
Bab ini memuat ajaran teologis berlapis yang disampaikan Skanda. Bhagavān menjelaskan kepada Nārada bahwa darśana (penampakan suci) dianugerahkan melalui bhakti nitya-ekāntika yang teguh, disertai kerendahan hati tanpa kesombongan; dan ditopang oleh disiplin etis seperti ahiṃsā, brahmacarya, pelaksanaan svadharma, pelepasan (vairāgya), pengetahuan diri, sat-saṅga, aṣṭāṅga-yoga, serta pengendalian indria. Vāsudeva lalu menyatakan jati diri-Nya dalam berbagai kedudukan: sebagai pemberi buah karma dan antaryāmin; sebagai Tuhan berlengan empat di Vaikuṇṭha bersama Lakṣmī dan para pengiring; serta sebagai Dia yang memberi darśana berkala kepada para bhakta Śvetadvīpa. Uraian berkembang menjadi garis waktu avatāra: penciptaan Brahmā, penganugerahan daya untuk tata kelola kosmos, dan manifestasi-manifestasi mendatang—Varāha, Matsya, Kūrma, Narasiṃha, Vāmana, Kapila, Dattātreya, Ṛṣabha, Paraśurāma, Rāma, Kṛṣṇa bersama Rādhā dan Rukmiṇī, Vyāsa, Buddha sebagai siasat yang menyesatkan kekuatan adharma, kelahiran pemulih dharma di Kali, dan Kalki. Setelah berjanji akan berulang kali menjelma setiap kali dharma berlandaskan Veda merosot, Bhagavān menawarkan anugerah; Nārada memohon semangat abadi untuk melantunkan kemuliaan Ilahi. Bhagavān menganugerahkan vīṇā dan memerintahkannya menuju Badarī untuk bersembahyang, menegaskan bahwa sat-saṅga dan penyerahan diri adalah sarana penentu untuk lepas dari belenggu. Bab ditutup dengan perjalanan bhakti Nārada melalui Śvetadvīpa, lalu menuju Meru dan Gandhamādana, dan akhirnya memasuki wilayah Badarī yang luas.
No shlokas available for this adhyaya yet.