Prapathaka 9
UttarārcikaPrapathaka 918 Dashatis57 Mantras

Prapathaka 9

Pavamana

Musical Character

Flowing processional Pavamāna-style chant designed to mirror Soma’s streaming movement—phrases often feel ‘carried forward’ with sustained notes and cadential settling at daśati boundaries.

Deity Constellation

Indra Agni Soma (Pavamāna) Āpaḥ (Waters)

Ritual Sequence

To secure the efficacy of Soma through purification (Pavamāna) then to obtain Indra’s strength and victory for the pressing/offering while Agni stabilizes the rite as protector and conduit; the Waters complete the purificatory auspice.

Arcikā 4, Prapāṭhaka 9 dalam bahagian Pavamāna menghimpunkan rangkaian berterusan ayat-ayat Soma-pavamāna yang menggambarkan Soma yang diperah sebagai arus hidup yang menyucikan, mengalir melalui penapis untuk memperkasa yajña. Himne-himne itu berulang kali mengaitkan penyucian Soma dengan penguatan Indra demi kemenangan dan perlindungan, sambil turut menyeru penjagaan bercahaya Agni ketika upacara diperkukuh dari segenap sisi. Sepanjang 18 daśati-nya, bab ini menekankan penyucian batin dan lahiriah upacara—Soma sebagai penyuci pertuturan, persembahan, dan si pengorban—yang memuncak pada tema perlindungan yang teguh, kemenangan mengatasi halangan, dan penjagaan yang bercahaya.

← Prapathaka 8

Dashatis in Prapathaka 9

Dashati 1

Pavamāna Soma’s flowing power that energizes and perfects the sacrifice

Tema dekad ini memuji Soma Pavamāna yang telah disucikan—arusnya yang mengalir selepas pemerasan menjadi persembahan utama yang menghidupkan dan menyempurnakan yajña. Soma digambarkan sebagai daya sakral yang menghiasi para dewa, menambah ojas (kekuatan) dan keindahan, serta menjadikan tertib korban berhasil. Indra dipanggil sebagai Somapā, penerima Soma yang sah, pemimpin yang menang bersama gaṇa/Marutnya untuk kemenangan dan perlindungan. Agni turut diundang dengan sinarnya yang meluas untuk meneguhkan kratu (ritus) dan menutup upacara dengan keberkesanan yang pasti—sebuah lengkung dari persembahan, kepada pemberdayaan, lalu pengudusan.

6 mantras | Exultant and propulsive with a sense of streaming movement and ritual urgency | Given as ‘unspecified’ in the input; this dashati reflects the broader RV Pavamāna hymn tradition rather than a single clearly identified ṛṣi in the provided data.

Dashati 2

Aindra praise: Indra as the pre-eminent ritual power and victorious protector invoked for strength and success

Pujian Aindra: Indra dipanggil sebagai kuasa ritual yang paling utama—brahman/ṛtviya—pelindung yang menang, dimohon untuk kekuatan, kejayaan, dan perlindungan. Agni diseru sebagai api korban yang dinyalakan menurut tertib musim (ṛtu), pembawa persembahan yang memungkinkan daya ilahi berkesan. Uṣas hadir sebagai penanda kosmik pembaharuan dan tuah. Motif kemenangan (gotrabhid: pembebasan lembu/cahaya, penembusan halangan), penaklukan, serta seruan bersama kepada para sahabat dan sekutu (sajātāḥ, sakhāyaḥ) menegaskan tekad kolektif. Melalui korban yang tertib, ojas dan kedaulatan Indra diakses untuk kemakmuran dan kemenangan.

3 mantras | Heroic and energizing (vīra-rasa) suited to invocation of power and rallying | R̥ṣi attribution is not supplied here; these verses likely derive from multiple RV sources typical of Sāmavedic selection so a single family attribution cannot be asserted without concordance.

Dashati 3

Aindra victory-invocation: summoning Indra’s power to remove obstacles and secure success for the rite

Seruan kemenangan Aindra: memanggil kuasa Indra untuk menyingkirkan halangan dan memastikan kejayaan upacara. Melalui stotra/sāman, kereta ilahi ‘dibawa’ mendekat; Indra dipuji sebagai satpati yang gagah dan mṛtīṣaha, pemberi pertolongan, kurnia, dan kemenangan serta pelindung korban daripada antarāya. Agni diingat sebagai api ritual yang sentiasa ‘lahir’, tersembunyi dalam tumbuhan dan perairan, yang menegakkan persembahan dan menyokong tertib kosmos. Para dewa sekutu—Varuṇa, Āditya, Marut, dan deva-gaṇa—dipanggil untuk memperhebat daya pelindung dan penakluk, hingga memuncak dalam ghoṣa, laungan kemenangan kolektif para dewa.

3 mantras | Uplifting martial-triumphal and propulsive (victory-shout energy) | R̥ṣi attributions are not supplied; the verses reflect mainstream RV Indra/Agni hymn traditions rather than a clearly marked single family in the given data.

Dashati 4

Agni’s radiant ignition and protective power within the sacrifice

Tema dasati ini memuji penyalaan Agni yang bercahaya dan kuasa pelindungnya dalam korban: Agni sebagai kavi—yang mengetahui tata-ritus—serta pembawa persembahan yang pantas dan pantas tiba. Ia digambarkan memurnikan dan menyerlah (pavate, śukra, vi rājati), lalu diselaraskan dengan bahagian Indra dalam persembahan. Dengan sokongan Marut, Agni dimohon melindungi upacara dengan menutup dan mengelirukan kuasa yang memusuhi melalui tamas, agar ṛta terpelihara dan kekacauan ditewaskan.

3 mantras | Bright forceful and protective—moving from ignition-praise to martial safeguarding | R̥gvedic concordance not provided in the input; seer attribution remains uncertain at dashati level until RV mapping is established.

Dashati 5

Agni as the heart-delighting, ever-wakeful power who impels and protects the sacrifice

Agni ialah kuasa yang menggembirakan hati dan sentiasa berjaga, yang menggerakkan serta melindungi korban suci. Pujian (stoma) membangkitkan dan memperkasa Agni—seperti menggesa seekor kuda—agar kratu (kecerdasan/keberkesanan korban) berdaya dan membawa kemakmuran. Prinsip berjaga (jāgara) dipuji sebagai sifat ilahi yang dihimpunkan oleh Ṛk dan Sāman; Soma pula mempersembahkan dirinya dengan rela dan bersekutu sebagai sahabat kepada kehadiran yang berjaga itu. Pada penutupnya, Apvā dikerahkan secara apotropaik untuk menangkis musuh, memalingkan permusuhan melalui kegelapan, dan membakar dukacita yang mengancam upacara.

3 mantras | Invocatory and energizing with a protective/apotropaic turn in the closing strain | R̥ṣi attributions are not provided in the input; several verses require Rigvedic mapping to identify seer families. The collection reflects mixed provenance typical of Sāman selection by ritual function rather than single-family authorship.

Dashati 6

Agni as dawn-invoker and protector, turning ritual fire into safe passage through danger

Agni dipanggil pada waktu fajar sebagai pemanggil para dewa dan pelindung, menjadikan api korban jalan selamat menempuh bahaya. Pada prātaḥ (subuh) dan saat uṣarbudha, Agni sebagai havyavāhana/devayāna membawa para dewa serta persembahan; Indra diseru untuk menumpulkan musuh, memindahkan keburukan (aghahāra), dan menewaskan segala kuasa yang memusuhi. Brahmaṇaspati dan Aditi dimohonkan sebagai naungan (śarma) harian dan keselamatan yang tidak terputus, sehingga tatanan ṛta menukar ancaman menjadi kesejahteraan dan keutuhan.

3 mantras | Brisk dawn-bright invocation moving into protective and apotropaic intensity | R̥ṣi attributions are uncertain/unspecified for the cited mantras; dashati-level r̥ṣi-family mapping requires concordance with the underlying Ṛgvedic sources.

Dashati 7

Aindra praise: awakening and yoking Indra’s power through expertly metered chant for victory and effective sacrifice

Pujian Aindra: Indra dibangkitkan dalam perhimpunan upacara dan kuasanya ‘dipasang kuk’ melalui nyanyian yang bermeter tepat demi kemenangan serta keberkesanan korban. Kekuatan puisi sebagai perbuatan ajaib yang berdaya-ritual diteguhkan; kesedaran chandas—Gāyatrī, Triṣṭubh, Jagatī—menjadi wahana pujian. Dengan lengan yang tak tertahan, Indra menundukkan tentangan Asura; dan seperti dahulu, demikian juga hari ini, tindakannya berterusan. Ucapan dan meter yang diselaraskan dengan benar menjadi daya sakral yang membangunkan Indra dan menyalurkan kuasa kemenangannya yang memulihkan tertib ke dalam ritus.

3 mantras | Heroic and energizing (āindra-utsāha) with a crafted technical liturgical tone | Ṛṣi attribution is not recoverable from the supplied excerpt alone; it requires Rigvedic source-hymn concordance for these mantras.

Dashati 8

Aindra protection and victory: divine light as inner armor and the defeat of hostile forces

Perlindungan dan kemenangan Indra: cahaya ilahi sebagai perisai batin serta penewasan kuasa bermusuhan. Agni–Indra–Sūrya dikenali sebagai satu jyotis (cahaya) yang sama; dipohon doa penolak bala terhadap penyerang dari dalam dan luar. Agni membersihkan dan menghalau permusuhan, Indra menewaskan musuh dan menganugerahkan kemenangan; Sūrya menzahirkan cahaya, dan semua dewa diminta mengelirukan para pembunuh yang mengintai. Mantra diperlakukan sebagai varman (zirah pelindung) dan śarman (naungan), kuasa brahma-varman yang menjaga pengorban dan meruntuhkan halangan.

3 mantras | Brisk forceful and warding (rakṣoghna/apotropaic) with a luminous contemplative refrain-like center | R̥ṣi attribution is not supplied; identification requires concordance to the corresponding Ṛgvedic sources for each mantra. The theological coloring matches common Aindra/Rakṣā usage rather than a single clearly marked family in the provided excerpt.

Dashati 9

Aindra victory-invocation: Indra summoned as the fierce, far-ranging protector who smites foes and grants Soma-born prosperity

Seruan kemenangan Aindra: Indra dipanggil datang segera dari jauh sebagai pelindung yang garang dan luas jangkauannya, dipersenjatai kuasa pemotong (pavi/tepi vajra) untuk membelah dan menumpaskan musuh serta menjaga korban dan yajamāna/sunvat. Pujian kepada Sūrya/Āditya mengangkat kemuliaannya sebagai cahaya agung yang berdaulat dan tak tertandingi, menegakkan tertib dan keberuntungan di sekitar upacara. Melalui stotra dan pemerasan Soma yang berkesan, Indra ‘memerah’ anugerah—kemakmuran berupa lembu dan kuda—sebagai buah korban.

3 mantras | Vīra (heroic) and rakṣoghna (protective) with a brief mahimā (magnificatory) uplift in the solar praise | Ṛṣi attribution is not given in the input and requires concordance to the corresponding Ṛgvedic sources for each mantra; this dashati likely draws from multiple RV loci (Indra and Sūrya praises).

Dashati 10

Aindra invitation to Indra for Soma, paired with the auspicious power of the Waters for purification and well-being

Undangan Aindra kepada Indra untuk datang bersama Harinya dan meminum Soma yang diperah sebagai “tuan kegirangan (mada)”, disertai seruan kepada Āpaḥ (Air) yang membawa keberuntungan: menyucikan, memberi pemeliharaan dan tenaga (ūrj), menumbuhkan sukacita, menajamkan keupayaan indera—terutama penglihatan dan kesihatan—serta meneguhkan kesejahteraan dan kemakmuran yang mantap di rumah (kṣaya).

3 mantras | Invitational and urgent moving into soothing benedictive warmth | R̥ṣi attributions are not supplied in the input; the Āpaḥ verses belong to the well-known ‘Āpaḥ’ tradition in the Ṛgveda but exact seer/family should be fixed via RV–Sāmaveda concordance for this arcikā location.

Dashati 11

Aindra praise seeking Indra’s favor and communal advance, with allied Vāta petitions for healing and life-breath

Pujian Aindra yang memohon perkenan Indra dan kemajuan bersama, disertai doa kepada Vāta untuk penyembuhan serta nafas-hidup. Persembahan dan pujian menjadi jalan meraih sumati (niat baik/kerelaan ilahi) dan kekuatan sosial bagi viśaḥ (komuniti suku yang beribadat). Indra dipanggil sebagai pembesar dan pelindung agung agar menerima persembahan, mengurniakan kekuatan, umur panjang, dan kemampuan ‘melintasi’ bahaya. Vāta, pembawa prāṇa, dipohon memelihara nafas, memulihkan tubuh, dan menganugerahkan ‘amṛta’ yang tersembunyi—hakikat penopang kehidupan—demi kelangsungan jīvana (hidup).

3 mantras | Uplifting and expansive—heroic Aindra praise tempered by a soothing restorative breath-motif in the Vāta verses | R̥ṣi attributions are not specified in the input; identification requires Ṛgveda concordance and the arcikā cross-index for this prapāṭhaka/daśati unit.

Dashati 12

Aindra stuti: Indra’s empowerment of the singer and the yajña’s solar splendor as the vehicle of prosperity and ṛta

Stuti Aindra: Indra, pemberi kekayaan (radāvasu), mengurniakan daya kepada penyanyi dan menetapkan stotṛ agar mampu melantunkan stotra; dengan kesucian ritual dan penolakan pāpa sebagai syarat pujian yang berkesan. Di tengah, citra suria—Sūrya/Suparṇa, bhānu yang berkilau dan ‘bersalut emas’ (hiraṇyātká)—menyatakan kuasa bercahaya yang menata musim (ṛtú) dan menegakkan ṛta. Akhirnya Yajña yang dipersonifikasikan dipuji sebagai penopang kosmos (dhartr̥) dan tuan umat (viśpati), yang melalui sinar tertibnya melahirkan medhā (kecerdasan penyempurna upacara) serta menghasilkan kemakmuran dan kelimpahan.

3 mantras | Uplifting forceful and expansive—suited to Aindra praise with a bright solar sheen in the middle verses | R̥ṣi not specified in the input; the diction aligns with common Ṛgvedic Aindra praise and later Sāmavedic selection for Udgītha performance rather than a single explicit family attribution here.

Dashati 13

Aindra stotra as a plea to Indra to hear the Soma-pressing call and unite with perfected praise, framed by cosmic messenger imagery (suparṇa/drapsa) that upholds ṛta.

Stotra Aindra ini merayu Indra agar mendengar seruan pemerasan Soma dan datang menyatu dengan pujian yang disempurnakan. Bunyi batu pemeras (adri/grāvan) menjadi panggilan yang nyata; manīṣā para imam dan duvāṃsi—tindakan pemujaan—dibentuk menjadi paling unggul. Gambaran kosmik Suparṇa dan drapsa (cahaya/percikan surya-Soma) sebagai utusan bersayap emas menempuh lingkaran alam, membawa ketetapan Varuṇa melintasi ranah Yama, menegakkan ṛta serta menempatkan upacara dalam tata kelola semesta. Dengan demikian, ucapan-nyanyian ritual yang selaras dengan ṛta menjadi berdaya guna: Indra dipanggil untuk menerima persembahan Soma, menganugerahkan priyāṇi (kebaikan yang diingini), dan meneguhkan ketertiban yang benar.

3 mantras | Urgent summoning and luminous—an audible ‘call’ that intensifies into visionary/cosmic description. | Rṣi not specified in the provided data; the diction is Rigvedic in style and the dashati appears as a Samaveda gāna selection rather than a clearly marked single-family hymn set in this input.

Dashati 14

Indra as liberator and battle-protector who secures wealth and disables hostile forces

Indra dipuji sebagai pembebas dan pelindung dalam pertempuran: yang menumpaskan Vṛtra/Ahi lalu melepaskan aliran air, memulihkan tertib kosmik dan keberkesanan upacara. Dipohon agar baginda melindungi doa dan ritus (dhiyaḥ) daripada halangan, mengurniakan kekayaan serta ganjaran korban (rāti/vārya), dan melumpuhkan musuh yang berniat mencederakan atau mengganggu—hingga busur lawan pun gagal tegangannya. Tema bergerak daripada pujian atas keperkasaan dan kereta Indra, kepada bukti mitos, lalu memuncak pada permohonan perlindungan dan kemenangan yang berulang.

3 mantras | Martial triumphant and apotropaic (protective/warding) | Kāṇva (probable/traditional for Aindra material here)

Dashati 15

Indra’s reciprocity: faultless praise and song draw wealth, protection, and aid at the Soma

Timbal-balas Indra: pujian dan nyanyian yang tanpa cela menarik kekayaan, perlindungan, dan pertolongan pada Soma yang diperah. Indra dipanggil agar segera mendekati Soma; penyanyi-korban menekankan ketepatan ritual—bebas daripada kesalahan dalam stotra dan śastra—serta memohon agar Indra, dengan kuasa berkesannya (śacī), melindungi daripada kesusahan dan kumpulan musuh, serta memberi bantuan dan bimbingan yang menguatkan.

3 mantras | Invocatory and protective—bright forward-moving with a concluding supplicatory intensity | Kāṇva

Dashati 16

Āvāhana and rapid approach of Indra to the Kaṇva-stotra, culminating in the boon of svarga (heaven) for the duly directing worshipper

Tema dekad ini menekankan āvāhana—seruan agar Indra datang dengan segera ke pemerasan Soma dan puji-pujian Kaṇva. Indra digambarkan tiba dengan kuda bay (hari) dan kereta, dengan kepantasan yang gagah dan daya dorong ke hadapan. Bunyi ritual—grāvā (batu pemeras) dan ghoṣa (gema pemerasan/nyanyian)—menjadi panggilan yang merasmikan kehadirannya. Apabila upacara dilaksanakan menurut aturan (śāsataḥ), Indra menerima persembahan, menguatkan yajña, dan menganugerahkan ‘divam’/svarga (syurga) sebagai buah korban kepada pelaksana atau penaung.

3 mantras | Summoning and energizing (āhvāna) with martial swiftness and forward drive | Kaṇva

Dashati 17

Pavamāna Soma’s purified flow as the energizing offering that draws the gods to the rite

Soma Pavamāna dipanggil supaya mengalir dalam kesucian—ditapis melalui pavitra hingga menjadi Soma yang terang—sebagai persembahan yang paling manis dan menggiatkan. Bahagiannya diarahkan menurut tertib upacara kepada Indra dan Vāyu, sementara bingkai devavīti (dengan Agni sebagai latar pemanggilan) mengundang para dewa datang ke korban. Dengan nyanyian yang dipacu maju bagaikan kereta, kehadiran para dewa ‘dimenangi’, dan si pelaksana korban memperoleh vāja: kekuatan serta ganjaran.

3 mantras | Bright forward-driving exhilarating (mandin) and invitational (devavīti) | These are Pavamāna-type ṛks commonly transmitted under Soma’s seer-collection; precise Rigvedic author-attribution for 4.9.17.03 needs source confirmation from the underlying Ṛgveda pada/anuvāka mapping.

Dashati 18

Agni as Hotṛ and guardian of the sacrifice

Agni sebagai Hotṛ dan penjaga korban: Jātavedas yang bijaksana (vipra), menerima persembahan ghee dan mengangkat nyala yang diterima ke atas dalam upacara yang baik. Dialah yang utama di antara Aṅgirases dan Hotṛ bagi umat, meresapi seluruh ritus, serta memotong dan memusnahkan halangan serta kuasa bermusuhan agar yajña memperoleh pertolongan dan kejayaan.

3 mantras | Bright urgent and protective—praise that turns into confident petition for safeguarding | The ṛg-source seer is not identifiable from the provided excerpt alone; the hymn language aligns with Agni-stotra diction often associated with priestly families (Aṅgiras/Gautama traditions) but precise attribution needs Rigvedic cross-reference.

Frequently Asked Questions

Because its verses center on Soma as pavamāna—“the self-purifying one”—describing the pressed juice flowing through the filter and sanctifying the sacrifice through cleansing and empowerment.

Soma’s purified essence is repeatedly presented as the power that strengthens Indra for victory and protection, while Agni appears as the luminous guardian who secures the rite and wards off harm or ritual defect.

That purity is not merely external: Soma’s purification symbolizes and effects an inner and ritual cleansing that yields strength, clarity, protection, and successful completion of the yajña.