
मण्डल 5
The Family Book of Atri
Mandala 5 Rigveda adalah kitab kelima dari “buku-buku keluarga” dan secara tradisional dikaitkan dengan garis Atri, menampilkan suara yang padu dari suatu rumah-tangga/sekolah ritual dalam korpus Rigveda awal. Himne-himnenya menjangkau dewa-dewa utama—terutama Agni dan Indra—seraya juga melestarikan gugus pujian yang menonjol bagi pasangan Ashvin, para tabib ilahi dan penyelamat. Kitab ini dihargai karena diksi arkais dan gaya yang ringkas, kaya formula, kerap mempertahankan ungkapan-ungkapan lama serta struktur puitik warisan.
Sukta 5.1
Kidung ini membangunkan Agni pada fajar sebagai Api rumah tangga dan Api kurban, yang lidah-lidah nyalanya menjulang dan cahayanya mengalir menuju langit. Ia memuji-Nya sebagai Hotṛ yang terilhami, penegak Ṛta, yang meluaskan langit dan bumi, dan senantiasa dimurnikan oleh ghee, sehingga kidung pemuja menjadi cahaya luas keemasan yang ditegakkan di dalam-Nya.
Sukta 5.2
Himne ini memuji Agni sebagai Api yang tersembunyi namun senantiasa nyata: terselubung seperti seorang anak di tempat rahasia, tetapi tampak terang dalam karya manusia dan dalam kurban. Himne ini menyeru Agni sebagai Hotṛ yang bijaksana, yang melepaskan makhluk-makhluk dari belenggu (seperti pada kisah Śunaḥśepa) serta menganugerahkan perlindungan, kedamaian, dan tempat tinggal yang aman bagi pemuja yang menyiapkan singgasana suci dan mempersembahkan persembahan kurban
Sukta 5.3
Himne ini memuji Agni sebagai daya ilahi bermuka banyak yang, ketika dinyalakan, mewujudkan tatanan berdaulat Varuṇa, keharmonisan Mitra, dan kekuatan kemenangan Indra. Himne ini memohon agar Agni melindungi pemuja dari rasa bersalah/dosa, ujaran permusuhan, serta bahaya yang tersembunyi maupun terang-terangan; sekaligus menolak kutukan dan memulihkan “yāma” — gerak/arah yang benar — menuju para Vasu, yakni kebaikan dan kemakmuran.
Sukta 5.4
Himne tradisi Ātreya ini memuji Agni sebagai vasupati (tuan harta-kekayaan) dan kuasa rajawi yang memimpin yajña, yang diseru dengan sukacita dalam adhvara (upacara persembahan). Himne ini memohon agar Agni memperhebat vāja (daya kemenangan dan kelimpahan), menjamin kejayaan di tengah pertikaian manusia, serta menegakkan dalam diri pemuja suatu “ruang-dunia yang menyenangkan” (syona loka) beserta kemakmuran yang luas—putra-putra, kekuatan, ternak, dan kesejahteraan.
Sukta 5.5
Kidung ini menyalakan Agni Jātavedas dengan ghee, memuji-Nya sebagai sang pengetahu yang bercahaya, pembawa persembahan, dan pembangkit tatanan benar (ṛta) dalam hidup sang pelaku yajña. Kidung bergerak dari tindakan persembahan yang nyata menuju harmoni kosmis yang lebih luas—terutama irama Malam dan Fajar sebagai “Ibu-ibu Ṛta”—dan berpuncak pada rumus-rumus svāhā yang memperluas persembahan kepada banyak dewa dan akhirnya kepada semua dewa.
Sukta 5.6
Kidung ini memuji Agni sebagai “rumah sejati” (astam) dan harta yang kepadanya segala daya pemelihara, energi yang cepat, dan kekuatan kemenangan secara alami bergerak. Kidung ini memohon agar Agni menggerakkan dan menyalakan daya-daya itu di dalam kurban, serta membawa pertambahan yang terus-menerus (iṣ) bagi para penyanyi—terutama daya kepahlawanan dan kelajuan laksana kuda.
Sukta 5.7
Kidung ini memanggil Agni sebagai daya ilahi yang paling kuat dan paling diidamkan di antara manusia, serta mendorong para pemuja untuk menyatukan niat (iṣ) dan pujian (stoma) agar kurban suci diarahkan dengan tepat. Agni dipuji sebagai penegak segala sesuatu, pembawa kemanisan dan kelimpahan yang meluas, dan kekuatan yang dengannya kuasa-kuasa bermusuhan (dasyu) ditundukkan dan kekuatan sejati diraih.
Sukta 5.8
Himne ini memuji Agni sebagai api yang senantiasa purba, dinyalakan oleh para pencari ṛta; sang tuan rumah yang bercahaya, yang menegakkan tatanan dan mengusung pemujaan. Himne ini memohon agar Agni menerima penghormatan para penyanyi, menyala dengan kayu penyulut yang terang, dan menolong manusia fana mengatasi rintangan duniawi melalui daya-Nya yang kian bertumbuh.
Sukta 5.9
Himne ini memanggil Agni sebagai Jātavedas—Api Yang Mahatahu, penerima persembahan yang mengantarkannya menempuh jalan ritus manusia menuju para dewa. Ia memuji bimbingan Agni yang membawa kebaikan serta kuasa-Nya yang menganugerahkan kekayaan, sambil mengakui bahwa bila tak terkendali Ia adalah daya yang sukar dijinakkan dan dapat melalap. Doa ini berpuncak pada permohonan akan kemakmuran yang menang, pertumbuhan, dan perlindungan dalam pertikaian.
Sukta 5.10
Himne Agni yang singkat ini memohon Sang Imam-Api agar membawa “ojishtha dyumna”—daya cahaya yang paling kuat—serta membuka jalan yang lapang menuju kemenangan, kekayaan, dan daya (vāja). Himne ini memuji mereka yang kata-kata ilhamnya menghiasi Agni dan yang, melalui bara batin (śuṣma), membangkitkan kemasyhuran yang luas; lalu ditutup dengan seruan kepada Agni sebagai Aṅgiras dan Hotṛ agar menganugerahkan kekayaan yang menaklukkan segalanya dan pertumbuhan di tengah pertikaian.
Sukta 5.11
Himne singkat kepada Agni ini menampilkan beliau sebagai penjaga rakyat yang senantiasa terjaga dan sebagai daya kependetaan yang bercahaya, yang menuntun kaum Bharata di jalan yang benar. Ditekankan kehadiran Agni yang universal “di setiap rumah”, perannya sebagai utusan ilahi dan pembawa persembahan, serta penemuan purbanya oleh para Angirasa: api tersembunyi yang dimunculkan melalui penggesekan (pengadukan) untuk menyalakan api.
Sukta 5.12
Himne Triṣṭubh yang singkat kepada Agni ini menampilkan “ucapan yang telah dimurnikan dengan baik” dari sang resi sebagai persembahan, memuji Agni sebagai Banteng (vṛṣan) yang luas dan pembawa kebenaran, yang menegakkan serta melindungi Ṛta dalam yajña. Himne ini bertanya: siapa yang membelenggu kekuatan-kekuatan musuh, siapa yang menjaga bagian Agni dari ketidakbenaran, dan siapa yang membuat “sabda” tetap aman—menyiratkan bahwa ritual yang tertata benar, tutur kata yang terdisiplin, dan penjagaan ilahi bersama-sama menjamin kemenangan serta tempat tinggal yang mantap bagi pemuja.
Sukta 5.13
Himne Agni yang singkat karya Atri ini memuji Api sebagai yang dibangunkan oleh nyanyian, Hotṛ terpilih yang membuat kurban yajña meluas dan manjur. Berulang kali ia mengaitkan pujian (arc-) dengan penyalaan, perlindungan, dan penarikan-dekat kemakmuran “beraneka warna”, menampilkan Agni sebagai poros yang menghimpun para dewa ke dalam ritus.
Sukta 5.14
Himne Agni yang singkat karya Atri ini memanggil Api agar terjaga melalui pujian dan penyalaan, supaya Agni membawa persembahan sang pelaku yajña ke dalam sidang para dewa. Agni dipuji sebagai cahaya yang baru lahir, penakluk kegelapan dan daya-daya permusuhan, yang merebut kembali “sapi/sinar”, perairan, dan langit yang bercahaya, serta dikuatkan oleh ghee, kidung-kidung, dan niat yang benar.
Sukta 5.15
Himne Agni yang singkat ini memuji dewa api sebagai Resi yang bijaksana dan purba, penopang kekayaan serta keteguhan, yang dinyalakan dan dijernihkan oleh ghee. Agni digambarkan senantiasa lahir kembali dalam siklus-siklus ritus, sebagai pelindung garang yang mengusir permusuhan, dan sebagai “jejak langkah tersembunyi di gua” yang membangunkan kelimpahan besar serta menuntun Atri melintasi kegelapan.
Sukta 5.16
Himne singkat karya Vasiṣṭha ini memuji Agni sebagai nyala yang bercahaya dan terus bertumbuh, yang oleh manusia ditempatkan “di depan” laksana Sahabat tepercaya dan penuntun. Himne ini memohon agar Agni menghimpun kekuatan bagi komunitas, melindungi dalam pertikaian, dan membawa vārya (kelimpahan yang diidamkan), serta menegakkan kedudukan yang aman dari svasti (kesejahteraan).
Sukta 5.17
Himne Agni yang singkat karya Vasiṣṭha ini mendekatkan pemuja fana kepada “Penolong” ilahi yang lebih perkasa melalui yajña yang tersusun baik, memuji Agni sebagai pelindung, penuntun, dan pemberi pertumbuhan. Agni digambarkan dengan citra kosmis yang bercahaya—berbusana nyala api, digerakkan oleh ujaran yang terilham—sementara sang penyair memohon agar ia menjaga kebaikan yang diinginkan, menganugerahkan kesejahteraan, dan menyala-nyala demi kekuatan dalam pertikaian.
Sukta 5.18
Himne singkat ini memuji Agni pada waktu fajar sebagai Atithi—Sang Tamu ilahi yang disambut ke dalam kediaman manusia melalui api dan persembahan. Agni diseru sebagai Yang Abadi yang berkenan pada persembahan kaum fana, melaju maju tanpa terluka laksana kereta, serta membesarkan kemasyhuran dan kemakmuran para dermawan yang murah hati.
Sukta 5.19
Kidung Agni yang singkat ini merenungkan kelahiran Api yang tersembunyi di dalam Sang Ibu—tersekap dalam selubung-selubung lalu tersingkap dalam wujud yang khas. Ia memuji daya Agni yang bercahaya dan menghidupkan, yang menumbuhkan komunitas serta kemakmuran; dan membangkitkan gambaran permainan dinamisnya sebagai sinar/nyala yang bergerak bersama angin dan abu, menajamkan kekuatannya untuk bertindak.
Sukta 5.20
Himne Agni yang singkat dari para resi Atri ini memanggil Agni sebagai penganugeraha kekayaan yang sungguh “layak didengar kabarnya” dan selaras dengan para dewa. Agni dipilih sebagai Hotṛ—yang purba, terdepan dalam kurban—yang menyempurnakan dakṣa (kecakapan yang benar/daya pembedaan) dan menuntun pemuja menuju kemakmuran yang berlandaskan ṛta, beserta cahaya (sapi/sinar) dan kekuatan kepahlawanan.
Sukta 5.21
Himne Agni yang singkat ini memanggil api “dengan cara manusia” (manuṣvat), memohon agar nyala kurban ditegakkan dan dinyalakan dengan benar sehingga dapat mengantarkan pemujaan kepada para dewa. Agni dipuji sebagai utusan (dūta) yang dipilih dengan suara bulat oleh semua dewa, dan didorong untuk menyala terang serta mengambil tempat duduknya di “rahim ṛta”, kebenaran tertata yang menopang pertumbuhan dan kemakmuran.
Sukta 5.22
Himne Atri yang singkat ini memanggil Agni sebagai nyala pemurni dan Hotṛ yang tercinta dalam yajña, memohon agar ia mengenali serta menerima ujaran para penyair yang lahir dari ilham. Agni ditampilkan sebagai pelindung ilahi yang dipilih, berakal budi tajam dan mampu membeda-bedakan, serta menonjolkan garis keturunan Atri sebagai mereka yang “meningkatkan” dan menghias Agni melalui stoma dan gīra. Tujuannya bersifat liturgis dan devosional: menyalakan kehadiran Agni, memperoleh pertolongannya, dan memastikan yajña berlangsung di bawah tuntunan cahayanya yang gemilang.
Sukta 5.23
Himne Agni yang singkat ini memohon agar Dewa Api membawa “sahantama”—kekayaan paling menaklukkan dan bercahaya (rayi, dyumna) yang maju menekan daya-daya permusuhan. Agni ditampilkan sebagai Hotṛ terkasih yang dicari oleh semua bangsa, dan ditutup dengan permohonan langsung agar Agni menyala terang di rumah para pemuja, menganugerahkan kemakmuran serta perlindungan.
Sukta 5.24
Kidung Agni yang singkat ini adalah doa perlindungan: sang penyair memohon agar Agni menjadi kehadiran yang paling dekat (antama) dan perlindungan yang teguh (varūthya) bagi para pemuja. Agni diseru untuk bangkit, mendengar panggilan, meluaskan daya penjagaannya, dan menyelamatkan komunitas dari niat bermusuhan. Sukta ini berpuncak pada permohonan akan anugerah Agni serta kesejahteraan yang mujur bagi para sahabat yang terlibat dalam karya suci.
Sukta 5.25
Himne ini memuji Agni sebagai penolong ilahi yang menganugerahkan kekayaan, kemasyhuran, dan keturunan yang kuat kepada sang pemersembah yang tulus, sekaligus melindungi pemuja dari kekuatan-kekuatan yang memusuhi. Agni diseru sebagai daya yang benar, lahir dari sang pelihat, yang “menyeberangkan” bhakta melampaui permusuhan laksana kapal melintasi perairan berbahaya. Tujuan keseluruhannya bersifat ritual (persembahan berhasil dan berkat tercurah) sekaligus protektif (lintasan aman melampaui segala perlawanan).
Sukta 5.26
Himne ini memanggil Agni sebagai pemurni yang bercahaya dan imam ilahi, yang “lidah”-nya mengusung persembahan serta memanggil para dewa ke upacara kurban. Himne ini memohon agar Agni mendudukkan para dewa di atas barhis suci (tempat duduk ritual) dan membawa kekuatan serta daya hidup kepahlawanan (suvīrya) kepada pemuja yang sedang memeras soma. Bagian penutup memperluas undangan kepada sidang ilahi yang lengkap—Maruts, Aśvins, Mitra, Varuṇa, dan semua dewa—menandai suatu ritus yang utuh dan dipersiapkan dengan baik.
Sukta 5.27
Kidung singkat ini memuji Agni sebagai Vaiśvānara—Api semesta dan daya kewibawaan yang menampakkan kemakmuran serta tatanan yang benar di dunia. Kebesaran Agni dibingkai melalui konteks derma/pemberi (Tri-aruṇa) dan mengaitkan kemanjuran kidung dengan sabda kurban (ṛc/vāc) serta latar upacara Aśvamedha, lalu berpuncak pada seruan bersama kepada Indra–Agni untuk menegakkan kṣatra (kekuatan kedaulatan).
Sukta 5.28
Himne singkat ini memuji Agni sebagai nyala yang telah dinyalakan, menjulang hingga menyentuh langit; cahayanya berjumpa dengan Uṣas (Fajar) ketika ia datang dari Timur membawa segala anugerah yang diidamkan. Himne ini mengaitkan kebangkitan dunia dalam terang fajar dengan kebangkitan yajña (kurban suci), serta mendorong para pemuja memilih Agni sebagai havyavāhana—pengangkut persembahan yang pasti kepada para dewa.
Sukta 5.29
Himne ini memuji Indra sebagai pemimpin Marut yang teguh dan mahatahu, merayakan kuasa-Nya yang menata tatanan dunia serta kemenangan-Nya yang menentukan atas Sang Ular (Ahi), arketipe segala penghalang. Motif “tiga” diulang-ulang (ketetapan Aryaman, ranah-ranah bercahaya, serta aliran/air) untuk membingkai kemenangan Indra sebagai pemulihan keteraturan kosmis dan pelepasan air serta cahaya yang menghidupkan. Sang resi menutup dengan mempersembahkan brahman yang baru ditempa (kriya himne) kepada Indra, menyamakan doa itu dengan pakaian yang dijahit rapi dan kereta yang dibangun kokoh serta indah.
Sukta 5.30
Himne ini memuji Indra sebagai pahlawan yang datang dengan cepat, pencinta Soma, yang menjawab seruan dan menghancurkan kekuatan-kekuatan musuh, terutama pasukan Dasyu yang menghalangi cahaya, ternak sapi, dan kemakmuran. Pujian dirajut dengan citra pertempuran yang hidup—Indra maju bertempur, menyingkap “sapi-sapi” yang tersembunyi (kekayaan/cahaya)—dan ditutup dengan ingatan sang resi akan hasil-hasil nyata yang diperoleh serta tanda-tanda ritual kemenangan.
Sukta 5.31
Himne ini memuji Indra sebagai daya tak tertahankan yang menaiki kereta perang: ia membersihkan jalan, menata “kawanan” (kekayaan dan energi), dan memimpin dengan selamat di barisan depan. Himne ini mengingat kemenangan-kemenangan tegasnya atas Ahi/Vṛtra serta māyā-māyā menipu milik Śuṣṇa, menegaskan bahwa Indra memecah rintangan, mengusir para Dasyu, dan menegakkan kekuatan di tengah para pemujanya. Doa ini berpuncak pada berkat perlindungan: semoga mereka yang bersukacita dalam Indra dijauhkan dari mara bahaya dan dianugerahi ojas (daya hidup).
Sukta 5.32
Kidung ini memuji Indra sebagai pemecah segala rintangan: ia membelah gunung, melepaskan air yang tertahan, dan menumbangkan Dānava yang menahan aliran-aliran pemberi hidup. Kidung ini merayakan kedahsyatan vajra Indra yang tak tertahankan sebagai tindakan kosmis yang memulihkan ṛta (tatanan yang benar) dan memungkinkan kemakmuran bagi para resi serta komunitas mereka. Nada penutup menjadi reflektif, mempertanyakan mengapa mereka yang berbakti kepada brahman (sabda/ritus suci) pernah berusaha mengekang pemberian Indra yang murah hati dan tepat menurut musim.
Sukta 5.33
Kidung Atri ini memuji kekuatan Indra yang tiada banding serta pertolongan-Nya yang memenangkan pertempuran, memohon agar Ia membangkitkan “sumati” (budi/niat yang baik) dan membawa daya kemenangan kepada para pemuja. Kidung ini mengingat kedahsyatan Indra yang menghancurkan ular, serta anugerah kekayaan-Nya yang penuh kemurahan; kemakmuran dipahami sebagai suatu “penghimpunan” yang dituntun ilahi, laksana sapi-sapi masuk ke kandang yang aman dan kokoh.
Sukta 5.34
RV 5.34 adalah himne Atri yang memanggil Indra melalui pemerasan Soma, memujinya sebagai ajātaśatru (“tidak terlahir untuk permusuhan”) dan brahma-vāhas (“pembawa Sabda”). Himne ini membandingkan para pemeras Soma yang berdisiplin dan mempersembahkan kurban dengan mereka yang tidak memeras Soma, serta menampilkan Indra sebagai daya yang menggerakkan tatanan kosmis, menundukkan kekuatan-kekuatan penghalang, dan mendorong yajña maju menuju kemenangan dan pertambahan.
Sukta 5.35
Himne Indra dalam tradisi Atri ini memohon agar sang dewa membawa “ketetapan/tekad yang paling manjur” (kratu) sebagai pertolongan yang aktif, mengubahnya menjadi daya kemenangan bagi para pemuja dalam perlombaan dan pergulatan sehari-hari. Himne ini juga memohon Indra menekan dorongan-dorongan yang memusuhi dan bermaksud jahat, serta menjaga kereta para penyanyi—lambang gerak maju mereka—agar pujian dan kemasyhuran mereka ditegakkan “di surga”, yakni di ranah terang kebenaran.
Sukta 5.36
Kidung ini merupakan undangan Soma yang mendesak, memanggil Indra—yang mengetahui dan menganugerahkan harta—agar datang ke tempat pemerasan dan meminum Soma yang telah disiapkan dengan baik. Penyair memperkuat seruan itu dengan citra ritual yang hidup (batu pemeras, Soma yang diperah bercampur susu) serta memohon kepada Indra agar menganugerahkan kekayaan dari “kiri dan kanan”, dan menutup dengan menyebut daya muda Indra serta keterkaitannya dengan para Marut.
Sukta 5.37
Sinopsis singkat himne Indra ini memuji orang yang “memeras Soma bagi Indra”, menggambarkan sang pelaksana yajña itu bergerak dengan cahaya surya, sementara para Fajar membuka jalan yang pasti bagi ritusnya. Daya kereta kemenangan Indra menghimpun banyak kekuatan di sekeliling-Nya, dan himne ini menjanjikan keutuhan—damai pada masa tenteram dan kemenangan dalam pertikaian—bagi pemberi Soma yang meraih perkenan Surya dan Agni.
Sukta 5.38
Himne singkat kepada Indra ini memuji keluasan kedermawanan-Nya dan daya perlindungan-Nya yang menjangkau jauh, memohon agar Ia menambah “dyumnā” bagi para pemuja—kekuatan-kekuatan bercahaya dan energi kemenangan. Himne ini mengingatkan kedahsyatan daya-gagah (śuṣma) Indra yang menguasai langit dan hamparan bumi yang bergerak demi para bhakta, dan berpuncak pada permohonan agar dapat berdiam dengan aman dalam naungan perlindungan (śarman)‑Nya, terjaga baik oleh pertolongan-Nya.
Sukta 5.39
Himne Atri yang singkat kepada Indra ini memohon sang dewa kuasa kemenangan agar mencurahkan kekayaan dan kekuatan yang “terang, meluap” tanpa kikir, membawa kemakmuran “dengan kedua tangan.” Ia menekankan kehendak Indra yang termasyhur untuk memberi (prarādhyam) yang dapat membuat bahkan yang teguh pun mengalah, dan berpuncak pada tindakan pujian yang sadar-diri dan tersucikan dari para Atri—ucapan yang dibuat bercahaya sebagai daya pembawa brahman.
Sukta 5.40
Kidung ini memanggil Indra sebagai penguasa Soma dan pembunuh Vṛtra yang paling unggul agar segera datang kepada Soma yang telah diperas dan menganugerahkan kepada pelaksana yajña kekuatan kemenangan. Lalu terungkap kisah Atri yang termasyhur: raksasa Svàrbhānu menyelubungi Sūrya dalam kegelapan, dunia-dunia jatuh ke dalam kekacauan, dan para Atri—melalui wawasan batin serta daya-mantra—menemukan kembali Matahari yang tersembunyi, memulihkan cahaya dan tatanan.
Sukta 5.41
RV 5.41 adalah doa yang luas cakupannya, dimulai dengan memohon Mitra–Varuṇa sebagai penjaga Ṛta (tatanan kosmis) agar melindungi pelaku yajña serta menganugerahkan kekuatan, kemakmuran, dan perjalanan yang selamat. Seiring himne berkembang, ia meluas menjadi seruan hampir “segala daya”, memanggil dewa-dewa lain dan para penjaga alam (Air, Tumbuhan, Langit, hutan, gunung) demi penyembuhan, perlindungan, dan kesejahteraan; lalu ditutup dengan harapan singkat agar kelimpahan yang menyehatkan dicurahkan kepada para pemuja.
Sukta 5.42
RV 5.42 adalah kidung yang luas tentang perlindungan dan kemakmuran, mengirim doa “pembawa damai” kepada para Āditya—terutama Varuṇa, Mitra, Bhaga, dan Aditi—memohon tatanan yang benar, perjalanan yang selamat, dan kesejahteraan. Kidung ini juga memanggil kekuatan ilahi sekutu (terutama Marut dan pasangan Aśvin) untuk menolak daya-daya bermusuhan serta menghadirkan kekayaan, kekuatan, dan keberuntungan “tak-mati” bagi pemuja dan komunitas
Sukta 5.43
RV 5.43 adalah seruan yang luas kepada Viśve Devāḥ (para dewa semuanya), dibayangkan sebagai daya-daya pemelihara dan pembawa sukacita yang mencurahkan “susu dan madu” kelimpahan ke dalam hidup sang pelaku yajña. Himne ini menelusuri para penolong ilahi utama (terutama Pūṣan dan Vāyu, dan ditutup dengan Aśvin), memohon rayi (kepenuhan/kemakmuran), vāja (daya yang efektif dan kemenangan), tuntunan, perlindungan, serta keberuntungan “tak-mati” yang lestari.
Sukta 5.44
Himne ini memuji Agni sebagai daya kependetaan yang paling purba namun senantiasa diperbarui—duduk di atas barhiṣ, “penemu alam-alam surya,” dan ditarik keluar (“diperas”) oleh ujaran yang terilham. Nyanyian bergerak dari pemanggilan Agni menurut tata kurban tradisional menuju penggambaran dirinya sebagai pelindung bercahaya yang menaklukkan kekuatan-kekuatan penipu, lalu berpuncak pada pernyataan bahwa Agni telah terjaga, dan bahwa Ṛk, Sāman, serta Soma semuanya berpusat padanya sebagai sahabat dan kawan-sekediaman
Sukta 5.45
Himne dalam tradisi Atri ini memuji kompleks Fajar–Matahari (Uṣas–Sūrya) sebagai daya bercahaya yang membelah kegelapan, “membuka pintu-pintu” bagi manusia, dan menuntun pelaku yajña naik menuju svarga/cahaya. Kidung ini berulang kali menempatkan dhī (kecerdasan ilham) sebagai daya operatif yang dengannya “sapi/cahaya” yang tersembunyi dilepaskan, para Navagva menuntaskan lintasan/perjalanan mereka, dan pemuja memperoleh perlindungan ilahi serta kebebasan dari kesusahan.
Sukta 5.46
Himne dari tradisi Ātreya ini memanggil Viśve Devāḥ sebagai kekuatan-kekuatan yang terkoordinasi untuk membimbing, melindungi, dan mengarahkan gerak yang benar menurut ṛta bagi perjalanan sang pelaku yajña. Ia dibuka dengan citra yang mencolok tentang “yang mengetahui” batin (vidvān) yang memasang kekang pada dirinya sendiri laksana seekor kuda tunggangan untuk menuntun lurus di jalan-jalan, lalu meluas menjadi seruan yang merangkul Marut, Bṛhaspati, Pūṣan, dan para Āditya, dan akhirnya membangunkan Devapatnī (para dewi-pasangan) agar irama ilahi mulai bergerak.
Sukta 5.47
Sinopsis himne Atri yang singkat ini memanggil suatu daya kosmis feminin yang misterius—sering dibaca melalui citra Uṣas (Fajar) atau suatu prinsip Ibu Agung—yang “membangunkan” dan memanggil para Pitṛ (Bapa/leluhur) ke tempat duduk mereka dalam ritus. Lalu himne beralih ke teka-teki kosmologis yang padat (angka-angka dan “sapi-sapi cahaya”) yang menggambarkan pengandungan dunia yang tertata, dan ditutup dengan doa bagi kesejahteraan, pijakan yang teguh, serta perjalanan yang aman di bawah naungan Mitra–Varuṇa, Agni, dan Langit yang Mahaluas.
Sukta 5.48
Himne singkat ini merenungkan suatu daya “māyinī/māyin” — kekuatan pembentuk yang bersifat maya — yang menghimpun air di dalam awan dan membentangkan ranah yang luas, seraya juga membangkitkan gambaran daya pemegang wajra (petir) yang menata siang dan malam. Pada akhirnya, himne ini menyebut Varuṇa sebagai daya yang berbusana indah, bermuka empat, yang keluasannya tak terukur; darinya para dewa yang membagi dan yang menggerakkan (Bhaga dan Savitṛ) menganugerahkan kekayaan yang diidamkan.
Sukta 5.49
Himne singkat ini memohon Savitṛ dan Bhaga sebagai para pembagi harta yang menumbuhkan kehidupan, sambil mengundang kedua Aśvin sebagai sahabat dan penolong harian. Lalu pujian meluas menjadi sanjungan bersama kepada beberapa dewa yang menghadirkan hari-hari mujur dan menyingkirkan rintangan, dan ditutup dengan doa memohon jalan yang lebih lapang serta sokongan pemelihara dari Langit dan Bumi.
Sukta 5.50
Himne Atri yang singkat ini memanggil Deva sebagai Netṛ—Sang Penuntun ilahi—yang menuntun manusia di jalan yang benar, menganugerahkan persahabatan, perlindungan, serta pertambahan rayi (substansi/kekayaan) dan dyumna (daya bercahaya). Himne ini memadukan aspirasi pribadi—memilih kebersamaan dengan Sang Pemimpin—dengan doa ritual-sosial agar para tamu disambut baik dan para patnī (daya-daya pendamping/sekutu penopang) dihormati, sambil menghalau permusuhan dari jalan. Puncaknya adalah berkat damai (śam) yang dikaitkan dengan tuan kereta yang mengemudikan gerak dengan selamat menuju kesejahteraan (svasti).
Sukta 5.51
Kidung ini merupakan pujian undangan kepada Agni sebagai api imam, yang menghadirkan para dewa ke pemerasan Soma dan memastikan persembahan tersampaikan dengan tepat. Berulang kali ditekankan keselarasan (sajūḥ) di antara para dewa—Mitra–Varuṇa, Soma, Viṣṇu, dan Viśve Devāḥ—agar kurban menjadi satu tindakan yang tunggal dan harmonis. Bagian penutup bernada berkat, memohon jalan yang aman dan tertib seperti Matahari dan Bulan, serta suatu komunitas yang memberi, mengetahui, dan kembali bersatu dalam kesejahteraan
Sukta 5.52
Kidung ini merupakan seruan yang penuh daya kepada para Marut—dewa-dewa badai yang muda—memuji kemuliaan mereka yang lurus tanpa tipu daya, kekuatan yang menggelegar, serta kereta-kereta cepat yang meremukkan rintangan dan melepaskan kelimpahan. Kidung ini memohon agar mereka datang ke kurban, meneguhkan kemasyhuran dan perlindungan sang penyanyi, serta menganugerahkan rādhas (anugerah) seperti sapi, kuda, dan daya kemenangan. Citraannya bergerak antara aksi badai kosmis (awan, batu, sungai) dan kebangkitan batin berupa gairah serta keberanian dalam diri pemuja.
Sukta 5.53
RV 5.53 adalah kidung pujian yang penuh daya kepada para Marut, rombongan dewa badai, merayakan laju mereka di atas kereta, kemilau yang menggelegar laksana guntur, serta hujan yang menghidupkan. Sang penyair memohon agar mereka bergerak tanpa rintangan melintasi sungai-sungai dan berbagai wilayah, berpihak pada pemimpin yang benar (Sudāsa), dan menganugerahkan perlindungan, kekuatan, serta anugerah yang membawa keberuntungan bagi komunitas para pemuja.
Sukta 5.54
RV 5.54 adalah kidung Atri yang menyeru para Marut—pasukan badai seterang kilat, pengguncang gunung—yang maju dengan gemuruh guntur, menyingkirkan rintangan dan membangkitkan daya dunia. Sang penyair memuji kekuatan mereka yang menjangkau jauh—secepat lintasan Matahari—seraya memohon kehadiran pelindung, daya kemenangan, dan pertolongan yang selaras dengan ṛta (tatanan kebenaran) dalam pergulatan melawan kuasa-kuasa yang memusuhi.
Sukta 5.55
Himne ini memuji para Marut sebagai dewa-dewa badai yang bercahaya, bersenjata lengkap, melaju cepat dengan kuda-kuda yang terpasang baik, dan kereta mereka bergerak di jalan yang mujur. Himne ini memohon agar mereka menyingkirkan permusuhan dan mara bahaya, menuntun para pemuja menuju yang lebih baik (vasyaḥ), serta menerima persembahan supaya komunitas memperoleh kelimpahan (rayi) dan kesejahteraan.
Sukta 5.56
Himne ini memanggil para Marut—pasukan badai milik Indra—turun dari langit yang bercahaya ke tengah komunitas manusia, dengan Agni dipuja sebagai perantara yang menuntun turunnya mereka dan menjadikan kehadiran mereka berdaya guna secara ritual. Himne ini memuji kesatuan mereka yang rapat, kemilau mereka, dan dorongan maju yang tak tertahankan, seraya memohon agar kedatangan mereka melepaskan kelimpahan, dorongan yang benar, dan keberuntungan yang murah hati bagi sang pelaksana kurban.
Sukta 5.57
Himne Atri ini memanggil para Marut—putra-putra Rudra, “dikaruniai Indra”—agar datang dalam kemilau yang padu di atas kereta-kereta emas dan menganugerahkan kesejahteraan. Himne ini memuji daya mereka yang bercahaya laksana badai serta anugerah mereka yang dermawan dan tak terselubung, menampilkan mereka sebagai penjaga ṛta (tatanan kosmis) yang mendengar kebenaran dan mengangkat doa sang penyanyi.
Sukta 5.58
RV 5.58 adalah pujian Atri yang penuh daya kepada para Marut sebagai satu pasukan badai yang menyatu—senantiasa diperbarui, menunggang dengan cepat, dan berdaulat dalam tatanan abadi. Himne ini meninggikan kuasa mereka yang meluap-impulsif serta kesanggupan mereka mendengar kebenaran, lalu mengubah kuasa itu menjadi permohonan: semoga para Marut berkenan, memperkaya sang pelaksana yajña, dan meluaskan “keluasan” batin pemuja selaras dengan ṛta.
Sukta 5.59
Himne ini memuji para Marut sebagai bala badai yang menggetarkan, yang datang menerjang hingga bumi bergetar, dan terbang teratur laksana burung melintasi punggung-punggung langit. Ia merayakan keelokan dan kemegahan keprajuritan mereka, kuda-kuda yang tangkas, serta kuasa mereka melonggarkan gumpalan awan dari gunung, melepaskan hujan dan meluaskan ruang bagi kehidupan dan bagi kurban suci.
Sukta 5.60
Himne ini memanggil Agni sebagai imam yang arif, duduk pada tempat yang semestinya, yang “menyortir” dan menyempurnakan karya pemuja; lalu menarik para Marut ke dalam ritus sebagai daya dinamis yang mengusung pujian maju laksana kereta-kereta kemenangan. Bergerak antara tatanan kurban (Agni) dan ilham yang menggelegar (Marut), himne ini berpuncak pada minum Soma bersama: Agni Vaiśvānara bersukacita bersama rombongan Marut di cakrawala-depan yang bercahaya, meneguhkan kemakmuran, dorongan yang benar, dan persembahan yang berhasil.
Sukta 5.61
Kidung ini menyapa para Marut sebagai rombongan pahlawan yang datang dari penjuru terjauh, menanyakan jati diri mereka dan mengundang kehadiran mereka yang melindungi. Ia merayakan daya mereka yang cepat laksana badai, kemampuan mereka menganugerahkan kelimpahan (sapi, kekuatan, dan “arus” pemeliharaan), serta peran mereka sebagai sekutu yang menolong sang penyanyi menyeberangi rintangan. Nada penutup menyinggung motif Weda yang lebih luas: lintasan kereta yang dermawan bergerak mengikuti “sapi-sapi” bercahaya (sinar/kekayaan), menambatkan anugerah Marut pada tatanan kosmis.
Sukta 5.62
Himne ini memuji Mitra dan Varuṇa sebagai sepasang penopang ṛta (tatanan kosmis), yang kedaulatannya tampak paling jelas dalam lintasan Surya dan tata kelola dunia-dunia yang tanpa cela. Himne ini memohon agar keduanya menjaga pemuja dengan perlindungan yang tak terputus, meluaskan kecerdasan yang terilhami, serta menganugerahkan kemenangan dan kesejahteraan melalui pemerintahan mereka yang adil dan bercahaya.
Sukta 5.63
Himne ini memuji Mitra dan Varuṇa sebagai penjaga Ṛta (tatanan kosmis) yang senantiasa waspada, bertakhta di langit tertinggi serta menegakkan hukum kebenaran dan tata-aturan suci. Pemerintahan mereka dihubungkan dengan proses kosmis yang tampak—terutama perjalanan Matahari dan turunnya hujan—menunjukkan bahwa tatanan ilahi menjelma menjadi pangan, kemakmuran, dan keteguhan moral bagi mereka yang dikaruniai perkenan.
Sukta 5.64
Kidung singkat ini memanggil Mitra dan Varuṇa bersama-sama sebagai penguasa pelindung yang mengepung pemuja bagaikan batas sebuah kandang, menjaga kehidupan di dalam cahaya luas langit. Kidung ini memohon agar keduanya menerima pujian yang terukur dengan tepat, dan segera datang kepada Soma yang telah diperas saat api persembahan dinyalakan, meluaskan anugerah kepada para dermawan pelindung dan para penyanyi pujian. Secara keseluruhan, kidung ini memadukan tatanan kosmis (ṛta), keharmonisan sosial, dan kedekatan ritus menjadi doa ringkas untuk perlindungan dan hidup yang benar.
Sukta 5.65
Himne singkat kepada Mitra–Varuṇa ini memohon ujaran yang terilhami dan bimbingan yang benar dari para Āditya, para penegak ṛta (tatanan kosmis). Ia memuji kuasa Mitra yang membuka “jalan yang lebar” keluar dari kesesakan, serta memohon agar pasangan ilahi itu bersatu dan menuntun umat, melindungi para resi dan para dermawan dalam lingkup perlindungan yang kokoh.
Sukta 5.66
Himne singkat karya Atri ini memanggil Mitra–Varuṇa, dengan penekanan kuat pada Varuṇa sebagai ṛta-peśas—“yang wujud/jubahnya adalah ṛta (tatanan kosmis).” Himne ini mendorong pemuja yang fana untuk terjaga terhadap bimbingan mereka yang berpandangan jauh, mempersembahkan dengan tepat, dan menerima perlindungan, kejernihan, serta gerak menuju kedaulatan batin (svarājya). Sepanjang bait-baitnya, pasangan ini dipuji sebagai kavi—para pelihat—yang menerangi bangsa-bangsa melalui ketu (tanda bercahaya) dan menegakkan Dakṣa serta ṛta dengan daya-daya menakjubkan.
Sukta 5.67
Himne singkat ini memuji para Āditya—terutama Varuṇa, Mitra, dan Aryaman—sebagai para penegak ṛta (tatanan kosmis) yang mahatahu, yang titah luasnya menganugerahkan kedaulatan sejati (kṣatra) dan perlindungan. Himne ini menekankan gerak mereka yang mantap dalam hukum-hukum yang tetap (vrata) serta kuasa mereka menjaga manusia fana dari mara bahaya, sementara pikiran ilham (mati) sang resi Atri mendesak menuju mereka dalam pemujaan.
Sukta 5.68
Himne singkat ini memuji Mitra dan Varuṇa sebagai para penguasa agung (mahi-kṣatrau) yang menegakkan ṛta, Kebenaran–Tatanan kosmis yang luas. Himne ini memohon agar keduanya memberdayakan para pemuja dengan kelimpahan duniawi maupun surgawi, serta menggambarkan karya mereka melalui hujan, air yang mengalir, dan daya-nutrisi yang menumbuhkan, yang membentuk sebuah “landasan yang luas” bagi kepenuhan dan kemakmuran.
Sukta 5.69
Himne Atri yang singkat ini memuji Mitra dan Varuṇa sebagai para Āditya yang menopang tiga alam bercahaya dan menegakkan titah kosmis yang teguh tak tergoyahkan (vratāni). Himne ini memohon agar keduanya melindungi Hukum ilahi, menyingkirkan nasihat yang bengkok atau menyesatkan dari pemerintahan dan masyarakat, serta menganugerahkan kesejahteraan, kemakmuran (rāyí), dan kedamaian bagi keluarga dan keturunan.
Sukta 5.70
Himne Anuṣṭubh yang ringkas ini memanggil Mitra–Varuṇa sebagai penolong yang hadir, yang bimbingan tertib dan bercahaya (sumati) dapat mengantar pemuja melampaui luka, kesukaran, dan rintangan batin. Dipohonkan perlindungan, daya penjagaan yang efektif, serta kemenangan atas kekuatan dasyu (kegelapan, kekacauan), dan ditutup dengan permohonan agar dijauhkan dari segala derita yang membahayakan (yakṣa) pada tubuh dan daya hidup.
Sukta 5.71
Himne Gāyatrī yang singkat ini mengundang Mitra dan Varuṇa mendekat ke kurban sebagai para pelindung yang menolak daya-daya yang melukai dan menegakkan jalan yang benar dari adhvara. Keduanya dipuji sebagai penguasa mahatahu, dan dipohon agar memperluas serta meneguhkan dhiḥ (wawasan/intuisi) sang pemuja. Himne ini berpuncak pada undangan Soma yang jelas: semoga pasangan ilahi itu datang dan meminum, menegakkan tatanan batin dan sukacita.
Sukta 5.72
Himne Triṣṭubh yang singkat ini memanggil Mitra dan Varuṇa, dengan meneladani preseden Atri (disebut secara eksplisit sebagai atrivat), mengundang mereka untuk “duduk di atas barhis” dan menikmati Soma dalam kurban. Himne ini memuji pemerintahan mereka yang teguh melalui vrata (ketetapan yang mengikat) dan dharma, memohon agar mereka meneguhkan kedamaian, menahan daya-daya yang mengacau, serta berkenan pada yajña demi kebaikan yang dipilih oleh pemuja (iṣṭi).
Sukta 5.73
Kidung ini merupakan undangan yang mendesak kepada kedua Aśvin agar datang dari alam mana pun mereka bersemayam—jauh, dekat, atau di ruang antara—serta menganugerahkan pertolongan yang cepat dan berlimpah kepada para pemuja. Kidung ini mengingatkan ikatan akrab mereka dengan para resi yang terilhami (terutama Atri) dan dengan “gharma” (persembahan hangat bercahaya), sambil memuji kedatangan mereka yang secepat kereta serta kemurahan penyembuhan. Bait penutup membingkai kidung ini sendiri sebagai ujaran yang ditempa dengan saksama, dipersembahkan sebagai penghormatan yang kian meluas untuk mendatangkan damai dan pertambahan
Sukta 5.74
Kidung ini adalah seruan fajar yang mendesak dari Atri kepada kedua Aśvin (Nā́satyā), memohon agar si kembar penyembuh yang tangkas mendengar panggilannya dan datang membawa perlindungan, pertolongan, serta kemakmuran. Kidung ini menekankan kehadiran mereka yang teguh dan selalu siap, ketanggapan mereka terhadap pujian, serta “pencurahan” anugerah yang nyata—kekuatan, kenikmatan, dan sokongan—ketika mereka menerima panggilan itu.
Sukta 5.75
Kidung ini merupakan seruan pada waktu fajar kepada kedua Aśvinau, mengundang kereta kesayangan mereka yang membawa harta ke upacara kurban serta memohon agar mereka mendengar panggilan penyair yang “manis seperti madu”. Kidung ini mengingatkan kembali penyelamatan dan pemulihan termasyhur mereka (seperti kisah Cyavāna), menampilkan Aśvin sebagai tabib dan penyelamat yang tangkas, yang datang bersama cahaya pertama dan memperbarui kekuatan, kemakmuran, serta tatanan yang benar bagi pemuja.
Sukta 5.76
Himne Aśvin yang singkat ini dibuka dengan kemunculan Agni dalam cahaya fajar dan bangkitnya ujaran terilham yang mengarah kepada para dewa, lalu dengan mendesak mengundang Aśvin agar memutar kereta mereka menuju gharmá yang telah disiapkan—minuman hangat yang menyegarkan dan menguatkan. Nyanyian ini memanggil Sang Kembar Penyembuh untuk datang pada setiap saat peralihan—pagi, tengah hari, siang dan malam—agar minuman pembawa sukacita dan perlindungan mereka tak pernah terputus. Himne ini berpuncak pada doa agar dapat menempuh perjalanan selaras dengan pertolongan mereka yang “senantiasa baru”, serta memperoleh kekayaan, daya kepahlawanan, dan keberuntungan yang lestari
Sukta 5.77
Himne Aśvin yang singkat ini merupakan seruan saat fajar, mendesak para pemuja untuk memanggil Sang Penunggang Kembar terlebih dahulu ketika hari mulai merekah, agar mereka segera tiba dan meminum soma sebelum kekuatan-kekuatan bermusuhan yang “rakus” menghalangi ritus. Himne ini memuji kereta mereka yang bercahaya serta pertolongan yang secepat pikiran, menerjang seperti angin, yang membawa sang pemuja melampaui kesusahan; dan ditutup dengan doa memohon perlindungan yang senantiasa baru, kemakmuran (rayi), daya kepahlawanan, dan keberuntungan yang lestari.
Sukta 5.78
Himne ini merupakan seruan mendesak kepada Aśvin (Nāsatyā), tabib ilahi yang tangkas, agar segera datang ke persembahan Soma dan tidak berpaling. Pusatnya ialah perlindungan dan keberhasilan persalinan—memohon agar rahim terbuka pada waktunya, dan agar ibu serta anak keluar hidup, selamat, tanpa cedera; dengan mengingat kembali motif penyelamatan (Saptavadhri) yang menegaskan daya penyembuhan Aśvin.
Sukta 5.79
Kidung ini merupakan seruan yang langsung dan akrab kepada Uṣas (Fajar) agar membangunkan para pelaksana yajña dan menuntun mereka menuju kelimpahan (rāyī), kekuatan, serta tindakan yang benar. Fajar dipuji sebagai yang senantiasa diperbarui, tak pernah gagal dalam sinarnya, dan sebagai pemberi kemasyhuran kepahlawanan, daya-daya yang cepat, serta ujaran terilham bagi para penyanyi dan para dermawan pelindung.
Sukta 5.80
RV 5.80 adalah kidung tentang fajar, di mana para resi Atri memuji Uṣas sebagai daya yang luas, merah-bercahaya, yang menampakkan dunia selaras dengan ṛta (tatanan kosmis). Himne ini merayakan penyingkapan cahaya yang tertib olehnya, bimbingannya yang “tidak mengacaukan arah-arah”, serta kembalinya yang berulang yang memperbarui kehidupan, pekerjaan, dan aspirasi rohani.
Sukta 5.81
Kidung singkat kepada Savitṛ ini memuji Sang Penggerak ilahi yang “memasang kuk” pada budi dan wawasan para resi, menata daya-daya ritus dalam tatanan yang benar, dan membuat semua dewa bergerak mengikuti gerak maju-Nya. Savitṛ dirayakan sebagai pengukur dunia-dunia dan sebagai penguasa yang meresapi seluruh proses menjadi, menuntun makhluk-makhluk dengan selamat sebagai penginisiasi tindakan, baik batin maupun lahir. Kidung ini berpuncak dengan menegaskan Savitṛ sebagai satu-satunya tuan prasava (impulsi/dorongan), dan dalam perjalanan-perjalanan-Nya sebagai Pūṣan—penuntun sekaligus pemelihara—yang diundang untuk menerima stoma (pujian).
Sukta 5.82
Kidung ini merupakan doa kepada Savitṛ, Sang Penggerak ilahi, agar menganugerahkan santapan terbaik, gerak yang benar, dan takdir yang mujur; Bhaga dipanggil sebagai daya Savitṛ untuk pembagian anugerah dan kebahagiaan. Kidung ini memohon agar segala kesesatan dan malapetaka (duritāni) diusir, dan agar yang sungguh baik (bhadram) didorong masuk ke dalam diri para pemuja. Sukta ini juga memuji Savitṛ sebagai daya kosmis yang menampakkan semua makhluk dan segala kelahiran, serta membuatnya “terdengar” melalui ujaran yang terilhami
Sukta 5.83
Kidung ini merupakan seruan yang penuh gairah kepada Parjanya, daya hujan dalam Weda, agar menggelegar dengan guruh, melepaskan air, dan membuahi bumi sehingga tumbuh-tumbuhan obat dan pangan muncul. Hujan digambarkan sebagai benih kehidupan yang ditanamkan ke dalam tanaman dan tanah, sambil memohon perlindungan, kesuburan, dan jalan selamat melampaui kemarau serta kemandulan.
Sukta 5.84
Himne Atri yang singkat ini menyapa suatu daya yang cepat dan mengembara, dipuja oleh nyanyian malam, serta dipuji karena menggerakkan kelimpahan dan tenaga laksana kuda perang yang meringkik. Bait ini berfungsi sebagai seruan pemanggilan yang menggugah: ia “memanggil” kilau yang bergerak/energi badai (disebut atau diberi epitet Arjunī) agar menampakkan daya hidup, momentum, dan kelimpahan yang menang bagi pemuja.
Sukta 5.85
Himne ini memuji Varuṇa sebagai penguasa yang menegakkan ṛta (tatanan kosmis dan moral), yang mengukur langit dan bumi serta menetapkan lintasan-lintasan Matahari. Nyanyian bergerak dari rasa takzim kagum terhadap “māyā” Varuṇa yang luas (daya efektif untuk menata dan mengatur) menuju doa pertobatan: semoga segala kesalahan, yang tampak maupun yang tak tampak, dilonggarkan seperti ikatan yang dikendurkan, agar pemuja kembali memperoleh perkenan ilahi.
Sukta 5.86
Himne Indrāgnī yang ringkas ini memanggil Indra dan Agni bersama-sama sebagai sepasang daya yang menopang insan fana dalam pertarungan kekuatan dan tindakan yang benar. Himne ini memohon agar keduanya mematahkan rintangan batin maupun lahir, menuntun “kereta-kereta” gerak, serta menegakkan kemasyhuran yang luas, kekayaan, dan pangan penopang bagi para penyanyi melalui persembahan yang dipersembahkan dengan tepat.
Sukta 5.87
Kidung ini menyeru para Marut—pasukan badai yang lahir dari pegunungan—sebagai rombongan yang berdisiplin dan layak bagi kurban, yang dengan daya guntur mereka menghadirkan kilau, perlindungan, dan gerak maju yang menang. Kidung ini juga menautkan kekuatan dinamis mereka dengan kedahsyatan Wisnu yang melangkah luas dan maju ke depan, memohon agar para Marut mendengar panggilan, menjaga ritus, dan menjadikan pemuja tak tersentuh oleh penyangkalan yang memusuhi.
Mandala 5 belongs to the family-book layer (Mandalas 2–7) and is traditionally attributed to Atri and his descendants (Atrides), whose school preserved and transmitted these hymns.
It is often noted for an archaic register: conservative vocabulary, inherited formulae, and compact, dense poetic constructions typical of early Rigvedic family collections.
Agni and Indra dominate as in much of the Rigveda, but Mandala 5 is especially remembered for a strong presence of Ashvin hymns, alongside notable praises to Uṣas, the Maruts, and the Ādityas.
Read Rig Veda in the Vedapath app
Scan the QR code to open this directly in the app, with audio, word-by-word meanings, and more.