Pitṛ-śrāddha-haviḥ-phala-nirdeśa
Offerings for Ancestors and Their Stated Results
स्कन्नमात्रं च तच्छुक्रे ख्रुवेण परिगृह्म सः । आज्यवन्मन्त्रतश्नापि सोडजुहोद् भूगुनन्दन
skannamātraṃ ca tacchukre khruveṇa parigṛhya saḥ | ājyavanmantrataś cāpi so 'dya juhod bhṛgunandana ||
Vasiṣṭha berkata: “Sebaik sahaja air mani itu terjatuh, dia segera mengumpulkannya dengan senduk korban (khruva). Lalu, wahai kebanggaan keturunan Bhṛgu, dia sendiri melafazkan mantra-mantra dan mempersembahkannya ke dalam api seolah-olah ia ghee (mentega jernih). Demikianlah, walau dalam kecelakaan yang mendadak, dia tetap bertindak dengan disiplin ritual dan penguasaan diri, menukar suatu keterlanjuran menjadi perbuatan yang tertib, bukan membiarkannya menjadi punca kekacauan.”
वसिष्ठ उवाच
Even when an involuntary lapse occurs, one should respond with restraint and dharmic discipline—bringing the situation under ethical and ritual order rather than letting it lead to further impropriety.
Vasiṣṭha describes a moment where semen slips/falls; the person immediately collects it with a ritual ladle and offers it into the sacrificial fire with mantras, treating it as an oblation like ghee.