Rudra Samhita20 Adhyayas1211 Shlokas

Srishti Khanda

Srstikhanda

Adhyayas in Srishti Khanda

Adhyaya 1

मुनिप्रश्नवर्णनम् (Description of the Sages’ Questions)

Adhyaya 1 dibuka dengan śloka mangala yang memuji Śiva sebagai satu-satunya sebab penciptaan–pemeliharaan–peleburan, sebagai kesadaran murni, melampaui māyā namun menjadi penopangnya. Lalu ditetapkan latar dialog purāṇa: para resi yang bermukim di Naimiṣāraṇya, dipimpin Śaunaka, setelah mendengar kisah suci Vidyeśvarasaṃhitā (terutama bagian Sādhyasādhana-khaṇḍa), mendatangi Sūta dengan bhakti dan hormat. Mereka memberkahi Sūta dan memohon ajaran lanjutan, menegaskan manisnya “nektar pengetahuan” yang tak habis dari tutur katanya. Wibawa Sūta diteguhkan oleh anugerah Vyāsa, sehingga ia dipandang mengetahui masa lalu, kini, dan mendatang. Dengan demikian bab ini menjadi pintu masuk: memuliakan kedudukan metafisis Śiva, memperkenalkan para penanya dan penutur, serta menetapkan tanya-bhakti (praśna) dan mendengar dengan saksama (śravaṇa) sebagai sikap tepat untuk menerima ajaran Śaiva dan kisah penciptaan yang akan menyusul.

32 verses

Adhyaya 2

नारदतपोवर्णनम् (Nārada’s Austerities Described)

Adhyaya ini dibuka dengan Sūta yang memperkenalkan Nārada—putra Brahmā, berdisiplin dan teguh dalam tapa. Ia mencari wilayah gua terbaik di Himalaya dekat sungai ilahi yang mengalir deras, lalu tiba di āśrama yang bercahaya dan berhias, dan menjalani pertapaan panjang: duduk teguh, berdiam diri, prāṇāyāma, serta pemurnian budi. Latihannya memuncak dalam samādhi dengan rumusan nondualis “ahaṃ brahma”, melahirkan pengetahuan yang mengarah pada realisasi Brahman. Daya tapas Nārada mengguncang jagat; Śakra/Indra gelisah, menganggapnya ancaman bagi kedaulatannya. Untuk menimbulkan rintangan (vighna), Indra memanggil Smara/Kāma, memerintahkannya mengerahkan daya hasrat guna mengacaukan konsentrasi Nārada—menampilkan pertarungan klasik antara keheningan yoga dan politik kahyangan, serta nafsu sebagai energi kosmis sekaligus bahaya rohani.

55 verses

Adhyaya 3

नारदमोहवर्णनम् — Description of Nārada’s Delusion

Adhyaya 3 dibuka dalam bingkai dialog. Para resi dengan hormat bertanya apa yang terjadi setelah Viṣṇu pergi dan ke mana Nārada melangkah. Melalui Vyāsa, Sūta menjawab: atas kehendak Śiva, Viṣṇu yang mahir dalam māyā segera memancarkan ilusi yang luar biasa. Di jalan para pertapa tampak sebuah kota amat luas dan memikat—melampaui dunia biasa dalam pesona dan ragam, dipenuhi pria dan wanita, tersusun sebagai tatanan masyarakat lengkap dengan caturvarṇa. Di sana berkuasa Raja Śīlanidhi, kaya dan perkasa, mengadakan perayaan besar terkait svayaṃvara putrinya. Para pangeran dari segala penjuru datang dengan busana gemilang, berhasrat memenangkan sang mempelai. Menyaksikan keajaiban itu, Nārada terpikat dan jatuh dalam moha; didorong rasa ingin tahu dan hasrat yang meninggi, ia mendekati gerbang raja—menjadi awal pelajaran tentang māyā, daya tarik, dan penjinakan kesombongan melalui pengalaman yang diatur Ilahi.

59 verses

Adhyaya 4

नारदस्य विष्णूपदेशवर्णनम् — Nārada and Viṣṇu: Instruction after Delusion

Adhyaya 4 melanjutkan kisah Sṛṣṭyupākhyāna dengan menyoroti Nārada setelah ia menjadi vimohita (terdelusi) dan menjatuhkan śāpa yang semestinya kepada gaṇa-gaṇa Śiva. Namun karena kehendak Śiva (śivecchayā) ia belum tersadarkan; mengingat tipu-daya Hari (harikṛta-chala), ia tersulut amarah yang tak tertahankan lalu menuju Viṣṇuloka. Di sana ia menegur keras, menuduh Viṣṇu bersikap ganda dan memiliki daya memikat dunia, sambil menyebut peristiwa Mohinī serta pembagian vāruṇī kepada para asura, bukan amṛta. Ucapan keras Nārada menegaskan tata-kelola māyā: siasat ilahi bukan kekacauan moral, melainkan līlā yang terkendali dalam tatanan niat Śaiva yang lebih tinggi. Bagian selanjutnya diarahkan pada jawaban Viṣṇu sebagai upadeśa—meluruskan pemahaman reaktif Nārada, meredakan krodha, dan memulihkan kejelasan ajaran tentang peran para dewa serta tujuan delusi dalam kerja kosmis.

75 verses

Adhyaya 5

नारदप्रश्नवर्णन (Nāradapraśna-varṇana) — “Account of Nārada’s Inquiry”

Bab ini dibuka dengan kisah Sūta tentang Nārada yang mengembara di bumi setelah Hari (Viṣṇu) lenyap dari pandangan. Dalam perjalanannya, Nārada menyaksikan banyak rupa Śiva dan Śiva-liṅga, yang ditegaskan sebagai pemberi bhukti (kenikmatan duniawi) dan mukti (pembebasan). Dua Śiva-gaṇa mengenalinya, bersujud penuh hormat, memegang kakinya, dan memohon dibebaskan dari kutukan terdahulu. Mereka menjelaskan bahwa hakikatnya mereka bukan pelaku kejahatan; kesalahan dahulu terjadi karena delusi māyā saat peristiwa svayaṃvara putri raja. Mereka memandang kutukan Nārada pun sebagai dorongan Tuhan Tertinggi (Pareśa), menerima akibatnya sebagai buah karma sendiri, tanpa menyalahkan pihak lain. Mendengar tutur bhakti itu, Nārada menaruh kasih dan menyesal, membuka jalan rekonsiliasi melalui kerendahan hati dan anugerah; bab ini menegaskan tanggung jawab karma, tatanan ilahi, serta kesucian darśana liṅga.

35 verses

Adhyaya 6

विष्णूत्पत्तिवर्णनम् (Description of the Origin/Manifestation of Viṣṇu)

Adhyaya 6 menampilkan jawaban ajaran Brahmā atas pertanyaan bajik demi kesejahteraan dunia. Brahmā menyatakan bahwa mendengar ajaran ini melenyapkan dosa-dosa dan ia akan menguraikan Śiva-tattva yang ‘anāmaya’, tanpa cela. Lalu digambarkan keadaan pralaya: ketika alam bergerak dan tak bergerak musnah, segalanya menjadi gelap; tiada matahari-bulan, siang-malam, api, angin, bumi, maupun air. Dengan jalan penafian ditegaskan: tiada sifat yang tampak, tiada bunyi dan sentuhan; bau dan rupa tak termanifest, tiada rasa, bahkan arah pun tak terbedakan. Brahmā mengakui bahwa hakikat Śiva-tattva tidak sepenuhnya diketahui oleh Brahmā maupun Viṣṇu sebagaimana adanya. Yang Mahatinggi melampaui pikiran dan kata, tanpa nama-rupa-warna, bukan kasar bukan halus; para yogin menyaksikannya dalam ‘angkasa batin’. Dalam bingkai metafisis ini, penutup bab menempatkan kisah manifestasi Viṣṇu: kemunculan Viṣṇu berakar pada landasan Śiva yang tak terkatakan, sebagai peralihan dari pralaya yang tak terdiferensiasi menuju kosmogenesis yang tertata.

56 verses

Adhyaya 7

विष्णु-ब्रह्म-विवाद-वर्णनम् (Description of the Viṣṇu–Brahmā Dispute and Brahmā’s Confusion)

Adhyaya 7 mengisahkan kemunculan Brahmā dari padma (teratai) yang muncul dari pusar Nārāyaṇa yang sedang berbaring dalam tidur kosmis. Teratai itu digambarkan tak terukur dan bercahaya, menandai keluasan manifestasi jagat. Brahmā, sang Hiraṇyagarbha bermuka empat, mengenali dirinya, namun mengakui kelemahan pengetahuan: karena pengaruh māyā ia tidak mampu mengenali asal-usulnya melampaui teratai itu; ia mempertanyakan jati diri, tujuan, dan sumber kelahirannya. Kebingungan ini dinyatakan sebagai penutupan sengaja oleh Maheśvara (māyā-mohana) sebagai permainan ilahi (līlā). Ajarannya menegaskan bahwa bahkan dewa-dewa agung dapat dibuat ragu tentang sebab dan hierarki; pengetahuan benar muncul ketika delusi tersingkir dan prinsip tertinggi di balik manifestasi dikenali. Dengan demikian, benih persaingan/pertikaian diletakkan pada ketidaktahuan, bukan pada kenyataan tertinggi.

68 verses

Adhyaya 8

शब्दब्रह्मतनुवर्णनम् — Description of the Form of Śabda-Brahman

Adhyaya ini menguraikan śabda/nāda sebagai wujud pewahyuan Brahman/Śiva dalam bingkai kisah visioner. Brahmā menuturkan bahwa Śambhu, penuh welas asih kepada yang rendah hati dan penghancur kesombongan, menanggapi para makhluk luhur yang memohon darśana. Lalu muncul nāda khas berupa bunyi “oṃ” yang jelas dan panjang (pluta). Viṣṇu, dengan perhatian kontemplatif, menyelidiki sumber resonansi agung itu dan melihat, terkait liṅga, susunan fonem Oṃ: a-kāra, u-kāra, m-kāra, serta nāda penutup. Citra kosmis yang bercahaya—cakram matahari, kilau seperti api, sejuk laksana sinar bulan, dan kemurnian kristal—dipakai untuk memetakan fonem, arah, dan tingkatan hakikat. Puncaknya adalah uraian tentang realitas tanpa noda, tanpa bagian, tanpa gangguan, melampaui yang keempat (turīyātīta), lalu penegasan apofatik: non-dual, laksana kekosongan murni, melampaui beda luar-dalam, namun tetap menjadi landasan keduanya. Dengan demikian mantra, simbol liṅga, dan metafisika adwaita dipadukan dalam satu skema.

53 verses

Adhyaya 9

शिवतत्त्ववर्णनम् (Śiva-tattva-varṇana) — “Description/Exposition of the Principle of Śiva”

Adhyaya 9 menuturkan bagaimana Śiva menampakkan diri dengan penuh anugerah sebagai jawaban atas bhakti dan pujian, lalu menganugerahkan pengetahuan yang berwibawa. Brahmā berkata bahwa Mahādeva hadir “sangat berkenan”, sebagai lautan welas asih, dengan wujud pewahyuan: pañcavaktra (berwajah lima), trinayana (bermata tiga), jaṭādhara, tubuh berlumur bhasma, berhias perhiasan, dan berlengan banyak—bukan sekadar hiasan, melainkan tanda penyingkapan ilahi. Viṣṇu bersama Brahmā melantunkan stotra dan mendekat dengan hormat. Śiva kemudian menganugerahkan Nigama dalam bentuk “napas”-Nya (śvāsa-rūpa) dan menurunkan jñāna kepada Viṣṇu; Brahmā pun kelak menerima pengetahuan dari Diri Tertinggi yang sama, menegaskan bahwa wahyu terjadi melalui rahmat. Selanjutnya Viṣṇu bertanya: bagaimana menyenangkan Śiva, cara memuja dan bermeditasi dengan benar, bagaimana memperoleh keberkenanan/vaśyatā, serta tindakan apa yang harus dilakukan atas perintah Śiva—membuka landasan praksis Śaiva yang berakar pada Śiva-tattva.

65 verses

Adhyaya 10

रुद्र-विष्णोः ऐकत्व-उपदेशः तथा धर्म-आज्ञा (Instruction on Rudra–Viṣṇu Unity and Divine Injunctions)

Dalam bab ini, Śiva sebagai Parameśvara/Rudra memberi tuntunan normatif kepada Viṣṇu tentang tata kelola kosmos dan etika bhakti. Śiva memerintahkan agar Viṣṇu tetap dihormati dan layak dipuja di semua alam, serta bertindak tegas ketika penderitaan muncul dalam jagat ciptaan Brahmā, demi melenyapkan kesengsaraan bersama. Śiva berjanji akan membantu dalam tugas-tugas sulit, termasuk menundukkan musuh yang sangat kuat, dan mengarahkan Viṣṇu untuk mengambil beragam avatāra guna memperluas kemasyhuran dharma serta menyeberangkan (tāraṇa) makhluk. Ajaran pokoknya menegaskan Rudra dan Hari saling layak direnungkan (dhyeya) dan tidak terpisah secara nyata—dalam hakikat, melalui anugerah, bahkan dalam lila—karena keduanya satu. Ditetapkan pula aturan etis: pemuja Rudra yang mencela Viṣṇu kehilangan pahala dan jatuh ke neraka atas perintah Śiva; sebaliknya, Viṣṇu dipuji sebagai pemberi kenikmatan dan pembebasan, patut disembah, serta menegakkan dharma dengan pengekangan dan kasih karunia (nigraha–anugraha).

40 verses

Adhyaya 11

लिङ्गपूजनसंक्षेपः (Concise Teaching on Liṅga Worship / Śiva-arcana-vidhi)

Adhyaya 11 dibuka dengan para resi memuji Sūta atas daya penyuci Śaiva-kathā, khususnya kisah menakjubkan dan penuh berkah tentang liṅgotpatti, yang bila didengar melenyapkan dukha. Dalam kesinambungan dialog Brahmā–Nārada, mereka memohon penjelasan yang jelas tentang Śivārcana-vidhi—bagaimana memuja Śiva agar berkenan; pertanyaan ini mencakup semua varṇa: brāhmaṇa, kṣatriya, vaiśya, dan śūdra. Sūta menyatakan hal itu sebagai rahasya dan berjanji menuturkan sebagaimana ia dengar dan pahami, sambil meneguhkan garis transmisi: apa yang Vyāsa tanyakan kepada Sanatkumāra, yang didengar Upamanyu, yang dipelajari Kṛṣṇa, dan yang dahulu diajarkan Brahmā kepada Nārada. Lalu suara Brahmā mengambil alih, menyatakan pemujaan liṅga begitu luas hingga seratus tahun pun tak cukup untuk menguraikannya, maka ia akan mengajarkannya secara ringkas. Dengan demikian, adhyaya ini menegaskan keselamatan melalui śravaṇa, kewibawaan paramparā, serta menyiapkan kerangka ringkas namun otoritatif tentang pemujaan liṅga dan kemujarabannya.

85 verses

Adhyaya 12

सेवातत्त्वप्रश्नः — The Question of Whom to Serve (Sevā) for the Removal of Suffering

Dalam adhyāya ini, Nārada memuji Prajāpati/Brahmā yang teguh dalam pemahaman berpusat pada Śiva, lalu memohon penjelasan lebih lengkap. Brahmā menceritakan peristiwa lampau: ia mengumpulkan para ṛṣi dan para dewa, kemudian pergi ke tepi Kṣīra-samudra, wilayah kediaman Bhagavān Viṣṇu yang dipuji sebagai pembawa kebaikan bagi semua. Di sana Viṣṇu, sambil mengingat teratai kaki Śiva, menanyakan maksud kedatangan Brahmā dan para sura-ṛṣi. Para dewa bersujud dengan tangan terkatup dan bertanya: “Pelayanan tetap (nitya-sevā) kepada siapa yang menghapus penderitaan?” Viṣṇu yang bhakta-vatsala menjawab dengan welas asih, mengajarkan hakikat sevā-bhakti, tanda-tanda sevā yang benar, buahnya, serta alasan teologis mengapa pelayanan menjadi jalan pembebasan, dengan isyarat pada keutamaan Śiva.

84 verses

Adhyaya 13

पूजाविधिः (Pūjā-vidhiḥ) — The Supreme Procedure of Worship (Morning Observances)

Adhyaya 13 dibuka dengan Brahmā yang mengumumkan pūjā-vidhi yang ‘tiada banding’, pemberi segala tujuan yang diinginkan dan kebahagiaan. Urutan pagi ditetapkan: bangun pada brāhma-muhūrta, mengingat Śiva sebagai Sāmbaka, memanjatkan doa saat bangun demi keberkahan semesta, serta mengakui ketidakmampuan moral diri dan bersandar pada tuntunan Mahādeva yang bersemayam di hati (hṛdistha-niyoga). Lalu diajarkan śauca: mengingat kaki guru dengan hormat, pergi ke luar untuk buang air sesuai arah yang benar, menyucikan tubuh dengan tanah dan air, membasuh tangan-kaki, menjaga kebersihan gigi, dan berkumur/ācaman berulang. Disebut pula batasan kalender—tithi dan hari tertentu dihindari untuk pembersihan gigi—serta aturan menurut desa-kāla dan kesempatan seperti śrāddha, saṃkrānti, grahaṇa, tīrtha, dan upavāsa. Dengan demikian, pūjā dimulai bahkan sebelum persembahan resmi: melalui ingatan suci, penyucian diri, dan disiplin mengikuti waktu yang mujur.

82 verses

Adhyaya 14

पुष्पार्पण-विनिर्णयः (Determination of Flower-Offerings to Śiva)

Adhyaya 14 dibuka dengan para resi bertanya kepada Suta tentang hubungan yang otoritatif antara jenis bunga dalam pemujaan Śiva dan buah (phala) yang diperoleh. Suta menegaskan bahwa ajaran ini adalah ‘vinirṇaya’ yang telah mapan, dahulu ditanyakan oleh Nārada dan dijawab oleh Brahmā, sehingga bersandar pada rantai transmisi suci. Bab ini lalu merinci jenis-jenis bunga dan bahan persembahan—seperti teratai (kamala), daun bilva (bilvapatra), śatapatra, dan śaṅkha-puṣpa—beserta hasilnya, misalnya anugerah Lakṣmī/kemakmuran dan penghapusan dosa, terutama bila persembahan mencapai jumlah besar seperti skala lakṣa. Diperkenalkan pula pengukuran ritual: kesetaraan dan takaran (prastha, pala, ṭaṅka) untuk menimbang atau menghitung persembahan bunga, menandakan standar ekonomi-ritual. Unsur pūjā lain—liṅga, beras utuh/taṇḍula (akṣata), pasta cendana, serta aliran air/abhiṣeka—ikut disebut, menunjukkan integrasi persembahan bunga dalam tata cara pemujaan Śiva yang lengkap. Secara keseluruhan, bab ini menjadi katalog preskriptif yang mengaitkan bahan, ukuran yang benar, dan niat bhakti dengan manfaat dari tujuan duniawi (kāmya) hingga menjadi tanpa keinginan (niṣkāma) melalui orientasi kepada Śiva.

86 verses

Adhyaya 15

हंस-वराह-रूपग्रहण-कारणम् (The Reason for Assuming the Swan and Boar Forms)

Adhyaya 15 melanjutkan uraian setelah peristiwa liṅga. Nārada memuji kisah Śaiva yang menyucikan yang telah didengarnya, lalu memohon penjelasan tepat tentang kelanjutan peristiwa dan tata cara penciptaan. Brahmā menjawab bahwa setelah Śiva, dalam wujud Śiva yang kekal, menjadi tersembunyi, ia dan Viṣṇu merasakan kelegaan serta sukacita yang besar. Kemudian, demi niat mencipta dan menata dunia-dunia, Brahmā mengambil wujud haṃsa (angsa) dan Viṣṇu mengambil wujud varāha (babi hutan). Nārada mengajukan keraguan ajaran: mengapa memilih wujud-wujud itu dan bukan yang lain? Melalui pengantar Sūta, Brahmā terlebih dahulu mengenang kaki Śiva dengan bhakti, lalu menjelaskan alasan simbolik dan fungsionalnya—gerak haṃsa yang mantap menuju ke atas serta daya pembedaan tattva–atattva, diibaratkan memisahkan susu dari air. Bab ini menegaskan bahwa wujud ilahi adalah tanda yang memuat tugas kosmis dan prinsip rohani, sekaligus mengukuhkan keutamaan Śiva dan sifat didaktis mitos Purāṇa.

65 verses

Adhyaya 16

सृष्टिक्रमवर्णनम् / Description of the Sequence of Creation

Dalam adhyaya ini, Brahmā berbicara kepada Nārada dan menguraikan urutan kosmogoni serta tatanan kelembagaan. Ia menjelaskan pembentukan unsur-unsur kasar melalui pañcīkaraṇa dari himpunan unsur halus yang bermula dari śabda, sehingga lahir ākāśa, vāyu, agni, jala, dan pṛthivī; lalu tercipta gunung, samudra, pepohonan, serta penataan waktu melalui pembagian kalā dan siklus yuga. Meski demikian, Brahmā merasa belum puas hingga ia bermeditasi kepada Śiva (Sāmba); kemudian ia melahirkan para sādhaka dan ṛṣi-ṛṣi utama dari sumber tubuh tertentu seperti mata, hati, kepala, dan prāṇa. Dari saṅkalpa muncullah Dharma sebagai sarana universal bagi segala sādhana; atas perintah Brahmā, Dharma mengambil wujud manusia dan disebarkan melalui para sādhaka. Brahmā juga mencipta banyak keturunan dari berbagai anggota tubuh, menempatkan mereka dalam ragam perwujudan termasuk jenis deva dan asura. Akhirnya, oleh dorongan batin Śaṅkara, Brahmā membelah tubuhnya dan menjadi berwujud ganda, menandai peralihan menuju cara-cara penciptaan yang beragam di bawah pemerintahan Śiva.

50 verses

Adhyaya 17

कैलासगमनं कुबेरसख्यं च — Śiva’s Journey to Kailāsa and His Friendship with Kubera

Adhyaya 17 disajikan sebagai kisah dialog. Sūta menuturkan bahwa setelah mendengar ucapan Brahmā sebelumnya, Nārada kembali bertanya dengan hormat: bagaimana Śaṅkara tiba di Kailāsa, dalam keadaan apa persahabatan-Nya dengan Kubera (Dhanada) terjalin, dan apa yang dilakukan Śiva di sana dalam wujud-Nya yang sepenuhnya suci dan membawa keberkahan (śivākṛti). Brahmā setuju menceritakan peristiwa itu dan memulai dengan latar yang menegaskan sebab-akibat moral: di Kāṃpilya hidup seorang dīkṣita terpelajar bernama Yajñadatta, mahir dalam ritual Weda dan Vedāṅga, terkenal dermawan serta terpandang. Putranya, Guṇanidhi, telah menjalani upanayana dan belajar, namun diam-diam terjerumus dalam perjudian, berulang kali mengambil harta ibunya dan bergaul dengan para penjudi. Pembukaan ini menyiapkan pelajaran tentang kontras kebajikan dan ilmu dengan dosa tersembunyi, serta menjelaskan jatuh-bangunnya kekayaan dan kaitan ilahi (Kubera/Śiva) melalui logika karma dan bhakti.

60 verses

Adhyaya 18

दीक्षितपुत्रस्य दैन्यचिन्ता तथा शिवरात्र्युपासनाप्रसङ्गः / The Initiate’s Son in Distress and the Occasion of Śivarātri Worship

Adhyaya 18 dibuka dengan Brahma menuturkan kepada Narada kisah dīkṣitāṅgaja, putra dari keluarga yang telah menerima dīkṣā. Setelah mendengar uraian tentang keadaan masa lalunya, ia menyesali dan mencela perilaku lamanya lalu berangkat ke arah yang tak disebutkan. Setelah berjalan beberapa lama, ia diliputi putus asa dan menjadi lesu karena cemas akan kelangsungan hidup serta martabat sosial. Ia merenungkan kurangnya pendidikan dan harta; menimbang bahwa membawa uang mengundang takut pada pencuri, sedangkan tanpa uang hidup terasa rapuh. Ia meratap: meski lahir dalam garis yājaka, ia jatuh dalam kemalangan besar; ia mengakui kuatnya vidhi (takdir) yang mengikuti jejak karma. Ia bahkan tak mampu mengemis dengan baik, tak punya kenalan di sekitar, tanpa perlindungan; kasih ibu pun terasa jauh di tempat itu. Saat ia terus merenung di bawah pohon hingga senja, muncul sosok kontras: seorang bhakta Māheśvara keluar kota bersama orang-orang, membawa persembahan, berpuasa pada Śivarātri untuk memuja Īśāna. Dengan demikian bab ini menyiapkan ajaran bahwa di hadapan ketidakberdayaan manusia dan ikatan karma, vrata dan pemujaan Śiva menjadi sarana nyata untuk penopang, pahala, dan pembalikan arah hidup menuju Śiva.

66 verses

Adhyaya 19

अलकापतेः तपः-लिङ्गप्रतिष्ठा च वरप्राप्तिः / The Lord of Alakā: Austerity, Liṅga-Establishment, and the Receiving of a Boon

Adhyaya 19 memuat kisah Brahma tentang konteks kalpa terdahulu dan teladan bhakti Alakāpati (Vaiśravaṇa/Kubera). Dalam Padma-kalpa, dari Pulastya lahir Viśravas dan darinya Vaiśravaṇa; kota Alakā, karya Viśvakarmā, disebut sebagai kota yang dinikmati dan diperintahnya. Alakāpati lalu menjalani tapa yang sangat keras untuk menyenangkan Tryambaka Śiva, menegaskan daya bhakti, serta bergerak menuju Kāśī (Citprakāśikā) yang bercahaya. Disiplin yogi-bhaktinya meliputi membangunkan Śiva di dalam diri, ananya-bhakti, dhyāna yang teguh, menyingkirkan kāma dan krodha, serta menumbuhkan śivaikya setelah disucikan oleh “api tapa”. Ia menegakkan liṅga Śāmbhava dan memujanya dengan “bunga” sadbhāva. Setelah tapa panjang, Viśveśvara menampakkan diri dengan anugerah dan sebagai pemberi anugerah mempersilakan Alakāpati menyatakan permohonannya; bab ini menautkan garis keturunan dan kerajaan dengan kelayakan bhakti melalui liṅga-pratiṣṭhā, meditasi, dan disiplin tanpa nafsu sebagai jalan menuju darśana dan varadāna.

33 verses

Adhyaya 20

शिवागमन-नाद-समागमः (Śiva’s Advent, the Drum-Sound, and the Cosmic Assembly)

Bab ini memuat ajaran Brahmā kepada Nārada tentang peristiwa teladan kedatangan (āgamana) Śiva ke Kailāsa terkait Kubera. Setelah menganugerahi Kubera karunia sebagai penguasa harta (nidhipatva), Viśveśa merenungkan cara penampakan-Nya: Rudra disebut lahir dari hati Brahmā sebagai bagian penuh, suci tanpa noda dan tak berbeda dari Yang Mahatinggi; dilayani Hari (Viṣṇu) dan Brahmā, namun melampaui keduanya. Rudra berketetapan pergi ke Kailāsa dalam wujud itu, tinggal sebagai sahabat, serta menjalankan tapa agung berhubungan dengan ranah Kubera. Penentu kisahnya adalah nāda: Rudra membunyikan ḍhakkā, suara pekat dan menakjubkan yang menjadi panggilan dan dorongan. Mendengarnya, Viṣṇu, Brahmā, para dewa, resi, siddha, personifikasi āgama-nigama, juga sura dan asura, serta pramatha dan gaṇa dari berbagai tempat berkumpul laksana perayaan. Selanjutnya dipaparkan jumlah dan keagungan para gaṇa, menegaskan keluasan kosmis rombongan Śiva.

62 verses