अत्रिणा त्वथ सामर्थ्य कृतमुत्तमतेजसा । द्विजेनाग्निद्धितीयेन जपता चर्मवाससा
atriṇā tv atha sāmarthyaṁ kṛtam uttama-tejasā | dvijena agni-dvitīyena japatā carma-vāsasā ||
Bhīṣma berkata: “Renungkanlah kekuatan luar biasa yang diperlihatkan di sini oleh resi Atri—yang bersinar dengan keagungan rohani tertinggi—oleh sang dwija itu yang menjadikan api suci sebagai sahabat setia, hidup dalam laku tapa, melafazkan mantra sambil berselimut kulit rusa. Lihatlah kebesaran perbuatannya. Aku telah menghuraikan dengan panjang lebar amal Atri yang mulia itu. Maka aku berkata: brāhmaṇa adalah yang terunggul; katakan kepadaku, kṣatriya manakah yang lebih tinggi daripada Atri?”
भीष्म उवाच
Bhīṣma highlights that true superiority is grounded in tapas, ritual steadiness, and spiritual radiance (tejas). By pointing to Atri’s disciplined life—Agnihotra, japa, and ascetic simplicity—he argues that brahminical excellence is measured by inner power and dharmic practice rather than worldly force.
Bhīṣma is citing the example of the sage Atri’s remarkable accomplishment and asking his listener to recognize Atri’s greatness. He uses this as a rhetorical challenge: if one seeks a kṣatriya greater than Atri, who would it be—implying that Atri’s spiritual achievements surpass typical martial standards of greatness.