वारुणेन तत: कर्ण: शमयामास पावकम् | जीमूतैश्व दिश: सर्वाश्चक्रे तिमिरदुर्दिना:
vāruṇena tataḥ karṇaḥ śamayāmāsa pāvakam | jīmūtaiś ca diśaḥ sarvāś cakre timira-durdināḥ ||
Sañjaya berkata: Kemudian Karṇa, dengan melepaskan senjata Vāruṇa (Vāruṇa-astra), memadamkan api yang sedang marak. Lalu dengan gumpalan awan hujan yang tebal, dia menutupi segala penjuru, menjadikan siang bagaikan waktu yang gelap dan muram—suatu gambaran tentang meningkatnya penggunaan peluru-peluru ilahi dalam perang, di mana kekuatan diukur bukan hanya oleh keberanian, tetapi juga oleh penguasaan atas astra serta akibatnya terhadap semua makhluk di medan laga.
संजय उवाच
The verse highlights how warfare in the Mahābhārata can shift from human valor to the overwhelming, impersonal force of astras. Ethical tension arises because such power affects not only the intended opponent but the entire environment—darkening the sky and altering conditions for all, reminding readers that mastery of weapons carries broad consequences.
Sañjaya reports that Karṇa counters a fire by releasing the Vāruṇa weapon, which brings water and cloud-masses. The fire is extinguished, and the battlefield’s surroundings are transformed as clouds cover all directions, producing darkness and a gloomy, ominous atmosphere.