Dvaraka Mahatmya
Prabhasa Khanda44 Adhyayas2276 Shlokas

Dvaraka Mahatmya

Dvaraka Mahatmya

This section is anchored in the western coastal-sacred geography associated with Dvārakā and its wider Yādava/Vaiṣṇava memory field, extending to Prabhāsa as an epic-afterlife locus. It uses the sea, submerged city motifs, and pilgrimage networks to connect Krishna-centric narrative history with tīrtha practice and ethical reflection in Kali-yuga.

Adhyayas in Dvaraka Mahatmya

44 chapters to explore.

Adhyaya 1

Adhyaya 1

कलियुगे विष्णुप्राप्त्युपायः — Seeking Viṣṇu in the Age of Kali

Bab ini dibuka oleh pertanyaan Śaunaka kepada Sūta: di Kali-yuga yang gaduh oleh perpecahan ajaran, bagaimana seorang pencari dapat mendekati Madhusūdana (Viṣṇu)? Sūta menjawab dengan merangkum riwayat turunnya Janārdana dan karya-karya-Nya: di Vraja menundukkan Pūtanā, Tṛṇāvarta, Kāliya, dan lainnya; lalu di Mathurā membinasakan Kuvalayāpīḍa serta para musuh kerajaan; kemudian kisah-kisah politik dan kurban suci, termasuk konflik dengan Jarāsandha dan konteks Rājasūya. Selanjutnya diceritakan kehancuran saling bunuh di antara kaum Yādava di Prabhāsa, penarikan diri Śrī Kṛṣṇa dari dunia, dan tenggelamnya Dvārakā oleh banjir samudra. Melihat kemerosotan ini, para resi penghuni hutan berkumpul, menilai merosotnya dharma serta longgarnya tatanan sosial-ritual, lalu memohon petunjuk kepada Brahmā. Brahmā mengakui keterbatasan dalam mengetahui wujud tertinggi Viṣṇu, dan mengarahkan para resi kepada Prahlāda di Sutala sebagai bhakta yang berwibawa untuk menunjukkan tempat dan jalan menuju Hari. Para resi pun tiba di Sutala, disambut oleh Bali dengan kehadiran Prahlāda, lalu memohon metode rahasia untuk mencapai Tuhan tanpa laku yang rumit—menjadi pengantar bagi ajaran berikutnya.

56 verses

Adhyaya 2

Adhyaya 2

द्वारकाक्षेत्रप्रशंसा तथा दुर्वासोपाख्यानम् | Praise of Dvārakā and the Durvāsā Episode

Bab ini dibuka dengan Prahlāda yang berbicara kepada para resi: Dvārakā/Dvārāvatī, kota suci di pesisir tepi Sungai Gomati, dipandang sebagai kediaman tertinggi Tuhan dan tujuan penyelamat pada Kali-yuga. Para resi lalu mengajukan pertanyaan teologis-sejarah: bila garis Yādava telah berakhir dan Dvārakā dikisahkan tenggelam, bagaimana mungkin kemuliaan Tuhan tetap diproklamasikan di sana pada zaman Kali? Kisah beralih ke istana Ugrasena. Datang kabar bahwa resi Durvāsā tinggal dekat Gomati di Cakratīrtha. Kṛṣṇa bersama Rukmiṇī pergi menyambutnya, menegaskan bahwa penghormatan kepada tamu adalah kewajiban dharma yang mengikat dan berbuah secara ritual. Durvāsā menanyai Kṛṣṇa tentang luas kota, rumah tangga, dan para tanggungan; Kṛṣṇa menggambarkan wilayah yang dianugerahkan laut, istana-istana keemasan, serta tatanan keluarga dan rombongan pelayan yang amat besar, sehingga tampaklah keajaiban māyā ilahi dan daya tanpa batas. Durvāsā kemudian memberi ujian kerendahan hati: Kṛṣṇa dan Rukmiṇī harus mengangkutnya dengan kereta. Dalam perjalanan, Rukmiṇī yang kehausan minum air tanpa meminta izin Durvāsā; ia pun mengutuknya dengan dahaga abadi dan perpisahan dari Kṛṣṇa. Kṛṣṇa menenangkan Rukmiṇī dengan ajaran tentang kehadiran yang dimediasi—melihat Kṛṣṇa di sana berarti juga menyadari Rukmiṇī—serta menekankan kewaspadaan dalam bhakti. Bab ditutup dengan Kṛṣṇa menenteramkan Durvāsā melalui tata cara jamuan suci: membasuh kaki, mempersembahkan arghya, hadiah sapi, madhuparka, dan menjamu makan, sebagai teladan etika penerimaan tamu.

56 verses

Adhyaya 3

Adhyaya 3

Durvāsā-śāpa, Rukmiṇī-vilāpa, and the Sanctification of Rukmiṇī-vana (दुर्वासशाप-रुक्मिणीविलाप-रुक्मिणीवनमाहात्म्य)

Bab ini menampilkan kekaguman para ṛṣi atas kesabaran Śrī Kṛṣṇa dan daya kebenaran ucapan seorang resi. Prahlāda menuturkan bahwa Rukmiṇī, meski tak bersalah, menderita akibat kutukan Durvāsā; ia meratap karena perpisahan dan mempertanyakan keadilan kutukan itu hingga jatuh pingsan. Samudra (Dewa Laut) datang menyegarkannya, sementara Nārada menasihati keteguhan hati: Kṛṣṇa dan Rukmiṇī adalah prinsip yang tak terpisahkan—Puruṣottama dan Śakti/Māyā—dan “perpisahan” yang tampak hanyalah selubung lila demi pengajaran bagi dunia. Samudra meneguhkan ajaran Nārada, memuji kemuliaan Rukmiṇī, serta mengumumkan kedatangan Bhāgīrathī (Gaṅgā). Kehadiran Gaṅgā memperindah dan menyucikan wilayah itu; terbentuklah rimba suci Rukmiṇī-vana yang menarik penduduk Dvārakā. Namun Durvāsā, melihat hasil yang menyenangkan, kembali murka dan memperkeras dampak kutukannya pada tanah dan perairan. Rukmiṇī yang putus asa berniat mengakhiri hidup, tetapi Kṛṣṇa segera datang mencegahnya dan mengajarkan non-dualitas serta batas kuasa kutukan terhadap Yang Ilahi. Durvāsā menyesal dan memohon ampun; Kṛṣṇa menjaga kehormatan kata-kata resi sambil menetapkan jalan damai. Penutupnya berupa pahala: mandi di pertemuan air pada bulan baru/purnama menghapus duka, dan memandang Rukmiṇī pada hari-hari lunar tertentu menganugerahkan tujuan yang diinginkan, meneguhkan tempat itu sebagai tīrtha penyembuh penderitaan.

84 verses

Adhyaya 4

Adhyaya 4

Varadāna-tīrtha and Dvārakā-yātrā: Pilgrimage Ethics, Gomati-saṅgama, and Cakratīrtha Phala

Bab ini disampaikan oleh Sūta sebagai ajaran Prahlāda tentang “ekonomi pahala” suci di Dvārakā. Pembukaannya menuturkan pertukaran anugerah antara Śrī Kṛṣṇa dan resi Durvāsā yang melahirkan Varadāna-tīrtha, “tempat pemberian berkah”; kemujarabannya dikaitkan dengan mandi suci di pertemuan Sungai Gomati dan samudra serta pemujaan kepada keduanya. Selanjutnya bab ini menjadi pedoman etika ziarah: niat (saṅkalpa) untuk berangkat ke Dvārakā sudah bernilai pahala; setiap langkah menuju kota disamakan dengan buah yajña agung. Menolong peziarah—memberi tempat singgah, tutur kata lembut, makanan, kendaraan, alas kaki, wadah air, dan perawatan kaki—dipuji sebagai pelayanan bhakti yang tinggi; sebaliknya menghalangi peziarah dikecam dengan akibat buruk yang tegas. Dalam bingkai ajaran Bṛhaspati kepada Indra tentang kemerosotan Kali-yuga, ditegaskan bahwa Dvārakā adalah perlindungan yang bebas dari noda Kali. Tīrtha-tīrtha utama—terutama Cakratīrtha, snāna di Gomati, dan Rukmiṇī-hrada—disebut mampu memberi pembebasan; bahkan sentuhan yang tak disengaja pun mengangkat diri dan garis keturunan. Bab ditutup dengan tata krama memasuki wilayah suci: menghormati Gaṇeśa, bersujud penuh (praṇāma), dan masuk dengan hormat, sehingga ziarah Dvārakā tampak sebagai paduan bhakti, etika sosial, dan ketelitian ritual.

109 verses

Adhyaya 5

Adhyaya 5

गोमती-प्रादुर्भावः तथा चक्रतीर्थ-माहात्म्यम् (Origin of the Gomati and the Glory of Chakratirtha)

Dalam adhyāya ini, Prahlāda menuntun para peziarah “terbaik di antara kaum dwija” menuju Tīrtha Gomati. Ia menyatakan bahwa darśana atas Gomati menyucikan, dan airnya layak dipuja—menghancurkan dosa serta menganugerahkan tujuan-tujuan yang mulia. Para ṛṣi lalu bertanya: apakah Gomati itu, siapa yang membawanya, dan untuk maksud apa ia mencapai kediaman Varuṇa, yakni samudra? Prahlāda menjawab dengan kisah kosmogonis: sesudah pralaya, Brahmā bangkit dari padma di pusar Viṣṇu dan memulai penciptaan. Putra-putra lahir-pikiran seperti Sanaka menolak penciptaan berketurunan, memilih tapa demi darśana wujud Ilahi; di dekat penguasa sungai mereka menyaksikan Sudarśana yang bercahaya. Suara tanpa wujud memerintahkan mereka menyiapkan arghya dan memuja senjata ilahi itu; para resi memuji Sudarśana dengan himne penghormatan. Brahmā kemudian menugaskan Gaṅgā turun ke bumi demi maksud Hari: ia akan dikenal sebagai Gomati, mengikuti Vasiṣṭha, dan dalam ingatan rakyat termasyhur sebagai “putri” beliau. Saat Vasiṣṭha menuju samudra barat dan Gaṅgā mengikut, orang-orang memuliakannya; di tempat para resi, Viṣṇu menampakkan diri bertangan empat, menerima pemujaan, dan menganugerahkan anugerah. Viṣṇu menamai tempat itu Cakratīrtha karena Sudarśana pertama kali muncul di sana dengan membelah air; bahkan mandi tanpa sengaja pun memberi pembebasan. Setelah membasuh kaki Hari, Gomati memasuki samudra dan menjadi sungai agung penghancur dosa, juga dikenang sebagai “Gaṅgā terdahulu” dalam tradisi.

48 verses

Adhyaya 6

Adhyaya 6

गोमतीतीर्थविधानम् (Gomatī Tīrtha: Ritual Procedure and Vow-Observances)

Bab ini berbentuk tanya-jawab: para resi memuji Prahlāda dan memohon tata cara tirthayātrā di tempat aliran Sungai Gomatī, dekat Cakratīrtha, tempat kehadiran Bhagavān dibayangkan. Prahlāda menguraikan langkah-langkahnya: mendekati sungai dan bersujud, bersuci dan ber-ācamana, memegang kuśa, lalu mempersembahkan arghya dengan mantra yang memuji Gomatī sebagai putri Vasiṣṭha dan penghapus dosa. Sesudah itu, tanah suci (mṛttikā) dioleskan dengan mantra yang mengaitkan bumi dengan karya kosmis Viṣṇu (pengangkatan bumi oleh Varāha) sambil memohon lenyapnya kesalahan lampau; kemudian mandi sesuai aturan dengan bacaan mantra mandi bergaya Weda, dan dilanjutkan tarpaṇa bagi para dewa, leluhur, serta manusia. Selanjutnya dijelaskan protokol śrāddha: mengundang brāhmaṇa yang menguasai Weda, memuja Viśvedevā, melaksanakan śrāddha dengan śraddhā, serta memberi dakṣiṇā berupa emas/perak, pakaian, perhiasan, biji-bijian, dan sedekah tambahan bagi yang papa. Ditekankan pula “lima ga-kāra” yang langka: Gomatī, gomaya-snāna (mandi dengan sarana kotoran sapi), go-dāna, gopīcandana, dan darśana Gopīnātha. Bab ini juga menetapkan laku bulanan: pada Kārttika dilakukan mandi dan pemujaan harian, berpuncak pada ritus hari Bodha—pañcāmṛta abhiṣeka, hiasan cendana, persembahan tulasī dan bunga, nyanyian/pembacaan, berjaga malam, menjamu brāhmaṇa, pemujaan ratha, dan penutupan di pertemuan Gomatī dengan samudra. Pada Māgha ditetapkan mandi dengan persembahan teratur (til, hiraṇya), homa harian, serta derma penutup berupa pakaian hangat, alas kaki, dan lainnya. Phalaśruti menyamakan buahnya dengan Kurukṣetra, Prayāga, śrāddha di Gayā, bahkan hasil Aśvamedha; menegaskan penyucian dosa berat, manfaat bagi leluhur, dan pencapaian Viṣṇuloka hanya dengan mandi dekat Kṛṣṇa.

58 verses

Adhyaya 7

Adhyaya 7

Cakratīrtha-māhātmya (Theological Discourse on the Glory of Cakra Tīrtha)

Bab ini memuat tuntunan Prahlāda kepada para peziarah terpelajar (dvija-śreṣṭha) mengenai Cakra-tīrtha/Rathāṅga di tepi samudra. Batu-batu bertanda cakra dipuji sebagai sarana menuju pembebasan, dan kesucian tīrtha diteguhkan melalui kaitannya dengan darśana Bhagavān Śrī Kṛṣṇa, sehingga ia dinyatakan sebagai tempat utama penghancur dosa. Tata cara ziarah dijelaskan: peziarah mendekat, membasuh kaki-tangan-mulut, bersujud hormat, menyiapkan arghya dengan pañca-ratna serta bahan-bahan suci seperti bunga, akṣata, wewangian, buah, emas, dan cendana, lalu melafalkan mantra yang berpusat pada cakra Viṣṇu. Sesudah itu dilakukan mandi suci disertai ingatan kepada para dewa dan prinsip kosmis, pemakaian tanah liat suci, tarpaṇa bagi leluhur dan para dewa, kemudian śrāddha. Bagian phalāśruti menegaskan bahwa sekadar mandi di sini menyamai pahala yajña agung dan ziarah termasyhur seperti Prayāga. Dianjurkan pula dāna—terutama bahan pangan, kendaraan/hewan, dan persembahan terkait ratha—sebagai hal yang menyenangkan Jagatpati; akhirnya disebutkan pengangkatan para leluhur dalam berbagai keadaan, kedekatan dengan Viṣṇu, serta lenyapnya dosa dari ucapan, perbuatan, dan pikiran.

29 verses

Adhyaya 8

Adhyaya 8

गोमत्युदधिसंगम-माहात्म्य एवं चक्रतीर्थ-प्रशंसा (Glory of the Gomati–Ocean Confluence and Cakra-tīrtha)

Dalam adhyaya ini, Prahlāda menasihati para dvija agar tidak mengejar tirtha sungai-sungai terkenal lainnya, melainkan datang ke pertemuan Sungai Gomati dengan samudra, sebab pahala snāna, dāna, dan upacara di sini dinyatakan paling unggul. Kemuliaan sangam sebagai pemusnah dosa dipuji, lalu diajarkan tata cara mempersembahkan arghya kepada penguasa samudra dan kepada Dewi Sungai Gomati dengan ucapan bhakti yang telah ditentukan. Diuraikan pula aturan arah saat mandi suci, kemudian tarpaṇa dan śrāddha bagi leluhur, penekanan pada dakṣiṇā, serta anjuran sedekah istimewa—terutama emas. Selanjutnya dipaparkan berbagai bentuk dāna seperti tulāpuruṣa, pemberian tanah, kanyā-dāna, vidyā-dāna, dan dāna simbolik ‘dhenu’, beserta hasil yang dijanjikan. Waktu-waktu penguat pahala, khususnya amāvāsyā pada śrāddha-pakṣa, disebutkan; bahkan śrāddha yang kurang sempurna pun menjadi lengkap di tempat ini. Mereka yang berada dalam beragam keadaan pascakematian pun dikatakan memperoleh pelepasan melalui snāna. Penutupnya menampilkan teologi Cakra-tīrtha: batu-batu bertanda cakra dengan ragam 1–12, buah bhukti dan mukti yang terkait, serta jaminan penyucian dan pembebasan melalui darśana, sparśa, dan mengingat Hari pada saat ajal.

74 verses

Adhyaya 9

Adhyaya 9

रुक्मिणीह्रद-माहात्म्य (Rukmiṇī Hrada: Glory of the Sacred Lake and Prescribed Rites)

Bab ini, dalam bingkai ajaran Prahlāda, mengarahkan para peziarah untuk mendatangi perairan suci yang termasyhur, termasuk ‘tujuh kuṇḍa’, yang dikatakan menghapus noda dosa serta menumbuhkan kemakmuran dan kejernihan budi. Dikenang pula suatu penampakan ilahi: Hari menampakkan diri; para resi memuji-Nya bersama Lakṣmī; lalu dilakukan pemujaan dengan air ‘suragaṅgā’. Para resi kelahiran Brahmā seperti Sanaka dan lainnya disebut membentuk kolam-kolam tersendiri dan melakukan pemandian suci bagi sang Dewi; perairan itu dikenal sebagai Lakṣmī-hrada, dan dalam putaran zaman kemudian, pada Kali-yuga, masyhur sebagai Rukmiṇī-hrada, dengan ingatan nama tīrtha lain yang terkait Bhṛgu. Selanjutnya dipaparkan tata cara ritual: datang dalam kesucian, membasuh kaki, melakukan ācamana, mengambil rumput kuśa, menghadap timur, menyiapkan arghya lengkap dengan buah, bunga, dan akṣata, meletakkan perak di kepala, melafalkan formula persembahan kepada Rukmiṇī-hrada demi pemusnahan dosa dan menyenangkan Rukmiṇī, lalu mandi suci (snāna). Seusai mandi, dianjurkan tarpaṇa bagi para dewa, manusia, dan terutama leluhur; kemudian śrāddha dengan Brahmana yang diundang, dakṣiṇā berupa perak dan emas, sedekah buah-buahan berair, memberi santapan manis kepada pasangan, serta menghormati perempuan Brahmana dan perempuan lainnya sesuai kemampuan dengan busana (termasuk kain merah). Buah ajarannya: terpenuhinya keinginan, mencapai alam Viṣṇu, Lakṣmī senantiasa bersemayam di rumah, kesehatan dan kepuasan batin, bebas dari kegelisahan, leluhur tenteram berkelanjutan, keturunan mantap, umur panjang, kekayaan, tanpa permusuhan dan duka, serta terbebas dari pengembaraan saṃsāra yang berulang.

20 verses

Adhyaya 10

Adhyaya 10

नृगतीर्थ–कृकलासशापमोचनम् (Nṛga Tīrtha and the Release from the Lizard-Curse)

Bab ini menyajikan legenda tirtha dalam bentuk dialog. Prahlāda menjelaskan tempat ziarah unggul bernama Kṛkalāsa/Nṛga-tīrtha di wilayah Prabhāsa, lalu menuturkan riwayat Raja Nṛga, penguasa kuat yang berpegang pada dharma dan setiap hari melakukan go-dāna (sedekah sapi) kepada para brāhmaṇa dengan upacara penghormatan. Perselisihan muncul ketika seekor sapi yang telah didanakan kepada resi Jaimini lepas, lalu kemudian didanakan lagi kepada brāhmaṇa lain, Somaśarman; karena raja tidak segera memberi keputusan yang adil, kedua brāhmaṇa yang tersinggung menjatuhkan kutuk: Nṛga akan menjadi kṛkalāsa (kadal). Sesudah wafat, Yama memberi Nṛga pilihan urutan menikmati buah perbuatan; akibat kesalahan kecil itu, Nṛga harus berwujud kadal selama bertahun-tahun. Menjelang akhir Dvāpara, Śrī Kṛṣṇa putra Devakī hadir; para pangeran Yadu menemukan kadal yang tak bergerak di sebuah perairan, dan dengan sentuhan Kṛṣṇa Nṛga terbebas dari kutuk. Nṛga memuji Bhagavān dan memohon anugerah agar sumur/kolam itu termasyhur dengan namanya, serta siapa pun yang mandi dengan bhakti dan melakukan tarpaṇa serta śrāddha di sana memperoleh Viṣṇuloka. Di akhir, dijelaskan tata cara: mempersembahkan arghya dengan bunga dan cendana, mandi dengan tanah liat, melakukan tarpaṇa bagi leluhur/dewa/manusia, melaksanakan śrāddha dengan jamuan dan dakṣiṇā. Dianjurkan terutama berdana sapi berhias beserta anaknya dan berdana ranjang beserta perlengkapannya, serta tetap berderma kepada kaum papa setempat—dengan janji buah tirtha yang luas dan perjalanan yang berhasil.

67 verses

Adhyaya 11

Adhyaya 11

विष्णुपदोद्भवतीर्थ-माहात्म्य (Glory of the Tīrtha Originating from Viṣṇu’s Footprint)

Bab ini memuat ajaran Prahlāda kepada para brāhmaṇa terpelajar tentang cara mendatangi tīrtha yang disebut ‘Viṣṇupadodbhava’. Ia adalah sumber air suci yang terkait jejak telapak kaki Viṣṇu dan disamakan dengan tradisi Gaṅgā/Vaiṣṇavī; bahkan memandangnya saja memberi pahala setara mandi di Gaṅgā. Asal-usulnya diingat dan dipuji; mengingat serta melantunkan kemuliaannya disebut menghancurkan dosa dan cela. Selanjutnya dipaparkan urutan laku: mempersembahkan arghya dengan salam hormat kepada dewi sungai, lalu mandi dengan disiplin menghadap timur sambil mengoleskan tanah suci tīrtha. Setelah itu dilakukan tarpaṇa bagi para deva, pitṛ, dan manusia dengan tila dan akṣata; mengundang brāhmaṇa dan melaksanakan śrāddha sesuai aturan disertai dakṣiṇā (emas/perak), serta bersedekah kepada yang miskin dan menderita. Diajarkan pula pemberian praktis seperti alas kaki, kendi air, nasi-beras dengan dadih asin (dengan sayur hijau dan jintan), serta persembahan kain yang dikaitkan dengan Rukmiṇī, ditutup dengan niat bhakti agar Viṣṇu berkenan. Pada phalaśruti ditegaskan: pelaku menjadi ‘kṛtakṛtya’; para leluhur memperoleh kepuasan panjang laksana Gayā-śrāddha dan mencapai alam Vaiṣṇava. Sang bhakta meraih kemakmuran dan anugerah ilahi; bahkan mendengar bab ini saja dikatakan membebaskan dari dosa.

16 verses

Adhyaya 12

Adhyaya 12

गोप्रचारतीर्थ-मयसरः-माहात्म्यं तथा श्रावणशुक्लद्वादशी-स्नानविधिः (Goprachāra Tīrtha and Maya-sarovara: Glory and the Śrāvaṇa Śukla Dvādaśī Bathing Rite)

Bab ini menampilkan uraian bertingkat: Prahlāda memperkenalkan tīrtha bernama Goprachāra, tempat mandi suci dengan bhakti memberi pahala setara buah go-dāna (sedekah sapi). Para ṛṣi memohon kisah asal-usul serta identitas tepat tīrtha tempat Jagannātha dahulu mandi. Prahlāda lalu menuturkan suasana pasca terbunuhnya Kaṁsa: pemerintahan Kṛṣṇa tegak, Uddhava diutus ke Gokula, bertemu Yaśodā dan Nanda, lalu para gopī Vraja meratap dalam rindu dan menguji sang utusan; Uddhava menenangkan mereka dan menegaskan keluhuran bhakti mereka. Kisah beralih ke sekitar Dvārakā, ke Māyā-sarovara yang disebut dibangun oleh daitya terkenal, Māyā. Saat Kṛṣṇa datang, para gopī pingsan dan menuduh beliau meninggalkan mereka; Kṛṣṇa menjawab dengan ajaran tentang kehadiran Ilahi yang meresapi segalanya dan sebab-musabab kosmis, sehingga perpisahan dipahami bukan sebagai keterputusan mutlak. Akhirnya Kṛṣṇa menetapkan tata cara snāna dan śrāddha pada bulan Śrāvaṇa, paruh terang, hari Dvādaśī: mandi dengan bhakti, mempersembahkan arghya dengan kuśa dan buah disertai mantra arghya, melaksanakan śrāddha dengan dakṣiṇā serta dana—termasuk pāyasa dengan gula, mentega, ghee, payung, selimut, kulit rusa. Phalaśruti menjanjikan pahala setara mandi di Gaṅgā, pencapaian Viṣṇuloka, pembebasan leluhur hingga tiga garis keturunan, kemakmuran, dan akhirnya mencapai kediaman Hari.

79 verses

Adhyaya 13

Adhyaya 13

Gopī-saras-udbhavaḥ (Origin and Merit of Gopī-saras) / गोपीसर-उद्भवः

Adhyaya 13 disampaikan dalam bentuk dialog teologis melalui penuturan Prahlāda. Setelah mendengar sabda Śrī Kṛṣṇa, para gopī mandi di telaga lama yang terkait dengan Māyā dan mengalami puncak penghayatan bhakti. Mereka memohon kepada Kṛṣṇa agar diciptakan sebuah saraḥ (telaga) yang lebih utama, serta ditetapkan suatu laku tahunan beraturan supaya mereka memperoleh akses yang langgeng kepada kehadiran-Nya. Kṛṣṇa lalu mewujudkan telaga baru yang indah di dekat telaga semula—airnya jernih dan dalam, dipenuhi teratai dan burung-burung, serta dihadiri para ṛṣi, siddha, dan masyarakat Yadu. Penamaan pun dijelaskan: karena terkait para gopī, ia dikenal sebagai Gopī-saras; dan dengan pertalian makna kata “go” serta kebersamaan hubungan, disebut pula “Gopra-cāra”. Selanjutnya bab ini beralih pada tuntunan ritual: persembahan arghya dengan mantra tertentu, mandi suci, tarpaṇa bagi leluhur dan para dewa, śrāddha, serta dāna bertahap—termasuk sedekah sapi, pakaian, perhiasan, dan bantuan bagi yang membutuhkan. Dalam phalaśruti ditegaskan bahwa pahala mandi di sana setara dengan derma besar, menjanjikan terpenuhinya keinginan (termasuk keturunan), penyucian diri, dan tujuan alam yang luhur. Kisah ditutup dengan para gopī berpamitan, dan Śrī Kṛṣṇa kembali ke dhāma-Nya bersama Uddhava.

46 verses

Adhyaya 14

Adhyaya 14

ब्रह्मकुण्डादि-तीर्थप्रतिष्ठा तथा पञ्चनद-माहात्म्य (Brahmakūṇḍa and Associated Tīrtha Installations; Pañcanada Māhātmya)

Prahlāda menasihati para brāhmaṇa dan menyebutkan tīrtha-tīrtha yang terkait dengan Dvārakā, disertai petunjuk ringkas tentang snāna, tarpaṇa, śrāddha, dan dāna. Setelah Kṛṣṇa tiba di Dvārakā bersama kaum Vṛṣṇi, Brahmā beserta para deva datang untuk darśana dan menuntaskan tujuan mereka. Brahmā lalu menegakkan Brahmakūṇḍa yang suci, membawa keberuntungan dan menghapus dosa, serta menempatkan kehadiran Surya di tepinya; karena keutamaan Brahmā, tempat ini disebut pula mūla-sthāna. Selanjutnya Candra menciptakan kolam pemusnah dosa. Indra mendirikan liṅga yang penuh daya dan memasyhurkan Indrapada/Indreśvara, sekaligus menetapkan waktu-waktu pemujaan seperti Śivarātri dan peralihan Surya (saṅkrānti). Śiva membentuk Mahādeva-saraḥ dan Pārvatī membentuk Gaurī-saraḥ, yang buahnya dikaitkan dengan kesejahteraan perempuan dan kemujuran rumah tangga. Varuṇa dan Kubera (Dhan-eśa) menegakkan saraḥ lainnya—Varuṇapada dan Yakṣādhipa-saraḥ—yang terkait dengan śrāddha, persembahan, dan pemberian. Puncaknya adalah tīrtha Pañcanada: lima sungai dipanggil bersama para ṛṣi, sebuah mantra arghya diberikan, dan tata laksana snāna, tarpaṇa, śrāddha, serta dāna ditetapkan. Phala-śruti menjanjikan kemakmuran, pencapaian Viṣṇuloka, dan pengangkatan para leluhur; penutupnya menegaskan bahwa mendengarkan kisah ini saja membawa penyucian dan pencapaian tertinggi.

57 verses

Adhyaya 15

Adhyaya 15

Siddheśvara–Ṛṣitīrtha Māhātmya (Installation of Siddheśvara and the Glory of Ṛṣitīrtha)

Bab ini menyajikan rangkaian teologi-ritual dalam bentuk dialog dan peneguhan kesakralan. Prahlāda menuturkan bahwa Brahmā datang dan dimuliakan oleh Sanaka serta para resi lainnya; Brahmā memberkahi mereka, mengakui keberhasilan bhakti mereka, namun mengingatkan adanya keterbatasan dahulu karena pemahaman yang belum matang. Lalu ditegaskan ajaran pokok: pemujaan kepada Kṛṣṇa tidak dianggap sempurna bila Nīlakaṇṭha (Śiva) tidak dihormati; karena itu Śiva hendaknya dipuja dengan segenap upaya, dan pemujaan itu menyempurnakan laku bhakti. Para resi yang telah mencapai yoga-siddhi menuju depan kuil, menegakkan (mempratiṣṭhākan) sebuah Śiva-liṅga, serta membuat sebuah sumur untuk mandi suci; airnya dipuji bening dan laksana amṛta. Brahmā kemudian menganugerahkan nama dan kewibawaan di hadapan umum: liṅga itu disebut “Siddheśvara” dan sumur itu “Ṛṣitīrtha”. Dinyatakan bahwa mandi dengan devosi saja dapat membebaskan seseorang beserta para leluhur; juga menyucikan cela moral seperti dusta dan kebiasaan memfitnah. Waktu-waktu utama untuk mandi disebutkan—masa ekuinoks, perayaan manv-ādi, awal Kṛtayuga, bulan Māgha—dan observansi Śivarātri di Siddheśvara dipuji sebagai sangat berdaya guna. Bab ini juga memberi etika-prosedural: mempersembahkan arghya, mengenakan abu suci, mandi dengan perhatian, melakukan tarpaṇa bagi leluhur/dewa/manusia, melaksanakan śrāddha, memberi dakṣiṇā tanpa tipu daya, serta berdana biji-bijian, pakaian, wewangian, dan lainnya. Buahnya digambarkan sosial sekaligus soteriologis: kepuasan leluhur, kemakmuran, keturunan, lenyapnya dosa, bertambahnya kebajikan, tercapainya tujuan, dan akhirnya tujuan luhur bagi pendengar yang beriman.

29 verses

Adhyaya 16

Adhyaya 16

Tīrtha-Parikramā of Dvārakā: Hidden and Manifest Pilgrimage Waters (गदातीर्थादि-तीर्थवर्णनम्)

Dalam adhyaya ini, Prahlāda memberi petunjuk ziarah kepada para brāhmaṇa terpelajar: urutan tīrtha di sekitar Dvārakā, tata-ritualnya, serta phalaśruti (buah kebajikan) masing‑masing. Ia memulai dari Gadātīrtha—mandi suci dengan bhakti, melakukan tarpaṇa bagi leluhur dan para dewa, serta memuja Viṣṇu berwujud Varāha—yang berbuah kenaikan ke Viṣṇuloka. Lalu disebut Nāgatīrtha, Bhadratīrtha, dan Citrātīrtha dengan pahala setara sedekah tilā‑dhenu dan ghṛta‑dhenu; juga dijelaskan bahwa banjir Dvārāvatī membuat banyak tīrtha menjadi tersembunyi. Di Candrabhāgā, mandi suci memusnahkan dosa dan setara buah yajña Vājapeya. Diceritakan pula Dewi Kauṁārikā/Yaśodā‑nandinī; darśana beliau menganugerahkan tujuan yang diinginkan. Mahīṣa‑tīrtha dan Muktidvāra dipaparkan sebagai ambang penyucian. Kemuliaan sungai Gomati dihubungkan dengan Vasiṣṭha dan ranah Varuṇa, memberi pahala setara Aśvamedha; tapa Bhṛgu dan penetapan Ambikā menambah nuansa Śākta‑Śaiva, disertai sebutan berbagai liṅga. Selanjutnya Kālindī‑saras, Sāmbatīrtha, Śāṅkara‑tīrtha, Nāgasara, Lakṣmī‑nadī, Kambu‑saras, Kuśatīrtha, Dyumnatīrtha, Jālatīrtha (beserta Jāleśvara), Cakrasvāmi‑sutīrtha, tīrtha buatan Jaratkāru, dan Khañjanaka tīrtha diuraikan dengan laku snāna, tarpaṇa, śrāddha, dan dāna, serta tujuan seperti Nāgaloka, Śivaloka, Viṣṇuloka, dan Somaloka. Penutupnya menegaskan daftar ini sebagai tīrtha‑vistara ringkas bagi zaman Kali, dan mendengarkannya dengan bhakti pun menjadi tindakan penyuci yang menuntun ke Viṣṇuloka.

46 verses

Adhyaya 17

Adhyaya 17

Dvārakā-dvārapāla-pūjākramaḥ (Ritual Sequence of Dvārakā’s Gate-Guardians and the Approach to Kṛṣṇa)

Bab ini menampilkan dialog prosedural: Prahlāda menjelaskan tata urutan pemujaan di Dvārakā pada Kali Yuga. Setelah mandi suci di tīrtha dan memberikan daksinā/dana yang layak, seorang bhakta terlebih dahulu memberi hormat dan melakukan pemujaan pada para penjaga di ambang-ambang gerbang kota, barulah mendekat kepada Devakīnandana, Śrī Kṛṣṇa. Para ṛṣi memohon vidhi yang ringkas namun lengkap, serta menanyakan siapa penjaga di tiap arah, dan siapa yang berdiri di depan serta di belakang. Prahlāda lalu menguraikan para penjaga: dimulai dari gerbang timur di bawah pimpinan Jayanta, kemudian pelindung arah tenggara, selatan, barat daya (nairṛti), barat, barat laut (vāyavya), utara, dan timur laut (aiśānya). Setiap arah diisi makhluk suci dan gaib—deva, vināyaka, rākṣasa, nāga, gandharva, apsaras, dan ṛṣi—serta disertai ‘pohon kerajaan’ seperti nyagrodha, śāla, aśvattha, dan plakṣa, membentuk peta ritual perlindungan yang utuh. Selanjutnya dibahas kejanggalan: mengapa Gaṇeśa bernama ‘Rukmi’ dipuja pertama di gerbang Kṛṣṇa, padahal Rukmī pernah memusuhi Kṛṣṇa dalam kisah Rukmiṇī. Prahlāda menerangkan bahwa setelah konflik itu Rukmī dipermalukan namun kemudian dilepaskan; demi menenteramkan hati Rukmiṇī dan menegakkan prinsip penyingkir rintangan, Śrī Kṛṣṇa menetapkannya sebagai wujud Gaṇeśa utama yang terkait dengan gerbang. Penutup bab menegaskan kaidah sebab-akibat ritual: kepuasan sang penjaga gerbang (Gaṇeśa/Rukmi) menjadi prasyarat bagi kepuasan Tuhan, sehingga etika dan hierarki liturgi di dalam tata krama kuil ditegakkan.

56 verses

Adhyaya 18

Adhyaya 18

त्रिविक्रम-दर्शन-समफलत्व-प्रशंसा तथा दुर्वाससो मुक्तितीर्थ-प्रसङ्गः (Trivikrama Darśana and the Durvāsā at the Mokṣa-Tīrtha Episode)

Dalam adhyaya ini, Prahlāda mula-mula menyebut objek-objek pemujaan dengan bhakti: Gaṇanātha, Rukmiṇī serta wujud-wujud ilahi yang terkait Rukmī, Durvāsā, Śrī Kṛṣṇa, dan Balabhadra. Lalu ia menegaskan prinsip penilaian: pahala mahāyajña dengan daksina lengkap, pembangunan sumur dan kolam, sedekah harian sapi–tanah–emas, prāṇāyāma disertai japa dan dhyāna, serta mandi suci di tīrtha agung seperti Jāhnavī—semuanya berulang kali dinyatakan setara buahnya dengan satu tindakan saja, yakni darśana kepada Devīśa Śrī Kṛṣṇa. Para ṛṣi kemudian bertanya tentang bagaimana Trivikrama menampakkan diri di bumi, bagaimana ‘rupa Trivikrama’ dikaitkan dengan Kṛṣṇa, serta kisah keterhubungan Durvāsā. Prahlāda menuturkan episode Vāmana–Trivikrama: Viṣṇu meliputi tiga dunia dengan tiga langkah, dan karena puas oleh bhakti Bali, Ia tetap hadir sebagai penjaga gerbang bagi Bali. Sejalan dengan itu, Durvāsā yang mendambakan mokṣa mengenali Cakratīrtha di pertemuan Sungai Gomati dan samudra, lalu bersiap untuk mandi suci; namun para daitya setempat menyerang dan menghinanya. Gelisah karena rapuhnya tekad tapa-vratanya, ia berlindung kepada Viṣṇu. Memasuki istana raja daitya, ia melihat Trivikrama berdiri di ambang pintu, meratap, memohon perlindungan, dan memperlihatkan luka-lukanya hingga membangkitkan murka ilahi. Ia lalu melaporkan halangan terhadap snāna yang diniatkannya dan memohon agar Govinda memungkinkan mandinya serta menyempurnakan observansinya, seraya berjanji akan terus mengembara dalam dharma sesudahnya.

51 verses

Adhyaya 19

Adhyaya 19

Durvāsā–Bali–Viṣṇu Saṃvāda at the Gomatī–Ocean Confluence (गोमती-उदधि-संगम)

Bab ini menampilkan dialog yang tertata tentang tata-aturan menjalankan vrata (kaul), ketergantungan Tuhan pada bhakti, serta etika menolak ketika berada dalam tekanan. Prahlāda menceritakan bahwa Ṛṣi Durvāsā, demi keselamatan nyawanya dan penyempurnaan kaul mandi sucinya, memohon kehadiran Viṣṇu di pertemuan Sungai Gomatī dengan samudra. Bhagavān Viṣṇu menyatakan prinsip bahwa Ia “terikat oleh bhakti” dan bertindak di bawah arahan Bali; karena itu sang resi diminta terlebih dahulu memohon persetujuan Bali. Bali memuji Durvāsā, namun menolak melepaskan Viṣṇu. Ia mengingat pertolongan ilahi melalui Varāha, Narasiṃha, dan Vāmana/Trivikrama, lalu menegaskan bahwa hubungannya dengan Keśava bersifat tunggal dan tidak dapat ditawar. Durvāsā kemudian memperkeras sikap: ia tidak akan makan sebelum mandi, dan mengancam akan meninggalkan tubuhnya bila Viṣṇu tidak dikirim. Akhirnya Viṣṇu, karena belas kasih, turun tangan dan berjanji akan menyingkirkan rintangan di tempat sangam itu dengan kekuatan-Nya agar mandi suci dapat terlaksana. Bali pun berserah di kaki Viṣṇu; lalu Viṣṇu berangkat bersama Durvāsā, disertai Saṅkarṣaṇa (Ananta/Balabhadra), menempuh jalur bawah bumi hingga menampakkan diri di sangam. Di sana para ilahi memerintahkan sang resi untuk mandi; Durvāsā segera mandi dan menyelesaikan ritus yang diwajibkan, sehingga tatanan ritual pulih dan nyawa pun terjaga.

25 verses

Adhyaya 20

Adhyaya 20

गोमती-उदधि-संगमे तीर्थरक्षणम् — Protection of the Gomati–Ocean Confluence Tīrtha

Bab 20 mengisahkan narasi konflik yang dibingkai oleh laporan Prahlāda. Setelah suara suci Brahmana terdengar, raksasa Durmukha mencoba menyerang pertapa Durvāsas; Jagannātha (Viṣṇu) campur tangan dan memenggal Durmukha dengan cakra. Koalisi daitya mengepung Viṣṇu dan Saṅkarṣaṇa, namun bab ini menekankan etika batas: seorang pertapa dan tīrtha suci (pertemuan sungai Gomati dan laut) tidak boleh diganggu oleh tindakan berdosa. Duel besar terjadi di mana Golaka dan Kūrmapṛṣṭha dikalahkan. Raja daitya Kuśa, yang memiliki anugerah keabadian dari Śiva, terus bangkit meskipun telah dipenggal oleh Viṣṇu. Untuk mengatasi masalah teologis ini, Viṣṇu menempatkan tubuh Kuśa ke dalam lubang dan memasang sebuah liṅga di atasnya. Dengan demikian, bab ini mengintegrasikan perlindungan tīrtha Vaiṣṇava dengan teologi anugerah Śaiva.

95 verses

Adhyaya 21

Adhyaya 21

गोमतीतीरस्थ-क्षेत्रस्थ-भगवत्पूजा-माहात्म्यवर्णनम् (Glorification of Worship of the Lord at the Gomati River Sacred Field)

Adhyāya ini merangkai dialog teologis, legenda kṣetra, dan tata cara pemujaan. Pada awalnya Prahlāda mengingat peristiwa lampau yang terkait dengan pelanggaran seputar Śiva-liṅga dan menyampaikannya kepada Śrī Kṛṣṇa. Viṣṇu memuji baktinya lalu menganugerahkan anugerah yang berlandaskan keberanian yang selaras dengan devosi kepada Śiva. Kuśa menegaskan ajaran pemersatu: Mahādeva dan Hari adalah satu hakikat yang tampil dalam dua wujud; ia memohon agar liṅga yang didirikan oleh Tuhan termasyhur dengan namanya sebagai “Kuśeśvara”, sehingga kemasyhuran setempat bertahan lama. Selanjutnya dipaparkan topografi tirtha: Mādhava mengutus para dānava lain; sebagian turun ke Rasātala, sebagian mendekat kepada Viṣṇu; di sana Ananta dan Viṣṇu bersemayam. Durvāsā mengenali tempat itu sebagai pemberi mokṣa, mengaitkannya dengan Gomati, Cakratīrtha, serta kehadiran Trivikrama. Disebut pula bahwa kesucian tempat itu berlanjut hingga Kali-yuga, ketika Tuhan menampakkan diri sebagai Kṛṣṇa. Bagian akhir memberi pūjā-vidhi bagi Madhusūdana di Dvārakā: mandi suci, pengurapan, persembahan gandha, vastra, dhūpa, dīpa, naivedya, perhiasan, tāmbūla, buah, ārātrika, dan sujud; juga persembahan lampu semalam suntuk serta jāgaraṇa dengan japa, pembacaan, nyanyian bhakti dan musik—menjanjikan tercapainya tujuan. Upacara khusus pada bulan Nabhas (pavitrāropaṇa), Kārttika (hari Prabodha), peralihan ayana, serta bulan/dvādaśī tertentu dikaitkan dengan kepuasan leluhur, pencapaian Viṣṇu-loka, dan “alam murni tanpa duka”, terutama di pertemuan Gomati dengan samudra.

20 verses

Adhyaya 22

Adhyaya 22

रुक्मिणीपूजाविधिः — Ritual Protocols and Merit of Worshiping Rukmiṇī with Kṛṣṇa

Dalam adhyaya ini, Śrī Prahlāda mengajarkan kepada para brāhmaṇa tata cara pemujaan yang bersifat teologis sekaligus ritual kepada Jagannātha/Kṛṣṇa, terutama kepada Rukmiṇī—Kṛṣṇapriyā dan Kṛṣṇavallabhā. Diawali dengan persiapan pūjā: memandikan arca, mengoles wewangian, pemujaan tulasī, naivedya, nīrājana, serta penghormatan bhakti kepada tokoh-tokoh terkait seperti Ananta dan Vainateya; lalu ditekankan dāna tanpa tipu daya dan memberi makan kaum miskin yang bergantung. Selanjutnya dijelaskan kemuliaan darśana dan pemujaan Rukmiṇī: di Kali-yuga, gangguan graha, penyakit, ketakutan, kemiskinan, nasib buruk, dan keretakan rumah tangga bertahan hanya sampai seseorang memandang dan menyembah Kekasih Kṛṣṇa. Rincian abhiṣeka disebutkan—yoghurt, susu, madu, gula, ghee, parfum, sari tebu, dan air tīrtha—diikuti olesan śrīkhaṇḍa, kuṅkuma, mṛgamada, persembahan bunga, dupa (aguru, guggulu), busana, dan perhiasan. Arghya dipersembahkan dengan mantra kepada “Vidarbhādhipa-nandinī”, disertai ārati dan tata cara menerima air suci. Adhyaya ini juga memuat penghormatan kepada brāhmaṇa beserta istri-istri mereka, persembahan makanan dan betel, pemujaan dvārapāla bernama Unmatta dengan unsur bali yang kuat, serta pemuliaan yoginī, kṣetrapāla, Vīrūpasvāminī, saptamātṛkā, dan delapan permaisuri Kṛṣṇa seperti Satyabhāmā dan Jāmbavatī. Dalam phalaśruti ditegaskan bahwa melihat dan menyembah Kṛṣṇa bersama Rukmiṇī di Dvārakā melampaui pahala yajña, vrata, dan dāna; juga disebut hari-hari suci seperti Dīpotsava caturdaśī, Māgha śukla aṣṭamī, Caitra dvādaśī, Jyeṣṭha aṣṭamī, pemujaan Bhādrapada, dan Kārttika dvādaśī dengan janji kemakmuran, kesehatan, tanpa takut, dan pembebasan. Penutup menegaskan keistimewaan Dvārakā sebagai penolong keselamatan di Kali-yuga serta garis transmisi kompendium Purāṇa.

56 verses

Adhyaya 23

Adhyaya 23

Dvārakā-Māhātmya: Kṛṣṇa-darśana, Gomati-tīrtha, and Dvādaśī-vedha Ethics (Chapter 23)

Bab ini memuat ajaran Resi Mārkaṇḍeya kepada Raja Indradyumna tentang kemuliaan Dvārakā sebagai tīrtha yang istimewa dan penyelamat pada Kali-yuga. Dinyatakan bahwa tinggal sebentar di Dvārakā, berniat untuk berziarah ke sana, atau satu hari memperoleh darśana Śrī Kṛṣṇa saja, dipersamakan buahnya dengan ziarah ke tīrtha besar di seluruh Bhārata dan tapa yang panjang. Selanjutnya diuraikan bentuk-bentuk sevā di pusat kuil saat upacara snāna Śrī Kṛṣṇa: abhiṣeka dengan susu, dadih, ghee, madu, dan air harum; menyeka arca, mempersembahkan karangan bunga, bunyi śaṅkha dan musik, pembacaan (terutama nāma-sahasra), nyanyian, tarian, ārātrika, pradakṣiṇā, sujud penuh, serta persembahan lampu, naivedya, buah, tāmbūla, dan bejana air. Termasuk pula layanan pembangunan dan hiasan seperti dhūpa, bendera, maṇḍapa, lukisan, payung, dan kipas. Bagian berikut beralih pada etika-hukum ketepatan kalender, khususnya tithi Dvādaśī dan cacat “vedha”, melalui kisah mimpi Candraśarman yang bertemu para leluhur yang menderita. Disimpulkan bahwa ziarah ke Somanātha disempurnakan oleh darśana Śrī Kṛṣṇa di Dvārakā, dan sikap eksklusif sektarian tidak dianjurkan. Penutup menegaskan daya suci snāna di sungai Gomati, kemanjuran śrāddha/tarpaṇa, serta bhakti kepada tulasī (mālā dan daun) sebagai pelindung dan penyuci pada Kali-yuga.

187 verses

Adhyaya 24

Adhyaya 24

चन्द्रशर्मा-द्वारकादर्शनं, त्रिस्पृशा-द्वादशीव्रत-प्रशंसा, पितृमोक्षोपदेशश्च (Chandraśarmā’s Dvārakā Darśana, Praise of Trispr̥śā Dvādaśī, and Instruction on Ancestral Liberation)

Mārkaṇḍeya menuturkan bahwa brāhmaṇa Candraśarmā tiba di Dvārakā—kota yang dilayani para siddha dan makhluk surgawi, pemberi mokṣa, di mana dosa dikatakan lenyap hanya dengan memasuki dan memandangnya. Ia memuji kecukupan rohani dari Dvārakā-darśana, seakan-akan pencarian tīrtha lain menjadi sekunder. Lalu ia melakukan upacara di tepi Gomati: mandi suci, tarpaṇa bagi leluhur; mengumpulkan śilā bercap cakra dari Cakratīrtha dan memujanya dengan Puruṣasūkta; kemudian memuja Śiva serta mempersembahkan piṇḍa-udaka secara lengkap dengan upacāra seperti vilepana, vastra, puṣpa, dhūpa, dīpa, naivedya, nīrājana, pradakṣiṇa, dan namaskāra. Dalam berjaga malam (jāgaraṇa), ia memohon kepada Kṛṣṇa agar menyingkirkan cacat daśamī-vedha yang mengganggu pelaksanaan dvādaśī, dan membebaskan para leluhur dari keadaan preta. Kṛṣṇa menegaskan daya bhakti dan menampakkan para leluhur yang telah bebas, naik menuju alam luhur. Para pitṛ memberi ajaran tentang bahaya dvādaśī yang sasalya (cacat), terutama bila tersentuh daśamī-vedha, karena merusak pahala dan bhakti; mereka menekankan penjagaan tithi dengan cermat. Kṛṣṇa menambahkan bahwa satu puasa yang tepat pada trispr̥śā di bulan Vaiśākha, disertai Dvārakā-darśana, dapat menuntaskan kewajiban yang terabaikan; dan ia menubuatkan wafatnya Candraśarmā pada Vaiśākha, saat trispr̥śā bertepatan dengan hari Rabu. Bab ini ditutup dengan pernyataan phala: mendengar, membaca, menulis, atau menyebarkan māhātmya Dvārakā ini mendatangkan pahala yang dijanjikan.

95 verses

Adhyaya 25

Adhyaya 25

द्वारकायाः माहात्म्यवर्णनम् | The Glory of Dvārakā and Comparative Tīrtha-Merit

Bab ini berbentuk tanya-jawab kerajaan: Raja Indradyumna memohon kepada resi Mārkaṇḍeya agar menjelaskan secara rinci tīrtha yang murni dan menghancurkan dosa pada zaman Kali. Sang resi menegaskan tiga kota teladan bagi Kali-yuga—Mathurā, Dvārakā, dan Ayodhyā—yang masing-masing terkait dengan kehadiran ilahi Hari/Kṛṣṇa dan Rāma. Selanjutnya kemuliaan Dvārakā dipaparkan lewat perbandingan pahala: tinggal sekejap, mengingat, atau mendengar tentang Dvārakā saja dipuji melampaui tapa panjang atau ziarah ke Kāśī, Prayāga, Prabhāsa, dan Kurukṣetra. Ditekankan Kṛṣṇa-darśana, kīrtana, serta berjaga (jāgaraṇa) pada malam Dvādaśī; juga pinda-dāna di tepi Gomati dan persembahan dekat hadirat Kṛṣṇa yang membawa penyucian, pembebasan, dan manfaat bagi leluhur. Bab ini juga menyebut gopīcandana dan tulasī sebagai sarana bhakti yang dapat dibawa, sehingga kesucian tīrtha Dvārakā meluas ke ruang rumah tangga. Penutup menegaskan bahwa sedekah saat Kṛṣṇa-jāgaraṇa berlipat ganda pahalanya, dan berjaga pada Dvādaśī diposisikan sebagai laku dharma-bhakti bernilai tinggi di Kali-yuga.

66 verses

Adhyaya 26

Adhyaya 26

हरिजागरण-प्रशंसा (Praise of Hari Night-Vigil) / Dvādāśī Jāgaraṇa and Its Fruits

Bab ini dibuka dengan Mārkaṇḍeya yang menggambarkan Prahlāda sebagai otoritas Vaiṣṇava yang berilmu dan berdisiplin. Para resi mendatanginya untuk memohon ajaran ringkas tentang cara mencapai keadaan tertinggi tanpa prasyarat yang berat. Prahlāda lalu menyampaikan “rahasia di dalam rahasia,” sari ajaran Purāṇa yang memberi kesejahteraan duniawi sekaligus pembebasan. Selanjutnya Skanda (Ṣaṇmukha) memohon kepada Īśvara obat bagi penderitaan dan jalan praktis menuju mokṣa. Īśvara menetapkan teologi dan tata laku Hari-jāgaraṇa—berjaga malam bagi Viṣṇu—terutama pada Dvādāśī dalam laku Vaiṣṇava: membaca śāstra Vaiṣṇava pada malam hari, bernyanyi pujian, memandang arca/kehadiran Dewa, melafalkan Gītā dan nāma-sahasra, serta bersembahyang dengan pelita, dupa, persembahan, dan tulasī. Bab ini menegaskan buahnya berulang kali: lenyapnya dosa yang menumpuk dengan cepat, pahala setara atau lebih tinggi daripada yajña besar dan sedekah agung, berkah bagi garis keturunan serta leluhur, dan terhalangnya kelahiran kembali bagi pelaku yang teguh. Ia juga menegaskan batas etis dengan memuliakan para bhakta yang menjaga jagaran dan mencela sikap lalai atau memusuhi Janārdana.

53 verses

Adhyaya 27

Adhyaya 27

द्वादशी-जागरणस्य सर्वतोवरेण्यत्ववर्णनम् (The Supreme Excellence of the Dvādaśī Vigil)

Bab ini memaparkan ajaran normatif tentang keutamaan berjaga (jāgaraṇa) pada Dvādaśī dalam bhakti. Īśvara menyatakan bahwa seorang bhakta yang melakukan pūjā kepada Hari/Viṣṇu dan mendengarkan Bhāgavata pada malam Dvādaśī memperoleh pahala yang berlipat melampaui kurban-kurban Veda besar; belenggu karmanya terputus dan ia mencapai kediaman Śrī Kṛṣṇa. Mendengar Bhāgavata serta berjaga bagi Viṣṇu juga menetralkan timbunan dosa berat, dengan gambaran pembebasan seakan melampaui batas lingkup surya menuju mokṣa. Ditekankan pula ketepatan penanggalan—saat Ekādaśī “masuk” ke Dvādaśī, terutama dalam pertemuan waktu yang mujur, jagaraṇa dan upāsanā dinyatakan sangat berbuah. Dana pada Dvādaśī yang dipersembahkan kepada Viṣṇu dan kepada para leluhur disebut bernilai “laksana Meru”. Ritus leluhur dipadukan: tarpaṇa dan śrāddha di tepi sungai besar dikatakan memberi kepuasan panjang bagi para pitṛ serta mendatangkan anugerah. Buah Dvādaśī-jāgaraṇa disetarakan dengan disiplin etis seperti kebenaran, kemurnian, pengendalian diri, dan pemaafan, juga dengan mahādāna dan laku tīrtha yang termasyhur—menegaskan jagaraṇa sebagai pengganti ritual yang terkonsentrasi. Sabda Nārada dikutip: tiada vrata menyamai Ekādaśī; mengabaikannya membawa derita berkelanjutan, sedangkan menaatinya menjadi obat bagi zaman Kali dalam kerangka bhakti yang benar.

17 verses

Adhyaya 28

Adhyaya 28

हरिजागरण-माहात्म्य (The Glory of the Viṣṇu/Kṛṣṇa Night Vigil)

Adhyāya ini disusun sebagai dialog ajaran, ketika Mārkaṇḍeya menjelaskan kemuliaan hari-jāgaraṇa—berjaga semalam untuk Viṣṇu/Kṛṣṇa—terutama terkait puasa Ekādaśī dan berjaga pada Dvādaśī. Ditegaskan bahwa pahala jagaran tidak bergantung pada kesucian ritual yang sempurna atau persiapan sebelumnya; bahkan mereka yang belum mandi, berada dalam keadaan tidak suci, atau tersisih secara sosial, bila ikut berjaga sambil mengingat Nama Hari, memperoleh penyucian dan keadaan pascakematian yang luhur. Lapisan phalaśruti membandingkan buah jagaran dengan yajña besar seperti aśvamedha, praktik tīrtha seperti minum air Puṣkara, mandi di pertemuan sungai, serta aneka sedekah besar—dan berulang kali dinyatakan bahwa hari-jāgaraṇa melampaui semuanya. Jagaran juga dipaparkan sebagai laku pemulih yang mampu menghapus noda moral berat dan dosa-dosa besar. Sebagai cara tetap terjaga, bhakti bersama—kathā-kīrtana, nyanyian, tarian, musik vīṇā—diakui sebagai jalan yang sah. Disebutkan pula bahwa para dewa, sungai-sungai, dan seluruh air suci berkumpul pada jagaran itu, sedangkan yang tidak melaksanakannya diperingatkan akan akibat yang merugikan. Intinya, di Kali-yuga, mengingat Garuḍadhvaja, menahan diri dari makan pada Ekādaśī, dan berjaga dengan teguh adalah “teknologi dharma” yang ringkas namun berbuah besar.

46 verses

Adhyaya 29

Adhyaya 29

गौतमी-तीर्थसमागमः—द्वारकाक्षेत्रप्रशंसा (Gautamī Tīrtha Assembly and the Praise of Dvārakā Kṣetra)

Bab ini disampaikan dalam bingkai kisah Prahlāda sebagai wacana teologis dengan banyak suara. Nārada, melihat kedudukan suci Jupiter (Guru) di rasi Siṃha, menyaksikan pertemuan luar biasa di tepi Gautamī (Godāvarī): tīrtha-tīrtha agung, sungai-sungai, kṣetra, gunung, śāstra, para siddha, dan makhluk ilahi berkumpul, takjub pada kemurnian serta cahaya tempat itu. Gautamī yang dipersonifikasikan mengadukan dukanya: karena pergaulan dengan orang tak bermoral (durjana-saṃsarga) ia merasa letih dan seakan terbakar; ia memohon jalan pemulihan agar kejernihan dan ketenteramannya kembali. Nārada dan para unsur suci bermusyawarah; lalu Ṛṣi Gautama datang dan memanjatkan permohonan kontemplatif kepada Mahādeva. Kemudian suara ilahi tanpa wujud mengarahkan mereka ke pesisir laut barat-laut dan menyatakan Dvārakā sebagai kṣetra pemurni tertinggi—tempat Gomati bertemu samudra dan Viṣṇu bersemayam menghadap barat; ia bagaikan api yang melahap bahan bakar, membakar dosa. Pada akhir bab, semua memuji Dvārakā dan merindukan mandi di Gomati, mandi di Cakra-tīrtha, serta darśana Kṛṣṇa; ditegaskan pula ajaran etis: kemurnian bertambah lewat sat-saṅga dan rusak oleh pergaulan durjana.

58 verses

Adhyaya 30

Adhyaya 30

Dvārakā-yātrā-vidhiḥ (Procedure and Ethics of the Pilgrimage to Dvārakā)

Bab ini menampilkan uraian prosedur dan etika ziarah ke Dvāravatī/Kuşasthalī. Prahlāda menggambarkan kerinduan para tīrtha, kṣetra, ṛṣi, dan dewa untuk berangkat demi darśana Śrī Kṛṣṇa; kemunculan Nārada dan Gautama menjadi pertanda suasana ziarah besar bak perayaan. Para ṛṣi lalu memohon petunjuk Nārada—dipandang sebagai pembimbing utama para yogin—tentang vidhi perjalanan, niyama yang wajib, hal-hal yang harus dihindari, apa yang patut didengar/dibaca/diingat di jalan, serta bentuk perayaan yang dibenarkan. Nārada menetapkan persiapan berupa mandi suci dan pemujaan, memberi jamuan sesuai kemampuan kepada Vaiṣṇava dan brāhmaṇa, memohon izin Viṣṇu, serta menjaga batin tetap berbhakti kepada Kṛṣṇa. Selama perjalanan peziarah hendaknya tenang, menguasai diri, menjaga kemurnian, menjalankan brahmacarya, tidur rendah di tanah, dan menertibkan indria. Dianjurkan japa nama-nama ilahi (termasuk sahasranāma), membaca/menyimak Purāṇa, berbelas kasih, melayani orang saleh, dan terutama berdana makanan; bahkan persembahan kecil disebut berbuah besar. Sebaliknya, pertengkaran, fitnah, tipu daya, dan bergantung pada makanan orang lain padahal mampu, dilarang. Pada bagian akhir, narasi Prahlāda melukiskan ragam ekspresi bhakti di sepanjang jalan: mendengar Viṣṇu-kathā, melantunkan nama, bernyanyi dengan iringan alat musik, arak-arakan dengan panji-panji, serta partisipasi simbolis sungai-sungai dan tīrtha termasyhur. Puncaknya, para peziarah memandang kediaman Kṛṣṇa dari kejauhan, menegaskan ziarah sebagai ibadah bersama sekaligus latihan etika.

39 verses

Adhyaya 31

Adhyaya 31

Dvārakā as Tīrtha-Saṅgama: Darśana of Kṛṣṇa’s Ālaya and the Gomatī Māhātmya (द्वारकाक्षेत्रमहिमा तथा गोमतीमाहात्म्य)

Adhyaya ini menggambarkan pertemuan bhakti dan geografi-suci yang berpusat pada Dvārakā. Prahlāda menuturkan sinar ilahi kota itu yang mengusir kegelapan dan rasa takut, serta lambang kemenangan melalui panji dan bendera. Saat melihat kediaman Viṣṇu/Kṛṣṇa yang dihiasi tanda-tanda suci, semua yang hadir bersujud penuh hormat dan larut dalam ekstase bhakti dengan air mata haru. Kemudian disebutkan banyak tīrtha, sungai, kṣetra, dan kota termasyhur di seluruh Bhārata—Vārāṇasī, Kurukṣetra, Prayāga, Gaṅgā/Jāhnavī, Yamunā, Narmadā, Sarasvatī, Godāvarī, Gayā, Śālagrāma-kṣetra, Puṣkara, Ayodhyā, Mathurā, Avantī, Kāñcī, Puruṣottama, Prabhāsa, dan lainnya—menegaskan bahwa lanskap suci tiga dunia seakan hadir dalam kaitannya dengan Dvārakā. Para resi bersorak “jaya” dan memberi penghormatan. Nārada menafsirkan darśana itu sebagai buah pahala kebajikan yang terkumpul; bhakti yang teguh dan tekad mencapai Dvārakā tidak diperoleh lewat tapa yang ringan. Dvārakā dipuji sebagai yang paling cemerlang di antara “raja” kṣetra-tīrtha, laksana matahari di antara benda langit. Rombongan maju dengan musik, tarian, panji, dan kidung menuju sungai Gomatī. Nārada memuliakan Gomatī sebagai yang utama; mandi sucinya dikatakan membebaskan dan memberi manfaat hingga kepada leluhur. Setelah bersuci, semua mendekati gerbang Dvārakā dan menyaksikan kota itu seolah berwujud agung—berwarna putih, berhias megah, memegang sangkha, cakra, dan gada—lalu bersama-sama melakukan pranam dengan penuh takzim.

42 verses

Adhyaya 32

Adhyaya 32

द्वारकायाः सर्वतीर्थ-समागमः, देवसमागमश्च (Dvārakā as the Convergence of All Tīrthas and the Assembly of Devas)

Dalam adhyaya ini, Narada menyingkapkan secara bertahap keunggulan kesucian Dvaraka, kota yang terkasih bagi Hari. Ia menggambarkan seolah-olah sebuah arak-arakan agung: tirtha, sungai, ksetra, hutan, dan gunung termasyhur—Prayaga, Puskara, Gautami, Bhagirathi (Gangga), Narmada, Yamuna, Sarasvati, Sindhu; Varanasi, Kuruksetra, Mathura, Ayodhya; Meru, Kailasa, Himalaya, Vindhya—datang ke Dvaraka dan bersujud di kaki sucinya. Lalu terdengar musik ilahi dan seruan kemenangan; Brahma, Mahesa bersama Bhavani, Indra, para dewa, serta komunitas resi hadir dan menegaskan bahwa Dvaraka lebih luhur bahkan daripada surga, sambil memuji Cakratirtha dan batu bertanda cakra. Brahma dan Mahesa memohon darśana Sri Krsna; Dvaraka menuntun mereka kepada Dvarakesvara. Setelah itu berlangsung rangkaian upacara bersama: mandi suci di Gomati dan lautan, motif abhiseka bak pancamrta, persembahan tulasi, dupa, pelita, dan naivedya, disertai nyanyian, tarian, dan tabuhan. Bhagavan pun berkenan dan menganugerahkan anugerah: bhakti yang teguh dan penuh kasih pada kaki-Nya. Di penutup, Brahma dan Isana melakukan abhiseka atas Dvaraka sendiri laksana penobatan raja; para pengiring Visnu (seperti Visvaksena dan Sunanda) menampakkan diri. Ditegaskan pula bahwa dorongan untuk datang ke Dvaraka pada mereka yang bersembahyang dengan benar adalah tanda karunia ilahi.

84 verses

Adhyaya 33

Adhyaya 33

द्वारकायां सर्वतीर्थक्षेत्रादिकृतनिवासवर्णनम् (Residence of All Tīrthas and Kṣetras at Dvārakā)

Bab ini disusun sebagai dialog: Prahlāda, setelah mendengar ucapan para pengiring Viṣṇu, memohon penjelasan tentang māhātmya (kemuliaan suci) Dvārakā. Brahmā dan Maheśa menjawab bahwa Dvārakā adalah pusat agung laksana kerajaan di antara semua tīrtha dan kṣetra pemberi mokṣa; bahkan dibandingkan Prayāga dan Kāśī pun, Dvārakā dipuji sebagai yang lebih utama. Selanjutnya, secara sistematis menurut arah mata angin, disebutkan bahwa sungai-sungai dan tīrtha berjumlah tak terhingga (dinyatakan dalam hitungan koṭi) berdiam mengelilingi Dvārakā, hadir dengan bhakti, dan berulang kali memandang Śrī Kṛṣṇa. Lalu dipaparkan daftar kṣetra besar di berbagai arah—Vārāṇasī, Avantī, Mathurā, Ayodhyā, Kurukṣetra, Puruṣottama, Bhṛgukṣetra/Prabhāsa, Śrīraṅga—disusul tempat suci Śākta, Saura, dan Gāṇapatya, serta gunung-gunung seperti Kailāsa, Himavat, Śrīśaila yang seakan mengitari Dvārakā. Penutup menegaskan bahwa pertemuan agung ini terjadi karena śraddhā dan bhakti; dan ketika Guru (Bṛhaspati) berada di Kanyā-rāśi, para dewa dan resi datang dengan sukacita untuk darśana. Dengan demikian Dvārakā ditegaskan sebagai pusat pemersatu kosmogram ziarah suci.

28 verses

Adhyaya 34

Adhyaya 34

Vajralepa-vināśaḥ — The Dissolution of Hardened Wrongdoing through Dvārakā-Pathika Darśana

Dalam bab ini Prahlāda menjelaskan kepada para resi kemuliaan Dvārakā yang luar biasa sebagai tempat penyucian, lalu menghadirkan kisah lampau berupa dialog Raja Dilīpa dengan Resi Vasiṣṭha. Dilīpa bertanya tentang kṣetra di mana dosa tidak “bertunas kembali”, terutama setelah mendengar bahwa Kāśī mampu menetralkan sisa noda berat yang disebut vajra-lepa. Vasiṣṭha menuturkan kisah peringatan tentang seorang pertapa di Kāśī yang jatuh ke perilaku terlarang, lalu semakin merosot dan terlahir berulang kali dalam berbagai wujud karena pelanggaran besar. Kāśī menahan akibat neraka yang segera, namun vajra-lepa tetap melekat dan menimbulkan penderitaan panjang. Titik balik terjadi ketika seorang peziarah yang terkait dengan Dvārakā—disucikan oleh Gomati dan ditandai oleh darśana Śrī Kṛṣṇa—berjumpa dengan seorang rākṣasa. Hanya dengan memandang sang penganut jalan Dvārakā itu, vajra-lepa rākṣasa seketika menjadi abu. Rākṣasa lalu pergi ke Dvārakā, melepaskan tubuh di tepi Gomati, dan meraih keadaan Vaiṣṇava, dipuji para makhluk surgawi. Bab ini menegaskan kembali Dvārakā sebagai “kṣetra-rāja”, tempat teladan di mana pāpa tidak bangkit lagi; Dilīpa pun berziarah dan mencapai keberhasilan rohani melalui kehadiran Kṛṣṇa.

45 verses

Adhyaya 35

Adhyaya 35

Dvārakā-kṣetra-māhātmya: Darśana, Dāna, Gomati-snānaphala, and Vaiṣṇava-nindā-doṣa (द्वारकाक्षेत्रमाहात्म्य—वैष्णवनिन्दादोषः)

Bab ini disajikan sebagai dialog ketika Prahlāda memuji kesucian luar biasa kṣetra Dvārakā. Ia menegaskan bahwa memandang para bhakta Vaiṣṇava bertangan empat serta para penduduknya saja sudah mengubah batin; kemuliaan Dvārakā begitu luas hingga tampak bagi para dewa. Bahkan batu, debu, dan makhluk kecil disebut dapat menjadi perantara pembebasan, sehingga daya penyelamat tempat itu makin ditegaskan. Lalu muncul aturan etis: mencela para Vaiṣṇava penghuni Dvārakā (vaiṣṇava-nindā) adalah dosa besar. Dengan contoh peran Jayanta sebagai pemberi hukuman, ditegaskan bahwa celaan demikian berbuah penderitaan berat. Sesudah itu dipuji tindakan yang dianjurkan—melayani Śrī Kṛṣṇa di Dvārakā, tinggal dengan bhakti, dan berdana meski sedikit—yang dikatakan menghasilkan buah berlipat dibandingkan upacara dan dana besar di tempat lain, seperti dana di Kurukṣetra atau pahala di Godāvarī. Catatan waktu-ritual juga disebut: mandi di sungai Gomati saat Guru (Jupiter) berada di Leo (Siṃha) memberi hasil khusus, dan pada bulan-bulan tertentu pahala meningkat. Penutupnya menekankan etika pembangunan: mendirikan tempat berteduh, sarana air, rumah singgah, memperbaiki kolam/sumur, serta menegakkan arca Viṣṇu—yang membawa kenikmatan surga bertingkat hingga mencapai Viṣṇuloka; lalu diajukan pertanyaan mengapa Dvārakā mempercepat puṇya dan menahan “tunas” pāpa.

50 verses

Adhyaya 36

Adhyaya 36

द्वारकाक्षेत्रवैभववर्णनम् / Theological Praise of Dvārakā and its Pilgrimage Fruits

Sūta menuturkan latar dialog di istana: Bali, terdorong oleh wejangan Prahlāda, bertanya tentang keagungan kṣetra suci Dvārakā dan buah ziarahnya. Prahlāda menyampaikan māhātmya secara teratur: setiap langkah menuju Dvārakā menambah pahala, bahkan niat untuk berangkat pun menyucikan. Ditegaskan pula bahwa dosa-dosa berat zaman Kali tidak melekat pada mereka yang mencapai hadirat Śrī Kṛṣṇa—terutama melalui kemuliaan Cakratīrtha dan kota Kṛṣṇa (Kṛṣṇapurī). Dibandingkan kota-kota suci lain, Dvārakā yang dilindungi Kṛṣṇa dinyatakan paling utama ketika terlihat dan didarśana. Selanjutnya dibahas kelangkaan (durlabhatā) untuk tinggal di sana, memperoleh darśana, mandi di Gomati, serta memandang Rukmiṇī. Bagi perumah tangga pun dianjurkan mengingat Dvārakā dan memuja Keśava, dengan penekanan pada tata waktu vrata, khususnya tri-spṛśā-dvādaśī. Pada zaman Kali, buah puasa, berjaga, nyanyian bhakti, dan tarian rohani berlipat ganda—terutama di Dvārakā dekat Kṛṣṇa. Disanjung kesucian pertemuan Gomati dan samudra, batu-batu bertanda cakra, serta kesetaraan/keunggulan dibanding tīrtha terkenal lain. Pemujaan para permaisuri Kṛṣṇa membawa kesejahteraan keluarga dan keturunan, darśana Dvārakā melenyapkan takut dan malapetaka; dan penutupnya menegaskan bahwa bahkan kesulitan di perjalanan menuju Dvārakā menjadi sebab buah tertinggi, yakni tidak kembali lagi (apunarāvṛtti).

37 verses

Adhyaya 37

Adhyaya 37

Sudarśana–Cakra-cihna-aṅkita-pāṣāṇa Māhātmya (Glory of Chakra-Marked Stones at Dvārakā)

Bab ini memaparkan kemuliaan batu-batu bertanda Cakra Sudarśana dalam tirtha suci Dvārakā. Prahlāda menegaskan keutamaan nāma-japa pada zaman Kali—pengulangan nama “Kṛṣṇa” tanpa henti sebagai laku yang menyucikan batin, melimpahkan pahala besar, dan menghadirkan buah yang luar biasa. Lalu dijelaskan ketentuan halus seputar vrata Ekādaśī–Dvādaśī: kondisi tithi khusus seperti Unmīlinī, pahala berjaga pada malam hari (jāgaraṇa) yang berlipat, serta konfigurasi langka Vañjulī pada zaman Kali. Sesudah itu diuraikan kemuliaan Cakra-tīrtha: mandi suci di sana dikatakan menghapus noda dosa dan mengarahkan pelaku menuju “kedudukan tertinggi” tanpa rintangan; tempat itu ditandai oleh tradisi bahwa Śrī Kṛṣṇa pernah membasuh cakra-Nya di sana. Berikutnya hadir katalog batu-batu bercakra—dari satu hingga dua belas tanda cakra—yang dipetakan pada rupa-rupa ilahi tertentu, dengan hasil bertingkat: dari keteguhan hidup dan kemakmuran, hingga kedaulatan, dan akhirnya nirvāṇa/mokṣa. Penutupnya menegaskan phala: menyentuh atau memuja batu bertanda cakra saja disebut meluluhkan dosa-dosa berat, dan mengingatnya pada saat ajal dipandang menyelamatkan. Mandi di pertemuan sungai Gomati (Gomati-saṅgama) dan di Bhṛgu-tīrtha juga dinyatakan menetralkan kenajisan yang parah. Bahkan bhakti yang dilakukan dengan batin campur-aduk pun diangkat oleh wacana suci menuju kemurnian sāttvika.

25 verses

Adhyaya 38

Adhyaya 38

Dvārakā-Māhātmya: Dvādaśī-Jāgaraṇa, Gomati–Cakratīrtha Merit, and Service to Vaiṣṇavas

Dalam bab ini, Prahlāda mengajarkan bahwa Dvārakā, karena kedekatannya dengan Śrī Kṛṣṇa, adalah medan kebajikan yang sangat kuat; perbuatan kecil pun berbuah besar. Mendengar dan mengajarkan kemuliaan Dvārakā (śravaṇa–kīrtana) dipaparkan sebagai sarana menuju pembebasan. Buah yang biasanya dicari lewat dana besar—seperti berulang kali menghadiahkan sapi kepada brāhmaṇa terpelajar—dinyatakan dapat setara dengan mandi suci di sungai Gomati, terutama pada hari-hari yang terkait dengan Madhusūdana; sehingga daya agama dipusatkan pada kesucian tempat dan waktu, bukan semata pada besarnya biaya. Penekanan etis kemudian ditegaskan: memberi makan satu brāhmaṇa di Dvārakā pun sangat berpahala, terlebih lagi melayani yati/pertapa dan para Vaiṣṇava dengan makanan serta pakaian; kewajiban ini disebut dapat dijalankan “di mana pun seseorang berada.” Keutamaan upacara Dvādaśī pada bulan Vaiśākha, pemujaan Kṛṣṇa, dan berjaga semalam (jāgaraṇa) dijelaskan, disertai phalaśruti bahwa berjaga dan pembacaan Bhāgavata membakar dosa yang menumpuk dan menganugerahkan lama tinggal di surga. Bab ini juga memetakan kemurnian: wilayah yang tanpa pembacaan Bhāgavata, pemujaan Śālagrāma, atau laku ikrar Vaiṣṇava dianggap kurang secara ritual; sebaliknya, tanah yang tampak biasa menjadi mulia bila dihuni para bhakta. Tanda-tanda pelindung dan membawa berkah—tilaka Gopīcandana, tanah liat Śaṅkhoddhāra, kedekatan dengan tulasī, serta pādodaka—disebutkan manfaatnya. Akhirnya ditegaskan bahwa pada Kali-yuga Kṛṣṇa bersemayam di Dvārakā, dan mandi satu hari di Gomati–Cakratīrtha setara dengan mandi di seluruh tīrtha tiga dunia.

46 verses

Adhyaya 39

Adhyaya 39

Dvādāśī-Jāgaraṇa, Dvārakā-Smaraṇa, and Vaiṣṇava Ācāra (द्वादशी-जागरण, द्वारका-स्मरण, वैष्णव-आचार)

Bab 39 dibuka dengan Prahlāda yang menyebutkan berbagai sebutan suci terkait Dvādaśī, lalu mengaitkan bertambahnya pahala harian dengan mempersembahkan naivedya laksana havis serta berjaga semalam untuk Viṣṇu (jāgaraṇa), terutama di hadapan Śālagrāma-śilā. Disebutkan pula sarana ritualnya: pelita ghee dengan dua sumbu, Śālagrāma ditutupi bunga, dan pemujaan arca Vaiṣṇava bertanda cakra dengan pengurapan, memakai cendana, kapur barus, kṛṣṇāguru, dan kesturi. Dalam phalaśruti, buah berjaga pada Dvādaśī disamakan dengan akumulasi pahala dari tīrtha-tīrtha agung, yajña, vrata, studi Veda, pembelajaran Purāṇa, tapa, serta pelaksanaan dharma āśrama yang benar; ajaran ini ditegaskan berasal dari rantai penutur yang berwibawa. Sūta melanjutkan penyampaian itu dan mendorong pelaksanaannya dengan śraddhā. Pembahasan meluas pada kemuliaan Dvārakā: bila perjalanan tak mungkin, cukup dengan kontemplasi batin, japa, dan pembacaan di rumah. Dianjurkan mendengarkan kisah suci, memberi dana kepada para Vaiṣṇava, dan melakukan pembacaan khusus pada Dvādaśī saat berjaga; juga digambarkan bahwa dengan bhakti yang tekun, banyak tīrtha dan dewa seakan “bersemayam” di rumah. Di akhir, ditegaskan larangan etis: menghina Vaiṣṇava, perbuatan yang menindas, serta mencederai pohon-pohon suci—terutama aśvattha—sementara menanam dan melindungi nyagrodha, dhātrī, dan tulasī dipuji sebagai pahala besar. Pada Kali-yuga, pembacaan Viṣṇu setiap hari dan nyanyian Bhāgavata dinyatakan sebagai norma utama; kemuliaan gopīcandana (tilaka, pemberian, dan jaga Dvādaśī) serta mengucap “Dvārakā” setiap hari disebut menghasilkan pahala laksana tīrtha.

48 verses

Adhyaya 40

Adhyaya 40

कार्तिके चक्रतीर्थस्नानदानश्राद्धादिमाहात्म्यवर्णनम् (Kartika Observances at Cakratīrtha: Bathing, Gifts, and Śrāddha)

Adhyaya ini memuat wejangan teologis Prahlāda tentang tata-bhakti berbuah pahala agung yang berpusat pada pemujaan Śrī Kṛṣṇa serta etika ziarah di Dvārakā. Pembahasan dibuka dengan pemujaan melalui persembahan daun: memuliakan Śrīpati dengan daun yang diberi tanda nama pemuja, terutama daun śrīvṛkṣa yang terkait dengan Lakṣmī; dalam penilaian bab ini, persembahan itu disebut lebih utama bahkan daripada tulasī, disertai janji pahala yang luas. Disebut pula kemujaraban waktu, khususnya Dvādaśī yang bertepatan dengan hari Minggu, sebagai ‘hari Hari’ tempat pahala berkumpul. Selanjutnya dijelaskan tatanan dana-dharma di Dvārakā: memberi makan para yati/pertapa, menghadiahkan pakaian dan kebutuhan, serta keutamaan luar biasa bahwa memberi makan satu pengemis suci di Dvārakā setara dengan jamuan besar di tempat lain. Kekuatan penyelamat dari kīrtana Kṛṣṇa ditegaskan, dan lingkup perlindungan Dvārakā meliputi para penduduknya bahkan makhluk yang bergantung pada mereka. Disiplin bulan Kārtika—mandi di Gomati dan Rukmiṇī-hrada, puasa Ekādaśī, śrāddha pada Dvādaśī di Cakratīrtha, jamuan brāhmaṇa dengan hidangan tertentu serta pemberian dakṣiṇā—dipaparkan sebagai jalan menuju kepuasan leluhur dan perkenan Ilahi. Bab ditutup dengan phalāśruti: mereka yang menunaikan vrata Kārtika dan disucikan di tīrtha memperoleh pahala yang tak binasa.

29 verses

Adhyaya 41

Adhyaya 41

गोमतीस्नान–कृष्णपूजन–यतिभोजन–दान–श्राद्धादि सत्फलवर्णनम् (Merits of Gomatī Bathing, Kṛṣṇa Worship, Feeding Ascetics, Gifts, and Śrāddha)

Bab ini memuat uraian teologis‑ritual yang dinisbatkan kepada Prahlāda, memuji kemanjuran ibadah di Dvārakā, terutama terkait sungai Gomatī. Disebutkan bahwa siapa yang mandi di Gomatī lalu memuja Śrī Kṛṣṇa dengan persembahan seperti bunga ketakī dan daun tulasī akan memperoleh keberuntungan agung, terlindung dari putaran saṃsāra yang berat; dalam gaya phala‑śruti, pahala itu disamakan dengan mendekati “keabadian”. Bahkan mengingat Dvārakā dalam batin saja dikatakan membakar dosa masa lalu, kini, dan mendatang; pada zaman Kali, berorientasi kepada Dvārakā dipandang sebagai tanda tercapainya tujuan hidup manusia. Bab ini juga menegaskan bahwa memberi makan satu orang di Dvārakā menghasilkan buah yang melampaui memberi makan banyak orang di tempat lain; kemuliaan memberi sedekah, menjamu para pertapa (yati), dan amal saleh lainnya turut dipaparkan. Dvārakā dihubungkan dengan kesejahteraan leluhur: para pitṛ diyakini berdiam di sana, sehingga persembahan air‑wijen (tila‑udaka), śrāddha, dan piṇḍa‑dāna—setelah mandi di Gomatī—menjadi pahala yang tak habis dan memberi kepuasan panjang bagi leluhur. Penanda waktu seperti gerhana, vyatīpāta, saṅkrānti, vaidhr̥ti, serta hari‑hari suci disebut untuk konteks penentuan waktu ritual, dan daftar tīrtha menegaskan keunggulan Dvārakā dalam geografi kesucian India.

15 verses

Adhyaya 42

Adhyaya 42

द्वारकाक्षेत्रे वृषोत्सर्गादिक्रियाकरण-द्वारकामाहात्म्यश्रवणादि-फलवर्णनम् (Chapter 42: Results of bull-release and related rites; fruits of hearing/reciting Dvārakā Māhātmya)

Bab ini memuat uraian phalaśruti yang tersusun rapi, disandarkan kepada Prahlāda. Dinyatakan bahwa vṛṣotsarga—pelepasan lembu jantan secara ritual—yang dilakukan di Dvārakā, terutama pada bulan Vaiśākha dan Kārtika, membawa peninggian nasib setelah wafat serta pembebasan dari keadaan buruk. Berbagai pelanggaran berat seperti brahmahatyā, minum arak, pencurian, dan pelanggaran terhadap guru disebut untuk menegaskan daya penebusannya: mandi di Sungai Gomati dan memperoleh darśana Śrī Kṛṣṇa dikatakan meluruhkan dosa yang menumpuk lama. Pada Kali-yuga, tindakan bhakti ditekankan: memandang Rukmiṇī dengan devosi, mengelilingi kota (pradakṣiṇā), dan melafalkan seribu nama. Praktik pada hari Dvādaśī dijelaskan—membaca Dvārakā-māhātmya di hadapan Viṣṇu—dengan hasil berupa kemampuan bergerak di alam surgawi dan memperoleh kehormatan. Selanjutnya muncul harapan berorientasi garis keturunan, “semoga orang seperti itu lahir dalam keluarga kami,” sambil menggambarkan pelaku ideal: mandi di pertemuan Gomati dan samudra, melakukan śrāddha dengan unsur sapinḍa, memuliakan para Vaiṣṇava (termasuk memberi gopīcandana), serta membaca, mendengar, menulis, dan menyimpan māhātmya di rumah. Pemeliharaan naskah (likhita-dhāraṇa) ditinggikan sebagai penghasil pahala berkelanjutan, setara dengan dana besar dan tapa, menetralkan rasa takut dan menutup kekurangan ritual. Penutup menegaskan Dvārakā sebagai tempat hadirnya Viṣṇu beserta semua tīrtha, dewa, yajña, Veda, dan ṛṣi; kebajikan tanpa mendengar māhātmya dianggap tak berdaya, sedangkan mendengarnya dengan iman membawa kemakmuran dan keturunan dalam jangka waktu yang disebutkan.

34 verses

Adhyaya 43

Adhyaya 43

तुलसीपत्रकाष्ठमहिमा तथा द्वारकायात्राविधिवर्णनम् | The Glory of Tulasī (Leaf & Wood) and the Procedure of the Dvārakā Pilgrimage

Dalam adhyaya ini, melalui ucapan Prahlāda dijelaskan kemuliaan pemujaan Viṣṇu dengan daun tulasī. Persembahan tulasī disebut manjur bagi pemenuhan berbagai keinginan, sekaligus meneguhkan kesucian sisa-sisa ritual. Lalu dipaparkan taksonomi pahala bagi unsur-unsur yang terkait dengan Viṣṇu—pādodaka (air basuhan kaki), śaṅkhodaka (air dari sangkha), naivedya-śeṣa (sisa persembahan makanan), dan nirmālya (sisa bunga)—yang masing-masing disetarakan dengan buah yajña besar bila dihormati, dikenakan, atau dikonsumsi dengan bhakti. Tata krama di mandir juga dibahas, terutama membunyikan lonceng saat mandi suci dan pemujaan, sebagai pengganti instrumen lain dan penghasil pahala besar. Bagian berikut menyanjung tulasī-kāṣṭha (kayu tulasī) dan pasta cendana dari tulasī sebagai sarana penyucian dan sakramen kematian: dipersembahkan kepada dewa dan leluhur, dipakai dalam konteks kremasi, serta diyakini mengantar pada hasil berorientasi mokṣa dan pengakuan ilahi. Penutupnya beralih ke tindakan ziarah: para resi dan Bali, tersentuh oleh māhātmya Dvārakā, berangkat ke Dvārakā, mandi di sungai Gomatī, memuja Kṛṣṇa, melaksanakan yātrā dengan benar, memberi dana, lalu kembali—menjadikan ajaran bab ini teladan etika ziarah yang dijalankan.

27 verses

Adhyaya 44

Adhyaya 44

स्कन्दमहापुराणश्रवणपठन-पुस्तकप्रदान-व्यासपूजनमाहात्म्य तथा उपसंहार (Chapter 44: Merit of Listening/Reciting, Gifting the Text, Honoring Vyāsa; Concluding Frame)

Adhyaya ini berfungsi sebagai penutup (phalaśruti) Skanda Purāṇa dalam rangka Dvārakā Māhātmya. Sūta terlebih dahulu menjelaskan garis transmisi yang sah—dari Skanda kepada Bhṛgu, Aṅgiras, Cyavana, Ṛcīka, dan seterusnya—sebagai dasar otoritas ajaran. Lalu diuraikan pahala mendengar dan melantunkan: lenyapnya dosa, panjang umur, kesejahteraan sesuai dharma varṇa-āśrama, tercapainya tujuan seperti putra, harta, kebahagiaan rumah tangga, perjumpaan kembali dengan kerabat, bahkan mendengar sebagian kecil saja (hingga satu pāda śloka) pun membawa tujuan mulia. Selanjutnya ditekankan etika pembelajaran: memuliakan pembaca/penyampai Purāṇa disamakan dengan memuja Brahmā, Viṣṇu, dan Rudra; jasa guru yang mengajarkan satu suku kata pun tak terbalaskan, maka hendaknya dihormati dengan persembahan, dukungan, makanan, dan sandang. Pada akhir kisah, dalam bingkai narasi Vyāsa, para resi memuji Sūta karena telah menuturkan tema-tema purāṇik seperti penciptaan, penciptaan sekunder, dinasti, manvantara, dan tatanan kosmos; mereka menganugerahinya pakaian dan perhiasan, memberkati, lalu kembali pada kewajiban ritual—meneguhkan penutupan teks serta norma syukur, belajar bersama, dan kesinambungan upacara.

28 verses

FAQs about Dvaraka Mahatmya

It emphasizes Dvārakā as a sanctified civilizational and devotional center tied to Kṛṣṇa’s presence and legacy, with Prabhāsa functioning as a consequential sacred node where epic-era transitions are narrated and ritually remembered.

The section’s typical purāṇic logic associates merit with remembrance, recitation, and tīrtha-contact that reinforce dharma and devotion—especially framed as accessible supports when formal religious capacities are portrayed as diminished in Kali-yuga.

Key legends include Kṛṣṇa’s life-cycle recollections (from Vraja and Mathurā to Dvārakā), the Yādava lineage’s terminal events, the sea’s inundation motif around Dvārakā, and the subsequent re-siting of sacred habitation and memory.