भ्राजिष्णुभोंजनं भोक्ता सहिष्णुर्जगदादिज: । अनघो विजयो जेता विश्वयोनि: पुनर्वसु:
bhrājiṣṇur bhojanaṁ bhoktā sahiṣṇur jagadādijaḥ | anagho vijayo jetā viśvayoniḥ punarvasuḥ ||
Bhīṣma berkata: Ia bercahaya dalam hakikat-Nya; Ia adalah ‘makanan’ laksana amerta yang layak dinikmati para bijak, dan sekaligus Sang Penikmat yang mengalami melalui pribadi yang berwujud. Sabar dan tahan uji, Ia adalah sumber purba jagat, yang menampakkan diri pada awal penciptaan. Tanpa noda dan tanpa dosa, Ia adalah kemenangan tertinggi—unggul dalam pengetahuan, pelepasan, dan kemahakuasaan. Menurut kodrat-Nya Ia menaklukkan semua makhluk; Ia adalah rahim dan sebab semesta, dan Ia adalah ‘Punarvasu’, Yang berulang kali bersemayam dalam penjelmaan berjasad.
भीष्म उवाच
The verse praises the Supreme as both the object of spiritual ‘enjoyment’ (the ambrosial reality realized by the wise) and the inner experiencer, while emphasizing ethical and metaphysical ideals: sinlessness, patience, mastery, and being the universal source. It frames divine greatness not merely as power, but as purity, endurance, and the ground of all existence.
In Anuśāsana Parva, Bhīṣma instructs Yudhiṣṭhira on dharma and extols the Supreme through a litany of divine names (commonly aligned with the Viṣṇu-sahasranāma tradition). This verse is one segment of that praise, enumerating epithets that describe the deity’s cosmic origin, inner lordship, and recurring presence in the world.