Purva Ardha
Kashi Khanda50 Adhyayas4653 Shlokas

Purvardha (First Half)

Purva Ardha

Pūrvārdha functions as the opening arc of the Kāśīkhaṇḍa’s Kāśī-centered sacred geography. It establishes the textual frame for interpreting the city as a tīrtha-system—where rivers, mountains, shrines, and routes become carriers of theological meaning and ethical guidelines. In Chapter 1, the narrative temporarily shifts from Kāśī to a broader Indic landscape (notably the Narmadā region and the Vindhya range), using that setting to introduce themes of sanctity, humility, and the limits of pride—preparatory motifs for understanding why certain places are revered and how seekers should approach them.

Adhyayas in Purva Ardha

50 chapters to explore.

Adhyaya 1

Adhyaya 1

Kāśī-stuti, Nārada–Vindhya-saṃvāda, and the Ethics of Humility

Bab ini dibuka dengan bait-bait pemujaan: penghormatan kepada Gaṇeśa serta pujian agung bagi Kāśī sebagai kota penyuci dan yang terkait dengan pembebasan (mokṣa). Alur disampaikan dalam bingkai pewarisan purāṇa—dengan Vyāsa sebagai sumber ujaran dan Sūta sebagai narator di hadapan khalayak. Kemudian Nārada, setelah mandi suci di Narmadā dan memuja Oṃkāra, melanjutkan perjalanan dan memandang Gunung Vindhya. Gunung itu digambarkan lewat katalog puitis tentang hutan, buah, bunga, serta satwa, sehingga tampak sebagai ekologi suci yang hidup. Vindhya menyambut Nārada dengan arghya dan layanan keramahtamahan, namun mengungkap kegelisahan yang lahir dari kesombongan: ia cemas akan kedudukannya dibanding gunung-gunung lain, terutama karena keunggulan Meru. Nārada merenung bahwa bergaul dengan keangkuhan tidak melahirkan kebesaran sejati; ia menjawab dengan cara yang justru menambah rasa bangga Vindhya. Setelah Nārada pergi, Vindhya dilanda duka, mengecam siksaan kecemasan dan menyebut ‘cintā-jvara’ (demam kekhawatiran) sebagai perusak rohani dan jasmani. Ia berniat segera berlindung pada Viśveśa, namun terdorong persaingan ia mulai tumbuh hingga menghalangi lintasan matahari; bab ditutup dengan petuah etis tentang pertikaian, pengendalian diri, dan akibat sosial dari memamerkan kuasa.

86 verses

Adhyaya 2

Adhyaya 2

सूर्यगति-स्तम्भनम्, देवस्तुति-प्रसङ्गः, काशी-माहात्म्य-उपदेशः (Solar Obstruction, Hymn of the Devas, and Instruction on Kāśī’s Merit)

Adhyaya ini membuka dengan gambaran kosmis: terbitnya Surya sebagai pengatur dharma dan waktu ritual, sehingga arghya, homa, dan siklus yajña harian dapat berlangsung. Lalu karena kesombongan Gunung Vindhya yang meninggi, gerak Surya terhalang; tatanan siang-malam kacau, jadwal upacara runtuh, yajña terputus, dan dunia diliputi kebingungan. Para Deva yang cemas atas rusaknya keteraturan jagat mendatangi Brahmā dan melantunkan pujian panjang—menggambarkan prinsip tertinggi: Veda sebagai napas-Nya, Surya sebagai mata ilahi, dan alam semesta sebagai wujud tubuh-Nya. Brahmā menyatakan stuti itu manjur; dengan pembacaan disiplin, ia memberi kerangka anugerah berupa kemakmuran, perlindungan, dan keberhasilan. Selanjutnya Brahmā menyampaikan ajaran dharma: kejujuran, pengendalian diri, pelaksanaan vrata, dana, terutama pemberian kepada Brāhmaṇa, serta kesucian dan perlindungan sapi. Puncaknya adalah soteriologi berpusat pada Kāśī: mandi suci dan memberi dana di Vārāṇasī—termasuk di Maṇikarṇikā dan ritus musiman—mengantar pada tinggal lama di alam ilahi dan, oleh anugerah Viśveśvara, pada mokṣa yang pasti. Bahkan kebajikan kecil di Avimukta dipandang berbuah pembebasan melintasi kelahiran-kelahiran.

100 verses

Adhyaya 3

Adhyaya 3

Agastya’s Āśrama and the Moral Ecology of Kāśī (देवागस्त्याश्रमप्रभाव-वर्णनम्)

Bab ini tersusun sebagai wacana teologis berbentuk tanya-jawab. Sūta menanyakan apa yang dilakukan para dewa setibanya di Kāśī dan bagaimana mereka mendekati Agastya. Parāśara menjelaskan bahwa mereka terlebih dahulu menuju Maṇikarṇikā untuk mandi suci sesuai ketentuan, melaksanakan sandhyā dan laku-laku terkait, lalu mempersembahkan tarpaṇa bagi para leluhur. Selanjutnya dipaparkan katalog dāna (derma suci) yang luas: pemberian makanan, biji-bijian, pakaian, logam, bejana, alas tidur, pelita, serta perlengkapan rumah tangga; juga dukungan bagi pemeliharaan mandir seperti perbaikan dan renovasi, persembahan musik dan tari, bahan-bahan pūjā, serta penyediaan kesejahteraan umum sesuai musim. Setelah menjalani observansi beberapa hari dan berulang kali melakukan darśana kepada Viśvanātha, para dewa pergi ke āśrama Agastya. Di sana Agastya digambarkan menegakkan liṅga dan melakukan japa yang sangat intens—terutama Śatarudrīya—memancarkan daya tapa. Kemudian ditunjukkan kekhasan prabhāva kṣetra Kāśī: di lingkungan āśrama, permusuhan alami antara hewan dan burung mereda, menghadirkan suasana damai. Ajaran etika pun ditegaskan—keterikatan pada daging dan minuman memabukkan dinilai tidak selaras dengan bhakti kepada Śiva. Pada penutupnya, kemuliaan Viśveśvara diulang: di Kāśī, makhluk dapat dilepaskan melalui tuntunan ilahi saat ajal; dan tinggal di Kāśī serta darśana Viśveśvara dipuji sebagai sangat manjur bagi dharma, artha, kāma, dan mokṣa.

100 verses

Adhyaya 4

Adhyaya 4

Pātivratya-śikṣā (Teaching on Pativratā-Dharma) | पतिव्रतधर्म-उपदेशः

Bab ini disampaikan dalam bingkai tutur Sūta–Vyāsa. Setelah konteks pertanyaan Agastya, para dewa memuliakan beliau lalu mengajarkan secara luas dharma pativratā—laku istri yang setia, tertib, dan berkeutamaan rumah tangga—dengan Lopāmudrā sebagai teladan. Dipaparkan norma-norma: sigap memenuhi kebutuhan suami, menahan ucapan, membatasi pergaulan, menghindari tontonan umum tertentu, tidak menjalankan tapa-brata yang keras tanpa izin, serta memandang pelayanan sebagai praktik keagamaan. Uraian kemudian menekankan buah (phala): daya pelindung rohani dari laku pativratā, bahkan tanpa gentar terhadap utusan kematian, serta meluasnya pahala hingga lintas generasi. Sebaliknya, pelanggaran diperingatkan melalui contoh-contoh kelahiran kembali yang tercela. Selanjutnya dibahas disiplin masa janda: pembatasan makanan, tapa, persembahan/derma harian, dan pemujaan Viṣṇu dengan suami sebagai pusat bhakti; juga laku musiman pada Vaiśākha, Kārtika, dan Māgha berupa mandi suci, dana, persembahan lampu, serta pantangan yang teratur. Penutupnya menyatakan bahwa mendengar ajaran ini menghapus dosa dan menuntun pada alam bahagia, yakni Śakra-loka.

103 verses

Adhyaya 5

Adhyaya 5

अविमुक्तमहिमा, विंध्यनिग्रहः, तथा महालक्ष्मीस्तुति-वरदानम् (Avimukta’s Supremacy, the Humbling of Vindhya, and Mahālakṣmī’s Boon)

Bab ini menguraikan kemuliaan Kāśī sebagai kṣetra ‘Avimukta’ yang tak tergantikan. Parāśara menasihati Lopāmudrā: ketika muncul gangguan di jagat, timbul tanya mengapa para pengatur kosmos seakan tidak menahannya; namun takdir Kāśī memang istimewa, sehingga bagi para penghuni setempat rintangan tertentu menjadi sesuatu yang tak terelakkan. Meninggalkan Kāśī disebut sebagai kekeliruan besar; Avimukta ditegaskan tiada banding dalam kṣetra, liṅga, dan “gati” keselamatan. Simbol batas dan nāḍī (Varuṇā–Piṅgalā, Suṣumnā) serta ajaran ‘tāraka’ saat ajal—yang dianugerahkan Śiva—menegaskan daya pembebasan Śiva di Avimukta. Kisah lalu beralih pada kepergian Agastya dan pedihnya perpisahan dari Kāśī. Agastya merendahkan Vindhya dan memerintahkannya tetap rendah sampai ia kembali, sehingga keseimbangan kosmos pulih. Setelah itu Agastya berjumpa Mahālakṣmī, melantunkan himne panjang; Sang Dewi memberi jaminan serta perhiasan bagi Lopāmudrā. Agastya memohon anugerah: tercapainya kembali Vārāṇasī, dan kesejahteraan bagi para pembaca himne—bebas dari derita, penyakit, dan kekurangan, dengan kemakmuran serta kelangsungan keturunan. Dengan demikian bab ini memadukan geografi suci, nasihat etis (jangan meninggalkan Kāśī), soteriologi kematian (tāraka), dan teladan bhakti serta daya laku para ṛṣi.

101 verses

Adhyaya 6

Adhyaya 6

Agastya–Lopāmudrā-saṃvāda: Mānasa-tīrtha-lakṣaṇa and the Hierarchy of Mokṣa-kṣetras (Śrīśaila–Prayāga–Avimukta)

Bab ini diawali ketika Parāśara menasihati Sūta bahwa dharma yang lebih luhur daripada sekadar pahala ritual lahiriah adalah paropakāra—berbuat manfaat bagi sesama—serta niat tulus untuk kebaikan orang lain. Lalu kisah beralih ke dialog Agastya dan Lopāmudrā. Saat melihat Śrīśaila, yang dikaitkan dengan Śiva sebagai Tripurāntaka, muncul pernyataan bahwa memandang puncaknya saja dapat melenyapkan kelahiran kembali. Lopāmudrā bertanya: jika demikian, mengapa Kāśī tetap paling dicari? Agastya menjawab dengan menggolongkan berbagai kṣetra dan tīrtha pemberi mokṣa, sambil menyebut pusat-pusat ziarah terkenal di seluruh Bhāratavarṣa. Selanjutnya Agastya memperkenalkan ‘tīrtha mānasa’, yakni kebajikan batin: satya (kebenaran), kṣamā (pemaafan), indriya-nigraha (pengendalian indra), dayā (welas asih), ārjava (ketulusan), dāna (derma), dama (disiplin diri), santoṣa (puas diri), brahmacarya, tutur kata lembut, jñāna, dhṛti (keteguhan), dan tapas. Ia menegaskan bahwa mandi di air suci saja tidak menyucikan batin yang ternoda oleh keserakahan, kekejaman, fitnah, kemunafikan, atau keterikatan berlebihan; tīrtha sejati adalah pemurnian pikiran dan vairāgya (lepas-ikatan). Bab ini juga memaparkan tata krama ziarah: puasa persiapan, penghormatan kepada Gaṇeśa, leluhur, para brāhmaṇa, dan sādhū; aturan memberi makan di tīrtha; cara śrāddha/tarpaṇa; serta pembagian ‘porsi’ pahala tīrtha menurut niat dan cara perjalanan. Pada puncaknya disampaikan hierarki keselamatan: Śrīśaila dan Kedāra dipuji sebagai pemberi mokṣa, namun Prayāga dinyatakan lebih utama, dan Avimukta (Kāśī) melampaui bahkan Prayāga—meneguhkan kedudukan Kāśī yang tiada banding dalam geografi pembebasan. Di akhir, disebutkan bahwa mendengar atau melantunkan dengan श्रद्धा membawa penyucian moral dan perlindungan dari tema kelahiran kembali yang tidak menguntungkan.

71 verses

Adhyaya 7

Adhyaya 7

Śivaśarmā’s Ethical Self-Audit, Tīrtha-Itinerary, and the Turn to Kāśī (Agastya Narration)

Adhyaya ini dibuka dengan kisah Agastya tentang Śivaśarmā, putra seorang brāhmaṇa terpelajar dari Mathurā. Śivaśarmā menguasai Veda, Dharmaśāstra, Purāṇa, logika (Nyāya), Mīmāṃsā, Āyurveda, seni, tata negara, dan berbagai bahasa; namun di tengah harta, keluarga, dan kehormatan sosial, ia dilanda kegelisahan ketika menyadari usia menua dan batas pengetahuan yang dikumpulkannya. Ia melakukan audit etika yang tegas, mengakui kelalaiannya: kurang berbhakti melalui pemujaan kepada Śiva, Viṣṇu, Gaṇeśa, Sūrya, dan Devī; mengabaikan yajña, jamuan bagi tamu, memberi makan brāhmaṇa, menanam pohon, membantu perempuan dengan pakaian dan perhiasan; juga kurang dalam dana tanah, emas, dan sapi, membangun waduk/kolam air, menolong musafir, membiayai pernikahan, menjalankan vrata penyucian, serta mendirikan kuil atau menegakkan liṅga. Meyakini bahwa ziarah tirtha dapat menata ulang hidupnya menuju kesejahteraan tertinggi, ia berangkat pada hari yang mujur setelah melakukan ritus pendahuluan. Ia mengunjungi Ayodhyā dan terutama Prayāga; pertemuan tiga sungai (Triveṇī-saṅgama) dipuji sebagai tirtha yang memberi dharma, artha, kāma, dan mokṣa, serta berdaya menyucikan. Setelah tinggal di Prayāga, ia tiba di Vārāṇasī, memuja Dehalivināyaka di ambang kota, mandi suci di Maṇikarṇikā, mempersembahkan upacara bagi para dewa dan leluhur, lalu bersujud kepada Viśveśvara sambil mengungkapkan kekaguman atas keagungan Kāśī yang tiada banding. Walau telah mengenali kemuliaan Kāśī, kisah berlanjut pada perjalanannya menuju Mahākālapurī (Ujjayinī), dengan gambaran tema penolak kenajisan dan lenyapnya takut kepada Yama, topografi yang padat oleh liṅga, serta daya penyelamat dari mengingat Mahākāla. Bagian akhir memberi isyarat tentang kesusahan yang memuncak lalu terselesaikan melalui pertolongan ilahi dari jalur angkasa.

103 verses

Adhyaya 8

Adhyaya 8

शिवशर्मा–लोकदर्शनम्: धर्मराजदर्शनं च (Śivaśarmā’s Vision of Worlds and the Encounter with Dharmarāja)

Bab ini disajikan sebagai dialog berbingkai. Lopāmudrā terus memohon kisah suci yang terkait kota-kota tirtha; maka Agastya menuturkan sebuah itihāsa untuk mengajarkan bahwa kedekatan dengan “kota-kota pembebasan” yang termasyhur saja tidak otomatis menjamin mokṣa. Pusat kisahnya adalah brāhmaṇa Śivaśarmā, yang didatangi dua pelayan ilahi bernama Puṇyaśīla dan Suśīla, lalu dibimbing menempuh berbagai alam. Śivaśarmā diperlihatkan loka-loka bertingkat sesuai pola etika: piśāca-loka sebagai buah pahala yang kurang dan sedekah yang disertai penyesalan; guhyaka-loka bagi mereka yang mencari harta dengan jujur, berbagi dengan masyarakat, dan berhati tidak dengki; gandharva-loka, di mana kepandaian musik dan derma menjadi lebih berpahala bila kekayaan dialihkan kepada para brāhmaṇa serta disertai pujian bhakti; dan vidyādhara-loka yang ditandai oleh mengajar, menolong yang sakit, serta kerendahan hati dalam menuntut ilmu. Kemudian Dharmarāja menampakkan diri dengan wujud lembut bagi orang saleh, memuji pengetahuan śāstra Śivaśarmā, bakti kepada guru, dan pemanfaatan hidup berjasad menurut dharma. Selanjutnya ditampilkan sisi menggetarkan berupa perintah hukuman bagi pelanggaran tertentu—penyimpangan seksual, fitnah, pencurian, pengkhianatan, penistaan/penjarahan milik suci, dan tindakan yang merusak tatanan sosial—sebagai semacam taksonomi dosa dan akibatnya. Bab ini menutup dengan kriteria siapa yang memandang Yama menakutkan atau justru membawa keberkahan, menyebut raja-raja teladan sebagai anggota sidang Dharmarāja, dan berakhir ketika Śivaśarmā melihat kota para apsarā—tanda kisah masih berlanjut.

101 verses

Adhyaya 9

Adhyaya 9

Apsaroloka–Sūryaloka Varṇana and Gayatrī–Sūryopāsanā Vidhi (अप्सरोलोक–सूर्यलोकवर्णनं तथा गायत्री–सूर्योपासनाविधिः)

Adhyaya ini dibuka sebagai dialog ajaran ketika Śivaśarmā bertanya tentang para perempuan surgawi yang luar biasa indah dan berhias. Para Gaṇa menjelaskan bahwa mereka laksana apsarā—mahir musik, tari, tutur halus, dan seni—serta menerangkan sebab-sebab tinggal di Apsaroloka: laku tapa-brata dan aturan ritual, kekhilafan kecil dalam pengendalian diri karena takdir, serta brata yang didorong hasrat yang berbuah kenikmatan ilahi. Setelah itu disebutkan nama-nama apsarā, perhiasan dan kemuliaan mereka, lalu dipaparkan amalan kebajikan terkait peralihan matahari (saṅkramaṇa), pemberian bhoga-dāna, dan persembahan yang diikat mantra. Bagian berikutnya meninggikan teologi Sūrya dan terutama mantra Gāyatrī. Ditegaskan hirarki pengetahuan yang berpuncak pada Gāyatrī sebagai mantra tertinggi, serta kewajiban praktik tri-kāla dan ketepatan waktu sandhyā menurut kaidah kala-śāstra. Dijelaskan tata cara arghya: memakai bejana tembaga yang bersih berisi air, bunga, kuśa/dūrvā, akṣata, disertai salam mantra saat terbit dan terbenam; juga pujian nama-nama Sūrya. Buahnya adalah kesejahteraan duniawi—kesehatan dan kemakmuran—serta kenaikan setelah wafat ke Sūryaloka; ditutup dengan pujian pahala mendengar dan persetujuan Agastya atas nilai etis dan penyucian kisah ini.

96 verses

Adhyaya 10

Adhyaya 10

Amarāvatī–Agni-loka Praśaṃsā and the Narrative of Viśvānara’s Attainment (Jyotiṣmatī Purī)

Bab ini dibuka dengan kekaguman Śivaśarman saat melihat sebuah kota yang bercahaya dan menenteramkan. Para gaṇa menjelaskan bahwa itu adalah Amarāvatī surgawi yang terkait dengan Mahendra (Indra): bangunan berkilau, kelimpahan yang seakan memenuhi segala harapan, serta harta lambang seperti motif kuda dan gajah ilahi—sebagai ajaran tentang buah karma dan tata pemerintahan kosmis. Selanjutnya teks beralih ke ranah keselamatan yang berpusat pada Agni. Agni (Jātavedas) dipuji sebagai penyuci, saksi batin, dan poros yajña; dipaparkan pula laku yang mengantar ke dunia Agni: memelihara tradisi agnihotra, menolong yang membutuhkan dalam upacara api, memberi kayu bakar/samidhā dan perlengkapan ritual, serta menjaga disiplin perilaku. Kemudian para gaṇa menuturkan kisah resi Viśvānara dari garis Śāṇḍilya. Ia merenungkan empat āśrama dan menegaskan kemuliaan dharma gṛhastha; istrinya, Śuciṣmatī, memohon putra yang sebanding dengan Maheśa. Viśvānara pergi ke Vārāṇasī, melakukan peredaran tirtha: darśana liṅga, mandi suci, persembahan, dan penghormatan kepada para pertapa; demi siddhi yang cepat ia menimbang banyak liṅga Kāśī lalu bersembahyang dengan tapa-tertib di sebuah pīṭha pemberi siddhi. Penutupnya menyatakan buah amalan: himne/vrata tertentu yang dijalankan selama masa yang ditetapkan memberi hasil yang diinginkan, termasuk keturunan.

105 verses

Adhyaya 11

Adhyaya 11

गृहपति-नामकरणम् तथा पुत्रलक्षण-परिक्षा (Naming of Gṛhapati and the Examination of the Child’s Marks)

Agastya menuturkan wacana teologis yang berpusat pada Kāśī, bermula dari kehidupan rumah tangga Viśvānara dan Śuciṣmatī. Bab ini menguraikan rangkaian saṃskāra secara berurutan—garbhādhāna, puṃsavana, sīmanta, perayaan kelahiran, hingga upacara penamaan—dan dengan kutipan mantra bergaya Weda, sang anak diberi nama “Gṛhapati”. Perayaan kelahiran digambarkan dihadiri sidang agung para resi dan makhluk ilahi, meneguhkan kemuliaan sang bayi dalam tatanan suci yang disaksikan khalayak. Selanjutnya ajaran beralih pada etika gṛhastha: nilai keturunan, ragam jenis putra, serta kesinambungan garis keluarga sebagai urusan dharma. Nārada datang mengajarkan bakti dan kepatuhan kepada orang tua, lalu melakukan pemeriksaan tanda-tanda tubuh serta telapak/garis (lakṣaṇa-parīkṣā), menafsirkan isyarat sebagai pertanda kedaulatan dan keberuntungan, namun mengingatkan bahwa takdir dapat membalikkan sifat. Sebuah ramalan memperingatkan bahaya sekitar tahun kedua belas (terkait kilat/api), membuat orang tua berduka; sang anak menenangkan mereka dan bersumpah memuja Mṛtyuñjaya (Śiva) untuk menaklukkan ancaman itu, sehingga kisah kembali menegaskan bhakti, perlindungan, dan cakrawala keselamatan Śaiva di Kāśī.

107 verses

Adhyaya 12

Adhyaya 12

नैरृत-वरुण-लोकवर्णनम् तथा वरुणेश-लिङ्ग-प्रतिष्ठा (Description of the Nairṛta and Varuṇa realms; establishment of Varuṇeśa Liṅga)

Bab ini memadukan kosmologi arah dengan ajaran etika. Mula-mula dijelaskan arah Nairṛta beserta para penghuninya—bahkan mereka yang dianggap rendah karena kelahiran dipuji sebagai ‘pengikut kebajikan’ bila selaras dengan norma śruti-smṛti, menegakkan ahiṃsā, kejujuran, pengendalian diri, serta hormat kepada para dvija. Tindakan menyakiti diri sendiri dilarang tegas dan dinyatakan merusak kemajuan rohani. Lalu hadir kisah teladan Piṅgākṣa, seorang kepala rimba (pallīpati). Ia menjalankan ‘mṛgayā-dharma’ yang teratur—berburu dengan batasan—seraya melindungi dan menolong para musafir. Kekerasan kerabat yang serakah dan niat batin Piṅgākṣa di akhir hayat dipakai untuk menerangkan buah karma, hingga ia mencapai kedudukan sebagai penguasa di alam Nairṛta. Sesudah itu dipaparkan alam Varuṇa dan derma-derma bagi kemaslahatan umum: menggali sumur, membuat kolam, membagikan air, mendirikan balai teduh, menyeberangkan pelancong, serta menyingkirkan rasa takut—semuanya menjadi sumber pahala dan perlindungan. Penutupnya mengisahkan asal-usul Varuṇa: putra resi, Śuciṣmān, diculik makhluk air; berkat campur tangan Śiva dan bhakti, sang anak kembali. Kemudian melalui tapa di Vārāṇasī ia memperoleh anugerah Śiva sebagai penguasa perairan dan menegakkan Liṅga Varuṇeśa di Kāśī; pemujanya dilindungi dari ketakutan dan derita yang berkaitan dengan air.

100 verses

Adhyaya 13

Adhyaya 13

Pavaneśvara/Pavamāneśvara Liṅga Māhātmya and the Devotee Narrative (पवनेश्वर/पवमानेश्वर-लिङ्गमाहात्म्य)

Adhyaya 13 memadukan petunjuk topografi-suci Kashi, pujian doktrinal, dan kisah seorang bhakta. Para gaṇa menggambarkan kawasan kota suci yang harum serta menunjukkan liṅga yang terkait dengan Vāyu (Prabhañjana); dikatakan bahwa melalui pemujaan kepada Śrī Mahādeva, Vāyu memperoleh kedudukan sebagai dikpāla. Lalu diceritakan tapa panjang Pūtatmā di Vārāṇasī dan penetapan liṅga pemurni Pavaneśvara/Pavamāneśvara; bahkan darśana semata ditegaskan mampu meluruhkan dosa sebagai perubahan etis-ritual menuju kesucian. Bagian stotra memuji transendensi sekaligus imanen­si Śiva; dijelaskan pembedaan Śiva-Śakti (śakti jñāna, icchā, kriyā) dan pemetaan “tubuh kosmis” yang merangkum tatanan sosial serta unsur-unsur alam dalam sebuah kosmogram teologis. Adhyaya ini juga memberi penunjuk lokasi—dekat Vāyu-kuṇḍa, di sebelah barat Jyeṣṭheśa—serta menganjurkan mandi dengan wewangian dan persembahan harum. Kisah kemudian beralih pada legenda lain tentang kemegahan bak Alakā dan kenaikan seorang bhakta (dengan motif kerajaan di kemudian hari), lalu ditutup dengan phalaśruti: mendengar kisah ini menghapus dosa.

107 verses

Adhyaya 14

Adhyaya 14

चंद्रेश्वर-माहात्म्य तथा चंद्रोदक-तीर्थश्राद्ध-विधि (Candreśvara Māhātmya and the Candrodaka Tīrtha Śrāddha Protocol)

Bab ini disampaikan sebagai ajaran dialogis: para gaṇa Śiva mula-mula menggambarkan suatu kawasan suci dekat citra “wilayah depan” Alakā, lalu menegaskan kesucian arah īśānya di Kāśī. Para Rudra-bhakta serta sebelas wujud Rudra disebut sebagai penjaga dan pemberi anugerah, menegakkan teologi perlindungan tempat; kemudian dijelaskan penetapan (pratiṣṭhā) Īśāneśa beserta pahala kebaktiannya. Selanjutnya hadir mitos bulan: dari tapa Atri lahir Soma; setelah Soma jatuh, Brahmā menanganinya dengan tata-ritus sehingga muncul tumbuh-tumbuhan obat penopang dunia. Soma tiba di Avimukta dan menegakkan liṅga Candreśvara. Mahādeva menetapkan tuntunan waktu: pemujaan pada aṣṭamī/caturdaśī, ritus pūrṇimā, serta laku amāvāsyā–somavāra berupa puasa, berjaga malam (jāgaraṇa), mandi dengan air “candrodaka”, dan melaksanakan śrāddha di Candrodaka-kuṇḍa dengan penyebutan nama para leluhur. Phalaśruti menyatakan kepuasan leluhur setara dengan ritus Gayā, pembebasan dari tiga hutang (ṛṇa-traya), peredaan tumpukan dosa, dan jalan menuju Soma-loka. Penutupnya menguraikan secara rahasia Pīṭha Siddhayogīśvarī dekat Candreśvara, tempat para pelaku disiplin memperoleh peneguhan visi dan siddhi, dengan penegasan etis bahwa hal ini bukan bagi nāstika atau para pencela śruti.

77 verses

Adhyaya 15

Adhyaya 15

बुधेश्वर-नक्षत्रेश्वर-माहात्म्य (Budheśvara and Nakṣatreśvara: Shrine-Etiology and Merit)

Adhyaya ini mengalir melalui dialog berlapis. Agastya berbicara kepada Lopāmudrā, mengingatkan kisah yang disampaikan para gaṇa Śiva kepada Śivaśarman. Mula-mula para gaṇa menuturkan asal-usul putri-putri Dakṣa yang termasyhur sebagai para nakṣatra: mereka bertapa keras di Kāśī dan menegakkan liṅga bernama Nakṣatreśvara di tepi sungai Vārāṇasī dekat Saṅgameśvara. Śiva menganugerahkan anugerah: kedudukan utama dalam cakra jyotiṣa, keterkaitan dengan rāśi, alam khusus “nakṣatra-loka”, serta perlindungan bagi pemuja yang menjalankan vrata terkait nakṣatra di Kāśī. Kemudian kisah beralih pada Budha (Merkurius). Lahir dari peristiwa Tārā–Soma–Bṛhaspati, Budha melakukan tapa yang sangat berat di Kāśī, mendirikan Budheśvara-liṅga, lalu memperoleh darśana Śiva dan anugerah: loka yang lebih luhur di atas alam nakṣatra, kehormatan istimewa di antara para graha, serta janji bahwa pemujaan Budheśvara menumbuhkan buddhi (kecerdasan) dan melenyapkan durbuddhi (kebingungan). Penutupnya menyatakan: darśana Budheśvara—di sebelah timur Candreśvara—mencegah kemerosotan kecerdasan; kisah lalu mengarah ke uraian loka berikutnya (Śukra-loka).

67 verses

Adhyaya 16

Adhyaya 16

Śukra and the Mṛtasañjīvinī Vidyā: Austerity in Kāśī, Boon from Śiva, and the War-Episode with Andhaka

Bab 16 menuturkan rangkaian kisah yang saling terkait tentang Śukra (Kavi, Bhārgava). Para gaṇa memuji tapa beliau di Kāśī yang amat berat—bahkan selama seribu tahun bertahan dengan ‘kaṇadhūma’—hingga Śiva berkenan menganugerahkan Vidyā Mṛtasañjīvinī, ilmu yang menghidupkan kembali yang gugur. Mahēśvara menampakkan diri dan memberi anugerah; Śukra menegaskan bahwa ilmu itu diperoleh demi dharma dan kebaikan makhluk. Dalam bingkai perang Andhaka melawan Śiva, Andhaka mencari keunggulan dengan memuja Śukra sebagai guru para daitya dan memohon agar vidyā itu dipakai untuk membangkitkan daitya yang tewas. Śukra pun menghidupkan mereka satu per satu, sehingga semangat pasukan daitya kembali menyala. Para gaṇa melapor kepada Mahēśa; Nandin diutus untuk menangkap Śukra, dan Śiva sendiri menelan Śukra, meniadakan strategi kebangkitan itu. Dari dalam tubuh Śiva, Śukra mencari jalan keluar dan menyaksikan berbagai alam; melalui Śāmbhava-yoga ia dilepaskan, dan karena peristiwa kemunculan itu Śiva menamai beliau ‘Śukra’. Bagian penutup mengisahkan ziarah Kāśī: mendirikan liṅga Śiva, menggali sumur, pemujaan panjang dengan persembahan bunga dan pañcāmṛta, hingga kaul yang paling ekstrem yang berujung pada penampakan Śiva dan pemberian anugerah. Ajarannya: pengetahuan dan anugerah memberi daya besar, namun kedaulatan Ilahi mengatur akibat etis dan kosmisnya.

104 verses

Adhyaya 17

Adhyaya 17

Aṅgārakeśvara and Bṛhaspatīśvara: Kāśī Shrines, Graha-Protection, and Vācaspati’s Consecration

Bab ini bergerak dalam bingkai dialog dengan dua arus utama. Pertama, Śivaśarmā bertanya kepada para gaṇa tentang wilayah yang suci dan melenyapkan duka. Para gaṇa menuturkan asal-usul Lohitāṅga (Māheya), lahir dari setetes keringat Śambhu saat perpisahan dengan Dakṣāyaṇī; ia bertapa keras di Ugrapurī dan menegakkan liṅga bernama Aṅgārakeśvara. Karena anugerah Śiva ia termasyhur sebagai Aṅgāraka dan memperoleh kedudukan luhur sebagai salah satu graha. Selanjutnya dipaparkan laku Aṅgāraka-caturthī: mandi suci—terutama di perairan yang mengalir ke utara—pemujaan, serta keyakinan bahwa persembahan, japa, dan homa menjadi tak binasa. Śrāddha yang dilakukan pada saat konjungsi Aṅgāraka disebut mendatangkan kepuasan para leluhur; kelahiran Gaṇeśa juga dikaitkan dengan laku ini, dan tinggal dengan bhakti di Vārāṇasī dihubungkan dengan keadaan pascakematian yang lebih tinggi. Bagian kedua beralih ke kisah Kāśī lainnya: putra Aṅgiras naik menjadi Bṛhaspati/Vācaspati melalui pemujaan liṅga dan kidung halus (vāyavya-stotra). Śiva menganugerahkan gelar Bṛhaspati, Jīva, dan Vācaspati, menjanjikan kejernihan tutur serta perlindungan dari derita yang lahir dari pengaruh graha melalui pembacaan stotra, dan memerintahkan Brahmā untuk mengonsekrasi beliau sebagai guru para dewa. Penutupnya memberi penandaan lokasi Bṛhaspatīśvara di Kāśī, isyarat kerahasiaan pewarisan pada Kali-yuga, serta phalaśruti bahwa mendengar adhyāya ini menolak graha-pīḍā dan gangguan, khususnya bagi para penghuni Kāśī.

103 verses

Adhyaya 18

Adhyaya 18

Saptarṣi-Liṅga-Pratiṣṭhā in Avimukta and the Arundhatī Pativratā Discourse (Chapter 18)

Bab ini mengisahkan Śivaśarmā, seorang brāhmaṇa dari Mathurā, yang setelah mandi suci di Muktipurī (Kāśī) dan wafat, naik menuju alam Vaiṣṇava. Di perjalanan ia melihat loka yang bercahaya dan membawa keberuntungan, lalu bertanya; dua pelayan gaṇa menjelaskan bahwa atas titah Sang Pencipta, Saptarṣi—Marīci, Atri, Pulaha, Pulastya, Kratu, Aṅgiras, dan Vasiṣṭha—berdiam di Kāśī untuk menumbuhkan makhluk, sementara para istri mereka disebut sebagai ibu-ibu dunia. Demi pembebasan semua makhluk, para ṛṣi mendatangi Avimukta—kṣetra suci tempat Sang Kṣetrajña bersemayam—lalu menegakkan liṅga-liṅga atas nama mereka. Dengan daya tapa, mereka menopang tiga dunia. Teks kemudian memberi penunjuk lokasi: Atrīśvara dekat perairan Gokarṇeśa; kuṇḍa Marīci dan Marīcīśvara; Pulaha dan Pulastya dekat Svargadvāra; Aṅgiraseśvara di hutan Harikeśava; serta Vāsiṣṭhameśvara dan Kratvīśvara di tepi Varuṇā—masing-masing dikaitkan dengan buah seperti tejas, pahala, dan pencapaian loka. Penutupnya memuji Arundhatī sebagai pativratā yang tiada banding; bahkan mengingat namanya saja memberi jasa setara mandi di Gaṅgā, dan menempatkannya sebagai teladan etika dalam wacana lanskap suci Kāśī.

30 verses

Adhyaya 19

Adhyaya 19

ध्रुवोपाख्यानम् — Dhruva’s Resolve, Instruction, and Turn toward Vāsudeva

Adhyaya ini menampilkan kisah Dhruva dalam bentuk dialog dan teladan. Berawal dari pertanyaan tentang sosok bercahaya yang teguh—seakan menjadi penopang dan ukuran kosmos—para gaṇa lalu menuturkan latar Dhruva: ia lahir dalam garis Svāyambhuva Manu sebagai putra Raja Uttānapāda. Di istana, terdapat hirarki antara permaisuri Sunīti dan Suruci; dan dalam sidang kerajaan Dhruva dipermalukan ketika ia dilarang duduk di pangkuan/tahta raja di hadapan umum. Sunīti kemudian memberi nasihat bernuansa dharma: hormat dan hina terkait buah karma masa lampau; kemuliaan lahir dari timbunan kebajikan. Karena itu, amarah dan duka hendaknya dikendalikan, serta hasil diterima dengan keteguhan hati. Dhruva menjawab dengan tekad bertapa, memohon izin dan restu ibunya, lalu berangkat ke hutan. Di hutan ia bertemu Saptarṣi. Setelah mendengar sebab keprihatinannya, para ṛṣi mengarahkan daya cita-citanya menuju bhakti: nasihat Atri menegaskan keutamaan berlindung pada kaki Govinda/Vāsudeva dan melakukan japa nama-Nya, yang menuntun pada tujuan duniawi maupun transenden. Para ṛṣi pun pergi, dan Dhruva melanjutkan tapa dengan niat terpusat pada Vāsudeva—menggambarkan alur dari luka sosial menuju keteguhan rohani yang disiplin.

103 verses

Adhyaya 20

Adhyaya 20

Dhruva’s Tapas, Viṣṇu-Nāma Contemplation, and the Testing of Steadfast Devotion

Bab ini mengisahkan Dhruva yang tiba di sebuah rimba suci di tepi sungai, mengenalinya sebagai tempat ilahi yang amat menyucikan, lalu memulai japa dan meditasi kepada Vāsudeva. Hari dipaparkan hadir dalam segala arah, sinar, hewan, wujud-wujud air, dan sebagai Yang Esa beraneka rupa yang meresapi seluruh alam; Dhruva pun tenggelam dalam perenungan Nama-Nama Viṣṇu. Kemudian tampak tema penataan ulang indria—ucapan hanya pada nama Viṣṇu, pandangan pada kaki Tuhan, pendengaran pada pujian sifat-Nya, penciuman pada keharuman suci, sentuhan pada bhāva pelayanan, dan batin sepenuhnya teguh pada Nārāyaṇa. Pancaran tapas Dhruva mengguncang jagat sehingga para dewa cemas dan memohon nasihat Brahmā; Brahmā menegaskan bahwa bhakta sejati tidak memusuhi siapa pun, dan Viṣṇu akan meneguhkan kedudukan yang semestinya bagi semua. Indra mencoba mengacaukan dengan mengirim makhluk menakutkan dan penampakan maya, bahkan sosok menyerupai ibu Dhruva yang memohon agar ia berhenti. Namun Dhruva tetap tak tergoyahkan, terlindungi oleh Sudarśana. Akhirnya Nārāyaṇa menampakkan diri, mempersilakan Dhruva memilih anugerah dan menghentikan tapa yang berlebihan; Dhruva memandang wujud-Nya yang bercahaya dan melantunkan pujian—puncak bhakti yang teguh di tengah ujian.

101 verses

Adhyaya 21

Adhyaya 21

ध्रुवस्तुतिḥ (Dhruva’s Hymn) and Viṣṇu’s Instruction on Dhruva-pada and Kāśī

Dalam adhyāya ini, Dhruva melantunkan stotra panjang kepada Bhagavān Viṣṇu. Ia bersujud dengan banyak sebutan: sebagai pelaksana penciptaan‑pemeliharaan‑peleburan alam semesta, sebagai pemegang śaṅkha‑cakra‑gadā, dan sebagai Yang hadir dalam Veda, sungai, gunung, tulasī, śālagrāma, serta tīrtha seperti Kāśī dan Prayāga. Kīrtana nama dan ingatan suci (smaraṇa) dipuji sebagai sarana meredakan penyakit, menghapus dosa yang menumpuk, dan memusatkan batin; pemujaan tulasī dan śālagrāma, pemakaian gopīcandana, serta mandi terkait śaṅkha disebut sebagai tanda bhakti yang melindungi. Bhagavān Viṣṇu menanggapi dengan mengakui niat batin Dhruva dan menganugerahkan jabatan kosmis: Dhruva menjadi penopang tetap bagi sistem langit yang berputar, memerintah Dhruva‑pada selama satu kalpa. Bagian phalaśruti menyatakan bahwa pembacaan stotra tiga kali sehari mengurangi dosa dan meneguhkan kemakmuran serta keharmonisan keluarga, juga memberi keturunan, harta, dan bhakti. Lalu ajaran beralih ke Kāśī: Viṣṇu menyatakan kehendak menuju Vārāṇasī yang suci, tempat Viśveśvara bersemayam sebagai sebab mokṣa; disebut pula bisikan mantra penyelamat (tāraka) di telinga orang yang menderita, dan Kāśī ditegaskan sebagai obat tunggal bagi derita duniawi. Disebutkan pula pahala darśana Viśveśvara pada tithi tertentu, kebajikan dana di Brahmapurī/Kāśī, dan pahala besar mengingat kisah Dhruva.

103 verses

Adhyaya 22

Adhyaya 22

लोक-क्रमवर्णनम्, तीर्थराज-प्रयागमाहात्म्यम्, अविमुक्त-काशी-परमोत्कर्षः (Cosmic Realms, Prayāga as Tīrtharāja, and the Supremacy of Avimukta-Kāśī)

Adhyaya ke-22 menuturkan perjalanan cepat yang dipandu: seorang brāhmaṇa bernama Śivaśarmā dibawa para gaṇa Śiva dengan vimāna yang tangkas, melintasi alam-alam yang makin tinggi. Mereka menjelaskan Maharloka sebagai tempat para pertapa berumur panjang, disucikan oleh tapas dan diteguhkan oleh smaraṇa kepada Viṣṇu; lalu Janaloka, kediaman putra-putra Brahmā yang lahir dari pikiran (seperti Sanandana) serta para brahmacārin yang teguh. Tapoloka digambarkan lewat daftar panjang laku tapa—menahan panas dan dingin, berpuasa, mengekang napas, berdiam tanpa bergerak—menampilkan tapas sebagai disiplin pemurnian dan keteguhan batin. Kemudian tampak Satyaloka; Brahmā menyambut para tamu dan menyampaikan ajaran normatif: Bhārata ditegaskan sebagai karma-bhūmi, tempat manusia dapat menaklukkan indria dan cela seperti lobha, kāma, krodha, ahaṃkāra, moha, pramāda melalui dharma yang berlandaskan śruti-smṛti-purāṇa serta teladan orang saleh. Setelah itu, bab ini beralih pada perbandingan geografi suci: surga dan bahkan pātāla dipuji karena kenikmatan, namun Bhārata—dan di dalamnya wilayah serta tīrtha tertentu—dinilai unggul dalam daya penyelamatan. Prayāga ditinggikan sebagai tīrtharāja, bahkan mengingat namanya pun disebut memurnikan; tetapi puncaknya menegaskan bahwa pembebasan paling langsung diperoleh di Kāśī/Avimukta pada saat ajal, di bawah kedaulatan Viśveśvara. Ada penjagaan etis yang tegas: kekerasan, pemerasan, menyakiti sesama, dan ketidaksetiaan kepada Viśveśvara membuat seseorang tidak layak tinggal di Kāśī; Kāśī digambarkan terlindung dari yurisdiksi Yama, sementara pelanggar ditertibkan oleh Kālabhairava.

101 verses

Adhyaya 23

Adhyaya 23

लोकपरिस्थिति-वर्णनम् तथा हर-हरि-ऐक्योपदेशः (Cosmic Levels and the Instruction on the Non-difference of Śiva and Viṣṇu)

Adhyaya ini menampilkan dialog ketika brahmana Śivaśarman memohon penjelasan kepada Brahmā di Satyaloka. Brahmā menerima pertanyaan itu dan mengarahkan urusan tersebut kepada para gaṇa (pengiring) Viṣṇu, seraya menegaskan keluasan pengetahuan mereka. Dalam perjalanan menuju Vaikuṇṭha, para gaṇa kembali ditanya oleh Śivaśarman; mereka menyebut tujuh kota pemberi mokṣa (saptapurī)—Ayodhyā, Mathurā, Māyāpurī (Haridvāra), Kāśī, Kāñcī, Avantī, dan Dvāravatī—serta menjelaskan mengapa pembebasan secara khusus ditegakkan di Kāśī. Selanjutnya dipaparkan pemetaan kosmografis bertingkat: dari Bhūrloka naik ke Bhuvar, Svar, Mahas, Jana, Tapas, hingga Satya; di atas Satya terletak Vaikuṇṭha, dan melampauinya lagi Kailāsa. Dengan susunan alam semesta yang berjenjang ini, kemuliaan Kāśī sebagai kṣetra penyeberang (tāraka) diteguhkan. Bab ini lalu beralih ke ajaran teologis: Śiva dipuji sebagai Penguasa Tertinggi yang berkehendak sendiri, Brahman yang tak terjangkau kata dan pikiran, namun juga hadir dalam wujud ikonik. Pokok ajaran ditegaskan—Śiva dan Viṣṇu tidak berbeda (har-hari-aikya), tiada pemisahan hakiki di antara keduanya. Pada penutup, Śiva menobatkan Viṣṇu secara ritual, menganugerahkan tiga daya (icchā, kriyā, jñāna) serta māyā, dan menetapkan tugas-tugas pemerintahan kosmis. Bagian phalaśruti menganjurkan pembacaan dalam upacara suci—perayaan, pernikahan, penobatan, masuk rumah, pemberian wewenang—dengan janji kesejahteraan: keturunan, kekayaan, lepas dari sakit dan belenggu, serta padamnya pertanda buruk.

72 verses

Adhyaya 24

Adhyaya 24

अध्याय २४ — वृद्धकालेश्वरलिङ्ग-माहात्म्य एवं कालोदककूप-प्रभाव (Vṛddhakāleśvara Liṅga and the Power of the Kālōdaka Well)

Bab ini memadukan kisah buah karma, teladan kepemimpinan raja, dan ajaran pembebasan yang berpusat pada Kāśī. Pada awalnya diceritakan seorang bhakta yang setelah wafat naik ke alam Vaiṣṇava, menikmati ganjaran surgawi, lalu karena sisa kebajikan terlahir kembali dan menjadi raja saleh di Nandivardhana; keadaan negeri digambarkan ideal—berlandaskan kebenaran, etika, dan kesejahteraan rakyat. Kisah kemudian beralih ke Kāśī. Raja Vṛddhakāla bersama permaisuri berziarah, melakukan dāna besar-besaran, lalu menegakkan sebuah liṅga serta sebuah sumur yang menyertainya. Pada tengah hari seorang pertapa tua (tapodhana) datang menanyai siapa pendiri tempat suci itu dan apa nama liṅga tersebut; ia mengajarkan agar kebajikan tidak diumumkan, sebab mengklaimnya bagi diri sendiri mengurangi pahala. Raja menimba air sumur untuk sang pertapa; setelah diminum, sang pertapa menjadi muda—menunjukkan daya sumur itu. Pertapa itu menamai liṅga “Vṛddhakāleśvara” dan sumur “Kālōdaka”, lalu menjelaskan manfaat darśana, sparśana, pūjana, śravaṇa, serta pemakaian airnya—terutama meredakan penuaan dan penyakit. Ia menegaskan kembali bahwa Kāśī adalah tempat puncak pembebasan, bahkan bagi mereka yang wafat di tempat lain. Pada akhir bab, sang pertapa melebur ke dalam liṅga; kemuliaan japa nama “Mahākāla” dan phalaśruti menyatakan bahwa mendengar kisah perjalanan Śivaśarman dan pemujaan di Kāśī membawa penyucian serta pengetahuan luhur.

89 verses

Adhyaya 25

Adhyaya 25

अविमुक्तमाहात्म्यप्रकरणम् — Avimukta Māhātmya and the Dialogue of Skanda with Agastya

Bab 25 dibuka dengan janji Vyāsa kepada Sūta untuk menyampaikan kisah yang menyucikan tentang resi kelahiran kendi, Agastya. Agastya bersama istrinya, setelah mengelilingi sebuah gunung, menyaksikan bentang Skanda-hutan yang subur: sungai, danau, pertapaan, serta Lोहित-giri yang menakjubkan, laksana serpihan Kailāsa yang layak bagi tapa. Ia kemudian berjumpa Skanda (Ṣaḍānana/Kārttikeya), bersujud, dan melantunkan stotra bernuansa Weda yang memuji sifat kosmis serta kemenangan beliau, termasuk peristiwa penaklukan Tāraka. Skanda menjelaskan kemuliaan Avimukta di mahākṣetra, dijaga oleh Śiva (Triyambaka/Virūpākṣa), tiada banding di segala loka. Tempat itu terutama dicapai oleh anugerah ilahi, bukan semata penumpukan ritual. Ajaran etika ditegaskan: sadar akan kefanaan, melepaskan kecemasan berlebihan tentang artha, dan mengutamakan dharma dengan Kāśī sebagai sandaran tertinggi. Berbagai sādhanā—yoga, tīrtha, vrata, tapa, dan cara pemujaan—disebutkan, namun Avimukta ditinggikan sebagai tumpuan pembebasan yang mudah. Buah tinggal di Avimukta diuraikan bertingkat, dari bhakti sesaat hingga menetap seumur hidup: penyucian dosa besar dan terhentinya kelahiran kembali. Doktrin kunci menyatakan bahwa saat wafat di Kāśī, ketika ingatan biasa pun gagal, Śiva sendiri menganugerahkan ajaran tāraka-brahma sehingga mokṣa tercapai. Bab ini ditutup dengan penegasan kembali kemuliaan Avimukta yang tak terkatakan dan bahwa bahkan sekadar bersentuhan dengan kesucian Kāśī patut sangat didambakan.

78 verses

Adhyaya 26

Adhyaya 26

अविमुक्तक्षेत्रप्रादुर्भावः तथा मणिकर्णिकामाहात्म्यम् (Origin of Avimukta and the Glory of Maṇikarṇikā)

Agastya bertanya kepada Skanda tentang bagaimana Avimukta mula-mula tampak di bumi, bagaimana kemasyhurannya sebagai kṣetra pemberi mokṣa berkembang, asal-usul Maṇikarṇikā, serta makna nama-nama Kāśī/Vārāṇasī/Rudrāvāsa/Ānandakānana/Mahāśmaśāna. Skanda menjawab dengan menyampaikan ajaran ilahi terdahulu: pada mahāpralaya segala sesuatu melebur dalam keadaan tak-terbedakan (avyakta), lalu daya penciptaan muncul melalui kategori Śiva–Śakti (bahasa prakṛti, māyā, buddhi-tattva, dan sejenisnya). Avimukta digambarkan berukuran lima krośa dan tidak pernah ditinggalkan oleh Śiva dan Śakti bahkan saat peleburan kosmis; karena itu disebut “Avimukta”. Kisah beralih ke Ānandavana: Viṣṇu menampakkan diri, bertapa dengan sangat keras, menggali telaga suci bernama Cakrapuṣkariṇī, dan memperoleh anugerah Śiva. Kemuliaan Maṇikarṇikā dijelaskan lewat peristiwa mitis: anting permata Śiva (maṇi-kuṇḍala) terjatuh karena suatu gerakan, sehingga tīrtha itu termasyhur sebagai Maṇikarṇikā. Bab ini juga merinci laku ritual dan etika di Kāśī beserta buahnya yang luar biasa—bahkan sentuhan kecil atau sekadar menyebut nama kota pun menambah pahala—serta menegaskan keunggulan Kāśī melalui pernyataan-pernyataan perbandingan phala.

105 verses

Adhyaya 27

Adhyaya 27

Gaṅgā-Māhātmya in Kāśī: Theological Discourse on Snāna, Smaraṇa, and Liṅga-Pūjā (Chapter 27)

Bab 27 dibuka dengan Skanda yang menjelaskan mengapa Vārāṇasī (Kāśī) termasyhur dan bagaimana hakikatnya sebagai ‘ānanda-kānana’ dipahami melalui ajaran Devadeva. Lalu Īśvara berbicara kepada Viṣṇu, mengisahkan bingkai Bhāgīratha: putra-putra Sagara hangus oleh api murka Kapila, krisis leluhur, dan tekad Bhāgīratha menempuh tapa untuk memuliakan serta memohon turunnya Gaṅgā. Uraian kemudian beralih ke tataran teologis: Gaṅgā dipuji sebagai wujud air yang tertinggi, menyatu dengan Śiva, penopang tatanan kosmis, dan gudang halus bagi tīrtha, dharma, serta daya-daya yajña. Pada zaman Kali, Gaṅgā ditegaskan sebagai sandaran keselamatan utama; darśana (memandang), sparśa (menyentuh), snāna (mandi suci), japa nama ‘Gaṅgā’, dan tinggal di tepinya berulang kali disebut sebagai pemurni. Bagian phalaśruti merinci buah kebajikan: pahala setara yajña agung, klaim mokṣa melalui pemujaan liṅga di tepi Gaṅgā, manfaat bagi leluhur lewat persembahan dalam air Gaṅgā, bahkan jaminan kebaikan bagi mereka yang wafat di perjalanan menuju Gaṅgā. Ada pula peringatan terhadap sikap tidak hormat, keraguan, dan menghalangi peziarah; penutupnya memuat enumerasi pahala, catatan mantra/ritus, serta pujian dan penghormatan kepada daya pelindung dan penyembuh Gaṅgā.

109 verses

Adhyaya 28

Adhyaya 28

Gaṅgā-Māhātmya and Pitṛ-Tarpaṇa in Kāśī (Pūrvārdha, Adhyāya 28)

Adhyaya 28 menguraikan wacana teologis berlapis tentang daya penyuci Gaṅgā (Tripathagā/Jāhnavī/Bhāgīrathī) dalam bingkai Kāśī. Bab ini dibuka dengan penjelasan dialogis mengenai kategori waktu—masa lalu, masa depan, dan masa kini—lalu berlanjut pada Gaṅgā-māhātmya. Ditegaskan bahwa satu kali persembahan leluhur yang dilakukan dengan tata cara benar—piṇḍa-dāna dan tarpaṇa—di tepi sungai pun dapat memberi manfaat bagi para pitṛ, melampaui garis keluarga, termasuk bagi mereka yang wafat dalam keadaan sulit. Selanjutnya disajikan teladan ajaran: Viṣṇu bertanya kepada Śiva tentang nasib seseorang yang bermoral buruk bila sisa tubuhnya jatuh ke Gaṅgā yang suci. Śiva menuturkan kisah seorang brāhmaṇa bernama Vāhīka, yang mengabaikan saṃskāra dan berperilaku tidak benar sehingga menanggung akibat hukuman, namun akhirnya terangkat ketika sepotong tubuhnya—karena keadaan yang kebetulan—jatuh ke Gaṅgā. Penutup bab menyusun hierarki tindakan penyucian, berulang kali meninggikan sentuhan Gaṅgā—melihat, menyentuh, meminum, dan mandi—serta kesucian tepi sungai di Kāśī sebagai penentu pemurnian etis dan arah menuju pembebasan, terutama pada zaman Kali.

101 verses

Adhyaya 29

Adhyaya 29

गङ्गानामसहस्रस्तोत्रम् (Ganga-nāma-sahasra Stotra) and the doctrine of snāna-phala by japa

Agastya mengajukan pertanyaan praktis dan etis-ritual: bila mandi suci (snāna) di Gaṅgā dipuji sebagai pemberi buah tertinggi, jalan apa yang tersedia bagi yang lemah, tak mampu bergerak, malas, atau tinggal jauh agar memperoleh hasil sebanding? (1–5). Skanda menjawab dengan membedakan tirtha dan air suci biasa dari kedudukan Gaṅgā yang tunggal. Keunggulannya ditegakkan secara teologis—Gaṅgā ditopang oleh Śiva dan berdaya menghapus dosa—serta melalui perumpamaan: rasa anggur hanya ada pada anggur; demikian pula buah penuh Gaṅgā-snāna semestinya diperoleh di Gaṅgā sendiri (6–10). Lalu ia menyingkap disiplin pengganti yang “paling rahasia”: melafalkan Gaṅgā-nāma-sahasra sebagai stotra-japa, yang hanya boleh diwariskan kepada bhakta yang layak (Śiva-bhakta, berorientasi bhakti kepada Viṣṇu, damai, beriman, āstika). Diajarkan pula tata cara kemurnian, kejelasan suku kata, serta pengulangan hening/bersungguh-sungguh (11–16). Bab ini memuat deretan panjang epitet Gaṅgā (mulai 17) dan ditutup dengan phalaśruti: satu kali bacaan pun memberi jasa ritual besar; japa berkelanjutan mengikis dosa banyak kelahiran, meneguhkan pelayanan kepada guru, dan menjanjikan kenikmatan mulia setelah wafat. Stotra ini ditegaskan sebagai “wakil Gaṅgā-snāna” bagi para pencari yang rindu mandi suci (170–210).

111 verses

Adhyaya 30

Adhyaya 30

मणिकर्णिकागङ्गावतरण-प्रवेशानुज्ञा-काशीमाहात्म्य (Maṇikarṇikā, Gaṅgā’s Arrival, Authorized Entry, and the Māhātmya of Kāśī)

Skanda menuturkan kepada Agastya bahwa demi kesejahteraan tiga dunia, Bhagiratha menurunkan Gaṅgā ke bumi, dan pada akhirnya Gaṅgā berhubungan suci dengan Maṇikarṇikā di Kāśī. Bab ini menegaskan teologi Avimukta: Kāśī tidak pernah ditinggalkan oleh Śiva; berkat anugerah-Nya, pembebasan (mokṣa) di sana digambarkan dapat diraih bahkan tanpa disiplin filsafat yang lazim, sebab pada saat ajal Śiva menganugerahkan ajaran ‘tāraka’ yang menyelamatkan jiwa. Selanjutnya dijelaskan geografi pelindung dan tata masuk kṣetra. Para dewa menegakkan lembaga penjagaan; sungai batas Asi dan Varaṇā ditetapkan sehingga lahir nama Vārāṇasī. Śiva juga menunjuk para penjaga, termasuk seorang Vināyaka, untuk mengatur siapa yang boleh masuk; tanpa izin Viśveśa, seseorang digambarkan tidak mampu menetap ataupun memperoleh buah kṣetra. Sebuah teladan menyisipkan kisah pedagang Dhanañjaya yang berbakti kepada ibunya dan membawa sisa jasad sang ibu; melalui peristiwa pencurian oleh pengusung dan tema perjalanan tanpa otorisasi, ditegaskan bahwa hasil kṣetra bergantung pada masuk yang sah dan orientasi batin yang benar. Bagian akhir menjadi pujian panjang atas Vārāṇasī sebagai ladang keselamatan yang tiada banding: makhluk dari berbagai jenis yang wafat di sana meraih tujuan luhur di bawah pengawasan Śiva.

101 verses

Adhyaya 31

Adhyaya 31

कालभैरवप्रादुर्भावः — Origin and Jurisdiction of Kālabhairava in Kāśī

Bab ini disajikan sebagai dialog. Agastya memohon uraian teologis yang terfokus tentang Bhairava di Kāśī: hakikatnya, wujudnya, tugas-tugasnya, nama-namanya, serta syarat-syarat ketika ia menganugerahkan keberhasilan cepat kepada para pelaku sādhana. Skanda berjanji menuturkannya secara menyeluruh, seraya menegaskan bahwa kisah ini menyucikan dan meneguhkan buah tinggal di Kāśī. Kemudian muncul episode ajaran tentang daya māyā ilahi dan batas kewenangan yang diklaim sendiri. Brahmā dan sosok yang terkait dengan daya kurban (Kratu/unsur Nārāyaṇa) berselisih soal keunggulan; mereka meminta Veda sebagai pramāṇa. Keempat Veda menyatakan Rudra/Śiva sebagai satu-satunya prinsip tertinggi. Namun keduanya masih terselubung delusi, mempertanyakan laku asketis Śiva dan ikonografinya yang terkait tanah kremasi. Pranava (Oṃ) yang dipersonifikasikan menasihati bahwa permainan Śiva tidak terpisah dari Śakti-Nya. Cahaya agung memancar; dari wujud Śiva yang dahsyat lahirlah Kālabhairava, lalu ia ditugaskan sebagai penguasa abadi Kāśī dan penegak moral. Nama-nama Bhairava dijelaskan menurut fungsinya—sebagai pemelihara (bharaṇa → Bhairava), yang menakutkan bahkan bagi Waktu (Kāla), dan penghukum pelanggaran. Ia memenggal kepala kelima Brahmā dan diperintahkan menjalani kaul Kāpālika (membawa tengkorak) sebagai teladan penebusan di hadapan umum. Brahmahatyā dipersonifikasikan mengejar hingga Bhairava mencapai Vārāṇasī, tempat aksesnya dibatasi. Dikisahkan pula kunjungan Bhairava ke kediaman Viṣṇu, pertanyaan Viṣṇu tentang perilaku Śiva, serta penjelasan tujuan didaktis kaul itu. Penutup menegaskan daya Nama Śiva dan bhakti untuk meluruhkan dosa, kemuliaan penyucian Kāśī, serta isyarat ritus seperti mandi di air Kāla dan persembahan yang mengangkat para leluhur.

103 verses

Adhyaya 32

Adhyaya 32

हरिकेशोपाख्यानम् (Harikeśa Upākhyāna) — The Account of Harikeśa and the Call of Vārāṇasī

Agastya memohon kepada Skanda agar menjelaskan siapa Harikeśa: garis keturunannya, tapa-bratanya, serta bagaimana ia menjadi kekasih Tuhan dan kelak terkait dengan wibawa pemerintahan (motif daṇḍanāyaka/daṇḍapāṇi). Skanda menuturkan silsilah yakṣa dari Gandhamādana: Ratnabhadra dan putranya Pūrṇabhadra. Walau makmur, Pūrṇabhadra menderita karena tiada keturunan; ia meratap bahwa kekayaan dan kemegahan istana hampa tanpa ‘garbha-rūpa’—pewaris. Istrinya, Kanakakuṇḍalā, memberi nasihat teologis yang bijak: usaha manusia dan karma lampau bertemu, namun obat penentu adalah berlindung pada Śaṅkara; bhakti kepada Śiva menghadirkan tujuan duniawi sekaligus pencapaian tertinggi. Dengan contoh Mṛtyuñjaya, Śvetaketu, Upamanyu, ditegaskan daya Śiva-sevā. Pūrṇabhadra memuja Nādeśvara/Mahādeva dan memperoleh putra bernama Harikeśa. Sejak kecil ia bertanda devosi eksklusif kepada Śiva: membuat liṅga dari debu, melantunkan nama-nama Śiva, dan tidak melihat kenyataan selain Tuhan Bermata Tiga. Konflik muncul ketika ayahnya mendorong pendidikan rumah tangga dan pengelolaan harta; Harikeśa yang tersayat hati meninggalkan rumah. Mengingat pepatah bahwa bagi yang tanpa perlindungan, Vārāṇasī adalah perlindungan, ia menuju Kāśī. Kāśī digambarkan sebagai Ānandavana/Ānandakānana, dengan ajaran bahwa makhluk yang wafat di sana meraih pembebasan. Dalam sabda Śiva kepada Pārvatī, dipuji “tata pembebasan” Kāśī: klaim mokṣa dalam satu kelahiran serta perlindungan dari rintangan bagi para pelepas dunia yang menetap di kṣetra. Bab ini memadukan biografi suci, etika bhakti, dan geografi penyelamatan Kāśī, menyiapkan landasan bagi pengangkatan Harikeśa kelak dalam kaitan dandin (daṇḍapāṇi/daṇḍanāyaka).

108 verses

Adhyaya 33

Adhyaya 33

ज्ञानवापी-ज्ञानोदतीर्थमाहात्म्य (Jñānavāpī and Jñānoda Tīrtha Māhātmya)

Bab ini dibuka dengan pertanyaan Agastya kepada Skanda tentang kemuliaan Skandajñānoda-tīrtha dan mengapa Jñānavāpī dipuji bahkan di kalangan makhluk surgawi. Skanda menuturkan asal-usulnya: pada zaman purba, Īśāna (wujud Rudra) memasuki wilayah suci Kāśī, melihat mahāliṅga yang bercahaya dan dipuja para siddha, yogin, gandharva, serta para gaṇa. Ia bernazar memandikan liṅga itu dengan air sejuk; dengan trisula ia menggali sebuah kuṇḍa, memunculkan air bawah tanah yang melimpah, lalu melakukan abhiṣeka berulang-ulang dengan ribuan aliran dan bejana. Śiva berkenan dan menganugerahkan anugerah. Īśāna memohon agar tīrtha yang tiada banding itu menyandang nama Śiva. Śiva menetapkannya sebagai ‘Śiva-tīrtha’ yang tertinggi, menjelaskan “Śivajñāna” sebagai pengetahuan yang seakan mencair oleh kemuliaan ilahi, dan meneguhkan nama Jñānoda. Disebutkan: sekadar memandangnya menyucikan; menyentuh dan menyeruput (ācaman) memberi pahala setara yajña agung; dan śrāddha serta piṇḍadāna di sini melipatgandakan jasa bagi leluhur, bahkan dibandingkan dengan Gayā, Puṣkara, dan Kurukṣetra. Puasa pada aṣṭamī/caturdaśī, serta upavāsa pada ekādaśī dengan ācaman terukur, dikatakan menuntun pada realisasi liṅga di dalam diri. Air tīrtha Śiva ini menenteramkan makhluk pengganggu dan penyakit hanya dengan dipandang; dan memandikan liṅga dengan air Jñānoda disamakan dengan abhiṣeka memakai air semua tīrtha. Skanda lalu beralih ke sebuah itihāsa terkait Jñānavāpī: sebuah keluarga brahmana dan putri yang sangat saleh, tekun mandi suci dan melayani kuil; percobaan penculikan oleh vidyādhara, bentrokan keras dengan rākṣasa, kematian serta kesinambungan karma, dan episode-episode kelahiran berikutnya yang menegaskan bhakti—liṅga-arcana, vibhūti, dan rudrākṣa—lebih utama daripada perhiasan duniawi. Bagian akhir memuat urutan tempat suci/śrīne beserta pahala masing-masing, menegaskan fungsi bab ini sebagai pemetaan lanskap ritual Kāśī.

108 verses

Adhyaya 34

Adhyaya 34

Maṇikarṇikā as Mokṣabhū and Jñānavāpī as Jñānadā (Liberation-Field and Knowledge-Well)

Bab 34 memetakan lanskap penyelamatan di Kāśī dalam dua bagian. Pertama, Maṇikarṇikā digambarkan berada dekat svargadvāra yang bersifat simbolis, dan peran pembebasan Śaṅkara ditegaskan: Śiva menganugerahkan śruti yang “menyentuh Brahman” (brahmaspṛś) kepada makhluk yang tersiksa oleh saṃsāra. Keunggulan Maṇikarṇikā sebagai mokṣabhū dinyatakan—di sana mokṣa dapat dicapai melampaui daya jalan lain seperti yoga, sāṃkhya, atau laku vrata; tempat itu sekaligus disebut “svargabhū” dan “mokṣabhū.” Lalu muncul teologi sosial yang luas: para bhakta dari berbagai varṇa dan āśrama—brāhmaṇa yang tekun belajar Veda dan ber-yajña, raja yang melakukan kurban, perempuan pativratā, pedagang dengan kekayaan yang diperoleh secara dharmis, śūdra yang menempuh jalan etis, brahmacārin, gṛhastha, vānaprastha, serta para pertapa (ekadaṇḍin/tridaṇḍin)—semuanya mendatangi Maṇikarṇikā demi niḥśreyasa. Bagian kedua beralih pada perjumpaan Kalāvatī dengan Jñānavāpī di dekat Śrī Viśveśvara. Setelah melihat (bahkan dalam lukisan) dan menyentuh sumur suci itu, ia mengalami gejolak batin dan perubahan jasmani—pingsan, menangis, tubuh gemetar—lalu pulih dan muncul pengetahuan tentang kelahiran lampau (bhavāntara-jñāna). Para pengiring mencoba menenangkannya, namun teks menafsirkan peristiwa itu sebagai kebangkitan oleh daya tempat. Kalāvatī menuturkan kelahiran sebelumnya sebagai gadis brāhmaṇa di Kāśī, lalu rangkaian penculikan, pertikaian, pembebasan dari kutuk, dan kelahiran kembali sebagai putri raja—menegaskan Jñānavāpī sebagai pusat penganugerah pengetahuan. Di akhir, terdapat klaim phalaśruti: membaca, melafalkan, atau mendengar kisah suci Jñānavāpī membawa kehormatan di alam Śiva (Śivaloka).

103 verses

Adhyaya 35

Adhyaya 35

अविमुक्तमहात्म्य–सदाचारविधि (Avimukta’s Supremacy and the Discipline of Sadācāra)

Dalam adhyāya ini, Kumbhayoni (Agastya) memuji Avimukta-Kāśī sebagai kṣetra tertinggi, melampaui semua tīrtha dan ladang mokṣa lainnya. Ia menegaskan tiga serangkai Gaṅgā, Viśveśvara, dan Kāśī sebagai simpul penyelamatan yang khas. Lalu ia mengajukan persoalan praktis: pada zaman Kali/Tiṣya, ketika indria tidak stabil dan kemampuan untuk tapas, yoga, vrata, serta dāna menurun, bagaimana pembebasan dapat diraih secara nyata? Skanda menjawab dengan mengalihkan penekanan dari askese luar biasa kepada sadācāra—disiplin etika—sebagai “teknologi” dasar dharma. Ia menguraikan hierarki makhluk dan para mengetahui, memuji kedudukan perilaku Brahmana yang tertib sebagai poros sosial-teologis, dan menetapkan sadācāra sebagai akar dharma. Ia merinci yama (satya, kṣamā, ahiṃsā, dan lain-lain) serta niyama (śauca, snāna, dāna, svādhyāya, upavāsa), mengajarkan penaklukan musuh batin seperti kāma dan krodha, serta menegaskan bahwa hanya dharma yang menyertai seseorang melampaui kematian. Bagian berikutnya memaparkan tata cara kemurnian harian dan regimen pagi: aturan arah dan privasi saat buang hajat, hitungan penyucian dengan tanah dan air, mekanika ācamana beserta larangan, aturan dantadhāvana termasuk hari-hari lunar yang dilarang, pembingkaian mantrik, pujian prātaḥsnāna, serta sandhyā pagi yang terstruktur dengan tarpana, homa, dan tata laksana memberi makan. Penutupnya menyatakan ini sebagai metode yang paling nitya (paling rutin) untuk meneguhkan kehidupan beragama.

115 verses

Adhyaya 36

Adhyaya 36

Sadācāra and Brahmacarya Regulations (सदाचार–ब्रह्मचर्यविधान)

Skanda berbicara kepada Kumbhaja (Agastya) dan menyatakan akan memberi penjelasan lanjutan tentang sadācāra agar praktisi yang cerdas tidak jatuh ke dalam kegelapan kebodohan. Bab ini menerangkan kerangka dvija—kelahiran dari ibu dan “kelahiran kedua” melalui upanayana—serta meninjau saṃskāra Veda dari ritus terkait pembuahan hingga upacara masa kanak-kanak, berpuncak pada upanayana dengan waktu yang ditetapkan menurut varṇa. Sesudah itu dijabarkan tata hidup brahmacārin: penyucian (śauca, ācamanam, pembersihan gigi, mandi dengan mantra), pemujaan sandhyā, agnikārya, tata hormat, serta pelayanan kepada orang tua, sesepuh, dan guru. Diuraikan pula aturan bhikṣā, pengendalian ucapan, makan yang teratur, dan larangan seperti berlebihan, perbuatan menyakiti, fitnah, serta kontak yang sensual atau tidak suci. Bab ini menetapkan bahan dan ukuran mekhalā, yajñopavīta, daṇḍa, dan ajina menurut varṇa, serta membedakan brahmacārin upakurvāṇa dan naiṣṭhika. Ditekankan bahwa bernaung dalam suatu āśrama adalah mutlak; praktik tanpa landasan āśrama dinyatakan tidak berbuah. Kemuliaan studi Veda dipuji, termasuk peran praṇava dan vyāhṛti bersama Gāyatrī, serta tingkatan daya japa: lisan, upāṃśu, dan batin. Kedudukan ācārya, upādhyāya, dan ṛtvij diurutkan, dan ibu, ayah, serta guru dipuji sebagai tiga serangkai; menyenangkan mereka disebut tapa tertinggi. Dengan brahmacarya yang disiplin dan anugerah Viśveśa, dicapai Kāśī, pengetahuan, dan nirvāṇa; lalu pembahasan beralih menuju ciri-ciri perempuan dan kriteria kelayakan pernikahan.

95 verses

Adhyaya 37

Adhyaya 37

Strī-lakṣaṇa-vicāra (Examination of Women’s Physical Marks) | Chapter 37

Bab ini memuat wejangan teologis yang dinisbatkan kepada Skanda tentang penilaian tanda-tanda jasmani (lakṣaṇa) yang dianggap mujur atau tidak mujur pada perempuan demi kebaikan hidup berumah tangga. Ditegaskan bahwa kebahagiaan rumah tangga terkait dengan istri yang ‘lakṣaṇavatī’, maka pemeriksaan lakṣaṇa dilakukan demi kemakmuran dan kesejahteraan. Teks menyebut delapan dasar penilaian: bentuk tubuh, pusaran/putaran pada tubuh, aroma, bayangan, daya hidup/temperamen, suara, cara berjalan, dan warna kulit. Lalu diuraikan dari kaki hingga kepala—telapak kaki, jari, kuku, pergelangan, betis, lutut, paha, pinggang, pinggul, bagian kemaluan, perut, pusar, sisi tubuh, dada, payudara, bahu, lengan, tangan serta garis telapak, leher, wajah, bibir, gigi, mata, rambut, dan tanda lainnya—seraya mengaitkan ‘buah’ (phalāni) berupa ramalan rezeki, kedudukan, keturunan, atau kesialan. Simbol pada telapak tangan dan telapak kaki seperti teratai, sangkha (kerang), cakra, dan svastika beserta tafsir pola garisnya juga dijelaskan. Bab ditutup dengan anjuran agar orang bijak meneliti tanda-tanda itu, menghindari ‘durlakṣaṇa’ dalam memilih pasangan, serta memberi isyarat menuju pembahasan bentuk-bentuk perkawinan pada bagian berikutnya.

106 verses

Adhyaya 38

Adhyaya 38

Adhyāya 38 — Vivāha-bheda, Gṛhastha-ācāra, Atithi-sevā, and Nitya-karma (Marriage Types, Householder Ethics, Hospitality, Daily Duties)

Bab ini memuat uraian teologis-etis yang ringkas, dikaitkan dengan Skanda, tentang tata hidup grhastha (rumah tangga). Mula-mula dijelaskan delapan jenis pernikahan (vivāha): brāhma, daiva, ārṣa, prājāpatya sebagai bentuk yang dharmis, sedangkan āsura, gāndharva, rākṣasa, paiśāca sebagai bentuk yang tercela atau lebih rendah; masing-masing dihubungkan dengan buah penyucian atau akibat yang merusak. Selanjutnya dipaparkan disiplin rumah tangga: mendekati pasangan pada waktu yang patut (penekanan pada ṛtu-kāla), kewaspadaan terhadap waktu dan keadaan yang tidak layak, aturan kesucian, pengendalian ucapan, pengekangan indria, serta etika pergaulan. Bagian penting menjelaskan pañca-yajña, vaiśvadeva, dan etika menjamu tamu (atithi); memuliakan tamu dipandang sebagai kebajikan besar, sedangkan mengabaikannya membawa dosa. Bab ini juga menyinggung dana (sedekah) beserta buahnya, peringatan tentang kondisi anadhyāya (saat belajar/menyampaikan ajaran tidak patut), serta kaidah berkata benar namun bermanfaat dan menjauhi pergaulan yang merugikan. Penutupnya mengarah kembali pada bingkai Kāśī, menyiapkan pujian berikutnya tentang kemuliaan Avimukta.

102 verses

Adhyaya 39

Adhyaya 39

Avimukta-Kāśī: Accelerated Merit, Avimukteśvara Liṅga, and a Royal-Mythic Etiology

Bab 39 dibuka dengan Skanda mengajar Agastya sebuah kisah pemusnah dosa yang berporos pada Avimukta-Kāśī. Mula-mula kṣetra Kāśī dijelaskan dengan sifat-sifat Brahman Tertinggi—melampaui binaan konsep, tanpa rupa, tak termanifest—seraya ditegaskan bahwa realitas transenden itu meresapi Kāśī secara khas sebagai pemberi pembebasan. Selanjutnya disampaikan soteriologi perbandingan: apa yang di tempat lain menuntut yoga yang keras, derma besar, atau tapa panjang, di Kāśī dapat dicapai melalui persembahan sederhana (bunga/daun/buah/air), hening meditasi sejenak, mandi di Gaṅgā, serta sedekah—semuanya dipandang “agung” karena kemuliaan tempatnya. Bagian berikut menghadirkan legenda penjelas: pada zaman lampau ketika kemarau panjang dan tatanan sosial runtuh, Brahmā menempatkan raja Ripuñjaya (juga disebut Divodāsa) untuk memulihkan dharma; kisah ini menggerakkan perpindahan dan perundingan ilahi yang melibatkan Rudra/Śiva dan gunung Mandara, hingga ditegaskan kehadiran Śiva yang berlanjut di Kāśī dalam wujud liṅga. Penutupnya memuliakan Avimukteśvara sebagai “ādi-liṅga”; melihat, mengingat, menyentuh, memuja, bahkan mendengar namanya disebut mampu melarutkan timbunan dosa dengan cepat dan melonggarkan ikatan karma. Disebut pula pertemuan berkala liṅga-liṅga lain serta keutamaan japa yang tertib dan bhakti di dalam kṣetra.

97 verses

Adhyaya 40

Adhyaya 40

Avimukteśvara–Kṣetra-prāpti, Gṛhastha-dharma, and Ethical Regulations (अविमुक्तेश्वर-क्षेत्रप्राप्ति तथा गृहस्थधर्म-नियमाः)

Adhyaya ini berbentuk wacana teologis tanya-jawab. Agastya memohon penjelasan lebih lanjut tentang kemuliaan Avimukteśa serta bertanya bagaimana Avimukteśvara-liṅga dan Avimukta-kṣetra seharusnya ‘dicapai’ dan didekati dengan benar. Skanda lalu mengalihkan pembahasan dari pujian menuju tata aturan, menjabarkan etika normatif bagi para pencari manfaat rohani di kṣetra Kāśī. Diterangkan makanan yang terlarang, pola makan yang patut, serta bobot moral hiṃsā (kekerasan), terutama terkait konsumsi daging beserta pengecualian terbatas dalam konteks ritual tertentu. Dharma ditegaskan sebagai sumber sukha dan tujuan hidup yang lebih tinggi; kemudian diperluas pada tata kelola rumah tangga: kaidah dāna (pemberian yang benar), kewajiban kepada tanggungan dan tamu, skema pañca-yajña, serta tugas harian. Tema kemurnian sosial-ritual juga dibahas—kepatutan pernikahan, kedudukan perempuan dalam wacana kemurnian, larangan ucapan yang menyakiti, dan pembatasan perilaku ekonomi yang menindas. Penutupnya menegaskan bahwa hidup disiplin di Kāśī adalah jalan dharma yang menyeluruh, dan Kāśī-sevā menjadi puncak pahala kebajikan.

107 verses

Adhyaya 41

Adhyaya 41

वनाश्रम–परिव्राजकधर्मः तथा षडङ्गयोग–प्राणायामविधिः (Forest-Dweller and Renunciant Ethics; Six-Limbed Yoga and Prāṇāyāma Method)

Bab ini memuat wejangan Skanda yang menata disiplin keagamaan pada āśrama ketiga dan keempat. Saat beralih dari gṛhastha ke vānaprastha, dianjurkan meninggalkan makanan “desa”, membatasi kepemilikan, tetap menjalankan pañca‑yajña, hidup tapa dengan sayur‑umbi‑buah, disertai cara praktis mengolah dan menyimpan makanan serta larangan atas bahan tertentu. Selanjutnya dijelaskan cita‑cita parivrājaka/yati: mengembara seorang diri, tanpa keterikatan, seimbang batin, menahan ucapan, berhati‑hati dalam ahiṃsā (termasuk batasan musiman), memakai perlengkapan minimal (menghindari bejana logam, cukup tongkat dan pakaian sederhana), serta peringatan terhadap jerat kenikmatan indria. Ajaran lalu beralih ke tujuan mokṣa: ātmajñāna dinyatakan penentu, yoga sebagai disiplin penunjang, dan abhyāsa (latihan berulang) sebagai kunci keberhasilan. Setelah menimbang berbagai definisi yoga, ditegaskan program mengekang pikiran dan indria serta menempatkan kesadaran pada kṣetrajña/Paramātman. Diuraikan ṣaḍaṅga‑yoga: āsana, prāṇasaṃrodha (prāṇāyāma), pratyāhāra, dhāraṇā, dhyāna, samādhi; berikut catatan tentang siddhāsana/padmāsana/svastika, lingkungan yang sesuai, takaran bertahap prāṇāyāma, bahaya latihan yang dipaksakan, tanda‑tanda nāḍī‑śuddhi, dan buah pengaturan yang disiplin. Penutup mengaitkan keteguhan yoga dengan lepasnya keterpaksaan ritual dan tercapainya pembebasan, serta menempatkan Kāśī sebagai tirtha yang sangat mudah mengantar pada kaivalya bila disertai metode yoga.

108 verses

Adhyaya 42

Adhyaya 42

कालचिह्नवर्णनम् (Signs of Approaching Death and the Turn to Kāśī)

Bab ini disusun sebagai dialog pengajaran: Agastya bertanya kepada Kumāra (Skanda) bagaimana mengetahui dekatnya ajal (kāla) dan tanda-tanda (cihna) apa yang tampak pada makhluk berjasad. Kumāra menguraikan tanda fisiologis dan perseptual—terutama pola aliran napas melalui lubang hidung, kekacauan indra, kekeringan dan perubahan warna tubuh, gangguan pada bayangan/pantulan, serta motif mimpi yang mengerikan—sering disertai perkiraan sisa umur dari hitungan hari hingga bulan. Sesudah itu pembahasan beralih dari pengamatan tanda menuju nasihat etis-teologis: waktu tak dapat “dikelabui”; karena itu hendaknya menempuh disiplin yoga dan pengendalian diri, atau berlindung pada Kāśī. Viśveśvara ditegaskan sebagai tempat perlindungan yang menentukan. Bagian akhir meneguhkan kemuliaan Kāśī: tinggal di Vārāṇasī, bersembahyang serta bersentuhan dan berdarśana kepada Viśveśvara, dan status kota sebagai penyeberang (tāraka) dikatakan melampaui ketakutan akan Kali, waktu, usia tua, dan noda dosa. Penutupnya mengingatkan bahwa jara (penuaan) adalah tanda utama kemunduran, dan menganjurkan secara praktis agar mencari Kāśī sebelum kelemahan membatasi laku dharma.

58 verses

Adhyaya 43

Adhyaya 43

दिवोदास-राज्यवर्णनम् तथा वैश्वानरमूर्त्यपसारणम् (Divodāsa’s Rule in Kāśī and the Withdrawal of the Vaiśvānara Form)

Agastya memohon kepada Skanda agar menjelaskan mengapa Trilocana (Śiva) meninggalkan Kāśī menuju Mandara, dan bagaimana Raja Divodāsa dapat memerintah. Skanda menuturkan: demi menghormati sabda Brahmā, Śiva berangkat ke Mandara; para dewa lain pun meninggalkan kedudukan suci masing-masing dan mengikuti-Nya. Setelah sidang-sidang ilahi pergi, pemerintahan Divodāsa tegak tanpa tandingan; ia menjadikan Vārāṇasī sebagai ibu kota yang mantap dan memerintah menurut prajā-dharma dengan keadilan. Bab ini melukiskan tatanan kota yang ideal: kewajiban varṇa-āśrama dijalankan, ilmu dan penghormatan kepada tamu berkembang, kejahatan serta pemerasan tidak tampak, dan kehidupan umum dipenuhi lantunan Weda serta bunyi musik yang suci. Para dewa tidak menemukan celah dalam kebijakan dan tata kelola raja (ṣāḍguṇya, caturupāya, dan sebagainya), lalu berkonsultasi dengan guru mereka dan memilih langkah tidak langsung. Indra memerintahkan Agni (Vaiśvānara) menarik kembali wujudnya yang telah “dipasang” dari wilayah raja; ketika Agni pergi, masak-ritual dan persembahan terganggu, dapur istana kehilangan api. Divodāsa memahami ini sebagai siasat ilahi—sebuah penegasan bahwa sistem sosial-ritual, sekalipun di bawah pemerintahan luhur, dapat diguncang oleh tekanan politik adimanusiawi.

100 verses

Adhyaya 44

Adhyaya 44

काशीवियोगज्वरः, मणिकर्णिकामाहात्म्यस्तुति, दिवोदासवियोजनार्थं योगिन्यादेशः (Kāśī-Viyoga Fever; Praise of Maṇikarṇikā; Commissioning the Yoginīs regarding Divodāsa)

Adhyaya 44 menyajikan kisah teologis dalam tiga gerak. (1) Skanda menggambarkan Śiva di kediaman bercahaya penuh permata, namun seakan terserang “demam karena berpisah dari Kāśī” (Kāśī-viyoga-ja jvara). Walau sebagai Nīlakaṇṭha Ia tak tersakiti oleh racun, Ia disebut “terpanaskan” oleh sinar bulan—sebuah paradoks yang menegaskan bahwa ini bukan sakit jasmani, melainkan cara naratif untuk meninggikan kemuliaan Kāśī sebagai pusat keselamatan. (2) Pārvatī menenangkan Śiva lalu memuji Kāśī, terutama Maṇikarṇikā—tiada alam yang menyamainya; di sana takut dan kelahiran kembali sirna; mokṣa mudah dicapai melalui wafat/pelepasan di Kāśī, bukan semata oleh tapa, ritual, atau ilmu. (3) Śiva menerima dorongan untuk kembali, tetapi terikat etika-dharma pemerintahan: Raja Divodāsa memerintah Kāśī dengan benar atas mandat Brahmā, sehingga Śiva enggan menyingkirkannya dengan paksa. Maka Ia menugasi para Yoginī memakai yogamāyā agar Divodāsa menjadi tidak betah dan memilih pergi sendiri; dengan demikian Vārāṇasī “diperbarui” tanpa melanggar dharma.

68 verses

Adhyaya 45

Adhyaya 45

योगिनीवृन्दप्रवेशः, नामजपफलम्, पूजाकालविधानम् (Yoginī Host’s Entry, Fruits of Name-Recitation, and Worship Timing)

Bab ini menggambarkan satu rangkaian teologi-ritual yang rapat. Skanda menceritakan rombongan Yoginī memasuki Kāśī secara tersembunyi oleh māyā, mengambil beragam peran sosial dan keahlian khusus agar dapat bergerak di rumah-rumah dan ruang publik tanpa terdeteksi; hal ini menegaskan kewaspadaan serta dinamika daya halus kota suci itu. Mereka bermusyawarah bahwa sekalipun tuan mereka murka, Kāśī tidak boleh ditinggalkan, sebab Kāśī adalah tumpuan empat tujuan hidup (puruṣārtha) dan medan śakti yang unik milik Śambhu. Selanjutnya, dalam tanya-jawab, Vyāsa menanyakan nama-nama Yoginī, buah bhajana mereka di Kāśī, waktu perayaan yang tepat, dan tata cara pemujaan. Skanda menjawab dengan daftar nama Yoginī sebagai litani pelindung, disertai janji phalaśruti: pembacaan nama tiga kali sehari menenangkan gangguan dan meniadakan derita yang dikaitkan dengan makhluk bermusuhan. Bagian akhir menguraikan rincian ritual—persembahan, dupa dan pelita, mahāpūjā pada musim gugur, rangkaian berpusat Navamī sejak Āśvina śukla pratipadā, ritus malam pada kṛṣṇa-pakṣa, hitungan homa dengan bahan tertentu, serta yātrā tahunan pada Citra-kṛṣṇa pratipadā untuk meredakan rintangan wilayah suci—dan ditutup dengan pernyataan bahwa penghormatan di Maṇikarṇikā melindungi dari segala halangan.

54 verses

Adhyaya 46

Adhyaya 46

लोळार्क-आदित्यप्रादुर्भावः (Manifestation and Glory of Lolārka Āditya at Asisaṃbheda)

Bab ini menuturkan bahwa setelah peristiwa yoginī, Sang Bhagavān menugaskan Dewa Surya (Aṃśumālī/Ravi) bergegas ke Vārāṇasī yang suci untuk mengamati apakah Raja Divodāsa—perwujudan dharma—dapat digoyahkan melalui pertentangan terhadap dharma. Ditegaskan bahwa mencela penguasa yang teguh dalam dharma menimbulkan dosa berat, dan bahwa nafsu seperti kāma, krodha, lobha, moha, matsara, serta ahaṃkāra tidak akan menang di Kāśī selama tekad dharma tetap mantap. Ravi, rindu melihat Kāśī, selama setahun menyamar dalam banyak rupa—pertapa, pengemis suci, pembaru ritual, pesulap, cendekia, perumah tangga, dan pelepas dunia—namun tidak menemukan cela moral sedikit pun di wilayah sang raja. Khawatir kembali tanpa menuntaskan tugas, ia merenungkan untuk menetap di Kāśī dan memuji keagungannya yang tiada banding, yang mampu menetralkan kekhilafan bagi siapa pun yang memasukinya. Lalu ia menegakkan kehadiran surya berlipat dua belas di Kāśī (dua belas Āditya), dengan penekanan pada ‘Lolārka’, dinamai demikian karena kerinduan yang menggelora (lola) untuk memandang Kāśī. Lolārka ditempatkan di Asisaṃbheda pada arah selatan. Dipaparkan tata laku ziarah: yātrā tahunan sekitar Mārgaśīrṣa—terutama pada tithi ke-6/7 dan hari Minggu—mandi suci di pertemuan Gaṅgā–Asi, tata cara śrāddha, serta berlipatnya buah dana dan ritus, khususnya saat gerhana matahari; semuanya dinyatakan melampaui pahala tīrtha yang termasyhur. Uraian ditutup dengan penegasan bahwa ini bukan sekadar pujian, melainkan kebenaran, serta penolakan terhadap cercaan skeptis dan pembatasan bagi mereka yang digambarkan memusuhi norma Weda.

68 verses

Adhyaya 47

Adhyaya 47

Uttarārka–Barkarīkuṇḍa Māhātmya (The Glory of Uttarārka and the Origin of Barkarī Kuṇḍa)

Bab ini memetakan sebuah tīrtha Surya di Kāśī: di arah utara terdapat telaga suci bernama Arkakuṇḍa, yang dipimpin oleh dewa bercahaya “Uttarārka”, pelindung Kāśī dan penghalau penderitaan. Skanda lalu menuturkan kisah asal-usulnya. Seorang brahmana bernama Priyavrata dari garis Ātreya, teladan dalam tata laku dan penghormatan kepada tamu, diliputi kecemasan besar mencari suami yang layak bagi putrinya yang berbudi dan terampil. Kecemasan itu menjelma menjadi ‘cintā-jvara’ (demam kekhawatiran) yang tak tersembuhkan hingga ia wafat. Istrinya, sesuai cita pativratā, mengikuti suaminya dalam kematian, meninggalkan sang putri sebagai yatim. Putri itu memegang brahmacarya dengan teguh dan melakukan tapas berat di dekat Uttarārka; setiap hari seekor kambing betina (ajā) hadir sebagai saksi sunyi. Śiva bersama Pārvatī menyaksikan keteguhan asketisnya; atas dorongan Sang Dewi, Śiva menawarkan anugerah. Sang gadis memohon rahmat bukan untuk dirinya terlebih dahulu, melainkan untuk kambing itu—teladan niat paropakāra. Para dewa memuji kebijaksanaan etisnya: timbunan harta tidak kekal, sedangkan perbuatan yang bermanfaat bagi sesama berbuah lestari. Pārvatī menganugerahkan bahwa gadis itu akan menjadi sahabat terkasihnya, berhias sifat-sifat ilahi; juga dinyatakan sebagai putri raja Kāśī yang akan menikmati kemakmuran duniawi dan mencapai pembebasan tertinggi. Bab ini menetapkan upacara tahunan di Arkakuṇḍa/Uttarārka pada bulan Puṣya, hari Minggu, dengan mandi pagi dalam keadaan batin tenang dan sejuk. Disebut pula tradisi penamaan: Arkakuṇḍa dikenal sebagai Barkarīkuṇḍa, dan citra sang gadis dipuja di sana. Penutupnya berupa phalaśruti: mendengar kisah ini—termasuk rangkaian Lolārka dan Uttarārka—mendatangkan bebas dari penyakit dan kemiskinan.

60 verses

Adhyaya 48

Adhyaya 48

Adhyāya 48: Sāmbasya Śāpaḥ, Vārāṇasī-yātrā, and the Māhātmya of Sāmbāditya and Sāmbakuṇḍa (Samba’s Curse and Solar Worship in Kāśī)

Bab ini disampaikan Skanda sebagai kisah bernuansa teologis tentang peristiwa di Dvārakā. Nārada datang ke kota yang gemilang dan dihormati oleh Śrī Kṛṣṇa; namun Sāmba, putra Kṛṣṇa yang congkak karena ketampanannya, tidak memberi hormat sebagaimana mestinya. Nārada kemudian melaporkan secara pribadi perilaku Sāmba beserta dampak sosial-etiknya—terutama bagaimana pesona masa muda mengguncang perhatian para wanita—sehingga Kṛṣṇa merenung. Ketika Sāmba dipanggil ke ruang dalam di tengah perhimpunan para wanita, Kṛṣṇa menjatuhkan kutuk: Sāmba ditimpa kuṣṭha (kusta), sebagai teguran dan pemurnian. Sesudah itu diajarkan jalan pemulihan: Kṛṣṇa memerintahkan Sāmba pergi ke Vārāṇasī (Kāśī), yang termasyhur mampu menghapus dosa dan menyucikan di bawah naungan Viśveśvara serta air tirtha yang suci. Di Kāśī, Sāmba memuja Dewa Surya (Aṃśumālī/Āditya), mendirikan/terkait dengan Sāmbakuṇḍa, dan melalui mandi suci serta pemujaan ia memperoleh kembali keadaan alaminya. Disebutkan pula tuntunan tirtha dan phalaśruti: mandi fajar di Sāmbakuṇḍa pada hari Minggu, pemujaan Sāmbāditya, dan laku pada Māgha-śukla-saptamī (Ravi-saptamī) memberi kelegaan dari penyakit, lenyapnya duka, dan kesejahteraan; penutupan beralih ke topik berikutnya, Draupadāditya.

56 verses

Adhyaya 49

Adhyaya 49

द्रौपदी-आदित्य-माहात्म्य तथा मयूखादित्य-गभस्तीश्वर-प्रतिष्ठा (Draupadī’s Āditya Māhātmya and the Mayūkhāditya–Gabhastīśvara Foundation Narrative)

Bab ini dibuka dengan narasi berlapis (Sūta–Vyāsa–Skanda) yang menafsirkan tokoh epik secara teologis: para Pāṇḍava dipandang sebagai perwujudan Rudra yang menegakkan kembali dharma, sementara Nārāyaṇa hadir sebagai Kṛṣṇa, penstabil etika. Dalam masa kesukaran, Draupadī berbhakti dengan tapa yang sungguh-sungguh kepada Sūrya (Bradhna/Savitr), lalu dianugerahi akṣaya-sthālikā, bejana yang tak habis, sebagai penawar kelangkaan pangan dan penopang kewajiban menjamu tamu. Berkat itu kemudian ditempatkan dalam geografi suci Kāśī: Sūrya menjanjikan anugerah bagi pemuja di selatan Viśveśvara—terbebas dari lapar dan derita, lenyapnya kegelapan duka, serta perlindungan dari takut, penyakit, dan perpisahan melalui bhakti dan darśana di Kāśī. Bagian kedua mengisahkan tapa berat Sūrya di tīrtha Pañcanada, termasuk pendirian liṅga Gabhastīśvara dan pemujaan kepada Dewi Maṅgalā/Gaurī. Śiva menampakkan diri, memuji tapa itu, menerima pujian berupa rangkaian stotra kepada Śiva dan stuti kepada Maṅgalā-Gaurī, lalu memberi ajaran: pembacaan aśṭaka “enam puluh empat nama” dan Maṅgalā-Gaurī aśṭaka menjadi laku penyucian yang menghapus dosa harian dan membuka jalan langka menuju Kāśī. Dijelaskan pula tata Maṅgalā-vrata (terutama pada Caitra śukla tṛtīyā): puasa, berjaga malam, pemujaan dengan persembahan, memberi makan gadis-gadis, homa, dan dana, yang berbuah kesejahteraan serta perlindungan dari kemalangan. Penutupnya menerangkan asal nama Mayūkhāditya, manfaat pemujaan—khususnya pada hari Minggu—untuk lenyapnya penyakit dan kemiskinan, serta phalaśruti bahwa mendengar kisah ini mencegah jatuh ke neraka.

96 verses

Adhyaya 50

Adhyaya 50

खखोल्कादित्य-प्रादुर्भावः (The Manifestation and Merit of Khakholka Āditya)

Adhyāya ini diawali dengan Skanda yang menyebut berbagai rupa Surya (Āditya) di Vārāṇasī, lalu memperkenalkan perwujudan khusus bernama Khakholka Āditya, yang dipuji sebagai penghapus derita dan gangguan. Sesudah itu kisah dihubungkan dengan episode purba Kadrū dan Vinatā: sebuah taruhan tentang rupa Uccaiḥśravas berujung tipu daya oleh putra-putra ular Kadrū, sehingga Vinatā jatuh dalam perbudakan. Garuḍa yang sedih melihat keadaan ibunya menanyakan syarat pembebasan; para nāga memerintahkannya memperoleh amṛta (sudhā). Vinatā kemudian menasihati Garuḍa tentang kebijaksanaan dharma—terutama cara menghindari melukai seorang brāhmaṇa di antara niṣāda, dengan tanda-tanda pengenal dan peringatan akan bahaya kekerasan yang salah. Perolehan amṛta oleh Garuḍa ditegaskan sebagai tindakan kewajiban demi pembebasan ibu, bukan demi keuntungan diri. Pada penutup, mitos itu dilokalkan kembali ke Kāśī: Śaṅkara dan Bhāskara digambarkan hadir dengan anugerah di sana. Phalāśruti menyatakan bahwa sekadar melihat Khakholka di tīrtha yang disebutkan memberi kelegaan cepat dari penyakit, tercapainya tujuan, serta penyucian melalui mendengar kisah ini.

106 verses

FAQs about Purva Ardha

It establishes a method for reading place as doctrine: sacred sites are presented as pedagogical terrains where devotion, ritual order, and liberation-claims are narrated through exemplary episodes and praises.

Merit is framed as arising from reverent approach—listening to the discourse, honoring sacred rivers and deities, and cultivating disciplined humility—rather than from mere physical travel alone.

Chapter 1 highlights an instructive episode involving Nārada and the Vindhya mountain, using dialogue and moral reflection to critique pride and to motivate refuge in the supreme deity (Viśveśa/Śiva).