
Sukta 4.40
Vāmadeva Gautama
Dadhikrāvan (primary); associated powers: Uṣas, Apas, Agni, Sūrya, Bṛhaspati, Angirasa
Triṣṭubh (probable)
Kidung singkat ini memaklumkan Dadhikrāvan—daya yang tangkas dan menang, kerap dibayangkan sebagai kuda ilahi atau kekuatan burung-surya—seraya mendorong penyanyi maju menembus Fajar dan para dewa sekutu (Perairan, Agni, Sūrya, Bṛhaspati, Aṅgirasa). Ia merayakan kecepatannya, dorongan laksana angin, serta kuasa pelindungnya, dan berpuncak pada bait simbolis yang mendalam tentang “Angsa” yang bersemayam di banyak ranah, yang menyamakan sang dewa dengan Ṛta (kebenaran/tatanan kosmis) itu sendiri.
Mantra 1
दधिक्राव्ण इदु नु चर्किराम विश्वा इन्मामुषसः सूदयन्तु । अपामग्नेरुषसः सूर्यस्य बृहस्पतेराङ्गिरसस्य जिष्णोः ॥
Kini sungguh kami hendak memaklumkan Dadhikrāvan; semoga semua Fajar mendorongku maju—Fajar milik Perairan, milik Agni, milik Surya, milik Bṛhaspati, milik Angirasa, sang pemenang.
Mantra 2
सत्वा भरिषो गविषो दुवन्यसच्छ्रवस्यादिष उषसस्तुरण्यसत् । सत्यो द्रवो द्रवरः पतंगरो दधिक्रावेषमूर्जं स्वर्जनत् ॥
Sosok berkekuatan, pembawa kelimpahan, pencari sapi-sapi bercahaya (sinar), ia meraih kemasyhuran yang diingini; ia adalah dorongan para Fajar, cepat dalam gerak. Benar dalam larinya, pelari di antara para pelari, terbang bersayap—Dadhikrāvan membangkitkan dalam diri kami gizi, daya, dan cahaya-langit batin (svàr).
Mantra 3
उत स्मास्य द्रवतस्तुरण्यतः पर्णं न वेरनु वाति प्रगर्धिनः । श्येनस्येव ध्रजतो अङ्कसं परि दधिक्राव्णः सहोर्जा तरित्रतः ॥
Dan sungguh, ketika ia berlari dalam dorongan yang tangkas, angin mengikutinya laksana sehelai daun yang melayang, digerakkan oleh yang perkasa. Seperti bulu-sayap elang yang bergetar, daya dan kekuatan Dadhikrāvan yang agung melingkupinya ketika ia menyeberang melampaui.
Mantra 4
उत स्य वाजी क्षिपणिं तुरण्यति ग्रीवायां बद्धो अपिकक्ष आसनि । क्रतुं दधिक्रा अनु संतवीत्वत्पथामङ्कांस्यन्वापनीफणत् ॥
Dan kuda kelimpahan ini bergegas dengan laju yang menggetarkan, terikat pada leher, dirapatkan pada sisi dengan pelana. Dadhikrā mengikuti kratu (kehendak/niat suci) dengan tata-tertib yang sempurna; di sepanjang jalan ia menekuk dan meluruskan belokan, menaklukkan lengkung-lengkung perjalanan.
Mantra 5
हंसः शुचिषद्वसुरन्तरिक्षसद्धोता वेदिषदतिथिर्दुरोणसत् । नृषद्वरसदृतसद्व्योमसदब्जा गोजा ऋतजा अद्रिजा ऋतम् ॥
Angsa—yang bersemayam dalam kemurnian—yang bercahaya, duduk di antara-langit; Sang Hotṛ yang duduk di altar, Sang Tamu yang duduk di rumah. Duduk dalam insan, duduk di yang tertinggi, duduk dalam Ṛta, duduk dalam keluasan; lahir dari Air, lahir dari Sinar, lahir dari Ṛta, lahir dari Batu—ia adalah Ṛta itu sendiri.
Dadhikrāvan is praised as a swift, victorious divine force—often pictured like a powerful steed or solar-bird energy—that carries the worshipper forward and protects the undertaking.
The hymn links Dadhikrāvan to a whole chain of supportive powers: dawn-renewal (Uṣas), purification (Waters), fiery will (Agni), illumination (Sūrya), and inspired sacred speech/priestly force (Bṛhaspati/Aṅgirasa).
It says the ‘Swan’—a symbol of pure, luminous consciousness—is present in many places (sky, altar, home, within people) and is born from waters and light; ultimately it is identified with Ṛta, the principle of truth and right order.
Read Rig Veda in the Vedapath app
Scan the QR code to open this directly in the app, with audio, word-by-word meanings, and more.