Adhyaya 258
VyavaharaAdhyaya 25899 Verses

Adhyaya 258

Ṛग्विधानम् (Ṛgvidhāna) — Applications of Ṛgvedic Mantras through Japa and Homa

Bab ini beralih dari tema hukum-etika sebelumnya menuju pedoman liturgi yang praktis. Agni memperkenalkan tata cara Veda menurut Puṣkara (Ṛk, Yajus, Sāma, Atharva) sebagai pemberi bhukti dan mukti, terutama melalui japa dan homa. Puṣkara lalu menguraikan Ṛgvidhāna: japa Gāyatrī (di air dan dalam homa) disertai prāṇāyāma, laku bertahap dengan 10.000 dan 100.000 ulangan, serta japa Oṁ sebagai Brahman tertinggi yang menghancurkan dosa. Dipaparkan berbagai mantra-prayoga untuk penyucian, umur panjang, kecerdasan, kemenangan, keselamatan perjalanan, pengekangan musuh, penenangan mimpi, penyembuhan, bantuan persalinan, pemanggilan hujan, keberhasilan debat, dan kemakmuran pertanian; sering ditautkan pada waktu (fajar/tengah hari/senja), tempat (air, perempatan, kandang sapi, ladang), dan disiplin (puasa, sedekah, mandi suci). Penutupnya menegaskan dharma prosedural: dakṣiṇā setelah homa, pemberian makanan dan emas, bersandar pada berkat brāhmaṇa, serta bahan-bahan yang ditentukan—menunjukkan teknologi ritual tertanam dalam tatanan etis dan pemurnian.

Shlokas

Verse 1

इत्य् आग्नेये महापुराणे वाक्पारुष्यादिप्रकरणं नाम सप्तपञ्चाशदधिकद्विशतत्मो ऽध्यायः अथाष्टपञ्चाशदधिकद्विशततमो ऽध्यायः ऋग्विधानं अग्निर् उवाच ऋग्यजुःसामाथर्वविधानं पुष्करोदितम् भुक्तिमुक्तिकरं जप्याद्धोमाद्रामाय तद्वदे

Demikianlah dalam Agni Mahāpurāṇa, bab bernama “Tentang kekasaran ucapan dan hal-hal terkait” adalah bab ke-257. Kini dimulai bab ke-258, “Ṛgvidhāna”. Agni bersabda: “Tata cara mengenai Ṛg, Yajus, Sāma, dan Atharva sebagaimana diajarkan Puṣkara, menganugerahkan kenikmatan duniawi dan pembebasan. Hendaknya itu dipraktikkan melalui japa dan homa bagi Rāma, dan demikian pula menurut ketentuan bagi yang lainnya.”

Verse 2

पुष्कर उवाच प्रतिवेदन्तु कर्माणि कार्याणि प्रवदामि ते प्रथमं ऋग्विधानं वै शृणु त्वं भुक्तिमुक्तिदम्

Puṣkara berkata: “Aku akan menjelaskan kepadamu perbuatan dan kewajiban yang harus dilakukan menurut masing-masing Veda. Pertama, dengarkanlah Ṛgvidhāna; sungguh ia menganugerahkan kenikmatan duniawi dan pembebasan.”

Verse 3

अन्तर्जले तथा होमे जपती मनसेप्सितम् कामं करोति गायत्री प्राणायामाद्विशेषतः

Ketika Gāyatrī dijapa—baik sambil berdiri di dalam air (saat mandi ritual) maupun ketika homa—ia mewujudkan tujuan yang diinginkan dalam batin, terutama bila disertai prāṇāyāma.

Verse 4

गायत्र्या दशसाहस्रो जपो नक्ताशनो द्विज बहुस्नातस्य तत्रैव सर्वकल्मषनाशनः

Wahai dwija, dengan menjalankan tapa makan hanya pada malam hari serta mandi ritual berulang-ulang, japa Gāyatrī sepuluh ribu kali menjadi, dalam laku itu sendiri, penghancur segala kekotoran (dosa).

Verse 5

दशायुतानि जप्त्वाथ हविष्याशी स मुक्तिभाक् प्रणवो हि परं ब्रह्म तज्जपः सर्वपापहा

Kemudian setelah menjapa seratus ribu kali dan hidup dengan havis (makanan persembahan yajña), ia menjadi penerima mokṣa. Sebab Praṇava ‘Oṁ’ adalah Brahman Tertinggi; japa-Nya melenyapkan semua dosa.

Verse 6

ओंकारशतजप्तन्तु नाभिमात्रोदके स्थितः जलं पिवेत् स सर्वैस्तु पापैर् वै विप्रमुच्यते

Setelah menjapa suku kata Oṁ seratus kali, berdirilah di air setinggi pusar lalu minumlah air; dengan tindakan itu ia sungguh terbebas sepenuhnya dari segala dosa.

Verse 7

मात्रात्रयं त्रयो वेदास्त्रयो देवास्त्रयो ऽग्नयः महाव्याहृतयः सप्त लोका होमो ऽखिलाघहा

Tiga ukuran suci (mātrā) Gāyatrī, tiga Veda, tiga dewa, dan tiga api; tujuh Mahāvyāhṛti serta tujuh loka—(dengan demikian) Homa adalah pemusnah segala dosa.

Verse 8

गायत्री परमा जाप्या महाव्याहृतयस् तथा अन्तर्जले तथा राम प्रोक्तश् चैवाघमर्षणः

Gāyatrī adalah mantra japa yang paling utama; demikian pula Mahāvyāhṛti. Japa juga dilakukan di dalam air; dan Aghamarṣaṇa (himne) yang diajarkan oleh Rāma pun dipakai untuk menyingkirkan dosa.

Verse 9

अग्निमीले पुरोहितं सूत्को ऽयं वह्निदैवतः पापैर् हि विप्रमुच्यत इति ग , घ , ञ च शिरसा धारयन् वह्निं यो जपेत्परिवत्सरम्

Barangsiapa menanggung api secara meditasi di atas kepala dan selama satu tahun penuh melafalkan mantra Sūtka “Agnim īḷe, purohitaṃ”—berdewa pelindung Vahni—seraya menyatakan “dengan ini sungguh terbebas dari dosa”, bersama suku kata ga, gha, dan ña, ia terbebas dari noda dosa.

Verse 10

होमं त्रिषवणं भैक्ष्यमनग्निज्वलनञ्चरेत् अतः परमृचः सप्त वाय्वाद्या याः प्रकीर्तिताः

Ia hendaknya melakukan homa pada tiga waktu harian, hidup dari sedekah, dan menjalankan laku menyalakan api tanpa api yang tampak. Sesudah itu, tujuh bait Ṛk yang telah diajarkan, dimulai dengan dewa Vāyu dan seterusnya, patut dilantunkan.

Verse 11

ता जपन् प्रयतो नित्यमिष्टान् कामान् समश्नुते मेधाकामो जपेन्नित्यं सदसन्यमिति त्यचम्

Dengan melafalkan Ṛk-ṛk itu setiap hari dengan disiplin, seseorang memperoleh tujuan yang diinginkan. Barangsiapa menghendaki medhā (kecerdasan), hendaknya senantiasa melafalkan mantra Tyaca: “sadasanyam”.

Verse 12

अन्वयो यन्निमाः प्रोक्ताः नवर्चो मृत्युनाशनाः शुनःशेफमृषिं बद्धः सन्निरुद्धो ऽथ वा जपेत्

Menurut anvaya (susunan makna) yang tepat, sembilan Ṛk yang diajarkan ini adalah penghancur kematian. Seseorang yang terikat atau dipenjara hendaknya melafalkannya, meneladani resi Śunaḥśepha yang pernah terbelenggu dan tertahan.

Verse 13

मुच्यते सर्वपापेभ्यो गदी वाप्यगदो भवेत् य इच्छेच्छाश्वतं कामं मित्रं प्राज्ञं पुरन्दरं

Ia terbebas dari segala dosa; dan ia menjadi pemegang gada (kesatria perkasa) atau menjadi bebas dari penyakit. Siapa yang menginginkan pemenuhan hasrat yang lestari hendaknya menjadikan Purandara (Indra) sebagai sahabat yang bijaksana dan pelindung.

Verse 14

ऋग्भिः षोड्शभिः कुर्यादिन्द्रियस्येति दिने दिने हिरण्यस्तूपमित्येतज्जपन् शत्रून् प्रबाधते

Seseorang hendaknya melakukan japa/ritus setiap hari dengan enam belas Ṛg-ṛcā menurut rumusan ‘indriyasya’. Dengan mengulang-ulang mantra yang bermula “hiraṇyastūpam…”, ia menundukkan para musuh.

Verse 15

क्षेमी भवति चाध्वानो ये ते पन्था जपन् नरः रौद्रीभिःषड्भिरीशानं स्तूयाद्यो वै दिने दिने

Jalan-jalan perjalanan menjadi aman; orang yang di perjalanan melafalkan mantra “ye te panthāḥ …” memperoleh ketenteraman. Siapa yang memuji Īśāna setiap hari dengan enam rumusan Raudrī, meraih keselamatan dan kesejahteraan.

Verse 16

चरुं वा कल्पयेद्रौद्रं तस्य शान्तिः परा भवेत् उदित्युदन्तमादित्यमुपतिष्ठन् दिने दिने

Atau hendaknya menyiapkan raudra-caru, persembahan penenteram bagi gangguan yang ganas; dengan itu diperoleh kedamaian tertinggi. Dan setiap hari saat matahari terbit, menghadap arah terbitnya, hendaknya memuja Āditya.

Verse 17

क्षिपेज्जलाञ्जलीन् सप्त मनोदुःखविनाशनं द्विषन्तमित्यथार्धर्चं यद्विप्रान्तं जपन् स्मरेत्

Hendaknya ia menuangkan tujuh persembahan air dengan kedua telapak tangan; ini melenyapkan duka batin. Lalu sambil melafalkan setengah bait yang bermula “dviṣantam…”, hendaknya ia mengingat maknanya sebagaimana diajarkan para brāhmaṇa terpelajar.

Verse 18

आगस्कृत् सप्तरात्रेण विद्वेषमधिगच्छति आरोग्यकामी रोगी वा प्रस्कन्नस्योत्तमं जपेत्

Orang yang melakukan pelanggaran akan mendatangkan permusuhan dalam tujuh malam. Pencari kesehatan—bahkan orang sakit—hendaknya melafalkan mantra unggul yang ditetapkan bagi mereka yang tertimpa gangguan/penyakit.

Verse 19

उत्तमस्तस्य चार्धर्चो जपेद्वै विविधासने उदयत्यायुरक्ष्यय्यं तेजो मध्यन्दिने जपेत्

Di antara semuanya, pelaku tertinggi hendaknya melafalkan mantra itu beserta setengah ṛc sambil duduk dalam berbagai āsana. Jika dijapa saat matahari terbit, ia memberi umur panjang yang tak binasa; jika dijapa pada tengah hari, ia menganugerahkan cahaya-energi dan daya.

Verse 20

सन्निबद्धो ऽथेति क , ख , ज च अस्तं प्रतिगते सूर्ये द्विषन्तं प्रतिबाधते न वयश्चेति सूक्तानि जपन् शत्रून्नियच्छति

Setelah matahari terbenam, dengan kesiapan yang benar, hendaknya ia menjapa suku kata “ka, kha, dan ja”; dengan itu ia menghalangi dan menahan orang yang memusuhi. Dengan mengulang rumusan himne yang diawali “na vayaḥ…”, ia mengekang para musuh.

Verse 21

एकादश सुपर्णस्य सर्वकामान्विनिर्दिशेत् आध्यात्मिकीः क इत्य् एता जपन्मोक्षमवाप्नुयात्

Untuk pencapaian semua tujuan yang diinginkan, hendaknya ditetapkan rumusan mantra Suparṇa yang berlipat sebelas. Dengan menjapa suku kata ‘ka’ dan seterusnya yang bersifat adhyātmika (batiniah), seseorang meraih mokṣa.

Verse 22

आ नो भद्रा इत्य् अनेन दीर्घमायुरवाप्नुयात् त्वं सोमेति च सूक्तेन नवं पश्येन्निशाकरं

Dengan melafalkan mantra yang diawali “ā no bhadrāḥ…”, seseorang memperoleh umur panjang. Dan dengan himne yang diawali “tvaṃ soma…”, ia dapat menyaksikan bulan yang baru terbit, sang pembuat malam.

Verse 23

उपतिष्ठेत् समित्पाणिर्वासांस्याप्नोत्यसंशयं आयुरीप्सन्निममिति कौत्स सूक्तं सदा जपेत्

Hendaknya ia menghadap dengan kayu bakar suci (samit) di tangan; dengan itu ia tanpa ragu memperoleh pakaian. Orang yang mendambakan umur panjang hendaknya senantiasa menjapa himne Kautsa yang diawali kata “imam iti”.

Verse 24

आपनः शोशुचदिति स्तुत्वा मध्ये दिवाकरं यथा मुञ्चति चेषोकां तथा पापं प्रमुञ्चति

Dengan memuji (dewa) dengan kata-kata “āpanaḥ śośucad…”, sebagaimana matahari pada tengah hari melepaskan sinarnya, demikian pula seseorang menanggalkan dosa.

Verse 25

जातवेदस इत्य् एतज्जपेत् स्वस्त्ययनं पथि भयैर् विमुच्यते सर्वैः स्वस्तिमानाप्नुयात् गृहान्

Di perjalanan, mengucapkan mantra yang diawali “jātavedasa…” sebagai svastyayana membebaskan seseorang dari segala ketakutan dan mengantarkannya pulang dengan selamat serta penuh berkah.

Verse 26

व्युष्टायाञ्च तथा रात्र्यामेतद्दुःस्वप्ननाशनं प्रमन्दिनेति सूयन्त्या जपेद्गर्भविमोचनं

Pada fajar dan juga malam, japa ini menghancurkan mimpi buruk. Dan saat persalinan, perempuan hendaknya mengulang mantra yang diawali “pramandine…”, demi pelepasan janin, yakni memudahkan kelahiran.

Verse 27

जपन्निन्द्रमिति स्नातो वैश्यदेवन्तु सप्तकं मुञ्चत्याज्यं तथा जुह्वत् सकलं किल्विषं नरः

Sambil melafalkan mantra yang diawali “indram…”, setelah mandi dan melaksanakan Vaiśvadeva tujuh kali, seseorang mempersembahkan ghee ke dalam api dan dengan demikian menanggalkan seluruh dosa.

Verse 28

इमामिति जपन् शश्वत् कामानाप्नोत्यभीप्सितान् मानस्तोक इति द्वाभ्यां त्रिरात्रोपोषितः शुचिः

Dengan terus-menerus melafalkan mantra yang diawali “imām…”, seseorang memperoleh keinginan yang didambakan. Dan setelah berpuasa tiga malam serta tetap suci, hendaknya melafalkan dua mantra yang diawali “māna” dan “stoka”.

Verse 29

औडुम्बरीश् च जुहुयात्समिधश्चाज्यसंस्कृताः छित्त्वा सर्वान्मृत्युपाशान् जीवेद्रोगविवर्जितः

Seseorang hendaknya mempersembahkan ke dalam api kayu bakar auḍumbarī (udumbara/ara bergerombol) yang telah diolesi ghee. Dengan demikian ia memutus semua jerat Kematian dan hidup bebas dari penyakit.

Verse 30

ऊर्ध्वबाहुरनेनैव स्तुत्वा सम्भुं तथैव च मानस्तोकेति च ऋचा शिखाबन्धे कृते नरः

Dengan mengangkat kedua lengan, hendaknya seseorang memuji Śambhu (Śiva) dengan cara ini. Demikian pula, ketika mengikat sanggul puncak (śikhā-bandha), ia melafalkan Ṛk yang bermula dengan “mā naḥ stoke…”.

Verse 31

अघृष्यः सर्वभूतानां जायते संशयं विना चित्रमित्युपतिष्ठेत त्रिसन्ध्यं भास्करं तथा

Ia menjadi tak tersentuh dan tak terkalahkan oleh semua makhluk, tanpa keraguan. Demikian pula, ia hendaknya memuja Bhāskara (Matahari) pada tiga sandhyā dengan invokasi “Citram”.

Verse 32

समित्पाणिर्नरो नित्यमीप्सितं धनमाप्नुयात् अथ स्वप्नेति च जपन् प्रातर्मध्यन्दिने दिने

Seorang pria yang memegang kayu bakar (samit) senantiasa memperoleh kekayaan yang diinginkannya. Sambil melakukan japa “atha svapne”, hendaknya ia melakukannya setiap hari pada waktu fajar dan tengah hari.

Verse 33

दुःस्वप्नञ्चार्हते कृत्स्नं भोजनञ्चाप्नुयाच्छुभम् उभे पुमानिति तथा रक्षोघ्नः परिकीर्तितः

Ia menyingkirkan seluruh mimpi buruk dan memperoleh santapan yang membawa keberkahan. Demikian pula, ungkapan “ubhe pumān” juga diproklamasikan sebagai pembunuh rākṣasa (makhluk jahat).

Verse 34

उभे वासा इति ऋचो जपन् कामानवाप्नुयात् न सागन्निति च जपन् मुच्यते चाततायिनः

Dengan melafalkan Ṛk yang diawali “ubhe vāsā”, seseorang memperoleh kenikmatan dan tujuan yang diinginkan; dan dengan melafalkan Ṛk yang diawali “na sāgann”, ia terbebas bahkan dari dosa sebagai ātatāyin (penyerang kejam).

Verse 35

कया शुभेति च जपन् जातिश्रैष्ठमवाप्नुयात् इमन्नृसोममित्येतत् सर्वान् कामानवाप्नुयात्

Dengan mengulang mantra “kayā śubheti” dalam japa, seseorang meraih keunggulan dan kemuliaan kelahiran; dan dengan mengulang “imannṛsomam”, semua tujuan yang diinginkan terpenuhi.

Verse 36

पितरित्युपतिष्ठेत नित्यमर्थमुपस्थितं अग्ने नयेति सूक्तेन घृतहोमश् च मार्गगः

Seseorang hendaknya setiap hari berdiri dalam penghormatan dengan seruan “O para Pitaraḥ!”, senantiasa tekun pada maksud ritus; dan dengan himne yang diawali “Agne naya…”, ia mempersembahkan homa ghee, sehingga (yang wafat) dituntun menempuh jalan yang benar.

Verse 37

वीरान्नयमवाप्नोति सुश्लोकं यो जपेत् सदा कङ्कतो नेति सूक्तेन विषान् सर्वान् व्यपोहति

Siapa yang senantiasa melafalkan śloka yang mulia ini, ia mencapai keadaan/jalan para pahlawan; dan dengan melafalkan himne yang diawali “kaṅkato neti”, ia menyingkirkan segala racun.

Verse 38

यो जात इति सूक्तेन सर्वान् कामानवाप्नुयात् गणानामिति सूक्तेन श्निग्धमाप्नोत्यनुत्तमं

Dengan melafalkan himne yang diawali “yo jātaḥ…”, seseorang memperoleh semua tujuan yang diinginkan; dan dengan melafalkan himne yang diawali “gaṇānām…”, ia meraih kemakmuran yang tiada banding serta anugerah dan kasih sayang.

Verse 39

यो मे राजन्नितीमान्तु दुःस्वप्नशमनीमृचं अध्वनि प्रस्थितो यस्तु पश्येच्छत्रूं समुत्थितं

Wahai Raja, siapa pun yang berangkat menempuh perjalanan sambil melafalkan ṛc milikku yang menenangkan mimpi buruk; bila ia melihat musuh bangkit menghadang, hendaknya ia mengulanginya sebagai perlindungan.

Verse 40

अप्रशस्तं प्रशस्तं वा कुविदङ्ग इमं जपेत् द्वाविंशकं जपन् सूक्तमाध्यात्मिकमनुत्तमं

Baik keadaan dianggap tidak mujur maupun mujur, bahkan orang yang tidak terampil dalam vedāṅga pun hendaknya mengulanginya; dengan melafalkan himne rohani yang tiada banding ini, yang terdiri dari dua puluh dua bait, tujuan tercapai.

Verse 41

पर्वसु प्रयतो नित्यमिष्टान् कामान् समश्नुते कृणुष्वेति जपन् सूक्तं जुह्वदाज्यं समाहितः

Pada hari-hari parva yang suci, orang yang senantiasa berdisiplin memperoleh keinginan yang diidamkan. Dengan batin terpusat, hendaknya ia melafalkan himne sambil mengulang formula “kṛṇuṣva” dan mempersembahkan ghee sebagai oblation.

Verse 42

भोजनञ्चाप्नुयाच्छतमिति ख , ग , घ , ज च नित्यमन्नमुपस्थितमिति क , छ च आरातीनां हरेत् प्राणान् रक्षांस्यपि विनाशयेत् उपतिष्ठेत् स्वयं वह्निं परित्यृचा दिने दिने

“Makanan diperoleh seratus kali lipat”—demikian menurut resensi kha, ga, gha, dan ja; dan “makanan senantiasa tersedia”—demikian menurut resensi ka dan cha. Dengan pemujaan harian demikian, ia merenggut napas kehidupan para musuh dan membinasakan makhluk halus yang jahat; karena itu hendaknya ia sendiri senantiasa menghadiri api suci setiap hari tanpa lalai.

Verse 43

तं रक्षति स्वयं वह्निर्विश्वतो विश्वतोमुखः हंसः शुचिः सदित्येतच्छुचिरीक्षेद्दिवाकरं

Orang itu dilindungi oleh Api sendiri—Yang Mahameresap, bermuka ke segala arah. Dengan meditasi: “Haṃsa itu suci; Sang Surya senantiasa suci,” setelah menjadi suci hendaknya ia memandang Sang Matahari.

Verse 44

कृषिं प्रपद्यमानस्तु स्थालीपाकं यथाविधि जुहुयात् क्षेत्रमध्ये तु स्वनीस्वाहास्तु पञ्चभिः

Saat hendak memulai pertanian, seseorang hendaknya mempersembahkan oblation sthālīpāka menurut tata-aturan. Lalu di tengah ladang ia mempersembahkan lima oblation sambil mengucap “svanī svāhā.”

Verse 45

इन्द्राय च मरुद्भ्यस्तु पर्जन्याय भगाय च यथालिङ्गन्तु विहरेल्लाङ्गलन्तु कृषीबलः

Sang penggarap hendaknya mempersembahkan oblation kepada Indra, para Marut, Parjanya, dan Bhaga. Sesudah itu, menurut tanda-tanda (liṅga) yang ditetapkan, ia melanjutkan tata-ritus; kekuatan pertanian sesungguhnya adalah bajak.

Verse 46

युक्तो धान्याय सीतायै सुनासीरमथोत्तरं गन्धमाल्यैर् नमस्कारैर् यजेदेताश् च देवताः

Dengan persiapan yang semestinya, hendaknya ia memuja Dhānya (Dewa Padi/Grain), Sītā (alur bajak), lalu Sunāsīra, dengan wewangian, rangkaian bunga, dan penghormatan (namaskāra)—demikian memuja para dewa ini.

Verse 47

प्रवापने प्रलवने खलसीतापहारयोः अमोघङ्कर्म भवति वर्धते सर्वदा कृषिः

Dalam penaburan benih, penyiangan/pembersihan, perontokan di lumbung, pembajakan, dan penyingkiran hama, pekerjaan menjadi tak meleset hasilnya; pertanian senantiasa berkembang.

Verse 48

समुद्रादिति सूक्तेन कामानाप्नोति पावकात् विश्वानर इति द्वाभ्यां य ऋग्भ्यां वह्निमर्हति

Dengan melafalkan sūkta yang bermula “samudrāt…”, seseorang memperoleh keinginan-keinginan dari Pāvaka (Agni). Dan dengan dua mantra Ṛgveda yang bermula “viśvānara…”, ia menjadi layak untuk menerima dan melaksanakan pemujaan serta yajña Api (Agni).

Verse 49

स तरत्यापदः सर्वा यशः प्राप्नोति चाक्षयं विपुलां श्रियमाप्नोति जयं प्राप्नोत्यनुत्तमं

Ia melampaui segala malapetaka; memperoleh kemasyhuran yang tak binasa, meraih kemakmuran yang melimpah, dan mendapatkan kemenangan yang tiada tara.

Verse 50

अग्ने त्वमिति च स्तुत्वा धनमाप्नोति वाञ्छितं प्रजाकामो जपेन्नित्यं वरुणदैवतत्रयं

Dengan memuji Agni melalui rumusan yang diawali “Agne, tvam…”, seseorang memperoleh harta yang diinginkan. Yang menghendaki keturunan hendaknya setiap hari melafalkan triad yang berdewa pelindung Varuṇa.

Verse 51

स्वस्त्या त्रयं जपेत् प्रातः सदा स्वस्त्ययनं महत् स्वस्ति पन्था इति प्रोच्य स्वस्तिमान् व्रजते ऽध्वनि

Pada waktu fajar hendaknya selalu melafalkan tiga rumusan “Svastyā”—yakni Svastyayana yang agung. Setelah mengucap, “Semoga jalan ini membawa kesejahteraan,” ia berangkat menempuh perjalanan dengan keberkahan.

Verse 52

विजिगीषुर्वनस्पते शत्रूणां व्याधितं भवेत् स्त्रिया गर्भप्रमूढाया गर्भमोक्षणमुत्तमं

Mantra “Vijigīṣur vanaspate…”: bagi yang menghendaki kemenangan, musuh menjadi terserang penyakit; dan bagi perempuan yang mengalami kesulitan atau hambatan dalam kehamilan, ini merupakan sarana unggul untuk pelepasan janin.

Verse 53

व्याधिकम्भवदिति ट अच्छावदेति सूक्तञ्च वृष्टिकामः प्रयिओजयेत् निराहारः क्लिन्नवासा न चिरेण प्रवर्षति

Yang menghendaki hujan hendaknya melakukan penerapan sesuai tata cara atas mantra “vyādhikambhavad …” serta sūkta yang diawali “acchā vad …”. Dengan berpuasa dan mengenakan pakaian yang dibasahi, hujan turun dalam waktu singkat.

Verse 54

मनसः काम इत्य् एतां पशुकामो नरो जपेत् कर्दमेन इति स्नायात्प्रजाकामः शुचिव्रतः

Seorang yang menginginkan ternak hendaknya melafalkan mantra yang diawali “manasaḥ kāma…”. Orang yang menginginkan keturunan, dengan menjalankan kaul kesucian, hendaknya mandi sambil melafalkan mantra yang diawali “kardamena…”.

Verse 55

अश्वपूर्वा इति स्नायाद्राज्यकामस्तु मानवः राहिते चर्मणि स्नायात् ब्राह्मणस्तु यथाविधि

Orang yang menginginkan kedaulatan hendaknya mandi sambil melafalkan “aśvapūrvā…”. Adapun seorang brāhmaṇa hendaknya mandi menurut tata-aturan, dengan berada di atas kulit ‘rāhita’ (yang telah disucikan dan layak secara ritual).

Verse 56

राजा चर्मणि वैयाघ्रे छागे वैश्यस्तथैव च दशसाहस्रिको होमः प्रत्येकं परिकीर्तितः

Raja hendaknya melaksanakan ritus dengan duduk di atas kulit harimau; demikian pula vaiśya di atas kulit kambing. Bagi masing-masing, ditetapkan homa dengan sepuluh ribu persembahan (oblasi).

Verse 57

आगार इति सूक्तेन गोष्ठे गां लोकमातरं उपतिष्ठेद्व्रजेच्चैव यदिच्छेत्ताः सदाक्षयाः

Dengan himne yang diawali “Āgāra…”, hendaknya ia memuja sapi—‘Ibu dunia’—di kandang sapi, dan juga pergi ke pena ternak. Apa pun anugerah yang diinginkan, menjadi senantiasa tak berkurang dan lestari.

Verse 58

उपेतितिसृभीराज्ञो दुन्दुभिमभिमन्त्रयेत् तेजो बकञ्च प्राप्नोति शत्रुञ्चैव नियच्छति

Saat raja hendak berangkat, ia hendaknya mengonsekrasikan genderang perang (dundubhi) dengan mantra; dengan itu ia memperoleh kewibawaan dan kekuatan, serta mengekang musuh.

Verse 59

तृणपाणिर्जपेत्सूक्तुं रक्षोघ्नं दस्युन्भिर्वृतः ये के च उमेत्यृचं जप्त्वा दीर्घमायुराप्नुयात्

Sambil memegang sehelai rumput di tangan, meski dikepung para perampok, hendaknya ia melafalkan sūkta pemusnah rākṣasa; dan setelah melafalkan ṛcā Ṛgveda yang bermula “ye ke ca…”, ia memperoleh umur panjang.

Verse 60

जीमूतसूक्तेन तथा सेनाङ्गान्यभिमन्त्रयेत् यधा लिङ्गं ततो राजा विनिहन्ति रणे रिपून्

Demikian pula, dengan Jīmūta-sūkta hendaknya ia mengabhimantrakan berbagai bagian pasukan; dan menurut liṅga (tanda-pertanda) yang diperoleh darinya, sang raja menumpas musuh di medan perang.

Verse 61

आग्नेयेति त्रिभिःसूक्तैर् धनमाप्नोति चाक्षयं अमीवहेति सूक्तेन भूतानि स्थापयेन्निशि

Dengan melafalkan tiga sūkta yang bermula “āgneyī…”, seseorang memperoleh kekayaan yang tak binasa; dan dengan sūkta yang bermula “amīvahe…”, ia dapat menahan atau melumpuhkan para bhūta pada malam hari.

Verse 62

सबाधे विषमे दुर्गे बन्धा वा निर्गतः क्वचित् पलायन् वा गृहीतो वा सूक्तमेतत्तथा जपेत्

Saat tertimpa kesusahan, di medan yang tidak rata atau berbahaya, dalam krisis yang berat—baik terbelenggu maupun entah bagaimana terlepas, baik sedang melarikan diri maupun tertangkap—pada saat itu hendaknya ia melafalkan sūkta ini sebagaimana mestinya.

Verse 63

त्रिरात्रं नियतोपोष्य श्रापयेत् पायसञ्चरुं तेनाहुतिशतं पूर्णं जुहुयात् त्र्यम्बकेत्यृचा

Setelah berpuasa dengan tata-aturan selama tiga malam, hendaknya ia menahbiskan pāyasa-caru (persembahan susu dan nasi) dengan benar; lalu dengan itu ia mempersembahkan seratus āhuti yang lengkap ke dalam api sambil melafalkan ṛcā yang bermula “tryambaka—” (mantra Mahāmṛtyuñjaya).

Verse 64

अवाप्तवानिति ट समुद्दिश्य महादेवं जीवेदब्दशतं सुखं तच्चक्षुरित्यृचा स्नात उपतिष्ठेद्दिवाकरं

Dengan melafalkan mantra yang diawali “avāptavān …” dan memuja Mahādeva, seseorang hidup bahagia selama seratus tahun. Setelah mandi suci, hendaknya ia berdiri bersembahyang kepada Surya (Divākara) dengan Ṛk yang diawali “tac cakṣur …”.

Verse 65

उद्यन्तं मध्यगञ्चैव दीर्घमायुर्जिजीविषुः इन्द्रा सोमेति सूक्तन्तु कथितं शत्रुनाशनं

Orang yang menginginkan umur panjang hendaknya menggunakan himne bagi Surya yang terbit dan Surya tengah hari. Adapun Sukta yang diawali “Indrā Somā …” diajarkan sebagai penghancur musuh.

Verse 66

यस्य लुप्तं व्रतं मोहाद्व्रात्यैर् वा संसृजेत्सह उपोष्याज्यं स जुहुयात्त्वमग्ने व्रतपा इति

Bila seseorang karena kebingungan melalaikan vratan-nya, atau bergaul dengan kaum vrātya (yang menyimpang dari tata-aturan), maka setelah berpuasa ia hendaknya mempersembahkan ghee ke dalam api sambil mengucap: “Wahai Agni, Engkau pelindung vrata (vratapā).”

Verse 67

आदित्येत्यृक् च सम्राजं जप्त्वा वादे जयी भवेत् महीति च चतुष्केण मुच्यते महतो भयात्

Dengan menjapa Ṛk yang diawali “Āditya …” beserta mantra “Samrāj”, seseorang menjadi menang dalam perdebatan. Dan dengan melafalkan “Mahī …” sebanyak empat kali, ia terbebas dari ketakutan besar.

Verse 68

ऋचं महीति जप्त्वा यदि ह्य् एतत् सर्वकामानवाप्नुयात् द्वाचत्वारिंशतिं चैन्द्रं जप्त्वा नाशयते रिपून्

Bila seseorang menjapa Ṛc yang diawali “mahī”, sungguh ia memperoleh semua tujuan yang diinginkan. Dan dengan menjapa mantra Indra sebanyak empat puluh dua kali, ia melenyapkan musuh-musuh.

Verse 69

वाचं महीति जप्त्वा च प्राप्नोत्यारोग्यमेव च शन्नो भवेति द्वाभ्यान्तु भुक्त्वान्नं प्रयतः शुचिः

Dengan melafalkan mantra “vācaṃ mahī”, seseorang sungguh memperoleh kesehatan. Setelah makan, orang yang berdisiplin dan suci hendaknya melafalkan dua ṛk yang dimulai dengan “śaṃ no bhava” demi kesejahteraan.

Verse 70

हृदयं पाणिना स्पृष्ट्वा व्याधिभिर् नाभिभूयते उत्तमेदमिति स्नातो हुत्त्वा शत्रुं प्रमापयेत्

Dengan menyentuh jantung dengan tangan, seseorang tidak dikuasai penyakit. Setelah mandi sambil melafalkan mantra “uttamedam”, lalu mempersembahkan oblation (homa), hendaknya ia menyebabkan musuh dibinasakan.

Verse 71

शन्नोग्न इति सूक्तेन हुतेनान्नमवाप्नुयात् कन्या वारर्षिसूक्तेन दिग्दोषाद्विप्रमुच्यते

Dengan mempersembahkan oblation disertai himne yang diawali “śam no agne…”, seseorang memperoleh makanan (nafkah). Seorang gadis, dengan oblation memakai Vārarṣi-sūkta, terbebas sepenuhnya dari cacat arah (dig-doṣa).

Verse 72

यदत्य कव्येत्युदिते जप्ते ऽवश्यं जगद्भवेत् यद्वागिति च जप्तेन वाणी भवति संस्कृता

Pada saat matahari terbit, bila mengulang mantra yang diawali “yad-atyakāvya…”, seseorang pasti menjadi mampu menggubah karya puitis. Dengan mengulang formula yang diawali “yad-vāk…”, ucapan menjadi halus, terolah, dan berbudaya.

Verse 73

वाचो विदितमिति त्वेतां जपन् वाचं समश्नुते पवित्राणां पवित्रन्तु पावमान्येत्यृचो मताः

Dengan melakukan japa atas mantra-ṛk yang diawali “vāco viditam”, seseorang meraih penguasaan dan keunggulan dalam tutur kata. Ṛk-ṛk yang dikenal sebagai Pāvamānī dipandang sebagai “pemurni di antara para pemurni”.

Verse 74

वैखानसा ऋचस्त्रिंशत्पवित्राः परमा मताः आदित्येति प्रसंम्राजमिति ग , घ , ञ संस्थितेति क , छ , च ऋचो द्विषष्टिः प्रोक्ताश् च परस्वेत्यृषिसत्तम

Mantra-mantra Ṛg Vaikhānasa—tiga puluh pavitra—dipandang sebagai yang tertinggi. Dalam beberapa resensi terbaca “ādityeti” dan “prasaṃmrājam iti” (ga, gha, ña); dalam yang lain “saṃsthiteti” (ka, cha, ca). Dan, wahai resi utama, jumlah ṛk juga dinyatakan enam puluh dua, dengan bacaan “parasveti.”

Verse 75

सर्वकल्मषनाशाय पावनाय शिवाय च स्वादिष्टयेतिसूक्तानां सप्तषष्टिरुदाहृता

Untuk memusnahkan segala kenajisan, untuk penyucian, dan untuk keberkahan Śiva—jumlah sūkta yang diawali “svādiṣṭa …” dinyatakan enam puluh tujuh.

Verse 76

दशोत्तराण्यृचाञ्चैताः पावमान्यः शतानि षट् एतज्जपंश् च जुह्वच्च घोरं मृत्युभयं जयेत्

Inilah mantra-mantra Pavamāna—jumlahnya enam ratus sepuluh ṛk. Dengan melantunkannya serta mempersembahkan oblation ke api, seseorang menaklukkan rasa takut akan maut yang mengerikan.

Verse 77

आपोहिष्टेति वारिस्थो जपेत्पापभयार्दने प्रदेवन्नेति नियतो जपेच्च मरुधन्वसु

Sambil berdiri di dalam air, hendaknya melafalkan mantra yang diawali “Āpohiṣṭhā …” untuk melenyapkan dosa dan rasa takut. Dengan disiplin dan pengendalian diri, hendaknya pula melafalkan mantra yang diawali “Pradevann …”, dan demikian juga di wilayah Marudhanvan.

Verse 78

प्राणान्तिके भये प्राप्ते क्षिप्रमायुस्तु विन्दति प्रावेयामित्यृचमेकां जपेच्च मनसा निशि

Ketika muncul ketakutan yang mengancam nyawa, seseorang segera memperoleh (pemulihan) usia; pada malam hari hendaknya mengulang dalam batin satu ṛk yang diawali “prāveyām …”.

Verse 79

व्युष्टायामुदिते सूर्ये द्यूते जयमवाप्नुयात् मा प्रगामेति मूढश् च पन्थानं पथि विन्दति

Ketika fajar telah merekah sempurna dan matahari terbit, seseorang memperoleh kemenangan dalam perjudian. Bahkan si bodoh yang berkata, “Jangan berangkat,” tetap menemukan jalan ketika sudah berada di jalan; perjalanan pun berhasil.

Verse 80

क्षीणायुरिति मन्येत यङ्कञ्चित् सुहृदं प्रियं यत्तेयमिति तु स्नातस्तस्य मूर्धानमालभेत्

Jika seseorang berpikir, “Usiaku kian menyusut,” maka setelah mandi ia hendaknya menyentuh kepala siapa pun sahabat yang dicintainya sambil berkata, “Ini milikmu.”

Verse 81

सहस्रकृत्वः पञ्चाहं तेनायुर्विन्दते महत् इदं मेध्येति जुहुयात् घृतं प्राज्ञः सहस्रशः

Selama lima hari, melakukannya seribu kali, dengan itu seseorang memperoleh umur panjang yang besar. Orang bijak hendaknya mempersembahkan ghee ke dalam api seribu kali sambil melafalkan, “Ini menyucikan (medhya).”

Verse 82

पशुकामो गवां गोष्ठे अर्थकामश् चतुष्पथे वयः सुपर्ण इत्य् एतां जपन् वै विन्दते श्रियं

Orang yang menginginkan ternak hendaknya melafalkannya di kandang sapi; yang menginginkan harta hendaknya melafalkannya di perempatan jalan. Dengan melafalkan mantra yang diawali “vayaḥ suparṇa …”, seseorang sungguh memperoleh Śrī—kemakmuran dan keberuntungan.

Verse 83

हविष्यन्तीयमभ्यस्य सर्वपापैः प्रमुच्यते तस्य रोगा विनश्यन्ति कायाग्निर्वर्धते तथा

Dengan mempraktikkan laku suci Haviṣyantī, seseorang terbebas dari segala dosa. Penyakit-penyakitnya lenyap, dan api tubuh (kāyāgni), yakni daya cerna, pun meningkat.

Verse 84

या ओषधयः स्वस्त्ययनं सर्वव्याधिविनाशनं वृहस्पते अतीत्येतद्वृष्टिकामः प्रयोजयेत्

Tumbuhan obat yang menjadi sarana kesejahteraan, pelindung yang membawa keberuntungan, dan pemusnah segala penyakit—wahai Bṛhaspati—setelah melafalkan mantra ini dengan benar, orang yang menginginkan hujan hendaknya menerapkan upacara/ramuan ini.

Verse 85

सर्वत्रेति परा शान्तिर्ज्ञेया प्रतिरथस् तथा सूत सांकाश्यपन्नित्यं प्रजाकामस्य कीर्तितं

Kata “Sarvatrā” hendaknya dipahami sebagai penenteraman tertinggi; demikian pula “Pratiratha” dikenal demikian. Wahai Sūta, “Sāṃkāśyapa” dinyatakan senantiasa manjur bagi orang yang menginginkan keturunan.

Verse 86

अहं रुद्रेति एतद्वाग्मी भवति मानवः न योनौ जायते विद्वान् जपन्रात्रीति रात्रिषु

Seseorang yang melafalkan mantra “Aku adalah Rudra” menjadi fasih berbicara. Orang berilmu yang mengucap mantra “rātrī” pada malam-malam tidak lahir kembali dari rahim.

Verse 87

रात्रिसूक्तं जपन्न्रात्री रात्रिं क्षेमी जयेन्नरः कल्पयन्तीति च जपन्नित्यं कृत्त्वारिनाशनं

Orang yang melafalkan Rātri-sūkta pada malam hari, malam demi malam, menjadi tenteram dan menang. Dan dengan mengulang setiap hari mantra yang diawali “kalpayantī…”, ia menuntaskan pemusnahan musuh.

Verse 88

आयुष्यञ्चैव वर्चस्यं सूक्तं दाक्षायणं महत् उत देवा इति जपेदामयघ्नं धृतव्रतः

Untuk umur panjang dan kemilau daya hidup, hendaknya melafalkan Sūkta Dākṣāyaṇa yang agung. Dan pelaku tapa-brata hendaknya juga mengulang mantra yang diawali “uta devā…”, yang memusnahkan penyakit.

Verse 89

अयमग्ने जनित्येतज्जपेदग्निभये सति अरण्यानीत्यरण्येषु जपेत्तद्भयनाशनं

Saat ada bahaya dari api, hendaknya melafalkan mantra “ayam agne janitā”. Di hutan, hendaknya melafalkan mantra “araṇyānī”, sebab ia melenyapkan ketakutan itu.

Verse 90

ब्राह्म्नीमासाद्य सूक्ते द्वे ऋचं ब्राह्मीं शतावरीं पृथगद्भिर्घृतैर् वाथ मेधां लक्ष्मीञ्च विन्दति

Dengan mendekati Brāhmī, setelah melafalkan dua himne dan ṛc Brāhmī, hendaknya meminum Brāhmī dan Śatāvarī secara terpisah dengan air atau dengan ghee; dengan itu diperoleh kecerdasan (medhā) dan kemakmuran (lakṣmī).

Verse 91

मास इत्य् असपत्नघ्नं संग्रामं विजिगीषतः ब्रह्मणो ऽग्निः संविदानं गर्भमृत्युनिवारणं

Mantra yang diawali “māsa …” disebut ‘pembunuh para pesaing’; dipakai oleh orang yang menginginkan kemenangan dalam pertempuran. Mantra “agni milik Brahman” dipakai untuk memperoleh kesepakatan/penyelesaian (saṃvidāna). Mantra ‘penangkal kematian dalam kandungan’ dipakai untuk mencegah kematian janin.

Verse 92

अपहीति जपेत्सूक्तं शुचिर्दुस्वप्ननाशनं येनेदमिति वैजप्त्वा समाधिं विन्दते परं

Dalam keadaan suci, hendaknya melafalkan himne ‘Apahīti’, yang menghancurkan mimpi buruk. Dan setelah mengulang mantra “yenedam”, seseorang mencapai samādhi tertinggi.

Verse 93

मयो भूर्वात इत्य् एतत् गवां स्वस्त्ययनं परं शाम्बरीमिन्द्रजालं वा मायामेतेन वारयेत्

“Mayo bhūr vāta …” adalah svastyayana tertinggi (ritus perlindungan yang membawa berkah) bagi sapi. Dengan itu hendaknya menolak sihir Śāmbarī, indrajāla (sulap-ilusi), ataupun segala bentuk māyā.

Verse 94

महीत्रीणामवरोस्त्विति पथि स्वस्त्ययनं जपेत् अग्नये विद्विषन्नेवं जपेच्च रिपुनाशनं

Dalam perjalanan, hendaknya melafalkan japa svastyayana yang membawa keselamatan, dimulai dengan “mahītrīṇām avaro’stv…”. Demikian pula bagi Agni, hendaknya dijapa mantra penunduk musuh yang menghancurkan para lawan.

Verse 95

वास्तोष्पतेन मन्त्रेण यजेत गृहदेवताः जपस्यैष विधिः प्रोक्तो हुते ज्ञेयो विशेषतः

Dengan mantra Vāstoṣpati hendaknya dilakukan pemujaan dan persembahan kepada para dewa pelindung rumah. Tata cara ini dinyatakan untuk japa; dan terutama harus dipahami berlaku ketika oblation (homa) telah dipersembahkan.

Verse 96

होमान्ते दक्षिणा देया पापशान्तिर्हुतेन तु हुतं शाम्यति चान्नेन अन्नहेमप्रदानतः

Pada akhir homa, dakṣiṇā hendaknya diberikan. Dosa dipadamkan oleh persembahan yang dicurahkan ke dalam api; dan sisa pengaruh ritus ditenteramkan melalui makanan—dengan sedekah makanan dan emas.

Verse 97

विप्राशिषस्त्वमोघाः स्युर्बहिःस्नानन्तु सर्वतः सिद्धार्थका यवा धान्यं पयो घृतं तथा

Berkat yang diucapkan para brāhmaṇa sungguh tidak pernah sia-sia. Hendaknya dilakukan mandi lahiriah dengan sempurna. Juga (dipakai/dipersembahkan) siddhārthaka (biji sesawi putih), jelai, biji-bijian, susu, serta ghee.

Verse 98

क्षीरवृक्षास्तथेध्मन्तु होमा वै सर्वकामदाः समिधः कण्ठकिन्यश् च राजिका रुधिरं विषं

Kayu dari pohon-pohon bergetah susu (latex-bearing) juga hendaknya dipakai sebagai samidh (kayu bakar); homa semacam ini dikatakan menganugerahkan pemenuhan segala keinginan. Di antara bahan disebutkan samidh, kaṇṭhakinī, rājikā (sesawi), darah, dan racun.

Verse 99

अभिचारे तथा शैलं अशनं शक्तवः पयः दधि भैक्ष्यं फलं मूलमृग्विधानमुदाहृतं

Dalam upacara abhichāra, tata laksana yang ditetapkan dinyatakan demikian: garam batu, makanan biji-bijian, saktu (tepung sangrai), susu, dadih, makanan sedekah, buah-buahan, umbi/akar, serta tata cara yang melibatkan daging buruan.

Frequently Asked Questions

That Ṛgvedic mantra procedures—performed as japa and homa with purity and restraint—grant practical results (health, safety, prosperity, victory) while also functioning as a path of purification leading toward mokṣa.

Disciplined Gāyatrī-japa (often in water and with prāṇāyāma), Praṇava (Oṁ) repetition, use of Mahāvyāhṛtis, and svastyayana-style recitations integrated with bathing, homa, and dāna.