Adhyaya 361
KoshaAdhyaya 36140 Verses

Adhyaya 361

Adhyāya 361 — अव्ययवर्गः (Avyaya-vargaḥ) — The Section on Indeclinables (Colophon/Closure)

Bab ini menutup Avyaya-varga dalam lapisan Kośa Agni Purāṇa. Dalam alur pedagogis Agneya, leksikon bergerak dari kata-kata tak berubah (avyaya) menuju pengelolaan makna dalam wacana. Rumus penutup menandai selesainya satu unit teknis dan menyiapkan peralihan ke vidyā berikutnya dalam ilmu leksikal: penggolongan istilah nānārtha (polisemik). Dengan menempatkan pengetahuan kata sebagai ajaran yang diwahyukan, teks menegaskan bahwa kejernihan filologis penting bagi pemakaian ritual yang tepat, penalaran hukum/wyavahāra, dan tafsir śāstra; sehingga kecakapan duniawi (bhukti) selaras dengan dharma dan tujuan pembebasan (mukti).

Shlokas

Verse 1

इत्य् आग्नेये महापुराणे अव्ययवर्गा नाम षष्ट्यधिकत्रिशततमो ऽध्यायः अथैकषष्ट्यधिकत्रिशततमो ऽध्यायः नानार्थवर्गाः अग्निर् उवाच आकाशे त्रिदिवे नाको लोकस्तु भवने जने पद्ये यशसि च श्लोकःशरे खड्गे च सायकः

Demikianlah dalam Agni Mahāpurāṇa berakhir bab ke-361 yang disebut “Avyaya-varga” (bagian tentang kata tak berubah). Kini dimulai bab ke-362, “Nānārtha-varga” (bagian tentang kata bermakna banyak). Agni bersabda: kata ‘nāka’ berarti langit, surga ketiga, dan surga; kata ‘loka’ berarti rumah/kediaman, orang banyak, satu pāda dalam metrum, dan kemasyhuran; kata ‘sāyaka’ berarti anak panah dan juga pedang.

Verse 2

आनकः पटहो भेरी कलङ्को ऽङ्कापवादयोः मारुते वेधसि व्रध्ने पुंसि कः कं शिरो ऽम्बुनोः

‘Ānaka’ berarti genderang besar (sejenis paṭaha); ‘paṭaha’ dan ‘bherī’ adalah jenis-jenis drum. ‘Kalaṅka’ bermakna noda/cela dan juga fitnah/cemaran nama. ‘Ka’ dipakai untuk Vāyu (angin), Vedhas (Sang Pencipta), Vṛdhna, dan juga untuk seorang laki-laki; ‘kam’ berarti kepala dan juga air.

Verse 3

स्यात् पुलाकस्तुच्छधान्ये संक्षेपे भक्तसिक्थके महेन्द्रगुग्गुलूलूकव्यालग्राहिषु कौशिकः

‘Pulāka’ menunjuk pada biji-bijian yang rendah mutunya; ‘saṃkṣepa’ berarti ringkasan yang padat; ‘bhakta-sikthaka’ ialah lapisan/kerak bertepung yang tersisa dari nasi matang. Istilah ‘Kauśika’ dipakai untuk Mahendra, untuk guggulu, untuk burung hantu, untuk ular, dan juga untuk seorang penangkap/pencengkeram (grāhī).

Verse 4

शालावृकौ कपिश्वानौ मानं स्यान्मितिसाधनं सर्गः स्वभावनिर्मोक्षनिश् चयाध्यायस्मृष्टिषु

‘Śālāvṛka’ dan ‘kapiśvāna’ menunjuk pada (sejenis) serigala-jakal. ‘Māna’ ialah sarana yang dengannya pengukuran dilakukan. ‘Sarga’ dipakai dalam arti penciptaan, kodrat bawaan, pembebasan (mokṣa), penetapan, bab, serta himpunan/kompendium smṛti.

Verse 5

योगः सन्नहनोपायध्यानसङ्गतियुक्तिषु भोगः सुखे स्त्र्यादिभृतावब्जौ शङ्कनिशाकरौ

Kata ‘yoga’ dipakai dalam arti persiapan/perlengkapan, sarana atau metode, meditasi, pergaulan/penyatuan, serta siasat/rekayasa. ‘Bhoga’ berarti kenikmatan dan juga nafkah/pemeliharaan bagi istri dan sebagainya. ‘Abja’ (yang lahir dari air) menunjuk pada sangkakala (śaṅkha) dan juga bulan.

Verse 6

काके भगण्डौ करटौ दुश् चर्मा शिपिविष्टकः रिष्टं क्षेमाशुभाभावेष्वरिष्टे तु शुभाशुभे

Bila pada burung gagak tampak tanda-tanda ganjil, keadaan seperti bhagaṇḍa (fistula), karaṭa (bengkak bernanah), duś-carman (kulit yang sakit/berbau), dan śipiviṣṭaka dianggap sebagai ariṣṭa, yakni pertanda bahaya atau kemalangan. Namun bila ada keadaan sejahtera dan tiada tanda-tanda buruk, maka ariṣṭa dipahami sebagai campuran: baik sekaligus buruk.

Verse 7

व्युष्टिः फले समृद्धौ च दृष्टिर्ज्ञाने ऽक्ष्णि दर्शने निष्ठानिष्पत्तिनाशान्ताः काष्ठोत्कर्षे स्थितौ दिशि

‘Vyuṣṭi’ berarti berbuahnya hasil dan kemakmuran. ‘Dṛṣṭi’ berarti pengetahuan; ‘akṣṇi/akṣi’ berarti mata; dan ‘dṛṣṭi’ juga berarti penglihatan. ‘Niṣṭhā’, ‘niṣpatti’, ‘nāśa’, dan ‘anta’ menyatakan penyelesaian/berakhirnya sesuatu. ‘Kāṣṭhā’ menyatakan puncak batas, kedudukan yang tetap, serta arah mata angin.

Verse 8

भूगोवाचस्त्विडा इलाः प्रगाढं भृषकृच्छ्रयोः भृशप्रतिज्ञयोर्वाढं शक्तस्थूलौ दृढौ त्रिषु

‘Bhū’ dan ‘go’ juga disebut ‘vāc’; demikian pula istilah ‘iḍā’ dan ‘ilā’ menunjuk kepada keduanya. ‘Pragāḍha’ dipakai dalam arti “sangat sukar/berat”. ‘Vāḍha’ digunakan bagi orang yang berketetapan teguh dan berkaul/berikrar kuat. Dalam tiga bentuk gender, ‘śakta’ dan ‘sthūla’ berarti “kuat” dan “tegap/berbadan besar”, sedangkan ‘dṛḍha’ berarti “kokoh”.

Verse 9

विन्यस्तसंहतौ व्यूढौ कृष्णो व्यासे ऽर्जुने हरौ पणो दूयतादिषूत्सृष्टे भृतौ मूल्ये धने ऽपि च

‘Vinyasta’ dan ‘saṃhata’ berarti ‘ditata/ditempatkan’; ‘vyūḍha’ berarti ‘diatur dalam formasi’. Nama ‘Kṛṣṇa’ dipakai bagi Vyāsa, Arjuna, dan Hari (Viṣṇu). ‘Paṇa’ berarti taruhan dalam perjudian; juga upah (bhṛti), harga/nilai, serta kekayaan.

Verse 10

मौर्व्यां द्रव्याश्रिते सत्वशुक्लसन्ध्यादिके गुणः श्रेष्ठे ऽधिपे ग्रामणीः स्यात् जुग्प्साकरुणे घृणे

Kata ‘guṇa’ bermakna: (1) tali busur dari serat mūrvā, (2) sifat yang melekat pada suatu substansi, (3) sattva, (4) putih/keputihan, dan (5) senja dan sejenisnya. Ia juga berarti ‘yang unggul’, ‘penguasa’, serta ‘grāmaṇī’ (kepala desa). ‘Ghṛṇā’ menyatakan rasa jijik sekaligus belas kasih.

Verse 11

तृष्णा स्पृहापिपासे द्वे विपणिः स्याद्वणिक्पथे विषाभिमरलोहेषु तीक्ष्णं क्लीवे खरे त्रिषु

‘Tṛṣṇā’ dan ‘spṛhā’ adalah dua kata untuk pipāsā, yakni rasa haus. ‘Vipaṇi’ berarti jalan para pedagang atau pasar. ‘Tīkṣṇa’ dipakai dalam bentuk netral untuk racun, besi, dan zat mematikan; sedangkan dalam bentuk maskulin berarti ‘khara’, yaitu keledai.

Verse 12

प्रमाणं हेतुमर्यादाशास्त्रेयत्ताप्रमातृषु करणं क्षेत्रगात्रादावीरिणं शून्यमूषरं

Pramāṇa (sarana pengetahuan yang sah), hetu (alasan), dan maryādā (batasan) dijelaskan dalam śāstra dengan mengacu pada pramātṛ (subjek yang mengetahui). ‘Karaṇa’ disebut sebagai alat/sarana dalam konteks seperti ladang dan tubuh. Tanah disebut ‘īriṇa’ bila tandus, ‘śūnya’ bila kosong, dan ‘ūṣara’ bila tanah asin/alkali.

Verse 13

यन्ता हस्तिपके सूते वह्निज्वाला च हेतयः स्रुतं शास्त्रावधृतयोर्युगपर्याप्तयोः कृतं

‘Yantrā’ menunjuk pada pengendali: pawang gajah (hastipaka) dan kusir kereta (sūta). ‘Hetayaḥ’, yakni senjata-senjata, diibaratkan laksana lidah-lidah api. Ajaran ini diteruskan sebagai tradisi (śruta) dan diteguhkan oleh śāstra; dirumuskan sebagai pedoman yang memadai untuk pemakaian yang benar sepanjang zaman (yuga).

Verse 14

ख्याते हृष्टे प्रतीतो ऽभिजातस्तु कुलजे बुधे विविक्तौ पूतविजनौ मूर्छितौ मूड्सोच्छयौ

‘Khyāta’ berarti terkenal; ‘hṛṣṭa’ berarti gembira; ‘pratīta’ berarti diakui/diterima sebagai sah. ‘Abhijāta’ berarti terlahir mulia; ‘kulaja’ berarti lahir dari keluarga baik; ‘budha’ berarti bijaksana. ‘Vivikta’ berarti menyendiri/menarik diri; ‘pūtavijana’ berarti termasuk golongan orang suci. ‘Mūrchita’ berarti pingsan; ‘mūḍha-socchaya’ berarti tumpukan kebodohan.

Verse 15

अर्थो ऽभिधेयरैवस्तुप्रयोजननिवृत्तिषु निदानागमयोस्तीर्थमृषिजुष्टजले गुरौ

Istilah ‘artha’ (makna) juga dipakai dalam arti: ‘abhidheya’ (yang hendak diungkapkan), ‘vastu’ (hakikat/realitas), ‘prayojana’ (tujuan), dan ‘nivṛtti’ (penarikan diri/berhenti); demikian pula untuk ‘nidāna’ (sebab) dan ‘āgama’ (kitab otoritatif). Ia juga digunakan bagi ‘tīrtha’ (tempat suci), air yang didatangi para resi, serta bagi ‘guru’ (pembimbing rohani).

Verse 16

प्राधान्ये राजलिङ्गे च वृषाङ्गे ककुदो ऽस्त्रियां स्त्री सम्बिज्ज्ञानसम्भाषाक्रियाकाराजिनामसु

Kata ‘kakuda’ dalam arti keutamaan, dalam bentuk kehormatan kerajaan (rajaliṅga), dan sebagai anggota tubuh lembu jantan, tidak berjenis feminin. Namun dalam nama-nama perempuan, serta pada istilah yang menyatakan ‘sambijñāna’ (pengenalan timbal balik/sempurna), ‘sambhāṣā’ (percakapan), ‘kriyā’ (tindakan), dan ‘kārājī’ (pelaku/agen), ia dipakai sebagai feminin.

Verse 17

धर्मे रहस्युपनिषत् स्यादृतौ वत्सरे शरत् पदं व्यवसितित्राणस्थानलक्ष्माङ्घ्रिवस्तुषु

Dalam urusan dharma, istilah ‘upaniṣat’ bermakna rahasia (ajaran esoteris). Dalam konteks musim dan tahun, dipakai istilah ‘śarat’ (musim gugur). Kata ‘pada’ digunakan dalam arti: keputusan/ketetapan, perlindungan, tempat/kediaman, Lakṣmī (kemakmuran), kaki, serta benda/objek (vastu).

Verse 18

त्रिष्वष्टमधुरौ स्वादू मृदू चातीक्ष्णकोमलौ सत्ये साधौ विद्यमाने प्रशस्ते ऽभ्यर्हिते च सत्

Dalam tiga ranah (rasa, sentuhan, dan mutu/ungkapan), dipakai istilah ‘madhura’ dan ‘svādu’ (manis dan sedap); demikian pula ‘mṛdu’ dan ‘komala’ (lembut dan halus), serta ‘atīkṣṇa’ (tidak terlalu tajam). Kata ‘sat’ dipakai dalam arti: benar, bajik, ada/nyata, terpuji, dan patut dihormati.

Verse 19

विधिर्विधाने दैवे ऽपि प्रणिधिः प्रार्थने चरे वधूर्जाया स्नुषा च सुधालेपो ऽमृतं स्नुही

‘Vidhi’ berarti aturan/ritus yang ditetapkan, juga ketetapan ilahi (takdir). ‘Praṇidhi’ berarti permohonan doa yang sungguh-sungguh. ‘Carā’ berarti pengantin perempuan, istri, dan menantu perempuan. ‘Sudhā-lepa’ adalah amṛta (nektar), dan ‘snuhī’ (euphorbia) juga disebut amṛta.

Verse 20

स्पृहा सम्प्रत्ययः श्रद्धा पण्डितम्मन्यगर्वितौ ब्रह्मबन्धुरधिक्षेपे भानू रष्मिदिवाकरौ

‘Spṛhā’ berarti hasrat/kerinduan; ‘sampratyaya’ berarti kepercayaan/keyakinan; ‘śraddhā’ berarti iman. ‘Paṇḍita-manya’ ialah orang yang mengira dirinya pandai; ‘garvita’ ialah yang sombong. ‘Brahma-bandhu’ dipakai sebagai celaan bagi brahmana hanya karena kelahiran. ‘Bhānu’, ‘raśmi’, dan ‘divākara’ adalah nama-nama Matahari.

Verse 21

ग्रावाणौ शैलपाषानौ मूर्खनीचौ पृथग्जनौ तरुशैलौ शिखरिणौ तनुस्त्वग्देहयोरपि

‘Grāvāṇa’ dan ‘śaila-pāṣāṇa’ adalah kata untuk batu/masa batu. ‘Mūrkha’ dan ‘nīca’ dipakai bagi orang bodoh yang hina. ‘Pṛthag-jana’ berarti rakyat kebanyakan. ‘Taru’ dan ‘śaila’ juga menjadi sebutan bagi ‘śikhariṇ’ (gunung yang berpuncak). ‘Tanu’ dipakai pula untuk kulit (tvac) dan tubuh (deha).

Verse 22

आत्मा यत्नो धृतिर्वुद्धिः स्वभावो ब्रह्मवर्ष्म च उत्थानं पौरुषे तन्त्रे व्युत्थानं प्रतिरोधने

Diri (ātman), upaya, keteguhan, kecerdasan, watak bawaan, dan brahma-varṣman (daya rohani)—semuanya dalam ajaran pauruṣa disebut ‘utthāna’ (inisiatif/ketegakan usaha). Dalam konteks perlawanan, utthāna itu disebut ‘vyutthāna’ (inisiatif-balik/perlawanan aktif).

Verse 23

निर्यातनं वैरशुद्धौ दाने न्यासार्पणे ऽपि च व्यसनं विपदि भ्रशे दोषे कामजकोपजे

‘Niryātana’ dipakai dalam arti pemurnian/penyelesaian permusuhan, dan juga dalam konteks pemberian (dāna) serta penyerahan titipan (nyāsa-arpana). ‘Vyasana’ berarti malapetaka: baik dalam kesusahan, kejatuhan, maupun cacat yang timbul dari amarah yang lahir dari nafsu.

Verse 24

मृगयाक्षो दिवास्वप्नः परिवादः स्त्रियो मदः तौर्यत्रिकं वृथाट्या च कामजो दशको गणः

Berburu, kecanduan judi dadu, tidur di siang hari, fitnah, pemanjaan nafsu pada perempuan, mabuk, tiga serangkai seni (nyanyian, musik, dan tari), serta berkeliaran tanpa tujuan—itulah sepuluh cela yang lahir dari nafsu keinginan.

Verse 25

पैशून्यं साहसं द्रोह ईर्ष्यासूयार्थदूषणम् वाग्दण्डश् चैव पारुष्यं क्रोधजो ऽपि गणो ऽष्टकः

Adu domba (paishunya), kekerasan nekat, pengkhianatan, iri hati, dengki, mencemarkan maksud orang lain, hukuman lewat kata-kata, dan ucapan kasar—itulah delapan cela yang lahir dari amarah.

Verse 26

अकर्मगुह्ये कौपीनं मैथुनं सङ्गतौ रतौ प्रधानं परमार्था धीः प्रज्ञानं बुद्धिचिह्नयोः

Dalam ajaran rahasia tentang tanpa-tindakan (rahasia pelepasan), kain cawat (kaupina) ditetapkan; sedangkan persetubuhan termasuk dalam pergaulan dan kenikmatan indera. Prinsip tertinggi ialah wawasan akan Kebenaran Tertinggi; dan prajñāna, kebijaksanaan membeda, menjadi tanda kecerdasan yang terjaga.

Verse 27

क्रन्दने रोदनाह्वाने वर्ष्म देहप्रमाणयोः आराधनं साधने स्यादवाप्तौ तोषणे ऽपि च

Kata ‘ārādhana’ dipakai dalam arti ratapan—menangis dan memanggil; ‘varṣman’ berarti tubuh serta ukuran tubuh. Lagi pula ‘ārādhana’ dapat bermakna melaksanakan suatu sādhana, juga pencapaian (avāpti) dan pemuasan/kerelaan (toṣaṇa).

Verse 28

रत्नं स्वजातिश्रेष्ठे ऽपि लक्ष्म चिह्नप्रधानयोः कलापो भूषणे वर्हे तूणीरे संहते ऽपि च

Kata ‘ratna’ juga menunjuk yang terbaik dalam jenisnya sendiri; ‘lakṣma’ berarti tanda atau ciri pembeda yang utama. ‘Kalāpa’ bermakna perhiasan, gugus bulu ekor merak, tabung panah (quiver), dan juga himpunan/kumpulan.

Verse 29

तल्पं शय्याट्टारेषु डिम्भौ तु शिशुवालिशौ स्तम्भौ स्थूणाजडीभावौ सभ्ये संसदि वै सभा

“Talpa” berarti ranjang; “śayyā” (tempat tidur) juga disebut “aṭṭāra”. “Ḍimbha” berarti anak; juga orang yang belum matang/bodoh (śiśu, vāliśa). “Stambha” berarti tiang; juga disebut “sthūṇā”, dan juga berarti keadaan kaku/terpaku (jaḍībhāva). “Sabhya” berarti anggota sidang; “sabhā” ialah majelis, dewan/istana (saṃsad).

Verse 30

किरणप्रग्रहौ रश्मी धर्माः पुण्ययमादयः ललामं पुच्छपुण्ड्राश्वभूषाप्राधान्यकेतुषु

“Kiraṇa” dan “pragraha” adalah sebutan bagi sinar; “raśmi” juga berarti sinar. “Dharma” dapat bermakna kebajikan (puṇya), Yama, dan sebagainya. “Lalāma” dipakai untuk makna ekor, tanda dahi (tilaka/puṇḍra), hiasan kuda, keunggulan, serta panji/standar.

Verse 31

प्रत्ययो ऽधीनशपथज्ञानविश्वासहेतुषु समयाः शपथाचारकालसिद्धान्तसंविदः

“Pratyaya” dipakai mengenai ketergantungan, sumpah, pengetahuan, dan kepercayaan sebagai dasar/penyebab keyakinan. “Samaya” berarti kesepakatan yang ditetapkan: sumpah, kebiasaan (ācāra), ketentuan waktu, doktrin yang mapan (siddhānta), serta perjanjian timbal balik (saṃvid).

Verse 32

अत्ययो ऽतिक्रमे कृच्छ्रे सत्यं शपथतथ्ययोः वीर्यं बलप्रभावौ च रूप्यं रूपे प्रशस्तके

“Atyaya” digunakan dalam arti melampaui (atikrama) dan juga kesukaran/derita (kṛcchra). “Satya” menunjuk sumpah sekaligus kebenaran faktual. “Vīrya” berarti kekuatan dan daya pengaruh (potensi). “Rūpya” berarti perak dan juga rupa yang terpuji (unggul).

Verse 33

दुरोदरो द्यूतकारे पणे द्यूते दुरोदरं महारण्ये दुर्गपथे कान्तारः पुन्नपुंसकं

“Durodara” dipakai untuk penjudi, taruhan (paṇa), dan perjudian. “Kāntāra” digunakan dalam arti hutan besar dan jalan yang sukar dilalui; kata ini berjenis kelamin maskulin maupun netral (puṃ/napuṃsaka).

Verse 34

यमानिलेन्द्रचन्द्रार्कविष्णुसिंहादिके हरिः दरो ऽस्त्रियां भये श्वभ्रे जठरः कठिने ऽपि च

Dalam konteks Yama, Vāyu, Indra, Candra, Sūrya, Viṣṇu, singa, dan sejenisnya, ia disebut “Hari”. Dalam arti ‘bukan perempuan’ (yakni laki-laki) ia disebut “Dara”; dalam keadaan takut dan di jurang/cekungan berbahaya ia disebut “Jaṭhara”; dan juga dalam arti ‘keras/tak tergoyahkan’ demikian pula dipakai.

Verse 35

उदारो दातृमहतोरितरस्त्वन्यनीचयोः चूडा किरीटं केशाश् च संयता मौलयस्त्रयः

Orang yang luhur dikenal sebagai pemberi agung; kebalikannya tampak pada mereka yang rendah dan hina. Tiga bentuk tatanan kepala ialah: cūḍā (sanggul/śikhā), kirīṭa (mahkota), dan saṃyatakeśa (rambut yang diikat/ditata rapi).

Verse 36

बलिः करोपहारादौ सैन्यस्थैर् यादिके बलं स्त्रीकटीवस्त्रबन्धे ऽपि नीवी परिपणे ऽपि च

Kata bali berarti pajak/tribut atau persembahan yang diserahkan dengan tangan dan semacamnya; sedangkan bala berarti kekuatan pasukan dan makna-makna yang terkait. Kata nīvī berarti ikatan kain pinggang perempuan (simpul sabuk) dan juga taruhan dalam perjudian/pertaruhan.

Verse 37

शुक्रले मूषिके श्रेष्ठे सुकृते वृषभे वृषः द्यूताक्षे सारिफलके ऽप्याकर्षो ऽथाक्षमिन्द्रिये

Kata vṛṣaḥ dipakai dalam arti: lelaki bernafsu, tikus, yang terbaik, perbuatan bajik (sukṛta), dan banteng. Istilah ākarṣaḥ digunakan untuk dadu perjudian dan juga biji buah sāri; sedangkan akṣam berarti indria (organ/fakultas indrawi).

Verse 38

ना द्यूताङ्गे च कर्षे च व्यवहारे कलिद्रुमे ऊष्णीषः स्यात् किरीटादौ कर्षूः कुल्याभिधायिनी

Dalam istilah perjudian, dalam ukuran yang disebut karṣa, dan juga dalam pemakaian transaksi/hukum (vyavahāra), kata kali digunakan; demikian pula untuk kali-druma (sejenis pohon). Dalam perhiasan kepala, ūṣṇīṣa berarti sorban atau mahkota dan sejenisnya. Adapun karṣū adalah istilah bagi saluran air kecil, yakni kulyā.

Verse 39

प्रत्यक्षे ऽधिकृते ऽध्यक्षः सूर्यवह्नी विभावसू शृङ्गारादौ विषे वीर्ये गुणे रागे द्रवे रसः

Dalam ranah pengetahuan langsung, pengawas yang memerintah disebut ‘adhyakṣa’; Matahari dan Api juga dikenal sebagai ‘vibhāvasu’. Dalam śṛṅgāra dan rasa-rasa estetis lainnya ia disebut ‘rasa’; dalam racun disebut ‘vīrya’ (daya poten); dalam sifat disebut ‘guṇa’; dalam pewarnaan/keterikatan disebut ‘rāga’; dan dalam zat cair disebut ‘drava/rasā’.

Verse 40

तेजःपुरीषयोर्वर्च आगः पापापराधयोः छन्दः पद्ये ऽभिलासे च साधीयान् साधुवाढयोः व्यूहो वृन्दे ऽप्यहिर्वृत्रे ऽप्यग्नीन्द्वर्कास्तमोनुदः

‘Varcas’ menyatakan kemilau/keagungan sekaligus kotoran; ‘āgas’ menyatakan dosa maupun pelanggaran. ‘Chandas’ berarti syair bermatra dan juga hasrat. ‘Sādhīyān’ berarti “lebih unggul” serta “yang menambah kebaikan/kemakmuran”. ‘Vyūha’ berarti kelompok/gerombol; ‘ahi’ menunjuk Vṛtra. ‘Agnīndvarkāḥ’ (Api, Indra, dan Surya) adalah “pengusir kegelapan”.

Frequently Asked Questions

Its primary function is structural: it formally closes the Avyaya-varga unit, signaling completion of the indeclinables taxonomy before moving to polysemous terms.

By enforcing linguistic discipline (śabda-śuddhi) it supports correct understanding and application of dharma and mantra-meaning, reducing semantic confusion that can distort practice.