Nāgendra–Brāhmaṇa Saṃvāda: Praśna-vidhi and Dharmic Approach on the Gomatī Riverbank
भूतप्रलयमत्यन्तं शृणुष्व नृपसत्तम
vaiśaṃpāyana uvāca | bhūta-pralayam atyantaṃ śṛṇuṣva nṛpa-sattama |
Waiśaṃpāyana berkata: “Wahai raja termulia, dengarkan kisah pralaya terakhir dari unsur-unsur. Pada zaman purba, bumi ini larut ke dalam air samudra tunggal; air larut ke dalam api; api ke dalam angin; angin ke dalam ruang; ruang ke dalam batin (manas); batin ke dalam prinsip yang termanifestasi (mahat); yang termanifestasi kembali ke Prakṛti yang tak termanifestasi; yang tak termanifestasi larut ke dalam Puruṣa—Īśvara yang berserta māyā—dan Puruṣa itu pun larut ke dalam Diri Tertinggi yang meliputi segalanya. Saat itu, di mana-mana hanya ada kegelapan; selain itu tak ada apa pun yang dapat dikenali.”
वैशग्पायन उवाच
All compounded realities—starting from the gross elements and extending through mind and cosmic principles—are impermanent and ultimately dissolve back into subtler causes, culminating in the all-pervading Supreme Self. The passage encourages detachment and a perspective grounded in ultimate reality rather than transient forms.
Vaiśaṃpāyana addresses a king and begins describing the ‘ultimate dissolution’ (atyanta-pralaya): earth merges into water, water into fire, fire into wind, wind into space, space into mind, mind into mahat (the manifest), mahat into prakṛti (the unmanifest), prakṛti into īśvara/puruṣa, and finally into Paramātman—after which only darkness is perceived.