शल्यस्य पाण्डवसेनापीडनम् — Śalya’s Assault on the Pāṇḍava Host
with Omens and Bhīma’s Counter
परस्परवधे यत्तौ छिद्रान्वेषणतत्परौ । उस समय वहाँ पाण्डुपुत्र नकुल और कर्णकुमार चित्रसेनमें मुझे कोई अन्तर नहीं दिखायी देता था। दोनों ही अस्त्र-शस्त्रोंके विद्वान, बलवान् तथा रथयुद्धमें कुशल थे। परस्पर घातमें लगे हुए वे दोनों वीर एक-दूसरेके छिद्र (प्रहारके योग्य अवसर) ढूँढ़ रहे थे
parasparavadhe yattau chidra-anveṣaṇa-tatparau |
Sañjaya berkata: Keduanya bertekad saling membinasakan, sepenuhnya tenggelam mencari celah yang dapat diserang. Pada saat itu, di mataku tak ada bedanya antara Nakula putra Pāṇḍu dan Citraseṇa putra Karṇa: keduanya mahir dalam ilmu senjata, kuat, dan terampil dalam perang kereta. Terlibat dalam serangan timbal balik, dua kesatria itu terus mengawasi sekecil apa pun kelengahan lawan—peluang sah untuk menghantam menurut dharma perang—meski amuk pertempuran mendorong mereka menuju maut.
संजय उवाच
The verse highlights how, in war, equally matched warriors become absorbed in seeking the opponent’s ‘chidra’—a vulnerable opening. It implicitly points to the tension between kṣatriya duty (skillful, rule-bound combat) and the grim reality that even disciplined warfare is driven toward mutual destruction.
Sañjaya describes a chariot duel in which Nakula and Citraseṇa appear evenly matched. Both are powerful and expert in weapons, and they circle one another looking for a momentary weakness to land a decisive blow.