ऋतु: सुदर्शन: काल: परमेष्ठी परिग्रह: । उग्र: संवत्सरो दक्षो विश्रामो विश्वदक्षिण:
ṛtuḥ sudarśanaḥ kālaḥ parameṣṭhī parigrahaḥ | ugraḥ saṃvatsaro dakṣo viśrāmo viśvadakṣiṇaḥ ||
Bhīṣma berkata: Ia adalah Ṛtu—wujud musim-musim; Ia Sudarśana—yang dengan mudah menganugerahkan penglihatan-Nya kepada para bhakta; Ia Kāla—waktu yang menghitung segala. Ia Parameṣṭhī—bersemayam dalam kemuliaan tertinggi; Ia Parigraha—yang direngkuh sebagai perlindungan dari segala arah. Ia Ugra—menggetarkan bahkan para dewa; Ia Saṃvatsara—Tahun yang menjadi tempat tinggal dan penopang semua makhluk. Ia Dakṣa—maha cakap menuntaskan setiap karya; Ia Viśrāma—pemberi istirahat terakhir, mokṣa, bagi yang merindukan pembebasan; dan Ia Viśvadakṣiṇa—yang kepada-Nya seluruh dunia dipersembahkan sebagai daksina dalam yajña.
भीष्म उवाच
The verse presents the Divine as both immanent and transcendent: the regulator of cosmic rhythms (seasons, year, time), the refuge of devotees, the awe-inspiring power behind even the gods, and the giver of liberation. Ethically, it frames dharma as aligning oneself with this cosmic order through devotion, sacrifice, and the pursuit of final release.
In Anuśāsana Parva, Bhīṣma instructs Yudhiṣṭhira on dharma and extols the Supreme through a litany of names (a sahasranāma-style praise). This verse is a segment of that praise, enumerating epithets that describe the Lord’s cosmic functions and salvific role.