Prathama Pada
Maṅgalācaraṇa, Naimiṣāraṇya-Sabhā, Sūta-Āhvāna, and Narada Purāṇa-Māhātmya
Bab ini diawali dengan manggalācaraṇa berlapis kepada para guru, Gaṇeśa, Vāsudeva/Nārāyaṇa, Nara–Narottama, dan Sarasvatī, lalu memuji Ādipuruṣa yang berwujud sebagian sebagai Brahmā–Viṣṇu–Maheśa pengatur jagat. Di Naimiṣāraṇya, Śaunaka dan para ṛṣi menjalankan tapa serta memuja Viṣṇu melalui yajña, jñāna, dan bhakti, memohon jalan terpadu untuk meraih dharma, artha, kāma, dan mokṣa. Mereka mengetahui Sūta Romaharṣaṇa—murid Vyāsa dan pelantun Purāṇa yang sah—berdiam di Siddhāśrama; para ṛṣi mendatanginya, menyaksikan konteks Agniṣṭoma yang terkait Nārāyaṇa dan menanti penutup avabhṛtha. Mereka meminta “pengetahuan sebagai jamuan” dan bertanya tentang cara menyenangkan Viṣṇu, tata pemujaan yang benar, laku varṇa–āśrama, penghormatan tamu, karma yang berbuah, serta hakikat bhakti yang membebaskan. Sūta berjanji mengajarkan apa yang dinyanyikan Sanaka dan para ṛṣi utama kepada Nārada, lalu menegaskan keselarasan Nārada Purāṇa dengan Veda, daya pemusnah dosa, pahala bertingkat dari mendengar/melantunkan bab, serta etika dan kelayakan dalam wacana suci. Penutupnya menekankan mokṣa-dharma: mengingat Nārāyaṇa dan mendengar dengan satu titik perhatian menumbuhkan bhakti dan menyempurnakan semua puruṣārtha.
Nārada’s Hymn to Viṣṇu (Nāradasya Viṣṇu-stavaḥ)
Menjawab pertanyaan para resi, Sūta memperkenalkan Sanakādi Kumāra—putra-putra pikiran Brahmā, selibat dan berorientasi mokṣa—yang berjalan dari Meru menuju sidang Brahmā. Di perjalanan mereka melihat Gaṅgā, sungai suci milik Viṣṇu, dan ingin mandi di perairan Sītā. Nārada datang, menghormat para kakak rohaninya, lalu melantunkan nama-nama Viṣṇu (Nārāyaṇa, Acyuta, Ananta, Vāsudeva, Janārdana) dan membacakan stotra yang luas. Himne itu menegaskan Viṣṇu sebagai yang bersifat dan melampaui sifat, sebagai pengetahuan dan sang mengetahui, sebagai yoga dan yang dicapai melalui yoga, serta sebagai viśvarūpa namun tetap tak terikat; disebut pula avatāra utama—Kūrma, Varāha, Narasiṃha, Vāmana, Paraśurāma, Rāma, Kṛṣṇa, Kalki—serta kemuliaan nāma yang menyucikan dan membebaskan. Setelah mandi dan menunaikan sandhyā serta tarpaṇa, para resi berdialog tentang Hari; Nārada kemudian memohon ciri-ciri Bhagavān dan tuntunan tentang karma yang berbuah, jñāna sejati, tapas, dan tata cara memuliakan tamu yang menyenangkan Viṣṇu. Penutupnya adalah phalaśruti: pembacaan pagi memberi penyucian dan mencapai alam Viṣṇu.
Sṛṣṭi-varṇana, Bhārata-khaṇḍa-mahātmya, and Jagad-bhūgola (Creation, Glory of Bhārata, and World Geography)
Narada bertanya kepada Sanaka bagaimana Tuhan Purba yang meliputi segalanya melahirkan Brahma dan para dewa. Sanaka menjelaskan ajaran non-dual berpusat pada Wisnu: Narayana meresapi semua; demi penciptaan, pemeliharaan, dan peleburan, tampil triwujud Prajapati/Brahma, Rudra, dan Wisnu. Maya/Sakti disebut sekaligus vidya dan avidya—menjadi belenggu bila dipandang terpisah, namun membebaskan bila diketahui tak-berbeda. Lalu diuraikan kosmogoni mirip Samkhya (prakrti–purusa–kala; mahat, buddhi, ahamkara; tanmatra dan mahabhuta) serta penciptaan lanjutan oleh Brahma. Dipetakan alam semesta bertingkat (tujuh loka atas dan wilayah bawah), Meru, Lokaloka, tujuh dvipa beserta samudra yang mengitarinya, dan Bharata-varsha sebagai karmabhumi. Penutup menegaskan bhakti dan karma tanpa pamrih: mempersembahkan semua tindakan kepada Hari/Vasudeva, menghormati para bhakta, memandang Narayana dan Siwa sebagai tak terpisah, dan menyatakan tiada apa pun selain Vasudeva.
Bhakti-Śraddhā-Ācāra-Māhātmya and the Commencement of the Mārkaṇḍeya Narrative
Sanaka menasihati Nārada bahwa śraddhā (iman suci) adalah akar semua dharma dan bhakti adalah daya-hidup segala siddhi; tanpa bhakti, dāna, tapa, bahkan yajña setara Aśvamedha menjadi sia-sia, sedangkan dengan iman, tindakan kecil pun memberi puṇya dan kemasyhuran yang langgeng. Ia memadukan bhakti dengan ācāra varṇāśrama: meninggalkan tata-laku yang ditetapkan menjadikan seseorang ‘patita’, dan Vedānta, ziarah tīrtha, maupun yajña tidak dapat menyelamatkan orang yang menanggalkan ācāra. Bhakti lahir dari sat-saṅga yang diperoleh karena jasa kebajikan lampau; para saleh menyingkirkan kegelapan batin lewat ajaran yang baik. Ketika Nārada bertanya tentang tanda dan tujuan para bhakta Bhagavān, Sanaka memulai ajaran rahasia Mārkaṇḍeya. Bab ini lalu beralih ke bingkai kosmis: Viṣṇu sebagai Cahaya Tertinggi saat pralaya, pujian para dewa di Kṣīra-sāgara, dan jaminan penuh kasih dari Viṣṇu. Tapa dan stotra Mṛkaṇḍu berbuah anugerah: Viṣṇu berjanji lahir sebagai putranya, meneguhkan daya penyelamat bhakti dalam bentuk kisah.
Mārkaṇḍeya-varṇanam (The Description of Mārkaṇḍeya)
Narada bertanya bagaimana Tuhan lahir sebagai putra Mṛkaṇḍu dan bagaimana Mārkaṇḍeya menyaksikan māyā Viṣṇu saat pralaya. Sanaka menuturkan: Mṛkaṇḍu memasuki hidup gṛhastha; dari cahaya Hari lahirlah seorang putra dan ia diupacarai upanayana. Sang ayah mengajarkan pemujaan sandhyā, belajar Weda, pengendalian diri, menjauhi ucapan yang melukai, serta bergaul dengan orang-orang Vaiṣṇava yang saleh. Mārkaṇḍeya bertapa bagi Acyuta, memperoleh daya terkait penyusunan Purāṇa, dan saat pralaya bertahan laksana daun di atas samudra, melihat Hari beristirahat dalam yoga. Lalu dipaparkan ukuran waktu kosmis dari nimeṣa hingga kalpa, manvantara, siang-malam Brahmā, dan parārdha. Ketika ciptaan kembali, ia memuji Janārdana; Tuhan menjelaskan ciri bhāgavata: tanpa kekerasan, tanpa iri, derma, Ekādaśī, hormat pada Tulasī, bakti kepada orang tua/sapi/brāhmaṇa, ziarah tīrtha, serta memandang Śiva–Viṣṇu setara. Di Śālagrāma, melalui meditasi dan dharma, ia mencapai nirvāṇa.
The Greatness of the Gaṅgā (Gaṅgāmāhātmya)
Sūta memperkenalkan Nārada yang bersukacita karena bhakti, lalu Nārada bertanya kepada Sanaka, sang pemaham makna śāstra: kṣetra dan tīrtha manakah yang paling utama. Sanaka menjawab dengan ajaran rahasia tentang Brahman sekaligus pujian praktis atas tīrtha: sangam Gaṅgā–Yamunā di Prayāga dinyatakan tertinggi di antara semua kṣetra dan tīrtha, didatangi para dewa, ṛṣi, dan Manu. Bab ini memuliakan kesucian Gaṅgā (berasal dari kaki Viṣṇu): mengingat, menyebut nama, melihat, menyentuh, mandi, bahkan setetes airnya menghancurkan dosa dan memberi keadaan luhur. Lalu dipuji Kāśī/Vārāṇasī (Avimukta) dan ingatan saat ajal yang mengantar ke keadaan Śiva, namun sangam Prayāga tetap ditempatkan lebih agung. Diajarkan pula ketidakberbedaan Hari dan Śaṅkara (juga Brahmā), serta peringatan agar tidak membuat pembedaan sektarian. Penutupnya menyamakan pahala pembacaan Purāṇa dan penghormatan kepada penceramah Purāṇa dengan pahala Gaṅgā/Prayāga, serta menyandingkan Gaṅgā dengan Gāyatrī dan Tulasī sebagai penopang keselamatan yang langka.
Gaṅgā-māhātmya: Bāhu’s Envy, Defeat, Forest Exile, and Aurva’s Dharmic Consolation
Narada bertanya kepada Sanaka tentang garis keturunan Sagara dan sosok yang terbebas dari watak asurik. Sanaka mula-mula menegaskan kemuliaan Gaṅgā: sentuhannya menyucikan keturunan Sagara hingga mencapai dhāma Viṣṇu. Lalu dikisahkan Raja Bāhu dari wangsa Viku—awalannya raja dharmika, melaksanakan tujuh Aśvamedha dan menegakkan kewajiban varṇa—namun kemakmuran menumbuhkan ego dan iri. Muncul wejangan etika: iri, ucapan kasar, nafsu, dan kemunafikan menghancurkan kebijaksanaan serta keberuntungan, bahkan membuat keluarga menjadi lawan. Saat anugerah Viṣṇu menjauh, musuh Haihaya dan Tālajaṅgha mengalahkan Bāhu; ia mengungsi ke hutan bersama para permaisuri yang hamil, terhina, dan wafat dekat pertapaan Ṛṣi Aurva. Permaisuri Bāhupriyā yang berduka hendak naik ke pembakaran jenazah, tetapi Aurva menahan dengan dharma, menyebut adanya calon cakravartin dalam kandungannya; ia mengajarkan keniscayaan maut di bawah karma dan menganjurkan upacara yang benar. Setelah kremasi, Bāhu naik kereta surgawi; sang ratu melayani Aurva; bab ditutup dengan pujian bahwa tutur kata penuh welas asih dan demi kesejahteraan makhluk sungguh menyerupai Viṣṇu.
गङ्गामाहात्म्य — The Greatness of the Gaṅgā
Sanaka menuturkan kepada Nārada: dua permaisuri Raja Bāhu melayani Ṛṣi Aurva; sang permaisuri tua mencoba meracuni, namun karena pahala sādhu-sevā, permaisuri muda terlindungi dan melahirkan Sagara—dinamai dari ‘gara’ (racun) yang telah tercerna. Aurva menunaikan saṁskāra dan melatih Sagara dalam rāja-dharma serta senjata yang diperkasa mantra. Sagara mencari asal garis keturunannya, bersumpah menundukkan para perampas, lalu mendatangi Vasiṣṭha; Vasiṣṭha menertibkan suku-suku yang memusuhi dan mengajarkan ketetapan karma serta ketak-terlukainya Ātman, sehingga amarahnya reda. Setelah ditahbiskan, Sagara melakukan Aśvamedha; Indra mencuri kuda dan menyembunyikannya di Pātāla dekat Kapila. Putra-putra Sagara menggali bumi, menantang Kapila, dan hangus menjadi abu oleh pandangan berapi beliau. Aṁśumān, dengan kerendahan hati dan pujian, memperoleh anugerah: kelak Bhagīratha akan menurunkan Gaṅgā; airnya menyucikan dan membebaskan para leluhur. Bab ditutup dengan silsilah hingga Bhagīratha serta kuasa Gaṅgā mematahkan kutuk (Saudāsa).
The Greatness of the Gaṅgā (Gaṅgā-māhātmya): Saudāsa/Kalmāṣapāda’s Curse and Release
Narada bertanya kepada Sanaka bagaimana Raja Saudāsa dikutuk oleh Vasiṣṭha dan kemudian disucikan oleh tetesan air Gaṅgā. Sanaka menceritakan: saat berburu di dekat sungai Revā, raja membunuh seekor harimau betina yang sebenarnya adalah rākṣasī; pasangannya merencanakan balas dendam. Setelah Aśvamedha, rākṣasa itu menyamar sebagai Vasiṣṭha dan membujuk raja untuk mempersembahkan daging. Vasiṣṭha yang asli mengutuk raja menjadi rākṣasa selama dua belas tahun, dengan pembebasan melalui air Gaṅgā. Air kutukan jatuh di kakinya, membuatnya dikenal sebagai Kalmāṣapāda. Dalam wujud rākṣasa ia melakukan dosa, namun akhirnya disucikan oleh seorang brāhmaṇa dengan percikan air Gaṅgā dan tulasī. Raja kemudian pergi ke Vārāṇasī, mandi di Gaṅgā, memuja Sadāśiva, dan mencapai mokṣa.
The Origin of the Gaṅgā and the Gods’ Defeat Caused by Bali
Narada bertanya kepada Sanaka tentang asal-usul Gangga—sungai suci yang muncul dari ujung telapak kaki Viṣṇu dan memusnahkan dosa bagi yang melafalkan maupun yang mendengarkan kisahnya. Sanaka menempatkan peristiwa itu dalam silsilah dewa–daitya: dari istri Kaśyapa, Aditi dan Diti, lahir para dewa dan para daitya; permusuhan memuncak pada garis Hiraṇyakaśipu—Prahlāda, Virocana, hingga raja perkasa Bali. Bali dengan bala tentara besar menyerbu kota Indra; perang dahsyat dengan gemuruh, senjata, dan ketakutan berskala kosmis berlangsung. Setelah 8.000 tahun para dewa kalah, melarikan diri, dan mengembara di bumi dengan penyamaran. Bali berjaya dan mengadakan yajña Aśvamedha demi menyenangkan Viṣṇu, namun Aditi berduka karena putra-putranya kehilangan kedaulatan. Ia menyepi ke Himalaya, bertapa keras sambil bermeditasi pada Hari sebagai sat-cit-ānanda. Para ilusionis daitya mencoba menggoyahkannya dengan dalih ukuran tubuh dan kewajiban seorang ibu; gagal, mereka menyerang namun terbakar, sementara Aditi dilindungi selama seratus tahun oleh Sudarśana cakra Viṣṇu karena belas kasih-Nya kepada para dewa.
Vāmana’s Advent, Aditi’s Hymn, Bali’s Gift, and the Mahatmya of Bhū-dāna
Narada bertanya bagaimana kebakaran hutan tidak melukai Aditi. Sanaka menjelaskan bahwa bhakti kepada Hari menyucikan seseorang dan tempat tinggalnya; di sana bencana, penyakit, pencuri, dan makhluk jahat tidak berkuasa. Viṣṇu menampakkan diri kepada Aditi, menganugerahkan anugerah; Aditi melantunkan stotra panjang tentang keagungan-Nya sebagai nirguṇa sekaligus saguṇa, tubuh kosmis, perwujudan Veda, serta kesatuan-Nya dengan Śiva. Bhagavān berjanji lahir sebagai putranya dan mengajarkan tanda batin para pemuja yang ‘memikul’ Dia: ahimsa, kebenaran, kesetiaan/keteguhan, pelayanan kepada guru, kecintaan pada tīrtha, pemujaan Tulasī, nāma-saṅkīrtana, dan perlindungan sapi. Aditi melahirkan Vāmana; Kaśyapa memuji-Nya. Pada yajña Soma Bali, Śukra memperingatkan agar tidak memberi, namun Bali menegaskan dharma dāna kepada Viṣṇu. Vāmana meminta tanah tiga langkah, mengajarkan pelepasan dan ajaran antaryāmin, lalu memaparkan mahātmya bhū-dāna dengan kisah Bhadramatī–Sughoṣa dan tingkatan pahala. Viṣṇu membesar, mengukur dunia, menembus telur kosmis; dari air kaki-Nya lahirlah Gaṅgā. Bali terikat namun dianugerahi Rasātala dengan Viṣṇu sebagai penjaga gerbang. Bab ditutup dengan pujian bagi Gaṅgā dan pahala mendengar kisah ini.
Dharma-ākhyāna (Discourse on Dharma): Worthy Charity, Fruitless Gifts, and the Merit of Building Ponds
Setelah mendengar kemuliaan Gaṅgā yang melenyapkan dosa, Nārada bertanya kepada Sanaka tentang tanda-tanda penerima dāna yang layak. Sanaka menegaskan bahwa demi buah yang tak binasa, dāna hendaknya diberikan kepada brāhmaṇa yang memenuhi syarat, serta menjelaskan batasan dalam menerima pemberian (pratigraha). Lalu disajikan daftar panjang penerima yang membuat dāna menjadi sia-sia (niṣphala): kemunafikan, iri, pelanggaran seksual, mata pencaharian yang menyakiti, pelayanan ritual yang tidak patut, dan memperdagangkan tindakan suci. Dāna juga dinilai menurut motif: tertinggi ialah yang dipersembahkan dengan śraddhā sebagai pemujaan kepada Viṣṇu; yang sedang/rendah ialah yang didorong keinginan, atau diberikan dengan marah dan menghina, atau kepada yang tidak layak. Kekayaan dipuji bila dipakai untuk amal; hidup bagi sesama disebut tanda hidup sejati. Selanjutnya Dharmarāja memuji Bhagīratha, memberi ajaran ringkas tentang dharma-adharma, dan menguraikan pahala besar menolong brāhmaṇa serta membangun kolam. Pekerjaan air untuk umum—menggali, membersihkan lumpur, membendung, menanam pohon, menggerakkan orang lain—dinyatakan menghancurkan dosa dan membawa ganjaran surga, lalu bab ditutup.
Dharmānukathana (Narration of Dharma)
Dalam adhyaya ini, Dharmarāja menasihati seorang raja dan merinci laku dharma yang buahnya (phala) meningkat bertahap. Membangun mandira bagi Śiva atau Hari, bahkan kuil kecil dari tanah liat, memberi tinggal berkalpa-kalpa di alam Viṣṇu; lalu naik ke Brahmapura dan svarga, hingga akhirnya kelahiran yogis dan pembebasan (mokṣa). Pahala dilipatgandakan menurut bahan bangunan—kayu bakar, bata, batu, kristal, tembaga, emas—serta layanan pemeliharaan: membersihkan, memplester, memercikkan air suci, menghias, dan menjaga. Karya umum—kolam, waduk, sumur, tangki, kanal, desa, āśrama, kebun dan rimbunan—dinilai menurut manfaat sosial; ada asas keadilan: miskin dan kaya memperoleh buah yang sama bila memberi sesuai kemampuan. Bagian bhakti menonjolkan Tulasī: menanam, menyiram, mempersembahkan daun, dan mengaturkannya kepada Śālagrāma, serta memakai ūrdhva-puṇḍra; semuanya menjanjikan lenyapnya dosa besar dan lama tinggal di alam Nārāyaṇa. Disebut pula bahan abhiṣeka—susu, ghee, pañcāmṛta, air kelapa, sari tebu, air tersaring, air harum—serta waktu suci seperti Ekādaśī, Dvādaśī, pūrṇimā, gerhana, saṅkrānti, dan yoga-nakṣatra. Dāna-dharma ditegaskan: makanan dan air adalah pemberian tertinggi; sapi dan pengetahuan membebaskan; sedekah permata dan kendaraan memberi loka yang berbeda. Seni pelayanan mandira—musik, tari, lonceng, sangkha, pelita—dipandang sebagai seva menuju mokṣa. Penutupnya menegaskan metafisika Vaiṣṇava: dharma, tindakan, sarana, dan buahnya semuanya adalah Viṣṇu.
Dharmopadeśa-Śānti: Rules of Impurity, Expiations, and Ancestor Rites
Dharmaraja menasihati sang raja tentang aturan śauca (kesucian) serta niṣkṛti/prāyaścitta yang berlandaskan Śruti–Smṛti. Dibahas kenajisan saat makan karena sentuhan caṇḍāla/orang jatuh, noda ucchiṣṭa, keluaran tubuh, buang air, muntah, dan lain-lain; lalu ditetapkan pemulihan bertahap: mandi tri-sandhyā, pañcagavya, puasa, persembahan ghee, serta japa Gāyatrī yang banyak. Juga diuraikan najis sentuhan dengan antyaja, masa haid dan kelahiran, serta ditegaskan mandi wajib bahkan setelah ritus seperti Brahma-kūrca. Aturan perilaku seksual membedakan musim/di luar musim, hubungan yang tidak patut, dan menyebut beberapa dosa berat yang penebusannya dinyatakan hanya dengan memasuki api. Kematian karena bunuh diri atau kecelakaan tidak membuat seseorang terbuang selamanya bila menjalankan Cāndrāyaṇa/Kṛcchra. Ada bagian tentang etika melukai sapi, tingkatan tapa menurut jenis senjata, norma cukur/śikhā, dan keadilan raja. Penutup memuat pahala iṣṭa–pūrta, rincian pembuatan pañcagavya, lamanya sūtaka dan najis keguguran, perpindahan gotra saat pernikahan, serta tata cara dan jenis śrāddha/tarpaṇa.
Pāpa-bheda, Naraka-yātanā, Mahāpātaka-vicāra, Atonement Limits, Daśa-vidhā Bhakti, and Gaṅgā as Final Remedy
Dalam dialog yang dibingkai oleh kisah Sanaka, Dharmaraja Yama mengajarkan Raja Bhagīratha tentang pembagian dosa serta nama-nama neraka dan siksaan mengerikan (api, pemotongan, pembekuan, hukuman kotoran, alat-alat besi). Lalu dijelaskan empat mahāpātaka—brahmahatyā, surā-pāna, steya (terutama pencurian emas), dan guru-talpa-gamana—serta pergaulan dengan pelaku dosa sebagai yang kelima, berikut dosa-dosa “setara” yang mewarisi bobotnya. Dibedakan perbuatan yang masih mungkin ditebus dengan prāyaścitta dan yang dinyatakan aprāyaścitta, disertai rangkaian akibat berupa tinggal di neraka dan kelahiran hina bagi iri hati, pencurian, zina, sumpah palsu, menghalangi dana, pajak berlebihan, menajiskan kuil, dan lain-lain. Bagian akhir beralih pada jalan pemulihan: prāyaścitta di hadapan Viṣṇu, daya penyelamat Gaṅgā, tipologi bhakti sepuluh macam (tāmasik–rājasik–sāttvik), penegasan kesatuan Hari dan Śiva, serta tekad Bhagīratha membawa Gaṅgā demi pembebasan leluhur.
Bhāgīratha’s Bringing of the Gaṅgā
Narada bertanya bagaimana Bhagiratha bertapa di Himalaya dan bagaimana Gangga diturunkan. Sanaka menuturkan: Bhagiratha, raja-pertapa, mendatangi pertapaan Bhrigu dan memohon ajaran tentang sebab kemajuan rohani manusia serta perbuatan yang menyenangkan Bhagavan. Bhrigu menjelaskan satya sebagai ucapan yang selaras dharma dan membawa manfaat bagi makhluk, memuliakan ahiṃsā, memperingatkan bahaya pergaulan jahat, serta mengajarkan ingatan Vaiṣṇava melalui pemujaan dan japa mantra: delapan suku kata “Oṁ Namo Nārāyaṇāya” dan dua belas suku kata “Oṁ Namo Bhagavate Vāsudevāya”, disertai meditasi wujud Nārāyaṇa. Bhagiratha melakukan tapa yang amat berat di Himavat; kedahsyatannya membuat para dewa cemas, lalu mereka memuji Mahāviṣṇu di Samudra Susu. Viṣṇu menampakkan diri, menjanjikan pengangkatan leluhur, dan memerintahkan Bhagiratha memuja Śambhu (Śiva). Bhagiratha melantunkan pujian kepada Īśāna; Śiva hadir dan menganugerahkan anugerah: Gangga memancar dari jalinan rambut Śiva, mengikuti Bhagiratha, menyucikan tempat gugurnya putra-putra Sagara, dan membebaskan mereka ke alam Viṣṇu. Bab ditutup dengan phalaśruti: mendengar atau melafalkan kisah ini memberi pahala setara mandi di Gangga dan menuntun pencerita menuju kediaman Viṣṇu.
Dvādaśī-vrata: Month-by-month Viṣṇu Worship and the Year-End Udyāpana
Setelah Sūta menautkan kelanjutan wacana, Nārada yang tersentuh oleh Gaṅgā-māhātmya memohon kepada Sanaka agar mengajarkan vrata (nazar suci) bagi Hari yang menyenangkan Viṣṇu serta menyelaraskan pravṛtti dan nivṛtti. Sanaka memaparkan siklus Dvādaśī-vrata pada hari ke-12 paruh terang, bulan demi bulan dari Mārgaśīrṣa hingga Kārtika: puasa, aturan kemurnian, abhiṣeka dengan takaran susu tertentu, mantra kepada nama-nama Viṣṇu seperti Keśava, Nārāyaṇa, Mādhava, Govinda, Trivikrama, Vāmana, Śrīdhara, Hṛṣīkeśa, Padmanābha, Dāmodara, homa (terutama 108 persembahan), berjaga malam (jāgaraṇa), serta dāna berupa wijen, kṛśarā, beras, gandum, madu, apūpa, pakaian, emas. Puncaknya adalah udyāpana tahunan pada Kṛṣṇa Dvādaśī bulan Mārgaśīrṣa: membangun maṇḍapa, diagram sarvatobhadra, dua belas kumbha, pratimā Lakṣmī-Nārāyaṇa atau nilai setara, abhiṣeka pañcāmṛta, mendengar Purāṇa, homa wijen besar, menjamu dua belas brāhmaṇa, dan memberi hadiah kepada ācārya. Phala-śruti menjanjikan lenyapnya dosa, terangkatnya garis keturunan, tercapainya tujuan, dan kediaman Viṣṇu; bahkan mendengar/melantunkan memberi pahala setara Vājapeya.
Pūrṇimā-vrata (Lakṣmī–Nārāyaṇa-vrata): Observance, Moon Arghya, and Annual Udyāpana
Sanaka mengajarkan kepada Nārada ‘Pūrṇimā-vrata’, suatu brata utama yang memusnahkan dosa, menghapus duka, serta melindungi dari mimpi buruk dan pengaruh planet yang merugikan. Dimulai pada Pūrṇimā terang bulan Mārgaśīrṣa, pelaku brata bersuci (membersihkan gigi, mandi, busana putih, ācaman), mengingat Nārāyaṇa, lalu bersaṅkalpa dan memuja Lakṣmī–Nārāyaṇa dengan upacāra, kīrtana/pembacaan suci. Dilakukan homa gaya gṛhya di sthaṇḍila persegi dengan persembahan ghee dan wijen selaras Puruṣa-sūkta, kemudian Śānti-sūkta untuk penenteraman. Pada hari Pūrṇimā berpuasa, mempersembahkan arghya kepada Candra dengan bunga putih dan akṣata, serta berjaga malam menghindari pāṣaṇḍa. Pagi berikutnya melanjutkan pemujaan, memberi makan Brāhmaṇa, lalu keluarga makan. Brata diulang tiap bulan selama setahun dan ditutup udyāpana bulan Kārtika: maṇḍapa dihias, pola sarvatobhadra, pemasangan kumbha, abhiṣeka pañcāmṛta, menghadiahkan pratimā kepada guru beserta dakṣiṇā, jamuan Brāhmaṇa, dana wijen dan tila-homa—menganugerahkan kemakmuran dan akhirnya mencapai kediaman Viṣṇu.
Dhvajāropaṇa and Dhvajāgopaṇa: Procedure, Stotra, and Phala (Merit) of Raising Viṣṇu’s Flag
Sanaka mengajarkan vrata suci tentang mengangkat dan menjaga dhvaja (panji) bagi Śrī Viṣṇu, yang dinyatakan menghancurkan dosa serta setara atau lebih utama daripada dana besar dan laku tīrtha. Upacara dimulai pada Kārtika śukla-daśamī dengan penyucian diri dan disiplin; pada ekādaśī dilakukan pengendalian dan ingatan terus-menerus kepada Nārāyaṇa. Bersama para brāhmaṇa dilakukan svasti-vācana dan nāndī-śrāddha; panji dan tiangnya disucikan dengan Gāyatrī, lalu dipuja Sūrya, Garuḍa (Vainateya), dan Candra; Dhātā serta Vidhātā dihormati pada tiang panji. Api gṛhya ditegakkan dan 108 persembahan pāyasa dipersembahkan dengan Puruṣa-sūkta, stotra Viṣṇu, Irāvatī, serta persembahan khusus bagi Garuḍa dan himne surya/penenteraman, diakhiri berjaga malam dekat Hari. Dengan musik dan stotra, panji diarak dan ditegakkan di gerbang atau puncak kuil; Viṣṇu dipuja dan stotra panjang dilantunkan. Ritus ditutup dengan penghormatan kepada brāhmaṇa dan guru, jamuan, pāraṇa; phalaśruti menjanjikan lenyapnya dosa dengan cepat, sārūpya selama ribuan yuga selama panji berdiri, dan berkah bahkan bagi yang hanya melihatnya lalu bersukacita.
Dhvaja-Dhāraṇa Mahātmyam: Sumati–Satyamatī, Humility, and Deliverance by Hari’s Messengers
Narada bertanya kepada Sanaka tentang kemuliaan Sumati yang dipuji sebagai pelaku utama dhvaja-dhāraṇa (mengangkat panji bagi Viṣṇu). Sanaka menuturkan kisah Kṛta-yuga: Raja Sumati dari Satpadvīpa dan Ratu Satyamatī adalah penguasa Vaiṣṇava teladan—jujur, ramah pada tamu, tanpa ego, tekun mendengar Hari-kathā, gemar dana makanan dan air, serta membangun karya umum seperti kolam, taman, dan sumur. Sumati rutin menaikkan panji indah pada Dvādaśī demi kehormatan Viṣṇu. Resi Vibhaṇḍaka datang dan memuji vinaya (kerendahan hati) sang raja sebagai jalan meraih dharma, artha, kāma, dan mokṣa. Saat ditanya mengapa pasangan ini terkait khusus dengan pengangkatan panji dan tarian di kuil, Sumati mengungkap kisah kelahiran lampau: setelah dosa besar, hidup di hutan dekat kuil Viṣṇu yang rusak; tanpa sengaja namun terus-menerus melakukan seva—memperbaiki, membersihkan, memercik air suci, menyalakan pelita—dan akhirnya menari di pelataran kuil. Utusan Viṣṇu menahan para utusan Yama, menegaskan bahwa Hari-sevā dan bhakti yang tak disengaja pun membakar dosa. Pasangan itu dibawa ke kediaman Viṣṇu, lalu kembali dengan kemakmuran; bab ditutup dengan pujian atas pahala mendengar dan melantunkan kisah pemusnah dosa ini.
The Pañcarātra Vow (Haripañcaka Vrata): Observance from Śukla Ekādaśī to Pūrṇimā
Sanaka mengajarkan kepada Nārada Haripañcaka/kaul Pañcarātra yang langka: vrata Viṣṇu selama lima malam dari Śukla Ekādaśī hingga Pūrṇimā pada bulan Mārgaśīrṣa, yang menganugerahkan dharma, artha, kāma, dan mokṣa. Dimulai dengan penyucian diri, membersihkan gigi dan mandi, deva-pūjā serta pañca-mahāyajña, disertai aturan makan sekali sehari; pada Ekādaśī berpuasa, bangun dini, memuja Hari di rumah dan melakukan abhiṣeka pañcāmṛta. Bhakta mempersembahkan upacāra (gandha, puṣpa, dhūpa, dīpa, naivedya, tāmbūla), pradakṣiṇā, serta namaskāra bernuansa jñāna kepada Vāsudeva/Janārdana; lalu saṅkalpa tidak makan selama lima malam, berjaga (jāgaraṇa) pada Ekādaśī dan berlanjut hingga Dvādaśī–Caturdaśī. Pada Pūrṇimā dilakukan abhiṣeka susu, tila-homa, dan sedekah wijen; hari keenam setelah tugas āśrama, meminum pañcagavya, memberi makan brāhmaṇa, berdana pāyasa dengan madu dan ghee, buah, kalaśa air harum, serta bejana berisi lima permata, dan udyāpana setelah siklus setahun. Bab ini menutup dengan janji pahala besar dan mokṣa, bahkan pembebasan melalui mendengar dengan bhakti.
Māsopavāsa (Month-long Fast) and Repeated Parāka Observances: Procedure and Fruits
Sanaka mengajarkan suatu vrata Vaiṣṇava yang ‘menghancurkan dosa’, dilakukan pada paruh terang (śukla-pakṣa) di salah satu dari empat bulan: Āṣāḍha hingga Āśvina. Pelaku mengekang indria, meminum pañcagavya, tidur dekat Viṣṇu, bangun dini, menunaikan kewajiban harian, dan memuja Viṣṇu tanpa amarah. Di hadapan brāhmaṇa terpelajar ia melakukan svasti-vācana, lalu bersaṅkalpa berpuasa sebulan penuh dan berbuka hanya menurut titah Tuhan. Ia tinggal di kuil Hari, setiap hari memandikan arca dengan pañcāmṛta, menyalakan pelita yang terus menyala, melakukan pembersihan dengan ranting apāmārga serta mandi sesuai aturan, bersembahyang, memberi makan brāhmaṇa beserta dakṣiṇā, dan makan teratur bersama keluarga. Teks lalu menyebut buah yang makin tinggi bagi pengulangan puasa-bulan/Parāka, melampaui jasa yajña besar, hingga mencapai keserupaan dengan Hari dan kebahagiaan tertinggi. Mokṣa dinyatakan mudah bagi perempuan maupun laki-laki, semua āśrama, bahkan melalui mendengar atau melantunkan ajaran ini dengan bhakti kepada Nārāyaṇa.
Ekādaśī Vrata-Vidhi and the Galava–Bhadrashīla Itihāsa (Dharmakīrti before Yama)
Sanaka mengajarkan vrata bhakti kepada Viṣṇu yang berlaku universal: Ekādaśī. Ia menegaskan Ekādaśī sebagai tithi paling berpahala, mewajibkan puasa penuh pada hari kesebelas, serta kerangka tiga hari: makan sekali pada Daśamī dan Dvādaśī, dengan upavāsa ketat pada Ekādaśī. Ritusnya meliputi mandi suci, pemujaan Viṣṇu, mantra dan saṅkalpa, berjaga malam dengan kīrtana, mendengarkan Purāṇa, lalu pada Dvādaśī bersembahyang kembali, memberi makan brāhmaṇa dan memberi dakṣiṇā, kemudian makan dengan tutur kata yang terkendali. Ditekankan pula pagar etika: menjauhi pergaulan buruk dan kemunafikan, mengutamakan kemurnian batin bersama tapa. Lalu dikisahkan itihāsa: Bhadrashīla, putra resi Gālava, menceritakan kelahiran lampau sebagai Raja Dharmakīrti; puasa dan berjaga Ekādaśī yang terjadi tanpa sengaja di tepi Reva membuat Citragupta menyatakan ia bebas dari dosa; Yama memerintahkan para utusan agar menjauhi para bhakta Nārāyaṇa—menampakkan daya penyelamat Ekādaśī dan nāma-smaraṇa.
Varṇāśrama-ācāra: Common Virtues, Varṇa Duties, and the Four Āśramas
Sūta menuturkan: setelah ajaran Sanaka tentang hari suci observansi bagi Hari, Nārada memohon uraian yang tertata tentang vrata paling berjasa, lalu memperluas pertanyaan pada aturan varṇa, kewajiban āśrama, serta tata cara prāyaścitta. Sanaka menjawab bahwa Hari yang tak binasa dipuja melalui perilaku selaras varṇāśrama. Ia menjelaskan empat varṇa dan tiga golongan dvija yang ditegakkan oleh upanayana; menegaskan keteguhan pada svadharma dan ritus gṛhya; serta membolehkan adat setempat bila tidak bertentangan dengan smṛti. Ia menyebut praktik yang harus dihindari atau dibatasi pada Kali-yuga, termasuk beberapa yajña dan ritus khusus, serta memperingatkan bahaya jatuh ke paham menyimpang karena meninggalkan svadharma. Sanaka merangkum tugas brāhmaṇa, kṣatriya, vaiśya, dan śūdra, menyatakan kebajikan umum—kesederhanaan, kegembiraan batin, kesabaran, kerendahan hati—dan menerangkan kemajuan āśrama sebagai sarana dharma tertinggi. Bab ditutup dengan pujian pada karma-yoga yang disertai bhakti kepada Viṣṇu sebagai jalan menuju paramapada tertinggi tanpa kembali.
Varṇāśrama Saṁskāras, Upanayana Windows, Brahmacārin Ācāra, and Anadhyāya Prohibitions
Sanaka menasihati Nārada tentang tata laku varṇāśrama yang ortodoks: mengecam paradharma, menunaikan saṁskāra sejak garbhādhāna, serta ritus kehamilan dan kelahiran (sīmantakarma, jātakarma, nāndī/vṛddhi-śrāddha), kaidah penamaan, dan waktu cūḍākaraṇa beserta prāyaścitta bila terlewat. Ia menetapkan usia upanayana menurut varṇa, hukuman bila melewati jendela utama, serta tanda yang benar—mēkhalā, kulit (ajina), tongkat, dan pakaian beserta ukurannya. Lalu dikodifikasi dharma brahmacārin: tinggal bersama guru, hidup dari sedekah, swādhyāya Veda harian, Brahma-yajña dan tarpaṇa, pantangan makanan, serta etika penghormatan—siapa yang patut dihormati dan siapa yang harus dihindari. Penutup memaparkan waktu mujur/naas, tithi pemberi pahala dana (Manvādī, Yugādī, Akṣaya), dan aturan anadhyāya; belajar pada masa terlarang dianggap dosa berat yang menghancurkan kesejahteraan. Akhirnya ditegaskan bahwa studi Veda adalah jalan pokok brāhmaṇa, dan Veda adalah Viṣṇu sebagai Śabda-Brahman.
Gṛhastha-praveśa: Vivāha-bheda, Ācāra-śauca, Śrāddha-kāla, and Vaiṣṇava-lakṣaṇa
Dalam bingkai ajaran Sanaka–Nārada, bab ini bergerak dari selesainya brahmacarya—melayani guru, memperoleh izin, menegakkan api suci—menuju masuknya gṛhastha melalui pemberian dakṣiṇā dan pernikahan. Dijelaskan kriteria memilih pasangan yang layak (sifat-sifat baik, batas kekerabatan seperti larangan segotra) serta tanda-tanda yang menggugurkan. Delapan jenis vivāha diuraikan, beberapa dicela, sementara pilihan lain dibolehkan bertahap. Ditetapkan ācāra lahir-batin: tata busana, kebersihan, pengendalian ucapan, hormat kepada guru, menjauhi fitnah dan pergaulan buruk; juga mandi pemulihan kesucian setelah kontak yang menajiskan serta pertanda baik-buruk yang patut dihindari. Diwajibkan sandhyā, yajña berkala, dan penjadwalan śrāddha yang luas—pada momen astronomis, gerhana, pretapakṣa, manvādi, aṣṭakā, dan dalam konteks tīrtha. Penutup menegaskan ciri Vaiṣṇava: ritus tanpa ūrdhva-puṇḍra dinyatakan sia-sia, keberatan atas tulasī/tilaka dalam śrāddha ditolak sebagai adat tanpa dasar, dan rahmat Viṣṇu menjadi penjamin keberhasilan dharma.
Gṛhastha-nitya-karman: Śauca, Sandhyā-vidhi, Pañca-yajña, and Āśrama-krama
Sanaka mengajarkan Nārada dharma harian gṛhastha sejak brahma-muhūrta: aturan arah dan pengendalian saat buang hajat, tempat yang terlarang, serta ajaran kesucian lahir dan batin. Dijelaskan sarana śauca berupa tanah dan air, sumber tanah liat yang layak, hitungan bertahap pemakaian pembersihan dengan pengali menurut āśrama, serta keringanan saat sakit/bencana dan ketentuan dalam konteks perempuan. Lalu diuraikan ācāmana dengan sentuhan yang ditetapkan, pemilihan kayu sikat gigi beserta mantra, mandi dengan pemanggilan sungai, tīrtha, dan kota-kota pemberi mokṣa, kemudian tata Sandhyā: saṅkalpa, percikan vyāhṛti, nyāsa, prāṇāyāma, mārjana, aghamarṣaṇa, arghya kepada Sūrya, dan dhyāna Gāyatrī/Sāvitrī/Sarasvatī. Diperingatkan dosa melalaikan Sandhyā, ditetapkan frekuensi mandi menurut āśrama, serta diperintahkan Brahmayajña, Vaiśvadeva, penghormatan tamu, dan pañca-mahāyajña. Akhirnya beralih ke tapa vānaprastha dan laku yati, berpuncak pada meditasi Vedānta berpusat pada Nārāyaṇa dan janji mencapai parama-pada Viṣṇu.
Śrāddha-prayoga: Niyama, Brāhmaṇa-parīkṣā, Kutapa-kāla, Tithi-nyāya, and Vaiṣṇava-phala
Sanaka mengajarkan kepada Nārada ‘tata cara tertinggi’ Śrāddha. Diawali laku pengekangan sehari sebelumnya—makan sekali, brahmacarya, tidur di tanah, menghindari bepergian/amarah/ hubungan seksual—serta peringatan dosa berat bagi undangan yang melanggar kesucian diri. Lalu dijelaskan brāhmaṇa yang layak—śrotriya, bhakta Viṣṇu, menguasai Smṛti dan Vedānta, penuh welas asih—serta yang tidak layak—cacat tubuh, mata pencaharian tidak suci, perilaku tidak etis, memperjualbelikan Veda/mantra, dan lain-lain. Waktu yang benar ialah Kutapa pada aparāhṇa (sore); disertai kaidah kṣayāha, viddhā, pemilihan tithi kṣaya/vṛddhi, dan parā-tithi. Berikutnya urutan ritual—undangan untuk Viśvedevas dan Pitṛ, bentuk maṇḍala, pādya/ācamanīya, taburan wijen, bejana arghya, isyarat mantra, pemujaan, persembahan havis dan homa (bila tanpa api: palm-homa), tata cara memberi makan dalam keheningan, hitungan japa Gāyatrī, bacaan Puruṣa Sūkta, Tri-madhu/Tri-suparṇa, Pāvamāna, piṇḍa, svasti-vācana, akṣayya-udaka, dakṣiṇā, dan mantra pelepasan. Ditutup dengan pengganti saat darurat dan kesimpulan Vaiṣṇava: segala makhluk dan persembahan diliputi Viṣṇu; Śrāddha yang benar meluruhkan dosa dan meneguhkan kemakmuran garis keturunan.
Tithi-Nirṇaya for Vratas: Ekādaśī Rules, Saṅkrānti Punya-kāla, Eclipse Observances, and Prāyaścitta
Sanaka menasihati para resi bahwa penetapan tithi yang tepat mutlak bagi ritus Śrauta/Smārta, vrata, dan dāna. Ia menyebut tithi-tithi utama untuk puasa serta aturan penerimaan berdasarkan paraviddhā vs pūrvaviddhā, pembagian waktu (pūrvāhṇa/aparāhṇa, pradoṣa), dan keadaan tithi saat kṣaya/vṛddhi. Dibahas penetapan vrata berbasis tithi–nakṣatra, terutama sengketa Ekādaśī/Dvādaśī: cacat Daśamī, dua Ekādaśī, ketersediaan waktu pāraṇā, serta perbedaan aturan bagi perumah tangga dan pertapa. Lalu dijelaskan disiplin gerhana: tidak makan, melakukan japa dan homa sepanjang gerhana, serta persembahan dengan mantra-mantra Weda yang berbeda untuk gerhana bulan dan matahari. Jendela punya-kāla Saṅkrānti dihitung dalam ghaṭikā menurut rasi, termasuk Dakṣiṇāyana pada Karkaṭaka dan Uttarāyaṇa pada Makara. Penutupnya menegaskan bahwa ketepatan dharma yang disertai bhakti menyenangkan Keśava dan mengantar ke kediaman tertinggi Viṣṇu.
Prāyaścitta for Mahāpātakas and the Sin-destroying Power of Viṣṇu-smaraṇa
Sanaka mengajarkan kepada Nārada bahwa prāyaścitta adalah penyempurna yang tak terpisahkan dari upacara: tindakan tanpa penebusan menjadi sia-sia, dan pemurnian sejati harus berorientasi kepada Nārāyaṇa. Bab ini menetapkan empat mahāpātaka—brahmahatyā, surā-pāna, suvarṇa-steya, dan guru-talpa-gamana—serta menambahkan pergaulan dengan pelakunya sebagai cela kelima, dan menilai tingkat “jatuh” menurut lamanya hidup bersama. Diuraikan penebusan bagi pembunuhan (Brāhmaṇa dan lainnya): tapa asketik membawa tengkorak, tinggal di tīrtha, mengemis, sandhyā, dan kaul bertahun-tahun; juga norma hukuman raja beserta keringanan bagi perempuan, anak, dan orang sakit. Bagian besar mengatur surā: jenis-jenisnya, wadah, pengecualian obat, dan inisiasi ulang dengan Cāndrāyaṇa. Penebusan pencurian dibuat teknis lewat nilai emas-perak dan ukuran halus dari trasareṇu hingga suvarṇa, disertai ambang prāṇāyāma dan japa Gāyatrī. Bagian lain membahas seks terlarang, pembunuhan hewan, sentuhan kenajisan, serta pantangan makanan dan ucapan. Penutup beralih ke mokṣa-dharma: bhakti kepada Hari, dan bahkan satu kali smaraṇa Viṣṇu menghancurkan tumpukan dosa serta menyempurnakan dharma-artha-kāma-mokṣa.
Yamapatha (The Road of Yama), Dāna-Phala, and the Imperishable Fruition of Karma
Narada memohon kepada Sanaka agar menjelaskan jalan pascakematian yang amat sukar di bawah kuasa Yama. Sanaka membandingkan perjalanan orang saleh—terutama para dermawan—yang lebih mudah, dengan nasib para pendosa: jarak yang sangat jauh, medan keras, dahaga, pukulan para utusan Yama, serta ikatan dan seretan yang mengerikan. Lalu ia menguraikan penghiburan hidup dharmis: dana tertentu memberi kenikmatan sepadan (makanan, air, susu-mentega, pelita, pakaian, harta); dana besar (sapi, tanah, rumah, kendaraan, hewan) menghadirkan kemakmuran dan wahana surgawi; bakti kepada orang tua dan resi, welas asih, dana pengetahuan, serta pembacaan Purana memuliakan perjalanan. Yama menghormati yang berjasa dalam rupa ilahi dan mengingatkan sisa cela; para pendosa diancam, diadili menurut catatan Citragupta, dilempar ke neraka, dan setelah penebusan dapat lahir kembali sebagai makhluk tak bergerak. Terakhir, saat Narada ragu bagaimana pahala bertahan melewati pralaya, Sanaka menegaskan sifat Nārāyaṇa yang tak binasa, perwujudan-Nya sebagai Brahmā/Viṣṇu/Rudra menurut guṇa, penciptaan ulang kosmos, dan bahwa karma yang belum dinikmati tidak lenyap meski berganti kalpa.
Saṃsāra-duḥkha: Karmic Descent, Garbhavāsa, Life’s Anxieties, Death, and the Call to Jñāna-Bhakti
Sanaka mengajarkan Nārada hakikat keterikatan: makhluk menikmati alam pahala, lalu jatuh oleh buah dosa yang menyakitkan, dan kembali ke kelahiran rendah—bermula dari yang tak bergerak (pohon, rumput, gunung), lalu cacing, kemudian hewan—hingga akhirnya memperoleh kelahiran manusia. Dengan perumpamaan pertumbuhan tumbuhan dijelaskan bagaimana saṃskāra (kesan batin) membentuk perwujudan tubuh dan pematangan buah karma. Lalu diuraikan garbhavāsa: masuknya jīva bersama benih, tahap awal embrio seperti kalala dan perkembangan berikutnya, penderitaan janin serta ingatan akan neraka-neraka terdahulu; kelahiran digambarkan keras, dan lupa terjadi karena kebodohan rohani. Hidup manusia dipaparkan sebagai bayi yang tak berdaya, masa kanak tanpa disiplin, muda yang dikuasai nafsu dan kerakusan, rumah tangga penuh cemas, renta yang merosot, lalu kematian, ikatan oleh utusan Yama, dan pengalaman neraka kembali. Penutup menegaskan bahwa derita mengikis karma dan menyucikan; obatnya ialah tekun menumbuhkan pengetahuan tertinggi serta berbhakti-memuja Hari/Nārāyaṇa, sumber dan pelebur jagat, sebagai jalan langsung menuju mokṣa dari saṃsāra.
Mokṣopāya: Bhakti-rooted Jñāna and the Aṣṭāṅga Yoga of Viṣṇu-Meditation
Narada bertanya kepada Sanaka bagaimana tali jerat saṃsāra dapat diputus ketika makhluk terus-menerus mencipta dan mengalami karma. Sanaka memuji kemurnian Narada dan menegaskan bahwa Viṣṇu/Nārāyaṇa adalah pencipta–pemelihara–pelebur serta pemberi mokṣa, dipahami secara bhakti melalui pemujaan, perlindungan (śaraṇāgati), dan rupa-rupa ilahi, sekaligus secara tattva sebagai Brahman non-dual yang bercahaya oleh diri-Nya. Narada lalu menanyakan asal siddhi yoga. Sanaka mengajarkan: pembebasan melalui jñāna, namun jñāna berakar pada bhakti; bhakti tumbuh dari puṇya lewat dāna, yajña, tīrtha, dan laku suci lainnya. Yoga dua macam—karma-yoga dan jñāna-yoga; jñāna-yoga memerlukan landasan tindakan benar, disertai pemujaan pratimā Keśava dan etika berasaskan ahiṃsā. Saat dosa terkikis, lahir pembedaan kekal–tak kekal, menumbuhkan vairāgya dan kerinduan akan mokṣa. Sanaka menjelaskan ātman tinggi/rendah, kṣetra–kṣetrajña, māyā, serta Śabda-Brahman (mahāvākya) sebagai pemantik wawasan pembebasan. Akhirnya dipaparkan aṣṭāṅga-yoga—yama, niyama, āsana, prāṇāyāma (nāḍī dan empat pola napas), pratyāhāra, dhāraṇā, dhyāna, samādhi—berpuncak pada meditasi rupa Viṣṇu dan kontemplasi Praṇava ‘Oṁ’.
The Characteristics of Devotion to Hari
Narada memohon kepada Sanaka agar menjelaskan bagaimana Tuhan berkenan, meski anggota-anggota yoga telah diajarkan. Sanaka menjawab: pembebasan lahir dari pemujaan sepenuh hati kepada Narayana; para bhakta dilindungi dari permusuhan dan malapetaka, dan indria menjadi “berbuah” bila dipakai untuk darśana, pūjā, serta nāma-sevā kepada Viṣṇu. Ia berulang kali menegaskan keagungan Guru dan Keśava, serta menyatakan bahwa di tengah ketidak-kekalan saṃsāra, hanya upāsanā kepada Hari yang merupakan kenyataan yang teguh. Bab ini memadukan landasan etika (ahiṃsā, satya, asteya, brahmacarya, aparigraha), kerendahan hati, welas asih, satsanga, dan nāma-japa tanpa henti, dengan renungan Vedānta tentang jāgrat–svapna–suṣupti untuk menunjukkan Tuhan sebagai Penguasa batin melampaui segala pembatas. Ditekankan urgensi karena hidup singkat, dicela kesombongan, iri, amarah, dan nafsu; dipuji pelayanan di kuil Viṣṇu (bahkan menyapu dan membersihkan); ditegaskan keunggulan bhakti melampaui status sosial. Penutupnya: ingatan, pemujaan, dan penyerahan diri kepada Janārdana memutus belenggu saṃsāra dan menghantarkan ke kediaman tertinggi.
The Exposition of Spiritual Knowledge (Jñāna-pradarśanam)
Sanaka memuji daya seketika penghancur dosa dari mendengar/melantunkan kemuliaan Viṣṇu, serta membedakan para pemuja menurut kelayakan: yang tenang menaklukkan enam musuh batin dan mendekati Yang Tak-Binasā melalui jñāna-yoga; yang tersucikan oleh tata-ritus mendekati Acyuta melalui karma-yoga; yang serakah dan tersesat mengabaikan Tuhan. Lalu diperkenalkan kisah kuno yang menjanjikan pahala setara Aśvamedha: Vedamālī, ahli Veda dan bhakta Hari, jatuh ke perdagangan tak etis karena kerakusan demi keluarga—menjual barang terlarang, minuman keras, bahkan nazar, serta menerima pemberian yang tidak suci. Menyadari ketidakpuasan hasrat, ia bertobat, membagi harta, membiayai karya umum dan pembangunan kuil, lalu pergi ke pertapaan Nara-Nārāyaṇa. Ia bertemu resi bercahaya Jānantī, menerima jamuan, dan memohon pengetahuan pembebasan. Jānantī mengajarkan: smaraṇa Viṣṇu tanpa putus, tidak memfitnah, welas asih, meninggalkan enam keburukan, memuliakan tamu, pemujaan bunga/daun tanpa pamrih, persembahan bagi dewa–ṛṣi–pitṛ, pelayanan api suci, membersihkan/memperbaiki kuil serta memberi pelita, pradakṣiṇā dan stotra, serta belajar Purāṇa dan Vedānta setiap hari. Pertanyaan ‘Siapakah aku?’ dijawab lewat ajaran tentang ego yang lahir dari pikiran, Diri tanpa sifat, dan mahāvākya ‘Tat tvam asi’, hingga realisasi Brahman dan mokṣa terakhir di Vārāṇasī. Penutupnya menyatakan: mendengar/membaca memutus belenggu karma.
Yajñamālī–Sumālī Upākhyāna: Merit-Transfer through Temple Plastering (Lepa) and the Redemption of a Sinner
Sanaka menuturkan kepada Nārada kisah dua saudara brāhmaṇa, putra Vedamālā: Yajñamālī dan Sumālī, yang hidupnya bertolak belakang. Yajñamālī membagi warisan dengan adil, tekun berdāna dan berdharma, memelihara karya-karya umum ayahnya, serta melayani mandir Viṣṇu; sedangkan Sumālī menghamburkan harta dalam musik, minuman keras, pelacur, zina, lalu jatuh pada pencurian dan makanan terlarang hingga hidupnya terlantar. Ketika keduanya wafat bersamaan, Yajñamālī dihormati para dūta Viṣṇu dan dibawa dengan vimāna menuju Viṣṇuloka; di jalan ia melihat Sumālī diseret para utusan Yama sebagai preta yang kelaparan dan kehausan. Karena welas asih dan dharma persahabatan (saptapadī), ia bertanya bagaimana pembebasan bagi orang yang sarat dosa. Para dūta Viṣṇu menjelaskan pahala kelahiran lampau Yajñamālī: di mandir Hari ia membersihkan lumpur dan menyiapkan tempat untuk lepa (plesteran); pahala lepa itu dapat dianugerahkan kepada orang lain. Yajñamālī memindahkan pahala itu kepada Sumālī; utusan Yama lari, kereta surgawi datang, dan keduanya mencapai Viṣṇuloka. Yajñamālī meraih mokṣa; Sumālī kemudian kembali ke bumi, menjadi brāhmaṇa saleh yang berbhakti kepada Hari, mandi di Gaṅgā, memandang Viśveśvara, dan mencapai kediaman tertinggi. Bab ini menegaskan bahwa pemujaan Viṣṇu, pergaulan dengan para bhakta Hari, dan nāma Hari meluluhkan bahkan dosa besar.
Hari-nāma Mahimā and Caraṇāmṛta: The Redemption of the Hunter Gulika (Uttaṅka Itihāsa)
Sanaka memuliakan Kamalāpati/Viṣṇu, menegaskan bahwa satu Nama Hari saja menghancurkan dosa orang yang terdelusi oleh objek indria dan rasa memiliki. Ia menarik garis norma: rumah tanpa pemujaan Hari bagaikan tanah kremasi; kebencian pada Weda serta pada sapi dan brāhmaṇa adalah sifat rākṣasa; pemujaan yang didorong niat jahat berujung pada kehancuran diri; bhakta sejati berorientasi pada kesejahteraan dunia dan ‘menjadi wujud Viṣṇu’. Lalu dikisahkan itihāsa Kṛta-yuga: pendosa kejam Gulika mencoba merampok kuil Keśava dan menyerang resi Vaiṣṇava Uttaṅka. Uttaṅka menahannya dan memberi wejangan tentang kesabaran, sia-sianya kemelekatan, serta keniscayaan daiva (takdir), menekankan bahwa hanya dharma/adharma yang mengikuti seseorang setelah mati. Tersentuh oleh satsaṅga dan kedekatan dengan Hari, Gulika menyesal, mengaku, lalu wafat; ia dihidupkan kembali dan disucikan oleh air pembasuhan kaki Viṣṇu (caraṇāmṛta). Bebas dosa, ia naik ke kediaman Viṣṇu, sementara Uttaṅka memuji Mahāviṣṇu, menutup ajaran mokṣa-dharma yang berpusat pada bhakti.
The Greatness of Viṣṇu (Uttaṅka’s Hymn, Hari’s Manifestation, and the Boon of Bhakti)
Narada bertanya kepada Sanaka tentang kidung pujian yang membuat Janārdana berkenan dan anugerah yang diterima Uttaṅka. Sanaka menuturkan: Uttaṅka, seorang bhakta Hari, tergerak oleh kesucian air dari kaki Tuhan (pādodaka), lalu melantunkan stotra panjang yang memuliakan Viṣṇu sebagai sebab mula, Ātman batin, kebenaran tertinggi melampaui māyā dan guṇa, sekaligus penopang alam semesta yang meresapi segalanya. Tersentuh oleh penyerahan dirinya, Śrīpati menampakkan diri; Uttaṅka bersujud, menangis, dan membasuh kaki Tuhan. Viṣṇu menawarkan anugerah; Uttaṅka hanya memohon bhakti yang teguh di semua kelahiran. Tuhan mengabulkannya, menganugerahkan pengetahuan ilahi yang langka lewat sentuhan śaṅkha, lalu mengajarkan pemujaan melalui kriyā-yoga dan memerintahkannya menuju kediaman Nara-Nārāyaṇa demi mokṣa. Penutupnya adalah phalaśruti: membaca atau mendengar bab ini menghapus dosa, memenuhi tujuan, dan berakhir pada pembebasan.
The Greatness of Viṣṇu (Viṣṇor Māhātmya)
Sanaka menasihati para brāhmaṇa tentang daya penyelamat Hari-kathā, Hari-nāma, dan pergaulan dengan para bhakta. Ia memuliakan para bhakta yang teguh dalam nāma-kīrtana meski perilaku lahiriah tampak kurang, serta menyatakan bahwa melihat, mengingat, memuja, bermeditasi, atau bersujud kepada Govinda saja dapat menyeberangkan makhluk melampaui saṃsāra. Lalu diperkenalkan kisah kuno: Raja Jayadhvaja dari garis Candra, yang tekun membersihkan kuil Viṣṇu dan mempersembahkan pelita di tepi Revā/Narmadā, ditanya oleh purohita Vītihotra tentang buah khusus dari dua laku itu. Jayadhvaja menuturkan rangkaian kelahiran lampau: brāhmaṇa terpelajar Raivata jatuh dalam mata pencaharian terlarang dan mati sengsara; terlahir sebagai caṇḍāla berdosa Daṇḍaketu, ia masuk ke kuil Viṣṇu yang kosong pada malam hari bersama seorang perempuan. Karena sentuhan tak disengaja dengan pembersihan kuil dan pemasangan pelita (tanpa niat suci), timbunan dosa lenyap; meski dibunuh para penjaga, mereka diantar utusan Viṣṇu ke Viṣṇuloka untuk masa yang sangat panjang, lalu kembali meraih kemakmuran di bumi. Jayadhvaja menegaskan bahwa bhakti yang disertai niat tulus berbuah tak terukur, menganjurkan pemujaan Jagannātha/Nārāyaṇa, menghargai satsaṅga, sevā kepada tulasī, pemujaan śālagrāma, dan memuliakan para bhakta yang pelayanannya mengangkat banyak generasi.
Manvantaras and Indras; Sudharmā’s Liberation through Viṣṇu-Pradakṣiṇā; Supremacy of Hari-Bhakti
Sanaka memperkenalkan pujian Vaiṣṇava yang menghancurkan dosa bila didengar dan dinyanyikan. Ia mengingat dialog kuno: Indra, di tengah kenikmatan surgawi, bertanya kepada Bṛhaspati tentang penciptaan pada Brahmā-kalpa terdahulu serta hakikat dan kewajiban Indra dan para dewa. Bṛhaspati mengakui batas pengetahuannya dan mengarahkan Indra kepada Sudharmā, makhluk yang turun dari Brahmaloka dan berada di kota Indra. Di balairung Sudharmā, Indra meminta kisah kalpa lampau dan sebab keunggulan Sudharmā. Sudharmā menjelaskan satu hari Brahmā (1000 caturyuga) dan menyebut empat belas Manu beserta Indra-Indra dan kelompok dewa pada tiap manvantara, menegaskan pola pemerintahan kosmis yang berulang. Ia lalu menuturkan kelahiran lamanya: sebagai burung nasar berdosa yang terbunuh dekat kuil Viṣṇu; seekor anjing menyeretnya sambil mengitari kuil, sehingga pradakṣiṇā terjadi tanpa sengaja dan keduanya meraih keadaan tertinggi. Penutup menegaskan buah bhakti: pradakṣiṇā mekanis pun memberi pahala besar; pemujaan dan ingatan terus-menerus kepada Nārāyaṇa menghapus dosa, mengakhiri kelahiran kembali, dan menganugerahkan kediaman Viṣṇu; mendengar/membaca ajaran ini setara pahala Aśvamedha.
Yuga-Dharma Framework, Kali-Yuga Diagnosis, and the Hari-Nāma Remedy (Transition to Vedānta Inquiry)
Narada bertanya kepada Sanaka tentang ciri-ciri, lamanya, dan aturan berlakunya tiap yuga. Sanaka menjelaskan susunan caturyuga beserta sandhyā dan sandhyāṃśa, lalu menuturkan kemerosotan dharma dari Kṛta hingga Kali, warna Hari yang terkait yuga, serta pembagian Weda pada Dvāpara. Bab ini kemudian melukiskan Kali-yuga secara nyata: runtuhnya tapa-brata dan ritus, kemunafikan dalam varṇa-āśrama, penindasan politik, kekacauan peran sosial, kelaparan dan kekeringan, serta bangkitnya kepalsuan ajaran. Namun Sanaka menegaskan Kali tak mampu mencelakai para bhakta Hari, dan mengajarkan laku utama tiap yuga—puncaknya pada Kali: dāna dan terutama nāma-saṅkīrtana. Litani nama-nama Hari (juga Śiva) diberikan sebagai pelindung dan pembebas. Penutupnya beralih dari yuga-dharma ke mokṣa-dharma: Narada memohon penjelasan tentang Brahman, dan Sanaka mengarahkannya kepada Sanandana, membuka rangkaian tanya-jawab Vedānta tentang pembebasan.