Atharva Veda Anuvaka 2
Kanda 410 Suktas100 Mantras

Anuvaka 2

Tema utama: Pemulihan tatanan—jasmani, sosial, dan kosmis—melalui penyembuhan Atharvanik, pengujian kebenaran, pemanggilan hujan, dan penangkal sihir. Subtema: (1) Penyembuhan bhaiṣajya: menyetel tulang, “merajut/menyatukan” luka, membangkitkan orang sakit (2) Perlindungan dan pemusnahan (rakṣā/rakṣoghna) terhadap kṛtyā, piśāca, rakṣas, kīmīdin (3) Apāmārga sebagai oṣadhi berdaulat untuk memotong, menyapu-bersih, dan memulihkan ikatan (4) Varuṇa sebagai pemeriksa yuridis: pengakuan, pembongkaran pencurian dan kebohongan (5) Mantra Parjanya untuk hujan dan pembaruan musiman

Suktas in Anuvaka 2

Sukta 11

Sukta ini mensakralkan suatu laku yang secara sosial berada di pinggiran namun sangat ampuh secara ritual—dua belas “malam Vrātya”—dengan menempatkannya dalam tatanan penciptaan Prajāpati serta menyamakan disiplinnya dengan “kaul banteng” (anaḍuho vratam). Sekaligus, sukta ini mengaitkan konsekrasi dengan daya agraris: bunyi dan kerja lembu penarik bajak yang kuat, pertukaran yang sah (pemberi/penerima), dan pengetahuan yang tepat tentang Brahman; semuanya bersama-sama mengesahkan kemakmuran, kesuburan, dan legitimasi ritual.

Rishi: Atharvanic/anonymous (Vrātya complex; traditional attribution varies by anukramaṇī) | Devata: Prajāpati (and implicitly Brahman as sacral power) | 12 Mantras

Sukta 12

Himne penyembuhan Atharvaveda ini adalah mantra penyetelan tulang dan perajutan luka yang menyusun kembali tubuh “sendi dengan sendi”, memulihkan sumsum, daging, kulit, dan tulang setelah patah, terkilir/tergeser, atau luka sayat/tebas. Himne ini memanggil Dhātṛ, Sang Penata kosmis, yang mampu merangkai kembali apa yang telah tercerai-berai; sekaligus memberdayakan oṣadhi (tumbuhan obat penyembuh, sering diidentifikasi sebagai Rohiṇī) untuk “menyatukan kembali” dan menumbuhkan ulang jaringan yang rusak.

Rishi: Atharvanic tradition (healing seer; specific r̥ṣi attribution varies by anukramaṇī) | Devata: Dhātṛ (Creator/Ordainer) as restorer; implicitly the healing power of the remedy | 14 Mantras

Sukta 13

AV 4.13 adalah doa penyembuhan Atharvanik yang ringkas, memohon kepada Viśve Devāḥ (Para Dewa semuanya) agar mengangkat orang yang direndahkan oleh penyakit dan memulihkan hidup, bahkan ketika sakit terikat pada kesalahan (āgas) atau noda ritual-moral. Himne ini membangun lingkar perlindungan—para Dewa, Marut, dan “semua makhluk”—mengelilingi pasien, lalu berpuncak pada sentuhan terapeutik yang dipandu mantra, ketika tangan yang diberdayakan oleh ujaran yang tepat melahirkan anāmaya (bebas dari penyakit). Daya himne ini terletak pada penggandengan penebusan dengan kebangkitan: menyingkirkan sebab (pelanggaran/kenajisan) dan menegakkan kembali daya hidup

Rishi: Atharvanic tradition (anukramaṇī attributions vary for AV 4.13). | Devata: Viśve Devāḥ (All Gods). | 7 Mantras

Sukta 14

AV 4.14 adalah kidung Atharvanik pencari surga (svargakāmya) yang meritualkan “pendakian” melalui tiga stasiun kosmis—Bumi, Ruang-Antara, dan Surga—hingga berpuncak pada cahaya Svàr. Kidung ini memadukan bahasa visioner tentang memanjat menuju nāka dengan petunjuk teknis-korban yang cermat (bubur persembahan lima bagian, penempatan seekor kambing menurut arah), membangun kosmos dalam bentuk miniatur agar sang pelaku yajña meraih kemakmuran di sini dan kedudukan bercahaya di alam seberang.

Rishi: Atharvanic tradition (specific r̥ṣi attribution varies by anukramaṇī tradition for AV 4.14) | Devata: Svàr / Nāka / cosmic ascent (implicit); also the three worlds as stations | 9 Mantras

Sukta 15

Mantra pemanggil hujan Atharvaveda ini menyeru curahan Parjanya dengan menggerakkan awan, angin, dan air, serta menafsirkan kokok katak yang kembali nyaring sebagai pertanda terdengar bahwa musim hujan sungguh telah tiba. Kidung ini memadukan perintah kosmis (awan datang dari segala penjuru) dengan realisme ritual tingkat desa (kolam, katak, dan bunyi), demi memulihkan irama pertanian, ketahanan pangan, dan kesejahteraan bersama.

Rishi: Atharvanic tradition (often treated as anonymous/collective for this rain-charm cycle) | Devata: Parjanya/Varṣa (Rain) mediated through frogs as rain-messengers | 16 Mantras

Sukta 16

AV 4.16 adalah himne Atharvanik bernuansa yuridis yang memanggil Varuṇa sebagai penguji kebenaran dan kepalsuan yang tak pernah keliru, dengan Viśve Devāḥ sebagai saksi universal, untuk menyingkap pencurian dan memaksa pengakuan. Himne ini membangun teologi pengawasan ilahi—bumi, langit, bahkan seteguk air pun menyembunyikan Varuṇa—sehingga penyamaran menjadi mustahil. Pada akhirnya, himne memuncak pada hukuman pengikatan (Varuṇa-pāśa) atas si pembohong/pencuri, berfungsi sebagai sumpah–ordeal lisan yang melindungi tatanan sosial (ṛta) dengan memaksa ucapan yang benar

Rishi: Atharvanic/anonymous | Devata: Varuṇa (as satyānṛta-samīkṣaka) and the Viśve Devāḥ as witnesses | 9 Mantras

Sukta 17

AV 4.17 mengangkat Apāmārga sebagai “penguasa obat-obatan”, yang digenggam untuk meraih kemenangan atas penyakit, sakit akibat mimpi buruk, dan kekuatan-kekuatan bermusuhan. Himne ini berfungsi sekaligus sebagai bhaiṣajya (penyembuhan) dan rakṣā (pengusiran pelindung), memakai simbolisme menyapu/mengusap dari tumbuhan itu untuk menyingkirkan apa pun yang telah “melekat” atau “mengendap” pada pasien. Daya mantranya membingkai Apāmārga sebagai agada (penawar) yang secara aktif maju untuk membatalkan derita dan ujaran jahat.

Rishi: Atharvanic seer(s) of the Bhaisajya corpus | Devata: Apāmārga (personified Oṣadhi) | 8 Mantras

Sukta 18

AV 4.18 adalah kidung penangkal sihir yang membalikkan kṛtyā (santet/tenung buatan) kembali kepada pengirimnya, melindungi rumah tangga yang tak bersalah beserta mata pencahariannya. Dengan menempatkan daya apotropaik Apāmārga sebagai kekuatan oṣadhi (tumbuhan obat/penolak bala) di pusatnya, sukta ini menegaskan kemampuan mantra untuk “merusak” sihir yang dilakukan pada ladang, ternak, dan diri seseorang, melumpuhkan kemampuan lawan untuk bertindak, sekaligus mengamankan berkah bagi pihak yang dilindungi.

Rishi: Atharvanic tradition (specific r̥ṣi not stated in the provided excerpt) | Devata: Apāmārga / the apotropaic power embodied in the plant and mantra | 8 Mantras

Sukta 19

Kidung ini mengerahkan Apāmārga (tumbuhan ‘penyapu-penyingkir’) sebagai daya yang hidup—yang memotong sekaligus memulihkan ikatan: ia memutus derita yang berulang, ‘menghantui sepanjang tahun’, dan menghancurkan kṛtyā (sihir rekayasa) yang memusuhi serta diarahkan pada garis rumah tangga/keturunan. Seiring tujuan penyembuhan, kidung ini juga membangun kembali kohesi sosial—menjadikan ‘kawan’ dan ‘kerabat’—seraya menegakkan lingkar perlindungan yang terukur (seratus kali/seribu kali), diteguhkan oleh ojas Indra.

Rishi: Atharvanic tradition (not specified in excerpt) | Devata: Apāmārga | 8 Mantras

Sukta 20

Himne ini adalah mantra rakṣoghna-bhaiṣajya (pengusir makhluk jahat sekaligus penyembuh) yang memberdayakan oṣadhi yang bersifat pewahyu untuk menyingkap makhluk-makhluk berbahaya yang tersembunyi—kīmīdin, piśāca, dan rakṣas—sehingga mereka dapat dikendalikan dan diusir. Tumbuhan obat diperlakukan sebagai daya penglihatan, ditempatkan di tangan kanan pelaku ritual, memberi ketajaman untuk mengenali segala penyamaran dan gerak. Dengan memaksa wujud-wujud yang terselubung menampakkan diri (āviṣkṛ-), sukta ini mengubah gangguan yang tak terlihat menjadi sasaran yang terlihat dan dapat dinamai, layak untuk disingkirkan serta untuk melindungi pasien atau rumah tangga.

Rishi: Atharvanic tradition (often ascribed to Atharvan/Angiras line for rakṣoghna hymns; specific r̥ṣi varies by anukramaṇī) | Devata: Oṣadhi (the herb) as personified revealer; secondarily rakṣas/piśāca as targets | 9 Mantras

Read Atharva Veda in the Vedapath app

Scan the QR code to open this directly in the app, with audio, word-by-word meanings, and more.

Continue reading in the Vedapath app

Open in App