
Bab ini mengajarkan tata cara dhyāna untuk pūjā pagi kepada Kṛṣṇa dalam wujud kanak-kanak. Di taman yang suci, dalam paviliun yang bercahaya, digambarkan Balakṛṣṇa dengan perhiasan, raut wajah, sikap duduk, para pelayan, dan suasana bhakti—sebagai pola visualisasi saat sembahyang pagi. Lalu dianjurkan pūjā sejak dini hari dengan persembahan seperti pāyasa serta mentega segar yang murni (hayaṅgavīna), disertai anusmaraṇa; ibadah harian yang teguh dan penuh iman mendatangkan kemakmuran (Lakṣmī) dan akhirnya mengantar ke kediaman tertinggi yang suci. Selanjutnya dibahas aturan kerahasiaan mantra: mantra bernama Śrīmad Dāmodara harus dijaga dan tidak diberikan kepada yang tidak layak. Disebutkan banyak sifat yang menggugurkan kelayakan—ketidakmurnian moral, tipu daya, amarah, keserakahan, ucapan menyakiti, pemerasan, dan lain-lain—serta ciri murid yang pantas: terkendali, gemar melayani, jujur, bersih, teguh dalam laku, dan condong pada pembebasan. Kualifikasi guru pun dijelaskan: seimbang batin, penuh welas asih, berilmu, tidak malas, mampu menuntaskan keraguan, teguh sebagai Vaiṣṇava, dan membawa kebaikan. Paruh akhir memuliakan Śrīmad Bhāgavata Purāṇa. Mendengar atau membaca bahkan sebagian kecil ayatnya dipandang menghasilkan pahala besar; menyimpan kitab di rumah dianggap melindungi dan menyucikan. Menghormati kitab—bangkit, memberi salam, mendekat dengan takzim—diagungkan; kehadiran Bhāgavata digambarkan mengundang kehadiran ilahi beserta buah ziarah tīrtha dan jasa yajña. Mendengarkan dengan disiplin sambil mempersembahkan bunga, dupa, pelita, dan kain disebut sebagai jalan meneguhkan anugerah Tuhan melalui penghormatan yang tertata.
No shlokas available for this adhyaya yet.
Read Skanda Purana in the Vedapath app
Scan the QR code to open this directly in the app, with audio, word-by-word meanings, and more.