धनुर्धरो धनुर्वेदो दण्डो दमयिता दम: । अपराजित: सर्वसहो नियन्ता नियमोडयम:
dhanurdharo dhanurvedo daṇḍo damayitā damaḥ | aparājitaḥ sarvasaho niyantā aniyamo 'yamaḥ ||
Bhīṣma berkata: Baginda ialah pemegang busur dan juga ilmu memanah itu sendiri; Baginda ialah tongkat hukuman, yang mendisiplinkan, dan disiplin itu sendiri. Tidak terkalahkan oleh musuh, mampu menanggung segala-galanya, Baginda ialah pengatur yang menempatkan makhluk pada tugas masing-masing—namun Baginda tidak terikat oleh sebarang peraturan, tidak tertakluk kepada kawalan luar, Yang Maha Merdeka.
भीष्म उवाच
True authority combines martial competence (dhanurdhara, dhanurveda) with ethical governance: punishment (daṇḍa) is meant to discipline and reform (dama), the ruler must be resilient (sarvasaha) and invincible in resolve (aparājita), and the highest sovereignty is self-governed—answerable to no coercive power (aniyama, ayama).
In Anuśāsana Parva, Bhīṣma continues his instruction by praising an exemplary figure through a chain of epithets, portraying the ideal upholder of order: a master archer and a just disciplinarian who regulates society while remaining supremely independent.