
Himne Triṣṭubh yang singkat karya Vasiṣṭha ini memuji Air ilahi (Āpaḥ) sebagai daya purba yang memurnikan dirinya sendiri, mengalir dan bergerak melintasi dunia, serta memohon kepada mereka perlindungan segera dan kesejahteraan. Himne ini mengaitkan Air dengan daya penggerak Indra dan dengan pengawasan moral Varuṇa atas kebenaran dan kepalsuan, menampilkan air sebagai pemurni jasmani sekaligus penjaga ṛta (tatanan/kebenaran kosmis). Pada puncaknya, himne menempatkan Varuṇa, Soma, semua dewa, dan Agni Vaiśvānara di dalam Air, menjadikan Air sebagai matriks penopang kehidupan kosmis dan ritual.
Sukta 7.50
Himne apotropaik singkat ini memohon Mitra–Varuṇa sebagai pelindung yang senantiasa waspada untuk menyingkirkan bahaya tersembunyi yang merayap—disebut ajakāva dan tsaru—serta racun yang timbul dari pepohonan, sungai, dan tumbuh-tumbuhan obat. Doa bergerak dari perlindungan diri menuju pemurnian yang lebih luas, dan berpuncak pada berkat agar Air dan sungai-sungai menjadi sepenuhnya jinak, tidak melukai, bagi perjalanan sang pemuja.
Sukta 7.51
Himne Triṣṭubh yang singkat karya Vasiṣṭha ini menyeru para Āditya bersama Aditi agar menganugerahkan perlindungan yang senantiasa baru, keadaan tanpa cela tanpa dosa (anāgas), serta peneguhan yajña yang mantap di dalam ṛta. Ia memohon kepada para Āditya utama—Mitra, Aryaman, dan Varuṇa—agar menjaga para pemuja dan meminum Soma demi pertolongan yang menguatkan; lalu meluas menjadi seruan universal kepada semua dewa untuk svasti yang lestari (kesejahteraan, keselamatan).
Sukta 7.52
Kidung singkat karya Vasiṣṭha ini memohon kepada para Āditya—terutama Mitra dan Varuṇa—agar menganugerahkan keteguhan, perlindungan bagi garis keturunan, serta pembebasan dari noda kesalahan yang diwarisi atau ditimbulkan oleh sebab luar. Ia memohon agar para pemuja menjadi “laksana landasan” seperti Dyāvā–Pṛthivī (Langit dan Bumi), dan berpuncak pada visi para Angirasa meraih harta Savitṛ, sementara semua dewa bersepakat memberkati sang pelaksana yajña.
Sukta 7.53
Kidung singkat karya Vasiṣṭha ini memanggil Dyāvā–Pṛthivī—Langit dan Bumi—bersama-sama sebagai Orang Tua ilahi yang maha-luas, penopang Ṛta (tatanan kosmis). Ia memohon agar keduanya menempati tempat terdepan dalam yajña, datang bersama “umat-umat ilahi” (daya-daya pendukung), serta menganugerahkan harta yang berlimpah dan kesejahteraan yang lestari kepada para pemuja.
Sukta 7.54
Himne singkat karya Vasiṣṭha ini memohon Vāstoṣpati, daya yang memerintah dan menjaga kediaman, agar mengenali rumah tangga serta menjadikan masuk ke rumah sebagai pertanda mujur, bebas dari derita dan gangguan. Himne ini memohon kedamaian bagi manusia dan hewan, pertambahan umur dan kemakmuran, serta perlindungan yang langgeng melalui kesejahteraan dalam hidup sehari-hari dan “pemasangan kuk” yang benar (penyelarasan tertib antara hidup, kerja, dan pemujaan).
Sukta 7.55
RV 7.55 adalah kidung perdamaian rumah tangga kepada Vāstoṣpati, tuan penjaga kediaman, yang dipanggil agar memasuki rumah dalam segala “wujud”-Nya dan menyingkirkan penderitaan. Kidung ini meluas dari perlindungan dan kesejahteraan menuju pendamaian yang lebih menyeluruh—bagi anggota rumah, sanak kerabat, dan komunitas sekitar—seraya ditutup dengan penenangan bak mantra yang membuai ranah rumah tangga ke dalam keteduhan istirahat.
Sukta 7.56
Kidung ini karya Vasiṣṭha memuji para Marut—pasukan badai muda milik Rudra—seraya mengagumi serbuan mereka yang serempak, perhiasan yang berkilau, dan daya bersenjata yang menghadirkan hujan serta menjernihkan langit. Kidung ini memohon perlindungan dan kesejahteraan, agar energi mereka yang garang berbalik menjadi mujur bagi pemuja dan komunitas. Bait penutup meluaskan berkat itu, menyeru kuasa kosmis lain (Indra, Varuṇa, Mitra, Agni, Perairan, Tumbuhan, para Penguasa rimba) untuk menerima persembahan dan menganugerahkan damai dalam naungan Marut
Sukta 7.57
Himne ini memuji para Marut sebagai dewa-dewa badai yang “bernama semanis madu”, penuh daya, yang menerjang ke dalam yajña dan mampu mengguncang langit dan bumi sambil melepaskan sumber-sumber kelimpahan yang tersembunyi. Himne ini memadukan seruan yang meluap-luap dengan permohonan yang hati-hati akan pengampunan atas kekhilafan manusia, memohon agar kilat dan murka mereka dijauhkan serta agar niat baik mereka yang teguh melindungi para pemuja. Sukta ini berpuncak pada panggilan agar para Marut datang dari segala penjuru untuk menguatkan para pemimpin komunitas dan menjaga semua orang dengan kesejahteraan yang lestari.
Sukta 7.58
Himne Triṣṭubh yang singkat ini memuji para Marut sebagai satu pasukan badai yang bersatu dan seia sekata, yang kedahsyatannya “mendorong” langit dan bumi serta menjangkau alam surgawi melampaui kebinasaan. Vasiṣṭha memohon agar mereka menumbuhkan ilham puitis, kekayaan, dan daya kemenangan yang memecah segala rintangan; dan pada akhirnya menghalau kebencian jauh-jauh serta melindungi para pemuja dengan kesejahteraan yang teguh dan lestari.
Sukta 7.59
Himne karya Vasiṣṭha ini memanggil Viśve Devāḥ—terutama Agni, Varuṇa, Mitra, Aryaman, dan para Marut—untuk perlindungan selangkah demi selangkah, tuntunan yang aman, serta “naungan damai” yang mantap mengitari pemuja. Puncaknya adalah doa Tryambaka yang termasyhur (Mahāmṛtyuñjaya), memohon pembebasan dari ikatan maut sambil tetap berlabuh dalam amṛtatva—kepenuhan yang tak-mati.
Sukta 7.60
Himne karya Vasiṣṭha ini memanggil Sūrya saat terbit untuk memaklumkan satya (kebenaran), serta menyeru para Āditya—terutama Mitra–Varuṇa, Aryaman, dan Aditi—agar menuntun para pemuja di jalan ilahi (devatrā). Āditya digambarkan sebagai penjaga tatanan kosmis yang senantiasa waspada, yang menuntun bahkan batin yang belum terjaga, menyediakan sebuah “tempat penyeberangan” melewati bahaya, dan mengantar bhakta melampaui kesukaran menuju svasti (kesejahteraan). Tujuan sūkta ini ialah perlindungan, pengarahan yang benar (devatrā), dan keselamatan melintasi “durgas” (rintangan/lorong bahaya) moral maupun eksistensial, dengan menyelaraskan ucapan dan perilaku dengan ṛta/satya (tatanan/kebenaran).
Sukta 7.61
Himne karya Vasiṣṭha ini memuji Mitra dan Varuṇa sebagai penjaga ṛta (tatanan kosmis), dengan “mata” mereka yang melihat segalanya, Sūrya, yang terbit untuk meninjau dunia-dunia dan menyingkap dorongan batin manusia. Himne ini menyanjung kuasa mereka yang luas yang menegakkan Langit dan Bumi, membandingkan perjalanan waktu yang tertata dengan bahaya yang dihadapi oleh orang yang tidak berkurban, dan ditutup dengan doa agar dibawa melampaui semua penyeberangan yang sukar dengan selamat serta dilindungi dengan kesejahteraan yang lestari.
Sukta 7.62
Himne enam bait karya Vasiṣṭha memuji terbitnya Sūrya setiap hari sebagai tanda yang tampak dari ṛta (tatanan kosmis), yang menatap semua “kelahiran” dan segala kegiatan manusia dengan cahaya yang tidak memihak. Lalu himne ini meluas menjadi doa berorientasi Āditya kepada Aditi, Langit–Bumi, serta para penguasa moral Mitra–Varuṇa–Aryaman, memohon perlindungan dari pelanggaran, kelapangan-kebebasan (varivas), dan jalan-jalan yang aman serta mujur bagi diri sendiri dan keturunan.
Sukta 7.63
Himne Triṣṭubh enam bait karya Vasiṣṭha ini memuliakan Sūrya/Savitṛ yang terbit sebagai cahaya semesta yang melihat segalanya, menyingkap dan menghalau kegelapan tersembunyi, sehingga kegiatan manusia dan tatanan yang benar dapat berlangsung. Matahari dipuji sebagai “mata” Mitra–Varuṇa, mengaitkan penglihatan surya dengan kedaulatan para Āditya, kebenaran, dan kejernihan moral. Himne ini berpuncak pada doa kepada Mitra, Varuṇa, dan Aryaman agar dianugerahi ruang yang lapang, jalan-jalan yang aman, dan kesejahteraan yang lestari.
Sukta 7.64
Himne Triṣṭubh lima bait karya Vasiṣṭha ini menyeru Mitra–Varuṇa bersama Aryaman sebagai para Āditya yang menegakkan ṛta (tatanan kosmis dan moral) di seluruh langit, ruang antara, dan bumi. Himne ini memohon agar kuasa-kuasa berdaulat itu menerima persembahan, menuntun pemuja melalui “jalan-jalan yang paling menuntaskan”, menolak permusuhan, dan senantiasa menganugerahkan svasti (kesejahteraan), seraya menguatkan dhī (pikiran terilhami) menuju tujuan yang diinginkan.
Sukta 7.65
Himne Triṣṭubh yang singkat ini memanggil Mitra–Varuṇa saat matahari terbit, memuji tekad mereka yang telah dimurnikan serta kedaulatan penjagaan mereka yang melintas melalui segala jalan di seluruh dunia. Himne ini memohon agar kedua tuan ṛta itu berfungsi sebagai “jembatan” melawan kepalsuan dan sebagai lintasan aman untuk menyeberangi kesusahan, berpuncak pada doa bagi kesejahteraan yang lestari dan perlindungan.
Sukta 7.66
Himne karya Vasiṣṭha ini memuji Mitra–Varuṇa sebagai pasangan Āditya kembar yang menegakkan ṛta (tatanan kosmis) melalui kebenaran, hukum, dan pemerintahan yang waspada. Himne ini memohon agar keduanya berkenan menerima persembahan, meneguhkan budi yang lurus, serta menganugerahkan perlindungan, kestabilan, dan tatanan sosial yang selaras kepada para pemuja. Sukta bergerak dari pujian penuh hormat menuju gambaran-gambaran hidup tentang daya yang menopang ṛta, dan berpuncak pada undangan yang tegas agar mereka datang dan meminum Soma.
Sukta 7.67
Dalam himne Triṣṭubh ini, Vasiṣṭha memanggil kedua Aśvin agar segera datang dengan kereta mereka dan menerima persembahan, menyapa mereka dengan keakraban seperti seorang anak berbicara kepada orang tuanya. Sang penyair memohon perlindungan bagi daya-daya batin, agar kuasa kreatif tetap subur dan tak terluka, kemakmuran dalam anak-anak serta garis keturunan, dan jalan yang dituntun para dewa, bertanda kesejahteraan (svasti). Sukta ini ditutup dengan permohonan langsung akan harta, pematangan para resi, dan penjagaan yang terus-menerus melalui kehadiran Aśvin yang penuh kebaikan.
Sukta 7.68
Kidung ini merupakan undangan kepada Aśvinau—dua saudara kembar penyembuh yang bercahaya—agar segera datang dengan kuda-kuda mereka sendiri, menerima mantra-mantra sang penyair, dan mengambil tempat dalam upacara kurban. Kidung ini mengingat kembali anugerah mereka yang menakjubkan dan melindungi kehidupan (terutama pertolongan mereka kepada Atri), lalu ditutup dengan permohonan akan kesejahteraan yang mantap, pemeliharaan, dan perlindungan pada waktu fajar bagi penyanyi dan komunitas.
Sukta 7.69
Kidung ini adalah seruan fajar Vasiṣṭha kepada kedua Aśvin, memanggil kereta emas mereka—yang dikatakan menambatkan Langit dan Bumi—agar segera tiba melalui jalan yang paling lurus. Kidung ini memuji lintasan mereka yang cemerlang, berkilau terang laksana ghee, dan memohon agar mereka memasuki yajña dengan membawa damai, kesejahteraan, harta, serta penguatan bagi para resi pelihat dan para pelindung/patron.
Sukta 7.70
Dalam kidung singkat ini, Vasiṣṭha memanggil kedua Aśvinau agar “datang kepada kami”, mengambil tempat duduk mereka di bumi, dan membawa pertolongan yang cepat—menyembuhkan serta membawa harta. Si kembar dipuji sebagai daya-daya yang akrab, bergerak melalui air dan tumbuh-tumbuhan, menganugerahkan obat, kemakmuran, dan tuntunan yang benar; sementara sang penyair mempersembahkan doa yang terjalin rapi demi svasti yang lestari (kesejahteraan).
Sukta 7.71
Himne singkat kepada Aśvinau ini berlatar ambang yang cemerlang ketika Malam menyerah kepada Fajar, dan memanggil Sang Kembar ilahi agar segera datang dengan kereta bercahaya. Vasiṣṭha menyeru mereka sebagai pelindung yang mengusir mara bahaya “siang dan malam”, serta sebagai pembawa daya hidup, kekayaan, dan kesejahteraan. Sukta ini berpuncak pada persembahan kidung pujian yang ditenun dengan saksama, dan memohon penjagaan yang berkesinambungan melalui svasti (kemujuran/keberuntungan yang baik).
Sukta 7.72
Himne singkat karya Vasiṣṭha ini menyeru Aśvinau (Nāsatyā) agar segera datang dengan kereta bercahaya mereka, dikelilingi oleh daya-daya yang telah dipasangkan pada kuk, membawa keindahan, perlindungan, dan kemakmuran. Kedatangan mereka dihubungkan dengan bangkitnya pujian serta dengan Uṣas (Fajar), dan berpuncak pada seruan universal agar Sang Kembar menjaga pemuja dari segala arah dengan svasti (kesejahteraan).
Sukta 7.73
Himne Triṣṭubh yang singkat ini memanggil sepasang Aśvinau (Nāsatyā) agar segera datang dari segala penjuru sebagai para penyelamat yang mengantar pemuja melampaui “kegelapan” menuju tepi yang lebih jauh dan lebih aman. Vasiṣṭha mempersembahkan pujian yang tersusun rapi ketika kurban didorong menempuh jalurnya yang semestinya, memohon agar para tabib kembar itu menganugerahkan kemakmuran lima-lapis yang menyeluruh dari segala arah serta perlindungan yang terus-menerus.
Sukta 7.74
Kidung singkat ini memanggil Aśvinau pada saat fajar, ketika “cahaya-cahaya fajar” terbit dan para pencari surga yang bercahaya memohon pertolongan mereka yang sigap. Kidung ini menekankan kemurahan si Kembar yang lincah dan berpindah dari orang ke orang—datang dengan kuda-kuda cepat ke rumah pemuja yang dermawan—serta menampilkan mereka sebagai pelindung yang meneguhkan daya hidup manusia dan menenteramkan permukiman dalam kesejahteraan.
Sukta 7.75
Dalam himne Fajar ini, Vasiṣṭha memuji Uṣas sebagai yang lahir dari langit dan dituntun oleh ṛta (tatanan yang benar). Kemunculannya menyingkapkan kebesaran, menggerakkan jalan-jalan dunia, dan mengusir kegelapan yang memusuhi. Sang penyair merayakannya sebagai mempelai Sūrya yang bercahaya serta pemberi kekayaan dan daya hidup, lalu menutup dengan doa memohon sapi, kuda, putra-putra yang gagah, dan kesejahteraan yang tak terputus bagi sang pelaksana kurban dan tempat duduk upacara
Sukta 7.76
Himne karya Vasiṣṭha ini memuji Uṣas (Fajar) sebagai penyingkap dunia, “Mata” yang lahir oleh kehendak ilahi, yang mengangkat cahaya abadi dan semesta. Savitṛ dan Viśvānara hadir sebagai pendukung selaku para penerang kosmis, membingkai fajar bukan sekadar peristiwa harian, melainkan perwujudan Ṛta (kebenaran–tatanan) dan penglihatan yang terjaga. Para penyair mengenang para resi purba dan para Leluhur yang menemukan cahaya tersembunyi dan “melahirkan Fajar” melalui mantra-mantra yang benar; lalu menutup dengan permohonan akan kekayaan, nama baik, dan perlindungan yang lestari.
Sukta 7.77
Himne Uṣas yang singkat karya Vasiṣṭha ini memuji Fajar sebagai gadis muda yang bercahaya, pembawa gerak, kehidupan, dan tatanan yang diperbarui, yang membuka jalan luas dan aman bagi kegiatan manusia. Kebangkitan Fajar tak terpisahkan dari penyalaan Agni: ketika cahaya menyebar, kegelapan terusir, dan sang pelaku yajña dituntun menuju kekayaan (rayi), perlindungan, dan kesejahteraan.
Sukta 7.78
Sinopsis himne Uṣas yang singkat ini merayakan tanda-tanda pertama Fajar yang tampak, ketika wujud-wujudnya yang bercahaya menyebar dan dunia kembali berpaling kepada terang. Himne ini memuji para Fajar karena menghadirkan Sūrya, menyalakan kembali Agni dan yajña, serta menghalau kegelapan yang tak diinginkan. Sang penyair memohon agar para Fajar yang bersinar menganugerahkan karunia yang diidamkan, melepaskan kekusutan dan kebingungan, serta melindungi para pelantun dengan kesejahteraan yang lestari.
Sukta 7.79
Sinopsis kidung Fajar yang singkat ini memuji Uṣas karena ia membentangkan jalan-jalan kehidupan, membangunkan lima suku manusia, dan dengan sinar-sinarnya yang jernih menempatkan dunia dalam gerak yang benar. Penyair mengaitkan terbitnya ia dengan Sūrya yang meluaskan dua dunia, serta memohon agar Fajar mendorong ketuhanan batin, ilham yang benar, dan kesejahteraan demi tindakan yang berhasil dan perolehan.
Sukta 7.80
Sinopsis singkat karya Vasiṣṭha ini menyambut Uṣas (Fajar) sebagai pembangkit pertama para resi dan penyingkap segala dunia, yang menggerakkan dua ranah dan membuat keberadaan tampak. Fajar dipuji karena memperbarui kehidupan, menutupi kegelapan dengan cahaya, dan menuntun persepsi menuju Sūrya, Agni, dan yajña. Doa penutup memohon agar fajar-fajar terbit setiap hari dengan keberuntungan—membawa kekuatan, penerangan, dan daya hidup kepahlawanan—serta melindungi para pemuja dengan kesejahteraan yang lestari.
Sukta 7.81
Sinopsis himne Uṣas yang singkat karya Vasiṣṭha ini merayakan penampakan Fajar yang seketika: ia datang “di depan mata kita”, membentangkan perairan dan medan penglihatan, serta mengubah kekaburan malam menjadi tatanan yang bercahaya. Sang penyair memohon agar terbitnya yang penuh anugerah menganugerahkan penglihatan yang jernih atas dunia yang gemilang, bagian dalam “harta” miliknya (kemakmuran, kekuatan, kemasyhuran), serta menyingkirkan kebengkokan, kegagalan, dan rintangan batin.
Sukta 7.82
Kidung ini karya Vasiṣṭha memanggil kedaulatan berpasangan Indra–Varuṇa untuk memperoleh “mahi śarma” (perlindungan yang luas) bagi yajña, bagi rakyat, dan bagi komunitas, serta memastikan kemenangan atas para musuh yang terus-menerus. Kidung ini berganti-ganti menonjolkan kekuatan perang (Indra) dan tatanan moral-kosmis (Varuṇa), menampilkan kerja sama keduanya sebagai dasar kestabilan, pertumbuhan, dan pemerintahan yang benar. Penutupnya meluas kepada lingkar Āditya (Mitra, Aryaman, Aditi) dan Savitṛ, memohon cahaya yang tak terputus yang menegakkan Ṛta.
Sukta 7.83
Himne ini memanggil Indra–Varuṇa sebagai kuasa tunggal kemenangan dan tatanan yang benar, memuji pertolongan mereka kepada Sudās dan kaum Tṛtsu dalam pertempuran termasyhur melawan Sepuluh Raja. Ia mengenang bagaimana mereka meremukkan rintangan bak Vṛtra dan perlawanan kaum Dāsa, lalu mengubah kemenangan sejarah itu menjadi doa bagi kemakmuran batin dan lahir, cahaya yang dituntun oleh kebenaran, serta kedamaian yang luas.
Sukta 7.84
Dalam kidung Triṣṭubh yang singkat ini, Vasiṣṭha memanggil Indra dan Varuṇa bersama-sama sebagai “dua raja”, memalingkan mereka ke arah yajña dengan persembahan penuh hormat dan aliran ghee yang berkilau. Sang penyair menegaskan keberhasilan penyelesaian ritus dan mantra—indah di tengah perhimpunan—seraya memohon kemakmuran yang digerakkan para dewa, pertolongan pelindung, serta kesejahteraan bagi anak keturunan dan garis keluarga. Kidung ini ditutup dengan keyakinan bahwa nyanyian telah mencapai para dewa, sambil memohon penjagaan mereka yang berkesinambungan dalam svasti (kesejahteraan).
Sukta 7.85
Kidung singkat karya Vasiṣṭha ini memanggil dwidaya Indra–Varuṇa agar menerima Soma dan melindungi pemuja “dalam perjalanan,” baik secara lahiriah (lintasan aman, kesejahteraan) maupun batiniah (pertumbuhan keturunan/daya batin). Kidung ini menonjolkan kedaulatan mereka yang saling melengkapi: yang satu menegakkan dan menopang bangsa-bangsa serta tatanan, sedangkan yang lain menghantam rintangan dan perlawanan; sementara Perairan sendiri digambarkan sebagai yang menobatkan mereka sebagai otoritas ilahi.
Sukta 7.86
Himne Varuṇa karya Vasiṣṭha ini memuji Sang Penguasa kosmis yang menegakkan langit dan bumi serta menopang ṛta (tatanan moral–kosmis). Dari visi tentang ciptaan yang luas dan tertata, sang penyair beralih ke batin untuk pengakuan dan permohonan—meminta pembebasan dari kesalahan yang diwarisi maupun yang dibuat sendiri, dan menutup dengan berkat bagi kedamaian, perlindungan, dan kesejahteraan.
Sukta 7.87
Kidung ini kepada Varuṇa, dilantunkan oleh Vasiṣṭha, memuji sang dewa sebagai penegak ṛta, yang telah mengukir lintasan Matahari dan menata aliran sungai-sungai agar mengalir pada jalur yang teratur. Nyanyian bergerak dari tata-kelola kosmis menuju ajaran esoteris—Varuṇa menyingkap rahasia yang dijaga tentang “Sapi yang tak dapat dilanggar” serta langkah tersembunyi dari Sabda—lalu berpuncak pada permohonan belas kasih, tanpa cela, dan kesejahteraan yang lestari di bawah hukum-hukum Aditi.
Sukta 7.88
Himne Triṣṭubh yang singkat ini merupakan pujian intim Vasiṣṭha kepada Varuṇa, yang maha-luas dan layak dipuja, penegak ṛta (tatanan kosmis) serta pelepas ikatan dengan penuh rahmat. Himne ini mengingat kembali anugerah khusus Varuṇa kepada sang resi—menempatkannya “di dalam perahu” dan menjadikannya seorang ṛṣi—dan berpuncak pada doa agar Varuṇa melonggarkan belenggu dosa, serta agar para Āditya menjaga para pemuja dengan kesejahteraan yang lestari.
Sukta 7.89
Himne singkat ini adalah permohonan mendesak Vasiṣṭha kepada Varuṇa agar berbelas kasih, melepaskan dari dosa (enas), dan melindungi dari “rumah tanah liat” (kematian). Himne ini mengakui kekeliruan manusia—kehendak yang tersesat dan pelanggaran tanpa sengaja terhadap hukum ilahi (dharma)—serta berulang kali memohon kepada Varuṇa, penguasa yang murni, agar “berkenan/bermurah hati.”
Sukta 7.90
Kidung ini adalah undangan Soma yang terutama ditujukan kepada Vāyu, sering sebagai dwitunggal Indra–Vāyu, mendesak mereka datang cepat dengan pasukan yang telah dipasang kuknya dan meminum Soma perasan kaya-madu yang disiapkan para adhvaryu. Seiring seruan ritual itu, penyair membangkitkan fajar dan cahaya yang kian meluas, mengaitkan kedatangan para dewa dengan terbukanya ruang-ruang bercahaya serta mengalirnya Perairan. Kidung ini berpuncak pada permohonan kaum Vasiṣṭha akan kekuatan, pertambahan, kemasyhuran, dan perlindungan yang bertahan lama melalui kesejahteraan (svasti).
Sukta 7.91
Kidung ini karya Vasiṣṭha memanggil Vāyu dalam kemitraan erat dengan Indra–Vāyu, mengundang mereka ke persembahan Soma serta memohon perlindungan, kekuatan, dan kesejahteraan. Kidung ini mengingat para dewa purba yang tak bercela, yang menolong Manu pada masa terhalang, dengan menegakkan Fajar bersama Sang Surya—sebuah citra pemulihan tatanan yang benar dan penglihatan yang jernih bagi jalan manusia. Para penyair (para Vasiṣṭha) menutupnya dengan memohon svasti yang lestari—kesejahteraan selaras dan damai—melalui pujian yang tersusun dengan baik
Sukta 7.92
Himne singkat karya Vasiṣṭha ini merupakan undangan kepada Vāyu agar datang dengan cepat bersama banyak niyut (regu/kereta yang telah dipasangkan), duduk di upacara kurban, dan meminum Soma sebagai “peminum pertama.” Himne ini berulang kali mengaitkan kedatangan dan kegembiraan Vāyu dengan anugerah yang nyata—kekayaan, kekuatan/daya kepahlawanan, sapi, kuda, serta perlindungan berkelanjutan melalui svasti (kesejahteraan). Tujuannya sekaligus liturgis (memanggil dewa hadir pada pemerasan Soma) dan pragmatis (memohon kemakmuran dan keselamatan bagi para pemuja).
Sukta 7.93
Kidung ini memanggil kekuatan berpasangan Indra dan Agni sebagai pembunuh Vṛtra bersama, memohon agar mereka menerima nyanyian pujian yang segar dan murni serta segera menganugerahkan daya, kemenangan, dan “vāja” yang menumbuhkan kemakmuran kepada pemuja. Pertolongan mereka ditempatkan dalam bingkai yajña dan persaingan komunal, mendesak mereka menumbangkan perlawanan yang tanpa-dewa dan melindungi umat dengan kesejahteraan; penutupnya menoleh kepada para dewa sekutu (Viṣṇu, para Marut) agar sang pelaksana kurban tidak terabaikan.
Sukta 7.94
Kidung ini kepada Indra–Agni menampilkan pujian sebagai ilham “kuno” yang bangkit laksana hujan dari awan, lalu mengubah ujaran yang terilham itu menjadi seruan praktis untuk perlindungan dan kemenangan. Berulang kali dimohonkan agar dwidaya—kekuatan (Indra) dan api suci (Agni)—datang membawa pertolongan, meneguhkan para pemuja di tengah bangsa-bangsa, serta meremukkan ujaran permusuhan, niat jahat, dan rintangan rakṣasa.
Sukta 7.95
Kidung ini memuji Sarasvatī sebagai daya sungai yang perkasa, yang menggerakkan dan mendorong, melampaui semua perairan lainnya; teguh, “berlandaskan besi,” dan melaju ke depan laksana kereta perang. Lalu kidung beralih dari gambaran kosmis ke doa persembahan: semoga ia mendengar, mendekat, menganugerahkan kekayaan dan kekuatan, serta membuka “pintu-pintu ṛta” (kebenaran/tatanan) bagi Vasiṣṭha dan para sahabatnya.
Sukta 7.96
Kidung enam bait karya Vasiṣṭha ini memuji Sarasvatī sebagai sungai berdaulat yang menghidupkan, dengan arus ilham yang meluaskan dua dunia serta menyehatkan ujaran, kekuatan, dan kemakmuran. Sang penyair memohon Sarasvatī (dan Sarasvant) akan daya generatif—keturunan, pertambahan, dan pangan penopang—seraya membayangkan beliau sebagai ambing yang tampak dan melimpah, tempat komunitas dapat turut menikmati. Secara keseluruhan, sukta ini berfungsi sebagai invokasi bagi kelimpahan, tuturan yang benar, dan kesinambungan yang berbuah di bawah arus pemurnian Sang Dewi.
Sukta 7.97
Kidung ini karya Vasiṣṭha memohon Bṛhaspati/Brāhmaṇaspati sebagai Sahabat ilahi dan daya kependetaan yang membuat yajña berhasil, memurnikan ujaran, dan membuka jalan menuju kelimpahan. Pujian ini ditempatkan dalam upacara pemerasan Soma, di mana Indra juga disambut, memohon agar para pemuja menjadi “tanpa cela” di hadapan Sang Pemberi yang murah hati serta memperoleh kekuatan, sukacita, dan tuntunan yang benar.
Sukta 7.98
Kidung ini mendesak para imam Adhvaryu untuk mempersembahkan Soma kemerahan yang telah diperah dan dicampur susu kepada Indra, yang digambarkan sebagai pencari minuman perasan yang senantiasa kembali, serta banteng—pemimpin bangsa-bangsa. Lalu kidung beralih pada pertolongan perang Indra—menaklukkan lawan yang menyebut diri “besar”—dan berpuncak pada permohonan bersama kepada Indra dan Bṛhaspati agar menganugerahkan kekayaan (rayi), kemasyhuran, dan kesejahteraan yang lestari (svasti).
Sukta 7.99
Himne ini memuji Viṣṇu sebagai daya yang tak terukur dan meresapi segala, yang kebesarannya tak seorang pun dapat menjangkaunya sepenuhnya, dan yang mengetahui alam tertinggi. Ia mengingat tindakan-tindakan-Nya yang menata tatanan dunia—membentangkan ruang luas bagi yajña, menegakkan Matahari, Fajar, dan Api, serta menundukkan tipu daya yang memusuhi—lalu ditutup dengan seruan vaṣaṭ yang bersifat ritual, memohon perlindungan yang lestari dan kesejahteraan
Sukta 7.100
Himne Triṣṭubh yang singkat ini memuji Viṣṇu sebagai daya yang meresapi segalanya, yang “melangkah” meliputi bumi dan menegakkan hamparan luas yang teguh bagi kehidupan manusia serta karya suci. Vasiṣṭha menampilkan pemujaan sebagai pendekatan yang bertujuan—persembahan, pujian, dan seruan vaṣaṭ—untuk memohon perlindungan Viṣṇu, kesejahteraan (svasti), dan tempat tinggal yang aman serta mantap.
Sukta 7.101
Kidung ini kepada Parjanya memuji Kuasa Hujan yang menggelegar sebagai vṛṣabha (Sang Banteng), yang daya pembawa benihnya membangkitkan tumbuh-tumbuhan, memenuhi dunia dengan kemanisan, dan menegakkan kesuburan. Vasiṣṭha membingkai hujan sebagai pembagian kosmis atas air dan sari-sari kehidupan—bertiga dalam gerak dan wujud—dan berpuncak pada doa agar Ṛta (kebenaran–tatanan) dan svasti (kesejahteraan selaras) melindungi pemuja demi umur panjang.
Sukta 7.102
Himne Gāyatrī yang singkat ini memanggil Parjanya, “putra Langit,” sebagai pembawa hujan yang dermawan, yang membangunkan padang rumput, tumbuh-tumbuhan, serta kesuburan sapi dan kuda. Ia memuji daya pemberi-hidupnya, lalu beralih kepada petunjuk ritual yang langsung: persembahkan oblation manis kepada Parjanya agar ia menganugerahkan pertumbuhan yang tertib (Iḷā) dan kesejahteraan
Sukta 7.103
RV 7.103 (Maṇḍūka-sūkta) melukiskan katak-katak sebagai “brahmana” yang setia pada kaul: mereka terbaring diam sepanjang musim kering, lalu ketika hujan Parjanya membangunkan, mereka meledak dalam ujaran beraneka suara. Melalui gambaran musim hujan yang hidup ini, kidung memuji daya hujan yang menghidupkan, serta mengaitkan koor katak dengan pelafalan ritual dan pemerasan Soma, sambil memohon kekayaan dan umur panjang.
Sukta 7.104
RV 7.104 adalah kidung pelindung yang kuat kepada Indra dan Soma, memohon agar rakṣas, kekuatan yātu, serta “pemangsa” batin yang menghalangi penglihatan benar dan yajña dibakar habis dan diusir. Kidung ini memadukan pemanggilan dengan imperatif yang tegas—lihatlah, bangkitlah, hantamlah—agar kebenaran, kejernihan, dan jalan yajña tetap tanpa rintangan. Ia juga membingkai tatanan etis-spiritual: ucapan palsu dan niat yang berliku tunduk pada kuasa Indra yang mengarahkan, sementara Soma menopang yang lurus dan bercahaya.
Mandala 7 is a ‘family book’ attributed to the Vasiṣṭhas, whose hymns share a distinctive priestly voice focused on protecting and empowering the soma sacrifice through brahman (inspired, effective speech) and loyal ritual solidarity.
The Dāśarājña narrative (most famously RV 7.18) remembers a major inter-tribal conflict in which Indra’s victory is framed as being won and secured through correct ritual leadership and the patron’s alliance with the Vasiṣṭha priestly tradition.
Indra and Agni dominate the book: Indra embodies victory, protection, and the securing of patrons, while Agni anchors the rite as messenger and sacrificial fire. The Maruts appear as a unified storm-host granting force and inspiration, and Varuṇa (often with Mitra) introduces a profound ethical-psychological register of bonds, guilt, and release.
Read Rig Veda in the Vedapath app
Scan the QR code to open this directly in the app, with word-by-word meanings, Sanskrit recitation where available, and more.