Śiva-nāmānukīrtana-prastāvaḥ
Prologue to the praise of Śiva and the Upamanyu testimony
वाय्वाहारैरम्बुपैर्जप्यनित्यै: सम्प्रक्षालैयोंगिभिर्ध्याननित्यै: । धूमप्राशैरूष्मपै: क्षीरपैश्न संजुष्टं च ब्राह्मणेन्द्रै: समन्तात्
vāyvāhārair ambupair japyānityaiḥ samprakṣālair yogibhir dhyānanityaiḥ | dhūmaprāśair ūṣmapaiḥ kṣīrapaiś ca saṃjuṣṭaṃ ca brāhmaṇendraiḥ samantāt ||
Di sekeliling tempat itu tinggal para Brahmana terkemuka. Sebagian hidup hanya dengan “makan angin”, sebagian bertahan dengan minum air; sebagian lagi senantiasa tekun dalam japa, pengulangan mantra suci. Ada pertapa yang menyucikan batin melalui laku pembersihan diri, sementara para yogin tetap tenggelam dalam meditasi. Yang lain hidup dari asap api kurban, dari panas tapa, atau dari susu—semuanya menampakkan dharma melalui pengendalian dan pengekangan diri.
वासुदेव उवाच
The verse highlights dharma expressed through disciplined living: restraint in food and comfort, steady japa and meditation, and inner purification. It presents multiple legitimate ascetic modes, emphasizing sincerity and self-control rather than a single uniform practice.
Vāsudeva describes a place (or setting) densely inhabited by eminent Brahmins and yogins. He lists the varied austerities they practice—living on air, water, milk, sacrificial smoke, or heat—along with constant japa, meditation, and mental purification.