भीष्मस्योत्तरायणप्रतीक्षा तथा युधिष्ठिरागमनम् | Bhīṣma’s uttarāyaṇa moment and Yudhiṣṭhira’s arrival
सनत्कुमारप्रमुखास्तिष्ठन्ति तपसान्विता: । तस्मात् स वाग्मी धर्मज्ञो नमस्यो द्विजपुज्रवा:
sanatkumārapramukhās tiṣṭhanti tapasānvitāḥ | tasmāt sa vāgmī dharmajño namasyo dvijapuṅgavaḥ ||
Sanatkumāra dan para resi utama lainnya berdiam, dipenuhi daya tapa. Karena itu, wahai yang terbaik di antara kaum dwija, Tuhan yang fasih dan mengetahui dharma itu—Vāsudeva, Yang Mahameresapi—patut disembah dengan hormat; sebab pemujaan kepada Yang Mahatinggi membawa tercapainya dharma tertinggi. Ia adalah dewa yang agung dan bercahaya. Demi kesejahteraan rakyat, Sang Narasiṃha Śrī Kṛṣṇa menciptakan berjuta-juta resi agar dharma dapat ditegakkan melalui laku suci. Para resi ciptaan-Nya, Sanatkumāra dan yang lain, senantiasa bertapa di Gunung Gandhamādana; maka hendaklah engkau selalu bersujud kepada Vāsudeva, yang mahir bertutur dan arif dalam dharma.
ईश्वर उवाच
The verse teaches that the highest dharma is attained through reverent devotion to the Supreme—who is eloquent and perfectly knows dharma—and that the exemplary austerities of sages like Sanatkumāra model steadfast spiritual discipline; therefore, one should continually offer salutations to that Lord.
Īśvara speaks, pointing to Sanatkumāra and other great sages who remain absorbed in tapas, and uses their presence as evidence of the Lord’s dharmic order; the listener (addressed as ‘best of the twice-born’) is instructed to honor and bow to the dharma-knowing, eloquent divine figure (contextually identified with Vāsudeva).