
Margashirsha Masa Mahatmya
This section is primarily calendrical and ritual-theological rather than tied to a single pilgrimage site. Its sacred geography is constructed through portable tīrtha logic: the practitioner ritually invokes Gaṅgā and enumerates her sanctifying names, thereby transforming the bathing space (home, riverbank, or local water source) into a temporary tīrtha-field. References to Gaṅgā as Tripathagā and to the multiplicity of tīrthas across heaven, earth, and mid-space (divi–bhuvi–antarikṣe) frame a pan-Indic sacred map that can be accessed through mantra and correct procedure during Mārgaśīrṣa.
17 chapters to explore.

मार्गशीर्षमासमाहात्म्यप्रश्नोत्तरम् | Dialogue on the Greatness of the Mārgaśīrṣa Month
Bab ini dibuka dengan pujian Sūta kepada Kṛṣṇa/Mādhava sebagai pemberi kenikmatan duniawi sekaligus pembebasan. Di Śvetadvīpa, Brahmā mendatangi Dewa Tertinggi dan memohon penjelasan teknis tentang bulan Mārgaśīrṣa: dewa pelindungnya, jenis-jenis dāna yang tepat, tata cara mandi suci (snāna-vidhi), perilaku yang harus dijaga, disiplin makanan, serta cara mantra, meditasi, dan pemujaan yang benar. Bhagavān menegaskan bahwa pertanyaan ini membawa kebaikan bagi semua makhluk. Beliau menyatakan bahwa laku suci di Mārgaśīrṣa menghasilkan buah gabungan dari yajña dan ziarah ke tīrtha; bahkan mendengar kemuliaan bulan ini pun disamakan dengan hasil mahā-dāna seperti tulāpuruṣa-dāna. Dibandingkan dengan tapa dan jalan yoga yang daya jangkaunya terbatas untuk “menguasai” Yang Ilahi, bhakti pada bulan ini digambarkan sangat mudah diterima. Kemuliaan berbagai bulan diurutkan, dan Mārgaśīrṣa dinyatakan paling dicintai. Mandi pada dini hari ditetapkan sebagai praktik utama, lalu disampaikan kisah teladan: di Gokula milik Nandagopa, para Gopikā tergerak melakukan mandi Mārgaśīrṣa, bersembahyang pada pagi hari, dan menjalankan disiplin makanan berbasis havis. Karena itu Sang Dewa berkenan dan menganugerahkan anugerah; maka manusia diperintahkan untuk menjalankan Mārgaśīrṣa dengan benar.

Mārgaśīrṣa-vihitaḥ prātaḥkāla-śauca-snānādi-vidhiḥ (Morning Purification, Gaṅgā Invocation, and Ūrdhva-puṇḍra Procedure)
Dalam adhyāya ini, Brahmā memohon tata cara (vidhi) observansi Mārgaśīrṣa, dan Śrī Bhagavān menjawab dengan regimen pagi yang bertahap. Pada akhir malam hendaknya bangun, melakukan śauca dan penyucian, menghormati guru, serta memelihara ingatan yang terus-menerus; dengan pengendalian ucapan dan kemurnian tubuh dilakukan nāma-kīrtana seperti sahasranāma. Sesudah itu dilakukan buang hajat secara teratur, śauca, ācamanam, pembersihan gigi, dan mandi sesuai aturan. Tanah dari akar tulasī beserta daunnya diabhimantrai dengan mūla-mantra atau Gāyatrī lalu dipakai saat mandi; mandi dilakukan dengan air yang diambil atau tidak diambil, disertai niat aghamarṣaṇa (penghapus dosa). Kemudian dibuat tīrtha ritual dan Gaṅgā diundang melalui mantra—dipahami sebagai terkait dengan Viṣṇu, dan banyak nama sucinya dilafalkan saat mandi. Mantra mandi-lumpur memuji bumi sebagai penghapus kesalahan dan mengingatkan pengangkatan bumi oleh Varāha. Sesudah mandi dikenakan pakaian putih yang bersih, dilakukan persembahan/propitiasi kepada deva, pitṛ, dan ṛṣi, lalu diterapkan tanda Vaiṣṇava ūrdhva-puṇḍra; jumlahnya dibedakan menurut varṇa dan dua belas nama Viṣṇu dipetakan pada lokasi-lokasi tubuh. Bentuk tilaka yang benar—dengan ruang di tengah—ditegaskan, disertai peringatan terhadap penerapan yang keliru; tujuan akhirnya dinyatakan sebagai meraih kedekatan dengan Hari (sālokya).

ऊर्ध्वपुण्ड्र-गोपीचन्दन-माहात्म्य तथा आयुध-लाञ्छन-धारण (Urdhva-puṇḍra, Gopīcandana, and Emblematic Marking)
Bab ini disusun sebagai dialog ajaran Brahmā–Keśava tentang penyucian tubuh menurut tradisi Vaiṣṇava. Brahmā menanyakan jenis-jenis puṇḍra (tilaka), lalu dijelaskan pembagian tiga macam yang terkait bahan seperti tanah tulasī dan gopīcandana/haricandana. Selanjutnya dipuji secara panjang lebar māhātmya gopīcandana—terutama tanah yang dikaitkan dengan Dvāravatī—sebagai sarana suci yang mudah dibawa, memberi pemurnian, perlindungan, dan pelipatgandaan pahala. Bahkan bila mantra, waktu, atau tata cara kurang sempurna, pemakaiannya tetap membakar cela dan menambah buah kebajikan. Dari tanda di dahi, ajaran meluas pada penandaan lambang: mengenakan lencana senjata Nārāyaṇa (śaṅkha, cakra, gadā, padma, serta tanda avatāra seperti matsya dan kūrma) dipandang sebagai teknologi identitas rohani yang membinasakan dosa, menangkal kekuatan bermusuhan, dan memberi kewibawaan ritual bagi bhakta. Disertakan petunjuk ringkas seperti kaitan jari saat mengoleskan, serta implikasi sosial-etis: kemurnian dan kehormatan bagi pemegang ūrdhva-puṇḍra dan cakra-lāñchana. Penutupnya memperingatkan agar tidak merendahkan para bhakta bertanda, dan bila terlanjur, dianjurkan tanggapan korektif berupa penghormatan dan bhakti.

तुलसीमालाधारण-पूजाविधि-प्रशंसा (Praise of Wearing Tulasī Mālā and the Pūjā Procedure)
Bab ini dibuka dengan pertanyaan Brahmā kepada Keśava tentang buah rohani dari bhakti yang ditandai oleh inisiasi, khususnya mengenakan mālā dari kayu tulasī dan rosario padmākṣa (biji teratai). Bhagavān menjawab dengan phalaśruti yang panjang: mālā tulasī adalah tanda bhakti yang tampak, memberi perlindungan, penyucian, dan keberkahan; bahkan mereka yang berada dalam keadaan tidak suci pun, bila memakainya dengan devosi, disebut mencapai tujuan ilahi. Selanjutnya uraian beralih dari tanda bhakti ke tata cara pemujaan: mengenakan tanda Vaiṣṇava (ūrdhvapuṇḍra dan penanda terkait śaṅkha), melaksanakan sandhyā dan penghormatan kepada guru, masuk ke ruang pemujaan dengan pikiran terpusat, melakukan penyucian batin, prāṇāyāma, serta dhyāna pada wujud Viṣṇu berlengan empat. Disusul penataan pūjā yang rinci: penempatan śaṅkha, bejana, lampu, dan persembahan (arghya, pādya, ācamanīya, madhuparka), kelonggaran pengganti melalui bhāvanā bila sarana tidak tersedia, nyāsa, serta pemujaan resmi kepada sangkha Pāñcajanya dengan pujian mantra. Rangkaian ditutup dengan memandikan, menghias, mempersembahkan naivedya, dupa, lampu, stotra, dan sikap hormat penutup, menegaskan bhakti sebagai kontemplasi sekaligus ketepatan liturgis.

Śaṅkhodaka–Pañcāmṛta–Kṣīrasnāna Māhātmya (Glory of Conch-Water and Five-Nectar Ablution in Mārgaśīrṣa)
Bab ini berbentuk tanya-jawab teologis: Brahmā bertanya kepada Bhagavān tentang buah memandikan Hari dengan pañcāmṛta, khususnya dengan air yang ditampung dalam śaṅkha (śaṅkha-udaka), pada bulan Mārgaśīrṣa. Bhagavān menjelaskan hirarki bahan upacara—susu, dadih, ghee, madu, gula, serta air bunga beraroma—dengan pahala yang makin meningkat dan hasil yang berbeda: keberkahan, pemeliharaan, lenyapnya kemalangan, hingga perolehan alam-alam ilahi. Selanjutnya ditegaskan ketepatan waktu—Mārgaśīrṣa, juga tithi Dvādaśī dan Pañcadaśī—serta “teknologi” ritual śaṅkha: jumlah siraman/abhiseka dengan śaṅkha (8, 16, 24, 108, 1008, dan seterusnya) dipetakan pada janji hasil, dari kejayaan duniawi dan kedaulatan, sampai lama tinggal di surga, bahkan mokṣa bagi kelompok bhakta yang teguh. Kesucian air śaṅkha dimuliakan dengan pernyataan bahwa ia menjadi laksana Gaṅgā, dan semua tīrtha berdiam di dalam śaṅkha atas titah ilahi. Ikonografi śaṅkha dan dewa-dewi yang bersemayam di dalamnya—Candra, Varuṇa, Prajāpati, Gaṅgā, Sarasvatī—diuraikan; dipreskripsikan persembahan arghya dan pradakṣiṇā dengan śaṅkha, serta daya pelindungnya dari gangguan dan makhluk bermusuhan. Penutup menegaskan bahwa pemandian bhakti disertai musik suci menuntun pada keadaan “bebas selagi hidup”, menjadikan devosi ritual sebagai pemurnian etis sekaligus jalan keselamatan.

घण्टानाद-माहात्म्य तथा चन्दन-माहात्म्य (Glory of Bell-Sound and Sandal Offerings)
Bab ini berbentuk tanya-jawab teologis: Brahmā memohon penjelasan tepat tentang buah (phala) dari ghaṇṭānāda (bunyi lonceng) dan candana (olesan cendana) dalam pemujaan. Śrī Bhagavān menjelaskan bahwa bunyi lonceng adalah media liturgis yang merangkum semua alat musik dan seakan memuat semua dewa; lonceng dianjurkan dibunyikan terutama saat mandi suci dan saat pūjā. Membunyikannya di hadapan Dewa memberi phala besar: tinggal lama di alam ilahi, lenyapnya dosa yang menumpuk, serta perlindungan dan kesejahteraan bagi rumah tangga. Ditetapkan pula keabsahan simbolik melalui tanda Garuḍa (Vainateya) dan Sudarśana pada lonceng bahkan pada gagangnya; bila tanda tidak ada, pengganti fungsional tetap diperbolehkan. Keampuhan bunyi lonceng diperluas hingga saat menjelang wafat: mendengar ghaṇṭānāda yang terkait Sudarśana dipaparkan sebagai jalan keselamatan melalui pendengaran. Lalu beralih ke candana-māhātmya: pasta cendana dari kayu tulasī dan campuran wewangian seperti kapur barus, aguru, mṛganābhī, dan lainnya, dipuji sebagai persembahan khusus bulan Mārgaśīrṣa kepada Nārāyaṇa, membawa pahala, penyucian, dan keaslian bhakti. Pemujaan Nārāyaṇa yang bersemayam di atas Garuḍa—memegang śaṅkha, padma, gadā, cakra serta bersama Śrī—dinyatakan mencukupi, sehingga ziarah tīrtha, yajña, vrata, dāna, dan upavāsa dipandang relatif dalam ekonomi bhakti ini.

Puṣpajāti-māhātmya (Theological Discourse on the Merit of Flower-Offerings)
Bab ini berbentuk dialog didaktis. Brahmā memohon uraian yang sistematis tentang hasil rohani dari berbagai persembahan bunga, lalu Bhagavān menjawab dengan taksonomi yang tertata. Disebutkan jenis-jenis bunga yang layak untuk pemujaan, serta persembahan yang paling menyenangkan—termasuk tulasī dan beberapa teratai/utpala air—yang dipuji secara khusus. Kriteria mutu bunga juga dijelaskan: warna, keharuman, kesegaran, bebas serangga, dan kemurnian ritual. Disinggung pula bahwa bunga tanpa wangi pun kadang dapat diterima, namun ada beberapa hal yang harus dihindari. Logika persembahan ini diperluas pada daun—bilva, śamī, bhṛṅgarāja, tamāla, āmalakī, dan lainnya—serta, bila sesuai, buah dapat menjadi pengganti. Keutamaan pahala antarjenis bunga dipaparkan secara perbandingan dengan penilaian yang meningkat “seribu kali lipat”, hingga mencapai puncak pada jāti (melati) sebagai yang tertinggi di antara bunga yang disebut. Pada bagian phalaśruti ditegaskan: persembahan pada bulan ini dianugerahi bhakti oleh dewa, dan dalam idiom “ekonomi pahala” Purāṇa, dapat pula berpadanan dengan hasil duniawi yang diinginkan seperti kekayaan dan kesejahteraan keluarga.

श्रीमत्तुलसी-धूप-दीपमाहात्म्य (Glorification of Tulasī, Incense, and Lamps)
Bab ini berbentuk dialog pedoman etika‑ritual. Brahmā memohon uraian berurutan tentang kemuliaan Tulasī; Bhagavān menjawab bahwa persembahan Tulasī melampaui emas dan permata, dan pemujaan dengan manjari Tulasī menganugerahkan kedudukan yang mengarah pada mokṣa serta kedekatan dengan dhāma Viṣṇu, termasuk Śvetadvīpa. Selanjutnya dijelaskan aturan kemurnian: bunga dan air yang basi dihindari, namun daun Tulasī dan air Gaṅgā tidak pernah dikecualikan, sehingga terbentuk pedoman liturgis yang praktis. Persembahan daun lain (bilva, śamī, dan sebagainya) dibedakan, tetapi Tulasī ditegaskan sebagai yang paling dikasihi Viṣṇu; disebut pula ragam kṛṣṇā/sitā dan buah bhakti khusus dari pemujaan dengan ‘kṛṣṇa‑tulasī’. Kemudian dibahas dhūpa‑dāna dan dīpa‑dāna: dupa aguru, karpūra, guggulu, serta campuran ‘daśāṅga dhūpa’ dipuji sebagai penyuci, pelindung, dan pemenuh harapan. Ritus lampu (ārātrika, nīrājana) dikatakan menyempurnakan pemujaan yang kurang sempurna dan menuntun pada capaian surga maupun Vaikuṇṭha. Penutupnya memberi peringatan etis: jangan merusak atau mencuri lampu persembahan, karena berbuah karma buruk sebagaimana gaya phalaśruti.

नैवेद्यविधिवर्णनम् | Description of the Naivedya Procedure (Offerings in Mārgaśīrṣa)
Bab ini menguraikan tata cara naivedya (persembahan makanan) secara teknis sekaligus teologis. Brahmā memohon kepada Śrī Bhagavān penjelasan tepat tentang metode persembahan serta ragam anna (makanan pokok) dan vyañjana (lauk-pendamping). Bhagavān menjawab dengan tata urut bertingkat: wadah terbaik dari emas, bila tidak ada dari perak, dan bila itu pun tidak mampu maka dari daun palāśa; banyak mangkuk kecil ditata rapi untuk memperindah persembahan. Disebutkan pula hidangan pilihan seperti penganan manis (mis. pāyasa), biji-bijian dan kacang-kacangan, olahan berbasis buah, rebusan berempah, manisan seperti modaka, makanan goreng/panggang, serta unsur beraroma atau diperkaya ghee. Bagi yang tidak sanggup menyiapkan kelimpahan penuh, diperkenankan paket persembahan yang dipadatkan; disertai phalaśruti yang menegaskan naivedya sebagai pelindung rohani. Penutupnya memuat petunjuk mirip resep tentang takaran dan kemurnian pengolahan, menekankan bahwa daya guna ritual bertumpu pada ukuran yang tepat, kebersihan, dan penyajian yang tertib.

Dāmodara-nāma-japa, Pradakṣiṇā-vidhi, and Śālagrāma-pādodaka: Mārgaśīrṣa Observances
Bab ini disusun sebagai dialog tanya-jawab. Penanya bertanya apa yang harus dilakukan setelah mempersembahkan naivedya dalam laku Mārgaśīrṣa; Bhagavān menjawab dengan urutan pemujaan pasca-naivedya: air wangi untuk ācamanā, tāmbūla, cendana, bunga, melihat cermin (darpaṇa-darśana), dan nīrājana, semuanya dipersembahkan dengan tata krama bhakti. Sesudah itu dianjurkan memperkuat devosi melalui japa dan stotra, termasuk penggunaan bahan mālā tertentu, serta aturan japa: duduk tanpa terdistraksi, menjaga diam, dan pengendalian diri. Dijelaskan pula tingkatan pahala japa menurut tempat—dari rumah, ke tīrtha, hingga di hadapan kehadiran ilahi. Buah pradakṣiṇā diuraikan rinci: jumlah putaran menentukan pahala, disetarakan dengan daṇḍa-prapāta (sujud penuh), dan diyakini cepat menghapus kotoran etis yang menumpuk. Nama “Dāmodara” diterangkan secara teologis-etimologis, terkait lila Yaśodā yang mengikat Sang Bhagavān dengan tali. Ditetapkan regimen harian pengulangan “namo dāmodarāya” dalam hitungan besar, lalu penutup berupa tarpaṇa, homa, dan jamuan bagi brāhmaṇa. Seni bhakti—nyanyian, alat musik, tarian, dan pembacaan—disebut sebagai persembahan yang menyenangkan. Kemudian dimuliakan kesucian pādodaka dari Śālagrāma: bernilai menyucikan bahkan dalam keadaan kenajisan batas, dan sangat dihargai sebagai penopang keselamatan rohani pada akhir hayat.

Kāmpilya’s Vaiṣṇava King and the Ethics of Dvādaśī: Hospitality, Devotion, and Karmic Retrospection (कांपिल्यनृप-वैष्णवधर्मः)
Bab 11 dibuka dengan Brahmā memohon ajaran tentang keagungan Ekādaśī serta tata cara pelaksanaan laku suci (termasuk ketentuan terkait mūrti). Śrī Bhagavān menjawab dengan menuturkan kisah pemusnah dosa. Latar kisah berada di Kāmpilya: Raja Vīrabāhu digambarkan jujur, mampu mengendalikan diri, memahami pengetahuan Brahman, dan berbhakti kepada Janārdana; permaisuri Kāntimatī pun teguh dalam bhakti. Resi Bhāradvāja berkunjung dan disambut dengan arghya, tempat duduk, serta penghormatan. Sang raja mengajarkan teologi penghormatan kepada Vaiṣṇava: pemberian kecil kepada seorang Vaiṣṇava berbuah besar, dan hari tanpa kehadiran Vaiṣṇava dianggap sia-sia. Selanjutnya ditegaskan kontras normatif: mereka yang tanpa bhakti kepada Hṛṣīkeśa dicela, sedangkan “hari milik Hari” ditinggikan melebihi banyak tapa dan nazar. Pembahasan beralih pada keutamaan Dvādaśī di atas tithi lain; melalui perbandingan, negeri tanpa raja Vaiṣṇava dinilai cacat—bagaikan tubuh tanpa mata—sehingga bhakti ritual dihubungkan dengan kesejahteraan masyarakat. Bhāradvāja memberkahi raja dan ratu, memuji keteguhan bhakti serta kesetiaan perkawinan. Ketika raja menanyakan sebab kemakmurannya, resi mengungkap kelahiran lampau: sang raja dahulu seorang śūdra yang keras dan tidak beretika, sedangkan istrinya tetap setia dan tidak berniat jahat. Titik balik karmanya terjadi saat mereka berbelas kasih dan menjamu seorang brāhmaṇa bernama Devaśarmā yang tersesat dan kehausan di hutan berbahaya—memberinya air, buah, tempat beristirahat, serta membantu pemujaannya. Bab ditutup ketika Devaśarmā bersiap memberi jawaban, membuka jalan bagi ajaran tentang anugerah dan transformasi.

अखण्डैकादशीव्रतविधिः (Akhaṇḍa-Ekādaśī Vrata: Procedure and Udyāpana)
Adhyaya ini bergerak dalam dua bagian. Pertama, Devasharmā menjelaskan latar karma masa lampau: tithi Dvādaśī bagi Viṣṇu ternoda oleh percampuran/“vedha” Daśamī (daśamī-miśra), sehingga pahala yang telah terkumpul lenyap dan pelakunya mengalami penderitaan panjang, kehinaan sosial, serta siksaan neraka. Lalu ditunjukkan jalan pemulihan: melalui partisipasi dalam pahala yang “diberikan orang lain” (paradatta-puṇya) dari pelaksanaan Ekādaśī yang benar, disertai penghormatan kepada tamu (atithya) dan bhakti, ia menjadi suci dan naik menuju keadaan yang luhur. Kedua, sang raja memohon petunjuk resmi, dan sang ṛṣi menguraikan tata cara Vrata Akhaṇḍa-Ekādaśī: pada malam Daśamī makan naktam dengan pantangan tertentu; pada Ekādaśī berpuasa serta menaati larangan-larangan pengendalian diri (mis. minum air berulang-ulang, kekerasan, dusta, sirih, siwak/dantakaṣṭha, tidur siang, hubungan seksual, judi, permainan, tidur malam, dan berbicara dengan orang jatuh). Pada Dvādaśī makan sekali, melakukan pāraṇa, dan melanjutkan pantangan yang ditetapkan. Penutupnya adalah penyelesaian tahunan dan udyāpana pada paruh terang bulan Mārgaśīrṣa: mengundang brāhmaṇa yang layak serta ācārya beserta istri, membuat maṇḍala dan susunan kalaśa, menegakkan Lakṣmī-Nārāyaṇa (arca emas sesuai kemampuan), melaksanakan pūjā, japa, dan homa (dengan persembahan berlandas Puruṣasūkta), lalu menutup dengan dāna—sapi, bejana, dan hadiah—menurut prinsip “pūrṇapātra”; ditekankan ketulusan dan menjauhi tipu daya dalam urusan dana.

जागर-लक्षणम् (Lakṣaṇa of Jāgaraṇa) — Ekādaśī/Dvādaśī Night Vigil and Its Phalāśruti
Bab ini menguraikan ‘jāgaraṇa’ (berjaga semalam suntuk dalam bhakti) sebagai disiplin utama di Kali-yuga, beserta tanda-tanda pelaksanaannya dan phalāśruti-nya. Bhagavān menegaskan bahwa berjaga yang benar ditopang oleh pembacaan Purāṇa/japa, kīrtana, nyanyian, alat musik, tarian suci, dupa dan pelita, naivedya, bunga dan wewangian, pradakṣiṇa serta namaskāra; dilakukan dengan semangat dan sukacita, disertai kejujuran, pengendalian indria, bebas dari malas dan lalai, serta tanpa tipu daya dalam urusan persembahan. Mereka yang “tertidur” secara rohani karena pengaruh Kali dibedakan dari para pelaku jāgaraṇa, dan pahala berjaga dinyatakan melampaui jasa kurban besar. Dijelaskan pula dana (pemberian suci) saat berjaga: menyalakan pelita—terutama lampu ghee, persembahan makanan, sirih dengan kapur barus, parfum, pendapa bunga, memandikan arca dengan susu/yoghurt/ghee/air, pemberian busana dan perhiasan, serta hadiah sapi; masing-masing dikaitkan dengan buah seperti penyucian, kemakmuran, kediaman surgawi, dan kedekatan dengan Tuhan. Ada peringatan agar tidak menghalangi nyanyian dan tarian bhakti, serta pujian bahwa mendorong orang lain berjaga membawa kehormatan duniawi. Pada penutup, jāgaraṇa pada Dvādaśī ditinggikan sebagai laku yang termasyhur, menjanjikan pembebasan, penghapusan dosa—termasuk yang berat maupun tak disengaja—keteguhan garis keturunan, dan perlindungan dari keadaan buruk setelah kematian. Karena itu, umat dianjurkan berupaya semaksimal mungkin menjalankan hari suci ini di Kali-yuga.

मात्स्योत्सवविधानम् (Matsyotsava-vidhāna: Procedure for the Fish-Festival on Śukla Dvādaśī)
Bab ini memaparkan tata cara suci Matsyotsava yang ditetapkan Bhagavān untuk bulan Mārgaśīrṣa, paruh terang, pada tithi Dvādaśī. Pada Daśamī dilakukan pemujaan pendahuluan dan homa, lalu disiplin kemurnian, pengaturan makan, serta penyucian tubuh. Pada Ekādaśī pelaku bernazar berpuasa, mempersembahkan arghya, dan bermeditasi pada Viṣṇu Gadādhara—bermahkota, berbusana kuning, memegang śaṅkha-cakra-gadā—seraya berserah kepada Puṇḍarīkākṣa/Acyuta dan berbuka pada hari berikutnya. Malam harinya dianjurkan japa Nārāyaṇa di dekat arca. Saat fajar ditetapkan snāna di sungai/kolam (atau di rumah bila perlu) dengan mṛttikā dan air yang disucikan mantra, memuliakan bumi dan air sebagai penopang kosmos. Disebut pula penghormatan tubuh seperti nyāsa melalui nama-nama ilahi—Keśava, Dāmodara, Nṛsiṃha, Śrīpati, dan lainnya. Selanjutnya dipasang empat kalaśa sebagai lambang empat samudra, dihias daun, kain, cendana, penutup, wijen, dan unsur emas; di pīṭha tengah diletakkan bejana berisi wujud Matsya Janārdana dari emas untuk dipuja, disertai ingatan akan penyelamatan Veda dan berjaga (jāgara). Penutupnya: pada pagi hari empat kalaśa didanakan kepada empat brāhmaṇa menurut arah dan afiliasi Veda, sedangkan ikan emas dipersembahkan kepada ācārya. Ada peringatan agar tidak melanggar petunjuk guru, dilanjutkan jamuan bagi brāhmaṇa, serta phalaśruti yang menjanjikan pelepasan dosa dan mokṣa bagi pelaku, pendengar, maupun pembaca.

Saho-māsa Observances: Brāhmaṇa-Sevā, Dāna-Trika, and Śrī Kṛṣṇa Nāma-Māhātmya (Mārgaśīrṣa)
Bab 15 menampilkan jawaban Bhagavān secara berurutan atas pertanyaan sebelumnya, dengan menetapkan bulan Mārgaśīrṣa (disebut juga saho-māsa) sebagai masa khusus untuk disiplin bhakti. Pertama-tama ditekankan pemujaan kepada Keśava serta penghormatan yang semestinya kepada pasangan brāhmaṇa (brāhmaṇa dan istrinya), karena kepuasan mereka dinyatakan sebagai kepuasan Ilahi. Selanjutnya dijelaskan tingkatan dāna: go-dāna, bhū-dāna, suvarṇa-dāna, juga pemberian pakaian, alas tidur, perhiasan, dan rumah; puncaknya adalah ‘dāna-trika’—tanah, sapi, dan vidyā-dāna—yang disebut sangat utama. Teks menegaskan kewajiban menjamu brāhmaṇa dengan perhatian penuh, menyuguhkan hidangan halus seperti pāyasa, sebab keridaan dewa sejalan dengan keridaan mereka. Kemudian brāhmaṇa dipandang sebagai ‘mulut’ istimewa bagi persembahan, sehingga sedekah dan oblasinya berlipat daya guna bila disalurkan melalui mereka. Ajaran etika meluas pada tata santap: makan hanya setelah dipersembahkan (arpaṇa) kepada Tuhan; prasāda/ucchiṣṭa dipuji sebagai penyuci, sedangkan makan tanpa persembahan diperingatkan sebagai cela. Penutupnya adalah nāma-māhātmya: pengucapan berulang “Kṛṣṇa, Kṛṣṇa” sebagai obat Kali-yuga yang membakar dosa, melindungi saat ajal, melampaui banyak laku lain, disertai janji pahala jelas bagi yang melafal, membaca, dan mempelajari kemuliaan Nama ini.

ध्यानविधिः, मन्त्रगोपनम्, गुरु-शिष्यलक्षणम्, श्रीमद्भागवत-माहात्म्यम् (Meditation Rite, Mantra Confidentiality, Qualifications of Guru and Disciple, and the Glory of the Śrīmad Bhāgavata)
Bab ini mengajarkan tata cara dhyāna untuk pūjā pagi kepada Kṛṣṇa dalam wujud kanak-kanak. Di taman yang suci, dalam paviliun yang bercahaya, digambarkan Balakṛṣṇa dengan perhiasan, raut wajah, sikap duduk, para pelayan, dan suasana bhakti—sebagai pola visualisasi saat sembahyang pagi. Lalu dianjurkan pūjā sejak dini hari dengan persembahan seperti pāyasa serta mentega segar yang murni (hayaṅgavīna), disertai anusmaraṇa; ibadah harian yang teguh dan penuh iman mendatangkan kemakmuran (Lakṣmī) dan akhirnya mengantar ke kediaman tertinggi yang suci. Selanjutnya dibahas aturan kerahasiaan mantra: mantra bernama Śrīmad Dāmodara harus dijaga dan tidak diberikan kepada yang tidak layak. Disebutkan banyak sifat yang menggugurkan kelayakan—ketidakmurnian moral, tipu daya, amarah, keserakahan, ucapan menyakiti, pemerasan, dan lain-lain—serta ciri murid yang pantas: terkendali, gemar melayani, jujur, bersih, teguh dalam laku, dan condong pada pembebasan. Kualifikasi guru pun dijelaskan: seimbang batin, penuh welas asih, berilmu, tidak malas, mampu menuntaskan keraguan, teguh sebagai Vaiṣṇava, dan membawa kebaikan. Paruh akhir memuliakan Śrīmad Bhāgavata Purāṇa. Mendengar atau membaca bahkan sebagian kecil ayatnya dipandang menghasilkan pahala besar; menyimpan kitab di rumah dianggap melindungi dan menyucikan. Menghormati kitab—bangkit, memberi salam, mendekat dengan takzim—diagungkan; kehadiran Bhāgavata digambarkan mengundang kehadiran ilahi beserta buah ziarah tīrtha dan jasa yajña. Mendengarkan dengan disiplin sambil mempersembahkan bunga, dupa, pelita, dan kain disebut sebagai jalan meneguhkan anugerah Tuhan melalui penghormatan yang tertata.

मथुरामाहात्म्यं मार्गशीर्षमासे — Mathurā’s Glory in the Month of Mārgaśīrṣa
Bab ini berbentuk dialog ajaran: Brahmā menanyakan keutamaan bulan Mārgaśīrṣa dan kṣetra (wilayah suci) tempat daya rohaninya paling nyata. Bhagavān menjawab bahwa Mathurā (Madhupurī) adalah kṣetra tertinggi, senantiasa membawa keberkahan dan sangat dicintai; di sana buah ziarah (tīrtha-phala) muncul “di setiap langkah”, bahkan mendekati kota saja membuat dosa-dosa luruh. Melihat, mendengar, menyebut, atau mengingat Mathurā dinyatakan menyucikan. Keutamaannya berulang kali dinilai melampaui tīrtha-tīrtha terkenal dan tapa-vrata yang panjang. Ada peringatan bahwa kesalahan di tīrtha dapat menjadi “mengeras”, namun kesalahan yang terjadi di Mathurā dikatakan padam di sana. Tinggal di Mathurā, wafat di sana, bahkan kematian yang tak disengaja pun digambarkan mengantar pada tujuan luhur. Pada bulan Mārgaśīrṣa dianjurkan beribadah di Mathurā; bila tidak memungkinkan, Puṣkara ditetapkan sebagai pengganti. Terutama pada hari Pūrṇimā: mandi suci, dāna, śrāddha, pūjā, menjamu brāhmaṇa, dan menuntaskan perayaan—bila dilakukan sesuai tata cara—memberi hasil yang tak habis (akṣaya).
It presents Mārgaśīrṣa as a ritually potent month, prescribing structured morning discipline—purification, mantra remembrance, and devotional marking of the body—to intensify Vaiṣṇava remembrance and ethical conduct.
The practices are framed as purification from demerit (pāpa), stabilization of devotional identity, and participation in tīrtha merit through Gaṅgā’s invoked presence—culminating in auspiciousness and mokṣa-oriented aspiration.
Recurring themes include mantra as a technology of sanctification, the portability of sacred geography via invocation, and the embodiment of devotion through ūrdhva-puṇḍra and Viṣṇu-name meditation.