Yuddhakhanda
त्रिपुरवर्णनम् (Tripura-varṇanam) — “Description of Tripura”
Adhyaya 1 membuka upakhyana Tripuravadha. Dengan penghormatan kepada Gaṇeśa serta Gaurī-Śaṅkara, dimulai dialog permohonan agar kisah suci disampaikan. Nārada memohon kisah yang “paling membahagiakan”: bagaimana Śaṅkara dalam wujud Rudra membinasakan para durjana yang berkeliaran, dan khususnya bagaimana Ia membakar tiga kota musuh para dewa sekaligus dengan satu anak panah. Brahmā meneguhkan kewibawaan kisah melalui rantai pewarisan purāṇik: Vyāsa → Sanatkumāra → Brahmā → Nārada. Sanatkumāra lalu mengawali sebab-musabab: setelah Skanda membunuh Tārakāsura, lahirlah tiga putranya—Tārakākṣa, Vidyunmālī, dan Kamalākṣa. Mereka digambarkan disiplin dan perkasa—mengendalikan diri, menahan hawa nafsu, berkata benar, teguh hati—namun bersifat devadrohin, memusuhi para dewa; inilah landasan bagi campur tangan Śiva kelak.
देवस्तुतिः (Devastuti) — Hymn/Praise of the Devas
Adhyaya ini dibuka dengan pertanyaan Vyāsa kepada Brahmā: setelah para dewa tertindas, bagaimana mereka kembali memperoleh kesejahteraan. Brahmā, sambil mengingat kaki teratai Śiva, menyampaikan kisah melalui tuturan Sanatkumāra. Para dewa, terbakar dan tertekan oleh pancaran Tripuranātha serta oleh arsitek-māyā bernama Mayā (dikaitkan dengan garis Tārakāsura), berkumpul dalam kesusahan dan menjadikan Brahmā tempat berlindung. Setelah bersujud, mereka melaporkan penderitaan mereka dan memohon upāya yang nyata untuk memusnahkan musuh agar kembali aman. Brahmā menenangkan ketakutan mereka, menjelaskan perbedaan daitya dan dānava, serta menegaskan bahwa penyelesaian sejati akan dikerjakan oleh Śarva (Śiva). Ia juga menyebut batasan ajaran: karena sang daitya pernah dipelihara/ditopang dalam kaitan dengan Brahmā, maka Brahmā tidak patut membunuhnya langsung; namun kuasa Śiva melampaui batas itu dan akan memberi keputusan akhir. Judul “Devastuti” menandai bahwa pujian para dewa menjadi poros teologis yang mengesahkan dan memanggil campur tangan menentukan Śiva dalam siklus perang Tripura.
भूतत्रिपुरधर्मवर्णनम् (Description of the Dharma/Conduct of the Bhūta-Tripura) — Chapter 3
Dalam adhyāya ini, dalam rangkaian kisah Tripuravadha, dibahas pertimbangan dharma: apakah para penguasa dan penduduk Tripura patut dibinasakan atau tidak. Śiva terlebih dahulu menyatakan bahwa saat ini Tripurādhyakṣa adalah “puṇyavān”; ketika pahala kebajikan bekerja, orang bijak tidak membunuh tanpa sebab. Ia mengakui penderitaan para dewa, namun mengingatkan kekuatan luar biasa putra-putra Tāraka dan warga tiga kota, sehingga pembinasaan mereka sangat sukar. Lalu Śiva menekankan etika: bagaimana mungkin ia melakukan mitradroha (pengkhianatan sahabat); pengkhianatan terhadap para welas-asih membawa dosa besar, dan kṛtaghnatā (ingratitude/khianat) tidak memiliki penebusan. Ia juga menyebut para daitya sebagai bhakta-nya, sehingga tuntutan untuk membunuh mereka menjadi masalah moral. Karena itu ia memerintahkan para dewa menyampaikan alasan-alasan ini kepada Viṣṇu. Sanatkumāra menuturkan: dipimpin Indra, para dewa mula-mula melapor kepada Brahmā, lalu segera menuju Vaikuṇṭha untuk musyawarah berikutnya. Bab ini menjadi poros etis yang menempatkan Tripuravadha sebagai tanya-jawab dharma antara puṇya, bhakti, persahabatan, dan kebutuhan kosmis.
त्रिपुरदीक्षाविधानम् — Tripura Dīkṣā: Prescriptive Procedure (Chapter on the Ordinance of Initiation)
Dalam dialog Sanatkumāra–Pārāśarya, bab ini memperkenalkan siasat ilahi terkait peristiwa Tripura untuk menghalangi atau menguji kegiatan yang berorientasi pada dharma. Sanatkumāra menuturkan bahwa Viṣṇu (Acyuta) memancarkan/menciptakan satu puruṣa yang terbentuk dari māyā, berasal dari esensi-Nya sendiri, dengan tugas menimbulkan dharmavighna (rintangan bagi dharma). Sosok itu digambarkan berkepala gundul, berpakaian pudar, membawa wadah dan buntalan, serta berulang-ulang mengucap “dharma” dengan suara bergetar—sebuah tanda religiositas yang menipu. Ia mendekat, bersujud kepada Viṣṇu, lalu memohon petunjuk: siapa yang harus disembah, tindakan apa yang dilakukan, nama apa yang dipakai, dan di mana harus tinggal. Viṣṇu menjelaskan asal dan fungsinya: ia lahir dari tubuh Viṣṇu, ditugaskan menjalankan pekerjaan Viṣṇu, dan akan dipandang layak dipuja; Viṣṇu memberinya nama Arihan, menyatakan nama lain tidak membawa keberuntungan, serta berjanji menjelaskan tempat/ketetapan tinggal yang semestinya. Bab ini bersifat preskriptif-etiologis, menegaskan ajaran tentang māyā, otoritas yang didelegasikan, dan rapuhnya dharma terhadap bentuk-bentuk tiruan.
त्रिपुरमोहनम् (Tripuramohana — “The Delusion/Enchanting of Tripura”)
Adhyaya 5 dibuka dengan pertanyaan Vyasa tentang apa yang terjadi setelah raja daitya menerima diksha dan terperdaya oleh seorang pertapa penguasa maya. Sanatkumara menjawab dengan menguraikan dialog pasca-diksha: pertapa bernama Arihann, dikelilingi para murid dan disertai tokoh seperti Narada, mengajarkan sang penguasa daitya ajaran rahasia tertinggi yang disebut “Vedanta-sara”. Ia mengemukakan bahwa samsara tidak berawal; tanpa dualitas pelaku–tindakan yang terakhir, ia muncul dan lenyap dengan sendirinya. Dari Brahma hingga sehelai rumput, hingga ikatan tubuh, hanya Atmanlah satu-satunya Tuhan—tiada pengendali kedua. Ditegaskan pula bahwa semua tubuh, dari para dewa sampai serangga, fana dan akan luluh oleh waktu. Makan, tidur, takut, dan dorongan seksual adalah kesamaan semua makhluk berjasad; bahkan rasa puas setelah berpuasa pun serupa. Dalam alur kisah Tripura, nasihat bernuansa “non-dual” ini berfungsi sebagai maya: menggoyahkan keyakinan para daitya dan mengubah pandangan tentang pelaku, menyiapkan langkah besar strategi Shiva.
शिवस्तुतिवर्णनम् (Śiva-stuti-varṇanam) — “Description of Hymns in Praise of Śiva”
Adhyaya ini dibuka dengan pertanyaan Vyasa kepada Sanatkumara: ketika para pemimpin raksasa Tripura tersesat dalam delusi dan meninggalkan pemujaan kepada Śiva, bagaimana tatanan sosial-keagamaan (termasuk strī-dharma sebagaimana dipaparkan teks) runtuh menjadi durācāra. Sanatkumara menuturkan bahwa Hari (Viṣṇu), seolah telah berhasil, bersama para dewa pergi ke Kailāsa untuk melaporkan keadaan kepada Umāpati (Śiva). Di dekat Śiva, Brahmā digambarkan tenggelam dalam samādhi yang mendalam; Viṣṇu terlebih dahulu mendekati Brahmā yang mahatahu dalam batin, lalu menyampaikan stuti yang jelas kepada Śaṅkara—menyebut Śiva sebagai Maheśvara, Paramātman, Rudra, Nārāyaṇa, dan Brahman, merangkum kesatuan teologis dalam bentuk liturgi. Sesudahnya Viṣṇu bersujud penuh (daṇḍavat-praṇipāta), berdiri di air melakukan japa mantra Rudra terkait Dakṣiṇāmūrti sambil bermeditasi pada Śambhu/Parameśvara; para dewa pun memusatkan pikiran pada Maheśvara. Bab ini menjadi poros naratif-liturgis: bhakti serta disiplin mantra ditampilkan sebagai sarana yang mengundang tanggapan ilahi dan membuka jalan penyelesaian dalam siklus perang Tripura.
देवस्तुतिवर्णनम् (Deva-stuti-varṇana) — “Description of the Gods’ Hymn/Praise”
Adhyaya 7 dituturkan oleh Sanatkumara. Śiva, yang menjadi pelindung (śaraṇya) dan pengasih para bhakta (bhaktavatsala), menerima kata-kata serta permohonan para dewa yang berkumpul. Lalu Devī datang bersama putra-putranya; Viṣṇu dan para dewa segera bersujud penuh hormat sambil melantunkan seruan keberkahan, namun sejenak diam tentang sebab kedatangannya. Devī yang diliputi rasa takjub menyapa Śiva dan menunjuk Skanda bermuka enam (Ṣaṇmukha), cerah laksana matahari dan berhias perhiasan mulia, yang bermain dengan riang. Śiva bersukacita, seakan meminum nektar dari wajah Skanda tanpa pernah puas, memeluk dan menghirup harum putranya; dalam kelembutan itu Ia bahkan tidak mengingat para daitya yang telah hangus oleh sinar kemuliaan-Nya sendiri. Bab ini menampilkan kontras antara krisis kosmis—pujian dan permohonan perlindungan para dewa—dengan līlā keluarga Śiva yang penuh kasih dan rasa keindahan; penutupnya menamai bab ini “Devastuti-varṇana”.
रुद्ररथ-निर्माणवर्णनम् / Description of Rudra’s Divine Chariot Construction
Adhyaya 8 berbentuk dialog. Vyasa memohon Sanatkumara menjelaskan kereta ilahi (devamaya) Rudra yang dibuat oleh dewa perajin Visvakarman demi tugas Śiva. Sanatkumara, sambil mengingat kaki-teratai Śiva, menggambarkan kereta itu sebagai ‘sarvalokamaya’—tersusun dari seluruh alam, berkilau keemasan dan disetujui semua. Bagian kanan-kiri dikaitkan dengan Surya dan Soma; roda memiliki enam belas kala/jari-jari, dihias rasi dan nakshatra. Dua belas Aditya ditempatkan pada jari-jari, enam musim menjadi pelek dan pusat, serta wilayah kosmis seperti antariksha menjadi unsur rangka. Pegunungan terbit-terbenam, Mandara, dan Mahameru menjadi penopang, menegaskan kestabilannya sebagai poros kosmos. Bab ini menampilkan seluruh jagat dihimpun menjadi satu wahana suci bagi tindakan dharma Śiva.
दिव्यरथारोहणम् — Śiva’s Ascent on the Divine Chariot (Pre-battle Portents)
Adhyaya 9 menggambarkan saat menjelang perang ketika Śiva dipersiapkan laksana upacara penahbisan melalui persembahan dan kenaikan-Nya ke mahādivya ratha, kereta ilahi yang menakjubkan. Sanatkumāra menuturkan bahwa Brahmā melengkapi kereta itu; kuda-kudanya dipahami sebagai perwujudan Nigama/Weda, lalu kereta dipersembahkan dengan tata cara kepada Śiva (Śūlin). Śiva yang sarvadevamaya naik ke kereta diiringi stuti para ṛṣi dan makhluk surgawi, dengan Brahmā, Viṣṇu, dan para lokapāla hadir. Saat Śiva menaiki kereta, kuda-kuda kelahiran Weda menunduk; bumi bergetar, gunung-gunung terguncang, dan Śeṣa tertekan oleh beban mendadak. Seorang pemikul terkait “Dharanīdhara” muncul sejenak dalam rupa banteng agung (vṛṣendra) untuk menopang kereta, namun penopang itu pun goyah oleh pancaran tejas Śiva. Lalu sang sārathi memegang kendali, menegakkan dan menstabilkan kuda-kuda serta menenangkan gerak kereta. Bab ini menjadi tableau pra-perang: tatanan ilahi ditampakkan, pertanda kosmis menegaskan tejas Śiva yang tak terukur, dan kisah perang dipijakkan pada simbolisme Weda (ratha-haya-nigama).
त्रिपुरदाहवर्णनम् | Tripura-dāha-varṇanam (Description of the Burning of Tripura)
Bab ini mengisahkan pendahuluan langsung sebelum Śiva membakar Tripura, tiga kota para asura Tāraka. Sanatkumāra menggambarkan Śambhu/Maheśvara menaiki kereta perang, bersenjata lengkap, menyiapkan anak panah yang tiada banding, lalu berdiri dalam sikap tempur yang teguh sambil memusatkan batin dalam waktu yang luar biasa lama, laksana tapa. Dalam konteks pembidikan, disebut seorang pemimpin gaṇa yang terkait dengan ibu jari, menandai ketelitian teknis dan ketepatan ritual dalam perang ilahi. Dari langit terdengar peringatan: sebelum menyerang, Vināyaka (Gaṇeśa) harus dipuja; jika tidak, pemusnahan Tripura tidak akan berlangsung. Śiva pun memuja Gaṇeśa dan memanggil Bhadrakālī; setelah Vināyaka berkenan, kisah berlanjut menuju penampakan/penentuan posisi tiga kota, serta ajaran bahwa bila Maheśvara—Parabrahman yang dipuja semesta—bertindak sebagai pelaku, keberhasilan bukanlah karena “anugerah pihak lain”, melainkan karena tatanan dharma, tata-ritus, dan tekad suci.
त्रिपुरदाहानन्तरं देवभयः ब्रह्मस्तुतिश्च — Fear of the Gods after Tripura’s Burning and Brahmā’s Praise
Adhyaya 11 dibuka dengan pertanyaan Vyasa tentang akibat pembakaran Tripura: ke mana Māyā sang perancang dan para penguasa Tripura pergi, serta memohon kisah lengkap berlandaskan śaṃbhukathā. Sūta menyampaikan bahwa Sanatkumāra, sambil mengingat kaki Śiva, memulai penjelasan dan menegaskan bahwa karya-karya Śiva bersifat pemusnah dosa dan merupakan līlā kosmis. Setelah itu para dewa tertegun dan kelu oleh tejas Rudra yang dahsyat; wujud Śiva digambarkan menyala ke segala arah, laksana jutaan matahari, sebanding dengan api pralaya, sehingga para dewa, para ṛṣi, bahkan Brahmā pun diliputi takut. Mereka berdiri dengan hormat dan kerendahan hati; Brahmā, meski menenangkan batin, tetap gentar lalu bersama para dewa melantunkan stuti—pujian sebagai tanggapan yang tepat setelah menyaksikan rupa tertinggi Śiva.
मयस्य शिवस्तुतिः — Maya’s Hymn to Śiva (and Śiva’s Gracious Response)
Adhyaya 12 dibuka dengan kisah Sanatkumara tentang Maya Danawa yang mendekati Śiva setelah melihat beliau dalam keadaan prasanna (berkenan). Maya—yang dahulu tetap “tak terbakar” (adagdha) oleh belas kasih Śiva—datang dengan sukacita dan berulang kali bersujud penuh hormat. Setelah bangkit, ia melantunkan stuti panjang: memuja Śiva sebagai Devadeva/Mahadeva, bhaktavatsala, pemberi laksana kalpavṛkṣa, tanpa memihak, berwujud cahaya (jyotirūpa), berwujud semesta (viśvarūpa), suci dan menyucikan, beraneka rupa namun melampaui rupa, serta sebagai kartṛ-bhartṛ-saṃhartṛ dunia. Maya mengakui ketidakmampuannya memuji dengan layak, lalu berserah (śaraṇāgata) memohon perlindungan. Sanatkumara menutup bagian ini: Śiva mendengar stuti itu, berkenan, dan menyapa Maya dengan hormat—menandai awal wejangan/anugerah berikutnya.
कैलासमार्गे शङ्करस्य परीक्षा — Śiva Tests the Approachers on the Kailāsa Path
Adhyaya 13 disampaikan berlapis: Vyasa memohon uraian rinci tentang perbuatan Śiva dan kemasyhuran-Nya yang tanpa noda; Sūta menuturkan jawaban Sanatkumāra. Lalu Jīva dan Indra (Śakra/Puraṃdara), digerakkan bhakti yang mendalam, menempuh jalan menuju Kailāsa untuk memperoleh darśana Śiva. Mengetahui kedatangan mereka, Śiva bertekad menguji pengetahuan dan batin mereka; di tengah jalan Ia menghadang dalam wujud digambara, berambut gimbal terikat, asketis namun bercahaya, tampak dahsyat dan luar biasa. Indra, tidak mengenali Śiva dan terbawa kesombongan jabatan, menanyai-Nya: siapa engkau, dari mana datang, dan apakah Śambhu ada di kediaman atau pergi ke tempat lain. Peristiwa ini menonjolkan tema pengenalan vs salah pengenalan, bahaya keangkuhan institusional, serta tata krama mendekati Yang Ilahi dengan kerendahan hati dan kebijaksanaan, bukan rasa berhak.
शिवतेजसः समुद्रे बालरूपप्रादुर्भावः (Śiva’s Tejas Manifesting as a Child in the Ocean)
Adhyaya 14 melanjutkan dialog Vyasa–Sanatkumara. Vyasa menanyakan akibat ketika tejas Śiva yang lahir sendiri, muncul dari bhālanetra/mata ketiga, dilemparkan ke samudra asin. Sanatkumara menjelaskan bahwa di pertemuan Sindhu–Gangga dengan lautan, tejas itu seketika berubah dan menampakkan diri sebagai wujud anak. Tangisan anak yang menggetarkan itu mengguncang kosmos: bumi bergetar, alam-alam surgawi tertegun seakan tuli, dan semua makhluk termasuk para lokapāla dilanda ketakutan. Para dewa dan resi tak mampu menahan pertanda tersebut, lalu berlindung kepada Brahmā—Pitāmaha, Lokaguru, Parameṣṭhin—dengan sujud dan pujian, memohon penjelasan serta jalan pemulihan; menjadi pengantar bagi penyelesaian berikutnya.
राहोः शिरच्छेदन-कारणकथनम् / The Account of Rāhu’s Beheading (Cause and Background)
Adhyaya 15 dibuka di balairung kerajaan Jalandhara. Raja asura kelahiran samudra itu duduk bersama permaisuri dan para asura, ketika Śukra (Bhārgava) yang bercahaya laksana kemuliaan menjelma datang dan dihormati sebagaimana mestinya. Jalandhara, mantap oleh kuasa anugerahnya, melihat Rāhu hadir dalam keadaan kepala terpenggal (chinna-śiras) lalu segera menanyakan kepada Śukra: siapa penyebab pemenggalan itu dan bagaimana kebenaran peristiwanya. Śukra, setelah dalam batin bersujud pada padma kaki Śiva, mulai menuturkan penjelasan bergaya itihāsa secara teratur—bermula dari kisah-kisah asura terdahulu seperti Bali putra Virocana, keturunan Hiraṇyakaśipu—sehingga keadaan Rāhu dipahami dalam rangkaian sebab akibat perjumpaan dewa–asura, terkait tipu daya, jasa kebajikan, dan ganjaran. Bab ini menjadikan tanya-jawab istana sebagai kisah didaktis sang guru, sekaligus memberi isyarat dinamika konflik berikutnya.
देवाः वैकुण्ठगमनम् तथा विष्णोः अवतारस्तुतिः | Devas Go to Vaikuṇṭha and Praise Viṣṇu’s Avatāras
Adhyaya 16 menceritakan para dewa yang ketakutan oleh serangan asura dan pergi ke Vaikuntha dipimpin oleh Prajapati. Di sana, mereka memuja Dewa Wisnu dan mengenang jasa-jasa-Nya dalam berbagai awatara seperti Matsya, Kurma, Varaha, Vamana, Parasurama, Rama, dan Krishna untuk memohon perlindungan.
अध्याय १७ — देवपलायनं, विष्णोः प्रतियुद्धं, जलंधरक्रोधः (Devas’ Rout, Viṣṇu’s Counterattack, and Jalandhara’s Wrath)
Adhyaya ini dibuka dengan kisah Sanatkumāra tentang pembalikan keadaan di medan perang: para daitya yang perkasa menghantam para dewa dengan śūla, paraśu, paṭṭiśa dan senjata lain, hingga para dewa terluka, gentar, lalu melarikan diri. Melihat kemunduran itu, Hṛṣīkeśa (Viṣṇu) segera datang menunggang Garuḍa untuk bertempur kembali. Dengan śaṅkha, pedang, gada, dan busur Śārṅga, Viṣṇu berperang dengan disiplin dan murka suci; dentang Śārṅga menggema di tiga dunia. Panah-panahnya memenggal banyak prajurit diti-ja, dan Sudarśana menyala di tangannya sebagai lambang perlindungan bagi para bhakta. Pasukan daitya dihantam dan tercerai-berai oleh hembusan sayap Garuḍa, berputar seperti awan dalam badai. Melihat tentaranya terdesak, asura agung Jalandhara—yang menakutkan bagi para dewa—meledak dalam amarah. Seorang pahlawan lalu maju cepat untuk bertempur bersama Hari, menyiapkan babak konfrontasi utama berikutnya.
देवशरणागति-नारदप्रेषणम् | The Devas Take Refuge in Śiva; Nārada Is Sent
Adhyaya ini dibuka dengan uraian Sanatkumara tentang penderitaan para dewa di bawah penindasan asura besar (terkait Jalandhara). Terusir dan gelisah, para dewa bersama-sama berserah diri (śaraṇāgati) kepada Śiva, memuji Maheśvara sebagai pemberi anugerah dan pelindung para bhakta. Śiva yang sarvakāmada dan bhaktavatsala lalu memulai langkah pemulihan dengan memanggil serta menugaskan Nārada demi devakārya. Nārada, sang jñānī dan bhakta Śiva, berangkat sesuai perintah; Indra dan para dewa menyambutnya dengan hormat, memberi tempat duduk dan penghormatan. Para dewa kemudian menyampaikan keluhan: mereka diusir paksa oleh daitya Jalandhara dan diliputi duka; rangkaian sebab untuk intervensi ilahi berikutnya pun ditegaskan.
जालन्धरस्य दूतप्रेषणम् — Jalandhara Sends an Envoy to Kailāsa (The Provocation of Śiva)
Setelah kepergian Narada, Jalandhara menjadi terobsesi dengan keindahan Parwati. Ia mengirim utusan bernama Saiṃhikeya ke Kailasa untuk menghina Siwa sebagai seorang yogi pengembara dan menuntut agar Siwa menyerahkan istrinya kepada Jalandhara yang mengaku sebagai penguasa alam semesta.
राहोर्विमोचनानन्तरं जलन्धरस्य सैन्योद्योगः — Rahu’s Aftermath and Jalandhara’s Mobilization
Dalam adhyāya ini, melalui tuturan Sūta, Vyāsa bertanya kepada Sanatkumāra: setelah Rāhu dibebaskan oleh “Puruṣa” yang misterius, ke manakah ia pergi? Sanatkumāra menjelaskan bahwa tempat pembebasan itu kemudian dikenal di dunia dengan nama “Varvara”. Rāhu, setelah kembali memperoleh keangkuhan dan keteguhan, pulang menuju kota Jalandhara dan melaporkan rangkaian tindakan Īśa (Śiva). Mendengar kabar itu, Jalandhara—putra Sindhu dan yang utama di antara para daitya—murka, kehilangan kendali, lalu memerintahkan pengerahan besar pasukan asura; ia menyebut para pemimpin dan golongan seperti Kālanemi dan lainnya, Śumbha-Niśumbha, serta berbagai klan Kālaka/Kālakeya, Maurya, Dhumra, dan sebagainya untuk bersiap berperang.
द्वन्द्वयुद्धवर्णनम् / Description of the Duel-Combats
Adhyaya ini dibuka dengan uraian Sanatkumara: para asura murka ketika melihat panglima utama gaṇa Śiva—Nandīśvara, Bhṛṅgi/“ibhamukha”, dan Ṣaṇmukha (Kārttikeya)—lalu mereka maju ke medan laga dalam duel-duel teratur (dvaṃdva-yuddha). Niśumbha menantang Kārttikeya dan memanah jantung wahana meraknya dengan lima anak panah hingga jatuh tak sadar. Kārttikeya membalas dengan menembus kereta dan kuda-kuda Niśumbha serta melukainya dengan panah tajam sambil mengaum di tengah perang; namun Niśumbha membalas, dan saat Kārttikeya hendak meraih śakti, Niśumbha cepat menjatuhkannya dengan tombak/śakti miliknya. Bersamaan itu diceritakan duel Nandīśvara melawan Kālanemi: Nandī menghantam dan memutus bagian-bagian penting kereta—kuda, panji (ketu), kereta, dan sais—hingga perlengkapan perang Kālanemi lumpuh; Kālanemi yang murka lalu memotong busur Nandī dengan panah-panah tajam. Bab ini menonjolkan eskalasi taktik, pelumpuhan sarana tempur sebagai simbol, serta keteguhan para pahlawan meski terluka, sebagai landasan bagi pembalikan berikutnya dan tegaknya kembali tatanan ilahi.
रुद्रस्य रणप्रवेशः तथा दैत्यगणानां बाणवृष्टिः (Rudra Enters the Battlefield; the Daityas’ Arrow-Storm)
Adhyaya 22 dibuka dengan kisah Sanatkumara: Rudra (Siwa), menunggangi Wrsabha, maju ke medan perang dalam wujud raudra yang menggetarkan, sambil tersenyum seakan bermain. Melihat kedatangan Rudra, para gana yang sebelumnya kalah kembali berani, mengaum, dan menyerbu lagi, menghujani para daitya dengan rentetan panah rapat. Para daitya gentar memandang Sankara, tercerai-berai laksana dosa yang lari karena takut. Pemimpin mereka, Jalandhara, melihat mundurnya pasukan lalu menerjang Candisa sambil melepaskan ribuan panah. Raja-raja daitya seperti Nisumbha dan Sumbha serta para kesatria lain maju murka menuju Siwa, menutupi gana dengan “kegelapan panah”, memotong anggota tubuh dan menekan bala Saiwa. Siwa kemudian memutus jaring panah itu dan memenuhi langit dengan senjatanya sendiri, mencipta badai balasan yang dahsyat; para daitya tersiksa dan jatuh tersungkur ke tanah. Alur ini menegaskan keunggulan Rudra dan rapuhnya kuasa daitya di hadapan kehadiran Ilahi.
वृन्दायाः दुष्स्वप्न-दर्शनं तथा पातिव्रत्य-भङ्गोपक्रमः / Vṛndā’s Ominous Dreams and the Prelude to the Breach of Chastity
Adhyaya 23 disajikan sebagai dialog. Vyāsa bertanya kepada Sanatkumāra tindakan apa yang dilakukan Hari (Viṣṇu) dalam konteks Jālandhara dan bagaimana dharma ditinggalkan. Sanatkumāra menuturkan bahwa Viṣṇu menuju Jālandhara dan memulai siasat untuk mematahkan daya pelindung pātivratya Vṛndā (kesetiaan/kemurnian istri), yang secara tersirat terkait dengan kekuatan serta ketakterkalahkan sang daitya. Lalu Vṛndā diguncang oleh dussvapna akibat māyā: suaminya tampak dalam rupa-rupa pertanda buruk dan menyimpang (telanjang, berlumur minyak, terkait kegelapan, bergerak ke arah selatan), dan kotanya seakan tenggelam ke lautan. Setelah terjaga, ia melihat matahari redup/cacat, diliputi takut dan duka, serta tidak menemukan ketenangan bahkan di tempat tinggi atau di taman kota bersama para sahabat. Adhyaya ini menegaskan rantai sebab: māyā ilahi menggoyahkan batin, pertanda menandai retaknya dharma, dan kisah bersiap menuju pelanggaran pātivratya yang berdampak pada tatanan kuasa kosmis dalam alur Yuddhakhaṇḍa.
जलंधरयुद्धे मायाप्रयोगः — Jalandhara’s Māyā in the Battle with Śiva
Adhyaya 24 melanjutkan pertempuran Jalaṃdhara melawan Śiva. Vyāsa bertanya kepada Sanatkumāra tentang kejadian berikutnya dan bagaimana sang daitya akan ditundukkan. Saat laga berlanjut, Girijā tidak tampak; Vṛṣadhvaja Tryambaka memahami itu sebagai lenyap karena māyā, dan meski Mahakuasa, Beliau mengambil “laukikī gati” demi līlā, menampakkan marah dan takjub. Jalaṃdhara menghujani panah, namun Śiva dengan mudah menebasnya, menegaskan keunggulan Rudra. Lalu Jalaṃdhara meningkatkan tipu daya: ia menciptakan penglihatan Gaurī terikat di kereta, menangis, seolah ditawan oleh Śuṃbha–Niśuṃbha dan para makhluk asura, untuk menggoyahkan keteguhan Śiva. Reaksi Śiva digambarkan sejenak: diam, wajah tertunduk, anggota melemah, seakan lupa akan daya-Nya—menunjukkan fungsi māyā sebagai ujian dan perangkat dramatik. Setelah itu Jalaṃdhara memanah kepala, dada, dan perut Śiva, menyiapkan rangkaian peristiwa berikutnya.
देवस्तुतिः — Hymn of Praise by the Devas (Devastuti)
Adhyaya 25 dibuka dengan Sanatkumara yang menuturkan bagaimana Brahma bersama para dewa dan resi yang berkumpul bersujud hormat lalu melantunkan himne resmi kepada Siwa sebagai Devadevesa. Pujian menonjolkan sifat Siwa yang penuh kasih kepada mereka yang berlindung (saranagata-vatsala) serta kuasa-Nya yang senantiasa melenyapkan duka para bhakta. Para dewa mengungkap teologi yang tampak paradoks: Siwa menakjubkan dalam lila, mudah didekati melalui bhakti namun sukar dicapai oleh yang tidak suci; bahkan Weda tak mampu memahami-Nya sepenuhnya, sementara para makhluk luhur terus menyanyikan kemuliaan-Nya yang tersembunyi. Anugerah Siwa dapat membalikkan ukuran kemampuan rohani yang biasa; Ia mahahadir, tak berubah, dan menampakkan diri pada bhakti sejati. Dicontohkan Yadupati beserta istrinya Kalavati, serta Raja Mitrasaha dengan Madayanti, yang meraih kesempurnaan tertinggi dan kaivalya melalui bhakti. Bab ini berfungsi sebagai stotra doktrinal dalam alur kisah, memetakan bhakti → penampakan ilahi → pembebasan.
विष्णुचेष्टितवर्णनम् / Account of Viṣṇu’s Stratagem and Its Aftermath
Adhyaya 26 melanjutkan uraian pascakonflik. Vyasa memohon kepada Sanatkumara penjelasan yang jelas tentang peristiwa Waisnawa: bagaimana Viṣṇu bertindak setelah memperdaya Vṛndā dan ke mana ia pergi. Saat para dewa terdiam, Śiva (Śaṃbhu) yang welas asih kepada para pencari perlindungan menenangkan mereka: demi kesejahteraan para dewa Ia telah membinasakan Jalandhara, lalu menanyakan apakah mereka telah memperoleh kebaikan; Ia menegaskan bahwa tindakan-Nya hanyalah līlā, tanpa perubahan pada hakikat-Nya. Para dewa kemudian memuji Rudra dan melaporkan tindakan Viṣṇu: Vṛndā telah tertipu oleh upaya Viṣṇu, masuk ke api, dan mencapai keadaan tertinggi; namun Viṣṇu sendiri, terpikat oleh keindahan Vṛndā, tetap terdelusi oleh māyā Śiva sambil membawa abu pembakaran jenazahnya. Bab ini menegaskan perbedaan antara kuasa ilahi dan kerentanan terhadap moha, serta menonjolkan kedaulatan Śiva atas māyā dan akibat etis dari penipuan dalam tatanan dharma.
शङ्खचूडवधकथनम् / The Account of Śaṅkhacūḍa’s Slaying
Adhyaya 27 dibuka dengan Sanatkumara menasihati Vyasa bahwa kisah ini, cukup dengan mendengarnya (śravaṇamātra), meneguhkan Śiva-bhakti dan melenyapkan dosa. Diperkenalkanlah pahlawan daitya Śaṅkhacūḍa, pengganggu para dewa, serta isyarat bahwa ia kelak tewas di medan perang oleh triśūla Śiva. Untuk menempatkan peristiwa dalam sebab-akibat Purana, dipaparkan silsilah: Kaśyapa putra Marīci adalah prajāpati yang dharmika; Dakṣa menyerahkan tiga belas putrinya kepadanya, darinya ciptaan meluas amat besar (disingkat karena luasnya). Di antara istri Kaśyapa, Danu ditonjolkan; dari garisnya disebut Vipracitti dan putranya Dambha—saleh, terkendali, dan bhakta Viṣṇu—sebagai landasan moral bagi konflik yang akan melibatkan Śaṅkhacūḍa dan tatanan ilahi.
शङ्खचूडकृततपः—ब्रह्मवरकवचप्राप्तिः / Śaṅkhacūḍa’s Austerity—Brahmā’s Boon and the Bestowal of the Kavaca
Sanatkumāra menuturkan tapa disiplin Śaṅkhacūḍa di Puṣkara setelah menerima ajaran Jaigīṣavya. Setelah memperoleh brahma-vidyā dari gurunya, ia melakukan japa dengan indria terkendali dan batin terpusat. Brahmā, guru Brahmaloka, datang memberi anugerah dan mempersilakannya memilih. Śaṅkhacūḍa bersujud memuji Brahmā dan memohon ketakterkalahkan terhadap para dewa; Brahmā mengabulkannya dengan hati senang. Brahmā juga menganugerahkan pelindung ilahi berupa teks-mantra, Śrīkṛṣṇakavaca, yang membawa kemuliaan dan kemenangan. Lalu ia diperintahkan pergi ke Badarī bersama Tulasī dan melangsungkan pernikahan di sana, sebab Tulasī adalah putri Dharmadhvaja. Brahmā lenyap; Śaṅkhacūḍa yang berhasil dalam tapas mengenakan kavaca dan bergegas menuju Badarikāśrama, menyiapkan latar bagi konflik berikutnya dan akibat moralnya.
शङ्खचूडकस्य राज्याभिषेकः तथा शक्रपुरीं प्रति प्रस्थानम् | Śaṅkhacūḍa’s Coronation and March toward Indra’s City
Dalam adhyaya ini, Sanatkumara melaporkan bahwa setelah Śaṅkhacūḍa pulang dan menikah, para dānava bersukacita mengingat tapa dan anugerah (vara) yang ia peroleh. Para dewa bersama guru mereka datang, memuji dengan hormat serta mengakui sinar kemuliaan dan kewibawaannya. Śaṅkhacūḍa pun bersujud penuh (sāṣṭāṅga) kepada kulaguru yang tiba. Śukra, ācārya garis asura, menjelaskan permusuhan alami dewa–dānava, kekalahan asura di masa lalu, kemenangan para dewa, serta peran “jīva-sāhāyya” (dukungan makhluk berjasad) dalam hasil peristiwa. Para asura mengadakan perayaan dan mempersembahkan hadiah. Dengan persetujuan bersama, sang guru menobatkan Śaṅkhacūḍa sebagai penguasa dānava dan asura sekutu. Setelah penobatan, ia bersinar laksana raja, menghimpun bala besar daitya, dānava, dan rākṣasa; naik kereta perangnya, ia berangkat cepat untuk menaklukkan Śakrapurī, kota Indra, menandai awal arah peperangan dan bentrokan yang mendekat.
शिवलोकप्रवेशः (Entry into Śivaloka through successive gateways)
Adhyaya 30 menggambarkan jalan menuju Śivaloka melalui gerbang-gerbang berlapis dan izin yang resmi. Sanatkumāra menuturkan bahwa dewa yang datang (dalam kisah disebut Brahmā/Rameśvara) mencapai Śivaloka yang “mahādivya”, bersifat nirādhāra dan abhautika (tak bertumpu dan non-material). Viṣṇu melangkah dengan sukacita batin, memandang alam yang bercahaya dan berhias banyak permata. Ia tiba di gerbang pertama yang dijaga para gaṇa, lalu bertemu para dvārapāla yang duduk di singgasana permata, berpakaian putih dan berhiaskan ratna. Para penjaga digambarkan dengan ciri ikonografi Śaiva: lima wajah, tiga mata, memegang triśūla dan senjata lain, berbalut abu suci serta rudrākṣa. Setelah bersujud hormat, Viṣṇu menyampaikan maksudnya—memohon darśana Tuhan Śiva—dan memperoleh ājñā untuk masuk. Pola ini berulang pada banyak gerbang (lima belas disebut jelas), hingga gerbang agung tempat Nandin tampak; setelah penghormatan dan pujian, Nandin memberi izin, dan Viṣṇu masuk ke kawasan dalam dengan penuh sukacita. Bab ini menegaskan hirarki ruang suci, tata krama, stuti, dan masuk dengan izin sebagai syarat mendekat kepada Śiva.
शिवस्य आश्वासनं हरि-ब्रह्मणोः तथा शङ्खचूडवृत्तान्तकथनम् / Śiva’s Reassurance to Hari and Brahmā; Account of Śaṅkhacūḍa’s Origin
Adhyaya 31 dibuka dengan kisah Sanatkumāra: setelah mendengar kata-kata cemas Hari (Viṣṇu) dan Vidhī (Brahmā), Śambhu (Śiva) menjawab dengan suara dalam laksana gemuruh, namun disertai senyum, menenangkan mereka—“Tinggalkan rasa takut; perkara yang timbul dari Śaṅkhacūḍa pasti berakhir membawa kebaikan.” Śiva menyatakan bahwa Ia mengetahui seluruh latar sejati Śaṅkhacūḍa dan mengaitkannya dengan kisah terdahulu tentang Sudāmā, seorang gopa, bhakta Kṛṣṇa. Atas perintah Śiva, Hṛṣīkeśa mengambil wujud Kṛṣṇa dan tinggal di Goloka yang elok; di sana muncul delusi “aku mandiri,” sehingga berlangsung berbagai lila seakan-akan tanpa penguasa. Melihat kemabukan batin itu, Śiva mengerahkan māyā-Nya, menarik pemahaman yang benar, dan menyebabkan sebuah kutukan terucap—menjadi mekanisme karma yang kelak melahirkan konflik dengan Śaṅkhacūḍa. Setelah lila selesai, Śiva menarik kembali māyā; mereka memperoleh pengetahuan lagi, bebas dari delusi, datang dengan rendah hati kepada Śiva, mengakui semuanya dengan malu, dan memohon perlindungan. Śiva berkenan, kembali memerintahkan agar tidak takut, serta menegaskan bahwa semuanya berjalan di bawah titah-Nya—menjelaskan hakikat takut, delusi, dan asal ilahi perjalanan sang antagonis.
शिवदूतस्य शङ्खचूडकुलप्रवेशः — The Śiva-Envoy’s Entry into Śaṅkhacūḍa’s City
Adhyaya ini dibuka dengan uraian Sanatkumara bahwa sesuai kehendak para dewa dan tuntutan kala (waktu) yang kian menggelap, Mahesvara berketetapan menuntaskan kematian Sankhacuda. Siwa lalu menunjuk dan mengutus Puṣpadanta sebagai dūta-Nya agar segera pergi menemui Sankhacuda. Dengan wibawa perintah Tuhan, sang utusan tiba di kota para asura yang digambarkan melampaui kemegahan kota Indra dan bahkan melebihi kediaman Kubera. Memasuki pusat kota, ia melihat istana Sankhacuda dengan dua belas gerbang yang dijaga para penjaga; tanpa gentar ia menyampaikan maksud kedatangannya dan diizinkan masuk, lalu menyaksikan bagian dalam yang luas dan berhias indah. Ia kemudian melihat Sankhacuda bertakhta di singgasana permata, dikelilingi para pemimpin danava serta dilayani bala tentara bersenjata yang besar. Penuh takjub, Puṣpadanta menyapa sang “raja”, memperkenalkan diri sebagai utusan Siwa, dan menyampaikan pesan Sankara, menyiapkan panggung bagi perdebatan diplomatik dan meningkatnya ketegangan menuju perang.
शिवस्य सैन्यप्रयाणम् तथा गणपतिनामावलिः (Śiva’s Mobilization for War and the Catalogue of Gaṇa Commanders)
Adhyaya ini beralih dari nasihat menuju mobilisasi perang seketika. Sanatkumara menuturkan bahwa setelah mendengar ucapan yang memprovokasi, Girisha Rudra (Śiva) menahan murka namun tegas memerintah Vīrabhadra, Nandin, Kṣetrapāla, serta Aṣṭabhairava agar seluruh gaṇa bersenjata dan siap bertempur. Ia memerintahkan dua Kumāra, Skanda dan Gaṇeśa, berangkat di bawah komandonya, serta mengarahkan Bhadrakālī maju bersama pasukannya; Śiva sendiri menyatakan keberangkatan segera demi memusnahkan Śaṅkhacūḍa. Dikisahkan pula Maheśāna berangkat bersama bala tentara dan para vīra-gaṇa mengikuti dengan semangat. Bagian pentingnya ialah daftar nama para pemimpin gaṇa dan pengiring utama—seperti Vīrabhadra, Nandī, Mahākāla, Viśālākṣa, Bāṇa, Piṅgalākṣa, Vikampana, Virūpa, Vikṛti, Maṇibhadra, dan lainnya—beserta tingkatan komando dan jumlah pasukan (mis. koṭi-gaṇa, puluhan, delapan) sebagai catatan militer resmi.
शिवदूतगमनानन्तरं शङ्खचूडस्य तुलसीसम्भाषणं युद्धप्रस्थान-तत्परता च / After Śiva’s Messenger Departs: Śaṅkhacūḍa’s Counsel with Tulasī and Readiness for War
Adhyaya ini dibuka ketika Vyasa meminta Sanatkumara menuturkan apa yang dilakukan raja daitya Śaṅkhacūḍa setelah utusan Śiva pergi. Sanatkumara menceritakan bahwa Śaṅkhacūḍa masuk ke ruang dalam, menyampaikan pesan Śiva kepada Tulasī, menegaskan tekadnya berangkat berperang, dan memohon ‘śāsana’ (petunjuk tegas) darinya. Walau panggilan Śaṅkara begitu berat, keduanya larut dalam permainan asmara, seni, dan kenikmatan rumah tangga—kontras yang menampakkan sikap abai terhadap wibawa Śiva. Saat brahma-muhūrta ia bangun, menunaikan ritus pagi dan kewajiban harian, serta memberi banyak dana sebagai tampak lahiriah ketaatan dharma. Lalu ia menata suksesi: menobatkan putranya sebagai penguasa, menyerahkan harta, perbendaharaan, dan urusan pemerintahan, serta menitipkan Tulasī dalam perlindungannya. Ia menenangkan Tulasī yang menangis dan berusaha menahannya, dengan berbagai janji penghiburan. Akhirnya ia memanggil panglima perangnya, memuliakannya, memberi perintah, dan bersenjata lengkap menata persiapan pertempuran; bab ini menggambarkan peralihan dari rumah menuju medan perang melalui ritus, tata negara, dan pergulatan batin.
शङ्खचूडदूतागमनम् — The Arrival of Śaṅkhacūḍa’s Envoy (and Praise of Śiva)
Adhyaya 35 dibuka dengan Sanatkumara yang menuturkan sebuah peristiwa diplomatik di tengah rangkaian peperangan. Pihak asura yang terkait dengan Śaṅkhacūḍa mengutus seorang dūta yang sangat terpelajar kepada Śaṅkara. Sang utusan tiba dan memandang Śiva duduk di bawah akar pohon beringin, bercahaya laksana jutaan matahari, teguh dalam sikap yoga dengan pandangan terkendali dan mudrā. Lalu teks meluaskan pujian dengan banyak gelar: Śiva digambarkan tenang, bermata tiga, berselimut kulit harimau, memegang senjata, penghapus takut mati para bhakta, pemberi buah tapa, dan pembawa segala kemakmuran; juga disebut Viśvanātha/Viśvabīja/Viśvarūpa serta sebab tertinggi yang menyeberangkan makhluk melintasi samudra neraka (narakārṇava). Utusan turun, bersujud penuh hormat, menerima berkat suci di hadapan Bhadrakālī di sisi kiri Śiva dan Skanda di hadapannya. Setelah itu ia memulai pidato resmi yang patut setelah sujud, menjadi pengantar bagi perundingan, peringatan, atau tuntutan sebelum ketegangan meningkat.
शिवदूतेन युद्धनिश्चयः तथा देवदानवयुद्धारम्भः (Śiva’s Envoy and the Commencement of the Deva–Dānava War)
Adhyaya 36 dibuka dengan kisah Sanatkumara: utusan Śiva menyampaikan pesan Śiva kepada Śaṃkhacūḍa dengan rinci dan tegas. Mendengarnya, raja dānava yang perkasa, Śaṃkhacūḍa, dengan sukarela menerima perang, naik kendaraannya bersama para menteri, dan memerintahkan pasukan untuk berperang melawan Śaṅkara. Śiva pun segera mengerahkan bala-Nya bersama para dewa; Sang Bhagavān sendiri bersiap secara līlā, menandakan keagungan-Nya melampaui jerih payah. Perang pun seketika dimulai—bunyi alat perang menggema, hiruk-pikuk bangkit, dan seruan para pahlawan memenuhi medan. Lalu dipaparkan duel-duel dewa dan dānava yang berlangsung “menurut dharma”: Indra vs Vṛṣaparvan, Sūrya vs Vipracitti, Viṣṇu vs Dambha, Kāla vs Kālāsura, Agni vs Gokarṇa, Kubera vs Kālakeya, Viśvakarmā vs Māyā, Mṛtyu vs Bhayaṃkara, Yama vs Saṃhāra, Varuṇa vs Kālambikā, Vāyu vs Caṃcala, Budha vs Ghaṭapṛṣṭha, dan Śanaiścara vs Raktākṣa, dan lainnya.
देवपराजयः — शङ्करशरणागमनं स्कन्दकालीयुद्धं च | Devas’ Defeat, Refuge in Śaṅkara, and the Battle of Skanda and Kālī
Adhyaya 37 dibuka dengan kisah Sanatkumara tentang kekalahan para dewa oleh para danawa: para dewa yang terluka oleh senjata lari ketakutan. Mereka lalu berbalik dan mendatangi Viśveśa Śaṅkara sebagai perlindungan tertinggi, memohon keselamatan. Śiva melihat kekalahan itu; mendengar ratapan mereka Ia murka kepada kekuatan lawan, namun dengan pandangan penuh welas asih menganugerahkan abhaya (tanpa takut) kepada para dewa serta menambah daya dan cahaya para gaṇa-Nya. Atas perintah Śiva, Skanda—Harātmaja, Tārakāntaka—masuk ke medan perang tanpa gentar dan menghancurkan barisan musuh yang luas. Bersamaan itu, kedahsyatan Kālī digambarkan tajam: meminum darah dan menebas kepala, menambah gentar perang bagi sura maupun danawa. Alurnya menegaskan: runtuhnya pasukan dewa → berserah kepada Śiva → pemberdayaan ilahi → serangan balik yang menentukan, dengan Śiva sebagai sebab utama perlindungan dan kemenangan.
अध्याय ३८ — काली-शंखचूड-युद्धे अस्त्रप्रयोगः (Kālī and Śaṅkhacūḍa: Mantra-Weapons and Surrender in Battle)
Bab ini menampilkan kemuliaan Śakti di medan perang, sebagaimana dituturkan Sanatkumāra. Dewi Kālī memasuki gelanggang, mengaum laksana singa hingga para dānava pingsan, sementara para gaṇa dan bala dewa bersorak gemuruh. Bersama wujud-wujud garang seperti Ugradaṃṣṭrā, Ugradaṇḍā, dan Koṭavī, Sang Dewi tertawa menggelegar, menari di medan laga, serta meneguk madhu/madhvīka—tanda daya yang mengguncang jagat. Śaṅkhacūḍa menantang Kālī; ia melemparkan api bak nyala pralaya, namun ia ditahan dengan siasat bertanda Viṣṇu. Kālī lalu melepaskan Nārāyaṇāstra; kedahsyatannya memaksa Śaṅkhacūḍa bersujud daṇḍavat dan berulang kali memberi hormat, sehingga astra itu surut—menegaskan bahwa penyerahan diri meredakan daya pemusnah. Setelah itu Dewi melontarkan Brahmāstra dengan mantra; raja dānava membalas dengan kontra-Brahmāstra, menggambarkan perang sebagai pertukaran kuasa kosmis yang sah, diatur oleh tata mantra dan etika kerendahan hati.
शिवशङ्खचूडयुद्धवर्णनम् / Description of the Battle between Śiva and Śaṅkhacūḍa
Bab ini dibuka dengan pertanyaan Vyāsa: apa yang dilakukan dan diucapkan Śiva setelah mendengar kata-kata Kālī. Sanatkumāra menuturkan bahwa Śaṅkara, Tuhan Tertinggi, tersenyum menenteramkan Kālī; setelah mendengar seruan langit (vyomavāṇī), Ia sendiri berangkat ke medan perang bersama para gaṇa. Śiva digambarkan menunggang lembu agung Nandin, didampingi Vīrabhadra serta para pelindung garang seperti Bhairava dan Kṣetrapāla, menegaskan kewibawaan-Nya sebagai pelindung. Tiba di sana Ia mengambil wujud kepahlawanan yang berkilau laksana Maut bagi musuh. Melihat Śiva, Śaṅkhacūḍa turun dari kendaraannya dan bersujud penuh bhakti, namun segera kembali bersiap: dengan daya yoga ia naik lagi, menggenggam busur dan menantang perang. Pertempuran dahsyat berlangsung seratus tahun, hujan panah saling berbalasan. Senjata mengerikan Śaṅkhacūḍa dipatahkan Śiva dengan mudah; Rudra menurunkan hukuman bagi yang jahat dan menjadi perlindungan bagi yang baik, menghujani musuh dengan badai senjata.
शङ्खचूडस्य मायायुद्धं तथा माहेश्वरास्त्रप्रभावः | Śaṅkhacūḍa’s Māyā-Warfare and the Power of the Māheśvara Astra
Adhyaya ini melanjutkan kisah pertempuran dengan menyoroti hakikat kekuatan. Melihat pasukannya hancur, pemimpin dānava Śaṅkhacūḍa murka dan menantang Śiva untuk bertarung langsung, bersumpah berdiri teguh di medan laga. Ia maju ke arah Śaṅkara, menghujani dengan senjata-senjata ilahi dan panah bagaikan hujan. Lalu ia mengerahkan berbagai wujud māyā—tersembunyi, menakutkan, dan bahkan sulit dipahami para dewa. Śiva menyaksikan semua ilusi itu dan dengan līlā melepaskan Māheśvara Astra, penangkal agung yang bercahaya dan memusnahkan seluruh māyā. Oleh tejas Śiva, māyā sang raksasa runtuh seketika, dan senjata-senjata ilahi yang tadinya dahsyat pun kehilangan sinarnya. Ketika Śiva mengangkat śūla untuk serangan penentu, terdengar suara tanpa raga memohon penahanan diri—Śiva sanggup melenyapkan semesta dalam sekejap; membunuh satu asura bukan soal kemampuan, melainkan soal waktu yang ditetapkan dan tatanan kosmis. Bab ini menegaskan: māyā dan astra nyata namun bersyarat, sedangkan kedaulatan Śiva bersifat mutlak.
तुलसी-शङ्खचूडोपाख्यानम् — Viṣṇu’s Disguise and the Tulasī Episode (Prelude to Śaṅkhacūḍa’s Fall)
Adhyaya ini dibuka dengan pertanyaan Vyāsa: bagaimana Nārāyaṇa melakukan vīryādhāna dalam rahim Tulasī. Sanatkumāra menjelaskan bahwa atas perintah Śiva dan demi tujuan para dewa, Viṣṇu dengan kekuatan māyā menyamar sebagai Śaṅkhacūḍa dan mendatangi kediaman Tulasī. Dikisahkan kedatangan di ambang pintu, bunyi dundubhi, seruan kemenangan, serta sambutan gembira Tulasī—ia memandang dari jendela, menata upacara maṅgala, memberi dana kepada brāhmaṇa, berhias, lalu membasuh kaki dan bersujud kepada sosok yang tampak sebagai suami. Penyamaran ilahi ini menjadi sarana dharma dalam konteks perang untuk meluruhkan perlindungan Śaṅkhacūḍa dan menggerakkan penyelesaian kosmis, sekaligus menampakkan ketegangan moral antara bhakti, tipu daya, dan keharusan takdir ilahi.
अन्धक-प्रश्नः — Inquiry into Andhaka (Genealogy and Nature)
Adhyaya 42 dibuka dengan Nārada yang merasa puas setelah mendengar terbunuhnya Śaṅkhacūḍa, lalu memuji brahmaṇya-ācāra Mahādeva serta māyā-līlā-Nya yang menggembirakan para bhakta. Brahmā mengingatkan bahwa setelah kabar wafatnya Jalaṃdhara, Vyāsa pernah bertanya kepada resi Sanatkumāra tentang pokok teologi yang sama: keagungan Śiva sebagai pelindung para pencari perlindungan dan Tuhan yang mengasihi bhakta melalui banyak līlā. Sanatkumāra mengundang Vyāsa mendengar carita suci tentang bagaimana Andhaka, setelah konflik besar terdahulu, meraih kedudukan gaṇapatya di antara gaṇa Śiva melalui pemujaan berulang. Vyāsa lalu bertanya resmi: siapakah Andhaka, dari garis keturunan mana, bagaimana sifatnya, dan putra siapakah ia; meski telah banyak belajar dari Skanda, ia memohon uraian lengkap yang sarat rahasia berkat anugerah Sanatkumāra. Bab ini menegakkan kerangka tanya-jawab tentang asal-usul Andhaka dan logika bhakti yang menempatkan makhluk perkasa pun dalam tatanan Śiva.
हिरण्यकशिपोः क्रोधः तथा देवप्रजाकदनम् — Hiraṇyakaśipu’s Wrath and the Affliction of Devas and Beings
Adhyaya 43 disampaikan dalam bentuk tanya-jawab. Vyasa bertanya kepada Sanatkumara tentang apa yang terjadi setelah asura pemusuhi para dewa (Hiranyaksha) dibunuh oleh Hari dalam wujud Varaha. Sanatkumara menuturkan bahwa kakaknya, Hiranyakashipu, diliputi duka dan amarah; ia melaksanakan upacara air bagi mendiang seperti karodaka, lalu menetapkan kebijakan balas dendam. Ia memerintahkan para asura yang gagah namun gemar pembantaian untuk menyakiti para dewa dan seluruh makhluk. Karena asura berhati jahat itu, dunia menjadi kacau; para dewa meninggalkan surga dan hidup menyamar di bumi. Bab ini menjadi penghubung dari kemenangan ilahi sebelumnya menuju fase konflik berikutnya: penindasan Hiranyakashipu dan langkah para dewa mencari perlindungan otoritas tertinggi seperti Brahma ketika krisis makin dalam.
हिरण्यनेत्रस्य तपः — Hiraṇyanetra’s Austerity and the Boon
Sanatkumāra menuturkan bahwa Hiraṇyanetra, putra Hiraṇyākṣa, diejek di sidang istana dan disingkirkan secara politik oleh saudara-saudaranya yang mabuk dan gemar bergurau. Mereka menyatakan ia tidak layak menjadi raja, dan bahwa kerajaan harus dibagi atau dikendalikan oleh mereka. Terluka batin, Hiraṇyanetra menenangkan mereka dengan kata-kata lembut, lalu pada malam hari pergi ke hutan sunyi. Di sana ia menjalani tapa yang amat dahsyat dalam waktu sangat lama—berdiri dengan satu kaki, berpuasa, memegang kaul keras, serta melakukan homa seakan mempersembahkan diri ke dalam api, hingga tubuhnya menyusut tinggal urat dan tulang. Para dewa tercengang dan gentar, lalu memuji serta memohon perlindungan kepada Dhātā/Pitāmaha, yakni Brahmā. Brahmā datang, menghentikan tapa itu, dan menawarkan anugerah langka. Hiraṇyanetra bersujud memohon pemulihan kedudukannya dan penundukan mereka yang merebut kerajaannya, dengan menyebut Prahrāda dan lainnya; bab ini menandai perubahan kuasa karena anugerah serta ketegangan etis antara jasa tapa dan ambisi kerajaan.
अन्धकादिदैत्ययुद्धे वीरकविजयः — Vīraka’s Victory over Andhaka’s Forces
Adhyaya 45 disampaikan oleh Sanatkumara dan melanjutkan rangkaian perang melawan Andhaka beserta para daitya sekutunya. Andhaka, terhantam panah Kama—mabuk nafsu dan pikirannya goyah—maju dengan bala tentara besar menempuh jalan berbahaya, laksana serangga tertarik pada api yang mematikan. Di tengah kengerian medan perang—batu, pepohonan, kilat, air, api, ular, senjata, serta ketakutan gaib—gaṇa Śiva bernama Vīraka tetap tak terkalahkan dan menanyai jati diri sang penyusup. Terjadilah pertempuran singkat namun menentukan: daitya itu kalah, mundur dalam lapar dan haus, lalu lari ketika pedangnya yang indah dihancurkan. Sesudahnya para pemimpin daitya—pihak Prahlāda, Virocana, Bali, Bāṇa, Sahasrabāhu, Śambara, Vṛtra, dan lainnya—turun bertempur, tetapi dipukul mundur bahkan dibelah oleh Vīraka; para siddha memuji kemenangan. Dengan gambaran ngeri darah dan pemakan bangkai, ajaran yang ditegaskan ialah: kuasa yang tersesat oleh nafsu runtuh di hadapan kekuatan gaṇa Śiva dan keniscayaan dharma.
गिलासुर-आक्रमणम् तथा शिवसैन्य-समाह्वानम् — The Assault of Gila and Śiva’s Mobilization
Adhyaya 46: Sanatkumara menuturkan bahwa raja daitya bernama “Gila” maju cepat bersama bala tentaranya, mengangkat gada, lalu menyerbu dengan ganas dan berusaha menerobos benteng suci Mahesvara di “guhā-mukha”. Para daitya memakai senjata berkilau laksana kilat, merusak gerbang dan jalan taman, menghancurkan pepohonan, sulur, air, serta tatanan keindahan kawasan ilahi—tanda penyerangan tanpa tata-krama (maryādā-hīna). Hara, Sang Śūlapāṇi/Kapardin/Pinākin, mengingat lalu memanggil pasukannya; seketika berkumpul bala yang amat besar: para dewa (dengan Viṣṇu di barisan depan), bhūta, gaṇa, serta makhluk perbatasan seperti preta dan piśāca, lengkap dengan kereta, gajah, kuda, lembu, dan formasi perang. Mereka datang dengan hormat, mengangkat Vīraka sebagai senāpati, lalu atas perintah Mahesvara berangkat ke medan laga. Pertempuran berikutnya digambarkan seperti akhir zaman, melampaui batas, menegaskan pertentangan antara penodaan dan pemulihan kesucian.
शुक्रस्य जठरस्थत्वं तथा मृत्युशमनी-विद्या (Śukra in Śiva’s belly and the death-subduing vidyā)
Adhyaya 47 dibuka dengan pertanyaan Vyāsa yang menggetarkan: bagaimana mungkin Śukra Bhārgava, guru agung para daitya, dikatakan “ditelan” oleh Tripurāri Śiva? Vyāsa memohon penjelasan rinci tentang apa yang dilakukan Mahāyogin Pinākin ketika Śukra berada di dalam perut-Nya, mengapa api jatharāgni yang dahsyat laksana pralaya tidak membakarnya, dan dengan cara apa Śukra kemudian keluar dari “kurungan” perut Śiva. Ia juga menanyakan lamanya, tata cara, dan buah pemujaan Śukra kepada Śiva, terutama perolehan vidyā mṛtyu-śamanī tertinggi—pengetahuan/mantra penenang dan penolak maut. Selain itu ditanyakan bagaimana Andhaka memperoleh kedudukan sebagai gaṇapatya dan bagaimana śūla (trisula/kekuatan śūla) termanifestasi dalam peristiwa itu, dengan kunci penafsiran berupa līlā Śiva. Brahmā menyampaikan bahwa setelah mendengar Vyāsa, Sanatkumāra memulai uraian otoritatif, menempatkan kisah ini dalam konteks perang Śaṅkara–Andhaka dan formasi strateginya. Bab ini menegaskan paradoks “ditelan tanpa binasa”, memuliakan bhakti serta mantra-vidyā sebagai sarana keselamatan, dan menambatkan kembali narasi perang pada kosmologi serta pedagogi Śaiva.
शुक्रनिग्रहः — The Seizure/Neutralization of Śukra (Kāvya) and the Daityas’ Despondency
Bab ini dibuka dengan pertanyaan Vyāsa kepada Sanatkumāra: bagaimana reaksi para daitya setelah Rudra ‘menelan’ dan menetralkan Śukra (Kāvya/Bhārgava), guru mereka dan penopang kemenangan. Sanatkumāra menggambarkan runtuhnya semangat mereka lewat rangkaian perumpamaan: seperti gajah tanpa tangan, banteng tanpa tanduk, sidang tanpa kepala, brāhmaṇa tanpa pelajaran, dan upacara tanpa daya penggerak—menegaskan bahwa Śukra adalah ‘organ’ keberuntungan mereka. Setelah Nandin merampas Śukra, para daitya yang tadinya bernafsu berperang jatuh dalam putus asa. Melihat hilangnya gairah itu, Andhaka menasihati mereka, menilai peristiwa tersebut sebagai tipu daya Nandin dan sebagai lenyapnya sumber daya bersama—keberanian, kepahlawanan, gerak, kemasyhuran, sattva, tejas, dan keperkasaan—yang sirna bersama hilangnya sang Bhārgava. Uraian ini menjadi penghubung kisah, menegaskan kelemahan strategis daitya dan ketergantungan mereka pada guru serta izin ilahi.
शुक्रोत्पत्तिः तथा महेश्वरदर्शनम् (Śukra’s Emergence and the Vision of Maheśvara)
Adhyaya 49 menampilkan Sanatkumara yang melantunkan stotra-mantra panjang bagi Śiva, memuji kemahakuasaan-Nya, wujud-Nya sebagai Kala (waktu), tapa, rupa-rupa dahsyat, dan kemahahadiran-Nya. Daya mantra itu terbukti ketika Śukra muncul dari selubung perut dan keluar melalui jalan liṅga—tanda kelahiran ajaib sekaligus kelahiran kembali simbolis di bawah kuasa Śiva. Kemudian Gaurī membawanya demi memperoleh putra, dan Viśveśvara membentuk Śukra menjadi sosok bercahaya, tanpa tua dan tanpa mati, laksana ‘Śaṅkara kedua’ dalam kemilau. Setelah tiga ribu tahun di bumi, Śukra dikisahkan lahir kembali dari Maheśvara sebagai seorang muni dan gudang pengetahuan Weda. Selanjutnya ia memperoleh visi Parameśvara; di dekatnya tampak daitya Andhaka menjalani tapa berat, mengering di atas śūla, menjadi latar bagi kisah Andhaka. Deretan gelar seperti Virūpākṣa, Nīlakaṇṭha, Pinākin, Kapardin, Tripuraghna, Bhairava menegaskan potret teologis Śiva: beraneka rupa, menggetarkan namun menyelamatkan, mendalam dalam yoga, dan penguasa tiga dunia.
मृत्युञ्जय-विद्या-प्रादुर्भावः (The Manifestation/Transmission of the Mṛtyuñjaya Vidyā)
Dalam adhyāya ini, Sanatkumāra menurunkan ajaran kepada Vyāsa tentang vidyā tertinggi yang menenangkan maut, terkait Śiva sebagai Mṛtyuñjaya. Asalnya dikisahkan dari tapa panjang resi Kāvya dari garis Bhṛgu, yang pergi ke Vārāṇasī dan bermeditasi pada Viśveśvara hingga vidyā itu tersingkap oleh daya tapa. Uraian lalu menekankan tata-ritual: penetapan Śiva-liṅga, pembuatan sumur yang membawa keberkahan, abhiṣeka berulang dengan pañcāmṛta dalam takaran tertentu, disertai pemandian harum, olesan wewangian, serta persembahan bunga yang melimpah; daftar tumbuhan dan bunga menjadi penanda kemurnian, keharuman, dan kelimpahan bhakti. Puncaknya, disebut ‘Mṛtasaṃjīvanī’—vidyā suci yang lahir dari mahātapas sebagai kekuatan yang dibangun oleh tapa, dan bila berakar pada bhakti kepada Śiva, melindungi dari kematian serta memulihkan daya hidup (prāṇa).
गाणपत्यदानकथा (Bāṇāsura Receives Gaṇapatya; Genealogical Prelude)
Adhyaya 51 dibuka dengan estafet dialog: Vyasa memohon kepada Sanatkumara agar menuturkan carita Śaśimauli Śiva—terutama bagaimana Śiva, karena kasih sayang, menganugerahkan “gāṇapatya” (keterikatan/otoritas dalam lingkup gaṇa Śiva) kepada Bāṇāsura. Sanatkumara menyetujui dan menegaskan kisah ini sebagai Śiva-līlā serta itihāsa yang membawa pahala. Lalu bab beralih ke pengantar silsilah purāṇik: Marīci, putra-manasa Brahmā, diperkenalkan, disusul putranya Kaśyapa yang disebut pelaku utama perluasan makhluk. Disebutkan pernikahan Kaśyapa dengan putri-putri Dakṣa; Diti ditandai sebagai yang tertua, ibu para Daitya. Dari Diti lahir dua putra perkasa—Hiraṇyakaśipu (kakak) dan Hiraṇyākṣa (adik). Rangka silsilah ini menjadi landasan sebab bagi garis keturunan asura berikutnya dan kemunculan Bāṇa, sekaligus menyiapkan pertanyaan teologis-etis: bagaimana seorang asura tetap dapat menerima anugerah Śiva dan kedudukan gaṇa.
बाणासुरस्य शङ्करस्तुतिः तथा युद्धयाचनम् | Bāṇāsura’s Praise of Śiva and Petition for Battle
Bab ini dibuka dengan Sanatkumāra yang menuturkan kisah tambahan untuk menyingkap keagungan tertinggi Śiva dan bhakta-vātsalya-Nya, kasih pelindung kepada para bhakta. Asura Bāṇa menampilkan tāṇḍava hingga menyenangkan Śaṅkara, kekasih Pārvatī. Menyadari Śiva berkenan, Bāṇa mendekat dengan hormat, menangkupkan tangan, memuji-Nya sebagai Devadeva, Mahādeva, permata mahkota para dewa. Ia mengungkap paradoks anugerah: seribu lengan yang diberikan menjadi beban tanpa lawan sepadan. Sambil menyombongkan penaklukan atas Yama, Agni, Varuṇa, Kubera, Indra dan lainnya, ia justru memohon “datangnya perang”—medan tempat lengannya dipatahkan dan dihantam senjata musuh. Dengan demikian, bhakti dan karunia ilahi berdampingan dengan kesombongan asurik serta dahaga kekerasan, menyiapkan panggung bagi pengaturan konflik yang bersifat korektif oleh Śiva.
बाणासुरस्य क्रोधाज्ञा तथा अन्तःपुरयुद्धारम्भः (Bāṇāsura’s Wrathful Command and the Onset of Battle at the Inner Palace)
Banasura yang murka tiba di istana dalam dan melihat seorang pemuda yang bercahaya. Menganggapnya sebagai noda bagi keluarganya, ia memerintahkan agar pemuda itu dibunuh dan dipenjarakan. Sepuluh ribu prajurit dikirim. Pahlawan Yadava mengambil gada besi dan bertarung seperti dewa kematian, membasmi musuh-musuhnya.
अनिरुद्धापहरणानन्तरं कृष्णस्य शोणितपुरगमनम् तथा रुद्रकृष्णयुद्धारम्भः | After Aniruddha’s Abduction: Kṛṣṇa Marches to Śoṇitapura and the Rudra–Kṛṣṇa Battle Begins
Adhyaya 54 dibuka dengan pertanyaan Vyasa kepada Sanatkumara: apa yang dilakukan Sri Kresna setelah Aniruddha diculik oleh putri Kumbhanda. Sanatkumara menuturkan bahwa ratapan para wanita terdengar, Kresna diliputi duka, dan waktu berlalu dalam kesedihan karena Aniruddha tak kunjung tampak. Narada membawa kabar tentang penahanan Aniruddha beserta keadaannya, sehingga kegelisahan kaum Vrsni makin memuncak. Setelah mengetahui seluruh peristiwa, Kresna bertekad berperang, memanggil Garuda (Tarksya), dan segera berangkat menuju Sonitapura. Pradyumna, Yuyudhana (Satyaki), Samba, Sarana, serta para sekutu pengikut Rama dan Kresna turut menyertai. Dengan dua belas aksauhini pasukan, mereka mengepung kota Bana dari segala arah, merusak taman, benteng, menara, dan gerbangnya. Melihat serangan itu, Bana keluar dengan murka membawa kekuatan sebanding. Demi Bana, Rudra (Siwa) datang bersama putranya dan para pramatha, menunggang Nandi, dan pertempuran yang dahsyat serta menakjubkan pun dimulai antara pihak Kresna dan para pelindung Bana yang dipimpin Rudra.
अध्याय ५५ — बाणस्य पुनर्युद्धप्रवृत्तिः (Bāṇa’s Renewed Engagement in Battle)
Adhyaya 55 melanjutkan rangkaian pertempuran Bāṇa–Kṛṣṇa setelah Kṛṣṇa memakai senjata penangkal (pratyastra) yang menetralkan ancaman sebelumnya. Kisah disampaikan berlapis: Sūta menuturkan, Vyāsa bertanya, dan Sanatkumāra menjawab, menegaskan otoritas pewarisan ajaran. Vyāsa menanyakan tindakan Bāṇa ketika pasukannya tertahan. Sanatkumāra memperkenalkan peristiwa ini sebagai līlā yang luar biasa antara Kṛṣṇa dan Śaṅkara. Saat Rudra beristirahat sejenak bersama putranya dan para gaṇa, Bāṇa—raja daitya, putra Bali—melihat tentaranya menyusut, murka, lalu kembali maju berperang dengan semangat yang makin keras, mengangkat beragam senjata. Menanggapi itu, Kṛṣṇa tampil penuh keyakinan ksatria: ia mengaum, menganggap Bāṇa tak berarti, dan membunyikan busur Śārṅga begitu dahsyat hingga ruang antara langit dan bumi seakan dipenuhi gema. Tekanan bab ini pada peningkatan perang, daya bunyi (nāda), dan kecilnya kekuatan daitya di hadapan kuasa ilahi yang direstui.
बाणस्य शोकः शिवस्मरणं च — Bāṇa’s Grief and the Turn to Śiva-Remembrance
Adhyaya 56 dibuka dengan pertanyaan Nārada kepada Sanatkumāra tentang apa yang dilakukan Bāṇa setelah Kṛṣṇa berangkat ke Dvārakā bersama Aniruddha dan istrinya. Sanatkumāra menggambarkan kesedihan Bāṇa dan ingatannya akan kekeliruan penilaiannya sendiri. Pada saat itu Nandīśvara, pemimpin para gaṇa Śiva, menasihati sang asura-bhakta yang berduka: tinggalkan penyesalan berlebihan, pahami peristiwa itu sebagai kehendak Śiva, perkuat Śiva-smaraṇa, dan laksanakan mahotsava/ritus perayaan bhakti secara teratur. Mendengar wejangan ini, Bāṇa kembali tenang, segera menuju kediaman Śiva, bersujud, menangis dalam kerendahan hati, lalu melakukan bhakti melalui stotra-pujian, sujud penuh, dan gerak tubuh ritual. Pada puncaknya ia menarikan tāṇḍava yang utama dengan sikap-sikap formal. Kisah pun beralih dari duka reaktif menuju laku bhakti, menegaskan welas asih Śiva kepada para pemuja serta daya transformatif ingatan, pemujaan, dan penyerahan diri.
गजासुरतपः–देवलोकक्षोभः (Gajāsura’s Austerities and the Disturbance of the Worlds)
Sanatkumāra menuturkan kepada Vyāsa pengantar kisah terbunuhnya asura Gajāsura oleh Śiva. Setelah Devī membinasakan Mahīṣāsura demi kesejahteraan para dewa, para dewa kembali tenteram; namun putra Mahīṣāsura yang gagah, Gajāsura, mengingat kematian ayahnya dan berniat membalas lewat tapa yang mengerikan. Ia pergi ke hutan di lembah Himālaya, mengangkat kedua tangan, menatap tanpa berkedip, dan bertapa dengan tekad terpusat kepada Brahmā (Vidhī) untuk memohon anugerah tak terkalahkan. Dalam batinnya ia menyusun syarat: ia ingin tak dapat dibunuh oleh laki-laki maupun perempuan, terutama mereka yang dikuasai nafsu—tanda adanya celah anugerah. Tapanya memancarkan api-energi dari kepala; sungai dan samudra bergolak, bintang serta planet seakan jatuh, penjuru menyala, dan bumi bergetar. Para dewa meninggalkan surga dan mendatangi Brahmaloka untuk melaporkan krisis; demikianlah keadaan disiapkan bagi jawaban ilahi dan peran Śiva menuntaskan ancaman yang terikat oleh anugerah itu.
दुन्दुभिनिर्ह्रादनिर्णयः / Dundubhinirhrāda’s Stratagem: Targeting the Brāhmaṇas
Sanatkumāra menuturkan kepada Vyāsa kisah asura Duṃdubhinirhrāda, kerabat Prahlāda. Setelah Hiraṇyākṣa dibunuh oleh Viṣṇu, Diti diliputi duka; Duṃdubhinirhrāda menghiburnya dan sebagai raja daitya yang mahir māyā memikirkan cara menaklukkan para dewa. Ia menyimpulkan bahwa kekuatan dewa tidak berdiri sendiri, melainkan dipelihara oleh upacara kurban (kratu); kratu bersumber dari Veda, dan Veda bertumpu pada para brāhmaṇa. Karena itu ia menganggap brāhmaṇa sebagai penopang utama tatanan dewa, lalu berulang kali berusaha membunuh brāhmaṇa untuk memutus pewarisan Veda dan melemahkan daya yajña. Bab ini menegaskan rantai sebab brāhmaṇa→Veda→yajña→kekuatan dewa, sekaligus mengecam keras kekerasan terhadap penjaga kesucian.
विदलोत्पलदैत्ययोरुत्पत्तिः देवपराजयः ब्रह्मोपदेशः नारदप्रेषणम् (Vidalotpala Daityas, Defeat of the Devas, Brahmā’s Counsel, and Nārada’s Mission)
Adhyaya 59 disampaikan sebagai kisah Sanatkumara kepada Vyasa: dua daitya perkasa, Vidala dan Utpala, memperoleh anugerah sehingga seakan tak terkalahkan; dengan kesombongan perang mereka menganggap tiga dunia seperti jerami dan mengalahkan para dewa. Para dewa lalu berlindung kepada Brahma; Brahma menasihati bahwa kematian kedua daitya itu telah ditetapkan hanya oleh Devi (Siva), maka hendaklah mereka teguh dengan mengingat Siva beserta Sakti. Setelah menerima nasihat, para dewa kembali ke kediaman mereka dengan hati terhibur. Kemudian Narada, digerakkan oleh Siva, mendatangi alam para daitya dan dengan kata-kata yang menimbulkan delusi maya mendorong mereka berniat merebut Devi—menjadi sebab kejatuhan mereka. Di akhir, terdapat rumusan kolofon “samāpto’yaṃ yuddhakhaṇḍaḥ …” pada sebagian resensi, menandai kedekatan akhir khanda serta lapisan penyuntingan teks.