दीर्घदर्शी–दीर्घसूत्र–संप्रतिपत्तिमान् आख्यानम्
The Parable of Foresight, Procrastination, and Presence of Mind
प्रसादयेन्मधुरया वाचा चाप्यथ कर्मणा । महामनाश्चापि भवेद् विवहेच्च महाकुले
prasādayen madhurayā vācā cāpy atha karmaṇā | mahāmanāś cāpi bhaved vivahec ca mahākule ||
Bhishma berkata: Seseorang hendaknya menenangkan mereka dengan tutur kata yang manis dan juga dengan perilaku yang benar. Hendaknya ia berjiwa besar dan menjalin pernikahan dengan keluarga agung. Dalam ajaran ini dibicarakan penebusan dosa yang timbul karena menghimpun kekayaan dengan cara yang tidak benar: raja yang telah ternoda hendaknya mempelajari ketiga Weda, senantiasa hadir melayani para guru dan Brahmana, menyenangkan mereka dengan kata-kata lembut dan perbuatan baik, menumbuhkan kemurahan hati, serta meneguhkan kedudukan moral-sosialnya melalui ikatan dengan garis keturunan mulia—demi penyucian dan agar dapat kembali diterima di kalangan orang-orang saleh.
भीष्म उवाच
Purification and moral restoration are pursued through humility and service: pleasing the learned with gentle speech and righteous action, cultivating generosity of mind, and aligning one’s life with dharmic social norms—presented here as remedies for the taint of unrighteous gain.
In the Shanti Parva’s instruction on dharma, Bhishma advises on corrective measures for a king stained by adharma. This verse highlights two practical disciplines—sweet speech and good conduct—along with becoming large-minded and forming a marriage alliance with a noble family, as part of a broader regimen of expiation and reintegration.