
मण्डल 4
The Family Book of Vamadeva
Ṛgveda Mandala 4 adalah “Kitab Keluarga” (gotra-maṇḍala) yang terutama dikaitkan dengan garis Vāmadeva (Gautama), memadukan pujian kurban yang formal dengan citraan alam yang hidup serta teologi reflektif yang menoleh ke dalam. Himne-himnenya bergerak antara ranah ritual publik—terutama pemerasan soma dan pemujaan api—dan perenungan yang menyelidik ilham (dhī), kebenaran/tatanan yang benar (ṛta), serta cara kerja para dewa yang tersembunyi. Indra dan Agni paling dominan, namun mandala ini juga menonjol karena kehalusan seninya dalam melukiskan fajar, badai, dan dimensi moral dari kosmos.
Sukta 4.1
RV 4.1 adalah pemanggilan kepada Agni sebagai penuntun (arati) yang ditegakkan dengan mufakat oleh para dewa, dan sebagai daya abadi yang harus dibangunkan di dalam kehidupan fana manusia. Kidung ini bergerak antara citra mitos kelahiran kosmis—Agni yang tersembunyi dalam rahim rahasia ruang antara—dan visi kurban yang praktis tentang Agni sebagai tamu semesta, sang perantara yang menghadirkan perlindungan, kejernihan, dan kemurahan bagi semua pemuja.
Sukta 4.2
RV 4.2 adalah kidung Vāmadeva kepada Agni sebagai yang abadi di dalam insan fana—hotṛ, pelihat, dan daya yang bekerja di antara para dewa—yang menegakkan ṛta (tatanan-kebenaran) dalam hidup manusia melalui kurban dan ilham. Kidung ini memohon agar Agni menyalakan kecerdasan yang bercahaya, memisahkan daya-beda yang benar dari dorongan yang kacau dan berliku, serta menganugerahkan kemakmuran yang luas dan beraneka rupa untuk menopang keturunan. Himne ditutup dengan persembahan ujaran sang penyair dan seruan agar Agni menyala terang serta menganugerahkan “kekayaan besar”, yakni kebaikan yang lebih penuh dan utuh
Sukta 4.3
Kidung ini memanggil Agni sebagai raja yajña dan hotṛ sejati yang merentang kedua dunia, membawa daya bak Rudra—garang, menyucikan, dan berdaulat dalam ritus. Kidung ini memuji kuasa Agni yang dituntun oleh kebenaran: mengubah yang mentah menjadi yang matang (āmā→pakva), menjadikan yang tersembunyi dapat ditangkap, dan menuntun pemuja melalui “nīthāni” (jalur penuntun) yang rahasia. Sang resi menutup dengan mempersembahkan ujaran yang dirangkai dengan cermat dan batiniah (niṇyā)—tuturan esoteris serta pujian berilham—yang layak bagi Agni sang mengetahui.
Sukta 4.4
RV 4.4 adalah seruan yang kuat kepada Agni agar memperluas daya nyalanya, maju bagaikan kekuatan raja, dan menumbangkan para Rakṣasa yang memusuhi serta segala bentuk kegelapan yang mencelakakan. Penyair-imam Vāmadeva berulang kali “mengilapkan” dan menyalakan Agni dengan nyanyian dan bahan bakar persembahan, memohon agar Ia menerima kidung ini, melindungi para pemuja dari tipu daya dan fitnah, serta menopang kṣatra (kemahiran menguasai, kekuatan yang efektif) mereka dari hari ke hari.
Sukta 4.5
Himne ini kepada Agni Vaiśvānara menanyakan bagaimana para pelaku yajña dapat mempersembahkan dengan tepat kepada Api yang bercahaya luas, yang membuka jalan dengan menyangga dan memisahkan rintangan. Agni dipuji sebagai pengungkap “sabda” yang tersembunyi di dalam gua dan sebagai penjaga langkah terdepan dari sinar-sinar (visi), berpuncak pada gambaran yang hidup tentang wajahnya yang berkilau menyala di dalam rumah (baik kediaman ritual maupun batin diri). Secara keseluruhan, sukta ini bergerak dari pemanggilan dan pujian menuju ajaran tentang penyingkapan—Agni sebagai daya yang membuat kebenaran dan cahaya yang tersembunyi menjadi nyata
Sukta 4.6
Himne ini menyeru Agni sebagai Hotṛ yang tegak dan terjaga, yang menegakkan para dewa dalam ritus dan mengusung niat manusia (manman) maju dengan kecerdasan yang membeda-bedakan (manīṣā). Vāmadeva memuji penglihatan Agni yang mujur dan bercahaya dari dirinya sendiri, yang menembus kegelapan serta melindungi pemuja dari kenajisan dan pelapukan. Himne ini berpuncak pada perangkaian brahman (ucapan suci) ketika Agni dinyalakan, dengan para pemuja duduk penuh hormat di hadapan api kependetaan.
Sukta 4.7
RV 4.7 adalah kidung bagi Agni yang mengingatkan “penetapan” Api kurban sejak masa purba serta penemuan kembali/penyalaan ulang oleh para Bhṛgu, sehingga ia bersinar bagi setiap kaum. Himne ini memuji Agni sebagai hotṛ dan sebagai pembawa ṛta (kebenaran/tatanan kosmis), bergerak perkasa laksana angin dan kuda tangkas, untuk mengantarkan persembahan kepada para dewa dan membawa kemakmuran kembali kepada manusia.
Sukta 4.8
Himne ini memuliakan Agni sebagai utusan ilahi dan imam utama (Hotṛ) yang mengantarkan persembahan kepada para dewa serta membuka jalan menuju surga. Ia memuji kemahatahuan, keabadian, dan daya cepatnya yang mampu menembus rintangan, serta mendorong ujaran yang terilhami untuk menyalakan dan menghiasinya bagi upacara kurban.
Sukta 4.9
Kidung ini memanggil Agni sebagai kehadiran agung dan penuh kemurahan, yang datang kepada komunitas pencari para dewa dan duduk di atas rumput suci untuk menegakkan persekutuan yang benar dalam kurban. Agni dipuji sebagai juru bicara upacara yang ampuh—membuat persembahan manusia sungguh sampai kepada para dewa—serta sebagai pelindung yang mengepung pemuja dari segala sisi dengan pertahanan yang tak tertembus terhadap bahaya.
Sukta 4.10
Kidung ini memuji Agni sebagai daya yang cepat dan menyentuh hati dari kehendak yang benar (kratu), yang membuat pemuja sejahtera melalui upaya yang terilhami dan dorongan ilahi. Agni dirayakan sebagai pelihat yang senantiasa hadir—bersinar siang dan malam—yang membawa keindahan, harmoni, dan pertumbuhan, serta menegakkan ikatan yang ramah dan bersaudara antara manusia dan rombongan para dewa. Tujuan sukta ini ialah memanggil bimbingan Agni yang bercahaya dan kebersamaan pelindungnya, agar rumah sang pelaksana yajña dan “pusat pusar” batin menjadi sumber pemeliharaan dan kekuatan yang teguh
Sukta 4.11
Himne enam bait ini kepada Agni memuji kehadiran-Nya yang bercahaya—laksana matahari pada siang hari dan tidak berkurang bahkan pada malam—serta memanggil-Nya sebagai daya yang tampak, yang menumbuhkan dan melindungi. Himne ini menisbatkan kepada Agni sumber kekuatan kemenangan, kemakmuran, dan tenaga yang cepat, lalu menutup dengan doa perlindungan untuk mengusir dosa, bahaya, dan niat yang menyimpang, demi memperoleh kesejahteraan (svasti).
Sukta 4.12
Kidung enam bait ini kepada Agni Jātavedas memuji asas api sebagai sang pengetahu-sadar, yang memberdayakan pelaku yajña ketika dinyalakan menurut tatanan yang benar dan dipersembahi persembahan secara teratur. Dari pujian, kidung beralih kepada pengakuan dan pelepasan: penyair memohon agar Agni mengampuni pelanggaran yang dilakukan karena pengertian yang masih ‘belum terjaga’, melonggarkan ikatan kekeliruan, dan menuntun pemuja melintasi himpitan menuju hidup yang lebih penuh serta kemenangan.
Sukta 4.13
Himne singkat ini mengaitkan penyalaan Agni pada waktu fajar dengan kemunculan cahaya kosmis: Uṣas membuka jalan, Sūrya terbit, dan kedua Aśvin diundang ke upacara rumah tangga yang telah dipersiapkan dengan baik. Uraiannya bergerak dari citra fajar yang hidup menuju kekaguman kontemplatif atas penopang langit yang tak terlihat—ṛta sebagai hukum tersembunyi yang membuat dunia-dunia tidak runtuh. Tujuannya sekaligus ritual (membuka persembahan pagi) dan filosofis (membangunkan wawasan tentang tatanan yang menopang kosmos).
Sukta 4.14
Kidung singkat ini mengaitkan cahaya Agni yang dinyalakan dengan penyingkapan pertama Uṣas (Fajar), menggambarkan pagi sebagai epifani terpadu dari terang, tatanan, dan gerak yang terjaga. Lalu kidung beralih menjadi undangan langsung kepada para Aśvin (Nāsatyā) agar segera tiba di kurban pada saat fajar menyingsing dan menikmati Soma yang manis bak madu. Tujuannya ialah memohon kehadiran ilahi yang tepat waktu, perjalanan yang selamat (suvitā), serta daya-kekuatan yang menyegarkan bagi para pemuja.
Sukta 4.15
Himne ini memuji Agni sebagai imam yang terilhami, yang “bergerak berkeliling” di sekitar persembahan, menyucikan dan menyempurnakan yajña, serta menganugerahi sang pemberi harta-benda berharga (ratna). Himne ini menonjolkan penyalaan dan pemolesan Agni setiap hari—laksana kuda pacu yang tangkas dan laksana anak surga yang kemerahan—menunjukkan bagaimana api bertumbuh menjadi daya yang bercahaya, terbentuk sempurna, mengantarkan persembahan kepada para dewa dan menopang jalannya ritus.
Sukta 4.16
Kidung ini merupakan undangan Soma yang penuh daya, memanggil Indra (Maghavan, Harivān) agar segera datang dengan kuda-kuda kuning keemasan dan menerima tegukan yang diperas dengan baik, supaya Ia mendekat sebagai sahabat pelindung. Kidung ini memuji dorongan kepahlawanan Indra—keretanya, para sekutu, dan kemenangan yang menjangkau jauh—seraya memohon agar Ia “membuat meluap” ilham dan kemakmuran sang penyanyi laksana sungai-sungai yang melimpah. Sukta ini berpuncak pada persembahan “brahman baru” (nyanyian puja yang segar) dan doa agar senantiasa layak bagi kereta serta persahabatan Indra.
Sukta 4.17
Himne Triṣṭubh karya Vāmadeva ini memuji Indra sebagai pemegang daya tertinggi, yang kedaulatannya diakui oleh langit dan bumi. Ia mengingat kemenangan arketipal-Nya atas Vṛtra—membebaskan sungai-sungai yang tertahan—serta merayakan-Nya sebagai pemberi purba yang meraih sapi, emas, dan tenaga kuda, lalu membagikan kekayaan kepada para sekutunya. Sang penyair menutup dengan brahman yang baru (rumusan ilham), memohon Indra agar meluapkan ilham sang penyanyi laksana banjir sungai dan mendudukkan para pemuja dalam tindakan yang membawa kemenangan.
Sukta 4.18
RV 4.18 adalah kidung dramatis bernuansa kosmogonis-heroik yang berpusat pada kelahiran Indra yang misterius dan takdirnya seketika sebagai pemecah segala rintangan. Melalui narasi tegang mirip dialog (ibu/anak, para Perairan, dan proklamasi komunitas), himne ini membela Indra dari tuduhan, mengingatkan kembali penumpasan Vṛtra serta pembebasan sungai-sungai, dan berakhir dengan nada manusia yang tajam tentang krisis dan pemulihan, ditandai oleh śyena (elang) yang membawa madhu (esensi manis).
Sukta 4.19
Himne kepada Indra ini memuliakan beliau sebagai jawara tunggal yang dipilih para dewa untuk membunuh Vṛtra, yang meluaskan Langit dan Bumi serta memulihkan gerak bebas bagi dunia. Himne ini mengingat karya-karya kosmisnya—menenangkan air yang menggelora, menjadikan sungai-sungai dapat diseberangi, dan membuka lintasan yang cepat serta lapang—seraya mendorong pujian yang diperbarui yang menambah dorongan ilham sang penyair. Sukta ini berpuncak pada sebuah ‘brahman’ baru (rumusan suci) yang dipersembahkan kepada Indra, agar para penyanyi turut mengambil bagian dalam laju kemenangan beliau yang terus maju
Sukta 4.20
Himne Triṣṭubh karya Vāmadeva ini memanggil Indra agar datang “dari jauh dan dekat” sebagai pelindung yang pasti, yang unggul dalam desakan pertempuran dan menyingkirkan kekuatan-kekuatan musuh. Himne ini memuji daya Indra yang purba, teguh laksana gunung, serta vajra-nya yang kukuh; lalu memohon agar Ia meluapkan iṣ (dorongan/kemakmuran) sang penyanyi sebagaimana sungai-sungai meluap, seraya menerima brahman yang baru ditempa (rumusan ilham).
Sukta 4.21
Kidung ini merupakan seruan kepada Indra agar mendekat, duduk bersama para pemuja dalam ritus bersama (sadhamāda), serta meluaskan kekuatan, kedaulatan, dan penguasaan yang menang bagi mereka. Kidung ini menenun citra yajña lahiriah—pemerasan (Soma), jalan-jalan, dan nyala Hotṛ—ke dalam psikologi batin dhiṣā (kecerdasan yang terilhami), yang menemukan “go” (cahaya/sapi) dan menerima dorongan Indra yang melesat deras laksana sungai-sungai yang meluap
Sukta 4.22
Himne karya Vāmadeva ini memuji Indra sebagai pelaksana yang perkasa: Ia menerima doa, Soma, dan pujian, lalu dengan kuat menuntaskan tujuan pemuja. Himne ini mengingatkan kembali keperkasaan yang meluap dan daya Indra yang menata tatanan dunia—melepaskan kelimpahan laksana susu mengalir dari ambing banteng dan mendorong sungai-sungai mengalir maju—seraya memohon agar ilham dan daya guna sang penyair mengembang seperti sungai-sungai di bawah anugerah Indra.
Sukta 4.23
Himne Triṣṭubh ini menyelami misteri kebesaran Indra yang senantiasa diperbarui: bagaimana ia bertumbuh oleh Soma, untuk siapa ia menerima kurban, dan melalui cara-cara apa ia menampakkan diri di tengah para penyanyi pujian. Melalui rangkaian pertanyaan, puja, dan citra daya yang mengembang serta pelepasan yang bercahaya, himne ini berpuncak pada sebuah “brahman baru” yang digubah (nyanyian baru), memohon Indra menambah ilham dan kemenangan bagi sang penyair.
Sukta 4.24
Himne ini memanggil Indra—“putra Kekuatan”—agar berpaling kepada para pemuja melalui pujian yang tanpa cela, dan menganugerahi penyanyi dengan kekayaan, ternak, serta pelepasan dari belenggu penindas. Himne ini mengaitkan karunia Indra dengan tindakan kurban yang tepat (memeras Soma, menyiapkan hidangan persembahan) dan dengan ujaran yang terilham, yang berpuncak pada sebuah “brahman baru” (ucapan suci yang segar) yang memohon kelimpahan agar meluap seperti sungai-sungai serta persahabatan yang teguh bersama daya kereta Indra.
Sukta 4.25
Kidung ini mengundang pemuja yang layak untuk memilih persahabatan Indra melalui Agni yang dinyalakan dan Soma yang diperas, sambil bertanya siapa yang akan mencari “pertolongan yang mengantar melampaui.” Kidung ini memuji orang yang berpihak pada Indra sebagai tak terkalahkan dan terlindungi dalam kedamaian yang luas, lalu menutup dengan menyatakan bahwa semua golongan manusia—yang dekat dan yang jauh, yang menetap dan yang mengembara, yang bertempur dan yang berjuang—memohon kepada Indra demi kekuatan dan kemenangan.
Sukta 4.26
RV 4.26 adalah himne pewahyuan-diri yang mencolok, ketika sang resi berbicara dengan suara “aham” (aku adalah), mengucapkan orang pertama dan menyamakan dirinya dengan daya-daya arketipal serta tokoh-tokoh legendaris, seakan-akan kesadaran Indra sendiri berbicara melaluinya. Lalu himne beralih pada mitos penerbangan Śyena (elang) yang membawa Soma bagi Manu—melambangkan perampasan ekstasi ilahi yang menang dan pembuangan/penyingkiran kekuatan-kekuatan yang memusuhi. Tujuan himne ini sekaligus pujian (stuti) kepada Indra/kuasa-Soma dan pernyataan identitas terilham sang resi yang turut ambil bagian dalam kemenangan ilahi itu.
Sukta 4.27
Kidung singkat namun intens ini berbicara dengan suara Vāmadeva yang merujuk pada dirinya sendiri, memadukan otobiografi mistis dengan mitos Soma–Śyena: sang resi mengetahui kelahiran para dewa bahkan sejak dalam kandungan, lalu membebaskan diri bagaikan elang dari benteng-benteng besi. Kisah kemudian beralih pada pencurian/pembawaan Soma yang berbahaya melewati penjaga Kṛśānu, dan berpuncak pada tersedianya Soma dalam ritus sebagai tegukan yang memabukkan dan membangkitkan Indra. Tujuannya ialah menyakralkan perolehan Soma serta memaklumkan pengetahuan yang terilhami sebagai daya pembebas yang menjangkau surga
Sukta 4.28
Himne singkat ini memuji Indra dalam persekutuan yang intim dengan Soma, mengingat kemenangan klasik ketika rintangan Vṛtra dibunuh dan tujuh sungai—air yang menopang kehidupan—dibebaskan bagi Manu dan umat manusia. Himne ini mengaitkan daya pengilham Soma dengan kekuatan tegas Indra: bersama-sama mereka membelah apa yang tersegel, menyingkirkan perlawanan yang memusuhi, dan meluaskan “ladang Sang Sapi” (pengetahuan bercahaya dan kelimpahan). Tujuannya ialah memanggil kuasa gabungan yang sama itu ke dalam yajña, agar saluran-saluran yang tersumbat—lahir maupun batin—terbuka dan jalan yang benar menjadi dapat dilalui
Sukta 4.29
Himne Indra yang singkat ini merupakan undangan yang mendesak agar sang dewa datang—bahkan dari kejauhan—ke banyak pemerasan Soma, bersukacita oleh kuda-kuda kuning kecokelatan dan pujian para penyanyi yang terilhami. Sang penyair memohon agar Indra dibuat “mendengar” panggilan itu, lalu bangkit dengan daya yang meluap untuk menganugerahkan pemenuhan: kekuatan kemenangan (vāja), tempat penyeberangan yang aman (su-tīrtha), dan ketakutan yang sirna. Penutupnya adalah harapan bersama: di bawah perlindungan Indra, semoga para penyanyi menjadi para pelihat sejati dan turut menikmati kekayaan luas surga melalui kedermawanan anugerahnya.
Sukta 4.30
Himne ini memuji Indra dengan nada yang kuat sebagai Vṛtrahan yang tiada tanding—lebih agung daripada semuanya, tak tertahankan dalam pertempuran, dan menentukan dalam meruntuhkan benteng-benteng musuh seperti milik Śuṣṇa. Himne ini mengingat kembali karya-karya kemenangan Indra untuk memohon perlindungan, kekuatan, dan kemakmuran bagi pemuja, lalu ditutup dengan nada berkat yang menyeru para Āditya, para pemberi keberuntungan, agar menganugerahkan berulang kali karunia-karunia yang “diidamkan”
Sukta 4.31
Kidung ini merupakan seruan pencarian kepada Indra sebagai Sahabat yang senantiasa bertumbuh (sakhā, sadāvṛdhaḥ), menanyakan dengan pertolongan bercahaya apa dan dengan śacī (daya/kecakapan) yang paling manjur Ia akan memilih serta menolong para pemuja. Kidung ini memuji kedermawanan Indra yang cepat kepada pemeras Soma dan pencari yang berdisiplin, lalu memuncak pada permohonan kelimpahan, perlindungan, dan kemasyhuran yang lestari—seraya sejenak beralih kepada Sūrya sebagai kuasa yang tampak, yang “mencurahkan” nama baik dan cahaya dari atas
Sukta 4.32
Kidung ini merupakan seruan yang mendesak dan intim kepada Indra Vṛtrahan—memohon agar Ia datang ke “bagian” sang pelaksana yajña, menerima persembahan, dan melindungi dengan pertolongan yang perkasa. Kidung ini menegaskan bahwa meskipun Indra adalah daya semesta yang dibagi oleh semua makhluk, sang penyair tetap memanggil-Nya secara pribadi ke ritus ini, memohon kemenangan, kekuatan, dan gerak yang menempuh jalan yang benar.
Sukta 4.33
Himne ini memanggil para R̥bhu—Ṛbhu, Vibhvā, dan Vāja—sebagai perajin ilahi yang, digerakkan oleh ilham yang cepat, menyempurnakan bentuk-bentuk dan melipatgandakan kelimpahan bagi para dewa dan manusia. Himne ini memuji tutur-kata mereka yang benar, ketaatan mereka pada svadhā (hukum bawaan mereka), serta karya-karya ajaib yang diakui bahkan oleh Tvaṣṭṛ; dan berpuncak pada permohonan agar mereka menegakkan “vasūni” (kekayaan sejati) bagi sang pelaksana yajña pada pemerasan Soma yang ketiga.
Sukta 4.34
Kidung ini mengundang para Ṛbhu—Ṛbhu, Vibhvan, dan Vāja—ke upacara kurban, memohon agar mereka datang bersama Indra dan turut menikmati soma “madu,” serta membawa daya termasyhur mereka dalam keterampilan pertukangan dan pembaruan/penyegaran ke dalam ritus. Kidung ini memuji ketanggapan mereka yang tak pernah meleset terhadap panggilan, dan memohon “ratna-dheya” (penempatan/penganugerahan harta dan anugerah) melalui kegembiraan bersatu mereka bersama Indra dan kekuatan-kekuatan sekutu.
Sukta 4.35
Kidung ini mengundang para Ṛbhu—para perajin-ilahi sekaligus resi pelihat yang termasyhur karena keterampilan sempurna—untuk datang ke pemerasan Soma dan turut menikmati harta persembahan bersama Indra. Kidung ini mengingatkan karya-karya ajaib mereka (membaharui Sang Orang Tua, membentuk cawan minum para dewa, dan menjadikan kuda-kuda cokelat keemasan Indra yang tangkas) untuk menegaskan hak mereka atas pemerasan ketiga beserta daya kekuatan ekstatisnya.
Sukta 4.36
Himne ini memuji para Ṛbhu—saudara-saudara perajin ilahi—merayakan karya-karya ajaib mereka (seperti kereta beroda tiga yang bergerak sendiri) sebagai tanda daya yang meluaskan serta menopang Langit dan Bumi. Himne ini mengaitkan kemahiran yang disempurnakan (takṣaṇa) dengan lahirnya kemakmuran, kemasyhuran, dan kelimpahan yang menang; lalu ditutup dengan permohonan yang intim: “di sini dan sekarang” bentuklah bagi kami keturunan, harta, dan nama pahlawan—yang membangunkan kesadaran yang lebih tinggi.
Sukta 4.37
Himne ini mengundang para Rbhu—terutama Vāja dan Ṛbhukṣaṇa—para perajin ilahi yang memperbarui dan menyempurnakan ritus, agar datang melalui “jalan-jalan menuju para dewa” dan menegakkan kembali kurban di tengah klan-klan manusia. Ia memohon agar mereka membawa rayi (kelimpahan, kekayaan, dan keberlimpahan rohani) serta vāja yang menang (daya kemenangan), seraya mengaitkan pertolongan mereka dengan kedahsyatan Indra dan bantuan cepat para Aśvin. Tujuan keseluruhannya ialah pembaruan ritual: agar yajña berlangsung lancar, menyenangkan, dan berbuah melalui hari-hari yang mujur.
Sukta 4.38
Himne ini merayakan daya yang cepat dan menang (Dadhikrā/Dadhikrāvan) yang melaju di depan kereta-kereta perang, menghamburkan debu laksana sinar yang mengalir, serta membawa kemenangan dan kegembiraan. Ia memuji daya bercahaya itu sebagai pemberi kekuatan dan keluasan bagi umat manusia, dan memohon agar ia memenuhi kata-kata sang penyair dengan “madu” (ilham, kemanisan, keberhasilan). Citraannya memadukan kecepatan perang, kemilau surya, dan keberuntungan kurban menjadi satu kehadiran yang tunggal dan penuh berkah
Sukta 4.39
Himne enam bait ini memuji Dadhikrāvan, daya-kuda yang cepat dan menaklukkan, memohon agar kecepatannya dan momentum kemenangannya membawa penyanyi melampaui bahaya serta lintasan-lintasan yang sukar. Uṣas (Fajar) dipanggil sebagai para pembangkit yang membangunkan pemuja menuju gerak yang benar; lalu himne berkembang menjadi doa perlindungan dan kesejahteraan, yang sejenak menyebut para dewa sekutu (Maruts, Mitra–Varuṇa, Agni, Indra) untuk meneguhkan svasti (keutuhan/selamat sejahtera). Penutupnya bersifat transformatif: Dadhikrāvan dimohon menjadikan “bagian depan” kesadaran harum/terang dan menuntun daya-daya hidup maju melintasi penyeberangan-penyeberangan yang membatasi.
Sukta 4.40
Kidung singkat ini memaklumkan Dadhikrāvan—daya yang tangkas dan menang, kerap dibayangkan sebagai kuda ilahi atau kekuatan burung-surya—seraya mendorong penyanyi maju menembus Fajar dan para dewa sekutu (Perairan, Agni, Sūrya, Bṛhaspati, Aṅgirasa). Ia merayakan kecepatannya, dorongan laksana angin, serta kuasa pelindungnya, dan berpuncak pada bait simbolis yang mendalam tentang “Angsa” yang bersemayam di banyak ranah, yang menyamakan sang dewa dengan Ṛta (kebenaran/tatanan kosmis) itu sendiri.
Sukta 4.41
Kidung ini memanggil kuasa berpasangan Indra dan Varuṇa agar menerima persembahan hormat sang penyair, serta menegakkan kekuatan kemenangan yang dituntun oleh ṛta (tatanan kosmis). Ia memohon keduanya menghancurkan bahaya batin dan lahir—niat jahat, permusuhan pemangsa, dan ketakutan yang menipu—serta menganugerahkan kemakmuran yang mantap, terwujud sebagai daya kuda, daya kereta perang, dan pertumbuhan yang berkelanjutan.
Sukta 4.42
RV 4.42 adalah himne deklaratif-diri yang mencolok, di mana suara puitis berbicara dengan wibawa kerajaan Varuṇa—menegakkan ṛta (tatanan kosmis), kedaulatan, dan penjagaan yang meliputi segalanya. Himne ini juga menghadirkan Indra ke dalam ranah kuasa, sekaligus membedakan dan melengkapi: pemerintahan moral-kerajaan Varuṇa dipadankan dengan daya kemenangan Indra yang membebaskan sungai-sungai. Tujuannya ialah meneguhkan legitimasi ilahi serta memohon kemakmuran yang lestari (rāyī), perlindungan, dan kelimpahan yang tak pernah putus bagi para pemuja.
Sukta 4.43
Kidung Vāmadeva ini memanggil Aśvinau—dua dewa kembar penyembuh dan penyelamat yang tangkas—agar mendengar dan menerima “Sabda ilahi” sang penyair, serta datang melalui jalan yang paling dekat ketika diseru. Sambil mengungkapkan kekaguman atas kedatangan dan cahaya mereka yang tiada banding, kidung ini berulang kali memohon perlindungan yang luas, pertolongan semanis madu, dan anugerah pemberi hidup bagi penyanyi dan kaumnya.
Sukta 4.44
Himne Aśvin yang singkat karya Vāmadeva ini memanggil Sepasang Penunggang Kuda Kembar agar segera datang dengan kereta emas mereka yang melaju luas—“tempat pertemuan sinar-sinar”—dan bergabung dalam yajña. Sang penyair memohon agar mereka meminum Soma yang manis seperti madu, menganugerahkan harta dan daya hidup kepada pemuja, serta melindungi penyanyi dengan anugerah mereka yang penuh kemurahan, di mana pun keduanya didapati bersama.
Sukta 4.45
Kidung ini memuji Aśvin kembar ilahi yang bercahaya dan datang dengan cepat; kereta mereka yang melaju di langit terbit laksana sinar fajar dan mencapai pemerasan Soma tanpa penundaan. Dengan citra yang hidup—sepasang kuda, angsa bersayap emas, dan lebah madu—penyair mengundang mereka ke yajña, merayakan kehadiran mereka yang menghidupkan, menyembuhkan, dan membawa sukacita. Tujuan penyair ialah memastikan kedatangan mereka yang segera serta pertolongan yang membawa berkah bagi sang pemuja dan bagi ritus itu sendiri.
Sukta 4.46
Himne Gāyatrī yang singkat ini adalah undangan Soma, memanggil Vāyu—sering bersama Indra—agar datang cepat kepada Soma yang telah diperas dan meminumnya terlebih dahulu. Himne ini memuji kereta bercahaya mereka dan memohon agar kedatangan mereka menggerakkan yajña, membawa pelepasan (vimocana) serta kenikmatan sukacita Soma tanpa halangan.
Sukta 4.47
Kidung singkat ini merupakan undangan Soma yang mendesak kepada Vāyu, Sang Angin yang cepat dan bercahaya, agar datang dengan niyut—kuda-kuda penarik yang telah dipasang kuk—untuk meminum bagian pertama Soma. Lalu kidung ini berkembang menjadi seruan bersama kepada Indra–Vāyu supaya tiba di satu kereta, membawa perlindungan dan kekuatan, serta dengan teguh menganugerahkan kepada para pemuja daya-daya yang terpasang kuk dan sangat mereka dambakan.
Sukta 4.48
Himne singkat ini mengundang Vāyu, Angin yang tangkas, ke upacara pemerasan Soma, berulang kali memanggilnya agar datang dengan kereta bercahaya untuk meminum Soma yang baru diperas. Himne ini mengaitkan penataan ritus yang tepat (hotrā) dengan kedatangan daya hidup ilahi, memohon agar Vāyu membawa kelimpahan, kekuatan, dan kekayaan yang meluas kepada sang pelaksana kurban.
Sukta 4.49
Kidung singkat ini mengundang dua kekuatan, Indra dan Bṛhaspati, untuk menerima persembahan dan Soma yang dipersembahkan, serta berkenan oleh uktha (pujian khidmat) dan kegembiraan yang menggetarkan (mada) dari sang pelaksana yajña. Hymne ini memohon agar pasangan ilahi itu menetap teguh di rumah sang pemberi, dan menganugerahkan rayi yang kaya dan meluas—kemakmuran serta pertambahan yang menang—yang terwujud sebagai kuda, kelimpahan, dan pertumbuhan “seratus kali lipat”.
Sukta 4.50
RV 4.50 adalah himne Tr̥ṣṭubh kepada Bṛhaspati, penguasa ujaran suci dan daya kependetaan, yang diseru sebagai pelindung “landasan” komunitas serta kekuatan yang menaklukkan serangan musuh dan segala rintangan. Himne ini memuji kedahsyatan kemenangannya, memohon agar ia menjaga rahim generatif dari tatanan yang benar, dan berpuncak pada seruan bersama kepada Bṛhaspati beserta Indra demi pertambahan, bimbingan yang berpikiran lurus, dan penghancuran segala kesukaran.
Sukta 4.51
Himne ini memuliakan Uṣas (Fajar) sebagai Cahaya yang melimpah, bangkit dari kegelapan dengan ketertiban dan daya pembedaan yang jernih, membuka sebuah “jalan” bagi kehidupan manusia dan tindakan suci. Himne ini mengagumi bahwa para Fajar, meski serupa dan tak menua, hadir setiap hari sebagai wahyu yang segar; dan ditutup dengan doa memohon kemasyhuran serta keteguhan, yang dianugerahkan oleh Langit dan Bumi melalui tanda kurban suci.
Sukta 4.52
Himne ini memuji Uṣas (Fajar) sebagai putri Surga yang bercahaya, yang menampakkan diri menghadap pemuja, melingkupi dan menyingkirkan saudari beliau, Malam. Sang penyair memohon agar Fajar meluaskan dunia-dunia dengan sinarnya, membangunkan kegiatan yang membawa keberuntungan, serta mengusir kebencian dan kekuatan-kekuatan pemecah belah, agar sang pelaksana yajña diterima melalui pujian yang benar.
Sukta 4.53
Kidung ini memanggil Savitṛ sebagai Sang Pembangkitan, yang cahaya-cahayanya yang maju mengangkat pemuja ke dalam perlindungan, tatanan benar (ṛta), dan kejernihan batin. Ia memuji pemerintahan-Nya yang tak dapat diganggu gugat atas hukum-hukum kosmis, lengan-Nya yang terentang menopang makhluk, serta memohon pertambahan tempat tinggal, pangan, keturunan, dan kekayaan melalui siklus hari, malam, dan musim.
Sukta 4.54
Himne singkat ini memuji Savitṛ sebagai Penggerak ilahi yang membangunkan pemujaan, membagikan harta, dan menegakkan “draviṇa” (substansi, daya, kemakmuran) yang terbaik di dalam diri pemuja. Himne ini menekankan jangkauan tak terukur dari dorongan sejati Savitṛ—dari keluasan bumi hingga ketinggian langit—dan diakhiri dengan seruan kepada lingkaran dewa-dewa yang lebih luas untuk perlindungan dan kedamaian, melalui penggerakan keberuntungan tiga kali sehari oleh Savitṛ.
Sukta 4.55
Himne ini merupakan seruan bersama kepada daya-daya Vasu, Dyāvā–Pṛthivī (Langit dan Bumi), Aditi, serta para Āditya—terutama Varuṇa dan Mitra—agar melindungi pemuja dan meluaskan “varivas” (ruang bebas, kesejahteraan tanpa halangan) di dalam yajña. Uraiannya bergerak dari pertanyaan-pertanyaan mendesak tentang perlindungan sejati terhadap kekuatan manusia yang menindas menuju visi kosmis tentang daya-daya dunia yang mengalir menuju tujuannya, lalu ditutup dengan invokasi singkat kepada para kuasa ilahi yang membawa kebaikan untuk menganugerahkan kelimpahan.
Sukta 4.56
Himne ini memuji Dyāvāpṛthivī (Langit dan Bumi) sebagai orang tua purba yang luas, yang meluaskan ruang, menegakkan ṛta (tatanan kosmis), dan membuat yajña bersinar. Vāmadeva memohon agar keduanya menjadi bercahaya melalui kidung-kidung yang murni, menganugerahkan perlindungan yang lapang, dan bersemayam mengitari yajña supaya pemuja teguh di jalan yang benar.
Sukta 4.57
Himne ini adalah doa kesuburan agraris dan kosmis kepada Kṣetrasya Pati, Penguasa Ladang, memohon kemenangan dalam pengolahan tanah, agar sapi dan kuda berkembang subur, serta agar pemeliharaan dan gizi bertambah dengan mantap. Doa ini kemudian meluas menjadi pemanggilan Śunā-Sīrā (kemakmuran yang mujur dan daya pembajakan) dan menyeru hujan Parjanya supaya bumi menjadi manis, berbuah, subur, serta menopang kerja manusia dan pertumbuhan batin.
Sukta 4.58
RV 4.58 adalah kidung mistik tentang ghṛta (mentega jernih) sebagai esensi Soma yang bercahaya: gelombang bermadu yang bangkit dari samudra kosmis dan menjadi “keabadian” melalui pemerasan yang halus serta pemurnian batin. Kidung ini menautkan persembahan ritual dengan metafisika tersembunyi—ghṛta sebagai lidah para dewa dan pusar amṛta—sehingga persembahan lahiriah mencerminkan arus batin dari kesadaran yang telah dijernihkan
Mandalas 2–7 are “Family Books” because their hymns are largely preserved under particular seer lineages. Mandala 4 is chiefly attributed to Vāmadeva of the Gautama family, giving it a relatively unified style and theological voice.
Mandala 4 centers on Indra’s heroic power and Agni’s priestly mediation, framed by soma ritual performance. It also stands out for lyrical nature description and reflective language about dhī (inspired insight) and ṛta (cosmic order), including hymns that feel personally visionary.
The Ṛbhus are divine craftsmen associated with renewal, perfected form, and the multiplication of prosperity. In Mandala 4 they exemplify how welcoming skilled, divine agency into the soma sacrifice is believed to restore and enhance life, wealth, and ritual success.
Read Rig Veda in the Vedapath app
Scan the QR code to open this directly in the app, with word-by-word meanings, Sanskrit recitation where available, and more.