Karma, Preta-gati, and the Continuity of Phala
Mārkaṇḍeya’s Instruction
एवं वै सुखदु:खाभ्यां हीनमस्ति पद क्वचित् | एषा मम मति: सर्प यथा वा मन्यते भवान्,अब तुमने जो यह कहा कि सुख-दुःखसे रहित कोई दूसरा वेद्य तत्त्व है ही नहीं, सो तुम्हारा यह मत ठीक है। सुख-दुःखसे शून्य कोई पदार्थ नहीं है। किंतु एक ऐसा पद है भी। जिस प्रकार बर्फमें उष्णता और अग्निमें शीतलता कहीं नहीं रहती, उसी प्रकार जो वेद्य-पद है, वह वास्तवमें सुख-दुःखसे रहित ही है। नागराज! मेरा तो यही विचार है, फिर आप जैसा मानें
evaṁ vai sukha-duḥkhābhyāṁ hīnam asti pada kvacit | eṣā mama matiḥ sarpa yathā vā manyate bhavān |
Yudhiṣṭhira berkata: “Wahai ular! Benarkah ada di mana pun suatu keadaan yang sepenuhnya tanpa suka dan duka? Inilah pemahamanku—namun terserah bagaimana engkau menilainya. Dalam pengalaman biasa, tak ada sesuatu pun yang benar-benar kosong dari bahagia dan nestapa; namun tetap disebut adanya suatu ‘tingkatan’ yang sungguh melampaui keduanya. Sebagaimana panas tak terdapat pada es, dan sejuk tak terdapat pada api, demikian pula keadaan tertinggi yang dapat diketahui itu pada hakikatnya bebas dari suka dan duka. Wahai raja para nāga, inilah pendapatku yang mantap; putuskanlah sesukamu.”
युधिछिर उवाच
Yudhiṣṭhira distinguishes ordinary lived experience—where pleasure and pain seem inseparable—from the possibility of a highest knowable state (pada) that is genuinely beyond both. The verse frames liberation-like freedom as a qualitative transcendence, illustrated by the analogy that heat cannot exist in ice and coolness cannot exist in fire.
In a philosophical exchange in the Vana Parva, Yudhiṣṭhira addresses a serpent (Nāga), presenting his reasoned position about whether any ‘state’ exists that is free from sukha and duḥkha, while courteously allowing the interlocutor to judge the matter.