Adhyaya 360
KoshaAdhyaya 36038 Verses

Adhyaya 360

Chapter 360 — अव्ययवर्गाः (Groups of Indeclinables)

Dalam bab lapisan Kosha ini, Bhagavan Agni menyampaikan kepada Resi Vasiṣṭha peta makna ringkas tentang avyaya (kata tak berubah) dalam Sanskerta, sebagai leksikon fungsional bagi wacana, ujaran ritual, dan ketepatan tata bahasa. Bab dimulai dengan partikel ‘ā’—maknanya (sebagian/parsial, pervasi, batas, derivasi melalui dhātu-yoga) serta sifat pragṛhya-nya—lalu meluas menjadi inventaris berkelompok: penanda celaan (ku, dhig), koordinasi/penambahan (ca), berkat (svasti), kelebihan/pelanggaran (ati), tanya dan ragu (svit, nu, nanu), kontras dan penegasan (tu, hi, eva, vai). Disusun pula penanda waktu-urutan (adya, hyas, śvaḥ, tadā, idānīm, sāmpratam), istilah ruang-arah (purastāt, pratīcyām, agrataḥ), pengulangan/frekuensi (muhuḥ, asakṛt, abhīkṣṇam), serta seruan rasa (hanta, hā, aho). Seruan ritual (svāhā, vauṣaṭ, vaṣaṭ, svadhā) turut dicantumkan, menegaskan bahwa partikel bahasa melayani dharma melalui pemakaian liturgis yang tepat. Secara keseluruhan, bab ini menampilkan metode ensiklopedis Agni Purana: ilmu bahasa sebagai ajaran suci yang menopang kejernihan duniawi (bhukti) dan disiplin tutur selaras dharma sebagai penopang mukti.

Shlokas

Verse 1

इत्य् आग्नेये महापुराणे स्वर्गपातालादिवर्गा नामोनषष्ट्यधिकत्रिशततमो ऽध्यायः अथ षष्ट्यधिकत्रिशततमो ऽध्यायः अव्ययवर्गाः अग्निर् उवाच आङीषदर्थे ऽभिव्याप्तौ सीमार्थे धातुयोगजे आ प्रगृह्यः स्मृतौ वाक्ये ऽप्यास्तु स्यात् कोपपीड्योः

Demikianlah dalam Agni Mahāpurāṇa berakhir bab ke-359 yang disebut “Golongan yang bermula dari Svarga dan Pātāla.” Kini dimulai bab ke-360: “Kelompok Kata Tak Berubah (Avyaya).” Agni bersabda: partikel ‘ā’ dipakai (1) dalam arti ‘sedikit/sekadar’ (īṣat), (2) untuk menyatakan pervasi atau keluasan (abhivyāpti), (3) untuk menandai batas (sīmā), dan (4) dalam pemakaian yang timbul dari gabungan dengan akar kata (dhātu-yoga). Dalam pembacaan bergaya smṛti dan dalam pemakaian kalimat, ‘ā’ dianggap pragṛhya (tidak berubah dalam sandhi); dan dapat pula bermakna marah serta penderitaan (kopa-pīḍā).

Verse 2

पापकुत्सेषदर्थे कु धिग्जुगुप्सननिन्दयोः चान्वाचयसमाहारेतरेतरसमुच्चये

Partikel ‘ku’ dipakai dalam arti ‘berdosa’, ‘hina/tercela’, serta ‘sisa/cacat’. Partikel ‘dhig’ menyatakan rasa jijik dan celaan. Partikel ‘ca’ digunakan untuk (i) anvācaya (penyebutan tambahan), (ii) samāhāra (penghimpunan kolektif), dan (iii) itaretara-samuccaya (penggabungan setara).

Verse 3

स्वस्त्याशीः क्षेमपुण्यादौ प्रकर्षे लङ्घने ऽप्यति स्वित्प्रश्ने च वितर्के च तु स्याद्भेदे ऽवधारणे

‘Svasti’ dipakai untuk berkat/doa restu dan pada awal ungkapan tentang kesejahteraan serta kebajikan. ‘Ati’ bermakna kelebihan/keunggulan dan juga pelanggaran batas. ‘Svit’ dipakai dalam pertanyaan dan keraguan deliberatif. ‘Tu’ menyatakan pertentangan/perbedaan serta pembatasan yang menegaskan.

Verse 4

सकृत्सहैकवारे स्यादाराद्दूरसमीपयोः प्रतीच्यां चरमे पश्चादुताप्यर्थविकल्पयोः

‘Sakṛt’ berarti ‘sekali’. ‘Saha’ dan ‘ekavāre’ menyatakan ‘bersamaan/sekali kejadian’. ‘Ārāt’ menurut konteks dapat berarti ‘jauh’ maupun ‘dekat’. ‘Pratīcyām’ berarti ‘di arah barat’. ‘Carame’ berarti ‘pada bagian akhir’. ‘Paścāt’ berarti ‘sesudah/di belakang’. ‘Uta’ dan ‘api’ dipakai ketika dimaksudkan pilihan atau alternatif makna.

Verse 5

पुनःसदार्थयोः शश्वत् साक्षात् प्रत्यक्षतुल्ययोः खेदानुकम्पासन्तोषविस्मयामन्त्रणे वत

‘Punaḥ’ dan ‘sadā’ menyatakan pengulangan dan ketetapan. ‘Śaśvat’ berarti ‘senantiasa’. ‘Sākṣāt’ berarti ‘secara langsung’. ‘Pratyakṣa’ dan ‘tulya’ menunjukkan ‘yang dapat dipersepsi’ dan ‘yang serupa’. ‘Vata’ dipakai untuk ungkapan duka, belas kasih, kepuasan, keheranan, serta untuk memanggil/menyapa.

Verse 6

हन्त हर्षे ऽनुकम्पायां वाक्यारम्भविषादयोः प्रति प्रतिनिधौ वीप्सालक्षणादौ प्रयोगतः

‘Hanta’ dipakai untuk menyatakan kegembiraan, belas kasih, sebagai pembuka ujaran, dan juga untuk menyatakan duka. ‘Prati’ dipakai dalam arti ‘sebagai balasan/berhadapan dengan’ serta ‘sebagai pengganti (wakil)’. Selain itu, menurut pemakaian yang mapan, beberapa partikel juga dipakai untuk vīpsā (pengulangan) dan untuk menandai lakṣaṇa (ciri penentu), dan seterusnya.

Verse 7

इति हेतौ प्रकरणे प्रकाशादिसमाप्तिषु प्राच्यां पुरस्तात् प्रथमे पुरार्थे ऽग्रत इत्य् अपि

Kata ‘iti’ dipakai dalam arti sebab (hetu) dan dalam pembagian topik (prakaraṇa); juga pada penutup uraian yang diawali ‘prakāśa’ dan sejenisnya. Untuk arah timur digunakan ‘purastāt’; dan untuk arti ‘pertama/lebih dahulu’ dapat pula ‘agrataḥ’.

Verse 8

यावत्तावच्च साकल्ये ऽवधौ माने ऽवधारणे मङ्गलानन्तरारम्भप्रश्नकार्त्स्नेष्व् अथोथ च

Pasangan ‘yāvat–tāvat’ dipakai untuk makna keseluruhan, penandaan batas, ukuran (māna), dan penegasan (avadhāraṇa). Demikian pula ‘atha/atho’ untuk pembukaan yang membawa berkah, memulai setelah uraian sebelumnya, memasukkan pertanyaan, dan menandai kelengkapan bahasan.

Verse 9

वृथा निरर्थकाविध्योर्नानानेकोभयार्थयोः नु पृच्छायां विकल्पे च पश्चात्सादृश्ययोरनु

‘Vṛthā’ berarti sia-sia dan tanpa tujuan. ‘Nānā’ menyatakan keanekaragaman/jamak, ‘aneka’ berarti banyak, dan ‘ubhaya’ berarti keduanya. ‘Nu’ dipakai dalam pertanyaan dan pilihan alternatif. ‘Paścāt’ berarti sesudah; ‘anu’ menyatakan mengikuti/sesudah serta kemiripan.

Verse 10

प्रश्नावधारणानुज्ञानुनयामन्त्रणे ननु गर्हासमुच्चयप्रश्नशङ्कासम्भावनास्व् अपि

Partikel ‘nanu’ dipakai untuk: bertanya, penegasan kepastian, pemberian izin, bujukan yang menenangkan, dan undangan; juga untuk celaan, penambahan poin (agregasi), pertanyaan ulang, keraguan, serta dugaan/kemungkinan.

Verse 11

उपमायां विकल्पे वा सामित्वर्धे जुगुप्सिते अमा सह समीपे च कं वारिणि च मूर्धनि

Dalam makna perbandingan (upamā) atau pilihan (vikalpa), dalam makna kepemilikan, dalam makna ‘setengah/bagian’, dan dalam nuansa merendahkan (jugupsita)—demikianlah ranah pemakaiannya. ‘Amā’ berarti ‘bersama’ dan juga ‘dekat’. Bentuk ‘kam’ dipakai dengan arti ‘di air’ dan ‘di atas kepala’ (pemakaian lokatif).

Verse 12

इवेत्थमर्थयोरेवं नूनं तर्के ऽर्थनिश् चये तूष्णीमर्थे सुखे जोषं किम्पृच्छायां जुगुप्सने

Pemakaian partikel tak berubah (avyaya) adalah demikian: ‘iva’ dan ‘ittham’ menyatakan keserupaan serta cara; ‘evaṁ’ dan ‘nūnam’ dipakai dalam penalaran dan penetapan makna; ‘tūṣṇīm’ berarti diam; ‘joṣam’ berarti kenyamanan/kesenangan; dan ‘kim’ dipakai untuk bertanya, juga dapat menyatakan jijik/keengganan (jugupsā).

Verse 13

नाम प्राकाश्यसम्भाव्यक्रोधोपगमकुत्सने अलं भूषणपर्याप्तिशक्तिवारणवाचकम्

Partikel ‘nāma’ menyatakan penampakan/penegasan, kemungkinan, kemarahan, persetujuan/penerimaan, serta celaan; sedangkan indeklinabel ‘alam’ menyatakan perhiasan/ornamen, kecukupan, kemampuan, dan larangan/pengekangan.

Verse 14

हूं वितर्के परिप्रश्ने समयान्तिकमध्ययोः पुनरप्रथमे भेदे निर्निश् चयनिषेधयोः

Partikel ‘hūṁ’ dipakai dalam pertimbangan (deliberasi) dan dalam tanya-jawab yang mendesak (paripraśna). Partikel ‘punaḥ’ dipakai dalam arti ‘pada waktunya’, ‘dekat’, dan ‘di tengah’; juga dalam arti ‘bukan yang pertama/lagi’, ‘pembedaan’, ‘penetapan’, dan ‘peniadaan/penolakan’.

Verse 15

स्यात्प्रबन्धे चिरातीते निकटागामिके पुरा उरर्युरी चोररी च विस्तारे ऽङ्गीकृते त्रयम्

Dalam prabandha (karangan berkesinambungan), terkait waktu, tiga pemakaian diakui: (1) masa lampau yang sangat jauh, (2) masa depan yang dekat, dan (3) dahulu/kala lampau. Dan dalam hal perluasan uraian, bentuk ‘uraryurī’ dan ‘corarī’ juga diterima.

Verse 16

स्वर्गे परे च लोके स्वर्वार्तासम्भावयोः किल निषेधवाक्यालङ्कारे जिज्ञासावसरे खलु

Mengenai surga dan alam yang lebih tinggi, pada saat muncul dorongan untuk mengetahui—ketika kemungkinan kabar tentang surga sedang dipertimbangkan—dipakai hiasan ungkapan yang disebut ‘pernyataan larangan’ (niṣedha-vākya), demikianlah disebutkan.

Verse 17

समीपोभयतःशीघ्रसाकल्याभिमुखे ऽभितः नामप्रकाशयोः प्रादुर्मिथो ऽन्योन्यं रहस्यपि

Ketika dua hal ditempatkan dekat pada kedua sisi, dengan cepat dan secara utuh saling berhadapan, maka dalam saling-terangnya penamaan keduanya, bahkan makna yang tersembunyi menjadi nyata melalui hubungan timbal baliknya.

Verse 18

तिरो ऽन्तर्धौ तिर्यगर्थे हा विषादशुगर्तिषु अहहेत्यद्भुते खेदे हि हेताववधारणे

Kata “tiro” dipakai dalam arti ‘tersembunyi/terselubung’ dan juga ‘menyamping/serong’. “hā” dipakai untuk menyatakan duka, sedih, dan nestapa. “ahahe” dipakai dalam rasa takjub dan ratap. “hi” dipakai untuk menunjukkan sebab serta untuk penegasan/penetapan.

Verse 19

चिराय चिररात्राय चिरस्याद्याश्चिरार्थकाः मुहुः पुनः पुनः शश्वदभीक्ष्णमसकृत् समाः

“Cirāya”, “cirarātrāya”, “cirasya” dan sejenisnya bermakna ‘lama/berjangka panjang’; demikian pula “muhuḥ”, “punaḥ punaḥ”, “śaśvat”, “abhīkṣṇam”, dan “asakṛt” adalah sepadan, semuanya menyatakan pengulangan atau keberlangsungan yang terus-menerus.

Verse 20

स्राग्झटित्यञ्चसाह्नाय सपदि द्राङ्मङ्खु च द्रुते बलवत् सुष्ठु किमुत विकल्पे किं किमूत च

“Srāk”, “jhaṭiti”, “añca”, dan “sāhnāya” bermakna ‘segera’. “Sapadi”, “drāk”, “maṅkhu”, dan “drute” bermakna ‘seketika/cepat’. “Balavat” berarti ‘dengan kuat’. “Suṣṭhu” berarti ‘dengan baik/tepat’. “Kimuta” dipakai untuk makna a fortiori: ‘apalagi, betapa lebih!’. “Kiṃ” dipakai dalam pilihan/alternatif. “Kimūta” juga dipakai dalam tanya yang menegaskan atau a fortiori.

Verse 21

तु हि च स्म ह वै पादपूरणे पूजनेप्यति दिवाह्नीत्यथ दोषा च नक्तञ्च रजनाविति

“Tu”, “hi”, “ca”, “sma”, “ha”, dan “vai” dipakai untuk pemenuhan metrum (pādapūraṇa); bahkan dalam pemujaan pun waktu yang tepat disebut “divāhna”, yakni siang hari. Adapun pembagian malam dinyatakan sebagai: “doṣā” (bagian awal malam), “nakta” (tengah malam), dan “rajanī” (sisa malam).

Verse 22

तिर्यगर्थे साचि तिरो ऽप्यथ सम्बोधनार्थकाः स्युः प्याट्पाड्ङ्ग हे है भोः समया निकषा हिरुक्

Dalam makna ‘melintang/menyamping’ (tiryak-artha), partikel ‘sāci’ dan ‘tiro’ digunakan. Untuk sapaan (vocative) dipakai ‘pyāṭ’, ‘pāḍṅga’, ‘he’, ‘hai’, ‘bhoḥ’; demikian pula ‘samayā’, ‘nikaṣā’, dan ‘hiruk’ sebagai partikel.

Verse 23

अतर्किते तु सहसा स्यात् पुरः पुरतो ऽग्रतः स्वाहा देवहविर्दाने श्रौषट् वौषट् वषट् स्वधा

Dalam keadaan tak terduga dan mendadak, segera diucapkan ‘puraḥ’, ‘purataḥ’, ‘agrataḥ’ yakni ‘di depan’. Dalam persembahan havis kepada para dewa diucapkan ‘svāhā’; seruan ritualnya ‘śrauṣaṭ’, ‘vauṣaṭ’, ‘vaṣaṭ’; sedangkan untuk leluhur ialah ‘svadhā’.

Verse 24

किञ्चिदीषन्मनागल्पे प्रेत्यामुत्र भवान्तरे जिज्ञासानुनय इति ञ यथा तथा चैव साम्ये अहो हो इति विस्मये

‘Kiñcit’, ‘īṣat’, dan ‘manāk’ bermakna ‘sedikit’. ‘Pretya’ berarti ‘sesudah kematian’; ‘amutra’ berarti ‘di sana, di alam lain’; ‘bhavāntare’ berarti ‘dalam keberadaan lain/kelahiran lain’. Partikel ‘iti’ dipakai untuk pertanyaan dan permohonan sopan. ‘Yathā’ dan ‘tathā’ menyatakan kesepadanan. ‘Aho’ dan ‘ho’ menyatakan keheranan.

Verse 25

मौने तु तूष्णीं तूष्णीकं सद्यः सपदि तत्क्षणे दिष्ट्या शमुपयोषञ्चेत्यानन्दे ऽथान्तरे ऽन्तरा

Dalam laku mauna, ‘tūṣṇīm’ dan ‘tūṣṇīkam’ berarti diam sepenuhnya. ‘Sadyah’, ‘sapadi’, ‘tatkṣaṇe’ bermakna ‘segera’. ‘Diṣṭyā’ berarti ‘berkat keberuntungan’; ‘śam’ dan ‘upayoṣan’ menyatakan ketenteraman serta pengekangan batin yang menimbulkan sukacita. ‘Antare’ dan ‘antarā’ bermakna ‘di dalam/di antara’.

Verse 26

अन्तरेण च मध्ये स्युः प्रसह्य तु हटार्थकम् युक्ते द्वे साम्प्रतं स्थाने ऽभीक्ष्णं शस्वदनारते

‘Antareṇa’ dan ‘madhye’ dipakai dalam arti ‘di antara’. ‘Prasahya’ bermakna ‘dengan paksa’; ‘haṭārthakam’ juga menyatakan ‘paksaan’. ‘Yukte’ dan ‘dve’ bermakna ‘berpasangan/tergandeng’. ‘Sāmpratam’ berarti ‘sekarang’. ‘Sthāne’ berarti ‘tempat’. ‘Abhīkṣṇam’ berarti ‘berulang-ulang’, ‘śasvat’ ‘senantiasa’, dan ‘anārate’ ‘tanpa terputus’.

Verse 27

अभावे नह्यनो नापि मास्म मालञ्च वारणे पक्षान्तरे चेद्यदि च तत्त्वे त्व् अद्धाञ्जसा द्वयम्

Dalam makna ketiadaan/peniadaan dipakai partikel ‘na’, ‘hi’, ‘anu’, ‘na’, dan ‘api’; sedangkan untuk larangan dipakai ‘mā’, ‘sma’, dan ‘mālam’. Untuk pilihan/alternatif dipakai ‘cet’ dan ‘yadi’; untuk penegasan kebenaran hakiki dipakai ‘tu’. ‘addhā’ dan ‘añjasā’ adalah sepasang penanda kepastian dan kejelasan.

Verse 28

प्राकाश्ये प्रादुराविः स्यादोमेवं परमं मते समन्ततस्तु परितः सर्वतो विश्वगित्यपि

Dalam keadaan manifestasi yang bercahaya, kemunculannya menjadi nyata—maka ‘Oṃ’ dipandang sebagai prinsip tertinggi. Ia hadir di segala sisi, di sekeliling, di mana-mana; karena itu ia juga disebut ‘viśvag’, yakni yang meresapi seluruh jagat.

Verse 29

अकामानुमतौ काममसूयोपगमे ऽस्तु च ननु च स्याद्विरोधोक्तौ कच्चित् कामप्रवेदने

Dalam konteks persetujuan tanpa hasrat, digunakan ‘kāmam’ (baiklah/biarkan demikian); dan ketika tiada iri hati, dipakai ‘astu’ (jadilah demikian). Namun ‘nanu’—bukankah ucapan seperti itu dapat menimbulkan pertentangan, terutama saat maksud (kāma) dinyatakan secara terang?

Verse 30

निःषमं दुःषमं गर्ह्ये यथास्वन्तु यथायथं मृषा मिथ्या च वितथे यथार्थन्तु यथातथं

Dalam pemakaian yang tercela disebut ‘niḥṣama’ dan ‘duḥṣama’, demikian pula ‘yathāsvam’ dan ‘yathāyatham’. Untuk yang palsu/tidak benar dipakai ‘mṛṣā’, ‘mithyā’, dan ‘vitatha’; sedangkan untuk yang nyata dipakai ‘yathārtha’, yakni ‘sebagaimana adanya’ (yathā-tathā).

Verse 31

स्युरेवन्तु पुनर्वैवेत्यवधारणवाचकाः प्रागतीतार्थकं नूनमवश्यं निश् चये द्वयं

‘syuḥ’, ‘eva’, ‘tu’, ‘punar’, dan ‘vai’ adalah kata tak berubah yang menyatakan pembatasan/penegasan (avadhāraṇa). ‘nūnam’ dan ‘avaśyam’ menyatakan makna yang telah lebih dahulu ditetapkan (prāg-atīta) sekaligus kepastian; pasangan ini berfungsi dalam penentuan (niścaya).

Verse 32

संवद्वर्षे ऽवरे त्वर्वागामेवं स्वयमात्मना अल्पे नीचैर् महत्युच्चैः प्रायोभूम्न्य् अद्रुते शनैः

Dalam siklus tahun, fase yang lebih rendah datang lebih dahulu lalu maju demikian menurut kodratnya sendiri. Bila ukurannya kecil ia bergerak rendah, dan bila besar ia naik tinggi; umumnya ia bergerak di atas bumi perlahan, tanpa perubahan mendadak.

Verse 33

सना नित्ये वहिर्वाह्ये स्मातीते ऽस्तमदर्शने अस्ति सत्त्वे रुषोक्तावूमुं प्रश्ने ऽनुनये त्वयि

Partikel “sanā” dipakai dalam arti ‘selalu/abadi’; “bahirvāhya” dalam arti ‘lahiriah/di luar’; “smāt” untuk hal yang telah lampau; “asti” dalam arti ‘ada/berlangsung’; “sattva” dan sejenisnya dalam arti ‘hakikat/keberadaan’. “ūmuṃ” dipakai dalam ucapan marah; dan “tvayi” dipakai dalam pertanyaan serta sapaan yang menenangkan.

Verse 34

हूं तर्के स्यादुषा रात्रेरवसाने नमो नतौ पुनरर्थे ऽङ्गनिन्दायां दुष्ठु सुष्ठु प्रशंसने

“Hūṃ” dipakai dalam perdebatan sebagai seruan dalam tarka. “Uṣā” menunjuk cahaya fajar pada akhir malam. “Namo” dipakai untuk makna tunduk hormat (salutasi). “Punar” berarti ‘lagi’. “Aṅga” dipakai sebagai sapaan akrab dalam celaan. “Duṣṭhu” dan “Suṣṭhu” masing-masing dipakai untuk makna celaan dan pujian.

Verse 35

सायं साये प्रगे प्रातः प्रभाते निकषान्तिके परुत्परार्यैसमो ऽब्दे पूर्वे पूर्वतरे यति

‘Pada sore hari’ dinyatakan dengan “sāyam” atau “sāye”; ‘pagi dini’ dengan “prage” atau “prātaḥ”; ‘saat fajar’ dengan “prabhāte”; ‘dekat’ dengan “nikaṣā” atau “antike”. Dalam arti ‘lebih jauh/di seberang’ dipakai “para” dan “uttara”; “ārya” bersinonim dengan “sama” (setara). Untuk ‘dalam tahun’ dipakai “’abde”; untuk ‘lebih dahulu’ “pūrve”, dan untuk ‘lebih dahulu lagi’ “pūrvatare”.

Verse 36

अद्यात्राह्न्य् अथ पूर्वेह्नीत्यादौ पूर्वोत्तरा परात् तथाधरान्यान्यतरेतरात्पूर्वेद्युरादयः

Kini, pada ungkapan waktu yang bermula dari “adya” (hari ini), “trāhni/atrāhni” (pada hari itu), dan “pūrvehni” (pada forenoon), dijelaskan pembentukan/pemakaian bentuk-bentuk yang sesuai. Demikian pula bentuk yang menyatakan ‘yang terdahulu dan yang kemudian’ (pūrva–uttara), ‘yang tinggi dan yang rendah’ (para/uttara berhadapan dengan adhara), ‘saling/berbalasan’ (anyonyatara, itaretara), serta bentuk-bentuk yang diawali “pūrvedyuḥ” (pada hari sebelumnya).

Verse 37

उभयद्युश्चोभयेद्युः परे त्वह्नि परेद्यपि ह्यो गते ऽनागते ऽह्नि श्वः परश्वः श्वःपरे ऽहनि

‘Ubhayadyuḥ’ (juga ‘ubhayedyuḥ’) dipakai untuk menyebut satu hari yang, terhadap dua titik acuan, sekaligus dianggap “sebelum” dan “sesudah”. ‘Paredyuḥ’ juga dipakai untuk hari yang lebih jauh sesudahnya. ‘Hyaḥ’ berarti hari yang telah lewat; untuk hari yang belum datang disebut ‘śvaḥ’; lusa ‘paraśvaḥ’; dan hari sesudah lusa ‘śvaḥpare’.

Verse 38

तदा तदानीं युगपदेकदा सर्वदा सदा एतर्हि सम्प्रतीदानीमधुना साम्प्रतन्तथा

‘Tadā’, ‘tadānīm’, ‘yugapad’, ‘ekadā’, ‘sarvadā’, ‘sadā’, ‘etarhi’, ‘samprati’, ‘idānīm’, ‘adhunā’, ‘sāmpratam’, dan ‘tathā’—semuanya adalah partikel tak berubah (avyaya) untuk menyatakan waktu dan cara/keadaan.

Frequently Asked Questions

A lexicon-style semantic classification of avyayas, including grammatical behavior (e.g., ā as pragṛhya) and discourse-function mapping (question, emphasis, prohibition, sequence, repetition), along with ritualized utterances like svāhā/vaṣaṭ/svadhā.

By disciplining speech and interpretation: correct particle-usage safeguards mantra/ritual accuracy and textual comprehension, aligning everyday communication and liturgical expression with dharma—an applied support for inner clarity that the Agni Purana frames as compatible with the pursuit of mukti.