कृपकृपी-जननम्
The Birth of Kṛpa and Kṛpī; Kṛpa’s Attainment of Astras
दत्त: क्रीतः कृत्रिमश्न॒ उपगच्छेत् स्वयं च यः । सहोढो ज्ञातिरेताश्व हीनयोनिधृतश्च यः
dattaḥ krītaḥ kṛtrimāś ca upagacchet svayaṃ ca yaḥ | sahūḍho jñātiretāś ca hīnayoni-dhṛtaś ca yaḥ ||
Waiśampāyana berkata: “Inilah putra-putra yang digolongkan sebagai a-bandhu-dāyāda (bukan ahli waris sedarah): (1) putra ‘diberikan’ (datta)—yang diserahkan secara resmi oleh orang tuanya; (2) putra ‘dibeli’ (krīta)—yang diperoleh dengan pembayaran; (3) putra ‘kṛtrima’—yang datang dengan kehendaknya sendiri seraya berkata, ‘Aku putramu’; (4) putra sahūḍha—yang lahir dari rahim pengantin yang telah mengandung saat pernikahan; (5) putra jñātiretā—yang diperanakkan oleh seorang kerabat dalam garis keluarga; dan (6) putra dari perempuan yang berasal dari kedudukan sosial lebih rendah. Semua ini termasuk a-bandhu-dāyāda.”
वैशम्पायन उवाच
The verse classifies certain socially recognized forms of sonship that do not arise from direct blood descent, indicating how dharma-text traditions distinguished between biological lineage and legally/socially constituted heirs for purposes such as inheritance and family continuity.
Vaiśampāyana is enumerating categories of ‘sons’ acknowledged in traditional legal-ethical discourse, explaining which kinds are considered non-agnatic heirs (abandhu-dāyāda) and defining each type by the manner of acquisition or birth circumstances.