
मण्डल 3
The Family Book of Vishvamitra
Rigveda Mandala 3 adalah kitab keluarga Viśvāmitra, menampilkan visi yang sangat berpusat pada ritual: Agni sebagai Hotṛ dan Jātavedas menegakkan kurban, mengusung Soma, serta menjamin kemenangan dan kemilau kejayaan bagi yajamāna. Indra—yang kerap dipuji berpasangan dengan Agni—datang dengan cepat untuk meminum Soma, bertambah perkasa melalui pemerasan Soma yang berulang-ulang, dan menganugerahkan kekuatan, pemeliharaan/kelimpahan, serta kemenangan atas permusuhan. Himne-himne surya dan yang berporos pada Savitṛ memuncak pada Gāyatrī termasyhur (3.62.10), yang menautkan pelaksanaan ritual yang benar
Sukta 3.1
Himne kepada Agni ini menampilkan dia sebagai imam bercahaya dan utusan yang menjadikan kurban berdaya guna, mendekatkan para dewa, serta menegakkan damai dan tatanan yang benar. Agni dipuji dalam banyak wujud kosmis—lahir di dalam Perairan, bangkit laksana kuda cokelat keemasan yang tangkas, dan membebaskan “sapi-sapi” (sinar/kekayaan)—sementara sang resi memohon kemakmuran yang lestari, keharmonisan, dan keturunan yang menang.
Sukta 3.2
RV 3.2 adalah himne Triṣṭubh kepada Agni yang memuji beliau sebagai daya kependetaan bercahaya ilahi, yang oleh para dewa sendiri “dilahirkan” melalui kratu (kehendak) dan dakṣa (kecakapan). Sang resi memohon Agni sebagai sarana yang paling patut dipilih menuju vāja (kelimpahan kemenangan), menggambarkannya sebagai anugerah Bhṛgu, Vaiśvānara laksana singa, serta pembagi harta yang dermawan bagi sang pelaksana yajña.
Sukta 3.3
Himne ini memuji Agni sebagai Vaiśvānara, Api semesta yang menegakkan landasan yang kokoh (dharuṇa) bagi kemajuan manusia dan mengantarkan pemujaan kepada para dewa. Agni digambarkan sebagai daya kependetaan yang abadi, yang meluaskan yajña di antara para dewa, manusia, dan semua makhluk, memelihara ṛta (hukum yang lestari), serta lahir sebagai yang agung melalui kecakapannya sendiri sambil meninggikan Langit dan Bumi.
Sukta 3.4
RV 3.4 adalah kidung bagi Agni yang menegakkan api sebagai Hotṛ—suara imam dalam ritus—memohon agar Ia terjaga pada setiap penyalaan dan membawa para dewa ke persembahan. Sang penyair merajut suasana bercahaya fajar dan pemanggilan selaras atas banyak dewa, sehingga yajña menjadi satu pertemuan yang tunggal dan tertata dari daya-daya ilahi, demi anugerah, pikiran yang benar, dan kemakmuran.
Sukta 3.5
Kidung ini memuji Agni sebagai nyala yang telah terjaga, yang menyongsong Uṣas (Fajar) dan “membuka pintu-pintu kegelapan”, menuntun para resi ke jalan yang bercahaya. Kidung ini merayakan Agni sebagai imam yang mengetahui, tersulut dengan baik, serta penjaga tatanan ilahi dan karya keterampilan yang lahir dari ilham. Di akhir, dipanjatkan permohonan akan Iḷā (kelimpahan yang menyejahterakan/wawasan), keuntungan yang lestari, dan keturunan yang kuat di bawah keridaan Agni.
Sukta 3.6
Kidung Viśvāmitra ini memanggil Agni sebagai Hotṛ yang terilhami, yang mengarahkan pikiran dan ujaran manusia menuju para dewa serta mengantarkan persembahan kepada mereka. Agni didorong untuk memasang kuk pada kuda-kudanya yang kemerahan, berkilau oleh ghee, menurut ṛta (tatanan kosmis), menghadirkan para dewa ke upacara kurban, dan menganugerahkan kekayaan yang lestari, cahaya (go), serta keturunan yang menang kepada pemuja.
Sukta 3.7
Himne kepada Agni ini menampilkan dia sebagai daya bercahaya yang lahir dan ditegakkan di dalam Para Orang Tua kosmis—dua Ibu dan dua Bapa—sementara “tujuh suara” (sapta vāṇīḥ) bangkit dan memasuki landasan cemerlangnya. Melalui citra kosmologis yang padat (jubah Malam, daya Banteng, dan Para Orang Tua yang membentang), sang penyair memohon agar Agni memperpanjang hidup, menuntun penyanyi dengan selamat ke dhāman (kediaman) miliknya sendiri, serta menganugerahkan kemakmuran yang lestari, “sinar/ternak” (go), dan keturunan yang kuat.
Sukta 3.8
Himne ini memuliakan Vanaspati—pohon/tiang suci yang dipersiapkan untuk yajña—sebagai penopang ilahi yang hidup, yang mengusung persembahan kepada para dewa dan meneguhkan jalannya ritus. Himne ini memberkahi pengurapan, penegakan, dan pembentukan tiang kayu dengan “madu ilahi”, memohon agar kemakmuran, keturunan, dan pertumbuhan yang mujur terbit bagi para pelaksana kurban
Sukta 3.9
Himne ini memuji Apām Napāt—Agni dalam wujudnya yang tersembunyi di perairan—yang dipilih sebagai sekutu ilahi dan pelindung bagi manusia yang fana. Ia mengingatkan kembali mitos pemulihan dan penegakan api suci (dengan Mātariśvan sebagai pembawanya), dan berpuncak pada visi agung: banyak daya ilahi melayani serta menobatkan Agni sebagai Hotṛ.
Sukta 3.10
Himne ini memuji Agni sebagai raja berdaulat di antara berbagai kaum dan sebagai Hotṛ yang tak tergantikan, yang menjadikan kurban (yajña) utuh dan sempurna. Ditekankan bahwa baik para resi maupun manusia biasa menyalakan beliau dalam ritus, dan bahwa Agni mengemban “cahaya-cahaya ilham” (jyotīṃṣi) para vipra, mengantarkan persembahan kepada para dewa serta menambah kekuatan dan daya kemampuan manusia.
Sukta 3.11
Kidung ini memuji Agni sebagai imam utama (hotṛ) yang ditempatkan di kepala upacara, yang mengetahui kurban menurut urutan manusia yang semestinya (ānuṣak) dan melanjutkannya tanpa kekeliruan. Agni diseru sebagai pemimpin kaum yang tak terkalahkan, cepat dan senantiasa diperbarui, yang menghadirkan para dewa ke persembahan serta menolong para pemuja meraih kekayaan yang diidamkan dan kekuatan.
Sukta 3.12
RV 3.12 adalah seruan pemanggilan kepada pasangan dewa Indra dan Agni (Indrāgnī) agar datang ke Soma yang baru diperas, menerima pujian para penyanyi, serta menganugerahkan kekuatan, pemeliharaan/kelimpahan, dan kemenangan. Himne ini memadukan kedahsyatan kepahlawanan Indra dengan daya api-imam Agni, menggambarkan keduanya sebagai kekuatan terpadu yang membuat energi ilahi menjadi “tampak” dan efektif bagi pemuja
Sukta 3.13
Sinopsis himne Agni yang singkat karya Viśvāmitra ini memanggil Api ilahi agar datang bersama para dewa dan duduk di atas barhis (hamparan suci), menegakkan upacara menurut tatanan yang benar. Himne ini memohon kepada Agni perlindungan yang membawa kedamaian, kekayaan bercahaya yang meliputi langit, bumi, dan perairan, serta daya kepahlawanan yang tak pernah gagal dan bercahaya (suvīrya) yang bertambah, bukan merosot.
Sukta 3.14
Kidung ini menobatkan Agni sebagai Hotṛ yang bersukacita, yang berdiri teguh dalam vidatha (perhimpunan kurban), menyebarkan sinarnya serta daya pelindungnya ke seluruh bumi. Ia digambarkan sebagai putra Sahas (Kekuatan), berkereta kilat dan berambut nyala api, dipuji bahkan oleh Mitra, Varuṇa, dan para Marut. Pada akhirnya sang penyair mempersembahkan seluruh ritus kepada Agni, memohon agar Ia mengetahui dan “mengecap” persembahan itu dalam kepenuhan dan kemanisannya.
Sukta 3.15
Kidung ini memanggil Agni sebagai daya yang luas dan menyala-nyala, yang menolak kekuatan bermusuhan—para pembenci, rakṣasa, dan segala derita—seraya menegakkan pemuja dalam naungan “yang lapang” berupa damai dan perlindungan. Agni dipuji sebagai pemimpin yang tak terkalahkan dan penjaga yajña, menuntun ritus menuju keberhasilan serta membuka “hamparan kebahagiaan”. Doa penutup memohon perolehan yang lestari, dilambangkan oleh Sapi (cahaya/kekayaan/pengetahuan), beserta keturunan dan niat baik Agni yang teguh.
Sukta 3.16
Himne enam bait ini kepada Agni menampilkan beliau sebagai penguasa daya kepahlawanan (suvīrya), kemakmuran/keberuntungan (saubhaga), dan kekayaan (rāy), serta sebagai kekuatan efektif di balik kemenangan atas kuasa-kuasa penghalang (vṛtra-han). Agni dipuji sebagai sang pelaksana yang telah “bekerja” melintasi dunia-dunia dan di antara para dewa, lalu penglihatan itu diubah menjadi seruan langsung agar berjuang menuju para dewa melalui kurban. Himne ini ditutup dengan doa ringkas untuk vāja (daya hidup dan kuasa kemenangan), pertambahan yang melimpah, energi pembawa sukacita (mayobhū), kemilau luas (tuvi-dyumna), dan kemasyhuran yang bertahan lama (yaśas).
Sukta 3.17
Himne Agni yang singkat dari Viśvāmitra ini memuji dewa api sebagai yang pertama dinyalakan menurut r̥ta (tatanan ritual-kosmis), sang pemurni yang nyalanya menuntun kurban dan mendatangkan para dewa. Himne ini menonjolkan pengurapan Agni melalui siklus malam dan siang, kekerabatannya dengan fajar-fajar, serta memohon kepadanya—yang bijaksana dan taat pada hukum—agar menjamin pertolongan ilahi, kesejahteraan, dan kelancaran jalannya adhvara (ritus persembahan).
Sukta 3.18
Himne Agni yang singkat ini memohon agar Dewa Api mendekat sebagai sahabat yang berwelas asih dan pelindung kebapakan, menolak banyak kekuatan permusuhan yang muncul di tengah permukiman manusia. Sang resi menyalakan Agni dengan kayu bakar dan ghee demi kekuatan, kemenangan, dan “permata” berupa kekayaan yang diperoleh dengan baik, agar kediaman pemuja menjadi bercahaya dan makmur oleh wujud-wujud Agni.
Sukta 3.19
Himne singkat ini memilih Agni sebagai Hotṛ (imam pemanggil) dan memujinya sebagai resi yang terilhami, maha-tahu, yang menegakkan daya-daya ilahi di dalam kurban. Himne ini memohon Agni menajamkan batin pemuja, mengajarkan penguasaan diri, serta menganugerahkan kekayaan, kekuatan, dan kemampuan untuk mendengar serta menerima kebenaran (śravas). Penutupnya beralih pada penetapan Agni sejak purba oleh para dewa dan berdoa agar ia terjaga sebagai pelindung “di sini” dalam diri manusia yang berjasad.
Sukta 3.20
Himne singkat ini merupakan seruan kolektif pada waktu fajar, memanggil Agni bersama Uṣas, kedua Aśvin, dan Dadhikrāvan, memohon para “dewa cahaya yang baik” agar mendengar dan bergerak seiring dengan kurban yajña. Seruan itu kemudian meluas menjadi panggilan yang inklusif kepada kuasa-kuasa ilahi utama (Bṛhaspati, Savitṛ, Mitra–Varuṇa, Bhaga, para Vasu, Rudra, Āditya), menampilkan yajña sebagai suatu perjalanan yang terkoordinasi, dipandu oleh tatanan yang bercahaya dan gerak yang benar.
Sukta 3.21
Himne singkat ini memanggil Agni sebagai Jātavedas dan Hotṛ agar menempatkan ritus sang pelaksana yajña “di antara para abadi”, sehingga diterima dan dibawa menurut urutan yang benar. Ditekankan persembahan yang kaya ghee (stokāḥ ghṛtaścutaḥ) serta peran Agni sebagai peserta terdepan—duduk pertama, dinyalakan sebagai ṛṣi yang terbaik, dan bertindak sebagai pelindung serta pengatur jalannya yajña.
Sukta 3.22
Himne Agni yang singkat ini menampilkan Api kurban sebagai bejana ilahi tempat Indra menaruh dan menikmati Soma yang telah diperas, menjadikan Agni pusat bersama persembahan dan kemenangan. Himne ini meluaskan jangkauan Agni dari bumi hingga “banjir langit,” memanggil para dewa ke singgasana kuasa mereka dan memohon Perairan yang menopang agar gerak cahaya berlangsung. Sukta ditutup dengan doa memohon wawasan yang diinspirasikan oleh Iḷā, perolehan yang lestari atas “sapi/sinar,” serta kemakmuran garis keturunan melalui kemurahan Agni yang ramah.
Sukta 3.23
Himne Agni yang singkat ini memuji Jātavedas sebagai imam kurban yang baru dinyalakan dan ditegakkan dengan mantap, yang membawa “keabadian” ke tempat duduk ritus. Ia menggambarkan kelahiran Agni melalui penggosokan dan penyalaan, kegembiraan-Nya di antara para Ibu (kayu penyulut/air), serta memohon agar Ia mewujudkan kelimpahan yang diinspirasikan oleh Iḷā, menganugerahkan ternak/cahaya kemilau, dan keturunan yang kuat bagi pemuja.
Sukta 3.24
Sinopsis himne Agni yang singkat ini memohon agar Api kurban menundukkan kekuatan-kekuatan bermusuhan, baik dalam pertikaian lahiriah maupun rintangan batin, serta menegakkan “várchas” (kemilau, kecemerlangan kemenangan) bagi yajamāna. Agni diundang ke tempat duduk ritual yang telah disiapkan (barhis), dibangunkan oleh daya bercahaya, dan dimohonkan untuk menganugerahkan “rayi” (kemakmuran/kelimpahan) yang kaya kekuatan kepahlawanan, sambil memurnikan niat para pemuja.
Sukta 3.25
Himne Agni yang singkat ini menampilkan dewa api sebagai putra Langit dan kehadiran yang berwujud di Bumi, imam mahatahu yang menata para dewa dengan tepat dalam kurban. Agni dipuji sebagai cahaya universal yang tak-mati, yang bertumbuh melalui penghormatan penuh bakti; dan ketika dinyalakan “di tengah perairan”, ia meluas serta melindungi tempat duduk bersama bagi kehidupan manusia.
Sukta 3.26
Kidung ini dari Viśvāmitra, garis Kuśika, menyeru Agni Vaiśvānara sebagai Api semesta yang menemukan “dunia bercahaya” (svar) dan dengan setia mengusung persembahan sepanjang lintasan sejati ṛta. Ketika pujian mengalir, daya Agni diperkuat melalui para Marut—sekutu yang garang, berkilau laksana hujan—hingga Agni tersingkap sebagai pancuran tak habis-habis, mengalir dalam banyak arus: “bapa ujaran” (vāc) yang arif, yang bahkan Langit dan Bumi sendiri menopangnya.
Sukta 3.27
Himne kepada Agni ini menampilkan beliau sebagai daya yang memimpin ke depan dalam yajña, yang mengangkat persembahan jernih (ghṛta) ke atas dan menjadikan jalan menuju para dewa dapat ditempuh. Berulang kali ia membingkai “vāja” (kelimpahan, daya kemenangan) sebagai sesuatu yang digerakkan dan dituntun oleh Agni melalui adhvara (perjalanan kurban). Sukta ini memuncak dengan menyalakan Agni sebagai daya banteng, memohon agar beliau menyala luas dalam Yang Mahaluas (bṛhat), menganugerahkan rahmat serta keberhasilan yajña.
Sukta 3.28
Himne Agni yang singkat ini mengundang Jātavedas untuk menerima puroḷāśa (kue persembahan) dan āhuti pada pemerasan Soma, terutama pada savana pagi dan tengah hari. Himne ini menegaskan bagian Agni yang sah dalam yajña serta peran para dhīraḥ (bijak yang teguh) dalam menjaga kemurnian dan keutuhan ritus, agar ilham batin (dhī) dan kesejahteraan semakin diteguhkan.
Sukta 3.29
Himne ini merupakan liturgi yang hidup tentang menyalakan Agni melalui manthana (penggesekan/pemutaran api), memandang kelahiran api sebagai kelahiran yang disengaja dan suci yang memperbarui ritus purba. Ketika Agni bangkit—dengan asap dan nyala sebagai tanda—ia menjadi Hotar terpilih yang menuntun yajña maju, menganugerahkan kekuatan dan kemenangan atas daya-daya penghalang, serta membawa para pemuja ke singgasana yang mantap dan “pasti”, tempat kenikmatan Soma didekati melalui dirinya.
Sukta 3.30
RV 3.30 adalah kidung Indra yang penuh daya, ketika kaum Viśvāmitra memanggil sang pahlawan pecinta Soma sebagai satu-satunya pembeda yang terang, penentu yang tegas, dan pelindung yang menentukan dalam pertikaian manusia. Kidung ini memuji kuasa Indra yang laksana hukum: memutus belenggu dan menyingkirkan rintangan; serta mendesak-Nya agar mendengar para penyanyi, menerima persembahan, dan menganugerahkan kemenangan, kekayaan, serta kesejahteraan.
Sukta 3.31
Kidung dari lingkaran Viśvāmitra ini memuji Agni melalui citra “keluarga” dan garis keturunan yang rapat—ayah, putri, kekerabatan—menyingkap hubungan tersembunyi yang dengannya Ṛta (tatanan kosmis) dinyalakan dan dipelihara. Hymne ini bergerak dari api batin yang mengetahui hukum, yang menyatukan dan menyelaraskan daya-daya, menuju visi kosmogonis yang lebih luas: menegakkan sebuah tempat duduk/tumpuan bagi Sang Bapa dan meluaskan dunia yang bercahaya. Bagian penutup beralih menjadi bernuansa perang dan praktis, memanggil Indra sebagai kekuatan yang meremukkan rintangan serta menjamin kekayaan dan kemenangan, memperlihatkan bagaimana tatanan kurban berpuncak pada perlindungan dan kelimpahan
Sukta 3.32
Himne ini mengundang Indra sebagai Penguasa Soma ke pemerasan Soma pada tengah hari, memohon agar ia meminum, menjadi bergairah/tergugah, dan mengarahkan daya kemenangannya kepada para pemuja. Himne ini memuji kekuatan bawaannya yang tak berbatas—yang dikatakan telah tampak sejak kelahiran—serta memohon agar ia mendengar seruan dalam pertempuran, menghancurkan rintangan (vṛtrāṇi), dan menganugerahkan kekayaan sejati serta kemenangan.
Sukta 3.33
Himne ini memuji sepasang dewi-sungai Vipāṭ dan Śutudrī sebagai air yang menghidupkan, cepat, dan keibuan, yang memancar dari pegunungan, serta memohon kepada mereka agar memberi penyeberangan yang selamat dan perlindungan. Himne ini juga mengingatkan tindakan arketipal Indra yang melepaskan air dengan menghantam ular/penutup yang menghalangi, mengaitkan aliran sungai yang bebas dengan kemenangan ilahi atas kekangan. Sukta ini berpuncak pada doa yang praktis dan penuh welas asih: semoga rintangan tersapu pergi, dan semoga “dua yang tak bersalah” mencapai keselamatan dan kesejahteraan.
Sukta 3.34
Himne ini memuji Indra sebagai pemecah benteng; dikuatkan oleh sabda suci (brahman), ia menumbangkan perlawanan Dāsa/Dasyu, mencerai-beraikan musuh, dan memenangkan kekayaan sejati bagi para resi. Himne ini merayakan kebesaran dan kebenaran tindakannya—meluruskan yang bengkok dan menaklukkan dengan daya yang tak tertahankan—serta berakhir sebagai doa pertempuran, memohon agar Indra mendengar dan menolong para pemuja dalam persaingan dan kemakmuran.
Sukta 3.35
Himne ini adalah undangan Soma yang mendesak kepada Indra: kuda-kuda kuning keemasan (tawny) beliau dipanggil untuk dipasangkan pada kereta, dan beliau dimohon datang segera untuk meminum Soma yang telah diperas dan disajikan di atas barhis (hamparan rumput ritual). Penyair memuji Indra sebagai pemenang rampasan yang paling perkasa, yang menghancurkan rintangan bak Vṛtra, serta memohon kemenangan, perlindungan dalam perlombaan/pertarungan, dan penghimpunan kekayaan.
Sukta 3.36
Himne ini memanggil Indra sebagai pahlawan yang senantiasa makin diteguhkan, yang bertumbuh pada setiap pemerasan Soma dan menjadi “terkenal” melalui karya-karya agungnya. Himne ini mengaitkan daya Indra yang kian meluas dengan kekuatan Soma yang memenuhi, memakai citra sungai-sungai yang melaju deras menuju samudra sebagai gambaran kosmis tentang momentum yang tak tertahankan. Sukta ini memuncak dalam doa-pertempuran yang langsung: semoga Indra yang dermawan mendengar, meremukkan rintangan (vṛtrāṇi), dan memenangkan harta bagi para pemuja.
Sukta 3.37
RV 3.37 adalah seruan yang ringkas namun kuat kepada Indra sebagai pembunuh Vṛtra dan pemenang pertempuran, mendesak-Nya berpaling kepada para pemuja dan memberdayakan kemenangan mereka. Kidung ini berulang kali memanggil Indra dari dekat maupun jauh, memohon agar Ia segera datang, menerima persembahan, dan menghancurkan kekuatan-kekuatan penghalang yang menahan cahaya, air, dan kemajuan
Sukta 3.38
Himne Viśvāmitra ini menggerakkan pikiran ilham sang penyair bagaikan kuda pacu yang terpasang kuk dengan baik, mencari penglihatan batin dan kebersamaan para resi, sambil memanggil Indra untuk memecah rintangan dan meraih kepenuhan. Indra dipuji bukan hanya sebagai daya kepahlawanan dalam pergulatan lahiriah, melainkan juga sebagai Kuasa-Pikiran yang tercerahkan, yang membangunkan dan menggerakkan “napas-napas” serta kebenaran-kebenaran yang tersembunyi. Pada bagian kemudian muncul belokan visioner yang menghadirkan tatanan kosmis yang halus—para Gandharva di dalam hukum—serta kehadiran tambahan Savitṛ sebagai pembangun dan pendorong penglihatan yang benar
Sukta 3.39
Himne Triṣṭubh kepada Indra ini menampilkan “nyanyian-pikiran” yang terilham (mati/stoma) yang bangkit dari hati menuju Sang Penguasa, memohon agar Ia mengenali dan membangunkan kuasa-Nya sendiri di dalam diri sang pelaksana yajña. Himne ini mengingat kembali perbuatan Kebenaran Indra: menemukan Matahari yang tersembunyi bersama Navagva dan Daśagva—cahaya yang direbut kembali dari kegelapan—lalu beralih kepada permohonan kini akan pertolongan dalam pergulatan, kemenangan atas para penghalang, serta perolehan kekayaan dan kesejahteraan.
Sukta 3.40
Kidung ini memanggil Indra, banteng kekuatan, datang kepada Soma yang baru diperas dan memohon agar ia meminumnya, melindungi, serta menambah sari manis (madhu/andhas) yang memberdayakan sang pelaksana yajña. Berulang kali Indra didesak untuk datang dari yang jauh maupun yang dekat, memasuki “ruang tengah”, dan menjadikannya saluran bagi kemenangan, cahaya, dan daya pemelihara.
Sukta 3.41
RV 3.41 adalah kidung undangan (āhvāna) yang memanggil Indra agar mengarahkan kegembiraannya kepada para pelaksana yajña dan segera datang dengan sepasang kuda jantannya untuk meminum Soma. Kidung ini memuji beliau sebagai “tuan kekuatan” yang secara alami tertarik pada persembahan dan pada tempat duduk barhis yang dipersiapkan dengan baik, serta menggambarkan pikiran para pemuja berkumpul mengitari Indra seperti para induk mengelilingi anak lembu. Tujuan himne ini ialah memastikan kehadiran Indra, kegairahannya oleh Soma, dan kemudian penganugerahan kekuatan, perlindungan, serta kemenangan.
Sukta 3.42
Kidung ini adalah nyanyian Soma undangan bagi Indra: sang penyair memanggil-Nya agar segera datang dengan sepasang kuda perang dan meminum Soma yang baru diperas. Berulang kali Indra didorong untuk menaruh Soma ke dalam perut-Nya dan menjadi semakin kuat, agar Ia menganugerahkan perlindungan, daya-kuasa, dan kemenangan kepada garis keturunan Kuśika/Viśvāmitra yang memuja-Nya.
Sukta 3.43
Kidung ini merupakan undangan yang penuh gairah kepada Indra agar segera datang dengan keretanya menuju pemerasan Soma dan duduk di atas barhis yang telah dibentangkan, bergabung dengan para pelaksana yajña sebagai sekutu yang terkasih. Kidung ini memuji Indra sebagai pemenang pertempuran, pembunuh Vṛtra, penguasa daya dan kekayaan, serta memohon agar Ia menjadi pelindung, pemimpin bak raja, dan pengilham kewaskitaan melalui Soma. Tujuan kidung ini sekaligus bersifat ritual (menarik Indra untuk minum dan menguatkan upacara) dan eksistensial (memastikan kemenangan, kelimpahan, dan penglihatan ilham).
Sukta 3.44
Himne singkat bergaya Gāyatrī ini mengundang Indra ke pemerasan soma, memohon agar ia datang bersama kuda-kuda kuning kecokelatan dan duduk di kereta bercahaya pada upacara kurban. Selanjutnya Indra dipuji sebagai penopang Langit dan Bumi yang menegakkan kelimpahan pangan dan daya pemelihara, dan ditutup dengan citra Indra sebagai Banteng kuning kecokelatan yang mempersenjatai diri dengan vajra untuk tindakan yang menang.
Sukta 3.45
Himne singkat ini memanggil Indra agar segera datang bersama kuda-kuda/energi kuning keemasan (harī) miliknya, tanpa terhalang oleh ikatan apa pun, untuk menikmati persembahan dan memberdayakan sang pelaksana yajña. Himne ini memuji tekad/ketetapan batin Indra yang dalam laksana samudra (kratu), yang menumbuhkan pertambahan seperti aliran-aliran yang terjaga baik dan seperti kawanan sapi yang bergerak menuju padang gembala. Pada akhirnya, himne menegaskan Indra sebagai yang digerakkan oleh diri sendiri dan memerintah diri sendiri, seraya memohon agar daya yang kian bertambah itu menganugerahkan kepada pemuja kemasyhuran tertinggi yang paling lestari serta pendengaran yang mujur.
Sukta 3.46
Himne Indra yang singkat ini membesarkan Sang Penguasa pembawa wajra sebagai yang berdaulat atas diri sendiri, senantiasa muda namun tak menua, Sang Banteng perkasa; karya-karya kepahlawanannya luas dan termasyhur di mana-mana. Indra digambarkan meluap melampaui segala ukuran—mengatasi langit, bumi, dan ruang antara—dan upacara mencapai puncaknya pada Soma yang disiapkan dan dipersembahkan agar Ia meminumnya, lalu meneguhkan daya perlindungan dan kemenangan.
Sukta 3.47
Himne singkat Indra–Marut ini mengundang Indra, banteng pertempuran yang disertai para Marut, untuk meminum Soma yang telah diperas dan menjadi bergairah demi kemenangan serta perlindungan. Kidung ini mengaitkan kedahsyatan Indra dengan ṛta (tatanan yang benar dan saat yang tepat), mengingat bagaimana para Marut mengikuti-Nya dalam pembunuhan Vṛtra dan “menetapkan” daya di dalam diri-Nya. Tujuannya bersifat praktis dan ritual: memperoleh pertolongan baru, tenaga, dan kemenangan bagi para pemuja melalui persembahan Soma yang tepat waktunya.
Sukta 3.48
Himne Indra yang singkat ini memuji daya bawaan sang dewa, kekuatan yang lahir bersama kelahirannya: laksana banteng muda ia segera maju untuk menerima dan memanggul Soma yang baru diperas. Himne ini mengingat kembali bagaimana ia mencari santapan dari Sang Ibu, mengenali daya yang tajam dalam Soma, lalu melampaui semuanya untuk menunaikan perbuatan-perbuatan agung. Nyanyian ini memuncak sebagai doa pertempuran, menyebut Indra sebagai penolong terbaik dalam pertikaian, yang menumpas para Vṛtra (para penghalang) serta memenangkan kekayaan dan kesejahteraan bagi para penyanyi.
Sukta 3.49
Himne Triṣṭubh yang singkat ini menyatakan Indra sebagai dewa yang diidamkan dan diseru oleh semua bangsa peminum Soma—yang dilahirkan untuk tugas memecahkan rintangan (Vṛtra) dan memastikan kemenangan. Ia menggambarkannya sebagai penyeberang pertempuran yang meluaskan dua dunia dan mencurahkan kelimpahan yang berbuah; lalu berpuncak pada doa langsung memohon agar ia sudi mendengar dan menolong dalam pergulatan saat ini serta menganugerahkan penaklukan atas kekayaan.
Sukta 3.50
Kidung singkat ini memanggil Indra yang datang bersama para Marut (Marutvat Indra)—sang banteng yang bergelora dan meliputi segala penjuru—agar hadir meminum Soma dan menguatkan sang pelaksana yajña. Dipohon agar Indra dipenuhi oleh persembahan, menganugerahkan “sapi-sapi” kepenuhan (sinar/kekayaan), serta membunuh rintangan bak Vṛtra, sehingga kemenangan dan kesejahteraan terjamin dalam pergulatan.
Sukta 3.51
Kidung ini merupakan undangan yang penuh daya kepada Indra—“ditopang oleh bangsa-bangsa” dan “paling sering diseru”—agar datang ke yajña, menerima pujian yang tersusun indah, dan meminum Soma yang telah diperas. Kidung ini mengingatkan kembali minumannya dan kemenangan-kemenangannya di masa lampau sebagai jaminan pertolongan pada masa kini, lalu berpuncak pada doa yang ringkas: semoga persembahan dan mantra memberdayakan segenap diri Indra—perut, kepala, dan lengan—untuk menganugerahkan karunia dan pemenuhan.
Sukta 3.52
Kidung ini bagi Indra membingkai kurban Soma sepanjang tahap-tahap pemerasannya, mengundang beliau terutama saat fajar dan kembali pada tengah hari untuk menerima hidangan yang telah disiapkan serta pujian sang penyair. Dipohonkan agar persembahan (biji-bijian, kue persembahan, dan kidung) menjadi “manjur/indah”, dan agar daya kepahlawanan Indra bertambah dari hari ke hari, demi meminum Soma dan meraih kemenangan.
Sukta 3.53
Kidung ini memanggil Indra bersama Parvata agar datang dengan kereta agung mereka, meminum Soma, dan menganugerahkan kepada para pelaksana yajña kekuatan, kemenangan, serta “arus-arus pemelihara” (iṣaḥ) yang melimpah. Hymne ini menenun pujian atas daya vajra Indra dengan brahman yang digubah sang penyair (rumusan suci), demi meraih kemakmuran, tenaga kepahlawanan, dan keberhasilan dalam perlombaan maupun pertempuran bagi bangsa Bharata.
Sukta 3.54
Himne karya Viśvāmitra ini terutama memanggil Agni sebagai pendengar doa yang senantiasa terjaga dan kuasa ilahi yang menghimpun kekuatan, ilham, serta kemenangan bagi para pemuja. Seiring pujian berkembang, para dewa sekutu—terutama Dyāvā–Pṛthivī, lalu Tvaṣṭṛ bersama para Ṛbhu (dan Pūṣan)—hadir untuk meneguhkan tatanan yajña: perancangan yang tepat, persembahan yang tepat, dan perlindungan yang tepat. Himne ini berpuncak pada permohonan langsung agar Agni memaniskan persembahan, menyala dengan daya kayu penyala, dan menaklukkan musuh dalam pertempuran, sambil menerangi sang pelaksana kurban hari demi hari.
Sukta 3.55
RV 3.55 merenungkan bahwa para dewa yang banyak ditopang oleh satu kedaulatan agung yang tunggal (asuratvam ekam), yang menjadi nyata ketika Fajar membuka tatanan yang tersembunyi. Melalui rangkaian citra simbolik—Sabda pada “langkah Cahaya”, sepasang sapi perah, air dan tumbuh-tumbuhan, kelimpahan Bumi—himne ini memuji koherensi batin Ṛta yang memberdayakan para dewa serta menopang kurban dan kehidupan.
Sukta 3.56
Himne ini memuji Ṛta yang tak dapat dilanggar—ketetapan-ketetapan pertama yang teguh (vratā) yang dengannya para dewa menegakkan kosmos—begitu mantap hingga dunia-dunia dan gunung-gunung pun tidak dibuat membengkok. Melalui triad yang berulang (tiga alam, tiga daya, tiga perairan), ia menggambarkan tatanan kosmik sebagai pemerintahan yang berpola dan berirama, yang turun ke dalam sidang kurban. Tujuan sukta ini ialah menyelaraskan ritus dan pikiran sang pelaksana kurban dengan hukum luhur yang tak terpatahkan itu, agar para dewa “datang” dan menegakkan kesejahteraan.
Sukta 3.57
Himne ini memuji kuasa berpasangan Indra–Agni sebagai para penemu dan pemilik yang teguh atas “Sapi” ilham (manīṣā), suatu aliran yang memberi santapan, wawasan, dan kemenangan. Himne ini menautkan pencerahan puitik dengan tindakan kurban—terutama pemerasan Soma—agar kelimpahan yang tersembunyi terangkat menuju para dewa dan kembali sebagai tuntunan, kemakmuran, serta “budi yang baik” yang bersifat universal.
Sukta 3.58
Himne ini memanggil Aśvinau pada waktu fajar, mengaitkan kedatangan mereka yang cepat dengan cahaya kebangkitan Uṣas serta dengan Dakṣiṇā—persembahan yang tertata benar dan dermawan. Melalui citra yang hidup tentang “sapi cahaya” dan “perbendaharaan madu”, himne ini mengundang para penyembuh kembar itu menempuh jalan devayāna dan meminum Soma semanis madu di rumah sang pelaksana yajña
Sukta 3.59
Himne ini memuji Mitra sebagai Āditya yang mengucapkan dan menegakkan “sabda yang benar”, menata komunitas manusia agar bergerak teratur dan selaras. Mitra digambarkan sebagai penopang Langit dan Bumi yang teguh, penjaga yang maha-melihat atas kebenaran sosial dan perilaku yang benar, serta mendorong persembahan yang dimurnikan dan diperjelas melalui Agni untuk meraih perkenan, perlindungan, dan kemakmuran darinya
Sukta 3.60
Himne ini memuji para Ṛbhu (Saudhanvana), para perajin ilahi yang “karya-karyanya yang terolah sempurna” menyempurnakan pekerjaan kurban dan mengangkat manusia menuju keunggulan. Himne ini mengundang mereka ke ruang ritus melalui “kekerabatan batin”, merayakan kemahiran dan kemuliaan mereka yang tak terukur bersama Indra di dekat Soma yang telah diperas, dan berpuncak pada seruan bersama agar Indra-bersama-Ṛbhu datang ke persembahan, membawa bimbingan yang beraneka bagi sang pencari.
Sukta 3.61
Himne Triṣṭubh tujuh bait ini memuji Uṣas (Fajar) sebagai dewi yang kuno namun senantiasa muda, yang datang menurut ṛta (hukum kosmis), membangunkan kehidupan, kekayaan, dan tindakan yang benar. Ia digambarkan sebagai daya yang bercahaya dan terampil, membentang dari tepi langit yang jauh hingga ke bumi, serta mengaitkan sinarnya dengan tatanan luas yang ditegakkan oleh Mitra–Varuṇa, melalui tatanan itulah cahaya dibagikan dan dunia-dunia digerakkan.
Sukta 3.62
RV 3.62 adalah himne pujian yang terutama menyeru kedaulatan dan daya ganda Indra–Varuṇa—kekuatan kemenangan yang dipadukan dengan tatanan moral-kosmis—untuk melindungi para sekutu, menaklukkan tekanan permusuhan, dan memulihkan “kemuliaan” para dewa yang termasyhur, yang membawa kepenuhan bagi komunitas. Di dalam sukta ini muncul mantra Gāyatrī yang masyhur (3.62.10) kepada Savitṛ, yang membalikkan himne ke arah batin menuju pencerahan budi; sehingga kemenangan lahiriah dan tuntunan batin yang benar dipasangkan bersama di bawah Ṛta (tatanan-kebenaran).
Mandala 3 is a “family book” attributed to the seer Viśvāmitra Gāthina and his descendants. Its hymns preserve that lineage’s characteristic liturgical style, especially Agni-centered priestly themes and Savitṛ-oriented illumination.
The best-known is 3.62, which contains the Gāyatrī Mantra (3.62.10) addressed to Savitṛ. It is widely recited as a prayer for inspired intellect and divine illumination.
The mandala repeatedly presents Agni as the flawlessly installed Hotṛ and Jātavedas who establishes the sacrifice, carries Soma, and grants immortality and varchas. Indra (often with Agni) is invoked to arrive swiftly for Soma, grow in power through repeated pressings, and secure victory, strength, and nourishment for the sacrificer.
Read Rig Veda in the Vedapath app
Scan the QR code to open this directly in the app, with audio, word-by-word meanings, and more.