Atharva Veda Anuvaka 1
Kanda 1510 Suktas137 Mantras

Anuvaka 1

Tema utama: Kosmogoni yang berpusat pada Vrātya serta legitimasi kedaulatan/kerajaan (rājya) melalui tatanan Kāla/Siklus Tahun dan pengetahuan brahma. Subtema: (1) tad ekam (“Yang Satu”) dan teologi penciptaan secara emanasi (2) penobatan dan pendudukan singgasana/duduk (āsandī) sebagai tindakan politis-sakral (3) penaklukan/gerak menurut arah mata angin dan ekspansi yang tertata (terutama ke Timur) (4) Kāla/Tahun sebagai kisi kalender: bulan-bulan, kuartal/musim, dan jabatan-jabatan (5) Veda/brahman sebagai pengetahuan pelindung dan pembawa kemakmuran (rumus “ya evaṃ veda”—‘barangsiapa mengetahui demikian’) (6) penataan status/strata sosial

Suktas in Anuvaka 1

Sukta 1

AV 15.1 adalah proklamasi kosmogonis bergaya Vrātya–Brāhmaṇa yang melegitimasi kuasa kedaulatan dengan menelusuri penciptaan kepada “Itu/Yang Satu” purba (tad ekam) beserta emanasi-emanasi-Nya sebagai brahman, tapas, dan satya. Himne ini kurang berupa permohonan dan lebih sebagai penamaan performatif: dengan melafalkan rumus-rumus “menjadi” yang bertingkat serta tanda-tanda tubuh Vrātya yang sarat daya, tatanan diteguhkan dan otoritas sakral ditegakkan. “Kekuatan”nya terletak pada identifikasi—menyelaraskan pelafal dan ritus sosial dengan prinsip pertama yang melahirkan dan mengatasi segala bentuk.

Rishi: Traditionally associated with Vrātya/Skambha speculation (exact r̥ṣi attribution varies by ancillary tradition for AV 15) | Devata: Tad/Ekam (the primordial principle), with brahman-tapas-satya as hypostatized powers | 8 Mantras

Sukta 2

AV 15.2 melanjutkan narasi siklus Vrātya dengan memetakan secara ritual kebangkitan Vrātya dan geraknya yang disahkan melalui segenap penjuru, sambil menonjolkan Prācī (Timur) sebagai paradigma kemajuan yang tertata. Himne ini berfungsi sebagai liturgi orientasi: dengan menyelaraskan subjek dengan arah-arah yang berwibawa, ia mengubah mobilitas liminal menjadi kemajuan yang mujur dan dapat dibaca secara sosial. Penekanan penutup pada Kīrti dan Yaśas membingkai penataan arah itu sebagai perolehan paustika—pengakuan publik, kedahuluan, dan kemasyhuran yang bertahan bagi sang mengetahui/pelaku ritus.

Rishi: Traditionally connected with Vrātya material (ancillary attributions vary) | Devata: Dik (Direction), especially Prācī (East), as ordering power | 31 Mantras

Sukta 3

AV 15.3 melanjutkan liturgi kosmologis Vrātya dengan menobatkan Vrātya di atas āsandī (singgasana/kursi ritual) dan memetakan kedaulatan pada tubuh tahun yang tertata. Daya kidung ini terletak pada pengubahan keadaan liminal menjadi legitimasi: setelah didudukkan, Vrātya menjadi poros tempat musim-musim, tatanan sosial, dan kemantapan ritual berpadu. Dengan menegaskan struktur ṛtu (keselarasan musim yang benar) serta model “pribadi-kosmos/tahun”, kidung ini bertujuan meneguhkan kemakmuran, perlindungan, dan dunia polity–ritual yang stabil.

Rishi: Traditionally associated with speculative Atharvanic seers in the Vrātya/cosmological stratum (exact r̥ṣi assignment varies by anukramaṇī traditions). | Devata: Kāla/Ṛtu (Time/Seasons) or the cosmic person/year as the implicit subject. | 11 Mantras

Sukta 4

AV 15.4 adalah kidung perlindungan kosmik-kalendris yang “menegakkan” Tahun (Kāla) sebagai kisi tertata dari bulan-bulan, arah-arah, dan pelaksana ritus, sehingga penerima manfaat berdiri pada tempat yang tepat dalam waktu dan ruang. Dengan menyebut bulan-bulan musiman sebagai para penjaga serta memasangkannya dengan daya liturgis yang kuat (mis. Bṛhat dan Rathantara; Vairūpa dan Vairāja), sukta ini membentuk pagar apotropaik yang menolak kekacauan dan meneguhkan kemakmuran melalui keselarasan yang benar (vidyā), bukan melalui obat.

Rishi: Traditionally associated with Prajāpati/Skambha-type speculation in AV 15 (exact r̥ṣi assignment varies by anukramaṇī; needs full hymn apparatus). | Devata: Kāla (Time/Year) and directional guardians personified as Vairūpa and Vairāja. | 18 Mantras

Sukta 5

AV 15.5 adalah unit prosa bergaya Brāhmaṇa dalam tradisi Atharvan yang memandang pengetahuan (veda—“barangsiapa mengetahui demikian”) sebagai daya yang nyata dan melindungi, yang menegakkan kemakmuran serta tatanan sosial. Dengan memetakan penjagaan pada arah-arah—terutama kuartal utara dengan seorang pengiring pemanah ilahi—teks ini membingkai keselamatan sebagai sesuatu yang “dipasang” mengelilingi sang mengetahui, sehingga bahaya terhadap ternak dan sesama dapat ditolak dan kesejahteraan komunal tetap terpelihara.

Rishi: Anonymous/Brāhmaṇa-style prose unit within AV 15 (traditionally linked to Atharvanic redactors) | Devata: Knowledge (Veda) as efficacious power; implicitly Rudraic guardianship in the surrounding context | 21 Mantras

Sukta 6

Atharvaveda 15.6 adalah kidung kemakmuran bergaya Brāhmaṇa dari masa akhir yang menegakkan sang pemilik pengetahuan sebagai “kediaman yang tercinta” (priyaṃ dhāma) bagi bentuk-bentuk wicara Weda—Ṛc, Sāman, dan Yajus—serta bagi brahman itu sendiri. Dengan merinci penopang kosmis (bumi, api, tumbuh-tumbuhan, arah-arah, dan daya-daya sekutu), himne ini menyakralkan status: pelantun dilegitimasi sebagai singgasana Weda yang sah, dilindungi oleh alam, dan ditegakkan di ranah tertinggi

Rishi: Traditionally associated with late Atharvanic/Brāhmaṇa-style compilers (sectional tradition rather than a single named ṛṣi). | Devata: Brahman / Vāc (implicit: the Vedic speech-forms Ṛc, Sāman, Yajus). | 26 Mantras

Sukta 7

AV 15.7 adalah kidung Atharvanik akhir bergaya brahma-vidyā yang mengajarkan “buah pengetahuan” (phala-śruti): siapa yang mengetahui demikian menjadi titik pusat tempat daya-daya pemelihara datang dengan sendirinya. Kidung ini mengaitkan penopang kosmis—Air (pemurnian dan kesinambungan), Śraddhā/Iman (daya guna ritus dan persetujuan batin), serta Hujan (kesuburan dan kemakmuran)—dengan legitimasi sosial-teologis, menampilkan kemakmuran dan kedudukan sebagai akibat dari pengetahuan yang benar.

Rishi: Traditionally associated with Atharvanic/Brāhmaṇa-style prose-verse discourse in AV 15; specific ṛṣi attribution varies by anukramaṇī tradition. | Devata: Āpaḥ (Waters), Śraddhā (Faith), Varṣa/Vṛṣṭi (Rain) as personified powers attending the knower. | 5 Mantras

Sukta 8

Himne Atharvaweda yang singkat dan bernuansa seperti prosa Brāhmaṇa ini menegakkan dasar kedaulatan/kerajaan (rājya) pada asal-usul kosmogonis–sosial: “ia menjadi bersifat raja,” dan dari keadaan itu golongan Rājanya dikatakan muncul. Selanjutnya, kedaulatan didefinisikan sebagai berdiri di atas klan-klan beserta kerabatnya, serta di atas makanan dan kenikmatan atas makanan—dengan demikian mensakralkan hierarki politik dan tatanan sumber daya. Pada akhirnya ajaran ini dimeteraikan sebagai rumus pengetahuan: siapa yang mengetahui hal ini akan menjadi “singgasana yang dicintai” di tengah orang banyak dan sanak keluarga, menikmati kedudukan yang aman dan kemakmuran.

Rishi: Late Atharvanic social-theological tradition (variable). | Devata: Rājya (Sovereignty) / the principle of kingship; implicitly the social order. | 3 Mantras

Sukta 9

Himne singkat dalam kompleks Vrātya ini membingkai kepemimpinan sakral sebagai poros tempat rakyat (viś) dan lembaga-lembaga kunci negara secara wajar berbaris dan menyatu. Dengan menyebut Dewan (sabhā), Majelis (samiti), bala tentara (senā), dan para pahlawan (śūrāḥ) sebagai para pengikut, himne ini secara ritual meneguhkan legitimasi politik serta persetujuan sipil-militer bagi penerimanya. Daya kerjanya tampil sebagai jimat-pengetahuan: siapa yang “mengetahui demikian” menjadi sebuah प्रियं धाम—sebuah kedudukan yang diterima dan disukai di tengah badan-badan tersebut

Rishi: Vrātya tradition (anonymous/collective) | Devata: Viś (the people) / Vrātya as functional focus | 3 Mantras

Sukta 10

Sukta ini mengatur perjumpaan yang sarat daya politik antara seorang “orang luar” yang bersifat sakral (Vrātya yang mengetahui, sebagai tamu raja) dan rumah tangga/ranah yang telah menetap, dengan mengubah keadaan liminal menjadi kedaulatan yang mantap. Dengan menetapkan penghormatan, penerimaan, dan pengakuan yang tepat, sukta ini mencegah Kṣatra (kuasa kerajaan) dan Rāṣṭra (kerajaan) “terpotong” (vṛśc-), serta menambatkan kembali rajatva pada tatanan hierarkis yang disahkan oleh kosmos. Daya utamanya terletak pada identifikasi bergaya bandhu—misalnya Āditya=Kṣatra, Langit=Indra—yang mensakralkan institusi dan menjadikan loyalitas serta peringkat dapat ditegakkan secara ritual.

Rishi: Traditionally connected with Atharvanic royal-theology strata (Bṛhaspati/Indra complex in the surrounding verses) | Devata: Kṣatra and Rāṣṭra (as institutional powers), with implicit Brahmanic sanction | 11 Mantras

Read Atharva Veda in the Vedapath app

Scan the QR code to open this directly in the app, with word-by-word meanings, Sanskrit recitation where available, and more.

Continue reading in the Vedapath app

Open in App