
Uttara Ardha
This section is anchored in the sacred geography of Vārāṇasī (Kāśī), repeatedly referencing northern precincts and named locales such as Harikeśava-vana, the area described as ‘Mahādeva-uttara’ (north of Mahādeva), and the tīrtha known as Pādodaka near Ādikēśava. The narratives function as a micro-topographic guide: they connect deity-forms (notably multiple Ādityas) to specific sites, prescribing darśana, pūjā, and snāna as place-activated ritual acts with stated merits. The section’s cartography is therefore both devotional and archival—mapping how solar worship, Vaiṣṇava adjacency (Ādikēśava), and Śaiva supremacy claims (liṅga centrality) are coordinated within Kāśī’s ritual landscape.
50 chapters to explore.

Āditya-Māhātmya in Kāśī: Aruṇa, Vṛddha, Keśava, and Vimala; with Śiva-Liṅga Supremacy Discourse
Bab ini disajikan sebagai kisah teologis berbentuk tanya-jawab. Agastya bertanya kepada Skanda tentang sebab perbudakan Vinatā. Skanda menuturkan peristiwa kelahiran terkait Kadrū dan Vinatā: telur yang dipecahkan terlalu dini, lahirnya Aruṇa yang belum sempurna, kutukannya, pesan agar telur ketiga jangan dipecahkan, serta nubuat bahwa keturunan kelak akan membebaskan Vinatā dari belenggu. Setelah itu, kisah beralih ke geografi suci surya di Kāśī: Aruṇa bertapa di Vārāṇasī dan memperoleh kedudukan sebagai Arunāditya; pemujaannya menjanjikan lenyapnya takut, kemiskinan, dosa, dan beberapa penderitaan. Berikutnya dipaparkan Vṛddhāditya: karena bhakti resi Hārīta kepada Surya, Sang Matahari menganugerahkan kembalinya masa muda, sehingga wujud ini termasyhur sebagai penghapus tua-renta dan kemalangan. Dalam bagian Keśavāditya, Surya mendatangi Viṣṇu sebagai Ādikēśava, lalu menerima ajaran bernuansa Śaiva bahwa di Kāśī Mahādeva-lah yang terutama untuk dipuja; pemujaan Śiva-liṅga disebut memberi penyucian cepat serta empat tujuan hidup (dharma, artha, kāma, mokṣa). Surya pun diarahkan memuja liṅga kristal, membentuk kaitan tempat bhakti. Ritual penyucian di tīrtha Pādodaka dekat Ādikēśava dijelaskan, dengan konteks Ratha-saptamī dan mandi ber-mantra untuk menghapus dosa banyak kelahiran. Terakhir, Vimalāditya ditampilkan lewat kisah Vimala yang menderita kusta; ia memuja Surya di Harikeśava-vana, memperoleh kesembuhan dan anugerah perlindungan bagi para pemuja, sehingga Vimalāditya dikenal sebagai penghapus penyakit dan dosa. Bab ditutup dengan janji pahala (phalaśruti) bagi yang mendengar kemuliaan para Āditya ini.

दशाश्वमेधतीर्थमहिमा (Glory of the Daśāśvamedha Tīrtha)
Bab ini dibuka dengan kisah Skanda tentang kerinduan Śiva yang kembali menyala kepada Kāśī meski beliau sedang bersemayam di Mandara; Kāśī digambarkan sebagai medan suci yang begitu memikat hingga mengguncang keteguhan para dewa. Śiva memanggil Brahmā (Vidhātā) dan menugaskannya menyelidiki persoalan “tidak kembalinya” para utusan—para yoginī dan Sahasragu yang dahulu dikirim belum kembali. Brahmā berangkat ke Vārāṇasī, memuji hakikat kota itu sebagai wujud kebahagiaan, lalu menyamar sebagai brāhmaṇa tua dan mendatangi Raja Divodāsa. Terjadilah dialog panjang tentang etika raja: Brahmā memuji pemerintahan Divodāsa, menegaskan bahwa melindungi rakyat serta menjaga ruang suci adalah inti dharma kerajaan, dan memohon bantuan untuk pekerjaan yajña. Divodāsa memberi dukungan penuh; Brahmā pun melaksanakan sepuluh Aśvamedha di Kāśī, sehingga tīrtha yang dahulu bernama Rudrasaras menjadi termasyhur sebagai Daśāśvamedha. Selanjutnya dipaparkan tuntunan kemuliaan tīrtha: di Daśāśvamedha, snāna, dāna, japa, homa, svādhyāya, pemujaan dewa, tarpaṇa, dan śrāddha dinyatakan berbuah akṣaya (tak habis). Mandi suci pada bulan Jyeṣṭha paruh terang—terutama pada Daśaharā—disebut menghapus dosa banyak kelahiran; darśana liṅga Daśāśvamedheśa memberi penyucian; dan mendengar atau melafalkan bab ini dikaitkan dengan pencapaian Brahmaloka. Penutupnya menegaskan kembali kedudukan Kāśī yang unik sebagai jalan keselamatan, serta ketidakpatutan meninggalkannya setelah diperoleh.

Gaṇa-Preṣaṇa and the Establishment of Eponymous Liṅgas in Kāśī (गणप्रेषणं नामलिङ्गप्रतिष्ठा च)
Agastya bertanya kepada Skanda tentang kisah ‘yang belum pernah terdengar’ mengenai Brahmā: apa yang dilakukan Śiva ketika Brahmā hadir di Kāśī. Skanda menuturkan bahwa daya Kāśī yang tiada banding menarik makhluk untuk menetap di sana, sehingga pembagian peran kosmis yang semestinya dapat terganggu. Karena itu Mahādeva memanggil para gaṇa dan mengutus mereka ke Vārāṇasī untuk mengamati laku para yoginī, Bhānumān (Sang Surya), serta jalannya titah-titah Brahmā. Gaṇa-gaṇa bernama seperti Śaṅkukarṇa dan Mahākāla tiba di Kāśī; namun oleh daya ‘mohinī’ (pesona) Kāśī mereka sejenak lupa akan tugasnya. Mereka lalu menegakkan liṅga eponim—Śaṅkukarṇeśvara dan Mahākāleśvara—dan menetap di sana. Utusan berikutnya—Ghantākārṇa dan Mahodara, kemudian rombongan lima, lalu empat gaṇa lagi—mengalami hal serupa: memasuki Kāśī, mendirikan liṅga serta tempat-tempat ritual; disebut pula Ghantākārṇa-hrada dan kemanjuran śrāddha yang terkait dengannya. Bab ini memuji pemujaan liṅga sebagai melampaui derma besar dan yajña agung, memberi catatan tata cara liṅga-snāna beserta daya penyuciannya. Kāśī digambarkan sebagai tanah pembebasan, di mana kematian dipandang membawa keberuntungan rohani, dan bahkan ingatan pada nama ‘Kāśī’ dipuji. Uraian ditutup dengan lanjutan pemetaan liṅga bernama gaṇa (mis. Tāreśa/Tārakeśa) serta penegasan agar tetap berusaha (udyama) meski takdir (daiva) tampak berlawanan.

कपर्दीश्वर-लिङ्ग-माहात्म्य एवं पिशाचमोचन-तीर्थ (Kapardīśvara Liṅga Māhātmya and the Piśāca-Mocana Tīrtha)
Skanda menuturkan kepada Kumbhasambhava (Agastya) keagungan tertinggi Liṅga Kapardīśvara. Liṅga itu berada di sebelah utara Pitṛīśa, dan di sana digali sebuah telaga bernama Vimalodaka; sentuhan airnya membuat seseorang menjadi “vimala”, yakni tersucikan. Lalu dikisahkan peristiwa pada Tretā-yuga: pertapa Pāśupata bernama Vālmīki menunaikan laku tengah hari dengan tertib—mandi dengan bhasma (abu suci), japa Pañcākṣarī, ingatan meditasi, serta pradakṣiṇā—disertai seruan, nyanyian bhakti, irama, dan gerak penghormatan. Saat itu ia melihat makhluk mengerikan mirip preta/rākṣasa, digambarkan dengan rincian tubuh yang menegaskan kontras antara kenajisan dan keteraturan tapa. Makhluk itu menjelaskan sebab karmanya: dahulu ia seorang brāhmaṇa di Pratiṣṭhāna di tepi Godāvarī, namun melakukan “tīrtha-pratigraha” (menerima pemberian terkait ziarah) sehingga jatuh ke keadaan preta yang menyiksa di tanah tandus. Karena titah Śiva, para preta dan pendosa besar tidak dapat memasuki Vārāṇasī; mereka tertahan di perbatasan, gentar pada para gaṇa Śiva. Tetapi ketika mendengar Nama Śiva dari seorang pejalan, dosanya berkurang dan ia memperoleh akses yang terbatas. Tersentuh belas kasih, Vālmīki memberi tata cara penebusan: kenakan vibhūti di dahi sebagai “zirah” pelindung, lalu mandi di telaga Vimalodaka dan memuja Kapardīśvara. Dengan tanda abu suci, para dewa air tidak menghalangi; setelah mandi dan meminum airnya, keadaan preta lenyap dan tubuh ilahi diperoleh. Makhluk yang telah berubah itu menamai tirtha tersebut “Piśāca-mocana” dan menyatakan kemujarabannya, termasuk upacara tahunan pada caturdaśī terang bulan Mārgaśīrṣa: mandi suci, persembahan bagi leluhur (piṇḍa, tarpaṇa), pemujaan, dan sedekah makanan. Penutupnya berupa phalaśruti: mendengar atau melantunkan kisah ini memberi perlindungan dari bhūta, preta, piśāca, pencuri, dan binatang buas, serta dianjurkan sebagai bacaan penenang bagi anak-anak yang terganggu graha.

Gaṇa-pratiṣṭhita Liṅgas in Kāśī and Śiva’s Discourse on Non-Abandonment of Kāśī (Uttarārdha, Adhyāya 5)
Bab ini tersusun sebagai katalog tempat suci di dalam dialog teologis. Skanda menyebut banyak liṅga yang didirikan di Kāśī oleh berbagai gaṇa, lengkap dengan petunjuk letak—di utara Viśveśa, di selatan Kedāra, dekat Kubera, di ambang pintu utara rumah bagian dalam—serta pahala darśana (melihat) dan arcana (pemujaan). Disebutkan antara lain Piṅgalākheśa, Vīrabhadreśvara (perlindungan dalam perang dan “vīra-siddhi”), Kirāteśa (tanpa takut), Caturmukheśvara (kehormatan surgawi), Nikuṃbheśvara (sukses kerja dan kenaikan dekat Kubera), Pañcākṣeśa (ingat kelahiran lampau), Bhārabhūteśvara (anjuran kuat untuk darśana), Tryakṣeśvara (bhakta menjadi “tryakṣa”), pemujaan Kṣemaka/Viśveśvara (lenyapnya rintangan dan pulang selamat), Lāṅgalīśvara (bebas penyakit dan makmur), Virādheśvara (peredaan pelanggaran), Sumukheśa (lepas dosa dan penglihatan yang mujur), serta Āṣāḍhīśvara (penghapus dosa dengan catatan ziarah pada waktu tertentu). Pada paruh akhir, Śiva bertutur secara reflektif: Kāśī adalah perlindungan pasti bagi yang terbebani saṃsāra, “tubuh-kota” berukuran pañcakrośī, dan kediaman Rudra. Mendengar atau mengucap “Vārāṇasī/Kāśī/Rudrāvāsa” pun dikatakan menepis ancaman Yama. Kisah ditutup dengan Mahādeva menugaskan Gaṇeśa beserta para pengiring menuju Kāśī agar keberhasilan tak terputus dan keadaan tanpa rintangan terjaga, meneguhkan Kāśī sebagai pusat ritual-teologis yang abadi.

विघ्नेशस्य मायाप्रवेशः — Vināyaka’s Disguise, Omens, and the Court of Divodāsa
Bab ini menuturkan bahwa Skanda menjelaskan bagaimana Vighnajit/Vighneśa, atas perintah Śiva, memperlancar peralihan Kāśī dengan segera memasuki Vārāṇasī dan mengenakan penyamaran melalui māyā. Ia tampil sebagai pembaca nakṣatra/ahli jyotiṣa yang sudah tua, berkeliling kota, menafsirkan mimpi serta pertanda sehingga memperoleh kepercayaan rakyat. Disebutkan deretan tanda-tanda tidak menguntungkan—gerhana, susunan planet yang ganas, komet, gempa, firasat buruk pada hewan dan pepohonan, serta gambaran simbolik kehancuran kota—yang membangun suasana bahaya politik yang mendekat; banyak penduduk pun terdorong meninggalkan kota. Kemudian para wanita di istana memuji kebajikan sang ‘brāhmaṇa’, dan Ratu Līlāvatī menganjurkan agar ia diperkenalkan kepada Raja Divodāsa. Sang raja menerimanya dengan hormat dan secara pribadi menanyakan keadaan serta masa depannya. Vighneśa yang menyamar menyampaikan pujian kerajaan, lalu memberi petunjuk: dalam delapan belas hari akan datang seorang brāhmaṇa dari utara; nasihatnya harus diikuti tanpa ragu. Bab ditutup dengan keterangan bahwa kota telah berada dalam pengaruh māyā Vighneśa, dan beralih pada pertanyaan Agastya tentang bagaimana Śiva memuji Vighneśa serta nama dan wujud apa yang ia sandang di Kāśī.

Dhūṇḍhi-Vināyaka Stuti and the Āvaraṇa-Map of Vināyakas in Kāśī (काश्याम् विनायकावरणवर्णनम्)
Bab ini menggambarkan arak-arakan suci masuknya Mahādeva ke Vārāṇasī di tengah perhimpunan makhluk ilahi dan setengah ilahi—para deva, rudra, siddha, yakṣa, gandharva, dan kinnara. Sesudah itu Śiva, sebagai Śrīkaṇṭha, menyampaikan pujian kepada Gaṇeśa: Vināyaka ditegaskan sebagai prinsip melampaui sebab, pengatur sekaligus pelenyap rintangan, dan pemberi siddhi bagi para bhakta. Selanjutnya dijelaskan peran Dhūṇḍhi-Vināyaka yang memungkinkan seseorang memasuki Kāśī dengan selamat. Tata ibadahnya meliputi mandi suci di Maṇikarṇikā, persembahan modaka, dupa, pelita, rangkaian bunga, serta laku caturthī—terutama Māgha-śukla-caturthī—dan yātrā tahunan dengan persembahan wijen serta homa. Bagian phalaśruti menyatakan bahwa pembacaan dan japa di dekat Dhūṇḍhi mendatangkan lenyapnya rintangan, kemakmuran, dan keberhasilan yang diharapkan. Bab ini kemudian beralih ke daftar geografi-sakral yang tersusun: berbagai Vināyaka disebutkan menurut āvaraṇa (lingkar pelindung) dan arah mata angin, masing-masing dengan fungsi setempat—menghapus takut, memberi perlindungan, mempercepat siddhi, dan mengekang kekuatan lawan. Dengan demikian, Kāśī dipahami sebagai peta ritual berlapis yang dijaga oleh rupa-rupa Gaṇeśa bernama.

Pādodaka-Tīrtha and the Keśava Circuit in Kāśī (पादोदकतीर्थ-केशवपरिक्रमा)
Bab 8 disajikan sebagai dialog. Agastya bertanya kepada Skanda tentang tindakan Śiva ketika berada di Mandara, lalu Skanda menuturkan kisah yang berpusat pada Kāśī dan disebut mampu melenyapkan kenajisan. Di dalamnya terdapat wejangan teologis yang dinisbatkan kepada Viṣṇu: usaha dalam ritual memang perlu, namun keberhasilan buahnya bergantung pada kesaksian dan penggerak ilahi; tindakan yang dilakukan sambil mengingat Śiva menjadi berhasil, sedangkan tindakan tanpa ingatan kepada Śiva, meski dikerjakan dengan tepat, dinyatakan gagal. Selanjutnya diceritakan keberangkatan Viṣṇu dari Mandara menuju Vārāṇasī, mandi suci di batas/pertemuan Gaṅgā, serta penetapan dan pengenalan Pādodaka-tīrtha. Bab ini lalu merinci rute padat berbagai tīrtha dan tempat suci terkait Keśava—seperti Ādikeśava serta tīrtha bernama Śaṅkha, Cakra, Gadā, Padma, Mahālakṣmī, Tārkṣya, Nārada, Prahlāda, Ambārīṣa, dan lainnya—masing-masing disertai laku seperti snāna, meminum pādodaka, śrāddha, tarpaṇa, dan dāna, beserta pahala: penyucian, peningkatan leluhur, kemakmuran, kesehatan, dan hasil yang mengarah pada pembebasan. Bagian berikut menghadirkan wacana seorang ‘saugata’ (pertapa/guru) yang menekankan etika universal—terutama ahiṃsā sebagai dharma tertinggi dan welas asih sebagai norma paling luhur. Penutupnya berupa phalaśruti: membaca atau mendengar kisah ini memenuhi tujuan, diibaratkan seperti Viṣṇu yang mengabulkan harapan dan Śiva sebagai “penyempurna niat/yang mewujudkan pikiran.”

पञ्चनदतीर्थप्रादुर्भावः (Origin and Merit of the Pañcanada Tīrtha)
Bab ini dibuka dengan penghormatan Bhagawan Agastya kepada Skanda, memuji-Nya secara teologis dan memohon penjelasan tentang tīrtha bernama Pañcanada di Kāśī: mengapa disebut demikian, mengapa dianggap paling menyucikan, dan bagaimana Viṣṇu dipahami hadir di sana walau tetap melampaui segalanya. Skanda menjawab sebagai ajaran yang berakar pada tempat suci—Yang Ilahi tanpa rupa namun menampakkan diri, menopang segalanya namun tetap merdeka—seraya menuturkan silsilah asal-usul tīrtha itu. Dikisahkan resi Vedaśiras, apsaras Śuci, dan kelahiran seorang putri bernama Dhūtapāpā (“penggugur dosa”). Tapas (laku tapa) Dhūtapāpā menjadi syarat penentu kesucian luar biasa; Brahmā menganugerahi bahwa tak terhitung tīrtha bersemayam dalam tubuhnya, sehingga daya penyuciannya kian agung. Kemudian terjadi perjumpaan dengan Dharma dan kutuk timbal balik: Dharma menjadi sungai besar Dharmanadī di Avimukta, sedangkan Dhūtapāpā menjelma laksana batu bulan (candrākānta) yang mencair saat bulan terbit dan mengalir sebagai sungai. Penutup bab memberi penunjuk ritual: mandi di Pañcanada, melakukan pitṛ-tarpaṇa, memuja Bindumādhava, serta meminum/memakai air Pañcanada sebagai sarana penyucian; dāna di Bindutīrtha disebut membawa bebas dari kemiskinan, membentuk rute praktik ziarah dalam geografi suci Kāśī.

Bindumādhava-Prādurbhāva at Pañcanada-hrada and the Kārtika/Ūrja Vrata Framework (बिंदुमाधवप्रादुर्भावः)
Bab ini disusun sebagai asal-usul tirtha sekaligus pedoman kaul (vrata) dalam dialog teologis. Skanda membuka tema “penampakan Mādhava”, menjanjikan penyucian cepat bagi siapa pun yang mendengarnya dengan iman. Keśava (Viṣṇu) datang dari Mandara ke Kāśī, menyaksikan kesuciannya yang unggul, lalu memuji Pañcanada-hrada sebagai tirtha yang melampaui teladan kemurnian yang paling termasyhur sekalipun. Pertapa Agnibindu kemudian hadir dan melantunkan himne panjang: Tuhan melampaui segalanya, namun berwujud penuh kasih demi para bhakta. Ia memohon anugerah agar Viṣṇu menetap di Pañcanada demi kesejahteraan semua makhluk, terutama para pencari mokṣa. Viṣṇu mengabulkan, menegaskan Kāśī sebagai tempat yang unik untuk mokṣa melalui “tanū-vyaya” (pelepasan tubuh) di sana, serta menerima anugerah kedua: tirtha itu akan dikenal sebagai Bindu-tīrtha, dan mandi suci serta bhakti di sana memberi pembebasan bahkan bagi yang berada jauh, sekalipun mokṣa itu terwujud setelah kematian kelak. Bagian akhir menguraikan disiplin Kārtika/Ūrja-vrata: pantangan makanan, brahmacarya, mandi suci, persembahan pelita, berjaga pada Ekādaśī, kejujuran, pengendalian ucapan, aturan kemurnian, dan pilihan puasa bertingkat. Semua ini dipaparkan sebagai tuntunan etis yang meneguhkan dharma, menopang caturvarga, dan menekankan sikap tanpa kebencian kepada Tuhan Tertinggi serta ketekunan bhakti yang berkelanjutan.

बिंदुमाधव-तीर्थप्रभेदः तथा मणिकर्णिका-रहस्यं (Bindu-Mādhava’s Tīrtha-Forms and the Secret Greatness of Maṇikarṇikā)
Bab ini dibuka ketika Resi Agastya memohon penjelasan lebih lanjut setelah mendengar kisah penyucian tentang Mādhava dan kemuliaan Pañcanada. Skanda lalu menyampaikan ajaran Mādhava kepada resi Agnibindu melalui sabda Bindu-Mādhava. Sesudah itu hadir uraian teratur: Viṣṇu memperkenalkan diri dalam banyak penampakan setempat di berbagai tīrtha—dengan nama Keśava/Mādhava/Nṛsiṃha dan lainnya—serta menyebutkan pahala masing-masing, seperti keteguhan pengetahuan (Jñāna-Keśava), perlindungan dari māyā (Gopī-Govinda), kemakmuran (Lakṣmī-Nṛsiṃha), pemenuhan harapan (Śeṣa-Mādhava), dan pencapaian luhur (Hayagrīva-Keśava). Pembahasan kemudian beralih pada penilaian keutamaan tīrtha, menegaskan daya istimewa Kāśī, serta mengungkap sebuah “rahasya”: pada tengah hari banyak tīrtha secara ritual berkumpul di Maṇikarṇikā; para dewa, resi, nāga, dan berbagai makhluk pun digambarkan ikut dalam siklus pemujaan tengah hari itu. Keampuhan Maṇikarṇikā ditinggikan—satu prāṇāyāma, satu japa Gāyatrī, atau satu persembahan homa saja disebut menghasilkan buah berlipat ganda. Agnibindu lalu bertanya tentang batas Maṇikarṇikā; Viṣṇu memberi gambaran kasar dengan penanda seperti kawasan Haricandra dan tempat-tempat Vināyaka, serta memperkenalkan tīrtha-tīrtha sekitar beserta buahnya. Selanjutnya disajikan visualisasi bhakti Maṇikarṇikā sebagai Dewi, disertai uraian mantra dan tata laku (perbandingan japa dan homa) bagi pencari pembebasan. Bagian akhir meneruskan daftar stasiun suci di sekitarnya dan ditutup dengan phalaśruti: siapa yang membaca atau mendengar kisah Bindu-Mādhava dengan bhakti memperoleh bhukti (kesejahteraan duniawi) dan mukti (pembebasan).

Kapilā-hrada / Kapiladhārā Māhātmya and Pitṛ-tarpaṇa Phala (कपिलाह्रद–कपिलधारामाहात्म्य तथा पितृतर्पणफल)
Agastya memohon uraian rinci tentang pertemuan ilahi di Kāśī: kedatangan Śiva Vṛṣadhvaja, hadirnya Viṣṇu, Brahmā, Ravi, para gaṇa dan yoginī, serta tata cara penghormatan. Skanda menuturkan etiket sidang—sujud hormat, penataan tempat duduk, dan pemberian anugerah—lalu Śiva menenteramkan Brahmā mengenai laku dharma, menegaskan beratnya pelanggaran terhadap brāhmaṇa, serta daya penyucian penegakan (pratiṣṭhā) Śiva-liṅga. Ravi menjelaskan bahwa pada masa pemerintahan Divodāsa ia menanti di luar Kāśī sesuai disiplin; Śiva menyatakan hal itu bagian dari tata kelola ilahi. Lalu asal-usul tīrtha: lima sapi surgawi dari Goloka datang; susu mereka membentuk sebuah danau yang dinamai Śiva ‘Kapilā-hrada’, menjadi tīrtha yang unggul. Di sana para Pitṛ muncul memohon anugerah; Śiva menetapkan aturan śrāddha, pinda-offering, dan tarpaṇa di tempat itu, menekankan kepuasan akṣaya terutama pada pertemuan bulan (Kuhū/Soma) dan saat bulan baru. Berbagai nama tīrtha disebut—Madhusravā, Kṣīranīradhi, Vṛṣabhadhvaja-tīrtha, Gadādhara, Pitṛ-tīrtha, Kapiladhārā, Śivagayā—serta ditegaskan kelayakan luas dan manfaat bagi beragam jenis arwah. Bab ditutup dengan gambaran kesiapan upacara dan phalaśruti: mendengar atau melantunkan kisah ini menghancurkan dosa besar dan menganugerahkan penyatuan dengan Śiva, terkait tradisi japa-akhyāna ‘Kāśī-praveśa’.

अध्याय १३ — ज्येष्ठेश्वर-निवासेश्वर-जयगीषव्येश्वर-माहात्म्य एवं जयगीषव्य-स्तोत्र
Agastya bertanya kepada Skanda tentang kemegahan Kāśī dan laku Śiva di Tārakāra (Kāśī). Skanda menuturkan kisah yogin-sage Jaigīṣavya yang menjalani niyama sangat berat: ia tidak akan makan atau minum sampai kembali memandang padma-caraṇa (kaki teratai) Mahādeva yang bermata tiga, ‘viṣama-īkṣaṇa’; baginya, makanan tanpa darśana itu cacat secara rohani. Hanya Śiva mengetahui tekad ini; Ia mengutus Nandin. Nandin membawa sang pertapa ke sebuah gua indah, menghidupkan dan menguatkannya dengan sentuhan ilahi ‘līlā-kamala’, lalu menghadirkannya di hadapan Śiva dan Gaurī. Jaigīṣavya kemudian melantunkan Śiva-stotra yang panjang, menyebut banyak gelar ilahi dan menegaskan śaraṇāgati (berserah diri sepenuhnya) hanya kepada Mahādeva. Śiva yang berkenan menganugerahkan karunia: kedekatan yang tak terputus, kehadiran abadi pada liṅga yang didirikan Jaigīṣavya, serta ajaran yoga yang menjadikannya guru yoga terkemuka. Stotra itu dinyatakan mampu melenyapkan dosa besar dan menumbuhkan pahala serta bhakti. Bab ini juga memetakan geografi ritual Kāśī: kemunculan Jyeṣṭheśvara (liṅga svayambhū) dan Jyeṣṭhā Gaurī dekat Jyeṣṭha-vāpī; ketentuan yātrā agung pada Jyeṣṭha śukla caturdaśī, hari Senin, saat Anurādhā; perayaan bulan Jyeṣṭha dengan berjaga malam; manfaat śrāddha di Jyeṣṭha-sthāna; serta penamaan kemudian Nivāseśa, liṅga “kediaman” yang ditegakkan sendiri oleh Śiva. Phalaśruti menutup: mendengar dengan saksama membebaskan dari dosa dan melindungi dari derita.

काशीमाहात्म्ये ब्राह्मणसमागमः, लिङ्गप्रतिष्ठा, अविमुक्तमोक्षोपदेशश्च (Kāśī-Māhātmya: Assembly of Brāhmaṇas, Liṅga Foundations, and the Avimukta Teaching on Liberation)
Agastya bertanya kepada Skanda tentang apa yang terjadi di ‘Jyeṣṭha-sthāna’, tempat yang sangat berpahala dan terkasih bagi Tuhan. Skanda menuturkan: ketika Śiva pergi ke Mandara, para brāhmaṇa setempat dan para pertapa yang meninggalkan keterikatan duniawi—ditopang oleh tatanan ekonomi suci mahākṣetra—menggali sebuah telaga indah bernama Daṇḍakhātā dan menegakkan banyak mahāliṅga di sekelilingnya. Mereka memelihara disiplin Śaiva: mengenakan vibhūti, rudrākṣa, memuja liṅga, serta melantunkan Śatarudrīya. Mendengar kabar kembalinya Śiva, sejumlah besar brāhmaṇa datang untuk darśana dari berbagai tīrtha/kuṇḍa yang disebutkan—Mandākinī, Haṃsatīrtha, Kapālamocana, Ṛṇamocana, Vaitaraṇī, Lakṣmītīrtha, Piśācamocana, dan lainnya—lalu berkumpul di tepi Gaṅgā dengan persembahan dan kidung-kidung suci. Śiva menenangkan mereka dan memberi ajaran: Kāśī adalah ‘kṣema-mūrti’ (wujud keselamatan) dan ‘nirvāṇa-nagarī’ (kota pembebasan); mengingat nama ‘Kāśī’ sebagai mantra melindungi dan mentransformasi batin. Ia menegaskan kemuliaan penyelamatan bagi para Kāśī-bhakta, memperingatkan bahaya tinggal di Kāśī tanpa bhakti, serta menganugerahkan anugerah: Tuhan tidak meninggalkan Kāśī; para bhakta memiliki bhakti yang teguh dan menetap terus di Kāśī; dan kehadiran Śiva bersemayam dalam liṅga yang didirikan para bhakta. Bab ini juga memuat pedoman etika bagi penduduk: melayani, bersembahyang, menahan diri, berdana, berwelas asih, tidak menyakiti, dan bertutur tanpa melukai. Disebutkan pula akibat karma bagi pelanggaran di Kāśī, termasuk keadaan antara yang berat seperti ‘rudra-piśāca’ dan penderitaan pemurnian sebelum akhirnya dilepaskan. Penutupnya menegaskan janji unik Avimukta: siapa pun yang wafat di sana tidak jatuh ke neraka; pada saat keberangkatan Śiva menganugerahkan tāraka-brahma; pemberian kecil pun berbuah pahala besar; dan membaca, mendengar, atau mengajarkan “kisah rahasia” ini membebaskan dari dosa serta menuntun ke alam Śiva.

Jyeṣṭhasthāna Liṅga-Catalog and the Origins of Kaṇḍukeśvara & Vyāghreśvara
Bab ini dibuka dengan Skanda yang berbicara kepada Kumbhaja, menyebutkan banyak liṅga di sekitar Jyeṣṭheśvara dan menegaskan kemujarabannya sebagai pemberi siddhi serta penyuci. Beberapa liṅga diberi buah khusus: darśana Parāśareśvara menghadirkan ‘pengetahuan murni’; Māṇḍavyeśvara menyingkirkan kebingungan intelektual; Jābālīśvara mencegah durgati; dan Āditya yang ditegakkan Sumantu meredakan kuṣṭha/penyakit kulit hanya dengan dipandang. Diuraikan pula bahwa mengingat, memandang, menyentuh, memuja, bersujud, dan memuji liṅga-liṅga ini mencegah timbulnya noda batin (kaluṣa). Lalu hadir kisah asal-usul pertama: dekat Jyeṣṭhasthāna, Śivā/Devī bermain dengan kaṇḍuka (bola) ketika dua makhluk bermusuhan datang hendak menculiknya. Sang Dewi Yang Mahatahu mengenali mereka dan menjatuhkan keduanya dengan bola yang sama; bola itu kemudian berubah menjadi liṅga bernama Kaṇḍukeśvara, penghapus derita dan tumpuan kehadiran Devī yang menetap bagi para bhakta. Kisah kedua berlangsung di tīrtha Daṇḍakhāta: seorang jahat merancang melemahkan para deva dengan membunuh brāhmaṇa, sebab kekuatan dewa ditopang oleh Veda-yajña. Ia menyamar dan memangsa para pertapa, namun pada malam Śivarātri seorang pemuja yang setia tetap terlindungi; Śiva menampakkan diri dalam wujud terkait harimau dan menegakkan liṅga Vyāghreśvara. Buahnya menekankan perlindungan dari bahaya (pencuri, binatang buas), kemenangan saat krisis melalui ingatan pada liṅga, serta keberanian tanpa takut bagi para pemuja. Penutup menyebut Uṭajeśvara di sebelah barat Vyāghreśvara, juga muncul demi perlindungan bhakta.

ज्येष्ठेश्वरपरिसर-लिङ्गकुण्डवर्णनम् / Mapping of Liṅgas, Kuṇḍas, and Protective Deities around Jyeṣṭheśvara
Bab ini dibuka dengan Skanda yang memetakan liṅga‑liṅga pendamping di sekitar Jyeṣṭheśvara menurut arah dan kedekatan, sehingga terbentuk urutan ziarah yang jelas. Ia menyebut Apsaraseśvara dan Apsaras‑kūpa (Soubhāgya‑udaka); mandi suci dan darśana di sana dikaitkan dengan terhindarnya kemalangan. Lalu hadir Kukkuteśa dekat sebuah vāpī dengan buah berupa bertambahnya kesejahteraan rumah tangga; di tepi Jyeṣṭha‑vāpī, Pitāmaheśvara ditetapkan sebagai tempat śrāddha demi kebahagiaan para pitṛ, disusul Gadādhareśvara yang memberi kepuasan bagi leluhur. Selanjutnya rangkaian tempat terkait Nāga: Vāsukīśvara beserta Vāsukī‑kuṇḍa, dengan anjuran snāna dan dāna, serta penekanan pada Nāga‑pañcamī sebagai penanda waktu untuk perlindungan dari takut ular dan racun. Takṣakeśvara dan Takṣaka‑kuṇḍa meneruskan tema perlindungan ini. Medan Bhairava kemudian muncul: Kapālī Bhairava menghapus rasa takut para bhakta dan disebut memberi vidyā‑siddhi dalam enam bulan; Caṇḍī Mahāmuṇḍā dipuja dengan bali dan persembahan, dan ziarah pada Mahāṣṭamī menjanjikan kemasyhuran serta kemakmuran. Bab ini kembali ke topografi air: Catuḥsāgara‑vāpikā dan empat liṅga yang dikaitkan dengan samudra; Vṛṣabheśvara—dipasang oleh vṛṣabha milik Hara—menjanjikan pembebasan dalam enam bulan melalui darśana. Gandharveśvara dan kuṇḍanya dihubungkan dengan persembahan dan kenikmatan “bersama para Gandharva”, sedangkan Karkoteśvara dan Karkota‑vāpī memberi kehormatan di Nāga‑loka serta kebal dari racun. Liṅga lain—Dhuṃdhumāriśvara (menghapus takut dari musuh), Purūraveśvara (memberi empat tujuan hidup), dan Supratīkeśvara (memberi nama baik dan kekuatan, terkait danau besar)—melengkapi rute. Tokoh pelindung ditambahkan: Vijayabhairavī di gerbang utara sebagai penjaga, serta Gaṇa Huṇḍana dan Muṇḍana sebagai pemutus rintangan; darśana mereka membawa kesejahteraan. Lalu kisah sisipan di tepi Varaṇā tentang Menā, Himavān, dan laporan seorang pengemis mengenai kehadiran Viśveśvara serta bangunan agung karya Viśvakarman. Penutupnya berupa phalaśruti: mendengar kemuliaan ini menuntun menuju alam Śiva dan mengikis dosa.

Ratneśvara-liṅga Prādurbhāva and Māhātmya (रत्नेश्वरलिङ्ग-प्रादुर्भाव-माहात्म्य)
Bab 17 dibuka dengan permohonan Agastya kepada Skanda agar menjelaskan asal-mula dan kemuliaan Mahāliṅga Ratneśvara di Kāśī. Skanda menuturkan kisah penampakan mandiri (svayambhū): tumpukan permata yang dihimpun Himavān sebagai persembahan berorientasi kepada Pārvatī menjadi dasar bagi liṅga bercahaya berbentuk permata; darśana semata atasnya disebut menganugerahkan “permata pengetahuan” (jñāna-ratna). Śiva dan Pārvatī mendatangi tempat itu; Pārvatī bertanya tentang wujudnya yang berakar dalam dan sinarnya yang menyala, lalu Śiva menafsirkan maknanya, menamainya Ratneśvara, serta menegaskan bahwa itu adalah perwujudan-Nya dengan daya khusus di Vārāṇasī. Para gaṇa (seperti Somanandin) segera membangun prāsāda emas. Teks menekankan bahwa pembangunan tempat suci dan penetapan liṅga menghasilkan pahala besar bahkan bila dilakukan dengan usaha minimal—ungkapan yang menonjolkan keagungan pahala di tanah suci Kāśī. Selanjutnya hadir sebuah itihāsa: penari Kalāvatī menari pada malam Śivarātri; melalui seni yang dipersembahkan dengan bhakti, ia terlahir kembali sebagai putri Gandharva bernama Ratnāvalī. Dengan tekad darśana harian kepada Ratneśvara, ia memperoleh anugerah bahwa calon suaminya kelak akan sesuai dengan nama yang ditunjukkan oleh dewa. Episode berikut menggambarkan kesusahan dan pemulihan melalui caraṇodaka/air suci dari Ratneśvara, dipuji sebagai penawar dalam berbagai krisis bagi para bhakta. Penutupnya menegaskan daya pelindung dan penghibur kisah ini: mendengarkannya dikatakan meredakan duka perpisahan dan penderitaan sejenis.

कृत्तिवासेश्वर-प्रादुर्भावः तथा हंसतीर्थ-माहात्म्यम् (Origin of Kṛttivāseśvara and the Glory of Haṃsatīrtha)
Bab ini menguraikan rangkaian asal-usul suci di Avimukta-Kṣetra. Skanda menuturkan kepada Agastya peristiwa “menakjubkan dan pemusnah dosa besar”: kedatangan Gajāsura, putra Mahiṣāsura, bertubuh raksasa dan mengguncang dunia. Śiva menantangnya dan menembusnya dengan triśūla; namun kisah beralih menjadi dialog teologis ketika Gajāsura mengakui keunggulan Śiva dan memohon anugerah. Gajāsura memohon agar kulitnya (kṛtti) menjadi pakaian abadi Śiva, sehingga gelar “Kṛttivāsa” termasyhur. Śiva mengabulkan dan menyucikan tempat jatuhnya tubuh asura di Avimukta dengan menetapkan liṅga “Kṛttivāseśvara”, dipuji sebagai yang utama di antara liṅga-liṅga Kāśī dan penghancur dosa besar. Disebutkan pula kemanjuran upacara: pemujaan, pembacaan stotra, darśana berulang, serta laku khusus—jaga malam dan puasa pada Māgha kṛṣṇa caturdaśī, dan perayaan pada Caitra śukla pañcadaśī. Kunda yang terbentuk saat triśūla dicabut menjadi tīrtha; mandi dan tarpaṇa bagi leluhur di sana sangat berpahala. Mukjizat berikutnya menjelaskan Haṃsatīrtha: pada suatu festival, burung-burung yang bertarung jatuh ke kunda dan seketika tersucikan—gagak berubah menjadi seperti angsa—menunjukkan pemurnian segera. Penutupnya memaparkan rangkaian tempat suci di sekitar Haṃsatīrtha/Kṛttivāsa—liṅga, Bhairava, Devī, vetāla, nāga, dan kunda penyembuh—sebagai sirkuit ziarah dengan manfaat khusus, serta phalaśruti bahwa mendengar asal-usulnya membawa keberuntungan sejalan dengan darśana liṅga.

Catalogue of Kāśī Liṅgas and Imported Tīrtha Potencies (लिङ्ग-तीर्थ-समाहारः)
Skanda mengajarkan kepada Agastya tentang liṅga-liṅga di Kāśī yang “layak dilayani demi pembebasan (mokṣa)” oleh para pencari yang berdisiplin. Bab ini bergaya katalog: Nandin melaporkan kepada Śiva mengenai kuil-kuil agung di Kāśī, kemunculan atau pemindahan berbagai liṅga, serta berkumpulnya daya-daya tīrtha di kota suci itu. Banyak tempat disebut dengan penanda arah dan ciri sekitar (śrīne Vināyaka, kuṇḍa, kawasan tertentu). Setiap lokasi disertai pernyataan buah (phala): penghancuran dosa, perolehan siddhi, kemenangan, tanpa takut pada zaman Kali, terhindar dari kelahiran buruk, hingga mencapai alam Śiva. Benang ajaran pentingnya ialah “pemadatan kesucian”: tindakan di padanan tīrtha yang terlokalisasi di Kāśī dikatakan memberi pahala berlipat dibanding kṣetra jauh seperti Kurukṣetra, Naimiṣa, Prabhāsa, dan Ujjayinī. Avimukta dan Mahādeva-liṅga ditinggikan sebagai dasar jati diri Kāśī sebagai ladang pembebasan, disertai uraian tentang para dewa pelindung dan kesucian kota yang bertahan melintasi siklus kosmis.

काश्यां क्षेत्ररक्षादेवी-व्यवस्था तथा विशालाक्षी-ललिता-आदि तीर्थमाहात्म्य (Kāśī’s Protective Goddess Network and the Māhātmya of Viśālākṣī, Lalitā, and Related Tīrthas)
Dalam adhyāya ini, Ṛṣi Agastya bertanya kepada garis Kāt(y)āyaneya/Nandin: dewi-dewi mana yang ditempatkan di tiap penjuru untuk melindungi Avimukta, dan bagaimana penetapan itu terjadi atas titah ilahi. Skanda menjawab dengan memaparkan jaringan pelindung di Vārāṇasī secara berurutan menurut lokasi—dimulai dari Viśālākṣī yang dikaitkan dengan Gaṅgā dan Viśālatīrtha—serta menetapkan laku tapa yang terkait pahala tinggal di Kāśī: berpuasa, berjaga pada malam hari, dan memberi jamuan kepada empat belas gadis pada tithi tertentu. Perjalanan suci lalu berlanjut ke Lalitātīrtha dan Dewi Lalitā, disusul Viśvabhujā dengan penekanan ziarah Navarātra, serta berbagai wujud pelindung: Vārāhī, Śivadūtī, Aindrī, Kaumārī, Māheśvarī, Nārasiṃhī, Brāhmī, Nārāyaṇī, dan Gaurī/Śaileśvarī. Disebut pula tempat-tempat khusus seperti Citraghaṇṭā beserta tata perayaan, Nigadabhañjanī yang melambangkan pelepasan belenggu, Amṛteśvarī sebagai tanda keabadian, Siddhalakṣmī dan pīṭha Mahālakṣmī yang mengaruniakan kemakmuran serta siddhi, dan triad pelindung yang dahsyat: Carmamuṇḍā, Mahāruṇḍā, Cāmuṇḍā. Pada penutup, Svapneśvarī/Durgā ditegaskan sebagai penjaga arah selatan, dan pemujaan kepada Dewi diajarkan bukan hanya sebagai jalan memperoleh buah, melainkan sebagai pedoman etis untuk meneguhkan hidup pribadi sekaligus menjaga kesucian kṣetra.

Durgā-nāma-niruktiḥ and Kālarātrī’s Mission against the Asura Durga (Durga-Daitya)
Agastya bertanya kepada Skanda bagaimana Dewi memperoleh nama “Durgā” dan bagaimana Ia patut dipuja di Kāśī. Skanda menuturkan kisah asal-usul: seorang asura bernama Durga, melalui tapa yang amat keras, menundukkan tiga dunia dan mengacaukan pembelajaran Weda, pelaksanaan yajña, serta tatanan dharma sosial. Akibatnya, di alam dan di kota-kota merebak ketakutan, pertikaian, dan perilaku menyimpang—tanda-tanda adharma. Di sela kisah, Skanda mengajarkan etika: dalam kemakmuran jangan larut dalam kegirangan dan kesombongan, dalam kesusahan jangan runtuh oleh duka; dhairya (keteguhan), pengendalian diri, dan satya (kebenaran) adalah perhiasan dharma. Para dewa yang kehilangan kedaulatan berlindung kepada Maheśa; atas dorongan-Nya, Sang Dewi bersiap menumpas asura dan mengutus Kālarātrī sebagai utusan. Kālarātrī menyampaikan ultimatum yang teratur kepada Durga: kembalikan triloka kepada Indra, pulihkan ritus yajña Weda, dan tegakkan dharma dunia; jika tidak, hukuman menanti. Dengan tutur yang cerdas ia menyingkap hasrat dan keangkuhannya. Ketika asura mencoba merengkuhnya, Kālarātrī menampakkan daya yang dahsyat, membakar bala tentara dan meniadakan serangan. Lalu Sang Dewi memancarkan banyak śakti untuk menahan pasukan asura—perlindungan ilahi tampil sebagai kedaulatan rohani sekaligus pemulihan keseimbangan ritual dan etika.

Vajrapañjara-stuti and the Naming of Durgā (वज्रपंजर-स्तुति तथा दुर्गानाम-प्रादुर्भावः)
Bab ini dibuka dengan pertanyaan Agastya kepada Skanda tentang nama-nama serta golongan Śakti tertinggi yang terkait dengan daya-daya berwujud milik Umā. Skanda menjawab dengan uraian panjang berupa daftar nama kekuatan ilahi, sehingga terbentuk peta konseptual mengenai peran dan daya kerja ajaran Śākta. Kisah lalu beralih ke peristiwa perang-teologis: seorang asura perkasa bernama Durga menyerang Dewi dengan senjata laksana badai dan perubahan wujud—menjadi gajah, kerbau, hingga bertangan banyak. Sang Dewi menangkis dengan penggunaan astra/senjata yang tepat, dan akhirnya menundukkannya dengan trisula, memulihkan kestabilan kosmos. Para dewa dan resi mempersembahkan kidung pujian yang panjang dan resmi, menegaskan Dewi sebagai sarvadevamayī (yang merangkum semua dewa), menyatukan berbagai wujud arah dan fungsi dalam satu kesatuan ilahi. Stotra ini dinamai Vajrapañjara, dijanjikan sebagai kavaca pelindung yang meniadakan takut dan derita; Dewi menyatakan bahwa sejak peristiwa ini nama-Nya akan termasyhur sebagai “Durgā”. Penutupnya mengaitkan ajaran dengan Kāśī: anjuran pemujaan pada tithi tertentu (terutama Aṣṭamī dan Caturdaśī, dengan penekanan hari Selasa), bhakti Navarātra, ziarah tahunan, serta mandi dan pemujaan di Durgā-kuṇḍa; disertai sebutan singkat tentang Śakti pelindung lain, Bhairava, dan Vetāla penjaga kṣetra.

त्रिविष्टप-लिङ्गमहिमा तथा ओंकारलिङ्ग-प्रादुर्भावकथा (Glory of the Triviṣṭapa Liṅga and the Origin Narrative of the Oṃkāra Liṅga)
Bab ini menampilkan dialog berlapis. Agastya bertanya kepada Skanda tentang cara Ṣaḍānana mendekati Trilocana, makna Virajā-pīṭha, serta bagaimana memahami geografi liṅga dan tīrtha di Kāśī. Skanda memperkenalkan “singgasana” Virajā dan menegaskan bahwa Trilocana Mahāliṅga bersama Pilipilā tīrtha membentuk satu kompleks ziarah yang utuh. Pembahasan lalu beralih pada pertanyaan Devī kepada Śiva: ia memohon daftar yang jelas tentang liṅga-liṅga anādi-siddha di Kāśī yang menjadi sebab nirvāṇa dan menopang kemasyhuran Kāśī sebagai kota pembebasan. Śiva menjawab dengan katalog terstruktur empat belas liṅga utama—bermula dari Oṃkāra dan Trilocana hingga berakhir pada Viśveśvara—seraya menegaskan bahwa gabungan daya merekalah yang mengaktifkan “medan pembebasan”, serta menganjurkan yātrā dan pemujaan secara teratur. Disebut pula adanya kelompok liṅga yang tersembunyi atau belum tersingkap pada zaman Kali, yang terutama dapat dijangkau oleh para bhakta dan pelaku yang berpengetahuan. Ketika Devī meminta kemuliaan masing-masing liṅga, dikisahkan panjang asal-usul Oṃkāra liṅga: tapa Brahmā di Ānandakānana, penampakan suku kata purba (a-u-ma), ajaran nāda-bindu, pujian Brahmā, serta anugerah dan jaminan keselamatan melalui darśana dan japa. Dengan demikian, pemetaan suci (daftar dan lintasan ziarah), tuntunan ritual, dan tafsir metafisis Pranava sebagai śabda-brahman berpadu menjadi wacana teologis yang berorientasi pada mokṣa.

Oṃkāra-liṅga Māhātmya and Mahāpāśupata Vrata Instruction (ओंकारलिङ्गमाहात्म्यं महापाशुपतव्रतोपदेशश्च)
Bab ini memaparkan kemuliaan tertinggi Avimukta (Kāśī) serta keagungan Oṃkāra-liṅga. Dalam kisah pada latar Padma-kalpa, Damana putra Bhāradvāja menyadari ketidakpastian dan duka kehidupan duniawi, lalu mengembara ke āśrama, kota, hutan, sungai, dan tīrtha. Ia menempuh ziarah, japa mantra, homa, pelayanan guru, bermalam di krematorium, praktik obat dan alkimia, serta tapa yang berat, namun tetap tidak memperoleh keteguhan batin dan “benih siddhi”; karena itu ia memohon upadeśa yang pasti untuk meraih pencapaian “dalam tubuh ini juga”. Oleh pertemuan yang dituntun takdir, Damana tiba di tepi Sungai Revā pada kawasan suci Oṃkāra, melihat para pertapa Pāśupata, dan mendekati guru sepuh mereka, muni Garga. Garga memuji Avimukta sebagai kṣetra utama yang menyelamatkan dari saṃsāra, menjelaskan para penjaga batasnya serta simpul-simpul penting seperti Maṇikarṇikā dan Viśveśvara, lalu meneguhkan praktik pada pemujaan Oṃkāra-liṅga. Ia menyebut teladan Pāśupata yang meraih siddhi melalui pemujaan itu, serta menyampaikan kisah peringatan: seekor katak memakan nirmālya Śiva (persembahan), lalu karena kesalahan itu mati di luar kṣetra dan terlahir kembali dengan tanda baik-buruk yang bercampur—sebagai pedoman untuk menghormati milik dan persembahan Śiva. Selanjutnya dikisahkan Mādhavī, kelahiran kembali dari katak tersebut, yang berbhakti eksklusif kepada Oṃkāra—senantiasa mengingat, melayani, mengekang indria, dan memusatkan diri hanya pada liṅga—hingga pada berjaga dan berpuasa di caturdaśī bulan Vaiśākha ia menyatu ke dalam liṅga; cahaya suci pun tampak dan tradisi perayaan setempat disebutkan. Penutupnya berupa phalaśruti: pendengar yang tekun disucikan dan mencapai Śiva-loka, serta ditegaskan bahwa kṣetra itu senantiasa dijaga oleh para gaṇa.

त्रिविष्टप-त्रिलोचन-लिङ्गमाहात्म्य तथा पिलिपिला-तीर्थविधिः (Māhātmya of Triviṣṭapa/Trilocana Liṅga and the Pilipilā Tīrtha Observance)
Bab ini dibuka ketika Resi Agastya, setelah mendengar uraian penyucian sebelumnya, memohon kisah “Triviṣṭapī”. Skanda lalu menjelaskan peta kesucian di Kāśī: liṅga Triviṣṭapa di Ānandakānana beserta wujud yang lebih unggul, liṅga Trilocana, serta rangkaian tīrtha di sekitarnya. Ditampilkan pula motif tiga sungai—Sarasvatī, Kālin̄dī/Yamunā, dan Narmadā—yang berulang kali “melayani” liṅga melalui mandi suci; juga liṅga-liṅga pendamping bernama sesuai sungai itu, dengan pahala khusus bagi darśana, sparśa, dan arcana. Ditegaskan bahwa mandi di tīrtha Pilipilā, persembahan dan dana, termasuk tindakan śrāddha serta pinḍa, dan pemujaan di Triviṣṭapa/Trilocana merupakan tata prāyaścitta yang menyeluruh bagi banyak pelanggaran; namun śiva-nindā—merendahkan Śiva dan para bhakta Śaiva—dinyatakan tidak dapat ditebus. Bab ini merinci cara bhakti: pañcāmṛta, gandha, mālya, dhūpa-dīpa, naivedya, musik dan panji, pradakṣiṇā, namaskāra, serta pembacaan oleh brahmana; juga waktu-waktu mujur bulanan dan pernyataan bahwa Triviṣṭapa senantiasa membawa keberuntungan. Di akhir, disebutkan liṅga-liṅga sekitar seperti Śāntanava, Bhīṣmeśa, Droṇeśa, Aśvatthāmeśvara, Vālakhilyeśvara, dan Vālmīkeśvara beserta buah rohaninya masing-masing.

त्रिलोचनप्रासादे पारावतद्वन्द्वकथा (The Pigeon-Couple Narrative at the Trilocana Shrine)
Adhyaya ini dibuka dengan Skanda yang menuturkan kepada Maitrāvaruṇa kisah terdahulu di pīṭha bernama Virajā, pada istana/kuil Trilocana yang tersusun dari permata. Di sana sepasang merpati tinggal sambil rutin melakukan pradakṣiṇā, di tengah suasana bhakti yang tak putus—bunyi alat musik, nyala lampu ārati, dan pujian suci. Seekor elang mengamati gerak mereka, mempelajarinya, lalu menutup jalan keluar sehingga timbul krisis. Merpati betina berkali-kali mengajak pindah dan mengajarkan nīti yang bijak: menjaga nyawa memungkinkan segala yang lain—keluarga, harta, rumah—diraih kembali; keterikatan pada tempat dapat membinasakan orang arif. Namun ia juga menegaskan kesucian tertinggi Kāśī, Oṃkāra-liṅga, dan Trilocana, sehingga ketegangan antara kesucian tempat dan keselamatan diri makin terasa. Merpati jantan mula-mula menolak; pertentangan terjadi dan elang menangkap keduanya. Sang istri lalu memberi siasat: saat elang masih terbang, gigit kakinya; siasat itu berhasil, ia terlepas dan sang suami pun jatuh sehingga ikut selamat. Kisah ini menegaskan bahwa usaha yang tekun (udyama), bila selaras dengan keberuntungan (bhāgya), dapat menghadirkan pembebasan yang tak terduga di tengah bahaya. Setelah itu dibahas akibat karma dan kelahiran kembali: pasangan itu memperoleh keadaan yang lebih luhur di tempat lain. Muncul pula teladan para bhakta—Parimālālaya, seorang Vidyādhara, yang menjalani tapa-vrata dan bertekad tidak makan sebelum memuja Trilocana di Kāśī; serta Ratnāvalī, putri Nāga, yang bersama para sahabat memuja Trilocana dengan bunga, musik, dan tari hingga memperoleh penampakan ilahi. Penutupnya adalah phalaśruti: mendengar kisah Trilocana menyucikan bahkan yang terbebani dosa dan menuntun menuju keadaan yang lebih tinggi.

Kedāra-mahimākhayāna (केदारमहिमाख्यानम्) — Glory of Kedāreśvara and Harapāpa-hrada in Kāśī
Bab ini dibuka dengan permohonan Pārvatī agar Śiva menjelaskan kemuliaan (māhātmya) Kedāra dengan penuh welas asih. Śiva menerangkan tingkatan daya rohani dari niat dan perjalanan: sekadar bernazar untuk pergi ke Kedāra sudah mulai mengikis dosa; keluar dari rumah, melangkah di jalan, mengingat Nama, hingga akhirnya memperoleh darśana serta menerima air tīrtha—semuanya dipandang sebagai tahapan pahala yang kian meningkat. Selanjutnya dibahas Harapāpa-hrada (juga disebut Kedāra-kuṇḍa) sebagai tempat suci bagi snāna, pemujaan liṅga, dan śrāddha; tindakan-tindakan ini menjanjikan kebajikan besar serta pengangkatan para leluhur. Sebuah kisah teladan menyusul: seorang pertapa muda berdisiplin Pāśupata (dalam episode ini dikenali sebagai Vasiṣṭha) menempuh ziarah Kedāra; gurunya mencapai kepergian ilahi, dan karena tekad Vasiṣṭha yang teguh, Śiva berkenan menegakkan kehadiran-Nya di tīrtha demi manfaat para pelaku sādhana, terutama pada Kali-yuga. Bab ini juga memetakan liṅga-liṅga di sekitar Kedāra—Citrāṅgadeśvara, Nīlakaṇṭha, Ambārīṣeśa, Indradyumneśvara, Kālañjareśvara, Kṣemeśvara, dan lainnya—serta pahala khas tiap lokasi, sehingga menjadi pedoman perjalanan suci setempat di Kāśī.

धर्मेशमहिमाख्यानम् (Dharmeśa-Mahimākhyāna) — The Glorification of Dharmeśvara and Dharma-pīṭha
Bab ini tersusun sebagai dialog berlapis. Pārvatī menanyakan sebuah liṅga istimewa di Ānandakānana yang sangat melipatgandakan pahala: mengingatnya, memandangnya, bersujud, menyentuhnya, serta abhiṣeka pañcāmṛta diyakini meredakan dosa besar dan menjadikan buah persembahan serta japa bersifat tak binasa. Śiva menyebutnya sebagai ‘rahasia tertinggi’ Ānandavana, lalu kisah diteruskan melalui Skanda. Diceritakan adanya Dharma-tīrtha dan Dharma-pīṭha; sekadar melihatnya saja membebaskan dari pāpa. Legenda utama mengisahkan Yama, putra Vivasvat, yang bertapa keras dalam waktu panjang—laku musiman, berdiri dengan satu kaki, minum air sangat sedikit—demi memperoleh darśana Śiva. Śiva berkenan, menganugerahkan anugerah, dan menetapkan Yama sebagai Dharma-rāja serta saksi karma, dengan wewenang menata perjalanan makhluk sesuai perbuatannya. Selanjutnya ditegaskan kemuliaan pemujaan liṅga ‘Dharmeśvara’: darśana, sparśana, dan arcana memberi siddhi dengan cepat; mandi suci di tīrtha menolong pencapaian puruṣārtha; bahkan persembahan sederhana dalam bhakti dipandang sebagai perlindungan dalam tatanan dharma. Penutupnya memaparkan buah amalan: ziarah pada Kārttika śukla aṣṭamī disertai puasa dan berjaga malam, serta pembacaan himne, sebagai jalan menuju kemurnian dan nasib yang mujur.

Dharma’s Petition, the Birds’ Request for Liberating Knowledge, and the Mapping of Mokṣa-Sites in Kāśī
Bab 29 tampil sebagai dialog tersisip yang dituturkan oleh Skanda. Śiva, laksana samudra nektar penuh welas asih, menenangkan dan menghidupkan kembali Dharmarāja dengan sentuhan kasih, serta memulihkan daya tapa (tapas) beliau. Lalu Dharmarāja memohon kepada Śiva demi para burung kīra (betet/nuri) yang menjadi yatim—bertutur manis dan menjadi saksi tapa—agar dianugerahi perlindungan dan rahmat ilahi. Dipanggil menghadap, para burung itu merenungkan saṃsāra: kelahiran tak terhitung dalam wujud dewa, manusia, dan makhluk lain; silih berganti suka-duka, menang-kalah, tahu-tak tahu, tanpa kestabilan. Mereka menyatakan titik baliknya adalah darśana pemujaan liṅga yang lahir dari tapa serta penglihatan langsung akan Śiva; mereka memohon jñāna yang memutus belenggu dunia. Mereka menolak jabatan surgawi dan memohon wafat di Kāśī yang berbuah tanpa kembali (apunarbhāva). Menjawab itu, Śiva menguraikan peta suci tempat-tempat mokṣa di Kāśī: ‘kediaman kerajaan’-Nya, Mokṣalakṣmīvilāsa prāsāda, Nirvāṇa-maṇḍapa serta maṇḍapa mukti, dakṣiṇa, dan jñāna; amalan seperti japa, prāṇāyāma, śatarudriya, dāna, vrata, dan berjaga yang berlipat pahalanya; kemuliaan Jñānavāpī; hingga pusat-pusat puncak seperti Maṇikarṇikā dan Avimukteśvara. Pada penutupnya, Śiva menganugerahi para burung kendaraan ilahi dan jalan menuju dhamā-Nya, menegaskan daya penyelamat rahmat dan pengetahuan yang berlabuh pada Kāśī.

मनोरथतृतीया-व्रतविधानम् (Manoratha-Tṛtīyā Vrata: Procedure and Fruits)
Bab ini menguraikan tata cara dan buah (phala) dari vrata bernama Manoratha-Tṛtīyā. Jagadambikā/Gaurī bertekad tinggal dekat Dharmapīṭha dan menganugerahkan siddhi kepada para bhakta liṅga. Śiva menegaskan kemuliaan pemujaan kepada Dewi sebagai Viśvabhujā, serta menyatakan bahwa vrata ini menuntun pada terpenuhinya niat dan pada akhirnya membuka jalan menuju pengetahuan rohani. Ketika Dewi meminta kejelasan prosedur, Śiva menuturkan kisah teladan tentang Paulomī, putri Pulomā. Dengan nyanyian bhakti, pemujaan liṅga, dan ketekunan, ia memohon pernikahan yang baik serta kemantapan dalam bhakti. Selanjutnya Śiva menjelaskan penetapan waktu (terutama Caitra-śukla Tṛtīyā), disiplin kesucian, ibadah malam dengan aturan nakta, dan urutan pemujaan: mula-mula Āśā-Vināyaka, lalu Viśvabhujā Gaurī, dengan persembahan bunga, wewangian, unguen, serta pelaksanaan bulanan selama setahun, ditutup dengan homa dan pemberian dana kepada ācārya. Pada bagian phalaśruti disebutkan hasil bagi berbagai keadaan: kemakmuran, keturunan, pembelajaran, lenyapnya kesialan, hingga mokṣa. Juga diterangkan bahwa di luar Vārāṇasī, vrata ini dapat disesuaikan melalui pembuatan arca dan sedekah/dana sebagai pengganti sarana setempat.

धर्मेश्वराख्यान (Dharmēśvara Narrative) — Dharma-tīrtha, Dharma-kūpa, and the Five-Faced Liṅga Cluster
Agastya memohon kepada Skanda agar menuturkan mahātmya Dharma-tīrtha sebagaimana Śambhu mengajarkannya kepada Devī. Skanda berkisah: setelah membunuh Vṛtra, Indra terkena brahmahatyā-doṣa dan mencari penebusan; atas petunjuk Bṛhaspati ia datang ke Kāśī yang dilindungi Viśveśvara, dan di Ānandavana kekotoran besar dikatakan lari saat seseorang memasukinya. Di dekat aliran yang mengalir ke utara, Indra memuja Śiva; oleh anugerah dan titah Śiva, “mandilah di sini, wahai Indra,” sebuah tīrtha ditegakkan, dan keadaan Indra disucikan melalui tata-ritus. Para resi seperti Nārada kemudian menjadikan tempat itu untuk mandi, śrāddha, dan persembahan; tīrtha itu termasyhur sebagai Dharmāndhu/Dharma-tīrtha, dinyatakan melampaui banyak perairan ziarah lainnya dalam buah kebajikan. Bab ini menegaskan ekonomi-ritual bagi para pitṛ: mandi dan bahkan sedekah kecil di Dharma-pīṭha berbuah kekal; memberi makan para pertapa dan brāhmaṇa dipuji setara dengan hasil yajña Weda. Selanjutnya Indra mendirikan liṅga Indreśvara di barat Tārakeśa; di sekeliling Dharmēśa berdiri śrīna seperti Śacīśa, Rambheśa, Lokapāleśvara, Dharaṇīśa, Tattveśa, Vairāgyeśa, Jñāneśvara, dan Aiśvaryeśa menurut arah, ditafsirkan sebagai “rupa-rupa” terkait teologi Pañcavaktra. Teladan moral ditutup dengan kisah Raja Durdama: meski semula menyimpang, ia masuk Ānandavana tanpa sengaja, berubah batin saat melihat Dharmēśvara, membenahi pemerintahannya, melepaskan keterikatan, kembali berbhakti di Kāśī, dan mencapai akhir yang mengarah pada mokṣa. Phalaśruti menyatakan bahwa mendengar kisah Dharmēśvara—terutama saat śrāddha—menghapus dosa terkumpul, menenteramkan leluhur, dan menuntun bhakti menuju kediaman Śiva.

Vīreśa-liṅga Māhātmya and the Rescue of Malayagandhinī (वीरेशलिङ्गमाहात्म्य–मलयगन्धिनी-रक्षणम्)
Pārvatī menanyakan kemasyhuran dan keagungan Vīreśa: bagaimana liṅga di Kāśī ini menampakkan diri dan mengapa ia dikenal memberi pencapaian yang cepat. Maheśvara membuka kisah dengan bingkai kebajikan, lalu menuturkan teladan Raja Amitrajit—berdisiplin dalam dharma, cakap memerintah, dan sangat teguh dalam bhakti kepada Viṣṇu. Negeri sang raja dipenuhi nama Hari, arca Hari, dan kisah-kisah Hari; bahkan tata pergaulan sehari-hari dibentuk oleh norma bhakti, dengan penekanan pada ahiṃsā serta ketaatan pada hari-hari suci Hari. Nārada datang memuji pandangan sang raja yang berpusat pada Viṣṇu, lalu menyampaikan krisis: Malayagandhinī, putri seorang Vidyādhara, diculik oleh raksasa kuat bernama Kaṅkālaketu, yang hanya dapat dibunuh oleh trisulanya sendiri. Nārada menunjukkan jalan praktis menuju kota bawah tanah Campakāvatī melalui lautan dan pertemuan yang dituntun ilahi. Raja mencapai alam bawah, bertemu sang gadis yang berduka, dan diberi petunjuk untuk bertindak saat sang raksasa tertidur. Ketika raksasa datang membanggakan harta dan memaksa pernikahan, ia tertidur dengan trisula; raja mengambilnya, menantang dengan etika ksatria, lalu membunuhnya dengan trisula itu dan menyelamatkan sang gadis. Kisah kemudian kembali pada bingkai penyelamatan Kāśī: mengingat Kāśī dan daya sucinya mencegah noda moral, sekaligus menyiapkan kelanjutan tentang asal-usul Vīreśa-liṅga dan tuntunan laku-vrata.

वीरवीरेश्वरलिङ्ग-प्रतिष्ठा, पुत्रप्राप्ति-व्रतविधान, तथा काशी-तीर्थ-क्रम (Vīravīreśvara Liṅga, Putra-prāpti Vrata Procedure, and the Ordered Survey of Kāśī Tīrthas)
Adhyaya 33 menyajikan kisah ajaran berlapis. Pertama, sang ratu menguraikan vrata khusus untuk memperoleh putra (putra-prāpti), yang dahulu diajarkan oleh Nārada dan dibuktikan berhasil melalui teladan seperti kelahiran Nalakūbara. Rinciannya meliputi penempatan arca Gaurī bersama bayi yang menyusu, waktu pelaksanaan pada Mārgaśīrṣa śukla tṛtīyā, susunan kalaśa, kain persembahan, unsur teratai dan emas, wewangian, naivedya, berjaga semalam, serta homa kecil dengan ṛc Veda. Puncaknya ialah penghormatan kepada guru dengan dana (termasuk sapi kapilā yang baru beranak), jamuan brāhmaṇa, dan pāraṇa dengan mantra memohon putra penopang garis keturunan. Kedua, diceritakan kehamilan sang ratu dan takdir unik sang anak. Karena cemas akan bintang kelahiran yang dianggap tidak mujur, para menteri memindahkan bayi ke Pañcamudrā Mahāpīṭha di bawah perlindungan Dewi Vikaṭā dan para yoginī; kelompok Mātṛkā menilai anak itu layak menjadi raja dan mengembalikannya dengan selamat. Sang pangeran kemudian bertapa keras di Ānandakānana; Śiva menampakkan diri sebagai liṅga bercahaya dan menganugerahkan anugerah. Pangeran memohon agar kehadiran ilahi bersemayam abadi pada liṅga itu dan agar tujuan para bhakta tercapai hanya dengan melihat, menyentuh, dan bersembah—tanpa pendahuluan yang rumit. Śiva menyetujui, menamai tempat itu Vīravīreśvara, dan menegaskan siddhi yang lestari bagi para pemujanya. Ketiga, Śiva memulai uraian panjang tentang peringkat dan kemuliaan tīrtha di sepanjang Gaṅgā di Kāśī, menyebut banyak tempat seperti Hayagrīva, Gaja, Kokāvarāha, Dilīpeśvara/Dilīpa-tīrtha, Sāgara dan Saptasāgara, Mahodadhi, Cauratīrtha, Haṃsatīrtha, Tribhuvana-Keśava, Govyāghreśvara, Māndhātu, Mucukunda, Pṛthu, Paraśurāma, Balarāma/Kṛṣṇāgraja, Divodāsa, Bhāgīrathī-tīrtha, Niṣpāpeśvara-liṅga, Daśāśvamedha, Bandī-tīrtha, serta lainnya. Penutup bab memberi isyarat bahwa uraian tīrtha berikutnya akan dilanjutkan kemudian.

Tīrtha-Saṅgraha in Kāśī: From Pādodaka to Pañcanada and the Supremacy of Maṇikarṇikā (Chapter 34)
Bab ini berisi uraian teologis berbentuk katalog, ketika Skanda menuntun Agastya menelusuri rangkaian tīrtha di Kāśī beserta tata-ritual dan buahnya. Mula-mula disucikanlah pertemuan sungai dan ditegaskan ‘pādodaka’—air dari kaki Viṣṇu—sebagai tīrtha dasar; lalu disebut berurutan banyak tempat suci seperti Kṣīrābdhi, Śaṅkha, Cakra, Gadā, Padma, Mahālakṣmī, Gāruḍmata, Prahlāda, Ambarīṣa, Ādityakeśava, Dattātreya, Nārada, Vāmana, Nara-Nārāyaṇa, Yajñavārāha, (Vidāra-)Narasiṁha, Gopīgovinda, Lakṣmīnṛsiṁha, Śeṣa, Śaṅkhamādhava, Nīlagrīva, Uddālaka, Sāṅkhya, Swarlīna, Mahīṣāsura, Bāṇa, Gopratāra, Hiraṇyagarbha, Praṇava, Piśaṅgilā, Pilipila, Nāgeśvara, Karṇāditya, Bhairava, Kharvanṛsiṁha, Mṛkaṇḍu, hingga Pañcanada. Setiap tīrtha dipasangkan dengan klaim phala singkat: penyucian karma, kemakmuran, penglihatan ilahi, perolehan alam luhur, atau berkurangnya ikatan kelahiran kembali. Pañcanada kemudian ditinggikan sebagai tīrtha yang sangat ampuh, terutama pada bulan Kārttika dan pada gugus hari kalender tertentu. Diperkenalkan pula Jñānahrada sebagai peneguh pengetahuan dan Maṅgala tīrtha sebagai pemulih keberuntungan serta kedamaian; setelah itu disebut lagi tīrtha-tīrtha lain seperti Makhā, Bindu, Pippalāda, Tāmravarāha, Kālagangā, Indradyumna, Rāma, Aikṣvāka, Marutta, Maitrāvaruṇa, Agni/Angāra, Kali, Candra, Vīra, Vighneśa, Hariścandra, Parvata, Kambalāśvatara, Sārasvata, dan Umā. Puncaknya adalah kemuliaan Maṇikarṇikā: termasyhur di tiga dunia, peluruh dosa, dan setara—bahkan melampaui—akumulasi upacara besar. Mengingat, memandang, mandi suci, dan bersembahyang di sana ditegaskan sebagai laku bakti teladan yang berbuah ‘tak binasa’ (akṣaya).

दुर्वाससो वरप्रदानम् — Durvāsas Receives Boons; Establishment of Kāmeśvara and Kāmakūṇḍa (with Prahasiteśvara reference)
Dalam Kāśī Khaṇḍa, Skanda menuturkan kisah berpusat di Kāśī: setelah pengembaraan panjang, resi Durvāsas tiba dan memandang Ānandakānana milik Śiva. Keindahan pertapaan, komunitas para tapa, serta sukacita khas makhluk yang tinggal di Kāśī digambarkan; Durvāsas memuji daya rohani Kāśī yang tiada banding, bahkan melebihinya daripada alam surgawi. Namun terjadi pembalikan dramatis: meski telah bertapa lama, Durvāsas tersulut amarah dan bersiap mengutuk Kāśī. Śiva tertawa, dan liṅga yang terkait dengan “tawa ilahi” dikenal/menampakkan diri sebagai Prahasiteśvara. Para gaṇa bereaksi terhadap murka sang resi, tetapi Śiva turun tangan agar tak ada kutuk yang dapat menghalangi kedudukan Kāśī sebagai pemberi mokṣa. Durvāsas menyesal, menyatakan Kāśī sebagai perlindungan keibuan bagi semua makhluk, serta menegaskan bahwa upaya mengutuk Kāśī akan berbalik kepada pengutuknya. Śiva memuji stuti kepada Kāśī sebagai bhakti yang unggul dan menganugerahkan anugerah: penetapan liṅga pemenuh hasrat bernama Kāmeśvara/Durvāseśvara dan penamaan sebuah telaga sebagai Kāmakūṇḍa. Disebutkan pula tata laku: mandi di Kāmakūṇḍa dan memandang liṅga pada pradoṣa dengan pertemuan kalender tertentu meredakan cela terkait nafsu dan menghapus dosa; mendengar atau melafalkan kisah ini juga menyucikan.

Viśvakarmēśvara-liṅga Prādurbhāva and Guru-bhakti in Kāśī (विश्वकर्मेशलिङ्गप्रादुर्भावः)
Atas pertanyaan Pārvatī, Śiva menuturkan kisah suci yang melenyapkan dosa tentang asal-mula liṅga Viśvakarmēśvara di Kāśī. Viśvakarmā—wujud pancaran terdahulu yang terkait dengan Brahmā dan putra Tvaṣṭṛ—hidup sebagai brahmacārin di rumah sang guru. Guru, istri guru, putra guru, dan putri guru memberinya pesanan yang berat: pakaian yang tahan lama, alas kaki, perhiasan, serta peralatan rumah tangga. Ia terhimpit krisis dharma antara menepati janji dan kewajiban sevā kepada guru. Dalam keletihan ia masuk hutan dan bertemu seorang tapasvin penuh welas asih. Sang tapasvin menasihatinya agar mencari Kāśī, khususnya wilayah Vaiśveśvara dan Ānandavana, tempat anugerah Śiva membuat tujuan yang sulit menjadi tercapai dan pembebasan (mokṣa) ditonjolkan secara istimewa. Tiba di Kāśī, Viśvakarmā menyadari pertemuan itu adalah campur tangan belas kasih Śiva. Ia pun melakukan pemujaan liṅga dengan persembahan hutan secara tekun dan berkelanjutan. Akhirnya Śiva menampakkan diri dari liṅga, menganugerahkan kepadanya keahlian luar biasa dalam segala kriya, seni, dan kerajinan, meneguhkan namanya sebagai Viśvakarmā, serta menyatakan pahala bagi para pemuja liṅga tersebut. Penutup kisah memberi isyarat tentang dukungan raja (Divodāsa) dan kembali menegaskan keutamaan menghormati guru serta menuntaskan tugas yang telah diterima.

Dakṣeśvara-liṅga-prādurbhāva and the Dakṣa-yajña Discourse (दक्षेश्वरलिङ्गप्रादुर्भावः)
Bab 37 dibuka ketika Resi Agastya menyapa Skanda dengan rasa puas mendalam setelah mendengar tentang liṅga-liṅga pemberi mokṣa, lalu memohon kisah lengkap empat belas liṅga yang bermula dari Dakṣeśvara. Alur kemudian beralih pada perjalanan Dakṣa: setelah kekeliruan sebelumnya, ia datang ke Kāśī untuk laku penyucian; sementara di Kailāsa, dalam sidang para dewa, Śiva menanyakan keteraturan dharma kosmis serta kestabilan tatanan sosial-ritual. Di dalam hati Dakṣa tumbuh dendam; ia menilai Śiva “tak terklasifikasi” dalam tatanan sosial dan tersinggung karena merasa tidak dihormati. Ia pun menyelenggarakan mahākratu (kurban agung) yang dengan sengaja mengecualikan Śiva. Resi Dadhīci menegur Dakṣa dengan ajaran: tanpa Śiva, tindakan ritual itu mati; tanpa Tuhan, yajña bagaikan tempat kremasi, dan segala perbuatan kehilangan buahnya. Dakṣa menolak nasihat itu, mengklaim kecukupan ritual secara mandiri, memperuncing permusuhan, bahkan memerintahkan Dadhīci disingkirkan. Bab ditutup dengan gambaran kemegahan lahiriah yajña serta isyarat bahwa Nārada berangkat ke Kailāsa—mempersiapkan kelanjutan tentang tanggapan Śiva dan peneguhan teologi tempat-tempat suci Śaiva di Kāśī.

Dakṣayajña-Prasaṅga: Nārada’s Report, Śiva–Śakti Līlā, and Satī’s Departure (दक्षयज्ञप्रसङ्गः)
Adhyaya 38 dibuka dengan pertanyaan Agastya kepada Skanda: apa yang dilakukan resi Narada setelah tiba di alam Śiva (Śivaloka/Kailāsa). Skanda menuturkan kedatangan Narada yang bersujud penuh hormat di hadapan Śiva dan Devī, lalu menyaksikan ‘līlā’ kosmis mereka—sebuah pemetaan simbolis laksana skema dadu, tempat satuan waktu dan proses jagat raya ditata sebagai lambang. Uraian Narada menegaskan bahwa Śiva tak terusik oleh hormat maupun hina, melampaui guṇa, namun tetap menjadi pengatur semesta yang adil; kemudian Narada gelisah setelah melihat kejanggalan di arena yajña Dakṣa, terutama ketiadaan kehadiran Śiva–Śakti, dan ia pun tak sanggup mengisahkan semuanya dengan tuntas. Mendengar laporan itu, Satī (Dākṣāyaṇī) menetapkan tekad dalam hati dan memohon izin Śiva untuk pergi melihat yajña ayahnya, Dakṣa. Śiva berusaha mencegahnya dengan menyebut tanda-tanda astrologis yang tidak baik serta memperingatkan bahwa berangkat tanpa undangan dapat berujung pada akibat yang tak dapat ditarik kembali. Namun Satī bersikeras, menegaskan bhakti yang teguh sambil menyatakan ia hanya hendak menyaksikan, bukan turut serta. Dalam amarah ia pergi tanpa pranāma maupun pradakṣiṇā; Śiva yang berduka memerintahkan para gaṇa menyiapkan vimāna yang megah, dan Satī diiringkan menuju tempat yajña. Di sidang Dakṣa, kedatangan tanpa undangan membuat semua tercengang. Dakṣa merendahkan Śiva, menyebut laku tapa dan sifat-sifat liminal sebagai alasan menyingkirkan Śiva dari tata kehormatan ritual. Satī menjawab dengan kritik etis dan teologis: bila Śiva sungguh tak terjangkau pengetahuan, maka celaan itu adalah kebodohan; bila Dakṣa menganggap Śiva tak layak, maka persekutuan pernikahan itu sendiri menjadi tidak konsisten. Terbakar oleh penghinaan terhadap suaminya, Satī melakukan tindakan pembakaran diri melalui keteguhan yoga, menjadikan tubuhnya sebagai bahan persembahan; pertanda-pertanda buruk dan kekacauan mengguncang arena, dan yajña Dakṣa pun goyah dalam kelanjutannya.

Dakṣa-yajña-vināśaḥ — Vīrabhadrasya ājñā-prāptiḥ (Destruction of Dakṣa’s Sacrifice and Vīrabhadra’s Commission)
Dalam bab ini, setelah peristiwa terkait Satī, Nārada mendatangi Śambhu/Mahākāla. Śiva mengajarkan renungan tentang ketidakkekalan: keadaan berjasad tunduk pada muncul dan lenyap; orang bijak tidak terpedaya oleh yang pada hakikatnya fana. Lalu kisah beralih pada akibat etis-ritual: mendengar penghinaan terhadap Śiva, Satī meninggalkan raganya, dan hal itu memicu murka dahsyat Śiva. Dari murka itu lahir seorang agen yang menggetarkan dan memohon perintah; Śiva menamainya Vīrabhadra serta menugaskannya menghancurkan yajña (kurban suci) Dakṣa dan menundukkan para penghina Śiva. Vīrabhadra berangkat bersama gaṇa-gaṇa yang besar jumlahnya, merusak arena yajña—membalik perlengkapan, menghamburkan persembahan, dan melukai peserta terkemuka—menegaskan bahwa ritual tanpa orientasi teologis yang benar tidaklah kokoh. Kemudian terjadi adu-kekuatan: Viṣṇu menghadapi Vīrabhadra; cakra Sudarśana dinetralisir melalui ingatan kepada Śiva, dan sebuah titah dari angkasa menghentikan kekerasan yang berlebihan. Vīrabhadra menghukum Dakṣa secara fisik karena śiva-nindā, lalu bab ditutup dengan isyarat pemulihan (kelak Mahādeva memerintahkan penyusunan kembali). Disebutkan pula buah mendengar kisah asal-usul Dakṣeśvara ini: melindungi pendengar dari noda moral, bahkan ketika bersentuhan dengan “tempat-tempat pelanggaran,” sesuai logika teologi teks.

पार्वतीश-लिङ्गमाहात्म्य (Pārvatīśa Liṅga — Description and Merits)
Agastya memohon penjelasan rinci tentang ajaran pemusnah dosa yang sebelumnya disinggung, terkait sukacita Dewi Pārvatī. Skanda menuturkan peristiwa rumah tangga yang sarat teologi: Menā bertanya kepada Pārvatī tentang tempat tinggal setelah menikah; Pārvatī lalu mendekati Śiva dan memohon agar dipindahkan ke kediaman-Nya sendiri. Śiva menuntunnya dari Himālaya menuju Ānandavana, yang dipuji sebagai sebab tertinggi kebahagiaan; di sana jati diri Pārvatī dipenuhi sukacita. Pārvatī bertanya sumber kebahagiaan tanpa putus di kṣetra itu. Śiva menjelaskan bahwa dalam batas pañcakrośa dari medan mokṣa ini, liṅga hadir di mana-mana—tak ada ruang yang tanpa liṅga. Tak terhitung liṅga berwujud “kebahagiaan tertinggi” telah ditegakkan oleh para makhluk berbudi dari berbagai dunia. Pārvatī memohon izin untuk menegakkan liṅga; dengan persetujuan Śiva, ia mendirikan liṅga Pārvatīśa di dekat Mahādeva. Manfaatnya disebutkan: memandang liṅga saja meluluhkan dosa besar, termasuk brahmahatyā, serta memutus belenggu kelahiran-berjasad. Pemujaan di Kāśī mengubah penyembah menjadi beridentitas “Kāśī-liṅga” dan berujung pada masuk ke dalam Śiva. Tata laku khusus ditekankan: pemujaan pada Caitra-śukla-tṛtīyā memberi keberuntungan duniawi dan kebaikan di alam sesudahnya. Penutupnya adalah phalaśruti: mendengar māhātmya ini menyempurnakan tujuan dunia dan akhirat.

गंगेश्वरमहिमाख्यानम् (The Account of the Glory of Gaṅgeśvara)
Skanda menyapa seorang resi dan memperkenalkan tema “Gaṅgeśvara-samudbhava”. Gaṅgeśvara dipuji sebagai liṅga; mendengar dan mengingat kemuliaannya memberi buah tirtha yang sebanding dengan mandi di Sungai Gaṅgā. Kisah ditempatkan di sekitar Cakrapuṣkariṇī-tīrtha dan suasana Ānandakānana, menegaskan keagungan Kāśī yang tiada banding di bawah perlindungan Śambhu. Dinyatakan pula buah luar biasa dari pratiṣṭhā liṅga di Kāśī, serta bahwa Gaṅgā menegakkan sebuah liṅga yang śubha (mulia/berkah) di sebelah timur Viśveśa. Darśana atas Gaṅgeśvara-liṅga disebut langka; pemujaan pada tithi Daśaharā membuat dosa yang terkumpul selama banyak kelahiran segera berkurang. Pada Kali-yuga liṅga ini akan menjadi “guptra-prāya” (hampir tersembunyi), sehingga darśana makin jarang; namun tetap dinyatakan sebagai sebab puṇya dan setara dengan melihat Gaṅgā secara langsung. Penutup (phalaśruti) menegaskan: mendengar māhātmya Gaṅgeśa mencegah akibat yang menyeret ke naraka, menimbun jasa kebajikan, dan menganugerahkan tercapainya tujuan yang direnungkan.

नर्मदेश्वराख्यानम् (Narrative of Narmadeśvara) — Narmadā’s Boons and Liṅga-Establishment in Kāśī
Bab ini disajikan sebagai wejangan teologis Skanda tentang māhātmya Narmadā (Revā): mengingat Narmadā saja meredakan dosa-dosa besar. Dalam sidang para resi muncul pertanyaan sungai mana yang tertinggi; Mārkaṇḍeya menjelaskan sungai-sungai sebagai pemurni dan pemberi pahala, lalu menonjolkan empat sungai kanonik—Gaṅgā, Yamunā, Narmadā, Sarasvatī—yang dipetakan pada perwujudan Veda (Ṛg, Yajus, Sāman, Atharvan). Walau Gaṅgā dipuji tiada banding, kisah beralih pada tapa Narmadā yang memohon kesetaraan. Brahmā menyatakan logika bersyarat: hanya bila ada yang setara dengan Śiva (Tryakṣa), Viṣṇu (Puruṣottama), Gaurī, dan Kāśī sendiri, barulah sungai lain dapat menyamai Gaṅgā—menandakan kelangkaan kesetaraan itu. Narmadā kemudian menuju Vārāṇasī; linga-pratiṣṭhā dipaparkan sebagai kebajikan tertinggi, dan ia menegakkan sebuah liṅga di Pilipilā-tīrtha dekat Triviṣiṣṭapa. Śiva berkenan dan menganugerahkan berkah: batu-batu di tepi Narmadā menjadi wujud liṅga; darśana Narmadā saja segera mengikis dosa (berbeda dari buah yang memerlukan waktu pada sungai lain); dan liṅga yang ditegakkan bernama Narmadeśvara menganugerahkan pembebasan yang lestari, dengan para bhakta menerima penghormatan bahkan dari putra Sūrya. Penutupnya berupa phalaśruti: mendengar māhātmya Narmadā menyingkirkan ‘selubung dosa’ dan menuntun pada pengetahuan yang lebih tinggi.

सतीश्वरप्रादुर्भावः (Satiśvara Liṅga: Account of Manifestation)
Bab ini berbentuk dialog: Agastya, setelah mendengar kemuliaan penyuci Sungai Narmadā, memohon kisah asal-usul Satiśvara. Skanda menjelaskan hubungan Brahmā–Śiva: Brahmā melakukan tapa yang sangat berat; Śiva berkenan dan menganugerahkan anugerah. Brahmā memohon agar Śiva menjadi putranya dan agar Sang Dewī lahir sebagai putri Dakṣa. Śiva menyetujuinya; dari dahi Brahmā tampak seorang anak bermahkota bulan yang menangis, sehingga melalui asal kata dari tangisan itu ia dinamai “Rudra”. Agastya lalu bertanya mengapa Tuhan Yang Mahatahu menangis. Skanda menerangkan bahwa itu bukan duka, melainkan luapan rasa takjub dan sukacita Mahādeva—melihat maksud batin Brahmā, kemungkinan keakraban relasional sebagai ayah–anak (apathyatva), serta renungan tentang penciptaan tanpa keturunan yang berubah menjadi kebahagiaan karena sentuhan dan darśana ilahi. Kisah kemudian kembali kepada Satī: sebagai putri Dakṣa ia bertapa di Kāśī memohon anugerah; Śiva berjanji menikahinya pada hari kedelapan dan menegakkan liṅga di sana yang dikenal sebagai Satiśvara. Ditekankan pula daya guna ritualnya: pemujaan Satiśvara menyempurnakan niat dengan cepat, menganugerahkan hasil pernikahan yang mujur, bahkan mengingatnya saja meninggikan sattva. Letaknya disebut di sebelah timur Ratneśa; darśana di sana segera melebur dosa dan berangsur membawa pada perolehan pengetahuan.

अमृतेशादिलिङ्गप्रादुर्भावः | Manifestation Accounts of Amṛteśvara and Other Liṅgas
Skanda menuturkan kepada Agastya rangkaian tradisi liṅga yang terikat pada tempat-tempat suci di Kāśī, dimulai dari Amṛteśvara di Ānandakānana. Dikisahkan resi-berumah tangga bernama Sanāru, tekun dalam brahma-yajña, menjamu tamu, menerima berkah tīrtha, dan memuja liṅga. Musibah datang ketika putranya, Upajaṅghana, dipatuk ular di hutan. Saat dibawa menuju Mahāśmaśāna dekat Svargadvāra, melalui pengamatan cermat ditemukan liṅga tersembunyi sebesar buah śrīphala; sentuhan pada liṅga itu dikaitkan dengan pulihnya hidup seketika serta perolehan “amṛtatva” (ketakmampuan maut) sebagai ajaran teologis. Selanjutnya diperkenalkan Karuṇeśvara dekat Mokṣadvāra: laku satu kali makan pada hari Senin dan pemujaan dengan bunga/daun/buah yang melambangkan welas asih; anugerah dewa dikatakan menahan seseorang agar tidak meninggalkan kṣetra dan melenyapkan rasa takut. Jyotīrūpeśvara ditempatkan di Cakrapuṣkariṇī; pemujaannya memberi “wujud bercahaya” bagi para bhakta. Teks juga menyebut kelompok liṅga yang lebih luas (empat belas dan delapan), menafsirkan liṅga sebagai perwujudan tiga puluh enam tattva Sadāśiva, dan menegaskan Kāśī sebagai medan pembebasan yang pasti, tempat berbagai siddhi dan keberhasilan ritual mencapai puncaknya.

Vyāsa-bhuja-stambha (व्यासभुजस्तंभ) — Doctrinal Correction and the Establishment of Vyāseśvara
Bab ini menampilkan wacana teologis ketika Vyāsa bertemu dengan para resi yang condong pada Śaiva di Naimiṣāraṇya. Vyāsa menyatakan pandangan eksklusif bahwa Hari adalah satu-satunya yang layak dilayani menurut Veda, Itihāsa, dan Purāṇa; para resi lalu mengarahkan beliau ke Vārāṇasī, tempat kewibawaan Viśveśvara (Śiva) menjadi penentu. Vyāsa tiba di Kāśī, mandi dan bersembahyang di Pañcanada-hrada, lalu memasuki kawasan Viśveśvara dekat Jñānavāpī diiringi seruan pujian bergaya Vaiṣṇava serta litani panjang nama-nama Viṣṇu. Saat Vyāsa kembali menegaskan ucapannya dengan lengan terangkat, tiba-tiba lengan dan tutur katanya terkena “stambha” (terkunci/terhenti). Viṣṇu menampakkan diri secara pribadi, menunjukkan kekeliruan itu, dan menegaskan bahwa Śiva-lah satu-satunya Viśveśvara; bahkan daya-daya dan fungsi kosmis Viṣṇu pun berlangsung berkat anugerah Śiva. Vyāsa diperintahkan memuji Śiva demi penyelesaian yang membawa keberkahan; beliau pun melantunkan stotra khusus kepada Śiva (dikenal sebagai ‘Vyāsa-aṣṭaka’). Nandikeśvara kemudian melepaskan stambha dan menyatakan manfaat pembacaannya: penghapus dosa dan kedekatan dengan Śiva. Akhirnya Vyāsa berteguh dalam bhakti kepada Śiva dan menegakkan liṅga Vyāseśvara dekat Ghantākarṇa-hrada. Disebutkan bahwa mandi dan darśana di sana menganugerahkan kedudukan keselamatan yang terkait dengan Kāśī serta melindungi para bhakta pada zaman Kali dari takut akan dosa dan berbagai kesukaran.

Vyāsa’s Kāśī-Discipline, Viśveśvara–Manikarṇikā Supremacy, and the Kṛcchra–Cāndrāyaṇa Vow Taxonomy (Vyaśa-śāpa-vimokṣa Context)
Bab 46 dibuka oleh pertanyaan Agastya: bagaimana Vyāsa—seorang bhakta Śiva dan mengetahui rahasia kṣetra—dapat terkait dengan kisah kutukan. Skanda menjawab dengan menempatkannya dalam laku disiplin Vyāsa di Kāśī: mandi suci setiap hari, mengajarkan kemuliaan kṣetra, serta menegaskan keutamaan Viśveśvara di antara liṅga dan Maṇikarṇikā di antara tīrtha. Lalu dipaparkan pedoman bagi penduduk Kāśī dan para peziarah: snāna dan pemujaan harian, tidak meninggalkan Maṇikarṇikā, menaati varṇāśrama-dharma, bersedekah secara tersembunyi (terutama anna-dāna), menghindari fitnah dan dusta (dengan pengecualian terbatas demi menyelamatkan makhluk), serta etika kuat melindungi semua makhluk yang disebut menghasilkan pahala besar. Para kṣetra-sannyāsin dan pertapa yang menetap di Kāśī dinyatakan layak dihormati; kepuasan mereka dihubungkan dengan keridaan Viśveśvara. Pengendalian indria dipuji, menyakiti diri atau mencari kematian dilarang; dan praktik di Kāśī digambarkan sangat efisien—satu kali berendam, satu kali pemujaan, sedikit japa/homa setara buahnya dengan upacara besar di tempat lain. Suara seorang perumah tangga menegaskan kebajikan menjamu tamu serta pahala dari melihat dan memuja Viśveśvara. Di bagian akhir diberikan taksonomi teknis laku penebusan/disiplin: ragam kṛcchra, parāka, prājāpatya, sāntapana/mahāsāntapana, tapta-kṛcchra, serta berbagai mode cāndrāyaṇa. Diajarkan doktrin pemurnian—tubuh oleh air, batin oleh kebenaran, intelek oleh pengetahuan—dan ditutup dengan daftar kebajikan bagi penghuni kṣetra: kerendahan hati, ahiṃsā, tanpa ketamakan, dan pelayanan. Alur berikutnya mengisyaratkan ujian ilahi berupa penolakan sedekah kepada Vyāsa, menyiapkan bingkai “Vyāsa-śāpa-vimokṣa”, serta menjanjikan buah perlindungan bagi yang mendengarkan bab ini.

Adhyāya 47: Liṅga–Tīrtha Cartography of Ānandakānana in Kāśī (Uttarārdha)
Bab 47 dalam Kāśī Khaṇḍa mengajarkan kesatuan tīrtha dan liṅga di Ānandakānana. Air suci menjadi ‘tīrtha’ karena kehadiran ilahi yang berwujud (mūrti-parigraha), dan di mana liṅga Śaiva hadir, tempat itu sendiri adalah tīrtha. Agastya memohon uraian rinci tentang tīrtha serta rupa-rupa liṅga di Ānandakānana; Skanda menjawab selaras dengan dialog terdahulu antara Devī dan Śiva. Selanjutnya dipaparkan deretan panjang liṅga, kuṇḍa, dan hrada bernama di Vārāṇasī. Letaknya ditunjukkan melalui hubungan arah utara–selatan–timur–barat, dan tiap tempat dihubungkan dengan laku ritual seperti darśana, pūjā, snāna, dan śrāddha beserta buahnya: penyucian, lenyapnya rintangan, pengetahuan, kemakmuran, pengangkatan leluhur, bebas dari derita tertentu, serta pencapaian loka-loka luhur seperti Śiva-loka, Rudra-loka, Viṣṇu-loka, Brahma-loka, dan Go-loka. Waktu-waktu mujur (tithi/nakṣatra tertentu) juga disebutkan. Bab ini dipuji sebagai bacaan pelindung, ‘sarva-liṅga-maya’: pembacaan dan japa yang teratur dikatakan meredakan takut pada kekuatan penghukum serta meringankan beban dosa yang diketahui maupun tidak. Penutupnya menuturkan bahwa setelah mendengar sabda Nandin, Śiva dan Devī berangkat dengan kereta/wahana ilahi.

मुक्तिमण्डपगमनम् (Muktimaṇḍapa-Gamana: Śiva’s Entry into the Pavilion of Liberation; Etiology of ‘Kukkutamaṇḍapa’)
Bab ini dibuka dengan Vyāsa yang mendorong Sūta untuk menuturkan kisah Skanda tentang masuknya Śambhu ke Muktimaṇḍapa secara agung (prāveśikī-kathā). Seluruh Kāśī, seakan-akan tiga loka, merayakannya dengan musik, panji-panji, pelita, wewangian, dan sukacita bersama. Śiva memasuki ruang terdalam, lalu dihormati oleh Brahmā, para ṛṣi, para dewa, serta para Dewi Ibu melalui persembahan, pemujaan, dan ritus seperti nīrājana. Sesudah itu berlangsung ajaran: Śiva berbicara kepada Viṣṇu, menegaskan peran Viṣṇu yang tak tergantikan dalam perolehan Ānandavana (Kāśī) dan menganugerahkan kedekatan yang tetap; namun ditegaskan pula bahwa bhakti kepada Śiva di Kāśī adalah jalan utama bagi tercapainya tujuan hidup. Keutamaan rohani Muktimaṇḍapa, maṇḍapa-maṇḍapa di sekitarnya, dan tempat pemandian suci—terutama Maṇikarṇikā—diuraikan; hadir sejenak dengan batin teguh dan mendengarkan saja disebut berbuah menuju pembebasan. Di akhir, ada nubuat etiologis: pada zaman Dvāpara, paviliun ini akan dikenal luas sebagai Kukkutamaṇḍapa. Dikisahkan secara moral tentang brāhmaṇa Mahānanda yang jatuh dalam kemunafikan dan penerimaan hadiah yang tidak benar, lalu terlahir sebagai ayam jantan; melalui ingatan pada Kāśī dan hidup berdisiplin dekat paviliun itu, ia naik derajat dan akhirnya mencapai mokṣa—sehingga nama tempat itu menjadi populer. Kisah ditutup dengan isyarat bunyi lonceng, perpindahan Śiva ke paviliun lain, serta phalaśruti yang menjanjikan sukacita dan pencapaian bagi para pendengar.

Viśveśvara-liṅga-mahima (विश्वेश्वरलिंगमहिमा) — The Glory of the Viśveśvara Liṅga
Bab ini tersaji sebagai dialog berlapis: Vyāsa menyampaikan kepada Sūta kisah yang terkait dengan pertanyaan Agastya, lalu Skanda menjawab dengan menuturkan perpindahan Śiva dari ruang yang berhubungan dengan mukti/nirvāṇa menuju Śṛṅgāra-maṇḍapa. Śiva digambarkan duduk menghadap timur bersama Umā; Brahmā di satu sisi dan Viṣṇu di sisi lain, sementara Indra, para ṛṣi, dan para gaṇa hadir melayani. Di sana Śiva menyingkap kemuliaan tertinggi Liṅga Viśveśvara sebagai “parama-jyotis” dan sebagai wujud-Nya yang tetap (sthāvara). Śiva juga menjelaskan teladan para pelaku Pāśupata: disiplin, suci, tanpa kemelekatan, tekun dalam liṅga-arcana, serta setia pada pedoman etika dan tapa. Setelah itu dipaparkan “tata pahala” yang rinci: mendengar, mengingat, berangkat untuk darśana, melihat, menyentuh, hingga mempersembahkan sesuatu yang sangat kecil kepada liṅga—masing-masing diberi hasil penyucian dan keberuntungan yang kian meningkat, bahkan dibandingkan dengan buah aśvamedha dan rājasūya, hingga janji perlindungan dan anugerah yang mengarah pada nirvāṇa. Maṇikarṇikā dan Kāśī ditinggikan sebagai tempat yang paling ampuh di tiga dunia; ditegaskan pula bahwa Śiva senantiasa hadir dalam rupa liṅga bagi para bhakta. Skanda menutup dengan menyatakan bahwa baru sebagian daya kṣetra yang diungkap, dan Vyāsa menyebut tanggapan kontemplatif Agastya.

अनुक्रमणिकाध्यायः — Kāśī Yātrā-Parikramā, Tīrtha-Index, and Phalaśruti
Dalam Adhyaya ke-50 ini, Vyasa menjawab pertanyaan Suta dengan menyajikan isi Kāśīkhaṇḍa bagaikan anukramaṇikā, yakni indeks yang tersusun berurutan. Ia menyebutkan dialog-dialog, pujian atas tīrtha, kisah asal-usul kuil, serta topik-topik mahātmya para dewa secara bertahap, seolah menjadi daftar isi internal bagi seluruh narasi. Kemudian, atas dorongan Suta, Vyasa menguraikan tata cara ziarah ke Kāśī: memulai dengan mandi penyucian, mempersembahkan tarpaṇa dan pemujaan bagi para deva serta pitṛ, menghormati brāhmaṇa dengan jamuan dan dāna. Sesudah itu dijelaskan berbagai lintasan yātrā: rangkaian harian pañcatīrthikā (seperti Jñānavāpī, Nandikeśa, Tārakeśa, Mahākāla, Daṇḍapāṇi), rute Vaiśveśvarī dan jalur multi-āyatana, juga yātrā khusus seperti aṣṭāyatana, ekādaśaliṅga, serta Gaurī-yātrā yang mengikuti tithi bulan. Adhyaya ini juga memaparkan perjalanan antar-gṛha (kawasan dalam) dengan banyak kunjungan ke śrī-mandira, menganjurkan mauna demi buah yang lebih luhur. Pada penutup, phalaśruti menegaskan: mendengar dan melantunkan memberi manfaat besar, salinan tertulis patut dihormati demi kemujuran, dan yātrā yang dilakukan dengan benar menyingkirkan rintangan, menambah puṇya, serta mengarahkan peziarah menuju hasil yang bernafaskan mokṣa.
It highlights Kāśī as a network of empowered sites where deity-presence is stabilized through installation and worship—especially solar forms (Arunāditya, Vṛddhāditya, Keśavāditya, Vimalāditya) linked to precise locales and practices.
Repeated claims include reduction of fear and suffering, mitigation of poverty and disease, purification from sins through darśana and hearing, and enhanced spiritual outcomes when worship is performed at designated Kāśī tīrthas.
The section embeds (i) Vinatā’s servitude-cause linked to Aruṇa’s emergence and subsequent solar association, (ii) Vṛddhāditya’s ‘old-age removal’ boon to Hārīta, (iii) Keśavāditya’s instruction on Śiva-liṅga worship, and (iv) Vimalāditya’s cure of kuṣṭha and protection of devotees.