आत्मयोनि: स्वयंजातो वैखान: सामगायन: । देवकीनन्दन: स्रष्टा क्षितीश: पापनाशन:
ātmayoniḥ svayaṃjāto vaikhānaḥ sāmagāyanaḥ | devakīnandanaḥ sraṣṭā kṣitīśaḥ pāpanāśanaḥ ||
Bhishma berkata: Ia adalah yang bersebab pada diri-Nya sendiri, yang menampakkan diri dengan kehendak-Nya; Vaikhāna (penjelmaan Varāha yang mengangkat bumi demi membinasakan Hiraṇyākṣa); pelantun kidung-kidung Sāman; putra terkasih Devakī; Sang Pencipta; Penguasa bumi; dan Pemusnah dosa. Dengan mengingat, memuji, menyembah, dan bermeditasi kepada-Nya, tumpukan kesalahan yang terkumpul pun lenyap—demikian Bhishma menyanjung-Nya sebagai sandaran dharma dan penyuci bagi para pencari kebenaran.
भीष्म उवाच
The verse teaches that the divine—self-existent, creator, and sovereign—also functions as a moral purifier: sincere remembrance, praise, worship, and meditation eradicate accumulated sin and reorient a person toward dharma.
In Anuśāsana Parva, Bhīṣma instructs Yudhiṣṭhira on dharma and supports his teaching with devotional praise. Here he strings together epithets of the supreme deity (identified with Kṛṣṇa and also with cosmic/avatāra forms like Varāha) to emphasize divine power, protection, and the capacity to cleanse wrongdoing.