अव्यक्त-गुण-पुरुषविवेकः | Avyakta, Guṇas, and Discrimination of Puruṣa
मासोपवासी मूलाशी फलाहारस्तथैव च । वायुभक्षो<म्बुपिण्याकदधिगोमय भोजन:
māsopavāsī mūlāśī phalāhāras tathaiva ca | vāyubhakṣo 'mbupiṇyākadadhigomaya-bhojanaḥ ||
Vasiṣṭha berkata: “Ada yang berpuasa terus-menerus selama sebulan; ada yang hidup dari umbi dan akar; ada pula yang bertahan dengan buah-buahan saja. Ada yang menyandarkan diri pada udara dan air; dan ada yang bahkan menjadikan ampas wijen, dadih, atau kotoran sapi sebagai makanan—menampakkan puncak tapa.”
वसिष्ठ उवाच
The verse highlights the intensity and variety of ascetic disciplines (tapas) as a means of cultivating self-mastery and detachment—showing endurance, restraint in diet, and willingness to accept extreme simplicity for a higher ethical-spiritual aim.
Vasiṣṭha is describing an ascetic’s regimen, listing different modes of subsistence—month-long fasting, living on roots or fruits, surviving on air and water, or taking very austere foods like sesame-cake, curd, or cow-dung—to illustrate the person’s rigorous practice.