९०६ अरौद्र:-सब प्रकारके रुद्र (क्रूर) भावोंसे रहित शान्तिमूर्ति
araudraḥ, kuṇḍalī, cakrī, vikramī, ūrjitaśāsanaḥ, śabdātigaḥ, śabdasahaḥ, śiśiraḥ, śarvarīkaraḥ
Bhīṣma merangkai gelar-gelar-Nya: Ia Araudra—bebas dari keganasan seperti Rudra, wujud kedamaian; Ia mengenakan anting berbentuk makara yang berkilau laksana matahari; Ia memanggul cakra Sudarśana; keberanian-Nya tiada banding; pemerintahan-Nya—berlandaskan śruti dan smṛti—paling berwibawa. Ia melampaui jangkauan kata-kata dan bukan objek ujaran; namun Ia menanggung dengan sabar ucapan keras yang diarahkan kepada-Nya. Ia menyejukkan mereka yang terbakar oleh tiga derita; dan Ia ‘menciptakan malam’ dalam dua makna: bagi yang bijak, dunia menjadi gelap (tak bernilai), sedangkan bagi yang bodoh, pengetahuan sejati tetap seperti malam—tersembunyi.
भीष्म उवाच
The verse teaches that the highest divine power combines supreme authority with supreme restraint: though beyond speech and unrivaled in might, the Lord remains peaceful, patient under insult, and cooling to those in distress—modeling dharmic strength as self-mastery and compassionate governance grounded in śruti and smṛti.
Bhīṣma is reciting a sequence of divine epithets (as in the Viṣṇu-sahasranāma tradition) to describe the Lord’s nature—His symbols (earrings, discus), His ethical qualities (non-cruelty, forbearance), His transcendence (beyond words), and His cosmic function of differentiating the experience of ignorance and wisdom.