
Vasudeva Mahatmya
This section is primarily thematic rather than tied to a single pilgrimage site. Its sacred geography is conveyed through narrative movement across classical Purāṇic and epic locations—Kurukṣetra (as a memory-space of post-war ethical inquiry), Kailāsa (as a locus of divine-ṛṣi transmission), and Badarīāśrama (as an ascetic north-Himalayan setting associated with Nara-Nārāyaṇa). These place-references function as authority markers: Kurukṣetra anchors the teaching in dharma-debate, Kailāsa in revelatory relay, and Badarīāśrama in tapas and contemplative practice.
32 chapters to explore.

देवतासंबन्धेन सुकरमोक्षसाधनम् | The Accessible Means to Liberation through Deity-Connection
Bab 1 dibuka dengan pertanyaan Śaunaka kepada Sūta: meskipun dharma, pengetahuan rohani, vairāgya (ketidakterikatan), dan disiplin yoga dikenal luas dalam banyak kisah suci, jalan-jalan itu sulit bagi kebanyakan orang karena banyak rintangan dan memerlukan waktu panjang untuk berhasil. Ia memohon suatu su-karopāya, cara yang mudah dipraktikkan, bermanfaat juga bagi mereka yang tidak memiliki kemampuan tapa tingkat tinggi, serta mencakup beragam keadaan sosial. Sūta lalu menceritakan pertanyaan serupa yang dahulu diajukan resi Sāvarṇi kepada Skanda (Guhā/Kārttikeya). Skanda, setelah bermeditasi pada Vāsudeva di dalam hati, mengajarkan bahwa pemujaan yang terhubung langsung kepada Dewa adalah sarana paling mudah: kebajikan kecil yang dilakukan dengan hubungan jelas kepada-Nya menghasilkan buah besar tanpa halangan. Ia menegaskan bahwa tindakan untuk para dewa, leluhur, maupun kewajiban dharma menjadi cepat berdaya bila disandarkan pada Tuhan; bahkan jalan yang biasanya sukar—sāṅkhya, yoga, dan vairāgya—menjadi lebih ringan dengan jangkar bhakti ini. Kemudian Sāvarṇi memperhalus pertanyaan: karena banyak dewa dan cara pemujaan memberi hasil yang terbatas oleh waktu, ia memohon penjelasan tentang Dewa yang tanpa takut, menganugerahkan buah yang tak binasa, melenyapkan ketakutan, dan mengasihi para bhakta, beserta tata cara pemujaan yang sederhana dan otoritatif. Bab ditutup dengan Skanda bersiap menjawab dengan hati yang berkenan.

वासुदेवपरब्रह्मनिर्णयः — Vāsudeva as Supreme Brahman and the Consecration of Action
Bab ini dibingkai sebagai penyingkapan yang sah: Skanda menyatakan bahwa pertanyaan ini sangat mendalam, tidak dapat diputuskan hanya dengan nalar, namun menjadi terucap karena rahmat ilahi dan perkenan Vāsudeva. Lalu diingatkan teladan epos: seusai perang Bhārata, Yudhiṣṭhira bertanya kepada Bhīṣma—yang tenggelam dalam kontemplasi Acyuta—dewa manakah yang patut dipuja agar empat tujuan hidup tercapai bagi semua varṇa dan āśrama, bagaimana meraih keberhasilan tanpa rintangan dalam waktu singkat, dan bagaimana jasa yang kecil pun dapat mengantar pada kedudukan agung. Atas dorongan Kṛṣṇa, Bhīṣma mengajarkan “Śrī-Vāsudeva-māhātmya”, yang kemudian diwariskan oleh Nārada melalui Kurukṣetra dan Kailāsa, menegakkan mata rantai penjagaan ajaran. Inti doktrin menegaskan: Vāsudeva/Kṛṣṇa adalah Para-Brahman; Ia layak disembah baik oleh yang tanpa keinginan maupun yang berkeinginan, dan semua golongan dapat menyenangkan-Nya melalui bhakti sambil tetap teguh pada dharma masing-masing. Karma Veda, kewajiban leluhur, dan tindakan duniawi bila dilakukan tanpa hubungan kepada Kṛṣṇa disebut rapuh, terbatas, serta mudah ternoda cacat dan rintangan; namun bila dipersembahkan demi keridaan Kṛṣṇa, karma itu menjadi ‘nirguṇa’ dalam daya hasilnya, memberi buah yang lebih agung dan tak lapuk, serta rintangan dinetralisir oleh kemahakuasaan-Nya. Bab ini juga membuka sebuah itihāsa: kunjungan Nārada ke Nara-Nārāyaṇa di Badarīāśrama, menyaksikan ketepatan laku harian mereka, lalu terdorong untuk bertanya, sebagai pengantar dialog selanjutnya.

Vāsudeva as the Supreme Recipient of Daiva–Pitṛ Rites; Pravṛtti–Nivṛtti Dharma and the Akṣaya Fruit of Viṣṇu-Sambandha
Adhyaya 3 dibuka oleh pujian dan pertanyaan Nārada: bila Vāsudeva dipuji dalam Weda dan Purāṇa sebagai Pencipta‑Pengatur yang kekal, dan semua varṇa serta āśrama menyembah-Nya dalam banyak wujud, siapakah yang bahkan disembah Vāsudeva sebagai ayah atau dewa? Śrī Nārāyaṇa menjawab bahwa ajaran ini halus; secara Upaniṣadik Ia menegaskan Yang Tertinggi sebagai brahman satya‑jñāna‑ananta, melampaui tiga guṇa, yang menampakkan diri sebagai Puruṣa Ilahi—Mahāpuruṣa, Vāsudeva, Nārāyaṇa, Viṣṇu, dan Kṛṣṇa—satu hakikat yang sama. Ia menetapkan ‘maryādā’ bagi dunia: kewajiban kepada para dewa (daiva) dan leluhur (pitṛ) tetap harus dilakukan, namun pada akhirnya semuanya tertuju kepada satu Tuhan, Sang Diri bagi semua. Kemudian karma Weda dibagi menjadi pravṛtti dan nivṛtti. Pravṛtti mencakup tugas sosial seperti pernikahan, harta yang sah, yajña berorientasi keinginan, serta karya kemasyarakatan; buahnya terbatas—surga dan sejenisnya—dan berakhir ketika pahala habis sehingga kembali ke bumi. Nivṛtti mencakup pelepasan, pengendalian diri, tapa, serta yajña yang lebih tinggi (brahma/yoga/jñāna/japa), yang membawa ke loka-loka melampaui triloka, namun tetap tunduk pada pelarutan kosmis. Titik ajaran yang menentukan menyatakan: karma yang berbasis guṇa menjadi ‘nirguṇa’ bila dilakukan sebagai viṣṇu‑sambandha—terikat pada Viṣṇu melalui penyerahan—sehingga menghasilkan buah yang tak binasa dan berujung pada dhāma Bhagavān. Teladan dari pravṛtti (Prajāpati, para dewa, para ṛṣi) dan dari nivṛtti (Sanaka dan para resi sejenis, para muni naiṣṭhika) ditunjukkan sama‑sama menyembah Tuhan yang satu dalam disiplin masing‑masing. Penutup menegaskan kemurahan Tuhan: tindakan kecil yang dilakukan dengan bhakti memberi hasil besar dan langgeng; para pemuja eksklusif meraih pelayanan transenden dengan tubuh non‑material, dan setiap hubungan sejati dengan-Nya menghentikan saṃsāra serta meneguhkan keberhasilan dalam karma‑yoga dan jñāna‑yoga.

Śvetadvīpa-Darśana and the Akṣara Devotees of Vāsudeva (श्वेतद्वीपदर्शनम् / अक्षराणां वासुदेवसेवा)
Bab ini bergerak dalam dua bagian yang saling terkait. Pertama, Nārada menyatakan bahwa ia telah puas mendengar ajaran, namun masih merindukan darśana atas rupa Tuhan yang terdahulu/tertinggi. Nārāyaṇa menegaskan bahwa rupa itu tidak dapat dicapai hanya dengan dana, yajña, ritus Weda, atau tapa semata; ia tampak bagi para bhakta yang berbakti secara eksklusif (ananyā-bhakti). Nārada dipuji layak karena bhakti tunggal, jñāna, vairāgya, dan kesetiaan pada svadharma, lalu diperintahkan menuju ‘Śvetadvīpa’, pulau putih yang batiniah. Kedua, Skanda menuturkan perjalanan yogis Nārada dan penglihatannya atas Śvetadvīpa yang bercahaya di utara Samudra Susu—penuh pohon-pohon suci, taman, sungai, teratai, burung, dan satwa yang membawa keberkahan. Para penghuni digambarkan sebagai jiwa-jiwa merdeka: tanpa dosa, harum, senantiasa muda, bertanda mulia; kadang berlengan dua, kadang berlengan empat; bebas dari enam gelombang penderitaan (ṣaḍ-ūrmi) dan melampaui takut pada waktu. Sāvarṇi bertanya bagaimana makhluk demikian muncul dan apa keadaan mereka. Skanda menjelaskan bahwa mereka adalah pribadi “Akṣara” yang meraih brahma-bhāva melalui pemujaan Vāsudeva yang satu arah pada siklus-siklus lampau; mereka tidak terikat oleh waktu dan māyā, dan saat pralaya kembali ke Akṣara-dhāman. Mereka yang lahir sebagai “kṣara” karena māyā pun dapat menjadi serupa melalui ahiṃsā, tapa, pemeliharaan svadharma, vairāgya, jñāna, pemahaman kemuliaan Vāsudeva, bhakti yang terus-menerus, pergaulan dengan para mahātmā, ketidaklekatan bahkan pada mokṣa dan siddhi, serta saling mendengar dan melantunkan kelahiran serta laku Hari. Bab ditutup dengan janji kisah purāṇa yang lebih panjang untuk menunjukkan bahwa manusia pun dapat mencapai keadaan itu.

Amāvāsu’s Vāsudeva-bhakti and Pāñcarātra-Ordered Kingship (अमावसोर्वासुदेवभक्तिः पञ्चरात्रविधिश्च)
Skanda Purana menggambarkan raja teladan bernama Amāvāsu, terkait garis kerajaan Vasu. Ia berwatak disiplin: teguh dalam dharma, berbakti kepada ayah dan leluhur, mengendalikan diri, menjunjung ahiṃsā, rendah hati, dan mantap batinnya. Ia terus-menerus melafalkan japa mantra Nārāyaṇa dan bersembahyang menurut tata tertib yang teratur (pola lima waktu harian): pertama mempersembahkan kepada Vāsudeva, lalu membagikan prasāda kepada para dewa, leluhur, brahmana, dan para tanggungan, dan akhirnya menyantap sisanya sebagai etika makan yang telah disucikan. Ia memandang kekerasan terhadap makhluk hidup melalui makan daging sebagai kesalahan moral yang berat, serta menata pemerintahan agar kebohongan, niat jahat, bahkan pelanggaran halus diminimalkan. Ia memuliakan para guru Pāñcarātra dan melaksanakan ritus kāmya, naimittika, serta kewajiban harian dalam corak sāttvata/Waiṣṇava. Karena bhakti-nya, ia menerima pengakuan surgawi berupa anugerah dari Indra; namun kisah mengingatkan bahwa bahkan orang saleh dapat jatuh akibat keberpihakan atau salah ucap di antara para dewa. Dengan keteguhan japa dan bhakti, ia meraih kembali kedudukan surga, terlahir kembali karena kutuk ayah, lalu akhirnya naik menuju keadaan tertinggi yang tanpa takut milik Vāsudeva, sambil menguatkan pemujaan di kalangan para resi.

अहिंसायज्ञविवेकः (Discerning Non-Violent Sacrifice) — Vasu and the Devas’ Yajña Debate
Bab 6 dibuka dengan pertanyaan Sāvarṇi kepada Skanda: bagaimana Raja Mahān Vasu jatuh ke dalam bumi/alam bawah, apa sebab kutukannya, dan bagaimana ia dilepaskan. Skanda menjawab dengan kisah terdahulu: Indra (bernama Viśvajit) memulai yajña agung mirip Aśvamedha; banyak hewan diikat dan menangis pilu. Para resi bercahaya datang, dihormati, namun tertegun dan berbelas kasih melihat kekerasan yang melekat dalam perluasan ritual itu, lalu menasihati para dewa tentang dharma. Para resi menegaskan sanātana-dharma: ahiṃsā adalah prinsip yang lebih luhur; maksud Veda bukanlah pembantaian hewan, melainkan menegakkan ‘empat kaki’ dharma, bukan merobohkannya melalui luka. Mereka mengkritik tafsir yang digerakkan rajas-tamas—misalnya memahami ‘aja’ semata sebagai kambing, padahal dapat dimaknai sebagai benih/bahan obat dan unsur teknis lainnya. Mereka juga menyatakan bahwa para dewa yang sāttvika selaras dengan Viṣṇu, dan pemujaan kepada Viṣṇu sejalan dengan yajña tanpa kekerasan. Namun para dewa tidak menerima kewibawaan para resi; celah adharma—kesombongan, amarah, dan delusi—kian melebar. Saat itu Raja Rājoparicara Vasu datang; para dewa dan resi memintanya memutuskan apakah yajña dilakukan dengan hewan atau dengan biji-bijian serta ramuan. Mengetahui kecenderungan para dewa, Vasu memihak mereka dan menyatakan yajña sepatutnya dengan kambing/hewan; seketika akibatnya tampak: karena cacat ucapan (vāgdoṣa) ia jatuh dari langit dan masuk ke dalam bumi, namun tetap mengingat karena berlindung pada Nārāyaṇa. Para dewa, takut akibat kekerasan, melepaskan hewan-hewan dan pergi; para resi kembali ke pertapaan—bab ini menjadi peringatan tentang penafsiran śāstra, ritual yang beretika, dan beratnya kata-kata yang diucapkan dengan otoritas.

वसोरुद्धारः, पितृशापः, श्वेतद्वीप-वैष्णवधाम-प्राप्तिः (Vasu’s Restoration, Ancestral Curse, and Attainment of Śvetadvīpa/Vaiṣṇava Dhāma)
Bab ini menampilkan rangkaian ajaran tentang akibat karma, pemurnian melalui bhakti, dan lintasan menuju moksha. Raja Vasu, terkurung di dalam bumi karena suatu pelanggaran, menekuni japa batin mantra Bhagavat bersuku tiga secara terus-menerus, serta memuja Śrī Hari dengan disiplin pañcakāla menurut waktu dan śāstra. Vāsudeva yang berkenan memerintahkan Garuḍa untuk mengangkat Vasu dari celah bumi dan memulihkannya ke kedudukan yang lebih luhur; tampaklah daya anugerah Ilahi bekerja melalui perantara surgawi. Teks juga menegaskan bahwa pelanggaran lewat ucapan atau sikap tidak hormat dapat berbuah berat, namun pelayanan eksklusif kepada Hari cepat menyucikan dan menganugerahkan pencapaian surgawi; Vasu menikmati kehormatan di alam dewa. Selanjutnya hadir kisah Acchodā yang terkait para Pitṛ, kekeliruan pengenalan, dan kutuk para Pitṛ—yang justru menjadi rencana penebusan teratur: kelahiran-kelahiran pada zaman Dvāpara, keunggulan bhakti yang berlanjut, pemujaan menurut tata pañcarātra, dan akhirnya kembali ke alam ilahi. Pada penutup, Vasu beralih dari kenikmatan menuju vairāgya: ia bermeditasi pada Ramāpati, meninggalkan tubuh dewa lewat konsentrasi yoga, mencapai lingkup surya yang disebut ‘gerbang pembebasan’ bagi yogin sempurna, lalu dipandu dewa-dewa sementara menuju Śvetadvīpa yang menakjubkan—sebuah wilayah ambang bagi bhakta yang menuju Goloka/Vaikuṇṭha. Status ‘Śvetamukta’ didefinisikan sebagai mereka yang memuja Nārāyaṇa dengan ekāntika-dharma.

Kāla, Ritual Distortion, and the Durvāsā–Indra Episode (कालप्रभावः, हिंस्रयज्ञप्रवृत्तिः, दुर्वासा-इन्द्रोपाख्यानम्)
Bab 8 dibuka dengan pertanyaan Sāvarṇi: mengapa tata-yajña yang bersifat kekerasan muncul kembali walau telah dibatasi para resi dan para dewa, dan bagaimana dharma yang kekal serta murni dapat terbalik di kalangan makhluk dahulu maupun kemudian. Skanda menjawab dengan ajaran tentang kemerosotan batin: pengaruh kāla (waktu) mengacaukan daya pembedaan; kāma, krodha, lobha, dan māna merusak penilaian bahkan pada orang berilmu. Sebaliknya, mereka yang sāttvata dan kṣīṇavāsanā tetap teguh. Lalu Skanda mengemukakan sebuah itihāsa lama untuk menjelaskan bangkitnya kecenderungan ritual yang keras sekaligus menegaskan kemuliaan Nārāyaṇa dan Śrī. Dikisahkan Durvāsā—pertapa yang merupakan aspek Śaṅkara—berjumpa seorang wanita surgawi pembawa rangkaian bunga harum dan menerima kalung itu. Kemudian ia melihat Indra dalam arak-arakan kemenangan; karena kelengahan dan nafsu Indra, rangkaian itu diletakkan pada gajah, jatuh, dan terinjak. Durvāsā murka dan mengutuk: Śrī, yang dengan anugerah-Nya Indra memegang kedaulatan tiga dunia, akan meninggalkannya dan bersemayam di samudra—menetapkan kaitan sebab antara penghinaan terhadap wibawa pertapa dan lenyapnya daya kemujuran.

धर्मविप्लवः, श्रीनिवृत्तिः, आपद्धर्मभ्रान्तिः च (Dharma Upheaval, Withdrawal of Śrī, and Misread Āpaddharma)
Skanda menuturkan masa pembalikan dharma karena kekuatan waktu. Pada saat itu Śrī—kemakmuran—menarik diri dari tiga dunia, bahkan alam para dewa tampak meredup. Pangan, obat, susu, harta, dan sarana kenyamanan menyusut; kelaparan meluas dan tatanan sosial terguncang. Karena lapar, banyak makhluk membunuh hewan dan memakan daging; namun beberapa resi yang teguh pada saddharma menolak makanan demikian meski berada di ambang maut. Para ṛṣi tua mengajarkan “āpaddharma” dengan rujukan Weda, tetapi kisah ini memperlihatkan bagaimana kekeliruan tafsir muncul: istilah yang samar dan bahasa Weda yang tidak langsung dipahami secara harfiah sehingga pengorbanan yang bersifat kekerasan dinormalkan. Pembunuhan hewan dalam yajña meluas, termasuk ritus besar; sisa persembahan dijadikan alasan untuk makan, dan dorongan bergeser ke arah kekayaan, kepentingan rumah tangga, serta sekadar bertahan hidup. Akibatnya norma sosial merosot, perkawinan campur meningkat karena kemiskinan dan kekacauan, adharma bertambah; lalu muncul teks-teks kemudian yang, atas nama tradisi, menganggap etika masa krisis itu sebagai otoritatif. Setelah waktu yang panjang, raja para dewa memperoleh kembali kemakmuran melalui pemujaan kepada Vāsudeva; oleh anugerah Hari, saddharma dipulihkan, meski sebagian tetap mengutamakan aturan darurat lama. Penutupnya menegaskan bahwa meluasnya yajña yang keras adalah gejala historis yang bergantung pada masa bencana.

Kṣīrasāgara-tapas and Vāsudeva’s Instruction for Samudra-manthana (क्षीरसागर-तपः तथा समुद्रमन्थन-उपदेशः)
Sāvarṇi bertanya bagaimana Śrī (Lakṣmī) yang telah meninggalkan Indra dapat diperoleh kembali oleh para dewa, serta memohon kisah yang berpusat pada Nārāyaṇa. Skanda menuturkan keadaan para dewa yang merosot: mereka kalah, kehilangan kedudukan, mengembara laksana pertapa bersama para dewa penjuru, dan lama menderita kelangkaan—kemarau, paceklik, serta kemiskinan. Setelah penderitaan panjang, mereka berlindung di Meru dan mendatangi Brahmā (dengan Śaṅkara hadir); Brahmā mengajukan jalan pemulihan untuk meraih perkenan Viṣṇu. Para dewa pergi ke pantai utara Kṣīrasāgara dan menjalankan tapa yang berat dengan meditasi terpusat pada Keśava, Vāsudeva—Tuan Lakṣmī. Setelah waktu yang lama, Viṣṇu menampakkan diri dalam sinar kemuliaan; Brahmā dan Śiva, disusul para dewa, bersujud dan melantunkan stotra yang memuliakan Vāsudeva sebagai Oṃkāra-brahma, nirguṇa, antar-yāmin, dan pelindung dharma. Para dewa mengakui bahwa pelanggaran terhadap Durvāsas menjadi sebab lenyapnya Śrī, lalu memohon pemulihan. Viṣṇu menerima permohonan mereka dan memberi upaya praktis yang menuntut kerja sama: lemparkan tumbuhan obat ke samudra, jadikan Mandara sebagai batang pengaduk, Nāgarāja sebagai tali, dan lakukan pengadukan samudra bersama para asura; Viṣṇu berjanji akan menolong. Ia menubuatkan keluarnya amṛta dan kembalinya ‘pandangan’ Śrī kepada para dewa, sedangkan pihak lawan akan terbebani kesusahan. Setelah itu Viṣṇu menghilang, dan para dewa mulai melaksanakan petunjuk tersebut.

मन्दर-समुद्रमन्थन-प्रारम्भः (Commencement of the Mandara Ocean-Churning)
Skanda menuturkan bahwa para dewa dan asura membuat perjanjian, lalu memulai proyek besar pengadukan samudra secara bersama. Setelah rekonsiliasi, mereka berkumpul di tepi laut, mengumpulkan tumbuh-tumbuhan berkhasiat, dan berusaha mencabut serta memindahkan Gunung Mandara. Karena beratnya yang tak terperi dan akarnya yang menghunjam, mereka gagal; maka Saṅkarṣaṇa dipuja, dan dengan daya laksana hembusan napas ia mengguncang gunung dari akarnya dan melemparkannya jauh. Kemudian Garuḍa ditugaskan membawa Mandara dengan cepat ke tepi samudra. Vāsuki diundang dengan janji memperoleh bagian amerta. Para dewa dan asura mengambil posisi pada tali-ular untuk mengaduk, sementara Viṣṇu dengan halus mengatur susunan demi melindungi para dewa. Mandara tenggelam karena tiada penopang; Viṣṇu lalu menjelma sebagai Kūrma (kura-kura kosmis) untuk menyangga gunung dan meneguhkan proses. Gesekan dahsyat menghancurkan makhluk-makhluk air dan menimbulkan gemuruh kosmik; ketika bisa dan panas Vāsuki meningkat, Saṅkarṣaṇa menahan serta membendung daya racun itu. Akhirnya racun halāhala (kālakūṭa) muncul dan mengancam semua alam; para dewa memohon kepada Umāpati (Śiva). Dengan restu Hari, Śiva menarik racun ke telapak tangannya dan meminumnya, menjadi Nīlakaṇṭha; sisa tetesannya di bumi diserap oleh ular, kalajengking, dan beberapa jenis tumbuhan obat.

समुद्रमन्थनप्रसङ्गः (The Episode of the Churning of the Ocean)
Skanda menuturkan bahwa kelompok Kāśyapeya—para dewa dan asura—kembali mengaduk Samudra Susu. Mula-mula timbul letih dan ketidakstabilan: para pengaduk melemah, Vāsuki menderita, dan Gunung Mandara tidak dapat berdiri teguh. Atas persetujuan Viṣṇu, Pradyumna memasuki para dewa, asura, dan raja ular untuk menyalurkan kekuatan; Aniruddha menegakkan Mandara bagaikan gunung kedua. Berkat anubhāva Nārāyaṇa, keletihan sirna dan tarikan tali menjadi seimbang serta selaras. Dari pengadukan muncul sari obat, bulan, Kāmadhenu (Havirdhānī), kuda ilahi putih, Airāvata, Pārijāta, permata Kaustubha, para apsarā, Surā, busur Śārṅga, dan sangkakala Pāñcajanya. Para asura merebut Vāruṇī dan kuda; dengan restu Hari, Indra mengambil Airāvata; Kaustubha, busur, dan sangkakala menjadi milik Viṣṇu; Kāmadhenu diberikan kepada para pertapa. Kemudian Śrī menampakkan diri, memancarkan cahaya yang menyilaukan tiga dunia; tiada yang mampu mendekat, dan samudra menempatkannya seraya menyebut, “inilah putriku.” Walau pengadukan berlanjut, amṛta belum muncul sampai Tuhan Yang Maha Pengasih sendiri mengaduk dengan lila; Brahmā dan para resi memuji-Nya. Lalu Dhanvantari bangkit membawa kendi amṛta dan membawanya menuju Śrī.

Mohinī and the Protection of Amṛta (मोहिनी-अमृत-रक्षणम्)
Skanda menuturkan—ketika Dhanvantari muncul membawa amṛta dalam kendi emas, timbullah krisis besar. Para asura merampasnya; para dewa menasihati menurut dharma bahwa pembagian yang adil semestinya memberi bagian kepada para dewa, namun karena loba mereka saling bertengkar dan bahkan gagal meminum amṛta. Tak mampu melawan dengan kekuatan, para dewa berlindung kepada Acyuta, Viṣṇu. Viṣṇu lalu mengambil wujud perempuan memesona, Mohinī, mendekati para asura dan memperoleh persetujuan mereka agar ia sendiri yang membagikan amṛta. Setelah semua duduk berbaris, Mohinī justru mengutamakan para dewa. Masalah muncul ketika Rāhu menyusup ke barisan dewa di antara Sūrya dan Candra; setelah dikenali, Viṣṇu memenggal kepalanya dengan cakra, lalu menegakkannya sebagai ‘graha’ demi kestabilan dunia. Sesudah para dewa menjadi kuat, pertempuran terjadi di tepi samudra. Dengan dukungan Viṣṇu dan kehadiran Nara-Nārāyaṇa—Nara khususnya berhasil merebut kembali kendi—para asura dikalahkan dan mundur. Bab ini berakhir dengan sukacita para dewa yang mendekati Śrī, menandai pulihnya tatanan yang mujur.

Śrī–Nārāyaṇa Vivāha-mahotsavaḥ (The Ceremonial Wedding of Śrī and Nārāyaṇa)
Bab ini menggambarkan pertemuan kosmis yang agung, yang berpuncak pada mahotsava pernikahan Śrī (Lakṣmī) dengan Nārāyaṇa/Vāsudeva. Skanda menuturkan kedatangan Brahmā, Śiva, para Manu, Mahārṣi, Āditya, Vasu, Rudra, Siddha, Gandharva, Cāraṇa, serta banyak kelompok dewa; sungai-sungai suci pun hadir sebagai kekuatan yang dipersonifikasikan. Atas perintah Brahmā dibangun maṇḍapa yang bercahaya, bertiang permata, dihiasi lampu dan rangkaian hiasan. Śrī didudukkan secara seremonial dan dikonsekrasi; para diggaja melakukan pemandian dengan air yang dibawa dari empat samudra. Lantunan Weda, nyanyian suci yang mengingat Śrī-sūkta, musik, tarian, dan pujian-pujian mengiringi upacara. Sesudahnya para dewa menganugerahkan kain, perhiasan, dan benda-benda pertanda mujur. Dalam bingkai kisah ini Samudra, sebagai ayah Śrī, memohon nasihat Brahmā tentang mempelai yang layak; Brahmā menyatakan hanya Vāsudeva, Tuhan Tertinggi, yang pantas menjadi suaminya. Prosedur pernikahan—vākdāna dan ritual dengan api suci—dilaksanakan, dan melalui pertimbangan Dharma serta Mūrti ditempatkan sebagai figur orang tua. Bab ditutup dengan penghormatan para dewa-dewi kepada pasangan ilahi dan pujian bhakti yang menegaskan peristiwa ini sebagai teladan harmoni kosmis dan tatanan yang membawa keberkahan.

Adhyāya 15 — Vāsudeva-stutiḥ and Śrī–prasāda (Praise of Vāsudeva and the Restoration of Prosperity)
Bab ini menampilkan rangkaian kidung pujian (stuti) yang bersuara banyak tentang Vāsudeva. Brahmā, Śaṅkara, Dharma, para Prajāpati, Manu, para Ṛṣi, serta Indra, Agni, Marut, Siddha, Rudra, Āditya, Sādhya, Vasu, Cāraṇa, Gandharva–Apsaras, Samudra, para pelayan ilahi, dan kekuatan yang dipersonifikasikan seperti Sāvitrī, Durgā, sungai-sungai, Bumi, Sarasvatī—semuanya menyampaikan penegasan yang saling melengkapi tentang kemutlakan Vāsudeva. Pokok ajaran yang ditekankan: bhakti adalah penentu bagi kenikmatan yang tahan lama dan pembebasan; ritual yang hanya bertumpu pada pahala kebajikan tanpa bhakti memiliki batas. Vāsudeva adalah pengatur transenden, melampaui māyā bahkan melampaui waktu; dan melalui keterhubungan dengan-Nya, makhluk yang dipandang pinggiran secara sosial pun dapat meraih kedudukan luhur. Lalu tampak akibatnya secara nyata: Vāsudeva mengakui para dewa dan memerintahkan Śrī agar memandang mereka dengan anugerah; kemakmuran pun dipulihkan di tiga dunia. Karunia dan kelimpahan mengalir, terutama dari perbendaharaan samudra. Penutupnya berupa phalaśruti: mendengar atau melafalkan kisah ini memberi kemakmuran bagi perumah tangga dan pencapaian yang diinginkan bagi para pertapa, termasuk pematangan bhakti, jñāna, dan vairāgya.

नारदस्य गोलोकयात्रा — Nārada’s Journey to Goloka
Bab keenam belas menampilkan penuturan Skanda tentang kenaikan visioner Nārada menuju Goloka. Dari puncak Meru, Nārada menyaksikan Śvetadvīpa serta para bhakta yang telah merdeka (śvetamukta). Ketika batinnya terpusat pada Vāsudeva, seketika ia dipindahkan ke wilayah ilahi; para bhakta mengenali ekāntika-bhakti Nārada dan menanggapi kerinduannya untuk melihat Kṛṣṇa secara langsung. Seorang śvetamukta, digerakkan oleh dorongan batin dari Kṛṣṇa, menuntun Nārada di jalan surgawi: melewati kediaman para dewa, melampaui Saptaṛṣi dan Dhruva, menyeberangi Maharloka, Janaloka, dan Tapoloka, bahkan melampaui Brahmaloka serta “delapan selubung” unsur kosmis. Ia pun mencapai Goloka yang luar biasa, bercahaya: sungai Virajā, tepi bertatah permata, pohon-pohon pengabul harapan, dan kemegahan bak benteng dengan banyak gerbang. Kisah lalu meluas menjadi uraian arsitektur dan alam: rimba harum, hewan-hewan ilahi, rāsa-maṇḍapa, gopī yang tak terhitung berhias perhiasan, serta Vṛndāvana surgawi sebagai taman permainan terkasih Rādhā-Kṛṣṇa. Akhirnya Nārada tiba di kompleks mandir Kṛṣṇa yang menakjubkan dengan gerbang berlapis dan para penjaga bernama; dengan izin ia masuk dan menyaksikan sinar yang amat besar di dalam—menandai kedekatan darśana langsung, sambil menegaskan bahwa akses ditentukan oleh kelayakan bhakti dan tuntunan ilahi.

Adhyāya 17 — Nārada’s Vision of Vāsudeva’s Dhāma and Hymn of Praise (नारददर्शन-स्तुति)
Bab ini dibuka dengan uraian Skanda tentang cahaya ilahi yang meliputi segalanya, dahsyat dan menembus batin—disebut sebagai Akṣara-Brahman, bertanda sat-cit-ānanda. Para yogi dikatakan, berkat anugerah Vāsudeva, melampaui enam cakra batin dan kemudian menyaksikan kenyataan tertinggi itu. Selanjutnya Nārada memperoleh penglihatan tentang dhāma yang menakjubkan: sebuah kuil dari permata dan balairung pertemuan dengan pilar-pilar berkilau. Di sana ia melihat Kṛṣṇa/Nārāyaṇa ditegakkan sebagai Tuhan nirguṇa, dikenali sebagai Paramātman, Para-Brahman, Viṣṇu, dan Bhagavān. Digambarkan pula keelokan-Nya yang muda, mahkota dan perhiasan, mata bak teratai, harum cendana, tanda Śrīvatsa, seruling, serta kehadiran Rādhā dan sosok-sosok suci lainnya; kebajikan yang dipersonifikasikan dan senjata-senjata ilahi pun tampak menyertai. Pada akhirnya Nārada bersujud penuh dan melantunkan pujian, menegaskan bahwa bhakti lebih unggul daripada jalan lain untuk penyucian dan pembebasan, serta memohon keteguhan devosi. Skanda menutup dengan menyatakan bahwa Tuhan menjawab dengan sabda yang manis laksana amṛta, penuh kasih karunia.

Vāsudeva-Darśana, Bhakti-Lakṣaṇa, and Avatāra-Pratijñā (वासुदेवदर्शन–भक्तिलक्षण–अवतारप्रतिज्ञा)
Bab ini memuat ajaran teologis berlapis yang disampaikan Skanda. Bhagavān menjelaskan kepada Nārada bahwa darśana (penampakan suci) dianugerahkan melalui bhakti nitya-ekāntika yang teguh, disertai kerendahan hati tanpa kesombongan; dan ditopang oleh disiplin etis seperti ahiṃsā, brahmacarya, pelaksanaan svadharma, pelepasan (vairāgya), pengetahuan diri, sat-saṅga, aṣṭāṅga-yoga, serta pengendalian indria. Vāsudeva lalu menyatakan jati diri-Nya dalam berbagai kedudukan: sebagai pemberi buah karma dan antaryāmin; sebagai Tuhan berlengan empat di Vaikuṇṭha bersama Lakṣmī dan para pengiring; serta sebagai Dia yang memberi darśana berkala kepada para bhakta Śvetadvīpa. Uraian berkembang menjadi garis waktu avatāra: penciptaan Brahmā, penganugerahan daya untuk tata kelola kosmos, dan manifestasi-manifestasi mendatang—Varāha, Matsya, Kūrma, Narasiṃha, Vāmana, Kapila, Dattātreya, Ṛṣabha, Paraśurāma, Rāma, Kṛṣṇa bersama Rādhā dan Rukmiṇī, Vyāsa, Buddha sebagai siasat yang menyesatkan kekuatan adharma, kelahiran pemulih dharma di Kali, dan Kalki. Setelah berjanji akan berulang kali menjelma setiap kali dharma berlandaskan Veda merosot, Bhagavān menawarkan anugerah; Nārada memohon semangat abadi untuk melantunkan kemuliaan Ilahi. Bhagavān menganugerahkan vīṇā dan memerintahkannya menuju Badarī untuk bersembahyang, menegaskan bahwa sat-saṅga dan penyerahan diri adalah sarana penentu untuk lepas dari belenggu. Bab ditutup dengan perjalanan bhakti Nārada melalui Śvetadvīpa, lalu menuju Meru dan Gandhamādana, dan akhirnya memasuki wilayah Badarī yang luas.

Nārada’s Reception by Nara-Nārāyaṇa and Instruction on Ekāntikī Bhakti and Tapas (नरनारायण-नारद-संवादः)
Skanda menuturkan perjumpaan Nārada dengan pasangan pertapa purba, Nara dan Nārāyaṇa. Keduanya digambarkan berciri suci: tanda Śrīvatsa, lambang teratai dan cakra, rambut gimbal (jaṭā), serta pancaran cahaya rohani yang luar biasa. Nārada mendekat dengan vinaya (kerendahan hati), mengelilingi mereka dengan hormat, lalu bersujud penuh; setelah menyelesaikan laku pagi, kedua ṛṣi memuliakannya dengan pādya dan arghya serta mempersilahkannya duduk—teladan tata krama dharma dalam penyambutan tamu. Nārāyaṇa kemudian menanyakan pengalaman Nārada melihat Paramātman di alam Brahmā. Nārada menyatakan bahwa darśana Vāsudeva di akṣaradhāman (kediaman yang tak binasa) terjadi semata karena anugerah Ilahi, dan bahwa ia diutus untuk melayani mereka. Nārāyaṇa menegaskan betapa langkanya penglihatan demikian, serta mengajarkan bahwa bhakti yang eksklusif (ekāntikī) memberi jalan kepada Tuhan, sebab Ia guṇātīta, senantiasa murni, dan melampaui kategori materi seperti rupa, warna, usia, dan keadaan. Ajaran itu ditutup dengan tuntunan praktis: Nārada hendaknya menjalankan tapas yang dharmis dan terpusat agar tersucikan dan memahami kemuliaan Tuhan lebih utuh. Tapas dipaparkan sebagai inti keberhasilan; tanpa askese yang sungguh-sungguh, Tuhan tidak “ditaklukkan”. Skanda menutup dengan menyebut niat Nārada yang gembira untuk melakukan tapa.

Ekāntika-dharma and Varṇāśrama-Sadācāra (एकान्तिकधर्मः वर्णाश्रमसदाचारश्च)
Bab 20 dibuka dengan pertanyaan Nārada tentang dharma “ekānta” yang disetujui Tuhan—jalan yang senantiasa menyenangkan Vāsudeva. Śrī Nārāyaṇa menegaskan kemurnian niat Nārada dan menyampaikan ajaran ini sebagai doktrin abadi, mendefinisikan ekāntika-dharma sebagai bhakti yang eksklusif kepada Īśvara beserta Lakṣmī, yang ditopang oleh kewajiban diri (svadharma), pengetahuan, dan pelepasan (vairāgya). Nārada lalu memohon ciri-ciri khusus svadharma dan prinsip-prinsip terkait, mengakui Nārāyaṇa sebagai akar segala śāstra. Selanjutnya dharma diuraikan pada dua ranah: (1) kebajikan umum bagi semua manusia—dimulai dari ahiṃsā, tidak memusuhi, berkata benar, tapa, kemurnian batin-lahir, tidak mencuri, pengendalian indria, menjauhi mabuk dan perilaku menyimpang, puasa Ekādaśī beserta yama, merayakan hari kelahiran Hari dan perayaan suci lainnya, kelurusan hati, melayani orang baik, berbagi makanan, serta bhakti; dan (2) kewajiban menurut varṇa bagi brāhmaṇa, kṣatriya, vaiśya, dan śūdra, termasuk norma mata pencaharian dan tata laku saat darurat. Ditekankan bahwa sat-saṅga membebaskan, sementara pergaulan dengan yang tidak bermoral harus dihindari; akibat menyakiti sādhus, brāhmaṇa, dan sapi dipaparkan, dan mereka dipandang sebagai pusat nilai kesucian laksana tīrtha. Bab ditutup dengan isyarat beralih menuju pembahasan dharma āśrama.

ब्रह्मचारिधर्मनिरूपणम् (Brahmacāri-dharma: Normative Guidelines for the Student Stage)
Bab ini memuat wejangan preskriptif Śrī Nārāyaṇa yang menggolongkan empat āśrama—brahmacārin, gṛhastha, vānaprastha, dan yati—lalu menegaskan dharma brahmacārin sebagai dvija yang dimurnikan oleh saṃskāra. Ditetapkan aturan tinggal dan belajar: menetap di rumah guru untuk mempelajari Veda, menumbuhkan śauca (kesucian), pengendalian diri, berkata benar, kerendahan hati, serta menjalankan kewajiban harian seperti homa pagi-sore, bhikṣā yang teratur, sandhyā tiga waktu, dan pemujaan Viṣṇu setiap hari. Ditekankan ketaatan penuh kepada guru, kesederhanaan dalam makan, dan pembatasan perilaku demi tapa dan kemurnian: menjaga diam saat mandi, makan, homa, dan japa; menahan diri dari berhias berlebihan dan pamer; serta menjauhi minuman memabukkan dan daging. Bagian penting menguraikan batas tegas terkait perhatian yang bersifat erotis: menghindari memandang, menyentuh, berbicara, atau memikirkan perempuan dengan nafsu, namun tetap bersikap hormat kepada istri guru. Di akhir, dijelaskan pilihan setelah masa belajar: menempuh saṃnyāsa atau melanjutkan kesiswaan yang disiplin; disinggung pula bahwa beberapa kaul brahmacarya seumur hidup tidak layak pada Kali-yuga. Disebutkan empat jenis brahmacarya—prājāpatya, sāvitra, brāhma, dan naiṣṭhika—serta anjuran untuk memilih sesuai kemampuan.

गृहस्थ-स्त्रीधर्म-दान-तीर्थकाल-नियमाः (Householder and Women’s Dharma; Charity; Sacred Places and Times)
Bab ini memuat ajaran normatif Nārāyaṇa kepada Nārada tentang tata hidup rumah tangga Vaiṣṇava, sebagai rangkaian kewajiban yang diarahkan kepada Kṛṣṇa/Vāsudeva. Diawali dengan kembalinya seorang lulusan (snātaka) ke kehidupan duniawi: mempersembahkan guru-dakṣiṇā dan memasuki gṛhastha melalui pernikahan yang sah menurut śāstra dan diterima masyarakat. Selanjutnya diuraikan nitya-karma: mandi suci, sandhyā, japa, homa, svādhyāya, pemujaan Viṣṇu, tarpaṇa, vaiśvadeva, serta penghormatan kepada tamu. Ditekankan pula batas etika: ahiṁsā, menjauhi minuman memabukkan dan perjudian, menahan ucapan serta perilaku; mencari pergaulan dengan sādhus dan bhāgavatas, serta menghindari pergaulan yang menindas atau mengguncang ketenteraman. Bagian penting membahas kemurnian dan kehati-hatian sosial-ritual, termasuk ketentuan śrāddha (undangan terbatas, persembahan vegetarian, penekanan ahiṁsā) dan pertimbangan deśa–kāla–pātra. Disebutkan daftar tīrtha, sungai, dan waktu-waktu utama: ayana, viṣuva, gerhana, ekādaśī/dvādaśī, manvādī/yugādī, amāvāsyā, pūrṇimā, aṣṭakā, bintang kelahiran serta hari-hari perayaan. ‘Satpātra’ didefinisikan sebagai penerima derma yang berbhakti, tempat kehadiran Viṣṇu dipahami secara batin; dianjurkan pula karya Vaiṣṇava untuk kemaslahatan umum—mendirikan kuil, waduk air, taman, dan memberi makan. Penutupnya merangkum dharma perempuan: ideal pativratā, disiplin bhakti bagi janda, serta menghindari situasi privat yang berisiko—sebagai pedoman etis dalam kerangka aturan rumah tangga.

वानप्रस्थ-यति-धर्मनिर्णयः | Vānaprastha and Yati Dharma: Norms of Forest-Dwelling and Renunciation
Bab ini memuat wejangan teologis normatif Śrī Nārāyaṇa tentang āśrama ketiga dan keempat: vānaprastha (penghuni hutan) dan saṃnyāsa/yati (pertapa pelepas). Vānaprastha ditegaskan sebagai tahap hidup ketiga, beserta syarat memasuki hutan: istri boleh menyertai bila selaras secara rohani; jika tidak, sang suami wajib mengatur nafkah, perlindungan, dan penopang hidupnya terlebih dahulu. Lalu dijabarkan tapa dan aturan hidup di hutan: tanpa takut namun waspada, tempat tinggal sederhana, disiplin musiman (tapa panas, menahan dingin, laku saat musim hujan), pakaian dari kulit kayu/kulit binatang/daun, serta hidup dari hasil hutan dan biji-bijian para ṛṣi; ada ketentuan waktu mengumpulkan dan memasak makanan, serta larangan mengambil makanan budidaya kecuali dalam keadaan perlu. Perawatan perlengkapan asketis (daṇḍa, kamaṇḍalu, sarana agnihotra), perawatan diri minimal, tidur di tanah, dan penyesuaian tapa menurut tempat, waktu, dan kemampuan tubuh juga diajarkan. Vānaprastha dibagi menjadi empat jenis—phenapa, audumbara, vālakhīlya, dan vaikhanasa—serta pilihan lamanya menjalani sebelum beralih ke saṃnyāsa; namun bila vairāgya (ketidakmelekatan) sangat kuat, pelepasan segera diperbolehkan. Sesudah itu dipaparkan kode yati: pakaian minimal, pengemis-alms yang teratur, tidak terikat pada rasa, disiplin kemurnian, puja Viṣṇu setiap hari, japa mantra dvādaśākṣara dan/atau aṣṭākṣara, menolak ucapan palsu dan bercerita demi nafkah, mempelajari śāstra yang menuntun pada pemahaman belenggu dan pembebasan, hidup tanpa penimbunan (bahkan tidak menganggap maṭha sebagai milik), serta meninggalkan ego dan rasa memiliki. Peringatan keras diberikan terhadap kedekatan dengan perempuan, harta, perhiasan, wewangian, dan godaan indria; enam cacat—kāma, lobha, rasa-āsvāda, sneha, māna, krodha—disebut sebagai penyebab saṃsāra dan harus ditinggalkan. Penutupnya menegaskan buah āśrama/varṇa dan menyatakan bahwa mereka yang menjalankan disiplin ini dengan bhakti kepada Śrī Viṣṇu akan mencapai Viṣṇuloka saat wafat.

अध्याय २४: ज्ञानस्वरूप-वर्णनम्, वैराजपुरुष-सृष्टि, ब्रह्मणो तपः-वैष्णवदर्शनम् (Chapter 24: On the Nature of Knowledge, Virāṭ-Puruṣa Cosmogenesis, and Brahmā’s Tapas with the Vision of Vāsudeva)
Nārāyaṇa mendefinisikan ‘pengetahuan’ sebagai buddhi-viveka, pemahaman yang membedakan, yang dengannya kṣetra (tubuh–prakṛti) beserta kategori-kategori terkait dikenali dengan tepat. Lalu Vāsudeva ditegaskan sebagai Brahman Tertinggi—mula-mula satu, non-dual, nirguṇa; kemudian māyā bersama śakti-kāla muncul, bergejolak, dan melahirkan tak terhitung telur kosmis (brahmāṇḍa). Dalam satu brahmāṇḍa, evolusi berlangsung melalui mahat, ahaṅkāra, dan susunan tri-guṇa, menampakkan tanmātra, mahābhūta, indriya, serta fungsi-fungsi devatā; keseluruhannya menjadi tubuh Virāṭ, penopang dunia bergerak dan tak bergerak. Dari Virāṭ lahir Brahmā (rajas), Viṣṇu (sattva), dan Hara (tamas), beserta śakti mereka—Durgā, Sāvitrī, dan Śrī—yang pancaran parsialnya berkembang luas. Brahmā, yang mula-mula kebingungan di atas teratai di samudra tunggal, mendengar perintah tak kasatmata ‘tapo tapo’; ia menempuh penyelidikan dan tapa panjang hingga memperoleh darśana Vaikuṇṭha, tempat guṇa tidak mengikat dan takut pada māyā tidak berlaku. Di sana ia menyaksikan Vāsudeva berlengan empat bersama para pengiring ilahi, menerima anugerah śakti untuk visarga (penciptaan makhluk), dan diperintahkan mencipta sambil menjaga kesatuan meditasi dengan Virāṭ. Brahmā kemudian menata ciptaan: para ṛṣi, kemunculan Rudra dari amarah, para prajāpati, Veda, varṇa dan āśrama, makhluk serta loka, juga pembagian santapan dan persembahan (havis/kavya) yang layak bagi deva, pitṛ, dan golongan lainnya. Penutup bab menegaskan perubahan siklik antar-kalpa, prinsip avatāra Vāsudeva untuk memulihkan batas-batas yang terganggu, serta definisi akhir pengetahuan: membedakan ciri kṣetra, kṣetrajña, prakṛti–puruṣa, māyā, kāla-śakti, akṣara, dan Paramātman.

वैराग्यलक्षण-प्रलयचतुष्टय-नवधा भक्त्युपदेशः (Marks of Dispassion, Fourfold Dissolution, and Instruction in Ninefold Devotion)
Bab ini memuat uraian teologis yang tertata, disampaikan oleh Śrī Nārāyaṇa kepada seorang resi. Mula-mula dijelaskan vairāgya sebagai ketidakmelekatan yang mantap terhadap objek-objek yang fana; melalui pramāṇa—pengamatan langsung, penalaran, dan kesaksian śāstra—ditunjukkan bahwa bentuk-bentuk yang terikat kondisi tidak dapat diandalkan karena selalu berubah dan menimbulkan ulang penderitaan. Selanjutnya dipaparkan empat jenis pralaya (peleburan) yang digerakkan oleh waktu: (1) pralaya ‘harian/nitya’ yang tampak dalam perubahan tubuh dan kemerosotan terus-menerus, (2) pralaya naimittika terkait siklus siang–malam Brahmā, meliputi urutan empat belas Manu, pengeringan dunia, api kosmis, lalu banjir besar, (3) pralaya prākṛtika berupa pelarutan bertahap unsur dan daya indria kembali ke prakṛti, dan (4) pralaya ātyantika, ketika māyā, puruṣa, dan waktu pun surut ke Yang Tak Binasa, menyisakan hanya Tuhan Yang Esa. Sesudah menegakkan ajaran ketidakkekalan dan penarikan kosmis, bab ini beralih pada laku: bhakti eksklusif kepada Vāsudeva didefinisikan, sembilan cara bhakti (śravaṇa dan seterusnya) disebutkan, dan ‘ekāntika dharma’ dipuji sebagai disiplin paling ampuh menuju pembebasan. Penutupnya menegaskan buahnya yang berpusat pada Vāsudeva: Nama Ilahi menyelamatkan bahkan bila terucap tidak sempurna, asalkan diingat dengan hati berserah.

Kriyāyoga and the Procedure of Vāsudeva-Pūjā (क्रियायोगः—वासुदेवपूजाविधिः)
Bab 26 dibuka dengan Skanda yang menceritakan pertanyaan Narada setelah mendengar uraian tentang ekāntika-dharma. Narada memohon penjelasan tentang disiplin praktis (kriyā-yoga) yang menuntun pada keberhasilan rohani. Nārāyaṇa menegaskan bahwa kriyā-yoga adalah tata cara pemujaan (pūjā-vidhi) kepada Vāsudeva, yang memiliki kesaksian luas dalam Weda, Tantra, dan Purāṇa, serta dapat beragam sesuai kemampuan dan kecenderungan para bhakta. Selanjutnya dijelaskan kelayakan menerima dīkṣā Vaiṣṇava menurut varṇa dan āśrama, pemakaian mantra pokok (mantra enam suku kata Śrī Kṛṣṇa), dan keharusan bhakti yang tulus tanpa tipu daya sambil tetap menjalankan kewajiban sosial-keagamaan. Kriteria memilih guru, tanda lahiriah seperti mālā tulasī dan ūrdhva-puṇḍra dari gopīcandana, serta tata laku pemujaan harian—bangun pagi, meditasi batin pada Keśava, kebersihan dan mandi, sandhyā/homa/japa, dan penyediaan persembahan yang murni—diuraikan. Bab ini juga merinci pilihan ikonografi arca Vāsudeva/Kṛṣṇa: bahan, warna, wujud dua atau empat lengan, atribut seperti seruling, cakra, śaṅkha, gadā, padma, serta penempatan Śrī (Lakṣmī) atau Rādhā. Dibedakan arca tetap (acala) dan arca bergerak (cala), kapan pemanggilan/pelepasan tidak dilakukan, serta kehati-hatian dalam menangani jenis arca tertentu. Penutupnya menegaskan bahwa bhakti dan imanlah yang menentukan: air sederhana yang dipersembahkan dengan ketulusan menyenangkan Tuhan yang bersemayam di dalam, sedangkan pemberian mewah tanpa iman tidak menghasilkan sukacita rohani; karena itu arcana harian kepada Kṛṣṇa dianjurkan demi kesejahteraan bhakta.

Pīṭha-Padma-Maṇḍala: Vāsudeva-Sthāpanākrama (Ritual Layout for Installing Vāsudeva)
Bab ini memaparkan tata‑letak teknis ‘Pīṭha‑Padma‑Maṇḍala’ untuk membangun medan pemujaan yang tersucikan. Setelah tanah disucikan melalui tindakan pembersihan, pemimpin ritual menempatkan pīṭha berkaki empat dan menegakkan penopang arah beserta prinsip simbolik: Dharma, Jñāna, Vairāgya, dan Aiśvarya. Selanjutnya, fakultas batin—manas, buddhi, citta, ahaṅkāra—serta tiga guṇa dipetakan ke dalam struktur pīṭha secara berurutan. Kemudian śakti‑śakti seperti Vimalā dan lainnya dipasang berpasangan, digambarkan berhias, terkait musik, dan ditempatkan menurut arah. Di atas pīṭha dibentuk medan ‘Śvetadvīpa’, lalu digambar teratai berkelopak delapan dengan pembagian konsentris, gerbang, dan arsitektur berwarna sesuai penjuru. Di pusatnya dipratishtha Śrī Kṛṣṇa bersama Rādhā; di sekelilingnya ditata Saṅkarṣaṇa, Pradyumna, dan Aniruddha, disusul penempatan sistematis enam belas figur avatāra pada delapan serat/urat teratai. Bab ini berlanjut dengan pemasangan para pendamping (pārṣada), delapan siddhi, personifikasi Veda dan śāstra, pasangan para resi beserta permaisuri, lalu lingkar luar para dikpāla dan graha pada arah masing‑masing. Penutupnya adalah penetapan aṅga‑devatā Vāsudeva serta bentuk‑bentuk arca terkait sesuai ketentuan.

वासुदेवपूजाविधिः तथा राधाकृष्णध्यानवर्णनम् / Procedure of Vāsudeva Worship and the Visualization of Rādhā-Kṛṣṇa
Bab 28 memaparkan tata cara pemujaan Vāsudeva secara bertahap. Dimulai dengan penyucian melalui ācamanam dan prāṇāyāma, lalu pemantapan batin, pengumuman deśa-kāla (tempat dan waktu ritual), serta penghormatan kepada dewa yang dipilih. Praktisi menetapkan saṅkalpa untuk menunaikan pemujaan demi tercapainya dharma yang terfokus, kemudian melakukan nyāsa dengan mantra-mantra Vaiṣṇava; disebutkan pilihan mantra menurut kelayakan—kelompok mantra bagi para dvija dan triad mantra bagi yang lain—dan semuanya sah untuk nyāsa maupun homa. Selanjutnya dijelaskan nyāsa pada arca dan pada tubuh sendiri, pembersihan arcā, penempatan kalaśa di sisi kiri, pemanggilan tīrtha, serta upacāra dengan gandha dan puṣpa. Setelah prokṣaṇa, pemujaan śaṅkha dan ghaṇṭā, serta bhūtaśuddhi, praktisi memurnikan diri secara batin dengan ‘membakar’ wujud yang tersusun dari dosa melalui api dan angin batin, lalu merenungkan kesatuan dengan brahman. Bagian akhir beralih pada dhyāna: visualisasi teratai hati, pengangkatan energi ke atas, meditasi ikonografis rinci atas Śrī Kṛṣṇa sebagai Rādhikāpati, kemudian meditasi atas Rādhā, dan puncaknya pemujaan Tuhan bersama beliau berdua.

महापूजाविधानम् (Mahāpūjā-vidhāna) — The Prescribed Sequence of Great Worship
Bab ini memaparkan tata urutan Mahāpūjā kepada Hari (secara tegas mencakup Rādhā–Kṛṣṇa). Rangkaian dimulai dari pemujaan batin, lalu āvāhana dan sthāpana (mengundang serta meneguhkan kehadiran-Nya pada arca), disusul pemanggilan para aṅga-devatā. Kemudian disebutkan bunyi suci yang menguntungkan (lonceng dan alat musik), layanan bak penyambutan tamu seperti pādya, arghya, dan ācamana, serta persiapan bahan-bahan arghya. Selanjutnya dijelaskan regimen pemandian: air harum, pijat minyak, uḍvartana, dan abhiṣeka multi-zat berupa pañcāmṛta (susu, dadih, ghee, madu, gula) disertai mantra. Hymne Veda dan Purāṇa seperti Śrī-sūkta dan Viṣṇu-sūkta, juga Mahāpuruṣa-vidyā, dianjurkan untuk dilantunkan. Setelah itu ditetapkan pemakaian busana, benang suci, perhiasan, tilaka sesuai musim, serta pemujaan bunga dan tulasī dengan pengucapan nama-nama-Nya; dilanjutkan dupa, lampu, naivedya besar (dengan daftar hidangan), persembahan air, pembasuhan tangan, tata kelola sisa persembahan, tāmbūla, buah, dakṣiṇā, dan ārati dengan musik. Penutupnya berupa pujian bhakti, kīrtana, tarian, pradakṣiṇā, dan sujud (aṣṭāṅga/pāñcāṅga dengan petunjuk berbeda bagi laki-laki dan perempuan). Upacara diakhiri dengan doa perlindungan dari saṃsāra, anjuran svādhyāya harian, visarjana atas wujud-wujud yang diundang, serta menidurkan arca. Bagian phala menjanjikan kedekatan dengan Viṣṇu (status pārṣada), kenaikan ke Goloka, dan tercapainya dharma–kāma–artha–mokṣa bahkan bila pemujaan didorong keinginan; juga ditegaskan pahala membangun kuil dan endowmen untuk kelangsungan pūjā, pembagian buah karma antara penyandang dana, pelaksana, pembantu, dan yang menyetujui, serta peringatan keras agar tidak menyalahgunakan dana pemujaan. Ditekankan pula: tanpa pikiran terpusat, ritual lahiriah berbuah kecil, dan bahkan pertapa berilmu tidak meraih siddhi tanpa pemujaan kepada Hari.

मनोनिग्रह-उपायः — वासुदेवभक्त्या अष्टाङ्गयोग-संग्रहः (Chapter 30: Mind-Discipline through Vāsudeva Devotion and the Aṣṭāṅga-Yoga Compendium)
Skanda menuturkan: setelah mendengar tata cara pemujaan Vāsudeva, Nārada—menginginkan keberhasilan nyata dalam laku—bertanya kepada Guru Tertinggi bagaimana mengekang pikiran. Ia mengakui bahwa pengendalian batin sulit bahkan bagi orang berilmu, namun tanpanya pemujaan tidak menghasilkan buah yang diharapkan. Śrī Nārāyaṇa menjawab bahwa musuh utama makhluk berjasad adalah pikiran; penenangannya yang tanpa cela ialah latihan berkesinambungan dalam dhyāna kepada Viṣṇu, ditopang oleh vairāgya (ketidakmelekatan) dan disiplin. Beliau lalu menyajikan ringkasan terstruktur aṣṭāṅga-yoga: yama, niyama, āsana, prāṇāyāma, pratyāhāra, dhāraṇā, dhyāna, dan samādhi. Lima yama dan lima niyama dijelaskan, dengan penegasan bahwa pemujaan kepada Viṣṇu termasuk niyama yang utama. Definisi tiap anggota, kemantapan napas, serta penarikan indra dari objek-objeknya ditekankan. Pada penutup, diuraikan proses keluarnya yogi yang berorientasi mokṣa: menggerakkan prāṇa melalui pusat-pusat batin, “menyegel” lubang-lubang, mencapai brahmarandhra, melepaskan vāsanā yang lahir dari māyā, lalu meninggalkan tubuh dengan fokus tunggal pada Vāsudeva untuk meraih kediaman ilahi Śrī Kṛṣṇa. Bab ini disebut sebagai sari singkat yoga-śāstra dan menganjurkan agar setelah menaklukkan pikiran sendiri, pemujaan kepada Vāsudeva dilakukan terus-menerus.

श्री-नरनारायण-स्तुति-निरूपणम् (Exposition of the Nara–Nārāyaṇa Hymn)
Bab 31 menutup rangkaian ajaran: setelah mendengar uraian Skanda tentang kemuliaan Vāsudeva dan dharma, Nārada menyatakan semua keraguannya lenyap. Ia bertekad melanjutkan tapa (tapas) serta menerima pengetahuan setiap hari pada waktu yang semestinya. Skanda menuturkan bahwa Nārada tinggal selama seribu tahun ilahi, tekun bertapa sambil mendengarkan ajaran Hari pada saat yang tepat, hingga mencapai ‘kematangan’ rohani dan kasih yang makin mendalam kepada Śrī Kṛṣṇa sebagai Diri-Semesta (Akhilātman). Diakui sebagai siddha-yogin yang teguh dalam bhakti tertinggi, Nārada ditugasi oleh Nārāyaṇa untuk mengembara demi kesejahteraan dunia (lokahita) dan menyebarkan ‘ekānta-dharma’ ke mana-mana. Nārada lalu mempersembahkan stuti panjang yang melukiskan Nārāyaṇa/Vāsudeva sebagai tempat bersemayamnya jagat, penguasa yoga, Sang Saksi, melampaui guṇa dan keakuan pelaku, serta pelindung penuh welas asih dari takut dan saṃsāra. Ia menegaskan bahwa mengingat Tuhan—bahkan saat ajal—membebaskan, sedangkan keterikatan pada tubuh, keluarga, dan harta menjerumuskan; penutupnya menanamkan etika bersandar tunggal dan bersyukur kepada Sang Perlindungan Ilahi.

Śrī-Vāsudevamāhātmya—Śravaṇa-Kīrtana-Phalaśruti and Transmission Lineage (Chapter 32)
Bab 32 meneguhkan ajaran yang berpusat pada Vāsudeva melalui rantai penyampaian para penutur dan pendengar. Skanda menuturkan bahwa Nārada, setelah memuji Īśāna, pergi ke āśrama Vyāsa di Śamyāprāsa dan menyampaikan ‘ekāntika dharma’ kepada seorang penanya. Lalu wacana itu ditempatkan dalam sidang Brahmā: para dewa, Pitṛ, dan para resi diajar; Bhāskara (Sūrya) dikatakan mendengar kembali ajaran yang dahulu Nārada dengar dari Nārāyaṇa. Selanjutnya ajaran itu diteruskan: di kalangan Vālakhilya, kepada Indra dan para dewa yang berkumpul di Meru, lalu melalui Asita kepada para Pitṛ, kemudian kepada Raja Śantanu, kepada Bhīṣma, dan akhirnya kepada Yudhiṣṭhira setelah perang Bhārata usai. Dampak mendengar māhātmya ini ditafsirkan sebagai lahirnya bhakti tertinggi yang berarah pada mokṣa; Vāsudeva dinyatakan sebagai sebab tertinggi serta sumber di balik vyūha dan avatāra. Dalam phalaśruti yang padat, teks ini disebut sari (inti) kisah Purāṇa dan ‘rasa’ Veda–Upaniṣad, Sāṅkhya–Yoga, Pañcarātra, serta Dharmaśāstra. Ia menjanjikan kejernihan batin, lenyapnya pertanda buruk, dan buah duniawi maupun pembebasan (dharma, kāma, artha, mokṣa), termasuk hasil sesuai peran sosial serta keberuntungan bagi raja dan perempuan. Sūta menutup dengan menyeru para pendengar berilmu agar memuja satu Vāsudeva, bersalawat hormat kepada Vāsudeva—penguasa Goloka, prinsip bercahaya yang menambah sukacita bhakti.
It presents Vāsudeva as the supreme principle (para-brahman) and argues that actions dedicated to him become spiritually efficacious, reducing obstacles and stabilizing outcomes within an ethical framework.
Rather than listing site-specific merits, it stresses merit through sambandha—linking one’s prescribed duties and rituals to Vāsudeva—thereby amplifying results and orienting practice toward enduring spiritual benefit.
It leverages epic-era inquiry (Yudhiṣṭhira questioning Bhīṣma) and an older itihāsa involving Nārada and Nara-Nārāyaṇa at Badarīāśrama to demonstrate how doctrine is validated through exemplary dialogues.