अज: सर्वेश्वरः सिद्ध: सिद्धि: सर्वादिरच्युत: । वृषाकपिरमेयात्मा सर्वयोगविनि:सृत:
ajaḥ sarveśvaraḥ siddhaḥ siddhiḥ sarvādir acyutaḥ | vṛṣākapir ameyātmā sarvayogaviniḥsṛtaḥ ||
Bhīṣma berkata: Ia tak terlahirkan; Tuhan di atas segala tuhan; senantiasa sempurna. Dialah pencapaian yang dicari semua, sebab pertama segala makhluk, dan Yang Tak Pernah Gagal—tak pernah menyimpang dari hakikat-Nya pada masa mana pun. Ia adalah Vṛṣākapi, perwujudan dharma dan rupa Varāha; hakikat-Nya tak terukur, dan Ia disadari melalui segala laku disiplin dan sarana yoga yang diajarkan dalam śāstra.
भीष्म उवाच
The verse presents the Supreme as unborn, unchanging, and the ultimate goal (siddhi) of all striving. Ethically, it frames dharma and spiritual practice as oriented toward realizing an unerring, immeasurable divine reality that remains steady in its own nature.
In Anuśāsana Parva, Bhīṣma instructs and praises the Supreme through a chain of divine names and attributes. Here he enumerates epithets that describe the deity’s transcendence (unborn, immeasurable), sovereignty (Lord of all), and accessibility through śāstric yogic disciplines.